ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus Pada PT Cazikhal)

168  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

(Studi Kasus Pada PT Cazikhal)

Skripsi

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi

Syarat-syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Disusun Oleh: RENY RAHMAYANTI

NIM. F 0204017

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2010

(2)

2 ABSTRAK

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

(Studi Kasus Pada PT Cazikhal)

Oleh :

RENY RAHMAYANTI F0204017

Pemilihan supplier merupakan salah satu hal yang penting dalam aktivitas pembelian bagi perusahaan. Pemilihan supplier merupakan masalah multi kriteria yang meliputi faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif. Salah satu metode yang bisa digunakan untuk pemilihan supplier adalah metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Penelitian ini dilakukan pada sebuah perusahaan kontraktor, PT Cazikhal, yang akan mengembangkan hubungan kemitraan dengan supplier kayu. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah urutan prioritas kriteria dan subkriteria dalam pemilihan supplier pada PT Cazikhal? (2) supplier/pemasok manakah yang sebaiknya dipilih oleh PT Cazikhal berdasarkan metode AHP? Sampel dari penelitian ini adalah para pengambil keputusan dan pihak-pihak yang berada dalam departemen pembelian dan gudang yang mengetahui kinerja supplier. Teknik pengambilan sampel menggunakan judgment sampling karena metode AHP mensyaratkan ketergantungan pada sekelompok ahli sesuai dengan jenis spesialis terkait dalam pengambilan keputusan.

Penelitian ini menggunakan metode AHP dibantu dengan software expert choice. Dari hasil penilaian tingkat kepentingan kriteria dalam pemilihan supplier menghasilkan skala prioritas/bobot sebagai berikut: prioritas I kualitas (0,486), prioritas II harga (0,277), prioritas III layanan (0,091), serta ketepatan pengiriman dan ketepatan jumlah memiliki skala prioritas yang sama yaitu (0,073). Dari hasil penilaian tingkat kepentingan alternatif dalam pemilihan supplier menghasilkan skala prioritas/bobot sebagai berikut: prioritas I supplier X (0,467), prioritas II supplier Z (0,336), prioritas III supplier Y (0,198).

Berdasarkan hasil analisis di atas, saran yang dapat diberikan adalah, jika perusahaan akan mengembangkan hubungan kemitraan dengan supplier, perusahaan diutamakan untuk memilih supplier X sebagai supplier kayu bagi perusahaan karena supplier X merupakan supplier yang memiliki nilai keseluruhan paling tinggi. Dengan adanya hubungan kemitraan ini, kinerja rantai pasokan antara supplier dan perusahaan akan semakin baik dan dapat memperlancar target penyelesaian proyek secara keseluruhan.

Kata kunci : pemilihan supplier, Analytical Hierarchy Process (AHP), supplier terbaik, studi kasus

(3)

3 ABSTRACT

SUPPLIER SELECTION ANALYSIS WITH THE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS METHOD (AHP)

(Case Study At PT Cazikhal) By :

RENY RAHMAYANTI F0204017

Supplier selection is one of the most important activity of company’s purchasing function. Supplier selection is a multi criteria problem that covering quantitative and qualitative criteria. One of the method that can be used is Analytical Hierarchy Process (AHP) method. This research was done at PT Cazikhal, a contractor company that will developed partner relationship with the wood supplier. Problems discussed in this research is: (1) how criterion’s and subcriterion’s priority ranking of supplier selection at PT Cazikhal? (2) which best supplier for PT Cazikhal based on AHP method? Sample of this research is decision makers and employees at PT Cazikhal who knowing the supplier’s performance. Sampling technique used judgment sampling because AHP method require depend on a group of expert as according to relevant specialist in decision making.

This research used AHP method with the expert choice software. The final rating of relative importance’s supplier selection criteria was found: priority I is quality (0,486), priority II is price (0,277), priority III is service (0,091), and the next priority is delivery and quantity with same priority (0,073). The final rating of relative importance’s alternative was found : first priority is Supplier X (0,467), second priority is Supplier Z (0,336), and the last priority is Supplier X (0,198).

From this results, we can suggest, if company will develop partner relationship, company majored to chosen Supplier X as wood supplier because supplier X is supplier with highest overall value. With this partner relationship, supply chain performance between company and supplier will be good progressively and can accelerate finished of project.

Keywords : supplier selection, Analytical Hierarchy Process (AHP), best supplier, case study

(4)

4 HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul:

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

(Studi Kasus Pada PT Cazikhal)

Telah disetujui dan diterima oleh pembimbing skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Surakarta, Januari 2010 Disetujui dan diterima oleh Pembimbing

Drs. Susanto Tirtoprojo, MM NIP. 19571106 198503 1 001

(5)

5 HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan diterima oleh tim penguji Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen

Surakarta, Februari 2010

Tim Penguji Skripsi

1. Dra. Anastasia Riani S, M.Si. Sebagai Ketua (....…...………..…) NIP. 19590330 198601 2 001

2. Drs. Susanto Tirtoprojo, M.M. SebagaiPembimbing (..………...) NIP. 19571106 198503 1 001

3. Muh. Juan Suamtoro, SE, M.Si. Sebagai Anggota (…..…………..….) NIP. 19760613 200812 1 001

(6)

6 HALAMAN MOTTO & PERSEMBAHAN

“Kegagalan Adalah Kesuksesan Yang Tertunda”

“If There Is A Will, There Is A Way”

Karya ini kupersembahkan untuk:

· Bapak-Ibu & Adik Tercinta. · Mas Tri Tercinta

· Saudara-saudara & Sahabat-sahabat yang aku sayangi.

(7)

7 KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillahi Rabbil’alamin. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus Pada PT Cazikhal)”. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi tugas dan persyaratan untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Skripsi ini tidak akan selesai tanpa doa, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com, Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Dra. Endang Suhari, M.Si., selaku Ketua Jurusan Manajemen.

3. Drs. Susanto Tirtoprojo, MM., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberi saran dan masukan kepada penulis hingga selesainya skripsi ini.

4. Ibu Ervina D.P. selaku direktur utama PT Cazikhal, direktur, manajer, serta karyawan di bagian keuangan, pembelian dan pergudangan PT Cazikhal yang telah mengijinkan dan membantu dalam penyelesaian penelitian ini.

(8)

8 5. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari, skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surakarta, Januari 2010 Penulis

(9)

9 DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAK ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO & PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Kerangka Pemikiran ... 6

(10)

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Supply Chain Management (SCM) ... 8

B. Pembelian (Purchasing) ... 9

C. Supplier Selection (Pemilihan Pemasok) ... 10

D. Decision Support System (Sistem Pendukung Keputusan) ... 14

E. AHP (Analytical Hierarchy Process) ... 18

F. Penelitian Terdahulu ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

A. Desain Penelitian ... 42

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling ... 42

C. Sumber Data ... 43

D. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran ... 44

E. Metode Pengumpulan Data ... 46

F. Metode Analisis Data ... 47

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 52

A. Gambaran Umum Perusahaan ... 52

B. Metode Analisis AHP ... 59

(11)

11 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 106

A. Kesimpulan ... 106 B. Saran ... 108

DAFTAR PUSTAKA

(12)

12 DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

II.1 Matriks Perbandingan Berpasangan ... 26

II. 2 Skala Penilaian Perbandingan ... 28

II. 3 Random Consistency Index (RI) ... 32

II. 4 Contoh Matriks Awal ... 34

II. 5 Contoh Normalisasi Matriks ... 34

II. 6 Contoh Bobot Kriteria ... 35

II. 7 Contoh Perhitungan Rasio Konsistensi – Mengalikan Matriks Awal dengan Bobot ... 35

II. 8 Contoh perhitungan Rasio Konsistensi – Membagi Jumlah Baris Dengan Bobot ... 36

IV. 1 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Kriteria dalam Pemilihan Supplier ... 61

IV.2 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Subkriteria pada Kriteria Harga ... 62

(13)

13 IV.3 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Subkriteria

Pada Kriteria Kualitas ... 62 IV. 4 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Subkriteria

Pada Kriteria Layanan ... 63 IV. 5 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Subkriteria

Pada Kriteria Ketepatan Pengiriman ... 63

IV. 6 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif

Pada Subkriteria Kepantasan Harga dengan Kualitas ... 64

IV. 7 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif

Pada Subkriteria Kemampuan Memberikan Diskon ... 64 IV. 8 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif

pada Subkriteria Kesesuaian Barang dengan Spesifikasi ... 65 IV. 9 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif

pada Subkriteria Penyediaan Barang Tanpa Cacat ... 65

IV. 10 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif pada

(14)

14 IV. 11 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif Pada

Subkriteria Kemudahan untuk Dihubungi ... 66 IV. 12 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif Pada

Subkriteria Memberikan Informasi secara Jelas ... 66 IV. 13 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif pada

Subkriteria Kecepatan Menanggapi Permintaan Pelanggan ... 66

IV. 14 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif pada

Subkriteria Cepat Tanggap Menyelesaikan Keluhan Pelanggan .... 67

IV. 15 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif pada Subkriteria Kemampuan Mengirimkan Barang Sesuai Tanggal

yang Disepakati ... 67

IV. 16 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif pada

Subkriteria Kemampuan dalam Menangani Sistem Transportasi ... 67 IV. 17 Matriks Perbandingan Berpasangan Tujuan Antar Alternatif Pada

Kriteria Ketepatan Jumlah ... 68 IV.18 Penilaian Prioritas Kepentingan Kriteria Pemilihan Supplier ... 69

(15)

15 IV. 20 Penilaian Prioritas Kepentingan Subkriteria pada Kriteria Harga

dalam Pemilihan Supplier ... 71 IV.21 Prioritas Kepentingan (Bobot) Subkriteria pada Kriteria Harga

Dalam Pemilihan Supplier ... 71 IV.22 Penilaian Prioritas Kepentingan Subkriteria pada Kriteria Kualitas dalam Pemilihan Supplier ... 72

IV.23 Prioritas Kepentingan (Bobot) Subkriteria Pada Kriteria Kualitas

Dalam Pemilihan Supplier ... 73

IV. 24 Penilaian Prioritas Kepentingan Subkriteria pada Kriteria Layanan

Dalam Pemilihan Supplier ... 74 IV. 25 Prioritas Kepentingan (Bobot) Subkriteria pada Kriteria Layanan

dalam Pemilihan Supplier ... 75 IV. 26 Penilaian Prioritas Kepentingan Subkriteria Pada Kriteria

Ketepatan Pengiriman ... 76

IV. 27 Prioritas Kepentingan (Bobot) Subkriteria pada Kriteria

(16)

16 IV. 28 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Kepantasan Harga dengan Kualitas ... 78 IV. 29 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Kepantasan harga dengan Kualitas ... 78 IV. 30 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Kemampuan Memberikan Diskon ... 79

IV. 31 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Kemampuan memberikan Diskon ... 79

IV. 32 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Kesesuaian Barang dengan Spesifikasi yang Ditentukan ... 80 IV. 33 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Kesesuaian Barang dengan Spesifikasi yang Ditentukan ... 81 IV. 34 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Penyediaan Barang Tanpa Cacat ... 81

IV. 35 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

(17)

17 IV. 36 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Kemampuan Memberikan Kualitas yang Konsisten ... 83 IV. 37 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Kemampuan Memberikan Kualitas yang Konsisten ... 83 IV. 38 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Kemudahan untuk Dihubungi ... 84

IV. 39 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Kemudahan untuk Dihubungi ... 84

IV. 40 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria Kemampuan Memberikan Informasi secara Jelas dan Mudah

Dimengerti ... 85

IV. 41 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria Kemampuan Memberikan Informasi Secara Jelas dan Mudah

Dimengerti ... 86

IV. 42 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

(18)

18 IV. 43 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Kecepatan dalam Hal Menanggapi Permintaan Pelanggan ... 87 IV. 44 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Cepat Tanggap dalam Menyelesaikan Keluhan Pelanggan ... 88 IV. 45 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Cepat Tanggap Dalam Menyelesaikan Keluhan Pelanggan ... 89

IV. 46 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria Kemampuan Mengirimkan Barang Sesuai dengan Tanggal yang

Telah Disepakati ... 90 IV. 47 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

Kemampuan Mengirimkan Barang sesuai dengan Tanggal

yang Telah Disepakati ... 90 IV. 48 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Subkriteria

Kemampuan dalam Hal Penanganan Sistem Transportasi ... 91

IV.49 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Subkriteria

(19)

19 IV.50 Penilaian Prioritas Kepentingan Alternatif pada Kriteria

Ketepatan Jumlah ... 92

IV. 51 Prioritas Kepentingan (Bobot) Alternatif pada Kriteria Ketepatan Jumlah ... 93

IV. 52 Prioritas Global (Global Priority) ... 94

IV. 53 Bobot Alternatif Secara Keseluruhan ... 95

IV.54 Bobot Alternatif (Supplier) Berkenaan dengan Kriteria ... 96

(20)

20 DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

I. 1 Kerangka Pemikiran ... 6

II. 1 Tahap Pengambilan Keputusan ... 16

II. 2 Struktur Hirarki AHP ... 24

III. I Struktur Hirarki Masalah ... 48

IV. 1 Struktur Organisasi PT. Cazikhal ... 54

(21)

21 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Para pengambil keputusan (decision makers) hampir selalu mengambil keputusan bahkan setiap detik dalam hidupnya. Ketika mereka mengambil keputusan, ada suatu proses dalam otak manusia yang mempengaruhi kualitas keputusan yang dibuat. Jika keputusan yang akan dibuat mudah, manusia dapat dengan mudah membuat keputusan. Akan tetapi jika keputusan yang akan diambil bersifat kompleks dengan risiko yang besar seperti perumusan kebijakan, pengambil keputusan sering memerlukan alat bantu dalam bentuk yang bersifat ilmiah, logis, dan terstruktur.

Pemilihan supplier merupakan salah satu hal yang penting dalam aktivitas pembelian bagi perusahaan, di mana aktivitas pembelian merupakan aktivitas yang memiliki nilai penting bagi perusahaan karena pembelian komponen, bahan baku, dan persediaan merepresentasikan porsi yang cukup besar pada produk jadinya. Dalam mengambil keputusan untuk memilih supplier, pengambil keputusan (decision maker) membutuhkan alat analisis

yang memungkinkan mereka untuk memecahkan masalah yang bersifat kompleks sehingga keputusan yang diambil lebih berkualitas. Pemilihan supplier harus dilakukan secara hati-hati karena pemilihan supplier yang salah

(22)

22 Pemilihan supplier merupakan masalah multi kriteria yang meliputi faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif. Beberapa kriteria yang berpengaruh pada pemilihan supplier ini ada yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Oleh karena itu diperlukan metode yang bisa menyertakan keduanya dalam pengukuran. Salah satu metode yang bisa digunakan untuk pemilihan supplier adalah metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Metode ini menyertakan ukuran-ukuran kualitatif dan kuantitatif. AHP adalah metode pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk pemberian prioritas beberapa alternatif ketika beberapa kriteria harus dipertimbangkan, serta mengijinkan pengambil keputusan untuk menyusun masalah yang kompleks ke dalam suatu bentuk hirarki atau serangkaian level yang terintegrasi.

AHP relatif mudah dimengerti dan digunakan. Literatur tentang pemilihan supplier banyak menggunakan metode ini. AHP adalah sebuah metode yang ideal untuk memberikan ranking/urutan alternatif ketika beberapa kriteria dan subkriteria ada dalam pengambilan keputusan. Beberapa kriteria yang berpengaruh dan umum digunakan dalam pemilihan supplier di antaranya adalah kriteria harga, kualitas, ketepatan pengiriman, ketepatan jumlah, dan layanan.

Kadang kala, kriteria-kriteria ini saling bertentangan satu sama lain. Sebagai contoh, suatu supplier lebih memilih menawarkan harga lebih rendah dengan kualitas di bawah rata-rata, sementara supplier lain menawarkan barang dengan kualitas baik dengan pengiriman yang tidak pasti. Bagaimanapun sulit untuk menemukan supplier yang bisa memenuhi semua

(23)

23 kriteria atau yang baik dalam semua kriteria, tetapi paling tidak bisa menemukan supplier yang optimal bagi perusahaan.

Proses pemilihan supplier ini bermula dari kebutuhan akan supplier, menentukan dan merumuskan kriteria keputusan, pre-kualifikasi (penyaringan awal dan menyiapkan sebuah shortlist supplier potensial dari suatu daftar pemasok/supplier), pemilihan supplier akhir, dan monitoring supplier terpilih, yaitu evaluasi dan penilaian berlanjut.

PT Cazikhal merupakan sebuah perusahaan kontraktor yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi. Proyek konstruksi adalah rangkaian kegiatan yang memanfaatkan sumber daya (tenaga kerja, material, peralatan, metode konstruksi, dan sebagainya) yang dibatasi oleh biaya, mutu dan waktu. Pelaksanaan proyek konstruksi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik maupun non fisik sehingga mengakibatkan terjadinya fluktuasi produktivitas. Akibatnya dalam pelaksanaan proyek seringkali terjadi perubahan terhadap jadwal dan volume pekerjaan. Menurut pendekatan supply chain, salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas proyek konstruksi adalah dengan memperkuat unit produksi yaitu antara kontraktor dengan pemasok. Salah satu cara untuk mengintegrasikan kontraktor dan pemasok adalah melalui kemitraan.

Sebagai perusahaan yang terbilang masih baru, perusahaan ini berusaha untuk terus meningkatkan kualitas produk maupun jasanya. Salah satu hal yang akan ditempuh yaitu mengembangkan hubungan kemitraan dengan supplier terutama supplier untuk bahan baku kayu. Dengan memperkuat

(24)

24 hubungan antara kontraktor dan pemasok melalui hubungan kemitraan ini diharapkan perubahan jadwal dan volume pengadaan material tidak mengganggu target penyelesaian proyek secara keseluruhan. Selain itu, dengan memilih supplier yang optimal, perusahaan bisa mendapatkan keuntungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada saat ini, perusahaan telah mengidentifikasi ada tiga supplier potensial yang nantinya akan dipilih yang terbaik.

Dari latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui urutan prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan supplier serta mencari supplier terbaik bagi perusahaan melalui skripsi yang berjudul :

“ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus Pada PT Cazikhal)”

B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah urutan prioritas kriteria dan subkriteria dalam pemilihan supplier pada PT Cazikhal?

2. Supplier/pemasok manakah yang sebaiknya dipilih oleh PT Cazikhal berdasarkan metode AHP?

(25)

25 C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui urutan prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan supplier pada PT Cazikhal.

2. Mengetahui supplier/pemasok kayu terbaik, yang paling memenuhi kriteria-kriteria pemilihan supplier yang sebaiknya dipilih oleh PT Cazikhal berdasarkan metode AHP.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pemahaman pengetahuan tentang pemilihan supplier dan konsep AHP (Analytical Hierarchy Process) . Serta diharapkan penelitian ini mampu melengkapi hasil-hasil penelitian sebelumnya dengan topik yang sama, sehingga dapat dijadikan referensi untuk kalangan akademisi dan peneliti selanjutnya yang mengadakan penelitian dengan topik yang sama.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak perusahaan dalam menentukan supplier optimal (supplier terbaik), yang paling memenuhi kriteria pemilihan supplier, apabila perusahaan membutuhkan bahan tertentu dapat dipenuhi dari supplier tertentu juga. Dengan begitu kinerja manajemen rantai pasokan semakin baik yang pada akhirnya dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

(26)

26 E. Kerangka Pemikiran

Gambar I.1 Kerangka Pemikiran Sumber : Fatmawati, 2007 dimodifikasi Kriteria dan Subkriteria dalam Pemilihan Supplier: 1. Harga

· Kepantasan harga dengan kualitas barang (H1) · Kemampuan memberikan diskon (H2)

2. Kualitas

· Kesesuaian barang dengan spesifikasi yang ditentukan (Q1) · Penyediaan barang tanpa cacat (Q2)

· Kemampuan memberikan kualitas yang konsisten (Q3) 3. Layanan

· Kemudahan untuk dihubungi (S1)

· Kemampuan memberikan informasi secara jelas (S2) · Kecepatan dalam menanggapi permintaan pelanggan (S3) · Cepat tanggap dalam menyelesaikan keluhan pelanggan (S4) 4. Ketepatan Pengiriman

· Kemampuan mengirim barang sesuai tanggal yang disepakati (D1) · Kemampuan dalam penanganan sistem transportasi (D2)

5. Ketepatan Jumlah

Persepsi responden terhadap tingkat kepentingan masing-masing kriteria dan subkriteria dalam pemilihan supplier

Persepsi responden terhadap kinerja supplier berkenaan dengan masing-masing subkriteria dalam pemilihan supplier

Analisis AHP

Alternatif Pemilihan Supplier

Kesimpulan dan Saran Supplier optimal

(27)

27 F. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini masalah yang akan dianalisis dibatasi agar tepat sasaran dan tidak terlalu luas. Penelitian ini dilakukan pada PT Cazikhal dalam pengambilan keputusan pemilihan supplier. Pembatasan terletak pada masalah yang akan dianalisis yaitu memilih supplier untuk bahan baku kayu. Hal ini karena pada saat ini perusahaan ingin mencari supplier terbaik untuk bahan baku kayu.

(28)

28 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Supply Chain Management (SCM)

Supply Chain Management atau manajemen rantai pasokan merupakan

kegiatan pengelolaan kegiatan-kegiatan dalam rangka memperoleh bahan mentah, mentransformasikan bahan mentah tersebut menjadi barang dalam proses dan barang jadi, dan mengirimkan produk tersebut ke konsumen melalui sistem distribusi. Kegiatan-kegiatan ini mencakup fungsi pembelian tradisional ditambah kegiatan-kegiatan lainnya yang penting bagi hubungan antara pemasok dengan distributor. SCM bisa meliputi penetapan : (1) pengangkut, (2) pentransferan kredit dan tunai, (3) pemasok (supplier), (4) distributor dan bank, (5) utang dan piutang, (6) pergudangan, (7) pemenuhan pesanan, dan (8) membagi-bagi informasi mengenai ramalan permintaan, produksi, dan kegiatan pengendalian persediaan. (Render dan Heizer, 2005).

Menurut Stock dan Lambert (2001), ada delapan bisnis inti dalam manajemen rantai pasokan yang meliputi :

1. Customer relationship management

Mengidentifikasi pelanggan potensial yang dinilai akan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

2. Customer service management

Informasi tepat waktu bagi pelanggan, untuk memperlancar pelaksanaan pengiriman barang.

(29)

29 3. Demand management

Menyeimbangkan antara permintaan pelanggan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan tersebut.

4. Order fulfillment

Pemenuhan kebutuhan konsumen pada waktu, tempat, dan jumlah yang tepat.

5. Manufacturing flow management

Tindakan untuk menyesuaikan permintaan dari pelanggan dengan kemampuan produksi yang dapat dipenuhi perusahan.

6. Procurement

Tindakan dari fungsi pembelian dengan mengembangkan mekanisme komunikasi agar dapat mengurangi waktu dan memberikan penghematan dalam transaksi pembelian.

7. Product development and commercialization

Tindakan melibatkan supplier dan konsumen dalam proses pengembangan produk perusahaan yang diinginkan oleh konsumen.

8. Return

Merupakan tindakan untuk mengelola feedback dari pelanggan terhadap produk guna perbaikan kinerja bagi perusahaan.

B. Pembelian (Purchasing)

Rantai pasokan menerima perhatian yang besar karena di sebagian besar perusahaan, pembelian merupakan kegiatan yang paling memakan biaya. Biaya pembelian sebagai persentase dari penjualan, untuk barang maupun

(30)

30 jasa, sering kali substansial sifatnya. Aktivitas pembelian mempunyai posisi yang signifikan bagi kebanyakan perusahaan karena pembelian komponen, bahan baku, dan persediaan merepresentasikan 40 sampai 60 persen dari nilai penjualan produk jadinya (Ballow, dalam Bello, 2003). Karena porsi pendapatan yang besar dilimpahkan untuk melakukan pembelian, maka strategi pembelian yang efektif merupakan sesuatu yang vital. Pembelian memberikan peluang besar pengurangan biaya dan peningkatan margin kontribusi. Selain itu mutu barang dan jasa yang dijual secara langsung berhubungan dengan kualitas barang dan jasa yang dibeli.

Tujuan dari kegiatan pembelian adalah:

1. Membantu mengidentifikasi produk dan jasa yang dapat diperoleh secara eksternal.

2. Mengembangkan, mengevaluasi, dan menentukan pemasok, harga dan pengiriman yang terbaik bagi barang dan jasa tersebut.

C. Supplier Selection (Pemilihan Pemasok)

Salah satu aspek utama fungsi pembelian adalah pemilihan pemasok, pengadaan barang yang dibutuhkan, layanan dan peralatan untuk semua jenis perusahaan bisnis. Oleh karena itu, fungsi pembelian adalah bagian utama dari manajemen bisnis. Dalam lingkungan operasi yang kompetitif saat ini, sangat tidak mungkin untuk bisa sukses berproduksi dengan biaya rendah, dan menghasilkan produk yang berkualitas tanpa pemasok yang memuaskan. Dengan begitu, salah satu keputusan pembelian paling penting adalah pemilihan dan pemeliharaan hubungan dengan pemasok/supplier terpilih yang

(31)

31 kompeten. Jadi, pemilihan supplier yang kompeten adalah salah satu fungsi paling penting yang harus dilakukan oleh departemen pembelian.

Proses pemilihan supplier ini bermula dari kebutuhan akan supplier, menentukan dan merumuskan kriteria keputusan, pre-kualifikasi (penyaringan awal dan menyiapkan sebuah shortlist supplier potensial dari suatu daftar pemasok/supplier), pemilihan supplier akhir, dan monitoring supplier terpilih, yaitu evaluasi dan penilaian berlanjut.

Kriteria-kriteria yang digunakan dalam pemilihan supplier dari beberapa literatur:

1. Kriteria pemilihan supplier menurut Dickson berdasarkan ranking/urutan tingkat kepentingannya adalah sebagai berikut (Weber et al, 1991):

a. Kualitas (Quality) b. Pengiriman (Delivery)

c. Kinerja masa lalu (Performance history)

d. Jaminan dan Kebijakan Klaim (Warranties & Claims Policies)

e. Fasilitas Produksi dan Kapasitas (Production Facilities and Capacity) f. Harga (Price)

g. Kemampuan Teknis (Technical Capability) h. Keadaan Finansial (Financial Position)

i. Pemenuhan procedural (Procedural Compliance) j. Sistem Komunikasi (Communication System)

k. Reputasi dan Posisi dalam Industri (Reputation and Position in Industry)

(32)

32 l. Hasrat Berbisnis (Desire for Business)

m. Manajemen dan Organisasi (Management and Organization) n. Kontrol Operasi (Operating Controls)

o. Layanan Perbaikan (Repair Service) p. Sikap (Attitude)

q. Kesan (Impression)

r. Kemampuan Mengepak (Packaging Ability)

s. Hubungan dengan Buruh (Labor Relations Record) t. Lokasi Geografis (Geographical Location)

u. Nilai Bisnis Terdahulu (Amount of Past Business) v. Training Aids

w. Pengaturan Hubungan Timbal Balik (Reciprocal Arrangements)

2. Kriteria pemilihan supplier menurut Nydick dan Hill (1992) yaitu sebagai berikut:

a. Quality / kualitas b. Price / harga c. Service / layanan d. Delivery / pengiriman

3. Surjasa dkk memberikan beberapa kriteria dan subkriteria dalam pemilihan supplier, yaitu sebagai berikut:

a. Kriteria Harga

Yang termasuk subkriteria pada kriteria harga adalah:

(33)

33 2) Kemampuan untuk memberikan potongan harga (diskon) pada

pemesanan dalam jumlah tertentu. b. Kriteria Kualitas

Yang termasuk subkriteria pada kriteria kualitas adalah:

1) Kesesuaian barang dengan spesifikasi yang sudah ditetapkan 2) Penyediaan barang tanpa cacat

3) Kemampuan memberikan kualitas yang konsisten c. Kriteria Ketepatan Pengiriman

Yang termasuk subkriteria dalam kriteria ini adalah:

1) Kemampuan untuk mengirimkan barang sesuai dengan tanggal yang telah disepakati

2) Kemampuan dalam hal penanganan sistem transportasi d. Kriteria Ketepatan Jumlah

Yang termasuk subkriteria dalam kriteria ini adalah: 1) Ketepatan dan kesesuaian jumlah dalam pengiriman 2) Kesesuaian isi kemasan

e. Kriteria Customer Care

Yang termasuk subkriteria dalam kriteria ini adalah: 1) Kemudahan untuk dihubungi

2) Kemampuan untuk memberikan informasi secara jelas dan mudah untuk dimengerti

3) Kecepatan dalam hal menanggapi permintaan pelanggan 4) Cepat tanggap dalam menyelesaikan keluhan pelanggan

(34)

34 Tahap-tahap pemilihan supplier menggunakan metode AHP (Nydick dan Hill, 1992) adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi kriteria-kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan supplier.

2. Membuat perbandingan berpasangan dari kepentingan relatif (relative importance) kriteria terhadap tujuan, dan menghitung prioritas atau

bobot kriteria berdasarkan informasi yang didapatkan.

3. Mengukur/menilai supplier dalam memenuhi kriteria-kriteria.

4. Menggunakan informasi pada langkah 3, membuat perbandingan berpasangan kepentingan relatif (relative importance) pemasok/supplier terhadap kriteria, dan menghitung prioritasnya. 5. Menggunakan hasil pada langkah 2 dan 4, kemudian menghitung

prioritas atau bobot supplier terhadap tujuan hirarki. D. Decision Support System (Sistem Pendukung Keputusan)

Perkembangan DSS (Decision Support System) berawal pada akhir tahun 1960-an dengan adanya pengguna komputer secara time sharing (berdasarkan pembagian waktu). Pada mulanya seseorang dapat berinteraksi langsung dengan komputer tanpa harus melalui spesialis informasi. Timesharing membuka peluang baru dalam penggunaan komputer. Tidak sampai tahun 1971, ditemukan istilah DSS (Decision Support System), G Anthony Gorry dan Michael S. Scott Morton yang keduanya professor MIT, bersama-sama menulis artikel dalam jurnal yang berjudul “A Framework for Management Information System” mereka merasakan perlunya ada kerangka untuk

(35)

35 menyalurkan aplikasi komputer terhadap pembuatan keputusan manajemen. Gorry dan Scott Morton mendasarkan kerangka kerjanya pada jenis keputusan menurut Simon dan tingkat manajemen dari Robert N. Anthony. Anthony menggunakan istilah strategic planning, management control dan operational control (perencanaan strategis, kontrol manajemen, dan kontrol operasional).

1. Tahap-tahap Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan meliputi beberapa tahap dan melalui beberapa proses. Pengambilan keputusan meliputi empat tahap yang saling berhubungan dan berurutan. Empat proses tersebut adalah (Fitria, 2008) : a. Intelligence

Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.

b. Design

Tahap ini merupakan proses menemukan dan mengembangkan alternatif. Tahap ini meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi dan menguji kelayakan solusi.

c. Choice

Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan di antara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Tahap ini meliputi pencarian, evaluasi, dan rekomendasi solusi yang sesuai untuk model

(36)

36 yang telah dibuat. Solusi dari model merupakan nilai spesifik untuk variabel hasil pada alternatif yang dipilih.

d. Implementation

Tahap implementasi adalah tahap pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini perlu disusun serangkaian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan dapat dipantau dan disesuaikan apabila diperlukan perbaikan.

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN

Gambar II.1. Tahap Pengambilan Keputusan Sumber : Fitria, 2008

2. Pengertian DSS

Decision Support System (DSS) adalah sistem berbasis komputer

yang interaktif yang membantu pembuatan keputusan dalam menggunakan dan memanfaatkan data dan model untuk memecahkan masalah yang tidak

INTELLIGENCE (Penelusuran Lingkup Masalah) DESIGN (Perancangan PenyelesaianMasalah) CHOICE (Pemilihan Tindakan) IMPLEMENTATION (Pelaksanaan Tindakan)

(37)

37 terstruktur. DSS sebagai sebuah sistem yang memberikan dukungan kepada seorang manajer, atau kepada sekelompok manajer yang relatif kecil yang bekerja sebagai team pemecah masalah, dalam memecahkan masalah semi terstrukitur dengan memberikan informasi atau saran mengenai keputusan tertentu. Informasi tersebut diberikan oleh laporan berkala, laporan khusus, maupun output dari model matematis. Model tersebut juga mempunyai kemampuan untuk memberikan saran dalam tingkat yang bervariasi

3. Tujuan DSS

a. Membantu manajer dalam pembuatan keputusan untuk memecahkan masalah semi terstruktur.

b. Mendukung keputusan manajer, dan bukannya mengubah atau mengganti keputusan tersebut.

c. Meningkatkan efektivitas manajer dalam pembuatan keputusan, dan bukannya peningkatan efisiensi.

Tujuan ini berkaitan dengan tiga prinsip dasar dari konsep DSS, yaitu struktur masalah, dukungan keputusan, dan efektivitas keputusan.

4. Keuntungan DSS/SPK

a. Dapat memperluas kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan dalam memproses data atau informasi pemakainya.

b. Membantu mengambil keputusan dalam hal penghematan waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah, terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur.

(38)

38 c. Dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat

diandalkan.

d. Dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami permasalahnnya, karena sistem penunjang keputusan mampu menyajikan berbagai alternatif.

e. Mampu menyediakan bukti tambahan untuk memberikan pembenaran, sehingga dapat memperluas posisi pengambilan keputusan.

E. AHP (Analytical Hierarchy Process)

Analytical Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L.

Saaty pada tahun 1970-an. Metode ini merupakan salah satu model pengambilan keputusan multi kriteria yang dapat membantu kerangka berpikir manusia di mana faktor logika, pengalaman, pengetahuan, emosi, dan rasa dioptimasikan ke dalam suatu proses sistematis. AHP adalah metode pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk pemberian prioritas beberapa alternatif ketika beberapa kriteria harus dipertimbangkan, serta mengijinkan pengambil keputusan (decision makers) untuk menyusun masalah yang kompleks ke dalam suatu bentuk hirarki atau serangkaian level yang terintegrasi. Pada dasarnya, AHP merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur ke dalam kelompok-kelompoknya, dengan mengatur kelompok tersebut ke dalam suatu hirarki, kemudian memasukkan nilai numerik sebagai pengganti persepsi manusia dalam melakukan perbandingan relatif. Dengan suatu sintesis maka akan dapat ditentukan elemen mana yang mempunyai prioritas tertinggi.

(39)

39 1. Kegunaan AHP

AHP banyak digunakan untuk pengambilan keputusan dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam hal perencanaan, penentuan alternatif, penyusunan prioritas, pemilihan kebijakan, alokasi sumber daya, penentuan kebutuhan, peramalan hasil, perencanaan hasil, perencanaan sistem, pengukuran performansi, optimasi, dan pemecahan konflik.

Keuntungan dari metode AHP dalam pemecahan persoalan dan pengambilan keputusan adalah :

a. Kesatuan : AHP memberi satu model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk aneka ragam persoalan tak terstruktur. b. Kompleksitas : AHP memadukan ancangan deduktif dan

ancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks.

c. Saling ketergantungan : AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.

d. Penyusunan hirarki : AHP mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat.

e. Pengukuran : AHP memberi suatu skala untuk mengukur hal-hal dan wujud suatu model untuk menetapkan prioritas.

(40)

40 f. Konsistensi : AHP melacak konsistensi logis dari

pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menentukan prioritas. g. Sintesis : AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang

kebaikan setiap alternatif.

h. Tawar-menawar : AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan mereka.

i. Penilaian dan konsensus : AHP tidak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbeda-beda.

j. Pengulangan proses : AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui pengulangan. Di samping kelebihan-kelebihan di atas, terdapat pula beberapa kesulitan dalam menerapkan metode AHP ini. Apabila kesulitan-kesulitan tersebut tidak dapat diatasi, maka dapat menjadi kelemahan dari metode AHP dalam pengambilan keputusan.

a. AHP tidak dapat diterapkan pada suatu perbedaan sudut pandang yang sangat tajam/ekstrim di kalangan responden.

b. Metode ini mensyaratkan ketergantungan pada sekelompok ahli sesuai dengan jenis spesialis terkait dalam pengambilan keputusan.

(41)

41 c. Responden yang dilibatkan harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang permasalahan serta metode AHP.

2. Prinsip Pokok AHP

Pengambilan keputusan dalam metodologi AHP didasarkan atas 4 prinsip dasar, yaitu :

a. Decomposition

Setelah persoalan didefinisikan, tahapan yang perlu dilakukan adalah decomposition yaitu memecah persoalan-persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Jika ingin mendapatkan hasil akurat, pemecahan juga dilakukan terhadap unsur-unsurnya sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Karena alasan ini maka proses analisis ini dinamakan hirarki. Ada dua jenis hirarki yaitu lengkap dan tak lengkap. Disebut hirarki lengkap jika semua elemen ada pada tingkat berikutnya, jika tidak demikian, hirarki yang terbentuk dinamakan hirarki tidak lengkap.

b. Comparative Judgement

Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan kriteria di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh dalam menentukan prioritas dari elemen-elemen yang ada sebagai dasar pengambilan keputusan. Hasil dari penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang

(42)

42 dinamakan matriks perbandingan berpasangan (pairwise comparison).

c. Synthesis of Priority

Dari setiap matriks pairwise comparison (perbandingan berpasangan) kemudian dicari eigenvector dari setiap matriks perbandingan berpasangan untuk mendapatkan local priority karena matriks perbandingan berpasangan terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesis di antara local priority. Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut hirarki. Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesis dinamakan priority setting. Global priority adalah prioritas/bobot subkriteria maupun

alternatif terhadap tujuan hirarki secara keseluruhan/level tertinggi dalam hirarki. Cara mendapatkan global priority ini dengan cara mengalikan local priority subkriteria maupun alternatif dengan prioritas dari parent criterion (kriteria level di atasnya).

d. Logical Consistency

Konsistensi memiliki dua makna. Pertama adalah objek-objek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Contohnya, anggur dan kelereng dapat dikelompokkan sesuai dengan himpunan yang seragam jika “bulat” merupakan kriterianya. Tetapi tidak dapat jika “rasa” sebagai kriterianya. Arti kedua adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek

(43)

43 yang didasarkan pada kriteria tertentu. Contohnya jika manis merupakan kriteria dan madu dinilai 5 kali lebih manis dibanding gula, dan gula 2 kali lebih manis dibanding sirup, maka seharusnya madu dinilai 10 kali lebih manis dibanding sirup. Jika madu dinilai 4 kali manisnya dibanding sirup, maka penilaian tidak konsisten dan proses harus diulang jika ingin memperoleh penilaian yang lebih tepat.

Dalam menggunakan keempat prinsip tersebut, AHP menyatukan dua aspek pengambilan keputusan yaitu :

a. Secara kualitatif AHP mendefinisikan permasalahan dan penilaian untuk mendapatkan solusi permasalahan.

b. Secara kuantitatif AHP melakukan perbandingan secara numerik dan penilaian untuk mendapatkan solusi permasalahan.

3. Langkah-langkah Penggunaan AHP : a. Penyusunan struktur hirarki masalah

Sistem yang kompleks dapat dengan mudah dipahami kalau sistem tersebut dipecah menjadi berbagai elemen pokok kemudian elemen-elemen tersebut disusun secara hirarkis.

(44)

44

Gambar II.2. Struktur Hirarki AHP Sumber: Thomas L. Saaty, 1994

Hirarki masalah disusun untuk membantu proses pengambilan keputusan dengan memperhatikan seluruh elemen keputusan yang terlibat dalam sistem. Sebagian besar masalah menjadi sulit untuk diselesaikan karena proses pemecahannya dilakukan tanpa memandang masalah sebagai suatu sistem dengan suatu struktur tertentu.

Pada tingkat tertinggi dari hirarki, dinyatakan tujuan, sasaran dari sistem yang dicari solusi masalahnya. Tingkat berikutnya merupakan penjabaran dari tujuan tersebut. Suatu hirarki dalam metode AHP merupakan penjabaran elemen yang tersusun dalam beberapa tingkat, dengan setiap tingkat mencakup beberapa elemen homogen. Sebuah elemen menjadi kriteria dan patokan bagi elemen-elemen yang berada di bawahnya. Dalam menyusun suatu hirarki tidak terdapat suatu pedoman tertentu yang harus diikuti. Hirarki tersebut tergantung pada kemampuan

Sasaran Alternatif 3 Kriteria 3 Alternatif ke-m Kriteriake-n Kriteria 2 Kriteria 1 Alternatif 1 Alternatif 2

(45)

45 penyusun dalam memahami permasalahan. Namun tetap harus bersumber pada jenis keputusan yang akan diambil.

Untuk memastikan bahwa kriteria-kriteria yang dibentuk sesuai dengan tujuan permasalahan, maka kriteria-kriteria tersebut harus memiliki sifat-sifat berikut :

1) Minimum

Jumlah kriteria diusahakan optimal untuk memudahkan analisis.

2) Independen

Setiap kriteria tidak saling tumpang tindih dan harus dihindarkan pengulangan kriteria untuk suatu maksud yang sama.

3) Lengkap

Kriteria harus mencakup seluruh aspek penting dalam permasalahan.

4) Operasional

Kriteria harus dapat diukur dan dianalisis baik secara kuantitatif maupun kualitatif dan dapat dikomunikasikan. b. Penentuan Prioritas

1) Relative Measurement

Yang pertama dilakukan dalam menetapkan prioritas elemen-elemen dalam suatu pengambilan keputusan adalah membuat perbandingan berpasangan, yaitu membandingkan

(46)

46 dalam bentuk berpasangan seluruh kriteria untuk setiap subsistem hirarki. Dalam perbandingan berpasangan ini, bentuk yang lebih disukai adalah matriks karena matriks merupakan alat yang sederhana yang biasa dipakai, serta memberi kerangka untuk menguji konsistensi. Rancangan matriks ini mencerminkan dua segi prioritas yaitu mendominasi dan didominasi.

Misalkan terdapat suatu subsistem hirarki dengan kriteria C dan sejumlah n alternatif di bawahnya, Ai sampai

An. Perbandingan antar alternatif untuk subsistem hirarki itu

dapat dibuat dalam bentuk matriks n x n, seperti pada tabel II.1 di bawah ini.

Tabel II.1 Matriks Perbandingan Berpasangan

C A1 A2 A3 …. An A1 a11 a12 a13 a1n A2 a21 a22 a23 a2n A3 a31 a32 a33 a3n …. …. An an1 an2 an3 …. ann

(47)

47 Nilai a11 adalah nilai perbandingan elemen A1(baris)

terhadap A1 (kolom) yang menyatakan hubungan :

(a) Seberapa jauh tingkat kepentingan A1 (baris) terhadap

kriteria C dibandingkan dengan A1 (kolom), atau

(b) Seberapa jauh dominasi A1 (baris) terhadap A1 (kolom),

atau

(c) Seberapa banyak sifat kriteria C terdapat pada A1 (baris)

dibandingkan dengan A1 (kolom).

Nilai numerik yang dikenakan untuk seluruh perbandingan diperoleh dari skala perbandingan yang disebut Saaty pada tabel II.2. Apabila bobot kriteria Ai adalah wi dan

bobot elemen wj maka skala dasar 1-9 yang disusun Saaty

mewakili perbandingan (wi/wj)/1. Angka-angka absolut pada

skala tersebut merupakan pendekatan yang amat baik terhadap perbandingan bobot elemen Ai terhadap elemen Aj.

(48)

48 Tabel II.2 Skala Penilaian Perbandingan

Skala Tingkat kepentingan Definisi Keterangan 1 Sama pentingnya

Kedua elemen mempunyai pengaruh yang sama

3 Sedikit lebih

penting

Pengalaman dan penilaian sedikit memihak satu elemen dibandingkan dengan pasangannya

5 Lebih penting Pengalaman dan penilaian sangat memihak satu elemen dibandingkan dengan pasangannya

7 Sangat

penting

Satu elemen sangat disukai dan secara praktis dominasinya sangat nyata dibandingkan dengan pasangannya

9 Mutlak lebih

penting

Satu elemen terbukti mutlak lebih disukai dibandingkan dengan pasangannya, pada tingkat keyakinan yang tertinggi

2,4,6,8 Nilai tengah Diberikan bila terdapat keraguan penilaian antara dua penilaian yang berdekatan

kebalikan Aij = 1/Aij Bila aktivitas i memperoleh

suatu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki

nilai kebalikannya bila dibandingkan i

Sumber : Thomas L Saaty,1994

2) Eigenvalue dan Eigenvektor

Apabila seseorang yang sudah memasukkan persepsinya untuk setiap perbandingan antara kriteria-kriteria yang berada dalam satu level atau yang dapat diperbandingkan maka untuk mengetahui kriteria mana yang

(49)

49 paling disukai atau yang paling penting, disusun sebuah matriks perbandingan. Bentuk matriks ini adalah simetris atau biasa disebut dengan matriks bujur sangkar. Apabila ada 3 kriteria yang dibandingkan dalam satu level matriks maka disebut matriks 3x3. Ciri utama dari matriks perbandingan yang dipakai model AHP adalah kriteria diagonalnya dari kiri atas ke kanan bawah adalah 1 (satu) karena yang dibandingkan adalah dua kriteria yang sama. Selain itu sesuai dengan sistematika berpikir otak manusia, matriks perbandingan yang dibentuk bersifat matriks resiprokal misalnya kriteria A lebih disukai dengan skala 3 dibandingkan kriteria B maka dengan sendirinya kriteria B lebih disukai dengan skala 1/3 dibandingkan A.

Setelah matriks perbandingan untuk sekelompok kriteria telah selesai dibentuk maka langkah berikutnya adalah mengukur bobot prioritas setiap kriteria tersebut dengan dasar persepsi seorang ahli yang telah dimasukkan dalam matriks tersebut. Hasil akhir perhitungan bobot prioritas tersebut merupakan suatu bilangan desimal di bawah satu dengan total prioritas untuk kriteria-kriteria dalam satu kelompok sama dengan satu. Dalam penghitungan bobot prioritas dipakai cara yang paling akurat untuk matriks perbandingan yaitu dengan operasi matematis berdasarkan

(50)

50 operasi matriks dan vector yang dikenal dengan nama eigenvector.

Eigenvector adalah sebuah vector yang apabila

dikalikan sebuah matriks hasilnya adalah vector itu sendiri dikalikan dengan sebuah bilangan scalar atau parameter yang tidak lain adalah eigenvalue.

Bentuk persamaannya sebagai berikut : A.w = λ.w ………..(II.1)

Dengan

w = eigenvector λ = eigenvalue

A = matriks bujursangkar

Eigenvector biasa disebut sebagai vector karakteristiknya dari sebuah matriks bujur sangkar sedangkan eigenvalue merupakan akar karakteristiknya dari matriks

tersebut. Metode ini yang dipakai sebagai alat pengukur bobot prioritas setiap matriks perbandingan dalam model AHP karena sifatnya lebih akurat dan memperhatikan semua interaksi antarkriteria dalam matriks. Kelemahan metode ini adalah sulit dikerjakan secara manual terutama apabila matriksnya terdiri dari tiga kriteria atau lebih sehingga memerlukan bantuan program komputer untuk memecahkannya.

(51)

51 c. Konsistensi

Salah satu asumsi utama model AHP yang membedakannya dengan model-model pengambilan keputusan lain adalah tidak adanya syarat konsistensi mutlak. Dengan model AHP yang memakai persepsi manusia sebagai inputnya maka ketidakkonsistenan mungkin terjadi karena manusia memiliki keterbatasan dalam menyatakan persepsinya secara konsisten terutama kalau harus membandingkan banyak kriteria. Berdasarkan kondisi ini maka manusia dapat menyatakan persepsinya tersebut akan konsisten nantinya atau tidak.

Pengukuran konsistensi dari suatu matriks itu sendiri didasarkan atas eigenvalue maksimum. Dengan eigenvalue maksimum, inkonsistensi yang biasa dihasilkan matriks perbandingan dapat diminimumkan.

Rumus dari indeks konsistensi (consistency index/CI) adalah CI = (λmaks – n) / (n – 1) ………….. (II.2)

Dengan

CI = indeks konsistensi λmaks = eigenvalue maksimum

n = orde matriks

Dengan λ merupakan eigenvalue dan n ukuran matriks, eigenvalue maksimum suatu matriks tidak akan lebih kecil dari

(52)

52 eigenvalue maksimum dengan besarnya matriks, makin konsisten

matriks tersebut dan apabila sama besarnya maka matriks tersebut konsisten 100% atau inkonsistensi 0%. Dalam pemakaian sehari-hari CI tersebut biasa disebut indeks inkonsistensi karena rumus (II.2) di atas memang lebih cocok untuk mengukur inkonsistensi suatu matriks.

Indeks inkonsistensi di atas kemudian diubah ke dalam bentuk rasio inkonsistensi dengan cara membaginya dengan suatu indeks random. Indeks random menyatakan rata-rata konsistensi dari matriks perbandingan berukuran 1 sampai 10 yang didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National Laboratory dan kemudian dilanjutkan oleh Wharton School.

Tabel II.3 Random Consistency Index (RI)

N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

RI 0 0 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 Sumber : Thomas L. Saaty, 1994

CR = CI / RI

CR = Rasio Konsistensi

RI = Indeks Random (Random Consistency Index) Selanjutnya konsistensi responden dalam mengisi kuesioner diukur. Pengukuran konsistensi ini dimaksudkan untuk melihat ketidakkonsistenan respon yang diberikan responden. Jika CR < 0,1 maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria

(53)

53 yang diberikan konsisten. Jika CR > 0,1 maka maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan tidak konsisten. Sehingga jika tidak konsisten, maka pengisian nilai-nilai pada matriks berpasangan pada unsur kriteria maupun alternatif harus diulang.

d. Sintesis Prioritas

Untuk memperoleh perangkat prioritas yang menyeluruh bagi suatu persoalan keputusan, diperlukan suatu pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan suatu bilangan tunggal yang menunjukkan prioritas suatu elemen.

Langkah yang pertama adalah menjumlahkan nilai-nilai dalam setiap kolom kemudian membagi setiap entri dalam setiap kolom dengan jumlah pada kolom tersebut untuk memperoleh matriks yang dinormalisasi. Normalisasi ini dilakukan untuk mempertimbangkan unit kriteria yang tidak sama. Yang terakhir adalah merata-ratakan sepanjang baris dengan menjumlahkan semua nilai dalam setiap baris dari matriks yang dinormalisasi tersebut dan membaginya dengan banyaknya entri dari setiap baris sehingga sintesis ini menghasilkan persentase prioritas relatif yang menyeluruh.

Cara lain untuk memperoleh nilai bobot kriteria adalah dengan langkah-langkah berikut ini :

(54)

54 1) Matriks perbandingan diperoleh dari penilaian responden.

Tabel II.4. Contoh Matriks Awal

Tujuan Sub 1 Sub 2 Sub 3

Sub 1 1 6 2

Sub 2 1/6 1 1/5

Sub 3 1/2 5 1

Jml kolom 1,67 12 3,2

Sumber : Bello, 2003

2) Bagi masing-masing elemen pada kolom tertentu dengan nilai jumlah kolom tersebut. Kemudian hasil tersebut dinormalisasi untuk mendapatkan vector eigen matriks dengan merata-ratakan jumlah baris terhadap tiga elemen subtujuan.

Tabel II.5. Contoh Normalisasi Matriks Tujuan Sub 1 Sub 2 Sub 3 Jumlah

Baris Bobot Sub 1 0,60 0,50 0,63 1,73 0,58 Sub 2 0,10 0,08 0,06 0,25 0,08 Sub 3 0,30 0,42 0,31 1,03 0,34 Jumlah 1,00 1,00 1,00 1,00 Sumber : Bello, 2003

Perhitungan di atas menunjukkan vector eigen yang merupakan bobot prioritas ketiga elemen terhadap tujuan.

(55)

55 Untuk menghitung rasio konsistensi adalah dengan langkah-langkah seperti contoh berikut ini, dengan melanjutkan contoh pada bagian sebelumnya.

Pada contoh perhitungan bobot telah didapatkan bobot dari masing-masing sub tujuan berikut:

Tabel II.6. Contoh Bobot Kriteria

Tujuan Sub 1 Sub 2 Sub 3 Bobot

Sub 1 1 6 2 0,58

Sub 2 1/6 1 1/5 0,08

Sub 3 1/2 5 1 0,34

Sumber : Bello, 2003 dimodifikasi

1) Kalikan nilai matriks perbandingan awal dengan bobot, didapatkan matriks sbb:

Tabel II.7. Contoh Perhitungan Rasio Konsistensi – Mengalikan Matriks Awal Dengan Bobot

Tujuan Sub 1 Sub 2 Sub 3 Jml baris

Sub 1 0,580 0,480 0,680 1,740

Sub 2 0,097 0,080 0,068 0,245

Sub 3 0,290 0,400 0,340 1,030

(56)

56 2) Bagi jumlah baris dengan bobot

Tabel II.8. Contoh Perhitungan Rasio Konsistensi – Membagi Jumlah Baris Dengan Bobot

Tujuan Jml Baris Bobot Hasil Bagi

Sub 1 1,740 0,58 3

Sub 2 0,245 0,08 3,0626

Sub 3 1,030 0,34 3,0294

Sumber : Bello, 2003 dimodifikasi

3) Menghitung nilai λ maks

λ maks = (3+3,0626+3,0294)/3 = 3,03067 4) Menghitung nilai Consistency Index (CI)

CI = 1 -n n maks l CI = (3,03067-3) / (3-1) = 0,015335

5) Menghitung nilai rasio konsistensi (CR), yaitu membagi CI dengan indeks random (RI). Untuk orde matriks n=3 maka nilai RI adalah 0,58.

CR = CI/RI

= 0,015335/0,58 = 0,026

Rasio konsistensi sebesar 0,026 kurang dari batas toleransi 0,1. Maka matriks perbandingan berpasangan pada contoh ini dikatakan konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian tidak perlu diperbaiki/diulang.

(57)

57 4. Aksioma-Aksioma AHP

Pengertian aksioma adalah sesuatu yang tidak dapat dibantah kebenarannya atau yang pasti terjadi. Ada empat aksioma yang harus diperhatikan para pemakai model AHP dan pelanggarannya dari setiap aksioma berakibat tidak validnya model yang dipakai. Aksioma tersebut yaitu (Brodjonegoro & Utama dalam Fatmawati, 2007) : a. Aksioma 1

Reciprocal comparison artinya pengambil keputusan harus dapat

membuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Preferensinya itu sendiri harus memenuhi syarat resiprokal yaitu kalau A lebih disukai dari B dengan skala x, maka B lebih disukai A dengan skala 1/x.

b. Aksioma 2

Homogenity, artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan

dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Kalau aksioma ini tidak dapat dipenuhi maka elemen yang dibandingkan tersebut tidak homogen dan harus dibentuk suatu kelompok elemen-elemen baru.

c. Aksioma 3

Independence, artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif yang ada melainkan oleh obyektif secara keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan atau pengaruh dalam

(58)

58 model AHP adalah searah ke atas. Artinya perbandingan antara elemen-elemen dalam satu level dipengaruhi atau tergantung oleh elemen dalam level di atasnya.

d. Aksioma 4

Expectations, artinya untuk tujuan pengambilan keputusan, struktur

hirarki diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak dipenuhi maka si pengambil keputusan tidak memakai seluruh kriteria atau obyektif yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil dengan tidak lengkap.

5. Penilaian Perbandingan Multipartisipan

Penilaian yang dilakukan oleh banyak partisipan akan menghasilkan pendapat yang berbeda satu sama lain. AHP hanya memerlukan satu jawaban untuk matriks perbandingan. Jadi, semua jawaban dari partisipan harus dirata-ratakan. Dalam hal ini Saaty memberikan metode perataan dengan rata-rata geometric mean. Rata-rata geometrik dipakai karena bilangan yang diRata-rata-Rata-ratakan adalah deret bilangan yang sifatnya rasio dan dapat mengurangi gangguan yang ditimbulkan salah satu bilangan yang terlalu besar atau terlalu kecil.

Teori rata-rata geometrik menyatakan bahwa jika terdapat n partisipan yang melakukan perbandingan berpasangan, maka terdapat n jawaban atau nilai numerik untuk setiap pasangan untuk mendapatkan nilai tertentu dari semua nilai tersebut, masing-masing

(59)

59 nilai harus dikalikan satu sama lain kemudian hasil perkalian itu dipangkatkan dengan 1/n. secara matematis dituliskan sebagai berikut :

aij = (Z1, Z2, Z3, …. ,Zn) n 1

……..(II.3) Dengan

aij = Nilai rata-rata perbandingan berpasangan kriteria

Ai dengan Aj untuk n partisipan

Zi = Nilai perbandingan antara Ai dengan Aj untuk

partisipan i, dengan i=1, 2, 3, …, n n = Jumlah partisipan

F. Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Marlene J. Suarez Bello, 2003. Tujuan utama penelitian ini adalah melakukan evaluasi komparatif proses pemilihan supplier pada lingkungan perusahaan yang berbeda menggunakan pendekatan studi kasus pada berbagai perusahaan yang berbeda, dan mengevaluasi proses pemilihan supplier menggunakan standar ISO 9001:2000. Penelitian ini dilakukan pada 3 perusahaan yang berbeda, yang pertama adalah sebuah perusahaan manufaktur yang bertaraf internasional: Deere and Company, selanjutnya adalah sebuah cabang perusahaan farmasi: Baxter Transfusion Therapies, San German Division. Perusahaan yang ketiga adalah sebuah perusahaan perorangan lokal yang memproduksi injection molding: Techno Plastics Industries. Bello menggunakan metode Analytical

(60)

60 perusahaan di atas. Hasil dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa perbandingan yang meliputi faktor-faktor seperti kriteria pemilihan supplier, proses pemilihan supplier, kompleksitas proses dan peraturan yang dibuat berbeda antara jenis perusahaan yang satu dengan yang lain tergantung pada jenis perusahaan.

Penelitian lain dilakukan oleh Gnanasekaran dkk, 2006 pada perusahaan XYZ, yang merupakan salah satu kelompok industri terkemuka di India yang bergerak dalam industri automobile. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis AHP. Kriteria yang digunakan dalam memilih supplier pada perusahaan XYZ adalah kriteria kualitas, kuantitas, waktu pengiriman dan biaya. Alternatif supplier yang akan dipilih adalah supplier 1, supplier 2, supplier 3, dan supplier 4. Dari perhitungan AHP menghasilkan prioritas: supplier 4 dengan bobot 32%, supplier 1 dengan bobot 25,80%, supplier 2 dengan bobot 21,80%, dan supplier 3 dengan bobot 20,40%. Hasil dari penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan metode AHP dalam memilih supplier lebih baik dibandingkan dengan sistem yang digunakan oleh perusahaan. Metode AHP memungkinkan pemilihan supplier menjadi lebih transparan sehingga memberikan manfaat yang besar bagi perusahaan karena dapat memberikan kinerja yang nyata dari supplier dan menuju pada peningkatan yang berkesinambungan.

Penelitian lain dilakukan oleh Surjasa dkk. pada PT ABC, sebuah perusahaan milik negara yang bergerak dalam bidang industri kimia. Tujuan dari penelitian ini adalah memilih supplier terbaik menggunakan metode

(61)

61 AHP. Kriteria-kriteria yang dipertimbangkan adalah kriteria harga, kualitas, waktu pengiriman, ketepatan jumlah serta kriteria customer care. Hasil perhitungan bobot kriteria pemilihan supplier menunjukkan bahwa nilai kriteria harga adalah 25,16%, kualitas adalah 23,16%, waktu pengiriman adalah 22,97%, ketepatan jumlah adalah 17,16%, serta kriteria customer care adalah 10,6%. Hasil perhitungan supplier terpilih adalah PT M1 dengan nilai prioritas 0,477. Dalam penelitian ini dihasilkan juga suatu sistem informasi Vendor Managed Inventory (VMI), diharapkan dengan sistem informasi ini

proses pengadaan bahan baku antara supplier dan PT. ABC dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

(62)

62 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah rencana dari struktur penelitian yang mengarahkan proses dan hasil penelitian sedapat mungkin menjadi valid, obyektif, efisien, dan efektif (Jogiyanto, 2004).

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian studi kasus (case study design). Studi kasus meliputi analisis mendalam dan kontekstual terhadap

situasi yang mirip dalam organisasi lain, di mana sifat dan definisi masalah yang terjadi adalah serupa dengan yang dialami dalam situasi saat ini (Sekaran, 2006). Penelitian ini dilakukan pada sebuah perusahaan kontraktor, yaitu PT Cazikhal. Objek yang diteliti adalah proses pengambilan keputusan dalam menentukan supplier kayu yang akan dipilih.

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006). Populasi dari penelitian ini adalah pengambil keputusan dan manajemen PT Cazikhal sebanyak 20 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan judgment sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. Hal ini dikarenakan metode AHP mensyaratkan ketergantungan pada sekelompok ahli sesuai dengan jenis spesialis terkait

Figur

Gambar I.1 Kerangka Pemikiran  Sumber : Fatmawati, 2007 dimodifikasi  Kriteria dan Subkriteria dalam Pemilihan Supplier:

Gambar I.1

Kerangka Pemikiran Sumber : Fatmawati, 2007 dimodifikasi Kriteria dan Subkriteria dalam Pemilihan Supplier: p.26
Gambar II.1. Tahap Pengambilan Keputusan  Sumber : Fitria, 2008

Gambar II.1.

Tahap Pengambilan Keputusan Sumber : Fitria, 2008 p.36
Gambar II.2. Struktur Hirarki AHP  Sumber: Thomas L. Saaty, 1994

Gambar II.2.

Struktur Hirarki AHP Sumber: Thomas L. Saaty, 1994 p.44
Tabel II.1 Matriks Perbandingan Berpasangan

Tabel II.1

Matriks Perbandingan Berpasangan p.46
Tabel II.5. Contoh Normalisasi Matriks  Tujuan  Sub 1  Sub 2  Sub 3  Jumlah

Tabel II.5.

Contoh Normalisasi Matriks Tujuan Sub 1 Sub 2 Sub 3 Jumlah p.54
Tabel II.4. Contoh Matriks Awal

Tabel II.4.

Contoh Matriks Awal p.54
Tabel II.7. Contoh Perhitungan Rasio Konsistensi –  Mengalikan Matriks Awal Dengan Bobot

Tabel II.7.

Contoh Perhitungan Rasio Konsistensi – Mengalikan Matriks Awal Dengan Bobot p.55
Tabel II.8. Contoh Perhitungan Rasio Konsistensi –  Membagi Jumlah Baris Dengan Bobot

Tabel II.8.

Contoh Perhitungan Rasio Konsistensi – Membagi Jumlah Baris Dengan Bobot p.56
Gambar IV.1 Stuktur Organisasi Perusahaan  Sumber : Company profile PT Cazikhal

Gambar IV.1

Stuktur Organisasi Perusahaan Sumber : Company profile PT Cazikhal p.74
Gambar IV.2

Gambar IV.2

p.80
Tabel IV.1

Tabel IV.1

p.81
Tabel IV.2

Tabel IV.2

p.82
Tabel IV.5

Tabel IV.5

p.83
Tabel IV.17

Tabel IV.17

p.88
Tabel  IV.9  di  atas  menunjukkan  bahwa  dalam  memilih  supplier  kayu,  prioritas  pertama  PT  Cazikhal  yaitu  kriteria  kualitas  dengan  bobot

Tabel IV.9

di atas menunjukkan bahwa dalam memilih supplier kayu, prioritas pertama PT Cazikhal yaitu kriteria kualitas dengan bobot p.89
Tabel IV.19

Tabel IV.19

p.89
Tabel IV.20

Tabel IV.20

p.91
Tabel IV.21

Tabel IV.21

p.91
Tabel IV.22

Tabel IV.22

p.92
Tabel  IV.23  di  atas  menunjukkan  bahwa  pada  kriteria  kualitas,  subkriteria  penyediaan  barang  tanpa  cacat  (Q2)  menempati  prioritas  pertama  dalam  memilih  supplier  dengan  nilai  bobot  0,466

Tabel IV.23

di atas menunjukkan bahwa pada kriteria kualitas, subkriteria penyediaan barang tanpa cacat (Q2) menempati prioritas pertama dalam memilih supplier dengan nilai bobot 0,466 p.93
Tabel IV.24

Tabel IV.24

p.94
Tabel  IV.25  di  atas  menunjukkan  bahwa  pada  kriteria  layanan,  subkriteria  cepat  tanggap  menyelesaikan  keluhan  pelanggan  (S4)  menempati  prioritas  pertama  dalam  pemilihan  supplier  pada  PT  Cazikhal  dengan  nilai  bobot  0,410

Tabel IV.25

di atas menunjukkan bahwa pada kriteria layanan, subkriteria cepat tanggap menyelesaikan keluhan pelanggan (S4) menempati prioritas pertama dalam pemilihan supplier pada PT Cazikhal dengan nilai bobot 0,410 p.95
Tabel IV.26

Tabel IV.26

p.96
Tabel IV.29

Tabel IV.29

p.98
Tabel IV.32

Tabel IV.32

p.100
Tabel IV.35

Tabel IV.35

p.102
Tabel IV.50

Tabel IV.50

p.112
Tabel IV.51

Tabel IV.51

p.113
Tabel  IV.54  di  atas  menunjukkan  bahwa  supplier  X  unggul  pada  beberapa kriteria yaitu kriteria harga dengan bobot 0,490, kriteria kualitas  dengan  bobot  0,479,  kriteria  layanan  dengan  bobot  0,479,  dan  kriteria  ketepatan jumlah dengan bob

Tabel IV.54

di atas menunjukkan bahwa supplier X unggul pada beberapa kriteria yaitu kriteria harga dengan bobot 0,490, kriteria kualitas dengan bobot 0,479, kriteria layanan dengan bobot 0,479, dan kriteria ketepatan jumlah dengan bob p.116
Tabel IV.55

Tabel IV.55

p.118

Referensi

Memperbarui...