PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS V SD INPRES JONGAYA II
KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh : NOPIANTI 10540975115
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Kantor: Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-866132. Fax. (0411)
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : NOPIANTI
Nim : 10540 9751 15
Jurusan : Pendidikan Guru SekolahDasar S1 Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah asli hasil karya sendiri, bukan hasil ciplakan atau buatan oleh orang lain.
Demikian pernytaan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassarr, September 2019 Yang Membuat Permohonan
NOPIANTI
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Kantor: Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-866132. Fax. (0411)
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : NOPIANTI
Nim : 10540 975115
Jurusan : Pendidikan Guru SekolahDasar S1 Fakultas : Keguruan dan IlmuPendidikan
Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn Siswa Kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1.Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun)
2.Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3.Saya tidak akan selalu melakukan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4.Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1,2 dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikan Perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran
Makassarr, September 2019 Yang Membuat Perjanjian
NOPIANTI
MOTO DAN PERSEMBAHAN
Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak (Aldus Huxley).
Bersabar dalam berusaha, berusaha dengan tekun dan pantang menyerah serta bersyukur atas apa yang telah diperoleh karena sesungguhnya bersama kesukaran itu ada keringanan. Karena itu bila kau sudah selesai (mengerjakan yang lain). Dan berharaplah kepada Tuhanmu. (Q.S Al Insyirah : 6-8).
Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum (Mahatma Gandhi)
Kupersembahkan karya ini kepada :
bapak dan Ibunda tercinta,
Saudara-saudariku tersayang,
Serta sahabat-sahabatku
ABSTRAK
Nopianti, 2019. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pkn Kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Nasrun Hasan dan Pembimbing II Abd. Hamid Mattone.
Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe team game tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar Siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar ?.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran team game tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn Kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar, sebanyak 25 siswa terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan.
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar PKn berupa Tes siklus 1 dan Tes siklus 2. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut. Hasil belajar murid siklus pertama mengalami peningkatan yakni dengan jumlah siswa 25 siswa yang tuntas 15 siswa (60%), sedangkan yang tidak tuntas 10 siswa (40%). Selanjutnya pada siklus kedua dengan siswa 25 siswa yang tuntas 20 siswa (80%) sedangkan yang tidak tuntas 5 siswa (20%), dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar tahun pelajaran 2019/2020 yakni dari yang tuntas 15 siswa (60%) – 20 siswa (80%).
Kata kunci : Model Pembelajaran Team Game Tournament (TGT), Mata Pelajaran PKN, Hasil Belajar.
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah swt., yang telah memberi kekuatan dan kesehatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “penerapan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran PKn kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar”. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw., yang telah menyinari dunia ini dengan cahaya islam. Semoga kita termasuk umat beliau yang akan mendapatkan syafa’aat di hari kemudian. Amin.
Penyusun menyadari bahwa sejak penyusunan proposal sampai skripsi ini rampung, banyak hambatan, rintangan, dan halangan, namun berkat izin Allah swt., dan bantuan, motivasi, serta doa dari berbagai pihak semua ini dapat teratasi dengan baik. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis Ucapkan kepada orang tua tercinta, Ayahanda Saripuddin dan Ibunda Suriati, serta saudaraku atas segala pengorbanan, pengertian, kepercayaan, dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik. Semoga Allah swt., senantiasa melimpahkan Rahmat dan Berkah-Nya kepada kita semua.
Selama dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan material maupun moral. Oleh karena itu, penulis menyampaikan penghargaan dan penghormatan serta ucapan terima kasih kepada Drs.H.Nasrun Hasan,M.Pd (Pembimbing I) dan kepada Drs.H.Abd.Hamid Mattone,M.Si (Pembimbing II) yang sudah bersusah payah membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Prof. Dr. H. Abdul Rahman Rahim, SE, MM., yang banyak berpikir demi kemajuan Universitas Muhammadiyah Makassar. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga penulis sampaikan kepada Erwin Akib, S.Pd, M.Pd, Ph.D, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Penulis juga ucapkan terima kasih kepada Aliem Bahri, S.Pd, M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selain itu, terima kasih dan penghargaan kepada seluruh staf Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bantuan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan studi. Penulis juga anturkan rasa hormat dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak / Ibu dosen atas segala arahan, petunjuk dan jasa – jasanya yang telah memberikan ilmu kepada penulis.
Terima kasih juga kepada H.Afiati Hasirun,S.Pd kepala sekolah SD Inpres Jongaya II Kota Makassar dan Maryam Badaruddin,S.Pd Guru Kelas SD Inpres Jongaya II Kota Makassar serta guru-guru yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Serta Sahabat-sahabat seperjuanganku (Kiki, Husni, Unye, Ekky,
Cibeb) Teman-teman seperjuanganku khususnya kelas E yang telah memberikan motivasi dan masukan selama proses hingga selesainya penelitian ini. Untuk teman- teman Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, angkatan 2015.
Terlalu banyak orang yang berjasa kepada penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, sehingga tidak akan termuat bila dicantumkan namanya satu per satu, oleh karena itu kepada mereka semua tanpa terkecuali penulis ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan penghargaan setinggi-tingginya. Semoga Allah swt., membalas semua kebaikan dan jerih payah kita dengan pahala yang melimpah dan tak terbatas.
Amin Ya Rabbal Alamin…
Makassar, September 2019
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, HIPOTESIS ... 6
A. Kajian Pustaka ... 6
1. Penelitian Relevan ... 6
2. Model Pembelajaran Kooperatif ... 7
3. Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT... 9
4. Hasil Belajar ... 14
5. Pembelajaran PKn ... 15
6. Ruang Lingkup Pembelajaran PKn ... 17
C. Hipotesis Tindakan ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
A. Jenis Penelitian ... 23 B. Setting Penelitian ... 24 1. Tempat Penelitian... 24 2. Waktu Penelitian ... 24 C. Desain Penelitian PTK ... 24 D. Sumber Data ... 26
E. Metode Pengumpulan Data ... 26
F. Analisis Data ... 27
G. Prosedur Penelitian ... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Hasil Penelitian ... 35
1. Hasil Penelitian Siklus I ... 35
2. Hasil Penelitian Siklus II ... 45
B. Pembahasan ... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 59
A. Kesimpulan ... 59
B. Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 60 LAMPIRAN – LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 : Hasil Belajar Siswa Kelas V Mata Pelajaran PKn Siklus I SD
Inpres Jongaya II Kota Makassar Tahun Ajaran 2019/2020 ... 41
Tabel 4.2 : Rekapitulasi Hasil Belajar PKn Siklus I ... 42
Tabel 4.3 : Hasil Belajar Siswa Kelas V Mata Pelajaran PKn Siklus II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar Tahun Ajaran 2019/2020 ... 50
Tabel 4.4 : Rekapitulasi Hasil Belajar PKn Siklus II ... 51
Tabel 4.5 : Rekapitulasi Hasil Belajar PKn Siklus I ... 54
Tabel 4.6 : Rekapitulasi Hasil Belajar PKn Siklus II ... 55
Tabel 4.7 : Hasil Belajar Siswa Kelas V Mata Pelajaran PKn Dari Data Awal-Siklus II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar ... 56
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 : Rancangan Meja Games ... 11
Gambar 2.2 : Rancangan Meja Tournament ... 12
Gambar 2.3 : Skema Kerangka Pikir Penelitian ... 21
Gambar 3.1 : Desain Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin ... 24
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Menyadari akan pentingnya pendidikan, setiap bangsa yang ada di atas permukaan bumi ini seakan berlomba dan menata serta mengembangkan sistem pendidikan semaksimal mungkin dengan harapan memberikan jaminan bagi tingkat kesejahteraan umum. Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini berarti pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses pembelajaran dirancang dan dijalankan secara profesional. Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh siswa setelah diselenggarakan kegiatan pendidikan.Seluruh kegiatan pendidikan yakni bimbingan pengajaran dan atau latihan yang diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pendidikan.
Setiap kegiatan pembelajaran selalu melibatkan dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ,pada pasal 10 ayat (1)menyatakan bahwa “kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi social, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. Dimana kompetensi pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap siswa, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yan di milikinya. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa,
menjadi teladan bagi siswa, dan berakhlak mulia. Kompetensi professional adalah penguasaan materi secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran disekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. Kompetensi social adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan siswa, tenaga kependidikan, orang tua/wali siswa, dan masyarakat sekitar.
Salah satu mata pelajaran yang terdapat pada pendidikan sekolah dasar yaitu pendidikan kewarganegaraan (PKn). PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, kritis, kreatif, dan inovatif yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945. Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil, kritis, inovatif dan berkarakter yang setia kepada Bangsa dan Negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, peneliti memperoleh data bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn rendah. Dapat dilihat nilai rata-rata hasil ujian mid semester siswa yaitu 65, hal ini menunjukkan rata-rata nilai siswa masih di bawah standar kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan di SD Inpres Jongaya II Kota Makassar yaitu 70.Jumlah siswa kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar yaitu 25 siswa, yang mencapai KKM
sebanyak 15 siswa dan 10 siswa yang tidak mencapai KKM. Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn disebabkan oleh dua faktor yaitu guru dan siswa. Dari aspek guru, guru dalam proses belajar mengajar kurang melibatkan siswa secara aktif sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar. Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah metode yang kurang mengaktifkan siswa. Guru kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Kemudian dari aspek siswa yaitu kurangnya perhatian dan motivasi terhadap materi yang dijelaskan guru.Siswa takut mengeluarkan pendapat dan tidak terjadi interaksi antara guru dan siswa.
Oleh karena itu, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menstimulus siswa agar aktif dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran PKn. Salah satu model pembelajaranyang bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menstimulus siswa aktif dalam pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif tipe team game tournament (TGT). Model pembelajaran team game tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif
yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan. Ini terbukti pada penelitan sebelumnya yang dilakukan oleh Armansya dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe team games tournament (TGT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada
Siswa Kelas V SD Inpres No. 169 Bontoparang Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto”. Setelah melakukan penelitian tersebut, maka hasil belajar siswa meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti termotivasi untuk melaksanakan penelitian dengan judul Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe team game tournament (TGT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran
PKn Kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:_ Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe team game tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar Siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar _?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model pembelajaran team game tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar Siswa pada Mata Pelajaran
PKn Kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Bagi Akademisi, menjadi bahan masukan dan informasi dalam upaya penyempurnaan, pengembangan, dan peningkatan mutu pendidikan. b. Bagi Peneliti, menambah khazanah pengetahuan dan wawasan dalam
penyusunan karya tulis ilmiah yang bertema kependidikan, sebagai langkah awal untuk mengadakan penelitian selanjutnya dengan memperkenalkan satu alternatif belajar kelompok (cooperative learning)
dengan tipe Team Game Tournament yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar PKn di SD.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi para guru dapat meningkatkan keterampilan dalam penguasaan metode yang tepat dalam proses pembelajaran serta dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
b. Bagi siswa dapat meningkatkan hasil belajar PKn khususnya bagi siswa kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
c. Bagi Kepala Sekolah dapat menjadi acuan atau sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan sebuah pengajaran yang lebih baik agar hasil belajar siswa dapat meningkat.
6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka
1. Penelitian Relevan
- Penerapan model pembelajar kooperatif tipe team gamer tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V SD Inpres No.169 Bontoparang Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto.
- Penelitian dilakukan oleh Musfiroh afita, dengan judul skripsi _penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT)untuk meningkatkan hasil belajar IPS materi peristiwa sekitar proklamasi siswa kelas VB MI Muhammadiyah pengadegan kecamatan pengedegan kabupaten purbalingga tahun 2014/2015_ pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. - Penelitian dilakukan oleh anis widiastuti dengan judul _ upaya
meningkatkan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe Tean Games Tournament (TGT) pada siswa V MI Muhammadiyah jambukidul,ceper, klaten Tahun Pelajaran 2013/2014_. Program dual mode system (DMS) SI Kedua PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta_.
2. Model Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Kata cooperative berarti mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, yaitu dengan saling membantu satu sama lain sebagai sebuah tim. Jadi pembelajaran kooperatif dapat diartikan sebagai belajar bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lain, dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mampu mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas yang telah ditentukan.Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas (Suprijono, 2012: 54-55) .
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk bekerja sama dengan temannya secara sinergis, integral, dan kombinatif. Selain itu, para siswa juga diajak menghindari sifat egois, individuallis, serta kompetisi tidak sehat sedini mungkin agar masing-masing tidak mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Pembelajaran kooperatif lebih menekankan pada kepentingan bersama sehingga siswa yang pintar bisa berbagi dengan temannya yang tergolong biasa saja. Demikian pula sebaliknya.
“Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat
sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen” (Rusman , 2012: 202).
Dalam pengertian lain dinyatakan bahwa, “Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 205 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen” Slavin (Komalasari, 2010: 62). Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah suatu model pembelajaran yang menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari saling berbagiantara teman, antar kelompok,dan antara siswa yang mengerti ke yang belum mengerti, di mana guru disarankan agar membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang heterogen.
b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim (Isjoni, 2014: 27-28) Model Cooperative Learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum yaitu (1) Hasil belajar akademik. Dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan social, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep sulit, (2) Penerimaan terhadap perbedaan individu. Tujuan lain model cooperative learning
adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain, (3) Pengembangan keterampilan sosial. Tujuan ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.
Ketrampilan-ketrampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
Adapun manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa menurut Isjoni (2014) adalah:
a. Meningkatkan kemampuan untuk bekerjasama dan bersosialisasi.
b. Melatih kepekaan diri, empati melalui variasi perbedaan sikap dan perilaku selama bekerja sama.
c. Mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.
d. Meningkatkan motivasi belajar, harga diri dan sikap perilaku yang positif. 3. Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan.
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda(Rusman, 2012: 224). Menurut Slavin(2014: 4), pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran.
b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Game Tournament (TGT)
Shoimin (2014) mengemukakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT), yaitu: 1. Penyajian Kelas (Class Presentations)
2. Belajar dalam kelompok (Teams) 3. Permainan (Game)
4. Pertandingan atau Lomba (Tournament) 5. Penghargaan Kelompok (Team Recognition),,
Guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas atau sering juga disebut dengan presentasi kelas (Class Presentasion) di awal pembelajaran. Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran, pokok materi, dan penjelasan singkat tentang LKS yang diberikan kepada kelompok. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah yang dipimpin oleh guru.Pada saat penyajian kelas, peserta didik harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu peserta didik bekerja lebih
baik pada saat kerja kelompok dan pada saat permainan karena skor permainan akan menentukan skor kelompok.
Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok berdasarkan kriteria kemampuan (prestasi) peserta didik dari ulangan harian sebelumnya, jenis kelamin, etnik, dan ras. Kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 6 orang peserta didik.Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok untuk bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
Game atau permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan
dengan materi, dan dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat peserta didik dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyak permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Peserta didik yang menjawab benar akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan untuk turnamen dan lomba mingguan.
Gambar 2.1. Rancangan meja games 1
3
2 4
Turnamen atau lomba adalah struktur belajar di mana permainan terjadi. Biasanya turnamen atau lomba dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja siswa (LKS).Pada turnamen atau lomba pertama, guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen atau lomba.Tiga siswa tertinggi prestasinya di kelompokkan pada meja I, tiga peserta didik selanjutnya pada meja II, dan seterusnya.
Gambar 2.2. Rancangan Meja Tournament
Setelah turnamen atau lomba berakhir, guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang. Masing-masing tim atau kelmpok akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang telah
Tim A
A1 A2 A3 A4 Tinggi Sedang Sedang Kurang
Tournament Meja 1 Tournament Meja 2 Tournament Meja 3 Tournament Meja 4 Tim B B1 B2 B3 B4 Tinggi Sedang Sedang Kurang Tim C
C1 C2 C3 C4 Tinggi Sedang Sedang Kurang
ditentukan. Tim atau kelompok mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 50 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 50-40 dan “Good Team” apabila rata-rata 40 ke bawah. Hal ini dapat menyenangkan para peserta
didik atas prestasi yang telah mereka buat.
c. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Game Tournament (TGT)
Shoimin (2014) mengemukakan bahwa kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT), yaitu:
1. Model Team Game Tournament (TGT) tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi peserta didik yang berkemampuan akademik lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan penting dalam kelompoknya.
2. Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya.
3. Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada peseta didik atau kelompok terbaik.
4. Dalam pembelajaran, peserta didik menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa turnamen dalam model ini.
Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) menurut Shoimin (2014), yaitu:
2. Guru dituntut untuk pandai memilih materi pelajaran yang cocok untuk model ini.
3. Guru harus mempersiapkan model ini dengan baik sebelum diterapkan. Misalnya, membuat soal untuk setiap meja turnamen atau lomba, dan guru harus tau urutan akademis peserta didik dari yang tertinggi hingga yang terendah.
4. Hasil Belajar
a. Pengertian hasil Belajar
Berdasarkan uraian tentang konsep belajar di atas, maka dapat dipahami tentang makna dari hasil belajar yaitu perubahan–perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar.Pengertian tentang hasil belajar menurut Nawawi (Susanto, 2012: 5) yaitu “Hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes”.
Para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai definisi hasil belajar. Menurut Hamalik (2014:159),“Hasil belajar menunjukkan kepada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa”.Sedangkan menurut Bloom (Suprijono: 2012), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan,
merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai).Domain afektif adalah reciving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (kerakterisasi).Domain
psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, rountinized.Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, managerial, dan intelektual.
Hasil belajar adalah bukan merupakan proses tunggal, melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingakh laku, dimana tingkah laku tersebut merupakan hasil dari efek kumulatif dari belajar. Artinya banyak keterampilan yang telah dipelajari memberikan sumbangan bagi belajar keterampilan yang lebih rumit. Gagne & Driscool (Ekawarna, 2013: 70)
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan.
5. Pembelajaran PKn
a. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Kewarganegaraan dalam bahasa Latin disebut “civis”, selanjutnya dari kata “civis” ini dalam bahasa Inggris timbul kata ”civic” artinya mengenai warga negara atau kewarganegaraan.
Dari kata “civic” lahir kata “civics”, ilmu kewarganegaraan, civic education dan pendidikan kewarganegaraan.PendidikanKewarganegaraan
(Citizenship) merupakan mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. Nilai luhur dan moral ini diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat, dan makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa.
Azyumardi Azra (Susanto, 2012: 226) menyatakan bahwa “Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendididkan yang mengkaji dan membahas tentang perintah, konstitusi, lembaga – lembaga demokratis, rule of law, HAM, hak dan kewajiban warga negara serta proses demokrasi”. Sedangkan Zamroni (Susanto, 2012: 226), “Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan demokratis yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berfikir kritis, inovatif, kreatif, kebersamaan dan bertindak demokratis”. Berdasarkan beberapa defenisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan yang memberikan pemahaman dasar tentang pemerintah, tata cara demokrasi, tentang kepedulian sikap, pengetahuan politik, sehingga dapat mempersiapkan warga negara yang demokratis dan partisipatif.
b. Tujuan Pembelajaran PKn
Tujuan pembelajaran PKn di sekolah dasar adalah untuk membentuk watak atau karakteristik warga negara yang baik. Menurut Mulyasa (Susanto, 2012), tujuan mata pelajaran PKn adalah untuk menjadikan siswa agar :
1) Mampu berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapai persoalan hidup maupun isu kewarganegaraan di negaranya.
2) Mampu berpartisipasi dalam segala bidang kegiatan, secara aktif dan bertanggung jawab, sehingga dapat bertindak secara cerdas dalam semua kegiatan.
3) Bisa berkembang secara positif dan demokratis, sehingga mampu hidup bersama dengan bangsa lain di dunia dan mampu berinteraksi serta mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik. Hal ini akan mudah tercapai jika pendidikan nilai dan norma tetap ditanamkan pada siswa sejak dini karena jika siswa telah memiliki norma yang baik, maka tujuan untuk mencapai warga negara yang baik akan mudah terwujudkan.
Demikian dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari Pendidikan
Kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara serta membentuk sikap dan perilaku cinta tanah air yang bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional dalam diri para murid sebagai calon ilmuan yang sedang mengkaji dan akan menguasai ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni. Sebab kualitas warga negara yang baik adalah sangat ditentukan terutama oleh keyakinan dan sikap hidupnya dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di samping derajat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajarinya.
6. Ruang Lingkup Pembelajaran PKn
Darmadi (2013) dalam bukunya mengatakan bahwa ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a. Persatuan dan kesatuan bangsa b. Norma
c. Hak asasi manusia d. Kebutuhan warga negara e. Konstitusi negara
f. Kekuasaan dan politik g. Pancasila
Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi: hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketebukaan dan jaminan keadilan.Norma, hukum dan peraturan, meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.Hak asasi manusia, meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.Kebutuhan warga negara, meliputi: hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara.
Konstitusi negara, meliputi: proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.Kekuasaan dan politik, meliputi: pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat,
demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi.Pancasila, meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka.
Target harapan dan isi PKn adalah memanusiakan dan mendewasakan serta membudayakan anak manusia (murid) secara paripurna
berdasarkan nilai moral pancasila, agama dan budaya luhur bangsa Indonesia sehingga kelak dikemudian hari akan hidup suatu generasi “manusia Indonesia Pancasila sejati” dalam tatanan kehidupan budaya Pancasila. Djahiri (2005: 1)
Karena itu dalam pembelajaran PKn, guru dalam membelajarkan siswa dituntut untuk menggunakan metode yang bervariasi agar tidak menimbulkan kejenuhan atau kebosanan para siswa. Terdapat beberapa metode pembelajaran berbasis pendekatan pembelajaran kontekstual yang dapat dikembangkan dalam pendidikan kewarganegaraan, antara lain pola pembelajaran kooperatif
(cooperative learning), penemuan (discovery), metode pemecahan masalah (problem solving), inkuiri, interaktif, eksploratif, pikir kritis, dan pemecahan masalah.
Beberapa metode pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi strategi alternatif sehingga para guru mampu meningkatkan motivasi dan kreasi berfikir murid dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.Karena itu
penelitian ini mencoba menerapkan salah satu metode pembelajaran tersebut, yaitu metode pembelajaran kooperatif tipe TeamGameTournament (TGT) yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar murid dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
B. Kerangka Pikir
Setelah melakukan observasi, ditemukan permasalahan hasil belajar pada mata pelajaran PKn rendah.Hal ini disebabkan oleh dua faktor yaitu, faktor guru dan faktor siswa. Dari faktor guru yaitu; (1) Guru dalam proses belajar mengajar kurang melibatkan siswa secara aktif sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar, (2) Metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran adalah metode ceramah. (3) Guru kurang memperjelas materi yang diajarkan. Sedangkan dari faktor siswa; (1) Kurangnya minat dan pemahaman siswa tentang materi pembelajaran, (2) Siswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran, (3)Siswa yang pintar terlihat lebih menonjol dibandingkan siswa yang kurang pintar.
Shoimin (2014) mengemukakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT), yaitu:
1. Penyajian Kelas (Class Presentations) 2. Belajar dalam kelompok (Teams) 3. Permainan (Game)
4. Pertandingan atau Lomba (Tournament) 5. Penghargaan Kelompok (Team Recognition),,
Agar permasalahan yang dikemukakan diatas dapat teratasi,maka diperlukan inovasi dalam proses pembelajaran. Salah satunya dengan menerapkan
modelpembelajarankooperatif tipe Team Games Tournament(TGT). Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT), yaitu : (1) Penyajian Kelas, (2) Belajar dalam Kelompok, (3) Permainan, (4) Pertandingan, (5) Penghargaan. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament ini diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:
Hasil belajarPKn siswa kelas V rendah Guru : 1. Guru dalam proses belajar mengajar kurang melibatkan siswa secara aktif sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar. 2. Metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran adalah metode ceramah. 3. Guru kurang memperjelas materi yang diajarkan.
Penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Team Game
Tournament (TGT)
Langkah 1 : Penyajian Kelas (Class
Presentasion) Langkah 2 : Belajar dalam
Kelompok (Team) Langkah 3 : Permainan (Game) Langkah 4 : Pertandingan
(Tournament) Langkah 5 : Penghargaan
(Team
ReRecognition)
Hasil Belajar PKn akan Meningkat
Siswa : 1. Kurangnya minat dan pemahaman siswa tentang materi pembelajaran. 2. Siswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran. 3. Siswa yang pintar terlihat lebih menonjol dibandingkan siswa yang kurang pintar
Gambar 2.3. Skema Kerangka Pikir penelitian Pembelajaran PKn di kelas V SD Inpres Jongaya II
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir, hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah “Jika model pembelajaran team game tournament (TGT) diterapkan maka hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research). Asrori mengatakan bahwa “penelitian tindakan kelas adalah suatu pengamatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara
bersamaan”.Sedangkan menurut Rochiati Wiriaatmadja (2008:13) “penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri”.
Selanjutnya menurut Paizaluddin & Ermalinda (2014: 8) : penelitian tindakan kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksnakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah pendekatan penelitian yang dilakukan di dalam kelas dengan sasaran kegiatan proses mengajar guru. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dengan cara siklus berulang. Setiap siklus meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
B. Setting Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres Jongaya II Kota Makassar Pada Tahun Ajaran 2018/2019. Alasan pemilihan sekolah ini adalah masih ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran PKn dan adanya dukungan dari guru kelas.
2. Waktu Penelitan
Penelitian ini di lakukan pada 17 juli sampai 15 agustus 2019. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kelender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di dalam kelas.
C. Desain Penelitian PTK
Menurut Kurt Lewin, menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri atas beberapa siklus, setiap siklus terdiri atas empat langkah, yaitu :
(1) Perencanaan
Merancang penelitian tindakan yang akan dilakukan. Kalau pelaksanaannya di kelas berarti rencana/perencanaan tersebut disesuaikan dengan objek dan masalah yang ditingkatkan.
(2) Pelaksanaan/Tindakan
Melakukan intervensi sesuai dengan rencana yang telah disusun. Tindakan dilakukan dengan hati-hati dan teliti agar dicapai peningkatan yang baik.
Mengamati dampak tindakan yang dilakukan. Apakah rencana dan tindakannya berhasil atau tidak. Artinya, apakah ketika proses ada peningkatan atau tidak (peningkatan motivasi/semangat, peran, dan berhasil).
(4) Refleksi
Membuka dan membahas kembali terhadap apa yang telah dilakukan. Refleksi disini untuk mengetahui kekurangan, kelemahan, dan ketidakberhasilan tindakan yang telah dilakukan kemudian menyusun rekomendasi dan saran-saran untuk melangkah pada siklus berikutnya jika belum tuntas.
Desain dari PTK model Kurt Lewin dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.1. Desain Penelitian Tindakan Kelas Kurt Lewin Perencanaan SIKLUS I Pelaksanaan Refleksi Pengamatan Perencanaan Refleksi SIKLUS II Siklus n Pengamatan Pelaksanaan
D. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subyek asal dapat diperoleh. Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam menentukan metode penulisan data. Sumber data merupakan sumber yang diperlukan untuk mengumpulkan data yang kita perlukan dalam penelitian, khususnya penelitian tindakan kelas ini. Dalam penelitian ini, penulis membaginya dalam dua bagian yaitu:
1. Sumber Data Primer
Data primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui perantara). Sumber data primer diperoleh para peneliti untuk menjawab pertanyaan peneliti. Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individu maupun kelompok, hasil observasi terhadap kejadian atau kegiatan dan hasil penguji. Ada dua metode yang dapat digunakan dalam pengumpulan data primer yaitu: metode survay dan wawancara
2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang bukan diusahankan sendiri pengumpulannya. Kaitannya dengan peneliti ini penulis mencari bahan lain yang berhubungan popok bahasan yaitu berkenaan dengan eksistensi guru dalam pendidikan dan standar ketuntasan pendidikan dalam pembelajaran seperti dari buku, mejalah pendidikan, situs internet dan lain sebagainya.
E. Metode Pungumpulan Data
Untuk mendapatkan data dan informasi yang prnulis perlukan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa metode antaran lain:
1. Metode Observasi
Observasi atau pengamatan adalah pengumpulan data yang dilakukan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejalah-gejalah yang diselidiki. Salah
satu teknik pengumpulan data yang paling banyak berpengaruh dalam penelitian tindakan kelas dalam penggunaan metode observasi. Teknik observasi sebagai alat pengumpilan data, telah dikenal dalam hampir semua metode penelitian.
Pada penelitian tindakan kelas, para guru peneliti sangat dianjurkan untuk menggunakan metode observasi partisipatif. Karena dalam penelitian ini, peneliti dianjurkan berpartisipasi dalam kegiatan penelitian. Dengan menjadi anggota tim peneliti yang juga melaksanakan kegiatan mengajar di kelas, peneliti
mendapatkan beberapa keuntungan. Pertama kehadirannya tidak di anggap
sebagai orang asing, tetapi menjadi kawan yang terlibat secara aktif dan dipercaya oleh responden. Kedua, atas dasar pengalamannya mereka juga dapat memberikan data atau informasi yang muncul dalam setting penelitian. Ketiga, dangan
mengerjakan secara nyata, yaitu berinteraksi dengan para siswa, peneliti dapat menjadi narasumber atau data yang utama.
2. Metode Interveuw (wawancara)
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan. Dalam penelitian tindakan kelas, wawancara yang baik adalah menggunakan wawancara mendalam. F. Analisis Data
Teknik analisis data dalam PTK deskriptif analisis. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian:
1. Teknik Observasi
Objek yang akan diteliti atau diobservasi merupakan data yang sangat penting dalam penelitian penerapan kooperatif tipe Teams Games Tournament
(TGT) adalah kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Observasi yang akan dilakukan meliputi:
a. Minat siswa terhadap mata pelajaran PKn b. Keaktifan dalam belajar
c. Menjawab pertanyaan d. Memberi pendapat
e. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain f. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
g. Motifasi dalam mengerjakan tugas.
Ketujuh hal tersebut hal tersebut di atas di observasi oleh penulis pada saat berlangsungnya pembelajaran PKn.
1. Teknik Tes
Untuk memperoleh data yang akan diolah dan dianalilsis diperlukan atau instrumen pengumpulan data yang lain selain observasi yang dilakukan, untuk itu penulis mengadakan pengetesan. Pengetesan dilaksanakan pada saat penulis mengadakan pembelajaran PKn di kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Tes ini dapat berupa pilihan ganda atau essai sesuai kondisi atau permainan dalam pembelajaran yang dilaksanakan.
2. Penarikan Kesimpulan
Tujuan akhir dari setiap penelitian adalah mendapatkan kesimpulan mengenai apa yang telah disampaikan dengan penelitian. Kesimpulan merupakan hasil tertinggi dalam suatu penelitian. Dengan diperolehnya kesimpulan, maka masalah yang disajikan, dibahas dan dicarikan jalan keluarnya akan nampak
dengan jelas. Dengan demikian maka kesimpulan merupakan penjabaran sistematis dari seluruh kegiatan penelitian.
G. Prosedur Penelitian
Dalam PTK terdapat prosedur atau tahapan yang perlu diperhatikan, antara lain yaitu:
1. Tahap Perencanaan
Rancangan-rancangan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah:
a) Membuat lembar observasi untuk melihat suasana pembelajaran, aktivitas guru dan aktivutas siswa selama proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT.
b) Membuat analisis hasil ulangan setiap siklus, untuk melihat apakah siswa kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar dalam proses belajar mengajar ada peningkatan penguasaan materi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan menganalisis hasil belajar siswa.
2. Tahap Pelaksanaan/Tindakan
Tahap pelaksanaan siswa diberi materi terlebih dahulu agar lebih memahami apa yang akan dibahas pada kegiatan pembelajaran kooperatif tipe TGT ini. Saat proses pembelajaran dengan penerapan model tersebut, siswa akan diberi kesempatan untuk memainkan permainan dengan materi yang sudah diajarkan dan disepakati, serta siswa diberi kesempatan untuk bertanya, dan tak lupa dijelaskan kembali apabila ada hal kurang dipahami. Setelah itu siswa diberi latihan yang sifatnya individu.
3. Pemantauan/Observing
Pada tahap pemantapan dikumpulkan data dan informasi dari beberapa sumber untuk mengetahui seberapa jauh efektifitas dari tindakan yang dilakukan. Data tentang penguasaan materi yang diperoleh dari nilai ulangan.
4. Refleksi
Refleksi adalah kegiatan yang mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, suasana kelas dan guru. Guru merefleksi capaian hasil belajar siswa sebelum dan sesudah tindakan kemudian merumuskan keberhasilan maupun kekurangannya untuk ditindak lanjuti dengan langkah-langkah program berikutnya berupa penyempurnaan dan pengembangan.
Rancana tindakan penelitian dilaksanakan atau disusun terperinci setiap siklusnya, sesuai jadwal dan alokasi waktu berdasarkan rancangan penelitian. Bentuk tindakan yang akan dilaksankan dalam tindakan kelas pada tiap siklusnya dijelaskan sebagai berikut:
a. Siklus 1
Perencanaan
a. Mempersiapkan materi pembelajaran
b. Mempersiapkan sumber belajar yang diperlukan c. Disiapkan lembar kerja siswa
d. Mempersiapkan kelas dalam setting yang telah dirancang e. Membuat lembar observasi tentang aktivitas siswa selama
Tindakan
a. Kegiatan pendahuluan Memotivasi dan apersepsi b. Kegiatan inti
Guru menjelaskan materi serta memberikan contoh sesuai materi.
Siswa mendengarkan dan mencatat penjelasan guru serta melihat buku cetak yang tersedia.
Guru membagi kelompok secara heterogen.
Guru memulai Teams Games Tournament dengan materi yang sudah dipelajari dan memberikan soal yang telah disediakan dalam beberapa babak dalam permainan.
Setiap kelompok berusaha mendapatkan nilai tertinggi dengan strategi yang telah mereka susun dalam kompetisi tersebut dengan menjawab soal yang telah diberikan.
Bagi kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi berhak mendapat rewand dari guru.
c. Kegiatan penutup
Guru memberikan arahan-arahan, serta memotivasi kepada siswa.
d. Pemantauan
Mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar agar berjalan seoptimal mungkin.
Mengamati dan mencatat tindakan aktifitas siswa. e. Refleksi
Mengevaluasi hasil pemantauan dan mengolah data eveluasi serta menentukan keberhasilan pencapaian tujuan tndakan.
Mengadakan refleksi 1 dengan meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan.
Memberi penguatan dan motivasi kepada siswa agar belajar lebih giat lagi.
Indikator untuk melanjutkan ke siklus II adalah peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa dengan capaian minimal sekurang-kurangnya 60% siswa telah mencapai nilai tuntas ( di atas minimal ).
b. Siklus II
Perencanaan
a. Mempersiapkan materi pembelajaran
b. Mempersiapkan sumber belajar yang diperlukan c. Disiapkan lembar kerja siswa
d. Mempersiapkan kelas dalam setting yang telah dirancang e. Membuat lembar observasi tentang aktivitas siswa selama
Tindakan
a. Kegiatan pendahuluan Memotivasi dan apersepsi b. Kegiatan inti
Guru menjelaskan materi serta memberikan contoh sesuai materi.
Siswa mendengarkan dan mencatat penjelasan guru serta melihat buku cetak yang tersedia. Guru membagi kelompok secara heterogen. Guru memulai Teams Games Tournament
dengan materi yang sudah dipelajari dan memberikan soal yang telah disediakan dalam permainan.
Setiap kelompok berusaha mendapatkan nilai tertinggi dengan strategi yang telah mereka susun dalam kompetisi permainan tersebut dengan menjawab soal yang telah di berikan. Bagi kelompok yang mendapat nilai tertinggi
berhak mendapat reward dari guru. c. Kegitan penutup
Siswa membuat kesimpulan Evaluasi siklus II
d. Pemantauan
mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar agar berjalan seoptimal mungkin.
Mengamati dan mencatat tindakan aktivutas siswa e. Repleksi
Mengevaluasi hasil pemantapan dan mengolah data hasil evaluasi serta menentukan keberhasilan pencapaian tujuan tindakan.
Mengadakan refleksi dengan meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan.
Member penguatan dan motivasi kepada siswa agar belajar lebih giat.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil data yang penulia dapatkan dilapangan dengan
melakukan observasi dan wawancara, serta dokumentasi maka gambarang tentang penerapan model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar dapat dideskripsikan sebagai berikut.
Sebelum dilakukan tindakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran TGT, pelajaran PKn banyak dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab sehingga siswakurang aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil ini mengakibatkan nilai PKn lelas V belum memuaskan, dengan jumlah 25 siswa terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Diketahui bahwa terdapat 10 siswa atau 40% belum mencapai kriteria ketuntasan maksimal (KKM), sedangkan terdapat 15 siswa atau 60% yang mencapai KKM.
Setelah guru menerapkan model pembelajaran TGT hasil belajar siswa mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan siklus 1 dan siklus II yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan repfleksi sebagai berikut:
1. Hasil Penelitian Siklus I
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada siswa kelas V SD Inpres Jongaya II Kota Makassar dari tanggal 22 Juli sampai dengan 01 Agustus 2019, dimana waktu pembelajaran yang digunakan adalah hari senin dan kamis.
Pendekatan pelaksanaan pembelajarann menggunakan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas yang terdiri dari beberapa siklus dimana masing-masing siklus melalui empat tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi. Masing-masing kegiatan diuraikan sebagai berikut : a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini guru membuat:
1) Menetapkan pokok bahasan tentang ( pengertian NKRI dan tujuan NKRI ) 2) Menetapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games
Tournament (TGT) 3) Membuat RPP
4) Mempersiapkan lembar observasi yang telah dibuat
5) Mempersiapkan alat mengajar seperti gambar, spidol, dan buku
6) Mempersiapkan soalt tes hasil tindakan yaitu ( tes tertulis berupa soal pilihan ganda dan soal essay.
b. Pelaksanaan
Pada siklus 1 dilaksanakan pada hari senin 22 Juli 2019 dan kamis 25 Juli 2019 pukul 08.00-09.30 atau dua kali pertemuan. Sebelum masuk kelas, peneliti berkonsultasi terlebih dahulu dengan guru untuk menyiapkan perangkat pembelajaran dan semua yang berkaitan dengan perangkat pembelajaran. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil data berupah hasil belajar siswa.pada pertemuan pertama lebih dititik beratkan pada pemahaman dan pada pertemuan kedua lebih difokuskan pada penerapan model pembelajaran supaya peserta didik lebih memahami materi yang dipelajari. Dalam pelaksanaan siklus
ini materi yang akan disampaikan kepada siswa mengenai, pengertian NKRI dan tujuan NKRI dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
Penerapan model pembelajaran tersebut terdiri atas:
1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Sebelum menyampaikan materi guru memberikan pretest terlebih dahulu kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai mengenai apa, pengertian NKRI dan tujuan NKRI.
2) Guru menyampaikan perangkat pembelajran.
Pengantar pembelajaran ini akan menjadi hal yang sangat menentukan, karena momentum ini akan menjadi titik tolak untuk memotivasi dan mendorong siswa dalam meningkatkan pembelajaran.
3) Guru menggambarkan skema atau peta konsep tentang materi yang disampaikan, serta menjelaskan apa itu pengertian NKRI dan tujuan NKRI 4) Guru memberikan kesempatan peserta didik untuk bertanya materi yang
belum dipahami.
5) Guru membagi peserta didik dalam 4 kelompok .
Guru membagi peserta didik dalam 4 kelompok secara heterogen berdasrkan data nilai yang diketahui oleh guru dan setiap kelompok terdiri dari 6-7 orang siswa. Setelah itu peserta didik bergabung dengan kelompok yang telah d tentukan.
6) Guru menjelaskan fungsi kelompok kepada seluruh peserta didik dalam pembelajaran.
7) Setelah guru memberikan penyajian kelas, kelompok (tim) bertujas untuk mempelajari lembar kerja. Kegiatan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah, membandingkan jawaban, memeriksa dan memperbaiki kesalahan-kesalahan konsep temannya jika teman satu kelompok melakukan kesalahan tentang materi yang guru berikan dibuku panduan masing-masing.
8) Game ysng berisi pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi dan dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat peserta didik dari penyejian kelas belajar kelompok.
9) Peserta didik memulai games atau permainan dimeja tournament. Beberapa peserta didik mewakili kelompoknya masing-masing, untuk peserta didik kartu bernomor atau kertas dan menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu.
10) Guru mengumumkan kelompok yang menang. Masing-masing atau kelompok yang mendapat hadiah dengan rata-rata skor memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Tim atau kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi memdapat predikat the best team. Untuk yang mendapat juara 1,2 dan 3 mendapat rewand khusus dari guru, seperti guru memberikan penghargaan dalam bentuk buku tulis.
2. Evaluasi Hasil Belajar
Guru mengevaluasi hasil belajar masing-masing kelompok secara individu. Evaluasi yang dilakuakan oleh guru merupakan evaluasi hasil belajar
tentang materi tersebut. Evaluasi diberikan pada pertemuan kedua hari kamis 25 juli 2019 diadakan tes akhir siklus 1 yang terdiri dari 10 soal essay.
3. Observasi (pengamatan)
1) Observasi Aktivitas Mengajar Guru
Lembar observasi aktivitas mengajar guru digunakan untuk mengetahui aktivitas mengajar guru terhadap mata pelajaran PKn dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Pada setiap pertemuan, observer mengamati dan memperhatikan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang terdiri dari 5 indikator yaitu penyajian materi (class presentation), pembagian kelompok (team), permainan (games), pertandingan (tournament), penghargaan (team recognition).
Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru pada pertemuan 1 dan 2, diperoleh bahwa indikator penyajian materi (class presentation) dikategorikan kurang karena guru menyampaikan materi hanya berdasarkan indikator dan tidak menyampaikan materi secara jelas agar mudah dipahami siswa. Pada indikator pembagian kelompok (team) dikategorikan cukup karena guru membagi siswa ke dalam 4 kelompok secara heterogen. Pada indikator permainan (games) dikategorikan cukup karena guru membagikan kartu soal kepada siswa dengan benar dan menyeluruh agar siswa dapat bermain dengan lancar. Pada indikator pertandingan (tournament) dikategorikan cukup karena membagi siswa ke dalam 4 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 orang. Pada indikator. Pada indikator penghargaan (team recognition) dikategorikan baik karena guru
memberikan penghargaan kepada tim/kelompok yang menang dan memberikan motivasi kepada tim/kelompok yang lain secara baik dan netral.
Berdasarkan data dari siklus I dapat disimpulkan bahwa pencapaian implementasi rencana pembelajaran PKn materi pengertian NKRI dan tujuan NKRI melalui penerapan model pembelajaran koopertaif tipe TGT untuk aspek guru dikategorikan kurang.
2) Obersvasi Aktivitas Siswa
Lembar observasi aktivitas belajar siswa digunakan untuk mengetahui keaktifan belajar siswa kelas V Inpres Jongaya II Kota Makassar dalam proses pembelajaran PKn pada pertemuan siklus I. Pada setiap pertemuan, observer mengamati dan memperhatikan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang terdiri dari 5 indikator yaitu penyajian materi (class presentation), pembagian kelompok (team), permainan (games), pertandingan
(tournament), penghargaan (team recognition).
Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan 1 dan 2, diperoleh bahwa indikator penyajian materi (class presentation) dikategorikan kurang karena siswa memperhatikan siswa tapi sesekali masih memperhatikan hal lain atau bermain dengan temannya. Pada indikator pembagian kelompok (team) dikategorikan cukup karena siswa berada dalam 4 kelompok yang terdiri dari 6-7 siswa secara heterogen. Pada indikator permainan (games) dikategorikan cukup karena siswa menerima kartu soal dengan lengkap dan menyeluruh. Pada indikator pertandingan (tournament) dikategorikan baik karena siswa berada dalam 4 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 orang secara
heterogen. Pada indikator penghargaan (team recognition) dikategorikan cukup karena tim/kelompok yang menang menerima penghargaan dan tim/kelompok yang lain mendapat motivasi.
Berdasarkan data dari siklus I dapat disimpulkan bahwa pencapaian implementasi rencana pembelajaran PKn materi pengertian NKRI dan tujuan NKRI melalui penerapan model pembelajaran koopertaif tipe TGT untuk aspek siswa dikategorikan kurang.
3) Catatan Lapangan
Pada siklus 1, peserta didik sebagian besar memperhatikan, namun masih tetap ada yang asik sendiri mengobrol atau bermain dengan teman sebangkunya. Antusias siswa terlihat saat guru memberi tahu akan memberikan permainan dalam pembelajaran, namun antusias siswa diiringi dengan suasana yang mulai ribut.
Pada saat memulai games ,suasana ribut karena mereka belum mengerti sehingga mereka bertanya kepada guru tentang games yang diinstrusikan. Ketika games mulai berlangsung suasana terkadang ribut karena saling berdiskusi dan saat-saat tertentu suasana mulai sedikit tenang karena siswa sedang berusaha memecahkan masalah pada soal.
4) Hasil Belajar
Mengetahui hasil belajar maka dilakukan tindakan pada penelitian tindakan kelas pada pertemuan kedua siklus 1 data skor siswa adalah sebagai beriku.
Tabel 4.1
Hasil Belajar Siswa Kelas V Mata Pelajaran PKn Siklus 1 SD Inpres Jongaya II Kota Makassar Tahun Ajaran 2019/2020
NO NAMA L/P KKM HASIL DATA AWAL SIKLUS 1 KETERANGAN
1 Adam Khalik L 70 60 70 Tuntas
2 Adrian Rafael L 70 50 60 Tidak Tuntas
3 Arjuna L 70 56 65 Tidak Tuntas
4 Asri L 70 75 73 Tuntas
5 Aldo L 70 75 70 Tuntas
6 Muh.Alif L 70 60 65 Tidak Tuntas
7 Muh. Baim L 70 70 75 Tuntas
8 Muh. Fais L 70 80 80 Tuntas
9 Muh. Raihan L 70 75 65 Tidak Tuntas
10 Muh. Ruslan L 70 75 78 Tuntas
11 Muh. Putra L 70 65 68 Tidak Tuntas
12 Muh. Yadil L 70 68 68 Tidak Tuntas
13 Nur Aditya L 70 85 85 Tuntas
14 Muh. Fausan L 70 80 85 Tuntas
15 Nur Aditya L 70 80 75 Tuntas
16 Rahim Kurnia L 70 74 78 Tuntas
17 Rifki Syamil L 70 73 80 Tuntas
19 Wahyu L 70 65 65 Tidak Tuntas
20 Erin P 70 60 67 Tidak Tuntas
21 Irmawati P 70 75 78 Tuntas
22 Lia Adelia P 70 80 80 Tuntas
23 Mawar P 70 65 67 Tidak Tuntas
24 Ratni P 70 90 90 Tuntas
25 Sofia P 70 85 85 Tuntas
Tabel 4.2
Rekapitulasi Hasil Belajar PKn Siklus 1
NO Nilai KKM Jumlah Siswa Persentase
1 Tuntas ≥ 70 15 siswa 60 %
2 Tidak Tuntas < 70 10 siswa 40 %
Jumlah 25 siswa 100 %
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa mata pelajaran PKn pada siklus 1 yang diperoleh hasil rata-rata pra survey 70.84% dengan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 90. Sedang hasil postest diperoleh rata-rata 73.28% dengan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 90. Dari data ini dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa, dari nilai rata-rata pra-survey dan postest. Namun belum mencapai nilai ketuntasan belajar sebesar 65%.
4. Hasil Refleksi
1) Pada tahap repleksi ini, peneliti mengidentifikasi kelemahan yang terdapat pada pembelajaran siklus 1: