BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pengaturan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia dan Malaysia Salah satu tujuan dari perbandingan hukum adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan kedua obyek yang dibandingkan. Perbandingan hukum mengenai pengaturan pencucian uang di Indonesia dan Malaysia ini difokuskan pada pengaturan pidana tentang pencucian uang yang diatur dalam kedua Negara tersebut guna mengetahui persamaan dan perbedaan pengaturan tentang pencucian uang di Indonesia dan Malyasia. Penelitian ini bertujuan agar tercipta sebuah konstruksi pemahaman mengenai pengaturan tindak pidana pencucian uang di Indonesia dan Malaysia sehingga akan terlihat perbedaan dan persamaan dari masing-masing Negara.
Sebelum membandingkan pengaturan pencucian uang di kedua negara tersebut, akan dibahas terlebih dahulu mengenai pengaturan pencucian uang. Munculnya pengaturan uang ini karena dalam era modern ini telah muncul jenis kejahatan ekonomi yang menjadikan bank atau non bank sebagai sarana untuk melakukan kejahatan pencucian uang. Sebagai kejahatan yang telah mendunia, pencucian uang masuk dalam kategori kejahatan transnasional karena telah melibatkan kejahatan lain di dalam melakukan tindak pidana tersebut. Dalam perkembanganya negara-negara berkembang yang masuk G-7 menggelar konfrensi di Paris pada tahun 1989. Konfrensi tersebut menghasilkan satuan tugas yang mempunyai tugas dan fungsi untuk memberantas tindak pidana pencucian uang yang bertaraf nasional maupun internasional yang bernama Financial Action Task Force of Money Laundering (FATF). FATF diberikan tanggung jawab untuk memeriksa teknik pencucian uang dan langkah langkah yang harus diambil untuk memberantas pencucian uang. Pada bulan april 1990, kurang dari satu tahun setelah pembentukanyaFATF mengeluarkan laporan yang berisi tentang 40 rekomendasi (Forty Recommendation),
yang dimaksudkan untuk memberikan rencana komperhensif tindakan yang diperlukan untuk melawan pencucian uang. Pada tahun 2001, pengembangan standart dalam memerangi pendanaan teroris telah ditambahkan dalam misi FATF, lalu pada bulan Oktober 2001 FATF mengeluarkan delapan rekomenedasi khusus (the Eight Special Recommendation) untuk memerangi masalah pendanaan teroris. Teknik pencucian uaang yang semakin berevolusi membuat FATF untuk merevisis standart FATF komperhensif pada bulan Juni 2003, pada bulan Oktober 2004 FATF menerbitkan rekomendasi khusus kesembilan (Ninth Special Recommendation) untuk lebih memperkuat standart Internasional yang disepakati dalam memerangi pencucian uang dan pendanaan teroris. Pada Februari 2012, FATF menyelesaikan kajian menyeluruh dari standart dan diterbitkanlah rekomendasi FATF revisi. Revisi ini dimaksud untuk memperkuat perlindungan global dan lebih melindungi integritas sistem keuangan dengan campur tangan pemerintah dengan alat yang lebih kuat untuk mengambil tindakan terhadap kejahatan keuangan. Revisi dari FATF tersebut telah diperluas untuk menghadapi ancaman baru seperti pembiayaan senjata pemusnah masal, dan untuk lebih jelas dan transparan terhadap kejahatan korupsi. 9 rekomendasi khusus tentang pendanaan teroris telah terintegrasi sepenuhnya dengan tindak pidana pencucian uang, dengan adanya hal ini menjadikan aturan lebih kuat, jelas dan telah memenuhi standar.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia telah mempererat kerjasama untuk mencegah dan memberantas pencucian uang. Kerjasama tersebut difokuskan untuk tindak pidana asal seperti korupsi, terorisme, peredaran gelap narkotika, dan kejahatan terhadap lingkungan hidup. Komitmen tersebut diambil dalam pertemuan bilateral delegasi Indoensia dan Malaysia pada Asia Pasific Group (APG) on Money Laundering Annual Meeting 2012 di Brisbane, Australia. Kedua Negara sepakat yang lebih efektif dalam pertukaran informasi, karena terdapat kerawanan dalam penyaluran transaksi keuangan yang melibatkan hubungan bisnis di kedua
negara. Diantaranya melalui jasa pengiriman uang (money remittance), jasa penukaran uang (money changer), dan second home programme (produk investasi yang membolehkan rumah kedua di Malaysia).
Indonesia sekarang ini menggunakan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang untuk mengurangi kejahatan pencucian uang di Indinesia. Undang undang ini dibuat untuk mencegah berkembangnya tindak pidana yang sebagai sebab dari tindak pidana pencucian uang (predicate offence) dan memberantas kejahatan pencucian uang. Urgensi dari pembentukan undang-undang ini adalah membuat standar aturan yang dapat untuk mengurangi terjadinya tindak pidana pencucian uang. Tindak pidana pencucian ada karena merupakan hasil dari tindak pidana lain yang diperoleh secara illegal untuk meyamarkan asal asul harta kekayaan hasil tindak pidana lain tersebut. Sebagai tindak pidana yang berkelanjutan, kasus pencucian uang sangat merugikan berbagai pihak dan yang pasti merugikan negara, karena harta yang dihasilkan merupakan hasil dari tindak pidana yang kemudian dialihkan untuk keuntungan diri sendiri. Tidak hanya dilakukan perorangan, pencucian uang juga dilakuakan oleh korporasi sehingga harta kekayaan yang didapat menguntungkan diri sendiri dan pihak korporasi.
Sementarara pencucian uang di Malaysia diatur dalam Act 613 Anti-Money Laundering And Anti-Terrorism Financing Act 2001. Pada awalnya undang-undang tersebut belum mengatur tentang anti terorisme, pertama kali disahkan pada 2001 bernama Anti-Money Laundering Act 2001 dan pada 2007 undang-undang tersebut diamandemen dan diberi judul baru Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 yang memasukan tindak pidana terorisme didalamnya. Dimasukanya anti terorisme kedalam undang-undang pencucian Malaysia karena kejahatan yang ada semakin berevolusi dan bertambah modern sesuai perkembangan jaman. Negara Malaysia sendiri sering menjadi korban terorisme baik pelakunya dari negaranya sendiri maupun terorisme dari
dunia internasional. Harta kekayaan hasil terorisme dengan mudah disamarkan untuk menghasilkan keuntungan lagi dan dipakai untuk membeli senjata, bahan peledak, sebagai penopang aksi terorisme itu sendiri, sehingga kejahatan terorisme terus berkembang.
1. Pengaturan Pencucian Uang di Indonesia
Berbagai kejahatan, baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun oleh korporasi dalam batas wilayah suatu negara maupun yang dilakukan melintasi batas wilayah suatu negara maupun yang dilakuakan melintasi batas wilayah negara lain semakin meningkat. Kejahatan tersebut antara lain berupa tindak pidana korupsi, penyuapan (bribery), narkotika, psikotropika, penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan migran, perdagangan orang, perdagangan senjata gelap, terorisme, penculikan, pencurian, penggelapan, penipuan, pemalsuan dan perjudian, serta berbagai kejahatan kerah putih (white collar crime). Kejahatan-kejahatan tersebut telah melibatkan atau menghasilkan harta kekayaan yang sangat besar jumlahnya.
Tindak pidana pencucian uang di Indonesia dewasa ini mengalami perkembangan yang begitu mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan serius oleh aparat penegak hukum baik di tingkat kepolisian maupun lembaga yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang TPPU, yakni Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPATK) (Nurmalawaty, 2006:12) Secara umum pencucian uang diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan untuk merubah hasil kejahatan, seperti korupsi, kejahatan narkotika, perjudian, penyelundupan, dan kejahatan lainnya, sehingga hasil kejahatan tersebut menjadi nampak seperti hasil kejahatan yang sah karena asal-usulnya sudah disamarkan/disembunyikan. Dalam praktik pencucian uang sebagian besar mengandalkan sarana lembaga keuangan, terutama perbankan dengan memanfaatkan ketentuan rahasia bank (Nurmalawaty, 2006:18).
Lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pencucian Uang tidak lepas dari pengaruh dinamika kehidupan yang semakin modern dan berevolusinya bentuk kejahatan. Tindak pidana pencucian uang tidak hanya mengancam stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, serta penelusuran dan pengembalian harta kekayaan hasil tindak pidana.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pencucian Uang merupakan revisi terbaru dari undang-undang tindak pencucian uang yang mengatur sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Pencucian Uang. Undang-undang tersebut perlu disesuaikan denegan perkembangan kebutuhan penegakan hukum, praktik, dan standar internasional sehingga perlu diganti dengan undang-undang baru tersebut.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pencucian Uang menjelaskan tentang subyek dan obyek dari kejahatan pencucian uang. Subyek dari tindak pidana pencucian uang adalah perseorangan dan korpoasi, kebijakan memperluas tindak pidana pada koporasi sudah sesuai dengan perkembangan/dimensi kejahatan masa kini, terlebih dalam menghadapi TPPU yang mengandung ciru sebagai “Transnational and Organizide Crime” (Barda Nawawi Arief, 2013:147). Dijelaskan dalam Pasal 3, 4, dan 5 yaitu “Setiap Orang”. Maksud dari “Setiap Orang” adalah perorangan atau individu yang telah melakukan tindak
pidana pencucian uang.tidak hanya mengatur tentang tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh perseorangan juga, pada Pasal 6 ayat (1) dijelakan pula subyek yang berbentuk korporasi, “Dalam hal tindak pidana Pencucian Uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 dilakukan oleh korporasi, pidana Dijatuhkan terhadap korporasi dan/atau Personil Pengendali Korporasi”. Spesifikasi korporasi terdapat pada pasal 7 yang berbunyi:
“Pidana dijatuhkan terhadap korporasi apabila tindak pidana pencucian uang :
a. Dilakukan atau diperintahkan oleh personil pengendali korporasi; b. Dilakukan dalm rangka pemenuhan maksud dan tujuan korporasi; c. Dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi pelaku atau pemberi
perintah; dan
d. Dilakukan dengan maksud memberikan manfaat bagi korporasi. Dengan adanya pasal pasal ini membuktikan bahwa pengaturan tindak pidana pencucian uang di Indonesia tidak berpihak pada pihak manapun, baik perseorangan maupun korporasi yang melakukan tindak pidana pencucian uang akan terjerat hukum pidana yang diatur tersebut.
Dalam undang-undang TPPU, dikatakan bahwa setiap orang yang di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang turut serta melakukan percobaan, pembantuan, atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama seperti dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5. Ketentuan di Pasal 5 ayat (1) undang-undang TPPU dikecualikan bagi pihak pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan. Untuk delik tindak pidan pencucian uang seperti dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 undang-undang TPPU dilakuakn oleh korporasi, maka pidana dijatuhkan terhadap korporasi dan/atau Personil Pengendali Korporasi. Di luar pengaturan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 terdapat pasal-pasal lain yang mengatur mengenai tindak mpidana yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang. Tindak pidana lain yang berkaitan dengan
tindak pidana pencucian uang diatur pada Pasal 11, Pasal 12, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 undang-undang TPPU.
Dalam undang-undang TPPU terdapat klausula pemufakatan jahat. Pemufakatan jahat adalah perbutan dua orang atau lebih yang bersepakat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang. maksud dari ujaran tersebut adalah tindak pidana pencucian uang tidak hanya dilakukan orang perseorangan saja, tetapi ada suatu kesepakatan antara dua orang atau lebih untuk membantu jalanya tindak pidana pencucian uang. kesepakatan tersebut bisa berupa perbantuan tindak pidana, seseorang yang akan melaukan tindak pidana pencucian uang dibantu dilancarkan dengan cara meminjamkan nama untuk mencuci uangnya, ataupun untuk mencari dokumen-dokumen yang diperlukan dalam rangka memperlancar tindak pidana pencucian uang.
Lembaga keuangan bank dan non bank diterminologikan dalam pengaturan undang-undang ini dengan penyedia jasa keuangan. Penyedia jasa keuangan diartikan sebagai jasa dalam bidang keuangan atau jasa lainya yang terkait dengan keuangan termasuk tetapi terbatas pada bank, lembaga pembiayaan, perusahaan efek, pengelola reksa dana, custodian, wali amanat, lembaga penyimpan dan penyelesaian, pedagang valuta asing, dana pension, perusahaan asuransi dan kantor pos.
Dalam Undang-Undang TPPU, penyedia jasa keuangan antara lain: bank, perusahaan pembiayaan, perusahaan asuransi dan perusahaan pialang asuransi, dana pensiun lembaga keuangan, perusahaan efek, manajer investasi, kustodian, wali amanat, perposan sebagai penyedia jasa giro, pedagang valuta asing, penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu, penyelenggara money dan/atau e-wallet, koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam, pegadaian, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditas; atau penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang. Sedangkan penyedia barang dan/atau jasa lain: perusahaan
properti/agen properti, pedagang kendaraanbermotor, pedagang permata dan perhiasan/logam mulia, pedagang barang seni dan antik, atau balai lelang.
Suatu tindak pidana haruslah ada suatu pertanggungjawaban, baik itu perseorangan ataupun korpoasi. Pertanggungjawab atas suatu perbuatan pidana berarti yang bersangkutan secara sah dapat dikenai pidana karena perbuatan itu. Pidana itu dapat dikenakan secara sah berarti untuk tindakan itu telah ada aturanya dalam suatu sistem hukum tertentu, dan sistem hukum itu berlaku atas perbuatan tersebut. Atau dengan kata lain, tindakan itu dibenarkan oleh sistem hukum tersebut (Roeslan Saleh, 1982 : 34).
Menurut Undang-Undang TPPU, transaksi keuangan mencurigakan adalah:
1. Transaksi keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari pengguna jasa yang bersangkutan;
2. Transaksi keuangan oleh pengguna jasa yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh pihak pelapor sesuai dengan ketentuan undang-undang ini;
3. Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana; atau
4. Transaksi keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh pihak pelapor karena melibatkan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan/PPATK (Indonesian Financial Transaction Reports and Analysis Center/INTRAC) seperti yang diatur dalam Pasal 1 angka (2) Undang-Undang TPPU adalah lembaga independen dibawah Presiden Republik Indonesia yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas
tindak pidana Pencucian Uang. Dengan dibentuknya PPATK ini, maka Indonesia telah memenuhi salah satu dari The Forty Recommendations yang diusulkan oleh Financial Action Task Force On Money Laundering (FATF), dalam usaha pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia. Dalam Pasal ke 16 The Forty Recommendations dari FATF disebutkan mengenai pembentukan Financial Intelligent Unit yang diusulkan oleh Financial Action Task Force On Money Laundering (FATF), dalam usaha pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia. Dalam Pasal ke 16 The Forty Recommendations dari FATF disebutkan mengenai pembentukan Financial Intelligent Unit yang secara umum bertugas menganalisis transaksi-transaksi keuangan untuk mencegah adanya transaksi yang merupakan kegiatan pencucian uang, dan lembaga yang memiliki kewenangan seperti Financial Intelligent Unit di Indonesia ini adalah PPATK.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan/PPATK ini memiliki kelembagaan yang independen, yang bebas dari campur tangan yang bersifat politik seperti lembaga negara, penyelenggara negara dan pihak lainnya. PPATK dalam melaksanakan tugasnya diwajibkan untuk menolak campur tangan dari pihak manapun. PPATK yang merupakan lembaga independen yang bertanggung jawab kepada Presiden merupakan Financial Intelligent Unit dengan model administratif (administrative model). Model administratif ini lebih banyak berfungsi sebagai perantara antara masyarakat atau industri jasa keuangan dengan institusi penegak hukum. Laporan yang masuk dianalisis dahulu oleh lembaga ini kemudian dilaporkan ke institusi penegak hukum, yaitu Kepolisian dan Kejaksaan.
Untuk melaksanakan perannya sebagai financial intelligent unit dalam usaha pencegahan dan pemberantasan pencucian uang di Indonesia, PPATK diberikan tugas dan wewenang oleh
Undang-Undang TPPU seperti yang diatur dalam Pasal 39, yaitu mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.
Sedangkan fungsi PPATK seperti yang diatur dalam undang-undnag TPPU antara lain :
1. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang; 2. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK; 3. Pengawasan terhadap kepatuhan pihak pelapor ;dan
4. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).
Pada ketentuan Undang-Undang TPPU, PPATK dalam melaksanakan fungsi pencegahan dan pemnberantasan tindak pidana pencucian uang, PPATK Berwenang :
1. Meminta dan mendapatkan data dan informasi dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang memiliki kewenangan mengelola data dan informasi, termasuk dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang menerima laporan dari profesi tertentu;
2. Menetapkan pedoman identifikasi transaksi keuangan mencurigakan;
3. Mengoordinasikan upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang dengan instansi terkait;
4. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang;
5. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi dan forum internasional yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;
6. Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan anti pencucian uang; dan
7. Menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.
Dalam pelaksanaan tugasnya sebagai lembaga independen yang bertujuan untuk mencegah dan memberantas kegiatan pencucian uang di Indonesia, PPATK akan bekerja sama dengan banyak pihak. Selain dengan kepolisian dan kejaksaan sebagai penegak hukum yang berwenang melakukan penyidikan dan penuntutan dalam tindak pidana pencucian uang, PPATK juga akan bekerjasama dengan Bank Indonesia, Dirjen Pajak, Dirjen Bea Cukai, Badan Pengawas Pasar Modal, Departemen Keuangan, masyarakat dan lembaga-lembaga lain baik dari dalam maupun luar negeri. Melihat begitu banyaknya pihak yang terlibat dalam usaha pencegahan dan pemberantasan pencucian uang ini, dapat disadari bahwa kegiatan pencucian uang merupakan suatu ancaman yang sangat berbahaya sehingga dibutuhkan kerjasama dari banyak pihak untuk dapat menghadapinya.
Tindak pidana pencucian uang ini merupakan transnational organized crime, sehingga dalam pemberantasannya seringkali berkaitan dengan yurisdiksi Negara lain, dan memerlukan kerjasama internasional. Dalam kaitan dengan kerjasama memberantas money laundering inilah, sejak bulan Juni 2001 Indonesia bersama sejumlah negara lain dinilai kurang kooperatif dan dimasukkan ke dalam daftar Non Cooperative Countries and Territories1 oleh Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) suatu gugus tugas yang beranggotakan 31 negara dan 2 organisasi regional.2 Walaupun Indonesia tidak pernah menjadi anggota FATF, rezim anti money laundering Indonesia dinilai oleh FATF. Indonesia menjadi anggota Asia/Pacific Group on Money Laundering (APG) sejak tahun 2000.3 Indonesia juga diminta untuk mengubah Undang-undang No. 15 Tahun 2002 yang mulai berlaku sejak tanggal 17 April 2002, karena dianggap tidak sesuai dengan rekomendasi internasional.4 Apabila Indonesia tidak mengamandemen Undang-undang tersebut, terdapat kemungkinan untuk dikenakan tindakan balasan (counter-measures) dalam berbagai bentuk, misalnya pemutusan hubungan korepondensi
dengan industri perbankan luar negeri. Menurut Press release FATF 3 Oktober 2003 negara yang sekarang berada pada daftar NCCTs adalah Cook Islands, Mesir, Guatemala, Myanmar, Nauru, Nigeria, Filipina dan Indonesia (Yunus Husein, 2004, Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam Perspektif hukum Intenasional:1)
Kasus tindak pidana pencucian uang yang terjadi di Indonesia adalah kasus import daging sapi yang dilakukan oleh Ahmad Fatanah. Terjadi tindak pidana suap (gratifikasi) antara Ahmad Fathanah kepada PT. Indoguna Utama dalam hal penambahan kuota import daging sapi. Dimana Ahmad Fathanah merupakan pihak ketiga dari Lutfi Hasan Ishaaq, selaku presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang saat itu juga menjabat sebagai komisi I DPR. Ahmad Fathanah diduga telah melakukan praktek tindak pidana pencucian uang dengan cara menyamarkan, mentransfer uang yang diduga berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Perbuatan Ahmad Fathanah ini telah melanggar Pasal 3 dan/atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. akhirnya Ahmad Fathanah sebagai terdakwa kasus gratifikasi penetapan kuota import daging sapi dijatuhi hukuman penjara 14 tahun serta denda Rp 1 Milyar oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 4 November 2013.
2. Pengaturan Pencucian Uang di Malaysia
Tindak pidana pencucian uang di Malaysia diatur dalam Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001. Tidak hanya mengatur tentang tindak pidana pencucian uang saja, dalam undang-undang tersebut juga mengatur tentang kejahatan terorisme, hal tersebut merupakan kelebihan dari undang undang Malaysia. Terorisme dijadikan satu kesatuan dalam undang-undang pencucian uang karena di Malaysia sendiri belum mempunyai undang-undang yang mengatur tentang terorisme, karena kejahatan terorisme
termasuk kejahatan yang baru yang mengancam keamanan Negara. Pelaku terorisme sendiri memperoleh harta kekayaan dari hasil tindak pidana lain, hasil kekayaan tersebut digunakan untuk aksi terorisme, missal untuk membeli bahan peledak atau senjata, dan harta kekayaan yang didapat setelah melakukan aksi terorisme hasil dari tindak pidana tersebut digunakan untuk melakukan kejahatan lain lagi dan begitu seterusnya. Karena hal itu Malaysia memasukan Anti terorisme dalam undang-undang tindak pidana pencucian uang.
Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 sebenarnya telah melalui dua kali perubahan yaitu pada tahun 2003 dan tahun 2014.Perubahan tersebut hanya pada pasal pasal tertentu saja, tidak semua pasal diubah, dan penambahan pada pasal pasal yang perlu untuk ditambah disesuaikan dengan perkembangan jaman. Meskipun ada perubahan,Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 tetap menjadi Akta utama pencegahan pencuian uang di Malyasia, perubahan tersebut hanya untuk menyesuaiakan keadaan, dan akta yang lama tetap berlaku meskipun ada perubahan .Tetapi tidak ada perubahan dalam first schedule ataupun second schedule.
Dalam Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 terdapat klasifikasi tentang subyek pelaku tindak pidana pencucian uang yang berupa perseorangan maupun korporasi. Sebagaimana ditulis dalam bagian I Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001Act 545 yang berbunyi :
“relative”, in person, means (a) A spouse of that person;
(b) A brother or sister of that person;
(c) A brother or sister of the spouse of that person; or (d) Any lineal ascendant or descendant of that person; “associate”, in relation to a person, means—
(a) any person who is a nominee or an officer of that person; (b) any person who manages the affairs of that person;
(c) any firm of which such person, or any nominee of his, is apartner or a person in charge or in control of its business of affairs;
(d) any corporation within the meaning of the Companies Act1965 [Act 125], of which such person, or any nominee of his, is director or is in charge or in control of its business oraffairs, or in which such person, alone or together with anynominee of his, has or have a controlling interest, or shares tothe total value of not less than thirty per centum of the totalissued capital of that corporation; or (e) the trustee of any trust, where—
(i) the trust has been created by that person; or
(ii) the total value of the assets contributed by that person tothe trust at any time, whether before or after the creationof the trust, amounts, at any time, to not less than twenty per centum of the total value of the assets of the trust;
Terjemahan Melayu:
“saudara”, berhubung dengan seseorang, ertinya— (a) isteri atau suami orang itu;
(b) adik atau abang atau kakak orang itu;
(c) adik atau abang atau kakak isteri atau suami orang itu; atau (d) mana-mana ibu bapa dan nenek moyang atau keturunan sezuriat orang itu;
“sekutu”, berhubung dengan seseorang, ertinya—
(a) mana-mana orang yang merupakan penama atau pegawaiorang itu;
(b) mana-mana orang yang menguruskan hal ehwal orang itu; (c) mana-mana firma yang orang itu, atau mana-manapenamanya, menjadi pekongsinya atau orang yang bertanggung jawab baginya atau yang mengawal perniagaannya atau hal awalnya;Akta 125. (d) mana-mana perbadanan mengikut pengertian Akta Syarikat
1965 [Akta 125], yang orang itu, atau mana-manapenamanya, menjadi pengarahnya atau bertanggungjawabbaginya atau mengawal perniagaan atau hal ehwalnya, atauyang dalamnya orang itu, bersendirian atau bersama denganmana-mana penamanya, mempunyai kepentingan mengawal,atau syer yang nilainya berjumlah tidak kurang daripada tigapuluh peratus daripada modal terbitan keseluruhanperbadanan itu; atau
(e) pemegang amanah mana-mana amanah, jika— (i) amanah itu telah diwujudkan oleh orang itu; atau
(ii) nilai keseluruhan aset yang disumbangkan oleh orang itukepada amanah itu pada bila-bila masa, sama adasebelum atau selepas amanah itu diwujudkan, berjumlahpada bila-bila masa tidak kurang daripada dua puluhperatus daripada keseluruhan nilai aset amanah itu;
Dijelaskan secara rinci bagimana klasifikasi subyek tindak pidana pencucian uang di Malaysia, jadi terdapat kejelasan mana
yang bisa masuk kualifikasi perseorangan atau korporasi mana yang telah melakukan kejahatan pencucian uang. Klasisfikasi dibuat lengkap karena pelaku tindak pidana pencucian uang bisa saja mencuci uangnya atas nama keluarga ataupun rekan kerja yang membantu dilakukanya tindak pencucian uang dan perbantuan tersebut juga termasuk pelaku tindak kejahatan pencucian uang, dikenakan sanksi yang sama dengan pelakunya.
Kasus tindak pidana pencucian uang di Malaysia adalah kasus seorang direktur Tanjung Offshoren Berhad, Harzani azmi yang dilaporkan ke Mahkamah Korupsi Malaysia dengan tuduhan korupsi yang dilakuaknya 3 tahun yang lalu. Harzani melakukan jual beli saham sebesar 34 juta Ringgit Malaysia, tetapi saham yang dimiliki oleh perusahaanya melebihi jumlah tersebut. harzani membeli saham dengan harga tersebut, tetapi nilai saham tersebut tidak benar, telah melebihi apa yang telah diperjanjikan. Dari kejahatan korupsi, Harzani didakwa dengan 10 tahun pernajara, denda 250.000 Ringgit Malaysia atau keduanya. Harzani lalu diduga memindahkan hasil korupsi saham tersebut ke Client Trust Account Bank Berhard dan didakwa dengan melanggar Pasal 4 ayat (1) Anti-Money Laundering And Anti-Terrorism Financing Act 2001 dihukum penjara selama 5 tahun penjara dan denda 5 juta Ringgit Malaysia, dan Harzani telah memeberikan jaminan sebesar 200.000 Ringgit Malaysia dan 1 orang penjamin.
Kelemahan dan Kelebihan predicate offence dan sanksi tindak pidana pencucian uang di Indonesia dan Malaysia
1. Kelemahan dan Kelebihan predicate offence dan sanksi tindak pidana pencucian uang di Indonesia
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang terdiri dari 13 Bab. Lebih banyak dari undang-undang sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang hanya terdiri dari 10 Bab. Dengan semakin banyaknya bab dari undang-undang tersebut maka semakin detail pengaturan yang ada di dalamnya. Banyak muatan baru yang ditambahkan dalam tiap babnya, juga terdapat perubahan dalam susunan tiap pasalnya.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang predicate offence terdapat pada Pasal 2 ayat (1) dan hanya di tuliskan delik tindak pidana apa saja yang merupakan predicate offence. di Indonesia terorisme dijadikan satu dengan predicate offence tindak pidana lain, karena Indoensia telah memiliki undang undang anti terorisme yaitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Sistematika predicate offence di Indoensia dijadikan dalam Satu Pasal yaitu Pasal 2 ayat (1) karena predicate offence tersebut merupakan kualifikasi tindak pidana mana saja yang merupakan tindak pidana pencucian uang, sistematikanya ditulis dengan sederhana dalam satu pasal, karena merupakan intisari dari undang-undang yang telah ada juga
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang memiliki 26 macam predicate offence sebagaimana tercantum dalam Pasal 2 ayat (1). Pasal 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang memuat predicate offence (tindak pidana asal) yang berjumlah 26 tindak pidana yaiu sampai huruf y. Pada huruf z berbunyi “tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih”, yang artinya bahwa semua tindak pidana yang diancam 4 (empat) tahun atau lebih yang merupakan tindak pidana asal pencucian uang selain yang tertulis dari huruf a-y, maka termasuk tindak pidana pencucian uang. hal ini membuktikan bahwa undang-undang TPPU Indonesia telah mengatur semua jenis tindak pidana ataupun undang-undang lain yang ancaman pidanaya (empat) tahun atau
lebih yang merupakan tindak pidana asal pencucian uang. Tidak perlu dituliskan satu persatu jenis tindak pidana seperti pada second schedule Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001, dengan menuliskanya seperti pada huruf z undang-undang TPPU Indonesia, telah menjerat semua jenis tindak pidana asal pencucian lain selain yang tertulis dari huruf a-z.
Kelebihan dari predicate offence Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang adalah pada huruf z tersebut. tidak perlu menuliskan satu persatu tindak pidana asal apa saja yang menjadi tindak pidana asal pencucian uang, karena dengan adanya klausula pada huruf z tersebut berakibat bahwa semua tindak pidana lain yang tidak disebutkan dalam huruf a-y pada Pasal 2 tersebut akan dijerat dengan UUTPPU bila ancaman pidana yang dijatuhkan dalam suatu tindak pidana tersebut lebih dari 4 (empat) tahun. Jadi semua tindak pidana yang masuk dalam ancaman pidana 4 (empat) tahun yang itu merupakan tindak pidana asal pencucian uang akan dijerat degan UUTPPU.
Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang berbunyi, “Untuk dapat dilakukan penyidikan, penuntutan, dan pemerikasaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana pencucian uang tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu tindak pidana asalnya”. Tidak perlu dibuktikanya suatu tindak pidana asal pencucian uang akan mempersulit langkah penyidikan, bagaimana mungkin perbuatan tersebut diketahui bahwa ternyata adalah kegiatan tindak pidana pencucian uang tanpa harus mengetahui tindak pidana asal, bila tidak perlu dibuktikan maka darimana tau bahwa perbuatan tersebut merupakan tindakan menyamarkan harta kekayaan hasil tindak pidana lain. pasal tesebut membuktikan bahwa tidak hanya kesalahan yang berbentuk kesengajaan saja yang dapat dipidana dengan Undang-Undang pencucian uang, tetapi terhadap kealpaan dapat juga dikenai pidana yang sama. Kealpaan disini maksudnya adalah
seseorang yang tanpa tau menau dijadikan alat untuk pencucian uang dimana orang tersebut tidak tau bahwa hasil kekayaan yang diberikan kepadanya adalah hasil dari tindak pidana lain tanpa orang tersebut mengetahui asal usul hasil kekayaan tersebut. Bila PPATK sudah menemukan suatu kejanggalan maka dapat dilakukan penydikan lebih lanjut terhadap tindak pidanan pencucian uang.
Tabel 1.1 perbedaan dan persamaan tindak pidana asal (predicate offence) tindak pidana pencucian uang di Indonesia dan Malaysia
Tindak pidana asal (predicate offence) di
Indonesia
Tindak pidana asal (predicate offence) di Malaysia (dalam undang-undang di second schedule) Perdagangan orang Anti-Trafficking in Person
and Anti-Smuggling of Migrant
Penyelundupan migrant
Di bidang perbankan Banking and Financial Institution
Perjudian Common Gaming House
Di bidang pasar modal Labuan offshore Securities Industry and Labuan Trust Companies
Futures Industry
Perdagangan senjata gelap Firearms (Trafficking in Firearms)
Kepabeanan dan cukai Customs Act
Narkotika Dangerous Drugs
Psikotropika
Di bidang perpajakan Income Tax Di bidang perasuransian Insurance
perikanan Drilling) Di bidang lingkungan hidup
Penculikan Kidnapping
Korupsi Malaysia Anti-Corruption
Commission
Di bidang kehutanan Malaysia Timber Industry Board
Penyuapan Betting Act
Penyelundupan tenaga kerja Child Act
Perdagangan senjata gelap Control of Supplies Act and control of supplies regulations
Pencurian Copyright Act
Penggelapan Corrosive and Explosive
Substance and Offensive Weapons Act
Penipuan Development financial
institution Act
Pemalsuan uang Direct sales and
Anti-Piramid Scheme Act
Prostitusi Exchange control
Tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih
Explosive Act
Islamc Banking Act Offshore Banking Act dan
Offshore Insurance Act Optical Disc Act
Pawnbroker Act Payment System Act
Penal Code Security Industry Act Security Commision Act
Strategic Trade Act Takaful Act Trade Description Act
Perbedaan predicate offence dari kedua Negara tersebut mempunyai tujuan yang berbeda, suatu aturan dibuat pasti memiliki tujuan tertentu sesuai dengan Negara tersebut. Ada pengaturan yang tidak diatur di Indonesia tetapi di atur di Malaysia, ataupun sebaliknya, ada pengaturan yang diatur di Indonesia tetapi tidak diatur di Malaysia. Pengaturan predicate offence di Malaysia memang berbeda dengan Indoensia, Pada Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 ada 119 seriouse offence, dibagi dalam berbagai undang-undang yang diatur di Malaysia. Tiap undang undang ada beberapa perumusan tindak pidana yang diatur didalmnya. Dalam Second schedule juga memasukan rumusan tindak pidana di dalam Penal Code, dalam UU TPPU Indonesia tidak dirumuskan tindak pidana apa saja yang ada di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang termasuk tindak Pidana pencucian uang. Indonesia juga hanya menyebutkan secara singkat tindak kejahatan apa
saja yang masuk dalam tindak pidana asal tanpa menuliskan rumusan apa saja yang termasuk delik pencucian uang pada tindak pidana tersebut. Padahal KUHP merupakan kitab utama dalam hukum pidana di Indonesia, sebagai acuan dasar tindak pidana yang berupa kejahatan maupun peelanggaran.
Penebalan yang dimaksud dalam tabel diatas adalah untuk membedakan antara tindak pidana asal mana dari Indonesia dan Malaysia yang berbeda, yaitu yang ada di Indonesia tetapi tidak ada di Malaysia, atau sebaliknya. Table yang tidak ada penebalan adalah persamaan dar tindak pidana asal kedua negara. Di Indonesia hanya disebutkan perbuatan apa saja yang merupakan tindak pidana asal, sedangkan di Malaysia dijelaskan tentang undang-undang apa yang masuk dalam tindak pidana asal dan tiap undang-undang tersebut terdapat delik pidana yang ada di tiap undang-undang.
Perumusan tindak pidana pencucian uang dalam undang undang TPPU Indonesia ada pada Bab II “Tindak Pidana Pencucian Uang”, Pasal 2 sampai Pasal 10. Setiap pasal perumusan delik tindak pidana berbeda sanksinya, pada Pasal 3 menyebutkan bahwa,
“Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan,membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkandengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lainatas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patutdiduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuanmenyembunyikan atau menyamarkan asal usul HartaKekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang
dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dandenda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliarrupiah).”
Bebeda lagi dengan Pasal 4 yang menyebutkan bahwa :
“Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asalusul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, ataukepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yangdiketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindakpidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang
denganpidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dendapaling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”
Perbedaan sanksi pidana tiap pasal karena delik pidana yang dilakukan juga berbeda. Pada delik tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh korporasi yaitu pada Pasal 7 ayat (1) adalah pidana denda paling banyak Rp 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah). Selain pidana denda terhadap korporasi juga dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa :
1) Pengumuman putusan hakim;
2) Pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usaha; 3) Pencabutan izin usaha
4) Pembubaran dan/atau pelarangan Korpoasi;
5) Perampasan asset korporasin untuk Negara; dan/atau 6) Pengambilalhan korporasi oleh Negara
Bila korporasi tidak mampu untuk mebayar pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) tersebut, pidana denda dapat diganti dengan perampasan harta kekayaan milik korporasi atau personil pengendali korporasi yang nilainya sama dengan putusan pidana dnda yang dijatuhkan. Bila penjualan harta kekayaan milik korporasi yang dirampas tersebut tidak mencukupi, pidana kurungan pengganti denda dijatuhkan terhadap personil pengendali korporasi dengan memperhitungkan denda yang dibayar.
Pencucian uang dibedakan dalam tiga tindak pidana :
1. Tindak pidana pencucian uang aktif, yaitu setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, memebelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).
2. Tindak pidan pencucian uang dikenakan pula bagi mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian uang yang dikenakan kepada setiap orang yang menyembunyikan menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengaliahn hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidan penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
3. Tindak pidana pencucian uang pasif yang dikenakan kepada semua orang yang menerima atau menguasai penempatran, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). Hal tersebut dianggap juga sama dengan melakuakn pencucian uang. Namun, dikecualikan bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
Sanksi dari tindak pidana pencucian uang sangat tegas dinyatakan dalam undang-undang, baik sanksi terhadap individu maupun korporasi. Kekurangan dari undang-undang TPPU Indonesia adalah denda yang lebih rendah dari denda negara Malaysia, denda dibuat lebih banyak agar ada efek jera bag pelaku tindak pidana pencucian uang. kelebihan dari sanksi pidana pencucian uang di Indonesia adalah ada sanksi administratif bagi korporasi yang diperuntukan untuk kegiatan pencuciuan uang. Selain sanksi denda dan penjara, dibuat sanksi administratif agar suatu korporasi tersebut tidak dipakai lagi
untuk kegiatan pencucian uang. kejahatan pencucian uang dalam bidang korporasi sangat ditekankan dalam undang-undang ini yaitu pada Pasal 6-Pasal9.
2. Kelemahan dan Kelebihan predicate offence dan sanksi tindak pidana pencucian uang di Malaysia
Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 terdiri dari tiga bagian yaitu bagianj pertama adalah substansi dari undang-undang itu sendiri, dan dua bagian lainya berupa lampiran (first schedule dan second schedule). First Schedule Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 mengatur tentang Reporting Institution, yaitu kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilaporkan dan merupakan delik tindak pidana pencucian uang. Second schedule Anti Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 berisi tentang tindak pidana apa saja yang menjadi “serious offence” tindak pidana pencucian uang. Tidak hanya dijelaskan tindak pidana apa yang menjadi predicate offence, second schedule Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 juga memuat tentang undang-undang lain apa saja yang menjadi predicate offence tindak pidana pencucian uang. dalam Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financng Act 2001 predicate offence dimasukan dalam Second Schedule, tidak di dalam Pasal tersendiri ataupun ditulis hanya deliknya saja dalam Undang-Undang itu sendiri. Pada Second Schedule memuat undang-undang apa saja yang masuk dalam predicate offence tindak pidana pencucian uang di Malaysia.
Predicate offence dalam Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 terdiri dari 119 macam tindak pidana, dan terdapat dalam second schedule (lampiran 2). Kelemahan predicate offence dalam second schedule adalah meskipun terdiri dari banyak macam tindak pidana asal dari pencucian uang tetapi tidak semua tindak pidana asal masuk dalam tindak pidana asal. Bila suatu tindak pidana yang tidak ada dalam second schedule dan ternyata tindak
pidana tersebut merupakan tindak pidana yang menghasilkan hasil kekayaan yang lalu hasilnya tersebut disamakan sumbernya, maka perbuatan tersebut tidak termasuk tindak pidana pencucian uang, maka terdapat banyak celah di negara Malaysia untuk melakukan perbuatan pencucian uang. undang-undang Malaysia yang memasukan predicate offence dalam satu bagian tersendiri dalam second schedule yang memuat tentang undang-undang mana saja yang masuk predicate offence tindak pidana pencucian uang serta dituliskan juga delik-delik mana saja yag dilanggar dalam suatu pasal yang merupakan delik asal mula pencucian uang. dalam second schedule tersebut sistematika deliknya adalah setiap undang-undang yang meurupaka seriuse offence dijabarkan lagi delik delik mana pada undang-undang tersebut yang merupakan delik pencucian uang, setiap undang-undang dituliskan beberapa jenis delik sehingga 119 jenis kejahatan atau predicate offence adalah penjabaran delik dari tiap ndang-undang yang dirumuskan dalam second schedule.
Kelemahan dari Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 adalah tidak dijlaskanya sanksi tentang korporasi, hanya dijelaskan apa yang termasuk dalam korporasi dan subyek dari korporasi, tanpa adanya sanksi yang dikenakan baik sanksi denda ataupun sanksi administratif bagi korporasi.
Pengaturan tindak pidana pencucian uang sanksi pidanaya tidak diatur dalam Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001. Tidak seperti di Indonesia yang mengatur tentang sanksi korporasi pada Pasal 6-9, yang mengatur tentang sanksi pidana yang berupa sanksi denda sebesar Rp 100.000.000.000,00 (seratus milyar rupiah) dan sanksi pidana tambahan, dan aturan lain mengnai sanksi terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana pencucian uang. dalam Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 tidak dijelaskan bagaimana sanksi denda dan sanksi tambahan pada korporasi, tetapi hanya dijelaskan bahwa subyek tindak
pidana pencucian uang selain prseorangan adalah korporasi, tetapi pidan denda ataupun sanksi lainya berupa sanksi tambahan pada korporasi tidak dijelaskan.
Malaysia tidak memasukan terorisme sebagai predicate offence dalam second schedule melainkan terorisme dijadikan satu kesatuan dengan undang-undang pencucian uang karena Malaysia sendiri belum memiliki undang-undang yang mengatur tentang tindak pidana terorisme, tindak pidana ini merupakan tindak pidana baru tetapi sangat membahayakan Negara. Maka dari itu terorisme menjadi satu bagian dengan tindak pidana pencucian uang
Dalam Anti-Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 perumusan tindak pidana pencucian uang pada Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2), yaitu Setiap orang yang melakukan/terlibat, atau mencoba melakukan, atau membantu dilakukanya “pencucian uang”. dan pada ayat 2 dijelaskan bahwa seseorang dapat dipidana berdasarkan ketentuan ayat (1) terlepas apakah ada penghukuman yang berkaitan dengan “serious offence” atau “foreign serious offence” atau penuntutan telah dilakuakn terhadap tindak pidana tersebut. jadi seseorang dapat dipidana jika melakukan delik seperti pada ayat 1, meskipun seseorang tersebut dalam proses penuntutan dalam tindak pidana lain yang tertera dalam second schedule undang undang TPPU Malaysia. Pada Pasal 3 dijelaskan pula delik delik tentang perbutan tindak pidana pencucian uang yang mendapatkan harta kekayaan yang berasal dari unlawful actifity, dimana orang itu (berdasarkan kondisi obyektif) mengetahui atau beralasan untuk meyakini bahwa harta kekayaan itu berasal dari unlawful actifity atau orang itu (dlihat dari perbuatanya) tanpa alas an pemaaf yang masuk akal, gagal mengambil langkah-langkah untuk memastikan apakah harta itu berasal dari “unlawful actifity” atau tidak. “unlawful actifity” adalah setiap aktiftas yang berhubungan dengan serus offence atau foeign serious offence. Pidana yang dijatuhkan dalam Money Laundering and
Anti-Terrorism Financing Act 2001 adalah pidana denda maksimal 5 juta Ringgit, pidana penjara maksimal 5 tahun, atau kedua duanya.
Pada perubahan yang baru, Money Laundering and Anti-Terrorism Financing Act 2001 mengubah pidananya sebagaimana yang tertulis pada Pasal 4 yang berbunyi :
Mana-mana orang yang.
(a) melibatkan diri, secara langsung atau tidak langsung, dalamtransaksi yang melibatkan hasil daripada aktiviti haram atauperalatan kesalahan;
(b) memperoleh, menerima, memiliki,
menyembunyikan,memindahkan, mengubah, menukar, membawa, melupuskanatau menggunakan hasil daripada aktiviti haram atauperalatan kesalahan;
(c) mengalihkan dari atau membawa masuk ke dalam Malaysia,hasil daripada aktiviti haram atau peralatan kesalahan; atau
(d) merahsiakan, menyembunyikan atau menghalang pemastiansifat sebenar, sumber, lokasi, pergerakan, pelupusan,hakmilik, hak berkenaan dengan, atau pemunyaan, hasildaripada aktiviti haram atau peralatan kesalahan,
melakukan kesalahan pengubahan wang haram dan apabiladisabitkan boleh dipenjarakan selama tempoh tidak melebihi limabelas tahun dan juga boleh didenda tidak kurang daripada lima kaliganda jumlah atau nilai hasil daripada aktiviti haram atau peralatankesalahan itu pada masa kesalahan itu dilakukan atau lima jutaringgit, yang mana yang lebih tinggi.
Dari pasal tersebut telah ada perubahan pada pidana penjara yaitu lima belas tahun penjara, serta pidana denda tidak boleh kurang dari lima kali jumlah uang yang telah dicuci atau maksimal lima juta Rinngit Malaysia. Sanksi tersebut menyesuaikan keadaan karena nilai mata uang yang semakin tinggi, diberikan sanksi sesuai dengan delik pidana yang dilakukanya.
Tabel 2.1 jenis sanksi pidana tindak pencucian uang di Indonesia dan Malaysia
Negara Perumsan Tindak Pidana Sanksi
Malaysia Pasal 4 :
(1) Setiap orang yang melakukan/terlibat, atau mencoba melakukan, atau membantu dilakukanya “pencucian uang”. (2) Seseorang dapat dipidana bedasarkan ketentuan ayat (1) terlepas apakah ada penghukuman yang berkaitan dengan “serious offence” atau “foeign serious offence” atau penuntutan telah dilakuakan terhadap Tindak Pidana tersebut. Denda maksimal 5 juta Ringgit ; atau Penjara maksimal 5
tahun ; atau Kedua-duanya
Indonesia Pasal 3 :
Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,
membelanjakan, membayarkan,
menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri,
mengubah bentuk,
menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta
Denda maksimal Rp 10.000.000.00 0,00 (sepuluh milyar rupiah) Penjara maksimal 20 (dua puluh) tahun
Kekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang.
Pasal 4:
Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang.
Denda maksimal Rp 10.000.000.00 0,00 (sepuluh milyar rupiah) Penjara maksimal 20 (dua puluh) tahun