BAB 1 BAB 1
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
1.1
1.1 Latar BelakangLatar Belakang
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 7 juta orang meninggal akibat Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 7 juta orang meninggal akibat Sindroma Koroner Akut (SKA) di seluruh dunia pada tahun 2002. Angka ini diperkirakan Sindroma Koroner Akut (SKA) di seluruh dunia pada tahun 2002. Angka ini diperkirakan meningkat hingga 11 juta orang pada tahun 2020. Menurut Antman et al,(2004) SKA merupakan meningkat hingga 11 juta orang pada tahun 2020. Menurut Antman et al,(2004) SKA merupakan penyakit
penyakit jantung jantung koroner koroner yang yang menjadi menjadi penyebab penyebab utama utama kematian kematian di di dunia, dunia, dimana dimana terdapatterdapat lebih dari 4,5 juta penduduk meninggal karena SKA ,yang termasuk kedalam SKA adalah : ST lebih dari 4,5 juta penduduk meninggal karena SKA ,yang termasuk kedalam SKA adalah : ST Elevasi Miocard Infark(STEMI), Non ST Elevasi Miocard Infark ( NSTEMI ) dan Unstable Elevasi Miocard Infark(STEMI), Non ST Elevasi Miocard Infark ( NSTEMI ) dan Unstable Angina Pektoris(UAP).Pravelansi penyakit jantung dan pembuluh darah (Cardiovaskuler) di Angina Pektoris(UAP).Pravelansi penyakit jantung dan pembuluh darah (Cardiovaskuler) di Indonesia terus meningkat angka kejadian. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Indonesia terus meningkat angka kejadian. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depertamen Kesehatan 2006 tingkat kematian akibat penyakit kardiovasuler mencapai 25%. Depertamen Kesehatan 2006 tingkat kematian akibat penyakit kardiovasuler mencapai 25%. Pada tahun 2008 dari total jumlah pasien yang masuk ke UGD RS Pusat Jantung Nasional Pada tahun 2008 dari total jumlah pasien yang masuk ke UGD RS Pusat Jantung Nasional Harapa Kita (PJNHK) didapatkan jumlah pasien yang di diagnosa SKA adalah 26,9%. Dan Harapa Kita (PJNHK) didapatkan jumlah pasien yang di diagnosa SKA adalah 26,9%. Dan setiap 3-4 bulan pasien datang ke unit Gawat Darurat dalam kondisi jantung sudah tidak setiap 3-4 bulan pasien datang ke unit Gawat Darurat dalam kondisi jantung sudah tidak berdenyut
berdenyut (death (death on on arrival). arrival). Kalaupun Kalaupun selamat selamat setelah setelah upaya upaya resusitasi resusitasi jantung jantung paru paru yangyang berhasil,
berhasil, pasien pasien sudah sudah mengalami mengalami kerusakan kerusakan pada pada jantung jantung dan dan berbagai berbagai organ organ tubuh tubuh lainnya.lainnya. Kasus-kasus seperti ini tentunya bisa dikurangi, apabila pasien serangan jantung cepat mendapat Kasus-kasus seperti ini tentunya bisa dikurangi, apabila pasien serangan jantung cepat mendapat pertolongan
pertolongan yang yang cepat cepat dan dan tepat tepat sebelum sebelum tiba tiba ke ke RS. RS. dan dan segera segera ditriase ditriase cepat cepat di di RS RS untukuntuk penatalaksanaan
penatalaksanaan reperfusi reperfusi baik baik dengan dengan fibrinolitik fibrinolitik maupun maupun balonisasi balonisasi Komplikasi Komplikasi yang yang dapatdapat terjadi pada SKA adalah henti jantung akibat oleh timbulnya Fibrilasi Ventrikel (VF). Ataupun terjadi pada SKA adalah henti jantung akibat oleh timbulnya Fibrilasi Ventrikel (VF). Ataupun VT tanpa nadi. Untuk ini perawat dituntut untuk menambah pengetahuan dan keterampilan VT tanpa nadi. Untuk ini perawat dituntut untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam penatalaksanaan pasien dengan SKA baik yang belum mengalami komplikasi maupun dalam penatalaksanaan pasien dengan SKA baik yang belum mengalami komplikasi maupun yang telah mengalami komplikasi, Bantuan Hidup Dasar (BHD) /Life Support adalah usaha yang yang telah mengalami komplikasi, Bantuan Hidup Dasar (BHD) /Life Support adalah usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kehidupan pada saat penderita mengalami keadaan yang dilakukan untuk mempertahankan kehidupan pada saat penderita mengalami keadaan yang mengancam nyawa. Bila usaha Bantuan Hidup ini dilakukan tanpa memakai cairan intra vena, mengancam nyawa. Bila usaha Bantuan Hidup ini dilakukan tanpa memakai cairan intra vena, obat ataupun kejutan listrik maka dikenal sebagai Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support). obat ataupun kejutan listrik maka dikenal sebagai Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support). Sebaliknya bila bantuan hidup dilakukan dengan menggunakan obat-obatan dikenal sebagai Sebaliknya bila bantuan hidup dilakukan dengan menggunakan obat-obatan dikenal sebagai
Akses rantai
Akses rantai penyelamatan penyelamatan untuk menggambarkan untuk menggambarkan bahwa waktu bahwa waktu merupakan hal ymerupakan hal yang sangatang sangat penting dalam penyelamatan penderita khususnya pada pende
penting dalam penyelamatan penderita khususnya pada pende rita dengan VF atau SCA. Tiga daririta dengan VF atau SCA. Tiga dari 4 rantai ini juga relevan untuk penderita dengan henti nafas henti jantung. Rantai penyelamatan 4 rantai ini juga relevan untuk penderita dengan henti nafas henti jantung. Rantai penyelamatan atau disebut dengan “Chain of Survival” sebagai berikut : 1).Cepat menghubungi SPGDT, atau disebut dengan “Chain of Survival” sebagai berikut : 1).Cepat menghubungi SPGDT, 2).Cepat melakukan RJP. RJP segera dapat memberikan kesempatan dua atau tiga kali lipat 2).Cepat melakukan RJP. RJP segera dapat memberikan kesempatan dua atau tiga kali lipat penderita
penderita dengan dengan VF VF atau atau SCA SCA dapat dapat diselamatkan, diselamatkan, 3).Cepat 3).Cepat melakukan melakukan Defibrilasi Defibrilasi : : RJP RJP dandan Defibrilasi pada penderita dapat meningkatkan tingkat penyelamatan (45% -75%), dan 4). Cepat Defibrilasi pada penderita dapat meningkatkan tingkat penyelamatan (45% -75%), dan 4). Cepat memberikan Bantuan Hidup Lanjut.
memberikan Bantuan Hidup Lanjut.
1.2
1.2 TujuanTujuan
-- Mengetahui Kegawatdaruratan KardiovaskularMengetahui Kegawatdaruratan Kardiovaskular
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gejala Kegawatdaruratan Kardiovaskuler
Gejala kegawatdaruratan pada orang dengan kelainan jantung dapat berupa nyeri dada, sesak nafas, jantung berdebar (palpitasi) ,sinkop (pingsan), serta henti jantung.
Henti Jantung
Henti jantung merupakan suatu keadaan dimana terjadi gangguan irama jantung. dimana jantung tidak berdenyut seperti biasa sehingga tidak dapat memompa darah secara optimal ke seluruh tubuh. Henti jantung umumnya disebabkan oleh 2 hal, yaitu fibrilasi dan takikardi. Pada fibrilasi, jantung bergetar-getar tidak karuan tanpa kontrol (bisa diba yangkan seperti
petinju yang kehilangan arah, tentu pukulannya jadi lemah dan asal-asalan) sedangkan pada takikardi, jantung memompa dengan sangat cepat sehingga ventrikel jantung tidak sempat terisi (bagaikan petinju yang terus memukul tanpa pernah mengisi tenaga, pukulannya jadi tanpa tenaga). Akibat dari keadaan ini adalah syok kardiogenik, suatu keadaan dimana aliran darah ke perifer termasuk organ-organ penting seperti hati, kemaluan, paru-paru, hingga otak tidak tercukupi sehingga terjadi kematian sel karena kurangnya oksigen. Apabila aliran darah ke otak terhenti lebih dari 8-10 menit maka kerusakan menjadi irreversibel. Kalau tidak ditangani dengan cepat maka dapat menyebabkan kematian. Henti jantung biasanya ditandai dengan hilangnya pulsasi, respirasi, dan kesadaran. Beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan kolaps jantung adalah sindrom koroner akut, tenggelam, trauma (tamponade), tercekik, stroke, sengatan listrik, dll.
Apabila kita menemukan suatu kegawatdaruratan jantung atau kardiovaskular, ada yang disebut cardiac chain of survival. Langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Survey daerah. Liat kondisi daerah, usahakan lokasi aman buat korban dan kita sendiri. Jangan sampai kita digilas truk saat nyelamatin korban.
2. RAP (Respon, activate, position). Respons dengan cek kesadaran korban, memanggil dan menggoncangkan tubuh korban. Activate dengan menghubungi bantuan tenaga medis. Bisa rumah sakit terdekat. Position. Kondisikan pasien pada posisi yang nyaman, rata (flat), dan tidak mudah bergeser-geser. Perhatikan apakah ada trauma kepala/cervical. 3. Cek ABCD (airway, breathing, circulation, Disability/Defibrilator).
Jika korban ditemukan tidak bernafas jangan malu-malu untuk beri bantuan nafas. Jika denyut nadi tidak terasa, maka lakukan RJP (resususitasi jantung paru) dengan frekuensi 30:2 (30 kali pompa jantung + 2 kali nafas bantuan) sebanyak 5 siklus dalam 2 menit. Dalamnya tekanan RJP sebesar 4-5 cm pada orang dewasa dan 1/3 sampai ½ tinggi dada pada anak kecil. Apabila pasien mengalami kolaps jantung (fibrilasi/takikardi) maka harus menggunakan alat defibrilator. Apabila sampai 30 menit korban tidak membaik maka diperbolehkan untuk menghentikan RJP.
Syok
Kondisi yang umumnya mengikuti henti jantung adalah syok kardiogenik. Tanda-tandanya adalah akral dingin, tekanan darah turun, kesadaran menurun, urin sedikit, nadi cepat atau sangat lambat. Umumnya 85% berujung kematian kecuali bisa ditangani segera. Penyebab syok bisa karena faktor volume, pompa, dan denyut jantung. Kelainan pompa sering disebabkan oleh Infark miokard dan tamponade, sedangkan kelainan denyut diakibatkan konduksi impuls di jantung yang tidak baik (fibrilasi dan takikardi). Penyebab akibat volume biasanya bukan berasal dari faktor kardiogenik, tetapi karena berkurangnya volume cairan tubuh dalam jumlah besar seperti perdarahan, terbakar, dsb. (Guyton, Hall., 2008).
Nyeri Dada
Nyeri dada merupakan keluhan yang sangat umum. Namun, penyebab dari gejala ini dapat berasal dari faktor lain dari luar jantung, seperti pencernaan, otot, bahkan sampai masalah ekonomi. Oleh karena itu perlu dilakukan penegakan diagnosis terlebih dahulu pada pasien dengan keluhan nyeri dada. (Sudoyo, A.W., dkk., 2009).
Anamnesis perlu dilakukan untuk bisa memberi penanganan yang tepat. Hal yang perlu diketahui:
• Kualitas, durasi, keparahan, serta penyebaran nyeri. Nyeri dada yang dipengaruhi jantung umumnya menyebar ke tungkai kiri atas, leher, dan punggung; rasanya seringkali digambarkan seperti diremas, dibakar, ditimpa, atau bisul yang hampir pecah. Durasi minimal 30 menit pada infark miokard.
• Riwayat penyakit korban. Apakah pernah terserang sebelumnya, apakah ada keluarga yang mengalami, sejak kapan mulai nyeri?
• Faktor resiko yang dimiliki. Merokok, hipertensi, DM, dll merupakan faktor resiko terjadinya sindrom koroner akut.
• Gejala penyerta. Nyeri dada akibat kerusakan pada jantung biasanya disertai dengan sesak nafas, keringat berlebihan (diaforesis), ataupun pingsan.
Penyebab nyeri dada bisa karena sindrom koroner akut, perikarditis, endokarditis, diseksi aorta, dsb.
Sindrom Koroner Akut (SKA)
SKA merupakan keadaan dimana terjadi penurunan pasokan darah ke otot jantung yang menimbulkan rasa tidak nyaman (discomfort) dalam berbagai tingkat spektrum. SKA terdiri dari UAP, NSTEMI, dan STEMI. Penanganan sindrom koroner akut bertujuan untuk meminimalisasi terbentuknya trombus pada lesi aterosklerotik, oleh karena itu digunakan trombolitik.
Langkah-langkah penangan SKA adalah sebagai berikut :
Pasien datang dengan keluhan nyeri dada kemudian lakukan anamnesis, pabila dicurigai SKA, maka segera lakukan EKG dalam 10 menit (kenapa harus 10 menit sebab otot jantung mati dalam 20 menit) apabila telah terdiagnosis SKA segera lakukan pemberian terapi medikamentosa MONACO; morfin (penghilang nyeri), oksigen, nitrat (vasodilator), aspirin (antiplatelet), Clopidogrel dan segera lakukan pemeriksaan lab untuk lebih memastikan
( troponin, CK, myoglobin,dll). Upaya penyelamatan SKA memiliki periode emas (golden periode) yaitu selama 60 menit pertama. Dimana dalam periode ini jika berhasil diselamatkan prognosis akan jauh lebih baik (Sudoyo, A.W., dkk., 2009).
Diseksi Aorta Akut (DAA)
Gambar 2.1 Diseksi Aorta Akut
Diseksi aorta berupa penggembungan pada salah satu sisi aorta (lesi eksentrik) yang diakibatkan robekan pada dinding aorta yang terus terisi oleh darah. Konon sangat sakit. Lesi ini sering dikaitkan dengan adanya luka penetrasi (penetrating ulcer) di pembuluh darah. Penggolongannya ada 2 tipe, menurut Stanford dan DeBakey. Menurut Stanford ada tipe A dan B. Kalo A di aorta bagian asendens aorta dan tipe B dibagian desendes aorta. Apabila DeBakey membagi jadi 1,2,3. Yang 1-2 sama kayak stanford A, yang 3 sama kayak stanford B. Resiko terberat dari DAA adalah ruptur. Bayangkan apabila aortanya robek, darah dengan tekanan tinggi akan keluar ke bagian internal tubuh kita. Hampir seluruh kasus robek aorta berujung dengan kematian. Penanganan DAA ditujukan untuk mengurangi tekanan darah sehingga resiko ruptur berkurang.
Terapi yang diberikan adalah:
Opium untuk mengurangi nyeri dan menenangkan pasien supaya tekanan darah tidak
naik,
Labetalol untuk menurunkan denyut nadi sampai < 70
Terapi lanjutan diberikan apabila : • Terjadi ruptur
• Iskemia pada organ maupun perifer • False aneurysm lokal
• Hipertensi refrakter • Nyeri berlanjut
Selain obat-obatan, dapat juga diberikan terapi bedah dengan pemasangan thoracic stent-graft sebagai terowongan pada saluran aorta.
Sesak Nafas
Sesak nafas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari respirasi (asma), neural, maupun emosional (seperti ketika melihat dosen serem ato wanita idaman). Oleh karena itu harus dikenali gejala-gejala penyertanya untuk menegakkan diagnosis penyakit jantung atau tidak.
Gejala sesak nafas yang umumnya berkaitan dengan kelainan jantung antara lain: nyeri dada, palpitasi, ortopnea (sesak nafas saat berbaring), diaforesis, penurunan berat badan, dahak berdarah, batuk, dll. Sementara tanda yang dapat dilihat adalah sianosis, peningkatan tekanan vena jugular, pucat, bunyi murmur, kardiomegali, clubbing finger, serta edema perifer. Apabila gejala dan tanda atas temukan pada korban, maka kemungkinan korban menderita gagal jantung. Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Penyakit KV sendiri secara epidemiologi merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia. Oleh karena itu, angka nyata kematian akibat gagal jantung juga sangat tinggi. Gagal jantung dibagi menjadi 4 tingkat berdasarkan perkembangannya, mulai dari high risk untuk gagal jantung (GJ), GJ asimtomatik, GJ simtomatik, sampai GJ tahap akhir (end-stage heart failure). Klasifikasi ini dibuat untuk memudahkan diagnosa dan penanganan korban. Diagnosa gagal jantung ditegakkan dengan menggunakan kriteria Framingham. Diagnosis dapat ditegakkan apabila terdapat 2 kriteria mayor atau 1 mayor + 2 minor.
Kriteria Mayor
• Sesak nafas tiba-tiba di malam hari (PND) • Peningkatan JVP
• Krepitasi daerah paru • Kardiomegali
• Edema paru akut • Ritme gallop
• Refluks hepatojugular (pelebaran vena jugularis ketika dilakukan penekanan pada hati) • Penurunan berat badan
Kriteria Minor
• Edema engkel bilateral • Batuk malam
• Sesak nafas pada kegiatan sehari-hari • hepatomegali
• Efusi pleura • Takikardi
• Penurunan kapasitas vital.
Gambaran Hemodinamik pada pasien gagal jantung :
1. Warm and wet. perifer hangat disertai bunyi ronki, juga sesak. Penanganannya berikan diuretik, vasodilator, serta beta bloker dan inotropik kalo perlu. Diuretik untuk mengeluarkan cairan karena parunya udah edema.
2. Cold and wet. Perifer dingin disertai bunyi ronki. Kasih vasodilator dan diuretik juga 3. Warm and dry. Perifer hangat dan ga ada ronki. Terapinya seperti gagal jantung kronik
beri beta blocker atau ACE Inhibitor.
4. Cold and dry. Perifer dingin dan ga ada ronki. Kondisi gawat tanda syok. Harus bedain dengan syok hipovolemik, karena tandanya juga sama. Tekanan darah harus dinaikkan, bisa dengan inotropik (dopamin, dobutamin).
Hangat dinginnya akral menunjukkan kualitas perfusi ke perifer, sedangkan kering atau basah menunjukkan progresi gagal jantung dalam bentuk edema paru (jantung kongestif).
Gagal jantung dipengaruhi oleh fungsi neurohumoral dalam tubuh kita, terutama hormon yang meregulasi tekanan darah macam angiotensin. Hormon ini mengakibatkan terjadinya retensi air melalui pelepasan aldosteron yang menyebabkan edema paru dan perifer sehingga kerja jantung makin berat), vasokonstriksi, dan efek toksik langsung ke otot jantung. Ketiga mekanisme ini yang memperparah gagal jantung. Gagal jantung dapat diperparah apabila ‘dibantu’ dengan sindrom koroner akut, konsumsi garam berlebihan, konsumsi cairan berlebihan, aritmia, obat-obatan, kondisi metabolik (kehamilan) dll.
Kematian yang didasari gagal jantung umumnya terjadi karena henti jantung tiba-tiba (sudden cardiac death), bradi-tachiarrhytmia, serta gagal jantung progresif. Pengobatan gagal jantung sekarang udah bisa pake biventricular pacing dimana ritme jantung diatur secara elektrik
maupun dengan bedah dan transplantasi.
Kegawatdaruratan Hipertensi
Suatu hipertensi masih ‘hanya’ dianggap kritis meski tekanan sistole lebih dari 200mmHg dan diastole di atas 120mmHg. Hipertensi baru bisa dikategorikan sebagai kegawatdaruratan hipertensi kalo diikuti oleh kerusakan organ. Penatalaksanaannya dengan menurunkan tekanan darah secara perlahan. Apabila dilakukan secara tiba-tiba dapat berujung pada stroke, gagal ginjal, dan infark miokard. Penurunan tekanan darah pertama kali diupayakan sebesar 25% dalam tempo 1-4 jam. Akan tetapi, pada pasien dengan diseksi aorta dan IM maka penurunan perlu dilakukan dengan cepat. Beberapa keadaan emergensi hipertensi antara lain bila disertai : retinopathy, encepalophaty, diseksi aorta, IM, edema pulmonal, kehamilan, gagal gijal, ataupun sindrom withdrawal akut. Keadaan-keadaan penyerta hipertensi biasanya diakibatkan oleh inflamasi pada pembuluh darah (vaskulitis) yang mengakibatkan kurangnya kontrol autoregulasi pembuluh darah. Seringkali hal ini terjadi pada pasien yang tidak melanjutkan pengobatannya. Tatalaksana kegawatdaruratan hipertensi antara lain dengan nitrat (sodium nitroprusside, glyceryl trinitrate), labutamol, dan hydralazine. Pada pasien dengan hipertensi tanpa gangguan organ pengobatan dilakukan dengan Beta blocker, ACE-I, serta Ca channel blocker.
Tamponade jantung terjadi ketika cairan masuk ke dalam rongga perikardial hingga mengakibatkan penekanan pada jantung. Akibatnya jantung tidak dapat terisi dan berkontraksi secara maksimal. Penyebab tertinggi dari tamponade adalah TBC (pleuritis kemudian menyerang daerah sekitar jantung sehingga terjadi ruptur kemudian tamponade), kecelakaan, IM, serta diseksi aorta. Tamponade jantung harus dicurigai pada korban dengan gejala hipotensi, penurunan tekanan vena jugular, penurunan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, serta pulsus paradoksus (tekanan dan amplitudo gelombang sistole berkurang ketika inspirasi). Tatalaksana tamponade jantung adalah dengan mengeluarkan kelebihan cairan dengan bedah, pemberian koloid dan inotropik untuk meningkatkan kekuatan jantung, dialisis urin, dan sitologi.
Gangguan Irama/ Palpitasi
Gangguan irama seringkali digambarkan oleh korban sebagai perasaan berdebar-debar (palpitasi). Manajemennya mengikuti algoritma takikardi atau bradikardi, sedangkan jika diindikasian terjadi SKA diperlukan pemeriksaan EKG. Pengobatan irama jantung saat ini satu-satunya adalah dengan defibrilator /cardioversion. Apabila tekanan darah bagus, Gambaran EKG teratur dengan qrs sempit dapat diberikan adenosin. Kalau bradikardia ditatalaksana dengan atropin 1-2 mg IV.
Syncope
Syncope itu nama lainnya pingsan, arti kedokterannya suatu keadaan dimana terjadi kehilangan kesadaran tiba-tiba yang sembuh sendiri (self-limited) yang selalu dibarengi dengan manuver jatuh. Pingsan diakibatkan berkurangnya pasokan darah ke otak sehingga terjadi pengurangan
curah jantung atau penurunan resistensi perifer. Ketika resistensi perifer turun, makan darah akan banyak tertampung di perifer (misalnya di kaki ketika lama berdiri pas upacara), akibatnya volume darah balik ke jantung sedikit, ikutin hukum frank-starling, curah jantung juga makin dikit, akibatnya aliran darah tidak mencukupi. Ketika otak tidak memperoleh darah selama 6-8 detik maka pingsan dapat terjadi baik secara tiba-tiba atau dibuka oleh rasa pusing, bergoyang, atau menurunnya pandangan.
Pingsan itu banyak penyebabnya dan dapat dibagi dalam 4 kelompok besar :
• Faktor Neural. Mekanismenya melalui vasovagal, situasi-emosi, atau hipersensitifitas sinus karotikus (misalnya pemasangan kerah/korset terlalu ketat bisa bikin sinus karotikus terangsang dan membuat tekanan darah turun dan pingsan)
• Ortostatik (berkaitan dengan berdiri tegak). Misalnya berdiri terlalu lama. Bisa juga diperkuat oleh efek obat-obatan atau penurunan volume darah.
• Aritmia jantung. Mis. Disfungsi sinus node, blok AV, ar itmia tiba-tiba (paroksismal), serta • Penyebab lainnya. Mis. Diseksi aorta, obstruksi k atup, tamponade jantung, emboli, dll.
Korban pingsan perlu memperoleh pemeriksaan seksama, di antaranya, pemeriksaan tanda vital, bunyi jantung, EKG, ekokardiogram, pemeriksaan gula darah. Selain itu, kita perlu membuang kemungkinan penyebab lain seperti epilepsi, pingsan psikogenik, hipoglikemia, intoksifikasi (keracunan). Tatalaksana pingsan adalah dengan membaringkan pasien pada posisi telentang atau disebut tradelenberg position, pemberian oksigen, cairan, maupun vasopressor bila diperlukan. Selain itu perlu juga diberikan edukasi untuk pencegahan serta penangan yang lebih baik, misalnya dengan mempersiapkan obat atau memakai pacemaker.
2.2 Tindakan Dalam Kegawatdaruratan Kardiovaskular
Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar merupakan layanan kesehatan dasar yang dilakukan terhadap penderita yang menderita penyakit yang mengancam jiwa sampai penderita tersebut mendapat pelayanan kesehatan secara paripurna. Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar umumnya dilakukan oleh paramedis, namun dinegara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada serta Inggris dapat dilakukan oleh kaum awam yang telah mendapatkan pelatihan sebelumnya. Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar secara garis besar dikondisikan untuk keadaan di luar Rumah Sakit sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut, sehingga tindakan Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar dapat dilakukan di luar Rumah Sakit tanpa menggunakan peralatan medis.
Bantuan Hidup Jantung Dasar sebenarnya sudah sering didengar oleh masyarakat awam di Indonesia dengan nama Resusitasi Jantung Paru (RJP). Umumnya tidak menggunakan obat-obatan dan dapat dilakukan dengan baik setelah melalui pelatihan singkat. Pedoman Bantuan Hidup Jantung Dasar yang sekarang dilaksanakan sekarang telah mengalami perbaikan
mengeluarkan pedoman baru Bantuan Hidup Dasar Dewasa. Dalam Bantuan Hidup Dasar ini, terdapat beberapa perubahan sangat mendasar dan berbeda dengan Bantuan Hidup Dasar yang telah dikenal sebelumnya, seperti :
1. Pengenalan kondisi henti jantung mendadak segera berdasarkan penilaian respon penderita dan tidak adanya napas
2. Perintah Look, Feel and Listen dihilangkan dari algoritme Bantuan Hidup Dasar 3. Penekanan bantuan kompresi dada yang berkelanjutan dalam melakukan resusitasi jantung paru oleh penolong yang tidak terlatih
4. Perubahan urutan pertolongan Bantuan Hidup Dasar dengan mendahulukan kompresi sebelum melakukan pertolongan bantuan napas (CAB dibandingkan dengan ABC)
5. Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang efektif dilakukan sampai didapatkan kembalinya sirkulasi spontan atau penghentian upaya resusitasi
6. Peningkatan fokus metode untuk meningkatkan kualitas RJP yang lebih baik 7. Penyederhanaan Algoritme Bantuan Hidup Dasar.
Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar bukan merupakan suatu satu jenis keterampilan tindakan tunggal semata, melainkan suatu kesinambungan tidak terputus antara pengamatan serta intervensi yang dilakukan dalam pertolongan. Keberhasilan pertolongan yang dilakukan ditentukan oleh kecepatan dalam memberikan tindakan awal Bantuan Hidup Jantung Dasar. Para ahli berpikir bagaimana cara untuk melakukan suatu Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar yang efektif serta melatih sebanyak mungkin orang awam dan paramedis yang dapat melakukan tindakan tersebut secara baik dan benar. Secara umum, pengamatan serta intervensi yang dilakukan dalam Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar merupakan suatu rantai tak terputus, disebut sebagai rantai kelangsungan hidup (chain of survival ) :
1. Pengenalan kejadian henti jantung dan aktivasi sistem gawat darurat segera ( Early Access) a. Identifikasi kondisi penderita dan lakukan kontak ke sistem gawat darurat
b. Informasikan segera Kondisi penderita sebelum melakukan RJP pada orang dewasa atau sekitar 1 menit setelah memberikan pertolongan RJP pada bayi dan anak.
c. Penilaian cepat tanda-tanda potensial henti jantung d. Identifikasi tanda henti jantung atau henti napas. 2. Resusitasi Jantung Segera ( Early CPR)
3. Defibrilasi Segera ( Early Defibrillation)
4. Perawatan Kardiovaskular Lanjutan yang Efektif ( Effective ACLS )
5. Penanganan terintegrasi pascahenti jantung ( Integrated Post Cardiac Arrest Care)
Dalam melakukan pertolongan menggunakan pendekatan sistematis Bantuan Hidup Jantung Lanjut (ACLS), maka kita harus melakukan pengamatan dan pemeriksaan secara sistematis pula. Pengamatan dan pemeriksaan tersebut dimulai dari survei primer Bantuan Hidup Dasar dilanjutkan dengan survei Bantuan Hidup Jantung Lanjut
Survei Bantuan Hidup Dasar Primer merupakan dasar tindakan penyelamatan jiwa setelah terjadi keadaan henti jantung. Tindakan ini bisa dilakukan oleh seorang penolong ataupun secara simultan. Tujuan awal pelaksanaan Survei Bantuan Hidup Dasar Primer adalah memperbaiki sirkulasi sistemik yang hilang pada penderita henti jantung mendadak dengan melakukan kompresi dada secara efektif dan benar, diikuti dengan pemberian ventilasi yang efektif sampai didapatkan kembalinya sirkulasi sistemik secara spontan atau tindakan dihentikan karena tidak ada respon dari penderita setelah tindakan dilakukan beberapa saat. Jikalau setelah dilakukan survei Bantuan Hidup Dasar Primer secara efektif didapatkan kembalinya sirkulasi secara spontan, maka tindakan Survei Bantuan Hidup Dasar Primer langsung dilanjutkan Survei Bantuan Hidup Jantung Lanjut. Tujuan survei Bantuan Hidup Dasar Primer adalah berusaha memberikan bantuan sirkulasi sistemik, ventilasi, dan oksigenasi tubuh secara efektif dan optimal sampai didapatkan kembali sirkulasi sistemik spontan atau telah tiba peralatan yang lebih lengkap untuk melaksanakan Bantuan Hidup Jantung Lanjut.
henti jantung mendadak atau tidak sadarkan diri yang kita saksikan atau datang ke Rumah Sakit sudah tidak sadarkan diri. Kita memeriksa respon penderita dengan memanggil dan menepuk-nepuk pundak atau menggoyangkan badan penderita bertujuan untuk mengetahui respon kesadaran penderita (Check responsiveness). Setelah yakin bahwa penderita dalam keadaan tidak sadar, maka kita meminta bantuan orang lain menghubungi ambulans atau sistem gawat darurat Rumah Sakit terdekat dan meminta bantuan datang dengan tambahan tenaga serta peralatan medis yang lengkap (Call for Help). Jika saat melakukan pertolongan hanya seorang diri, setelah melakukan pemeriksaan respon kesadaran, penolong segera menghubungi Rumah sakit terdekat atau ambulans dan melakukan pertolongan awal kompresi dada dengan dengan cepat dan kuat dengan frekuensi 30 kali diselingi pemberian bantuan napas 2 kali (1 detik setiap napas bantuan) sampai bantuan datang.
Urutan sistematis yang digunakan saat ini adalah C - A – B. Sebelum melakukan Bantuan Hidup Dasar harus diperhatikan langkah yang tepat dengan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Setelah dilakukan pemeriksaan (kesadaran, sirkulasi, pernapasan, perlu tidaknya defibrilasi), harus dianalisis secara cepat dan tepat tindakan yang perlu dilakukan. Sebagai contoh :
Periksa respon penderita untuk memastikan penderita dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Periksa denyut nadi sebelum melakukan kompresi dada atau sebelum melakukan penempelan sadapan AED.
Pemeriksaan analisis irama jantung sebelum melakukan tindakan kejut lsitrik pada jantung (defibrilasi).
Sebelum melakukan Survei Bantuan Hidup Dasar Primer , kita harus memastikan bahwa lingkungan sekitar penderita aman untuk melakukan pertolongan, dilanjutkan dengan memeriksa kemampuan respon penderita, sambil meminta pertolongan untuk mengaktifkan sistem gawat darurat dan menyediakan AED
Ketika akan melakukan pertolongan, penolong harus mengetahui dan memahami hak penderita serta beberapa keadaan yang mengakibatkan RJP tidak perlu dilaksanakan seperti :
Henti jantung terjadi dalam sarana atau fasilitas kesehatan
1) Ada permintaan dari penderita atau keluarga inti yang berhak secara sah dan ditandatangani oleh penderita atau keluarga penderita
2) Henti jantung terjadi pada penyakit dengan stadium akhir yang telah mendapat pengobatan secara optimal
3) Pada neonatus atau bayi dengan kelainan yang memiliki angka mortalitas tinggi, misalnya bayi sangat prematur, anensefali atau kelainan kromosom seperti trisomi 13
Henti jantung terjadi di luar sarana atau fasilitas kesehatan
1) Tanda-tanda klinis kematian yang irreversibel, seperti kaku mayat, lebam mayat, dekapitasi, atau pembusukan.
2) Upaya RJP dengan resiko membahayakan penolong
3) Penderita dengan trauma yang tidak bisa diselamatkan seperti hangus terbakar, dekapitasi atau hemikorporektomi.
Kapan Menghentikan RJP
Ada beberapa alasan bagi penolong untuk menghentikan RJP, antara lain :
Penolong sudah melakukan Bantuan Hidup Dasar dan Lanjut secara optimal, antara lain: RJP, defibrilasi pada penderita VF/VT tanpa nadi, pemberian vassopressin atau epinefrin intravena, membuka jalan napas, ventilasi dan oksigenasi menggunakan bantuan napas tingkat lanjut serta sudah melakukan semua pengobatan irama sesuai dengan pedoman yang ada.
Penolong sudah mempertimbangkan apakah penderita terpapar bahan beracun atau mengalami overdosis obat yang akan menghambat susunan sistem saraf pusat
Kejadian henti jantung tidak disaksikan oleh penolong.
Penolong sudah merekam melalui monitor adanya asistol yang menetap selama 10 menit atau lebih.
Implementasi penghentian usaha resusitasi ;
Asistol yang menetap atau tidak terdapat denyut nadi pada neonatus lebih dari 10 menit
Penderita yang tidak respon setelah dilakukan Bantuan Hidup Jantung Lanjut minimal 20 menit.
Secara etik penolong RJP selalu menerima keputusan klinik yang layak untuk memperpanjang usaha pertolongan (misalnya oleh karena konsekuensi psikologis dan emosional). Juga menerima alasan klinis untuk mengakhiri resusitasi dengan segera (karena kemungkin an hidup yang kecil).
Menurunnya kemungkinan keberhasilan resusitasi sebanding dengan makin lamanya waktu melaksakanan bantuan hidup. Perkiraan kemungkinan keberhasilan resusitasi dan pulang ke rumah, mulai dari 60-90% dan menurun secara jelas 3-10 % permenit.
Tindakan RJP pada Asistol bisa lebih lama dilakukan pada penderita dengan kondisi sebagai berikut :
Usia Muda
Asistol menetap karena toksin atau gangguan elektrolit Hipotermia
Overdosis Obat Usaha bunuh diri Permintaan Keluarga
Korban tenggelam di air dingin
Teknik Pelaksanaan Survey Primer Bantuan Hidup Dasar (C-A-B -D) :
1. Kita harus memastikan bahwa lingkungan sekitar penderita aman untuk melakukan pertolongan. Penderita dibaringkan di tempat datar dan keras posisi telentang.
2. Dilanjutkan dengan memeriksa kemampuan respon penderita, sambil meminta pertolongan untuk mengaktifkan sistem gawat darurat dan menyediakan AED.
Setelah yakin bahwa penderita dalam keadaan tidak sadar, maka kita meminta bantuan orang lain menghubungi ambulans atau sistem gawat darurat Rumah Sakit terdekat dan meminta bantuan datang dengan tambahan tenaga serta peralatan medis yang lengkap
Memeriksa respon : dengan memanggil dan menepuk-nepuk pundak atau menggoyangkan badan penderita (Check responsiveness); “ Pak....Pak.... (sambil menepuk pundak)...pak....anda
baik -baik saja ?”
(Call for Help) : menunjuk orang disekitar ; “ Tolong Telpon 118/ambulan, beritahukan ada pasien cardiac arrest, mohon bantuan tenaga medis dan AED”
Gambar 2.2 Cek Respon
3. Penilaian denyut nadi
Caranya jika penolong di sebelah kanan penderita, dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada garis median leher (trachea), kemudian geser ke lateral (ke arah penolong)/tidak boleh menyeberangi garis tengah, lalu raba pulsasi arteri carotisnya. Periksa teraba nadi atau
Gambar 2.3 Head thill, chin lift
Untuk berlatih mahasiswa dapat meraba pulsasi arteri carotisnya sendiri terlebih dahulu, kemudian meraba pulsasi arteri carotis mahasiswa lain secara berpasangan.
Penelitian yang telah dilakukan mengenai resusitasi menunjukkan baik penolong awam maupun tenaga kesehatan mengalami kesulitan dalam melakukan pemeriksaan pulsasi arteri carotis. Sehingga untuk hal tertentu pengecekan pulsasi tidak diperlukan, seperti :
Penolong tidak perlu memeriksa nadi dan langsung mengasumsikan penderita menderita henti jantung jika penderita mengalami pingsan mendadak, atau tidak berespons tidak bernapas, atau bernapas tidak normal.
Penilaian pulsasi sebaiknya dilakukan kurang dari 10 detik. Jika dalam 10 detik penolong belum bisa meraba pulsasi arteri, maka segera lakukan kompresi dada.
Catatan : Jika teraba nadi berikan 1 kali napas tiap 5-6 detik. Cek nadi tiap 2 menit Jika tidak teraba nadi lanjutkan dengan kompresi.
4. Kompresi Dada
Dilakukan dengan pemberian tekanan secara kuat dan berirama pada setengah bawah sternum/ Membuat garis bayangan antara kedua papila mammae memotong mid line pada sternum kemudian meletakkan tangan kiri diatas tangan kanan/ sebaliknya. Yang dipakai adalah tumit tangan, bukan telapak tangan. Hal ini menciptakan aliran darah melalui peningkatan
tekanan intratorakal dan penekanan langsung pada dinding jantung. Komponen yang perlu diperhatikan saat melakukan kompresi dada :
Frekuensi minimal 100 kali permenit
Untuk dewasa, kedalaman minimal 5 cm (2 inch)
Pada bayi dan anak, kedalaman minimal sepertiga diameter diding anterposterior dada, atau 4 cm (1,5 inch) pada bayi dan sekitar 5 cm (2 inch) pada anak.
Berikan kesempatan untuk dada mengembang kembali sevara sempurna setelah setiap kompresi.
Seminimal mungkin melakukan interupsi
Hindari pemberian napas bantuan yang berlebihan.
Gambar 2.4 RJPO (resusitasi Jantung paru otak)
Melakukan kompresi dada: tekan dengan cepat dan keras, interupsi minimal, dan biarkan dada recoil. Siku lengan harus lurus dengan sumbu gerakan menekan adalah pinggul bukan bahu. Tekan dada dengan kedalaman minimal 5 cm.
Gambar 2.5 Penekanan pada Teknik RJPO
Beri kesempatan dada recoil sebelum menekan kembali untuk memberi kesempatan venous return mengisi jantung.
Catatan : untuk membantu penghitungan kompresi :
“ satu, dua...sepuluh”.... satu, dua, ... duapuluh, ....satu...dua.... tigapuluh”
5. Airway (pembukaaan jalan napas)
Dalam teknik ini diajarkan bagaimana cara membuka dan mempertahankan jalan napas untuk membantu ventilasi dan memperbaiki oksigenasi tubuh. Tindakan ini sebaiknya dilakukan oleh orang yang sudah menerima pelatihan Bantuan Hidup Dasar atau tenaga kesehatan profesional dengan menggunakan teknik angkat kepala – angkat dagu (head Tilt-Chin Lift ) pada penderita yang diketahui tidak mengalami cedera leher. Pada penderita yang dicurigai menderita
trauma servikal, teknik head tilt chin lift tidak bisa dilakukan. Teknik yang digunakan pada keadaan tersebut adalah menarik rahang tanpa melakukan ekstensi kepala ( Jaw Thrust ). Pada penolong yang hanya mampu melakukan kompresi dada saja, belum didapatkan bukti ilmiah
yang cukup untuk melakukan teknik mempertahankan jalan napas secara pasif, seperti hiperekstensi leher.
2.6 Head Tilt Chin Lift
2.7 Jaw Thrust
6. Breathing (pemberian napas bantuan)
Pemberian napas bantuan dilakukan setelah jalan napas terlihat aman. Tujuan Primer pemberian napas bantuan adalah untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan tujuan
sekunder untuk membuang CO2. Sesuai dengan revisi panduan yang dikeluarkan American Hearth Association mengenai Bantuan Hidup Jantung Dasar, penolong tidak perlu melakukan
dan menghabiskan banyak waktu. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan bantuan napas antara lain :
Mahasiswa memasang mouth barrier untuk proteksi diri Berikan napas bantuan dalam waktu 1 detik.
Sesuai volume tidal yang cukup untuk mengangkat dinding dada Diberikan 2 kali napas bantuan setelah 30 kompresi
Pada kondisi terdapat dua orang penolong atau lebih, dan telah berhasil memasukkan alat untuk mempertahankan jalan napas (seperti pipa endotrakheal, combitube, atau sungkup laring), maka napas bantuan diberikan setiap 6-8 detik, sehingga menghasilkan pernapasan dengan frekuensi 8-6 kali permenit. Tidak sinkron dengan kompresi : memberikan bantuan napas tiap 6-8 detik selama kompresi berlangsung, Ingat Interupsi minimal saat kompresi.
Penderita dengan hambatan jalan napas atau komplians paru yang buruk memerlukan bantuan napas dengan tekanan lebih tinggi sampai memperlihatkan dinding dada terangkat.
Pemberian bantuan napas yang berlebihan tidak diperlukan dan dapat menimbulkan distensi lambung serta komplikasinya, seperti regurgitasi dan aspirasi.
Cara pemberian napas bantuan : a. Mulut ke mulut
b. Mulut ke hidung c. Mulut ke sungkup
Gambar 2.8 Teknik Bantuan Pernapasan
7. Setelah 5 siklus/ 2 menit, periksa pulsasi arteri carotis, jika pulsasi tidak ada dan bantuan belum tiba teruskan RJP. Jika bantuan datang dan membawa peralatan (AED/Defibrilator) segera pasang alat cek irama jantung dengan menggunakan AED atau monitor defibrilator. Apabila irama jantung shockable lakukan defibrilasi, apabila not shockable teruskan RJP. Ikuti algoritme. 8. Defibrilasi
Tindakan defibrilasi sesegera mungkin memegang peranan penting untuk keberhasilan pertolongan penderita henti jantung mendadak berdasarkan alasan berikut :
Irama jantung yang paling sering didapat pada kasus henti jantung mendadak yang disaksikan di luar rumah sakit adalah Fibrilasi ventrikel
waktu
Perubahan irama dari fibrilasi ventrikel menjadi asistol seiring dengan berjalannya waktu. Pelaksanaan defibrilasi bisa dilakukan dengan menggunakan defibrilator manual atau menggunakan Automated External Defibrilator (AED). Penderita dewasa yang mengalami fibrilasi ventrikel atau ventrikel takikardi tanpa nadi diberikan energi kejutan 360 J pada defibrilator monofasik atau 200 J pada bifasik. Pada anak, walaupun kejadian henti jantung mendadak sangat jarang, energi kejutan listrik diberikan dengan dosis 2-4 J/Kg, dapat diulang dengan dosis 4-10 J/Kg dan tidak melebihi energi yang diberikan kepada penderita dewasa. Pada neonatus, penggunaan defibrilator manual lebih dianjurkan. Penggunaan defibrilator untuk tindakan kejut listrik tidak diindikasikan pada penderita dengan asistol atau pulseless electrical activity (PEA).
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 7 juta orang meninggal akibat Sindroma Koroner Akut (SKA) di seluruh dunia pada tahun 2002. Angka ini diperkirakan meningkat hingga 11 juta orang pada tahun 2020. Menurut Antman et al,(2004) SKA merupakan penyakit jantung koroner yang menjadi penyebab utama kematian di dunia, dimana terdapat
lebih dari 4,5 juta penduduk meninggal karena SKA ,yang termasuk kedalam SKA adalah : ST Elevasi Miocard Infark(STEMI), Non ST Elevasi Miocard Infark ( NSTEMI ) dan Unstable Angina Pektoris(UAP).Pravelansi penyakit jantung dan pembuluh darah (Cardiovaskuler) di Indonesia terus meningkat angka kejadian. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depertamen Kesehatan 2006 tingkat kematian akibat penyakit kardiovasuler mencapai 25%. Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar merupakan layanan kesehatan dasar yang dilakukan terhadap penderita yang menderita penyakit yang mengancam jiwa sampai penderita tersebut mendapat pelayanan kesehatan secara paripurna. Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar umumnya dilakukan oleh paramedis, namun dinegara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada serta Inggris dapat dilakukan oleh kaum awam yang telah mendapatkan pelatihan sebelumnya. Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar secara garis besar dikondisikan untuk keadaan di luar Rumah Sakit sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut, sehingga tindakan Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar dapat dilakukan di luar Rumah Sakit tanpa menggunakan peralatan medis. Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar bukan merupakan suatu satu jenis keterampilan tindakan tunggal semata, melainkan suatu kesinambungan tidak terputus antara pengamatan serta intervensi yang dilakukan dalam pertolongan. Keberhasilan pertolongan yang dilakukan ditentukan oleh kecepatan dalam memberikan tindakan awal Bantuan Hidup Jantung Dasar. Para ahli berpikir bagaimana cara untuk melakukan suatu Tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar yang efektif serta melatih sebanyak mungkin orang awam dan paramedis
sebenarnya sudah sering didengar oleh masyarakat awam di Indonesia dengan nama Resusitasi Jantung Paru (RJP). Umumnya tidak menggunakan obat-obatan dan dapat dilakukan dengan baik setelah melalui pelatihan singkat. Pedoman Bantuan Hidup Jantung Dasar yang sekarang dilaksanakan sekarang telah mengalami perbaikan dibandingkan sebelumnya. Bulan Oktober 2010, American Heart Association (AHA).
DAFTAR PUSTAKA
Antman et al, (2004). HFSA 2010 Comprehensive Heart Failure Practice Guideline. Journal of Cardiac Failure Vol. 16 No. 6. Available From: http://www.heartfailureguideline.org/_assets/document/2010_heart_failure_guideline_e ec_summary.pdf. {Accessed 02 Maret 2014}.
Depkes, R.I., 2006. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. AvailableFrom:
http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%20pd .{Accessed 01 Maret 2014}.
Depkes, R.I., 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. AvailableFrom:
http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%20pd .{Accessed 03 Maret 2014}.
Guyton, Hall., 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta : EGC.
Sudoyo, A.W., dkk., 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V jilid II. Jakarta : Interna Publishing.