• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBARAN DAERAH PEMERINTAH KOTA TERNATE TAHUN 2002 PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI JASA PELABUHAN LAUT KOTA TERNATE NOMOR 07 TAHUN 2002

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LEMBARAN DAERAH PEMERINTAH KOTA TERNATE TAHUN 2002 PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI JASA PELABUHAN LAUT KOTA TERNATE NOMOR 07 TAHUN 2002"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

da/am eturen da/am eturen

LEMBARAN DAERAH

KOTA

TERNATE

P

ER

ATURAN DAERAH

K

OT

A

TERNATE

NOMOR

07 TAHUN 2002

TENTANG

RETRIBUSI JASA PELABUHAN LAUT

KOTA TERNATE

PEMERINTAH KOTA TERNATE

TAHUN 2002

(2)

PERATU

RAN D

AERAH KOTA TERNATE

N

OMOR

07 TAHUN 2002

TENT

ANG

RE

T

R

IBUS

I

JASA PELABUHAN LAUT

K

O

TA

T

ERNATE

DENGAN

RAH

MAT TUH

AN YANG MAHA ESA

W

AL

IKOTA TERNATE

Menimbang a. bahwa sarana pelabuhan laut merupakan salah satu jenis sarana penunjang transportasi yang harus ditata dalam sistim yang dinamis dan mampu mengadaptasi kemajuan dimasa depan sebagai pendorong, penunjang dan penggerak pembangunan daerah demi peningkatan kesejahteraan rakyat.

b. bahwa dalam rangka mengimplementasikan Rencana Strategis (Renstra) Pemerintah Kota Ternate dalam mengantisipasi dan menanggulangi akan banyaknya jumlah usaha dibidang perhubungan laut yang beroperasi dalam Wilayah Kota Ternate, para pengusaha dalam bidang transportasi laut perlu mendapat pengaturan dengan diberikan pelayanan retribusi jasa pelabuhan laut Kota Ternate.

c. bahwa untuk maksud sebagaimana tersebut pada huruf a dan b di atas .perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Mengingat 1. Undang-Undang Republlk Indonesia Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran [Lembaratt 'JI{J.gara'Tahun. 1992 9{pmor 98, Tambahan. Lembaran. 'JI{J.gara ?(pmor3493) i

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Ternate {Lembaratt 'JI{J.gara'Iahun.

1999 ?(pmor45,'Iambahan. Lembaran 'J{ggaraIJ{smwr 3824) i

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah(Lem6aran 9f..egara'Iahun.19999f..omor60, 'Tam6afian Lem6aran.'J{ggara 9f..omor3839)j

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lem6aran ~gara Tahun 1999'X9mor 72,'Tam6afian Lembaran.~gara 9f..omor3848) j

(3)

9

n

5. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran.~Bara /Iahur:2000 9{pmor246, 'Iambahan.Lembaran. '.N9mor4048)j

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 1999 tentang Angkutan Perairan (Lembaran.~Bara 'Iahusi 1999'}{.omor20)j

7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom {Lembaran ~Bara 'Iahun. 2000 9{pmor45)j

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggung jawaban Keuangan Daerah

[Lembaran.~Bara Tahun 2000 9{pTfWr202, Tambahan. Lembaran. ~Bara '.N9mor4022)j

9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah [Lembaran ~Bara 'Tafiun 2001 9{pmor 119, Tambahan. Lembatan. 9{f.gara 9{pmor4139)j

10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan [Lembaran ~Bara 'Iahun. 2001 9{pmor127)j

11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan ,Bentuk Rancangan Undang•.Undang, Rancangan peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden [Lembaran.~Bara 'Iahun.1999'.N9mor 70)j

12. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 33 Tahun 2001 tentang Tata Cara dan Permohonan Pemberian Izin Usaha Perusahaan I Izin Usaha Pelayaran serta Penyelenggaraan Angkutan Laut ;

13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah ;

14. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 175 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Retribusi Daerah ;

15. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 147 Tahun 1999 tentang Komponen Penetapan Tarif Retribusi.

16. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 21 Tahun 2001 tentang Teknik Penyusunan dan Materi Muatan Produk-Produk Hukum Daerah;

17. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah ;

18. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah ;

19. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 24 Tahun 2001 tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah ;

20. Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 22 Tahun 2000 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dilingkungan Pemerintah Daerah Kota Ternate(Lembaran. Vaeraft '1(fJta'Iemate 'Iahun. 2000 '.N9mor22)j

21. Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 30 Tahun 2000 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah Kota Ternate(£embaran Vaeraft '1(fJta'Iernate 'Iahuti 2000 '.N9mor33)j

1) In si si si IS ra 9 9

9

(4)

Dengan Persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TERNATE

MEMUTUSKAN

Menetapkan PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE TENTANG RETRIBUSI

PELABUHAN LAUT MILIK PEMERINTAH KOTA TERNATE. BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1 DalamPeraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:

a. Daerah adalah Kota Ternate

b. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai

badan eksekutif daerah.

c. Kepala Daerah adalah Walikota Ternate

d. Pejabat adalah pegawaiyang diberi tugas tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku. _

e. Dinas Perhubungan adalah Dinas Perhubungan Kota Ternate.

f. Badan Hukum adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan

komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan bentuk

apapun, persekutuan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya.

g. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri daridaratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapallkapal motor/perahu layar bersandar,berlabuh,naik turun penumpang danI atau bongkar muatbarang yang dilengkapi dengan fasilitias keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagaitempat perpindahan intra dan antar transportasi.

h. Kapal/ kapal motor / perahu layar adalah kendaraan diatas air yang digunakan untuk berlayar bagaimanapun nama,sifat dan bentuknya yang dapat diperbuat dari bahan apa saja.

i. Penumpang adalah orang yang bepergian dengan kapal / kapal motor dan atau perahu layar melaluipelabuhan.

j. Angkutan Laut adalah setiap kegiatan pelayaran dengan menggunakan kapal / kapal motor I perahulayar untuk mengangkut penumpang,barang dan atau hewan untuk satu perjalanan atau lebih darisatu pelabuhanke pelabuhan lain.atau antara beberapa pelabuhan.

k. KasDaerah adalah UPT Kas Daerahpada Pemerintah Kota Ternate ;

I. Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingandan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan hukum.

m. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusidiwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi daerah.

n. Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan fasilitas yang ada.

o. Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerah yang selanjutnya dapat disingkat SPdORD adalah surat dipergunakan olehwajib retribusi untuk melaporkan data objek retribusi dan wajib retribusi sebagai dasar penghitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menu rut peraturan perundang-undangan retribusi daerah.

(5)

p. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapat disingkat SKRD adalah surat

ketetapanyang menentukan besarnyajumlah retribusi yang terutang.

q. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar untuk selanjutnya disingkat SKRDKB adalah

Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang, jumlah kredit

retribusi, jumlah pembayaran kekurangan pembayaran pokok retribusi, besarnya sanksi

administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.

r. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan untuk selanjutnya disingkat

SKRDKBT adalah surat keputusan menentukan tambahan atas jumlah yang telah ditetapkan.

s. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar untuk selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat

keputusanyang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi

lebih besardariretribusiyang terutang atau tidak seharusnya terutang.

t

.

Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapat disingkat STRD adalah surat untuk

melakukan tagihan retribusi dan atau sangsi administrasi berupa bunga dan atau denda.

u. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap SKRD atau

dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB yang diajukan oleh wajib retribusi.

v. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data

dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban

retribusiberdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

w

.

Penyidikantindak pidana di Bidang Retribusi Daerah adalah serangkaiantindakanyang dilakukan

oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut penyidik ,untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di Bidang Retribusi

Daerah yang terjadi sertamenemukan tersangkanya.

BAB II

NAMA OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI

Pasal2

Dengannama retribusi jasa pelabuhan laut Kota Ternate, dipungut retribusi sebagai pembayaran

ataspelayanan yang diberikan.

Pasal3

ObjekRetribusi adalah setiap orang/penumpang dan atau kendaraan yang melalui atau memasuki

pelabuhanlaut Kota Ternate.

Pasal4

SubjekRetribusi adalah setiap orang/penumpang dan atau kendaraan milik perorangan maupun

badan hukum yang melalui dan atau memasuki pelabuhan laut Kota Ternate.

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI

Pasal5

(6)

BABIV

KETENTUAN PERIZINAN

Pasal6

(1) Setiap orang dan atau penumpang yang masuk kedalam wilayah pelabuhan dan atau hendak bepergian melalui pelabuhan laut Kota Ternate dikenakan pungutan retribusi.

(2) Setiap kendaraan milik perorangan maupun badan hukum yang masuk dengan menggunakan fasilitas jasa pelabuhan laut Kota Ternate dikenakan retribusi.

(3) Pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) pasal ini, akan ditentukan kemudian

dengan Keputusan Kepala Daerah.

(4) Dikecualikan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan (2) pasal ini, adalah orang / penumpang

dalam keadaan sakit berat dan atau kendaraan yang mengangkut orang sakit / jenazah serta

aparatur dalam tugas keamanandan pertahanan Negara.

BABV

PRINSIP DAN SASARAN PELAYANAN JASA

DALAM PENETAPAN STRUKTUR BESARNYA TARIF

Pasal7

(1) Prinsip dan sasaran penetapan struktur besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk

penyelenggaraan penyediaan jasa dengan tetap memperhatikan kemampuan masyarakat dan

aspek keadilan.

(2) Biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, meliputi biaya operasional pelabuhan KotaTernate.

BABVI

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF

Pasal8

(1) Struktur dan besarnya tarif setiap orang/penumpang yang masuk kedalam wilayah pelabuhan Kota Ternate dikenakan retribusi.

(2) Struktur dan besarnya tarif setiap kendaraan yang masuk kedalam wilayah pelabuhan Kota Ternate dikenakan pungutan retribusi.

(3) Struktur dan besarnya tarif retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) dan (2) diatas, diatur dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.

BAB VII

WILAYAH PEMUNGUTAN

Pasal9

Retribusiyang terutang dipungut kepada orang/penumpang dan atau kendaraan milik perorangan ataubadan hukum yang menggunakan fasilitas pelabuhan Kota Ternate.

(7)

BAB VIII

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG

Pasal 10

Saat terutangnya retribusi adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang

dipersamakan.

BABIX

SURATPENDAFTARAN

Pasal11

(1) Setiap wajib retribusi wajib mengisi SPdORD

(2) SPdORD sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) pasal ini, harus diisi dengan benar dan lengkap

serta ditanda tangani oleh wajib retribusi atau kuasanya.

(3) Sentuk, isi, cara pengisian dan penyampaian SPdORD ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BABX

PENETAPAN RETRIBUSI

Pasal 12

(1) Serdasarkan SPdORD sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 19 ayat (1) diatas, retribusi

terutang ditetapkan dengan menerbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

(2) Sentuk, isi dan tata cara penerbitan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan ditetapkan

oleh Kepala Daerah.

BABXI

TATA CARA PEMUNGUTAN

Pasal 13

(1) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB XII

SANKSI ADMINISTRASI

Pasal14

Dalam hal retribusi tidak dibayar tepat pada waktunya atau kurang bayar dikenakan sanksi

administrasi berupa bunga 2% (dua perseratus) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang

(8)

BAB XIII

TATA CARA PEMBAYARAN RETRIBUSI

Pasal15

(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus

(2 Retribusi yang terutang dilunasi selambat-Iambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lainyang dipersamakan.

(3) Tata cara pembayaran, penyetoran dan tempat pembayaran retribusi diatur dengan Keputusan Kepala Daerah.

BABXIV

TAT A CARA PENAGIHAN

Pasal 16

(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDBT, STRD dan Keputusan keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus dibayar bertambah, yang tidak atau kurang bayar oleh wajib retribusi dapat ditagih melalui Badan Urusan Lelang Negara(BULN).

(2) Penagihan retribusi melalui BULNdilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan.

BABXV KEBERATAN

Pasal 17

(1) Wajib retribusi dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB.

(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam BahasaIndonesia dengan disertai alasan yang jelas. (3) Dalam hal wajib retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan, wajib retribusi harus dapat

membuktikan ketidakbenaran atas ketetapan retribusi tersebut.

(4) Keberatan harus dapat diajukan dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB diterbitkan, kecuali apabila wajib retribusi dapat menunjukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(5) Keberatan yangtidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat(3)

pasal ini,tidak dianggap sebagai surat keberatan,sehingga tidak dipertimbangkan.

(6) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan penagihan retribusi.

Pasal18

(1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.

(9)

ya an k at

o

la n 3)

n

(2) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa meminta seluruh atau sebagian,

menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) pasal ini telah lewat dan Kepala

Daerah tidak dan/atau memberikan suatu Keputusan, maka keberatan yang diajukan tersebut

dianggap dikabulkan.

BABXVI

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN

Pasal 19

(1) Atas Kelebihan pembayaran retribusi, wajib retribusi dapat mengajukan permohonan

pengembalian kepada Kepala Daerah.

(2) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan

kelebihan membayar sebagaimana dimaksud ayat (1), harus memberikan Keputusan.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini telah dilampaui dan

Kepala Daerah tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian retribusi dianggap

dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. (4) Apabila wajib retribusi mempunyai hutang retribusi lainnya, kelebihan retribusi sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) pasal ini, langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu

hutang retribusi tersebut.

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB.

(6) Apabila pengembalian pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat jangka waktu 2 (dua) bulan Kepala Daerah dapat memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua perseratus).

Pasal20

(1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi diajukan secara tertulis kepada Kepala Daerah dengan sekurang-kurangnya menyebutkan ;

a

.

Nama dan alamat wajib retribusi b.Masa retribusi

c.Besarnya kelebihan pembayaran . d.Alasan singkat dan jelas

(2) Permohonan pengembalian kelebihan disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat. (3) Bukti penerimaan oleh Pejabat Daerah atau bukti penerimaan pos tercatat merupakan bukti saat

(10)

BAB XVII

PENGURANGAN KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI

Pasal21

(1) Kepala Daerah dapat memberikan pengurangan,keringanan dan pembebasan retribusi.

(2) Pemberian pengurangan atau keringanan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal

ini, dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi, antara lain dapat diberikan kepada

pengusaha kecil untuk mengangsur.

(3) Pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain diberikan kepada wajib

retribusi yang ditimpa bencanaalam dan ataukerusuhan.

(4) Tata cara pengurangan, keringanandan pembayaran retribusi ditetapkan Kepala Daerah. BAB XVIII

KADALUARSA PENAGIHAN

Pasal22

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi, kadaluarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila wajib pajak retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.

(2) Kadaluarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, tertangguh apabila: a.Diterbitkan surat teguran atau

b.Adanya pengakuan hutang retribusidari wajib retribusi baik langsungItidak langsung.

(3) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan panagihan sudah kadaluarsa dapat dihapuskan.

BABXIX

KETENTUAN PENYIDIKAN

Pasal23

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipiltertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang retribusi.

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) pasal ini, adalah ;

a.Menerima, mencari dan mengumpulkan serta meneliti keterangan atau laporan berkenaan

dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut

menjadi lebih lengkap.

b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan

tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana retribusi daerah.

d.Memeriksa buku-buku, catatan dan atau dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana

(11)

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan

dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut.

f. Meminta bantuan tenaga ahli guna pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana retribusi.

g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat

pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang atau dokumen yang

dibawa, sebagaimana dimaksud pada huruf c.

h.Memotret seseorang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah.

i. Memanggil orang untuk didengar keterangan dan diperiksa sebagai tersangka / saksi.

j. Menghentikan penyidikan.

k. Melakukan tindakan lain yang dianggap perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana

dibidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) pasal ini, memberitahukan dimulainya

penyidikan dan penyampaian hasil penyidikan pada penuntut umum sesuai ketentuan yang

diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BABXX

KETENTUAN PIDANA

Pasal24

(1) Pejabat atau pegawai yang tidak melaksanakan tugas dengan baik sehingga merugikan

keuangan daerah diberi sanksi sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah

diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (em pat) kali

jumlah retribusi terutang.

(3) lindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini, adalah pelanggaran.

BABXXI

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal25

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka seluruh ketentuan dan peraturan yang mengatur

tentang Retribusi Jasa Pelabuhan Laut Kota Ternate yang berlaku sebelumnya dinyatakan tidak

berlaku lagi.

BAB XXII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal26

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis

(12)

Pasal27

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pad a tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini

dengan penempatannya dalam lembaran daerah Kota Ternate.

Ditetapkan di : Ternate Pada tanggal :27 Mei 2002 WALIKOTA TERNATE TTD DRS. H. SYAMSIR ANDILI Diundangkan di :Ternate Pad a tanggal :27 Mei 2002

SEKRETARIS DAERAH KOTA TERNATE

TTD

DRS. FACHRY AM MARl

[Lembaran. Daerah. 'l(pta'Ternate 'Iahun. 2002 9{smwr 07 Sui C)

Kepala Bagian Hukum

Setda Ternate

-M. ARIF ABD. GANI, SH

PENATA

NIP. 630 008 535

(13)

TAMBAHAN

LEMBARAN

DAERAH KOTA TERNATE

SERle

Tan99

al 27

Mei 2002

Tahun 2002

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE

NOMOR 07 TAHUN 2002

TENTANG

RETRIBUSI JAS

A

PEL

A

BUHAN LAUT

KOT

A

TE

R

NATE

I. PENJELASAN UMUM

Dalam rangka memantapkan pelaksanaan otonomi daerah yang nyata, luas dan bertanggung jawab,dalam hal pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah yang bersumber dari

Pendapatan Asli Daerah (PAD) khususnya yang berasal dari Retribusi Jasa Pelabuhan Laut KotaTernate dipungut dan dikelola secara lebih bertanggung jawab.

Disamping itu dengan semakin meningkatnya pelaksanaan pembangunan kegiatan penyediaan jasa pelayanan oleh Pemerintah Daerah Kota Ternate untuk tujuan dan pemanfaatan umum diarahkan agar tidak menghambat bahkan sebaliknya dapat menunjang usaha peningkatan pertumbuhan perekonomian daerah.

Peraturan Daerah tentang Retribusi Jasa Pelabuhan Laut Kota Ternate ini ditetapkan untuk

(14)

II. PENJELASAN PASAL OEMI PASAL Pasal 1 sampai dengan 5 CukupJelas

Pasal6 ayat (4) Dikecualikan sebagai dimaksud pasal ini, juga termasuk

hal-hal lain yang bersifat Emergency sesuai dengan tingkat

kepentingan dengan berpihak pada factor kemanusiaan.

Pasal 7 sampai dengan 27 : Cukup Jelas

'Iambahan

.

Lembaran.

D

aerah

.

1(pta

'Ietn

a

te

rJafiun

2

00

2

9{01tUJr

0

7

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan (S.Kep) pada Program Studi Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas

Mengingat masalah-masalah matematika yang disajikan dalam perangkat pembelajaran matematika selama ini tidak realistik, maka perangkat pembelajaran yang perlu dikembangkan

Pada saat ini, saya sedang menulis skripsi berjudul “A Correlation Study between Students’ Majors in Senior High Schools with Achievements and Perspectives on Factors

Hasil analisis kandungan logam merkuri pada titik A menunjukkan bahwa waktu pengambilan III (hari ke 30) memiliki nilai yang tinggi dibandingkan dengan hari 1 dan

Kegiatan yang dilakukan mahasiswa Pelaksanaan Ujian Belajar Mandiri Belajar Sendiri Tutorial/Prak Belajar Berkelompok Pengembangan RMK, GBPP/GBPM Distribusi BA Penggandaan

ahun 2017 tim mutu merencanakan ahun 2017 tim mutu merencanakan kegiatan dalam upaya memantau kegiatan dalam upaya memantau dan mengontrol mutu dan mengontrol mutu

minyak bumi serta perengkahan biomassa (Green et al., 2006). Model ini akan digunakan pada penelitian kali ini untuk diterapkan pada optimalisasi perengkahan

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menguji angka lempeng total (ALT), uji kapang/khamir, pewarnaan gram, uji biokimia dan identifkasi bakteri pada 9