• Tidak ada hasil yang ditemukan

MORALITAS BAHASA DALAM AKSIOLOGI KEILMUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MORALITAS BAHASA DALAM AKSIOLOGI KEILMUAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MAJALAH ILMIAH METHODA Volume 2, Nomor 2, Mei-Agustus 2012 : 60-66 | 60

MORALITAS BAHASA DALAM AKSIOLOGI KEILMUAN

Nurlaidy Joice Simamora, M.Hum

Dosen Tetap Fakultas Sastra Universitas Methodist Indonesia Abstrak

Interaksi ilmu dan moral menimbulkan konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik. Ilmu berkaitan erat dengan moral yang dimiliki oleh manusia termasuk ilmu bahasa. Secara aksiologi pengetahuan bahasa dipakai untuk tujuan – tujuan subjektif individu atau kelompok maka masalah moral dari kegunaan atau fungsi bahasa muncul. Ilmu bahasa atau pengetahuan mengenai bahasa digunakan untuk melaksanakan atau mencapai tujuan – tujuan tertentu sehingga moralitasnya dipertanyakan. Pengetahuan berbahasa atau ilmu bahasa telah direkayasa sedemikian rupa untuk tujuan pribadi atau kelompok sehingga bahasa bukan lagi sekadar atau alat komunikasi saja.

Kata Kunci : Moral, Bahasa, dan Ilmu

Pendahuluan

Rasa ingin tahu manusia

menjadi titik perjalanan manusia yang takkan pernah usai. Hal inilah yang kemudian melahirkan beragam penelitian dan hipotesa awal manusia terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Proses berfilsafah adalah titik awal sejarah perkembangan pemikiran manusia dimana manusia berusaha untuk mengorek, merinci

dan melakukan pembuktian –

pembuktian. Kemudian sebuah teori pengetahuan dimana pengetahuan

menjadi terklasifikasi menjadi

beberapa bagian. Melalui pembedaan inilah kemudian lahir sebuah konsep yang dinamakan ilmu.

Pengembangan ilmu terus dilakukan, akan tetapi disisi lain pemuasan dahaga manusia terhadap rasa keingintahuannya seolah tak

berujung dan menjebak manusia ke lembah kebebasan tanpa batas. Oleh sebab itulah dibutuhkan adanya pelurusan terhadap ilmu pengetahuan agar tidak terjadi kenetralan tanpa batas dalam ilmu. Karena kenetralan ilmu pengetahuan hanyalah sebatas

metafisik keilmuan. Sedangkan

dalam penggunaannya diperlukan adanya nilai – nilai moral.

Sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Ketika Copernicus (1973:15) mengajukan teorinya bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan dipihak lain

(2)

MAJALAH ILMIAH METHODA Volume 2, Nomor 2, Mei-Agustus 2012 : 60-66 | 61

terdapat keinginan agar ilmu

mendasar kepada pernyataan –

pernyataan (nilai – nilai) yang terdapat dalam ajaran – ajaran di luar

bidang keilmuan (nilai moral),

seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari (Sumantri, 2001:233).

Ketika ilmu dapat

mengembangkan dirinya, yakni dari pengembangan konsepsional yang

bersifat kontemplatif disusul

penerapan – penerapan konsep

ilmiah ke masalah – masalah praktis atau dengan perkataan lain dari konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk konkret yang berupa teknologi, konflik antar ilmu dan moral berlanjut. Seperti kita ketahui, dalam tahapan penerapan konsep tersebut ilmu tidak saja

bertujuan menjelaskan gejala –

gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman, tetapi lebih jauh lagi bertujuan memanipulasi faktor – faktor yang terkait dalam gejala

tersebut untuk mengontrol dan

mengarahkan proses yang terjadi.

Dalam tahap manipulasi

masalah moral muncul kembali. Kalau dalam kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika

keilmuan maka dalam tahap

manipulasi masalah moral berkaitan

dengan cara penggunaan

pengetahuan ilmiah. Atau secara filsafat dapat dikatakan bahwa dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi

ontologism keilmuan, sedangkan

dalam tahap penerapan konsep

terdapat masalah moral yang ditinjau

dari segi aksiologi keilmuan.

Aksiologi itu sendiri adalah teori

nilai yang berkaitan dengan

kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapi eksistensi ilmu dan teknologi terbagi ke dalam dua golongan pendapat. Ilmuwan

golongan pertama menginginkan

bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai – nilai, baik itu secara

ontologism maupun aksiologis.

Tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada

orang lain untuk

mempergunakannya, terlepas apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan baik ataukah untuk tujuan buruk. Golongan kedua mendasarkan pendapat pada: ilmu harus ditujukan

untuk kebaikan manusia tanpa

merendahkan martabat atau

mengubah hakikat manusia.

(Sumantri, 2001:234).

Berdasarkan pernyataan di atas maka ilmu berkaitan erat dengan moral yang dimiliki oleh manusia termasuk ilmu bahasa. Sibarani (1992:3) berpendapat bahwa segi ontologism dapat dikatakan bahwa hakikat bahasa adalah perpaduan antara bunyi dan makna sehingga

(3)

MAJALAH ILMIAH METHODA Volume 2, Nomor 2, Mei-Agustus 2012 : 60-66 | 62 menjadi tanda sebagai alat untuk

komunikasi manusia. Komunikasi di sini tentunya dimaksudkan sebagai komunnikasi dengan nilai – nilai yang baik untuk tujuan interaksi yang baik pula. Namun, ketika secara aksiologis kemudian pengetahuan bahasa dipakai untuk tujuan – tujuan subjektif individu atau kelompok maka masalah moral dari kegunaan atau fungsi bahasa muncul.

Perkembangan Ilmu Bahasa Dalam sejarahnya kajian awal mengenai bahasa bersangkut paut dengan agama (Hindu di India) dalam kaitannya dengan doa-doa. Orang India menganggap doa harus diucapkan secara tepat antara lain dari segi bunyi, lafal, dan sintaksis karena dianggap dewa akan marah jika pelafalan doa tidak tepat. Pada waktu itu belum ada tulisan karena tulisan baru diperkenalkan pada abad IV SM.

Sementara itu dalam

perkembangan selanjutnya, ilmu

bahasa digunakan untuk tujuan tertentu. Orang Belanda datang ke Indonesia membawa ilmu bahasa bukan karena ingin mempelajari atau membawa ilmu bahasa, melainkan untuk misi dagang.

Saat ini ilmu bahasa sudah berkembang sedemikian pesat, ilmu bahasa digunakan untuk tujuan – tujuan yang lebih kompleks sehingga melebihi fungsi hakikinya sebagai

alat untuk berkomunikasi. Di

Indonesia, perkembangan bahasa

berjalan seiring dengan

perkembangan bidang ekonomi,

politik, maupun kultural. Pada zaman

sekarang ini, orang semakin

menyadari akan pentingnyafungsi

bahasa dalam seluruh bidang

kehidupan. Orang – orang pintar

mengerti kekuatan bahasa dan

memanfaatkan pengetahuan

bahasany untuk melaksanakan dan mencapai tujuan – tujuan tertentu. Oleh karena itu, tidaklah heran jika bahasa kemudian dapat dijadikan

sebagai alat kekuasaan dan

hegemoni.

Moralitas Bahasa

Memandang bahasa dari segi moralitas penggunaannya bukanlah merupakan hal yang mudah. Baik atau buruk, penggunaan bahasa bergantung dari sisi mana kita

memandang. Filosof Yunani

Aristoteles (Kurtiness dan Gerwitz,

1993:14) menyatakan bahwa

moralitas adalah hidup yang tertuang dalam perilaku yang benar, yaitu

perilaku yang benar dalam

hubungannya dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri. Berpendapat bahwa moralitas adalah

sebagai kesesuaian sikap dan

perbuatan kita dengan norma atau hukuman batiniah kita, yakni apa yang kita pandang sebagai kewajiban kita. Apapun batasan mengenai moralitas, berkaitan dengan aksiologi

keilmuan sepantasnyalah kita

berpedoman para ilmuwan golongan kedua yang berpendapat bahwa ilmu

(4)

MAJALAH ILMIAH METHODA Volume 2, Nomor 2, Mei-Agustus 2012 : 60-66 | 63 secara moral harus ditujukan untuk

kebaikan manusia tanpa

merendahkan martabat atau

mengubah hakikat kemanusiaan.

Kenyataannya,ilmu bahasa

atau pengetahuan mengenai bahasa kini digunakan unruk melaksanakan atau mencapai tujuan – tujuan

tertentu sehingga sesungguhnya

dapat kita pertanyakan moralitasnya. Bahasa Sebagai Alat Kekuasaan Dan Hegemoni

Menurut Antonio Gramsci, konsep hegemoni terjadi ketika golongan masyarakat yang tertindas terekploitasi dan secara sukarela mengabdi kepada penindas mereka (Fakih dalam pengantar Artha, 2002: xiv). Namun, dalam konsep sekara hegemoni yang terjadi bukan lagi berwujud penindasan secara factual, melainkan bias secara tersamar sehingga kadang – kadang pihak yang tertindas tidak merasa tertindas atau merasa jadi korban.

Kekuatan bahasa yang

diantaranya mengandung eufimisme

memungkinkan segala sesuatu

menjadi tampak baik, halus dan

tersamar meskipun sebenarnya

kurang baik. Lihat saja penggunaan kata – kata yang marak, terutama pada Zaman Orde Baru. Ketika itu rakyat miskin atau yang dianggap

melawan sering dikategorikan

sebagai “tidak beradab” sehingga harus “didisiplinkan”, “diregulasi”, dan “dibina”. Dengan demikian,

istilah – istilah yang sering

disuarakan oleh para penguasa pada waktu itu seperti mendisiplinkan, meregulasi, dan membina sebetulnya mengaburkan makna atau kenyataan sesungguhnya supaya program – program yang dilaksanakan terlihat baik dan berkesan tidak menindas.

Sampai saat ini gejala

pemakaian bahasa seperti itu masih sering terjadi, misalnya kenyataan penggusuran rumah – rumah atau bangunan yang dianggap liar sebagai

penertiban atau relokasi,

penggusuran rumah – rumah rakyat

yang lokasinya akan dibangun

perumahan atau mal – mal dikatakn sebagai penataan lingkungan atau

tata kota, proyek penggantian

armada angkutan lama menjadi peremajaan.

Fenomena semacam itu akan terus terjadi sepanjang para penguasa dan kaum cerdik pandai tidak ingin terbuka, ditambah faktor bahasa dengan kekuatan daya pengaruhnya yang memang memungkinkan hal semacam itu. Dalam relasi antara bahasa dan kekuasaan itu bahasa tidak lagi dapat dilihat sekedar sebagai alat komunikasi yang netral dan bebas nilai karena bahasa sudah mengandung unsur kekuasaan. Dari bahasa dapat dipertanyakan nilai moralitasnya karena di balik bahasa

tersebut terdapat makna yang

mengindikasikan martabat dan harkat manusia diturunkan.

Dengan demikian, relasi

antara bahasa dan kekuasaan tersebut lebih banyak bertentangan landasan ilmu secara moral. Relasi antara

(5)

MAJALAH ILMIAH METHODA Volume 2, Nomor 2, Mei-Agustus 2012 : 60-66 | 64 bahasa dan kekuasaan tersebut,

seperti Foucault (2002:xvi) terjadi tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi pada hamper semua

aspek kehidupan dan hal itu

dianggap Foucault mengingkari

kenyataan.

Bahasa Sebagai Alat

Pembenaran Pribadi

Bahasa muncul sebagai alat pembenaran pribadi, baik individu maupun kelompok, manakala bahasa

dipakai untuk membenarkan

anggapan, keyakinan, tindakan, atau

perilaku pribadi tanpa

memperhatikan atau bahkan

mengesampingkan kebenaran yang ada di pihak lain. Dalam hal ini

komunikator dengan bebas

menafsirkan bahasa atau fakta yang

ada dan dengan kecerdasan

intelektualnya mengoperasionalkan bahasa untuk membenarkan dirinya. Bahasa atau kenyataan yang dapat

dikaburkan atau bahkan

dimanipulasikan kebenarannya

biasanya berupa bahasa yang

cenderung ambigu dan kenyataannya samar – samar.

Dalam konteks bahasa

Indonesia, bahasa yang cenderung bersifat demikian banyak terjadi di dalam dunia hukum dan perundang – undangan yang memang karena

mungkin belum mantap benar,

akhirnya membuka celah untuk multitafsir. Kasus perdebatan SKP3

(Surat Ketetapan Penghentian

Penuntutan Perkara Suharto) oleh

Kejaksaan Agung akhir – akhir ini mungkin dapat menjadi contoh bagaimana antara pihak yang setuju dengan penerbitan SKP3 dan pihak yang menentang masing – masing

dengan kepintaran berbahasanya

menafsirkan undang – undang dan membenarkan pendapatnya pribadi. Kasus perdebatan tentang RUU AAP

(Rancangan Undang – Undang

Antipornografi dan Antipornoaksi) yang marak belakang ini juga demikian. Masing – masing pihak setuju dan ada yang tidak setuju dengan RUU APP, berargumen dengan bahasanya dan membenarkan

pendapatnya sendiri – sendiri

sehingga membingungkan

masyarakat dan mengaburkan

masalah hakikinya.

Masalah yang paling

menyentak dan menyentuh harkat dan martabat kemanusiaan akhir – akhir ini mungkin adalah ketika pejabat kementerian luar negeri Amerika Serikat, dengan ringannya berkomentar bahwa bunuh diri di penjara Guantanamo sebagai “iklan yang bagus”untuk para tahanan dan bunuh diri itu merupakan bagian dari strategi dan taktik mereka (para tahanan). Dari pernyataannya itu terlihat jelas AS membela dirinya atas sorotan dan kritikan tajam

masyarakat internasional yang

mensinyilir adanya kekejaman

penanganan terhadap tahanan politik milik AS tersebut. Pernyataan itu memunculkan kesan AS berusaha mengaburkan kenyataan di tempat

(6)

MAJALAH ILMIAH METHODA Volume 2, Nomor 2, Mei-Agustus 2012 : 60-66 | 65

yang memang sangat tertutup

tersebut.

Dari kasus – kasus di atas

moralitas bahasa dapat

dipertanyakan. Jika memang apa

yang disampaikan berakibat

menurunkan martabat dan harkat

kemanusiaan, bahasa yang

dioperasionalkan bertentangan

dengan nilai moral yang baik. Bahasa Sebagai Alat Perjuangan dan Media Pembebasan

Munculnya fungsi bahasa sebagai alat perjuangan individu atau kelompok dan juga sebagai media

pembebasan disebabkan adanya

kekuasaan dan hegemoni dalam tatanan kehidupan manusia. Adanya kesadaran akan ketertindasan, bukan hanya dalam hal ekonomi melainkan dalam berbagai aspek kehidupan, menimbulkan dorongan bagi kaum

yang merasa tertindas untuk

melakukan perjuangan. Seperti

halnya para penguasa yang

mengoperasionalkan dominasi

kekuasaan mereka dengan bahasa,

kaum tertindas pun melakukan

perjuangan kepentingan mereka

dengan bahasa.

Bagi kaum tertindas bahasa

digunakan sebagai media

pembebasan seperti yang terjadi ketika ada sekelompok penyandang cacat di Yogyakarta menentang penggunaan kata disable yang artinya ‘tidak mampu’ bagi para tuna netra, tuna tungu, dan tuna yang

lainnya dan menggantikannya

dengan istilah diffable yang

merupakan singkatan dari bahasa Inggris different able people. Kata

diffable selanjutnya mempunyai

pengertian yang memberdayakan dibandingkan dengan disable karena dalam kata diffable terkandung makna bahwa orang yang tidak dapat melihat, atau tidak dapat mendengar, tidak serta merta berarti tidak mampu.

Mereka yang tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri masih dapat melihat dengan mata hatinya, dan mereka yang tidak mampu mendengar masih memiliki kemampuan lainnya. Dalam konteks bahasa sebagai media pembebasan bagi para penyandang cacat tersebut terkandung nilai yang baik karena bertujuan meningkatkan martabat kemanusiaan para penyandang cacat.

Dengan demikian, pengetahuan

terhadap bahasa yang dipergunakan untuk memperjuangkan kelompok penyandang cacat tersebut sesuai dengan landasan ilmu moral.

Kesimpulan

Bahasa yang pada awalnya sekedar alat komunikasi penutur

(komunikator) kepada petutur

(komunikan) dalam

perkembangannya kemudian

dipergunakan untuk tujuan – tujuan tertentu, dari tujuan yang sederhana yang berhubungan dengan agama sampai pada tujuan yang lebih

kompleks, seperti sebagai alat

(7)

MAJALAH ILMIAH METHODA Volume 2, Nomor 2, Mei-Agustus 2012 : 60-66 | 66 alat pembenaran pribadi; dan sebagai

alat perjuangan dan media

pembebasan.

Masalah moral dalam

bahasaakan muncul manakala

kecerdasan atau pengetahuan akan bahasa secara manipulative dipakai untuk kepentingan – kepentingan atau tujuan subjektif individu atau kelompok sehingga mengaburkan bahkan memutarbalikkan kenyataan. Menilai moralitas bahasa dalam pemakaiannya bergantung dari sisi mana kita memandang.

Bahasa mempunyai nilai

moral buruk ketika dipakai sebagai alat kekuasaan dan hegemoni serta

alat pembenaran pribadi yang

merendahkan martabat dan

kemanusiaan. Sebaliknya, bahasa mempunyai nilai moral baik ketika dipakai sebagai alat perjuangan dan media pembebasan kaum tertindas

karena bertujuan meningkatkan

martabat kemanusiaan.

Apapun batasan mengenai moralitas, berkaitan dengan aksiologi keilmuan, sudah sepantasnyalah kita

berpedomanpada para ilmuwan

golongan kedua yang berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujuakn untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan.

Daftar Pustaka

Artha, Arwan Tuti. 2002. Bahasa dalam Wacana Demokrasi dan Pers. Yokyakarta: AK Group. Copernicus, William. 1973. Teori

Kesemestaan Alam. Jakarta. Universitas Indonesia Press Kurtines, William M & Gerwitz.

1993. Moralitas, Perilaku

Moral, dan Perkembangan

Moral. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Sibarani, Robert. 1992. Hakikat Bahasa. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Suriasumantri, Jujun S. 2002.

Filsafat Ilmu; Sebuah

Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tjahjadi, S. P. Lili. 1991. Hukum

Moral. Yokyakarta: PT.

Referensi

Dokumen terkait

1) Pada LFG sebesar 60%, pasien belum merasakan keluhan (asimptomatik), tapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. 2) LFG sebesar 30%, pasien

Penyakit lebih seringa terjadi pada Balita yang berusia 12 bulan sampampai 35 bulan dibanding dengan usia 36 sampai 59 bulan yang diakibatkan beberapa faktor yang

Monitoring dan pengendalian Kegiatan merupakan suatu proses evaluasi yang harus dilaksanakan untuk mengetahui kinerja hasil pelaksanaan kegiatan, sehingga dapat dilakukan

Pengertian tauhid Asma  (mengesakan Tuhan dengan asma -Nya) yang dimaksud oleh Syaikh Nafis al-Banjari pada intinya menyatakan bahwa semua asma  yang ada di dalam alam

dari konflik interrole yang memberikan tekanan peran di skctor kerja dan keluarga saling bertentangan. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa tekanan dalam

Menurut (Harahap, 2009) rasio keuangan adalah “ angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan

Pengobatan tradisional yang berasal dari tanaman merupakan manifestasi dari partisipasi aktif masyarakat dalam menyelesaikan problematika kesehatan dan telah diakui

Jika harga transaksi memberikan bukti terbaik atas nilai wajar pada saat pengakuan awal, maka instrumen keuangan pada awalnya diukur pada harga transaksi dan selisih antara