6 A. Teori Medis
1. Keluarga Berencana a. Definisi
Keluarga berencana adalah upaya untuk menjarangkan, merencanakan jumlah, dan mengatur jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi (Sofian, 2012)
2. Kontrasepsi a. Definisi
Kontrasepsi berasal dari kata “kontra”, artinya melawan dan “konsepsi”, artinya pembuahan. Jadi kontrasepsi berarti mencegah bertemunya sperma dengan ovum, sehingga tidak terjadi pembuahan yang mengakibatkan kehamilan (Irianto, 2014).
b. Macam-macam metode kontrasepsi
Menurut Sofian (2012) macam-macam kontrasepsi adalah sebagai berikut
1) Metode merakyat (Folk Method) yang terdiri dari pembilasan pasca senggama (Postcoital Douche) dan perpanjang masa menyusui anak (Prolonged Lactation)
2) Metode tradisional (Traditional Methods) yang terdiri dari pantang berkala (sistem kalender, sistem suhu badan), kondom, diafragma vagina, dan spermisida
3) Metode modern
a) Kontrasepsi Hormonal (1) Pil KB
Contoh : pil kombinasi, pil normofasik, pil trifasik, pil mini, pil pagi
(2) Suntikan KB
Contoh : Depo Provera, Noristrat
(3) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) / Norplant b) Kontrasepsi Intrauterine
(4) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / IUD
4) Metode permanen operatif antara lain tubektomi pada wanita dan vasektomi pada pria
3. Kontrasepsi Suntik Depo Provera
Depo Provera ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan
untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif (Anwar, 2011).
Depo Provera merupakan suspensi cair yang mengandung kristal-kristal mikro depot medroksiprogesteron asetat (DMPA). Dosis yang diberikan untuk mendapatkan manfaat kontrasepsi ini ialah 150 mg/ml
yang disuntikkan secara intramuskular (IM) setiap 12 minggu (Varney, 2007).
a. Mekanisme kerja suntik Depo Provera menurut Affandi (2012) yaitu :
1) Mencegah ovulasi
2) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma
3) Menjadikan selaput lendir tipis dan atrofi 4) Menghambat transportasi gamet oleh tuba
Mekanisme kerja menurut Glasier dan Gebbie (2006) yaitu:
1) Efek lokal pada ovarium
(a) Penekanan pertumbuhan folikel (b) Inhibisi ovulasi
(c) Penekanan aktivitas luteal
2) Modifikasi mukus serviks yang menghambat penetrasi sperma
3) Modifikasi endometrium yang mencegah implantasi
4) Efek pada hipotalamus dan hipofisis untuk menghambat pelepasan siklis follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) sehingga ikut menekan perkembangan folikel dan ovulasi
5) Efek pada fungsi tuba falopii dan pembuahan mungkin relatif kurang penting
b. Efektifitas
Angka kegagalan suntik Depo Provera menurut Sofian (2012) adalah 0-0,8, menurut Affandi (2012) angka kegagalannya adalah 0,3 kehamilan per 100 perempuan per tahun.
c. Keuntungan Depo Provera
Keuntungan Depo Provera menurut Affandi (2012) antara lain 1) Sangat efektif
2) Pencegahan kehamilan jangka panjang
3) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
4) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah 5) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
6) Sedikit efek samping
7) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
8) Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopause
9) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
10) Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
11) Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul 12) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
d. Keterbatasan
Keterbatasan suntik Depo Provera menurut Affandi (2012) antara lain
1) Sering ditemukan gangguan haid seperti siklus haid yang memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting), tidak haid sama sekali
2) Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk suntikan)
3) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut
4) Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
5) Tidak menjamin perlindungan terhada penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV 6) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian
pemakaian
7) Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena terjadinya kerusakan/kelainan organ genitalia, melainkan karenabelum habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat suntikan)
8) Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
9) Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang (densitas)
10) Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, jerawat.
e. Indikasi kontrasepsi suntikan depo provera menurut Saifuddin dkk (2010), yaitu :
1) Usia reproduksi
2) Nulipara dan yang telah memiliki anak
3) Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektifitas tinggi
4) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai 5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
6) Setelah abortus atau keguguran
7) Telah banyak anak tetapi belum menghendaki tubektomi 8) Perokok
9) Tekanan darah <180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan darah atau anemia bulan sabit
10) Menggunakan obat untuk epilepsi (fenitoin dan barbiturat) atau obat tuberkulosis (rifampisin)
11) Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen
13) Anemia defisiensi besi
14) Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi
f. Kontraindikasi kontrasepsi suntikan depo provera menurut Varney (2007), yaitu:
1) Kehamilan (diketahui atau dicurigai) 2) Riwayat kanker payudara
3) Perdarahan genitalia yang tidak diketauhi asal mulanya 4) Riwayat stroke (CVA) atau penyakit tromboembolik 5) Riwayat gagal atau penyakit hati
6) Hipersensitivitas terhadap depo provera
g. Waktu untuk mulai menggunakan kontrasepsi suntik Depo
Provera menurut Saifuddin dkk (2010), yaitu:
1) Setiap saat selama siklus haid, dengan syarat tidak hamil 2) Mulai hari pertama sampai hari ke tujuh siklus haid
3) Pada perempuan tidak haid injeksi pertama dapat diberikan setiap saat, dengan syarat tidak hamil. Selama tujuh hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual 4) Perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain
dan ingin mengganti dengan kontrasepsi suntik. Apabila telah menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara benar dan tidak hamil, suntikan pertama dapat
diberikan tanpa perlu menunggu sampai haid berikutnya datang
5) Apabila sedang menggunakan satu jenis kontrasepsi suntik dan ingin menggantinya dengan jenis lain, kontrasepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntikan yang sebelumnya
6) Perempuan yang menggunakan kontrasepsi non hormonal. Suntikan pertama kontrasepsihormonal yang akan diberikan dapat segera diberikan, dengan syarat tidak hamil dan pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang,apabila disuntik setelah hari ke tujuh haid, maka setelah tujuh hari setelah disuntik tidak boleh melakukan hubungan seksual
7) Ingin mengganti AKDR dengan kontrasepsi hormonal. Suntikan pertama dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke tujuh siklus haid, atau dapat diberikan setiap saat setelah hari ke tujuh siklus haid, dengan syarat yakin tidak hamil
8) Tidak haid atau dengan perdarahan tidak teratur. Suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, dengan syarat tidak hamil, dan selama tujuh hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual
h. Cara penggunaan
1) Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol. Hilangkan semua kotoran yang terlihat
2) Biarkan kulit tersebut kering sebelum disuntik 3) Setelah kulit kering laksanakan penyuntikan
(a) Kocok botol dengan baik, hindarkan terjadinya gelembung-gelembung udara, keluarkan isinya
(b) Suntikan secara intramuskular dalam daerah pantat. Apabila penyuntikan diberikan terlalu dangkal, maka penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja secara efektif
(c) Depo provera (3ml/159mg atau 1ml/150mg)diberikan setiap 3 bulan (12 minggu). Apabila klien datang dalam waktu lebih dari tiga bulan, maka petugas pelayanan harus dapat menyingkirkan dahulu kemungkinan hamil sebelum memberikan suntikan berikutnya (Irianto,2014).
i. Peringatan bagi pemakai kontrasepsi suntik Depo Provera menurut Affandi (2012), yaitu :
1) Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan kehamilan
2) Nyeri abdomen bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan ektopik terganggu
3) Timbulnya abses atau perdarahan tempat injeksi
4) Sakit kepala migrain, sakit kepala berulang yang berat, atau kaburnya penglihatan
5) Perdarahan berat yang 2 kali lebih panjang dari masa haid atau 2 kali lebih banyak dalam satu periode masa haid Bila terjadi hal-hal yang disebutkan diatas hubungi segera tenaga kesehatan atau klinik
4. Amenorea
a. Pengertian
Amenorea adalah keadaan tidak adanya haid untuk
sedikitnya 3 bulan berturut-turut (Wiknjosastro, 2009). Keadaan
amenorea ini perlu mendapatkan perhatian ketika akan menggunakan kontrasepsi hormonal, perlu dipastikan penyebab
amenorea bukan kehamilan.
b. Klasifikasi
Amenorea terbagi menjadi 2 jenis menurut Norwitz (2008),
yaitu:
1) Amenorea primer adalah tidak adanya menstruasi pada usia 16 tahun, prevalensi 1-2% dari semua anak perempuan
2) Amenorea sekunder adalah ketiadaan menstruasi selama lebih dari 6 bulan atau selama kurang lebih 3 siklus menstruasi pada wanita yang sebelumnya memili siklus menstruasi teratur, prevalensi 3-5% dari semua wanita (kecuali hamil).
c. Etiologi
Ada beberapa etiologi yang menjadi penyebab terjadinya
amenorea sekunder, Hollingworth (2012) menguraikan beberapa
penyebab amenorea sekunder yaitu: 1) Kelainanan saluran genitalia
Terdapat potensi pembentukan jaringan parut dimanapun dalam saluran genitalia tempat mengalirnya darah menstruasi keluar. Sindrom Ashermann adalah suatu keadaan ketika terjadi adhesi intrauterin sehingga mencegah perkembangan endometrium yang normal.
2) Gangguan sistemik
Penyakit kronis dapat menimbulkan gangguan menstruasi sebagai dampak penyakit secara umum, penurunan berat badan atau efek terhadap aksis hipotalamus-hipofisis. Penyakit ginjal kronis akan meningkatkan kadar LH serum dan juga prolaktin yang kemungkinan disebabkan oleh menurunnya bersihan ginjal.
3) Amenorea yang terkait dengan berat badan
Berat badan/IMT dapat sangat berdampak terhadap pengaturan dan pelepasan gonadotropin serum. Menstruasi tidak akan teratur bila IMT jatuh dibawah 19. Lemak dalam bentuk
jaringan adiposa merupakan sumber estrogen melalui aromatisasi androgen menjadi estrogen.
4) Penyebab hipotalamus
Penyebab ini jarang ditemui, mekanisme kerjanya kemungkinan dengan menghancurkan jaringan setempat atau mengganggu produksi dopamine sehingga timbul hiperprolaktinemia.
5) Penyebab hipofisis
Penyebab amenorea tersering dari hipofisis adalah hiperprolaktinemia, yang dapat bersifat fisiologis akibat laktasi, iatrogenik atau patologis.
6) Penyebab ovarium
Gagal ovarium prematur bisa saja terjadi,keadaan ini diartikan sebagai berhentinya menstruasi sbeleum mencapai usia 40 tahun
7) Penyebab iatrogenik
Penyebab iatrogenik yang nyata meliputi radioterapi dan kemoterapi pada keganasan.penyebab lain yang perlu dipertimbangkan antara lain berbagai bentuk kontrasepsi d. Patofisiologi
Mekanisme kerja utama depo provera adalah menghambat terjadinya ovulasi. Berdasarkan mekanisme farmakokinetiknya, depo provera mengandung obat MPA (Medroxyprogesterone
Acetate) yang dilepaskan secara perlahan kedalam serum darah,
kadar MPA ini dipertahankan sebesar 1,0 ng/ml selama tiga bulan dan setelah itu mengalami penurunan. MPA yang bersirkulasi dalam darah mampu menekan pembentukan gonadotropic releasing hormone (GnRH) dari hipotalamus, sehingga menghambat pelepasan lonjakan LH di hipofisis. Penghambatan ini menimbulkan kegagalan ovulasi dan akhirnya tidak terjadi siklus menstruasi (amenorea) (Laila, 2010).
Bagan Patofisiologi Amenorea Sekunder
Bagan Patofisiologi Amenorea Sumber : Laila (2010) Kontrasepsi depo provera disuntikan
Kadar MPA tinggi dalam serum Penekanan pembentukan GnRH dari hipotalamus Pelepasan lonjakan LH di hipofisis terhambat Kegagalan ovulasi Amenorea
e. Faktor Risiko
Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya amenorea sekunder menurut Vorvick (2012) adalah :
1) Stress psikis. Stress dapat mempengaruhi fungsi hipotalamus sehingga menstruasi berhenti.
2) Kehilangan berat badan secara tiba- tiba disebabkan oleh gangguan makan (penderita anoreksia nervosa, bulimia, dan psikosomatis), diet, atau Gastric bypass surgery. Kehilangan berat badan >10% menyebabkan penurunan masa lemak. Hal ini menyebabkan gangguan sekresi GnRH.
3) Aktifitas berat (olahraga berlebihan) dalam periode waktu yang lama. Hal ini merukapakan bentuk stress fisik yang berpengaruh pada hipotalamus.
4) Terlalu kurus (lemak tubuh kurang dari 15 – 17%) sehingga dapat mempengaruhi proses pembentukan hormon.
5) Obesitas. Adanya jaringan lemak yang berlebih sehingga mempengaruhi proses ovulasi.
6) Penyakit diabetes mellitus. Pasien dengan diabetes mellitus mengalami hiperlipidemia (obesitas) yang dapat berpengaruh pada gonadotropin.
7) Penggunaan obat-obatan seperti obat psikosis atau skizofrenia dan obat terapi kanker
f. Keluhan Subjektif
Keluhan yang biasa dikemukakan oleh penderita amenorea sekunder yaitu keluhan tidak datangnya menstruasi setelah pernah mengalami menstruasi sebelumnya. Hai ini dapat menyebabkan kecemasan bagi pasien karena menstruasi yang tidak teratur dapat dianggap sebagai ciri reproduksi yang tidak normal (Wiknjosastro, 2009).
g. Prognosis
Prognosis amenorea baik, karena hampir semua kasus
amenorea dapat diatasi dengan terapi. Pengecualian pada gagal
ovarium prematur dan tidak adanya organ reproduksi. Dengan penggunaan satu atau kombinasi hormon (misal Hmg, GnRH, kortikosteroid) dan obat-obatan (misalnya bromokriptin, klomifen sitrat), hampir semua pasien amenorea dengan ovarium dapat dipicu untuk terjadinya ovulasi (Benson, 2008)
h. Penatalaksanaan.
Penatalaksanaan amenorea tergantung penyebab spesifik dan apakah pasien memiliki kadar estrogen yang normal atau rendah. Pada wanita dengan kadar estrogen yang normal penatalaksanaan tergantung pada keluhan dan ada tidaknya keinginan untuk hamil (Astarto, 2011)
Tidak diperlukan terapi atau tindakan apapun untuk menangani kasus amenorea cukup konseling saja, apabila pasien
ingin mendapatkan menstruasi disarankan mengganti dengan alat kontrasepsi jenis lain (Affandi, 2012).
Namun apabila pasien masih tetap ingin menggunakan depo provera dan tetap menginginkan haid terapi yang bisa diberikan untuk amenorea adalah preparat estrogen contohnya Premarin, Proginova, Linoral, Stilbestrol, dengan dosis 2-3 x 1 tab sehari diberikan selama 3-7 hari atau preparat progestin seperti Primolut N 2-3 x 1 tab sehari diberikan selama 3-7 hari atau Pil kombinasi 2-3 x 1 tab sehari diberikan selama 3-7 hari (Baziad, 2008 ; Sulistyawati, 2011).
B. Teori Manajemen Kebidanan 1. Proses Manajemen Kebidanan
Proses manajemen kebidanan yang digunakan oleh bidan mengacu pada 7 langkah Vraney, yang terdiri dari:
a. Langkah I. Pengumpulan Data Dasar Secara Lengkap 1) Data Subyektif
Data Subyektif yang mendukung data dasar dalam kasus KB suntik depo provera dengan amenorea antara lain:
a) Identitas
Identitas yang perlu dikaji yaitu : nama, umur, agama, kebangsaan dan ras, pendidikan terakhir, pekerjaan, alamat akseptor (Varney, 2007)
Data fokus yang perlu dikaji adalah umur untuk mengetahui pasien masuk dalam kategori usia reproduksi atau menopause (Wiknjosastro, 2007)
b) Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering dikemukakan oleh pasien akseptor KB suntik dengan depo provera adalah terjadinya gangguan haid (Affandi, 2012). Pasien mengeluh tidak haid kurang lebih 3 bulan berturut-turut
c) Riwayat Menstruasi
Pengkajian riwayat menstruasi meliputi umur menarche, siklus menstruasi, banyaknya darah yang keluar, jenis dan warna darah menstruasi, nyeri haid (disminorhea) dan keluhan lain sewaktu menstruasi (Varney, 2007)
d) Riwayat KB
Pengkajian riwayat KB meliputi jenis kontrasepsi apa yang digunkan apakah ibu pernah merasakan efek sampingnya, alasan pemberhentian kontrasepsi apabila ibu tidak memakai lagi dan lamanya menggunakan alat kontrasepsi (Varney, 2007).
Lama pemakaian memiliki peran penting atas terjadinya
amenorea, efek pemakaian depo provera terhadap amenorea
bertambah besar seiring dengan lamanya waktu pemakaian (Laila, 2010)
e) Data Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang meliputi keluhan utama ibu yang dirasakan oleh ibu saat ini yaitu tidak mendapat haid (Varney, 2007)
Riwayat kesehatan yang lalu, meliputi pernahkah ibu menderita hipertensi, perdarahan pervaginam yang tidak jelas sebabnya, kanker payudara, adakah tanda-tanda diabetes, riwayat kehamilan ektopik terganggu, apakah terdapat riwayat stroke, akan mempengaruhi pemilihan kontrasepsi depo provera untuk ibu (Varney, 2007)
f) Pola kehidupan sehari-hari
Data yang perlu di kaji dalam kasus amenorea adalah data kebiasaan sehari-hari. Karena faktor penurunan berat badan, olahraga da obat-obatan sangat berpengaruh dalam terjadinya amenorea (Norwitz, 2008)
g) Bio-psiko-sosio-spiritual
Data yang perlu dikaji adalah keadaan psikososial (kejiwaan) pasien. Karena faktor stress sangat berperan penting dalam kasus amenorea (Norwitz, 2008)
2) Data Objektif
a) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dikaji dalam kasus ini adalah status generalis meliputi keadaan umum, tanda-tanda vital,
tinggi badan, berat badan serta pemeriksaan head to toe (Varney, 2007)
Penimbangan berat badan perlu dilakukan karena penurunan berat badan berlebih berperan penting dalam terjadinya
amenorea (Anwar dkk, 2011)
b) Data penunjang
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan dalam kasus
amenorea sekunder adalah :
(1) Tes Kehamilan
Kemungkinan kehamilan perlu disingkirkan dengan melakukan pengukuran hCG urine (Gant dkk, 2011) (2) USG
Untuk mengetahui dan mendeteksi apakah terdapat kelainan ginekologi yang berkaitan dengan amenorea sekunder (Baziad, 2008)
b. Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan (Zulvadi, 2010).
1) Diagnosis Kebidanan
Diagnosis kebidanan pada kasus suntik depo provera dengan
dengan amenorea. Dengan data subjektif pasien mengeluh tidak mendapatkan haid sama sekali dan data objektif yang ditemukan dalam pemeriksaan yaitu tidak mengalami menstruasi selama 5 bulan
2) Masalah
Masalah yang muncul pada pasien dengan amenorea berkaitan dengan kekhawatiran pasien terhadap keadaan yang dialami.Hal ini muncul karena kurangnya pengetahuan pasien tentang amenorea maupun siklus menstruasi (Varney, 2007) 3) Kebutuhan
Dukungan moril serta informasi tentang kasus dan penatalaksanaan amenorea (Manuaba,2008)
c. Langkah III : Identifikasikan Diagnosis atau Masalah Potensial atau Diagnosis Potensial dan Antisipasi Penanganan
Pada langkah ini dilakukan identifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan (Zulvadi, 2010)
Pada kasus akseptor suntik depo provera dengan amenorea tidak ditemukan diagnosa potensial karena sering dijumpai dan tidak berbahaya (Affandi, 2012)
d. Langkah IV : Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera
Pada kasus suntik depo provera dengan amenorea tindakan segera yang harus dilakukan adalah kolaborasi dengan dokter SpOG untuk penatalaksanaan komplikasi yang mungkin terjadi dan pemberian terapi berupa preparat estrogen contohnya Premarin, Proginova, Linoral, Stilbestrol, dengan dosis 2-3 x 1 tab sehari diberikan selama 3-7 hari atau preparat progestin seperti Primolut N 2-3 x 1 tab sehari diberikan selama 3-7 hari atau Pil kombinasi 2-3 x 1 tab sehari diberikan selama 3-7 hari (Baziad, 2008 ; Sulistyawati,2011)
e. Langkah V : Perencanaan Asuhan Yang Menyeluruh
Perencanaan asuhan kebidanan pada akseptor suntik depo
provera dengan amenorea yaitu :
1) Observasi KU dan VS untuk mengetahui keadaan pasien
2) Beritahu ibu tentang keadaan yang dialami, bahwa ibu tidak mendapat menstruasi merupakan hal yang wajar dan tidak berbahaya
3) Berikan KIE pada ibu tentang efek samping suntik depo
provera, dan beri dukungan psikologis untuk menenangkan ibu
4) Berikan KIE mengenai alat kontrasepsi lain untuk memberi pilihan ibu, apabila ibu menginginkan ganti alat kontrasepsi 5) Berikan terapi
6) Beritahu ibu untuk kontrol 1 minggu kemudian untuk mengetahui perkembangan pasien (Varney, 2007 ; Baziad, 2008 ; Sulistyawati, 2011)
f. Langkah VI :Pelaksanaan Langsung Asuhan Dengan Efisien Dan Aman
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan langkah ke lima dilakukan secara efisien dan aman (Zulvadi, 2014)
g. Langkah VII : Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari manajemen kebidanan pada akseptor suntik depo provera dengan amenorea adalah dapat kembali menstruasi dan klien tetap menggunakan suntik (Sulistyawati, 2011)
2. Data Perkembangan (SOAP)
Menurut Kepmenkes RI Nomor: 938/Menkes/SK/VIII/2007 tujuh langkah Varney disarikan menjadi 4 langkah yaitu SOAP (Subjective, Objective, Assesment, dan Planning). SOAP disarikan dari proses pemikiran penatalaksanaan kebidanan sebagai perkembangan catatan kemajuan keadaan klien
a. S (Subjektif)
Data subjektif ialah catatan kualitatif dan kuantitatif dari segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah. Data ini
mencakup perasaan, reaksi atau pengamatan terhadap masalah. Data yang terpercaya diperoleh dari pasien sendiri. Data ini menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesis sebagai langkah I Varney.
Pada kasus akseptor suntik depo provera dengan amenorea data subjektif yang didapat adalah pasien tidak mengalami haid (Irianto, 2014)
b. O (Objektif)
Data objektif menggambarkan hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium, dan hasil tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.
Data objektif yang dikaji pada kasus akseptor suntik depo
provera dengan amenorea adalah keadaan umum, kesadaran,
tanda-tanda vital, dan data penunjang lain c. A (Assesment)
Assesment menggambarkan pendokumentasian hasil analisis
dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi dan masalah kebidanan serta kebutuhan sebagai langkah 2,3, dan 4 Varney.
Diagnosis yang dapat ditegakkan adalah Ny. H P1A0 akseptor KB suntik Depo Provera dengan amenorea
d. P (Plan)
Plan mencakup penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan segera komprehensif yang meliputi penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi atau
follow up dari rujukan sebagai langkah 5, 6 dan 7.
Setelah dilakukan pengkajian data kebidanan serta diagnosis yang diperoleh, perencanaan yang dilakukan pada akseptor suntik depo provera dengan amenore adalah mengobservasi keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, memberitahu ibu hasil pemeriksaan, memberikan terapi untuk mengatasi masalah tersebut, dan menganjurkan ibu untuk kembali kontrol. Hasil yang diharapkan adalah akseptor suntik depo provera setelah diberikan asuhan secara aman dan efisien, amenorea akan teratasi dan ibu tetap menggunakan depo provera.