PERBEDAAN PENGARUH LATIHANSPRINT TRAINING DAN HOLLOW
SPRINT TERHADAP KECEPATAN TENDANGAN SABIT PADA PESILAT
REMAJA DI PERGURUAN TAPAK SUCI KOTA GORONTALO
(Wulanda Paulutu, Risna Podungge, Syarif Hidayat)
[email protected]
Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Dan Keolahragaan
Universitas Negeri Gorontalo
Abstrak : Penelitian ini untuk mengetahui dan memperoleh
seberapa besar gambaran tentang perbedaan latihan sprint training
dan hollow sprint terhadap kecepatan tendangan sabit pada pesilat
remaja di perguruan Tapak Suci Kota Gorontalo. Penelitian ini
berjumlah 20 orang yang dilakukan dengan cara Random yang
penentuan jumlah sampelnya di hitung dengan menggunakan
Rumus Slovin. Berdasarkan kriteria pengujian bahwa. Terima Ho
jika: t
hitung< t
tabelpada α = 0,05 dk= n-1. Dan tolak H
0jika t
hitung ≥ttabel pada α = 0,05, dan dk = n-1. Setelah dilakukan perhitungan
diperoleh harga thitung sebesar 4.85 dan t
daftar1.83. sedangkan pada
criteria pengujian tolak H0 jika thitung ≥ ttabel pada α = 0,05, dan dk =
n-1. Jadi, 4.85 ≥ 1.83. Berdasarkan hal tersebut, maka harga t
hitungtelah berada diluar daerah penerimaan Ho Sehingga Ho yang
menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh latihan sprint Training
terhadap kecepatan tendangan sabit pada pesilat remaja
diperguruan tapak suci Kota Gorontalo ditolak dan menerima Ha
yang menyatakan: Terdapat pengaruh latihan Sprint Training
terhadap Kecepatan Tendangan Sabit pada pesilat remaja di
perguruan tapak suci kota Gorontalo. Untuk menguji hipotesis yang
menyatakan bahwa terdapat pengaruh latihan Hollow Sprint
terhadap Kecepatan Tendangan Sabit pada Pesilat Remaja di
Perguruan Tapak Suci Kota Gorontalo, maka hal ini dianalisis
dengan pengujian analisis varians dua rata-rata dengan
menggunakan rumus (uji t). Berdasarkan kriteria pengujian bahwa.
Terima Ho jika: t
hitung< t
tabelpada α = 0,05 dk= n-1. Dan tolak H
0jika thitung
≥ ttabel pada α = 0,05, dan dk = n-1. Setelah dilakukan
perhitungan diperoleh harga thitung sebesar 7.51 dan t
daftar1.83.
sedangkan pada criteria pengujian tolak H
0jika t
hitung ≥ ttabelpada α
= 0,05, dan dk = n-1. Jadi, 7.51 ≥ 1.83. Berdasarkan hal tersebut,
maka harga thitung telah berada diluar daerah penerimaan Ho
Sehingga Ho yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh
latihan Hollow Sprint terhadap kecepatan tendangan sabit pada
pesilat remaja.
PENDAHULUAN
Pertandingan pencak silat kategori tanding dilakukan dengan 3 babak, dengan
waktu istirahat antar babak 1 menit. Serangan dalam pertandingan pencak silat yang
dinilai adalah serangan yang menggunakan pola langkah, tidak terhalang, mantap,
bertenaga, dan tersusun dalam koordinasi teknik serangan yang baik (Munas IPSI,
2007: 17). Untuk itu agar serangan yang dilakukan tidak terhalang, mantap dan
bertenaga diperlukan kecepatan pada saat melakukan gerak teknik. Teknik serangan
dalam pertandingan pencak silat kategori tanding berupa pukulan, tendangan, dan
jatuhan. Teknik tendangan ada 3 macam yaitu: tendangan sabit, tendangan lurus, dan
tendangan T. Dari ketiga teknik tendangan tersebut, tendangan sabit merupakan
teknik yang dominan dipakai selama pertandingan.
Kriteria penilaian tendangan sabit dalam pencak silat kategori tanding
diantaranya: tendangan harus mantap dan bertenaga (Munas IPSI, 2012: 17). Untuk
memperoleh point, maka tendangan sabit tidak hanya cepat tetapi harus mendadak.
Untuk menghasilkan gerak tendangan sabit yang eksplosif diperlukan metode latihan
yang tepat. Penerapan metode yang tepat dalam mengikat komponen fisik kecepatan
sangat membantu atlet dalam pengembangan latihan itu sendiri khususnya
pengembangan latihan untuk meningkatkan kecepatan. Banyak metode latihan yang
bisa dipilih oleh seorang pelatih dalam miningkatkan kecepatan, beberapa
diantaranya adalah sprint training dan Hollow Sprint. Metode latihan ini adalah
metode latihan yang banyak menggunakan bentuk-bentuk lari cepat.
Bentuk latihan sprint training adalah berlari dengan kecepatan maksimal
menempuh jarak pendek secara berulang. Penerapan metode latihan ini pada
umumnya digunakan pelatih pada periode dimana komponen fisik kecepatan seorang
atlit akan meningkat. Sedangkan latihan Hollow Sprint adalah bentuk latihan lari
cepat yang terdiri dari sprint - joging - jalant - sprint dan sterusnya. Melalui latihan
sprint training dan Hollow Sprint yang dilakukan secara teratur dan terarah akan
dapat meningkatkan komponen kecepatan seorang atlit terutama pada cabang
olahraga pencak silat saat melakukan tendangan. Menurut hasil observasi peneliti di
Kota Gorontalo pada perguruan Tapak Suci, hal ini dapat diantisipasi dengan
memberikan latihan sprint training dan Hollow Sprint untuk meningkatkan
kecepatan dalam melakukan tendangan guna meningkatkan prestasi atlit.
Pencak Silat
Khafadi dkk (2010:39) mengemukakan bahwa pencak silat mengandung beberapa unsur antara lain seni tari, olahraga, seni, bela diri, serta watak yang berkepribadian luhur. Hal ini dapat dilihat pada suatu pertandingan pencak silat dimana setiap gerakan dilakukan dengan indah tetapi penuh dengan kekuatan. Selain itu, setiap pesilat yang baik harus menguasai serangan, pukulan, dan tendangan. Pramono dkk (2010:143) mengnngkapkan bahwa jenis pukulan dalam pencak silat antara lain pukulan depan, tebah, colok, pedang, bandul, dll. Serangan dengan siku tangan, misalnya serangan siku depan, serangan siku belakang, serangan siku serong, dan serangan siku bawah. Tendangan meliputi tendangan lurus, tendangan kepret (Sabit), tendangan jejak, dan tendangan gajul.
Selanjutnya, menurut Mursidi (2012:5) pencak silat merupakan hasil budaya manusia Indonesia yang mempunyai tujuan untuk membela dan mempertahankan diri dari segala marabahaya untuk mencapai keselarasan dan keselamatan hidup dan meningkatkan rasa taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan kamus Bahasa Indonesia menerangkan bahwa Pencaksilat terdiri dari dua kata yaitu "Pencak" berarti kesenian tradisional yang mempelajari bela diri sekaligus sebagai tari, dan kata "silat" yang berarti kepandaian dalam ilmu bela diri (fahrizal,2010:71). Jadi, dapat disimpulkan bahwa pencak silat adalah seni bela diri asli Indonesia yang bertujuan untuk mempertahankan dan melindungi diri dengan berlandaskan keindahan dan mencerminkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Sama halnya dengan olahraga bela diri lainnya, beberapa teknik dasar dalam setiap gerakan juga harus dikuasai dengan baik. Johansyah menyatakan: Teknik yang perlu dikembangkan dalam pencak silat meliputi: (1) langkah dan pola langkah, (2) sikap pasang
dan pengembangan, (3) teknik belaan, (4) teknik serangan, (5) teknik jatuhan dan, (6) teknik kuncian.
Kecepatan Tendangan Sabit
Tendangan memiliki posisi istimewa dalam pencak silat hal ini didukung dengan ungkapan fahrizal (2010:71) bahwa karakteristik pembinaan pada perguruan tapak suci lebih mengedepankan untuk melakukan serangan dengan kaki (tendangan) atau dengan kata lain serangan berfokus kepada kaki. Namim pelaksanaan tendangan selain kekuatan yang penuh harus ditunjang dengan kecepatan yang maksimal untuk meminimalisir tangkapan. Definisi kecepatan itu sendiri diungkapkan oleh refiater (2012:667) Speed (Kecepatan ) Adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan yang sama dengan baik, dalam waktu yang tersingkat, sedangkan menurut Fahrizal (2010:72) Kecepatan merupakan kemampuan organisme atlet untuk melakukan perubahan gerak dan mempertahankan keseimbangan dalam waktu yang relative singkat.
Sedangkan, menurut wilujeng (2013:585) Tendangan sabit merupakan tendangan yang lintasannya setengah lingkaran ke dalam, dengan sasaran seluruh bagian tubuh, dengan punggung telapak kaki atau jari telapak kaki. Sanoesi dkk (2010:84) mengemukakan bahwa tendangan sabit adalah tendangan yang dilakukan dengan lintasan dari samping melengkung seperti sabit/arit, perkenaannya pada punggung kaki. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tendangan sabit adalah jenis tendangan dengan lintasan setengah lingkaran yang diarahkan pada sasaran dengan perkenaannya adalah punggung kaki. Jadi, kecepatan tendangan sabit adalah kemampuan seseorang melakukan tendangan dengan perkenaan punggung kaki dalam waktu yang singkat
Tendangan sabit memiliki kelebihan diantaranya memiliki kecepatan yang maksimal, mudah dilakukan baik pada saat bertahan maupun menyerang. Akan tetapi teknik tendangan sabit juga mudah ditangkap dan dijatuhkan karena lintasannya yang dari samping. Oleh karena itu dengan memaksimalkan kecepatan tendangan sabit diharapkan dapat meminimalisir teijadinya tangkapan maupun bantingan pada saat bertanding. Teknik tendangan sabit lebih efektif dan efisien dikarenakan teknik ini menghasilkan kecepatan maksimal, sehingga pada pertandingan teknik ini sering dijadikan andalan untuk menghasilkan nilai.
Tendangan sabit menurut fungsinya dibedakan menjadi tendangan sabit untuk menyerang dan tendangan sabit untuk bertahan. Tendangan sabit menyerang adalah tendangan sabit yang digunakan untuk memberikan serangan terlebih dahulu kebidang sasaran lawan. Sedangkan tendangan sabit bertahan adalah tendangan yang digunakan untuk membalas atau memberikan serangan setelah lawan memberikan serangan.
Latihan
Menurut Bompa (1994: 4) “latihan adalah upaya seseorang mempersiapkan dirinya untuk tujuan tertentu”. Menurut Nossek (1995: 3) “latihan adalah suatu proses atau dinyatakan dengan kata lain, periode waktu yang berlangsung selama beberapa tahun,sampai atlet tersebut mencapai standar penampilan yang tinggi”. Menurut Sukadiyanto (2005: 1), menerangkan bahwa pada prinsipnya latihan merupakan suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan: kualitas fisik kemampuan fungsional peralatan tubuh dan kualitas psikis anak latih.
Menurut Harsono, (1988: 102) mengatakan bahwa Latihan juga bisa dikatakan sebagai sesuatu proses berlatih yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang yang kian hari jumlah beban latihannya kian bertambah.
SISTEM ENERGI
Menurut Sukadiyanto (2005: 33) ada dua macam sistem metabolisme energi yang diperlukan dalam setiap aktivitas gerak manusia yaitu: (1) sistem energi anaerob dan (2) sistem energi aerob. Kedua sistem tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan secara mutlak selama aktivitas kerja otot berlangsung. Karena sistem energi merupakan
serangkaian proses pemenuhan kebutuhan tenaga secara terus menerus
berkesinambungan dan saling silih berganti. Adapun letak perbedaan diantara kedua sistem energi tersebut:
Sebagai rangkuman untuk memperjelas pembagian tentang sistem energi, dapat dilihat sebagai berikut:
Alaktik ATP-PC Anaerobik
Laktik LA + O2 Sistem Energi
Aerobik O2
Gambar . Sistem Energi
Sprint Training
Sprint Training
adalah latihan lari cepat atau sprint. Adapun bentuk latihan dariSprint Training
adalah berlari dengan kecepatan maksimal menempuh jarak yang pendekdan dilakukan secara berulang-ulang. Latihan ini sering digunakan untuk melatih dan meningkatkan kecepatan. Sama halnya dengan olahraga lainnya, dalam pencak silat beberapa unsur komponen fisik juga sangat diperlukan untuk menunjang permainan. Unsur komponen fisik yang dibutuhkan diantaranya kekuatan, daya tahan,
power,
kecepatan, kelincahan dll. Semua unsur tersebut harus bisa dilatih dan dimiliki oleh setiap atlit. Pada kompetisi tanding contohnya, walaupun gerakannya dipenuhi dengan kekuatan namun dilakukan dengan lambat akan mudah ditangkis atau lawan akan bisa membaca gerakan kita. Untuk itu selain memiliki kekuatan, kecepatan pun harus baik sehingga bisa menyulitkan lawan menghadapi serangan yang dilakukan.Pengertian kecepatan diungkapkan oleh Khafadi (2010:138) bahwa kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Selanjutnya menurut Fahrizal (2010:72) Kecepatan merupakan kemampuan organisme atlet untuk melakukan perubahan gerak dan mempertahankan keseimbangan dalam waktu yang relative singkat. Said (2012:2) pun mengatakan bahwa kecepatan bukan hanya berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan cepat akan tetapi dapat pula dengan menggerakkan anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat- singkatnya. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan definisi kecepatan adalah kemampuan seseorang melakukan gerakan dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Hollow Sprint
Dalam olahraga bela diri khususnya pencak silat seorang atlit dituntu memiliki kekuatan, kecepatan, daya tahan, kelincahan dll. Terutama pada saat melakukan serangan berupa tendangan maupun pukulan. Selain dibutuhkan kekuatan harus didukung dengan kecepatan. Untuk itu penulis memilih latihan
Hollow Sprint
sebagai upaya meningkatkan kecepatan dalam melakukan tendangan sabit pada olahraga pencak silat. Gagasan ini didukung oleh Wirayuni (2012:4) yang mengatakan bahwa latihanHollow Sprint
merupakan bentuk pelatihan untuk melatih kemampuan kecepatan dan kekuatan. Said (2012:4-5) mengatakan bahwa latihanHollow Sprint
yaitu suatu model latihan perpaduan antara latihan interval sprint dan latihan biasa yang pelaksanaannya dilakukan selang seling. Sedangkan menurut KancaHollow Sprint
adalah suatu bentuk latihan lari cepat (sprint
) yang dilakukan dengan: lari secepat-cepatnya{sprint),
lari pelan(jogging
), lari secepat-cepatnya(sprint),
jalan dan diulangi sesuai dengan kebutuhan (setiawan,2012:3). Berdasarkan pendapat para ahli pengertianHollow Sprint
adalah suatu bentuk latihan gabungan yakni berlari cepat, jogging, dan lari lagi pada jarak yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.Pada latihan
Hollow Sprint
yang di tekankan adalah melatih banyaknya frekuensi langkah. Latihan selain menghasilkan perubahan-perubahan positif pada kemampuan motorik juga memperbaiki secara serempak daya tahan dari tubuh, kekuatan otot, kecepatan dan kelentukan (Wirayuni,2012:4). Pelaksanaan latihanHollow Sprint
ini yaitu sprint sejauh 30-50 meter, jogging 30-50 meter, sprint lagi 30-50 meter, kemudian berjalan sebagai fase recovery. Pada fase recovery dimungkinkan untuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke repetisi berikutnya.HASIL
Untuk menguji hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh latihan Sprint
Training terhadap Kecepatan Tendangan Pada Pesilat Remaja di Perguruan Tapak Suci Kota
Gorontalo, maka hal ini dianalisis dengan pengujian analisis varians dua rata-rata dengan menggunakan rumus (uji t).
Berdasarkan kriteria pengujian bahwa. Terima Ho jika: thitung < ttabel pada α = 0,05 dk= n-1. Dan tolak H0 jika thitung ≥ ttabel pada α = 0,05, dan dk = n-1. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh harga thitung sebesar 4.85 dan tdaftar 1.83. sedangkan pada criteria pengujian tolak H0 jika thitung ≥ ttabel pada α = 0,05, dan dk = n-1. Jadi, 4.85 ≥ 1.83. Berdasarkan hal tersebut, maka harga thitung telah berada diluar daerah penerimaan Ho Sehingga Ho yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh latihan sprint Training terhadap kecepatan tendangan sabit pada pesilat remaja diperguruan tapak suci Kota Gorontalo ditolak dan menerima Ha yang menyatakan: Terdapat pengaruh latihan Sprint Training terhadap Kecepatan Tendangan Sabit pada pesilat remaja di perguruan tapak suci kota Gorontalo. Untuk jelasnya dapat dilihat pada kurva berikut ini.
-1.83 1.83 4.85
Untuk menguji hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh latihan Hollow
Sprint terhadap Kecepatan Tendangan Sabit pada Pesilat Remaja di Perguruan Tapak Suci
Kota Gorontalo, maka hal ini dianalisis dengan pengujian analisis varians dua rata-rata dengan menggunakan rumus (uji t).
Berdasarkan kriteria pengujian bahwa. Terima Ho jika: thitung < ttabel pada α = 0,05 dk= n-1. Dan tolak H0 jika thitung ≥ ttabel pada α = 0,05, dan dk = n-1. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh harga thitung sebesar 7.51 dan tdaftar 1.83. sedangkan pada criteria pengujian tolak H0 jika thitung ≥ ttabel pada α = 0,05, dan dk = n-1. Jadi, 7.51 ≥ 1.83. Berdasarkan hal tersebut, maka harga thitung telah berada diluar daerah penerimaan Ho Sehingga Ho yang menyatakan
Ha Ha
bahwa tidak terdapat pengaruh latihan Hollow Sprint terhadap kecepatan tendangan sabit pada pesilat remaja diperguruan tapak suci Kota Gorontalo ditolak dan menerima Ha yang menyatakan: Terdapat pengaruh latihan Hollow Sprint terhadap Kecepatan Tendangan Sabit pada pesilat remaja di perguruan tapak suci kota Gorontalo. Untuk jelasnya dapat dilihat pada kurva berikut ini.
-1.83 1.83 7.51
PEMBAHASAN
Untuk melihat perbedaan pengaruh latihan Sprint Training dan Hollow Sprint
terhadap kecepatan tendangan sabit pada pesilat remaja di perguruan tapak suci kota
Gorontalo dapat dilihat melalui hasil tes akhir yang di capai oleh pesilat tersebut.
Data yang diperoleh pada tes awal kecepatan tendangan sabit melalui latihan sprint
training yaitu skor tertinggi 3.85 detik dan skor terendah adalah 4.53 detik sedangkan
pada tes akhir diperoleh skor tertinggi adalah 3.10 detik, skor terendah 3.96 dan
jumlah keseluruhan Gain (d) atau deviasi yaitu 6.79 dengan hasil uji analisis (uji t)
pada latihan sprint training ini diperoleh nilai sebesar 4.85.
Dibandingkan dengan hasil yang diperoleh melalui latihan hollow sprint yaitu
skor tertinggi 3.93 detik, skor terendah 5.15 pada pengukuran tes awal, sedangkan
Ha Ha
pada hasil tes akhir diperoleh nilai tertinggi yaitu 3.21 detik, skor terendah 4.32 detik
dan jumlah keseluruhan Gain (d) atau deviasi adalah 7.51 dan hasil uji analisis (uji t)
diperoleh nilai sebesar 7.51. Data dari masing-masing variable telah teruji dan
dinyatakan normal dan memiliki pengaruh terhadap kecepatan tendangan sabit.
Namun jika dibandingkan kedua bentuk latihan diatas yang lebih memberikan
pengaruh terbesar menurut penulis adalah latihan sprint training karena dilihat
berdasarkan jumlah keseluruh gain atau selisih tes awal dan tes akhir yang diperoleh
pesilat dalam melakukan tendangan sabit. Jumlah gain pada latihan sprint training
adalah 6.79 sedangkan pada latihan hollow sprint adalah 7.51. Jadi, data yang lebih
dominan memberikan peningkatan tertinggi adalah data yang diperoleh dari latihan
sprint training.
KESIMPULAN
Setelah dijelaskan pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
Dilihat dari hasil perhitungan baik dari hasil tes awal dan tes akhir pada latihan
yang menggunakan metode latihan Sprint Training nilai atau data yang diperoleh
lebih meningkat dibanding hasil perhitungan dengan menggunakan latihan
Hollow Sprint
Dari kedua bentuk latihan dapat meningkatkan kecepatan tendangan sabit dan
memiliki pengaruh sehingga pada kemampuan kecepatan tendangan sabit.
Sehingga kedua bentuk latihan ini dapat diterapkan dalam latihan pencak silat.
DAFTAR PUSTAKA