STUDI TENTANG ORGANISME
PENYEBAB BERCAK
MERAH
PADA
BAK PEMELIHARAAN
LARVA
UDANG
WINDU
(Penaeus nxonodon)
Des Roza"), Zafrant'), danIsti
Koesharvani.)
ABSTRAK
Vibrio harueyi salah satu jenis bakteri yang sering menyebabkan kematian masal larva pada panti benih udang windu. Selain menyebabkan larva udang yang terinfeksi kelihatan menyala dalam keadaan gelap (kunang-kunang) V. harueyijuga dapat menyebabkan bercak merah pada bak pemeliharaan. Dua isolat bakteri telah diisolasi dari bercak merah yang terjacli pada bak pemeliharaan larva udang windu. Karakteristik dari kedua isolat
ini
aclalah bersifat gram-negatif, oksidase dan katalase positif, fermentatif, sensitif terhadap agen vibriostatik (07129), novobiocin, aminobenzil penisilin, eritromisin, dan klorarnfenikol. Kedua isolat tumbuh baih pada media TCBSA dengan membentuk koloni berwarna kuning, dan diidentifikasi sebag ai Vibrioharueyi. Dari uji tingkat keganasan terbukti bahwa kedua isolat ini bersifat mematikan terhadao larva udang windu (Penaeus monodon).
ABSTRACT:
Study on Organisln Causingof
Red Spotin
Larvae Rearing Tankof
Penaeu,s ntortodott. /ly : Dcs Roza, Zafran, ancl
Isti
Kgcsha"yotri. Mass mortality cases of Penaeu,s nutnod.on larvae in hatcheries is mainly causecl by Vibrio harueyi infection. In dark condition, show luminescent ancl the bacteria also lbr'r.r red spots ir.rrearing tank. Two isolates of bacteria were isolatecl from the red spot at the bottom of p. ntinoclol larvae rearing tank. The isolates are gram-negative rocl-shaped, gave positive oxiclase and catalase reaction, utilized glucose fermentatively in Hugh-Leifson's semi solid mecliurn. The isolates were sensitive to vibriostatic agent (0/129), novobiocin, aminobenzyl penicillin, erithromycin ancl chloramphenicol. Growth occurred on TCBSA with yellow colony. These isolates were classifiecl as Vibrio harueyi ancl by infectivity trials the isolates were prorrecl to cause mortalities of p. ntonodon larvae.
KEYWORDS: Penaeu.s ntonodon, red, spot, Vibrio harueyi.
PENDAHULUAN
Penyakit bahteri, terutama yang disebabkan oleh kelompok Vibrio merupakan kendala yang sering dihadapi pada panti benih udang windu. Salah satu yang sudah dikenal secara umum
ada-lah penyakit kunang-kunang atau "luminescent uibriosis" (Baticados et
al.,lggo;
Lavilla-Pitogo etal.,
1992;Lightner
etal.,
19g2; Rukyani et al., 1992;Zafran, i992 dan Zafran et al., lgg4).Belakangan
ini
di panti benih udang banyakditemui kematian larva dengan gejala yang
ber-beda
dari
kasus penyakit
kunang-kunang. Penyakit tersebut ditandai dengan terbentuknyabercak
merah pada dasar
bak
pemeliharaanlarva. Bila
bcr<:al< nrcrirh srrdal.r tin.rbr.rl nral<n biasanyadiikuti
oleh
l<ematian mussal larva dalam waktu singkat, umumnya kurang dari 4gjam.
Karenabeluil
adauyainformasi
r,enr,ang penyebab maupun penanggulangannya, biasanya pengelola hatcheri Iangsung membuang semualarva pada bak saat bercak merah cliketahui. Berdasarkan permasalahan
di
atas maka diLolitkanta
Gondoltelah dilakukan
penelitianuntuk mengetahui organisme penyebab penyakit
bercak merah
serta tingkat
patogenisitasnya terhadap larva udang windu. Selainitu,
dilaku-kan juga uji sensitivitas beberapa jenis antibiotikterhadap
organisme penyebabbercak
merah tersebut.Roza, D.; Zafran and Koesharyani, I.
BAHAN DAN METODE
Dari bercak merah yang terdapat pada dasar
bak pemeliharaan
larva
udang windu telah di-ambil sampel untuk diamati di bawah mikroskop sebagai diagnosis awal. Dari bercak merah jugadilakukan
kultur
bakteri
menggunakan mediaMA
(Marine
Agar) dan
TCBSA
(Thiosulfate Citrate Bile Salt Sucrose Agar) dan isolasi jamurmenggunakan
media
PYGSA (Pepton 7,25 g; Yeast extract I,25 g; Glucose 3,0 g; dan Agar 1b gdalam
1
I air
laut).
Media
MA dan
PYGSAdisterilkan dengan autoclave pada
suhu
lZl"C
selama 15 menit, sedangkan TCBSA dipanaskan
dalam glas beker yang
berisi
air
sampailarut
sempurna.
Kultur
selanjutnya
diinkubasikan pada suhu 25oC selama 48jam.
Setelah masa inkubasi 48 jam bakteri akan tumbuh baik padamedia
MA
maupun
TCBSA, sedangkan pada media PYGSA akan kelihatan hifa jamur. Isolatmurni bakteri
diperolehmelalui
pemindahan koloniyang tumbuh baik pada MA dan TCRSA ke media MA baru. 'lcrhadap isolatmurni
bal<Lcri yang diperolehdilakukan
uji
guna mengetahuiisolat
yang
menyebabkanbercak merah. Uji
dilakukan dengan
menginfeksikan
suspensi masing-masing isolat ke dalam botol kaca yangberisi dua
liter air laut
steril
dan sedikit pakanbuatan
(Frippak) sebanyak 0,0b gram sebagaimedia tumbuh bakteri. Efek
bercak
merahdiamati setelah 24 dan 48 jam perlakuan, yakni
dengan mengamati ada
atau tidaknya
bercak merah pada dasar botol. Selama penelitian suhu diusahakan stabil +30'C dengan menggunakanpemanas
atau
"heater".Isolat yang
diketahui sebagai penyebab bercak merah selanjutnya diujitingkat
patogenisitasnya terhadap larva uclang windu. Ke dalam botol kaca yang berisi dualiter
air laut steril dimasukkan hewan uji yakni rrdang
windu
stadia pascalarva-2 dengan densitas b0 ekor/I. Kepadatan bakteri yang diujikan berkisardari 1,25 x 10 hingga 1,25 x 107 cfu,/ml, penelitian
ini
menggunakanrancangan
acak
lengkapdengan
tiga
ulangan.
Pengamatan clilakukan terhadap mortalitas larva setelah 24, 48 clan 72jam
perlakuan,kemudian
terhadaplarva
uji
dilakukan isolasi
bakteri. Isolat yang
suclahterbukti
sebagai penyebab bercak merah pacla dasar bak pemeliharaan larva selanjutnyacliiden-tifikasi
berpedoman pada Baumann et at.(lgg4)
dan Holt eto1.099$.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari
isolasi
menggunakanmedia
tumbuhuntuk
bakteri (MA dan
TCBSA)
dan
jamur(PYGSA) ternyata hanya
bakteri
yang tumbuhsetelah
48 jam
inkubasi pada
suhu
25"C. Selanjutnya terhadap koloni bakteri yang tumbuhbaik
pada
MA
maupun TCBSA
dilakukanpemurnian
menggunakan
media
MA,
dan diperoleh empat isolat murni. Pada media TCBSAbakteri yang tumbuh
semuanya membentukholoni berwarna
kuning dan
tidak
bercahaya.Untuk
mengetahui penyebab timbulnya bercakmerah, maka
heempatisolat
tersebut
secara lerpisah diinfeksikan ke dalam botol kaca yang diisi air laut steril serta pakan buatan (Frippak). Setelah ,18 jam perlakuan ternyata hanya 2 isolatyang menimbulkan efek bercak merah.
Karak-teristik dari kedua isolat penyebab bercak merah
disajikan
pada Table 1. Keduaisolat
ternyatamemiliki karakteristik
yang sama danbila
di. bandingl<an dengan Vibrio sp. .yang dikcnrul<al<an olch llauma nn aL ol. ( lgU,l) clan Holt, cl o1. ( l9t)4)kedua
isolat
tersebutdiidentifikasi
sebagai I/. lrarueyi. Karakteristik khas yang membeclakanZ
harueyi
dari
Vibrio lainnya adalah
mampu tumbuh pada suhu 35"C dan mampumemanfaat-kan
D-manosa, selobiosatetapi
negatif
untuk arginin dehidrolase dan sorbitol.Saat
ini
belum ada
data
mengenai bercakmerah pada
lingkungan pemeliharaan
larvaudang
windu.
Bercakmerah pada
clasar bakdilaporkan
terjadi
padabak
bandens (Clranos chanos) dan penyebabnyadiidentifikasi
sebagai V. angu,illarrrnr (Huang,lg77).
V. angu.illaruntmemang
sudah banyak dilaporhan
sebaguipatogen
pada
ikan
laut
(Tajima
et
al.,
lggl)
maupun pada budidaya ikan air tawar (Muroga el al., 1976;1986).
Antara kedua isolat yang diisolasi dari TCBSA dan MA tersebut ternyata setelah dilakukan
uji
karakter
memperlihatkan kesamaan karakter dan diidentifikasi sebagai Vibrio harue1,i, makauntuk uji selanjutnya digunakan satu isolat saja. Patogenisitas
bakteri
terhadaplarva
udangwindu juga
diuji
yakni
dengan menginfeksikan isolat bakteri dengan berbagai tingkat kepadatan ke dalam air pemeliharaan larva (Table A.Table
1-
Chsracteristics of two isolqtes as agent of red spot disease in Penaeus ntonod,on hateheries incomparisons with Bauntann et al. (1984) and Holt et al. (1gg4).
Characteristics
Isolate
I
Isolate
2
V.harueyi
(Bauman
et al., V.harueyi
(Holt
et al., Growth on TCBSA Crant stain Oxydase Cotalase O-F testMotility
Indole production Methyl red Voges-Proshauer KCN, growth HlSGas from glucose
Arginin
dehydrolaseO r
nithin
decarb oxy lase Lysin decarboxylase Growth inNaCl:
0% 3% 6% 8% 10% Sensitiuity to: Vibriostatic agent NouobiocinA nrinob enzy I pe
nicillin
Erith,romycin Chloramphenicol Oxytetracycline Acid from : Cellobiose Glu,cose Mannose Sorbitol Sucrose Trehalose Rhqmnose Sorbose Inositol Arabinose Glu.tamin Melibiose Mqnnitol Arbu.tin Y -t TF
T T T + + Y + +F
T + f + + rs
s
Ss
s
R 1 T + T + +s
s
s
s
s
R + + + + +s
s
s
s
s
Rs
s
s
s
s
R ? T + T +G/Y
+ TF
+ + + TG/Y
-L +F
+ 1-+ + J. + + + + + +Roza, D.; Zafran and Koesharyani, I.
Charq,cteristics
Isolate
I
Isolate
2
V,harueyi
(Baum.an et al., I 9841 V.
harueyi
(Holt
et aL, |99/l
Growth at temperature ('C): 4 30 35 40 Nitrate reductionNa" requiredfor growth Organic growthfactor
requiremenl
Ace t o i n and/or diacety I production Amylase Gelcttinase Lipase Algina.se Chitinu.re Acetat Citrate Ethanol + + 't-+ + + +
Table
2.
Pathogenicity of bacteria isolate on Penaeus monodon laruae and deuelopntentof
recl spot itt. the bottorn tanh.+ + T + + T + T + + d + + T No, of
bacteria
(cfu/ml)
Averagesmortality
(%) 48
Hours
Red spot d,evelopment 24llours
72Hours
1.25 x 107 1.25x
106 1.25 xt0
1.25 x 104 1.25 x 101 1.25 xId
1.25 x 10 Control 79.9t
2.193 64.5 x 0.800 3.3t
0.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 100.0 100.0 88.0t
1.053 44.5 x 0.953 13.3t
0.458 4.6!
0.264 4.6t
1.044 4.6t
0.754 100.00 100.00 90.6t
0.608 44.7t
0.3,16 17.3t
0.818 16.6 x 0.100 16.0t
0.100 6.0t
0.173 T +Remarh: + = red spot obserued; - = no red spot obserued
Dalam waktu 24 jam hanya kepadatan bakteri 106
dan
10
cfu/ml yang
sudah menyebabkan kematian larva lebih besar dari 60%. Setelah 48jam
perlakuan
terlihat
adanya
peningkatan jumlah kematian larva pada perlakuan 1Os cfu/mlke atas. Diduga setelah 72 jam, populasi bakteri baik pada air pemeliharaan maupun dalam tubuh larva, sudah mencapai ambang
kritis
bagi larvaitu
sendiri sehinggalarva
sebagian mengalami kematian.Dibandingkan V. harueyi yang diisolasi dari
larva
udang
windu yang terinfeksi
penyakit kunang-kunang, maka isolat yang diisolasi dalampenelitian
ini
kurang patogen. V. harueyi sudah dapat menyebabkan kematian masal zoea udangwindu
dalam
waktu
24
jam
dengan tingkatkepadatan bakteri 8,35
x
10'' cfu/ml (Zafran dan Roza, 1993). Hal lain yang membedakan isolatini
dengan
bakteri
penyebabpenyakit
kunang-kunang adalah warna koloninya pada
mediaTCBSA
dan
kemampuannya
menghasilkan cahaya. V. harueyi penyebabpenyakit
kunang kunang tumbuh pada media TCBSA membentukkoloni
berwarna
hijau dan
bercahaya dalam kondisi gelap, sedang bakteri yang diisolasi dari bercak merah membentukkoloni
kuning
dantidak bercahaya pada media yang sama.
Dalam upaya pencegahan dan penanggulang-an penyakit bercak merah, maka telah dilakukan uji sensitivitas beberapa jenis antibiotik terhadap isolat bakteri penyebab bercak merah. Dalam
uji
ini
diketahui
bahwa
isolat
tersebut
sensibifterhadap agen
vibriostatik
(0/129), novobiocin, aminobenzil penisilin, eritromisin, dan kloram-fenicol.KESIMPULAN
DAN SARANTelah diisolasi dua
isolat bakteri
penyebab penyakit bercak merah pada pantibenih
udangwindu
dan keduanyadiidentifikasi
sebagai V. harueyi. Sedangkan jumlah kritis bakteri tersebut bagi larva udang windu adalah 106 cfr.r/ml clalamair
pemeliharaan.Bakteri
penyebab penyakitbercak merah sensitif tcrhadap age n vibrioslatil< (01 I29), novobiocin, a m inobenzil penis i lin,
eritro-misin, dan kloramfenicol.
Perlu dicari dosis yang efektif masing-masing antibiotik tersebut untuk menekan
perkembang-an
populasibakteri
penyebabbercak
merah melalui uji MIC (Minintunt Inhibitory Concentrat-ion).DAFTAR PUSTAKA
Baticados, M.C.L., F.R. Cruz-Lacierda, M.C. de la Cruz, R.C. Duremdez-Fernandez, R.R. Gacutan, C.R.Lavilla-Pitogo, and G.D.Lio-Po. 1g90. Diseases
of penaeid shrimps in the Philippines. SEAFDEC. Aquaculture Extension Manual (16):46 p.
Baumann,
P.,
A.L.
Furnis, andJ.V.
Lee. 1984. Facultatively an aerobic gram-negative rods. Noel R. Krieg (Eds.), Bergey's Manual of Systematic Bacteriology.Vol. l.
Williams
&
Wilkins, Baltimore-USA:5 1 8-538.I-Iolt, J.G, Noel It. Krieg, Peter H. A. Sneath, James T.
Staley and Stanley T. Williams. 1994. Facultatively
an
aerobic gram-negative rods. pp.2Sg-274. Bergey's Manual of Determinative Bacteriology.Ninth
Edition. Williams&
Wilkins. Baltimore, USA.I{uang, Y.H. L977. Preliminary report of the studies on bacterial diseases
of
milkfish,
Chanos chanos during winter. JCRR Fish. Series, No.2g:S0.54. Lavilla-Pitogo, C.R., L.C. Albrighr, M.C. paner andN.A.
Sunaz. 1992. Studieson the
sources of lutnir-rescent Vibri<t horut')'i irt Pcnaeus ntonodon hatcheries. M. Sharitl R.P. Subasinghe, and J.R.Arthur (Eds.), Diseases
in
Asian Aquaculture LFish
Health Section, Asian Fisheries Societv. Manila, Philippines: 1 57 - LO4.Lightner, D.V., T.A. Bell, R.M. Redman, L.L. Mohnev.
J.M. Nativitlatl,
A.
ltrrl<.yar.ri, an<lA.
Irocrnoruo. L992.In
M.
Shariff, R.P. Subasinghe, ancl J.R.Arthur (Eds.), A review of some major diseases of economic significance in penaeid prawns/shrimps of the Americas and Indopacific. Diseases in Asian Aquaculture L Fish Health Section, Asian Fisheries Society, Manila, Philippines:b2.80.
Lio-Po, G. 1983. In J .Y . Juario, R.P. Ferraris and L.V. Benitez (Eds.), Diseases of milkfish : Advances in milkfish biology ancl cultures. proceeding of the Second
International
Milkfish
Aquaculture Conference. Iloilo, Philippines, 4-8 October 1gg3:I 45.153.
Muroga, K., Jo Y., and M. Nishibuchi. 1976. Vibrkt angu,illaru,nt isolated from europe an eel (An,guilla ott.gttilkt) r:rrlturc<l in .llpun. .J. of t,lrr. I,.ircrrll..,t, ol'
Irish. and
Animal
.Flusbandly, lliroshimaUnivelsity, l5:24-34.
Muroga, K., M. Iida, H. Matsumoto, and T. Nakai. 1986. Detection of Vibrio anguillaru,nt from waters. Bull. Soc. Sci. Fish., 52(4):64I-647.
Rukyani, A., P. Taufik. dan Taukhid. 1992. penyakit kunang-kunang (luminescent vibriosis) dan cara penanggulangannya
di
hatchery udang windu. Prosiding Seminar Sehari Upaya penanggulanganPenyakit
Benur
Pacla Hatchery
Udang,Sr.rrabaya:4 7-60.
Tajima, K., M. Yoshirnizu, Y. Ezura and T. Kimura. 1981. Studies
on the
causative organism of Vibriosis among the pen-culturecl coho salmon. Oncorhynchu.s hisutch,in
Japan. Bull. Jap. Soc. Sci. Fish. 47:35-42.Roza, D.; Zafran and Koesharyani, I.
Zafran. 1992. Pencegahan penyakit kunang-kunang pada
larva
udangwindu
(Penaeu,s monodon). Prosiding Seminar Sehari Upaya PenanggulanganPenyakit
Benur Parla
l{atchery
Udang, Surabaya:59-61.Zafran, D. Roza, K. Sugama, S. Wada, and K. Hatai. 1994. Histological study
of
luminescens Vibrioharueyi infection
in
hatchery reared larvae of Penaeus monodon. ProceedingThircl
Asian Fisheries Forum, Singapore: 2g4-297.Zatran dan
Il.
lloza. lg9J. Teknik penanggulanganpenyakit udang menyala
di
hatchery melaluipengendalian populasi bakteri. J. penel. Budidaya Pantai, 9(2):t27-182.