• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VIII

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

VIII.1. Kesimpulan

Dalam studi ini peneliti sudah membahas kontroversi bisnis Multi Level Marketing di Kota Surabaya terkait dengan kontroversi bisnis MLM secara global dan nasional. Kontroversi bisnis MLM ini mendorong kebijakan bisnis MLM di Indonesia sampai dirubah oleh Departemen Perdagangan dan Perindustrian sebanyak tiga kali yaitu tahun 2005, 2008, dan 2009, tetapi bisnis berkedok MLM/bisnis investasi/money game tetap terus mengiringi tumbuh berkembangnya bisnis MLM di Kota Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia. Begitu pula perusahaan MLM di Indonesia telah berusaha melindungi masyarakat dan anggota MLM melalui APLI agar tidak terjebak bisnis berkedok MLM, namun kontroversi bisnis MLM tetap terjadi. Kontroversi bisnis MLM tersebut juga dipicu oleh politik bisnis eksploitatif perusahaan MLM dalam meraih nilai lebih. Peneliti melihat bahwa bisnis MLM dijalankan oleh pelaku bisnis MLM dan anggota grup-grup jaringannya secara keroyokan/kolektif sesuai marketing plan (ideologi bisnis MLM). Marketing plan dibuat oleh perusahaan MLM, maka perilaku politik perusahaan MLM yang eksploitatif berpengaruh terhadap perilaku pelaku bisnis MLM di Kota Surabaya karena perusahaan MLM mengeksploitasi anggota MLM melalui marketing plan tersebut. Ketika perusahaan MLM telah

(2)

memperoleh nilai lebih, marketing plannya diubah dan diganti. Kondisi ini membuat bisnis MLM tetap kontroversial.

Pembahasan tentang perilaku kerja keroyokan/kolektif pelaku bisnis MLM di Kota Surabaya pada penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama; proses bekerjanya pelaku bisnis MLM terikat pada ideologi bisnis MLM yang dikonstruksikan oleh support “exploiting” system dibantu perusahaan MLM. Ideologi bisnis MLM sebagai seperangkat sistem gagasan dan kesadaran palsu dapat membuat pelaku bisnis MLM menjadi kaya dan meraih kelas atas adalah karena ideologi tersebut dipercaya dan diyakini kebenarannya, serta dijalankan oleh pelaku bisnis MLM. Ideologi bisnis MLM dijadikan sebagai pedoman perilaku duplikasi pelaku bisnis MLM ketika menjalankan bisnis MLM. Pelaku bisnis MLM presentasi secara kontinu (banting bibir) untuk merekrut dan melatih anggota MLM baru, menduplikasikan perilaku jutawan/miliarder serta mengeluarkan modal untuk belanja produk tiap bulannya. Mereka menyadari dan menemukan adanya ideologi bisnis MLM yang kurang sesuai diterapkan di masyarakat (ideologi sebagai kesadaran palsu), yaitu realitas sosial respons negatif prospek dari masyarakat Surabaya menjadi kendala dan tantangan yang harus dihadapi. Ideologi bisnis MLM sebagai kesadaran palsu ini justru mendorong pelaku bisnis MLM membuktikannya dengan kerja keras dan melakukan politik kerja keroyokan/kooperasi kolektif yang eksploitatif dan manipulatif untuk membangun grup jaringan/organisasi bisnis MLM. Mereka tetap mengobarkan semangat kapitalistik yang eksploitatif dan manipulatif untuk menjalankan bisnis MLM.

(3)

Kedua; Piramida jenjang karir untuk meraih peringkat atas/top leader dan kekayaan dari aktivitas wirausaha pelaku bisnis MLM di Kota Surabaya pada

marketing plan dipercaya, diyakini dan dipahami mereka bukan merupakan piramida yang mengerucut karena peluang ekonomi bisnis MLM untuk meraih jenjang karir peringkat atas/jutawan pada industri besar MLM terbuka lebar dan sama serta relatif besar jumlahnya dibanding jenjang karir karyawan pada industri besar bukan MLM. Maknanya anggota MLM yang masuk belakangan/down line

dapat menyalip peringkat anggota yang masuk duluan/up line. Skema piramida pada marketing plan lebih berfungsi sebagai 1) pedoman/sistem budaya kerja yang harus dilakukan pelaku bisnis MLM dalam meraih jenjang karir, 2) struktur karir posisi pelaku bisnis MLM peringkat bawah, menengah, atas dan top leader/jutawan/miliarder, 3) target omzet grup yang harus dicapai tiap peringkat secara keroyokan/kolektif, 4) besar bonus komisi yang diraih sesuai peringkat dan

reward atau hadiah gratis yang diberikan perusahaan MLM.

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kerja keroyokan/kooperasi kolektif dalam menjalankan bisnis MLM dilakukan pelaku bisnis MLM di Kota Surabaya untuk meraih kekayaan dan reputasi kelas atas secara kolektif ini dapat dikatakan sebagai politik kooperasi kolektif yang eksploitatif dan manipulatif. Wujud perilaku politik ini adalah: 1) mengeksploitasi dengan memanfaatkan jam kerja anggota MLM, 2) mempromosikan pihak ketiga (jutawan/miliarder), 3) membangun aset dari pertemuan ke pertemuan melalui jaringan kekerabatan/pertemanan, 4) mempromosikan dan memanipulasi “panggung kemenangan”, 5) mengikat anggota MLM, 6) mengundang paksa kkerabat/teman

(4)

ke seminar bisnis MLM, 7) berlangganan dan membeli kaset/CD informasi ideologi bisnis MLM, 8) menjual tiket seminar dan pelatihan secara keroyokan, 9) pembagian kerja melalui pencapaian target omzet grup, dan 10) menginvestasikan modal setiap bulan untuk meraih profit.

Simpulan kedua; hasil politik kooperasi kolektif yang eksploitatif dan manipulatif adalah 1) pelaku bisnis MLM dapat meraih kelas sosial atas dan reputasi baik melalui terobosan peringkat, 2) timbul konflik internal perusahaan MLM, 3) kurang berhasil kerja keroyokan sehingga pelaku bisnis MLM “muntaber/mundur tanpa berita”, “selingkuh”, bedhol desa ke MLM lain.

Simpulan ketiga; bisnis Multi Level Marketing dalam perspektif Antropologi dari hasil studi ini dikonsepsikan sebagai fenomena perilaku membangun grup jaringan dengan pertama; presentasi untuk merekrut dan melatih anggota MLM baru dan menduplikasikan perilaku jutawan/miliarder melalui politik konstruksi ideologi bisnis MLM sebagai kesadaran palsu (marketing plan) dari support “exploiting” system, kedua; mengekspoitasi dan memanfaatkan jam kerja anggota grup jaringandan ketiga; politik kerja keroyokan/kooperasi kolektif yang eksploitatif dan manipulatif dari peringkat atas dan jutawan/miliarder kepada anggota grup-grup jaringannya untuk meraih kekayaan dan reputasi kelas sosial ekonomi atas.

Simpulan keempat; politik bisnis eksploitatif perusahaan MLM dengan membuat marketing plan, ternyata marketing plan bisa “dimainkan dan diatur” pelaku bisnis MLM agar anggota cepat kaya karena anggota fokus pada pencapaian target omzet grup jaringan. Apalagi dibantu support “exploiting”

(5)

system dalam doktrin ideologi bisnis MLM sebagai kesadaran palsu. Tiap anggota MLM membutuhkan puluhan/ratusan/ribuan orang untuk menjadi jutawan sudah ditentukan dalam marketing plan tetapi sejumlah orang dengan peringkat bawah, menengah, atas tertentu saja tidak cukup jika target omzet grup tidak tercapai.

Berdasarkan empat simpulan tersebut menunjukkan bahwa teori dari Karl Marx tentang ekonomi politik terbukti kebenarannya dimana perusahaan MLM melakukan eksploitasi dan manipulasi kepada anggotanya melalui ideologi sebagai kesadaran palsu (marketing plan). Demikian juga pemikiran dari Bailey tentang individu berpolitik untuk meraih reputasi baik juga terbukti dari hasil penelitian ini. Buktinya pelaku bisnis MLM melakukan politik kooperasi kolektif secara eksploitatif dan manipulatif untuk meraih reputasi kelas atas melalui kekayaan yang dicapai lewat bisnis MLM. Sementara itu, pemikiran Marx dan Abdullah bahwa gejala ekonomi tidak tumbuh jika sistem sosial dan struktur sosial tidak mendukung juga terbukti. Bisnis MLM tumbuh berkembang pada masyarakat di Kota Surabaya karena dukungan sistem sosial dan struktur sosial masyarakat serta infrastruktur Kota Surabaya. Pelaku bisnis MLM memanfaatkan relasi sosial yaitu jaringan pertemanan dan jaringan kekerabatan sesuai dengan pemikiran Ahimsa-Putra bahwa pengusaha akan memanfaatkan relasi sosial untuk mengembangkan ekonominya dengan semangat wirausaha kapitalistik. Terkait tesis ini, penulis berpendapat bahwa kontroversi bisnis MLM tetap akan mengiringi tumbuh berkembangnya bisnis MLM di Kota Surabaya dan Indonesia jika tidak ada ketegasan sanksi dari kebijakan Pemerintah Indonesia tentang penjualan langsung dalam mensosialisasikan legalitas perusahaan MLM lewat

(6)

media massa dan media elektronik. Kontroversi bisnis MLM tetap terjadi jika perilaku politik bisnis eksploitatif perusahaan MLM dengan mengubah dan mengganti marketing plan untuk meraih nilai lebih terus terjadi. Hal ini menimbulkan pertanyaan penelitian selanjutnya seberapa jauh bisnis MLM benar-benar merupakan peluang ekonomi bisnis yang layak ditekuni dan dimanfaatkan masyarakat.

VIII.2. Rekomendasi

Pertama, penting dilakukan studi lanjut tentang efektifitas kebijakan publik terkait perlindungan pasar bisnis MLM di Indonesia. Mengingat pasar bisnis MLM juga menjadi sasaran pasar dari perusahaan berkedok bisnis MLM/money game. Kebijakan publik yang ada sekarang kurang disosialisasikan kepada masyarakat sehingga fungsi kontrol masyarakat dan pemerintah kurang maksimal. Sementara itu bisnis MLM merupakan peluang ekonomi terkait dengan peluang bisnis dan wirausaha dari industri besar yang layak ditekuni pelaku bisnis MLM dan warga masyarakat.

Kedua, mengingat cakupan pasar industri besar demikian luas dan terbuka bagi masyarakat dan tanpa syarat administratif, tidak membedakan suku, agama, ras, jender, pendidikan, pekerjaan serta pengalaman kerja, maka perlu dikembangkan dalam bentuk bidang studi Antropologi Bisnis.

Ketiga, Pemerintah Indonesia melalui Menteri terkait penting bekerjasama dengan APLI/Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat kota sampai ke pelosok desa tentang perusahaan

(7)

MLM yang mempunyai SIUPL/Surat Ijin Usaha Penjualan Langsung dari Pemerintah Indonesia dan beroperasi di Indonesia agar masyarakat tidak terjebak peluang bisnis dari perusahaan berkedok MLM/money game, melalui media massa dan mdia elektronik.

Referensi

Dokumen terkait

Itulah sebabnya banyak persoalan, keributan, atau konflik dalam gereja, karena ada pemimpinnya yang melayani menurut pola “apa yang dipikirkan manusia.” Maka

Dualisme pembinaan tersebut mengakibatkan terjadinya orientasi dan manajemen pembinaan yang tidak jelas, yang melahirkan berbagai kondisi penyebab kurang efektifnya

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi komputer (seperti SPC) akan memberikan suatu model yang berbasis unjuk kerja, hal ini

Penelitian yang dilakukan oleh Hendika Apriyanto tahun 2009 dengan judul “Kompetensi Profesional Guru Sosiologi Dalam Proses Pembelajaran di SMA Negeri 1 Kalasan” dengan

Penulis meneliti strategi komunikasi pemasaran Garis Lini konveksi pada periode tahun 2013, alasannya adalah karena bisnis konveksi adalah bisnis yang tidak ada habisnya,

Sasaran Rencana Strategis Balai Besar KSDA Jawa Barat tahun 2010 -2014 adalah tercapainya penurunan konflik dan tekanan terhadap kawasan konservasi (CA, SM, TWA)

Bagi perusahaan, diharapkan agar hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan bagi perusahaan tempat penelitian dilakukan, untuk dapat menentukan langkah selanjutnya

Kecenderungan lebih banyaknya frase eksosentris direktif yang berfungsi sebagai penanda nomina lokatif di dalam novel ini berkaitan dengan data struktur dan makna