• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PERBANDINGAN MORFOLOGI DAN ANATOMI DAUN NIPAH (Nypa fructicans Wumb.) BERDASARKAN PERBEDAAN SALINITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI PERBANDINGAN MORFOLOGI DAN ANATOMI DAUN NIPAH (Nypa fructicans Wumb.) BERDASARKAN PERBEDAAN SALINITAS"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Halaman 255 dari 451

STUDI PERBANDINGAN MORFOLOGI DAN ANATOMI DAUN NIPAH (Nypa fructicans Wumb.) BERDASARKAN PERBEDAAN SALINITAS

Sunarti Cambaba1, Pauline Destinugrainy Kasi2, Muh. Wahid Hasyim3

Universitas Cok roaminoto Palopo1,2,3

[email protected]

Abstrak

Nipah (Nypa fructicans Wumb) adalah sejenis tanaman palmae yang dapat tumbuh di sepanjang sungai yang dekat dengan muara maupun air payau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan morfologi dan anatomi daun nipah pada salinitas berbeda (0-5 ppt dan 6-12 ppt). Sebanyak tiga sampel daun dari setiap tingkatan salinitas diambil dari Desa Lare -Lare, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu dan pengamatan anatomi dilaku kan di Laboratorium Sel dan Jaringan, Fakultas Sains, Universitas Cokroaminoto Palopo. Untuk setiap tingkatan salinitas diambil 3 sampel daun. Parameter morfologi yang diamati adalah panjang anak daun, lebar anak daun, tebal anak daun, tebal tulang anak daun dan warna daun. Untuk parameter anatomi yang diamati adalah jaringan epidermis, jaringan parenkim dan jaringan pengangkut di daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi salinitas semakin kecil ukuran daun, namun jaringan epidermis, jaringan mesofil dan jaringan pengangkut mengalami penebalan..

Kata kunci : Nipah (Nypa fructicans Wumb), daun, morfologi, anatomi, salinitas

1. Pendahuluan

Nipah (Nypa fructicans Wumb) merupakan tanaman palmae yang sering dikelompokkan pula sebagai mangrove/bakau. Nipah adalah tumbuhan sejenis palma yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut di daerah mangrove yang payau (brackish). Dalam zonasi kelompok mangrove, nipah tumbuh pada perairan agak ke dalam dan hidup di tepi-tepi sungai air tawar sehingga pengaruh salinitas sudah mulai berkurang. Nipah tumbuh di bagian belakang hutan bakau, terutama di dekat aliran sungai yang memasok lumpur ke pesisir. Palma ini dapat tumbuh di wilayah yang berair agak tawar, sepanjang daerah tersebut masih terpengaruh pasang-surut air laut yang mengantarkan buah-buahnya yang mengapung. Di tempat-tempat yang sesuai, tegakan nipah membentuk jalur lebar tak terputus, kurang lebih sejajar dengan garis pantai. Nipah mampu hidup di atas lahan agak kering atau yang kering sementara air surut [1] .Luas area pertumbuhan nipah di Indonesia diperkirakan 700.000 ha, meliputi wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya [2].

Tanaman nipah tumbuh secara alami dan memiliki manfaat ekologis serta ekonomi yang tinggi. Manfaat ekologis dari tanaman nipah adalah untuk melindungi bibir pantai dari proses abrasi gelombang laut, tempat bersarangnya ikan, burung dan biota lain di perairan air payau. Bagian tanaman nipah juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membuat lidi, atap rumah, kayu bakar, pakan ternak, bahkan membuat gula dari cairan buah nipa [3].

(2)

Halaman 256 dari 451

Meskipun tanaman nipah dapat tumbuh dengan baik pada air payau, namun masalah salinitas dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Cara tanaman beradaptasi pada kondisi salinitas tinggi ada dua macam, yaitu penghindaran (avoidance) dan toleran (tolerance) [4]. Mekanisme toleransi tanaman terhadap salinitas diantaranya adalah adaptasi morfologi dan anatomi. Salinitas menyebabkan perubahan struktur turgor tanaman misalnya ukuran daun mengecil, jumlah stomata per satuan luas daun lebih sedikit, peningkatan sukulensi, penebalan kutikula dan lapisan lilin serta lignifikansi akar lebih awal [5]. Untuk itu, melalui penelitian ini ingin diketahui perbandingan morfologi dan anatomi daun nipah pada salinitas yang berbeda.

2. Metode Penelitian Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah refraktometer salinitas, mikroskop OptiLab, pinset, silet, cawan petri, Bagan Warna Daun (skala 2-5, IRRI Leaf Cholor Chart), kertas label, gelas objek, gelas preparat, kantong plastik, penggaris, micrometer sekrup, alat tulis dan kamera digital.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun nipah dan akuades. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2017. Lokasi pengambilan sampel daun nipah di Desa Lare-Lare, Kecamtan Bua, Kabupaten Luwu. Pembuatan dan pengamatan preparat anatomi dilakukan di Laboratorium Sel dan Jaringan, Fakultas Sains, Universitas Cokroaminoto Palopo.

Cara Kerja

1) Penentuan lokasi sampel dan pengukuran salinitas

Sampel diambil berdasarkan salinitas tempat tumbuh. Pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan refraktometer salinitas, selama 2 minggu sebelum pengambilan sampel. Salinitas diukur setiap 2 kali sehari, pada saat pasang dan surut. Dari rentang salinitas yang diperoleh ditentukan dua lokasi pengambilan sampel, yaitu pada salinitas 0-5 ppt dan salinitas 6-12 ppt.

2) Pengambilan sampel dan pengamatan morfologi

Sampel daun nipah yang diambil adalah daun yang berada pada pelepah kedua atau ketiga dari bawah. Untuk pengamatan anatomi diambil anak daun ke-25 dari satu pelepah daun. Dari setiap lokasi diambil 3 sampel dari pohon yang berbeda.

(3)

Halaman 257 dari 451

Selanjutnya sampel daun diamati morfologinya dan dilakukan pengukuran terhadap warna anak daun, panjang anak daun, lebar anak daun, tebal anak daun, dan ketebalan tulang anak daun. Selanjutnya sampel dibawa ke laboratorium untuk pengamatan anatomi.

3) Pengamatan anatomi

Pengamatan anatomi dilakukan diawali dengan membuat irisan tipis penampang lintang daun dan diamati di bawah mikroskop OptiLab. Bagian yang diamati adalah epidermis, mesofil dan jaringan pengangkut.

3. Hasil dan Pembahasan

Salah satu parameter pertumbuhan yang dapat diamati secara langsung adalah pertumbuhan daun. Tanaman nipah yang tumbuh pada salinitas yang berbeda menunjukkan perbedaan ukuran daun secara morfologi (Tabel 1).

Tabel 1. Pengamatan morfologi daun nipah pada salinitas 0-5 ppt dan 6-12 ppt Salinitas

Parameter 0-5 ppt 6-12 ppt

Panjang anak daun 108,13 cm 71,13 cm

Lebar anak daun 5,20 cm 4,53 cm

Tebal anak daun 0,23 mm 0,27 mm

Tebal tulang anak daun 0,50 mm 0,44 mm

Warna anak daun 5 (BWD) 4 (BWD)

Hasil pengamatan morfologi daun nipah menunjukkan adanya perbedaan ukuran panjang dan lebar anak daun pada tanaman nipah yang tumbuh di daerah dengan salinitas berbeda. Semakin tinggi salinitas tempat tumbuh tanaman nipah, ukuran daun menjadi lebih kecil. Pada salinitas 0-5 ppt, rerata panjang anak daun sebesar 108,13 cm dan lebar anak daun 5,20 cm. Sementara pada salinitas 6-12 ppt rerata panjang anak daun sebesar 71,13 cm dan lebar anak daun 4, 53 cm. Cekaman garam atau salinitas mengakibatkan ukuran daun menjadi lebih kecil sebagai adaptasi transpirasi berlebih [5].

Perbedaan juga tampak pada warna daun, dimana pada salinitas 0-5 ppt warna daun lebih gelap (skala 5) dibandingkan dengan pada salinitas 6-12 ppt (skala 4). Salah satu bentuk adaptasi tanaman terhadap salinitas tinggi adalah penurunan kadar klorofil yang ditunjukkan dngan daun berwarna lebih pucat [6]. Hal ini diakibatkan adanya gangguan pembentukan klorofil akibat menurunnya serapan nitrogen oleh tanaman.

(4)

Halaman 258 dari 451

Gambar 1. Penampang lntang daun nipah pada salinitas berbeda. A. 6-12 ppt dan B. 0-5 ppt.

Pada penampang lintang daun nipah dapat diamati dengan jelas bagian epidermis dan mesofil. Daun nipah merupakan daun ekuifasial atau isobilateral, dimana jaringan mesofil palisade berada pada daerah adaksial dan abaksial (Gambar 1). Pada bagian luar epidermis terdapat derivat epidermis berupa lapisan lilin. Lapisan lilin daun nipah pada salinitas 6-12 ppt lebih tebal dibandingkan dengan lapisan lilin daun nipah pada salinitas 0-5 ppt. Hal ini juga dapat dilihat pada parameter ketebalan anak daun dan tulang daun nipah pada salinitas 6-12 ppt yang lebih besar dibandingkan pada daun nipah salinitas 0-5 ppt (Tabel 1). Pembentukan lapisan lilin berfungsi mengurang laju transpirasi, yang merupakan salah satu cirri tumbuhan pada salinitas tinggi.

Terdapat perbedaan lapisan jaringan epidermis pada penampang lintang daun nipah pada salinitas 0-5 ppt dan salinitas 6-12 ppt. Jaringan epidermis pada daun nipah dari salinitas 0-5 ppt terdiri dari satu lapis baik pada permukaan atas dan bawah daun. Sedangkan jaringan epidermis daun nipah dari salinitas 6-12 ppt terdiri lebih dari dua lapis. Pada jaringan mesofil daun nipah salinitas 6-12 ppt terlihat jaringan mesofil tampak lebih besar namun tidak beraturan. Sementara jaringan mesofil pada daun nipah salinitas 0-5 ppt berukuran kecil dan lebih rapi. Jaringan pengangkut pada daun nipah salinitas 6-12 ppt berukuran lebih besar dibandingkan daun nipah salinitas 0-5 ppt. Hal ini merupakan modifikasi agar daun dapat mengatur jumlah air dan zat hara yang masuk dan keluar dari daun.

Adanya cekaman garam atau salinitas tinggi dapat mengubah aktivitas metabolisme tanaman sesuai dengan proses adaptasi yang dilakukan oleh tanaan tersebut. Perubahan ukuran baik secara morfologi maupun anatomi akan berpengaruh pada laju fotosintesis, respirasi dan transpirasi. Meskipun demikian perubahan ini menyebabkan tanaman dapat toleran tumbuh pada kondisi salinitas tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pengisi lahan dengan cekaman garam yang tinggi.

(5)

Halaman 259 dari 451

4. Kesimpulan

Secara morfologi, semakin tinggi salinitas semakin kecil ukuran daun nipah (panjang daun, lebar daun) dan juga warna daun nipah menjadi lebih pucat. Sementara secara anatomi, semakin tinggi salinitas menyebabkan penebalan lapisan lilin, penambahan jaringan epidermis, peningkatan ukuran jaringan mesofil dan jaringan pengangkut.

Daftar Pustaka

[1] H. Alrasyid. Pedoman Pengelolaan Hutan nipah (Nypa Fructicans) Secara Lestari. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Badang Litbang Kehutanan. Depatemen Kehutanan. Bogor, 2001.

[2] E. Subandiono, N.M. Herianto, dan E. Karlina. Potensi nipah (Nypa fructicans (Thunb.) Wumb.) sebagai sumber pangan dari hutan mangrove. Bultein Plasma Nutfah, vol 17(1) : 54-60, 2011.

[3] Khalil dan T. Hidayat. Potensi buah nipah tua (Nypa fructicans Wumb.) sebagai bahan pakan ternak. Jurnal Peternakan Indinesia, vol 11(2) : 123-128, 2006. [4] Djukri. “Cekaman salinitas terhadap pertumbuhan tanaman” in Prosiding

Seminar Nasional Penelitian dan Penerapan MIPA. Fakultas MIPA. Universitas Negeri Yogyakarta, pp. 49-55., 16 Mei 2009

[5] S.S. Harjadi dan S. Yahya. Fisiologi Stres Tanaman. PAU IPB. Bogor. 1998. [6] A. Ma’ruf. Respon beberapa kultivar tanaman pangan terhadap salinitas. Jurnal

Gambar

Tabel  1. Pengamatan  morfologi  daun  nipah  pada salinitas  0-5 ppt dan 6-12 ppt  Salinitas
Gambar  1. Penampang  lntang  daun  nipah  pada salinitas  berbeda. A. 6-12 ppt dan B

Referensi

Dokumen terkait

Berkenaan dengan hal tersebut, agar Saudara dapat membawa dokumen asli atau rekaman yang sudah dilegalisir oleh pihak yang berwenang dan jaminan penawaran asli untuk setiap data

[r]

Aplikasi ini dibuat sangat sederhana selain adanya animasi yang bergerak, materi yang disajikan juga mudah dipahami, adanya soal-soal latihan yang beragam dapat membantu pengguna

[r]

Pada Penulisan Ilmiah ini, diuraikan pembuatan animasi pengenalan bahasa Jepang dengan menggunakan Macromedia Flash MX, yang dalam penulisannya terdapat abjad dan angka dalam

Seluruh staf dan karyawan di Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, terutama dengan bang Martin, bang Divo, Bapak Ponijan, Ibu Ummi, Ibu Ani, Ibu

PERAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM KAMPUS DI PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM NEGERI DALAM BANTUAN HUKUM LITIGASI DAN NON LITIGASI TERHADAP MASYARAKAT MISKIN. IAIN Purwokerto

Tanaman kahat Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya: (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak