Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxp;;;;;;;;;;;;;;;;;;; ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 143/PUU-VII/2009
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 19 TAHUN 2008
TENTANG SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PERBAIKAN PERMOHONAN
(II)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 143/PUU-VII/2009 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
PEMOHON
- Bastian Lubis, S.E., M.M. ACARA
Pemeriksaan Perbaikan Permohonan (II)
Senin, 7 Desember 2009, Pukul 11.00 – 11.45 WIB Ruang Sidang Panel Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat.
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Dr. H.M. Arsyad Sanusi, S.H., M.Hum. (Ketua ) 2) Dr. Harjono, S.H., M.Cl . (Anggota) 3) Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. (Anggota) Cholidin Nasir, S.H. Panitera Pengganti
Pihak yang Hadir: Pemohon:
- Bastian Lubis, S.E., M.M. (Ketua Yayasan Patria Artha)
- Dr. Zainuddin Djaka, S.H., M.H. (Rektor Universitas Patria Artha, Makasar)
Kuasa Hukum Pemohon: - Faisal Suleng, S.H. - Said, S.H.
1. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Bismillahirrahmaanirrahim Assalamualaikum wr. wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semuanya. Sidang Perkara Nomor 143/PUU-VII/2009 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum
Saudara Pemohon, silakan memperkenalkan diri siapa-siapa yang hadir?
2. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM.
Bismillahirrahmaanirrahim Assalamualaikum wr. wb.
3. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Waalaikumsalam.
4. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM.
Saya memperkenalkan diri saya, nama Bastian Lubis sebagai dosen, Ketua Patri Artha dan Pembina Universitas Yayasan Patri Artha yang didampingi oleh rektor sebelah kiri saya Dr. Zainuddin Djaka, Rektor Universitas Patri Artha Makassar. Yang mendampingi saya adalah kuasa hukum daripada saya yaitu Bapak Faisal Suleng, S.H dan Bapak Said, S.H. Bapak Hakim Yang Mulia.
Terima kasih.
5. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Baik, Saudara Pemohon maupun kuasa hukumnya pada sidang yang lalu panel sudah memberikan saran-saran perbaikan. Nah untuk itu panel meminta kepada Saudara supaya inti pokok permohonan Saudara dan apa perbaikan-perbaikan di dalam permohonan Saudara yang Saudara sudah perbaiki. Silakan siapa yang bicara? Prinsipal atau Kuasa Pemohon? Silakan.
SIDANG DIBUKA PUKUL 11.00 WIB
6. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM. Baik Yang Mulia.
Dari Pasal 1 waktu permohonan kami itu, ingin memperbaiki sesuai dengan arahan-arahan dari sidang pertama. Pasal 12 Undang-Undang Nomor 19 ini kita tidak ajukan lagi yaitu sekarang kita memperbaiki hanya Pasal 10 ayat (1) dan (2) huruf a dan b dan Pasal 11 ayat (1).
7. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM. Coba diulangi lagi penegasannya pasal berapa? 8. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM.
Jadi pengujian materiil kali ini yang tadinya ada Pasal 12 itu kita hilangkan Pak Hakim, yang kita majukan adalah uji materiil Pasal 10 ayat (1) dan (2) huruf a dan b. Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar.
Yang kedua, kami yang tadinya kemarin itu ingin menguji dari hasil Undang-Undang Dasar yang sedemikian banyak yang sudah diarahkan oleh Bapak Hakim, kami menyadari bahwa itu kelihatannya sapu jagat jadi kami hanya mengajukan dua pasal dari sini. Pasal 28H ayat (2) dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Jadi tidak seperti yang kemarin yang terlalu banyak Pak Hakim, jadi sudah lebih terfokus.
Nah, yang di sini kami juga ingin mengadakan, mengajukan Pasal 28H ayat (2) dengan Pasal 34 ayat (3). Di situ memang kita langsung menghadapkan kepada Pasal 10 ayat (1) dan (2) huruf a dan b, itu yang sesuai dengan arahan.
Yang berikutnya kami di sini menambahkan referensi surat kabar
Republika tentang mengenai suku yang akhir-akhir ini terjadi gagal bayar Pak Hakim, itu mungkin referensi. Yang terakhir kami menambahkan untuk mengajukan saksi yaitu Prof. Dr. Muchsan yang kita sudah konfirmasi beliau bersedia, Mantan Hakim Agung bidang Peradilan Tata Usaha Negara dan Bapak Surahmin, S.H., M.H. auditor ahli utama BPK RI dan Drs. Siswo Sujanto DEA, Direktur Pusat Kajian Keuangan Negara dan Daerah Universitas Parti Artha Makassar. Jadi substansi masalah yang ini sudah kita pertajam sedemikian rupa Pak Hakim, mungkin ini usaha maksimal kami, terus yang terakhir itu mengenai tentang referensi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang kemarin memang di sini telah diputuskan bahwa Pasal 50 tentang barang negara itu yang bisa dijaminkan atau disita itu ditolak oleh Mahkamah Konstitusi itu sebagai referensi kami juga.
9. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM. Dari kuasa hukumnya? Ada yang ingin ditambahkan? 10. KUASA HUKUM PEMOHON: FAISAL SULENG, S.H.
Terima kasih Yang Mulia atas kesempatan yang diberikan kepada kami. Yang ingin kami tambahkan dari Pemohon tadi, bahwa sehubungan dengan risalah Perkara Sidang Nomor 143/PUU-VII/2009 perihal pengujian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariat Negara (...)
11. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM. Coba di (...)
12. KUASA HUKUM PEMOHON: FAISAL SULENG, S.H.
Kami ulangi, bahwa sehubungan dengan risalah sidang Perkara Sidang Nomor 143/PUU-VII/2009 perihal pengujian Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara terhadap Undang-Undang Dasar 1945 dengan adcara pemeriksaan pendahuluan pertama di Jakarta pada hari Kamis 19 November 2009 dimana salah satu isi dari risalah sidang tersebut yaitu memperbaiki permohonan Pemohon, maka dengan ini kami dari Pemohon memperbaiki permohonan dimaksud yang sudah didaftar pada tanggal 4 November 2009 dengan registrasi Nomor 1891/PAN.MK/XI/2009 dan menyatakan permohonan ini sebagai penggantinya dan menganggap sudah terdaftar pada tanggal 4 November 2009.
Terima kasih.
13. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Ya baik, Saudara Kuasa Pemohon dan Pemohon, ini panel belum paham betul Saudara tahu bahwa kedudukan hukum legal standing itu kan sudah ada yurisprudensi tetap dari Mahkamah Konstitusi, karenanya sekalipun batu uji yang Saudara lakukan itu Saudara sudah hilangkan beberapa pasal, namun panel ingin melihat kerugian Saudara, kerugian hak konstitusional Saudara itu dimana letak kekhususannya? Dan aktualitasnya sehingga Saudara betul-betul dengan berlakunya undang-undang ini Saudara rugi, ada kerugian, coba diperhatikan itu betul-betul. Negara boleh tidak melakukan suatu transaksi? Negara selaku badan hukum publik, jadi otomatis ada aset negara, apa itu tanah, rumah, surat berharga, dan lain sebagainya. Nah, dimana kerugian Saudara dengan berlakunya pasal ini? Di dalam perbaikan ini tidak nampak kelihatan secara jelas mana kerugian spesifik Saudara? Coba ini
diperhatikan betul itu juga yang ditekankan pada weaktu sidang pertama. Mana kerugian yang aktual, yang spesifik dengan berlakunya undang-undang ini. Kerugian Saudara, kerugian konstitusional Saudara. Jadi kalau Saudara hapuskan ini berarti badan usaha milik negara melakukan transaksi, punya aset, itu sama sekali Saudara kesampingkan.
Nah dimana kerugian itu? Apakah negara kalau sudah melakukan hubungan hukum, apakah negara lain, atau di dalam negeri melakukan suatu hubungan hukum itu dilarang untuk melakukan transaksi dalam rangka aset barang milik negara ini? Begitu juga mengenai hal-hal yang berkaitan dengan surat berharga, syariah negara ini dimana? Kalau pasal itu dihilangkan, lalu apa, apakah itu konstitusional, apakah itu inkonstitusional? Coba Saudara, itu penekanan kami pada sidang pertama itu, dimana di sini kerugian konstitusional Saudara yang nyata-nyata spesifik, aktual, betul-betul Saudara merasa dirugikan. Dulu Saudara kemukakan itu kurang lebih sepuluh pasal batu uji Saudara. Apa hubungannya misalnya tentang pemerintah daerah, apa hubungannya dengan tentang kekuasaan kehakiman kerugian Saudara, tentang agama, tentang kemerdekaan berserikat, pasal apa yang terakhir Saudara kemukakan itu? Sudah Pasal 12 sekarang sudah hilang, sekarang Pasal 10 dan 11. Coba Saudara cermati betul apa makna dari isi Pasal 10 dan 11. kalau Saudara perhatikan betul-betul itu. Pasal 10 saya bacakan, “barang milik negara, aset negara, modal negara, kapital negara, itu dapat digunakan sebagai dasar untuk penerbitan surat berharga syariah negara. Untuk selanjutnya barang milik negara tersebut sebagai aset SBSN”. Dimana inkonstitusionalnya itu, itu satu.
Aset surat berharga syariah negara ini berupa tanah, bangunan, kemudian nilainya, spesifikasinya itu ditetapkan oleh menteri. Itu Pasal 10, tiga ayat ini. Ini barang milik negara. Masak barang milik negara jadi ini, ini, ini. Barang milik negara ini misalnya katakanlah gedung Mahkamah Konstitusi, tanah bangunan, apakah tidak boleh memiliki tanah dan bangunan aset itu? Dimana inkonstitusionalnya?
Dalam hal tertentu barang milik negara boleh saja dijual, tentu prosedur mekanismenya melalui menteri yang bersangkutan., departemen yang bersangkutan, dapat disewa, kalau sudah sewa, disewakan, dia sewa kembali. Dimana inkonstitusionalnya pasal ini, undang-undang ini? Sekarang kalau itu digunakan aset negara itu, milik negara itu sebagai aset SBSN, menteri terlebih dahulu memberitahukan kepada instansi pemerintah pengguna user barang milik negara. Kalau menteri mau menjual, mau menyewa kembali, mau melakukan transaksi kembali, memberitahukan kepada penggunanya, dimana inkonstitusionalnya? Coba Saudara pikir-pikir itu, tentang batas waktu, ini semua berkaitan dengan masalah-masalah kebijakan. Yang diuji di sini adalah normanya, apakah itu melanggar konstitusional apa tidak? Batu uji Saudara di sini mula pertama itu adalah 10. Pasal 34, 33, sekarang Pasal 34 ayat (3), dimana inkonstitusionalnya? Coba Saudara jelaskan. Negara miliki aset surat berharga syariah negara, punya milik,
punya barang, punya ini, kalau ini dihapuskan bisa saja swasta berkelahi, ambil saja ini, ini barang bukan milik negara kok. Mana landasan filosofinya Saudara, landasan yuridisnya, alasan-alasan sehingga Saudara merasa dirugikan. Ini yang kami minta supaya Saudara menjelaskan di forum ini sebelum nantinya kita lemparkan ke pleno. Apanya yang inkonstitusional kalau barang milik negara digunakan? Ya, baik untuk saya, Saudara bisa jelaskan di hadapan forum ini sehingga nantinya kita bisa ada pandangan bahwa betul-betul kalau Pasal 10 dan 11 ini, itu adalah inkonstitusional.
Silakan.
14. PEMOHON : BASTIAN LUBIS, SE., MM. Baik Majelis Yang Mulia.
Jadi untuk melihat kerugian potensialnya Yang Mulia, karena penerbitan suku itu 10 sampai 60 tahun yang akan datang ia baru jatuh tempo. Nah, di sini kalau barang milik negara, aset negara, memang ada milik negara dan barang milik negara yang dikelola oleh pemerintah. Di sini saya melihat bahwa hutang yang terjadi, yang melaksanakan hutang piutang, itu hal yang biasa saja. Yang sekarang ini, kita dengan adanya terbit Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008, di situ ada aset yang bisa digadaikan. Apabila gedung Mahkamah Konstitusi ini digadaikan, jelas yang bersangkutan gedung ini dikuasai oleh kreditor yang mempunyai surat utang sendiri. Nah, di sini kalau kita lihat sebenarnya yang kalau melihat filosofi tadi, kita bisa dilihat di “Republika” tanggal 16 November 2009. Adiwarna A. Karim. Di situ memang sudah sangat-sangat jelas di sini dia bilang saya sudah kirimkan juga suku dan kacang tanah. Jadi di sini sudah kelihatan jelas bahwa ini BUMN yang sebesar di Dubai itu saja yang profesional gagal bayar, apalagi pemerintah. Nah, aset-aset yang digadaikan itu misalnya kalau kami mengelola perguruan tinggi group centre di Makassar. Group centre itu bisa digadaikan oleh pemerintah untuk menerbitkan suku sehingga untuk fasilitas pendidikan itu tidak bisa lagi, macam kemarin ramai di “Republika” itu sendiri dinyatakan bahwa Gelora Soekarno itu digadaikan. Uang yang sekarang sudah cukup untuk dijual itu kurang lebih 15 trilyun. Di sini dikatakan bahwa pertama keuangan syariah yang selama ini dipercaya kokoh mempunyai daya tahan tinggi terhadap krisis ekonomi mulai dipertanyakan keabsahannya, paling tidak karena tiga indikasi yang sekarang ini mulai nampak di luar negeri.
Pertama munculnya penerbit suku yang gagal bayar.
Kedua menurunnya nilai asset perusahaan keuangan syariah karena turunnya nilai pasar surat berharga yang dimiliki. Ketiga mulai meningkatnya pembiayaan yang bermasalah. Jadi dampak daripada penggadaian itu yang sebenarnya, terus kalau dilihat di sini, hari Selasa tanggal 30 Juni 2009, utang negara dalam syariah. Penulis sudah pakar-pakar, saya sudah kirimkan ke sini, menyatakan bahwa
15. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Apa kaitanya hutang negara dalam syariah yang Saudara persoalkan di sini?
16. PEMOHON : BASTIAN LUBIS, SE., MM. Filosofinya Pak Hakim.
17. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM. SBSN yang Saudara ajukan ini (...)
18. PEMOHON : BASTIAN LUBIS, SE., MM. Sama Pak Hakim.
19. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM. Apanya?
20. PEMOHON : BASTIAN LUBIS, SE., MM.
Jadi di sini ini, dia menganulir bahwa lebih bagus mengadakan syariah yang macam infak, zakat dan sedekah dan wakaf. Terus di sini Yang Mulia dikatakan bahwa 2010 kita menargetkan untung, mencapai utang dan suku 2010 mencapai 104 trilyun. Nah oleh sebab itu, ini sendiri nantikan diterbitkan menggadaikan aset-aset yang publik punya. Jadi sekarang publik kita itu sendiri kalau misalnya sudah digadai dia tidak mempunyai lagi hak untuk memakai itu, jadi apa yang dikatakan tadi fasilitas Pasal 34 yang masalah rakyat itu tidak bisa dipakai lagi karena sudah digadaikan. Nah kalau Pak Hakim menyatakan bahwa kapan potensi terjadinya untuk saya, tidak bisa saya katakan bahwa itu potensi karena potensinya 10, 20 bahkan 60 tahun yang akan datang,
nah itu Pak Hakim. Itu yang berdampaknya, jadi saya mendukung sekali syariah ini tapi dengan mekanisme yang ada sekarang untuk menutup utang, untuk menutup APBN yang defisit itu menggadaikan barang-barang atau aset-aset (...)
21. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Apakah itu bukan legal policy? Aset yang digadaikan 60 tahun itu soal konstitusional atau tidak itu?
22. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM.
Kalau misalnya digadaikan, kita tidak tahu untuk apa uangnya dipakai nanti Pak Hakim? Bagaimana?
23. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Bagaimana bisa masuk ke negara, kalau tidak masuk ke negara korupsi.
24. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM.
Itu mungkin yang saya bisa ini, jadi jangan sampai macam menutup (...)
25. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM. Ya baik tunggu sebentar ya?
26. HAKIM ANGGOTA: DR. HARJONO, S.H., M.CL
Baik, pertama dari teknis perbaikan. Dari teknis perbaikan ini pertama atau baru dikirimkan lewat pos dan Mahkamah baru kemarin menerimanya sehingga Panitera baru tadi pagi mungkin baru mendapatkan itu, maaf.
Dari perbaikan disebutkan di situ, permohonan ini sebagai penggantinya dan itu menganggap sudah terdaftar pada tanggal. Sekarang kalau sebagai penggantinya, mestinya itu yang lama sudah ada diganti yang baru kan begitu. Cuma masalahnya perbaikan ini ada hal yang kurang dari segi penyusunan permohonan, tidak dibahas lagi kewenangan Mahkamah Konstitusi, legal standingnya tidak ada lagi perbaikan, kedudukan hukum tidak ada. Lalu masuk pada substansi-substansi saja, Anda kan begitu membuatnya? Padahal itu diganti, kalau diganti yang lama tidak berlaku yang baru begitu ya, yang baru Anda tidak bercerita itu tentang kewenangan Mahkamah Konstitusi padahal itu standar bagi permohonan yang dimasukkan di sini. Juga yang legal standing tadi Pak arsyad juga sudah menyebut tentang legal standing. Kedudukan hukum legal standing ini yang lama itu Anda mengutip saja apa yang sudah menjadi praktik di Mahkamah Konstitusi, cuma sebetulnya tidak hanya dikutip saja, buktikan yang lima itu Anda penuhi syaratnya itu. Yang lama tidak ada, yang baru juga tidak ada. Coba yang
dikutip pada halaman 2 permohonan yang pertama dulu adanya hak konstitusional yang diberikan yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, itu sebutkan dulu hak mana yang Anda gunakan saat permohonan ini. Pada waktu yang lalu anda menyebut banyak pasal. Pasal 18, 23, 24, 25, 27, 28, 29 soalnya Anda juga belum teliti benar karena diantar pasal itu sudah ada pasal yang dianggap pakai huruf, huruf a, huruf b dulu tidak ada, ini Anda hilangkan sekarang. Tapi ini juga harus ada kebutuhan bahwa Anda juga harus tunjuk pasal mana diantara pasal Undang-Undang Dasar itu yang kemudian langsung merugikan Anda. Kalau tadi diskusinya itu baru 6o tahun, kemudian itu potensinya bisa dilihat sekarang. Potensi, itu tidak bisa kalau itu menjadi kerugian yang nyata, potensi ini baru bisa dilihat hitungan Anda apa itu? Lalu Anda ragu-ragu kemana duit itu padahal Pasal 4 dari undang-undang yang Anda masalahkan itu jelas, kebutuhan untuk membuat itu jelas di Pasal 4 itu ada kebutuhan untuk APBN—Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Jadi duit itu pasti masuk APBN. Kalau tokh itu juga untuk proyek. Nah
untuk proyek ini tidak menguntungkan tidak memberikan hasil proyek itu, kalau proyeknya kemudian itu jalan tol memberikan hasil balik, itu persoalannya. Jadi ini hal-hal yang harus ditutup, jangan sampai hakim kemudian tanya, kalau begini bagaimana? Ternyata juga argumen Anda tidak kuat ya, 60 tahun ternyata bisa dihitung, duit ini untuk apa, di APBN disebutkan di Pasal 4 ya. Ini yang perlu untuk meyakinkan bagaimana hakim untuk memeriksa perkara Anda ini.
Kemudian juga sebetulnya ada di Pasal 11 itu dinyatakan di situ ya? Pasal 11 ayat (3) itu ada penjelasannya begini, “penggunaan barang milik negara sebagai aset SBN tidak mengurangi kewenangan instansi pengguna barang milik untuk tetap menggunakan barang milik negara yang dimaksud sesuai dengan penggunaan awalnya, sehingga untuk tanggung jawab untuk pengelolaan barang milik negara itu tetap pada instansi pengguna barang milik negara sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan, pemerintahan tersebut bukan permintaan persetujuan atau pertimbangan.” Anda bagaimana dengan penjelasan Pasal 11 ayat (3) ini? Ini bermakna sesuatu? Kalau dilihat di sini meskipun title-nya berpindah, ini tidak ada penguasaan? Kalau sesuai dengan maksud underline, itu tidak akan ada perpindahan just in case
gagal bayar. Itu underline baru mempunyai fungsi. Kalau tidak ada itu tetap di situ saja sebagai underline aset. Ini juga kalau Anda itu melihat potensi itu ada, ceritakan bagaimana dengan hal hal seperti itu tentang
underline statusnya dimana, itu hal hal. Jadi buka masalahnya yang meng-counter Anda, tetapi itu menjadi tantangan kami, kecurigaan Anda masuk akal tidak? Karena ada hal hal seperti itu dinyatakan di dalam undang-undang, jangan-jangan Anda belum paham maksud yang undang-undang itu, meskipun di undang-undang ada seperti itu tetapi lain halnya kalau itu begini, begini? Ini yang kami perlu pahami, bagaimana Anda membuat argumentasi tentang persoalan-persoalan itu.
Kemudian kalau Anda tadi Anda umpamakan ada di surat kabar katanya, ada gagal bayar suku, undang-undang di Indonesia saja baru Tahun 2008, ya sekarang tahun 2009. Apa sudah ada gagal bayar? Kalau itu obligasi paling-paling kalau dijual itu lalu kemudian dijual di bawah harga, artinya kan kemudian tidak perlu membayar, hanya dijual di bawah berapa harga obligasi itu. Kalau kemudian suratnya suku itu kira kira berapa kan harga nilai nilainya berapa, kemudian itu dipotong saja berapa saja? Tolong ini disebutkan bagaimana contoh gagal bayar kalau itu sudah terjadi di negara kita. Kecuali kalau Abu Dhabi itu persoalan lain. Abu Dhabi itu bukan kepunyaan negara ya? Yang melakukan itu bukan negara tetapi sebuah—jadi ini hal hal yang Anda sebut ya, tolong juga di buat argumentasinya untuk meyakinkan kita ya?
Ini hal-hal yang berkaitan dengan teknis pembuatan juga hal-hal yang berkaitan dengan substansi. Karena ini kesempatan terakhir ya bagi Anda setelah 14 hari, mohon nanti dibuat suatu renvoy terutama pada sebagai pengganti. Saya ingin memberikan suatu jalan keluar saja. Ganti saja sebagai pelengkap, kalau sebagai pengganti nanti kita terima “yang baru itu,” itu yang diterima ya? Karena ini adalah nasihat bagi Anda, di renvoy saja, itu tidak sebagai pengganti itu sebagai pelengkap dan sebagai ralat. Kalau ralat hal-hal yang dulu ini tidak ada, sekarang ada yang dianggap adalah yang baru, kalau dulu ada sekarang tidak ada yang dianggap yang baru. Jadi supaya tidak ada kebuntuan, Anda mengatakan diganti waktunya hampir habis, pada saat waktu diperiksa ini Anda juga tidak lengkap untuk membuat gantinya.
Itu saja yang saya sarankan. Nanti hal-hal yang saya sampaikan tadi, kalau tidak mungkin ditulis di sini, sampaikan pada sidang berikutnya. Pikiran-pikiran itu sampaikan pada sidang berikutnya ya. Ini jalan keluar yang saya sampaikan agar Anda bisa masuk dalam persidangan-persidangan berikutnya.
Saya kira begitu Pak Ketua Terima kasih.
27. HAKIM ANGGOTA: PROF. DR. ACHMAD SODIKI, S.H.
Ya, saya kira sudah banyak yang sudah disampaikan Saudara. Cuma ya memang agak, Saudara harus bisa meyakinkan bahwa suatu aset itu kalau digadaikan, apakah benar yang menyewa sudah tidak bisa menggunakan lagi? Sekarang lihat asas-asas hukum perdatanya, jual beli, penghibahan, mengalihkan atau memberikan kepada orang lain itu tidak memutus sewa-menyewa, itu kan asas sebetulnya. Lha kalau Saudara berpendapat begitu itu lalu dasarnya apa? Mesti diyakinkan sebab sewa-menyewa itu apalagi sudah ada keterangan pada Pasal 11 ayat (3) tadi, penjelasan dibaca lagi di situ ya.
Yang kedua itu Pasal 28 ayat (2) itu Saudara minta diperlakukan khusus. Nah mengapa Saudara harus diperlakukan khusus, yang
diperlakukan khusus untuk bisa memperoleh kesempatan, manfaat yang sama mencapai persamaan dan keadilan memang itu orang yang khusus, kalau tidak diperlakukan khusus. Jadi kalau Saudara itu nanti menggunakan lift di bandara untuk Saudara yang normal itu tidak benar, yang menggunakan adalah orang yang cacat, yang tidak seperti Saudara supaya Saudara mereka mendapat keadilan sampai di atas tidak sesuai dengan hak-hak dia. Nah sekarang perlakuan khusus untuk Saudara yang Pasal 28 ayat (2) itu apa? Mengapa harus diperlakukan khusus, juga Pasal 34 ayat (3) “negara bertanggung jawab penyediaan pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum,” ini hubungan yang Saudara ingin di drop artinya kepingin dibatalkan pasal itu apa? Apa justru dengan adanya penerbitan itu tadi justru negara mampu untuk menyediakan fasilitas kesehatan dan pelayanan umum. Tetapi Saudara menafsirkannya kebalik atau Saudara menafsirkan dari sisi negara tidak bisa kemudian menggunakan, menyediakan pelayanan kesehatan dan fasilitas umum, itu yang kedua.
Yang ketiga ialah, memang harus diyakinkan bahwa Saudara Bastian Lubis, S.E, M.M ini adalah warga negara yang dengan pasal itu barangkali memang Saudara punya peristiwa yang menimpa Saudara yang karena adanya itu lalu Saudara dirugikan. Jadi konkret barangkali, saya misalnya punyak hak mencoblos tetapi tidak terdaftar di sana oleh undang-undang saya tidak bisa mencoblos, itu kan jelas. Sekarang saudara punya hak tetapi dengan adanya itu terhalang hak Saudara yang dijamin oleh UUD, sehingga undang-undang yang demikian itu harus dibatalkan karena menghalang-halangi Saudara mendapatkan hak itu, di situ Saudara akan mendapat bisa menjelaskan tentang kerugian konstitusional Saudara yaitu kerugian yang dijamin hak Saudara oleh UUD. Nah kalau itu saya kira di elaborasi dengan lebih baik, itu saya kira akan lebih baik ini permohonan-permohonan ini, terima kasih.
28. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Saudara Pemohon maupun kuasa hukumnya, coba di butir halaman 3. 567 perbaikan Saudara coba dibaca baik-baik itu Pasal 51 itu ada 5 syarat yurisprudensi itu sudah dibuat oleh Mahkamah Konstitusi.
Nah berlakunya Pasal 10 ayat (1) yang berisi muatan ini Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 sangat merugikan hak dan atau kewenangan konstitusional Pemohon selaku perorangan sangat merugikan hak, konstitusional Saudara bertentangan dengan Pasal 28H ayat (2). Materi muatannya itu, apa materi muatan Pasal 10 kemudian butir 6 lagi mengenai penggunaan barang milik negara sebagai dasar penerbitan surat berharga syariah negara ini, tanah bangunan bertentangan dengan Pasal 28H ayat (2) perlakuan khusus memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama untuk persamaan keadilan. Dimana ini konkretnya Saudara, faktualnya, potensialnya Saudara merasa dirugikan dengan berlakunya Pasal 10 dan Pasal 11 Undang-Undang tentang Surat
Berharga ini? Panel belum melihat itu, kalau perbaikan hanya itu saja kerugian secara sumir saja saya merasa dirugikan. Dari saran-saran Pak Harjono tadi maupun Pak Achmad Sodiki tadi ini seolah-olah Saudara ini membaca undang-undang ini secara parsial, tidak komprehenshif. Sehingga, coba halaman 3 saja Saudara baca sendiri, bagaimana kita menterjemahkan itu kerugian yang mana Saudara di situ, sedang Saudara mengakui ada aset negara kemudian Saudara baca konsideran baca undang-undang ini, disitu ada akad. Saudara paham betul itu ini saya bacakan supaya Saudara jelas. “Akad adalah perjanjian tertulis tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Objek aset SBSN adalah objek pembiayaan barang milik negara yang mempunyai nilai ekonomis.” Ini istilah-istilahnya ada mudarabah, musyaraka, semua ada itu ada di dalam konsideran pertimbangan undang-undang ini. Saudara sudah baca.
Ini perbaikan Saudara sendiri apa yang dikemukakan Pak Harjono tidak menggambarkan legal standing maupun kewenangan Mahkamah, langsung saja Saudara potong kompas apakah ada komentar atau respon mengenai ini.
29. KUASA HUKUM PEMOHON: SAID, S.H.
Terima kasih Majelis Hakim Konstitusi Yang Mulia.
Pada prinsipnya untuk saran dari anggota Majelis mengenai ini, apakah ini pengganti atau pelengkap yang pertama bahwa kami setuju dengan melengkapi karena situasinya mungkin tidak bisa kami merubah, sebab waktu kami melakukan perubahan ini kami tidak memasukkan ini ada kesalahan, mungkin ini kesalahan tulis kami. Itu yang kami masukkan adalah kami melengkapi, sebab di permohonan yang pertama kami sudah dijelaskan mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi dan sebagian legal standing dari Pemohon.
Terus yang mengenai perubahan kalau Majelis Mahkamah Konstitusi masih memberikan kesempatan kepada kami, kepada Pemohon Prinsipal untuk memperbaiki kami akan memperbaiki apa yang menjadi akan kami lebih mempertajam lagi apa yang menjadi saran dan dari Majelis Konstitusi untuk lebih mengkonkretkan apa yang menjadi uji materi yang kami ajukan selaku Pemohon prinsipal. Saya kira itu yang kami ingin sampaikan.
30. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Jadi perbaikan tidak berarti secara parsial, perbaikan itulah yang menjadi dasar ya. Dasar pengujian ya, ya itu. Nah, kalau Saudara perbaikannya hanya ini tanpa legal standing, tanpa kewenangan Mahkamah kemudian hanya menguraikan saja Pasal 10, 11 menguraikan menghilangkan ini. Harusnya yang menjadi perbaikan itu lengkap betul
kelihatan di sana. Lho ini loh kerugian konstitusional saya, ya dengan berlakunya ini.
Saudara renvoy ini waktunya sampai sore ini ya. Perbaiki!! 31. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM.
Ya Pak.
32. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Sampai sore. Ya kalau tidak, tidak lagi itu. Kalau ini yang diterima ini secara formal tidak memenuhi syarat ya sebagai suatu permohonan. Karena satu permohonan itu ada positanya, ada petitumnya, ada gambaran tentang legal standing Saudara, ada gambaran tentang sejauh mana kewenangan Mahkamah.
Jadi Saudara sore ini, itu Pak Panitera ya, tolong dicatat sampai jam berapa ini? Sampai jam 17.00 ya. Kita memang bekerja sampai jam 17.00 ya? Ya, jam 5 itu batasnya diterima. Lewat satu menit tidak bisa diterima ya.
Ada komentar lagi? Ada respon lagi? Kalau tidak, kami beri kesempatan Saudara sampai jam 5. Sampai jam 5 sore untuk memperbaiki, apakah Saudara mau renvoy dengan baik. Ini kan ada copy-nya toh? Ada flash nya ya? Sisa ditambah–tambah saja saran daripada Mahkamah tadi.
33. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM. Izin Pak Majelis Hakim, minta izin Pak.
34. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Baik Saudara Pemohon, ini alat buktinya ada 3 ya? Oh, referensi surat kabar “Republika” ya? Jadi 4 alat bukti, Undang-Undang Dasar Tahun 45, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara, referensi surat kabar ya? Ada lagi bukti tambahan lagi, tidak ada lagi?
35. PEMOHON: BASTIAN LUBIS, S.E., MM. Cukup Pak Hakim. Ada flash disini.
36. KETUA : DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM.
Jadi baik, untuk ini pengesahan bukti dulu ya. 4 alat bukti yang Saudara sampaikan, kami nyatakan ini bukti tertulis Saudara ini dinyatakan sah.
Eh, jadi itu batas sampai jam 5 ya. Saudara perbaiki lengkap ya? Jadi yang lama ini sudah hilang, uraikan lagi kembali. Dimana tergambar
legal-nya, legal standing-nya, tergambar kewenangan Mahkamah kemudian dimana letak kerugian Saudara ya.
Ada 5 syarat itu. Ada kerugian yang spesifik, aktual, potensial, kongkret bahwa hak-hak Saudara betul-betul dengan berlakunya undang-undang ini ya.
Baik Saudara, dengan demikian ya untuk memberi kesempatan untuk Saudara untuk memperbaiki sampai jam 5 sore, maka dengan demikian sidang perkara pada hari ini selesai dan sidang akan ditutup.
SIDANG DITUTUP PUKUL 11.45 WIB KETUK PALU 3X