TERHADAP MUTU PUCUK TANAMAN TEH
(Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) DI UNIT PERKEBUNAN
TANJUNGSARI, PT. TAMBI, WONOSOBO, JAWA TENGAH
INDRIANI NOVITA PRATIWI A24070131
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
RINGKASAN
INDRIANI NOVITA PRATIWI. Analisis Pemetikan dan Pengaruhnya terhadap Mutu Pucuk Tanaman Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) di Unit Perkebunan Tanjungsari, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah. (Dibimbing oleh ADOLF PIETER LONTOH).
Kegiatan magang dilaksanakan selama empat bulan mulai tanggal 14 Februari sampi 14 Juni 2011 di Unit Perkebunan Tanjungsari, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah. Tujuan umum dari kegiatan magang ini adalah untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman mengenai aspek pemetikan daun teh serta menambah dan mengembangkan keterampilan di lapangan dan membandingkan dengan teori yang telah didapat di bangku kuliah. Tujuan khusus dalam kegiatan magang ini adalah mempelajari aspek - aspek pemetikan dan faktor - faktor yang berpengaruh terhadap analisis pemetikan sehingga dihasilkan pucuk teh yang bermutu.
Penulis melaksanakan kegiatan magang dengan dua metode yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung dilakukan dengan mengikuti langsung segala kegiatan yang telah dijadwalkan oleh perusahaan, metode tidak langsung dilakukan dengan mengambil data sekunder yang bersumber dari arsip maupun laporan-laporan dari kantor.
Kegiatan langsung yang dilakukan penulis meliputi kegiatan yang bersifat teknis maupun manajerial. Kegiatan yang bersifat teknis dilakukan selama satu bulan dengan menjadi Karyawan Harian Lepas (KHL) diantaranya: pemeliharaan pembibitan, pmeliharaan TBM dan TM serta pemetikan. Kegiatan yang bersifat manajerial meliputi satu bulan menjadi pendamping mandor dan dua bulan menjadi pendamping kepala blok. Selama menjadi pendamping mandor kegiatan yang dilakukan diantaranya membantu mengawasi pekerja dan membuat laporan harian atau mingguan. Sedangkan selama menjadi pendamping kepala blok kegiatan yang dilakukan diantaranya membantu mengawasi mandor, membentu pembuatan laporan upah dan belajar mengenai pembuatan RKAP.
Kegiatan pemetikan di UP (Unit Perkebunan) Tanjungsari menerapkan jenis pemetikan medium dan memiliki gilir petik yang masih bervariasi antara 8 - 19 hari.
bahkan cenderung berlebih. Kondisi tanaman di UP Tanjungsari sedang dalam kondisi yang tidak sehat sehingga diadakan Program Recovery yang bertujuan untuk menyehatkan tanaman kembali. Program Recovery ini berisi beberapa kegiatan yang umumnya tidak dilakukan dalam budidaya tanaman teh, tetapi dilakukan di UP Tanjungsari agar tanaman dapat sehat kembali.
Analisis pemetikan di UP Tanjungsari terdiri dari analisis petik yang dilakukan oleh mandor di kebun dan analisis pucuk yang dilakukan di pabrik pengolahan. Rata - rata dari analisis petik pada masing-masing blok selama bulan Maret-Mei 2011 adalah 44.41 % dan termasuk dalam petikan medium. Analisis pucuk untuk masing-masing blok selama bulan Maret - Mei 2011 berkisar antara 33.89 % - 45.95 % untuk pucuk memenuhi syarat olah (MS). Analisis pemetikan diantaranya dipengaruhi oleh gilir petik, ketinggian tempat, tahun pangkas dan jenis klon.
Gilir petik dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan pucuk. Semakin pendek gilir petik maka hanca petik akan semakin luas. Hal ini karena semakin pendek gilir petik maka pertumbuhan peko semakin banyak sehingga hanca petik juga semakin luas. Ketersediaan pucuk ini harus diimbangi dengan penanganan yang tepat setelah pemetikan agar mutu pucuk tetap terjaga dari saat pemetikan sampai pucuk sampai di pabrik dan diolah. Ketersediaan pucuk juga mempengaruhi kapasitas pemetik, semakin banyak ketersediaan pucuk maka kapasitas pemetik juga akan semakin besar. Ketepatan kegiatan pemetikan harus didukung oleh sarana panen dan transportasi agar kegiatan panen dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan perusahaan.
Salah satu hal yang mempengaruhi produktivitas adalah tahun pangkas. Produktivitas berdasarkan tahun pangkas di UP Tanjungsari mencapai puncaknya pada tahun pangkas ketiga yaitu rata-rata untuk ketiga blok adalah 2 562.68 kg/ha/th. Produktivitas tanaman mulai menurun pada tahun pangkas keempat sehingga pada tahun pangkas keempat tanaman perlu dipangkas untuk menaikkan produksi dan produktivitasnya. Hal ini bertujuan agar tanaman dapat tumbuh kembali dan mengahsilkan pucuk - pucuk baru yang berkualitas.
ANALISIS PEMETIKAN DAN PENGARUHNYA
TERHADAP MUTU PUCUK TANAMAN TEH
(Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) DI UNIT PERKEBUNAN
TANJUNGSARI, PT. TAMBI, WONOSOBO, JAWA TENGAH
Skripsi sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
INDRIANI NOVITA PRATIWI
A24070131
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Judul : ANALISIS PEMETIKAN DAN PENGARUHNYA
TERHADAP MUTU PUCUK TANAMAN TEH
(Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) DI UNIT
PERKEBUNAN TANJUNGSARI, PT. TAMBI,
WONOSOBO
Nama : Indriani Novita Pratiwi
NIM : A24070131
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Ir. Adolf Pieter Lontoh, MS. NIP. 19570711 198111 1 001
Mengetahui.
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB
Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr NIP. 19611101 198703 1 003
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Rembang propinsi Jawa Tengah pada tanggal 30 November 1989. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Endro Pranoto dan Ibu Tri Setyo Nurhaeni.
Penulis mengawali pendidikan di SD Negeri 1 Pamotan pada tahun 1995 dan lulus pada tahun 2001. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Pamotan dan lulus pada tahun 2004. Penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Rembang dan lulus pada tahun 2007.
Pada tahun 2007 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) di Fakultas Pertanian Departemen Agronomi dan Hortikultura. Selama menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor penulis aktif pada Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) sebagai sekertaris. Penulis juga aktif dalam kepanitiaan beberapa kegiatan, diantaranya SERI A, Festival Tanaman, Agrosportment dan Seminar Pertanian Nasional.
Pada tahun 2010 penulis menjadi asisten praktikum untuk mata kuliah Manajemen Air dan Hara Tanaman. Tahun 2010 penulis melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Pada tahun 2011 penulis melaksanakan kegiatan magang di Unit Perkebunan Tanjungsari, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kemudahan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi yang berjudul Analisis Pemetikan dan Pengaruhnya terhadap Mutu Pucuk Tanaman Teh (Camellia Sinensis (L.) O. Kuntze) di Unit Perkebunan Tanjungsari, Wonosobo, Jawa Tengah. Melalui kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu, Bapak dan Adik atas doa, perhatian, dukungan dan semangatnya yang tidak pernah berhenti.
2. Bapak Ir. Adolf Pieter Lontoh, MS selaku pembimbing skripsi atas segala bimbingan dan masukannya selama ini. Bapak Ir. Supijatno, MSi selaku dosen penguji dan Ibu Dr. Ani Kurniawati, SP., MSi selaku dosen wakil urusan departemen. Bapak Dr. Ir. Herdhata Agusta selaku pembimbing akademik.
3. Direksi PT Tambi, Bapak Dwi Sujarwo selaku Pimpinan Unit Perkebunan Tanjungsari dan Bapak Yoyo selaku Kepala Kantor Induk Unit Perkebunan Tambi. Bapak Muhni selaku Kepala Bagian Kebun Unit Perkebunan Tanjungsari yang telah bersedia menjadi Pembimbing Lapang penulis.
4. Pak Zunaidi, Pak Kholik, Pak Yani dan Pak Suradi selaku kepala blok yang telah banyak memberikan pengalaman.
5. Ibu Wati dan segenap staf Kantor Kebun maupun Kantor Induk Unit Perkebunan Tanjungsari. Keluarga Ibu Lis dan Pak Jaman serta masyarakat implasmen atas segala keramahan dan keterbukaan hati menerima penulis di Unit Perkebunan Tanjungsari.
6. Teman hati dan tempat berbagi, Bagus, Siska, Evi, Pipit, Marcha atas semua dukuangan, doa, semangat dan kebahagiaan yang sudah dilewati selama ini.
7. Teman berbagi selama 4 bulan, Qori serta teman seperjuangan Walad dan Asim atas semangat dan dukungan yang selalu diberikan.
8. Teman - teman Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 44 atas semangat dan dukunganya selama ini.
9. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Bogor, September 2011
Halaman
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 Botani Teh ... 3 Syarat Tumbuh ... 3 Pemetikan ... 4 Analisis Pemetikan ... 6 METODE MAGANG ... 7
Waktu dan Tempat ... 7
Metode Pelaksanaan ... 7
Pengamatan dan Pengumpulan Data ... 8
Pengolahan Data ... 10
KEADAAN UMUM ... 11
Sejarah Kebun ... 11
Letak Wilayah Administratif ... 12
Keadaan Iklim dan Tanah ... 12
Luas Areal dan Tata Guna Lahan... 13
Kedaan Tanaman, Produksi dan Pemasaran ... 13
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan ... 15
Program Recovery ... 17 PELAKSANAAN DI LAPANG ... 19 Aspek Teknis ... 19 Aspek Manajerial ... 37 PEMBAHASAN ... 40 Analisis Petik ... 40 Analisis Pucuk ... 46
Gilir Petik dan Hanca Petik ... 48
Kapasitas Pemetik ... 50
Halaman
Sarana Panen dan Transportasi ... 53
Produktivitas berdasarkan Umur Pangkas ... 55
KESIMPULAN DAN SARAN ... 57
Kesimpulan ... 57
Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Luas Areal dan Tata Guna Lahan Tahun 2011 ... 13
2. Luas Areal dan Jenis Klon Tanaman Teh Tahun 2011 ... 14
3. Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Pucuk Basah dan Kering Tahun 2006 - 2010 ... 15
4. Tingkatan dan Jumlah Karyawan ... 17
5. Kebutuhan Pupuk Tunggal Tahun 2011 ... 24
6. Dosis dan Jenis Herbisida ... 26
7. Jenis Petikan Hasil Analisis Petik Bulan Maret-Mei 2011 ... 40
8. Analisis Petik Berdasarkan Gilir Petik ... 42
9. Analisis Petik Berdasarkan Dua Ketinggian ... 43
10. Analisis Petik Berdasarkan Tahun Pangkas ... 44
11. Analisis Petik Berdasarkan Jenis Klon ... 45
12. Analisis Pucuk Bulan Maret - Mei 2011 ... 47
13. Kapasitas Pemetik Bulan Maret – Mei 2011 ... 50
14. Kebutuhan Tenaga Pemetik (TP) UP Tanjungsari ... 52
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Rumah Naungan ... 19
2. Bedeng yang Masih Disungkup ... 21
3. Bedeng yang Telah Dibuka Sungkupnya ... 21
4. Kegiatan Pemupukan Tanah ... 23
5. Alat-alat yang Digunakan dalam Pemupukan ... 24
6. Gulma di Areal TM ... 26
7. Daun yang Terkena Hama Penggulung Pucuk ... 28
8. Kegiatan Pengendalian Hama dan Penyakit ... 29
9. Kegiatan Gacok di Areal TBM ... 30
10. Pucuk Peko ... 32
11. Pucuk Burung ... 32
12. Kegiatan Pemetikan Produksi ... 33
13. Kegiatan Pemangkasan ... 36
14. Hasil Pangkasan Jambul ... 36
Nomor Halaman
1. Jurnal Harian Magang sebagai Karyawan Harian Lepas ... 62
2. Jurnal Harian Magang sebagai Pendamping Mandor ... 64
3. Jurnal Harian Magang sebagai Pendamping Kepala Blok ... 66
4. Peta Kebun Unit Perkebunan Tanjungsari ... 69
5. Deskripsi Klon ... 70
6. Rencana dan Realisasi Produksi dan Produktivitas 2006 - 2010 ... 71
7. Rencana dan Realisasi Produksi Pucuk Basah dan Kering Januari - Mei 2011 ... 71
8. Data Curah Hujan UP Tanjungsari Tahun 2001 - 2010 ... 72
9. Analisis Pucuk UP Tanjungsari Tahun 2010 ... 73
10. Analisis Pucuk UP Tanjungsari Bulan Januari - Mei 2011 ... 73
11. Struktur Organisasi Unit Perkebunan Tanjungsari ... 74
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman teh berasal dari wilayah perbatasan negara - negara Cina Selatan (Yunan), Laos Barat Laut, Muangthai Utara, Burma Timur dan India Timur Laut yang merupakan vegetasi hutan daerah peralihan tropis dan subtropis (PPTK, 2006). Menurut Setyamidjaja (2000) tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1684 berupa biji teh dari Jepang. Biji teh ini dibawa oleh seorang warga Jerman bernama Andreas Cleyer dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Sekarang teh telah banyak dibudidayakan dalam bentuk perkebunan, baik yang dikelola oleh negara maupun swasta.
Komoditas teh merupakan tanaman yang menyegarkan dan menyehatkan sehingga mempunyai peranan yang sangat strategis dalam perekonomian Indonesia. Komoditas teh Indonesia sudah sangat terkenal dan memiliki keunggulan dibandingkan produk serupa dari China, bahkan sumbangan devisa dari ekspor teh nasional pada tahun 2010 mencapai USD 110 juta (Rp 1 trilyun) per tahun (PTPN VIII, 2010). Peran lain dari subsektor perkebunan teh selain menyumbang devisa bagi negara adalah penyediaan lapangan kerja bagi sebagian penduduk Indonesia. Hal ini dikarenakan pada umumnya letak perkebunan teh berada di pedesaan atau lebih tepatnya pegunungan. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (2007), diperkirakan perkebunan teh melibatkan kurang lebih 286 000 tenaga kerja dan mampu mendorong berkembangnya ekonomi di wilayah tersebut.
Luas areal perkebunan teh Indonesia tahun 2007 adalah 133 734 ha dengan produksi 150 623 ton dan produktivitas sebesar 1 363 kg/ha/th. Volume ekspornya mencapai 83 658 ton, sedangkan volume impornya mencapai 10 336 ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2009). Pada tahun 2009 luas areal perkebunan teh Indonesia mengalami penurunan menjadi 123 506 ha tetapi didukung dengan kenaikan produksi menjadi 156 901 ton dan produktivitas sebesar 1 432 kg/ha/th (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2011).
Peningkatan produksi tanaman teh dapat dilakukan dengan teknik budidaya yang baik dan benar agar diperoleh pucuk teh yang bermutu tinggi baik secara kualitas maupun kuantitas. Pucuk teh merupakan bahan baku dalam pengolahan teh, baik teh hitam maupun teh hijau (PPTK, 2006). Mutu pucuk hasil pemetikan, yaitu kehalusan dan keseragaman jenis pucuk dipengaruhi oleh panjang daur pemetikan (Mahmud dan Sukasman, 1988). Kualitas pucuk juga dapat ditingkatkan dengan memperhatikan cara dan jenis pemetikan serta manajemen tenaga kerja.
Pemetikan sendiri merupakan suatu cara pemungutan pucuk tunas yang masih muda yang selanjutnya diolah menjadi bahan baku utama. Pemetikan berpengaruh pada kesehatan tanaman, kelestarian produksi dan mutu jadi. Waktu pemetikan menentukan kualitas teh yang diproduksi. Umur tanaman perlu diperhatikan agar pemetikan dapat dilakukan pada waktu yang tepat dan dihasilkan teh yang berkualitas. Sistem dan waktu pemetikan juga harus disesuaikan agar dihasilkan produksi yang berkualitas tinggi. Melalui sistem pemetikan yang dilaksanakan, diharapkan dapat mempertahankan kualitas dan kuantitas hasil panen (Setyamidjaja, 2000).
Tujuan
Tujuan umum kegiatan magang ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman penulis mengenai aspek pemetikan daun teh serta menambah dan mengembangkan keterampilan yang diperoleh di lapangan dan membandingkannya dengan teori yang didapat di bangku kuliah.
Tujuan khusus dalam kegiatan magang ini adalah mempelajari aspek - aspek pemetikan dan faktor - faktor yang berpengaruh terhadap analisis petik.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Teh
Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) termasuk kedalam famili Theaceae, kelas Dicotyledone dan genus Camellia (Eden, 1965). Tanaman teh berasal dari daerah subtropis pada 250 LU - 350 LS dan 950 BT - 1050 BT yang terletak diantara pegunungan di Asia Barat sampai pegunungan di Asia Tenggara (Setyamidjaja, 2000). Tanaman ini akan tumbuh baik di daerah dataran tinggi meskipun tidak menutup kemungkinan tanaman teh juga dapat tumbuh di dataran rendah tetapi dengan mutu yang kurang baik.
Tanaman teh berbentuk pohon dan biasanya dipangkas ketika tingginya mencapai 90 - 120 cm. Menurut Putri (2002) ketinggian tanaman teh berbeda - beda, untuk teh Cina ketinggiannya dapat mencapai 2.75 m, sedangkan teh jenis Assamica mencapai 6 - 8 m. Akar tanaman teh merupakan akar tunggang yang panjang, daunnya berbentuk bulat telur terbalik dengan tepi yang bergerigi.
Syarat Tumbuh
Ketinggian optimum untuk tanaman teh adalah 700 - 1 200 m dpl, sebagaimana yang terlihat di beberapa perkebunan teh di Jawa barat. Tanaman teh yang tumbuh pada ketinggian lebih dari 1 200 m dpl akan menghasilkan produksi optimum setelah tanaman berumur 10 tahun (Fordham, 1977). Menurut Ghani (2002) semakin tinggi daerah penanaman teh maka semakin tinggi pula mutunya.
Lingkungan fisik yang baik diperlukan untuk pertumbuhan tanaman teh. Kondisi iklim yang mendukung akan mempengaruhi mutu daun teh. Tanaman teh memerlukan curah hujan tahunan sekitar 2 000 mm - 2 500 mm dan suhu harian berkisar 130 C - 150 C. Kelembaban relatif yang dibutuhkan untuk siang hari tidak kurang dari 70 % (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 1992).
Kondisi tanah juga turut menentukan mutu daun teh. Tanah dengan kedalaman olah tinggi, berdrainase baik serta kaya unsur hara sangat cocok untuk areal perkebunan teh. Adisewojo (1982) menambahkan tanaman teh dapat tumbuh
pada berbagai jenis tanah di daerah pegunungan tinggi, tanah pegunungan tua, tanah laterik merah dan merah tua yang terbentuk bukan dari endapan laut.
Pemetikan
Pemetikan merupakan cara pengambilan hasil tanaman teh berupa pucuk daun yang dilakukan secara teratur dan terus menerus sesuai dengan persyaratan dalam pengolahan teh. Pemetikan berfungsi membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan (Setyamidjaja, 2000). Teknik pemetikan teh yang efektif dan efisien sangat menentukan maksimal atau tidaknya produksi teh (Anggorowati, 2008).
Mutu pucuk teh yang dipetik berhubungan dengan sistem pemetikan yang diterapkan oleh perkebunan teh. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam pemetikan adalah gilir petik dan hanca petik. Gilir petik adalah jarak waktu antara satu pemetikan dengan pemetikan selanjutnya yang dipengaruhi oleh pertumbuhan tunas dan kecepatan pertumbuhan pucuk. Hanca petik adalah luas areal pemetikan yang harus diselesaikan oleh pemetik dalam satu hari (Qibtiyah, 2009).
Menurut Adisewojo (1982), pemetikan teh dibagi menjadi tiga jenis yaitu pemetikan jendangan, pemetikan produksi, dan pemetikan gendesan. Pemetikan jendangan dilakukan pada tahap awal setelah tanaman dipangkas, dengan tujuan membentuk bidang petik. Setelah tiga sampai lima kali pemetikan jendangan, selanjutnya dapat dilakukan pemetikan produksi. Pemetikan produksi bertujuan untuk mendapatkan pucuk untuk pengolahan serta membentuk kondisi tanaman agar mampu menghasilkan produksi yang tinggi. Sedangkan pemetikan gendesan merupakan pemetikan pucuk daun teh yang dilakukan beberapa bulan sebelum tanaman dipangkas dengan tujuan mengurangi kehilangan produksi akibat pemangkasan.
Setyamidjaja (2000) menyatakan bahwa selain jenis pemetikan, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemetikan tanaman teh, diantaranya :
5
1. Jenis petikan
Jenis petikan merupakan jenis/macam pucuk yang dihasilkan dalam pelaksanaan pemetikan. Ada tiga jenis petikan yang umum dikenal, yaitu : a. Petikan halus, merupakan pucuk yang yang dihasilkan dari pucuk peko
(p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b) dengan satu daun muda (m). Rumus petiknya p+1 atau b+1m.
b. Petikan medium, merupakan pucuk yang dihasilkan dari pucuk peko dengan dua daun, tiga daun muda, serta pucuk burung dengan satu, dua, atau tiga daun muda. Rumus petiknya p+2, p+3m, b+1m, b+2m, b+3m.
c. Petikan kasar, merupakan pucuk yang dihasilkan dari pucuk peko dengan empat daun atau lebih dan pucuk burung dengan beberapa daun tua (t). Rumus petiknya p+4 atau lebih, b+(1+4)t.
2. Giliran petik
Gilir atau daur petik adalah selang atau jangka waktu antara satu pemetikan dengan pemetikan lainnya yang dihitung dalam hari. Faktor - faktor yang mempengaruhi gilir petik diantaranya :
a. Umur pangkas, semakin tua umur pangkas maka makin panjang daur petiknya.
b. Iklim, gilir petik pada musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan.
c. Elevasi, makin tinggi ketinggian suatu kebun dari permukaan laut, makin panjang gilir petiknya.
d. Kesehatan tanaman, makin sehat tanaman, makin cepat pertumbuhannya.
3. Hanca petik
Hanca petik ataupun areal petik adalah luas areal pemetikan yang harus selesai dipetik oleh pemetik dalam satu hari.
produksipucukha 4. Tenaga pemetik
Jumlah tenaga pemetik (TP) dapat dihitung dengan rumus :
th x rendemen kapasitaspemetikHKE
ha /th
x 100 A %
dengan A merupakan persentase absensi pemetik dalam satu tahun.
Analisis Pemetikan
Kegiatan analisis pemetikan perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan pemetikan yang dilakukan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan suatu perusahaan atau belum. Ada dua macam analisis pemetikan yaitu analisis petik dan analisis pucuk (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Analisis Petik
Analisis petik adalah pemisahan pucuk berdasarkan pada jenis pucuk atau rumus petik yang dihasilkan dari pemetikan yang telah dilakukan dan dinyatakan dalam persen. Kegunaan analisis petik adalah untuk menilai kondisi tanaman, menilai ketepatan pelaksanaan pemetikan baik daur maupun cara pemetikan, serta menilai keterampilan pemetik (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Analisis Pucuk
Analisis pucuk merupakan kegiatan pemisahan pucuk yang didasarkan pada bagian muda dan tua serta bagian yang rusak yang dinyatakan dalam persen. Pucuk yang rusak yaitu pucuk yang sobek, terlipat maupun terperam. Tujuan analisis pucuk adalah untuk menilai kondisi pucuk yang akan diolah, menentukan harga pucuk serta memperkirakan mutu teh jadi yang dihasilkan (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006). Analisis pucuk juga dapat digunakan untuk menentukan premi yang diterima pemetik apabila persentase pucuk yang memenuhi syarat olah memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan.
METODE MAGANG
Waktu dan Tempat
Kegiatan magang ini dilaksanakan selama empat bulan dari tanggal 14 Februari sampai tanggal 14 Juni 2011 di Unit Perkebunan Tanjungsari, PT. Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah.
Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan magang di Unit Perkebunan Tambi, PT. Tanjungsari, Wonosobo, Jawa Tengah dilaksanakan dengan dua metode yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Penulis melaksanakan metode langsung dengan mengikuti semua kegiatan teknis di kebun meliputi pembibitan, pemeliharaan TM maupun TBM, pemetikan, administrasi serta manajerial. Metode tidak langsung dilaksanakan dengan mengambil data sekunder dari arsip - arsip serta laporan - laporan yang ada di perusahaan.
Kegiatan yang dilakukan penulis dimulai secara bertahap yang diawali dengan menjadi Karyawan Harian Lepas (KHL) selama satu bulan. Selama menjadi KHL, penulis melakukan semua kegiatan di bawah pimpinan mandor meliputi pembibitan sampai pemetikan sesuai dengan kegiatan yang telah dijadwalkan perusahaan. Kegiatan yang dilakukan selama menjadi KHL dapat dilihat pada Lampiran 1. Satu bulan berikutnya penulis bekerja sebagai pendamping mandor. Kegiatan yang dilakukan adalah mengawasi pekerjaan karyawan setiap hari serta mencatat prestasi kerja karyawan pada setiap aspek pekerjaan. Kegiatan yang dilakukan selama menjadi pendamping mandor dapat dilihat pada Lampiran 2.
Dua bulan terakhir di perusahaan, penulis bekerja sebagai pendamping kepala blok/afdeling. Pendamping kepala blok/afdeling bertugas membantu mengawasi dan mengontrol mandor dan karyawan. Kegiatan lain yang dilakukan penulis ketika menjadi pendamping kepala blok/afdeling diantaranya membantu pembuatan laporan upah karyawan serta membantu admisitrasi kantor kebun yang berkaitan dengan prestasi karyawan. Selama menjadi pendamping kepala
blok/afdeling, penulis tidak hanya melakukan aspek teknis di kebun, tetapi juga mempelajari aspek manajerial di kantor kebun. Kegiatan yang dilakukan selama menjadi pendamping kepala blok/afdeling dapat dilihat pada Lampiran 3.
Pengamatan dan Pengumpulan Data
Pengamatan yang dilakukan untuk aspek khusus dalam kegiatan magang ini adalah pemetikan daun teh secara langsung di lapangan. Pengumpulan data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan pengamatan atau mengikuti kegiatan pemetikan langsung dan wawancara dengan pekerja, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan - laporan dan arsip perusahaan. Data sekunder yang diambil dari perusahaan diantaranya data mengenai luas areal perusahaan, topografi, curah hujan lima tahun terakhir, produksi dan produktivitas lima tahun terakhir, serta standar perusahaan dan hal - hal lain yang berhubungan dengan aspek khusus yang akan diamati. Pengamatan dilakukan pada tiap blok berdasarkan tahun pangkas sesuai dengan data - data primer yang dibutuhkan sebanyak tiga kali ulangan untuk masing-masing tahun pangkas. Peubah - peubah yang diamati meliputi:
1. Analisis petik
Analisis petik merupakan pemisahan pucuk berdasarkan jenis pucuk atau rumus petik. Masing - masing pemetik diambil segenggam pucuknya untuk kemudian dicampur dan diambil sebanyak 200 gr dan dipisahkan sesuai rumus petiknya, kemudian ditimbang dan dinyatakan dalam persen. Analisis petik dilakukan dilakukan di kebun setelah kegiatan pemetikan berdasarkan ketinggian tempat, gilir petik, tahun setelah pangkas dan jenis klon. Jenis petikan terbagi menjadi :
• Petikan halus : p+1, p+2m
• Petikan medium : p+2, p+3, p+3m, b+1m, b+2m, b+3m • Petikan kasar : p+4 atau lebih, b+(1 – 4t)
• Petikan rusak : pucuk yang tidak terpetik sempurna atau terkena hama penyakit
9
2. Analisis pucuk
Analisis pucuk dilakukan sendiri oleh penulis di kebun dikarenakan UP Tanjungsari tidak memiliki pabrik pengolahan. Analisis pucuk dilakukan dengan memisahkan pucuk berdasarkan bagian muda dan tua yang dinyatakan dalam persen. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara yang sama seperti pengambilan sampel untuk analisis petik. Setelah dilakukan analisis petik kemudian dilakukan analisis pucuk. Analisis pucuk di UP Tanjungsari meliputi :
• Pucuk memenuhi syarat (MS) : p+1, p+2, p+3,b+1m, b+2m, b+3m • Pucuk tidak memenuhi syarat (TMS) : p+4, p+5, b+(1 – 5)t
3. Gilir petik dan hanca petik
Gilir petik merupakan waktu dilaksanakannya pemetikan, dari satu pemetikan ke pemetikan selanjutnya. Hanca petik merupakan luas areal yang harus selesai dipetik oleh pemetik dalam satu hari. Pengamatan gilir petik dilakukan berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan dilakukan pada masing - masing blok, pengamatan hanca petik dihitung berdasarkan rumus yang berlaku kemudian dibandingkan dengan pengamatan langsung di lapangan. Perhitungan hanca petik menggunakan rumus :
Luas areal petik/hari = luas areal yang dipetik gilir petik
Hanca seorang pemetik = luas areal petik/hari x jumlah patok/ha jumlah pemetik
4. Kapasitas petik
Kapasitas petik adalah kapasitas pemetik per hari dalam satu kemandoran. Kapasitas petik diamati selama tiga bulan dari bulan Maret - Mei 2011. 5. Kebutuhan tenaga petik (TP)
Kebutuhan tenaga petik dihitung langsung berdasarkan banyaknya tenaga pemetik di lapangan kemudian dibandingkan dengan kebutuhan tenaga petik sesuai rumus kebutuhan tenaga petik yaitu :
Kebutuhan TP = [produktivitas kering x rendemen] x (100+absensi) % Kapasitas pemetik x HKE/th
6. Sarana panen dan transpotasi
Sarana panen dan transportasi diamati langsung sesuai dengan kondisi di kebun.
7. Produktivitas berdasarkan umur setelah pangkas
Produktivitas berdasarkan umur setelah pangkas didapat dari arsip atau laporan tahunan perusahaan.
Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, pengolahan data dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat hasil pengamatan primer dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan maupun standar baku yang berlaku pada pemetikan teh. Analisis deskripstif kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji t student pada taraf nyata 5 %, rata-rata dan persentase.
t–student =
dengan Sp =
keterangan:
= rata – rata pengamatan 1 dan 2 = ragam contoh 1 dan 2
= jumlah pengamatan 1 dan 2 Sp = simpangan baku gabungan
Nilai berbeda nyata apabila thitung > ttabel dan tidak berbeda nyata apabila thitung < ttabel, ttabel diperoleh dari nilai sebaran t pada taraf 5% dan derajat bebas (n1 + n2 – 2) (Walpole, 1990).
KEADAAN UMUM
Sejarah Kebun
PT Tambi merupakan perkebunan teh milik Pemerintah Hindia Belanda yang pada tahun 1856 disewakan kepada pengusaha swasta dari Belanda yang bernama D. Nander Ships dan W. D. Jong. Pada tahun 1880-an, PT Tambi dibeli oleh Mr. M.P. Van Den Berg, A.W. Holle dan Ed. Jacobson yang kemudian secara bersama-sama mendirikan Bagelan Thee en Kina Maatschappi (BTKM) di Wonosobo. Kepengurusan dan pengelolaankebun tersebut kemudian diserahkan kepada Firma Jhon Peet and Co yang berkedudukan di Jakarta.
Pada saat awal kedatangan bangsa Jepang, kebun Tanjungsari digunakan sebagai penjara bagi orang Jepang. Kemudian setelah Indonesia merdeka PT Tambi (kebun Bedakah, Tambi dan Tanjungsari) diambil alih oleh pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia di bawah koordinasi Pusat Perkebunan Negara (PPN) yang berpusat di Surakarta. Kantor perkebunan Bedakah dan Tanjungsari pada saat itu dipusatkan di Magelang.
Berdasarkan hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) pada November 1949 maka UP Bedakah, Tambi dan Tanjungsari dikembalikan kepada pemilik semula yaitu BTKM. BTKM tidak segera mengelola ketiga kebun tersebut, sehingga para mantan pegawai PPN membentuk kantor bersama yang dinamakan Perkebunan Gunung pada tanggal 21 Mei 1951. Akhirnya pada tanggal 17 Mei 1954 BTKM menjual ketiga perkebunan tersebut dan berdirilah PT NV ex PPN Sindoro Sumbing.
Pada tahun 1957 tercapai kesepakatan antara Pemerintah Daerah Wonosobo dengan PT NV ex PPN Sindoro Sumbing, yaitu dengan membagi kepemilikan modal masing - masing 50 % untuk Pemerintah Daerah Wonosobo dan 50 % untuk PT NV ex PPN Sindoro Sumbing. Berdasarkan kesepakatan ini dibentuklah perusahaan baru dengan nama PT NV Perusahaan Perkebunan Tambi atau disingkat PT NV Tambi dengan akte Notaris Raden Sujadi di Magelang pada tanggal 13 Agustus 1957 dan mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman pada tanggal 10 April No. 5/30/25 yang kemudian diterbitkan pada lembaran berita Negara nomor 63 tanggal 12 Agustus 1960.
Seiring dengan perkembangannya, maka perusahaan membangun tiga pabrik pengolahan teh yaitu UP Bedakah, UP Tambi dan UP Tanjungsari. Sejak tahun 1991, UP Tanjungsari hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan teh basah atau pergudangan pucuk daun teh. Pengolahan pucuk yang dihasilkan UP Tanjungsari diolah pada UP Tambi. Pada bulan Mei 2010 kepemilikan modal PT Tambi berpindah dari PT NV ex PPN Sindoro Sumbing ke PT Indo Global dengan 50 % modal lainnya masih dikelola oleh Pemerintah Daerah Wonosobo.
Letak Wilayah Administratif
Unit Perkebunan Tanjungsari merupakan salah satu Unit Perkebunan yang dikelola oleh PT Tambi. Unit Perkebunan Tanjungsari terletak di lereng Gunung Sumbing dan berjarak 14 km dari kota Wonosobo ke sebelah tenggara. Secara administratif UP Tanjungsari terletak di Kecamatan Sapuran dan Kecamatan Kalikajar dengan kantor UP Tanjungsari yang terletak di Desa Sedayu, Kecamatan Sapuran, Wonosobo.
Batas administratif dari UP Tanjungsari adalah sebelah utara berbatasan dengan Desa Sedayu, Kedalon, Karangduwur dan Purwojiwo. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Sedayu dan Jolontoro. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Ngadisalam, Purwojiwo dan Tempuran Timur. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Jolontoro, Ngadisalam dan Sapuran.
UP Tanjungsari terdiri dari tiga blok yang letaknya saling berdekatan satu sama lain (Lampiran 4). Ketiga blok tersebut adalah :
• Blok Kutilang, dengan ketinggian 800 - 1040 m dpl • Blok Murai, dengan ketinggian 780 - 800 m dpl • Blok Gelatik , dengan ketinggian 700 - 780 m dpl
Keadaan Iklim dan Tanah
Rata-rata curah hujan di Unit Perkebunan Tanjungsari selama sepuluh tahun terakhir (2001 - 2010) adalah 4 050.7 mm per tahun dengan kisaran curah hujan 2 951 mm - 5 762 mm per tahun. Jumlah hari basah rata - rata dalam
13
sepuluh tahun terakhir adalah 163.6 hari per tahun. Berdasarkan data curah hujan UP Tanjungsari selama sepuluh tahun terakhir, kondisi iklim di UP Tanjungsari menurut Schmidt Ferguson termasuk dalam tipe iklim B (Lampiran 8). Jenis tanah di UP Tanjungsari adalah tanah latosol atau tanah dengan syarat olah. Jenis tanah ini menyebabkan kondisi tanaman UP Tanjungsari berbeda dengan kondisi tanaman di UP lain yang memiliki jenis tanah andosol.
Luas Areal dan Tata Guna Lahan
Luas areal UP Tanjungsari secara keseluruhan adalah 208.07 ha dengan teh sebagai komoditi tunggal. Luas areal untuk tanaman menghasilkan yaitu 161.30 ha, sedangkan luas areal untuk tanaman belum menghasilkan yaitu 16.88 ha. Selain untuk areal TBM dan TM luas UP Tanjungsari juga mencakup areal replanting yaitu 14.94 ha dan areal pembibitan dengan luas 0.80 ha. Luas areal dan tata guna lahan secara keseluruhan di UP Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Luas Areal dan Tata Guna Lahan Tahun 2011
No Penggunaan Lahan Luas Areal (ha)
1 Tanaman teh 193.12 2 Pembibitan 0.80 3 Emplasmen/kantor 2.78 4 Agrowisata 3.33 5 Jalan besar 4.37 6 Lapangan 1.10 7 Kebun perbanyakan 1.57 8 Kebun buah 1.00 Jumlah 208.07
Sumber : Laporan Kantor Kebun UP Tanjungsari
Keadaan Tanaman, Produksi dan Pemasaran
Tanaman teh yang terdapat di UP Tanjungsari merupakan tanaman yang berasal dari stek (klonal) dan seedling. Perbandingan luas areal untuk bahan
tanam stek dan seedling adalah 85.8 % dari luas keseluruhan kebun untuk bahan tanam klon dan 14.2 % dari luas keseluruhan kebun untuk bahan tanam seedling. Klon yang terdapat di UP Tanjungsari adalah TRI 2024, TRI 2025, Gambung 7, RB (Ranca Bolang) 3, CIN 143, TB (Tambi) Merah dan PS (Pasir Sarongge). Klon yang paling banyak ditanam adalah TRI 2024 sebanyak 50.08 % dari total luas UP Tanjungsari, sedangkan klon unggulan adalah Gambung 7 (Lampiran 5).
Jarak tanam untuk tanaman teh di UP Tanjungsari adalah 120 cm x 75 cm dengan populasi tanaman 10 000 tanaman/ha untuk tanaman klonal dan 3500 tanaman/ha untuk seedling. Sebaran jenis bahan tanaman teh (klon/seedling) yang terdapat di UP Tanjungsari pada masing - masing blok dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Luas Areal dan Jenis Klon Tanaman Teh Tahun 2011
Sumber : Laporan Kantor Kebun UP Tanjungsari
No Blok Luas Jenis Klon TRI 2024 TRI 2025 GB 7 RB 3 Seedling CIN 143 TB Merah PS ………(ha)……….. 1 Kutilang 65.55 23.35 0.64 24.93 0.22 16.34 0.00 0.07 0.00 2 Murai 65.26 44.17 0.00 14.16 0.80 5.89 0.12 0.00 0.12 3 Gelatik 66.28 31.19 0.00 29.13 0.00 5.76 0.12 0.08 0.00 Jumlah 197.09 98.71 0.64 68.22 1.02 27.99 0.24 0.15 0.12
Produktivitas pucuk tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir di UP Tanjungsari dicapai pada tahun 2008, yaitu produktivitas pucuk basah yang mencapai 11 576 kg/ha dan produktivitas pucuk kering sebesar 2 472 kg/ha. Rencana dan realisasi produksi dan produktivitas tahun 2006 - 2010 dapat dilihat pada Lampiran 6. dan rencana dan realisasi produksi pucuk basah dan kering bulan Maret – Mei 2011 dapat dilihat pada Lampiran 7. Luas areal, produksi pucuk basah dan pucuk kering di UP Tanjungsari dari tahun 2006 sampai 2010 dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa rata – rata produktivitas teh kering di UP Tanjungsari dari tahun 2006 – 2010 tergolong tinggi yaitu 2 279 kg/ha lebih tinggi dari produktivitas teh pada perkebunan milik negara yang hanya mencapai 1 432 kg/ha pada tahun 2009.
15
Tabel 3. Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Pucuk Basah dan Kering Tahun 2006 - 2010
Tahun Luas TM Produksi Pucuk Basah Produktivitas Teh Basah Produksi Teh Kering Produktivitas Teh Kering …(ha)… ……(kg)….. ..(kg/ha/th).. …..(kg)….. ..(kg/ha/th).. 2006 197.11 1 841 527 9 342 395 719 2 007 2007 197.11 2 179 072 11 055 467 999 2 374 2008 197.11 2 281 931 11 576 487 392 2 474 2009 197.11 2 051 817 10 409 441 746 2 241 2010 179.39 1 920 638 10 706 412 937 2 301 Rata - rata 2 054 997 10 618 441 158 2 279
Sumber : Arsip Kantor Kebun UP Tanjungsari
Produk teh yang dihasilkan oleh UP Tanjungsari adalah teh hitam, tetapi pengolahan teh tidak dilakukan di UP Tanjungsari, melainkan di UP Tambi. Pemasaran teh hitam PT Tambi dilakukan baik untuk skala lokal maupun internasional. Pemasaran skala lokal produk teh hitam PT Tambi hanya dilakukan untuk daerah Wonosobo dan sekitarnya dan dipasarkan dalam bentuk daunt eh kering dan teh celup. Pemasaran skala internasional dilakukan dengan ekspor ke berbagai Negara yaitu Amerika, Arab Saudi, Rusia, Belanda, India dan Jepang.
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan
Unit Perkebunan Tanjungsari dipimpin oleh seorang pemimpin UP yang bertanggungjawab secara langsung kepada direksi PT Tambi (Lampiran 11). Tugas dari seorang pemimpin UP adalah memimpin, merencanakan, mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas karyawan UP. Selain bertanggungjawab kepada direksi, dalam pelaksanaan tugasnya seorang pemimpin UP juga membawahi secara langsung kepala bagian kantor dan kepala bagian kebun.
Bagian kantor dipimpin oleh seorang kepala sub bagian (Kasubag) kantor yang bertugas mencatat administrasi kantor maupun kebun di dalam pembukuan keuangan. Kasubag kantor membawahi bendahara, bagian pembukuan dan bagian administrasi lainnya.
Bagian kebun dipimpin oleh seorang kepala bagian kebun yang bertugas memimpin, merencanakan, mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi segala kegiatan di kebun. Kepala bagian kebun membawahi kepala blok , kepala proteksi tanaman dan bagian administrasi kebun. Kepala blok membawahi pembimbing (mandor) petik, pemeliharaan dan pembibitan. Kepala proteksi tanaman bertugas merencanakan dan mengawasi segala kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan proreksi tanaman. Bagian administrasi kebun bertugas mengerjakan laporan - laporan yang masuk dari pembimbing petik, pemeliharan dan pembibitan.
Selain bagian kantor dan bagian kebun, di UP Tanjungsari terdapat juga kepala seksi keamanan yang bertugas mengatur pelaksanaan tugas - tugas pengamanan di lingkungan perkebunan. Terdapat juga kepala seksi workshop pool yang bertugas mengawasi pelaksanaan teknis mesin, listrik dan mengkoordinasi transportasi dalam rangka kegiatan bagian kantor maupun bagian kebun. Selanjutnya terdapat kepala seksi tata lingkungan di UP Tanjungsari yang bertugas menjaga dan memelihara lingkungan di UP Tanjungsari.
Karyawan yang terdapat di UP Tanjungsari seluruhnya berjumlah 255 orang. Karyawan - karyawan tersebut terbagi atas tiga tingkatan yaitu karyawan I, karyawan II dan karyawan borong tetap. Karyawan I merupakan karyawan yang oleh perusahaan ditetapkan menjadi karyawan I berdasarkan Surat Keputusan yang dikeluarkan dari perusahaan. Karyawan II adalah karyawan yang oleh perusahaan ditetapkan menjadi karyawan II berdasarkan masa kerja dan prestasi tertentu dibidangnya. Karyawan II statusnya berada di bawah karyawan I dengan gaji yang dibayar tiap bulan dan terdiri atas karyawan II A, II B, II C, II D dan II E. Karyawan borong tetap adalah karyawan yang upahnya dibayarkan menurut hasil kerja yang telah dilakukan. Selain ketiga tingkatan karyawan di atas, di UP Tanjungsari terdapat juga karyawan lepas yaitu karyawan yang jumlahnya tidak tetap sesuai dengan kebutuhan jumlah tenaga kerja dalam suatu kegiatan yang dilakukan. Tingkatan dan jumlah karyawan di UP Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 4.
17
Tabel 4. Tingkatan dan Jumlah Karyawan
Tingkatan Karyawan Jumlah
Karyawan I 9 Karyawan II Karyawan II A 10 Karyawan II B 11 Karyawan II C 5 Karyawan II D 17 Karyawan II E 1
Karyawan Borong Tetap
Pemeliharaan 56 Petikan 146
Jumlah Total 255
Sumber : Arsip Kantor Induk UP Tanjungsari Tahun 2011
Setiap karyawan di UP Tanjungsari mendapat fasilitas - fasilitas diantaranya gaji, bonus, Tunjangan Hari Raya (THR), tunjangan cuti, asuransi keselamatan kerja, pendidikan, perumahan dan rekreasi. Karyawan yang telah berumur 55 tahun atau masa kerjanya lebih dari 20 tahun di UP Tanjungsari dapat mengajukan pensiun kepada perusahaan.
Program Recovery
Produktivitas tinggi merupakan tujuan utama dari PT Tambi, termasuk UP Tanjungsari. Produktivitas yang tinggi tidak akan tercapai apabila kondisi tanaman sedang tidak sehat seperti yang terjadi pada UP Tanjungsari. Kondisi tanaman yang tidak sehat diantaranya ditunjukkan dengan gejala serangan cacar daun teh atau blister blight yang cukup tinggi sehingga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman serta tebal daun pemeliharaan yang kecil. Hal ini menyebabkan produksi tanaman menurun sehingga diperlukan tindakan untuk memperbaiki kondisi tanaman agar dapat berproduksi secara optimal. Salah satu tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanaman agar produksi dapat meningkat adalah melalui Program Recovery, yaitu program perbaikan kesehatan tanaman agar nantinya produksi kembali naik sesuai dengan apa yang telah ditargetkan perusahaan.
Program Recovery berisi perlakuan - perlakuan tertentu yang direkomendasikan oleh Tim Konsultan dari Gambung sebagai tim yang dipercaya menangani Program Recovery. Alasan utama perlu diadakannya Program Recovery adalah kondisi tanaman yang sebagian besar tidak sehat, baik terserang penyakit maupun hama tanaman yang mengakibatkan produktivitas turun. Adanya Program Recovery ini diharapkan dapat menyehatkan kembali tanaman sehingga produktivitasnya kembali naik. Program Recovery hanya dilaksanakan pada nomor - nomor kebun yang kondisinya dinilai tidak sehat, pada nomor kebun yang kondisi tanamannya sehat kegiatan pemeliharaan maupun pemetikan dilakukan sebagaimana biasa.
Perlakuan - perlakuan yang diberikan pada tanaman selama Program Recovery diantaranya gabar dan skipping. Gabar yaitu membiarkan pucuk tidak dipetik selama 2 - 3 kali siklus petik yang sudah ditetapkan. Skipping yaitu cara pemetikan yang bertujuan untuk meratakan bidang petik agar pertumbuhan pucuk dalam dapat lebih cepat dan serempak.
Program Recovery mulai dilaksanakan dari bulan Januari 2011 sampai waktu yang tidak ditentukan yaitu ketika tanaman dinilai sudah dalam kondisi yang baik. Dampak bagi perusahaan dengan adanya Program Recovery dapat dilihat pada kapasitas pemetik yang terus meningkat dari bulan Maret – Mei 2011. Hal ini menunjukkan kondisi tanaman mulai membaik yang ditandai dengan peningkatan kapasitas pemetik yang berarti peningkatan produksi.
Program Recovery tidak selalu menunjukkan dampak yang baik bagi perusahaan maupun karyawan. Adanya tindakan gabar menyebabkan pergeseran gilir petik, sehingga dalam beberapa hari pemetik tidak dapat melakukan kegiatan pemetikan yang berakibat berkurangnya pendapatan (upah). UP Tanjungsari masih akan melanjutkan Program Recovery setidaknya sampai satu tahun ke depan dengan tetap melakukan evaluasi demi mencapai target produksi yang telah ditetapkan.
PELAKSANAAN DI LAPANG
Aspek Teknis Pembibitan
Pembibitan merupakan bagian penting dalam suatu usaha perkebunan teh. Bahan tanam untuk perkebunan teh seluruhnya berasal dari areal pembibitan. Areal pembibitan di Unit Perkebunan Tanjungsari terletak pada blok Gelatik nomor kebun 16 dengan luas 5 500 m2. Tanaman teh yang ditanam di areal pembibitan semuanya berasal dari bahan stek, dengan klon Gambung 7. Bahan stek berasal dari pohon induk yang ada di areal pembibitan. Tanaman yang akan dijadikan bahan dipotong (cutting) menggunakan cutter. Satu minggu sebelum di cutting, dilakukan tiping atau membuang pucuk dari tanaman induk agar daun lebih kaku, lebuh cepat bertunas dan lebih hijau. Bahan stek dipotong sepanjang 4 cm dan apabila daun terlalu lebar, dapat dipotong. Sebelum ditanam, bahan stek dicelupkan (deeping) terlebih dahulu ke dalam larutan Atonik dengan dosis 1 ml/l air dan larutan Dithane dengan dosis 1 g/ml.
Pada areal pembibitan terdapat 188 bedeng yang sebagian besar merupakan bedeng untuk tanaman teh, sedangkan sisanya merupakan bedeng untuk tanaman pelindung teh yaitu tanaman Saman atau Samanea saman. Jarak antar bedeng adalah 60 cm dengan lebar masing - masing bedeng 1 m. Pembibitan pada tanaman teh dilakukan dalam sebuah rumah naungan. Bagian atas dari rumah naungan berupa rigen atau anyaman bambu dengan tiang penyangga dari bambu. Keadaan rumah naungan dapat dilihat pada Gambar 1.
Media tanam terdiri dari tanah top soil dan sub soil yang masing-masing telah diayak sebelumnya. Setelah tanah diayak, lapisan top soil dicampur dengan Rock fosfat sebanyak 1.2 kg/m2, KCl 0.5 kg/m2, Kiserit 250 g, Tawas 1 kg, Dithane 250 g dan Basamit 150 g. Pemberian tawas berfungsi untuk menetralkan tanah agar tidak terlalu basa, sedangkan basamit berfungsi untuk fumigasi. Selanjutnya untuk tanah sub soil dicampur dengan Tawas sebanyak 1 kg, Dithane 250 g dan Basamit 150 g. Kemudian tanah top soil maupun sub soil didiamkan selama satu bulan untuk selanjutnya diisikan ke polybag. Perbandingan tanah sub soil dan top soil adalah 3:1 dengan tanah sub soil diletakkan di lapisan atas polybag dan tanah top soil di lapisan bawah polybag. Hal ini bertujuan agar akar stek yang nantinya tumbuh dapat langsung menuju ke top soil yang lebih subur yang berada di lapisan bawah polybag.
Penanaman bahan stek ke dalam polybag pada bedengan dilakukan dengan memperhatikan arah matahari dan posisi sungkup. Bahan stek yang ditanam di tengah bedengan diusahakan menghadap ke arah matahari. Bahan stek di pinggir bedengan diusahakan tidak terkena sungkup plastik, yaitu dengan memposisikan tegak lurus dengan posisi bahan stek yang ditanam di tengah bedeng. Hal ini agar pertumbuhan stek yang berada di pinggir tidak terganggu sungkup plastik di sampingnya.
Pemeliharaan pada areal pembibitan dimulai dengan penyungkupan selama 3.5 bulan. Pemupukan pada tanaman yang disungkup dilakukan pada tahap awal saat pencampuran media tanam. Penyungkupan selama 3.5 bulan tidak memerlukan pemeliharaan khusus. Penyiraman hanya dilakukan ketika kondisi tanah di polybag benar - benar kering. Apabila curah hujan cukup, maka selama 3.5 bulan sungkupan tidak perlu disiram. Setelah berumur 3.5 bulan, sungkupan mulai dibuka tetapi hanya setengah bagian saja. Hasil sungkupan selama 3.5 bulan dibuka selama 2 jam untuk rentang waktu 2 minggu pertama. Selanjutnya, 2 minggu berikutnya sungkupan dibuka selama 4 jam, 2 minggu berikutnya dibuka selama 6 jam, sampai pada 2 minggu terakhir sungkupan di buka selama 8 jam. Kemudian sungkup mulai bisa dibuka secara keseluruhan. Bedeng yang masih disungkup dan yang telah dibuka sungkupnya dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3.
21
Gambar 2. Bedeng yang Masih Gambar 3. Bedeng yang Telah Disungkup Dibuka Sungkupnya
Setelah sungkupan dibuka, pemeliharaan dilanjutkan dengan pemberian pupuk daun Atonik dan Starmax dengan dosis 2 ml/l. Pemberian pupuk daun ini dilakukan 2 minggu sekali secara berselang seling antara Atonik dan Starmax. Bibit mulai dapat diseleksi setelah berumur 7 bulan dan dipisahkan berdasarkan grade nya. Grade terdiri atas 3 jenis, yaitu grade A yaitu tanaman dengan jumlah daun 6 atau lebih, grade B yaitu tanaman yang mempunyai daun dengan jumlah kurang dari 6 dan grade C yaitu tanaman yang mepunyai jumlah daun antara 1 - 2.
Kriteria bibit siap salur adalah bibit dengan grade A yang tingginya minimal 25 cm dan mempunyai batang dengan diameter 2 - 3 cm atau sebesar pensil. Kegiatan yang dilakukan penulis selama di pembibitan adalah pindah bibit dan penyiangan gulma di polybag. Semua kegiatan pembibitan diawasi oleh seorang mandor pembibitan.
Prestasi kerja karyawan untuk kegiatan pindah bibit adalah 500 polybag/HK, sedangkan prestasi kerja penulis adalah 150 polybag/HK. Prestasi kerja karyawan untuk kegiatan penyiangan gulma di polybag adalah 660 polybag/HK, sedangkan prestasi kerja penulis adalah 100 polybag/HK.
Penyulaman
Penyulaman merupakan kegiatan pemeliharaan tanaman teh yang dilakukan pada TBM 1, TBM 2 dan TBM 3. Jumlah bibit yang akan digunakan untuk penyulaman bervariasi tergantung dari kondisi tanaman di lapangan. Kegiatan penyulaman dilakukan segera setelah bibit diketahui ada yang tidak
tumbuh, rusak atau terserang hama penyakit. Pada UP Tanjungsari terdapat toleransi terhadap jumlah bibit sulaman untuk masing-masing TBM. Jumlah bibit yang digunakan untuk menyulam pada TBM 1 maksimal 15 % dari populasi, pada TBM 2 jumlah bibit untuk menyulam maksimal 10 % dari populasi dan untuk TBM 3 jumlah bibit untuk menyulam maksimal 7 % dari populasi.
Kegiatan penyulaman di TBM diawasi oleh mandor pemeliharaan. Alat yang digunakan pekerja selama kegiatan penyulaman adalah cangkul. Penulis melakukan kegiatan penyulaman pada areal TBM 1 seluas 1.86 ha. Prestasi kerja penulis adalah 0.85 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan adalah 0.19 ha/HK.
Pemupukan
Pemupukan adalah salah satu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman guna meningkatkan produksi pucuk. Pemupukan di UP Tanjungsari dibedakan atas pemupukan pada daun dan pemupukan pada tanah. Pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan 4 tepat yaitu tepat waktu, tepat cara, tepat dosis dan tepat jenis.
Pemupukan pada daun dilakukan dengan penyemprotan pada daun menggunakan alat semprot yaitu mist blower yang memiliki kapasitas 12 l untuk 1 kali gendong dan dapat diaplikasikan untuk 1.5 patok (600 m2). Pupuk yang digunakan yaitu ZnSO4 dengan dosis 1 kg/ha. Pupuk dilarutkan kedalam air sebanyak 200 l/ha. Aplikasi pupuk daun dilakukan 1 bulan sekali pada tanaman yang telah selesai dipetik.
Pelaksanaan pemupukan daun harus memperhatikan arah angin. Pupuk yang disemprotkan melalui mist blower harus searah dengan arah angin sehingga tidak mengenai pekerja yang melakukan penyemprotan. Pada nomor kebun yang akan disemprot dipasang bendera yang bertujuan untuk mengetahui arah angin. Alat - alat keselamatan kerja yang digunakan oleh pekerja yang akan melakukan pemupukan daun adalah baju lapang, masker, kacamata, sarung tangan serta helm. Pemupukan pada tanah dilakukan dengan membenamkan pupuk disamping perdu tanaman. Jarak antara perdu dan lubang untuk pupuk kurang
23
lebih 20 cm. Pupuk yang digunakan terdiri dari pupuk Urea, SP 36, KCl dan Kiserit (N, P, K, Mg). Masing-masing pupuk ini mempunyai perbandingan sebesar 6 : 1 : 2 : 0.5 dengan kandungan unsur Nitrogen, Phospat, Kalium dan Magnesium di dalamnya sebesar 46 : 36 : 60: 27. Selain beberapa pupuk di atas, ditambahkan juga Belerang sebanyak 1 kali dalam 1 tahun pada aplikasi pupuk tanah.
Pemupukan pada tanah dilakukan 2 kali dalam setahun, atau 1 kali pada tiap semester. Pelaksanan pemupukan pada tanah dilakukan secara berpasangan antara tenaga kerja pria dan wanita. Tenaga kerja pria bertugas membuat lubang di samping perdu untuk pupuk, diikuti dengan tenaga kerja wanita di belakangnya yang bertugas memasukkan pupuk kedalam lubang dan menutup/menimbunnya dengan tanah. Pupuk yang digunakan untuk pemupukan tanah telah dicampur di gudang, kemudian diangkut menggunakan truk menuju nomor kebun yang akan dipupuk. Kegiatan ini dilakukan secara beriringan oleh 10 pasang pekerja pria dan wanita. Kegiatan pemupukan tanah dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Kegiatan Pemupukan Tanah
Dosis pupuk tanah berbeda untuk areal TBM dan TM. Pada areal TBM pupuk tanah pertama kali diberikan pada saat penanaman dan dibenamkan
langsung bersama dengan bibit kedalam tanah. Pemupukan tanah di UP Tanjungsari berdasarkan rekomendasi tim konsultan menggunakan analisis tanah dan analisis daun. Kebutuhan pupuk tiap blok di UP Tanjungsari berbeda tergantung dari luas areal dan populasi tanaman, sehingga dosis pupuknya menjadi seperti terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kebutuhan Pupuk Tunggal Tahun 2011
Blok Luas (ha)
Kebutuhan Pupuk Jumlah Pupuk Urea SP 36 KCl Kiserit Belerang
………(kg)………
Kutilang 25.29 6 900 3 149 1 692 2 818 632 15 191 Murai 26.84 7 488 3 489 1 851 3 140 671 16 639 Gelatik 39.52 11 026 5 137 2 726 4 623 988 24 500 Jumlah 91.65 25 414 11 775 6 269 10 581 2 291 56 330
Sumber : Laporan Kantor Kebun UP Tanjungsari
Kegiatan pemupukan diawasi oleh seorang mandor pemeliharaan. Alat yang digunakan pekerja selama melakukan kegiatan pemupukan adalah sramben, cangkul dan ember plastik. Prestasi kerja penulis dalam kegiatan pemupukan tanah adalah 0.15 ha/HK, sedangkan untuk kegiatan pemupukan daun 0.014 ha/HK Beberapa alat yang digunakan dalam kegiatan pemupukan tanah dapat dilihat pada Gambar 5.
25
Pengendalian Gulma
Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang pertumbuhanya tidak diinginkan dan dapat merugikan tanaman utama. Gulma di perkebunan teh harus dikendalikan agar pertumbuhannya tidak menganggu dan menurunkan produksi tanaman teh. Pengendalian gulma di UP Tanjungsari dilakukan secara manual (manual weeding) dan secara kimiawi (chemical weeding).
Pengendalian secara manual dilakukan pada areal TBM 1, hal ini dikarenakan tanaman pada TBM 1 masih rentan terhadap zat - zat kimia yang terdapat pada herbisida. Pengendalian gulma secara manual dilakukan dengan cara babad bersih (clean weeding) untuk areal TM, babad bokor dan strip weeding untuk areal TBM. Babad bersih yaitu pengendalian gulma dengan membersihkan seluruh gulma di sekitar perdu maupun diantara larikan perdu sampai benar-benar bersih. Babad bokor adalah pengendalian gulma secara manual dengan membersihkan gulma hanya pada lingkaran di bawah perdu, sedangkan strip weeding adalah membersihkan gulma pada baris tanaman dan meletakkannya diantara baris tanaman dengan tujuan untuk mencegah erosi. Pengendalian gulma secara manual di UP Tanjungsari dilakukan sebanyak 4 kali dalam setahun.
Pengendalian gulma secara kimiawi (chemical weeding) yang terdapat di UP Tanjungsari dilakukan pada areal TBM 2, 3 dan areal TM menggunakan jenis alat semprot yaitu knapsack sprayer yang telah diisi dengan herbisida. Herbisida yang digunakan terdiri dari herbisida sistemik dan herbisida kontak. Herbisida sistemik digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun sempit atau jenis rumput - rumputan. Herbisida kontak digunakan untuk mengendalikan jenis gulma berdaun lebar.
Pengendalian gulma di UP Tanjungsari dilakukan secara bergantian antara pengendalian gulma secara manual maupun pengendalian gulma secara kimia. Pada areal TBM 2, 3 dan areal TM pengendalian gulma secara kimia dilakukan 2 kali dalam setahun, sedangkan pengendalian gulma secara manual dilakukan sebanyak 4 kali dalam setahun. Pada areal TBM 1 hanya dilakukan pengendalian gulma secara manual menggunakan strip weeding. Pengendalian gulma di TBM 1
tidak menggunakan clean weeding agar tidak terjadi erosi pada areal TBM 1, dengan pengendalian strip weeding diharapkan gulma yang terkumpul diantara barisan dapat mencegah erosi. Contoh gulma yang tumbuh di areal TM dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Gulma di Areal TM UP Tanjungsari
Aplikasi herbisida sistemik baru terlihat hasilnya setelah 2 minggu, sedangkan pada herbisida kontak hasilnya dapat langsung dilihat pada waktu aplikasi saat itu juga yang ditandai dengan gejala terbakar. Contoh herbisida sistemik yang digunakan di UP Tanjungsari adalah Rambo, sedangkan contoh herbisida kontak adalah Noxone. Pengendalian gulma secara kimiawi di UP Tanjungsari dilakukan 2 kali dalam setahun dan dilakukan diantara pengendalian gulma secara manual. Dosis dan jenis herbisida di UP Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Dosis dan Jenis Herbisida
No Nama Herbisida Bentuk Jenis Herbisida Dosis
……(l/ha)……
1. Rambo Cair Sistemik 2 - 3
2. Round Up Cari Sistemik 3
3. Parakol Cair Kontak 3 - 4
4. Noxone Cair Kontak 1.5 - 2.5
5. Gamaxone Cair Kontak 1.5 - 2.5
27
Selama melakukan kegiatan pengendalian gulma, penulis melaksanakan pengendalian gulma baik secara manual maupun kimiawi. Secara manual, penulis melakukan kegiatan babad yaitu babad bokor, sedangkan secara kimiawi penulis melakukan kegiatan penyemprotan gulma dengan herbisida sistemik yaitu Rambo. Kegiatan pengendalian gulma diawasi oleh seorang mandor pemeliharaan. Prestasi kerja penulis untuk pengendalian gulma secara manual yaitu 0.07 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan adalah 0.08 ha/HK. Prestasi kerja penulis untuk kegiatan pengendalian gulma secara kimiawi yaitu 0.24 ha/HK dan prestasi kerja karyawan adalah 0.75 ha/HK.
Pengendalian Hama dan Penyakit (PHP)
Hama dan penyakit merupakan salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman teh. Serangan hama dan penyakit dapat mengakibatkan daun teh rusak dan gugur sehingga tanaman terlihat meranggas bahkan sampai menyebabkan kematian tanaman. Pengendalian hama dan penyakit merupakan upaya untuk menekan pertumbuhan hama maupun penyakit sehingga dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan pada tanaman, yang berdampak pada menurunnya produksi tanaman.
Hama yang menyerang tanaman teh di UP Tanjungsari adalah Empoasca sp., ulat api, ulat penggulung pucuk dan ulat penggulung daun. Hama Empoasca sp. menyerang daun teh dan mengakibatkan tulang daun berwarna coklat. Hama ini berwarna hijau muda dan berukuruan kecil, banyak hidup di bagian bawah daun. Hama Empoasca sp. di UP Tanjungsari banyak dijumpai ketika pagi hari, terutama saat matahari belum terbit. Saat tanaman digoyang - goyangkan akan tampak Empoasca sp. yang berterbangan muncul dari bawah permukaan daun. Saat inilah paling tepat dilakukan pengendalian hama Empoasca sp. karena ketika matahari sudah mulai terbit, hama ini akan turun ke bawah tanaman sehingga kurang efektif apabila dilakukan pengendalian dengan penyemprotan.
Hama Empoasca sp. di UP Tanjungsari dikendalikan secara kimiawi menggunakan insektisida sistemik merek dagang Amida dengan dosis 0.10 l/ha. Selain itu pengendalian hama Empoasca sp. juga dilakukan menggunakan
insektisida kontak merek dagang Crowen dengan dosis 0.30 l/ha. Penggunaan insektisida sistemik dan kontak menyesuaikan dengan kondisi di lapang, yaitu besar kecilnya serangan Empoasca sp. dalam satu nomor kebun.
Hama ulat api, ulat penggulung pucuk dan ulat penggulung daun di UP Tanjungsari dapat dikendalikan baik secara manual maupun kimia. Pengendalian secara manual dilakukan dengan memetik daun yang telah diserang ulat, atau dapat juga dilakukan dengan mengambil satu per satu ulat yang menempel di daun karena jumlah ulat yang menyerang biasanya tidak terlalu banyak. Untuk pengendalian secara kimia dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida sistemik merek dagang Lanet maupun Metindo dengan dosis yang sama yaitu 0.50 kg/ha. Daun yang terkena hama ulat penggulung pucuk dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Daun yang Terkena Hama Penggulung Pucuk
Penyakit yang menyerang tanaman teh di UP Tanjungsari adalah blister blight atau cacar daun teh yang disebabkan oleh cendawan Exobasidium vexans. Serangan awal dari cendawan ini ditandai dengan bercak berwarna kuning transparan pada permukaan daun. Selanjutnya pada fase serangan selanjutnya akan timbul benjolan - benjolan berwarna transparan pada daun teh yang nantinya akan berwarna coklat kehitaman dan kering sehingga menyebabkan daun menjadi rapuh. Pengendalian untuk penyakit cacar daun dilakukan secara kimia dengan fungisisda sistemik maupun kontak. Pada serangan cacar yang dirasa berat, digunakan fungisida kontak merek dagang Probox atau Kozide dengan dosis yang
29
sama yaitu 0.10 kg/ha. Untuk serangan yang ringan digunakan fungisida sistemik yaitu Conazol atau Mensyl dengan dosis yang sama yaitu 0.15 l/ha
Aplikasi penyemprotan untuk pengendalian hama dan penyakit di UP Tanjungsari dilakukan dengan jenis alat semprot yaitu mist blower dan power sprayer. Aplikasi penyemprotan dilakukan setelah nomor yang akan disemprot selesai dipetik sehingga aplikasinya mengikuti siklus petik yang ada. Waktu pelaksanaan penyemprotan adalah pagi hari mulai pukul 06.30 sampai 11.00. Penyemprotan dihentikan ketika turun hujan karena fungisida maupun insektisida yang disemprot akan terbawa air hujan. Kegiatan pengendalian hama dan penyakit menggunakan power sprayer yang dilakukan di UP Tanjungsari dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Kegiatan Pengendalian Hama dan Penyakit
Para pekerja yang melakukan kegiatan pengendalian hama dan penyakit secara kimia diharuskan menggunakan perlengkapan keselamatan kerja seperti helm, baju lapang, masker, sepatu boot serta sarung tangan. Kegiatan ini diawasi oleh seorang mandor pemeliharaan. Penulis melakukan kegiatan pengendalian hama dan penyakit pada blok Gelatik dengan prestasi kerja sebesar 0.014 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan adalah 0.84 ha/HOK.
Penggemburan Tanah di TBM (Gacok)
Areal TBM merupakan areal yang nantinya diharapkan akan menghasilkan produksi pucuk yang tinggi. Hal ini menyebabkan areal TBM memerlukan
pemeliharaan yang lebih intensif dari pada areal TM. Salah satu tindakan pemeliharaan yang penting dilakukan pada areal TBM adalah gacok.
Gacok merupakan tindakan penggemburan tanah yang dilakukan pada areal TBM. Tindakan gacok bertujuan untuk menggemburan tanah, memperbaiki aerasi, memperluas bidang akar tanaman dan menyiangi gulma. Alat yang digunakan untuk kegiatan gacok berupa garpu kecil yang berukuran seperti cangkul. Kegiatan gacok di areal TBM dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Kegiatan Gacok di Areal TBM
Penulis melakukan kegiatan gacok dengan prestasi kerja sebesar 0.01 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan adalah 0.08 ha/HK. Kegiatan gacok biasa dilakukan oleh tenaga kerja wanita dengan waktu kerja dari pukul 07.00 - 11.00 dengan diawasi oleh seorang mandor pemeliharaan.
Pemeliharaan Saluran Air
Kegiatan pemeliharaan di UP Tanjungsari tidak hanya dilaksanakan pada areal TBM maupun areal TBM saja. Pemeliharaan juga dilakukan pada areal di sekitar saluran air (sungai). Saluran air merupakan area dimana terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan dalam beberapa kegiatan yang ada di lapang diantaranya pemupukan daun dan pengendalian hama dan penyakit.
Pemeliharaan saluran air yang dilakukan di UP Tanjungsari diantaranya meliputi kegiatan membersihkan gulma di sekitan saluran air, memotong cabang -
31
cabang tanaman teh yang menjulur sampai ke saluran air serta membersihkan daerah di sekitar saluran air dari ranting - ranting tanaman teh yang berserakan. Beberapa gulma yang terdapat di daerah sekitar saluran air adalah Clidemia hirta, Micania micrantha, Cromolaena odorata, Ageratum conizoides, Melastoma malabatricum dan Cyperus sp.
Prestasi kerja penulis selama mengikuti kegiatan pemeliharaan saluran air adalah 0.0036 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan adalah 001 ha/HK. Kegiatan pemeliharaan saluran air diawasi oleh seorang mandor pemeliharaan.
Pemetikan
Pemetikan merupakan cara pemungutan pucuk teh yang telah memenuhi syarat - syarat pengolahan. Pemetikan harus menyisakan pucuk pada perdu yang nantinya berfungsi sebagai penyedia pucuk untuk dipetik pada siklus berikutnya. Tujuan pemetikan adalah untuk mendapatkan pucuk teh yang berkualitas serta mempertahankan ketersediaan pucuk untuk pemetikan selanjutnya. Kerataan bidang petik juga harus diperhatikan agar pada pemetikan selanjutnya tetap dihasilkan produksi yang tinggi.
Cara pemetikan dapat dilakukan dengan menggunakan tangan (manual), gunting maupun mesin. Pemetikan menggunakan tangan memerlukan tenaga pemetik dalam jumlah banyak dan memakan waktu yang lebih lama. Pemetikan dengan gunting tidak terlalu membutuhkan tenaga pemetik lebih banyak dan dinilai lebih efektif. Pemetikan dengan mesin untuk saat ini belum banyak diterapkan di perkebunan - perkebunan teh di Indonesia. Pemetikan di UP Tanjungsari dilakukan dengan menggunakan gunting karena dinilai lebih efektif jika berkaitan dengan lamanya kegiatan pemetikan di lapangan.
Jenis pemetikan yang dilakukan di UP Tanjungsari meliputi pemetikan gendesan (rampasan), pemetikan jendangan dan pemetikan produksi. Pemetikan gendesan yaitu pemetikan yang dilakukan sebelum tanaman dipangkas. Pemetikan gendesan tidak memperhatikan rumus petik karena hanya bertujuan mengambil semua pucuk yang masih memenuhi syarat olah sebelum tanaman dipangkas. Selain itu pemetikan gendesan bertujuan agar pucuk - pucuk yang masih
memenuhi syarat olah tidak tidak ikut terbuang pada saat pemangkasan dilakukan. Pemetikan gendesan di UP Tanjungsari dilakukan satu hari sebelum tanaman dipangkas yaitu pada bulan Februari - April.
Pemetikan jendangan yaitu pemetikan yang dilakukan setelah pemangkasan yang bertujuan membentuk bidang petik pada tanaman. Tanaman mulai dapat dijendang ketika telah muncul tunas sekitar 15 cm dari bekas pangkasan. Pemetikan jendangan dilakukan oleh tenaga terampil dan menggunakan tangan. Siklus atau gilir petik untuk pemetikan jendangan di UP Tanjungsari adalah 10 - 14 hari dan dilakukan sebanyak empat kali pemetikan. Alat yang digunakan pada pemetikan jendangan yaitu alat ukur berbentuk salib yang berfungsi menentukan ketinggian bidang petik yang akan dibentuk.
Pemetikan produksi yaitu pemetikan yang dilakukan setelah pemetikan jendangan dan dilakukan secara terus menerus sesuai dengan siklus yang telah ditetapkan oleh kebun. Pemetikan produksi bertujuan mendapatkan hasil pucuk yang berkualitas dan siap olah dengan memperhatikan rumus petik yang berlaku. Kerataan bidang petik dan ketersediaan pucuk juga harus diperhatikan dalam pemetikan produksi agar pada siklus petik selanjutnya tetap dihasilkan produksi yang tinggi. Siklus petik di UP Tanjungsari rata-rata adalah 10 - 14 hari dengan jenis petikan medium. Pucuk peko dan pucuk burung dapat dilihat pada Gambar 10 dan Gambar 11.
33
Kegiatan pemetikan di UP Tanjungsari dilaksanakan pada pagi hari antara pukul 05.30 - 09.00 atau sesuai dengan kondisi pucuk yang akan dipetik. Apabila pucuk dalam kondisi baik dan dalam jumlah yang banyak, maka pelaksanaan waktu pemetikan menjadi lebih lama, begitu juga sebaliknya. Pemetikan dilakukan oleh tenaga pemetik perempuan secara bersamaan dengan diawasi oleh seorang mandor petik.
Luas areal yang dipetik setiap harinya di UP Tanjungsari berbeda-beda. Luas areal yang dipetik serta siklus/gilir petik mempengaruhi hanca pemetik. Hanca adalah luas areal yang harus dipetik oleh seorang pemetik dalam satu hari. Hanca petik di UP Tanjungsari rata - rata adalah 2 patok. Hanca petik mempengaruhi kapasitas pemetik dalam satu hari. Kapasitas petik yaitu banyaknya pucuk yang mampu dipetik oleh pemetik dalam satu hari. Standar kapasitas petik di UP Tanjungsari yaitu 60 kg. Standar ini akan mudah tercapai ketika kondisi pucuk tanaman baik dan dalam jumlah tinggi.
Alat yang digunakan oleh tenaga petik dalam melakukan kegiatan pemetikan produksi adalah gunting petik, sramben, keranjang serta waring asok. Terdapat dua jenis waring dalam kegiatan pemetikan yaitu waring asok dan waring angkut. Kegiatan pemetikan produksi dapat dilihat pada Gambar 12.
Selama menjadi Kayawan Harian Lepas (KHL) penulis hanya melaksanakan kegiatan pemetikan produksi. Hal ini dikarenakan ketika penulis menjadi KHL, kegiatan pemetikan jendangan dan gendesan sedang tidak dilaksanakan di UP Tanjungsari. Kegiatan tersebut baru dilaksanakan ketika penulis telah menjadi asisten kepala blok/afdeling. Prestasi kerja penulis ketika melaksankan kegiatan pemetikan produksi adalah 4 - 5.5 kg.
Analisis Petik dan Analisis Pucuk
Analisis petik dan analisis pucuk tidak selalu dilakukan di UP Tanjungsari. Hal ini dikarenakan pengolahan pucuk tidak dilakukan di UP Tanjungsari yang disebabkan tidak adanya pabrik untuk melakukan analisis pucuk sehingga analisis pucuk dilakukan di pabrik pengolahan yaitu di UP Tambi. Tetapi analisis petik sesekali dilakukan oleh mandor untuk mengontrol kebun. Penulis melakukan analisis petik dan analisis pucuk sendiri di Kantor Kebun UP Tanjungsari.
Analisis petik dilakukan dengan memisahkan pucuk berdasarkan rumus petiknya yang kemudian dinyatakan dalam persen. Pucuk diambil dari pemetik, masing - masing segenggam dari tiap pemetik dalam 1 kemandoran. Pucuk ini kemudian dicampur dan ditimbang sebanyak 200 g. Pucuk sebanyak 200 g inilah yang kemudian dipisahkan berdasarkan rumus petiknya, yaitu p+1/p+2, p+3, p+4, p+5, b+1, b+2, b+3, b+4, b+5 dan seterusnya. Berdasarkan rumus petik inilah dapat ditentukan jenis petikan yaitu petikan halus, medium dan kasar. Jenis petikan yang dipakai di UP Tanjungsari yaitu petikan medium. Batas toleransi maksimal yang ada di UP Tanjungsari untuk jenis petikan adalah 10 % untuk petikan halus, 70 % untuk petikan medium dan 20 % untuk petikan kasar.
Analis pucuk dilakukan dengan memisahkan pucuk berdasarkan ketentuan memenuhi syarat atau tidak (pucuk tua dan muda). Cara pengambilannya sama dengan analisis petik, setelah pucuk dianalisis petik, selanjutnya dilakukan analisis pucuk. Pucuk yang tua dimasukkan dalam kelompok pucuk yang tidak memenhi syarat olah, sedangkan pucuk muda yaitu pucuk yang memenuhi syarat olah. Pucuk yang memenuhi syarat olah yaitu pucuk dengan rumus petik p+1, p+2, p+3, b+1m, b+2m, b+3m. Ciri - ciri pucuk muda yaitu batang yang masih