ANALISIS HASIL PETIKAN TANAMAN TEH (Camellia
sinensis (L) O. Kuntze) DI UNIT PERKEBUNAN BEDAKAH,
PT TAMBI, WONOSOBO, JAWA TENGAH
NOVIA SARI ANDRIYANI
A24060101
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
RINGKASAN
NOVIA SARI ANDRIYANI. Analisis Hasil Petikan Tanaman Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) di PT Tambi Unit Perkebunan Bedakah, Wonosobo, Jawa Tengah. (Dibimbing oleh ADOLF PIETER LONTOH).
Kegiatan magang dilaksanakan selama empat bulan, mulai tanggal 1 Maret hingga 3 Juli 2010 di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah. Tujuan umum kegiatan magang adalah memperoleh pengalaman dan keterampilan kerja dalam pengelolaan perkebunan teh, mempelajari aspek manajerial dan aspek teknis, serta mempelajari teknik budidaya dan panen dalam pengelolaan perkebunan teh. Tujuan khusus dalam kegiatan magang ini adalah mempelajari aspek analisis hasil petikan tanaman teh dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan magang ini adalah: (1) praktek langsung dengan mengikuti kegiatan di lapangan; (2) mengumpulkan data primer melalui pengamatan langsung, mencari informasi serta wawancara dengan karyawan di lapangan; (3) mengumpulkan data sekunder melalui laporan tahunan, arsip kebun, RKAP serta laporan penunjang lainnya; (4) melakukan studi pustaka.
Kegiatan teknis budidaya yang diikuti penulis pada saat berstatus sebagai karyawan harian lepas, antara lain: pemeliharaan pembibitan, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan, pemetikan serta sekilas tentang pengolahan hasil tanaman teh. Kegiatan pemeliharaan antara lain: pengendalian gulma, pemupukan, pemangkasan, pembentukan bidang petik, pemeliharaan saluran air dan lubang tadah, penggemburan tanah serta pengendalian hama dan penyakit. Kegiatan manajerial yang diikuti penulis yaitu menjadi pendamping pembimbing pemetikan dan pemeliharaan, pendamping kepala blok serta pendamping asisten kepala bagian kebun.
Pemetikan memerlukan pengawasan yang baik dan teliti, sebab kegiatan pemetikan menentukan mutu serta produksi yang dihasilkan. Pelaksanaan pemetikan di Unit Perkebunan Bedakah mengenai gilir petiknya masih sangat bervariasi antara 12 – 17 hari, hal ini disebabkan Unit Perkebunan Bedakah
termasuk dataran tinggi (> 1 200 m dpl). Tenaga pemetik di Unit Perkebunan Bedakah masih kurang jika disesuaikan dengan kebutuhan untuk luas areal TM 304.12 ha.
Analisis hasil petikan terdiri atas analisis petik dan analisis pucuk. Faktor-faktor yang mempengaruhi analisis hasil petikan adalah gilir petik, cara pemetikan, tahun pangkas, hanca petik dan penanganan pucuk setelah pemetikan serta pengangkutan pucuk ke pabrik. Pengamatan analisis petik dilakukan di semua blok. Analisis petik yang dihasilkan oleh setiap blok di Unit Perkebunan Bedakah berkisar antara 46 % - 68 %.
Gilir petik yang semakin pendek akan menghasilkan pucuk yang semakin halus, begitu juga semakin lama umur pangkas maka pucuk pekonya semakin sedikit, namun pucuk burungnya semakin banyak. Gilir petik panjang akan menyebabkan hanca petik semakin kecil, hal ini menyebabkan pucuk di lapang menjadi lewat petik (kaboler). Penanganan pucuk setelah pemetikan dan pengangkutan pucuk ke pabrik harus lebih diperhatikan lagi supaya pucuk tidak sobek, terlipat serta rusak, sehingga hidak menyebabkan hasil dari analisis hasil petikan menjadi rendah.
Pemetikan menggunakan gunting petik bila dibandingkan dengan pemetikan secara manual tidak berbeda nyata pada hasil analisis petik untuk persentase pucuk halus, pucuk medium dan pucuk kasar. Pemetikan dengan menggunakan gunting petik memberikan pengaruh nyata yaitu persentase kerusakan pada pucuk teh lebih besar daripada pemetikan secara manual.
Pengamatan analisis pucuk dilakukan di tiga blok sebagai contoh, yaitu dari bulan Maret - Mei, hasilnya berkisar antara 47 % - 63 %. Blok yang memenuhi syarat untuk pengolahan teh hitam adalah Blok Bismo dan Argopuro dengan analisis pada bulan Mei sebesar 62.90 % dan 61.02 %.
Produktivitas tanaman teh di Unit Perkebunan Bedakah selalu meningkat dari umur setelah pangkas pertama sampai dengan umur setelah pangkas keempat. Produktivitas tertinggi dicapai pada umur setelah pangkas keempat, baik untuk jenis tanaman asal biji maupun dari klonal, yakni sebesar 2 054 kg/ha untuk tanaman asal biji dan 3 034 kg/ha untuk tanaman asal stek.
Kuntze) DI UNIT PERKEBUNAN BEDAKAH PT TAMBI WONOSOBO JAWA TENGAH
Plucking result analysis of tea (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) at Unit Perkebunan Bedakah PT Tambi, Wonosobo, Central Java
Novia Sari1 dan A. Pieter Lontoh2
1Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura 2 Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura
Abstract
The apprentice was conducted at Bedakah Estate, PT Tambi, Wonosobo, Central Java from March until july 2010. The purpose of the apprentice is plucking result analysis of tea. The assignment composed of several work, i.e, did as field worker for two month, as assistant foreman for one month, as assistant blok leaders for two week, and and assistant estate assistant for two week. The general objective of the apprentice is to expand knowledge of apprenticeship students about the technical and managerial aspects of the tea plantations, get skills and work experience. The special aspect of the apprentice is study the factor that influence about plucking result analysis of tea. Data processing in use t-student test with standard 5 % for picking method of tea. Plucking result analysis i.e., pick analysis and leaf analysis. Factors influencing analysis excerpts are the result of shifts picking, plucking way, crop year, picking and handling hanca shoots after picking and transport to the plant shoots.Pick analysis in Bedakah already enough good and included medium plucking. Picking with pick shears real influential to persentage leaf damage more than better than manual plucking. Observation of leaf analysis was conducted three month from march until may. The result show that just Bismo and Argopuro blok that fill standard 55%. Highest productivity at Bedakah reachable at four years after pruning for klonal and seedling that is 3 034 kg/ha and 2 054 kg/ha.
ANALISIS HASIL PETIKAN TANAMAN TEH (
Camellia sinensis
(L) O. Kuntze) DI UNIT PERKEBUNAN BEDAKAH, PT TAMBI,
WONOSOBO, JAWA TENGAH
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Novia Sari Andriyani A24060101
PROGRAM STUDI AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Judul
:
ANALISIS HASIL PETIKAN TANAMAN TEH
(Camellia sinensis (L) O. Kuntze) DI UNIT
PERKEBUNAN
BEDAKAH,
PT
TAMBI,
WONOSOBO, JAWA TENGAH.
Nama
:
NOVIA SARI ANDRIYANI
NIM
:
A24060101
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Ir. Adolf Pieter Lontoh, MS NIP 19570711. 198111. 1. 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB
Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr NIP 19611101. 198703. 1. 003
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Boyolali, Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 21 November 1987. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari
pasangan Bapak Agus Mulyanto, SE dan Ibu Ninik Haryanti, S.Sos.
Penulis mengawali pendidikan pada tahun 1994 di SD Negeri 9 Boyolali dan lulus pada tahun 2000. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SMP 2 Boyolali dan lulus pada tahun 2003. Penulis melanjutkan pendidikan ke SMA Bhinneka Karya 2 Boyolali dan lulus pada tahun 2006.
Tahun 2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor). Penulis pada tahun 2006 mengikuti (Unit Kegiatan Mahasiswa) UKM Bola Voli di IPB, juga aktif pada Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) Boyolali sebagai bendahara. Pada tahun 2007 penulis diterima di Program Studi Agronomi dan Hortikultura, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Pada tahun 2008 penulis melaksanakan magang di Kebun Kurnia Strawbery, Ciwidey, Bandung. Tahun 2009 penulis mengikuti kegiatan olahraga voli ditingkat kampus, yaitu U-Cup dan OMI. Penulis melaksanakan kegiatan kuliah kerja profesi (KKP) pada tahun 2009 di Desa Kertek, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Propinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2010 penulis melaksanakan kegiatan magang di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT. yang masih memberikan nikmatNya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi penulis, yaitu dengan judul “Analisis Hasil Petikan Tanaman Teh (Camellia Sinensis (L). O Kuntze) di Unit Perkebunan Bedakah, PT. Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah”. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar – besarnya kepada:
1. Ibu, Papa dan adik atas doa, perhatian dan dukungannya.
2. Bapak Ir. Adolf Pieter Lontoh , MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada penulis. Bapak Dr.Ir. Ahmad Junaedi, MSi selaku dosen penguji dan Bapak Dr. Ir. Ade Wachjar, MS selaku dosen wakil urusan departemen.
3. Direksi PT Tambi, Bapak Ir. Bagus Nugroho selaku Pimpinan Unit Perkebunan Bedakah , Bapak Purwandi dan Bapak Sudiyono selaku Asisten Kepala Bagian Kebun serta Bapak Meggie Satria HC, SE selaku Asisten Kepala Bagian Kantor dan Bapak Sutikno selaku Kepala Bagian Pabrik atas saran dan bimbingannya.
4. Teman seperjuangan selama magang Titis dan Bani, terimakasih atas kebersamaannya selama 4 bulan ini. Sahabat setiaku Janiez (Adiz, Trisna, Ntiz) dan teman- teman AGH 43 tercinta.
5. Pondok hijau tercinta (Meike, Eka, Neli, Vony, Cipta, Ika, Wida, Nina, Melinda) thank’s you gays.
6. Teman hati tersayangku (D.A) terima kasih atas doa, bantuan, dukungan serta perhatiannya selama ini.
Penulis berharap semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.
Bogor, November 2010 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN... xii
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 2
TINJAUAN PUSTAKA ... 3
Ekofisiologi dan Botani Tanaman Teh ... 3
Pemetikan... 4
METODE MAGANG ... 7
Tempat dan Waktu... 7
Metode Pelaksanaan... 7
Pengumpulan dan Pengamatan Data... 8
Analisis Data dan Informasi... 10
KONDISI UMUM ... 11
Sejarah Perkebunan... 11
Letak Wilayah Administratif ... 12
Kondisi Tanah, Topografi dan Iklim ... 12
Luas Areal dan Tata Guna Lahan ... 13
Keadaan Tanaman dan Produksi... 13
Struktur Organisasi dan Ruang Lingkup Tugas... 14
Ketenagakerjaan... 15
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG ... 18
Aspek Teknis ... 18
Aspek Manajerial ... 43
PEMBAHASAN ... 46
Analisis Hasil Petikan... 46
Kebutuhan Tenaga Pemetik ... 52
Sarana Panen dan Transportasi ... 54
Produktivitas Berdasarkan Umur Setelah Pangkas... 55
KESIMPULAN DAN SARAN... 57
Kesimpulan ... 57
Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Wilayah Administrasi Unit Perkebunan Bedakah ... 12
2. Luas Areal dan Tata Guna Lahan ... 13
3. Produksi dan Produktivitas Teh Basah - Kering ... 14
4. Tenaga Kerja Unit Perkebunan Bedakah... 16
5. Hubungan Antara Luas Areal Petik, Jumlah Pemetik dan Hanca Petik Setiap Blok ... 33
6. Kapasitas Pemetik Rata-rata di UP Bedakah Bulan Januari – Mei 2010. ... 36
7. Analisis Pucuk Rata – Rata Bulan Maret – Mei 2010... 38
8. Isi Polibag Masing-masing Mutu Teh UP Bedakah ... 42
9. Komposisi Pucuk Hasil Analisis Petik di UP Bedakah... 47
10. Analisis Petik Berdasarkan Gilir Petik ... 48
11. Analisis Petik berdasarkan Cara Pemetikan ... 49
12. Analisis Petik Berdasarkan Tahun Pangkas ... 50
13. Analisis Pucuk di Unit Perkebunan Bedakah ... 51
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Bangunan pembibitan (a) dan Single Node Cutting (b) ... 18
2. Pengendalian Gulma Manual (a) dan Pengendalian Gulma Kimia (b)... 21
3. Pemupukan TM (a) dan Pemupukan TBM (b)... 23
4. Kegiatan Pemangkasan (a) dan Pangkasan Bersih (b) ... 25
5. Hama Ulat Api (a) dan Penyakit Cacar Daun Teh (b) ... 29
6. Pemetikan Produksi (a) dan Pemetikan Jendangan (b) ... 31
8. Pelaksanaan Penimbangan (a) dan Pengangkutan Pucuk Teh (b).. 36
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Jurnal Harian Kegiatan Magang Sebagai Karyawan Harian Lepas di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi,
Wonosobo, Jawa Tengah ... 61
2. Jurnal Harian Kegiatan Magang Sebagai Pendamping Pembimbing di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, JawaTengah ... 63
3. Jurnal Kegiatan Magang Sebagai Pendamping Kepala Blok di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah... 64
4. Jurnal Kegiatan Magang Sebagai Pendamping Asisten Kepala Bagian Kebun di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah ... 65
5. Peta Unit Perkebunan Bedakah Tahun 2010... 66
6. Data Curah Hujan dan Hari Hujan Unit Perkebunan Bedakah Tahun 2000 – 2009 ... 67
7. Struktur Organisasi Unit Perkebunan Bedakah Tahun 2010... 68
8. Dosis Pupuk pada TM per Aplikasi ... 69
9. Dosis Pupuk pada TBM per Aplikasi... 69
10. Komposisi Pucuk Hasil Analisis Petik... 70
11. Analisis Petik Berdasarkan Gilir Petik... 70
12. Analisis Petik berdasarkan Cara Pemetikan... 71
13. Analisis Petik berdasarkan Tahun Pangkas... 71
14. Komposisi Analisis Pucuk... 72
15. Produktivitas Berdasarkan Umur Pangkas pada Tanaman Seedlingdan Klonal ... 72
PENDAHULUAN
Latar BelakangTanaman teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) adalah salah satu komoditi perkebunan yang memiliki arti penting dalam perekonomian Indonesia. Peran komoditas teh di Indonesia bukan hanya sebagai sumber devisa negara semata, melainkan juga sebagai penyerap banyak tenaga kerja. Produksi teh Indonesia memenuhi sekitar 5.8 % kebutuhan dunia. Indonesia menduduki posisi keenam dunia sebagai produsen teh curah setelah Vietnam, India, Cina, Srilanka dan Kenya (Asosiasi Teh Indonesia, 2010).
Penghasil teh terbesar di Indonesia adalah daerah Jawa Barat. Propinsi ini menghasilkan 70% dari total produksi teh nasional. Sumatera dan Jawa Tengah merupakan propinsi lain yang juga penghasil teh terbesar. Luas areal produktif perkebunan teh di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 133 734 ha dengan produksi 150 623 ton. Volume ekspor dan impornya pada tahun 2007 mencapai 83 658 ton dan 10 366 ton. Produktivitas teh pada tahun 2007 sebesar 1 363 kg/ha/tahun. Luas areal perkebunan teh tahun 2009 menurun menjadi 127 411 ha dengan total produksi 151 250 ton dan produktivitasnya sebesar 1 432 kg/ha/tahun (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2009).
Industri teh nasional masih menghadapi banyak kendala antara lain: produktivitas kebun teh yang relatif rendah, luas areal perkebunan teh yang cenderung menurun setiap tahunnya, banyak mutu teh yang belum memenuhi standar internasional, peremajaan tanaman teh yang lambat serta mesin-mesin pengolahan yang kurang mengarah pada kebutuhan dan permintaan pasar yang berubah secara dinamis dan cepat.
Menurut Setiawati dan Nasikun (1991) upaya untuk meningkatkan kembali produktivitas teh nasional adalah dengan optimalisasi produktivitas kebun yang telah lama tidak mendapatkan perlakuan yang seharusnya atau pengelolaannya di bawah standar yang seharusnya. Pusat Penelitian Teh dan Kina (2006) menambahkan yaitu dengan memperbaiki teknologi pengelolaan kebun yang
terkendali, pengusahaan bahan tanaman yang tinggi produktivitas dan kualitas produksinya serta aplikasi teknologi yang lebih maju. Peningkatan efisiensi biaya juga perlu dilakukan, supaya tercapai kondisi kelestarian kebun menuju usaha perkebunan teh yang menguntungkan, berdampak positif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan ekologi.
Pucuk teh merupakan bahan baku pengolahan teh yang harus diusahakan dan dijaga agar bermutu baik, sehingga diharapkan dapat menghasilkan teh yang bermutu tinggi (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006). Produksi pucuk yang maksimum tidak hanya ditentukan oleh kerataan bidang petik, tetapi lebih dipengaruhi oleh sistem petikannya. Faktor yang menentukan kualitas produk teh dalam sistem pemetikan adalah gilir/siklus petik dan kehalusan pucuk yang dipetik. Gilir petik semakin pendek, maka akan menghasilkan mutu produk teh yang semakin tinggi (Sukasman, 1985). Mutu pucuk sangat berpengaruh terhadap kualitas produk teh, semakin muda pucuk yang dipetik maka semakin tinggi potensi kualitas yang didapatkan (Sumantri, 1990).
Tujuan
Tujuan umum kegiatan magang adalah memperoleh pengalaman dan keterampilan kerja dalam pengelolaan perkebunan teh, mempelajari aspek manajerial dan aspek teknis serta mempelajari teknik budidaya dan panen dalam pengelolaan perkebunan teh.
Tujuan khusus dalam kegiatan magang ini adalah mempelajari aspek analisis hasil petikan tanaman teh dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
TINJAUAN PUSTAKA
Ekofisiologi dan Botani Tanaman TehTanaman teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) merupakan tanaman subtropis yang berasal dari pegunungan Assam, China, Burma, Thailand dan Vietnam. Tanaman teh tidak terdapat di setiap daerah. Di Indonesia tanaman teh tumbuh baik di daerah-daerah dengan ketinggian 400 m -1 200 meter di atas permukaan laut. Teh tidak tahan terhadap kekeringan yang lama, karenanya teh terpusat di daerah bagian barat Indonesia antara 2 500 mm per tahun sampai 3 500 mm per tahun merata sepanjang tahun (Spillane, 1992).
Teh secara umum berakar dangkal, peka terhadap keadaan fisik tanah dan cukup sulit untuk dapat menembus lapisan tanah. Daunnya berwarna hijau tua dan agak bergerigi, ukuran panjangnya bisa mencapai tinggi hingga 10 - 15 cm. Bunganya berbentuk bulat, berwarna keputih-putihan menyerupai bunga yasmin dan dilapisi lilin. Buah teh termasuk buah kotak yang umumnya terdiri atas tiga butir biji. Biji tanaman teh mengandung minyak dengan kadar yang tinggi , yaitu 20 % berat biji (Spillane, 1992).
Tanaman teh mempunyai dua fase pertumbuhan pucuk pada masa pertumbuhannya, yaitu periode peko dan burung. Kedua periode tersebut berselang-seling pertumbuhannya. Ritme pertumbuhan tersebut yang dinamakan
flushing (periode peko) untuk pertumbuhan intensif / aktif dan periode dorman (periode burung) untuk pertumbuhan inaktif. Lama masa flushing ke flushing
berikutnya ± 35 hari . Lamanya stadium peko dan burung untuk tanaman yang satu tidak sama dengan tanaman lainnya, bahkan masa bertunas dalam satu tanaman pun berbeda (Setyamidjaja, 2000).
Periode istirahat dan aktif berhubungan erat dengan keadaan hara tanaman secara keseluruhan maupun setiap tunas secara individual. Semakin baik keadaan hara tanaman, maka periode aktif makin lama. Begitu pula sebaliknya, semakin buruk keadaan hara tanaman, maka periode dorman makin lama.
Menurut Setyamidjaja (2000) tanah yang baik dan sesuai dengan kebutuhan tanaman adalah tanah yang cukup subur dengan kandungan bahan organik cukup, tidak bercadas, serta mempunyai derajat keasaman (pH) antara 4.5 - 6.0. Di Indonesia jenis tanah utama yang digunakan untuk perkebunan teh adalah tanah
Andosol (di Pulau Jawa pada ketinggian 800 m dpl.) dan tanah Podsolik
(Sumatera).
Pemetikan
Pemetikan merupakan suatu cara pengambilan daun yang dilakukan secara terus menerus berupa daun yang masih muda dan tunas yang sesuai dengan persyaratan dalam pengolahan teh. Pemetikan harus dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan sistem petikan dan syarat-syarat pengelolaan yang berlaku. Pemetikan berfungsi pula sebagai usaha untuk membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan (Setyamidjaja, 2000).
Pucuk yang dipetik mengakibatkan tanaman kehilangan salah satu alat fotosintesis untuk pembuatan zat pati yang sangat penting bagi kehidupan atau pertumbuhan tanaman. Kehilangan zat pati akibat pemetikan pucuk sekitar 7.5%, semakin kasar pucuk yang dipetik, maka semakin tinggi kehilangan zat patinya (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Pemetikan pucuk p+2, p+3 akan lebih kecil kehilangan zat patinya dari pada pucuk p+4 atau lebih. Kehilangan zat pati akibat dipetik tidak akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu, asalkan daun-daun yang tertinggal pada perdu (lapisan daun pemeliharaan) cukup memadai untuk melakukan asimilasi (fotosintesis).
Ketebalan daun pemeliharaan yang efektif melakukan fotosintesis 4 - 5 lapis dengan ketebalan 15 - 20 cm. Lebih tebal atau lebih tipis dari angka tersebut hasil fotosintesis tidak optimal, akibatnya pertumbuhan pucuk terhambat dan produksi menurun. Apabila terlalu tipis maka pemetikan harus dinaikkan satu daun atau meninggalkan satu daun di atas kepel (k+1). Kalau terlalu tebal pemetikan harus menurunkan daun di atas kepel (k+0) secara terus-menerus dan dilakukan selama
enam bulan atau lebih sampai daun pemeliharaan menjadi ideal (15 – 20 cm), sebab daun teh akan gugur setelah daun berumur enam bulan (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Daun pemeliharaan yang terlalu tebal lebih dari lima lapis daun (>20 cm) maka lapisan daun yang keenam dan seterusnya akan menjadi beban, karena daun-daun ini tidak lagi dapat melakukan fotosintesis bahkan hanya dapat menggunakan hasil fotosintesisnya untuk respirasi. Akibatnya hasil untuk fotosintat untuk pertumbuhan pucuk atau tunas berkurang berarti produksi juga akan berkurang. Sebaliknya apabila daun pemeliharaan terlalu tipis kurang dari empat lapis daun, maka proses fotosintesis akan berkurang dan pertumbuhan pucuk atau tunas juga berkurang, yang berarti produksi pucuk juga berkurang (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Pemetikan harus memperhatikan gilir petik dan hanca petik karena akan menentukan produksi dan mutu teh. Gilir petik adalah jangka waktu antara satu pemetikan dengan pemetikan berikutnya pada blok yang sama, yang dinyatakan dalam hari. Panjang pendeknya gilir petik dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan pucuk. Kecepatan pertumbuhan pucuk ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yaitu umur pangkas, iklim, ketinggian tempat dan keadaan tanam (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Hanca petik adalah luas areal yang pemetikannya harus diselesaikan dalam satu hari oleh pemetik. Pengaturan hanca dan gilir petik harus memperhatikan keseragaman pucuk karena akan berpengaruh pada mutu pucuk yang dipanen. Hanca petik diatur berdasarkan kapasitas rata-rata pemetik, luas areal blok kebun dan daur petik. Semakin pendek gilir petik maka semakin luas hanca petiknya (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Analisis Hasil Petikan
Hasil teh diperoleh dari daun-daun pucuk tanaman teh yang dipetik. Kualitas teh jadi sangat ditentukan oleh kualitas pucuk hasil olahan. Pucuk teh tersebut harus diperiksa dan dianalisis sebelum teh diolah yang akan menentukan
kualitas dan mutu teh. Pemeriksaan pucuk tersebut sering disebut dengan analisis hasil petikan. Analisis hasil petikan terdiri atas dua macam yaitu (1) analisis petik, dan (2) analisis pucuk (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Analisis petik. Analisis petik adalah pemisahan pucuk yang didasarkan pada jenis pucuk atau rumus petik yang dihasilkan dari pemetikan yang telah dilakukan dan dinyatakan dalam persen. Tujuan dilaksanakannya analisis petik adalah untuk melihat kondisi kesehatan tanaman, menilai ketepatan pelaksanaan pemetikan, menilai sistem pemetikan yang dilakukan, siklus petik dan keterampilan pemetik (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Analisis pucuk. Analisis pucuk adalah kegiatan pemisahan pucuk yang didasarkan pada bagian tua dan muda yang dinyatakan dalam persen. Selain itu, pemisahan pucuk juga didasarkan pada kerusakan dan dinyatakan dalam persen. Tujuan dilaksanakanya analisis pucuk yaitu dapat menilai pucuk yang akan diolah, dapat digunakan untuk menentukan harga pucuk (khususnya bagi teh rakyat) dan dapat memperkirakan persentase mutu teh produk yang akan dihasilkan (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Kualitas pucuk segar sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, iklim, tinggi tempat, dan cara bercocok tanam. Kualitas produk teh yang baik akan diperoleh dari daun muda/ pucuk yang mengandung senyawa polifenol, cafeindan aktivitas enzim yang tinggi (Suryatmo, 1984). Zat kimia terutama berperan dalam kualitas teh adalah senyawa polifenol golongan catechin. Zat ini terdapat dalam jumlah besar pada bagian pucuk yang muda, dan semakin kecil jumlahnya dengan makin tuanya daun. Kualitas teh ditentukan dari pucuk hingga daun ketiga saja, semakin ke atas maka hasil olahan teh akan semakin baik. Pucuk teh tersebut dapat menghasilkan teh dengan kualitas nomor satu dan memiliki nilai jual yang tinggi (Pusat Penelitian Teh dan Kina, 2006).
Sasaran angka analisis pucuk adalah 70% atau lebih merupakan bagian yang muda dengan kerusakan pucuk kurang dari 10%, sehingga diharapkan dapat dihasilkan teh dengan produk yang bermutu tinggi (Setyamidjaja, 2000).
METODE MAGANG
Tempat dan WaktuKegiatan magang dilaksanakan di Unit Perkebunan Bedakah, PT. Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah pada tanggal 1 Maret hingga 3 Juli 2010.
Metode Pelaksanaan
Penulis bekerja secara langsung di lapangan sebagai karyawan harian lepas (KHL) selama dua bulan, pendamping pembimbing (pemetikan dan pemeliharaan) selama satu bulan, pendamping kepala blok selama dua minggu dan pendamping asisten kepala bagian kebun selama dua minggu.
Kegiatan yang dilakukan penulis selama menjadi KHL meliputi kegiatan pemetikan, pembentukan bidang petik, pengendalian gulma, pemupukan, pemangkasan, gosok lumut, porokan, pengendalian hama dan penyakit serta pemeliharaan saluran air dan pembuatan lubang tadah.
Pekerjaan yang dilakukan penulis pada saat berstatus sebagai pendamping pembimbing adalah melaksanakan aspek manajerial meliputi: pengawasan KHL, menghitung prestasi kerja KHL dan membantu mengerjakan laporan kerja harian.
Kegiatan sebagai pendamping kepala blok dan asisten kepala bagian kebun yaitu membantu mengawasi dan mengontrol pembimbing pemetikan dan pemeliharaan serta karyawan, membantu membuat laporan bulanan, mempelajari pembuatan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), membantu pembuatan rencana anggaran bulanan (RAB) serta mempelajari manajerial tingkat kebun dan membuat jurnal harian. Keseluruhan kegiatan yang dilaksanakan penulis dapat dilihat di jurnal harian pada Lampiran 1 – 4.
Pengumpulan dan Pengamatan Data
Pengamatan dan pengumpulan data yang dilakukan dalam kegiatan magang ini dengan menggunakan metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung diperoleh dengan cara mengumpulkan data primer, sedangkan metode tidak langsung dengan mengumpulkan data sekunder.
Data primer merupakan informasi yang diterima langsung melalui pengamatan, wawancara dan diskusi dengan staf dan karyawan perkebunan. Aspek khusus yang diamati selama kegiatan magang adalah analisis hasil petikan tanaman teh. Kegiatan ini akan dilaksanakan dengan cara mengamati aspek-aspek yang mempengaruhi kualitas pucuk setelah pemetikan. Variabel-variabel yang diamati selama kegiatan magang meliputi:
1. Analisis petik
Mengambil contoh pucuk kurang lebih satu genggam (± 5 g) dari semua waring pemetik dan dicampur secara merata, kemudian diambil sebanyak 1 kg. Dari contoh pucuk tersebut diambil lagi sebanyak 200 g, kemudian dipisah-pisahkan berdasarkan rangkaian pucuk /rumus petik yang diperoleh (petikan halus: p+1, dan p+2m; petikan medium: p+2, p+3m, p+3, b+1m, b+2m dan b+3m; petikan kasar: p+4 atau lebih dan b+(1-4)t, kemudian masing-masing kelompok pucuk ditimbang dan dihitung persentasenya terhadap berat total kelompok pucuk tersebut. Pengamatan analisis petik dilakukan di semua blok.
2. Analisis pucuk:
Analisis pucuk dihitung dengan menimbang pucuk yang memenuhi syarat (MS) dan pucuk yang tidak memenuhi syarat (TMS). Adapun caranya adalah dengan mengambil contoh pada 10 tempat secara acak dengan cara tangan dimasukkan ke dalam hamparan pucuk (Withering Through), kemudian pucuk diangkat dari bawah ke atas. Pucuk yang diangkat tadi kemudian dicampur secara merata di tampan, kemudian diambil sebanyak 200 g pucuk untuk di analisis. Sampel yang telah diambil kemudian dipisah-pisahkan berdasarkan pucuk yang Memenuhi Syarat/MS (p+1,
p+2m, p+2, p+3m, p+3, b+1m, b+2m dan b+3m) dan pucuk yang Tidak Memenuhi Syarat/TMS (p+4, b+1t, b+2t, b+3t, lembaran dan tangkai). Setelah itu ditimbang berdasarkan bagian pucuk MS dan TMS, dan dihitung dalam persen. Jumlah sampel dihitung dengan kelipatan 500 kg pucuk (setiap 500 kg pucuk, I sampel = 200 g). Pengamatan analisis pucuk dilakukan di Blok Bismo, Argopuro dan Mandala.
3. Gilir petik dan hanca petik
Gilir petik adalah selang waktu pemetikan pertama dengan pemetikan berikutnya pada blok yang sama, dihitung dalam hari. Gilir petik yang diamati adalah gilir petik panjang atau pendek yang diaplikasikan di unit Perkebunan Bedakah, dengan cara pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan pembimbing pemetikan. Hanca petik adalah luas areal yang dipetik oleh pemetik dalam satu hari.
4. Kebutuhan tenaga pemetik
Jumlah tenaga petik (TP) yang dibutuhkan dapat dihitung dengan rumus: TP (orang) = produksi pucuk/ha/tahun x (100 + A) %
kapasitas petik/HK/hari x HK satu tahun
Dari hasil perhitungan tersebut kemudian dibandingkan dengan jumlah pemetik riil yang ada di kebun.
5. Sarana panen dan transportasi
Mengamati proses penanganan pucuk teh secara langsung dari awal penimbangan setelah pemetikan dan pengangkutan hasil petikan sampai ke pabrik.
6. Produktivitas berdasarkan umur setelah pangkas
Merupakan data sekunder dengan melihat produktivitas kelompok tanaman berdasarkan umur pangkasnya yaitu 1 - 4 tahun setelah pangkas. Data sekunder diperoleh dari arsip kebun yang meliputi data kondisi kebun meliputi luas areal manajemen, jenis tanah, topografi lahan, kondisi populasi tanaman, produksi dan produktivitas 10 tahun terakhir, data curah hujan 10 tahun terakhir, standar dan target kebun serta organisasi dan manajemen.
Analisis Data dan Informasi
Data yang telah berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis, baik secara analisis diskriptif kualitatif maupun analisis deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data dari kantor, kebun, pabrik serta pengamatan tanaman di lapang, kemudian dibandingkan dengan norma baku yang berlaku di perkebunan. Analisis deskriptif kuantitatif diamati menggunakan rataan, persentase, dan uji t - student dengan taraf nyata 5 % yang dilakukan pada variabel cara pemetikan. Adapun rumus t – student yang digunakan yaitu :
t-student = (x̅₁-x̅₂) Sp² n1₁+n1 2 dengan Sp= (n1-1)S1 2+(n 2- 1)S22 n1+ n2- 2 Keterangan :
x̄₁, x̄₂ = rata-rata pengamatan 1 & 2 S₁² , S₂² = ragam contoh 1 & 2
n₁, n₂ = ragam pengamatan 1 & 2 Sp = simpangan baku gabungan
Nilai berbeda nyata apabila t > t dan tidak berbeda nyata apabila t < t ; t diperoleh dari nilai sebaran t pada taraf 5 % dan derajat bebas (n₁+ n₂- 2).
KONDISI UMUM
Sejarah PerkebunanPT. Perkebunan Tambi merupakan perusahaan swasta yang bergerak dibidang industri teh. Tahun 1865 kebun-kebun teh di Bagelen, Wonosobo disewakan kepada Tuan D. Vander Sluij (UP Tanjungsari) dan Tuan W .D .Jong (UP Tambi dan Bedakah), kemudian dibeli oleh Tuan Mr. M. P Van Den Berg, A.W. Holle dan Ed Yacobson yang kemudian mendirikan Bagelen Thee En Kina Maatschappij.
Tahun 1942 Jepang masuk ke Indonesia dan perusahaan dikuasai oleh Jepang. Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, perusahaan diambil alih oleh Pemerintahan Republik. Tahun 1950, perusahaan diserahkan kembali oleh pemerintahan Indonesia kepada pemilik semula yaitu Bagelen Thee En Kina Maatschappij. Kemudian para eks Pegawai PPN membentuk kantor bersama yang diberi nama Perkebunan Gunung pada tanggal 21 Mei 1952, berdasarkan keputusan Gubernur No. AGR 36/1951/16/11/24 dan tanggal 28 Agustus 1952 Residen Kedu No. 10/AGS/6/1026 yang kemudian pada tanggal 29 April 1954 di Jakarta dilakukan penyerahan.
Tahun 1957 diadakan pertemuan antara Eks PPN Sindoro Sumbing dengan pemerintahan Daerah Wonosobo, yang akhirnya diperoleh kesepakatan untuk mengelola perusahaan dengan membentuk perusahaan baru. Perusahaan baru ini modalnya 50 % dari pemerintah daerah Kabupaten Wonosobo dan 50 % dari PT NV Eks Sindoro Sumbing. Perusahaan baru ini kemudian diberi nama NV Tambi dengan akta notaris Raden Sujadi di Magelang pada tanggal 13 Agustus 1957 dan mendapat pengesahan menteri kehakiman tanggal 10 April 1958 No. JA 5/3/30/25. Selanjutnya sampai sekarang (Tahun 2010) PT NV Ex PPN Sindoro Sumbing dengan pemerintah daerah Kabupaten Wonosobo sebagai pemegang saham dari PT Tambi. PT NV Tambi memiliki 3 Unit Perkebunan dan 1 Unit kantor direksi dengan lokasi dan kondisi yang berbeda. Unit Perkebunan tersebut adalah Unit Perkebunan Tambi, Bedakah dan Tanjungsari.
Letak Wilayah Administratif
PT Tambi khususnya Unit Perkebunan Bedakah berlokasi di lereng gunung Sindoro, yaitu 42 km sebelah selatan dataran tinggi Dieng, tepatnya di Desa Tlogomulyo, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Perkebunan ini terletak pada ketinggian 1 250 – 1 900 meter dpl dengan topografi berbukit-bukit. Peta Unit Perkebunan Bedakah dapat dilihat pada Lampiran 5. Daerah administratif Unit Perkebunan Bedakah baik kebun, kantor induk maupun pabrik pengolahan terletak di 4 desa yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Wilayah Administrasi Unit Perkebunan Bedakah
Kelurahan Unit Kerja
Tlogomulyo Blok Bismo, Pabrik Pengolahan Teh Hitam, Kantor Induk Candiasan Blok Rinjani
Damar Kasihan Blok Argopuro, Blok Mandala dan Blok Muria
Sojopuro Blok Kembang
Sumber: Kantor Induk Unit Perkebunan Bedakah ( 2010)
Kondisi Tanah, Topografi dan Iklim
Jenis tanah di Unit Perkebunan Bedakah pada umumnya adalah andosol dan regosol. Tanah andosol berwarna kekuning-kuningan dengan tekstur geluh dan berstruktur lemah, lunak atau sangat halus sehingga mempunyai daya mengikat air yang tinggi, tanah gembur dan ketahanan struktur tinggi, mudah diolah, permeabilitas (peresapan) tinggi dengan pH 4.5 – 6.5 (Vademicum).
Curah hujan tahunan di Unit Perkebuan Bedakah selama lima tahun terakhir (2005-2009) berkisar 2 372 mm – 4 971 mm dengan rata-rata per tahun 3 378 mm dan hari hujan berkisar 110 hari – 182 hari dengan rata-rata 139 hari hujan per tahun. Rata-rata bulan kering 2.7 bulan dan rata-rata bulan basah 8.5 bulan, sedangkan tipe iklim berdasarkan curah hujan menurut Schmidt-Ferguson adalah B. Suhu di Unit Perkebunan Bedakah adalah 18 ºC - 20 ºC dengan kelembaban udara berkisar 87-93 %. Data curah hujan dari tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada Lampiran 6.
Luas Areal dan Tata Guna Lahan
Luas areal Unit Perkebunan Bedakah secara keseluruhan berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun 2010 adalah 355.27 ha dengan luas tanaman menghasilkan 304.12 ha dan luas tanaman belum menghasilkan 19.30 ha serta replanting seluas 8.44 ha. Luas areal dan tata guna lahan Unit Perkebunan Bedakah tahun 2010 disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Luas Areal dan Tata Guna Lahan
Uraian Luas Areal (ha)
Tanaman Menghasilkan 304.12
Tanaman Belum Menghasilkan 19.30
Replanting 8.44 Kebun Perbanyakan 0.64 Pembibitan 0.47 Lapangan 2.84 Tanaman Acasia 0.50 Jalan 8.47
Pabrik dan Gudang 0.72
Kantor 0.03
Emplasemen 6.97
Curah atau Alur 2.77
Total luas lahan 355.27 Sumber: Diolah dari RKAP Unit Perkebunan Bedakah ( 2010)
Keadaan Tanaman dan Produksi
Tanaman teh di Unit Perkebunan Bedakah merupakan tanaman yang berasal dari klonal dan seedling. Bahan tanam tersebut antara lain: klon TRI 2024, TRI 2025, Gambung 3, Gambung 4, Gambung 7, Kiara, Cin 143, MPS, PS dan
seedling. Klon Gambung merupakan klon yang paling banyak ditanam di Unit Perkebunan Bedakah.
Tahun tanam di Unit Perkebunan Bedakah bervariasi dari tahun 1925 - 2010. Jarak tanam yang digunakan adalah 120 cm x 75 cm. Unit
populasi untuk setiap klon rata-rata 10 000 pohon/ha, sedangkan populasi untuk
seedlingrata-rata 7 000 – 8 000 pohon/ha.
Produksi pucuk basah Unit Perkebunan Bedakah rata-rata selama kurun waktu sepuluh tahun (2000 - 2009) mencapai 3 048 260 kg dengan produksi teh kering 616 670 kg dan produktivitasnya 2 272 kg teh kering/ha/tahun. Produksi teh yang dihasilkan sekitar 70 % - 80 % dipasarkan ke beberapa negara diantaranya adalah India, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Srilanka dan negara-negara Timur Tengah. Produksi dan produktivitas tanaman teh yang dapat dicapai dari tahun 2000 - 2009 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Produksi dan Produktivitas Teh Basah - Kering
Tahun Luas TM (ha) Produksi Basah (kg) Produksi kering (kg) Produktivitas (kg/ha/th) 2000 272.84 2 608 356 557 667 2 021 2001 277.19 2 738 394 592 315 2 137 2002 266.49 2 906 362 633 296 2 367 2003 288.62 3 065 151 663 605 2 300 2004 294.83 2 963 078 636 469 2 159 2005 289.07 3 155 144 685 611 2 372 2006 295.01 2 874 009 631 312 2 140 2007 303.99 3 383 313 731 933 2 395 2008 308.23 3 578 799 774 606 2 513 2009 303.05 3 210 000 702 430 2 319
Sumber: Kantor Bagian Tanaman Unit Perkebunan Bedakah (2010)
Struktur Organisasi dan Ruang Lingkup Tugas
Struktur organisasi merupakan kerangka hubungan kerja yang mengatur wewenang dan kegiatan pengaturan kerja supaya segala sesuatu yang menjadi tujuan dari perusahaan dapat dicapai. Unit Perkebunan Bedakah dipimpin oleh seorang pemimpin unit perkebunan yang diangkat oleh Direksi PT Tambi. Pemimpin Unit Perkebunan Bedakah dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dibantu oleh Asisten Kepala Bagian Kebun, Asisten Kepala Bagian Kantor, dan Kepala Bagian Pabrik. Struktur organisasi PT Tambi Unit Perkebunan Bedakah
ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Direksi dengan penetapan sistem organisasi yang disesuaikan dengan perkembangan perusahaan. Struktur organisasi Unit Perkebunan Bedakah dapat dilihat pada Lampiran 7.
Tugas seorang pimpinan unit perkebunan adalah memimpin, merencanakan, mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas sebagai pimpinan umum perkebunan serta dalam pengelolaan kebun, operasi pabrik, kantor dan kegiatan perkebunan lainnya dan bertanggung jawab langsung terhadap Direktur. Pimpinan Unit Perkebunan membawahi secara langsung kepala bagian kebun, kepala bagian kantor dan kepala bagian pabrik.
Tugas dari asisten kepala bagian kebun adalah memimpin, merencanakan, mengatur dan mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan bagian kebun termasuk dalam pengelolaan kebun, lahan dan aministrasi sesuai dengan kebijakan direksi sehingga kualitas dan kuantitas dapat tercapai. .
Asisten Kepala bagian kantor bertugas dan bertanggung jawab kepada pemimpin Unit Perkebunan Bedakah dalam memimpin, merencanakan, mengatur, dan mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas bagian kantor termasuk dalam pengelolaan keuangan, laporan bulanan dan tahunan, pembukuan, pengarsipan, sumberdaya manusia serta pengelolaan kebun dan hasil perkebunan.
Tugas kepala bagian pabrik adalah memimpin, merencanakan, mengatur dan mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas bagian pabrik termasuk kegiatan pengelolaan hasil kebun, pengolahan dan produksi, pemeliharaan infrastruktur pabrik dan kegiatan pabrik lainnya.
Ketenagakerjaan
Tenaga kerja di Unit Perkebunan Bedakah terdiri atas karyawan I, karyawan II (A,B,C,D) dan karyawan tetap/lepas. Karyawan I terdiri atas pemimpin unit perkebunan, bagian kantor, bagian kebun, bagian pabrik dan sebagian kepala blok. Karyawan II terdiri atas karyawan pelaksana, karyawan tetap dan karyawan lepas/borongan. Karyawan tetap adalah karyawan yang diangkat oleh pemimpin unit perkebunan yang disetujui oleh direksi. Karyawan lepas adalah karyawan
yang tidak terkait dengan perusahaan, pekerjaannya adalah sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kondisi tenaga kerja di Unit Perkebunan Bedakah dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Tenaga Kerja Unit Perkebunan Bedakah
No Uraian Tenaga Kerja Tingkat Pendidikan ∑
L P ∑ S2 S1 D3 SMA SMP SD TTSD Jamsostek 1 Karyawan I 10 1 11 1 3 0 7 0 0 0 11 2 Karyawan II D 19 1 20 0 0 0 4 6 10 0 20 3 Karyawan II C 9 0 9 0 0 0 7 1 1 0 9 4 Karyawan II B 17 3 20 0 0 0 3 6 11 0 20 5 Karyawan II A 31 7 38 0 0 0 4 6 22 6 38 6 Petik 0 194 194 0 0 0 0 0 173 21 194 7 Pemeliharaan 34 2 36 0 0 0 5 4 25 2 36 8 Kantor/Pabrik 20 2 22 0 0 0 5 2 15 0 22 Jumlah 140 210 350 1 3 0 35 25 257 29 350 Non Jamsostek 9 Petik 4 0 4 0 0 0 0 0 2 2 4 10 Pemeliharaan 0 2 2 0 0 0 0 0 0 2 2 11 Kantor/Pabrik 2 2 4 0 0 0 3 1 0 0 4 Jumlah 6 4 10 0 0 0 3 1 2 4 10 Total 146 214 360 1 3 0 38 26 259 33 360
Sumber: Kantor Induk Unit Perkebunan Bedakah (Bulan Maret, 2010)
Sistem pengupahan untuk karyawan I dan karyawan II di Unit Perkebunan Bedakah ditetapkan oleh direksi. Besarnya upah disesuaikan dengan jabatan masing-masing dan disesuaikan dengan besarnya upah minimum regional (UMR) yang berlaku. Karyawan harian lepas besarnya upah berdasarkan prestasi kerja yang diperoleh. Pembagian upah untuk karyawan I dilakukan setiap satu bulan sekali pada tanggal 1, karyawan II dilakukan setiap satu bulan sekali pada tanggal 3, sedangkan untuk karyawan harian lepas dilakukan tiga kali dalam sebulan yaitu pada tanggal 3, 13 dan 23.
Unit Perkebunan Bedakah menyediakan banyak fasilitas-fasilitas untuk karyawan. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain: perumahan, tempat ibadah,
pelayanan kesehatan, koperasi karyawan, tempat bermain musik, tempat olah raga, jamsostek, pakaian kerja, bonus, tunjangan cuti, tunjangan hari raya (THR), listrik, kendaraan bermotor, gratifikasi dan rekreasi. Pada pelayanan kesehatan, perusahaan menyediakan fasilitas Balai Pengobatan yang dilayani oleh dokter perusahaan setiap dua kali seminggu pada hari Senin dan Kamis. Karyawan yang memperoleh fasilitas kesehatan adalah karyawan I, II beserta keluarganya maksimum tiga anak dan untuk karyawan lepas borong dan pensiunan hanya bagi yang bersangkutan.
Perusahaan juga memberikan cuti terhadap karyawan, yaitu cuti sebanyak 14 hari kerja setiap tahun. Setiap satu tahun sekali, perusahaan memberikan satu stel pakaian kerja. Kegiatan rekreasi dilakukan satu tahun sekali untuk semua karyawan harian tetap. Khusus untuk anak sekolah, perusahaan menyediakan sarana transportasi antar jemput dengan menggunakan truk dan biaya sekolah sampai dengan perguruan tinggi.
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
Aspek TeknisPembibitan
Pembibitan sangat penting bagi budidaya tanaman, sebab pembibitan merupakan tahap awal dari budidaya. Pengadaan bahan tanam untuk pembibitan teh dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Unit Perkebunan Bedakah memiliki suatu lokasi pembibitan yang terletak di Blok Bismo dengan luasan 0.47 ha. Bahan stek yang digunakaan adalah stek satu buku atau single node cutting dapat dilihat pada Gambar 1, yang diambil dari klon Gambung 3, 4 dan 7 serta telah memenuhi syarat sebagai tanaman induk yaitu kurang lebih berumur 6 - 10 tahun. Pemilihan stek diambil dari tanaman induk yang telah cukup umur, yakni kurang lebih 4 - 5 bulan setelah pangkas.
Bangunan pembibitan terbuat dari anyaman bambu (ketebdan rigen) dengan tinggi 2 m dan jarak antar tiangnya 3 m x 3.5 m, dengan arah gawangan menghadap timur – barat dapat dilihat pada Gambar 1. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 16 m – 20 m dan lebar 1 m. Antar bedengan satu dengan bedengan yang lain dibuat jalan dengan lebar 0.8 m. Bedengan ditutup dengan menggunakan sungkup plastik transparan dengan tinggi 60 cm, dan panjang plastik sungkup disesuaikan dengan panjang bedengan. Intensitas cahaya yang masuk dalam rumah pembibitan sekitar 25 %, dan kelembaban ± 80 %.
Gambar 1. Bangunan pembibitan (a) dan Single Node Cutting(b)
Media yang digunakan untuk pengisian polibag yakni menggunakan tanah. Tanah untuk polibag merupakan campuran dari tanah lapisan atas (top soil) dan tanah lapisan bawah (sub soil). Bahan yang digunkan untuk campuran top soil adalah setiap 1m³ tanah dicampur dengan 1 000 g tawas, 1 250 g SP-36, 250 g
Kiserit, 500 g KCl, 300 g Dithane-45 dan 200 g Basamid, setelah itu ditimbun selama 20 hari baru dimasukkan ke dalam polibag. Bahan yang digunakan untuk campuran sub soil yaitu 300 g Dithane-45, 1 000 g tawas dan 200 g basamid. Media yang telah siap kemudian di masukkan ke polibag.
Polibag yang sudah siap kemudian ditata di bedengan yang sebelumnya dilapisi dengan rerumputan, hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah dan agar subur. Sebelum sungkup ditutup, terlebih dahulu polibag disiram dengan air bersih serta disemprot menggunakan Dithane-45 dengan konsentrasi 0.1%, baru sungkup ditutup selama 10 - 15 hari.
Stek yang akan ditanam dipotong-potong sehingga hanya memiliki 1 daun dengan panjang ruas dibawah daun kurang lebih 2.5 cm dengan kemiringan 45º, serta daun dipotong kurang lebih 1/3 bagian. Hasil potongan stek kemudian dimasukkan ke dalam larutan Dithane 45 dengan konsentrasi 2 g/liter air kurang lebih 5 menit, dan daun condong ke atas tidak saling menutupi satu sama lainnya.
Bahan stek ditanam di polibag dengan posisi bakal tunas menghadap pada satu arah, sehingga bakal tunas tidak saling menutupi serta mengarah pada cahaya matahari. Setelah penanaman stek selesai, kemudian polibag disiram air bersih dengan tujuan untuk membersihkan tanah yang melekat di daun dan juga untuk menambah kelembaban tanah, setelah itu disemprot dengan Lanate 2 g/l air yang berfungsi untuk memberantas hama ulat dan kutu, kemudian sungkup ditutup dengan plastik baru selama 3.5 – 4 bulan.
Pembukaan sungkup dilakukan setelah stek berumur 4 bulan. Sungkup tidak langsung dibuka semua melainkan harus secara bertahap. Tahap pertama dibuka ¼ bagian dari pukul 07.00 – 09.00 selama 20 hari. Tahap selanjutnya sungkup dibuka ½ bagian dari pukul 07.00 – 10.00 selama 20 hari, serta dibuka semua dari pukul 07.00 – 11.00 selama 20 hari.
Pengamatan terhadap pertumbuhan stek dilakukan setiap hari. Atap naungan pembibitan dibuka saat bibit mencapai umur 6 – 7 bulan. Seleksi bibit pertama dilakukan pada umur 7 bulan berdasarkan tinggi tanaman, kesehatan tanaman dan jumlah daun. Seleksi bibit terdiri dari tiga kelas yaitu masuk kelas A apabila tingginya mencapai lebih dari 20 cm dengan jumlah daun 4 – 6 lembar, kelas B apabila tingginya 15 cm – 20 cm dengan jumlah daun 4 lembar, dan kelas C apabila tingginya 10 cm – 15 cm dengan jumlah daun 2 – 3 lembar. Seleksi bibit tahap kedua dilakukan pada umur 9 bulan dengan cara mengumpulkan bibit berdasarkan kriteria pada seleksi tahap pertama. Bibit yang telah siap untuk disalurkan atau ditanam yaitu bibit yang telah berumur 12 bulan dan telah mencapai tinggi kurang lebih 25 cm.
Penulis pada kegiatan ini melakukan pengisian bekong/polibag dan penanaman stek. Prestasi kerja yang didapat penulis utuk pengisian bekong selama 5 jam kerja adalah penanaman stek berturut-turut adalah 400 tanaman, dan 500 tanaman. Standarnya 750 tanaman dan 1 800 tanaman. Prestasi pekerja adalah 700 tanaman dan 1 500 tanaman.
Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agar tanaman dapat tumbuh optimal dan dapat menghasilkan produksi yang tinggi. Pemeliharaan ini terdiri dari pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) serta pemeliharaan pada tanaman menghasilkan (TM). antara lain pengendalian gulma, pembentukan bidang petik, pemupukan, pemangkasan, gosok lumut, penggemburan tanah, pembuatan lubang tadah dan saluran air serta pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Pengendalian gulma. Pengendalian gulma dilakukan dengan tujuan untuk mengendalikan populasi gulma sedemikian rupa agar kerugian yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau ditekan serendah mungkin.
Gulma yang dominan di Unit Perkebunan Bedakah adalah Ageratum conizoides (wedusan), Borreria alata (gletak), Melastoma malabathricum
(senggan), Impatiens plathypetala (pacar air), Commelina nudiflora (goloran/tali said), Setaria plicata(jambe-jambean), dan Eleusine indica (lulangan).
Pengendalian gulma yang dilakukan di Unit Perkebunan Bedakah dilakukan dengan dua cara, yaitu secara manual (manual weeding)dan kimia (chemical weeding). Pengendalian gulma dalam periode satu tahun, dijadwalkan dengan 2 -3 kali aplikasi manual dan aplikasi kimia yang dalam pelaksanaanya sangat ditentukan oleh kondisi di lapangan. Pengendalian gulma secara manual dan secara kimia dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Pengendalian Gulma Manual (a) dan Pengendalian Gulma Kimia (b) Pengendalian gulma pada TBM dan TM dilakukan dengan cara membersihkan gulma yang berada di barisan tanaman serta pada pinggiran tanaman, kemudian gulma diletakkan di tengah-tengah barisan tanaman dan dibiarkan hingga kering. Alat yang digunakan adalah parang dan kored yang dimiliki oleh masing-masing pekerja.
Teknis pelaksanaannya dilakukan menurut baris tanaman dan dimulai dari topografi tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Standar prestasi kerja pengendalian gulma secara manual pada TBM dan TM adalah 0.04 ha/HK, prestasi pekerja dan penulis masing-masing adalah 0.02 ha/HK dan 0.02 ha/HK.
Pengendalian gulma secara kimia (chemical weeding) yakni dengan menggunakan herbisida purna tumbuh yang bersifat kontak dan sistemik. Herbisida kontak berbahan aktif paraquat diklorida (Noxone) yang dapat digunakan untuk memberantas berbagai jenis gulma, baik gulma berdaun lebar
maupun gulma berdaun sempit. Herbisida sistemik berbahan aktif glifosat
(Rambo) merupakan herbisida tidak selektif yang digunakan untuk memberantas gulma-gulma daun lebar dan sempit.
Herbisida kontak diaplikasikan untuk tanaman menghasilkan (TM) pada tahun pangkas II, III dan IV dengan dosis 1.5 l/ha dan konsentrasi 0.4 %. Herbisida sistemik diaplikasikan pada tanaman teh tahun pangkas I dan TBM, dengan dosis 3 l/ha dan konsentrasi 0.8 %, sedangkan untuk tahun pangkas II, III dan IV dengan dosis 2 l/ha dan konsentrasinya 0.53 %. Aplikasi pengendalian gulma secara kimia untuk TM sebanyak 2 kali dalam satu tahun, sedangkan untuk TBM tiga kali dalam satu tahun. Alat yang digunakan untuk penyemprotan adalah dengan hand sprayer/ knapsack dengan kapasitas 15 l. Volume yang digunakan untuk 1 ha adalah 375 l air. Standar kerja yang berlaku 0.32 ha/HK, prestasi kerja 0.32ha/HK, dan prestasi kerja penulis 0.2 ha/HK.
Pembentukan bidang petik (Centering). Pembentukan bidang petik dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan centering. Centering
merupakan salah satu cara untuk membentuk bidang petik pada tanaman teh yang pada umumnya dilakukan pada TBM umur tiga sampai empat bulan setelah tanam. Tujuan dilakukannya pembentukan bidang petik ini adalah untuk membentuk perdu dengan percabangan yang ideal dan bidang petik yang luas agar dapat menghasilkan pucuk yang banyak dalam waktu yang relatif singkat.
Kegiatan centeringdi Unit Perkebunan Bedakah terdiri dari tiga tahap, yaitu
centering I, centering II (decentering) dan cut across. Centering I dilakukan pada saat tanaman sudah berumur enam bulan setelah tanam. Caranya dengan memotong batang utama/primer yang telah memiliki diameter sebesar pensil dengan ketinggian 15 – 20 cm dari permukaan tanah dengan meninggalkan kurang lebih tiga cabang.
Centering II dilakukan enam bulan setelah centering I. Caranya dengan memotong cabang sekunder dan cabang orthotrof (cabang yang tumbuh ke atas) dengan ketinggian 25 – 30 cm. Tujuannya untuk memacu agar pertumbuhan cabang ke samping semakin banyak atau agar dapat melebar. Jika percabangan telah tumbuh mencapai ketinggian 60 – 70 cm, maka akan dilakukan
pemangkasan selektif (selective cut-cross) dengan ketinggian 45 – 50 cm dari permukaan tanah. Caranya dengan menghilangkan cabang–cabang yang di tengah. Tujuan dari selective cut-cross adalah untuk memperbanyak cabang yang tumbuh ke samping (plagiothrof). Tunas-tunas yang tumbuh setelah selective cut-cross
dibiarkan tumbuh selama 3 - 6 bulan, kemudian dilakukan pemetikan jendangan (tipping).
Penulis melakukan kegiatan centeringdi Blok Rinjani, dengan prestasi kerja 0.1 ha/HK. Standar dan prestasi kerja karyawan berturut – turut adalah 0.12 ha/HK dan 0.12 ha/HK.
Pemupukan. Pemupukan merupakan upaya untuk memberikan unsur hara dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan daya dukung tanah terhadap peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman teh. Kegiatan pemupukan harus dilakukan dengan tepat, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu.
Pemupukan di Unit Perkebunan Bedakah dilakukan melalui dua cara, yakni pemupukan lewat tanah dan pemupukan lewat daun. Pemupukan lewat tanah dalam satu tahunnya dilaksanakan 2 kali aplikasi untuk tanaman menghasilkan atau TM dan 4 kali aplikasi untuk tanaman belum menghasilkan atau TBM. Pemupukan pada TM dan TBM dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Pemupukan TM (a) dan Pemupukan TBM (b)
Pemupukan lewat tanah untuk tanaman menghasilkan (TM) dilaksanakan pada semester I bulan Maret – April dan semester II bulan Oktober – November. Adapun caranya yaitu dilakukan pada barisan tanaman, sehingga pemupuk harus masuk ke dalam barisan tanaman teh. Jenis pupuk yang digunakan adalah Urea (46 % N), Rock Phospat (30 % P2O5), KCl (60 % K2O), Kieserit (27 % MgO).
Waktu pemupukan yang optimal yaitu pada awal dan akhir musim hujan dengan curah hujan per minggu sekitar 60 – 200 mm. Kondisi lahan yang akan dipupuk harus bersih dari gulma.
Dosis pupuk untuk areal tanaman menghasilkan (TM) berbeda-beda, antara lain: berdasarkan target produksi pucuk basah dalam satu tahun, jenis tanaman (seedling atau klonal) serta produktivitas pada masing-masing blok. Pemupukan lewat tanah untuk areal tanaman menghasilkan (TM) adalah dengan cara memberikan pupuk di antara dua baris tanaman yang sebelumnya telah dibuat lubang pupuk (koakan) setelah itu lubang ditutup dengan tanah. Rekomendasi dosis pupuk dari direksi PT Tambi ditetapkan dengan perbandingan N : P : K : Mg = 5 : 1 : 2 : 0.5 dengan kadar N % = 11 %. Dosis pupuk dan kebutuhan pupuk per tanaman untuk TM per apikasi per ha untuk setiap blok di UP Bedakah dapat dilihat pada Lampiran 8.
Pemupukan lewat tanah pada tanaman belum menghasilkan (TBM) dilakukan dengan cara pupuk dibenamkan disekitar tanaman pokok dengan melakukan penugalan terlebih dahulu. Jarak antara tanah yang ditugal dengan tanaman pokok berkisar 10 – 15 cm, tujuannya adalah agar akar tanaman dapat menjangkau hara yang diberikan. Kedalaman tanah yang ditugal 5 – 7 cm.
Dosis yang digunakan per umur tanaman belum menghasilkan (TBM) berbeda-beda sesuai dengan kondisi tanaman tiap blok serta umur tanamannya. Berikut adalah dosis pupuk dan kebutuhan pupuk per tanaman untuk TBM per apikasi per ha di UP Bedakah dapat dilihat pada Lampiran 9.
Teknis pemupukan dilaksanakan dari tempat dengan topografi tinggi ke tempat yang lebih rendah. Penulis melaksanakan kegiatan pemupukan di Blok Bismo, Rinjani, dan Kembang. Prestasi kerja karyawan 0.2 ha/HK dengan standar kerja 0.2 ha/HK sedangkan prestasi kerja penulis 0.01 ha/HK.
Pemupukan lewat daun menggunakan ZnSO4 (Zinc sulpathe). Pemberian
pupuk daun dilakukan 2 - 3 hari setelah dilakukan pemetikan dengan dosis 1 kg/ha. Tujuan pemberian pupuk daun adalah untuk menambah zat hijau daun pada tanaman teh. Pemupukan lewat daun biasanya dilakukan seiringan dengan pengendalian penyakit. Alat yang digunakan untuk pupuk daun pada tahun pangkas I menggunakan hand sprayer berkapasitas 15 l air, sedangkan untuk tahun pangkas II, III dan IV menggunakan mist blowerdengan kapasitas 10 l air.
Pemangkasan. Pemangkasan merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan untuk membuat tanaman teh menjadi perdu. Tujuannya untuk memperbarui dan memperbaiki bidang petik tanaman, mempertahankan agar tanaman selalu berada pada fase vegetatif, mengusahakan agar perdu/bidang petik agar tetap rendah sehingga dapat mempermudah dalam pelaksanaan pemetikan, membentuk bidang petik (frame) seluas mungkin, membuang cabang yang tidak produktif yang dapat menghambat pertumbuhan tunas baru serta dapat merangsang pertumbuhan tunas baru (Setyamidjaja, 2000).
Pemangkasan yang dilakukan di Unit Perkebunan Bedakah adalah pemangkasan produksi dengan tipe pangkasan bersih, yaitu pangkasan dengan membuang semua ranting kecil yang berukuran kurang dari 1 cm beserta semua daun-daunnya, sehingga yang tertinggal hanya cabang dan ranting-ranting utamanya saja dengan maksud untuk memperbaiki percabangan. Kegiatan pemangkasan dan tipe pangkasan bersih dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Kegiatan Pemangkasan (a) dan Pangkasan Bersih (b)
Tinggi pangkasan bersih yang digunakan di Unit Perkebunan Bedakah berkisar 50 – 65 cm dari permukaan tanah. Standar tinggi pangkasan menggunakan sistem pangkasan selalu naik 5 cm lebih tinggi dari pangkasan sebelumnya dan diturunkan kembali setelah dipangkas 65 cm. Luka pangkas tidak boleh pecah serta luka karena dapat menghambat pertumbuhan tunas baru. Bentuk potongan (luka pangkas) membentuk sudut 45 º menghadap ke dalam perdu, bidang pangkas sejajar dengan permukaan tanah atau sesuai dengan kontur tanah. Alat yang digunakan untuk pemangkasan di Unit Perkebunan Bedakah dengan menggunakan gaet/sabit pangkas, tongkat ukuran dan batu asah.
Waktu pelaksanaan pemangkasan di Unit Perkebunan Bedakah, dilaksanakan selama dua semester. Hal ini dilakukan untuk menstabilkan produksi pucuk harian agar tidak terjadi fluktuasi produksi yang terlalu besar antara saat
flush dan saat minus (kemarau). Dalam satu tahun areal yang dipangkas sebesar 25 % dari total areal kebun. Unit Perkebunan Bedakah untuk semua bloknya menggunakan perbandingan 70 % : 30 % untuk kegiatan pemangkasannya.
Gilir pangkas yang dilakukan di UP Bedakah dilakukan 4 – 5 tahun sekali disesuaikan dengan kondisi tanaman seperti ketinggian tempat, musim, dan ketinggian tanaman serta produktivitasnya. Penulis melakukan kegiatan pemangkasan di blok Argopuro dan Mandala. Standar kerja 0.04 ha/Hk, prestasi kerja tenaga kerja adalah 0.04 ha/HK, sedangkan prestasi kerja penulis 0.009 ha/HK.
Gosok lumut. Unit Perkebunan Bedakah termasuk daerah perkebunan teh dataran tinggi, sehingga memiliki curah hujan dan kelembaban yang tinggi. Kondisi semacam ini memungkinkan untuk pertumbuhan lumut yang banyak, baik pada batang, ranting, maupun cabang tanaman teh.
Keberadaan lumut dan paku-pakuan sangat merugikan bagi tanaman, sebab dapat memacu perkembangbiakan cacar daun teh (blister blight) dan pertumbuhan gulma di sekitar tanaman menjadi banyak. Tunas yang baru tumbuh bisa langsung terserang cacar daun. Lumut banyak tumbuh subur pada tanaman tua, terutama pada jenis tanaman seedling. Pembersihan lumut dilakukan satu minggu setelah dilaksanakan pemangkasan dengan menggunakan ranting tanaman teh yang
dirangkai menyerupai sapu lidi. Pembersihan lumut ini diharapkan tidak melebihi satu minggu setelah pangkas, agar mata tunas mendapat kesempatan tumbuh lebih baik, lingkungan perdu menjadi bersih serta pertumbuhan gulma menjadi terhambat. Selain lumut, perdu teh harus bersih dari paku-pakuan pacar air dan pakis.
Penulis melakukan gosok lumut di Blok Mandala. Blok Rinjani, dan Blok Argopuro. Prestasi kerja yang diperoleh 0.01 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan 0.02 ha/HK dan standar kerja 0.02 ha/HK.
Penggemburan tanah (Morok). Penggemburan tanah atau morok, dilakukan setelah pemangkasan kurang lebih 10 - 20 hari. Tujuan dari penggemburan tanah ini adalah agar terjadi sirkulasi udara dalam tanah, sehingga tanah menjadi gembur dan tanah dapat menyerap air dengan baik. Alat yang digunakan adalah porok/garpu besar. Teknis pelaksanaanya yaitu ujung porok ditancapkan di tanah dengan posisi agak miring, kemudian ditekan dengan kaki hingga kedalaman 20 - 30 cm, setelah itu garpu diangkat dengan posisi miring sehingga tanah jadi terangkat.
Penulis melakukan kegiatan penggemburan tanah di Blok Bismo dan Blok Argopuro. Prestasi kerja penulis 0.03 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan 0.04 ha/HK dan standar kerja 0.04 ha/HK.
Pembuatan lubang tadah dan saluran air. Lubang tadah atau rorak adalah suatu tempat yang dibuat untuk menampung air pada saat musim hujan dan tempat peresapan air sehingga tanah tidak tercuci atau tidak menyebabkan erosi. Tampungan air yang diserap oleh rorak selanjutnya dapat digunakan pada musim kemarau. Fungsi lain dari rorak adalah sebagai tempat penampungan bahan organik dari guguran daun teh serta dapat memperbaiki aerasi tanah.
Jenis rorak yang diterapkan di Unit Perkebunan Bedakah adalah rorak sesuai kontur dengan tipe rorak rantai. Rorak dibuat dari ujung pertanaman teh, setiap 2 -3 baris tanaman sesuai dengan kemiringan lahan dengan ukuran panjang 100 - 200 cm, lebar 30 - 40 cm serta kedalamannya 30 cm. Pemeliharaan dilakukan dengan mengeluarkan tanah sedalam 30 cm dan tanah diletakkan di atas rorak secara merata. Rorak dipertahankan selama masa TBM. Pemeliharan rorak dilakukan dua
kali dalam satu tahun untuk TBM, sedangkan untuk TM dilakukan setelah pemangkasan.
Saluran air dibuat agar air dapat dialirkan ke dalam lubang tadah. Saluran air ini biasanya dibuat di pinggiran batas antar nomor kebun, serta melihat aliran air tersebut paling deras mengalir dari mana sehingga bisa dialirkan ke dalam lubang tadah. Alat yang digunakan untuk membuat saluran air dan lubang tadah adalah cangkul, sabit dan lempag.
Penulis melakukan pembuatan lubang tadah di Blok Argopuro dengan prestasi kerja penulis 0.005 ha/HK, sementara standar kerja 0.04 ha/HK dan prestasi kerja karyawan 0.04 ha/HK.
Pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit diupayakan secara terpadu dengan memprioritaskan secara alami atau kultur teknis sehingga dampak penggunaan bahan kimia dapat diminimalkan.
Hama penting yang menjadi masalah di Unit Perkebunan Bedakah antara lain Hellopeltis antonii, ulat penggulung pucuk (Cydia leucostome), ulat penggulung daun (Homona coffearia), ulat jengkal (Hyposidra talaca), ulat api (Setora nitens) dan tungau jingga (Brevipalpus phoenicis). Hama di Unit Perkebunan Bedakah tidak begitu dikendalikan dengan intensif, sebab secara ekonomi belum menurunkan produksi pucuk. Pengendalian hama di Unit Perkebunan Bedakah dilakukan dengan cara kultur teknis yaitu memetik daun atau pucuk yang terserang hama.
Penyakit yang banyak menyerang di Unit Perkebunan Bedakah adalah penyakit cacar daun teh (Blister blight) yang disebabkan oleh jamur Exobasidium vexans. Serangan cacar terhadap kebun teh tidak berlangsung terus menerus sepanjang tahun tapi pada umumnya terjadi saat musim hujan. Meskipun demikian bila penyakit ini tidak dilakukan pengendalian maka akan menimbulkan kerugian.
Gejala serangan dimulai dengan adanya bintik-bintik kecil tembus cahaya berdiameter 0.25 mm. Bercak dengan pusat tidak berwarna dibatasi oleh cincin yang berwarna hijau berdiameter 2 – 6 mm menonjol ke bawah. Bercak kemudian semakin membesar mencapai diameter 1 cm, yang pada permukaannya terbentuk
spora seperti tepung berwarna putih. Tahap akhir, pusat bercak menjadi cokelat dan akhirnya mati. Spora dari penyakit cacar daun teh cepat berkembang biak apabila kelembaban udara tinggi, angin, ketinggian tempat, dan kurangnya sinar matahari (Wahid, 2005). Hama ulat api dan penyakit cacar daun teh dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Hama Ulat Api (a) dan Penyakit Cacar Daun Teh (b)
Upaya pengendalian hama dan penyakit di Unit Perkebunan Bedakah, dilakukan dengan melalui dua cara yaitu: (1) secara kultur teknis dengan mengurangi ranting pohon pelindung agar lebih banyak sinar matahari yang masuk sehingga kelembaban berkurang, sanitasi dan kebersihan kebun, pengaturan pemangkasan, pengaturan gilir petik dan cara pemetikan serta penanaman klon yang tahan terhadap penyakit cacar daun; (2) secara kimia dengan menggunakan fungisida seperti Kocide 77 WP dengan dosis 200 g/ha. Penyemprotan dilaksanakan 2 - 3 hari setelah dilakukannya pemetikan. Alat yang digunakan untuk pengendalian penyakit adalah mist blower, sedangkan untuk tanaman tahun pangkas pertama menggunakan hand sprayer dengan tujuan efisiensi penggunaan fungisida.
Penulis melakukan kegiatan pengendalian hama dan penyakit serta pupuk daun di Blok Bismo. Prestasi kerja dan prestasi kerja karyawan masing-masing 0.3 ha/HK dan 1 ha/HK.
Pemetikan
Pemetikan adalah kegiatan pemungutan hasil pucuk teh yang masih muda untuk kemudian diolah menjadi produk kering, serta harus memenuhi syarat-syarat pengolahan. Pemetikan berfungsi pula sebagai usaha membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan. Kecepatan pertumbuhan tunas akan mempengaruhi beberapa aspek pemetikan, yaitu jenis pemetikan, jenis petikan, gilir petik, pengaturan areal petik, tenaga pemetik serta pelaksanaan pemetikan.
Jenis pemetikan. Jenis pemetikan yang dilakukan di Unit Perkebunan Bedakah terdiri atas pemetikan jendangan, pemetikan produksi dan pemetikan gendesan/rampasan.
a). Pemetikan Jendangan
Pemetikan jendangan (tipping) adalah pemetikan yang dilakukan pada tahap awal setelah perdu dipangkas. Pemetikan ini dilakukan dengan tujuan membentuk bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalan lapisan daun pemeliharaan yang cukup, agar dapat menghasilkan produksi yang tinggi.
Pemetikan jendangan di Unit Perkebunan Bedakah dilaksanakan 2 - 3 bulan setelah pemangkasan dan apabila 60 % areal sudah siap untuk dijendang. Pertumbuhan tunasnya telah mencapai ketinggian kurang lebih 10 – 25 cm tergantung pada ketinggian pangkasan dengan 4 - 6 kali petikan serta 10 – 12 gilir petik . Pemetikan jendangan dilakukan dengan memetik tunas-tunas secara merata dan hanya ditujukan untuk tunas yang tumbuh ke atas sementara tunas yang tumbuh ke samping dibiarkan agar bidang petik menjadi lebar dan sejajar dengan permukaan tanah.
b). Pemetikan produksi
Pemetikan produksi adalah pemetikan yang dilaksanakan setelah pemetikan jendangan selesai dilakukan sampai menjelang tanaman dipangkas sesuai dengan gilir petik yang ditentukan serta jenis petikannya. Pemetikan produksi yang dilaksanakan di UP Bedakah yakni dengan memetik pucuk yang sudah masak petik, yakni pucuk yang telah memenuhi syarat pengolahan yang