• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Budaya atau kebudayaan merupakan identitas suatu bangsa. Identitas ini yang membedakan kebiasaan, sifat, dan karya-karya seni yang dihasilkan. Indonesia memiliki berbagai macam kesenian budaya yang harus kita lestarikan, salah satunya adalah seni musik. Kesenian musik menjadi bagian budaya dari sendi kehidupan yang tak terpisahkan dalam masyarakat, baik di dunia umum ataupun di negeri kita. Ditanah air Indonesia, kesenian telah menempati tempat tersendiri sebagai salah satu bidang yang di akui dalam masyarakat salah satunya yaitu kesenian musik keroncong.

Kesenian musik keroncong yang ada di Indonesia merupakan suatu corak musik populer yang berasal dari para pekerja Portugis dimasa lalu yang dibebaskan dan lantas berpihak pada Belanda untuk semua kepentingan, baik politik, spiritual maupun budaya. Musik keroncong merupakan salah satu genre musik yang berkembang di Indonesia. Dalam perkembangannya musik keroncong telah berkembang di Indonesia, dan khususnya berkembang di Semarang. Ciri khas musik keroncong gaya Semarangan ini dapat terdengar dari pemain cellonya yang berbeda dengan gaya di Solo, Yogyakarta dan Surabaya.

Sebagai sebuah genre musik, keroncong memiliki ciri kekhasan dalam banyak hal. Mulai dari alat musik keroncong yang memiliki keunikan berbeda dibanding dengan alat-alat musik band yang berkembang di kalangan muda. Cara memainkan alat-alat musik tersebut juga memiliki karakteristik permainan yang khas. Pembawaan vokal juga memiliki corak tersendiri yang berbeda dengan vokal musik popular. Bila dilihat secara detail kekhasan yang ada pada musik keroncong akan tampak sangat banyak. Namun secara menyeluruh kekhasan musik keroncong bisa dikelompokkan dalam beberapa segi, yaitu tampak pada

(2)

bentuk, harmoni, ritme, jenis alat musik yang digunakan, dan pembawaan. Lagu-lagu keroncong di telinga kalangan muda memang terasa asing dan aneh. Penyajian vokal yang dibawakan oleh para penyanyi keroncong memberi kesan lamban dan melankolis. Lamban karena memang lagu keroncong sebagian besar menggunakan tanda tempo andante yang berarti lambat. Pembawaan melodi dan syairnya atau vokal bersifat improvisatoris, bercengkok dan gregel, juga secara portamento, sedangkan ritme sering tidak tepat pada pukulan yang seharusnya. Jadi agak ditunda sedikit, yang dalam istilah keroncong disebut “menggantung matt”, atau istilah lain dalam bahasa Jawa disebut “nggandhul”. Pembawaan vokal yang demikian memberi kesan tidak tegas dan semau-maunya. Hal ini bertentangan dengan karakteristik jiwa muda yang serba menghentak, tegas, cepat, dan gemerlap. (http://www.kompasiana.com/zazongko.puji/mengapa-musik-keroncong-tidak-diminati-kalangan-muda_55188aefa33311b207b66366/, diakses tanggal 27 April 2016 jam 19.25 WIB)

Dari segi lagu-lagu yang dibawakan rupanya lagu-lagu dari musik keroncong lamban dalam pertambahan referensinya, sehingga yang muncul dalam setiap kali penampilan lagu-lagunya cenderung itu-itu saja atau monoton. Dilihat dari bentuk lagunya, lagu-lagu keroncong memiliki beberapa bentuk yang sudah tetap atau baku. Bentuk-bentuk itu adalah: keroncong asli, langgam keroncong, stambul I, stambul II. Lagu dan musik keroncong itu monoton bahkan cenderung kurang bisa berkembang, sehingga banyak anak muda yang kurang tertarik dengan musik bergenre keroncong.

Usaha untuk mempertahankan eksistensi keroncong terus dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menggabungkan musik keroncong dengan jenis musik rock. Musik rock adalah genre musik populer yang memiliki bunyi khas yang biasanya didominasi oleh vokal, gitar, drum, dan bass. Musik rock biasanya mempunyai beat yang kuat dan didominasi oleh gitar, baik elektrik maupun akustik. Hal tersebut dilakukan untuk menarik minat pendengar dan peminat musik, sehingga keroncong semakin diperkarya untuk persatuannya dengan jenis musik lainnya. Demikianlah yang dilakukan oleh grup music “Congrock 17” yang di pelopori oleh Hary Djoko. Ia dan kelompoknya

(3)

mempertahankan irama keroncong sebagai spirit dari lagu dan menyatukan irama rock dalam lagu tersebut. Irama keroncong tetap menjadi dominan dalam lagu. Pengolahan irama keroncong dengan irama rock diolah dengan menggunakan sistem kombinasi dan juga penyatuan dari irama musik rock. Berbagai cara untuk bisa masuk ke segmen anak muda sudah dilakukan. Kelompok musik ini menginginkan agar setiap orang yang mendengarkan keroncong, terutama bagi anak-anak muda agar mereka nantinya dapat mendengarkan keroncong seperti layaknya mereka mendengarkan musik dari band-band yang biasa mereka dengar, sehingga tidak seperti lagu-lagu keroncong yang biasa mereka dengar. Keunikan yang dilakukan oleh Congrock 17 terletak pada penyatuan irama keroncong dengan irama musik rock. Penyatuan ini bukan merupakan hal mudah untuk dilakukan, karena irama musik yang satu dengan irama musik yang lain mempunyai bangunan unsur-unsur musik yang berbeda. Penyatuan pola irama keroncong dan irama rock membentuk suatu pola irama yang merupakan ciri khas Congrock 17.

Grup musik ini mengolah unsur-unsur musik yang berbeda itu menjadi satu spirit keroncong yang dominan dengan tidak menghilangkan spirit irama musik rock, sehingga merupakan suatu pekerjaan unik yang di aransemen grup ini. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Faktor keunikan yang menjadi ciri khas Congrock 17 ini yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat kreativitas bagaimana grup musik ini dapat menyatukan irama musik keroncong dengan irama musik rock. Keroncong memang bukan music popular, tetapi bagaimana kita semua dapat menjadikan keroncong sejajar dengan music popular lainnya, dan dapat diterima di masyarakat itu merupakan suatu bentuk perhatian kita untuk memperhatikan eksistensi musik tradisional dan budaya Indonesia.Oleh karena itu, penulis berniat untuk membuat karya feature yang di visualisasikan dengan media televisi yang nantinya dapat membuat ketertarikan penonton yang melihat terutama bagi anak muda.

(4)

Televisi adalah media pandang sekaligus media pendengar (audio-visual), yang dimana orang tidak hanya memandang gambar yang ditayangkan televisi, tetapi sekaligus mendengar atau mencerna narasi dari gambar tersebut. (Adi Badjuri, 2010)

Dari penjelasan di atas penulis berniat untuk membuat sebuah karya menjadi sebuah komponen yang menarik, mudah dipahami, dan memberi pemahaman baru dengan kemasan yang menarik bagi pemirsa. Penulis memutuskan untuk mengemas karyanya dalam format Feature yang berjudul “4.30” EPISODECONGROCK 17.

Feature ini akan mengulas lebih dalam mengenai budaya kesenian musik keroncong yang di padukan dengan musik rock. Selain itu program berformat feature merupakan salah satu cara untuk menghadapi persaingan televisi, karena feature dianggap mampu menjadi counter program yang dapat menyuguhkan kegiatan manusia sehari-hari pada umumnya yang membutuhkan interaksi, reaksi, dan pengetahuan.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Banyak masyarakat yang kurang tertarik dengan musik keroncongBerdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara mengemas sebuah feature yang menarik tentang grup musik keroncong Congrock 17 agar dapat menarik selera masyarakat ?

2. Bagaimana menjelaskan dan mengupas tuntas kiprah grup musik Congrock 17 dan pesan yang terkandung di dalamnya dengan format feature?

3. Bagaimana teknik penulisan dan membuat keterampilan naskah dalam format feature, agar informasi dapat disampaikan?

1.3 TUJUAN

Pemecahan dari semua masalah di atas itu bertujuan :

1. Menciptakan sebuah karya seni audio visual feature tentang perpaduan musik keroncong dan rock dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat 2. Menjelaskan dan mengupas tuntas grup musik keroncong Congrock 17 dan

(5)

3. Membuat naskah yang baik sehingga dapat menjadi panduan saat memproduksi sebuah karya feature

1.4 BATASAN MASALAH

Penulis memfokuskan masalah penelitian yang berkaitan dengan pembuatan feature Congrock 17, yaitu :

Penulis menitik beratkan pada anak muda dan masyarakat yang diharapkan mampu mengerti, menerima serta mengenal tentang kesenian musik yang ada di Indonesia karena itu merupakan kekayaan budaya Indonesia yang harus tetap di jaga dan di lestarikan.

Penulis menitik beratkan job description selaku penulis naskah dalam program feature, sebagai kompetensi pilihan yang dikuatkan dalam berkarya. Pemilihan kompetensi ini dirasa sesuai, karena untuk menghasilkan sebuah karya feature yang baik dibutuhkan keterampilan dan kejelian saat menulis naskah serta melakukan riset detail dalam melakukan penggalian data dan mencari referensi sebanyak-banyaknya mengenai perpaduan music keroncong dan music rock 1.5 MANFAAT

a. Manfaat Akademis

1. Sebagai dokumen dan arsip dalam bentuk karya audio visual

2. Sebagai referensi untuk pembelajaran mahasiswa di Universitas Dian Nuswantoro Semarang

3. Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu dan kualitas belajar di Universitas Dian Nuswantoro Semarang

b. Manfaat Praktis

1. Menambah keterampilan dalam pembuatan feature

2. Sebagai sarana kepedulian penulis terhadap budaya dan kesenian musik yaitu musik keroncong yang dipadukan dengan rock khususnya dikalangan anak muda di Semarang

3. Bukti bahwa penulis mampu mengaplikasikan ide kreatif menjadi sebuah karya feature yang baik

(6)

c. Manfaat Sosial

1. Sebagai sarana media pembelajaran bagi masyarakat yang melihat feature ini

2. Sebagai sarana media informasi tentang seni musik keroncong yang dipadukan dengan musik rock

3. Sebagai tontonan yang tidak hanya menghibur melainkan dapat memberi pengetahuan, inspirasi, dan motivasi terhadap orang yang melihatnya. 1.6 METODE PENGUMPULAN DATA

1.6.1. Metode-Metode Yang Digunakan :

Metode penelitian yang digunakan penulis dalam menyusun penulisan ini serta dalam memperoleh data ditempuh dengan jalan :

a. Studi Lapangan (Field Research)

Yaitu penelitian yang langsung dilakukan pada obyeknya, dimana dalam hal ini penulisan melakukan dengan :

1. Mengumpulkan data dengan mewawancarai secara langsung narasumber yang berkompeten dan mengetahui tentang kesenian musik keroncong yang dipadukan dengan musik rock khususnya yaitu personil Congrock 17

2. Observasi, mengikuti dan mengamati proses jalannya produksi dengan personil grup musik Congrock 17

3. Dokumentasi, dalam proses pencarian data (riset) penulis menggunakan alat perekam (Tescamp), kamera DSLR, Kamera sebagai sumber data yang nantinya dapat memudahkan penulis untuk mentranskrip hasil-hasil wawancara

b. Studi Kepustakaan (Library Research)

Yaitu suatu penelitian dan pengumpulan data dengan cara dokumentasi mempelajari dan membaca buku serta literature-literature yang ada kaitanya dengan obyek penulisan. Disini penulis mencari referensi melalui buku, surat kabar, foto, sumber internet mengenai kesenian musik keroncong yang dipadukan dengan music rock yaitu Congrock 17. Bagaimana mengemas sebuah feature agar menarik, dan

(7)

penulisan naskah, agar nantinya informasi yang ingin disampaikan dapat di terima baik oleh masyarakat.

1.6.2. Pemilihan Narasumber

Narasumber yang dipilih adalah orang-orang yang berkompeten dan mengerti kesenian musik keroncong khususnya Congrock 17 diantaranya :

1. Hary Djoko, selaku pelopor pendiri Congrock 17 2. Marko Manardi, selaku ketua Congrock 17 3. Grup musik Congrock 17

1.6.3. Pemilihan Lokasi

Lokasi yang dipilih dalam pencarian data pencarian data, ada beberapa tempat yaitu :

1. Di rumah Hary Djoko

2. Di studio latihan Congrock 17 3. Di Taman Budaya Raden Saleh 4. GOR Jati Diri

5. Kota Lama Semarang 6. Mukti Café Semarang 7. Rumah Mas Adit

(8)

8 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 KONSEP KEBUDAYAAN 2.1.1 Definisi Kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Kebudayaan yaitu memberikan gambaran mengenai kebudayaan sebagai keseluruhan sistem atau gagasan, ide, action, artifact dalam masyarakat yang dijadikan sebagai milik bersama dengan cara belajar untuk memiliki kebudayaan (Koentjaraningrat 1980). Menurut E.B Tylor kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain serta kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Ada beberapa unsur-unsur kebudayaan. Koentjaraningrat (1978) menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia menyebutnya sebagai isi pokok kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah kesenian, sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem organisasi sosial, sistem bahasa, sistem mata pencaharian hidup, sistem pengetahuan, sistem religi. Pada jaman modern seperti ini budaya asli negara kita memang sudah mulai memudar, faktor dari budaya luar memang sangat mempengaruhi pertumbuhan kehidupan di negara kita ini. Kebudayaan diperoleh melalui proses belajar. Pengertian proses belajar memiliki arti luas, tidak harus berupa pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal, informal, dan mandiri, bahkan juga seluruh hasil pemikiran pribadi yang diperoleh/diserap dari lingkungannya. Kebudayaan terbentuk dari hasil renungan yang mendalam dan hasil kajian yang berulang-ulang tentang suatu permasalahan yang dihadapi manusia,

(9)

sehingga diperoleh sesuatu yang dianggap baik dan benar, karena itu bernilai. Karena dianggap baik dan benar, hasil renungan ini diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh generasi berikutnya hasil renungan ini diterima dan dapat ditimbang kembali sesuai dengan kemajuan yang dapat dicapai dan dirasa lebih memuaskan pada generasi berikutnya. Tetapi dapat saja generasi berikutnya menerima kebudayaan dari generasi sebelumnya berupa apa adanya, atau sekedar melanjutkan.

2.1.2 Karakteristik Kebudayaan

Karakteristik kebudayaan meliputi :

1. Universal, terdapat di semua daerah didunia.

2. Milik bersama, dimiliki oleh sekelompok masyarakat. 3. Diperoleh melalui proses belajar.

4. Adaptif, menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar.

5. Stabil disamping dinamis, dipelihara disamping terus mengalami perubahan.

2.1.3 Sejarah Lahirnya Musik

Beberapa di antara mungkin mencoba untuk memberikan jawaban ilmiah dan mengatakan bahwa musik adalah suatu rangkai dari gelombang suara. Tetapi gelombang suara yang dihasilkan dari suara garukan kuku jari tangan pada papan tulis, tentu tidak bisa digambarkan sebagai music. Dan untuk pedapat terakhir, agaknya semua orang hampir menyetujuinya. Pembuatan musik tidak terbatas pada manusia. Begitu banyak hewan seperti paus dan burung-burung, tampaknya menggunakan musik sebagai alat komunikasi mereka. Musik alam telah digunakan oleh komponis Prancis, Olivier Messiaen, yang dulu keluar masuk pedesaan untuk merekam nyanyian burung-burung, yang akhirnya ia gabungkan hampir dari satu nada per satu nada ke dalam orkes dan musik pianonya. Komponis Amerika John Cage yakin bahwa suara latar belakang mekanis dari kehidupan sehari-hari dapat dilukiskan sebagai musik, dan komponis lainnya telah menulis karya tentang keperluan berbagai macam objek setiap hari yang digunakan sebagai “instrument music”.

(10)

2.2 MUSIK KERONCONG DI INDONESIA 2.2.1. Sejarah Musik Keroncong

Keroncong adalah sejenis musik Indonesia yang memiliki hubungan historis dengan sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado. Sejarah keroncong di Indonesia dapat ditarik hingga akhir abad ke-16, di saat kekuatan Portugis mulai melemah di Nusantara. Keroncong berawal dari musik yang dimainkan para budak dan opsir Portugis dari daratan India (Goa) serta Maluku. Bentuk awal musik ini disebut moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang. Sejarah Keroncong dapat dibagi dalam 3 (tiga) tahap yaitu Keroncong Tempo Doeloe, Keroncong Abadi, dan Keroncong Modern. Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki “Buaya Keroncong” oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong.

Keroncong Tempo Doeloe (1880-1920) berlangsung sejak kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia sekitar tahun 1600-an tetapi baru berkembang sebagai Musik Keroncong pada akhir Abad XIX (ditemukan Ukulele di Hawai pada tahun 1879[1] hingga sekitar setelah Perang Dunia I (sekitar 1920). Pada waktu itu disebut dengan lagu-lagu Stamboel: Stamboel I, Stamboel II, dan Stamboel III dengan standar lagu panjang 16 birama. Contoh lagu Stb I Potong Padi, Stb I Nina Bobo, Stb I Soleram, dsb, contoh lagu Stb II Jali-Jali, Stb II Si

(11)

Jampang, dlsb, dan contoh lagu Stb III Kemayoran (hanya ini yang ada). Masa ini Keroncong berkembang sejak dari desa Toegoe (Cilincing Jakarta sekarang), kemudian hijrah ke Kemayoran dan Gambir, sehingga tidak heran kalau cengkok dan irama menjadi cepat dan lincah.Banyak kelompok musik pada masa ini (seperti Lief Indie) yang memainkan lagu stamboel selain komedi stamboel itu sendiri.

Keroncong Abadi (1920 – 1959) berlangsung sejak setelah Perang Dunia I (1920) hingga setelah Kemerdekaan (1959). Pada waktu hotel-hotel di Indonesia dibangun seperti Hotel Savoy Homan dan Hotel Preanger di Bandung, jaringan Grand Hotel di Cirebon, Yogyakarta, Sala, Madiun, Malang, dsb., di mana pada hotel-hotel tersebut diadakan musik dansa, maka lagu Keroncong mengikuti musik dansa asal Amerika, terutama dengan panjang 32 birama (Chorus: Verse-Verse-Bridge-Verse atau A-A-B-A). Pada masa ini dikenal dengan 3 jenis Keroncong, yaitu: Langgam Keroncong, Stambul keroncong, dan Keroncong Asli. Contoh lagu Lg Bangawan Sala, Lg Tirtonadi, Lg Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Lg Sala Di Waktu Malam; Stb Rindu Malam, Stb Jauh Di Mata, Stb Dewa-Dewi; Kr Purbakala, Kr Sapulidi, Kr Moresko. Pada waktu itu juga lahir Langgam Jawa: Yen Ing Tawang (1935). Pada perjalanan juga menjadi terkenal oleh penyanyi Waljinah (1963). Pada masa ini Keroncong berpindah ke Sala, sehingga dengan irama yang lebih lambat dan lemah gemulai. Pada Pekan Raya (Yaar Beurs) di Sala penyanyi legendaris adalah Miss Any Landauw dan Abdullah, sedangkan pemain biola legendaris asal Betawi adalah M. Sagi.

Keroncong Modern(1959-sekarang). Pada tahun 1959 Yayasan Tetap Segar Jakarta pimpinan Brijen Sofyar memperkenalkan Keroncong Pop atau Keroncong Beat, yaitu sejalan dengan perkembangan musik pop pada waktu itu dengan pengaruh Rock ‘n Roll dan Beatles. Lagu-lagu Indonesia, Daerah maupun Barat diiringi dengan Keroncong Beat. Misalnya Na So Nang Da Hito (Batak), Ayam Den Lapeh (Padang), Pileuleuyan (Sunda), dsb. Pada tahun sekitar 1968 di daerah Gunung Kidul Yogyakarta musisi Manthous memperkenalkan apa yang disebut Campursari, yaitu keroncong dengan

(12)

gamelan dan kendang. Selain itu juga dipakai instrumen elektronik seperti bass guitar, electric bass, organ, sampai juga dengan saxophon dan trompet. Musisi yang gencar memainkan Campursari adalah Didi Kempot.

2.2.2. Perkembangan Musik Keroncong Di Indonesia

Musik keroncong dapat dipandang sebagai salah satu kekayaan musik tertua di Indonesia yang pernah memperoleh masa kejayaannya pada 1960-an. Sayangnya, saat ini genre musik ini kurang mendapat perhatian dari industri musik (rekaman dan hiburan) di Indonesia. Media teknologi, seperti televisi dan radio swasta nasional, sangat jarang bahkan tidak pernah memberikan ruang khusus untuk genre musik ini. Bahkan Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai salah satu media pemerintah, yang seharusnya mendukung kelestarian musik keroncong sebagai salah satu kekayaan kesenian asli Indonesia, hanya memberikan satu acara khusus untuk musik keroncong, yaitu Gebyar Keroncong, yang hanya disiarkan satu kali dalam seminggu. Upaya mempertahankan musik keroncong dalam masyarakat juga tetap dilakukan oleh komunitas pendukungnya. Mengamati masyarakat pendukung musik keroncong selintas akan memberikan kesan bahwa musik keroncong merupakan musik nostalgia yang senantiasa digemari dan dinikmati oleh anggota masyarakat yang berusia di atas 50 tahun untuk berlatih serta pentas bersama. Semula kedudukan musik keroncong dikatakan sebagai music rakyat, yaitu bahwa music keroncong berasaldari rakyat, diciptakan oleh rakyat, dan dibawakan oleh rakyat pula. Namun kini music keroncong dikatakan sebagai musik popular, maksudnya music keroncong ditujukan kepada orang banyak, diciptakan oleh kalangan professional atau spesialis, dan dibawakan oleh kalangan professional. Kendati demikian, music keroncong masih identik dengan genre-nya sebagai musik rakyat yang memiliki jiwa bersahaja.

Langkah-langkah perkembangan dan penyebaran genre musik keroncong mulai awal abad ke 20 telah merambah keberadaannya serta kehidupannya dengan berbagai jalan dan cara. Di antaranya melalui media cetak “Tio Tek Hong Company, Batavia” yang telah mencetak dan mempublikasikan lagu-lagu keroncong yang dibuat oleh Paul Seeking dan Fred

(13)

Belloni, “Himpoenan lagoe-lagoe djenis krontjong”, ciptaan para olah musik Kroncong Indonesia, diterbitkan oleh swasta, Penerbitan “Lagoe-Lagoe Kroncong asli” susunan Andy Muljo, diterbitkan Penerbit Gunung Agung Djakarta. Langkah penyebaran music keroncong yang lain adalah melalui media rekam dalam bentuk piringan hitam atau pita kaset, bahkan media rekam kini sudah menjadi lebih berkembang, yaitu dalam bentuk laser disc, compact disc, dan kaset video. Lagu-lagu keroncong selanjutnya popular dengan penyebaran melalui radio ketika radio mulai mengudara tahun 1925 di Jawa. Kusbini sebagai tokoh dan pelaku yang berkecimpung dalam perjalanan musik keroncong telah melakukan penyebaran musik keroncong melalui siaran radio di Surabaya dari tahun 1933 di N.I.R.O.M. (Netherlandsch Indische Radio Omroep Maatschappy) di Surabaya dan di C.I.R.V.O (Chineesche Inheemsche Radioluisteraars Vereniging Oost Java), kemudian di Djakarta pada tahun 1942-1945 di radio Hosokanrikyoku dan di Keimin Bunka Sidosho.

Selanjutnya langkah perkembangan dan penyebaran keroncong telah dilakukan pula dengan adanya kegiatan pementasan musik keroncong dalam acara hiburan atau pun dalam acara lomba di pasar malam. Pertunjukan musik keroncong yang lain misalnya di Semarang diadakan Pasar Malam Krido Martoya, di Sri Wedari Solo setiap bulan Romadhon diadakan dalam acara perayaan yang disebut Maleman, di Balai Kesenian Pasar Malam Sekaten Yogyakarta di Gedung pertunjukan PPBI Yogyakarta.

2.2.3. Peralatan Musik Keroncong

Semula alat musik keroncong serta format repertoarnya belum tampak jelas, sehingga musik keroncong masih didasarkan atas sebuah alat musik yang digunakan untuk mengiringinya, yaitu alat musik yang disebut keroncong. Beberapa catatan repertoar keroncong lainnya yang diiringi oleh alat musik ukulele, disingkat uke (keroncong), ternyata masih banyak menggunakan lagu-lagu daerah sebagai repertoar music keroncong. Instrumen Musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup:

1. Ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E yaitu sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong - crong sehingga

(14)

disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 dihawai, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong).

2. Ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F).

3. Gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi).

4. Biola (menggantikan Rebab) sejak dibuat oleh Amati atau Stradivarius dari Cremona Itali sekitar tahun 1600 tidak pernah berubah modelnya hingga sekarang.

5. Flute (mengantikan Suling Bambu), pada Era Tempo Doeloe memakai Suling Albert (suling kayu hitam dengan lubang dan klep, suara agak patah-patah, contoh orkes Lief Java), sedangkan pada Era Keroncong Abadi telah memakai Suling Bohm (suling metal semua dengan klep, suara lebih halus dengan ornamen nada yang indah, contoh flutis Sunarno dari Solo atau Beny Waluyo dari Jakarta).

6. Selo / Cello betot menggantikan kendang, juga tidak pernah berubah sejak dibuat oleh Amati dan Stradivarius dari Cremona Itali 1600, hanya saja dalam keroncong dimainkan secara khas dipetik/pizzicato.

7. Kontrabas (menggantikan Gong), juga bas yang dipetik, tidak pernah berubah sejak Amati dan Stradivarius dari Cremona Itali 1600 membuatnya.

Alat musik yang digunakan dalam kelompok musik keroncong belum membentuk formasi yang menentu, namun di kemudian hari formasi dalam kelompok orkes keroncong mempunyai beberapa alternatif. Setiap alternatif pada dasarnya tetap menggunakan alat musik keroncong yang disebut keroncong atau ukulele (sekarang dikenal dengan sebutan cuk), yaitu :

1. Alternatif pertama, alat musik terdiri dari : sepasang keroncong, satu sampai tiga buah gitar, cello, mandolin, satu atau dua buah biola,flute, dan beberapa perkusi.

(15)

2. Alternatif kedua, alat musik terdiri dari : satu suling, satu biola, satu cello, satu gitar, satu keroncong, satu banjo, satu bas.

3. Alternatif ketiga, alat musik terdiri dari : satu ukulele, satu banjo, satu gitar melodi, satu cello pizzicato, satu bas, satu biola, dan satu flute. Ukulele dan banjo dietahui idiomatic sebagai cuk dan cak.

4. Alternatif keempat, alat musik terdiri dari : satu flute, satu biola, satu cello, satu gitar, dua keroncong (terdiri dari cuk dan cak), satu pemain bas. 2.3 SEJARAH MUSIK ROCK DI INDONESIA

Definisi istilah “Rock”, pada umumnya musik jenis ini memiliki karakteristik, menekankan pada ritme, suara instrumen yang kasar dengan tema lirik yang mengacu pada seksualitas dan keduniaan, meskipun belakangan juga ada beberapa grup yang memasukkan unsur rohani didalam lirik-nya. Sejak perkembangan awalnya, energi musik rock mengekspresikan jiwa remaja yang memberontak atau mencari pelarian. Pada awalnya Rock and Roll bangkit dari Blues dan R & B atau Gospel, serta dari musik pop, folk dan country. Iramanya juga pada waktu itu bisa digunakan untuk pesta-pesta dansa. Pada pertengahan decade 60, corak musik rock and roll yang berorientasi ke atas pentas di istilahkan dengan “Rock” saja. Perkembangan musik rock yang beragam kemudian mendapat berbagai sub – kategori seperti, country-rock, folk-rock, blues rock dsb. (http://www.bebenjazz.com/artikel-detail.php?id=25, diakses Senin 16 Mei 2016 jam 21.50 WIB)

Musik rock (bahasa Inggris: rock) adalah genre musik populer yang mulai diketahui secara umum pada pertengahan tahun 50-an. Akarnya berasal dari rhythm and blues, musik country dari tahun '40 dan '50-an serta berbagai pengaruh lainnya. Selanjutnya, musik rock juga mengambil gaya dari berbagai musik lainnya, termasuk musik rakyat (folk music), jazz dan musik klasik. Bunyi khas dari musik rock sering berkisar sekitar gitar listrik atau gitar akustik, dan penggunaan back beat yang sangat kentara pada rhythm section dengan gitar bass dan drum, dan kibor seperti organ, piano atau sejak '70-an, synthesizer. Di samping gitar atau kibor, saksofon dan harmonika bergaya blues kadang digunakan sebagai instrumen musik solo. Dalam bentuk

(16)

murninya, musik rok mempunyai tiga chords backbeat yang konsisten dan mencolok dan melodi yang menarik.

2.4 TELEVISI

2.4.1. Definisi Televisi

Televisi adalah media pandang sekaligus media pendengar (audio visual), yang dimana orang tidak hanya memandang gambar yang ditayangkan televisi, tetapi sekaligus mendengar atau mencerna narasi dari gambar tersebut (Adi Badjuri,2010). Pengertian televisi dapat disimpulkan yaitu salah satu media massa elektronik yang dapat menyiarkan siarannya dalam bentuk gambar atau video serta suara yang berfungsi memberian informasi dan hiburan kepada khalayak luas.

Seiring dengan perkembangannya, televisi bukanlah lagi merupakan kebutuhan tersier bagi masyarakat melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari. Setidaknya sekitar dua jam per hari, setiap orang menyempatkan waktunya untuk menonton acara televisi. Kebutuhan khalayak akan hiburan yang simple dan murah bisa diperoleh hanya dengan menonton televisi. Dengan berbagai alasan tersebut televisi memang sangat cocol dijadikan dua tujuan utama bagi setiap orang dalam memenuhi kebutuhannya akan informasi. 2.4.2. Karakteristik Televisi

Menurut (Elvinaro,2007) terdapat tiga macam karakteristik televisi yaitu:

1. Audiovisual

Televisi memiliki kelebihan dibandingkan dengan media penyiaran lainnya, yakni dapat didengar sekaligus dilihat. Jadi apabila khalayak radio siaran hanya mendengar kata-kata, musik dan efek suara, maka khalayak televise dapat melihat gambar yang bergerak. Maka dari itu televisi disebut sebagai media massa elektronik audiovisual. Namun demikian, tidak berarti gambar lebih penting dari kata-kata, keduanya harus ada kesesuaian secara harmonis.

(17)

2. Berpikir dalam gambar

Ada dua tahap yang dilakukan proses dalam gambar. Pertama adalah visualisasi (visualization) yakni menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang menjadi gambar secara individual. Kedua, penggambaran (picture) yakni kegiatan merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa sehingga kontinuitasnya mengandung makna tertentu.

3. Pengoperasian lebih kompleks

Dibandingkan dengan radio siaran, pengoperasian televisi siaran jauh lebih kompleks, dan lebih banyak melibatkan orang. Peralatan yang digunakan pun lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit dan harus dilakukan oleh orang-orang yang terampil dan terlatih.

2.4.3. Kekuatan dan Kelemahan Televisi

Kekuatan televisi salah satunya adalah memberikan gambaran bila dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar, majalah, buku dan sebagainya), televisi tampaknya memberikan sifat yang istimewa. Ia merupakan gabungan dari media dengan gambar. Dapat bersifat informatif, hiburan, maupun pendidikan bahkan gabungan antara ketiga unsur tersebut. Kekuatan dan Kelemahan televisi (Syahputra,2006) yaitu :

a) Kekuatan Televisi

1. Menguasai jarak dan waktu, karena teknologi televisi mengunakan elektromagnetik, kabel-kabel dan fiber yang dipancarkan transmisi melalui satelit.

2. Sasaran yang dicapai untuk menjangkau massa cukup besar, nilai aktualitas terhadap suatu liputan atau pemberitaan cukup cepat.

3. Daya rangsang terhadap media televisi cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kekuatan suara dan gambarnya yang bergerak (ekspresif).

4. Informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas, dan sistematis.

b) Kelemahan Televisi

(18)

2. Televisi tidak bisa melakukan kritik sosial dan pengawasan sosial secara langsung dan vulgar.

3. Pengaruh televisi lebih cenderung menyentuh aspek psikologis massa. Bersifat “transitory”, karena sifat ini membuat isi pesannya tidak dapat dimemori oleh pemirsanya. Lain halnya dengan media cetak, informasi dapat disimpan dalam bentuk kliping.

2.4.4. Format Program Televisi

(Wibowo, 2007) mengatakan bahwa format acara televisi dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut :

1. Program Seni Budaya

Program seni budaya termasuk produksi karya artistik dalam produksi program televisi. Ada berbagai macam materi produk seni budaya. Secara garis besar materi produksi seni budaya dibagi menjadi dua, yaitu seni pertunjukan dan seni pameran. Yang termasuk dalam, seni pertunjukan, antara lain seni musik, tari, dan pertunjukan boneka dengan segala macam jenisnya.

2. Program Talkshow

Program wicara di televisi, atau biasa kita sebut The Talk Program, meliputi banyak format, antara lain, kuis, interview (wawancara) baik di dalam studio maupun diluar studio dan diskusi panel di televisi. Semua memang dapat disebut Program Wicara The Talk Program.

3. Program Berita

Dalam pengertian sederhana program news berarti suatu sajian laporan berupa fakta dan kejadian yang memiliki nilai berita (unusual, factual, esensial) dan disiarkan melalui media secara periodik. Pengertian penyajian fakta dan kejadian di dalam berita bersifat objektif. Liputan gambar dari kejadian biasanya diambil dengan memperhatikan hal-hal yang sekiranya tidak terlalu membuat shock. Namun, objektivitas semacam ini masih tergantung subjektivitas peliput.

(19)

4. Program Dokumenter

Dokumenter yaitu suatu artikel yang nyata, faktual dan esensial, bernilai atau memiliki makna. Suatu dokumen dapat berwujud konkret kertas dengan tulisan atau berkas-berkas tertulis (ijazah, diktat, dan rontal catatan).

5. Program Feature

Merupakan suatu program yang membahas suatu pokok bahasan, satu tema, diungkapkan lewat berbagai pandangan yang saling melengkapi, mengurai, menyoroti secara kritis, dan disajikan dengan berbagai format. 6. Program Magazine

Program magazine dikenal di Indonesia sebagai program majalah udara. Sebagaimana majalah cetak, program magazine memiliki jangka waktu terbit mingguan atau bulanan tergantung dari kemauan produser. Program magazine mirip dengan program feature. Perbedaannya, kalau program feature satu pokok permasalahan disoroti dari berbagai aspek dan disajikan lewat berbagai format. Sementara itu, program magazine bukan hanya menyoroti satu pokok permasalahan, melainkan membahas satu bidang kehidupan, seperti wanita, film, pendidikan, dan music yang ditampilkan dalam rubik-rubik tetap dan disajikan lewat berbagai format.

7. Program Spot

Spot adalah suatu program yang ingin memperingati dan mendorong penonton televisi atau pendengar radio, untuk tujuan-tujuan tertentu. Spot merupakan program yang sangat pendek. Durasi satu spot berkisar antara 10 hingga paling lama 1,5 menit.

8. Program Sinetron

Di masa lalu ketika stasiun televisi hanya satu, yaitu TVRI, nama program sinetron belum dikenal. Program semacam itu di jaman TVRI disebut drama televisi, teleplay atau sandiwara televisi. Program drama televisi biasanya diproduksi sepenuhnya menggunakan setting indoor, di dalam studio televisi.

(20)

2.5 FEATURE TELEVISI

2.5.1. Definisi Feature Televisi

Feature memiliki pengertian sebagai sutatu jenis berita yang membahas satu pokok bahasan, satu tema yang di ungkapkan dari berbagai pandangan yang saling melengkapi, mengurai, menyoroti secara kritis dan disajikan dengan berbagai kreasi. Dalam karya feature yang dimaksud kreasi adalah seperti narasi, wawancara, vox pop, musik, sisipan puisi-puisi, bahkan terkadang ada sandiwara pendek atau fragmen yang dipandu seorang membawa acara. Feature di televisi memiliki pengaruh yang sangat dalam bagi pemirsa, karena dapat di tonton secara fiksi tanpa narasi panjang. Atmosfer yang terekam memberikan gambaran yang sesungguhnya. Selain itu, struktur feature televise tidak terkait dengan bentuk piramida terbalik, dimana pokok pikiran utama bisa disajikan ditengah atau diakhir, karena kesimpulan cerita bisa saja tercapat sebelum cerita berakhir (Andi Fachrudin, 2012).

Sedangkan menurut Jim Atkins Jr, feature adalah suatu tontonan yang dapat membuat pemirsa berlompatan dan berpindah untuk menyaksikan lalu mereka membicarakannya, meresponnya, dan mengingatnya. Feature juga merupakan liputan mengenai kejadian yang dapat menyentuh perasaan atau mengembangkan pengetahuan pemirsa melalui penjelasan perinci, lengkap serta mendalam, tidak terikat aktualitas nilai utamanya adalah unsur manusiawai atau informasi yang dapat menambah pengetahuan. Program feature kadang syarat dengan kadar keilmuan, hanya saja pengolahannya secara popular sehingga dapat menghibur dan nyaman disimak. Cerita feature adalah pengemasan informasi yang kreatif, terkadang subjektif, tapi yang terpenting adalah dapat member informasi kepada pemirsa tentang suatu kejadian atau aspek kehidupan.

2.5.2. Jenis-Jenis Feature Televisi

Dalam bukunya dasar-dasar produksi televisi (Andi Fachrudin,2012) menjelaskan berbagai macam jenis-jenis feature sebagai berikut :

(21)

1. Feature Kepribadian / Profil

Mengungkapkan riwayat perjalanan hidup seseorang yang menarik. Misalnya tentang seseorang yang secara dramatis, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif profil harus bisa mengungkapkan karakter manusia tersebut.

2. Feature Sejarah

Sebuah format acara untuk memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting. Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiwa mutakhir yang membangkitkan minat pemirsa. Selain itu feature sejarah juga sering melukiskan landmark terkenal seperti monument, gedung, filosofi, agama, kemakmuran, industru dan cagar budaya.

3. Feature Petualangan

Melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan mencengangkan. Feature jenis ini biasanya memulai opening program dengan aksi momen yang paling menarik dan dramatis.

4. Feature Musiman

Mengangkat sebuah aktivitas musiman yang berdasarkan budaya atau gaya hidup suatu masyarakat, seperti hari raya, natalan, dan sebagainya. Kisah seperti itu sangat sulit untuk diperkirakan, sehingga penulis harus bisa menemukan angle atau sudut pandang yang segar.

5. Feature Interpretatif

Memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detail terhadap topik-topik yang telah di beritakan. Jenis feature ini bisa menyajikan sebuah organisasi, aktivitas, trend atau gagasan tertentu yang sedang menjadi buah bibir di masyarakat.

6. Feature Kiat (Petunjuk Praktis)

Berkisah kepada pemirsa bagaimana menuntun, mengajarkan, dan melakukan suatu hal seperti bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, dan lain sebagainya. Bagi pemirsa televisi dengan tekanan beban kerja yang tinggi, sangat membutuhkan feature petunjuk praktis,

(22)

karena memiliki pola piker karena memiliki pola pikir praktis dan pragmatis.

7. Feature Ilmiah (Science)

Mengungkapkan sesuatu yang berkaitan dengan dunia ilmu pengetahuan. 8. Feature Perjalanan

Karya ini mengajak pemirsa televisi untuk mengenali lebih jelas tentang suatu kegiatan perjalanan wisata yang dinilai memiliki daya tarik karena objeknya yang popular, budaya yang eksotik. Feature ini mengajak pemirsa berkreasi mengunjungi berbagai tempat wisata yang pupuler ataupun belum dikenal tetapi sangat indah (beautiful place).

9. Feature Kuliner

Mengulas tentang makanan tradisional atau makanan khas apapun yang patut diketahui pemirsa seperti, bentuk teksturnya, kandung rasa, bagaimana cara membuatnya. Kemasan karya ini disesuaikan dengan gaya berbeda dan lokasi penjual / asal makanan tersebut.

10. Feature Minat Insani

Karya yang menyentuh kebiasaan dan kebutuhan hidup manusia sehari-hari beserta makhluk hidup yang berada di sekelilingnya. Karya ini memberikan informasi, motivasi, merangsang emosional dan sekaligus kesabaran yang menjadi kelebihan dan kekurangan manusia.

2.6 PENULIS NASKAH

Naskah film / skenario yang disebut juga dengan script diibaratkan sebagai kerangka manusia. Dimana Script Writter adalah orang yang mempunyai keahlian dalam membuat film dalam bentuk tertulis atau pekerja kreatif yang mampu mengembangkan sebuah ide menjadi cerita tertulis yang selanjutnya divisualisasikan (Elizabeth Lutters, 2004). Script Writter memiliki tugas penting yang harus dikerjakan :

1. Membangun cerita melalui jalan cerita yang baik dan logis 2. Menjabarkan ide / gagasan melalui jalan cerita dan bahasa

(23)

4. Membangun emosi melalui bahasa dan kalimat pada sebuah adegan tanpa harus memvisualisasikan kekerasan yang tidak mendidik (film/sinetron) 5. Menyajikan cerita yang tidak habis saat selesai ditonton, namun harus

berkesan di mata penonton atau membekaskan sesuatu yang berarti di dalam hati penontonnya.

Cara kerja Penulis Skenario yang bekerja di Stasiun Televisi agak berbeda dengan para penulis skenario yang biasa menulis di Production House. Jika Penulis Skenario Televisi harus mempunyai jadwal menulis naskah yang lebih teratur. Suasana kerja di stasiun televisi yang penuh dengan keteraturan dan kedisiplinan dapat membentuk ritme kerja menulis itu sendiri. Penulis beradaptasi dengan kecepatan dan ketepatan kerja.

Sedangkan Penulis skenario Production House (PH) biasanya mempunyai waktu yang cukup luang untuk menyelesaikan skenarionya, kecuali ia menulis skenario yang sudah “kejar tayang” atau serial drama yang ditayangkan setiap hari (istilah teknisnya stripping program). Waktu luang terjadi, karena pihak rumah produksi yang baru memulai produksi pertama biasanya mempunyai jangka waktu yang cukup panjang untuk tahap persiapan hingga tahap pemasaran produk acara yang telah dibuatnya.

Penulis Skenario production house juga tidak selalu bisa melihat hasil produksi dari skenario yang telah ditulisnya. Dikarenakan tidak semua skenario yang dibuat oleh sang penulis skenario dapat diproduksi oleh rumah produksi, dan tidak semua skenario yang sudah di produksi dapat langsung ditayangkan. Semua itu tergantung pada pihak stasiun televisi mau menerima atau membeli sinetron atau program acara yang dibuat oleh rumah produksi tersebut.

Namun baik penulis naskah skenario atau penulis naskah production house masing-masing harus memiliki bekal yang bersumber dari dirinya sendiri seperti : 1. Minat

Hal utama yang perlu ditumbuhkan adalah minat dari dalam diri kita sendiri untuk mewujudkan tekad menjadi seorang script writer. Mungkin pada awalnya, menjadi seorang penulis naskah bukanlah cita-cita, namun

(24)

sebenarnya profesi tersebut cukup menjanjikan, termasuk dari sisi financial sehingga minat untuk menjadi penulis naskah bisa dibangkitkan.

2. Bakat

Untuk menjadi script writer yang professional, secara idealnya dibutuhkan bakat dalam bidang tulis menulis. Bakat dapat merupakan bakat alam yang diperoleh bukan karena faktor keturunan. Jika kita telah memiliki modal bakat, tinggal mempelajari teori penulisan, maka tujuan menjadi seorang penulis naskah dapat terwujud.

3. Motivasi

Sebagai script writer, perlu motivasi yang kuat. Apa tujuan kita menulis skenario. Masing-masing orang dapat memiliki motivasi yang berbeda. Namun dengan berbekal motivasi kita pasti akan berjuang lebih keras. Motivasi sangat beragam, ada yang sekedar ingin mencari kesibukan, ada pula motivasi yang bersifat financial, ini adalah motivasi yang sangat umum dan lumrah.

4. Disiplin

Sebagai script writer, diperlukan menanamkan sikap disiplin terhadap beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam disiplin waktu kerja, terkadang seorang script writer tidak ingin dibatasi waktu kerjanya.

5. Kecerdasan

Menjadi seorang script writer perlu bekal kemampuan berpikir yang baik atau kecerdasan yang prima. Kecerdasan dibutuhkan untuk dapat mengolah cerita dengan baik, merangkai kisah demi kisah, konflik demi konflik secara menarik dan apik. Kecerdasan juga diperlukan saat mendapat pesanan skenario dari production house atau saat diberi sebuah film oleh produser sebagai bahan referensi dalam membuat naskah pesanan produser.

6. Pengetahuan

Sebagai script writer pengetahuan luas sangat dibutuhkan agar cerita yang dibuat juga dapat bervariasi. Dengan kata lain seorang script writer harus siap mengerjakan pesanan dengan tema cerita yang bervariasi pula.

(25)

7. Pengalaman

Pengalaman dapat terjadi dengan sendirinya, namun ada juga pengalaman yang sengaja diciptakan untuk menambah bekal pengalaman hidup. Seorang script writer sebaiknya membekali diri dengan sebanyak mungkin pengalaman. Dengan kata lain, jangan segan-segan untuk mencoba sesuatu yang baru.

8. Pergaulan

Pergaulan juga sangat dibutuhkan oleh seorang script writer. Pergaulan dengan segala kalangan akan sangat membantu dalam membuat karakter tokoh dan menempatkan sesuaru pada posisi yang tepat.

9. Komunikasi

Sebagai penulis naskah, kita juga harus banyak berkomunikasi dengan semua kalangan untuk mendapatkan informasi yang berharga. Dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, tak ada salahnya kita bangun komunikasi.

10. Belajar

Meski sudah cukup berumur, seorang penulis naskah tidak perlu malu atau berhenti belajar guna menambah pengetahuan dan kecakapan dalam segala hal. Jangan segan untuk belajar bahasa asing karena dengan mempelajari berbagai bahasa, kita akan bisa membaca buku-buku dari berbagai negara dan dapat berkomunikasi dengan orang-orang asing dari berbagai negara.

11. Perjalanan

Melakukan perjalanan ke sebuah tempat juga perlu dilakukan oleh seorang penulis naskah guna memperkarya wawasan tentang tempat yang nantinya dibutuhkan untuk membuat setting.

2.7 NASKAH

Produksi sebuah program televisi selalu dimulai dari idea tau gagasan yang kemudian dituangkan kedalam sebuah naskah atau script naskah merupakan sebuah landasan yang diperlukan untuk membuat sebuah program video dan televisi apapun bentuknya. Penulisan sebuah naskah program video dan televisi yang didasarkan pada sebuah ide biasanya mempunyai tujuan spesifik yaitu :

(26)

1. Memberi informasi (to inform) 2. Member inspirasi (to inspire) 3. Menghibur (to entertain) 4. Propaganda

Sebuah naskah mempunyai peran penting dalam produksi sebuah program video dan televisi. Fungsi naskah dalam produksi program video dan televisi adalah sebagai konsep dasar (basic concept), arah (direction), acuan (reference). Bentuk naskah juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kelengkapan informasi yang terdapat didalamnya yaitu :

1. Kerangka naskah (rundown script) 2. Semi naskah (semi script)

3. Naskah penuh (full script)

Rundown script adalah naskah yang berisi hanya garis besar (outline) dari informasi yang akan disampaikan kepada pemirsa. Sebuah roundown script pada umumnya memerlukan improvisasi dari presenter atau ahli (expert) yang akan muncul didalam program. Semi script adalah naskah yang sudah lebih rinci daripada rundown script. Sedangkan full script adalah naskah yang berisi informasi lengkap dan rinci tentang program yang akan diproduksi. Dalam sebuah full script terdapat informasi yang rinci tentang pelaku, adegan, setting dan properti. Setelah treatment selesai baru di buat naskah. Dalam penulisan naskah biasanya penulisan akan mengalami revisi demi menghasilkan naskah akhir.

Dalam penulisan naskah feature tidak bisa lepas dari riset. Riset digunakan untuk menggali fakta-fakta dan informasi yang berasal dari berbagai sumber, baik sumber tertulis, wawancara, pengamatan dan lain sebagainya. Jika dilihat dari susunan organisasi produksi di atas dapat dikatakan bahwa setiap divisi sangat penting peranannya serta harus mampu bekerja sesuai job description walaupun masing-masing tidak dapat dipisahkan.

Posisi kerabat kerja tidak dapat dipisahkan mana yang paling penting, demikian pula bagi penulis naskah. Seseorang yang menjadi penulis naskah dalam program acara televisi biasanya terlibat dalam proses kreatif dari pra hingga pasca produksi.

(27)

27

BAB III

METODE PENCIPTAAN KARYA

3.1. DESAIN PROGRAM

1. Tema : Mengulas cerita tokoh grup musik keroncong “Congrock 17”

2. Topik : Mengenalkan grup musik keroncong “Congrock 17” 3. Judul : 4.30 episode “Congrock 17”

4. Karakteristik : Tapping 5. Media : Televisi

6. Format Program : Feature Biografi 7. Jam Tayang : 16.00 – 16.30 WIB 8. Hari : Sabtu

9. Durasi : 30 Menit 10. Segmentasi : Dewasa 11. Narasumber :

a. Hary Djoko (Tokoh keroncong/Koordinator Congrock 17) b. Marco Manardi (Ketua Congrock 17)

c. B.J Haryanto ( Arranger Congrock 17) 3.2. OBYEK KARYA DAN ANALISA OBYEK

Di dalam karya feature ini yang menjadi obyek utama adalah Pak Hary Djoko yang merupakan tokoh keroncong yang memiliki grup musik keroncong Congrock17. Grup musik ini sudah 33 tahun berkarya di dunia musik tanah air. Genre musik yang dibawakan adalah kolaborasi antara keroncong dan rock. Congrock 17 tidak sering tampil untuk mengamen di berbagai acara karena mereka tidak mengejar keuntungan tetapi ingin tetap melestarikan ilmu.Berkat keteguhan para personil dalam mempertahankan konsep musiknya, pada tahun 2008 Congrock 17 mendapat rekor Muri kategori grup musik yang konsisten

(28)

dengan genre yang diusungnya. Karena telah cukup lama berkarya di industri hiburan musik, maka pak Hari Djoko memiliki banyak pengalaman yang dapat diceritakan baik itu pengalaman suka dan pengalaman duka selama berkiprah di grup musik Congrock17.

3.3. Komparasi Program 3.3.1. Bumiku Satu

Program feature yang tayang di stasiun local DAAI TV yang tayang setiap hari Jum’at berisi tentang menumbuhkan kepedulian kaum muda terhadap lingkungan mereka sekaligus menumbuhkan kreatifitas dalam bidang sains, kesenian budaya dan lingkungan hidup melalui percobaan-percobaan kecil yang ditampilkan. Pada 4.30 menyajikan kepedulian seseorang terhadap seni Indonesia yang tidak dipedulikan lagi.

3.3.2. Indonesia Bagus NET TV

Adalah acara feature menampilkan keindahan alam Indonesia tetapi juga keunikan kehidupan berbudaya dan kesenianya. Program ini menampilkan penduduk asli daerah tersebut sebagai narator sekaligus pembawa cerita. Pada program 4.30 disini yang membuat berbeda adalah dengan adanya host sebagai pembawa acara namun tidak terjun langsung di lokasi.

Dari komparasi dua program tersebut, mencoba mengolah kembali dan menjadikan sebuah karya baru, dimana dalam karya ini penulis memberikan sebuah informasi melalui narasi melalui host dengan Bahasa yang sederhana namun mudah dipahami oleh semua penonton, sehingga pesan yang penulis sampaikan bisa diterima oleh penonton.

3.4. PERENCANAAN PROSES KREATIF DAN KONSEP TEKNIS

3.4.1. Konsep Kreatif

a. Treatment SEGMEN 1

1. Insert Hari Djoko pergi dengan sepeda motor 2. Insert foto-foto dan pernak pernik diruang tamu

(29)

3. Host membuka acara dengan membacakan tema dan tokoh yang akan dibahas yaitu Hari Djoko serta menjelaskan sedikit siapa sosok Hari Djoko

4. Establish kota lama Semarang sore hari 5. Insert Hari Djoko memainkan gitar 6. Insert nametag Hari Djoko

7. Statement Hari Djoko tentang musik keroncong 8. Insert pemain keroncong

SEGMEN 2

1. Host menjelaskan tentang band Semarang yang bernama Congrock 17

2. Statement Hari Djoko tentang Congrock 17

3. Statement Hari Djoko tentang keunikan Congrock 17 4. Insert kegiatan latihan congrock 17 di studio

SEGMEN 3

1. Host menjelaskan tentang pertanyaan kebenaran dan keeksistensian Congrock 17 selama 33 tahun

2. Statement Hari Djoko tentang kesolidan Congrock 17 3. Insert foto-foto Congrock 17 pada saat masih muda 4. Insert video perfom congrock 17

SEGMEN 4

1. Host menjelaskan tentang siapa saja orang-orang yang berpengaruh di Congrock 17

2. Statement Hari Djoko tentang siapa saja orang yang berpengaruh di grup Congrock 17

(30)

4. Statement Hari Djoko tentang rekor muri yang diperoleh Congrock 17 dan cerita congrock 17 diundang sebagai tamu makan malam presiden SBY

5. Insert piagam rekor muri dan foto makan malam bersama presiden SBY

6. Insert foto panggung congrcok 17

SEGMEN 5

1. Host menutup acacra dan memberi pesan singkat

2. Insert Hari Djoko mengembalikan alat music ke tempat semula 3. Insert detail senar yang bergetar

4. Credit title

5. Logo broadcasting dan udinus 6. @copyright2016

b. Naskah Program

Tabel 3.1 : Naskah Program

NO PELAKU NASKAH GAMBAR

SEGMEN 1

1 HARI DJOKO HARI DJOKO

PERGI DENGAN SEPEDA

MOTOR

2 INSERT DETAIL FOTO

LAWAS KENANGAN HARI DJOKO 3 HOST SELAMAT SORE PEMIRSA /

BERJUMPA LAGI BERSAMA SAYA SUSI SAGITA DALAM ACARA 4.30 // SELAMA 30

MEDIUM SHOOT

(31)

MENIT KEDEPAN / PADA EPISODE KALI INI / KITA AKAN MENGULAS LEBIH JAUH MENGENAI KEBUDAYAAN / KESENIAN / KECINTAAN / DAN

KELESTARIAN MUSIK

KERONCONG / SIAPA SIH YANG NGGAK TAHU TENTANG MUSIK KERONCONG? // MUSIK YANG SUDAH MENDUNIA INI KALAU DI SEMARANG / AKAN DI PADUPADANKAN DENGAN MUSIK YANG LAIN / YAITU MUSIK ROCK / YANG DISEBUT MUSIK KERONCONG ROCK //

4 INSERT ESTABLISH

KOTA LAMA SEMARANG SORE HARI

5 HOST KALI INI KITA AKAN

BERJUMPA LANGSUNG

DENGAN SALAH SEORANG SENIMAN KERONCONG ASLI DARI SEMARANG / YANG BERNAMA BAPAK HARI DJOKO //

6 HARI DJOKO DAN

NARATOR

HARI DJOKO MERUPAKAN

SALAH SATU TOKOH

KERONCONG LEGENDARIS DI KOTA SEMARANG INSERT HARI DJOKO SEDANG MAMAINKAN

(32)

GITAR AKUSTIK DI RUANG TAMU RUMAHNYA/ DETAIL NAME TAG HARI DJOKO YANG MENEMPEL DI BAJU KERJANYA 7 HARI DJOKO STATEMENT HARI DJOKO

TENTANG MUSIK KERONCONG

SHOOT WAWANCARA HARI DJOKO DI RUANG TAMU RUMAHNYA SEGMEN 2

8 HOST BELIAU MEMILIKI KELOMPOK MUSIK KERONCONG YANG DI NAMAKAN / CONGROCK 17 // JADI KIRA KIRA SEPERTI APA KELOMPOK MUSIK TERSEBUT? //

MEDIUM SHOOT HOST

9 HARI DJOKO STATEMENT HARI DJOKO TENTANG “CONGROCK17” SHOOT WAWANCARA HARI DJOKO DI RUANG TAMU RUMAHNYA 10 NARATOR CONGROCK 17 MERUPAKAN

GRUP BAND YANG SANGAT

UNIK DENGAN

INSERT GAMBAR

(33)

ARANSEMENNYA // TULISAN CONGROCK 17 11 HARI DJOKO STATEMENT HARI DJOKO

TENTANG “ KEUNIKAN CONGROCK 17” SHOOT HARI DJOKO MEDIUM SHOOT SEGMEN 3

12 HOST KABARNYA KELOMPOK MUSIK KERONCONG INI SUDAH EKSIS SELAMA 33 TAHUN LHO / BENER GAK SIH? //

MEDIUM SHOOT HOST

13 HARI DJOKO

STATEMENT HARI DJOKO MENGENAI KEEKSISTENSIAN SELAMA 33 TAHUN MEDIUM SHOOT HARI DJOKO DAN DETAIL KASET SALAH SATU ALBUM CONGROCK17 14 NARATOR KEMAJUAN MUSIKALITAS

CONGROCK 17 SANGATLAH SIGNIFIKAN / TERLIHAT NUANSA MUSIK YANG SELALU MENGIKUTI PERKEMBANGAN SELERA MUSIK DI SETIAP PENAMPILANNYA // COVER CD CONGROCK 17 15 CONGROCK 17 VIDEO PANGGUNG LAWAS CONGROCK 17 DI TELEVISI

(34)

16 HARI DJOKO STATEMENT HARI DJOKO TENTANG WARNA MUSIK CONGROCK 17

MEDIUM

SHOOT HARI DJOKO

SEGMEN 4

17 HOST PEMIRSA DIRUMAH

TENTUNYA PENASARAN DONG / KIRA-KIRA SIAPA AJA SIH

TOKOH-TOKOH YANG

BERPENGARUH BESAR DALAM KELOMPOK MUSIK INI? //

MEDIUM SHOOT HOST

18 HARI DJOKO STATEMENT HARI DJOKO TENTANG PENGARUH GRUP MUSIK CONGROCK 17

MEDIUM SHOOT

19 MARCO MANARDI

STATEMENT TENTANG MUSIK KERONCONG BAGI ANAK MUDA

MEDIUM SHOOT

20 HARI DJOKO DAN YANTO

STATEMENT TOKOH YANTO SHOOT HARI DJOKO DAN YANTO PADA SAAT LATIHAN 21 NARATOR PENGORBANAN MAS YANTO

SANGATLAH MENGESANKAN / BELIAU RELA MENOLAK TAWARAN PEKERJAAN YANG SANGAT BESAR GAJINYA DEMI SEBUAH BAND KERONCONG //

INSERT VIDEO PERFOM

CONGROCK 17

22 NARATOR CONGROCK 17 PERNAH MENDAPATKAN KECAMAN DARI BEBERAPA MUSISI KERONCONG MURNI / DAN

INSERT VIDEO CONGROCK 17 TAMPIL DI METRO TV

(35)

DITUDUH MERUSAK PAKEM DARI MUSI KERONCONG ITU SENDIRI //

23 HARI DJOKO STATEMENT CONGROCK DI TUDUH SEBAGAI PERUSAK KERONCONG

INSERT

CONGROCK 17 LATIHAN

LAGU 24 NARATOR ADA BEBERAPA TOKOH YANG

MENDUKUNG CONGROCK 17 UNTUK TETAP MELANJUTKAN MUSIKNYA TERSEBUT //

INSERT

CONGROCK 17 LATIHAN

LAGU 25 HARI DJOKO STATEMENT HARI DJOKO

TENTANG TOKOH PENDUKUNG CONGROCK 17

MEDIUM

SHOOT HARI DJOKO DAN FOTO-FOTO 26 NARATOR AKHIRNYA CONGROCK 17

MENDAPAT REKOR MURI //

INSERT VIDEO PANGGUNG 27 HARI DJOKO STATEMENT CONGROCK 17

MENDAPAT REKOR MURI DAN MENJADI TAMU DI ACARA MAKAN MALAM PRESIDEN SBY INSERT PIAGAM REKOR MURI DAN FOTO CONGROCK 17 DENGAN PRESIDEN SBY

28 INSERT INSERT VIDEO

SALAH SATU TV

SEGMEN 5

29 HOST TIDAK TERASA TIGA PULUH MENIT SUDAH KEBERSAMAAN

MEDIUM SHOOT

(36)

KITA / SAYA SUSI SAGITA BERSAMA DENGAN KERABAT KERJA YANG BERTUGAS UNDUR DIRI/ SAMPAI JUMPA DI EPISODE MINGGU DEPAN / DALAM ACARA 4.30 HARI SABTU PUKUL 4 SORE / HANYA DI L TV ASIKIN AJA //

30 HARI DJOKO - HARI DJOKO

MENARUH GITARNYA DI KURSI

KEMUDIAN PERGI

31 INSERT SENAR GITAR

YANG BERGETAR SAMPAI BERHENTI 32 CREDIT TITLE CREDIT TITTLE 33 LOGO BROADCAST ING LOGO BROADCASTIN G 34 LOGO UDINUS LOGO UDINUS 35 @COPYRIGH T 2016 @COPYRIGHT 2016

(37)

3.4.2. Konsep Teknis

a. Pemilihan Alat dan Bahan (Software)

Dalam sebuah pembuatan program feature harus memperhatikan alat dan bahan yang digunakan agar tidak menghambat proses kerja. Semakin banyak alat pendukung yang dipergunakan maka akan semakin mempermudah proses produksi. Adapun alat dan bahan yang dipergunakan sebagai berikut:

Tabel 3.2 : Alat dan Bahan

JENIS PERALATAN JUMLAH

NAMA TIPE MERK

Kamera Canon D1200,

Canon 60D 2

Mikrofon Mic Eksternal

kamera 1

Tripod 1

Komputer Editing 1

Software Video Cubase 1

Software Audio Final Cut Pro (for

macbook) Macbook 1

Lighting Custom 250 watt 1

3.5. Proses Berkarya

Untuk memproduksi sebuah acara televisi diperlukan tahap pelaksanaan atau proses yang tersusun rapi. Proses produksi sendiri meliputi:

3.5.1 Pra Produksi a. Analisa Karya

Penulis terjun langsung untuk menggali informasi mengenai music keroncong terutama pada grup musik Congrock17. Sebagai tahap untuk mengawali riset, penulis mendatangi rumah Hari Djoko. Penulis pun mendapatkan banyak informasi dan data-data yang lebih lengkap

(38)

dan real sebagai bahan untuk Proyek Akhir. Kemudian selanjutnya, penulis mengadakan survey tempat atau lokasi. Dalam tahap tersebut, penulis menjadi lebih memahami dan merasakan secara langsung permasalahan yang diangkat di Proyek Akhir ini. Tahap terakhir, penulis melakukan pendekatan dengan narasumber utama yaitu Hari Djoko agar penulis dapat lebih memahami kehidupan nyata yang dimilikinya.

b. Penulisan Naskah

Dalam penulisan naskah, penulis tidak mengalami kesulitan karena penulis bekerja sama dengan seorang rekan kerja yang memang memiliki tugas sebagai penulis naskah.

c. Menentukan Tim Produksi

Penulis memilih kru produksi sesuai dengan kebutuhan kelompok kerja yang telah disusun tim produksi “4.30”

Tabel 3.3 : Tim Produksi

NO NAMA JOB DESC

1 Elyza Octy Dwijayanti Produser 2 Avi Tri Hidayati Penulis Naskah 3 Elyza Octy Dwijayanti Pengarah Acara

4 Nicho Taqcheri Kameramen

5 Arga Saputra Asisten Kameramen 6 Dwi Kurniawan Perlengkapan

7 Susi Sagita Host

8 Kukuh Herjuno Editor

9 Dubber Agung Laksono

d. Perencanaan Bugdet

Tabel 3.4 : Perencanaan Budget

NO JENIS BARANG JUMLAH HARGA

1 Konsumsi Kru 7 orang x 2 hari Rp 500.000,00 2 Buah Tangan Narasumber 3 orang Rp 150.000,00

(39)

3 Transportasi 2 hari Rp 200.000,00 e. Jadwal Shooting

Tabel 3.5 : Jadwal Shooting

NO TANGGAL WAKTU LOKASI

1 28 Mei 2016 21.00– 23.00 Pusponjolo “Basecamp Congrock17” 2 31 Maret 2016 10.00 – 12.00 Kediaman Hari

Djoko 13.00 – 14.00 Kediaman Haryanto 15.00 – 16.00 Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) 15.00 – 18.00 Kota Lama Semarang 19.00 – 21.00 Mukti Café Semarang f. Hunting Lokasi

Dalam hunting lookasi, penulis melakukan survey terlebih dahulu sebanyak dua kali. Pertama pertama permohonan izin untuk melakukan proses shooting dan yang kedua untuk pemantapan produksi.

g. Pertemuan Tim Produksi

Dalam produksi ini, penulis melakukan pertemuan tim produksi sebanyak dua kali. Yang pertama adalah pertemuan untuk membentuk job desk dan menjabarkan tentang konsep program feature “4.30” dan yang kedua adalah pertemuan untuk mengecek alat dan membahas perencanaan maatang mengenai proses shooting.

(40)

h. Pengecekan Alat

Sebelum proses produksi dilaksanakan, penulis beserta seluruh tim produksi melakukan chek list alat terlebih dahulu karena peralatan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah proses produksi. 3.5.2 Produksi

Tabel 3.6 : Pelaksanaan Produksi

NO Tahap Aktifitas

Target Per Minggu

April Mei Juni

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Pr a Pr od u k si Penemuan Ide 2 Pengembangan Gagasan,Storyline dan Shooting List

3 Penulisan Naskah dan Treatment 4 Pr od u k si Shooting 5 Dailly Production report 6 Evaluasi Produksi 7 Pasc a Pr od u k si Capturing 8 Logging 9 Offline Editing 10 Transisi 11 Online Editing Dubbing 12 Preview 13 Rendering

(41)

3.5.3 Pasca Produksi

Proses pasca produksi sama saja dengan proses akhir dalam memproduksi yaitu editing. Semua gambar yang telah diambil di satukan supaya menjadi sebuah komposisi yang menarik untuk di tonton. Dan yang sangat berperan penting dalam proses editing adalah editor. Meski begitu penulis naskah juga berperan saat proses editing, penulis naskah tetap mendampingi editor saat mengedit karya, karena penulis naskah yang paham dan mengerti urutan-urutan acara. Adapun proses pasca produksi sebagai berikut :

a. Logging

Sebelum pelaksanaan editing, terlebih dahulu melakukan pendataan dengan logging untuk membuat editing list. Logging ini merupakan pendataan timecome yaitu dengan melihat hasil gambar yang telah diambil dan mencatat mana saja yang dipakai maupun yang tidak dipakai.

b. Dubbing

Sebelum video di edit, terlebih dahulu melakukan proses dubbing. Ini dilakukan agar dalam proses editing nanti memudahkan editor untuk menyelaraskan gambar dengan narasi. Narasi dibacakan oleh seorang dubber, untuk menjelaskan gambar.

c. Offline Editing

Proses menyatukan beberapa gambar yang sudah dipastikan akan dipakai. Proses ini hanya sekedar mengurutkan gambar, namun sudah mulai terlihat urutan ceritanya dari awal hingga akhir.

d. Transisi

Pemberian transisi antar gambar baik itu cut, dislove, dip to white, dip to black agar lebih sistematis dan dinamis.

e. Online Editing

Yang meliputi pemberian efek warna, efek suara dan efek gambar serta memberikan tittle seperti judul, nama pemain, nama kru. Selain itu diberikan tambahan grafis pada gambar.

(42)

f. Preview

Melihat hasil editing dan melakukan koreksi-koreksi yang diperlukan untuk menambah sempurna hasil gambar dan suara.

g. Rendering

Proses menyatukan hasil editing video ke dalam sebuah video yang utuh.

3.6. Job Description Penulis Naskah 3.6.1. Pra Produksi

Dalam sebuah proses pra produksi, penulis naskah melakukan tugasnya sesuai dengan job desknya, antara lain :

a) Melakukan riset bersama dengan Produser dan mengumpulkan referensi untuk naskah.

b) Setelah data dari riset terkumpul, kemudian mentranskip wawancara dan merekap data-data hasil riset untuk bahan membuat naskah. c) Kemudian menentukan konsep penyajian agar mempermudah saat

membuat naskah.

d) Membuat treatment, untuk mempermudah saat produksi e) Membuat outline naskah panduan produksi.

f) Berkoordinasi dengan Produser untuk membahas naskah sehingga dapat menentukan gambaran produksi nantinya.

3.6.2. Produksi

Pada proses produksi, penulis naskah sudah menyerahkan segala hal yang dibutuhkan saat produksi tentu saja sesuai dengan jobdesk-nya yaitu outline naskah yang sudah di setujui oleh crew dan treatment. Namun walaupun sudah ada naskah bukan berarti semua sudah paten, karena pada kenyaatannya di lapangan banyak mengganti alur sesuai dengan kondisi di lokasinya. Sehingga pada tahap produksi, penulis naskah harus selalu mengikuti perkembangan yang terjadi dilapangan selalu berkoordinasi dengan produser serta berkoordinasi dengan pengarah acara.

(43)

3.6.3. Pasca Produksi

Pada proses pasca produksi penulis naskah berkoordinasi dengan produser untuk membicarakan naskah yang telah tersusun apakah akan diadakan revisi atau tidak setelah diadakan offline editing. Jika produser sudah menyetujui naskah yang dibuat oleh penulis naskah maka naskah tersebut akan menjadi dasar seorang editor untuk mengedit gambar secara online. Dalam pasca produksi penulis tak banyak ikut campur tangan, karena dalam proses ini merupakan tanggung jawab jobdesk seorang editor. Penulis naskah boleh mendampingi editor bersama produser karena penulis naskah yang paham dan mengerti urut-urutan acaranya. Bila semua hasil yang diinginkan sudah mencapai kesatuan proses produksi dan tujuan yang diinginkan, maka tugas seorang penulis naskah sudah selesai.

Gambar

Tabel 3.1 : Naskah Program
Tabel 3.2 : Alat dan Bahan
Tabel 3.3 : Tim Produksi
Tabel 3.5 : Jadwal Shooting
+7

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, sumber segala kebenaran, sang kekasih tercinta yang tidak terbatas pencahayaan cinta-Nya bagi hamba-Nya, Allah Subhana Wata‟ala

Pemodelan penyelesaian permasalahan penjadwalan ujian Program Studi S1 Sistem Mayor-Minor IPB menggunakan ASP efektif dan efisien untuk data per fakultas dengan mata

Pendekatan dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang memberikan tekanan utama pada penjelasan konsep dasar yang kemudian dipergunakan sebagai sarana

Audit, Bonus Audit, Pengalaman Audit, Kualitas Audit. Persaingan dalam bisnis jasa akuntan publik yang semakin ketat, keinginan menghimpun klien sebanyak mungkin dan harapan agar

Ekstrak metanol bunga turi merah ( Sesbania grandiflora L. Pers) mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder (alkaloid, tanin, polifenol, flavonoid, kuinon,

untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati Grup. Tabel telah dibuat berdasarkan arus kas yang didiskontokan dari liabilitas

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong