• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenep Hanapiah Universitas Mataram

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jenep Hanapiah Universitas Mataram"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN

PEMBELAJARAN BERBASIS INQUIRY-DISCOVERY BAGI SISWA

KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI 2 NGALI KECAMATAN BELO

KABUPATEN BIMA

Jenep Hanapiah

Universitas Mataram

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA di Kelas IV SDN 2 Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima dengan menerapkan pembelajaran berbasis Inquiry-Discovery. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang pelaksanaannya dilakukan dalam dua siklus dengan empat tahap kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjuk-kan penerapan pembelajaran berbasis Inquiry-Discovery dapat meningkatmenunjuk-kan keaktifan dan hasil belajar IPA di Kelas IV. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase ketuntasan klasikal dari nilai rata-rata keaktifan 2,98 pada Siklus I menjadi 3,59 pada Siklus II. Rata-rata hasil belajar siswa juga meningkat dari 72,60 pada Siklus I menjadi 81,70; Siklus II, dan persentase ketuntasan klasikal juga meningkat dari 27% Siklus I menjadi 96,6% Siklus II.

Kata kunci: Aktivitas belajar, Hasil belajar IPA, Pembelajaran Berbasis Inquiry-Discovery

Abstract. The objective of the research is to increase the activeness dan achievement of the IPA learning of 4th Class in SDN No 2 Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima by applying Inquiry-Dicovery based learning. The research was an action research which was done using two circluses with four stages: plan, action, obser-vation, and reflection. The result of the research shows that applying the Inquiry-Discovery based Learning can increase the activeness and achievement of the IPA learning of 4th Class in SDN No 2 Ngali. This indi-cated by the increase of classical achievement percentage that changed from means value of 2.98 on the 1st Circles to 3.59 on the 2nd Circles. The means score of students’ achiement also increased from 72.60 on the 1st Circles to 81.70 on the 2nd Circles. The percentage of classical achievent also increased from 27% on the 1 Circles to 96% on the 2nd Circles.

Key Words: Learning activity, achievement of IPA Learning, Inquiry-Discovery based Learning.

Mutu pendidikan khususnya pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai saat ini masih jauh dari harapan. Guru-guru cenderung menggunakan metode pembelajaran dengan paradigma lama, yaitu pembelajaran yang bersifat teacher centered. Masih baik kalau kadang-kadang

diselingi dengan tanya jawab atau pemberian tugas. Kenyataan seperti ini membuat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran menjadi kurang baik.

Pembelajaran pada materi-materi tertentu bidang studi IPA tidak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja. Tidaklah mungkin pembelajaran tentang benda-benda langit menggunakan alat peraga berupa benda langsung. Dan tentu pembelajaran dengan ceramah dan menghafal hanya akan membuat siswa tidak memahami apa yang dihafalnya (verbalisme). Akibatnya pemahaman tentang perubahan bentuk bulan menjadi rancu.

Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA di Kelas IV SDN 2 Ngali Kecamatan Kabupaten Bima berdasarkan hasil Ulangan Sumatif Semester I masih banyak yang belum mampu mencapai KKM yang telah

ditetapkan sekolah yaitu 70. Ternyata 63% siswa belum mencapai KKM 70, dan hanya 27% saja siswa yang mencapai KKM. Pemasalahan tersebut mungkin disebabkan oleh pembelajaran yang dirancang guru masih cenderung berpusat pada guru dan kurang inovatif serta tidak optimalnya penggunaan media pembelajaran.

Oleh karena itu, penulis mencoba menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis

inquiry-discovery sebagai upaya meningkatkan

pemahaman siswa dan menghindari verbalisme khususnya pada standar kompetensi memahami perubahan kenampakan permukaan bumi dan benda langit, dengan kompetensi dasar mendeskripsikan posisi bulan dan kenampakan bumi dari hari ke hari pada materi perubahan kenampakan benda-benda langit, khususnya perubahan bentuk bulan dari hari ke hari.

Penerapan pembelajaran inquiry-discovery ditunjang oleh alat peraga yang

optimal. Penggunaan alat peraga diharapkan dapat membuka wawasan dan menghilangkan verbalisme belajar siswa. Dengan demkian terbukalah wawasan siswa untuk mengamati dan mengerti akan fenomena alam ciptaan Allah SWT, sebagai upaya menumbuhkan sikap dan minat siswa dalam cipta, karsa dan rekayasa

(2)

124 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan makna alam dan berbagai fenomena, perilaku, dan karekteristik yang dikemas menjadi sekumpulan teori maupun konsep melalui rangkaian proses ilmiah yang dilakukan manusia. Teori dan konsep yang terorganisir ini menjadi inspirasi terciptanya teknologi yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pemahaman tentang pentingnya mempelajari alam sehingga dapat membawa manusia pada kehidupan yang bermakna dan bermartabat. Secara filosofis IPA menjelaskan proses pembentukan cara berfikir manusia dalam mempelajari alam. Sehingga manusia mengerti, beretika, dan lebih dekat dengan Tuhannya (Mariana & Praginda, 2009).

Pengajaran discovery harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses

discovery (Ahmadi, 1997). Pendapat senada juga

menyatakan bahwa pembelajaran inquiry-discovery adalah strategi pembelajaran yang

berpusat pada siswa di mana kelompok-kelompok siswa masuk ke dalam suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas (Hamalik, 2001). Tujuan utama pembelajaran berbasis inquiry menurut National Research Council (Soppeng, 2009) adalah: mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan konsep sains; mengembangkan keterampilan ilmi-ah siswa sehingga mampu bekerja seorang ilmu-wan; membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan.

Oleh karena sains merupakan cara berpikir dan bekerja yang setara dengan kumpulan pengetahuan, maka pembelajaran sains perlu ditekankan pada cara berpikir dan aktivitas saintis melalui metode inkuiri. Dengan demikian

inquiry seharusnya menjadi “roh” pembelajaran

Sains. Ada lima sifat pembelajaran inquiry, yaitu : pengamatan, pengukuran, eksperimentasi, komunikasi, dan proses-proses mental. Sintaks inkuiri sains terdiri atas empat fase, yaitu : fase investigasi dan pengenalan kepada siswa; penge-lompokan masalah oleh siswa; identifikasi masa-lah dalam penyelidikan; memberikan kemung-kinan mengatasi kesulitan atau masalah (Soppeng, 2009).

Pembelajaran inquiry dapat dimulai dengan memberikan pertanyaan dan cara bagaimana menjawab pertanyaan tersebut. Me-lalui pertanyaan tersebut siswa dilatih melakukan observasi terbuka, menentukan prediksi dan kemudian menarik kesimpulan. Kegiatan seperti

hingga mampu membuat hubungan antara kejadi-an, objek atau kondisi dengan kehidupan nyata.

Melalui pembelajaran yang berbasis

in-quiry, siswa belajar sains sekaligus juga belajar

metode sains. Proses inquiry memberi kesem-patan kepada siswa untuk memiliki pengalaman belajar yang nyata dan aktif, siswa dilatih bagaimana memecahkan masalah sekaligus mem-buat keputusan. Pembelajaran berbasis inkuri memungkinkan siswa belajar sistem, karena pem-belajaran inquiry memungkinkan terjadi integrasi berbagai disiplin ilmu. Peran guru dalam pem-belajaran inquiry lebih sebagai pemberi bimb-ingan dan arahan jika diperlukan oleh siswa. Da-lam proses inquiry siswa dituntut bertanggung jawab penuh terhadap proses belajarnya, sehingga guru harus menyesuaikan diri dengan kegiatan yang dilakukan oleh siswa, sehingga tidak menganggu proses belajar siswa.

Hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang serta tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama -lamanya. Hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik. Hasil belajar merupakan indikator keberhasilan proses pembelajaran. Karena hasil belajar yang baik dapat menunjukkan apakah materi pelajaran yang diberikan guru dapat dipahami oleh siswa. Dalam penelitian ini hasil belajar adalah tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran dalam bentuk nilai tes tertulis yang diketahui dari hasil tes formatif yang dilakukan setelah proses pembelajaran berlangsung.

Pembelajaran yang dilakukan dengan teknik dan pendekatan yang tepat dan dibantu dengan media pembelajaran yang sesuai merupa-kan proses pembelajaran yang dapat mengaktifkan dan memudahkan siswa memahami materi tertentu. Dengan pemahaman yang baik tingkat penguasaan siswa menjadi baik. Tingkat penguasaan yang baik mengakibatkan prestasi belajar siswa menjadi baik. Dengan demikian pendekatan dan metode dengan media pembelaja-ran yang baik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu penulis merancang sebuah pembelajaran inovatif tentang perubahan bentuk bulan pada mata pelajaran IPA kelas IV. Dengan menerapkan pembelajaran yang berbasis

inquiry-discovery,

Dengan pendekatan pembelajaran

inquiry-Discovery siswa diajak untuk melakukan penyelidikan dan menyimpulkan sendiri hasil penyelidikannya sesuai dengan langkah-langkah

(3)

dalam pembelajaran inquiry-Discovery sebagai berikut : observasi atau pengamatan terhadap berbagai fenomena alam; mengajukan pertanyaan tentang fenomena yang dihadapi; mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban; mengumpul-kan data terkait dengan pertanyaan yang diajumengumpul-kan; merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data.

Dalam kegiatan pembelajaran seperti ini siswa melakukan komunikasi multiarah, baik dengan guru, materi pelajaran, media pembelajaran dan siswa lainnya. Dengan demikian, siswa menjadi lebih aktif mencari informasi yang sesuai dengan materi perubahan bentuk bulan dalam setiap fasenya. Keaktifan siswa dalam arti aktif fisik dan mental ini akan membuat siswa tidak merasa tertekan dalam kegiatan pembelajaran dan diharapkan konsep yang diperolehnya lebih kuat melekat dalam ingatannya. Dari kajian permasalahan dan alternatif pemecahan di atas, penulis membuat hipotesis tindakan sebagai berikut : Jika pembelajaran berbasis inquiry-discovery

diterapkan secara optimal dalam pembelajaran IPA khususnya materi perubahan bentuk bulan maka keaktifan dan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.

METODE

Penelitian ini mengambil lokasi di SD Negeri 2 Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima. Subyek dalam peniltian ini adalah siswa Kelas IV SD Negeri 2 Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima dengan jumlah siswa 30 orang, 13 di antaranya siswa laki-laki dan sisanya perempuan. Variable yang dikaji adalah penggunaan pendekatan pembelajaran berbasis inquiry-discovery sebagai variable tindakan dan keaktifan

dan prestasi belajar siswa Kelas IV SDN 2 Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima pada pembelajaran perubahan bentuk bulan sebagai variabel harapan.

Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus, di mana setiap siklusnya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut : perencanaan; tindakan; observasi dan evaluasi; dan refleksi. Data yang terkumpul berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data tentang proses pembelajaran yang khusus menyoroti keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan inquiry-discovery. Data yang dikumpulkan berkenaan dengan partisipasi siswa di dalam kegiatan diskusi kelompok. Untuk memudahkan pengumpulan data, peneliti

menggunakan bantuan teman sejawat untuk melakukan observasi. Kriteria keaktifan siswa dapat dikategorikan sebagai berikut, 3,50-4,00 = sangat aktif; 3,00-3,49 = aktif; 2,50-2,99 = kurang aktif; 2,00-2,49 = Tidak aktif. Nilai keaktifan siswa secara individu (Ki) dianalisis dengan

rumus x 4. Data keaktifan

siswa secara klasikal (Kk) dianalisis dengan rumus

x 100%. Data prestasi belajar yang diperoleh dari test pilihan ganda dan essay dianalisis dengan

rumus

(Lavin dan Robin, dalam Lalu Furkan 2007:102). Ketuntasan belajar siswa secara klasikal (KK)

dianalisis dengan rumus :

x 100%. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila 80% siswa berkriteria aktif dan 75% siswa mem-peroleh nilai tes hasil belajar sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan sekolah sebesar 70.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus I

Siklus I dilaksanakan selama 1 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2x35 menit. Aspek pertama yang dikaji dalam pembelajaran adalah aktivitas belajar siswa, berupa keaktifan bertanya, partisipasi dalam kelompok, kerjasama dalam kelompok, dan keberanian mengeluarkan pendapat. Hasil observasi aktifitas belajar siswa dengan indicator di atas mencapai 80%, sehingga tindakan pada penelitian ini belum dikatakan berhasil. Lebih detil lagi, 37% siswa berada pada kriteria sangat aktif, 20% pada kriteria aktif, 23%

maksimal

skor

perolehan

skor

siswa

seluruh

jumlah

KI

mencapai

yang

siswa

banyak

kriteria

banyak

terendah

skor

tertinggi

skor

siswa

seluruh

jumlah

KI

mencapai

yang

siswa

banyak

(4)

126 Skor pada aspek hasil belajar siswa diperoleh dengan tes ulangan formatif setelah pembelajaran berlangsung untuk mengetahui ketuntasan belajar individual dan kelompok. Ke-tuntasan belajar individual tercapai jika siswa memperoleh nilai 80. Sedangkan ketuntasan kelompok tercapai jika 75% siswa memperoleh nilai 80. Dari data hasil belajar siswa, diperoleh kesimpulan bahwa 27% siswa memperoleh nilai 78-84, 40% siswa memperleh nilai 71-77, 20% siswa memperoleh nilai 64-70, dan 13% mem-peroleh nilai 57-63. Ada pun nilai rata-rata siswa adalah 72,6. dengan kriteria cukup tinggi sesuai dengan indikator kinerja pada penelitian tindakan kelas ini. Dengan demikian, indikator keberhasilan penelitian ini belum tercapai.

Untuk melihat kekurangan dan kelebihan pada siklus I penulis melaksanakan kegiatan refleksi. Adapun hasil refleksi tersebut adalah : ada beberapa langkah dalam pembelajaran berbasis inquiry-discovery yang kurang optimal dilakukan dalam pembelajaran, yaitu : mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban dan merumuskan kesimpulan berdasarkan data; media yang digunakan dalam pembelajaran ini belum optimal dan kurang fokus; para siswa be-lum bisa membuat gambar lingkaran secara sempurna; dan para siswa kurang mampu mengembangkan bentuk-bentuk perubahan bulan pada beberapa posisi bulan, karena posisi pengamat dan alat pengamatan yang kurang tepat.

Siklus II

Pada siklus II, pembelajaran aksanakan berdasarkan hasil refleksi yang dil-akukan pada siklus I. Data aktivitas siswa menun-jukkan bahwa rata-rata aktivitas siswa adalah 3,65 yang berarti berada pada kriteria sangat aktif dengan prosentase 83%. Hal ini berarti tindakan pada siklus II berhasil. Data rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II mencapai 64% siswa mendapat nilai dengan kriteria tinggi dan 13% siswa mencapai nilai dengan kriteria sangat tinggi. Sesuai degan indikator kinerja pada penelitian tindakan kelas ini bahwa 75% siswa minimal mendapat nilai hasil belajar dengan kriteria cukup tinggi (78-84).

Refleksi pada siklus II menghasilkan kesimpulan : guru sudah memperbaiki kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis inquiry-discovery; media yang digunakan dalam pembelajaran ini sudah optimal tetapi perlu diusahakan agar lebih sempurna lagi; siswa sudah bisa membuat gambar bentuk fase bulan secara baik; siswa semakin mampu mengembangkan bentuk-bentuk perubahan bulan

pengamat dan alat pengamatan yang tepat; pada akhir kegiatan diskusi kelompok guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memajang hasil diskusi kelompoknya pada papan pajangan, sehingga setiap siswa dapat mengamati dan memberi komentar pada pekerjaan kelompok lain; kegiatan refleksi yang melibatkan siswa dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

Perbandingan persentase yang dicapai pada siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan pada setiap indikator. Peningkatan paling banyak terdapat pada indikator keaktifan siswa, baik keaktifan melakukan kegiatan maupun keaktifan bertanya. Hasil belajar siswa juga menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari rekapitulasi nilai test hasil belajar siswa, yakni : nilai tertinggi dari 81 menjadi 95; nilai terendah dari 57 menjadi 75; nilai rata-rata dari 72,6 menjadi 87,10; jumlah siswa yang tuntas belajar dari 8 orang menjadi 29 orang, dan; persentase ketuntasan klasikal dari 27% menjadi 96,6%.

Melihat pencapaian indikator penelitian antarsiklus dapat dinyatakan bahwa penerapan pembelajaran berbasis Inquiry-Discovery dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 2 Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima. Ini menunjukkan aktivitas dalam pembelajaran berbasis inquiry-discovery dapat dikembangkan dalam bidang study IPA SD, khususnya pada standar kompetensi memahami perubahan kenampakan permukaan bumi dan benda langit, dengan kompetensi dasar mendeskripsikan posisi bulan dan kenampakan bumi dari hari ke hari. Pemajangan hasil kerja siswa menjadikan mereka berusaha menampilkan yang terbaik karena gambar mereka akan dilihat banyak orang, bukan hanya gurunya. Ini menunjukkan bahwa publikasi telah memotivasi siswa untuk menunjukkan hasil penelitian dengan sebaik-baiknya.

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini adalah : Penerapan pembelajaran berbasis Inquiry-Discovery dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 2 Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima, khususnya pada materi tentang perubahan bentuk bulan dari hari ke hari; Penerapan pembelajaran berbasis Inquiry-Discovery dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 2 Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima, pada khususnya perubahan bentuk bulan dari hari

(5)

ke hari.

Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti menyarankan : hendaknya Guru SD tidak lagi menerapkan pendekatan pembelajaran tradisional, melainkan pendekatan proses seperti pembelaja-ran berbasis inquiry-discovery; hendaknya sekolah memberi perhatian pada ketersediaan tempat untuk memajang karya para siswa dalam pembelajarannya.

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, A. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia

Hamalik, O. 2001. Pendekatan Baru Strategi

Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA.

Bandung: Sinar Baru Algensindo ---. 2006. Proses Belajar Mengajar.

Bandung: Bumi Aksara.

Mariana, I.M.A. & Praginda, W. 2009. Hakikat

Pembelajaran IPA Bandung: PPPTK IPA

Untuk Program Bermutu

Soppeng, H. 2009. Pembelajaran Inkuiri, (Online), (http://herfis.blogspot.com/2009/07/ pembelajaran-inkuiri.html), diakses tanggal 19 Juli 2009.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Semua teman-teman di Fakultas Hukum Universitas Jember Angkatan 2003 yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu, terima kasih atas Kontribusi yang

Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut di atas maka dalam penelitian ini, peneliti memilih judul “ Peningkatan hasil belajar matematika melalui model

Dengan tersedianya sumber air bersih dengan debit sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diharapkan permasalahan yang timbul akibat kurangnya air bersih yaitu

Melihat fenomena seks pranikah yang banyak terjadi di kalangan mahasiswa, peneliti tertarik untuk mengkaji masalah tersebut dengan suatu rumusan masalah penelitian, “Apakah

Gel  yang  terkandung  dalam  Udah  buaya  mencapai  300/0  cairan  kuning aloin  kristal  yang  mengandung  zat anti  bakteri  yang  dapat  menstimulasi 

Proses pertama dalam pembuatan miniatur Lengan Wheel Loader yaitu dengan pengamatan miniatur Wheel Loader. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan ukuran dan desain gambar

Keke, Pak Jody (Ayah Keke), Andi, Pak Iyus, dan Prof. Latar dalam meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat meliputi Jakarta, Banten, Singapura,