• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

12

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

PENGARUH PELAKSANAAN VIPASSANĀ BHAVANA DAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PENGENDALIAN DIRI (SAMVARA) WARGA ASRAMA PUSDIKLAT BUDDHAYANA

BOYOLALI Suharno

Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri, Jawa Tengah [email protected]

ABSTRAK

Pusdiklat Buddhayana Boyolali merupakan lembaga pelatihan sosial dan keagamaan. Pusdiklat Buddhayana Boyolali dilengkapi dengan asrama. Tujuan pendidikan di pusdiklat Buddhaya Boyolali yaitu membentuk karakter buddhis, memiliki pengendalian diri (samvara). Salah satu kegiatan di Pusdiklat Buddhayana Boyolali yaitu pelatihan vipassanā bhavana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya terhadap penegendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitaif ex post facto (noneksperimen) dengan rancangan korelasional.Penelitian ini mengkaji hal-hal yang pernah dilakukan oleh subjek penelitian dan fakta-fakta yang ada di asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Subyek penelitian berjumlah 44 warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Ananisis data menggunakan regresi.

Hasil penelitian pelaksanaan vipassanā bhavana mempengaruhi penegendalian diri (samvara). Teman sebaya mempengaruhi penegendalian diri (samvara). Pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap penegendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali sebesar. 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain.

Kata Kunci: Pengendalian diri (samvara), vipassanā bhavana, teman sebaya ABSTRACT

Boyolali Buddhayana Training Center is a social and religious training institution. Boyolali Buddhayana Training Center is equipped with a dormitory. The aim of education at the Buddhaya Boyolali Education and Training Center is to shape Buddhist character, to have self-control (samvara). One of the activities at the Boyolali Buddhayana Training Center was the vipassanā bhavana training. This study aims to determine the effect of the implementation of vipassanā bhavana and peers on self-control (samvara) students of Boyolali Buddhayana Training Center dormitories.

This research is an ex post facto (non-experimental) quantitative research with a correlational design. This study examines the things that have been done by the subject of research and the facts in Boyolali Buddhayana Training Center dormitory. The research subjects were 44 students of Boyolali Buddhayana Training Center dormitory. Analysise uses regression.

The results of the study of the implementation of vipassanā bhavana affect self-control (samvara). Peers group influence self-control (samvara). The implementation of vipassana bhavana and peers group has a simultaneous effect on self-control (samvara) of the students of the Boyolali Buddhayana Training Center dorm. 55% and the remaining 45% is influenced by other factors.

(2)

13

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan dilaksanakan melalui tiga jalur, salah satunya adalah pendidikan nonformal. Pusat pendidikan dan pelatihan (Pusdiklat) Buddhayana Boyolali merupakan salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan nonformal. Pusdiklat Buddhayana Boyolali bergerak di bidang pendidikan non formal dan pelatihan yang bersifat sosial dan keagamaan. Pusdiklat Buddhayana menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan keagamaan bagi umat Buddha Boyolali dan sekitarnya, seperti bimbingan Dharma, latihan meditasi, latihan tata upacara keagamaan, pembinaan dan pelatihan pemuda Buddhis.

Pusdiklat Buddhayana Boyolali berawal dari gagasan Bhikkhu Sasanabodhi Mahathera. Pada awalnya gedung pusdiklat Buddhayana Boyoalai adalah gedung sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Buddha Smaratungga. Namun sudah lama tidak berfungsi dan tidak terawat, maka pada tahun 2010 Bhikkhu Sasana Bodhi memiliki gagasan untuk merenovasi gedung PGA Smaratungga menjadi pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat), supaya dapat berfungsi dan bermanfaat bagi umat Buddha Boyolali dan sekitarnya. Gagasan itu mendapat sambutan baik dari para umat Buddha, donatur maupun pemerintah khususnya Dirjen Bimas Buddha.

Bhikkhu Sasana Bodhi juga memiliki gagasan selain sebagai pusdiklat maka gedung

tersebut juga dijadikan tempat asrama bagi anak asuh yang melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Buddha (STIAB) Smaratungga dengan pertimbangan letak pusdiklat dengan dengan kampus STIAB Smaratungga. Beliau sudah sejak lama memebentuk yayasan sebagai tempat untuk mengelola dana anak asuh bagi generasi muda buddhis yang memiliki semangat belajar namun terkendala oleh keterbatasan ekonomi.

Pada awalya bhikkhu Sasanabodhi melihat fenomena kehidupan generasi muda Buddhis di daerah-daerah pedesaan yang terpaksa putus sekolah dan bekerja seadanya karena masalah ekonomi. Tidak terjangkaunya biaya pendidikan membuat banyaknya generasi muda Buddhis berada pada level yang rendah dilihat dari kualitas sumber daya. Maka dengan tekad yang bulat Bhikkhu Sasanabodhi mencoba mengatasinya dengan membantu melalui program anak asuh. Para muda adalah remaja beragama Buddha yang bersekolah di SMA atau sederajat dan ada juga yang masih bersekolah di SMP dan juga melanjutkan sampai jenjang pendidikan tinggi. Semakin banyaknya peserta didik maka dibentuklah sebuah yayasan untuk mengelola.

Warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali mendapat bimbingan pendidikan secara non formal untuk pembentukan karakter yaitu belajar literatur ajaran Buddha dan ilmu pengetahuan (pariyatti), praktis dari apa yang dipelajari dan diingat dengan meletakkan ajaran ke dalam praktik (patipatti, praktik), dan

(3)

14

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

akhirnya terampil dalam bentuk penetrasi,

penguasaan, dan mewujudkan kebenaran ajaran Buddha maupun ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari (pativedha). Warga asrama mendapatkan bimbingan dan pelatihan budi pekerti, peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pelatihan dan penerapan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan.

Pusdiklat Buddhayana Boyolali dalam perkembangannya sekarang mempunyai asrama untuk tempat tinggal siapapun yang mau belajar di pusdiklat. Selama ini pusdiklat Buddhaya Boyolali bekerjasama dengan STIAB Smaratungga, salah satu bentuk kerjasama yaitu asrama yang di pusdiklat dijadikan asrama bagi sebagian mahasiswa STIAB Smaratungga. Mahasiswa STIAB Smaratungga yang tinggal di arama Pusdiklat Buddhayana Boyolali ada yang menjalani hidup sebagai pabbajita ( Bhikkhu, Samanera, samaneri) dan ada yang menjalani hidup sebagai garavasa (perumahtangga). Selain mahasiswa smaratungga ada juga warga asrama yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang lain, seperti Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW). Seluruh warga asrama adalah anak asuh yang mendpatkan beasiswa pendidikan oleh Yayasan.

Hasil observasi peneliti memperoleh informasi bahwa warga asrama di Pusdiklat Buddhayana Boyolali mampu menjalin hubungan kekeluargaan secara baik antar teman sebaya sesama warga asrama maupun dengan pembimbing. Pada umumnya warga asrama

mampu menjaga sikap dalam menghadapi masalah dengan teman sebaya sesama warga asrama. Namun peneliti juga masih menjumpai beberapa hal yang menunjukan pengendalian diri yang kurang baik dari beberapa warga asrama. Beberapa warga asrama masih ada yang mudah tersinggung dengan sikap sesama warga asrama. Bahkan ada juga rasa tidak suka antara individu yang satu dengan yang lain. Ada juga warga asrama cenderung marah dan merasa tidak senang ketika mendapatkan suatu kritikan atau teguran dari sesama warga asrama bahkan dari pembimbing pusdiklat.

Pengendalian diri atau kontrol diri dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku. Pengendalian tingkah laku mengandung makna, yaitu melakukan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak (Ghufron, 2011:25). Harter menyatakan dalam diri seseorang terdapat suatu sistem pengaturan diri (self regulation) yang memusatkan perhatian pada control diri (self control). Proses pengontrolan diri menjelaskan bagaimana pengendalian diri dalam kehiduoan sehai-hari. Menurut Kartini Kartono & Dali Gulo dalam kamus psikologi, control diri (self control) adalah bagaimana cara individu dalam mengatur tingkah lakunya sendiri yang ia miliki (1987: 21-23). Individu mempunyai cara-cara tersendiri untuk mengatur dan mengarahkan tingkah lakunya sesuai dengan kehendak dan kemampuan yang dimilikinya.

(4)

15

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Ada beberapa pendapat lain mengenai

kontrol diri, yaitu menurut Golfied dan Merbaum bahwa kontrol diri adalah kemampuan dari dalam diri individu untuk dapat menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilakunya yang nantinya dapat membawa individu tersebut ke arah dengan konsekuensi positif. Menurut Gleitman kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan suatu dorongan-dorongan yang berasal dari dalam maupun luar diri individu. Jika dalam diri individu memiliki kontrol diri, maka ia akan mampu mengambil tindakan dan keputusan secara efektif agar dapat menghasilkan sesuatu yang diinginkan dan menghindari suatu akibat yang tidak diinginkan (Thalib. 2010: 107).

Pengendalian diri dalam dalam bahasa pali disebut samvara, Secara harafiah berarti menutup atau menyumbat suatu aliran, artinya menutup dan menyumbat aliran pikiran-pikiran yang tidakbaik atau jahat (Panjika,2004:179). Pengendalian diri (samvara) terbagi menjadi lima yaitu Pengendalian diri melalui kemoralan (sila-samvara), pengendalian diri melalui perhatian (sati-samvara), pengendalian diri melalui pandangan terang (nana-samvara), pengendalian diri melalui kesadaran

(khanti-samvara), dan pengendalian diri melalui usaha

atau semangat (viriya-samvara) (Vism.18).

Self control merupakan kemampuan

individu untuk menghambat atau mencegah suatu impuls agar tidak muncul dalam bentuk tingkah laku yang melanggar atau bertentangan

dengan standar moral. Goldfried dan Merbaum (Muharsih. 2008: 16) mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif.

Menurut Logue (1995: 34) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan self control yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik yang mempengaruhi self control adalah usia. Umumnya self control berkembang sesuai bertambahnya usia. Anak-anak cenderung berperilaku impulsif dan lebih dapat mengendalikan diri sesuai pertambahan usianya. Faktor lingkungan yang sangat memepngaruhi yaitu keluarga, guru atau teman sebaya.

Religiusitas memiliki hubungan yang positif dengan kontrol diri, karena seseorang yang memiliki tingkat religius yang tinggi percaya bahwa setiap tingkah laku yang mereka lakukan selalu diawasi oleh Tuhan, sehingga mereka cenderung memiliki self monitoring yang tinggi dan pada akhirnya memunculkan kontrol diri dalam dirinya (Carter, McCullough & Carver, 2012). Salah satu aktifitas religius dalam agama Buddha yaitu meditasi vipassanā

bhavana. Pelaksanaan meditasi merupakan salah

satu usaha untuk mengendalikan diri melalui pikiran, karena pikiran yang menentukan semua tindakan yang dilakukan individu. “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan

(5)

16

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

bayang-bayang yang tidak pernak meninggalkan

benda-Nya” (Dh.2).

Salah satu program pendidikan dan pelatihan di Pusdiklat Buddhayana Boyoali yaitu pelatihan vipassanā bhavana. Pelatihan

vipassanā bhavana dilaksanakan secara rutin

oleh warga asrama, yaitu setiap pagi dan sore. Setiap pagi dan sore warga asrama melaksanakan puja bakti dan pelatihan meditasi. Namun masih ada beberapa warga asrama yang kurang displin dalam melaksakan program ini. Melalui program pelaksanaan vipassanā

bhavana yang intensif dan berkesinambungan

diharapkan membentuk warga asrama hidup berkesadaran, dapat memahami hakikat kehidupan yang dialaminya, yaitu selalu mengalami perubahan (anicca), tidak selalu memuaskan (dukkha) dan tanpa inti yang kekal

(anatta) serta menyadari bahwa individu tidak

bisa lepas dari hubungan social sehingga secara sadar mampu mengendalikan diri untuk mencapai kebahagiaan(M.I, 415-419).

Vipassanā berarti melihat ke dalam atau

pandangan terang. Buddha sendiri menemukan kebenaran sejati atau pandangan terang melalui praktik meditasi, dan itulah yang pertama beliau ajarkan. Intruksi tentang meditasi yang Beliau sampaikan merupakan pengalaman yang dialami sendiri sampai Beliau mencapai pencerahan. (Tigris, 2004:11). Vipassanā bhavana adalah kegiatan belajar yang dilakukan secara internal di dalam diri.

Formula latihan vipassanā bhavana ditunjukan Buddha ketika memberikan khotbah

kepada para bhikkhu. Jalan khusus untuk membangun penyadaran total terhadap hakekat batin dan jasmani tercantum di dalam

Satipathana-sutta. Pembabar Dhamma yang

terampil secara terprinci menerangkan praktek langsung menuju penghacuran semua noda batin yaitu dengan melakukan perenungan terhadap

nama-rupa (satipatthana) (M.I.55). Seseorang

dapat mengembangkan pikiran untuk mencapai pandangan terang dengan melaksanakan

Vipassanā bhavana menggunakan empat

landasan kesadaran sebagai obyek perenugan yaitu: (1) perenungan terhadap jasmani (Kayānupassanā), perenungan pada perasaan (vedananupassana), (3) perenungan terhadap pikiran (cittanupassana), (4) perenungan pada kondisi bentuk bentuk pemikiran (dhammanupassana) (M.I.56).

Vipassanā bhāvanā bertujuan

mengembangkan kebijaksanaan dan melenyapkan kekotoran batin seperti kemauan jahat, nafsu keinginan, kemalasan, kegelisahan dan kekhawatiran, keragu-raguan. Batin dikembangkan berdasarkan kebijaksanaan akan terbebas dari noda (asava), yaitu nafsu inderawi, nafsu kelahiran kembali, pandangan salah dan kebodohan (D.II.91). Pelaksanaan vipassanā

bhavana memberikan manfaat untuk dapat

mengendalikan enam landasan indria secara bertahap (Ud. 35), sehingga muncul pengetahuan (nana), penembusan terhadap

anicca, dukkha, anatta, serta pencapaian magga

dan phala. Vipassanā bhavana merupakan satu-satunya jalan (ekāyano maggo) untuk

(6)

17

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

mensucikan makhluk, untuk dapat mengatasi

penderitaan dan kesakitan, kepedihan dan kedukaan, untuk mencapai ”jalan benar” dan jalan merealisir nibbāna, yaitu dengan menegakkan perhatian dan kesadaran benar (Piyadassi, 2005: 85).

Mengembangkan empat landasan perhatian murni selama tujuh tahun, enam tahun, lima tahun, empat tahun, tiga tahun, dua tahun, satu tahun, enam bulan, lima bulan, empat bulan, tiga bulan, dua bulan, satu bulan, setengah bulan, tujuh hari, maka salah satu dari dua hasil dapat diharapkan dalam penghidupan sekarang, yaitu pengetahuan tertinggi (arahat) sekarang dan saat ini atau jika terdapat sedikit kekotoran batin, direalisasi tingkat kesucian anagami. Atas dasar inilah maka dikatakan (pada waktu permulaan) merupakan satu jalan menuju kesucian, mengatasi kesedihan dan ratap tangis, mengakhiri derita dan duka cita, untuk mencapai jalan benar, untuk merealisai nibbanā yaitu empat landasan perhatian murni (D.II. 289). Inilah jalan langsung untuk mempurifikasi para makhluk. (Analayo. 2007: 5-6).

Self control dipengaruhi oleh faktor

lingkungan. Teman sebaya sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Sesama warga asrama yang ada di Pusdiklat Buddhayana Boyolali saling mempengaruhi perilaku, sikap dan pengendalian diri atara yang satu dengan yang lain. Warga asrama tergolong dalam usia remaja dan dewasa awal. Remaja dan dewasa awal banyak menghabiskan waktu dengan teman melebihi waktu dengan orang tua dan anggota

keluarga yang lain karena lebih banyak berada diluar rumah bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok, dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar dari pada pengaruh keluarga (Hurlock, 2004: 335). Dalam agama Buddha ada dua jenis sahabat atau teman yaitu sahabat baik (kalyanamitta) dan sahabat tidak baik (akalyanamitta). Kalyanamitta berarti teman yang baik atau bagus yang dapat menjadikan diri kita selalu waspada dalam menempuh kehidupan. Akalyanamitta (Teman yang tidak baik) artinya teman atau kawan yang tidak baik atau jahat yang berkeinginan untuk menjerumuskan diri kita sehingga mengalami penderitaan (dukkha). (S.III.18)

Prayitno (1995:108-109) menjelaskan secara sederhana tujuan dari adanya teman sebaya atau peer group, yaitu untuk mencapai perkembangan pribadi, pembahasan masalah, dan lebih luasnya bertujuan untuk mencapai perkembangan pribadi dan pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat bagi anggota kelompok. Dalam kelompok seorang anggota harus aktif membahas permasalahan atau topik yang ada, berpartisipasi aktif dalam dinamika dan interaksi sosial dalam kelompok.

Kelompok teman sebaya terbentuk secara spontan. Diantara anggota kelompok mempunyai kedudukan yang sama, tetapi ada satu di antara anggota kelompok yang dianggap sebagai pemimpin yang dianggap oleh semua anggota bahwa dia memang pantas dijadikan

(7)

18

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

sebagai pemimpin. Pemimpin biasanya adalah

orang yang disegani dalam kelompok itu. Namun tidak ada struktur organisasi yang jelas.

Peer group mengajarkan individu tentang

kebudayaan yang luas. Misalnya teman sebaya di sekolah, umumnya terdiri dari individu yang berbeda-beda lingkungannya, yang mempunyai aturan atau kebiasaan yang berbeda-beda. Lalu mereka memasukkannya dalam kelompok sebaya sehingga mereka saling belajar secara tidak langsung tentang kebiasaan itu dan dipilih yang sesuai dengan kelompok, kemudian dijadikan kebiasaan kelompok.

Berikut ini merupakan beberapa ciri-ciri sahabat baik atau kalyanamitta: sahabat yang suka menolong (Upakaromitto), sahabat pada waktu senang dan susah (Samanasukha dukhomitto), sahabat yang memberi nasehat baik (Atthakhayamitto), sahabat yang bersimpati

(Anukampakamitto). Sahabat yang baik

merupakan orang-orang yang berteman dengan tulus, dan dapat berproses bersama untuk menjadi lebih baik (S.III.18).

Fungsi teman sebaya adalah sebagai pendorong, motivator, mengarahkan jalannya kegiatan, memberikan stimulus kepada individu agar lebih aktif. Teman sebaya juga berfungsi dalam membantu peranan sosial yang baru terhadap anggota kelompok, mencapai kebersamaan dalam kelompok, mengajarkan moral orang dewasa dan membantu dalam mencapai kebebasan untuk bertindak, berpendapat, dan menemukan identitas diri. Prayitno (1995:108-109) menjelaskan secara

sederhana tujuan dari adanya Peer group, yaitu untuk mencapai perkembangan pribadi, pembahasan masalah, dan lebih luasnya bertujuan untuk mencapai perkembangan pribadi dan pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat bagi anggota kelompok. Dalam kelompok seorang anggota harus aktif membahas permasalahan atau topik yang ada, berpartisipasi aktif dalam dinamika dan interaksi sosial dalam kelompok.

Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pengaruh pelaksanaan vipassanā

bhavana dan teman sebaya terhadap

pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Tujuan dari penelitian ini: (1) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana terhadap pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. (2) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh teman sebaya terhadap pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. (3) Untuk mengetahuai berapa besar pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya secara simultan (bersama-sama) terhadap pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali

Metode

Pendekatan kuantitatif dan desain

penelitian

korelasional.

Penelitian

korelasional untuk mengetahui hubungan

variable bebas terhadap variable terikat

(Sugiyono, 2017: 37-38). Penelitian ini

(8)

19

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

menggunakan

metode

ex

post

facto

(noneksperimen)

dengan

rancangan

korelasional artinya penelitian ini tidak

mengadakan perlakuan terhadap variabel

penelitian melainkan mengkaji fakta-fakta

yang telah terjadi dan pemah dilakukan oleh

subjek penelitian.

Penelitian ini terdiri atas 3 variable.

Variabel bebas terdiri dari 2 variabel yaitu

pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman

sebaya, 1 variabel terikat yaitu pengendalian

diri (samvara) warga asrama Pusdiklat

Buddhayana Boyolali. Populasi dan sampel

penelitian

warga

asrama

Pusdiklat

Buddhayana Boyolali berjumlah 44 orang.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi

yang akan diteliti (Arikunto 2010:117).

Jumlah subjek dalam populasi kurang dari

100 maka sampel dalam penelitian ini semua

warga

asrama

Pusdiklat

Buddhayana

Boyolali.

Untuk

mendapatkan

data

yang

diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian

diperlukan suatu alat pengumpul data yang

disebut instrumen penelitian. Penelitian ini

menggunakan instrumen yang berbentuk

kuesioner.

Kuesioner

adalah

sejumlah

pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh

informasi

dari

responden

(Arikunto, 2010:139). Instrumen yang baik

harus memenuhi syarat penting yaitu valid

dan reliable maka perlu adanya uji coba

instrumen. Instrumen yang baik harus

memenuhi dua syarat penting yaitu valid dan

reliabel. Menurut Sugiyono (2017: 173) uji

validitas dan Reliabelitas dalam penelitian

sangat penting dilakukan.

Pengumpulan data dalam penelitian

ini menggunakan alat bantu yang berupa

instrument penelitian. Instrumen penelitian

disusun berdasarkan variabel-variabel dalam

penelitian yaitu pelaksanaan vipassanā

bhavana, teman sebaya dan pengendalian

diri (samvara) yang dijabarkan menjadi sub

variabel dan indikator. Semua instrumen

dikembangkan oleh peneliti. Skala yang

digunakan dalam instrumen penelitian ini

adalah skala Likert yang merupakan Skala

interval.

Analisis data menggunakan:

1. Uji Signifikansi/Pengaruh Simultan (Uji F) Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:

a. Bila Fhitung > Ftabel atau probabilitas < nilai signifikan (Sig ≤ 0,05), maka hipotesis nihil (Ho) dalam penelitian ini ditolak dan hipotesis alternatif (ha) diterima artinya bahwa secara simultan

(9)

20

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

variabel independen memiliki pengaruh

terhadap variabel dependen.

b. Bila Fhitung < Ftabel atau probabilitas > nilai signifikan (Sig ≥ 0,05), maka hipotesis nihil (Ho) diterima sedangkan hipotesis alternatif (Ha) ditolak ini berarti bahwa secara simultan variabel independen tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian pengaruh simultan dengan munggunakan analisis regresi dua prediktor dengan bantuan komputer menggunakan program SPSS 21.

2. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)

Uji t dilakukan untuk mengetahui sejauhmana pengaruh masing-masing variabel independen secara individu dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Pada uji t, nilai thitung akan dibandingkan dengan nilai ttabel, adapun ketentuannya adalah sebagai berikut: a. Apabila thitung > ttabel atau probabilitas <

tingkat signifikansi (Sig < 0,05), maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

b. Bila thitung < ttabel atau probabilitas > tingkat signifikansi (Sig < 0,05), maka Ha ditolak dan Ho diterima, yang berarti variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

3. Koefisien Diterminasi (R2)

Koefisien diterminasi (R2) merupakan perbandingan antara variasi Y yang dijelaskan oleh X1 dan X2 secara bersama-sama dibanding variasi total Y. 4. Persamaan Regresi

Data yang terkumpul berupa angka-angka dari tiga variabel dalam penelitian ini kemudian dianalaisis untuk menguji hipotesis. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan bantuan komputer dengan program SPSS 21. Pengujian yang dilakukan adalah uji kualitas data, asumsi klasik dan pengujian hipotesis.

Rumus Persamaan Regresi Linier dua prediktor adalah sebagai berikut:

Hasil

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di di Pusdiklat Buddhayana Boyolali dengan sasaran penelitian pada warga asrama di Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Warga Asram Pusdiklat Buddhayan Boyolali berjumlah 44 orang, sebagian besar

(10)

21

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama

Buddha (STIAB) Smaratungga Boyolali yang terdiri dari anggota Sangha (Pabbajita) ataupun hidup sebagai perumahtangga (garavasa). Selain para mahasiswa dari STIAB Smaratungg, ada juga beberapa warga asrama yang menemp-uh pendidikan tinggi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Warga Asrama adalah mereka yang merupakan anak asuh dari yayasan Buddhayana Boyolali dan tinggal di Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan, yaitu mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2019. B. Uji Hipotesis Penelitian

Hipotesa yang akan diujikan dalam penelitian ini yakni hipotesa dengan menggunakan regresi linier dua prediktor melalui program pengolah data sofware komputer Statistical Package for Social

Science (SPSS 21). Pengujian hipotesa

bertujuan untuk menguji hipotesis, yaitu hubungan antara pelaksanaan vipassanā

bhavana dan teman sebaya terhadap

pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Adapun hasil pengujianya adalah sebagai berikut 1. Uji Signifikansi/Pengaruh Simultan (Uji

F)

Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan. Pengujian ini dilakukan dengan

menggunakan bantuan komputer program SPSS 21. Hasil uji F dalam penelitian ini dapat dilihat dalam ANOVA pada tabel berikut

Tabel Hasil Uji F

Tabel menunjukkan hasil analisis dari F test yang diperoleh besarnya F hitung adalah 32,340 dengan tingkat signifikan 0,000. Hal ini diasumsikan bahwa Sig. > 0,05, maka Ho diterima sedangkan jika Sig. < 0,05, maka Ho ditolak. Nilai Sig dalam perhitungan ini adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka regresi dapat dipakai, artinya variabel pelaksanaan vipassanā

bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variable pengendalian diri (Y).

2. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)

Uji t dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas 1 (X1) dan variabel 2 (X2) terhadap Variabel terikat Y. Hasil uji pelaksanaan vipassanā bhavana (X1) terhadap pengendalian diri (Y) dan teman sebaya (X2) terhadap

(11)

22

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

pengendalian diri (Y) dapat dilihat pada

tabel berikut

Tabel Hasil Uji t

Berdasarkan table Coeffisient di atas menunjukkan besarnya thitung minat 4,567 dengan Sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa pelaksanaan

vipassanā bhavana cukup bukti

berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri, sedangkan besarnya thitung teman sebaya 7,966 dengan sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa teman sebaya cukup bukti berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri.

Berdasarkan table Coeffisient di atas a= 6,086, b1= -0,675 dan b2= 2,100, jadi persamaannya Y= 6,086+(-0,675) X1 +2,100 X2

3. Koefisien Determinasi (R2)

Kontribusi pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali (Y) dapat dilihat dari analisis regresi yang ditunjukkan dalam R Square 0,550 dalam Model Summary pada table berikut

Tabel Hasil Uji Koefisien Determinasi

Hasil koefisien determinasi sebagaimana tertuang dalam tabel di atas menghasilkan angka R² sebesar 0,550 artinya variabel independen (pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya) dapat mempengaruhi variabel dependen (pengendalian diri) sebesar 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain.

C. Pembahasan

1. Hasil Uji Hipotesis Pertama

Dari hasil uji hipotesis dapat dilihat bahwa pelaksanaan vipassanā

bhavana berpengaruh terhadap

pengendalian diri. Berdasarkan uji t menunjukkan besarnya thitung pelaksanaan vipassanā bhavana 4,567 dengan Sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa pelaksanaan

vipassanā bhavana cukup bukti

berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri. Hal ini berarti bahwa jika pelaksanaan vipassanā bhavana semakin tinggi atau terbiasa maka dapat berpengaruh pada pegendalian diri (samvara) warga asrma Pusdiklat Buddhayana Boyolali.

Pelaksanaan vipassanā bhavana memberikan manfaat untuk dapat

(12)

23

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

mengendalikan enam landasan indria

secara bertahap (Ud. 35), sehingga muncul pengetahuan (nana), penembusan terhadap anicca, dukkha,

anatta, serta pencapaian magga dan phala. Pengendalian terhadap landasan

disebut juga sebgai indera samvara. Seseorang yang batinya terjaga maka melakukan segala aktifitas melalui indera akan terjaga pula. Pikiran benar maka akan tercermin dalam ucapan yang benar dan aktifitas tubuh jasmani yang benar. Munculnya pengetahuan maka seseorang akan menjadi lebih tahu hakikat kehidupan sehingga lebih dewasa dalam menjalani kehidupan. Seseorangyang terbiasa melakukan

vipassanā bhāvanā mamapu

mengembangkan kebijaksanaan dan melenyapkan kekotoran batin seperti kemauan jahat, nafsu keinginan, kemalasan, kegelisahan dan kekhawatiran, keragu-raguan.

Filosofis mendasar Satipaţţhāna atau vipassanā bhāvanā merupakan terapan praktis untuk menemukan sifat sejati kehidupan. Sistem kesadaran dialami oleh setiap individu, dengan merenungkan dan merefleksikan berbagai objek serta fungsi tubuh dan kesadaran. Praktik kesadaran penuh akan memebawa pada penyadaran totalitas kehidupan. Seseorang yang memiliki penyadaran total maka akan

selalu terjaga dalam setiap aktifitasnya. Seseorang akan menjadi terkendali (samvara) melalui kemoralan

(sila-samvara), pengendalian diri melalui

perhatian (sati-samvara), pengendalian diri melalui pandangan terang

(nana-samvara), pengendalian diri melalui

kesadaran (khanti-samvara), dan pengendalian diri melalui usaha atau semangat (viriya-samvara) (Vism.18). Seseorang yang memiliki pengendalian diri (samvara) yang baik mampu melihat secara jernih pada diri sendiri baik dalam aspek fisik, aspek psikis, dan aspek moral maupun bagaimana hubungan social dengan lingkungan sekitar. Maka jelas bahwa dengan membiasakan diri terlatih dalam

vipassanā bhāvanā mampu

meningkatkan pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.

2. Hasil Uji Hipotesis ke Dua

Berdasarkan uji t besarnya thitung teman sebaya besarnya 7,966 dengan sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa teman sebaya cukup bukti berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri. Dari bukti penelitian ini menunjukan bahwa teman sebaya mempengaruhi pengendalian diri.

Pengendalian diri yang dimiliki manusia tidak terbentuk secara instan

(13)

24

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

melainkan dengan proses belajar

sepanjang hidup manusia dalam mkehidupan sekarang atau masa lampau. Manusi memiliki potensi bawaan (karma) masa lampau yang mendukung kehidupanya. Seseorang yang dalam kehidupan masa lampau dirnya terkendali, batinya terjaga maka dalam kehidupan saat ini akan mudah dalam memnegndalikan diri. Proses kehidupan manusia tidak mungkin terlepas dari lingkungan atau individu lain. Manusia yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lainnya tidak mungkin mempunyai mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah manusia (Mulyana, 2011:8). Melalui proses interaksi dengan lingkungan baik teman sebaya, guru maupun orang tua, setiap individu akan belajar bukan saja mengenai siapa dirinya, namun juga bagaimana merasakan siapa dirinya. Hal ini terbentuk dengan adanya proses saling menanggapi.

Sahabat dalam agama Buddha dibedakan menjadi dua yaitu sahabat baik (kalyanamitta) dan sahabat tidak baik (akalyanamitta). Kalyanamitta

berarti teman yang baik atau bagus yang dapat menjadikan diri kita selalu waspada dalam menempuh kehidupan.

Akalyanamitta (Teman yang tidak baik)

artinya teman atau kawan yang tidak baik atau jahat yang berkeinginan untuk

menjerumuskan diri kita sehingga mengalami penderitaan (dukkha).

(S.III.18). seseorang yang bergaul atau

berkumpul dengan teman sebya yang baik (kalyanamitta) maka akan terbiasa dengan kebiasaan yang baik. Teman yang baik akan sealalu mengingatkan ketika ada teman dalam kelompoknya yang tidak terkendali atau berkeinginan jahat. Lingkungan teman sebaya sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang maupun pengendalian diri seseorang.

3. Hasil Uji Hipotesis ke tiga

Berdasarkan hasil analisis dari F test yang diperoleh besarnya F hitung adalah 32,340 dengan tingkat signifikan 0,000. Hal ini diasumsikan bahwa Sig. > 0,05, maka Ho diterima sedangkan jika Sig. < 0,05, maka Ho ditolak. Nilai Sig dalam perhitungan ini adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka regresi dapat dipakai, artinya variabel pelaksanaan

vipassanā bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variable pengendalian diri (Y).

Adanaya pembiasaan diri untuk melaksanakan vipassanā bhavana yang semakin tinggi dan dengan teman sebaya

kalyanamitta yang semakin mendukung

secara bersamaan akan mempengaruhi pengendalian diri. Konsep diri terbentuk seiring sejalan dengan perkembangan

(14)

25

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

kehidupan individu. Konsep diri

tidak dapat berkembang tanpa adanya proses yang berkesinambungan yang mempengaruhinya. Pengendalian diri dapat berkembang karena adanya batin yang selalu sadar setiap saat dan juga dari pengalaman yang didapatkan individu dalam kehidupan sehari-hari serta adanya interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kontribusi pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali dapat dilihat dari analisis uji koefisien determinasi dimana variabel independen (pelaksanaan vipassanā

bhavana dan teman sebaya) dapat

mempengaruhi variabel dependen (pengendalin diri) sebesar 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain. Jadi di luar pelaksanaan vipassanā

bhavana dan teman sebaya masih

banyak faktor yang dapat mempengaruhi pengendalian diri.

Faktor yang mempengaruhi pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali selain

vipassanā bhavana dan teman sebaya

kemungkinan diantaranya adalah lingkungan keluarga, dimana orang tua dan seluruh anggota keluarga yang menjadi orang dekat individu. Orang tua merupakan penutun pertama bagi

kehidupan seseorang. Orang tua menjadi figur dan teladan bagi seorang anak. Lingkungan yang baik, orang tua yang baik maka akan menjadi teladan bagi seorang anak. Selain itu lingkungan sekolah tinggi, dosen, dan seluruh warga sekolah tinggi yang sering berinteraksi dengan individu juga akan mempengaruhi pembentukan diri yang dapat tercermin melalu pengendalian diri seseorang.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis hasil penelitian mengenai pengaruh pelaksanaan vipassanā

bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) terhadap pengendalian diri warga Asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali (Y), dapat dikemukakan beberapa simpulan sebagai berikut.

1. Pelaksanaan vipassanā bhavana cukup bukti berpengaruh terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Berdasarkan uji t menunjukkan besarnya thitung pelaksanaan vipassanā

bhavana 4,567 dengan Sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal

ini mengasumsikan bahwa pelaksanaan

vipassanā bhavana cukup bukti berpengaruh

secara signifikan terhadap pengendalian diri. Hal ini berarti bahwa jika pelaksanaan

vipassanā bhavana semakin tinggi maka

dapat berpengaruh pada pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.

2. Teman sebaya cukup bukti berpengaruh terhadap pengendalian diri warga asrama

(15)

26

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Berdasarkan

uji t besarnya thitung lingkungan belajar besarnya 7,966 dengan sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa teman sebaya cukup bukti berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Teman sebaya yang baik akan mampu membentuk pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.

3. Pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Berdasarkan hasil analisis dari F test yang diperoleh besarnya F hitung adalah 32,340 dengan tingkat signifikan 0,000. Nilai Sig dalam perhitungan ini adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka regresi dapat dipakai, artinya variabel pelaksanaan vipassanā

bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variable pengendalian diri (Y). Kontribusi pengaruh pelaksanaan vipassanā

bhavana dan teman sebaya terhadap

pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali dapat dilihat dari analisis uji koefisien determinasi dimana variabel independen (pelaksanaan vipassanā

bhavana dan teman sebaya) dapat

mempengaruhi variabel dependen (pengendalian diri) sebesar 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain. Jadi di luar pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman

sebaya masih banyak faktor yang dapat mempengaruhi pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.

Daftar Pustaka

Analayo, Bikkhu. (2007). Satipatthana Jalan

Langsung Ke Tujuan. Bandung:

Karaniya.

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Carter, McCullough, Carver. (2012). The Mediating Role of Monitoring in the Association of Religion With Self-Control. Social Psychological and Personality Science Vol 3, issue 6 Dhammapada (The Word of The Doctrines).

Terjemahan Norman. (2000). Oxford: Pāli Text Society

Dīgha Nikāya (Dialogue Of The Buddha) Vol. II. Terjemahan David, Rhys. (2002).

Oxford: The Pāli Text Society

Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawita S. (2010).

Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta :

Ar-Ruz Media.

Hurlock, E. (2004). Psikologi Perkembangan

Suatu Pendekatan Sepanjang

Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Kartono, Kartini dan Dali Gulo. (1987). Kamus

Psikologi. Bandung : Pionir Jaya.

Logue, A. W. (1995). Self Control Waiting Until

Tomorrow for What You Want Today.

New Jersey : Prestice Hall.

Majjhima Nikāya (The Midle Leght Sayings) Vol.I. Terjemahan Horner, I.B. (1989). Oxford: The Pāli Text Society

Panjika.(2004). Kamus Umum Buddha Dharma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Centre Piyadassi. (2005). Spektrum Ajaran Buddha,

Terjemahan oleh Hetih Rusli, Vivi, Titin Nengsi. Jakarta: Yayasan Pendidikan Buddhis Triratna.

(16)

27

Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Prayitno. (1995). Dasar- Dasar Bimbingan Dan

Konseling. Jakarta: Reneka Cipta

Samyutta Nikaya (The Book of The Kindred

Sayings) VoI III. Terjemahan

Woodward, F.L. (1975). Oxford: The Pāli Text Society

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif,

Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Thalib, Syamsul Bachri. (2010). Psikologi

Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta: Kencana

Tigris, Buntario. (2004). Sepuluh Hari Dalam

Meditasi Vipassana. Jakarta: Yayasan

Dhammadassa.

Udāna (Sacred Books Of The Buddhist).

Terjemahan Masefield, Peter. (2007). Oxford: The Pāli Text Society.

Visuddhimagga (The Part of Purification).

(1979). Kanady, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. Terjemahan dari bahasa Pāli ke Inggris oleh Bhikkhu Ñāņamoli. Terjemahan ke Indonesia oleh Tim Penerjemah Jalan Kesucian. Eni Darini, dkk. Bali: Mutiara Dhamma.

(17)

Gambar

Tabel Hasil Uji F
Tabel Hasil Uji t

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisa menunjukkan bahwa secara umum struktur bangunan masih layak untuk difungsikan sebagai gedung perkantoran, namun memerlukan perbaikan dan perkuatan pada

Berdasarkan Matriks 117, terlihat bahwa mengurangi kesenjangan kapasitas orang tua dalam menuntut hak-haknya kepada pengemban tugas terkait dengan Hak Kesehatan bagi perempuan

JABATAN PERUBATAN DAN PEMBEDAHAN HAIWAN LADANG DAN

Setelah data terkumpul, maka langkah berikutnya adalah mengolah data atau menganalisis data meliputi persiapan, tabulasi, dan penerapan data sesuai dengan pendekatan

Dengan penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran dapat mengakomodasi kemampuan siswa yang berbeda beda.Multimedia interaktif sendiri memiliki arti media yang

Dari pengalaman Putra tersebut, dapat telihat Putra menunjukkan ia sedang pada tahap 4 perkembangan memaafkan, yaitu Lawfully expecational forgiveness , dimana ia perlu

Hasil yang telah dilakukan dan dicapai dalam pengabdian ini meliputi pengatasan masalah: Sistem administrasi dan pengelolaan keuangan yang masih sangat

Setelah menyelesaikan perekaman SPT dalam satu Batch Header, Tenaga Kerja Pihak Ketiga membuat rekapitulasi Hasil perekaman SPT dan menuangkannya pada kolom yang sesuai