12
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
PENGARUH PELAKSANAAN VIPASSANĀ BHAVANA DAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PENGENDALIAN DIRI (SAMVARA) WARGA ASRAMA PUSDIKLAT BUDDHAYANA
BOYOLALI Suharno
Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri, Jawa Tengah [email protected]
ABSTRAK
Pusdiklat Buddhayana Boyolali merupakan lembaga pelatihan sosial dan keagamaan. Pusdiklat Buddhayana Boyolali dilengkapi dengan asrama. Tujuan pendidikan di pusdiklat Buddhaya Boyolali yaitu membentuk karakter buddhis, memiliki pengendalian diri (samvara). Salah satu kegiatan di Pusdiklat Buddhayana Boyolali yaitu pelatihan vipassanā bhavana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya terhadap penegendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitaif ex post facto (noneksperimen) dengan rancangan korelasional.Penelitian ini mengkaji hal-hal yang pernah dilakukan oleh subjek penelitian dan fakta-fakta yang ada di asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Subyek penelitian berjumlah 44 warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Ananisis data menggunakan regresi.
Hasil penelitian pelaksanaan vipassanā bhavana mempengaruhi penegendalian diri (samvara). Teman sebaya mempengaruhi penegendalian diri (samvara). Pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap penegendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali sebesar. 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain.
Kata Kunci: Pengendalian diri (samvara), vipassanā bhavana, teman sebaya ABSTRACT
Boyolali Buddhayana Training Center is a social and religious training institution. Boyolali Buddhayana Training Center is equipped with a dormitory. The aim of education at the Buddhaya Boyolali Education and Training Center is to shape Buddhist character, to have self-control (samvara). One of the activities at the Boyolali Buddhayana Training Center was the vipassanā bhavana training. This study aims to determine the effect of the implementation of vipassanā bhavana and peers on self-control (samvara) students of Boyolali Buddhayana Training Center dormitories.
This research is an ex post facto (non-experimental) quantitative research with a correlational design. This study examines the things that have been done by the subject of research and the facts in Boyolali Buddhayana Training Center dormitory. The research subjects were 44 students of Boyolali Buddhayana Training Center dormitory. Analysise uses regression.
The results of the study of the implementation of vipassanā bhavana affect self-control (samvara). Peers group influence self-control (samvara). The implementation of vipassana bhavana and peers group has a simultaneous effect on self-control (samvara) of the students of the Boyolali Buddhayana Training Center dorm. 55% and the remaining 45% is influenced by other factors.
13
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
PendahuluanPendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan dilaksanakan melalui tiga jalur, salah satunya adalah pendidikan nonformal. Pusat pendidikan dan pelatihan (Pusdiklat) Buddhayana Boyolali merupakan salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan nonformal. Pusdiklat Buddhayana Boyolali bergerak di bidang pendidikan non formal dan pelatihan yang bersifat sosial dan keagamaan. Pusdiklat Buddhayana menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan keagamaan bagi umat Buddha Boyolali dan sekitarnya, seperti bimbingan Dharma, latihan meditasi, latihan tata upacara keagamaan, pembinaan dan pelatihan pemuda Buddhis.
Pusdiklat Buddhayana Boyolali berawal dari gagasan Bhikkhu Sasanabodhi Mahathera. Pada awalnya gedung pusdiklat Buddhayana Boyoalai adalah gedung sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Buddha Smaratungga. Namun sudah lama tidak berfungsi dan tidak terawat, maka pada tahun 2010 Bhikkhu Sasana Bodhi memiliki gagasan untuk merenovasi gedung PGA Smaratungga menjadi pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat), supaya dapat berfungsi dan bermanfaat bagi umat Buddha Boyolali dan sekitarnya. Gagasan itu mendapat sambutan baik dari para umat Buddha, donatur maupun pemerintah khususnya Dirjen Bimas Buddha.
Bhikkhu Sasana Bodhi juga memiliki gagasan selain sebagai pusdiklat maka gedung
tersebut juga dijadikan tempat asrama bagi anak asuh yang melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Buddha (STIAB) Smaratungga dengan pertimbangan letak pusdiklat dengan dengan kampus STIAB Smaratungga. Beliau sudah sejak lama memebentuk yayasan sebagai tempat untuk mengelola dana anak asuh bagi generasi muda buddhis yang memiliki semangat belajar namun terkendala oleh keterbatasan ekonomi.
Pada awalya bhikkhu Sasanabodhi melihat fenomena kehidupan generasi muda Buddhis di daerah-daerah pedesaan yang terpaksa putus sekolah dan bekerja seadanya karena masalah ekonomi. Tidak terjangkaunya biaya pendidikan membuat banyaknya generasi muda Buddhis berada pada level yang rendah dilihat dari kualitas sumber daya. Maka dengan tekad yang bulat Bhikkhu Sasanabodhi mencoba mengatasinya dengan membantu melalui program anak asuh. Para muda adalah remaja beragama Buddha yang bersekolah di SMA atau sederajat dan ada juga yang masih bersekolah di SMP dan juga melanjutkan sampai jenjang pendidikan tinggi. Semakin banyaknya peserta didik maka dibentuklah sebuah yayasan untuk mengelola.
Warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali mendapat bimbingan pendidikan secara non formal untuk pembentukan karakter yaitu belajar literatur ajaran Buddha dan ilmu pengetahuan (pariyatti), praktis dari apa yang dipelajari dan diingat dengan meletakkan ajaran ke dalam praktik (patipatti, praktik), dan
14
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
akhirnya terampil dalam bentuk penetrasi,penguasaan, dan mewujudkan kebenaran ajaran Buddha maupun ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari (pativedha). Warga asrama mendapatkan bimbingan dan pelatihan budi pekerti, peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pelatihan dan penerapan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan.
Pusdiklat Buddhayana Boyolali dalam perkembangannya sekarang mempunyai asrama untuk tempat tinggal siapapun yang mau belajar di pusdiklat. Selama ini pusdiklat Buddhaya Boyolali bekerjasama dengan STIAB Smaratungga, salah satu bentuk kerjasama yaitu asrama yang di pusdiklat dijadikan asrama bagi sebagian mahasiswa STIAB Smaratungga. Mahasiswa STIAB Smaratungga yang tinggal di arama Pusdiklat Buddhayana Boyolali ada yang menjalani hidup sebagai pabbajita ( Bhikkhu, Samanera, samaneri) dan ada yang menjalani hidup sebagai garavasa (perumahtangga). Selain mahasiswa smaratungga ada juga warga asrama yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang lain, seperti Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW). Seluruh warga asrama adalah anak asuh yang mendpatkan beasiswa pendidikan oleh Yayasan.
Hasil observasi peneliti memperoleh informasi bahwa warga asrama di Pusdiklat Buddhayana Boyolali mampu menjalin hubungan kekeluargaan secara baik antar teman sebaya sesama warga asrama maupun dengan pembimbing. Pada umumnya warga asrama
mampu menjaga sikap dalam menghadapi masalah dengan teman sebaya sesama warga asrama. Namun peneliti juga masih menjumpai beberapa hal yang menunjukan pengendalian diri yang kurang baik dari beberapa warga asrama. Beberapa warga asrama masih ada yang mudah tersinggung dengan sikap sesama warga asrama. Bahkan ada juga rasa tidak suka antara individu yang satu dengan yang lain. Ada juga warga asrama cenderung marah dan merasa tidak senang ketika mendapatkan suatu kritikan atau teguran dari sesama warga asrama bahkan dari pembimbing pusdiklat.
Pengendalian diri atau kontrol diri dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku. Pengendalian tingkah laku mengandung makna, yaitu melakukan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak (Ghufron, 2011:25). Harter menyatakan dalam diri seseorang terdapat suatu sistem pengaturan diri (self regulation) yang memusatkan perhatian pada control diri (self control). Proses pengontrolan diri menjelaskan bagaimana pengendalian diri dalam kehiduoan sehai-hari. Menurut Kartini Kartono & Dali Gulo dalam kamus psikologi, control diri (self control) adalah bagaimana cara individu dalam mengatur tingkah lakunya sendiri yang ia miliki (1987: 21-23). Individu mempunyai cara-cara tersendiri untuk mengatur dan mengarahkan tingkah lakunya sesuai dengan kehendak dan kemampuan yang dimilikinya.
15
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Ada beberapa pendapat lain mengenaikontrol diri, yaitu menurut Golfied dan Merbaum bahwa kontrol diri adalah kemampuan dari dalam diri individu untuk dapat menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilakunya yang nantinya dapat membawa individu tersebut ke arah dengan konsekuensi positif. Menurut Gleitman kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan suatu dorongan-dorongan yang berasal dari dalam maupun luar diri individu. Jika dalam diri individu memiliki kontrol diri, maka ia akan mampu mengambil tindakan dan keputusan secara efektif agar dapat menghasilkan sesuatu yang diinginkan dan menghindari suatu akibat yang tidak diinginkan (Thalib. 2010: 107).
Pengendalian diri dalam dalam bahasa pali disebut samvara, Secara harafiah berarti menutup atau menyumbat suatu aliran, artinya menutup dan menyumbat aliran pikiran-pikiran yang tidakbaik atau jahat (Panjika,2004:179). Pengendalian diri (samvara) terbagi menjadi lima yaitu Pengendalian diri melalui kemoralan (sila-samvara), pengendalian diri melalui perhatian (sati-samvara), pengendalian diri melalui pandangan terang (nana-samvara), pengendalian diri melalui kesadaran
(khanti-samvara), dan pengendalian diri melalui usaha
atau semangat (viriya-samvara) (Vism.18).
Self control merupakan kemampuan
individu untuk menghambat atau mencegah suatu impuls agar tidak muncul dalam bentuk tingkah laku yang melanggar atau bertentangan
dengan standar moral. Goldfried dan Merbaum (Muharsih. 2008: 16) mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif.
Menurut Logue (1995: 34) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan self control yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik yang mempengaruhi self control adalah usia. Umumnya self control berkembang sesuai bertambahnya usia. Anak-anak cenderung berperilaku impulsif dan lebih dapat mengendalikan diri sesuai pertambahan usianya. Faktor lingkungan yang sangat memepngaruhi yaitu keluarga, guru atau teman sebaya.
Religiusitas memiliki hubungan yang positif dengan kontrol diri, karena seseorang yang memiliki tingkat religius yang tinggi percaya bahwa setiap tingkah laku yang mereka lakukan selalu diawasi oleh Tuhan, sehingga mereka cenderung memiliki self monitoring yang tinggi dan pada akhirnya memunculkan kontrol diri dalam dirinya (Carter, McCullough & Carver, 2012). Salah satu aktifitas religius dalam agama Buddha yaitu meditasi vipassanā
bhavana. Pelaksanaan meditasi merupakan salah
satu usaha untuk mengendalikan diri melalui pikiran, karena pikiran yang menentukan semua tindakan yang dilakukan individu. “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan
16
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
bayang-bayang yang tidak pernak meninggalkanbenda-Nya” (Dh.2).
Salah satu program pendidikan dan pelatihan di Pusdiklat Buddhayana Boyoali yaitu pelatihan vipassanā bhavana. Pelatihan
vipassanā bhavana dilaksanakan secara rutin
oleh warga asrama, yaitu setiap pagi dan sore. Setiap pagi dan sore warga asrama melaksanakan puja bakti dan pelatihan meditasi. Namun masih ada beberapa warga asrama yang kurang displin dalam melaksakan program ini. Melalui program pelaksanaan vipassanā
bhavana yang intensif dan berkesinambungan
diharapkan membentuk warga asrama hidup berkesadaran, dapat memahami hakikat kehidupan yang dialaminya, yaitu selalu mengalami perubahan (anicca), tidak selalu memuaskan (dukkha) dan tanpa inti yang kekal
(anatta) serta menyadari bahwa individu tidak
bisa lepas dari hubungan social sehingga secara sadar mampu mengendalikan diri untuk mencapai kebahagiaan(M.I, 415-419).
Vipassanā berarti melihat ke dalam atau
pandangan terang. Buddha sendiri menemukan kebenaran sejati atau pandangan terang melalui praktik meditasi, dan itulah yang pertama beliau ajarkan. Intruksi tentang meditasi yang Beliau sampaikan merupakan pengalaman yang dialami sendiri sampai Beliau mencapai pencerahan. (Tigris, 2004:11). Vipassanā bhavana adalah kegiatan belajar yang dilakukan secara internal di dalam diri.
Formula latihan vipassanā bhavana ditunjukan Buddha ketika memberikan khotbah
kepada para bhikkhu. Jalan khusus untuk membangun penyadaran total terhadap hakekat batin dan jasmani tercantum di dalam
Satipathana-sutta. Pembabar Dhamma yang
terampil secara terprinci menerangkan praktek langsung menuju penghacuran semua noda batin yaitu dengan melakukan perenungan terhadap
nama-rupa (satipatthana) (M.I.55). Seseorang
dapat mengembangkan pikiran untuk mencapai pandangan terang dengan melaksanakan
Vipassanā bhavana menggunakan empat
landasan kesadaran sebagai obyek perenugan yaitu: (1) perenungan terhadap jasmani (Kayānupassanā), perenungan pada perasaan (vedananupassana), (3) perenungan terhadap pikiran (cittanupassana), (4) perenungan pada kondisi bentuk bentuk pemikiran (dhammanupassana) (M.I.56).
Vipassanā bhāvanā bertujuan
mengembangkan kebijaksanaan dan melenyapkan kekotoran batin seperti kemauan jahat, nafsu keinginan, kemalasan, kegelisahan dan kekhawatiran, keragu-raguan. Batin dikembangkan berdasarkan kebijaksanaan akan terbebas dari noda (asava), yaitu nafsu inderawi, nafsu kelahiran kembali, pandangan salah dan kebodohan (D.II.91). Pelaksanaan vipassanā
bhavana memberikan manfaat untuk dapat
mengendalikan enam landasan indria secara bertahap (Ud. 35), sehingga muncul pengetahuan (nana), penembusan terhadap
anicca, dukkha, anatta, serta pencapaian magga
dan phala. Vipassanā bhavana merupakan satu-satunya jalan (ekāyano maggo) untuk
17
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
mensucikan makhluk, untuk dapat mengatasipenderitaan dan kesakitan, kepedihan dan kedukaan, untuk mencapai ”jalan benar” dan jalan merealisir nibbāna, yaitu dengan menegakkan perhatian dan kesadaran benar (Piyadassi, 2005: 85).
Mengembangkan empat landasan perhatian murni selama tujuh tahun, enam tahun, lima tahun, empat tahun, tiga tahun, dua tahun, satu tahun, enam bulan, lima bulan, empat bulan, tiga bulan, dua bulan, satu bulan, setengah bulan, tujuh hari, maka salah satu dari dua hasil dapat diharapkan dalam penghidupan sekarang, yaitu pengetahuan tertinggi (arahat) sekarang dan saat ini atau jika terdapat sedikit kekotoran batin, direalisasi tingkat kesucian anagami. Atas dasar inilah maka dikatakan (pada waktu permulaan) merupakan satu jalan menuju kesucian, mengatasi kesedihan dan ratap tangis, mengakhiri derita dan duka cita, untuk mencapai jalan benar, untuk merealisai nibbanā yaitu empat landasan perhatian murni (D.II. 289). Inilah jalan langsung untuk mempurifikasi para makhluk. (Analayo. 2007: 5-6).
Self control dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Teman sebaya sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Sesama warga asrama yang ada di Pusdiklat Buddhayana Boyolali saling mempengaruhi perilaku, sikap dan pengendalian diri atara yang satu dengan yang lain. Warga asrama tergolong dalam usia remaja dan dewasa awal. Remaja dan dewasa awal banyak menghabiskan waktu dengan teman melebihi waktu dengan orang tua dan anggota
keluarga yang lain karena lebih banyak berada diluar rumah bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok, dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar dari pada pengaruh keluarga (Hurlock, 2004: 335). Dalam agama Buddha ada dua jenis sahabat atau teman yaitu sahabat baik (kalyanamitta) dan sahabat tidak baik (akalyanamitta). Kalyanamitta berarti teman yang baik atau bagus yang dapat menjadikan diri kita selalu waspada dalam menempuh kehidupan. Akalyanamitta (Teman yang tidak baik) artinya teman atau kawan yang tidak baik atau jahat yang berkeinginan untuk menjerumuskan diri kita sehingga mengalami penderitaan (dukkha). (S.III.18)
Prayitno (1995:108-109) menjelaskan secara sederhana tujuan dari adanya teman sebaya atau peer group, yaitu untuk mencapai perkembangan pribadi, pembahasan masalah, dan lebih luasnya bertujuan untuk mencapai perkembangan pribadi dan pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat bagi anggota kelompok. Dalam kelompok seorang anggota harus aktif membahas permasalahan atau topik yang ada, berpartisipasi aktif dalam dinamika dan interaksi sosial dalam kelompok.
Kelompok teman sebaya terbentuk secara spontan. Diantara anggota kelompok mempunyai kedudukan yang sama, tetapi ada satu di antara anggota kelompok yang dianggap sebagai pemimpin yang dianggap oleh semua anggota bahwa dia memang pantas dijadikan
18
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
sebagai pemimpin. Pemimpin biasanya adalahorang yang disegani dalam kelompok itu. Namun tidak ada struktur organisasi yang jelas.
Peer group mengajarkan individu tentang
kebudayaan yang luas. Misalnya teman sebaya di sekolah, umumnya terdiri dari individu yang berbeda-beda lingkungannya, yang mempunyai aturan atau kebiasaan yang berbeda-beda. Lalu mereka memasukkannya dalam kelompok sebaya sehingga mereka saling belajar secara tidak langsung tentang kebiasaan itu dan dipilih yang sesuai dengan kelompok, kemudian dijadikan kebiasaan kelompok.
Berikut ini merupakan beberapa ciri-ciri sahabat baik atau kalyanamitta: sahabat yang suka menolong (Upakaromitto), sahabat pada waktu senang dan susah (Samanasukha dukhomitto), sahabat yang memberi nasehat baik (Atthakhayamitto), sahabat yang bersimpati
(Anukampakamitto). Sahabat yang baik
merupakan orang-orang yang berteman dengan tulus, dan dapat berproses bersama untuk menjadi lebih baik (S.III.18).
Fungsi teman sebaya adalah sebagai pendorong, motivator, mengarahkan jalannya kegiatan, memberikan stimulus kepada individu agar lebih aktif. Teman sebaya juga berfungsi dalam membantu peranan sosial yang baru terhadap anggota kelompok, mencapai kebersamaan dalam kelompok, mengajarkan moral orang dewasa dan membantu dalam mencapai kebebasan untuk bertindak, berpendapat, dan menemukan identitas diri. Prayitno (1995:108-109) menjelaskan secara
sederhana tujuan dari adanya Peer group, yaitu untuk mencapai perkembangan pribadi, pembahasan masalah, dan lebih luasnya bertujuan untuk mencapai perkembangan pribadi dan pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat bagi anggota kelompok. Dalam kelompok seorang anggota harus aktif membahas permasalahan atau topik yang ada, berpartisipasi aktif dalam dinamika dan interaksi sosial dalam kelompok.
Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pengaruh pelaksanaan vipassanā
bhavana dan teman sebaya terhadap
pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Tujuan dari penelitian ini: (1) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana terhadap pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. (2) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh teman sebaya terhadap pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. (3) Untuk mengetahuai berapa besar pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya secara simultan (bersama-sama) terhadap pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali
Metode
Pendekatan kuantitatif dan desain
penelitian
korelasional.
Penelitian
korelasional untuk mengetahui hubungan
variable bebas terhadap variable terikat
(Sugiyono, 2017: 37-38). Penelitian ini
19
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
menggunakan
metode
ex
post
facto
(noneksperimen)
dengan
rancangan
korelasional artinya penelitian ini tidak
mengadakan perlakuan terhadap variabel
penelitian melainkan mengkaji fakta-fakta
yang telah terjadi dan pemah dilakukan oleh
subjek penelitian.
Penelitian ini terdiri atas 3 variable.
Variabel bebas terdiri dari 2 variabel yaitu
pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman
sebaya, 1 variabel terikat yaitu pengendalian
diri (samvara) warga asrama Pusdiklat
Buddhayana Boyolali. Populasi dan sampel
penelitian
warga
asrama
Pusdiklat
Buddhayana Boyolali berjumlah 44 orang.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi
yang akan diteliti (Arikunto 2010:117).
Jumlah subjek dalam populasi kurang dari
100 maka sampel dalam penelitian ini semua
warga
asrama
Pusdiklat
Buddhayana
Boyolali.
Untuk
mendapatkan
data
yang
diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian
diperlukan suatu alat pengumpul data yang
disebut instrumen penelitian. Penelitian ini
menggunakan instrumen yang berbentuk
kuesioner.
Kuesioner
adalah
sejumlah
pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh
informasi
dari
responden
(Arikunto, 2010:139). Instrumen yang baik
harus memenuhi syarat penting yaitu valid
dan reliable maka perlu adanya uji coba
instrumen. Instrumen yang baik harus
memenuhi dua syarat penting yaitu valid dan
reliabel. Menurut Sugiyono (2017: 173) uji
validitas dan Reliabelitas dalam penelitian
sangat penting dilakukan.
Pengumpulan data dalam penelitian
ini menggunakan alat bantu yang berupa
instrument penelitian. Instrumen penelitian
disusun berdasarkan variabel-variabel dalam
penelitian yaitu pelaksanaan vipassanā
bhavana, teman sebaya dan pengendalian
diri (samvara) yang dijabarkan menjadi sub
variabel dan indikator. Semua instrumen
dikembangkan oleh peneliti. Skala yang
digunakan dalam instrumen penelitian ini
adalah skala Likert yang merupakan Skala
interval.
Analisis data menggunakan:
1. Uji Signifikansi/Pengaruh Simultan (Uji F) Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:
a. Bila Fhitung > Ftabel atau probabilitas < nilai signifikan (Sig ≤ 0,05), maka hipotesis nihil (Ho) dalam penelitian ini ditolak dan hipotesis alternatif (ha) diterima artinya bahwa secara simultan
20
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
variabel independen memiliki pengaruhterhadap variabel dependen.
b. Bila Fhitung < Ftabel atau probabilitas > nilai signifikan (Sig ≥ 0,05), maka hipotesis nihil (Ho) diterima sedangkan hipotesis alternatif (Ha) ditolak ini berarti bahwa secara simultan variabel independen tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian pengaruh simultan dengan munggunakan analisis regresi dua prediktor dengan bantuan komputer menggunakan program SPSS 21.
2. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Uji t dilakukan untuk mengetahui sejauhmana pengaruh masing-masing variabel independen secara individu dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Pada uji t, nilai thitung akan dibandingkan dengan nilai ttabel, adapun ketentuannya adalah sebagai berikut: a. Apabila thitung > ttabel atau probabilitas <
tingkat signifikansi (Sig < 0,05), maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.
b. Bila thitung < ttabel atau probabilitas > tingkat signifikansi (Sig < 0,05), maka Ha ditolak dan Ho diterima, yang berarti variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
3. Koefisien Diterminasi (R2)
Koefisien diterminasi (R2) merupakan perbandingan antara variasi Y yang dijelaskan oleh X1 dan X2 secara bersama-sama dibanding variasi total Y. 4. Persamaan Regresi
Data yang terkumpul berupa angka-angka dari tiga variabel dalam penelitian ini kemudian dianalaisis untuk menguji hipotesis. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan bantuan komputer dengan program SPSS 21. Pengujian yang dilakukan adalah uji kualitas data, asumsi klasik dan pengujian hipotesis.
Rumus Persamaan Regresi Linier dua prediktor adalah sebagai berikut:
Hasil
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di di Pusdiklat Buddhayana Boyolali dengan sasaran penelitian pada warga asrama di Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Warga Asram Pusdiklat Buddhayan Boyolali berjumlah 44 orang, sebagian besar
21
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu AgamaBuddha (STIAB) Smaratungga Boyolali yang terdiri dari anggota Sangha (Pabbajita) ataupun hidup sebagai perumahtangga (garavasa). Selain para mahasiswa dari STIAB Smaratungg, ada juga beberapa warga asrama yang menemp-uh pendidikan tinggi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Warga Asrama adalah mereka yang merupakan anak asuh dari yayasan Buddhayana Boyolali dan tinggal di Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan, yaitu mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2019. B. Uji Hipotesis Penelitian
Hipotesa yang akan diujikan dalam penelitian ini yakni hipotesa dengan menggunakan regresi linier dua prediktor melalui program pengolah data sofware komputer Statistical Package for Social
Science (SPSS 21). Pengujian hipotesa
bertujuan untuk menguji hipotesis, yaitu hubungan antara pelaksanaan vipassanā
bhavana dan teman sebaya terhadap
pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Adapun hasil pengujianya adalah sebagai berikut 1. Uji Signifikansi/Pengaruh Simultan (Uji
F)
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan. Pengujian ini dilakukan dengan
menggunakan bantuan komputer program SPSS 21. Hasil uji F dalam penelitian ini dapat dilihat dalam ANOVA pada tabel berikut
Tabel Hasil Uji F
Tabel menunjukkan hasil analisis dari F test yang diperoleh besarnya F hitung adalah 32,340 dengan tingkat signifikan 0,000. Hal ini diasumsikan bahwa Sig. > 0,05, maka Ho diterima sedangkan jika Sig. < 0,05, maka Ho ditolak. Nilai Sig dalam perhitungan ini adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka regresi dapat dipakai, artinya variabel pelaksanaan vipassanā
bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variable pengendalian diri (Y).
2. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Uji t dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas 1 (X1) dan variabel 2 (X2) terhadap Variabel terikat Y. Hasil uji pelaksanaan vipassanā bhavana (X1) terhadap pengendalian diri (Y) dan teman sebaya (X2) terhadap
22
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
pengendalian diri (Y) dapat dilihat padatabel berikut
Tabel Hasil Uji t
Berdasarkan table Coeffisient di atas menunjukkan besarnya thitung minat 4,567 dengan Sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa pelaksanaan
vipassanā bhavana cukup bukti
berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri, sedangkan besarnya thitung teman sebaya 7,966 dengan sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa teman sebaya cukup bukti berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri.
Berdasarkan table Coeffisient di atas a= 6,086, b1= -0,675 dan b2= 2,100, jadi persamaannya Y= 6,086+(-0,675) X1 +2,100 X2
3. Koefisien Determinasi (R2)
Kontribusi pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali (Y) dapat dilihat dari analisis regresi yang ditunjukkan dalam R Square 0,550 dalam Model Summary pada table berikut
Tabel Hasil Uji Koefisien Determinasi
Hasil koefisien determinasi sebagaimana tertuang dalam tabel di atas menghasilkan angka R² sebesar 0,550 artinya variabel independen (pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya) dapat mempengaruhi variabel dependen (pengendalian diri) sebesar 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain.
C. Pembahasan
1. Hasil Uji Hipotesis Pertama
Dari hasil uji hipotesis dapat dilihat bahwa pelaksanaan vipassanā
bhavana berpengaruh terhadap
pengendalian diri. Berdasarkan uji t menunjukkan besarnya thitung pelaksanaan vipassanā bhavana 4,567 dengan Sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa pelaksanaan
vipassanā bhavana cukup bukti
berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri. Hal ini berarti bahwa jika pelaksanaan vipassanā bhavana semakin tinggi atau terbiasa maka dapat berpengaruh pada pegendalian diri (samvara) warga asrma Pusdiklat Buddhayana Boyolali.
Pelaksanaan vipassanā bhavana memberikan manfaat untuk dapat
23
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
mengendalikan enam landasan indriasecara bertahap (Ud. 35), sehingga muncul pengetahuan (nana), penembusan terhadap anicca, dukkha,
anatta, serta pencapaian magga dan phala. Pengendalian terhadap landasan
disebut juga sebgai indera samvara. Seseorang yang batinya terjaga maka melakukan segala aktifitas melalui indera akan terjaga pula. Pikiran benar maka akan tercermin dalam ucapan yang benar dan aktifitas tubuh jasmani yang benar. Munculnya pengetahuan maka seseorang akan menjadi lebih tahu hakikat kehidupan sehingga lebih dewasa dalam menjalani kehidupan. Seseorangyang terbiasa melakukan
vipassanā bhāvanā mamapu
mengembangkan kebijaksanaan dan melenyapkan kekotoran batin seperti kemauan jahat, nafsu keinginan, kemalasan, kegelisahan dan kekhawatiran, keragu-raguan.
Filosofis mendasar Satipaţţhāna atau vipassanā bhāvanā merupakan terapan praktis untuk menemukan sifat sejati kehidupan. Sistem kesadaran dialami oleh setiap individu, dengan merenungkan dan merefleksikan berbagai objek serta fungsi tubuh dan kesadaran. Praktik kesadaran penuh akan memebawa pada penyadaran totalitas kehidupan. Seseorang yang memiliki penyadaran total maka akan
selalu terjaga dalam setiap aktifitasnya. Seseorang akan menjadi terkendali (samvara) melalui kemoralan
(sila-samvara), pengendalian diri melalui
perhatian (sati-samvara), pengendalian diri melalui pandangan terang
(nana-samvara), pengendalian diri melalui
kesadaran (khanti-samvara), dan pengendalian diri melalui usaha atau semangat (viriya-samvara) (Vism.18). Seseorang yang memiliki pengendalian diri (samvara) yang baik mampu melihat secara jernih pada diri sendiri baik dalam aspek fisik, aspek psikis, dan aspek moral maupun bagaimana hubungan social dengan lingkungan sekitar. Maka jelas bahwa dengan membiasakan diri terlatih dalam
vipassanā bhāvanā mampu
meningkatkan pengendalian diri (samvara) warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.
2. Hasil Uji Hipotesis ke Dua
Berdasarkan uji t besarnya thitung teman sebaya besarnya 7,966 dengan sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa teman sebaya cukup bukti berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri. Dari bukti penelitian ini menunjukan bahwa teman sebaya mempengaruhi pengendalian diri.
Pengendalian diri yang dimiliki manusia tidak terbentuk secara instan
24
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
melainkan dengan proses belajarsepanjang hidup manusia dalam mkehidupan sekarang atau masa lampau. Manusi memiliki potensi bawaan (karma) masa lampau yang mendukung kehidupanya. Seseorang yang dalam kehidupan masa lampau dirnya terkendali, batinya terjaga maka dalam kehidupan saat ini akan mudah dalam memnegndalikan diri. Proses kehidupan manusia tidak mungkin terlepas dari lingkungan atau individu lain. Manusia yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lainnya tidak mungkin mempunyai mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah manusia (Mulyana, 2011:8). Melalui proses interaksi dengan lingkungan baik teman sebaya, guru maupun orang tua, setiap individu akan belajar bukan saja mengenai siapa dirinya, namun juga bagaimana merasakan siapa dirinya. Hal ini terbentuk dengan adanya proses saling menanggapi.
Sahabat dalam agama Buddha dibedakan menjadi dua yaitu sahabat baik (kalyanamitta) dan sahabat tidak baik (akalyanamitta). Kalyanamitta
berarti teman yang baik atau bagus yang dapat menjadikan diri kita selalu waspada dalam menempuh kehidupan.
Akalyanamitta (Teman yang tidak baik)
artinya teman atau kawan yang tidak baik atau jahat yang berkeinginan untuk
menjerumuskan diri kita sehingga mengalami penderitaan (dukkha).
(S.III.18). seseorang yang bergaul atau
berkumpul dengan teman sebya yang baik (kalyanamitta) maka akan terbiasa dengan kebiasaan yang baik. Teman yang baik akan sealalu mengingatkan ketika ada teman dalam kelompoknya yang tidak terkendali atau berkeinginan jahat. Lingkungan teman sebaya sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang maupun pengendalian diri seseorang.
3. Hasil Uji Hipotesis ke tiga
Berdasarkan hasil analisis dari F test yang diperoleh besarnya F hitung adalah 32,340 dengan tingkat signifikan 0,000. Hal ini diasumsikan bahwa Sig. > 0,05, maka Ho diterima sedangkan jika Sig. < 0,05, maka Ho ditolak. Nilai Sig dalam perhitungan ini adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka regresi dapat dipakai, artinya variabel pelaksanaan
vipassanā bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variable pengendalian diri (Y).
Adanaya pembiasaan diri untuk melaksanakan vipassanā bhavana yang semakin tinggi dan dengan teman sebaya
kalyanamitta yang semakin mendukung
secara bersamaan akan mempengaruhi pengendalian diri. Konsep diri terbentuk seiring sejalan dengan perkembangan
25
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
kehidupan individu. Konsep diritidak dapat berkembang tanpa adanya proses yang berkesinambungan yang mempengaruhinya. Pengendalian diri dapat berkembang karena adanya batin yang selalu sadar setiap saat dan juga dari pengalaman yang didapatkan individu dalam kehidupan sehari-hari serta adanya interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Kontribusi pengaruh pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali dapat dilihat dari analisis uji koefisien determinasi dimana variabel independen (pelaksanaan vipassanā
bhavana dan teman sebaya) dapat
mempengaruhi variabel dependen (pengendalin diri) sebesar 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain. Jadi di luar pelaksanaan vipassanā
bhavana dan teman sebaya masih
banyak faktor yang dapat mempengaruhi pengendalian diri.
Faktor yang mempengaruhi pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali selain
vipassanā bhavana dan teman sebaya
kemungkinan diantaranya adalah lingkungan keluarga, dimana orang tua dan seluruh anggota keluarga yang menjadi orang dekat individu. Orang tua merupakan penutun pertama bagi
kehidupan seseorang. Orang tua menjadi figur dan teladan bagi seorang anak. Lingkungan yang baik, orang tua yang baik maka akan menjadi teladan bagi seorang anak. Selain itu lingkungan sekolah tinggi, dosen, dan seluruh warga sekolah tinggi yang sering berinteraksi dengan individu juga akan mempengaruhi pembentukan diri yang dapat tercermin melalu pengendalian diri seseorang.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis hasil penelitian mengenai pengaruh pelaksanaan vipassanā
bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) terhadap pengendalian diri warga Asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali (Y), dapat dikemukakan beberapa simpulan sebagai berikut.
1. Pelaksanaan vipassanā bhavana cukup bukti berpengaruh terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Berdasarkan uji t menunjukkan besarnya thitung pelaksanaan vipassanā
bhavana 4,567 dengan Sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal
ini mengasumsikan bahwa pelaksanaan
vipassanā bhavana cukup bukti berpengaruh
secara signifikan terhadap pengendalian diri. Hal ini berarti bahwa jika pelaksanaan
vipassanā bhavana semakin tinggi maka
dapat berpengaruh pada pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.
2. Teman sebaya cukup bukti berpengaruh terhadap pengendalian diri warga asrama
26
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Berdasarkanuji t besarnya thitung lingkungan belajar besarnya 7,966 dengan sig. 0,000 ≤ 0,05. Hal ini mengasumsikan bahwa teman sebaya cukup bukti berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Teman sebaya yang baik akan mampu membentuk pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.
3. Pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman sebaya berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali. Berdasarkan hasil analisis dari F test yang diperoleh besarnya F hitung adalah 32,340 dengan tingkat signifikan 0,000. Nilai Sig dalam perhitungan ini adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka regresi dapat dipakai, artinya variabel pelaksanaan vipassanā
bhavana (X1) dan teman sebaya (X2) berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variable pengendalian diri (Y). Kontribusi pengaruh pelaksanaan vipassanā
bhavana dan teman sebaya terhadap
pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali dapat dilihat dari analisis uji koefisien determinasi dimana variabel independen (pelaksanaan vipassanā
bhavana dan teman sebaya) dapat
mempengaruhi variabel dependen (pengendalian diri) sebesar 55% dan sisanya 45% dipengaruhi oleh faktor lain. Jadi di luar pelaksanaan vipassanā bhavana dan teman
sebaya masih banyak faktor yang dapat mempengaruhi pengendalian diri warga asrama Pusdiklat Buddhayana Boyolali.
Daftar Pustaka
Analayo, Bikkhu. (2007). Satipatthana Jalan
Langsung Ke Tujuan. Bandung:
Karaniya.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Carter, McCullough, Carver. (2012). The Mediating Role of Monitoring in the Association of Religion With Self-Control. Social Psychological and Personality Science Vol 3, issue 6 Dhammapada (The Word of The Doctrines).
Terjemahan Norman. (2000). Oxford: Pāli Text Society
Dīgha Nikāya (Dialogue Of The Buddha) Vol. II. Terjemahan David, Rhys. (2002).
Oxford: The Pāli Text Society
Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawita S. (2010).
Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta :
Ar-Ruz Media.
Hurlock, E. (2004). Psikologi Perkembangan
Suatu Pendekatan Sepanjang
Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Kartono, Kartini dan Dali Gulo. (1987). Kamus
Psikologi. Bandung : Pionir Jaya.
Logue, A. W. (1995). Self Control Waiting Until
Tomorrow for What You Want Today.
New Jersey : Prestice Hall.
Majjhima Nikāya (The Midle Leght Sayings) Vol.I. Terjemahan Horner, I.B. (1989). Oxford: The Pāli Text Society
Panjika.(2004). Kamus Umum Buddha Dharma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Centre Piyadassi. (2005). Spektrum Ajaran Buddha,
Terjemahan oleh Hetih Rusli, Vivi, Titin Nengsi. Jakarta: Yayasan Pendidikan Buddhis Triratna.
27
Asosiasi Dosen Raden Wijaya & Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Prayitno. (1995). Dasar- Dasar Bimbingan DanKonseling. Jakarta: Reneka Cipta
Samyutta Nikaya (The Book of The Kindred
Sayings) VoI III. Terjemahan
Woodward, F.L. (1975). Oxford: The Pāli Text Society
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Thalib, Syamsul Bachri. (2010). Psikologi
Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta: Kencana
Tigris, Buntario. (2004). Sepuluh Hari Dalam
Meditasi Vipassana. Jakarta: Yayasan
Dhammadassa.
Udāna (Sacred Books Of The Buddhist).
Terjemahan Masefield, Peter. (2007). Oxford: The Pāli Text Society.
Visuddhimagga (The Part of Purification).
(1979). Kanady, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. Terjemahan dari bahasa Pāli ke Inggris oleh Bhikkhu Ñāņamoli. Terjemahan ke Indonesia oleh Tim Penerjemah Jalan Kesucian. Eni Darini, dkk. Bali: Mutiara Dhamma.