• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX ANALISIS KEBERHASILAN BMT SWADAYA PRIBUMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IX ANALISIS KEBERHASILAN BMT SWADAYA PRIBUMI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IX

ANALISIS KEBERHASILAN BMT SWADAYA PRIBUMI

9.1 Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi dalam Pemenuhan Kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis Gender

Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi pada penelitian ini diukur dari sejauhmana pemenuhan kebutuhan praktis serta kebutuhan strategis gender peserta produk pembiayaan (perempuan dan laki-laki) dipertimbangkan dalam pelaksanaan BMT Swadaya Pribumi. Jumlah pertanyaan untuk mengukur keberhasilan BMT Swadaya Pribumi adalah delapan pertanyaan yang terdiri dari lima pertanyaan pemenuhan kebutuhan praktis dan tiga pertanyaan pemenuhan kebutuhan strategis.

Pemenuhan kebutuhan praktis peserta produk pembiayaan dalam keberhasilan BMT Swadaya Pribumi diukur berdasarkan lima pertanyaan mengenai pemenuhan kebutuhan antara peserta perempuan dan peserta laki-laki terhadap kebutuhan permodalan, pengetahuan kewirausahaan, kebutuhan ekonomi, perbaikan kondisi hidup, dan perkembangan usaha. Nilai terendah dalam pemenuhan kebutuhan praktis peserta perempuan dan peserta laki-laki dalam BMT Swadaya Pribumi adalah 5 sedangkan nilai tertingginya adalah 10 sehingga diperoleh nilai tengah, yaitu 7,5≈8.

Pemenuhan kebutuhan praktis dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu rendah dan tinggi. Pemenuhan kebutuhan praktis peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi dikatakan rendah apabila skor yang diperoleh berkisar antara 5-8 sedangkan pemenuhan kebutuhan praktis peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi dikatakan tinggi apabila skor yang diperoleh berkisar antara 9-10. Sebagian besar responden laki-laki berada pada kategori rendah dalam pemenuhan kebutuhan praktis (53,3%) sedangkan sebagian besar responden perempuan berada pada kategori tinggi dalam pemenuhan kebutuhan praktis (66,7%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden perempuan merasa kebutuhan praktis mereka, seperti pemenuhan kebutuhan permodalan, pengetahuan kewirausahaan, kebutuhan ekonomi, perbaikan kondisi hidup, dan perkembangan usaha. Hal ini juga berhubungan dengan tingginya tingkat pemenuhan manfaat yang dirasakan oleh responden perempuan (lihat

(2)

  Tabel 22 yang me pembiayaa Tabel 31 Pemenuh pr Re T Tota Sumber: Da P dengan tuj praktis s pembiayaa peserta pe peserta la lebih tingg Gambar 0.0% 10.0% 20.0% 30.0% 40.0% 50.0% 60.0% 70.0% pada BAB reka nikm an BMT Sw Jumlah Pemenuh an kebutuha raktis endah Tinggi al n (%) ata Primer (20 Peserta pere ujuan untuk sedangkan an dengan erempuan bi aki-laki seh gi daripada 18 Persen Kebutu % % % % % % % % R VII). Resp mati dari k wadaya Prib dan Perse an Kebutuh an L 11). empuan ce memenuhi peserta l tujuan mem iasanya me hingga tingk peserta laki ntase Sebar uhan Prakti Rendah ponden pere keikutsertaa bumi. entase Seb han Praktis d Jeni Laki-laki n (%) 8 (53,3 7 (46,7 15 (100,0 enderung m kebutuhan laki-laki c mperbesar ngajukan p kat pengem i-laki. ran Respo s di Desa K empuan cen an mereka baran Resp di Desa Kem s kelamin Pere n 3) 7) 0) mengajukan rumahtang cenderung skala usaha embiayaan mbalian pes onden men Kembang Ku Tinggi nderung men a sebagai ponden m mbang Kun empuan n (%) 5 (33,3) 10 (66,7) 15 (100,0) n permohon gga sehari-h mengajuka a mereka. O yang lebih serta perem nurut Tingk uning, 2011 nsyukuri ap peserta pr menurut Tin ning, 2011 Tota n (% ) 13 ( ) 17 ( ) 30 (1 nan pembia hari yang be an permoh Oleh karen sedikit dar mpuan cende kat Pemen Laki-la Peremp papun roduk ngkat al %) (43,3) (56,7) 100,0) ayaan ersifat honan na itu, ripada erung nuhan aki puan

(3)

Kebutuhan strategis memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada kebutuhan praktis. Kebutuhan strategis tersebut meliputi kebutuhan terhadap akses, kontrol, dan manfaat yang bersifat strategis yang dapat dinikmati oleh peserta. Peserta yang telah mampu memenuhi kebutuhan praktis belum tentu mampu memenuhi kebutuhan strategis gender. Peserta yang telah mampu memenuhi kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis gender, maka peserta tersebut telah memiliki tingkat pemenuhan kebutuhan gender yang tinggi.

Kebutuhan strategis merupakan kebutuhan yang bersifat jangka panjang yang mengacu pada perubahan hubungan gender antara perempuan dan laki-laki, seperti kebutuhan terhadap hak yang sama dalam memperoleh pembiayaan, pelatihan, dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan strategis peserta produk pembiayaan dalam keberhasilan BMT Swadaya Pribumi diukur berdasarkan tiga perubahan hubungan gender, yaitu hak atau kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh pembiayaan, mengikuti kegiatan pelatihan, dan pengambilan keputusan dalam mengatur rumahtangga.

Sebagian besar responden perempuan berada pada kategori rendah dalam pemenuhan kebutuhan strategis (60,0%) sedangkan sebagian besar responden laki-laki berada pada kategori tinggi dalam pemenuhan kebutuhan strategis (86,7%), dengan selisih perbedaan 26,7% (lihat Tabel 32). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden laki-laki merasa kebutuhan strategis mereka, seperti kesempatan memperoleh pembiayaan, pelatihan kewirausahaan, dan pengambilan keputusan dalam rumahtangga telah terpenuhi.

Tabel 32 Jumlah dan Persentase Sebaran Responden menurut Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Strategis di Desa Kembang Kuning, 2011

Pemenuhan kebutuhan strategis Jenis kelamin Total n (%) Laki-laki n (%) Perempuan n (%) Rendah 2 (13,3) 9 (60,0) 11 (36,7) Tinggi 13 (86,7) 6 (40,0) 19 (63,3) Total n (%) 15 (100,0) 15 (100,0) 30 (100,0)

(4)

  P dalam pem maupun k bertindak perempuan keputusan suami m didominas merunding bersama. tinggi pad pengaruh Gambar P gender an keberhasil kebutuhan BMT Swa tinggi. Se responden menunjuk kategori ti 0.0% 10.0% 20.0% 30.0% 40.0% 50.0% 60.0% 70.0% 80.0% 90.0% Peserta laki-menuhan k keluarga. Da sebagai p n berperan n dari suam ereka sebe si oleh kepu gkan persoa Perempuan da umumny dalam kelua 19 Persen Kebutu Penggabung ntara pesert lan BMT S n strategis g adaya Pribu ecara kuant n laki-laki m kkan bahwa inggi karen % % % % % % % % % % R -laki cende kebutuhan s alam keluar engambil k n sebagai mi mereka s elum meng utusan suam alan yang m n yang mem ya memilik arga. ntase Sebar uhan Strateg gan pemenu a perempua Swadaya Pr gender para umi dikelom titatif, jawa mengenai k a tingkat ke na telah berh Rendah rung memi strategis me rga, laki-lak keputusan u pendampin sehingga pe gajukan pe mi mereka, t mereka hada miliki tingk ki posisi taw ran Respo gis di Desa uhan kebutu an dan pes ribumi dala peserta pro mpokkan ke aban sebag keberhasilan eberhasilan hasil meme iliki pengar ereka, baik ki sebagai s utama di d ng suamin erempuan h embiayaan. terdapat beb api dan men kat pendidik war yang c onden men Kembang K uhan prakti erta laki-la am memen oduk pembia e dalam dua gian besar n BMT Sw BMT Swa enuhi kebutu Tinggi

ruh dan ken di lingkun suami dan k dalam kelu nya dan m harus memp Tidak se berapa kelu ncari jalan k kan tinggi cukup tingg nurut Tingk Kuning, 201 is dan keb aki dapat m nuhi kebutu ayaan. Ting a kategori, y responden wadaya Prib adaya Pribu uhan prakti ndali yang ngan masya kepala kelu uarga sedan menerima s peroleh izin eluruh kelu uarga yang s keluarnya s atau penda gi dan mem kat Pemen 11 butuhan stra mengukur tin uhan praktis gkat keberha yaitu rendah perempuan bumi sama-umi berada is dan kebut Laki-la Peremp besar arakat uaraga ngkan setiap n dari uarga saling secara apatan miliki nuhan ategis ngkat s dan asilan h dan n dan -sama pada tuhan aki puan

(5)

strategis g 33). Hany laki yang kebutuhan Tabel 33 Tingkat k BMT Swa Re T Tota Sumber: Da Gambar 2 9.2 A P memperha pelaksanaa pemenuha program t suatu alat 0 20. 40. 60. 80.0 100.0 gender pese ya sebesar 1 merasa ting n praktis dan Jumlah Keberhas keberhasila adaya Pribu endah Tinggi al n (%) ata Primer (20 0 Persent Swada Analisis Gen Pelaksanaan atikan perso an suatu an kebutuha ersebut dap analisis hub .0% .0% .0% 0% 0% 0% Ren erta produk 13,3 persen gkat keberh n strategis m dan Perse silan BMT S an umi L 11). tase Sebaran aya Pribumi nder terha n suatu p oalan keseta program te an gender ya pat dikataka bungan gen ndah pembiayaa peserta per hasilan BM mereka terg entase Seb Swadaya Pr Jeni Laki-laki n (%) 2 (13,3 13 (86,7 15 (100,0 n Responde i di Desa Ke dap Keber program araan gender elah memp ang berbeda an telah resp nder dalam Tinggi n BMT Sw rempuan da MT Swadaya olong renda baran Resp ibumi di De s kelamin Pere n 3) 7) 0) en menurut embang Kun rhasilan BM dapat dik r dalam perhatikan a antara per ponsif gend suatu kegia Laki-laki Perem wadaya Prib an 13, 3 per a Pribumi d ah. ponden m esa Kemban empuan n (%) 2 (13,3) 13 (86,7) 15 (100,0) Tingkat Ke ning, 2011 MT Swaday katakan b pelaksanaa kesetaraan rempuan dan der. Analisis atan atau pro mpuan umi (lihat T rsen peserta dalam mem menurut Tin ng Kuning, Tota n (% ) 4 ( ) 26 ( ) 30 (1 eberhasilan ya Pribumi erhasil ap annya. K n gender d n laki-laki, s gender se ogram dilak Laki-lak Perempu Tabel a laki-enuhi ngkat 2011 al %) (13,3) (86,7) 100,0) BMT i pabila Ketika dalam maka ebagai kukan ki uan

(6)

 

berdasarkan beberapa tahapan. Pada penelitian ini analisis gender dilakukan dengan menganalisis peran (pembagian kerja) dalam rumahtangga, akses peserta terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi, kontrol peserta terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi, dan manfaat yang dinikmati oleh peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi. Dari keempat variabel tersebut diambil tiga variabel untuk digabungkan ke dalam variabel tingkat kesetaraan gender dalam BMT Swadaya Pribumi, yaitu tingkat akses terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi, tingkat kontrol terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi, dan tingkat manfaat yang dinikmati oleh peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi. Hubungan atau korelasi antara variabel-variabel dalam kesetaraan gender dan variabel keberhasilan BMT Swadaya Pribumi diukur dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 34 Hasil Analisis Uji Statistik Rank Spearman antara Akses, Kontrol, Manfaat, dan Kesetaraan Gender terhadap Tingkat Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi di Desa Kembang Kuning, 2011

Analisis Gender Koefisien Korelasi p-value Keterangan

Akses 0,479** 0,007 Signifikan

Kontrol 0,109 0,568 Tidak signifikan

Manfaat 0,367* 0,046 Signifikan

Kesetaraan gender 0,423* 0,020 Signifikan

Berdasarkan Tabel 34, terlihat bahwa akses peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi, manfaat yang dinikmati oleh peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi, dan kesetaraan gender dalam BMT Swadaya Pribumi memiliki signifikansi p-value kurang dari 0,05 sehingga ketiga variabel tersebut memiliki hubungan yang nyata atau signifikan dengan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi sedangkan kontrol peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi tidak memiliki hubungan yang nyata dengan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi yang ditunjukkan melalui signifikansi p-value lebih besar dari 0,05. Tanda bintang (*) pada nilai korelasi kofisien menunjukkan hubungan atau signifikansi antar variabel yang diuji, semakin banyak jumlah bintang maka semakin signifikan, seperti tanda bintang yang

(7)

ditunjukkan pada variabel akses peserta terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi, manfaat yang dinikmati oleh peserta, dan kesetaraan gender dalam BMT Swadaya Pribumi dengan tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi.

Hubungan antara akses peserta dengan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi memiliki tingkat signifikansi yang tinggi. Jika tingkat akses peserta terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi tinggi maka tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi juga tinggi dan jika tingkat akses peserta terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi rendah maka tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi juga rendah. Sebagian besar responden (95,7 persen responden) yang memiliki akses tinggi terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi, menyatakan BMT Swadaya Pribumi telah berhasil dalam memenuhi kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis gender dan sebesar 57,1 persen peserta yang memiliki akses yang rendah terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi menyatakan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi adalah rendah (lihat Tabel 35).

Tabel 35 Jumlah dan Persentase Tingkat Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi menurut Tingkat Akses Responden dalam Memperoleh Sumberdaya BMT Swadaya Pribumi di Desa Kembang Kuning, 2011

Tingkat akses

Tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi

Total n (%) Rendah n (%) Tinggi n (%) Rendah 3 (42,9) 4 (57,1) 7 (100,0) Tinggi 1 (4,3) 22 (95,7) 23 (90,0) Total n (%) 4 (13,3) 26 (86,7) 30 (100,0)

Keterangan: p-value = 0,007 Taraf nyata = 0,05

Hasil uji non-parametik Rank Spearman menunjukkan kontrol peserta dengan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi tidak memiliki hubungan yang nyata atau signifikan dengan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi. Rendahnya kontrol peserta terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi tidak mempengaruhi keberhasilan BMT Swadaya Pribumi menjadi rendah. Peserta yang memiliki kontrol tinggi terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi menyatakan BMT Swadaya Pribumi telah berhasil dan peserta yang memiliki kontrol yang rendah terhadap sumberdaya dari BMT Swadaya Pribumi ternyata juga

(8)

 

menyatakan bahwa BMT Swadaya Pribumi dapat dikatakan telah berhasil dalam memenuhi kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis gender peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi (lihat Tabel 36).

Tabel 36 Jumlah dan Persentase Tingkat Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi menurut Tingkat Kontrol Responden dalam Memperoleh Sumberdaya BMT Swadaya Pribumi di Desa Kembang Kuning, 2011

Tingkat kontrol

Tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi

Total n (%) Rendah n (%) Tinggi n (%) Rendah 2 (18,2) 9 (81,8) 11 (100,0) Tinggi 2 (10,5) 17 (89,5) 19 (100,0) Total n (%) 4 (13,3) 26 (86,7) 30 (100,0)

Keterangan: p-value = 0,568 Taraf nyata = 0,05

Hubungan antara manfaat yang dinikmati peserta dengan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi cukup signifikan atau berhubungan nyata. Jika tingkat manfaat yang dinikmati peserta produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi adalah tinggi maka tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi juga tinggi. Seluruh peserta yang merasakan manfaat yang mereka nikmati tinggi, menyatakan bahwa keberhasilan BMT Swadaya Pribumi juga tinggi (lihat Tabel 37).

Tabel 37 Jumlah dan Persentase Tingkat Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi menurut Tingkat Manfaat yang Responden Nikmati dari BMT Swadaya Pribumi di Desa Kembang Kuning, 2011

Tingkat manfaat

Tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi

Total n (%) Rendah n (%) Tinggi n (%) Rendah 4 (25,0) 12 (75,0) 16 (100,0) Tinggi 0 (0,0) 14 (100,0) 14 (100,0) Total n (%) 4 (13,3) 26 (86,7) 30 (100,0)

Keterangan: p-value = 0,046 Taraf nyata = 0,05

Hubungan antara kesetaraan gender dalam BMT Swadaya Pribumi dengan keberhasilan BMT Swadaya Pribumi memiliki tingkat signifikansi yang cukup tinggi. Semakin tinggi tingkat kesetaraan gender peserta dalam BMT Swadaya Pribumi maka tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi semakin

(9)

tinggi. Sebesar 50,0 persen responden menyatakan pelaksanaan produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi tidak setara gender dengan keberhasilan yang juga rendah. Sebesar 50,0 persen responden lainnya yang menyatakan pelaksanaan produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi tidak setara gender ternyata merasa bahwa tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi tinggi. Sebesar 92,7 persen responden menyatakan kesetaraan gender dalam BMT Swadaya Pribumi adalah setara gender dengan tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi yang juga tinggi (lihat Tabel 38).

Tabel 38 Jumlah dan Persentase Tingkat Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi menurut Tingkat Kesetaraan Gender dalam BMT Swadaya Pribumi di Desa Kembang Kuning, 2011

Tingkat kesetaraan gender

Tingkat keberhasilan BMT Swadaya

Pribumi Total n (%) Rendah n (%) Tinggi n (%) Tidak setara 2 (50,0) 2 (50,0) 4 (100,0) Setara 2 (7,7) 24 (92,7) 26 (100,0) Total n (%) 4 (13,3) 26 (86,7) 30 (100,0)

Keterangan: p-value = 0,020 Taraf nyata = 0,05

Kuantitas peserta perempuan produk pembiayaan BMT Swadaya Pribumi yang lebih banyak dari peserta laki-laki menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang cukup besar untuk mengajukan pemohonan pembiayaan kepada BMT Swadaya Pribumi, namun peserta perempuan memiliki kontrol atau kuasa yang lebih rendah daripada peserta laki-laki dalam mengelola uang pembiayaan dari BMT Swadaya Pribumi serta dalam mengelola usaha yang mereka jalani karena laki-laki memiliki peran yang lebih besar dalam rumahtangga peserta sehingga laki-laki mayoritas lebih dominan dalam pengambilan keputusan. Hal ini yang mempengaruhi peserta perempuan menyatakan bahwa kesetaraan gender dalam BMT Swadaya Pribumi adalah tidak setara gender. Dari segi akses dan kontrol, peserta laki-laki memiliki akses yang lebih tinggi daripada peserta perempuan, namun dari segi manfaat yang dirasakan, peserta perempuan menyatakan manfaat yang mereka nikmati adalah tinggi. Manfaat peserta perempuan yang tinggi tersebut mempengaruhi keberhasilan BMT Swadaya

(10)

 

Pribumi dalam memenuhi kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis gender peserta produk pembiayaan. Tingkat kesetaraan gender yang setara dalam BMT Swadaya Pribumi mempengaruhi tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi. Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi sebagai suatu program yang responsif gender merupakan keterlibatan aktif dari semua pihak, peserta perempuan dan peserta laki-laki harus menyadari kebutuhan dan kepentingan mereka masing-masing.

9.3 Ikhtisar

Peserta perempuan dan peserta laki-laki menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan praktis mereka sudah terpenuhi, namun tingkat pemenuhan kebutuhan praktis peserta perempuan lebih tinggi daripada peserta laki-laki. Peserta perempuan dan peserta laki-laki juga menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan strategis mereka sudah terpenuhi, namun tingkat pemenuhan kebutuhan strategis peserta perempuan lebih rendah daripada peserta laki-laki. Akumulasi dari kedua kebutuhan gender tersebut menghasilkan nilai keberhasilan BMT Swadaya Pribumi. Secara kuantitatif, peserta perempuan dan peserta laki-laki sama-sama menyatakan bahwa tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi berada pada kategori tinggi karena telah berhasil memenuhi kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis gender peserta produk pembiayaan terutama dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Peserta yang menyatakan pelaksanaan BMT Swadaya Pribumi tidak setara dan setara gender sama-sama merasa bahwa pelaksanaan BMT Swadaya Pribumi telah berhasil. Oleh karena itu, tingkat kesetaraan gender yang setara dalam BMT Swadaya Pribumi akan mempengaruhi tingkat keberhasilan BMT Swadaya Pribumi.

Gambar

Tabel 36  Jumlah dan Persentase Tingkat Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi  menurut Tingkat Kontrol Responden dalam Memperoleh Sumberdaya  BMT Swadaya Pribumi di Desa Kembang Kuning, 2011

Referensi

Dokumen terkait

Menggabungkan metode transformasi untuk pendeteksian pilihan jawaban otomatis pada lembar jawaban komputer sehingga data yang digunakan untuk deteksi pilihan tidak

Dari selisih data (point) yang telah didapat maka dapat diambil kesimpulan untuk short circuit turn 1 pada fasa R-Ground pada gambar 4.17 perubahan selisih

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri 102 Laikang yang bertujuan untuk melihat secara umum pengaruh media elektronik TV terhadap hasil belajar

d) Produksi nektar per pohon kopi diperoleh dari jumlah bunga per.. pohon dan rata-rata produksi nektar per bunga. e) Produksi nektar per hektar kopi diprediksi melalui pengalian

Daya dukung dari suatu perairan yang digunakan untuk kegiatan budidaya dalam KJA merupakan tingkat maksimum produksi ikan yang dapat didukung oleh perairan pada tingkat

Kabupaten/Kota dan Kelompok Umur Wanita 2010 37 Tabel 3.11 Rata-rata Jumlah Anak Masih Hidup Per Wanita Menurut Kelompok.. Umur Wanita Tahun 2007 – 2010 38 Tabel 3.12.a

Skripsi, Program Studi S1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.. Ikatan Dokter Anak

Slamet Riyadi, Juli 2017. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kesadaran politik dengan partisipasi politik pemilih pemula dalam