i
OPTIMALISASI PENGADAAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS)
SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN
CRUDE PALM OIL (CPO) DAN PALM KERNEL OIL (PKO)
(Studi Kasus PKS Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV)
SKRIPSI
ROSELINA BR BAKARA H34096098
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
ii
RINGKASAN
ROSELINA BR BAKARA. Optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) sebagai Bahan Baku Industri Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) (Studi Kasus PKS Adolina PT Perkebunan Nusantara IV). (Dibawah bimbingan DWI RACHMINA).
Sub sektor perkebunan sebagai salah satu bagian dari pertanian dalam arti luas dan merupakan komponen utama yang penting dalam perekonomian Indonesia. Hasil-hasil perkebunan yang selama ini telah menjadi komoditas ekspor antara lain adalah kelapa sawit. Tingginya permintaan minyak kelapa sawit tercermin dari menigkatnya konsumsi minyak sawit dunia. Produksi minyak sawit pertumbuhannya dari tahun 2001 sampai 2008 mencapai 6,75 persen dan pertumbuhan konsumsi pada rentang tahun yang sama mencapai 6,93 persen. Persentase peningkatan pada kinerja ekspor CPO yang berkisar 4,13 persen hingga 14,58 persen ini mengindikasikan bahwa salah satu sumber penghasil devisa Indonesia berasal dari ekspor CPO ke Negara seperti India, China dan Uni Eropa.
Unit Usaha Adolina merupakan salah satu unit usaha milik PTPPN IV yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Perkebunan Adolina memiliki luas areal tanam kelapa sawit sebesar 8.815,69 hektar dengan tanaman produktif seluas 5.095 hektar dan pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas produksi 30 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam. Bahan baku TBS merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan industri PPKS. Pabrik pengolahan sering mengalami kekurangan bahan baku dalam memenuhi kapasitas produksi untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan. Saat ini produksi kebun Adolina hanya mampu memasok TBS sebesar 32 persen dari kapasitas pabrik kelapa sawit (PKS). Oleh sebab itu perlu dilakukan kegiatan optimalisasi pengadaan TBS untuk mencapai keuntungan optimal PKS Adolina dengan memanfaatkan sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki. Penelitiaan ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis tingkat produksi CPO dan PKO yang memberikan keuntungan maksimal dengan pemanfaatan sumberdaya yang terbatas dan mengidentifikasi tingkat pengadaan optimal TBS dalam memproduksi CPO dan PKO di PKS Adolina untuk mencapai keuntungan maksimum.
Sumberdaya yang menjadi kendala adalah kapasitas maksimal pabrik, ketersediaan TBS pembelian, kuota batasan pembelian, ketersediaan tenaga kerja, dan kendala transfer. Kendala pembatas dalam penelitian ini adalah ketersediaan tenaga kerja dan kendala Transfer. Metode penelitian yang digunakan adalah
linear programming dengan a nalisis primal, analisis dual, analisis sensitivitas
dan analisis post optimal. Hasil optimalisasi keadaan aktual menyatakan bahwa keuntungan aktual masih belum tercapai, keuntungan saat ini hanya sebesar 72 persen dari keuntungan optimal. Pada keadaan ini masih terdapat sumberdaya-sumberdaya yang mengalami kelebihan sehingga mengakibatkan pemborosan seperti, kapasitas pabrik yang digunakan hanya rata-rata mencapai 68 persen, kelebihan pasokan TBS pembelian sebesar 4.446.525, dan batasan kuota pembelian sebesar 6.000.000 kilogram setiap bulannya.
iii Pasokan bahan baku dari pembelian merupakan salah satu sumberdaya yang berlebih dan mengakibatkan pemborosan bagi PKS Adolina. Maka untuk memaksimalkan keuntungan dilakukan analisis post optimal dengan dua scenario. Penentuan scenario dilihat dari keadaan aktual perusahaan dan kelabihan dan kekurangan sumberdaya yang terdapat diperusahaan. Skenario satu yaitu pengurangan pasokan pembelian sebesar 44,8 persen dan di ikuti dengan peningkatan pasokan kebun Adolina sebesar 22 persen akan meningkatkan keuntungan optimal sebesar 0,55 persen dari keuntungan aktual PKS Adolina pada tahun 2010. Peningkatan keuntungan optimal yang dapat diperoleh sebesar Rp 18.471.150.000. Skenario dua yaitu peningkatan jumlah ketersediaan tenaga kerja langsung sebesar 10 persen mampu meningkatkan keuntungan optimal sebesar 0,39 persen yaitu senilai Rp 25.042.951.163.
iv
OPTIMALISASI PENGADAAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS)
SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN
CRUDE PALM OIL (CPO) DAN PALM KERNEL OIL (PKO)
(Studi Kasus PKS Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV)
ROSELINA BR BAKARA H34096098
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
v Judul Skripsi : Optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) sebagai
Bahan Baku Industri Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) (Studi Kasus PKS Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV)
Nama : Roselina Br Bakara NIM : H34096098
Menyetujui, Pembimbing
Ir. Dwi Rachmina, MS NIP. 19631227 199003 2 001
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institute Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP.19580908 198403 1 002
vi
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) sebagai Bahan Baku Industri Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) (Studi Kasus PKS Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV)” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah dituliskan dalam teks dan dicantumkan daftar pustaka dibagian akhir skripsi ini.
Bogor, Oktober 2011
Roselina Br Bakara H34096098
vii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Aek Raso pada tanggal 04 Desember 1987. Penulis adalah anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak N. Bakara dan Ibunda R. Nainggolan.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 118268 Aek Raso pada tahun 2000 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2003 di SLTP R.K Bintang Timur Rantau Prapat. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMAN 3 Rantau Utara diselesaikan pada tahun 2006.
Penulis diterima pada Program Diploma III Agribisnis melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Program Sarjana Ekstensi Agribisnis.
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) sebagai Bahan Baku Industri Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) (Studi Kasus PKS Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV)”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengadaan bahan baku optimal yang dibutuhkan pabrik kelapa sawit (PKS) Adolina untuk memperoleh keuntungan optimal serta mengetahui alternatife skenario pengadaan bahan baku yang optimal untuk menghasilkan keuntungan yang lebih baik dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki Unit Usaha Adolina.
Bogor, Oktober 2011 Roselina Br Bakara
ix
UCAPAN TERIMAKASIH
Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, penulis ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada:
1. Ir. Dwi Rachmina, MS selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS atas kesediaannya menjadi dosen evaluator pada kolokium dan atas semua masukan dan arahan untuk memperbaiki skripsi ini. 3. Amzul Rifin, PhD dan Suprehatin, SP, MAB atas kesediaannya menjadi dosen
penguji dan atas semua masukan dan arahan untuk memperbaiki skripsi ini. 4. Keluargaku yang ku sayangi, Irawati, Thamrin, Alfri, Yosua juga keponakanku
Arumy dan special untuk Ayahku N. Bakara dan Mamaku R. Nainggolan tercinta atas semua dukungan moril dan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah.
5. Segenap pimpinan dan karyawan Unit Usaha Adolina PTPN IV atas kerjasamanya selama penelian berlangsung.
6. Siti Rahmawati, Nanda Pramudya, Junita Hutabarat, Eva Christy dan Iman Satra atas persahabatan dan dukungan yang diberikan selama kuliah.
7. Seluruh keluarga besar Ekstensi Agribisnis angkatan VII Institut Pertanian Bogor atas kerjasamanya dan dukungan selama kuliah dan selama penelitian.
Bogor, Oktober 2011 Roselina Br Bakara
x
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 4 1.3. Tujuan ... 6 1.4. Manfaat ... 6 1.5. Ruang Lingkup ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1. Perkembangan Industri Kelapa Sawit Indonesia ... 8
2.2. Sistem Pengadaan Bahan Baku ... 8
2.3. Model Optimalisasi Pengadaan Bahan Baku ... 9
III KERANGKA PEMIKIRAN ... 12
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 12
3.1.1. Fungsi Produksi ... 12
3.1.2. Pengadaan Bahan Baku... 13
3.1.3. Optimalisasi ... 15
3.1.4. Program Linear ... 16
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 18
IV. METODE PENELITIAN ... 20
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20
4.2. Jenis dan Sumber Data ... 20
4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 20
4.3.1. Penentuan Variabel Keputusan ... 21
4.3.2. Fungsi Tujuan ... 22
4.3.3. Penentuan Fungsi Kendala ... 22
4.3.4. Analisis Primal ... 25
4.3.5. Analisis Dual ... 26
4.3.6. Analisis Sensitivitas ... 26
4.3.7. Analisis Post Optimal ... 27
4.4. Asumsi-Asumsi ... 27
V. GAMBARAN UMUM PKS ADOLINA ... 28
5.1. Profil Perusahaan ... 28
5.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan ... 28
5.1.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha ... 29
5.1.3. Lokasi Perusahaan ... 29
5.1.4. Daerah Pemasaran ... 29
5.2. Organisasi dan Manajemen ... 30
xi
5.2.2. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab ... 31
5.2.3. Jumlah Tenaga Kerja ... 35
5.2.4. Jam Kerja ... 35
5.3. Proses Produksi ... 36
5.3.1. Proses Produksi CPO ... 36
5.3.2. Proses Produksi Biji/Inti ... 39
5.3.3. Bahan-bahan yang Digunakan ... 40
VI. OPTIMALISASI TANDAN BUAH SEGAR PKS ADOLINA ... 42
6.1. Perumusan Model Linier Optimalisasi TBS ... 42
6.1.1. Fungsi Tujuan ... 42
6.1.2. Kendala-Kendala ... 44
6.2. Optimalisasi Pengadaan TBS ... 54
6.2.1. Hasil Optimal Pengolahan TBS ... 55
6.2.2. Analisis Sensitivitas ... 66
6.3. Hasil Analisis Optimalisasi dengan Skenario ... 76
6.3.1. Skenario 1 Penurunan Pasokan Pembelian Sebesar 44,8 Persen dan Peningkatan Produksi Kebun Sendiri Sebesar 22 Persen. ... 77
6.3.2. Hasil Optimal Skenario 2: Peningkatan Ketersediaan Tenaga Kerja (HOK) Sebesar 10 Persen. ... 87
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 94
7.1. Kesimpulan ... 94
7.2. Saran... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 96
xii
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Produksi dan Konsumsi Minyak Sawit Dunia
Tahun 2001-2008 (ribu ton) ... 1
2. Kinerja Ekspor CPO dan Produk Turunannya Asal Indonesia Menurut Negara Tujuan Ekspor Tahun 2004-2009 (juta ton) ... 2
3. Luas Areal Kelapa Sawit menurut Pengusahaannya Tahun 2006-2010 (ha) ... 3
4. Produksi Minyak Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2003-2007 (ton) ... 3
5. Capaian Produksi dan Produktifitas TBS Kebun Adolina Tahun 2006-2010 (ton/ha) ... 5
6. Perhitungan Produksi TBS pada Luasan Lahan TM Adolina Tahun 2010... 5
7. Variabel Keputusan Optimalisasi Pengadaan Bahan Baku TBS PKS Adolina ... 21
8. Jumlah Karyawan Unit Usaha Adolina ... 35
9. Jam Kerja Karyawan Kantor Unit Usaha Adolina ... 35
10. Jam Kerja Karyawan PKS Adolina ... 36
11. Kendala Kapasitas Maksimal PKS Adolina Tahun 2010 ... 45
12. Kendala Ketersediaan TBS Pembelian 40 Persen dari Kebun sendiri Tahun 2010 ... 46
13. Kendala Kuota Pembelian TBS dari Kebun Pembelian Tahun 2010 ... 47
14. Jumlah Pekerja dalam Dua Shift di PKS Adolina Tahun 2010 ... 47
15. Pasokan Bahan Baku Tandan Buah Segar dari Kebun Adolina dan Pembelian Pada Tahun 2010 ... 48
16. Kendala Ketersediaan Tenaga Kerja di PKS Adolina Tahun 2010 ... 49
17. Kriteria Tandan Buah Segar Matang Panen. ... 50
18. Rendemen CPO dari TBS Kebun Adolina dan Pembelian Tahun 2010 ... 51
19. Kendala Transfer TBS Menjadi CPO PKS Adolina Tahun 2010 ... 52
20. Rendemen PKO dari Kebun Adolina dan Pembelian Tahun 2010 ... 53
21. Kendala Transfer TBS Menjadi PKO Tahun 2010 ... 53
22. Kendala Biaya Pengolahan CPO dan PKO Tahun 2010 ... 54
xiii 24. Pengadaan TBS Optimal dan Aktual dari Kebun Adolina
Tahun 2010 ... 56
25. Pengadaan TBS Optimal dan Aktual TBS Pembelian ... 57
26. Alokasi Pemanfaatan Optimal Kapasitas PKS Adolina Tahun 2010 ... 59
27. Hasil Analisis Pasokan Bahan Baku TBS dari Pihak Ketiga Pada Kondisi Model Aktual ... 60
28. Hasil Analisis Kuota Pembelian TBS Pada Kondisi Model Aktual ... 61
29. Analisis Ketersediaan Tenaga Kerja Pada Kondisi Model Aktual ... 62
30. Analisis Transfer TBS menjadi CPO Pada Kondisi Model Aktual ... 63
31. Hasil Analisis Transfer TBS menjadi PKO Pada Kondisi Model Aktual ... 65
32. Hasil Analisis Biaya Pengolahan Pada Kondisi Model Aktual ... 65
33. Analisis Sensitivitas Nilai Biaya Bahan Baku TBS Kebun Adolina ... 67
34. Analisis Sensitivitas Nilai Biaya Bahan Baku TBS Pembelian ... 68
35. Analisis Sensitivitas Nilai Kendala Kapasitas Maksimal Pabrik Kelapa Sawit ... 69
36. Hasil Analisis Sensitivitas Nilai Kendala Ketersediaan TBS Pembelian ... 71
37. Hasil Analisis Sensitivitas Nilai Kuota Pembelian TBS Pada Kondisi Model Aktual ... 72
38. Analisis Sensitivitas Nilai Ketersediaan Tenaga Kerja Pengolahan pada Kondisi Model Aktual ... 73
39. Hasil Analisis Sensitivitas Nilai Transfer TBS Menjadi CPO ... 74
40. Analisis Sensitivitas Nilai Transfer TBS Menjadi PKO ... 75
41. Analisis Sensitivitas Biaya Pengolahan ... 76
42. Analisis Sensitivitas Ruas Kanan Kendala Pengadaan Bahan Baku TBS di PKS Adolina ... 76
44. Luas Areal dan Produksi Kebun Adolina Tahun 2010 ... 78
43. Persentasi Penurunan Pasokan Pembelian yang Diperbolehkan... 79
45. Pasokan TBS Kebun Adolina dan TBS Pembelian Skenario Satu ... 80
46. Fungsi Kendala Ketersediaan Pasokan TBS Pembelian Pada Skenario Satu ... 80
47. Fungsi Kendala Ketersediaan Tenaga Kerja Pada Skenario satu ... 81
48. Keadaan Optimal Skenario Satu dengan Keadaan Optimal Model Awal ... 82
xiv 50. Pengadaan TBS Optimal dan Aktual dari Kebun Adolina
Skenario Satu ... 83 51. Pengadaan TBS Optimal dan Aktual Pembelian Skenario Satu ... 83 52. Perubahan Nilai Reduce Cost Ketersediaan TBS Pembelian
Pada Skenario Satu ... 84 53. Perubahan Nilai Slack/Surplus Ketersediaan Pasokan TBS
Pembelian Pada Skenario Satu ... 85 54. Perubahan Nilai Dual Ketersediaan Keteresediaan Tenaga Kerja
Pada Skenario satu ... 86 55. Analisis Sensitivitas Ruas Kanan Kendala Skenario Satu. ... 87 56. Selisih Keadaan Optimal Skenario Dua dengan Keadaan
Optimal Model ... 88 57. Selisih Keadaan Optimal Skenario Dua dengan Keadaan
Optimal Model Awal PKS Adolina Tahun 2010 ... 88 58. Pengadaan TBS Optimal dan Aktual dari Kebun Adolina
Skenario Dua ... 89 59. Pengadaan TBS Optimal dan Aktual Pembelian Skenario Dua ... 90 60. Perubahan Nilai Slack/Surplus Ketersediaan Pasokan TBS
Pembelian Pada Skenario Dua. ... 91 61. Fungsi Kendala Ketersediaan Tenaga Kerja Pada Skenario 2. ... 91 62. Perubahan Nilai Dual Ketersediaan Tenaga Kerja Pada
Skenario Dua. ... 92 63. Analisis Sensitivitas Ruas Kanan Kendala Skenario Dua. ... 93
xv
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Kurva Produksi ... 13 2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 19 3. Struktur Organisasi PTPN IV Unit Adolina ... 30
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Perolehan Koefisien Model Tujuan ... 99
2. Persentasi Realisasi Pasokan TBS Kebun Adolina dan Pembelian ... 100
3. Hasil Optimal Model Awal ... 101
4. Hasil Optimalisasi Skenario Satu ... 105
5. Hasil Optimalisasi Skenario Dua ... 109
6. Persentasi Realisasi Pasokan TBS Kebun Adolina dan Pembelian Skenario satu ... 113
1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sub sektor perkebunan sebagai salah satu bagian dari pertanian dalam arti luas merupakan komponen utama yang penting dalam perekonomian Indonesia. Hasil-hasil perkebunan yang selama ini telah menjadi komoditas ekspor salah satunya adalah kelapa sawit. Minyak sawit yaitu Crude Palm Oil (CPO) dan
Palm Kernel Oil (PKO) merupakan produk yang berasal dari tandan buah segar
(TBS) kelapa sawit. Produk hasil perkebunan tersebut memiliki prospek yang cerah dimasa mendatang. Potensi tersebut terletak pada keragaman kegunaan dari minyak sawit. Minyak sawit selain dapat digunakan sebagai bahan mentah industri pangan, dapat juga digunakan sebagai bahan mentah industri non pangan. Tingginya permintaan minyak kelapa sawit tercermin dari meningkatnya konsumsi minyak sawit dunia. Perbandingan produksi dan konsumsi minyak sawit dunia yang setiap tahunnya meningkat. Produksi minyak sawit pertumbuhannya dari tahun 2001 sampai 2008 mencapai 6,75 persen dan pertumbuhan konsumsi pada rentang tahun yang sama mencapai 6,93 persen. Hal ini menunjukan pertumbuhan produksi dan konsumsi hampir sama, namun pertumbuhan konsumsi lebih tinggi dibandingkan produksi.
Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Minyak Sawit Dunia Tahun 2001-2008 (ribu ton)
Tahun Produksi Konsumsi
2001 23.940 23.790 2002 25.220 25.090 2003 28.080 28.310 2004 30.890 29.990 2005 33.500 33.030 2006 37.163 36.192 2007 38.673 37.892 2008 42.904 42.500 Pertumbuhan (%/tahun) 6,75 6,93
Sumber : Departemen Perdagangan, 2008
Produktivitas minyak sawit Indonesia yang berada di peringkat kedua dunia diharapkan akan tetap dapat memasok kebutuhan minyak sawit dunia secara berkesinambungan. Hal ini didukung dengan perkembangan kinerja ekspor CPO
2 dan turunannya asal Indonesia selama enam tahun terakhir 2004-2009, cenderung mengalami peningkatan (Tabel 2). Persentase peningkatan pada kinerja ekspor CPO yang berkisar 4,13 persen hingga 14,58 persen ini mengindikasikan bahwa salah satu sumber penghasil devisa Indonesia berasal dari ekspor CPO ke Negara seperti India, China dan Uni Eropa.
Tabel 2. Kinerja Ekspor CPO dan Produk Turunannya Asal Indonesia Menurut Negara Tujuan Ekspor Tahun 2004-2009 (juta ton)
Negara Tahun Laju 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (%/tahun) India 2,76 2,56 2,48 3,31 4,71 5,5 11,6 China 1,08 1,35 1,76 1,44 1,77 2,65 14,5 Uni Eropa 1,47 1,89 2,01 1,83 2,58 3,14 13,0 Lainnya 3,35 4,57 5,85 3,5 5,15 5,55 4,1 Total 8,66 10,38 12,1 11,88 14,29 16,83 12,1 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2010
Produksi industri CPO membutuhkan input dari perkebunan kelapa sawit dalam bentuk TBS. Perkebunan kelapa sawit dengan hasilnya berupa TBS merupakan hulu dari industri CPO dan PKO, sedangkan industri hilir utamanya adalah industri minyak goreng sawit dan produk non pangan oleokimia. Peran industri perkebunan negara, rakyat dan swasta dalam skala kecil maupun besar tidak terlepas dari perkembangan luas areal total perkebunan kelapa sawit.
Rata-rata laju pertumbuhan luasan areal penanaman kelapa sawit Indonesia sejak tahun 2006 sampai 2010 (2010 masih berupa angka sementara) untuk kategori PR adalah 4,56 persen atau bertambah seluas 528.057 hektar, untuk PBN mengalami penurunan 2,11 persen atau menurun seluas 49.943 hektar, sedangkan untuk PBS adalah sebesar 6,02 persen atau bertambah seluas 963.403 hektar. Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat Jendral Perkebunan pada Tabel 3. diketahui bahwa peningkatan terbesar dalam memperluas areal kelapa sawit ditempati oleh PBS dengan porsi hektar terbesar diikuti oleh PR, serta PBN.
3 Tabel 3. Luas Areal Kelapa Sawit menurut Pengusahaannya Tahun 2006-2010
(ha) Tahun PR PBN PBS TOTAL 2006 2.549.572 687.428 3.357.914 6.594.914 2007 2.752.172 606.248 3.408.416 6.766.836 2008 2.881.898 602.963 3.878.986 7.363.847 2009 3.061.413 630.615 4.181.368 7.873.294 2010* 3.077.629 637.485 4.321.317 8.430.027 Laju (%/tahun) 4,56 2,11 6,02 5,93
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2010 Keterangan :*) Angka Sementara
Sejalan dengan semakin bertambah luasnya lahan tanaman kelapa sawit, maka produksi minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) juga mengalami kenaikan. Pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir yang melebihi pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit dunia mengindikasikan optimalisasi produksi industri minyak kelapa sawit belum dapat tercapai.
Berdasarkan data pada Tabel 4 diketahui kontribusi produksi minyak sawit (CPO) yang berasal dari Perkebunan Besar milik Negara masih rendah dibandingkan dengan Perkebunan Besar Swasta dan Perkebunan Rakyat yang terus mengalami peningkatan produksi.
Tabel 4. Produksi Minyak Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2003-2007 (ton)
Tahun PR PBN PBS TOTAL 2003 3.517.324 1.750.651 5.172.859 10.440.834 2004 3.847.157 1.617.706 5.365.526 10.830.389 2005 4.500.769 1.449.254 5.911.592 11.861.615 2006 5.783.088 2.313.729 9.254.031 17.350.848 2007* 5.805.207 2.313.976 9.254.101 17.373.202 Laju (%/tahun) 11,41 0,047 12,2 11,0
Sumber ; Direktorat Jenderal Perkebunan, 2010 Keterangan :*) Angka Sementara
Unit Usaha Adolina adalah salah satu produsen industri CPO yang tetap melakukan kegiatan produksi mengolah kelapa sawit menjadi CPO sebagai bahan baku untuk industri hilir minyak dan oleokimia adalah PTPN IV dimana unit wilayah bisnisnya terdapat di daerah Sumatera Utara. Unit usaha Adolina merupakan salah satu unit usaha milik PTPN IV. Kebun kelapa sawit Adolina
4 memiliki luas areal penanaman kelapa sawit 8.815,69 hektar yang terdapat di enam wilayah kecamatan, yaitu Perbaungan, Bangun Purba, Pantai Cermin, Galang, STM Hilir dan Gajahan serta dua Kabupaten lainnya, yaitu Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai.
Kapasitas mesin pengolahan kelapa sawit yang memproduksi 30 ton/jam TBS ini memproduksi CPO dan PKO sesuai dengan besarnya pasokan bahan baku TBS yang dipanen dari kebun sendiri PTPN IV dan pembelian dari pihak ketiga. Oleh karena itu penting untuk mengetahui kesinambungan hubungan antara perkebunan sebagai penyedia bahan baku dengan pabrik pengolahan yang membutuhkan bahan baku dalam industri pengolahan kelapa sawit. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit pertama dunia yang memasok kebutuhan bahan baku industri hilir dan produk turunannya.
1.2. Perumusan Masalah
Unit usaha Adolina melakukan dua jenis kegiatan operasional utama, yaitu perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit secara garis besar melakukan kegiatan seperti, pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM), panen, pengangkutan TBS, penyisipan dan peremajaan (replanting).
Pabrik kelapa sawit (PKS) Adolina melakukan kegiatan pengolahan TBS untuk menghasilkan CPO dan PKO. PKS Adolina memiliki kapasitas terpasang 30 ton TBS/jam, dengan dengan rata-rata 22 jam kerja per hari dan 25 hari kerja perbulan. Kapasitas tersebut merupakan batasan kemampuan pabrik untuk melakukan kegiatan pengolahan TBS menjadi CPO dan PKO. Artinya PKS Adolina mampu mengolah 16.500 ton TBS per bulan atau sekitar 198.000 ton TBS per tahun. Sementara produksi aktual TBS pada tahun 2010 sebanyak 133.920,2 ton. Hal ini menunjukkan bahwa produksi TBS kebun Adolina hanya mampu memenuhi kebutuhan bahan baku PKS sebanyak 68 persen dari kapasitas terpasang.
5 Tabel 5. Capaian Produksi dan Produktifitas TBS Kebun Adolina Tahun
2006-2010 (ton/ha)
Tahun Luas areal TM (ha) TBS (kg) Produktivitas (ton/ha) 2006 4.671 107.524.025 23,02 2007 5.477 109.335.060 19,96 2008 5.620 114.456.600 20,37 2009 5.056 126.436.320 25,01 2010 5.095 133.920.200 26,28
Perhitungan Produksi TBS pada luasan lahan TM Adolina tahun 2010 mampu menghasilkan TBS sebesar 150.913 ton, sementara produksi aktual hanya mencapai 133.920,2 ton TBS. Selisih dari produksi tersebut merupakan potensi yang masih dapat dimanfaatkan oleh kebun Adolina untuk menghasilakan TBS sebanyak 16.992,8 ton. Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa potensi produksi TBS dari kebun Adolina belum mampu memenuhi kebutuhan TBS kapasitas maksimal PKS. Hal ini dapat dilihat dari selisih antara kapasitas olah maksimal PKS 198.000 ton TBS per tahun, sementara produksi TBS kebun di perhitungkan mencapai 150.913 ton per tahun. Perhitungan luasan lahan TM dan potensi produksi TBS pada tahun 2010 menunjukkan bahwa pasokan TBS yang dihasilkan oleh kebun Adolina hanya mampu memenuhi kebutuhan TBS sebesar 76,2 persen dari total kapasitas olah PKS.
Tabel 6. Perhitungan Produksi TBS pada Luasan Lahan TM Adolina Tahun 2010 Tahun Penanaman (n) Umur Tanaman (thn)
Luas Lahan (ha)
Produktivitas pertahun (ton/ha) Total Produksi (ton) n+3 3 963 9 8.667 n+4 4 489 17 8.313 n+5 5 227 21 4.767 n+6 6 136 25 3.400 n+8 8 762 28 21.336 n+9 9 62 30 1.860 n+10 10 217 30 6.510 n+11 11 669 30 20.070 n+12 12 595 30 17.850 n+14 13 1.433 30 42.990 n+15 15 406 30 12.180 n+16 16 85 30 2.550 n+17 17 14 30 420 Total Produksi 150.913
6 Dalam rangka memaksimumkan keuntungan, unit usaha Adolina selama ini telah melakukan kegiatan pengadaan TBS melalui pembelian. Pada tahun 2010 kapasitas aktual PKS sebesar 92,5 persen dengan pasokan TBS dari kebun Adolina sebanyak 73 persen dan TBS pembelian rata-rata mencapai 27 persen. Adanya potensi kebun Adolina yang belum dimanfaatkan diharapkan mampu meningkatkan pasokan TBS kebun Adolina untuk memaksimumkan keuntungan PKS Adolina. Kendala yang dihadapi perusahaan meliputi jumlah dan ketersediaan bahan baku yang terbatas, penggunaan kapasitas pabrik yang belum efisien, penggunaan tenaga kerja di pabrik dan kendala transfer CPO dan PKO. Salah satu cara untuk menjaga persediaan bahan baku yang optimal pada kapasitas olah pabrik terpasang yaitu dengan mengetahui kemungkinan jumlah pasokan bahan baku dari kebun sendiri dan pembelian TBS dari pihak ketiga.
Dari uraian di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini ialah :
1. Bagaimana tingkat pengadaan bahan baku TBS pada kondisi aktual dan optimal pada PKS Adolina?
2. Bagaimana kombinasi pasokan bahan baku yang optimal agar perusahaan mencapai keuntungan yang maksimal ?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui tingkat pengadaan bahan baku TBS pada kondisi aktual dan optimal pada PKS Adolina.
2. Mengidentifikasi kombinasi tingkat pengadaan optimal TBS sehingga tercapai keuntungan maksimum perusahaan.
1.4. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan, baik bagi pihak PKS Adolina, penulis, maupun bagi pembaca. Bagi Perusahaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pentingnya pengelolaan pengadaan bahan baku yang berasal dari kebun sendiri, untuk mendukung efektifitas dan efisiensi operasional perusahaan, yang pada akhirnya dapat menjadi masukan atau informasi sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan oleh pihak perusahaan. Bagi penulis penelitian ini diharapkan dapat
7 memberikan pengalaman dan menambah pengetahuan, serta sebagai pengaplikasian ilmu yang telah diperoleh selama kuliah. Bagi pembaca penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai optimalisasi produksi TBS pada industri primer CPO dan PKO dan sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya.
1.5. Ruang Lingkup
Penelitian ini hanya menekankan kepada pengaplikasiaan metode linier
programming agar tercapai optimalisasi pengadaan bahan baku TBS dalam
memproduksi CPO dan PKO yang berasal dari kebun sendiri dan pembelian dengan kendala kapasitas maksimal pabrik, ketersediaan TBS pembelian, kuota TBS pembelian, tenaga kerja dan kendala transfer. Sedangkan bagaimana melakukan pengendalian pengadaan bahan baku CPO dan PK serta sistem pengendalian pengadaan yang digunakan dalam pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) Adolina bukan menjadi bagian penelitian ini.
8
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perkembangan Industri Kelapa Sawit Indonesia
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian (2005), industri pengolahan kelapa sawit yang mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi CPO terus mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan luas areal dan produksi. Pada tahun 2005, jumlah unit pengolahan di seluruh Indonesia mencapai 320 unit dengan kapasitas olah 13,520 ton TBS per jam. Sedangkan industri pengolahan produk turunannya, kecuali minyak goreng, masih belum berkembang, dan kapasitas terpasang baru sekitar 11 juta ton. Industri oleokimia Indonesia sampai tahun 2000 baru memproduksi olekimia 10,8 persen dari produksi dunia.
2.2. Sistem Pengadaan Bahan Baku
Penelitian Yurfelly (1998) menyatakan bahwa pengadaan bahan baku pada CV. Mulia belum optimal. Hal ini dilihat dari cara untuk mendapatkan bahan baku tersebut. Pengadaan bahan baku dengan cara pemesanan sesuai dengan keadaan sekarang untuk langsung diproses akan menyebabkan adanya waktu yang terbuang akibat menunggu antara bahan baku dipesan hingga bahan baku dikirim. Selain itu jika teryata bahan baku tidak tersedia maka perusahaan harus mencari pemasok-pemasok lain. Sedangkan untuk proses produksi berlangsung diperlukan bahan baku dengan kualitas, kuantitas dan waktu yang tepat. Pemesanan optimal yang perlu dilakukan perusahaan sebanyak 8 kali, namun perusahaan melakukan 12 kali pemesanan akibatnya adalah biaya yang dikeluarkan akan semakin besar. Yurfelly juga menyatakan bahwa sumberdaya yang ada di CV. Mulia berlebih, seperti sumberdaya tenaga kerja mesin dan sebagian bahan baku. Sumberdaya tersebut hanya akan mengakibatkan pemborosan biaya. Sementara sumberdaya pembatas pur AC Yamato, kulit box kotak jeruk, kulit polos hitam, kulit box polos hitam, dan kulit SP polos hitam.
Penelitian Tandyna (2001) dalam penelitiannya mengenai system pengadaan bahan baku dan optimalisasi produksi natadecoco pada PT. Menacoco Sari, Jakarta menyatakan bahwa produksi belum mencapai kondisi optimal. Hal ini terlihat dari penggunaan sumberdaya yang banyak berlebih bahan baku gula,
9 penggunaan jam kerja pengemasan dan jam kerja mesin. Bahan baku nata mentah dan jam kerja produksi merupakan sumberdaya yang dimanfaatkan secara maksimal pada kondisi optimal. Sumberdaya nata mentah merupakan sumberdaya pembatas utama dengan nilai dual sebesar Rp 5.054.484.
Bahan baku merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam biaya varabel. Oleh sebab itu untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan perlu diadakan sistem perencanaan pengadaan bahan baku. Pengendaliaan bahan baku yang optimal akan menekan atau menghidarkan perusahaan dari pemborosan biaya-biaya yang ditimbulkan oleh persediaan. Bahari (2002) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dalam melakukan perencanaan pengadaan bahan baku terdapat beberapa factor yang harus diperhatikan seperti pola data suplai bahan baku dari tiap sumber, pola data permintaan produk, dan jumlah persediaan pada periode sebelumnya. Adanya fluktuasi pengadaan bahan baku akan berdampak pada kuantitas produk yang dihasilkan.
2.3. Model Optimalisasi Pengadaan Bahan Baku
Salah satu teknik optimalisasi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah optimalisasi berkendala adalah penggunaan teknik Linear Programming (LP). LP merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah optimalisasi berkendala dimana semua fungsi tujuan dan kendala merupakan fungsi linier. Penentuan fungsi tujuan dalam metode LP terdiri dari maksimisasi keuntungan dan minimisasi biaya. Penelitian Haloho (2008), Cakraningrum (2000) dan Sugiharto (2001) membentuk fungsi tujuan perusahaan dengan cara maksimisasi keuntungan pada kendala sumberdaya yang terbatas.
Cakraningrum (2000) , Sugiharto (2001) dan Thamrin (2003) merumuskan model fungsi tujuan dengan keuntungan yang dimaksimalkan merupakan selisih antara total penerimaan dengan total biaya produksi. Sedangkan Haloho (2008) merumuskan fungsi tujuan berdasarkan perkembangan keuntungan perusahaan.
Pada dasarnya optimalisasi pengadaan bahan baku berkendala merupakan persoalan dalam memperhitungkan nilai atau fungsi variabel yang memperhatikan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki perusahaan. Keterbatasan sumberdaya uuntuk menghasilkan keuntungan optimal perusahaan dalam mengoptimalkan
10 bahan baku pada umumnya kapasitas mesin atau kapasitas produksi, ketersediaan tenaga kerja langsung, ketersediaan kebun pihak ketiga dan kendala transfer.
Cakraningrum (2000) dalam penelitiannya yang berjudul Optimalisasi Bahan Baku Pabrik Gula (Studi Kasus pada PG Mojo, Sragen, Jawa Tengah) menyatakan bahwa tingkat penggunaan lahan pada kondisi actual lebih besar dibandingkan kondisi optimalnya sebesar 22,5 persen, jumlah produksi tebu pada kondisi actual juga lebih besar dibandingkan kondisi aktualnya sebesar 5,72 persen, namun jumlah gula yang dihasilkan oleh pabrik lebih rendah 3,88 persen dari kondisi optimalnya. Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi rendemen aktual yang rendah sehingga keuntungan yang diterima pada kondisi aktual lebih kecil dari nilai optimalnya.
Haloho (2008) dengan penelitiannya mengenai Analisis optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) sebagai Bahan Baku Industri Pengolahan Crude Palm Oil dan Palm Kernel (Kasus Kegiatan Replanting PTPN.VIII, Kertajaya, Kabupaten Lebak, Banten) menggunakan Model Dekomposisi Multiplikatif menyatakan bahwa kombinasi pengadaan TBS belum mencapai kondisi optimalnya yaitu Rp 3.697.320.000. Dengan scenario penurunan produksi kebun sendiri sebesar 20 persen dapat meningkatkan keuntungan optimal sebesar Rp 3.998.681.000. Fungsi kendala yang terdapat ialah kapasitas maksimal PKS, tenaga kerja, produksi kebun sendiri 100 persen, produksi kebun sendiri 80 persen, pembelian 4 persen dan batasan kuota pembelian. Kendala pembatas dalam penelitian ini adalah ketersediaan produksi kebun sendiri 100 persen, pembelian TBS plasma 4 persen dan kuota pembelian TBS.
Thamrin (2003) dalam penelitiaanya Perencanaan Optimalisasi Pengadaan Bahan Baku Pada Pabrik Kelapa Sawit (Studi Kasus Kegiaan Peremajaan PTPN. V, Sei Rokan, Kabupaten Rokan Hulu, Riau) menambahkan keterbatasan kendala lain yang dihadapi perusahaan dalam mengotimalkan pengadaan bahan baku seperti kendala potensi produksi kebun sendiri dan kendala kuota pembelian dari pihak ketiga. Potensi kebun sendiri dimasukkan menjadi sebuah kendala atas dasar bahwa perkebunan tersebut mengalami kegiatan replanting. Sedangkan kuota pembelian dilakukan untuk menjaga efisiensi produksi, dimana pembelian tersebut dapat diambil ataupun tidak oleh perusahaan. Penelitian tersebut
11 menyatakan nilai BEP kapasitas minimal pengolahan yaitu 4200.000-6.600.000 kg/bulan tahap 3 (usia tanaman 15 tahun), laba optimal 444.915.000.000. Cenderung meningkat tajam karena pasokan dari kebun sendiri pada kondisi optimal.
Sugiharto (2001) dengan penelitiannya mengenai Optimalisasi Pengadaan Bahan Baku dan Produksi Karet Olahan di Perkebunan Cikumpay PTPTN VIII Purwakarta, Jawa Barat menyatakan bahwa peningkatan pasokan bahan baku akan menyebabkan semakin banyaknya pilihan komposisi produk akhir yang dapat diproduksi. Selain itu juga meningkatkan jumlah produk akhir yang dihasilkan. komposisi produk akhir berdasarkan analisis sensitivitasnya tidak peka terhadap penurunan harga bahan baku tetapi peka terhadap kenaikan harga bahan baku. Hasil keuntungan optimal Rp 12.858.090. Skenario penambahan jumlah mesin
sheleter, kamar pengering, mesin pemusing dan mesin mungle akan menambah
keuntungan optimal perusahaan menjadi Rp. 13.427.930.
Dalam tehnik optimalisasi, upaya memperoleh solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi perusahaan jarang diperoleh suatu solusi yang terbaik. Dalam penelitian Sugiharto (2001) dan Thamrin (2003), Tandyna dan Haloho (2008) menunjukkan masih adanya perbedaan antara keuntungan pada kondisi optimal dan kondisi actual dimana keuntungan pada kondisi optimal belum tercapai. Pada dasarnya keadaan tersebut terjadi karena pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki belum mencapai kondisi optimalnya. Sementara Cakranigrum (2000) juga menunjukan bahwa tingkat keuntungan pada kondisi optimal lebih tinggi dari pada kondisi aktualnya walaupun penggunaan sumberdaya actual berada diatas penggunaan sumberdaya optimal.
Berdasarkan dari keempat penelitian terdahulu tersebut, penggunaan LP atau asumsi-asumsi yang digunakan belum mampu secara tepat dalam model menggambarkan kondisi optimal sama dengan kondisi actual.
12
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Fungsi Produksi
Produksi dan operasi dalam ekonomi menurut Assauri (2008) dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk menciptakan dan menambah kegunaan atau utilitas suatu barang atau jasa. Dalam kegiatan penciptaan ataupun penambahan kegunaan suatu barang dibutuhkan factor-faktor produksi yang terdiri atas tanah atau alam, modal, tenaga kerja dan keterampilan manajerial (managerial skill) serta keterampilan teknis dan teknologi. Factor-faktor yang merupakan masukan (input) dalam proses produksi dan operasi terdiri atas bahan dan peralatan mesin, tenaga kerja, dan dana.
Fungsi produksi (Gambar 1) adalah hubungan antara faktor produksi yang digunakan sebagai masukan (input) dalam proses produksi dengan jumlah keluaran (output) yang dihasilakan pada suatu waktu dan tingkat teknologi tertentu. Secara simbolik fungsi produksi dapat ditulis seperti berikut:
Y = f ( X1,X2,X3,…..Xn)
Dimana, Y adalah output yang dihasilkan dan X1 sampai dengan Xn merupakan sejumlah input yang digunakan dalam kegiatan proses produksi. Sementara symbol “f” menunjukan bentuk hubungan transformasi produksi input menjadi output (Purvis , Steyner dan Lipsey, 1986).
Dari fungsi produksi tersebut dapat diketahui bahwa output yang dihasilkan secara fisik sangat dipengaruhi oleh jumlah input yang digunakan, dalam hal ini output sebagai variable dependen merespon setiap perubahan input sebagai variable independennya.
Daerah I terjadi ketika produk marjinal (PM) lebih besar dari produk rata-rata (PR). Pada kondisi ini produk rat-rata-rata (PR) meningkat hingga kondisi maksimalanya pada akhir tahap I. kegiatan produksi pada tahap ini secara ekonomi tidak rasional karena input-input belum digunakan secara efisien, jadi sebenarnya tingkat produksi masih dapat ditingkatkan dengan melakukan penambahan penggunaan input.
13 Daerah II terjadi ketika produk marjinal (PM) mengalami penurunan hingga besarnya lebih kecil dari produk rata-rata (PR) tapi masih lebih besar dari nol. Daerah ini merupakan daerah rasional bagi kegiatan produksi, karena pada daerah ini kegiatan produksi sudah efisien. Efisiensi penggunaan input variable mencapai puncaknya pada awal tahap II, yaitu ketika produk rata-rata (PR) sama dengan produk marjinalnya (PM). Efisiensi penggunaan input tetap mencapai kondisi puncaknya pada akhir tahap II, yaitu ketika produk marginal sama dengan nol.
Daerah III terjadi ketika produk marjinal (PM) lebih kecil dari nol. Kegiatan produksi yang dilakukan pada daerah ini, secara ekonomi tidak rational kaerena setiap penambahan input yang dilakukan terhadap input tetap akan diperoleh output yang semakin menurun.
Output (Y) Produk total (PT) 0<EP<1 EP<0 I II III PM maks PR maks Produk rata-rata (PR) Input (X) Produk marginal (PM) Gambar 1. Kurva Produksi
Sumber : Purvis , Steyner dan Lipsey, 1986 3.1.2. Pengadaan Bahan Baku
Mulyadi (2000) menyatakan bahwa kebutuhan bahan baku merupakan bagian dari sistem pengendalian persediaan produksi. Bahan baku membentuk bagian secara menyeluruh suatu produk jadi yang siap dipasarkan kepada pelanggan dengan menggunakan saluran pemasaran yang ada.
Menurut Handoko (2000), bahan baku digolongkan atas tiga Kriteria yaitu bahan mentah, part, dan supplies. Bahan mentah merupakan bagian terbesar dari
14 barang jadi dan merupakan pengeluaran terbesar dalam memproduksi suatu barang. Part merupakan bagian dari produk jadi yang dipergunakan dalam jumlah kecil, sedangkan supplies merupakan bahan yang dipergunakan dalam proses produksi tetapi tidak mengambil bagian dari barang jadi.
Berdasarkan atas cara perolehannya bahan baku dapat dibedakan menjadi kelompok bahan baku yang diberi dan bahan baku yang diproduksi oleh perusahaan sendiri. Dalam mempertimbangkan perolehan bahan baku ini terdapat dua dasar pokok pertimbangan yaitu ketersediaan bahan di pasar dan tingkat harga yang diterima. Keputusan pengadaan bahan baku dengan membeli dilakukan apabila bahan baku banyak terdapat dipasar dengan harga yang lebih rendah dari pada biaya per satuan jika memproduksi sendiri.
Cara memperoleh bahan baku tiap perusahaan berbeda-beda. System pengadaan bahan baku yang baik dapat menjamin kelangsungan proses produksi merupakan hal yang harus dilakukan setiap perusahaan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas produksi. Dalam analisis pengadaan bahan baku yang berasal dari produk-produk pertanian, terdapat lima unsur yang dapat diperhatikan, yaitu (Austin, 1981) :
1. Kuantitas, menunjukan jumlah ketersediaan bahan baku
2. Kualitas, mencakup penentuan dan pengawasan mutu bahan baku 3. Waktu, karena hasil pertanian bersifat musiman
4. Biaya yang wajar
5. Organisasi yang meliputi struktur, kekuatan, dan integrasi vertical
Tindakan-tindakan yang diambil oleh perusahaan agroindustri dalam pengendalian kualitas produk-produk pertanian yang dihasilkan petani untuk kebutuhan agroindustrinya adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan saran produksi pertanian bagi petani 2. Memberi pengarahan teknis dan pelatihan kepada petani 3. Menyediakan saran fisik
4. Member insentif harga bagi produk yang berkualitas 5. Melakukan pemeriksaan tanaman di lapangan
15 Pengadaan bahan baku pabrik kelapa sawit Adolina dilakukan dengan dua cara yaitu memproduksi (menanam) kelapa sawit sendiri dan pembelian dari petani. Penanaman kelapa sawit sendiri berfungsi untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang akan diproduksi pabrik kelapa sawit secara kontiniu apabila petani tidak bersedia memasok kelapa sawit ke pabrik.
3.1.3. Optimalisasi
Persoalan optimalisasi adalah suatu persoalan untuk membuat nilai suatu fungsi beberapa variabel menjadi maksimum atau minimum dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada. Setiap perusahaan atau organisasi tentunya memiliki keterbatasan atas sumberdayanya, baik keterbatasan dalam jumlah bahan baku, tenaga kerja, jam kerja mesin maupun modal. Adanya keterbatasan ini membuat perusahaan perlu mencari suatu alternatif strategi yang mengoptimalkan hasil yang dicapainya baik itu berupa keuntungan yang maksimal maupun biaya yang minimum (Subagyo, Asri dan Handoko 2000).
Tujuan optimalisasi adalah untuk memaksimumkan nilai atau keuntungan yang dihasilkan dari proses produksi atau untuk meminimumkan biaya yang akan dikeluarkan dalam proses produksi dengan memperhatikan kendala-kendala yang berada diluar jangkauan pelaku kegiatan tersebut. Dalam upaya memperoleh solusi dari suatu permasalahan, hasil yang diperoleh jarang mendapat suatu solusi yang terbaik yang diakibatkan oleh kendala-kendala tersebut. Oleh karena itu pendekatan dengan optimalisasi sering menghasilkan jawaban yang sifatnya terbaik kedua (the second best) (Soekartawi, 1993).
Secara umum jenis persoalan optimasi meliputi optimasi tanpa kendala dan optimasi dengan kendala. Dalam optimasi tanpa kendala factor-faktor yang menjadi kendala terhadap fungsi tujuan diabaikan sehingga dalam menentukan nilai maksimum atau minimum tidak terdapat batasan untuk berbagai variable (X) yang tersedia. Pada optimum dengan kendala, factor-faktor yang menjadi kendala pada fungsi ttujuan diperhatikan dan turut menentukan fungsi maksimum dan minimum fungsi tujuan (Nicholson 1995).
Salah satu teknik optimasi yang dapat digunakan dalam menyelesaikan optimasi berkendala adalah metode pemrograman linier. Metode Linear
16 masalah optimasi berkendala. Dalam Linear Programming (LP) semua fungsi merupakan fungsi linier, baik fungsi kendala maupun fungsi tujuan. Metode pemrograman linier ini digunakan dengan asumsi kombinasi input suatu produk proporsinya tetap (Subagyo, Asri dan Handoko, 2000)
3.1.4. Program Linear
Menurut Subagyo, Asri dan Handoko (2000), salah satu cara yang dikenal untuk memecahkan masalah optimalisasi adalah program linear. Program linear merupakan suatu model umum yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengalokasian sumber-sumber terbatas secara optimal. Masalah tersebut timbul apabila pengambil keputusan diharuskan untuk memilih atau menentukan tingkat setiap kegiatan yang akan dilakukan, dimana masing-masing kegiatan membutuhkan sumber yang sama, sedangkan jumlahnya terbatas. Program linear mencakup perencanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai suatu hasil yang mencerminkan tercapainya suatu sasaran tertentu yang paling baik (menurut model matematis) diantara alternatif-alternatif yang mungkin dengan menggunakan fungsi linear.
Metode program linear dapat digunakan dalam dua cara yaitu (Soekartawi, 1993) : 1. Meminimumkan biaya dalam rangka tetap mendapatkan total penerimaan atau
total keuntungan sebesar mungkin (dikenal dengan program minimisasi)
2. Memaksimumkan total penerimaan atau total keuntungan pada kendala sumberdaya yang terbatas (dikenal dengan program memaksimumkan)
Secara umum model linier programming adalah sebagai berikut: Fungsi tujuan: Maksimumkan / minimumkan : Z = C1X1+ C2X2+ C3X3+ ….+ CjXj Fungsi kendala : a11X1+ a12X2 + a13X3 + ….+ a1jXj ≤ b1 a21X1+ a22X2 + a23X3 + ….+ a1jXj ≤ b2 . . . ai1X1+ ai2X2 + ai3X3 + ….+ aijXj ≤ bi
17 X1, X2 , X3, …,Xj ≥ 0
Keterangan :
Z = Nilai fungsi tujuan
Xj = Peubah pengambilan keputusan atau kegiatan ke-j (yang ingin dicari)
Cj = Koefisien peubah pengambil keputusan dalam fungsi tujuan
aij = Koefisien teknologi dalam kendala ke-I pada kegiatan ke-j
bi = Sumberdaya yang terbatas yang membetasi kegiatan atau usaha yang
bersangkutan, disebut pula konstanta nilai sebelah kanan dari kendala ke-i
Menurut Subagyo, Asri dan Handoko (2000), penggunaan model LP dilandasi empat asumsi dasar, yaitu :
1. Proporsionalitas, berarti pada variabel keputusan (Xj) berubah, maka dampaknya menyebar dalam proporsi yang sama terhadap fungsi tujuan, (CjXj), dan fungsi kendala (aijXj)
2. Aditivitas, berarti bahwa nilai parameter suatu kriteria optimalisasi merupakan jumlah dari nilai individu-individu (Cj) dalam model LP tersebut. 3. Divisibility, berarti bahwa variabel-variabel keputusan keputusan (Xj) dapat
dibagi ke dalam pecahan-pecahan jika diperlukan.
4. Deterministik, berarti bahwa semua parameter dalam model LP tetap dan dapat diketahui atau ditentukan secara pasti.
Menurut Soekartawi (1993), linier programming (LP) memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dalam menggunakan LP adalah :
1. Mudah dilakukan apalagi jika menggunakan alat bantu computer
2. Dapat menggunakan banyak variabel, sehingga berbagai kemungkinan untuk memperoleh pemanfaatan sumberdaya yang optimum dapat dicapai.
3. Fungsi tujuan dapat difleksibelkan sesuai dengan tujuan penelitian atau berdasarkan data yang tersedia.
Kelemahan dalam menggunakan LP adalah bila alat bantu komputer tidak tersedia maka cara LP dengan menggunakan banyak variabel akan menyulitkan analisanya bahkan tidak mungkin dikerjakan dengan manual saja. Kelemahan lain yang dimiliki LP, penggunaan asumsi linieritas, karena didalam kenyataan yang sebenarnya kadang-kadang asumsi ini tidak sesuai.
18 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Dalam rangka mencapai keuntungan maksimal Unit usaha Adolina perlu membuat perencanaan produksi optimal untuk dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan. Salah satu perencanaan produksi optimal adalah perencanaan bahan baku. Perumusan pengadaan bahan baku TBS sebagai bahan baku CPO dan PKO pada tingkat optimal bertujuan untuk mengetahui kombinasi pengadaan bahan baku TBS yang dapat memberikan keuntungan maksimal bagi perusahaan untuk diolah di pabrik kelapa sawit. Perencanaan kombinasi pengadaan bahan baku yang optimal dapat dicari dengan menggunakan Linear Programming. Dalam pengadaan bahan baku TBS untuk kegiatan pengolahan menjadi CPO dan PK unit usaha Adolina memiliki beberapa kendala seperti kapasitas pabrik, potensi kebun sendiri, tenaga kerja dan kuota pembelian TBS dari pihak ketiga. Beradasarkan kegiatan dalam pengadaan bahan baku TBS dan keterbatasan sumberdaya tersebut maka dirumuskan suatu perencanaan pengadaan bahan baku yang optimal dengan maksud mengetahui kombinasi aktivitas yang dapat memberikan keuntungan yang maksimal. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis optimalisasi untuk mengetahui besarnya proporsi pengadaan bahan baku TBS dari kebun sendiri dan pihak ketiga untuk memenuhi kapasitas pabrik dan memberikan keuntungan yang maksimal bagi perusahaan.
Setelah mengetahui besarnya biaya pengadaan dari tiap sumber, maka dapat disusun model perencanaan optimalisasi produksi dilanjutkan dengan merumuskan kendala-kendala dari model tujuan berdasarkan data yang diperoleh untuk diolah dalam bentuk persamaan program linier dengan menggunakan program LINDO. Program linier akan memberikan beberapa alternatif dan tindakan yang akan diambil perusahaan dalam mencapai solusi optimalnya yaitu maksimasi keuntungan perusahaan dari kegiatan pengadaan TBS dalam memproduksi CPO dan PKO.
19 Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional
Tujuan perusahaan: Memaksimumkan
Keuntungan Kendala : Kapasitas pabrik, Pembelian dari plasma, Kuota
pembelian dari pihak ketiga, Tenaga Kerja dan kendala
Tranfer Pengolahan.
Pengadaan Bahan Baku TBS
Perencanaan Produksi Perencanaan bahan baku
Produksi (TBS)
Kegiatan produksi Aktual
Optimalisasi Pengadaan Bahan Baku
20
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina PTPN IV Medan, Sumatera Utara. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa PTPN IV merupakan perusahaan negara yang bergerak dalam agroindustri tanaman perkebunan serta pengolahan kelapa sawit milik pemerintah yang tetap eksis dalam memenuhi permintaan bahan baku CPO sebagai kebutuhan industri primer minyak goreng dan olein nasional. Adapun pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Juni 2011-Juli 2011.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Penelitian yang dilakukan oleh penulis menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dengan pihak perusahaan, baik manajer (Administratur) kebun, Tata Usaha Keuangan untuk mengetahui kondisi operasional perusahaan dan kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam rangka pengelolaan produksi dan persediaan untuk memenuhi permintaan konsumennya.
Data sekunder diperoleh dari data yang dimiliki perusahaan. Data sekunder yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dari literatur, hasil penelitian, dan laporan manajemen perusahaan. Data tersebut berupa data penjualan dan pengolahan CPO dari bulan Januari 2008 sampai Desember 2010, data pembelian TBS dari pihak ketiga, data biaya pengadaan TBS yang dikeluarkan dari kebun sendiri, data identifikasi kebutuhan bahan baku, kapasitas pabrik dan jumlah tenaga kerja pengolahan, serta harga jual produk akhir CPO.
4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan Data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dijabarkan secara deskriptif mengenai gambaran, kondisi umum dan proses produksi PKS Adolina. Data kuantitatif yang digunakan adalah data produksi CPO dan PKO selama tahun 2010. Data kuantitatif ini berupa analisis penentuan harga pengadaan bahan baku TBS (Rp/kg), biaya produksi dan keuntungan aktual perusahaan yang kemudian diolah dengan program Microsoft Excel. Hasil
21 pengolahan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk membentuk fungsi tujuan dan kendala dalam upaya merencanakan pengadaan optimal bahan baku TBS untuk diolah menjadi CPO dan PKO. Setelah fungsi tujuan dan kendala terbentuk, data tersebut diolah dengan program linier LINDO (Linier Interactive and Discrete
Optimizer). Hasil pengolahan dari program linier ini akan diperoleh tingkat
penerimaan optimal yang diperoleh pada tiap tahapan waktu, penggunaan sumber daya dan sensitivitas tingkat keuntungan serta alternatif ketersediaan sumber daya dalam mengubah solusi optimum.
4.3.1. Penentuan Variabel Keputusan
Penentuan variabel keputusan didasarkan pada harga produk, sumber pengadaan bahan baku dan biaya pengadaan bahan baku serta biaya pengolahan. Keuntungan yang diperoleh adalah selisih penerimaan dengan biaya. Data yang dianalisis digolongkan ke dalam fungsi tujuan dan fungsi kendala. Pengelompokan data dan formulasi model yang digunakan adalah sebagai Fungsi Pada model program linear disusun 60 variabel keputusan selama periode satu tahun. Variabel keputusan yang digunakan adalah harga CPO, harga PKO, biaya pengadaan TBS kebun sendiri, biaya pembelian TBS dan biaya pengolahan. Tabel 7. Variabel Keputusan Optimalisasi Pengadaan Bahan Baku TBS PKS
Adolina Bulan/Rp Biaya TBS kebun Adolina (X1) Biaya TBS Pembelian (X2) Harga CPO (X3) Harga PKO (X4) Biaya Pengolahan (X5) Januari(1) X11 X21 X31 X41 X51 Februari(2) X12 X22 X32 X42 X52 Maret(3) X13 X23 X33 X43 X53 April(4) X14 X24 X34 X44 X54 Mei(5) X15 X25 X35 X45 X55 Juni(6) X16 X26 X36 X46 X56 Juli (7) X17 X27 X37 X47 X57 Agustus(8) X18 X28 X38 X48 X58 September(9) X19 X29 X39 X49 X59 Oktober(10) X110 X210 X310 X410 X510 November(11) X111 X211 X311 X411 X511 Desember(12) X112 X212 X312 X412 X512
22 4.3.2. Fungsi Tujuan
Fungsi tujuan pada penelitian ini adalah maksimisasi keuntungan. Dalam penelitian ini keuntungan perusahaan diperoleh dengan menghitung selisih antara penerimaan dengan total biaya pengadaan bahan baku dan pengolahan. Nilai keuntungan yang diperhitungkan adalah keuntungan sebelum dikurangi biaya tetap, biaya umum atau disebut juga laba kotor. Hal ini mengingat biaya tetap tidak berubah sesuai perubahan jumlah produksi sehingga sesuai dengan asumsi yang mendasari program linier.
Maksimisasi
Z = (TR - TC) X ij
Z = + PKernel j (β Xij) – (∑C1jXij) -(∑C2jXij) Keterangan:
Z : Nilai fungsi tujuan maksimumkan keuntungan (Rp) P CPOj : Harga CPO pada bulan ke-j (Rp/kg CPO)
P Kernel j : Harga Kernel pada bulan ke-j (Rp/kg Kernel)
α : Tingkat rendemen produk CPO pada bulan ke-j β : Tingkat rendemen produk Kernel pada bulan ke-j
B : Harga penjualan TBS dari setiap kebun pada bulan ke-j (Rp/kg) C1j : Biaya pengadaan TBS dari sumber ke-i pada bulan ke-j (Rp/Kg) C2j : Biaya pengolahan TBS dari sumber ke-i pada bulan ke-j (Rp/Kg)
X ij : Jumlah bahan baku yang akan disuplai oleh sumber ke i pada bulan ke j
i : Sumber bahan baku ke i (kebun sendiri dan pembelian TBS dari pihak ke tiga)
J : Bulan ke-j ; 1,2,3 ... 12 (Januari,... Desember) 4.3.3. Penentuan Fungsi Kendala
Fungsi kendala yang dirumuskan dalam penelitian ini berdasarkan ketersediaan sumberdaya yang dimiliki perusahaan. Terdapat beberapa kendala yang dirumuskan dalam penelitian ini yaitu, kendala kapasitas produksi maksimal pabrik, ketersediaan TBS pembelian, kuota pembelian, ketersediaan tenaga kerja dan kendala transfer.
1. Kendala Kapasitas Produksi Maksimal Pabrik
Pabrik kelapa sawit Adolina mempunyai kapasitas terpasang sebesar 30 ton TBS/jam. Kapasitas produksi ini merupakan pembatas, sehingga pabrik tidak dapat berproduksi melebihi kapasitasnya. Dalam kegiatan pengolahan TBS yang dilakukan oleh PKS Adolina diasumsikan pengolahan berjalan adalah 22 jam setiap harinya dan 25 hari setiap bulannya. Sehingga kapasitas nyata pabrik setiap
23 bulannya adalah : 30 ton TBS/Jam x 22 jam/hari x 25 hari/bulan = 16.500.000 kg/bulan. Fungsi kendala kapasitas produksi maksimal pabrik dapat dirumuskan sebagai :
∑ Xij Bj Keterangan :
Xij = Jumlah bahan baku yang dipasok kepabrik dari sumber ke i pada bulan ke j (kg/bln)
Bj = Kapasitas nyata pabrik pada bulan ke-j (kg/bulan)
2. Kendala Ketersediaan TBS Pembelian
Pasokan bahan baku TBS dari kebun plasma merupakan salah satu alternatif sumber ketersediaan dalam pengolahan CPO dan PK yang sifatnya kontiniu. Berdasarkan data produksi tahun 2009 dan 2010 pembelian TBS mampu memasok sebesar 40 persen dari total pasokan TBS di PKS Adolina. Dalam hal ini diasumsikan umur tanaman kelapa sawit kebun Adolina dan plasma adalah sama. Sehingga formulasi model fungsi kendalanya adalah :
∑ X2 j ≤ 0,4 (X1 j +X2 j ) ∑ X2 j ≤ (0,4X1 j + 0,4 X2 j ) ∑ X2 j -0,4 X2 j – 0,4 X1 j ≤ 0
∑ 0,6 X2 j – 0,4 X1 j ≤ 0
Keterangan :
µ = Persentasi koefisien pasokan TBS pembelian
X1j = Jumlah pasokan bahan baku TBS dari kebun sendiri pada bulan ke-j
(kg/bln)
X2j = Jumlah Pasokan TBS yang dibeli dari kebun plasma pada bulan ke-j
(kg/bln)
3. Kendala Kuota Pembeliaan
Kebijakan yang diambil oleh PTPN IV Unit usaha Adolina dengan menetapkan batas maksimal pembeliaan TBS dari kebun plasma adalah sebesar 300 ton TBS/hari atau 6.000.000 kg/bln. Dimana pilihan pembelian ini dapat diambil ataupun tidak oleh perusahaan sehingga perusahaan dapat meningkatkan potensi produksi dari kebun sendiri. Fungsi kendalanya dapat dirumuskan sebagai berikut :
24 Keterangan :
X2ij = Jumlah bahan baku yang dipasok dari pembelian produksi kebun pasma
Pada bulan ke-j (kg/bln)
Rij = Kuota pembelian bahan baku oleh pabrik pada bulan ke-j (kg/bln)
4. Kendala Ketersediaan Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang tersedia tiap bulannya untuk mengolah bahan baku menjadi produk setengah jadi (work in process) perlu diperhitungkan sebagai kendala. Dalam tiap shift terdapat 39 orang tenaga kerja langsung yang mengoperasikan mesin pengolahan, dimana setiap hari terbagi atas 2 shift. Sehingga 1 hari tersedia tenaga kerja 78 orang. Berdasarkan perhitungan 25 hari kerja perbulannya, maka tenaga kerja yang tersedia tiap bulannya adalah 1.950 orang tenaga kerja langsung. Tenaga kerja ini pada tahun 2010 mengolah TBS sepanjang tahun.
∑ Ci Xij M j Keterangan :
Cj = Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengolah 1 kg TBS pada bulan ke-j
(HOK/kg)
X ij = Jumlah bahan baku yang dipasok dari sumber ke-i pada bulan ke-j
(kg/bln)
Mj = Ketersediaan tenaga kerja pada bulan ke-j (HOK/bln)
Nilai Koefisien untuk kendala ketersediaan tenaga kerja ini adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengolah satu kilogram TBS dari kebun sendiri dan pembelian dari plasma. Nilai ruas kanan (Right Hand Side) dalam kendala jam tenaga kerja lapangan ini adalah ketersediaan tenaga kerja lapangan yang diperhitungkan berdasarkan jumlah jam kerja dalam satu bulan.
5. Kendala Transfer Kegiatan Pengolahan
Kendala transfer merupakan persentasi nilai CPO dan PK yang dihasilkan dari setiap kilogram TBS yang diolah. Rendemen TBS menghasilkan CPO adalah α persen, maka koefisien fungsi kendala adalah α sedangkan rendemen PK ialah β persen, maka koefisien fungsi kendalanya adalah β. Nilai ruas kanan (Right Hand
Side) dalam kendala transfer adalah nol.
∑ X3j α (X 1j + X 2j )
25 Keterangan :
α = Rendemen CPO β = Rendemen PKO
X3j = Jumlah CPO yang dihasilkan pada bulan ke-j X4j = Jumlah PK yang dihasilkan pada bulan ke-j
X 1j = Jumlah TBS yang dipasok dari kebun Adolina pada bulan ke-j(kg/bln)
X 2j = Jumlah TBS yang dipasok dari kebun pembelian pada bulan ke-j(kg/bln)
6. Biaya Pengolahan
Biaya pengolahan adalah biaya yang digunakan selama proses pengolahan berlangsung, seperti biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan kimia, biaya bahan bakar dan biaya listrik. Biaya pengolahan pada PKS Adolina adalah biaya pengolahan CPO dan PKO. Biaya pengolahan perkilogram setiap bulannya berbeda tergantung pada harga CPO dan PKO yang dihasilkan. Biaya pengolahan dibandingkan dengan total harga CPO dan PKO merupakan koefisien (£) kendala biaya pengolahan
∑ X5j £ (X 1j + X 2j )
∑ X5j - £X3j + £X 4j 0 Keterangan :
£ = Koefisien biaya pengolahan dibagi total harga CPO dan PKO X3j = Jumlah CPO yang dihasilkan pada bulan ke-j
X4j = Jumlah PKO yang dihasilkan pada bulan ke-j 4.3.4. Analisis Primal
Analisis primal dilakukan untuk mengetahui nilai setiap variabel keuputusan yang di peroleh serta mengetahui sumber-sumber pemborosan yang terdapat di PKS Adolina. Nilai pemborosan dilihat dari nilai reduce cost yang ada. Analisis primal dilakukan untuk mengetahui kombinasi pengadaan bahan baku TBS dari tiap sumber dalam pengolahan CPO dan PKO yang optimal untuk diproduksi pada Pabrik Kelapa Sawit Adolina sehingga diperoleh keuntungan yang maksimum. Aktivitas yang tidak termasuk skema optimal akan memiliki nilai reduced cost. Dengan membandingkan nilai dari seluruh variabel keputusan, maka dapat ditentukan kombinasi pengadaan bahan baku TBS yang berasal dari kebun sendiri dan pihak ketiga pada tingkat optimal dengan produksi aktual kebun plasma dapat diketahui alternatif kegiatan pengadaan bahan baku produksi dari tiap sumber yang digunakan perusahaan untuk mencapai keuntungan optimal.
26 4.3.5. Analisis Dual
Analisis dual dilakukan untuk menilai sumberdaya yang digunakan dalam pengadaan TBS dengan melihat nilai slack/surplus dan nilai dualnya (dual price). Nilai dual (dual price) atau sering disebut dengan harga bayangan (shadow price) menunjukan perubahaan yang akan terjadi pada fungsi tujuan apabila sumberdaya yang digunakan berubah sebesar satu satuan. Nilai ini juga menunjukan batas harga tertinggi dari tiap sumberdaya (input) yang masih memungkinkan perusahaan tetap melakukan pembelian. Nilai dual sangat berperan dalam pengambilan keputusan terutama dalam hal pembelian sumberdaya. Slack/surplus adalah kelebihan atau penurunan keuntungan dari tiap pengadaan sumberdaya yang selama ini dihadapi oleh perusahaan atau organisasi. Sumberdaya yang akan menjadi amatan dalam analisis dual adalah kapasitas produksi maksimal pabrik kelapa sawit, ketersediaan TBS pembelian, batasan kuota pembelian, ketersediaan tenaga kerja dan rendemen TBS.
4.3.6. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan pada saat solusi optimal tercapai. Analisis sensitivitas dilakukan dengan cara melihat perubahan koefisien fungsi tujuan tanpa merubah nilai optimalnya. Analisis ini berguna untuk mengetahui pengaruh perubahan pada tingkat keuntungan ketersediaan sumberdaya perusahaan tidak akan mengubah solusi optimal yang telah didapat. Pengaruh perubahan dapat dilihat dari selang kepekaan minimum (allowable decrease) dan selang kepekaan maksimum (allowable increase). Semakin sempit selang kepekaan tingkat keuntungan atau ketersediaan sumberdaya, menunjukan bahwa nilai tersebut paling peka dalam mengubah solusi optimal.
Batas minimum pada fungsi tujuan menunjukkan besarnya batas penurunan nilai koefisien fungsi tujuan tanpa merubah hasil pemecahan optimal. Demikian juga sebaliknya, batas maksimum pada fungsi tujuan menunjukkan besarnya batas peningkatan nilai koefisien fungsi tujuan tanpa merubah hasil optimal. Jika perubahan-perubahan yang terjadi masih berada di dalam selang kepercayaan, maka kondisi optimal relatif stabil.
Batas minimum pada kendala sebelah kanan menunjukkan besarnya batas penurunan nilai kendala sebelah kanan tanpa merubah nilai dual. Demikian juga,
27 batas maksimum pada kendala sebelah kanan menunjukkan besarnya batas peningkatan nilai kendala sebelah kanan tanpa merubah nilai dual. Jika perubahan-perubahan yang terjadi masih berada di dalam selang kepercayaan, maka nilai dual valid.
Dalam penelitian ini analisis sensitivitas digunakan untuk melihat batas perubahan kapasitas produksi maksimal pabrik kelapa sawit, ketersediaan TBS pembelian, batasan kuota pembelian, ketersediaan tenaga kerja dan rendemen TBS tanpa merubah kondisi optimalnya.
4.3.7. Analisis Post Optimal
Analisis post optimal dilakukan untuk mengetahui bagaimana solusi optimal yang diperoleh dari kombinasi pengadaan bahan baku TBS dalam memproduksi CPO dan PK di PKS Adolina jika terjadi perubahan terhadap parameter yang membentuk model. Pada penelitian ini dilakukan analisis post optimal dengan dua skenario. Skenario yang digunakan adalah mengetahui pengaruh penerimaan keuntungan terhadap aktivitas pengadaan bahan baku TBS dan peningkatan sumberdaya ketersediaan tenaga kerja.
4.4. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Koefisien di dalam model memenuhi asumsi-asumsi dasar dari Linier Programing.
2. Mesin Pengolahan Kelapa Sawit tidak mengalami kerusakan.
3. Tandan buah segar kebun sendiri Adolina diserap seluruhnya oleh PKS Adolina.
4. Produksi TBS dari kedua kebun untuk menghasilkan CPO dan PKO dari Pabrik Kelapa Sawit Adolina PTPN IV dapat diserap oleh pasar.