Intelektium adalah jurnal yang diterbitkan oleh Neolectura, diterbitkan dua kali dalam satu tahun. Intelektium adalah media publikasi ilmiah dalam bentuk makalah konseptual dan penelitian lapangan yang terkait dengan bidang pendidikan. Diharapkan Intelektium dapat menjadi media bagi akademisi dan peneliti untuk menerbitkan
karya ilmiah mereka dan menjadi sumber referensi untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Page | 7
NILAI DIDAKTIS DALAM KUMPULAN DONGENG
JEJAK-JEJAK MISTERIUS
Priyono*, Junita Yosephine Sinurat , Nicky Rosadi Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana nilai didaktis yang terdapat dalam kumpulan dongeng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Objek penelitian ini adalah delapan dongeng yang terdapat dalam Kumpulan Dongeng Jejak-Jejak Misterius. Temuan dari hasil penelitian ini adalah nilai didaktis yang terdapat dalam kumpulan dongeng Jejak-Jejak Misterius yaitu nilai inisiatif, disiplin, kritis, rajin dan tekun, sosial, moral, dan ketuhanan.
Kata kunci: didaktis, dongeng
DIDACTICAL VALUE IN JEJAK-JEJAK MISTERIUS TALES
COLLECTION
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the didactic value contained in a collection of fairy tales. The method used in this research is descriptive qualitative with content analysis techniques. The object of this research is the eight fairy tales contained in Jejak-Jejak Misterius tale collection. The findings from the results of this study are the didactic values contained in Jejak-Jejak Misterius tale collection, namely the values of initiative, discipline, criticality, diligence, social, attitude, and divine. Keywords: didactic, fairy tales
PENDAHULUAN
Karya sastra sebagai salah satu hasil kebudayaan tentunya mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat dan mencerminkan kehidupan pada masa tertentu. Nilai-nilai dan norma-norma itulah yang nantinya dapat dijadikan sebagai pedoman hidup yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi lainnya. Hal ini berarti salah satu fungsi karya sastra adalah mengomunikasikan nilai didaktis.
Karya sastra merupakan refleksi kehidupan manusia, melalui karya sastra diharapkan pengarang mampu menyampaikan pesan-pesan atau ideologi yang bermanfaat. Pesan-pesan tersebut biasanya merupakan bentuk pemberontakan pengarang terhadap fenomena yang sedang terjadi yang kemudian dikontraskan melalui karya sastra.
Karya sastra mempunyai relevansi nyata dengan masalah pendidikan, bukan hanya sebagai sumber nilai pengetahuan, melainkan dapat mempertajam kesadaran sosial dan religiusitas pembaca. Bahkan, karya sastra pun disebut-sebut sebagai sarana untuk memanusiakan manusia. Sastra dapat memperluas budi dan mendewasakan manusia, mampu mengembangkan imajinasi, dan mampu menggugah rasa dan pemikiran.
Salah satu jenis karya sastra yang biasa dikenalkan kepada anak-anak di antaranya adalah dongeng. Dongeng bermanfaat dalam perkembangan daya fantasi anak, khususnya pada anak usia sekolah dasar. Manfaat pertama yang dirasakan anak ketika membaca dongeng adalah kesenangan. Selain kesenangan, manfaat lain yang dapat dirasakan yaitu dapat mengenal
Page | 8
SEPTEMBER
Vol. 1 No. 2
2020
DOI PUBLIKASI
https://doi.org/10.37010/int.v1i2
nilai moral, budaya, agama, yang terdapat dalam dongeng tersebut. Ketika anak mendengarkan dongeng, ia sebenarnya sedang diajak untuk mengembangkan imajinasinya.
Dongeng-dongeng yang terdapat dalam buku kumpulan dongeng biasanya memuat dongeng dari berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, terdapat berbagai buku kumpulan dongeng yang dapat dijadikan media pembelajaran di kelas, misalnya, buku Kumpulan Dongeng Jejak-Jejak Misterius.
Dongeng merupakan bagian dari prosa rakyat dan termasuk dalam folklor lisan. Hal ini selaras dengan pendapat Danandjaja (1994) bahwa dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Selanjutnya dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dudung (Habsari, 2017) dongeng adalah bentuk sastra lama yang bercerita tentang kejadian luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) dan tidak benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran
Lemon dan Cannadine (Ardini, 2012) dongeng adalah cerita sejarah yang berisi pengalaman tentang kejadian masa lampau (past human events) dan merupakan salah satu sumber sejarah berupa tradisi lisan. Pada mulanya, dongeng berkaitan dengan kepercayaan masyarakat yang berkebudayaan primitif yang bersifat animisme dan dinamisme. Bagi manusia, dongeng berfungsi sebagai hiburan, kepercayaan yang bersifat didaktik (pengajaran moral dan nasihat bagi kehidupan), dan sumber kehidupan.
Sastra tradisional terdiri dari berbagai jenis, seperti mitos, legenda, fabel, cerita rakyat (folktale, folklore), nyanyian rakyat dan lain-lain (Gusal, 2015). Berbeda dengan Priyono (2006) yang mengelompokkan dongeng menjadi:
1. Dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat (legenda) 2. Dongeng yang berkaitan dengan dunia binatang (fabel)
3. Dongeng yang berkaitan dengan fungsi pelipur lara
4. Dongeng yang berkaitan dengan kepercayaan nenek moyang (mite) 5. Dongeng yang berkaitan dengan cerita rakyat
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa dongeng adalah salah satu cerita rakyat yang ceritanya tidak benar-benar terjadi. Walaupun cerita yang ditampilkan tidak benar-benar terjadi, dongeng mempunyai manfaat yang berisikan moral atau bahkan sindiran. Pada awalnya, dongeng digunakan sebagai hiburan, tapi saat ini dongeng biasa digunakan untuk sarana pendidikan karena di dalam dongeng terdapat unsur didaktis.
Hollowell (dalam Sodik, 2008) mengatakan bahwa ada enam segi positif dari sebuah dongeng, yaitu: Dongeng dapat mengembangkan imajinasi dan memberikan pengalaman emosional yang mendalam, memuaskan kebutuhan ekspresi diri, menanamkan pendidikan moral tanpa harus menggurui, menumbuhkan rasa humor yang sehat, dan mempersiapkan apresiasi sastra.
Fauziddin (dalam Azkiya & Iswinarti, 2016) menjelaskan bahwa banyak manfaat dari cerita yang berpengaruh pada perkembangan anak, terutama pada aspek sosioemosional anak. Menurut Al-Maghribi (dalam Ipriansyah, 2011) cerita atau kisah memiliki peran besar dalam memperkukuh ingatan, kesadaran berpikir yang memengaruhi akal seorang anak, dan sarana pendidikan yang paling efektif karena ia bisa mempengaruhi perasaan dengan kuat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa dongeng adalah salah satu cerita rakyat yang benar-benar tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Dongeng sangat akrab dengan dunia anak-anak. Walaupun dongeng adalah cerita rekaan, sebenarnya dongeng mempunyai beberapa manfaat di antaranya: merangsang daya imajinasi anak, sebagai media untuk menanamkan pesan moral tanpa adanya kesan menggurui, menumbuhkan rasa empati, sebagai media pengenalan sastra.
Page | 9
SEPTEMBER
Vol. 1 No. 2
2020
DOI PUBLIKASI
https://doi.org/10.37010/int.v1i2
Dalam sebuah dongeng biasanya terdapat unsur-unsur didaktis yang dapat diambil oleh pembaca. Unsur didaktis itulah yang nantinya dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai didaktis merupakan nilai yang bersifat mendidik. Menurut Fuad (Fuad, 2000), nilai didaktis bisa dikelompokkan ke dalam lima ciri, yaitu: inisiatif, disiplin, kritis, rajin dan tekun, serta cerdas dan terampil. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, inisiatif bisa diartikan sebagai kemampuan mengambil langkah untuk memecahkan masalah dalam pencapaian suatu tujuan. Disiplin berhubungan dengan kemampuan berbuat tepat waktu dan setia pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam kaitannya dengan penyelesaian suatu masalah. Kritis merupakan kemampuan berbuat cermat dengan melihat secara teliti setiap masalah dari berbagai segi. Rajin dan tekun berhubungan dengan usaha yang ditandai dengan kerja keras dan sabar demi kemajuan atau tujuan tertentu. Cerdas dan terampil berkaitan dengan tajamnya pikiran dan cakap dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
Nilai didaktis sebenarnya bersinonim dengan nilai pendidikan. Ahmadi & Uhbiyati (2001) mengelompokkan nilai-nilai pendidikan menjadi:
1. Pendidikan Budi Pekerti
Budi pekerti atau akhlak adalah satu-satunya aspek yang sangat fundamental dalam kehidupan. Tujuan dari pendidikan budi pekerti ialah mendidik anak agar dapat membedakan antara yang baik dan buruk, sopan dan tidak sopan, sifat terpuji dan tercela dan sebagainya. 2. Pendidikan Kecerdasan
Tujuan dari pendidikan kecerdasan ialah mendidik agar dapat berpikir logis, kritis, dan kreatif.
3. Pendidikan Sosial
Tujuan dari pendidikan sosial adalah mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan bersama dan ikut ambil bagian secara aktif dalam kehidupan bersama tersebut.
4. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk mendidik anak agar kelak dapat menjadi warga negara yang baik dan sempurna, berguna bagi masyarakat dan negara.
5. Pendidikan Keindahan dan Estetika
Pendidikan keindahan bertujuan agar semua anak mempunyai rasa keharuan terhadap keindahan. Mempunyai selera terhadap keindahan. Selanjutnya, dapat menghargai dan menikmati keindahan.
6. Pendidikan Jasmani
Melalui pendidikan jasmani, kita bina dan kita kembangkan sifat-sifat dan tabiat-tabiat yang baik, seperti jujur, sportif, disiplin, bertanggung jawab, kerja sama.
7. Pendidikan Agama
Menyinggung masalah pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah dasar, hendaknya pendidikan agama itu ditekankan kepada pembiasaan, yaitu kebiasaan-kebiasaan untuk melaksanakan/mengamalkan ajaran-ajaran agama.
8. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Tujuan pendidikan kesejahteraan keluarga secara luas ialah untuk meningkatkan taraf kehidupan dan penghidupan keluarga, untuk mencapai terwujudnya keluarga sejahtera seluruhnya.
Istilah nilai didaktis sebenarnya bersinonim dengan nilai pendidikan. Kedua istilah tersebut sebenarnya mempunyai makna yang sama. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur didaktis adalah nilai-nilai yang terdapat dalam berbagai aspek yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Unsur didaktis tersebut meliputi, intelektual, moral, kritis, disiplin, tingkah laku, dan kehendak. Sementara itu, jika dilihat berdasarkan hakikat manusia sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial, yang termasuk dalam nilai
Page | 10
SEPTEMBER
Vol. 1 No. 2
2020
DOI PUBLIKASI
https://doi.org/10.37010/int.v1i2
didaktis adalah budi pekerti, kecerdasan, sosial, kewargaan negara, keindahan dan estetika, jasmani, pendidikan agama, dan kesejahteraan keluarga. Nilai-nilai inilah yang diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, manusia diharapkan menjadi manusia yang berbudi dan dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan buruk.
Berdasarkan pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai didaktis adalah nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan. Nilai-nilai itu bisa dijadikan bahan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menjadikan manusia agar menjadi manusia yang berbudi pekerti.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian berbentuk deskripsi mengenai nilai didaktis yang terdapat dalam Kumpulan Dongeng Jejak-Jejak Misterius. Objek dalam penelitian ini adalah Kumpulan Dongeng Jejak-Jejak Misterius karangan Ririn Astutiningrum yang diterbitkan Tiga Serangkai pada 2016. Buku tersebut terdiri atas 16 dongeng. Namun, yang diteliti adalah delapan dongeng dengan teknik purposive sampling yang mewakili dari keseluruhan dongeng yang ada dalam Kumpulan Dongeng Jejak-Jejak Misterius. Delapan dongeng tersebut adalah “Jejak-Jejak Misterius”, “Rahasia Kebun Pak Soleh”, “Windy Si Pengantar Hujan”, “Teka-Teki Dzubab”, “Ketika Peri Bulan Pergi”, “Misteri Hilangnya Papa”, “Penyesalan Charlie Turtle”, dan “Berjumpa Peri Nakhlah”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jejak-Jejak Misterius a. Inisiatif
Nilai insiatif terdapat dalam dongeng yang berjudul Jejak-Jejak Misterius. Ini dibuktikan dengan kalimat, “Bagaimana kita beri tahu nenek?” “Nek, hari ini biar kami saja yang menyapu halaman.” “Mereka bertekad sebelum liburan usai, jejak misterius itu harus dipecahkan.” Kalimat-kalimat tersebut membuktikan nilai inisiatif dari tokoh untuk melakukan sesuatu.
b. Disiplin
Dalam dongeng yang berjudul Jejak-jejak Misterius terdapat nilai disiplin, ini dibuktikan dengan kalimat “Seperti pagi sebelumnya. Irsyad dan Zahra segera bangun saat azan.” Ini membuktikan kebiasaan yang dilakukan terus-menerus yang membuktikan kedisiplinan dari tokoh.
c. Kritis
Nilai kritis juga terdapat dalam dongeng ini, ini dibuktikan dengan kalimat, “Tiga hari ini, mereka penasaran dengan jejak-jejak misterius yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.” Ada juga kalimat yang mengandung nilai kritis seperti, “Tapi, di mana cacingnya, Bu? Bukankah cacing hanya muncul pada waktu musim hujan?” “Bu, bagaimana cacing bisa bernapas dalam tanah?”. “Benarkah Umi, Bagaimana caranya cacing bisa menyuburkan tanah?”
d. Sosial
Nilai sosial juga terdapat dalam dongeng, ini dibuktikan dalam kalimat, “Kasihan nenek kalau nenek menjadi tidak tenang.” Ada juga kalimat yang menyatakan nilai sosial selain kalimat tersebut adalah, “Tapi, masih ada yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan nenek, Bi. Kami kasihan pada nenek.”
Page | 11
SEPTEMBER
Vol. 1 No. 2
2020
DOI PUBLIKASI
https://doi.org/10.37010/int.v1i2
e. Ketuhanan
Nilai ketuhanan tergambar dalam dongeng ini. Ini dibuktikan dengan tokoh mengucapkan syukur ketika mendapatkan sesuatu, “Alhamdulillah, kalian sampai dengan selamat.” Kalimat yang lain juga menggambarkan nilai ketuhanan yaitu kalimat, “Itu Kebesaran Allah, Nak.” Kalimat yang menggambarkan nilai ketuhanan terdapat juga pada halaman 11 yang berbunyi, “Iya, Abi, Umi, Zahra, dan Kak Irsyad tidak mengkhawatirkan nenek lagi, Alhamdulillah.
Rahasia Kebun Pak Soleh a. Inisiatif
Nilai insiatif dalam dongeng ini hanya tergambar dalam satu kalimat yaitu, “Bagaimana kalau nanti malam kita selidiki.” Ini merupakan inisiatif dari sang tokoh untuk melakukan sesuatu.
b. Kritis
Nilai kritis terdapat dalam dongeng ini, ini dibuktikan dengan kalimat-kalimat, “Teman-teman, aneh, ya, kebun Pak Soleh.” “Akan tetapi, rasa ingin tahu mereka jauh terlalu besar.” “Wow, kebun ini isinya apa?” “Iya, benda-benda apa yang ada di sana?” “Yuk, kita mendekat, teman-teman. Kita harus tahu isi kebun ini.” “Van, apa yang kamu lakukan? Awas nanti kamu merusak sesuatu.” “Aku ingin tahu isi balok-balok ini, Ri.”
c. Moral
Nilai moral tergambar dalam dongeng ini dengan dibuktikan dengan kalimat, “Kita tidak boleh suudzon.” Selain itu juga terdapat dalam kalimat, “Fahri janji tidak akan mengulanginya lagi.” Kalimat, “Kalian harus berani mengakui kesalahan dan minta maaf.” Hal tersebut juga merupakan penggambaran nilai moral. Penggambaran minta maaf dan memberikan maaf juga gambaran moral. Hal ini ada dalam kalimat, “Fahri minta maaf, Pak dan kalimat, Bapak memaafkan Fahri dan teman-teman.” “Iya, Pak. Terima kasih atas tawaran Bapak.”
d. Ketuhanan
Nilai ketuhanan terdapat dalam dongeng ini dengan dibuktikan dengan kalimat “‘Assalamualaikum,’ Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam”. Ada juga kalimat yang merupakan kelanjutan dari salam tersebut dengan mengucapkan, “‘Waalaikumsalam,’ Sahut Ibu.” Kemudian tokoh juga mengucapkan syukur, “Alhamdulillah, sudah berkurang demamnya, Pak.”
Windi Si Pengantar Hujan a. Sosial
Nilai sosial terdapat dalam dongeng ini dengan dibuktikan dengan ucapan, “Sungguh mulia tugasmu, Windy.” “Terima kasih, Lily dan Dengan penuh kasih sayang, Livy melindungi sarang Fly.” Hal tersebut menggambar reaksi tokoh dengan keadaan sekitar.
b. Moral
Nilai moral tergambar dalam kalimat, “Kalian bersabarlah, awan-awan ini sudah berat dipunggungku.
c. Ketuhanan
Nilai ketuhanan terdapat dalam dongeng ini. Dalam kalimat “kita harus yakin, Allah menyayangi kita, Allah menciptakan musim kemarau dan musim hujan masing-masing pasti ada manfaatnya, Lihatlah sana, para petani tembakau sangat bersyukur dengan adanya kemarau, Apa pun yang Allah ciptakan pasti ada hikmahnya, ketiga sahabat itu pun berdoa dengan takzim untuk memohon hujan kepada Allah, terima kasih atas karunia-Mu ya, Allah.”
Page | 12
SEPTEMBER
Vol. 1 No. 2
2020
DOI PUBLIKASI
https://doi.org/10.37010/int.v1i2
kalimat tersebut merupakan gambaran bagaimana sikap kita terhadap Tuhan atas segala nikmatnya.
Teka-Teki Dzubab a. Kritis
Nilai kritis terdapat dalam dongeng dengan didukung kalimat, “Kak Roby sedang baca apa, sih, keren sekali, kak, judulnya apa?, kedua kalimat tersebut menunjukkan sikap kritis dari seorang tokoh kepada tokoh lain.
b. Rajin dan tekun
Dalam dongeng tokoh ingin tahu lebih banyak tentang lalat. Ini menunjukkan bahwa tokoh tidak puas dengan pengetahuannya sekarang. Dia ingin memperdalam wawasan mengenai lalat.
c. Sosial
Nilai sosial tergambar dalam dongeng dengan ucapan tokoh yaitu “Kayla janji, Kak. Besok, teka-tekinya Kayla pecahkan, wah, kamu memang adik Kak Roby yang paling pintar, dan wah, ternyata kamu jauh lebih pintar dari yang kakak kira.” Kalimat-kalimat tersebut merupakan tanggapan/apresiasi terhadap seseorang yang berupa pujian ketika seseorang mempunyai kelebihan.
d. Ketuhanan
Nilai ketuhanan terdapat dalam dongeng ini dengan gambaran pada kalimat, “Lalat itu binatang istimewa. Lalat adalah tanda kebesaran, Nah, salah satu rukun haji yang perlu dilakukan adalah tawaf, dalam alquran, Allah menjadikan lalat sebagai perumpamaan, Allah menciptakan lalat dengan anatomi yang luar biasa, Dik, Subhanallah, Allah benar-benar hebat ya, Kak.” Kalimat-kalimat tersebut menggambarkan kebesaran Allah dalam menciptakan makhluknya.
Ketika Peri Bulan Pergi a. Inisiatif
Inisiatif terdapat dalam dongeng dengan gambaran ucapan, “Gawat! Jika ia keluar garis edar, ia bisa mati. Kita cari Peri Bulan sekarang juga!” Tokoh mendapatkan dorongan untuk melakukan (membantu) Peri Bulan.
b. Sosial
Nilai sosial terdapat pada dongeng ini dengan kalimat-kalimat “Minggirlah, Bulan! Aku tidak ingin lukamu bertambah parah, Terima kasih Peri Bulan, kehadiranmu akan sangat membantuku, aku menyesali perbuatanku Bumi, seharusnya kita tidak mementingkan keinginan kita sendiri, Aku juga menyesali perbuatanku, Matahari. Andai saja kita tetap rukun, pastilah kita tetap melihat senyum Peri Bulan, Peri Bulan, maafkan kami, kami sudah menyadari kesalahan kami”. Kalimat-kalimat tersebut mengajarkan kita untuk membantu orang lain, meminta maaf jika mempunyai kesalahan, dan memberikan maaf kepada orang lain.
c. Ketuhanan
Nilai ketuhanan yang terdapat dalam dongeng dilukiskan dengan ucapan, “Berterimakasihlah kepada Allah. Kita semua semata-mata ciptan-Nya.” Kalimat ini mengajarkan kita agar senantiasa bersyukur kepada Tuhan.
1. Dongeng “Misteri Hilangnya Papa” a. Disiplin
Page | 13
SEPTEMBER
Vol. 1 No. 2
2020
DOI PUBLIKASI
https://doi.org/10.37010/int.v1i2
Dalam dongeng terdapat kalimat, “Begitu mama membangunkannya, Zelda segera mandi, salat subuh, lalu bersiap-siap berangkat ke sekolah”. Kalimat tersebut menggambarkan tokoh Zelda sebagai anak yang disiplin dalam mengerjakan sesuatu.
b. Sosial
Kalimat “Mama dan Zelda salat bergantian karena harus ada yang menjaga Kenzie, Tiba-tiba ia merasa sangat bersalah pada Kenzie, Zelda menyesal, Pa” merupakan ajaran bagaimana kita bersikap kepada orang lain dalam situasi tersebut.
c. Ketuhanan
Kalimat salam. “Assalamu alaikum, papa muncul dari belakang pintu.” Mengajarkan kita bahwa ketika mau masuk suatu ruangan kita mengucapkan salam. Kenzhie dikirim oleh Allah untuk menjadi adik yang harus disayangi. Hal ini merupakan ajaran bagaimana kita memperlakukan adik kita.
Penyesalan Charlie Turtle a. Inisiatif
Kalimat “Kita harus mencari cara untuk menunjukkan padanya bahwa setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan, aku tahu apa yang membuat kalian resah, serahkan ini padaku, dan dengan sigap Fizy dan ibunya mendorong tubuh Charlie ke daratan.” Kalimat-kalimat tersebut merupakan inisiatif tokoh untuk melakukan sesuatu agar hal yang sebenarnya terungkap dan membantu orang lain.
b. Sosial
Nilai sosial tergambar dalam kalimat “Roby, jangan lakukan, kau akan tenggelam, Charlie, tolonglah Robby sebelum ia kehabisan napas, Beruntung Fiziy dan ibunya segera mendorong tubuh Roby ke daratan, aku kasihan kepadanya, dengan penuh kasih sayang, Felice dan Robby merawat Charlie” kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bagaimana kita bersikap kepada orang lain atau masyarakat yang membutuhkan bantuan.
c. Moral
Kalimat “Ia mulai sadar. Ia tak sepatutnya menyombongkan diri.” Merupakan pesan moral kepada pembaca agar tidak sombong dengan apa yang dimiliki.
d. Ketuhanan
Nilai ketuhanan terdapat pada kalimat “Fizy jangan bersedih, Allah menciptakan setiap makhluk dengan habitatnya masing-masing.” Kalimat tersebut memberikan pesan bahwa Tuhan telah menciptakan ciptaannya sesuai dengan kebutuhannya dan tiap individu berbeda-beda.
Berjumpa Peri Nakhlah a. Kritis
Kalimat “Umi kok tetap sehat setelah melahirkan?” merupakan kalimat yang memberikan gambaran seseorang yang kritis dengan lingkungan atau orang sekitar.
b. Rajin dan tekun
Rajin dan tekun tergambar pada kalimat, “Itu karena Umi membiasakan mengonsumsi buah.” Hal ini menggambarkan bahwa tokoh melakukan tidak hanya satu kali, tetapi sering dilakukan.
c. Sosial
Nilai sosial terdapat dalam dongeng dengan gambaran kalimat, “Kami mencintai anak salehah seperti kamu dan kami akan membantumu, dan kalimat terima kasih sekali lagi peri.” Kedua kalimat tersebut mengandung maksud bahwa kita sebagai manusia harus saling membantu apalagi kepada anak salihah dan juga kita mengucapkan terima kasih atas bantuan seseorang yang telah membantu kita.
Page | 14
SEPTEMBER
Vol. 1 No. 2
2020
DOI PUBLIKASI
https://doi.org/10.37010/int.v1i2
d. Ketuhanan
Nilai ketuhanan terdapat pada kalimat “Saat itulah Allah memberikan mukjizat-Nya, kami bersyukur diciptakan Allah sebagai pohon ini, Subhanallah, kalian buah yang hebat, subhanallah, umi bangga pada putri umi yang cerdas.” Kalimat-kalimat tersebut memberikan pedoman bagaimana cara kita menghadapi hidup sesuai dengan tuntunan. Kalimat tersebut juga memberikan pedoman bagaimana cara mengetahui kebesaran Allah.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dapat peneliti simpulkan bahwa nilai didaktis yang terdapat dalam Kumpulan Dongeng Jejak-Jejak Misterius yaitu nilai inisiatif, disiplin, kritis, rajin dan tekun, sosial, moral, dan ketuhanan. Untuk itu, guru Bahasa Indonesia di sekolah dasar yang akan mengajarkan dongeng dapat memilih salah satu dongeng yang ada dalam buku Kumpulan Dongeng Jejak-Jejak Misterius. Misalnya, guru dapat menjadikan dongeng “Rahasia Kebun Pak Soleh” sebagai media dalam pengajaran dongeng karena dalam penelitian ini nilai didaktis paling banyak ditemukan dalam dongeng yang diteliti.
DAFTAR PUSTAKA
Aahmadi, A., & Uhbiyati, N. (2001). Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ardini, P. P. (2012). Pengaruh Dongeng dan Komunikasi terhadap Perkembangan Moral Anak Usia 7 - 8 Tahun. Jurnal Pendidikan Anak, 1(1), 44 - 58.
Azkiya, N. R., & Iswinarti. (2016). Pengaruh Mendengarkan Dongeng terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Prasekolah. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 4(2), 123 - 139. Danandjaja, J. (1994). Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Fuad, M. (2000). Nilai Didaktis dalam Pisaan Lampung Pubian. Jakarta: Pusat Bahasa. Gusal, L. O. (2015). Nilai Pendidikan dalam Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Karya La Ode
Sidu. Jurnal Humanika, 3(15), 1 - 18.
Habsari, Z. (2017). Dongeng Sebagai Pembentuk Karakter Anak. Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi, 1(1), 21 - 29.
Ipriansyah. (2011). Peran Dongeng Bagi Perkembangan dan Pembentukan Kepribadian Anak. Jurnal Ta'dib, XVI (1), 77 - 92.
Priyono, K. (2006). Terampil Mendongeng. Jakarta: Gramedia.