• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HARIAN PUSDALOPS BNPB Jum at, 12 Juni 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN HARIAN PUSDALOPS BNPB Jum at, 12 Juni 2009"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

.

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B )

JI. Ir. H. Juanda 36, Jakarta 10120 Indonesia Telepon : (021) 345 8400 Fax : (021) 345 8500

Email : [email protected] Website : http://www.bnpb.go.id

LAPORAN HARIAN PUSDALOPS BNPB

Jum’at, 12 Juni 2009

Pada hari Kamis, 11 Juni 2009 pukul 08.00 WIB hingga hari Jum’at, 12 Juni 2009 pukul 08.00 WIB, dilaporkan informasi kejadian alam dan bencana di wilayah Indonesia yang diperoleh Pusdalops BNPB sebagai berikut :

I. Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan A. Kondisi Terkini

1. Hari Kamis, 11 Juni 2009, posko BNPB menerima informasi adanya titik panas/hotspot di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Informasi hotspot dalam tabel berikut adalah data hotspot Kondisi cuaca berdasarkan informasi dari BMKG di Sumatera dan Kalimantan sebagai berikut :

Daerah Jumlah Hot Spot*) Kondisi Cuaca**)

SUMATERA

Sumatera Utara 22 Berawan

Riau 97 Berawan

Jambi 18 Hujan Ringan

Sumatera Selatan 8 Hujan Ringan

NAD 22 Berawan

KALIMANTAN

Kalimantan Barat - Hujan Ringan

Kalimantan Selatan - Cerah Berawan

Kalimantan Tengah - Berawan

Kalimantan Timur - Hujan Ringan

*) Sumber: Dep. Kehutanan (Satelit NOAA-18) **) Sumber: BMKG (kondisi cuaca secara umum)

2. Jarak pandang (visibility) pada hari Kamis, 11 Juni 2009 di beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan dilaporkan sebagai berikut :

Nama Kota 07:00 10:00 13:00 16.00

SUMATERA

(2)

2

NAD 10.000 m 10.000 m 10.000 m 10.000 m Pekanbaru 2.000 m 5.000 m 6.000 m 6.000 m Jambi 5.000 m 12.000 m 13.000 m 12.000 m Palembang 10.000 m 10.000 m 10.000 m 10.000 m KALIMANTAN Pontianak 10.000 m 10.000 m 10.000 m 10.000 m Palangkaraya 7.000 m 9.000 m 10.000 m 11.000 m Samarinda 5.000 m 10.000 m 10.000 m 10.000 m Banjarmasin 10.000 m 10.000 m 10.000 m 10.000 m

Keterangan : Jarak Pandang ( Visibility) normal > 3.000 meter Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika

3. Ditinjau dari aspek meteorologi pada tanggal 11 Juni – 13 Juni 2009, wilayah Sumatera dan Kalimantan diperkirakan mempunyai :

a.

Potensi kebakaran Tinggi terdapat di wilayah NAD, Sumut, Riau, Sumbar, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Lampung, Babel. Sedangkan di Kalimantan terdapat di Kalbar, Kalteng, Kaltim dan Kalsel.

b.

Potensi kebakaran Sangat Tinggi terdapat di NAD, Sumut, Riau, Sumsel, Bengkulu, Jambi, Babel dan Lampung. Sedangkan di Kalimantan terdapat di Kalbar, Kalteng, Kaltim dan Kalsel.

4. Prakiraan penjalaran asap sampai dengan tanggal 13 Juni 2009 pukul 07.00 WIB, di wilayah NAD arahnya menuju ke Timur Laut – Timur, di wilayah Jambi arahnya menuju Barat Laut – Utara, di wilayah Kalteng arahnya menuju Utara – Timur Laut dan di wilayah Kalsel arahnya menuju ke Barat Laut – Utara.

Sumber : Badan Meteorologí, Klimatologi dan Geofísika

B. Upaya Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan

1. BNPB senantiasa berkoordinasi dengan Dep. Kehutanan, LAPAN dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk memantau perkembangan titik panas (hotspot) serta jarak pandang (visibility) setiap hari.

2. Secara umum, Satlak PB, Satkorlak PB, Manggala Agni Dinas Kehutanan, Kepolisian dan instansi/sektor terkait tetap menyiagakan petugas untuk memantau perkembangan kondisi titik api yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

3. Dinas Kehutanan mengawasi kegiatan pembukaan lahan oleh perusahaan dan membina masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan membakar.

4. Masing-masing dinas dan instansi terkait di wilayah Sumatera dan Kalimantan berupaya untuk menyiagakan sumberdaya yang cukup untuk melakukan tindakan pemadaman dini dan pemadaman terpadu apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Sumber : Dep. Kehutanan dan Meneg LH

II. Aktivitas Gunung Api di Wilayah Indonesia

Saat ini 5 (Lima) gunung api dinyatakan dalam status “Siaga” (Level III) yaitu :

A. Status Gunung Berapi

1. Gunung Api Karangetang di Kab. Sitaro, Prov. Sulawesi Utara

Sejak hari Selasa, 9 Juni 2009 hingga hari Kamis, 11 Juni 2009, pukul 15.00 WITA status kegiatan G. Api Karangetang diturunkan dari ”Awas” (Level IV) menjadi ”Siaga” (Level

III).

2. Gunung Api Anak Krakatau di Kab. Lampung Selatan, Prov. Lampung

Sejak tanggal 6 Mei 2009 hingga hari Kamis, 11 Juni 2009, status kegiatan G. Api Krakatau masih dalam keadaan ”Siaga” (Level III).

(3)

3

3. Gunung Api Semeru di Kabupaten Lumajang dan Malang Provinsi Jawa Timur

Sejak tanggal 6 Maret 2009 hingga hari Kamis, 11 Juni 2009, status kegiatan G. Api Semeru masih dalam keadaan ”Siaga” (Level III).

4. Gunung Api Ibu di Kab. Halmahera Barat, Prov. Maluku Utara

Sejak tanggal 21 April 2008 hingga hari Kamis, 11 Juni 2009, status kegiatan G. Api Ibu masih dalam keadaan ”Siaga” (level III).

5. Gunung Api Slamet di Kab. Pemalang, Kab. Banyumas, Kab. Brebes, Kab. Tegal dan Kab. Purbalingga Prov. Jawa Tengah

Sejak tanggal 23 April 2009 hingga hari Kamis, 11 Juni 2009, status kegiatan G. Api Slamet masih dalam keadaan ”Siaga” (Level III).

B. Rekomendasi

1. Sehubungan dengan turunnya status Gunung Karangetang dari Awas (Level IV) menjadi Siaga (level III) penduduk yang saat ini masih berada di tempat pengungsian dapat kembali kerumah masing masing,.

2. Penduduk disekitar G. Karangetang, terutama di kampung Dame dan Kelurahan Tatahandeng agar lebih waspada terhadap bahaya awan panas dan guguran lava pijar yang dapat terjadi setiap saat. Sedangkan masyarakat di sepanjang aliran Kali Batu Awang, kali Kahetang, Kali Keting, kali Batang, kali Beha Timur dan Kali Nanitu agar mewaspadai bahaya aliran lahar.

3. Masyarakat serta pengunjung/wisatawan di sekitar G. Api Ibu tidak diperbolehkan mendekati G. Api Ibu dalam radius 2 km, dan tidak diperbolehkan mendaki lebih dari 500 m dpal .

4. Masyarakat diharapkan tidak mendekati pulau gunung Anak Krakatau dalam radius 2 km dari kawah G. Anak Krakatau.

5. Masyarakat di sekitar G. Semeru tidak melakukan aktifitas di wilayah sejauh 4 km di seputar lereng tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru sebagai alur luncuran awan panas, tidak mendekati Puncak Mahameru dan tidak melakukan pendakian yang melebihi wilayah Kalimati.

6. Bagi pesawat yang akan melintasi wilayah G. Semeru agar berhati-hati terhadap dampak abu letusan.

7. Masih banyak endapan material vulkanik lepas hasil letusan terdahulu di sekitar kawah G. Semeru, maka dimusim penghujan masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan beraktivitas di dalam sungai Besuk Kembar, Besuk Kobokan dan Besuk Bang diharapkan berhati-hati karena dapat terancam bahaya aliran lahar panas.

8. Masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan melakukan pendakian ke puncak G. Slamet.

9. Masyarakat di sekitar G. Api Karangetang, G. Anak Krakatau, G. Semeru, G. Api Ibu dan G. Slamet dihimbau agar tetap tenang tidak mempercayai isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, selalu mengikuti arahan dari Satlak PB dan Satkorlak PB setempat.

10. Masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan masker (penutup hidung) untuk mengantisipasi dampak hujan abu.

11. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selalu berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Satkorlak dan Satlak PB setempat untuk memantau perkembangan kegiatan gunung api tersebut.

Sumber : PVMBG

III. Prakiraan Cuaca Wilayah JABODETABEK

Prakiraan cuaca wilayah JABODETABEK berlaku untuk hari Jum’at, 12 Juni 2009 dilaporkan sebagai berikut : NO L0KASI C U A C A Pagi (00.05 – 12.00) Siang (12.05 – 18.00) Malam (18.05 – 24.00)

1 Jakarta Pusat Berawan Berawan Berawan dan hujan

ringan

(4)

4

NO L0KASI C U A C A Pagi (00.05 – 12.00) Siang (12.05 – 18.00) Malam (18.05 – 24.00) ringan

3 Jakarta Selatan Berawan Berawan dan hujan

ringan kadang sedang

Berawan dan hujan ringan

4 Jakarta Timur Berawan Berawan dan hujan

ringan

Berawan dan hujan ringan

5 Jakarta Barat Berawan Berawan dan hujan

ringan kadang sedang Berawan

6 Jakarta Kep.Seribu Berawan Berawan Berawan dan hujan

ringan

7 Bogor Berawan Berawan dan hujan

ringan-sedang

Berawan dan hujan ringan

8 Tangerang Berawan Berawan dan hujan

ringan kadang sedang Berawan

9 Depok Berawan Berawan dan hujan

ringan Berawan

10 Bekasi Berawan Berawan Berawan

Keterangan :

- Hujan ringan : 1.0 – 5.0 mm/jam 5 – 20 mm/hari

- Hujan sedang : 5.0 – 10 mm/jam 20 – 50 mm/hari

- Hujan lebat : 10 – 20 mm/jam 50 – 100 mm/hari

- Hujan sangat lebat : > 20 mm/jam > 100 mm/hari

Peringatan Dini : Potensi hujan dengan intensitas ringan-sedang yang disertai kilat/petir anatara

menjelang sore dan malam hari terutama diwilayah Jakarta Selatan, Barat dan Bogor.

IV. Prakiraan Gelombang Tinggi dan Potensi Hujan Lebat

Prakiraan gelombang tinggi berlaku mulai tanggal 12 Juni 2009 pukul 07:00 WIB sampai dengan tanggal 13 Juni 2009 pukul 19:00 WIB sebagai berikut :

- 2.0 – 3.0 m : Perairan utara Aceh, Perairan P.Rote, Laut Timor, Laut Banda, Perairan

selatan P. Buru dan P Seram, Perairan Kep.Kai, Perairan Kep. Tanimbar, Perairan selatan Kep. Aru, Perairan Merauke, Laut Arafuru

- 3.0 – 4.0 m : Laut Andaman, Samudera Pasifik Barat utara Papua

Sumber : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika

V. Lain – lain

A. Tanggapan Gempa Bumi

Sehubungan dengan telah terjadinya gempa bumi di Laut Banda, Provisni Maluku pada tanggal 10 Juni 2009, berikut ini disampaikan tanggapan dari Badan Geologi Departemen ESDM sebagai berikut:

1. Gempabumi terjadi pada hrai Rabu, tanggal 10 Juni 2009, pukul 09:52:53 WIB. Berdasarkan

informasi dari BMKG pusat gempabumi berasda pada kordinat 6,27°LS dan 128,45°BT, dengan magnito 5,5 SR pada kedalaman 277 km, berjarak 295 km tenggara Ambon. Sedangkan menurut USGS, pusat gempabumi berada pada koordinat 6,27°LS dan 128,29°BT, dengan magnitudo 4,8 Mw pada kedalaman 325,5 km. Menurut data dari Pos PGA Makian, lama gempabumi 137 detik dan menurut dat dari Pos PGA Gamalama, lama gempabumi 140 detik.

2. Konsisi geologi daerah terkena gempabumi

Pusat gempabumi berada dilaut Pulau Ambon, Buru dan Wetar, daerah yang terdekat dengan pusat gempabumi, sebagian besar disusun oleh batuan berumur Pra-Tersier yang telah terdeformasi secara kuat dan batuan sedimen berumur Tersier. Aluvium hanya terdapat disepanjang garis pantai.

3. Dampak gempabumi

Belum terdapat laporan mengenai kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh gempabumi ini.

(5)

5

4. Penyebab gempabumi

Adanya asosiasi dengan zona subduksi yang terjadi akibat proses penujaman antar lempeng Australia dengan lempeng Eurasia.

5. Rekomendasi

− Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas Satlak PB dan Satkorlak PB. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggungjawab mengenai gempabumi dan tsunami.

− Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

− Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami, walaupan gempabumi berpusat dilaut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu terjadinya tsunami.

B Kejadian Gempabumi

- Telah terjadi Bencana Gempa Bumi Tektonik pada hari Kamis, 11 Juni 2009 pada pukul 21.29.06 WIB dengan berkekuatan 5.2 SR pada kedalaman 30 Km, Pusat Gempa berada pada titik Koordinat 7.95 LS – 130.72 BT ( 66 km Barat Laut Saumlaki - Maluku ). Gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami dan belum di peroleh informasi adanya kerusakan dari dampak gempa tersebut.

Sumber : Badan Geologi, Departemen ESDM

Pengawas,

Mudjiharto, SKM, MM

Jakarta, 12 Juni 2009 Ketua Kelompok Piket,

Anis Harjoto, SH

Referensi

Dokumen terkait

LPKR memiliki indikator Stoc osc dan RSI mengindikasikan pola Uptrend, LPKR belum berhasil menembus Resistance di level harga 1020 sehingga terbuka peluang untuk menguji

Beberapa saran yang ditujukan sebagai bahan untuk pengembangan lebih lanjut sistem seleksi dan rekrutmen karyawan baru tahap awal di PT Multi Anugerah Lestari Texindo

Kondisi tersebut didasarkan pada volume tangki penyimpanan akan lebih kecil jika ammonia berfasa cair jika dibandingkan pada fasa uap untuk massa ammonia yang

Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa struktur keuangan merupakan perimbangan dari modal asing dan modal sendiri dan profitabilitas dalam hal ini yaitu Return On

Pemberian pupuk kascing dan NPK 16:16:16 diduga tidak cukup yang menyebabkan pertumbuhan tanaman menurun ini sesuai dengan pendapat Menurut Buckman (1969)

Oleh karena itu permohonan kami dalam petitum adalah kami mohonkan intinya bahwa dasar pembentukan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan

Kemudian berdasarkan pengujian hipotesis kedua menggunakan N-Gain score pada minat belajar peserta didik diperoleh nilai standart gain kelas eksperimen sebesar 0,41 yang

Dari berbagai data dan informasi yang telah dikumpulkan maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa dalam penelitian tentang perancangan alat pengingat pemasangan kunci ganda pada