MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 7 & 8/PUU-VIII/2010
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 27 TAHUN 2009
TENTANG MPR, DPR, DPD, DAN DPRD
DAN PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6
TAHUN 1954 TENTANG PENETAPAN HAK ANGKET
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
MENDENGARKAN KETERANGAN PEMERINTAH
(III)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 7&8/PUU-VIII/2010 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD dan Pengujian Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
PEMOHON
- Bambang Supriyanto, dkk. ACARA
Mendengarkan Keterangan Pemerintah (III) Rabu, 5 Mei 2010, Pukul 10.00 – 11.20 WIB
Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Moh. Mahfud MD (Ketua)
2) Achmad Sodiki (Anggota)
3) M. Arsyad Sanusi (Anggota)
4) Maria Farida Indrati (Anggota)
5) M. Akil Mochtar (Anggota)
6) Muhammad Alim (Anggota)
7) Harjono (Anggota)
8) Ahmad Fadlil Sumadi (Anggota)
Pihak yang Hadir: Pemohon:
- Bambang Supriyanto (Pemohon I) - Aryanti Artisari (Pemohon II) - Jose Dima Satria (Pemohon III) - Aristya Agung Setiawan (Pemohon IV) Pemerintah:
- Mualimin Abdi (Kasubdit Menkumham untuk Penyiapan, Pembelaan, dan Pendampingan dalam Persidangan MK)
- Cholilah (Direktur Litigasi Menkumham)
1. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi untuk mendengar keterangan Pemerintah dan DPR dalam Perkara Nomor 7 & 8/PUU/2010 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Silakan Pemohon untuk memperkenalkan diri dulu. 2. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Terima kasih. Nama saya Bambang Supriyanto, saya tinggal di jalan Jati Indah 1 Nomor 12, Jati Indah, Pangkalan Jati, Cinere, Depok, dalam kapasitas sebagai Pemohon dalam hal ini Pemohon I.
Terima Kasih.
3. PEMOHON II : ARYANTI ARTISARI
Terima kasih, Majelis Hakim yang terhormat. Nama saya Aryanti Artisari, dalam hal ini bertindak sebagai Pemohon II.
Terima kasih.
4. PEMOHON III : JOSE DIMA SATRIA
Saya Jose Dima Satria sebagai Pemohon III. 5. PEMOHON IV : ARISTYA AGUNG SETIAWAN
Terima kasih, saya Aristya Agung Setiawan sebagai Pemohon IV. 6. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Dari Pemerintah, silakan.
7. PEMERINTAH : MUALIMIN ABDI (KASUBDIT MENKUMHAM UNTUK PENYIAPAN, PEMBELAAN, DAN PENDAMPINGAN DALAM PERSIDANGAN MK)
Terima kasih, Yang Mulia.
Assalamualaikum wr. wb.
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB
Pemerintah hadir, saya sendiri Mualimin Abdi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sebelah kiri, Pak Agung Mulyana dari Kementerian Dalam Negeri, kemudian sebelah kirinya lagi Ibu Cholilah dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Terima kasih, Yang Mulia. 8. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Baik, saya kira tidak ada DPR, tidak ada Saksi dan tidak ada Ahli hari ini. Saya beri waktu kira-kira 5 sampai 10 menit untuk Pemohon untuk menyampaikan pokok-pokok permohonannya. Langsung saja pada pokok masalah dan petitumnya, pokok posita dan petitum.
Silakan.
9. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Terima kasih, Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi yang saya hormati. Inti daripada permohonan kami pada Perkara Nomor 7 adalah mengenai Pasal 77 ayat (3) Undung-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. Intinya adalah bahwa kami melihat apa yang terjadi dengan adanya pelaksanaan hak angket anggota DPR-RI itu tidak tepat menurut hemat kami karena seharusnya hak angket itu dilaksanakan pada pemerintah yang sama, artinya pada pemerintah yang satu masa bakti atau masa kerja.
Oleh karena itu kami melihat bahwa apabila ini dibiarkan atau keadaan seperti ini terus berlangsung maka akan terjadi suatu ketidakpastian hukum, dalam arti kata anggota DPR pada satu periode dapat saja akan mengajukan atau menggunakan hak angket mereka untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya entah kapan jauh di belakang. Nah, hal ini tentu dapat berakibat kepada…, ketidakpastian hukum ini dapat berakibat kepada permasalahan yang besar karena tentu akan memberikan ruang untuk kepentingan-kepentingan politik masuk ke sana, padahal kalau kita berbicara politik itu suatu hal yang tidak ada batasnya.
Oleh karena itu dalam konteks pemberlakuan hukum kami berpendapat bahwa seharusnyalah hak angket anggota DPR ini digunakan terhadap pemerintah yang sama dalam masa jabatannya. Hal ini terlihat di dalam secara logika bahwasanya fungsi DPR adalah fungsi legislasi, fungsi anggaran dan pengawasan. Saya ambil satu contoh fungsi anggaran, tentunya kewenagan DPR adalah menyetujui atau tidak menyetujui anggaran yang sejalan yaitu anggaran yang diajukan oleh pemerintah pada tahun yang sama atau pada periode yang sama.
Oleh karena itu konkretnya maka petitum kami adalah bersifat kondisional karena kami memang tidak bermaksud untuk menggagalkan atau membatalkan apa yang telah terjadi kemarin tentang legalitas hak
angket anggota DPR yang sudah terlaksana, telah selesai sekarang, namun kami lebih berpikir ke depan, dalam rangka beritikad baik agar supaya pelaksanaan hukum tata negara di Indonesia ini berlaku lebih mantap dan pada gilirannya akan menciptakan ketenteraman politik maupun dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Maka kami bacakan petitum yang kami sampaikan kepada Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi adalah yang pertama adalah tentu mengabulkan permohonan kami untuk seluruhnya. Dan yang kedua sifatnya kondisional, kami mohon agar Majelis Hakim Konsitusi yang kami muliakan menyatakan Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah berlaku secara konstitusional dengan syarat sepanjang hak angket Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan terhadap pemerintah dalam periode yang sama dengan DPR yang bersangkutan. Dan selanjutnya mohon agar putusan ini apabila dikabulkan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Demikian, Yang Mulia, kami sampaikan inti daripada permohonan kami, terima kasih.
10. KETUA : MOH. MAHFUD MD Baik, silakan yang nomor 8.
11. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Baik, Yang Mulia, kami lanjutkan dengan yang nomor 8. Nomor 8 inti permasalahannya adalah tentang keberlakuan uji materiil, keberlakukan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket DPR terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kami melihat bahwa pada saat ini ada 2 undang-undang yang sama-sama mengatur tentang Hak Angket Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 dan Undang-Undang 27 Tahun 1999 khususnya Pasal 77 ayat (3).
Nah, dalam hal ini alasan kami adalah…, atau argumentasi kami adalah mengingat atau berpedoman pada Aturan Peralihan Pasal 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Segala Peraturan Perundang-Undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”. Jadi jelas kita sama-sama tahu bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 itu dibuat pada masa Undang-Undang Dasar Tahun 1950, sehingga acuannya adalah undang-undang itu dibuat mengacu pada Undang-Undang Dasar Tahun 1950 dan itu sudah tidak relevan lagi dengan yang sekarang karena baik situasi politis maupun sosiologis sudah beda sama sekali.
Juga kalau kita mengacu kepada apa yang disampaikan oleh Hans Kelsen mengenai keberlakuan suatu undang-undang bahwa ada hierarki perundang-undangan di sana, bahwa hierarki undang-undang yang di
bawah mengacu kepada yang di atasnya. Tentu dalam hal ini undang-undang ini sudah tidak sejalan karena undang-undang-undang-undang ini tidak mengacu kepada Undang-Undang Dasar 1945 yang sekarang ini sedang berlaku. Dan tentu yang berlaku adalah undang-undang yang mengatur hak angket adalah pada Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999.
Tambahan lagi, bahwa kami mendapatkan sejumlah perbedaan-perbedaan yang tidak akan kami sampaikan secara rinci di sini yang menimbulkan dualisme, bahkan pertentangan dan inskostinstensi dan hal ini tentu berpulang juga nanti akan menimbulkan suatu masalah-masalah politik yang dapat berdampak pada kerugikan konstitusional kami dalam hal ini.
Oleh karena itu petitum kami langsung saja, kami melihat juga bahwa kalau ditinjau dari segi mudharat atau manfaat maka akan lebih banyak manfaatnya untuk kemudian menyatakan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat daripada masih tetap mempertahankan undang-undang tersebut, akan menimbulkan mudharat karena berpotensi menimbulkan konflik atau pertentangan-pertentangan berpendapat dalam hal ini.
Oleh karena itu permohonan kami dalam petitum adalah kami mohonkan intinya bahwa dasar pembentukan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat tidak memenuhi ketentuan sebagaimana yang ditetapkan Undang-Undang Dasar 1945 ketentuan mana sebagaimana diatur dalam Pasal 57 ayat (2) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi. Oleh karenanya kami mohon agar Majelis Hakim Konstitusi yang terhormat menyatakan bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Petitum kami berikutnya adalah atau setidak-tidaknya dimohon agar Majelis Hakim Konstitusi yang terhormat menyatakan bahwa seluruh ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat yang bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak berlaku.
Demikian, Yang Mulia, kami sampaikan hal tentang Perkara Nomor 8 yang dimohonkan kepada Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi.
Terima kasih.
12. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Baik, saya kira sudah jelas ya, dari Pemerintah untuk memberi keterangan bahwa ada 2 undang-undang yang diuji, satu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 itu diminta dinyatakan tidak berlaku, artinya tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Lalu
Undang-Undang yang MD 3 itu diminta Pasal 77 ayat (3) yang diminta sekurang-kurangnya conditionally constitutional (konstitusional bersyarat).
Nah, untuk itu silakan kepada Pemerintah untuk memberikan keterangan atas permohonan ini.
13. PEMERINTAH : AGUNG MULYANA (STAF AHLI KEMENTERIAN DALAM NEGERI)
Assalamualaikum wr. wb.
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.
Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim Konstitusi, sehubungan permohonan pengujian (judicial review, constitutional review) seluruh materi muatan norma Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket, dan ketentuan Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (untuk selanjutnya disebut UUD 1945), yang dimohonkan oleh Dr. Bambang Supriyanto, S.H., M.M., Aryanti Artisari, S.H., M.Kn., Jose Dima Satria, S.H., M.Kn., Aristya Agung Setiawan, S.H., M.Kn., yang beralamat di Jakarta Selatan, untuk selanjutnya disebut sebagai Para Pemohon. Sesuai Registrasi di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Nomor 7 dan 8/PUU-VIII/2010 tanggal 1 dan 8 Februari, Pemerintah menyampaikan keterangan/penjelasan sebagai berikut:
Pertama tentang Pokok Permohonan Para Pemohon dapat diringkaskan sebagai berikut, bahwa menurut Pemohon terdapat inkonsistensi mengenai dasar hukum pelaksanaan hak angket, hal ini karena dualisme pengaturan tentang hak angket Dewan Perwakilan Rakyat, yaitu dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket dan dalam ketentuan Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD.
Menurut para Pemohon, ketentuan Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menurut Pemohon terlihat pada pelaksanaan kegiatan Panitia Angket kasus Bank Century yang dilaksanakan oleh DPR periode 2009-2014 terhadap pemerintahan periode 2004-2009.
Menurut para Pemohon bahwa para Pemohon berpendapat bahwa fungsi anggaran dilaksanakan bersama dengan pemerintah, begitu pula fungsi pengawasan dilaksanakan oleh DPR terhadap pemerintah. Menurut para Pemohon, Pemerintah yang dimaksud adalah pemerintah yang masa jabatannya sama dengan periode masa jabatan DPR yang bersama-sama melaksanakan fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Demikian juga hak angket yang dimiliki oleh anggota Dewan Perwakilan
Rakyat menurut Pemohon hanya bisa ditujukan kepada pemerintah yang masa jabatannya sama dengan periode anggota DPR yang memiliki hak angket tersebut. Dengan demikian hak angket hanya berlaku untuk DPR dan pemerintah dalam periode yang sama.
Selain itu menurut Para Pemohon terdapat pelanggaran konstitusi dan pelanggaran yang bersifat masive dan sistematis dalam pelaksanaan hak angket oleh DPR periode 2009-2014 tersebut, yaitu antara lain : • Pertama, tidak menjunjung prinsip hukum persamaan di muka hukum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, terbukti dalam pemeriksaan saksi-saksi tidak memperlakukan saksi yang mempunyai kedudukan hukum sama dengan anggota Pansus Angket. • Menurut Pemohon, para saksi yang dipanggil tidak mendapat
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum, terbukti sebagian anggota Pansus Angket memeriksa saksi tanpa mengenal batas waktu dengan cara-cara bertanya dan meminta klarifikasi dengan tidak sopan bahkan memaksakan agar jawaban para saksi harus sesuai dengan kehendak para anggota DPR yang bertanya. Hal ini jelas melanggar hak asasi manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.
• Selanjutnya menurut para Pemohon, sebagian para saksi sangat direndahkan kehormatan, martabat dan derajadnya. Terlihat bahwa Profesor Doktor Budiono sebagai simbol negara, yaitu Wakil Presiden Republik Indonesia diperlakukan semena-mena yang dapat menyinggung kehormatan dan martabat Bangsa Indonesia yang dikenal memiliki kearifan, sopan santun, dan ramah tamah. Hal ini jelas melanggar Hak Asasi Manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28G ayat (1) dan (2) UUD 1945.
• Dalam pelaksanaan hak angket menurut para Pemohon, sebagian besar anggota Pansus Angket tidak menghormati Hak Asasi orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini terbukti bahwa hak angket terhadap pemerintahan periode 2004-2009 adalah hak dari anggota DPR periode 2004-2009 dan bukan hak anggota DPR periode 2009-2014. Hal ini jelas bertentangan dengan Pasal 28J ayat (1) UUD 1945.
Singkatnya menurut para Pemohon, penafsiran dan pelaksanaan Pasal 77 ayat (3) harus ditafsirkan dan dilaksanakan oleh anggota DPR periode 2009-2014 terhadap pemerintahan periode 2009-2014, bukan terhadap pemerintahan periode 2004-2009. Pelaksanaan dan penafsiran yang dilakukan oleh anggota DPR periode 2009-2014 dengan pembentukan Pansus Angket Bank Century jelas merugikan hak konstitusional para Pemohon menurut para Pemohon tersebut yang berkedudukan sebagai pendukung pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009 dan periode 2009-2014. Oleh karenanya menurut para Pemohon dianggap bertentangan dengan ketentuan Pasal 6A ayat (2), Pasal 7, Pasal 20A ayat (1) dan (2), Pasal
22E ayat (1) dan (2), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28G ayat (1) dan (2), serta Pasal 28J ayat (1) UUD 1945.
Tentang Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon. Berkaitan dengan kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon, Pemerintah berpendapat bahwa hak angket sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket maupun Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD khususnya sebagaimana diatur dalam Pasal 77 ayat (3) adalah hak Dewan Perwakilan Rakyat sebagai institusi lembaga negara, yang perwujudannya dilakukan oleh anggota DPR sebagai pihak pengusul (inisiatif) untuk melaksanakan hak angket tersebut.
Namun demikian, Pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim Konstitusi untuk mempertimbangkan dan menilainya apakah para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) atau tidak, sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi maupun berdasarkan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi terdahulu (vide Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007).
Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi,
Bahwa sejak dilakukannya perubahan terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945, telah terjadi perubahan yang mendasar dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. Perubahan dilakukan agar prinsip checks and balances dalam sistem ketetanegaraan Indonesia dapat diwujudkan secara optimal, sehingga terjelma kesetaraan kedudukan di antara lembaga-lembaga negara seperti MPR, DPR, Presiden dan Mahkamah Konstitusi dan lain-lain.
Bahwa dengan terjadinya perubahan dan penataan ulang sistem ketatanegaraan tersebut, maka telah terjadi pula perubahan dan peningkatan terhadap fungsi Dewan Perwakilan Rakyat, utamanya
fungsi pengawasan terhadap jalannya roda pemerintahan secara efektif; Bahwa hak-hak parlemen atau lembaga perwakilan rakyat dapat dibedakan antara hak kelembagaan atau hak institusional parlemen dengan hak individual anggota parlemen. Hak-hak parlemen sebagai lembaga perwakilan dilaksanakan oleh alat-alat kelengkapan parlemen sedangkan hak-hak individual dilaksanakan sendiri-sendiri oleh anggota parlemen sebagai pejabat negara. Hal-hal yang dikaitkan sebagai hak kelembagaan parlemen adalah hak yang dibutuhkan untuk melaksanakan kewenangan yang terkait dengan fungsi legislasi, fungsi pengawasan dan fungsi penganggaran. Secara yuridis Undang-Undang Dasar Tahun 1945 memberikan jaminan yang sangat kuat bagi kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat dalam melaksanakan fungsi-fungsi tersebut. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 20A ayat (2) dan ayat (3) menyediakan instrumen-instrumen berupa hak-hak yang dapat digunakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam menjalankan
fungsi tersebut, yaitu hak interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat, hak mengajukan pertanyaan, hak menyampaikan usul dan pendapat, serta hak imunitas.
Bahwa menurut ketentuan Pasal 20A ayat (4), ketentuan lebih lanjut tentang hak Dewan Perwakilan Rakyat dan hak anggota Dewan Perwakilan Rakyat tersebut diatur dalam undang-undangnya. Dalam kenyataannya, Undang-Undang tentang hak Dewan Perwakilan Rakyat dan Hak Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sampai saat ini belum diatur dalam undang-undang yang khusus mengatur hak-hak tersebut. Ketentuan mengenai hak DPR dan hak anggota DPR itu baru diatur sebagian sebagai bagian dari Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. Sedangkan mengenai Hak Angket
telahdiatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954.
Bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat memang betul berasal dari zaman pemerintahan sistem pemerintahan parlementer di bawah UUD Sementara Tahun 1950, namun sampai sekarang belum pernah dicabut. Mahkamah Konstitusi melalui putusannya tanggal 26 Maret 2004 menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tersebut masih berlaku berdasarkan ketentuan Pasal I Aturan Peralihan UUD 1945. Namun demikian, penerapannya tentu harus mempertimbangkan sistem pemerintahan presidensial yang kini berlaku di bawah UUD 1945.
Kedudukan Panitia Angket DPR sesungguhnya sangat kuat dilihat dari sudut hukum. Dalam sistem parlementer, keberadaan panitia angket tidaklah otomatis bubar dengan pembubaran parlemen. Seperti kita maklum dalam sistem parlementer, Pardana Menteri dapat membubarkan parlemen setiap waktu dan menentukan kapan akan diselenggarakan pemilihan umum. Meskipun parlemen dibubarkan, panitia angket terus bekerja sampai terbentuknya parlemen yang baru, yang akan menentukan nasib panitia angket tersebut. Dalam sistem presidensial, hal ini tidak mungkin terjadi, kecuali Presiden telah berubah menjadi diktator dengan membubarkan DPR. Suatu hal yang dapat dijadikan sebagai pegangan dari ketentuan UU Nomor 6 Tahun 1954 yang relevan dengan situasi sekarang ialah pekerjaan panitia angket tidaklah terhalang oleh adanya reses dan penutupan masa sidang.
Hak-hak DPR yang diatur dalam Pasal 77 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD merupakan penjabaran dari ketentuan Pasal 20A ayat (2) UUD Tahun 1945 yang menyatakan dalam melaksanakan fungsinya, selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain Undang-Undang Dasar ini, Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat. Artinya hak angketdalam Pasal 20A ayat (1) merupakan hak DPR dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagaimana disebutkan dalam Pasal 20A ayat (1), yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Dengan demikian, hak angket merupakan salah satu hak DPR yang dapat dijadikan sebagai sarana dalam melaksanakan
fungsinya mewujudkan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang demokratis menurut UUD Tahun 1945.
Bahwa diberikannya hak angket kepada DPR oleh UUD Tahun 1945 agar prinsip checks and balances dan prinsip kesetaraan kedudukan di antara lembaga negara terjaga dengan baik, sehingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dapat melakukan pengawasan terhadap pemerintah dan sejalan dengan prinsip checks and balances dalam sistem ketatanegaraan Indonesia tersebut, dianut pula sistem demokrasi dan accountability. Prinsip accountability berarti adanya pertanggungjawaban dari pihak yang diberi mandat untuk memerintah, kepada mereka yang memberi mandat. Dalam hal ini rakyatlah yang memberikan kekuasaan kepada pemerintah untuk memerintah dan karenanya bertanggung jawab kepada rakyat. Dalam konteks ini sebagai lembaga yang merupakan representasi dari kedaulatan rakyat. Dalam pandangan Miriam Budiardjo, accountability atau pertanggungjawaban dari pihak pemerintah kepada rakyat merupakan suatu keharusan, bahkan sebagai syarat mutlak dari konsep kedaulatan rakyat. Dengan demikian, dalam suatu negara yang menganut faham atau asas kedaulatan rakyat, terselenggaranya accountability merupakan suatu keniscayaan.
Secara yuridis Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 Pasal 77 ayat (3), merumuskan pengertian Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Pengertian hak angket yang dirumuskan dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Ensiklopedi Indonesia serta Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 mengandung perbedaan cukup signifikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskan pengertian hak angket dalam cakupan yang sangat luas, meliputi seluruh kegiatan pemerintah dan Ensiklopedi Indonesia merumuskan pengertian hak angket hanya terbatas pada hal-hal yang sebelumnya telah disepakati bersama antara DPR dan Pemerintah yang dalam pelaksanaanya dilakukan dengan cara menyimpang oleh pemerintah. Terakhir secara yuridis pengertian hak angket mencakup atas 2 hal, yakni pertama berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang, kedua berkaitan dengan kebijakan Pemerintah berkaitan dengan hal-hal penting, strategis dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat.
Berkaitan dengan kebijakan pemerintah sebagai bagian dari cakupan hak angket muncul pertanyaan, apakah DPR boleh menilai kebijakan pemerintah? Mengenai hal ini timbul perbedaan pendapat dan perdebatan. Pendapat pertama menyatakan kebijakan pemerintah tidak dapat dinilai DPR karena untuk memecahkan hal-hal penting, strategis dan berdampak luas pada kehidupan masyarakat, pemerintah diberikan kewenangan berupa ruang kebijaksanaan untuk menyelesaikannya.
Sebaliknya pendapat kedua menyatakan, DPR dapat menilai kebijakan pemerintah, sebab meskipun kepada pemerintah diberikan ruang kebijakan untuk menyelesaikan hal-hal penting, strategis dan berdampak luas pada kehidupan masyarakat, namun penggunaan kebijakan itu tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Saya lanjut pada Kesimpulan.
Berdasarkan penjelasan di atas, Pemerintah selanjutnya memohon kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang memeriksa, memutus, dan mengadili permohonan pengujian tentang Undang Hak Angket Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket maupun Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD kiranya dapat memberikan putusan yang bijaksana dan seadil-adilnya.
Atas perhatian Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dengan ini kami mengucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.
14. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Terima kasih. Dengan demikian keterangan dari Pemerintah, nah untuk itu sebelum ke Majelis Hakim kalau nanti ada, saya persilakan Pemohon punya tanggapan balik atau pertanyaan tidak kepada apa yang disampaikan oleh Pemerintah tadi?
15. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Terima kasih, Yang Mulia. Saya hanya akan menyampaikan 4 poin saja, menanggapi dan mengklarifikasi tentang apa yang disampaikan oleh Wakil dari Pemerintah baru saja.
Pertama adalah tadi dikatakan bahwa Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan putusan yang menyatakan bahwa tentang Undang-Undang Hak Angket DPR yang berlaku adalah Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954. Saya memang mempelajari secara khusus tentang itu dan itu ternyata terdapat pada Perkara Nomor 014/PUU-I/2003, perkara yang diajukan oleh O.C. Kaligis, S.H. dan kawan-kawan. Dimana sebetulnya hal tersebut itu bukan merupakan putusan Mahkamah Konstitusi karena putusan Mahkamah Konstitusi terhadap permohonan tersebut justru menolak permohonan para Pemohon, namun di sana diselipkan, Mahkamah Konstitusi perlu memberikan pendapat. Jadi bukan dalam putusan.
Jadi mohon diperiksa lagi dokumen otentik, saya bawa copy-nya di sini atas Perkara Nomor 014/PUU-I/2003. Waktu itu yang dimohonkan adalah mengenai pengujian atas Pasal 30 ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk, waktu
itu. Intinya adalah tentang Kewenangan Pemanggilan Secara Paksa, waktu itu dan permohonan itu ditolak, tidak dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi.
Namun, meskipun menolak, di sini dikatakan menimbang bahwa walaupun permohonan para Pemohon tidak dapat diterima, namun Mahkamah Konstitusi perlu memberikan pendapat mengenai pokok perkara a quo sebagai berikut dan seterusnya-dan seterusnya, dan dibagian di sana mengatakan bahwa dengan berpegang pada ketentuan Pasal 1 dan 2 aturan peralihan UUD 1945, maka yang dimaksud dalam perkara a quo adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat.
Jadi tidak menyatakan bahwa itu berlaku atau tidak berlaku dan itu juga bukan suatu putusan Mahkamah Konstitusi, itu yang pertama. Perlu saya koreksi sedikit lagi, sedikit saja bahwa konstruksi Undang-Undang Dasar 1945 memang tidak memberikan kewenangan kepada Presiden untuk membubarkan DPR. Dan itu tertuang dalam Pasal 7C Undang-Undang Dasar 1945.
Secara eksplisit di sana dikatakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden tidak berwenang membubarkan DPR. Jadi sudah diamanatkan sedemikian rupa. Nah, di sini justru terdapat suatu kontradiksi yang jelas antara suatu konstruksi yang berdasarkan pada parlementer sebagaimana diatur dalam UUDS Tahun 1950 dimana parlemen bisa jatuh-bangun dan sebagainya, dan Presiden dengan mudah membubarkan parlemen, maka memang menjadi seperti itu. Itu maksudnya adalah bahwa pekerjaan DPR yang tidak dirampungkan dalam satu periode, bisa sambung terus pada DPR-DPR berikutnya. Tapi yang seperti ini tidak dimungkinkan dalam konstruksi Undang-Undang Dasar 1945. Dimana konstruksinya atau konfigurasinya adalah pasti DPR ini adalah berhadapan dengan pemerintah ini, tidak ada silang-silang seperti itu.
Yang ketiga adalah, kami berpendapat tidak perlu adanya suatu pernyataan dicabut undang-undang. Karena sudah berdasarkan pada Undang-Undang Dasar 1945 aturan peralihan Pasal 1 UUD 1945 secara tegas mengatakan bahwa suatu undang-undang atau pengadilan intinya tetap berlaku sebelum…, saya bacakan saja supaya tidak keliru. “Aturan Peralihan Pasal 1 UUD 1945 berbunyi, segala peraturan perundang-undangan yang ada,” saya ulangi, “…segala peraturan perundang-undangan yang ada,” jadi tidak hanya undang-undang malah,
“…peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama masih belum diadakan yang baru,” menurut Undang-Undang Dasar ini.
Kami berpendapat, pengaturan Hak Angket itu diatur oleh Undang-Undang Tahun 2009. Satu lagi, mungkin koreksi saya adalah bahwa tidak benar, tidak ada aturan sama sekali yang mengatur tentang Hak Angket. Karena aturan itu tertuang dalam Tata Tertib DPR. Dimana di sini dinyatakan pada Pasal 166, 167, pada Tata Tertib DPR sangat rinci, 168, 169, dan seterusnya. Sehingga kalau saya lihat, mekanisme
pengaturan pelaksanaan Hak Angket yang lalu, itu merujuk pada TataTertib ini.
“Tata cara pelaksanaan Hak Angket demikian,” saya bacakan sedikit, Tata Tertib DPR bagian III, tata cara pelaksanaan Hak Angket Pasal 166. “Hak Angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 huruf b diusulkan oleh paling sedikit 25 orang. Dan ini pula yang diiacu untuk menentukan minimal 25 orang untuk dapatnya Hak Angket itu berjalan.”
Jadi ada acuannya.
Jadi saya tidak sependapat bahwa belum ada aturan sama sekali. Ada pedomannya. Jadi saya kira itu, jadi 4 poin, Yang Mulia saya sampaikan untuk menanggapi dan mengklarifikasi tentang apa yang disampaikan oleh Pemerintah. Terima kasih.
16. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Masih ada dari Pemohon? Cukup Ya. 17. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Cukup, Yang Mulia, terima kasih. 18. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Baik, saya persilakan Pemerintah, atau Hakim, sekaligus dari Majelis hakim ya, biar satu paket menjawab nanti. Pak Akil Mochtar, Pak Alim, Pak Harjono, Pak Fadlil, laris juga ada 4 penanya. Silakan Pak Akil. 19. HAKIM ANGGOTA : M. AKIL MOCHTAR
Kepada Pemerintah, ya. Hari ini jawabannya agak datar-datar saya lihat. Bahkan agak kurang menyentuh substansi daripada persoalan yang diajukan oleh Pemohon, tapi ini soal konstitusionalitas. Oleh karenanya pertanyaan saya di dalam permohonan yang nomor 7 itu argumentasi tentang bahwa hak-hak DPR itu sudah diatur di dalam Undang-Undang MD3 ini, yang juga sepanjang yang menyangkut hak angket, di bagian ke sepuluh tentang Pelaksananan Hak DPR dimulai dari paragraf I itu mengenai Hak Interpelasi, kemudian paragraf II itu mengenai Hak Angket, kemudian paragraf III itu berkenaan dengan Hak Menyatakan Pendapat. Yang kesemuanya di dalam aturan itu menyatakan setelah pengajuan, kuorum dan seterusnya, itu memerintahkan bahwa hak-hak itu, tata cara pelaksanaan hak interpelasi, itu kalau berkaitan dengan interpelasi tata cara yang berkenaan dengan hak angket dan seterusnya itu diatur dengan peraturan tata tertib DPR.
Sehubungan dengan itu, menurut Pemerintah bahwa apakah setiap hak-hak DPR yang disebut hak DPR ya, bukan hak anggota, yang
disebutkan di dalam Pasal 20A ayat (2) itu harus dengan undang-undang tersendiri? Ini untuk mempertajam kembali argumentasi pemerintah. Apakah harus dengan undang-undang sendiri? Karena di dalam Pasal 20A ayat (4) itu, “Pelaksanaan hak-hak dewan dan hak anggota dewan, selanjutnya diatur dalam undang-undang.” Ini pengertian dalam dengan itu juga bisa menimbulkan perdebatan yang panjang, itu yang pertama yang kaitannya dengan nomor 7.
Sedangkan yang nomor 8, mengenai posisi undang-undang angket itu sendiri, ini memang tidak banyak dijawab oleh Pemerintah. Dari sisi urgensi pemuatan atau materi norma yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 ini, itu juga sebagian besar materinya sudah diakomodir di dalam undang-undang tentang MD3 itulah. Yang termasuk juga hak menyandera orang yang tidak hadir di dalam Undang-Undang Hak Angket ini, yang diperintahkan kepada Ketua Pengadilan Negeri itu juga sudah diatur di dalam peraturan tata tertib DPR yang menyatakan bahwa DPR dapat meminta kepada aparat penegak hukum untuk melakukan upaya paksa. Sekarang ini bahasanya sudah dielaborasi, terhadap pihak-pihak yang dengan sengaja tidak mau menghadiri panggilan yang dilakukan oleh DPR.
Nah DPR diwakili oleh Komisi, sebagai alat kelengkapan kerja, oleh Pansus sebagai kelengkapan kerja itu persoalannya lain lagi. Tetapi bahwa hak itu sudah diberikan. Kemudian dari sisi yang lain memang di dalam Undang-Undang tentang Hak Angket ini sedemikian rupa memberi perintah kepada Ketua Pengadilan Negeri, Kepala Kejaksaan, dan sebagainya yang dalam pelaksanaan tugas hak-hak angket itu sendiri juga tidak banyak dipakai.
Dari substansi materi yang demikian, menurut saya apakah hal-hal yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 27 mengenai hak-hak dewan, pelaksanaan hak-hak dewan, kemudian diatur secara utuh di dalam peraturan tata tertib itu belum dianggap cukup untuk bisa mengimplementasikan hak-hak dewan itu? Karena ini perlu ada sebuah
statement dari pemerintah. Kalau asumsi berpikirnya bahwa hak-hak itu harus diatur lagi, apakah Undang-Undang 27 itu plus peraturan tata tertib itu belum mencukupi sebagai sarana pengganti daripada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954?
Saya kira itu, Pak. Terima kasih. 20. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Hakim Harjono.
21. HAKIM ANGGOTA : HARJONO Terima kasih, Pak Ketua.
Saya ingin klarifikasi konsistensi dari Pemohon, pada saat mempermasalahkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954.
Tadi dari penjelasan-penjelasan, yang disampaikan oleh Pemohon adalah karena substansi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 itu sudah ada sekarang, baik untuk Tatib DPR maupun juga di Undang-Undang MD-3, disebut tadi Tatib DPR-nya bagaimana? Dibacakan dalam menggunakan hak angket itu, lalu juga di MD-3. Jadi sebetulnya di sini seolah-olah ada dua hukum yang berlaku, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 satu pihak, di pihak lain produk setelah perubahan Undang-Undang Dasar Peraturan Tatib DPR dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 27.
Kalau itu yang dimasalahkan, berarti ini kan persoalannya menyangkut persoalan substansi. Ada beda yang diatur dulu, ada beda yang diatur sekarang. Tapi justru konon permohonan Pemohon ini terhadap permohonan Para Pemohon terhadap kedudukan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 adalah pembentukkan yang dimasalahkan. Apa dikatakan dasar pembentukan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tidak memenuhi ketentuan sebagai ditetapkan Undang-Undang Dasar, ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 57 ayat (2) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, itu merujuk tentang pembentukkan yang tidak konsisten. Di sini bicara masalah pembentukkan, argumentasinya secara lisan bicara persoalan substansi yang berbeda.
Kedua, persoalan baik nomor 7 maupun nomor 8. Dua-duanya sebetulnya ingin membatasi atau yang nomor 7 ingin membatasi berlakunya ketentuan Pasal 77 tidak untuk DPR. Artinya harus sejajar DPR sekarang berhadapan dengan Pemerintah yang sekarang, dan didasarkan beberapa ketentuan Undang-Undang Dasar yang kemudian dihubungkan dengan legal standing. Legal standing dari Pemohon ini merujuk pasal.., banyak pasal yang berhubungan langsung dengan Pemohon sebetulnya Pasal 28D ayat (1), Pasal 22H ayat (1). Yang lain itu berbunyi tentang pemilihan umum, DPR, Presiden, kemudian juga hal yang mengatur mengenai DPR juga.
Bagaimana Pemohon membangun argumentasi legal standing? Apakah hanya karena posisi Pemohon sebagai pendukung saja, lalu ketentuan Pasal 28D ayat (1) itu kemudian dilanggar? Ketentuan Pasal 28E ayat (1) juga dilanggar. Kalau Pemohon bukan pendukung maka tidak ada persoalan dengan hak-hak konstitusional yang ada pada Pasal 24D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, 28H ayat (1), 28D itu “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Apakah ketentuan mengenai Pasal 77 itu tidak menyebabkan Anda diakui, dijamin, dilindungi, kepastian hukumnya serta perlakuan yang sama di hadapan hukum?
Sebetulnya yang diperlakukan ini bukan Anda, juga demikian Pasal 28H ayat (1) hidup sejahtera lahir batin bertempat tinggal. Bagaimana itu kemudian diganggu oleh pelaksanaan Pasal 77, apakah orang lain juga dalam keadaan yang sama karena ini haknya adalah setiap orang diganggu juga dengan adanya ketentuan.
Kalau kita lihat mengenai hak angket ini hubungannya antara Pemerintah dan DPR. Dengan penggunaan Pasal 77 itu menurut Anda seolah-olah itu maka akan mengganggu kinerja Pemerintah sekarang yang padahal itu seharusnya menjadi urusan Pemerintah sebelumnya, dengan DPR sebelumnya. Kalau itu kemudian diterapkan pada Pemerintah sekarang maka itu kepentingan pemerintahlah yang ada di situ. Kalau konstruksinya seperti itu dan itu dikuatkan dengan dalil-dalil hak-hak yang Anda sebut sebagai konstitusional 1, 2, 3, 4, apakah persoalan ini bukan persoalan antar lembaga negara ini? Misalnya Pemerintah saat ini kok dikenai hak angket oleh DPR saat ini yang sebetulnya urusan Pemerintah masa lalu. Oleh karena itu apa berkaitan apa bukan dengan penggunaan kewenangan DPR yang sebetulnya kalau Pemerintah mau jelas itu tidak boleh dilakukan, karena itu adalah Pemerintah masa lalu. Maka kalau objectum litis-nya di situ soal kewenangan hak angket, maka sebetulnya ini bisa menjadi persoalan.., menjadi perkara sengketa kewenangan lembaga negara, bukan sengketa pengujian undang-undang.
Dalam posisi itu tolong dijelaskan bahwa Pemohon bisa mempunya legal standing kalau dikaitkan dengan hal-hal itu.
Terima kasih Pak Ketua.
22. KETUA : MOH. MAHFUD MD Berikutnya Pak Fadlil.
23. HAKIM ANGGOTA : AHMAD FADLIL SUMADI
Pertanyaan ini saya tujukan kepada Pemerintah yang memang untuk kali ini tidak banyak menukik kepada persoalan-persoalan yang substansif, begitu ya? Terutama saya lihat di sini adalah kaitannya dengan Pasal 77 ayat (3) tentang Hak Angket yang dimana argumentasi Pemohon, itu sebenarnya didasarkan kepada persyaratan dalam pemahaman dalam implementasi tentunya yang sebagaimana sekarang ini terjadi, dia mengharapkan syarat itu adalah kesamaan periode. Jadi hak angket yang dipunyai oleh DPR sekarang seharusnya digunakan untuk Pemerintah periode sekarang. Ini justru, ini yang paling subtansif ini, terkait dengan permohonan pengujian Pasal 77 ayat (3) itu, akan tetapi justru tidak ada jawaban Pemerintah, maaf bukan jawaban ya? Keterangan Pemerintah terkait dengan ini. Ini oleh karena kalau kita melihat siapa yang menjadi presidennya, sebenarnya justru sama. Presiden pada periode sebelumnya itu ya Pak SBY, Presiden sekarang ini juga Pak SBY. Kalau toh misalnya terkait dengan soal Menteri atau soal Gubernur Bank Indonesia, bagaimana pandangan Pemerintah melihat yang terjadi sekarang ini justru terkait dengan pembantu-pembantunya di masa lampau dan sekarang.
Inilah yang saya mohonkan, bagaimana pandangan Pemerintah terkait dengan itu? apakah itu masih ada dalam ruang lingkup periode yang sama atau seperti Pak Hakim Harjono tadi memandang, apakah ini tidak melihat sebagai fungsi dari satu lembaga sehingga kapanpun seharusnya dapat dijalankan atau apa pandangan Pemerintah dalam hal ini belum ada.
Terima kasih.
24. KETUA : MOH. MAHFUD MD Terakhir Pak Alim.
25. HAKIM ANGGOTA : MUHAMMAD ALIM Terima kasih Pak Ketua.
Ini saya tujukan kepada Pemohon, mungkin ini kesalahan terminologi saja yang halaman 5 permohonannya angka 3.
26. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Maksud saya perkara nomor berapa Yang Mulia? 27. HAKIM ANGGOTA : MUHAMMAD ALIM
Nomor 8. Di situ Saudara mengatakan, di baris keempat dari angka 3 itu ‘tercantum dalam dalam amar, mengingat.” Amar itu adalah perintah atau diktum, mengingat itu adalah dasar hukum. Mungkin kekeliruan teknis saja itu. Karena di atas, di permulaan bahwa dasar hukum memang benar kalau dasar hukum kalau mengingat, itu dasar hukum kalau menimbang (suara tidak jelas), itu satu.
Sekarang begini, berdasarkan ketentuan Aturan Peralihan, Pasal I, “segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.”
Yang oleh Pemohon tadi dikatakan karena sudah ada undang-undang baru ya ini sudah tidak berlaku. Tetapi jikalau kita membaca Pasal 77 ayat (3), saya baca, “hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan dan seterusnya, seterusnya.” Itu ketentuan demikian redaksinya dan penjelasnnya itu yang dimaksud itu adalah diantaranya pelaksanaan satu undang-undang atau kebijakan Pemerintah (suara tidak jelas). Kalau kita melihat Pasal 77 ayat (3) yang Saudara minta juga supaya di drop menurut permohonan nomor 7 dan kita kaitkan dengan Peraturan Peralihan, apakah Pasal 77 itu sudah cukup rinci untuk melaksanakan hak angket itu sebagaimmana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 itu? Karena tata cara atau mekanisme pelaksanaanya itu tidak rinci diatur di sini, sedangkan kita menurut Aturan Peralihan, masih tetap
berlaku selama belum diadakan yang baru menurut undang-undang ini, meskipun ada ini tapi belum merinci aturan-aturan yang detail, bagaimana pendapat Saudara?
Terima kasih, Bapak Ketua.
28. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Baik masih ada lagi? Hakim Arsyad Sanusi. 29. HAKIM ANGGOTA : M. ARSYAD SANUSI
Saudara Pemohon, Kuasanya ya, sebagai Pemohon warga negara, ini Perkara Nomor 8, registrasi Nomor 8, Saudara mengajukan permohonan ini adalah seluruh norma Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954. Seluruh norma, tapi kalau kita lihat alasan Saudara, alasan-alasan hukum Saudara tentang…, itu berbicara tentang pemakzulan, bagaimana ini? Kalau seluruh norma berarti termasuk proses pembentukannya, tetapi uraian alasan-alasan hukum ini bicara tentang ini merugikan Bapak Susilo Bambang Yudoyono, Professor Budiono, dan lain sebagainya. Empat alasan yang Saudara kemukakan di sini berbicara tentang pemakzulan. Itu bagaimana itu?
Nah, juga tidak ada rincian norma. Bagaimana ini? Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954. Ini mohon sedikit penjelasan, gambaran tentang itu, terima kasih Bapak Ketua.
30. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Cukup ya dari Hakim. Saya persilakan Pemohon saja dulu, ya seumpama tidak bisa dijawab sekarang, nanti tertulis bagian-bagian tertentu bisa tertulis kalau perlu data lebih akurat secara umum, silakan. 31. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Terima kasih Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Konstitusi, saya akan menjawab pertanyaan dari Yang Mulia Hakim Harjono mengenai masalah dikatakan inkonsistensi. Jadi, di pertanyaan tadi mengenai adanya dua undang-undang yang berlaku. Tapi sebetulnya di dalam permohonan kami juga dinyatakan bahwa yang kami soal itu adalah mengenai formal pembentukan. Formal pembentukan daripada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 yang mengacu kepada Undang-Undang-Undang-Undang Dasar Sementara atau 1950.
Adapun adanya sekarang ini ada 2 undang-undang yang berlaku adalah merupakan dampaknya saja, tapi isu yang pertama yang kami mohonkan di sini adalah sebagaimana Berdasarkan kepada Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi bahwa di sana dalam permohonan sebagaimana…, Pemohon wajib menguraikan dengan jelas
bahwa a ayat (3) a pembentukan undang-undang tidak memenuhi ketentuan Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Jadi ini yang kami tekankan sebetulnya pada undang-undang lama dan juga ada di dalam posita kami ada di sana. Adapun Inkonsistensi adalah merupakan dampak karena adanya 2 undang-undang yang berlaku pada saat itu.
Yang kedua adalah tentang legal standing kami Pemohon, apakah Anda Pemohon terganggu demikian inti pertanyaannya, dengan berlakunya Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang 2 Tahun 2009? Jawaban kami adalah ya. Jadi kami tidak menyoal kepada masalah ini bertentangan 2 lembaga, tetapi dampak adanya atau dampak tidak adanya aturan yang jelas bahwasanya DPR seharusnya hanya menyoal kepada Pemerintahan yang sama masa periodenya, maka inilah yang terjadi pada waktu yang lalu dalam kasus Bank Century dan kita tahu itu sudah masuk hal-hal politik di sana karena memang itu juga suatu lembaga politik wajar apabila kemudian masuk masalah-masalah politik di sana, sehingga kami memang tidak mengatakan bahwa otomatis terjadi pemakzulan, tapi di sana dengan istilah dengan ada kata-kata ‘dapat’, ‘dimungkinkan pemakzulan’, dan sebagainya.
Nah apabila itu terjadi, maka itu kami berpendapat bahwa itu akan mengganggu atau berakibat kepada hak kami sebagimana tertuang di dalam UUD 1945 di sana mengenai Pasal 28D dan 28H Undang-Undang Dasar 1945. Saya ambil saja sebagai yang lebih jelas, Pasal 28H yang berbunyi, “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik, sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.” Sejahtera, kami uraikan dalam posita kami ada definisinya di sana. Nah, apabila terjadi pemakzulan itu jelas akan terjadi ganguan terhadap hak konstitusional kami. Karena seandainya saja, ada aturan yang tegas yang menyatakan bahwa hanya DPR yang bersangkutan dengan Pemerintah yang bersangkutan yang dapat menyoal atau mengajukan hak angket, maka angket yang kemarin tidak akan terjadi, itu pendapat kami.
Baik, kemudian Bapak Hakim Alim yang kami muliakan. Tentang Aturan Peralihan. Aturan Peralihan sudah sangat jelas menurut kami dan tidak menimbulkan tafsiran lain-lain, karena kata-katanya sangat eksplisit di sana. Aturan Peralihan, Pasal 1 Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi “segala peraturan perundang-undangan,” jadi ini sudah mencakup sangat luas, tidak hanya undang-undang saja Pak. Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, Peraturan Pemerintah dan sebagainya itu dinyatakan oleh undang-undang ini, Undang-Undang Dasar 1945 ini masih tetap berlaku selama sebelum diadakannya yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini. Kami melihat bahwa pengaturan hak angket yang sekarang, yang masih berlaku sekarang paling tidak, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954, itu jelas tidak diatur berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945.
Yang kedua adalah, bahwa pelaksanaan angket, itu bukannya tidak ada aturan permainannya sama sekali. Tadi sudah kami kemukakan dalam memberikan tanggapan terhadap apa yang disampaikan oleh wakil Pemerintah, bahwa atau pelaksanaan hak angket berdasarkan Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang 27 Tahun 2009 itu ada tertuang di dalam Tata Tertib DPR, mulai dari Pasal 166 sampai dengan Pasal 170. Dan kami melihat sangat rinci, bahkan bisa diperiksa lagi apakah mekanisme didalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 itu semuanya sudah tertuang di dalam tata tertib ini. Kalau memang ini diperlukan kami bisa menyampaikan tambahan analisis, untuk mengatakan bahwa sebetulnya peraturan perundang-Undangan yang berlaku sekarang ini sudah lengkap mengatur tentang pelaksanaan hak angket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009. Itu jawaban kami kepada Bapak Alim.
Kemudian yang saya muliakan Bapak Hakim Sanusi, alasan-alasan pemakzulan. Alasan-alasan pemakzulan itu pada dasarnya merupakan justifikasi, merupakan konsekuensi dan dampak yang dapat terjadi. Karena beberapa penelusuran kami terhadap putusan-putusan Mahkamah Konstitusi, hal-hal yang potensial terjadi pun dapat dipakai sebagai alasan, jadi tidak harus mengeluarkan bukti kongkret atau hal yang memang sudah dirugikan, tapi yang berpotensi merugikan pun itu bisa dijadikan sebagai pertimbangan tentang terganggunya hak konstitusional Pemohon.
Demikian kami sampaikan. Terima kasih Yang Mulia.
32. KETUA : MOH. MAHFUD MD Berikutnya Pemerintah.
33. PEMERINTAH : AGUNG MULYANA (STAF AHLI KEMENTERIAN DALAM NEGERI)
Terima kasih.
Terima kasih kesempatan Yang Mulia Ketua.
Pertanyaan dari Yang Mulia Bapak Akil Mochtar, menanyakan menurut Pemerintah, apakah setiap hak-hak DPR itu harus dengan undang-undang tersendiri? Harus diatur dengan undang-undang tersendiri. Tergantung dari pendelegasian di dalam Undang-Undang Dasar, jadi kalau mengenai hak-hak DPR seperti ini yang disampaikan tadi, di sini disampaikan dituliskan misalnya sebagai contoh Pasal 20A itu menyebutkan bahwa ketentuan lebih lanjut tentang hak Dewan Perwakilan Rakyat dan hak Anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu diatur dalam undang-undang. Kalau diatur dalam undang-undang berati dapat diatur di dalam berbagai undang-undang yang levelnya adalah level pengaturan adalah undang-undang, sebagai contoh pengaturannya di dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009. Tetapi ada hak-hak DPR
seperti hak budget, hak pengaturan anggaran misalnya itu memang harus diatur dengan undang-undang tersendiri. Jadi ada yang memang harus dengan undang-undang tersendiri ada yang dapat diatur dengan undang-undang yang tidak tersendiri, sepanjang levelnya adalah masuk dalam pasal undang-undang.
Kemudian mengenai posisi hak angket. Apakah hal-hal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 belum dianggap cukup untuk mengatur pelaksanaan hak angket. Menurut Pemerintah Pasal 77 Undang-Undang Nomor 27, itu masih terlalu singkat untuk mengatur pelaksanaan hak angket walaupun di dalam pelaksananaanya ada Peraturan Tata Tertib Dewan, tetapi masih memerlukan pengaturan-pengaturan yang lebih rinci, mengenai hal ini akan dijawab dalam jawaban tertulis. Kemudian (…)
34. HAKIM ANGGOTA : M. AKIL MOCHTAR
Sedikit Pak, kalaupun dijawab tertulis, begini Pak, Pasal 177, nggak, Pasal 177 itu mengatur tentang Hak Angket, Pasal 77 itu hanya menyebutkan hak, ya. Paragraf dua saya baca, ayat (1) “Hak Angket sebagaimana diatur dalam Pasal 77 ayat (1) huruf b diusulkan paling sedikit oleh 25 orang anggota DPR lebih dari 1 fraksi”. Nah, bandingkan dengan Undang-Undang Hak Angket ini yang menyatakan 10 orang, itu sudah ada perbedaan. Pengusulan hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disertai dengan dokumen yang memuat sekurang-kurangnya materi kebijakan atau pelaksanaan undang-undang yang akan diselidiki, b. alasan penyelidikan. Usul sebagaimana Pasal 1 menjadi Hak Angket DPR apabila mendapat persetujuan dari Rapat Paripurna ini soal kuorum dihadiri lebih dari setengah jumlah anggota DPR dan keputusan diambil lebih dari setengah atau seperdua jumlah DPR yang hadir dan seterusnya sampai kepada memberikan kewenangan itu lebih lanjut dengan peraturan tata tertib, saya kira dibaca dulu secara rigid, Pak. Kalau Pasal 77 itu hanya menyebutkan hak, tapi pengaturannya di Pasal 177 sampai dengan khusus Hak Angket karena Pasal 173 itu sampai dengan 176 itu Hak Interpelasi, sampai dengan…, jadi Pasal 177 sampai dengan Pasal 183 itu mengenai Hak Angket. Kemudian 184 sampai dengan 189 itu mengenai Hak Menyatakan Pendapat. Saya kira itu sudah cukup lengkap karena mengatur tentang kuorum pengambilan keputusan, mengatur tentang jumlah pengusulan, pengesahan dari Paripurna, kemudian tata cara dan lain sebagainya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Tata Tertib, itu lho Pak, nanti dijawab secara…,apa namanya, tertulis sajalah, supaya kita bisa ada gimana pandangan Pemerintah, kan gitu, apa Undang-Undang ini masih relevan tidak? Masih?
35. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Baik, masih ada yang belum terjawab tidak ? Cukup?
36. PEMERINTAH : AGUNG MULYANA (STAF AHLI KEMENTERIAN DALAM NEGERI)
Masih, dari Pak Hakim Fadlil. Kalau dari Pak Hakim Mochtar selebihnya rincinya akan disampaikan tertulis. Bagaimana pandangan Pemerintah tentang periodisasi terkait dengan periodisasi pelaksanaan Hak Angket apakah Hak ini harus dijalankan pada pemerintahan yang sama seperti itu. Menurut pandangan kami yang mewakili pemerintah apabila ini hanya berlaku pada periode yang sama maka timbul kemungkinan kekhawatiran bahwa apabila ada suatu hal yang menurut pandangan kebijakan dari pemerintah yang dilaksanakan ini adalah bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan, sementara periodisasi pemerintahan sudah berakhir maka ini tidak dapat diselidiki kalau itu harus sama dengan…, jadi mestinya kalau penyelidikan ini telah ditetapkan, ini dapat berlangsung terus sampai penyelidikan ini tuntas walaupun periodisasinya telah berganti periode, karena yang ingin diketahui oleh rakyat adalah sampai sejauh mana kebijakan itu tidak menimbulkan kerugian bagi rakyat atau bagi semua negara secara keseluruhan.
Terima kasih, Pak.
Rincian lebih lanjut akan kami sampaikan dalam jawaban tertulis. 37. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Cukup? Cukup, ya? Baik.
Saudara, menurut Mahkamah pemeriksaan ini sudah cukup jelas. Meskipun begitu demi keterbukaan dan pemberian peluang yang seluas-luasnya saya tawarkan apakah Pemohon masih berminat mengajukan Ahli atau Saksi untuk dibuka sidang berikut atau kita langsung saja pada sidang berikutnya, pengucapan putusan.
38. PEMOHON I : BAMBANG SUPRIYANTO
Terima kasih, Yang Mulia Ketua Majelis Hakim. Kalau diizinkan kami mempertimbangkan ini dulu, untuk kemudian kami sampaikan paling lambat besok.
39. KETUA : MOH. MAHFUD MD
Ya, baik. Kalau tidak ada pemberitahuan tentang Ahli atau Saksi untuk dibuka sidang lagi maka sidang berikutnya itu adalah pengucapan vonis dengan catatan sebelum itu Pemohon maupun Pemerintah itu
diberi waktu 14 hari terhitung hari ini untuk menyampaikan pertama penjelasan-penjelasan yang tadi perlu diikuti dengan tertulis, lalu yang kedua kesimpulan menyangkut posita dan petitum dari Pemohon.
Nah, untuk itu sidang untuk hari ini dinyatakan selesai dan ditutup.
Jakarta, 6 Mei 2010
Kepala Biro Administrasi Perkara dan Persidangan
Kasianur Sidauruk SIDANG DITUTUP PUKUL 11.20 WIB