BAB XII
ISLAM DI INDONESIA
A. ISLAM MASUK DI INDONESIA
Negeri Arab merupakan tempat lahir dan pusat perkembangan agama Islam ke berbagai negara termasuk Indonesia, Islam masuk ke Indonesia melalui dua jalur :
1. Jalur utara, routenya : Arah (Makkah dan Madinah) Damaskus-Bagdad-Gujarat (Pantai barat India)-Sri Lanka-Indonesia.
2. Jalur Selatan, routenya : Arab (Mekah dan Madinah ) Yaman-Gujarat(Pantai Barat India)-Sri Lanka-Indonesia.
Islam mengajarkan perdamaian dan mendorong untuk menyebar luaskannya kepada orang lain. Dalam prakteknya orang arab dahulu senang berdagang ke berbagai negara dan ada yang bermukim di negara tujuan. Di negara yang baru mereka mampu bergaul dengan masyarakat setempat melalui hubungan perdagangan dan hal ini berlangsung pula di Indonesia pada abad 7 dan 8 masehi.
Disamping itu, terjadinya perkaawinan antara orang arab dan penduduk pribumi semakin memperkokoh dan memperluas penyebaran agama Islam .
Sejarah mencatat pada awal masuknya Islam ke Indonesia praktek perbudakan saudagar Hindu dan Budha dijumpai oleh orang Arab (Islam), maka pedagang Arab membeli para budak dan kemu-dian dimerdekakannya, sehingga memberikan simpatik banyak orang yang kemudian mengikuti ajaran Islam secara alami. Jadi Islam masuk dan berkembang di Indonesia karena tiga sebab, yaitu : perdagangan, pernikahan dan pembebasan budak.
Daerah-daerah yang pertama menerima agama Islam antara lain : 1. Daerah pelabuhan sekitar selat Malaka, seperti : Pasai dan aceh Utara; 2. Daerah di Pantai barat Sumatera
3. Jawa Timur, terutama pantai utara Jawa (Gresik) 4. Jawa Barat, seperti Cirebon dan Banten
Dari daerah-daerah tersebut, terjadilah hubungan dagang dengan orang Indonesia lainnnya sehingga penyebaran agama Islam meluas di Nusantara.
B. PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA
a. Perkembangan Islam di Sumatera
Di Sumatera, agama Islam berkembang dari arah utara melalui kerajaan Samudera Pasai yang berdiri sekitar XIII-XV M. Samuedra Psai merupakan daerah pelabuhan sehingga banyak disinggahi kapal dagang dari berbagai negara (Arab, Gujarat, Sri Lanka dan Tiongkok serta dari Eropa (spanyol dan Portugis).
Samudera Pasai beberapa kali mengalami pergantian raja. Raja-rajanya adalah : Sultan Malikus Sholeh, Sultan Malikus Zohir I, Sultan Malikus Zohir II, Sultan Zainal Abidin dan Sultan Iskandar. Pada tahun 1350 Kerajaan Samudra Pasai dikalahkan armada laut dari Majapahit. Setelah itu muncullah kerajaan baru yaitu kerajaan Aceh pada permulaan abad XVI Masehi. Kerajaan ini berlangsung empat abad dengan pergantian raja-raja sebagai berikut: Sultan Ibrohim, Sultan Salahuddin, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah, Sultan Husen, Sultan Zainal Abidin, Sultan Alauddin Mansyur’Syah, Sultan Ali Ri’ayat Syah I, Sultan Alauddin Riayat Syah II dan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.
Pada abad XIX Aceh ditundukkan Belanda, namun demikian Islam telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
b. Perkembangan Islam di Jawa.
Masuknya Islam ke Jawa juga disebabkan antara lain karena hubungan perdagangan. Banyak orang Jawa yang berdagang ke Aceh dan banyak pula orang Aceh dan Pasai yang berdagang ke Jawa sambil berdakwah di daerah -daerah yang masih dikuasai oleh kerajaan Hindu. Islam berkembang pesat di Jawa terutama karena dakwah yang dilakukan oleh Wali Sanga antara abad XIV - XVI M, mereka itu adalah : 1. Maulana Malik Ibrohim atau Sunan Gresik yang dikenal dengan nama Maulana
Maghribi. Beliau berasal dari Persia yang datang di Gresik untuk tujuan ber dakwah menyebaarkan Agama Islam.
2. Sunan Ampel, nama aslinya Raden Rahmat yang lahir di Aceh tahun 1401 dan wafat tahun 1481 Masehi. Ibunya berasal dari Aceh sedangkan ayah nya dari Arab.
3. Sunan Bonang, putera Sunan Ampel. Nama beliau sendiri Maqdum Ibrohim lahir tahun 1465 wafat tahun 1515 Masehi. Penyiaran Islam yang beliau lakukan pada beberapa daerrah di Jawa Timur.
4. Sunan Giri, nama asli beliau adalah Raden Paku. Beliau putera Maulana Ishaq seorang ulama’ yang berhasil menyebarklan Agama Islam di wilayah Blambangan.
5. Sunan Drajad, nama aslinya Syarifuddin. Beliau putera Sunan Ampel, adik dari Sunan Bonang. Dakwah sunan Drajad lebih banyak bersifat sosial, murid-muridnya banyak berdattangan dari Ternate dan Ambon.
6. Sunan Kalijaga, nama aslinya Raden Mas Sahid, beliau di Cirebon pernah bersama Fatahillah untuk menimba ilmu. Tahun 1543 beliau pewrgi ke Demak untuk berdakwah melalui kesenian tradisional.
7. Sunan Kudus, nama aslinya Ja’far Shodiq putera penghulu Demak. Beliau pernah menjadi panglima angkatan perang kerajaan Demak. Pada tahun 1543 beliau ke Kudus untuk mendirikan Masjid yang terkenal sampai sekarang, yaitu Masjid Kudus. Beliau wafat tahun 1550 Masehi.
8 Sunan Muria, nama aslinya Raden Prawoto atau Raden Umar S aid. Beliau putera sulung Sunan Kalijaga dan menjadi adik ipar Sunan Kudus. Dakwah beliau mengutamaklan ajaran Tashawuf. Beliau disebut dengan Sunan Muria sesuai dengan tempat pemakamannya di gunung Muria Jepara.
9. Sunan Gunung Jati, nama aslinya Fatahillah atau Syaikh Nurullah, semula hgidupnya dipergunakan untuk memperjuangkan politik, namun kemudian lebih tercurahkan untuk syi’ar agama Islam. Beliau wafat tahun 1570 Masehi, dimakamkan di Gunung Jati Cirebon.
c. Perkembangan islam di sulawesi.
Pada abad XVI di Sulawesi berdiri kerajaan Hindu Gowadan Tallo. Pada saat Portugis berusaha menguasai Sulawesi, raja-raja Gowa dan Tallo bergabung dengan kesultanan Ternate untuk menghadapi tentara Porttugis. Dari hubungan ini banyak orang-orang Gowa dan Tallo yang masuk Islam termasuk Raja-rajanya. Misalnya Raja Goa Daeng Manrabia yang kemudian bergelar Sultan Alauddin dan raja Tallo yang juga berubah gelar menjadi Sultan Abdullah.
Di Sulawesi selatan ada daerah pelabuhan bernama Sumbaopu, disna orang-orang Portugis yang beragama Katholik bebas menjalankan agamanya. Masyarakat Sumboopu banyak yang memeluk agama Islam dan hidup rukun dengan penganut agama lain.
d. Perkembangan islam di kalimantan.
Di Kalimantan kerajan yang terkenal adalah Kutai sebagai kerajaan Hindu sekittar abad V Masehi. Kerajaan Hindu lainnya adalah Sukadana di Kalimantan Barat ddan kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan.
Pada abad XVI kerajaan Sukadana berganti menjadi kerajan Islam dengan rajanya yang pertama Sultan Giri Kusuma, kemudian diganti puteranya bernama Sultan Muhammad Syarifuddin. Krajan Banjar mendaapat pengaruh Islam setelah adanya hubungan dagang danb perorangan dengan orang-orang Demak. Raja Banjar
bernama Raden Samudra masuk agama Islam dan berganti nama Suryanullah, yang dalam sejarah pernah dibantu Demak mengalahkan kerajaan Negaradipa sehingga syi’ar Islam semakin berkembang kesana.
Di Kutai sendiri juga dimasuki Islam karena banyak pedagang Islam yang menggunakan kesempatannya untuk berdakwah, sehingga semakin merebaklah perkembangan Agama Islam di Kaslimantan.
e. Perkembangan maluku dan pulau-pulau sekitarnya.
Masuknya Islam ke Maluku juga karena hubungan perdagangan, namun demikian perkemba-ngannya mengalami hambatan karena adanya orang-orang Portugis dan Spanyol yang datang menjajah, walaupun akhirnya mereka dikalahkan oleh Belanda pada permulaan abad XVII.
Kerajaan di Maluku yang rajanya mula-mula masuk Islam adalah Sultan Mahrum (1465-1486 M). Ia digantikan oleh Sultan Zaenal Abidin yang mampu melangkahkan missi dakwahnya tidak hanya di daerah Maluku tetapi juga sampai ke Irian. Sewlanjutnya Kerajaan Tidore juga dimasuki Islam dengan rajanya Sultan Jamaluddin.
Kerajaan lainnya di Maluku yaitu Jailolo juga dimasuki Islam dengan rajanya bernama Sultan Hasanuddun. Dan Kerajaan Bacan dimasuki Islam pula pada tahun 1520 dengan rajanya bernama Sultan ZainaL Abidin.
Dengan masuknya penjajah dari Eropa, maka perkembangan Islam mendapat hambatan, karena penjajah membawa Agama Nasrani dan sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi peperangan. Dengan demikian perlawanan raja-raja di Maluku tidah setanguh kekuatan para penjajah, sehingga banyak pejuang Islam yang gugur sebagai syuhada’.
C. KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM SEBAGAI PUSAT PENYIARAN ISLAM
Kerajaan-kerajaan yang berdiri sebagai pusat syi’ar dan perkembangan Islam di Indonesia antara lain kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Jawa seperti Demak, Cirebon dan Banten.
a. Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak berdiri setelah mampu melepaskan diri dari kekuasaan raja Hayam Wuruk (Majapahit), kerajaan Demak menguasai daerah maritim karena berada di pantai utara Jawa dan kebbanyakan rakyatnya berdagang menyebrangi lautan. Pada tahun 1512 Demak mengirim angkatan perang yang dipimpin oleh Pati Unus melalui laut bekerja sama dengan Kerajan Aceh untuk menyerang Portugis di Malaka, namun missi ini mengalami kegagalan karena Portugis mampu memukul mundur mereka.
Kerajaan Demak dikenal memiliki Masjid Agung Demak yang tetap berdiri sampai sekarang, masjid tersebut didirikan oleh Walisongo termasuk Raden Fattah. Raden Fatah wafat pada tahun 1518 Masehi, digantikan oleh puteranya Pati Unus yang dikenal pula dengan nama Pangeran Sabrang Lor dan bergelar Sultan Demak II.
Sepeninggal Pati Unus tahun 1521, kerajaan dipimpin oleh PangeranTrenggono. Pada masa pemerintahan Pangeran Trenggono ini, datanglah Fatahillah yang kemudian dinikahkan dengan adik perempuannya. Fattahillah oleh Pangeran Trenggono diserahi tugas sebagai panglima perang dan tugas-tugas politik. Kemudian Fatahillah pergi ke Cirebon dan Banten unttuk menghadapi Porttugis yang datang dengan cara pendudukan dan pemaksaan, dengan cara membuat benteng. Fatahillah atau juga sering disebut Falatehan, dengan armada Demaknya yang gagah berani berhasil menghancurkan tentara Portugis,m peristiwa ini terjadi pada tahun 1527 di pelabuhan Sundaa Kelapa. Sunda Kelapa oleh Fatahillah kemudian diganti nama menjadi Jayakarta.
Pada saat Fatahillah melancarkan serangan ke barat, Pangeran Trenggono sendiri meimpin pasukan ke daerah timur sampai ke Pasuruan.
Dalam catatan sejarah Kerajaan Demak penyebbaran dan perkembangan Islam di FDemak berkembang pesat sekali, lebih-lebih dalam kerajaan ini mendapat dukungan penuh dari Walisongo seperti, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Kalijogo dan Sunan Muria.
b. Kerajaan Cirebon.
Semula Cirebon dikuasai oleh Kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian ketika Fatahillah memasuki daerah Cirebon beliau dapat merebut sebagian wilayah pelabuhan untuk digunakan sebagai daeran penyiaran Agama Islam dibawah naungan Kerajaan Demak. Fatahillah menyerahkan bandar Cirebon kepada Pangeran Trenggono yang kemudian oleh Pangran Trenggono diserahkan kepada putteranya yang bernama Pangeran Pasarean.
Pada tahun 1552 Fatahillah kembali menetap di Cirebon karena Pangeran Pasarean wafat, Fattahillah sendiri kemudian wafat sekitar tahun 1570, dimakamkan di Gunung Jati yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Gunung Jati.
c. Kerajaan Banten.
Jarak antara Cirebon dan Banten tidak seberapa jauh, ketika Fatahillah berhasil merebut daerah pelabuhan Cirebon, iapun melanjutkan perjalanan politiknya ke daerah barat sampai ke Banten setelah Cirebon dipegang oleh Pangeran Pasarean.Di Banten Fatahillah menyiarkan agama Islam dengan cara yang sangat bijaksana, sehingga kemudian banyak rakyat banten yang menerima kebenaran Islam dan kemudian memeluk Agama Islam, dengan meninggalkan agama semula yang berada dalam kekuasaan kerajan Hindu . Pajajaran.
Kerajan Banten Islam meluas sampai ke Lampung di Sumatera Selatan, raja yang memimpin kerajaan Banten Islam pada saat itu adalah Sultan Hasanuddin yang kemudian digantukan oleh Pangeran Yusuf ( Maulana Yusuf ). Kekuasaan Hindu di masa pemerintahan Pangeran Yusuf semakin surut, namun sisa-sisa mereka yang tidak menerima Islam pindah ke Banten selatan yang saat ini dikenal dengan nama suku Badui.
Pangeran Yusuf wafat pada tahun 1580, beliau digantikan oleh puteranya bernama Maulana Muhammad.