P e n g a n t a r R e d a k s i
Embrio Sosiologi Militer di Indonesia
GE N E A LOGI SOSIOLOGI M I L I T E R
Kalau diteliti lebih dalam, setiap sosiolog besar pasti pernah berbi-cara tentang institusi militer, tak terkecuali Marx, Durkheim, Weber, sampai misalnya Giddens. Kendati demikian, pada akhirnya mereka lebih dikenal sebagai seorang sosiolog, ketimbang penekun kajian sosiologi militer. Mudah dijelaskan mengapa militer menjadi subjek pokok bahasan dari para sosiolog tersebut. Tak lain karena sebagai sebuah institusi, militer pasti ada di setiap masyarakat. Keberadaan-nya tak mungkin bisa dihilangkan, bahkan pada masa prakapitalisme sekalipun. Kalaupun belum ada institusi militer modern seperti yang kita kenal sekarang ini, organisasi yang memiliki kultur seperti militer dipastikan ada; dan keberadaan institusi semacam itu pasti memiliki pengaruh besar di masyarakat karena kedekatannya dengan elemen politik dan kekuasaan. Hal inilah yang membuat posisi militer di dalam kajian ilmu sosial, khususnya sosiologi, sering muncul atau dibahas.
Pembahasan soal militer dalam kajian ilmu sosial, khususnya sosiologi, secara formal terjadi pasca Samuel Huntington menulis karya besarnya, The Soldier and the State: The Theory & Politics of
Civil-Military Relation (1957), dilanjutkan dengan karya monumental
Morris Janowitz, The Professional Soldier: A Social & Political Portrait (1960). Setelah mereka, terma sosiologi militer lebih dikenal oleh publik sebagai satu sub arena dalam sosiologi yang mendalami persoalan-persoalan militer, baik militer sebagai sebuah institusi, maupun hubungan kulturnya dengan rezim kekuasaan sipil pada masa demokratis.
Sosiologi militer atau yang dalam bahasa Inggris sering disebut
military sociology atau sociology of military, menurut Ouellet (2005),
adalah a lesser-known subfield of sociology. Kendati demikian, kondisi
mulai mengkaji persoalan militer dari berbagai sudut pandang, khu-susnya ilmu sosial. Masih menurut Ouellet, dari segi tradisi, ada dua cabang dalam kajian sosiologi militer pada saat itu. Diwarisi oleh Huntington dan Janowitz, masing-masing menurunkan aliran pemi-kiran sendiri dalam menelaah militer. Huntington dengan konsep relasi sipil–militer (civil–military relation) menjadi kajian tersendiri tentang bagaimana hubungan antara institusi militer dengan otoritas sipil sebuah negara. Lingkup kajian ini terentang dari hubungan si-pil–militer di negara-negara demokratis seperti Amerika Serikat, oto-ritarian seperti Indonesia di masa Orde Baru, hingga negara-negara Amerika Latin dan Afrika yang dalam proses kekuasaan negaranya masih melibatkan milisi-milisi sistem praetorian. Ranah kajian sosio-logi militer yang seperti ini tak bisa dimungkiri, lebih dekat dengan cabang sosiologi politik (Oullet 2005:2).
Cabang sosiologi militer yang kedua diturunkan oleh Morris Jano-witz. Apa yang dilakukan Janowitz pada prosesnya membuka ruang perdebatan baru dalam ranah kajian sosiologi militer. Konsep tentara profesional tak hanya menjadi sebuah gagasan tentang cara pandang militer dalam perspektif ilmu sosial, tetapi juga menjadi satu agenda kerja institusi militer di berbagai negara. Jargon tentara profesional menjadi visi hampir seluruh militer di dunia. Keistimewaan dari para sarjana yang menekuni ranah sosiologi militer Janowitzian adalah be-gitu pluralnya spektrum telaahan dan perspektif yang digunakan. Dari sini, muncul bentuk-bentuk kajian baru dari para teoretikus ilmu sosial, khususnya sosiologi, yang mencoba meminjam perspektif dari ranah kajian lain untuk melihat institusi militer. Semisal, kajian ilmu gender untuk melihat posisi perempuan dalam militer. Atau isu minoritas–mayoritas dalam institusi militer. Isu kehidupan keluar-ga militer, veteran perang, orientasi seksual seperti keluar-gay dan lesbian, serta berbagai konsep lain dalam ilmu sosiologi yang memperkaya cara pandang akademik terhadap institusi militer. Menurut Ouellet (2005:4), seperti halnya sosiologi sebagai satu cabang dalam ilmu so-sial, sosiologi militer pada prosesnya mendapat pengaruh yang cukup kuat dari cabang-cabang ilmu sosial lain di luar sosiologi. Penggunaan teori-teori feminis, posmodern, dan identitas sering kali dilakukan (Ouellet 2005:4).
Dalam kajian ilmiah sekarang ini, menurut Caforio (2006:3) pen-dekatan interdisipliner dalam kajian sosiologi militer adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tulisnya, “interdisciplinarity is a conquest
v of modern scientific approach to every field of investigation.” Hal ini
di-perkuat oleh Kuemmel (2006:417), bahwa pendekatan interdisipliner adalah konsekuensi sederhana dari institusi militer yang sangat kom-pleks. Baginya, “... the military is a complex social phenomenon in itself
and one that cuts through various level. Touchs several different context, and is thus subject to multiple processes of interpenetration.” Kendati
bisa bersifat interdisipliner, Caforio tetap menekankan bahwa melihat militer dari perspektif sosiologis, seperti yang ia lakukan sekarang, adalah “the most sound and complete scientific approach to the study of
military” (2006:3).
Singkatnya, menurut para sarjana, melihat militer dari perspektif sosiologis adalah sebuah kesempatan untuk melihat militer dari ber-bagai spektrum dan sudut pandang. Hal ini bukan saja bisa mem-berikan sumbangan pemikiran yang konstruktif bagi militer, tetapi juga bagi masyarakat, di mana militer adalah bagian integral darinya.
OR I E N TA SI PE NGE M BA NG A N SOSIOLOGI M I L I T E R
Perkembangan sosiologi militer pada prosesnya tidak juga lepas dari dinamika yang terjadi di dunia. Katakan saja Perang Dunia Ke-dua, Perang Dingin, dan peristiwa 11 September 2001. Di kala keti-ganya menjadi momentum penting bagi keharusan militer berubah, para sarjana juga senantiasa menggunakan momentum itu sebagai penanda dari kemungkinan berkembangnya arah baru dalam kajian ilmu sosial, terutama yang menyangkut persoalan militer atau isu keamanan nasional.
Dalam perkembangannya, tradisi yang sudah diwariskan—baik oleh Huntington maupun Janowitz—sering dianggap oleh berbagai kalangan masih menekankan aspek fungsional institusi militer. Kon-disi ini terjadi, karena kajian sosiologi militer yang kemudian bisa diterima dan dikembangkan di dalam institusi militer hanyalah kajian yang memang dianggap “fungsional” oleh para pengambil kebijakan. Sementara itu, mereka yang mewarisi tradisi kritis dalam sosiologi seperti tak mendapat tempat (Ouellet 2005:11).
Pada titik ini, kemudian, berkembang perspektif-perspektif baru dalam melihat militer dengan sudut pandang sosiologis, termasuk tra-disi kaum interpretatif (konstruktivis) dalam menjelaskan fenomena-fenomena di tubuh militer. Beberapa contoh kajian dalam perspektif interpretatif menurut Ouellet, di antaranya Winslow (1997) yang
ksatria di dalam militer (2005:14). Menurut Ouellet, tradisi konstruk-tivis dalam ilmu sosiologi memberikan peluang yang cukup besar bagi telaah-telaah baru dalam bagaimana kita memandang institusi militer.
Perkembangan dunia yang sedemikian cepat diiringi oleh tingkat anarki yang besar, menurut Ouellet, memaksa siapa pun tak terke-cuali institusi militer untuk mampu merumuskan kembali posisinya di dalam masyarakat. Pada titik ini, sosiologi militer harus mampu merumuskan kembali pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin le-bih relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan secara total pertanyaan-pertanyaan lama yang telah dirintis oleh para sarjana sebelumnya. Karena hanya dengan demikian, ranah kajian ini akan senantiasa bisa merespons perkembangan yang terjadi di dalam insti-tusi militer dan masyarakat.
SOSIOLOGI M I L I T E R DI I N DON E SI A
Jika tak mau dibilang tidak ada, mungkin masih sedikit, kajian tentang sosiologi militer di Indonesia. Octavian (2012:21) menyatakan bahwa kajian-kajian mengenai militer memang banyak dilakukan di Indonesia, tetapi sangat sedikit yang menggunakan pendekatan sosio-logis—jauh lebih banyak kajian politik, sejarah, atau kajian pertahan-an dpertahan-an keampertahan-anpertahan-an (defence pertahan-and security studies). Dengpertahan-an mudah kita bisa melihat perbedaan pendekatan dari masing-masing sarjana itu.
Di satu sisi, sejarah pembentukan negara Republik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran institusi militer. Meskipun 5 Oktober 1945 diperingati sebagai hari lahir angkatan bersenjata Indonesia, te-tapi fakta sejarahnya memperlihatkan bahwa tentara Indonesia sudah ada jauh sebelum kemerdekaan. Keberadaan mereka terepresentasikan dengan pasukan PETA yang dilatih oleh Jepang dan laskar-laskar rakyat yang independen terhadap posisi negara. Pada perjalanannya, ini menjadi cerita tersendiri di dalam perkembangan TNI.
Gejala terkait institusi militer di Indonesia sesungguhnya memiliki spektrum yang cukup luas, mulai dari isu internal (sejarah, struktur organisasi, karier, purnawirawan, dan lainnya), isu eksternal (mili-ter dan polisi, mili(mili-ter dan bencana alam, mili(mili-ter dan preman, dan lainnya), isu vertikal (militer dan negara, militer dan sipil, militer dan partai politik, dan lainnya), hingga isu teoretis (pemetaan teori
vii
sosiologi terkait institusi militer). Oleh karena itu, upaya pengembang-an materi sosiologi militer dapat membpengembang-antu mengembpengembang-angkpengembang-an rpengembang-anah akademik sosiologi sekaligus menciptakan kebijakan yang mampu mentransformasi militer Indonesia.
Dengan adanya kenyataan yang demikian, kebutuhan untuk mem-bangun satu basis pengetahuan yang kuat tentang sosiologi militer sebenarnya bukan hanya terkait dengan kepentingan akademik
(aca-demic imperative), tetapi ia pun harus diletakkan sebagai satu upaya
untuk memberikan kontribusi pada masyarakat secara luas.