BAB 1 PENDAHULUAN. Masyarakat Indonesia saat ini, telah sampai pada tahap dimana memberikan

12  Download (0)

Teks penuh

(1)

commit to user

1

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Masyarakat Indonesia saat ini, telah sampai pada tahap dimana memberikan aspirasi atau mengemukakan pendapat merupakan sebuah kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Menyampaikan aspirasi, melalui kritik maupun saran kepada pemerintah dan sesama masyarakat, telah menjadi budaya yang tak terhindarkan. Bahkan berbagai media dan wadah untuk menyampaikan unek-unek pun disediakan pemerintah melalui kerjasama dengan media. Tampil berbicara di tempat umum, ataupun menyampaikan pendapatnya melalui media, telah menjadi persyaratan umum, agar eksistensi seseorang mendapat pengakuan. Menghadapi fenomena seperti ini, sangat perlu adanya sarana maupun media yang dapat menampung segala aspirasi publik, secara netral, dan bijaksana. Hal ini pula yang mendorong lahirnya lembaga-lembaga pemerintah maupun independen, yang bertujuan menjadi moderator, yaitu orang atau lembaga penengah, yang memimpin suatu forum, untuk mengarahkan pada masalah, sebagai fasilitator yaitu pihak yang menyediakan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat, dan bertindak sebagai wadah aspirasi masyarakat.

Saat ini ada beberapa lembaga atau instansi yang semakin memasyarakat. Ukurannya adalah, semakin sebuah organisasi menyediakan ruang bagi publik, atau sebuah organisasi memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan operasionalnya, maka Lembaga ini dapat dikatakan

(2)

commit to user

2

lembaga yang go public, yaitu lembaga yang dapat memberikan fasilitas, dan menjembatani masyarakat dalam kegiatan berkomunikasi. Jika beberapa waktu lalu, sebuah lembaga bersifat privat, dan berlaku eksklusif bagi kalangan sendiri, maka saat ini sebuah organisasi berhasil ketika, kegiatan operasionalnya diketahui, dikenal, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Setiap organisasi kini berlomba-lomba menjadi ”dikenal”, dan bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan kepercayaan masyarakat pada sebuah lembaga tertentu telah menjadi nilai jual yang sangat tinggi.

Dalam bidang komunikasi, pemerintah tidak berhenti melakukan berbagai inovasi, agar pemerintah dapat lebih dekat dengan masyarakat. Ketika pemerintah dekat dengan masyarakat, maka pemerintah dapat mengetahui kebutuhan dan kondisi masyarakat yang sedang terjadi. Dalam hal ini, bidang komunikasi merupakan salah satu cara yang efektif, yang bisa di garap untuk merealisasikan hal ini. Salah satu hal yang pemerintah lakukan adalah dengan membangun sistem penyiaran yang demokratis, dimana masyarakat dapat mempunyai andil yang sama dalam pembangunan. Bahkan Undang-undang penyiaran Indonesia No 32 Tahun 2002 tentang penyiaran, telah mengakomodasi empat jenis lembaga penyiaran yang relevan bagi kondisi masyarakat Indonesia. Empat jenis lembaga penyiaran ini adalah : lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta , lembaga penyiaran komunitas, dan lembaga penyiaran berlangganan. ( pasal 13 ayat 2). Keempat Lembaga penyiaran ini dirasa telah dapat memenuhi kebutuhan masyarakan akan komunikasi dan informasi.

(3)

commit to user

3

Dari empat jenis lembaga penyiaran yang ada di Indonesia, Lembaga penyiaran publik termasuk baru dalam penerapannya. Meskipun masih tergolong baru, pada kenyataannya, lembaga penyiaran publik merupakan salah satu bentuk lembaga penyiaran yang dapat menjadi jembatan antara kepentingan Pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Secara khusus, publik dalam istilah penyiaran publik diposisikan dalam dua pengertian, yakni sebagai khalayak (pemirsa atau pendengar) dan sebagai partisipan yang aktif. Lembaga penyiaran publik sangat erat kaitannya dengan kebebasan menyatakan pendapat, hak untuk mendapatkan informasi, serta upaya pemberdayaan masyarakat dalam proses menuju civil society. Dari definisi tersebut menyatakan bahwa penyiaran publik dibangun didasarkan pada kepentingan, aspirasi, gagasan publik yang dibuat berdasarkan swadaya dan swamandiri dari masyarakat atau publik pengguna dan pemetik manfaat penyiaran publik. Oleh karena itu, ketika penyiaran publik dibangun bersama atas partisipasi publik, maka fungsi dan nilai kegunaan penyiaran publik tentunya ditujukan bagi berbagai kepentingan dan aspirasi publik.

(http://bincangmedia.wordpress.com/tag/lembaga-penyiaran-publik)

Lembaga penyiaran publik, merupakan bentuk organisasi non profit, hal inilah yang membedakan karakteristik dan fungsinya dengan bentuk organisasi lain. Ada tiga tugas pokok atau fungsi utama pada organisasi non profit, yaitu :

1. Mewujudkan sebagian tugas pelaksanaan kekuasaan pemerintah (goverment)

(4)

commit to user

4

2. Melaksanakan sebagian tugas pemberian pelayanan umum (public

service)

3. Bertindak secara proaktif sebagai Perencana dan Pelaksana sebagian tugas pembangunan (development) untuk kesejahteraan rakyat. (Nawawi 2000 : ix)

Sebagai salah satu lembaga baru di Indonesia, keberadaan Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL), masih terus dijajaki. Pemerintah, para profesional, dan masyarakat, masih mengagas bentuk penyiaran yang ideal melalui perwujutan Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL). Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) sebelumnya adalah Radio Republik Indonesia (RRI) dan atau Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) yang bermutasi, dan mengalami perubahan status secara manajerial. Setelah melihat perwujutan Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) saat ini, maka Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) dan Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD), seperti saudara kembar yang serupa tapi tidak sama. Sepintas, LPPL tak berbeda dengan RSPD. Namun dalam konteks makro, ternyata banyak perbedaannya, terutama dari sisi materi dan penyelenggara siaran. Hal inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi SDM yang ada di LPPL, bagaimana membuat perbedaan antara RSPD dan LPPL ini semakin nyata, sehingga masyarakat dapat melihat perubahan status ini akan lebih bermanfaat bagi masyarakat. (http://www.sragen.go.id/berita/berita.php?id=6485)

Data pada tahun 2011, yang peneliti dapatkan dari tempointeraktif.com, ratusan lembaga penyiaran radio di Jawa Tengah, baik swasta maupun milik

(5)

commit to user

5

pemerintah daerah, hingga kini masih banyak yang belum mengantongi izin siaran. Dari 306 lembaga penyiaran radio yang mengudara di Jawa Tengah, baru 15 radio yang sudah mengantongi izin penyiaran. Sedangkan sebanyak 65 radio izinnya baru sampai tahap IPPP (Izin Prinsip Penyelenggaraan Penyiaran) dan sebanyak 184 radio baru tahap Evaluasi Dengar Pendapat (EDP). 306 lembaga penyiaran tersebut terdiri dari empat kategori, yakni lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran komunitas, lembaga penyiaran berlangganan, serta lembaga penyiaran publik. Lembaga penyiaran publik tersebut bentuknya adalah Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) yang biasa ada di masing-masing kabupaten/kota. Masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah memiliki satu RSPD. Dari jumlah itu, baru tiga yang sudah mengantongi izin, yakni RSPD Sragen, RSPD Kendal dan RSPD Kota Pekalongan.

(http://www.tempo.co/read/news/2011/01/17/179306929/Ratusan-Radio-di-Jawa-Tengah-Tak-Kantongi-Izin)

Perubahan status dari Radio Siaran Pemerintah Daerah menjadi Lembaga Penyiaran Publik Lokal, menjadi hal yang sangat krusial, karena meskipun mendapata dukungan dan dorongan dari pemerintah, pada kenyataannya, perubahan status ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Bahkan terkait dengan fungsi dan manfaat dari perubahan status ini masih terus dipertanyakan. Penyiaran Publik Lokal ( Public Service Broadcasting) seperti apa yang hendak dihasilkan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan peneliti ingin melakukan penelitian lebih lanjut.

(6)

commit to user

6

Banyak organisasi mempunyai rentang usia tak terbatas. Yang lainnya bersifat sementara. Bagaimanapun juga, organisasi harus menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan. Organisasi juga perlu mempertahankan sistem yang cukup mampu melaksanakan tugas-tugas primernya. Pendeknya, setiap organisasi membutuhkan stabilitas dan kontinuitas di samping adaptasi dan inovasi. (Rosenzwigh,Kast 1985:887). Meskipun pemerintah begitu getol mendorong RSPD menjadi LPPL, ternyata bukanlah perkara mudah untuk melaksanakan perubahan status ini. Banyak diakui bahwa perubahan ini tidak hanya sebatas perubahan dalam bidang manajerial, namun lebih lagi, bahwa setiap lembaga yang hendak melaksanakan perubahan status ini pun, harus berurusan dengan rumitnya masalah perijinan, dimana lembaga penyiaran wajib memperoleh ijin penyelenggaraan siaran sesuai UU Nomor 32 tahun 2002 pasal 3 ayat 1, berbentuk badan hukum yang didirikan pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD atas usul masyarakat. Dan proses pendirian LPPL harus ditetapkan melalui Perda Kota/Kabupaten setempat.

(http://www.k2911fm.com/2012/11/perda-yang-membuat-miris-lembaga.html) Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh Lembaga Penyiaran Publik Lokal atau LPPL dalam menyelenggarakan kegiatannya adalah mengantongi ijin penyelenggaraan siaran. Namun hingga kini, masih banyak lembaga penyiaran yang belum memilikinya, bahkan belum melakukan pengurusan ijin. Hingga saat ini baru 3 LPPL di Jawa Tengah yang telah mengantongi ijin penyelenggaraan siaran, yaitu LPPL Kabupaten Sragen, LPPL Kendal, dan LPPL Kota Pekalongan, yang masih menyisakan 10 LPPL di Jawa

(7)

commit to user

7

Tengah, yang masih berjuang untuk mendapatkan ijin penyelenggaraan siaran. Adapun LPPL lainnya sebenarnya juga sudah mengajukan izin siaran ke KPID. Namun hingga kini KPID belum akan memproses permohonan tersebut karena LPPL bersangkutan tersebut belum memiliki landasan peraturan daerah di masing-masing daerahnya. Perda sangat penting bagi LPPL karena radio jenis ini merupakan lembaga penyiaran publik (LPP).

(http://www.tempo.co/read/news/2011/01/17/179306929/Ratusan-Radio-di-Jawa-Tengah-Tak-Kantongi-Izin).

Menjadi pertanyaan yang cukup pelik, ketika masalah perijinan tak kunjung selesai, disisi lain, pelayanan penyiaran terhadap masyarakat harus terus diselenggarakan, lalu bagaimana LPPL lokal ini dapat memberikan pelayanan penyiaran kepada publik. Melalui hal ini terlihat bahwa kerjasama lembaga dengan pemerintah, serta DPRD sangat penting, dalam rangka meresponi perwujutan sebuah LPPL.

Masyarakat mempunyai harapan yang besar terhadap media saat ini. Media Penyiaran mempunyai kekuatan tersendiri untuk mengubah suatu masyarakat. Bahkan ada hubungan khusus antara media dan masyarakat yang tak terbantahkan. Pertama, hubungan tersebut merupakan bagian dari sejarah perkembangan setiap media massa dalam masyarakat sendiri. Kedua, gambaran media sebagai institusi mediasi, yang menghubungkan para anggota masyarakat biasa dengan peristiwa dunia yang sulit dijangkau dan penguasa, merupakan ide yang mengandung konsep hubungan yang terjadi, karena adanya arus informasi yang berkesinambungan. Ketiga, ragam utama teori fungsionalis yang dibahas

(8)

commit to user

8

sebelumnya memiliki anggapan khusus menyangkut media, yakni sebagai suatu institusi yang diperkukan bagi kesinambungan sistem sosial masyarakat industri (informasi) modern yang berskala besar. (Mcquail 1996:109)

Dalam penelitian ini, penulis akan melakukan penelitian terhadap Lembaga Penyiaran Publik Lokal Kabupaten Sragen. Kabupaten Sragen adalah kabupaten pertama di Jawa Tengah yang secara konsisten telah menerapkan UU No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran dan PP No 11 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik, serta Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng No 002/Per/KPID-JTG/X/2005 tentang Pedoman Pendirian dan Perijinan LPP Lokal. Pada tanggal 23 September 2006, Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Sragen berubah status menjadi Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Kabupaten Sragen, dan disahkan dengan Perda No 8 tahun 2006 tentang Pembentukan LPPL. Melalui perubahan status yang dilakukan, maka masyarakat mengharapkan, Lembaga ini menjadi lebih public oriented, dari pada government oriented.

Sama halnya perubahan yang mendasari perubahan status dan manajeman pada Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Kabupaten Sragen, yang selanjutnya dalam tulisan ini akan penulis disebut sebagai Radio Buana Asri FM Radio Publik Kabupaten. Perubahan yang terjadi, merupakan ketentuan dari Undang-undang Nomor 32 tahun 2002, Tentang Penyiaran pada pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 menegaskan bahwa RRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independent, netral, tidak komersial, dan berfungsi melayani kebutuhan masyarakat. Status sebagai Lembaga Penyiaran

(9)

commit to user

9

Publik juga ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005, yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 . LPPL , sebelumnya adalah Radio Siaran Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen, yang merupakan kepanjangan sistem dari Radio Republik Indonesia untuk wilayah eks karisedenan Surakarta, khususnya di wilayah Kabupaten Sragen. Sebelum menjadi LPPL, lembaga ini berstatus sebagai Perusahaan Jawatan atau Perjan yaitu Badan Usaha Milik Daerah atau BUMD yang tidak mencari untung. Perusahaan Jawatan sendiri telah dapat disebut sebagai status transisi dari Lembaga Penyiaran Pemerintah menuju Lembaga Penyiaran Publik. Pada prakteknya, semenjak berdiri pada 23 Januari 2003 hingga sebelum berubah status menjadi Lembaga Penyiaran Publik, lembaga penyiaran ini, sama sekali tidak menyiarkan siaran iklan, dan bergantung pada pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah atau APBD.

Semenjak berubah status, perubahan demi perubahan terus dilakukan oleh manajeman yang baru. Mengingat pada manajemen sebelumnya, kegairahan terhadap perubahan yang mengacu pada perbaikan pelayanan publik hampir hilang. Selain bertujuan untuk meresponi tuntutan Undang-undang, tentunya LPPL Kabupaten Sragen, mempunyai motivasi lain dalam melakukan perubahan. Sebagai institusi yang bergerak dibidang Penyiaran, lembaga ini dituntut benar-benar dapat menjawab kebutuhan masyarakat Sragen akan informasi,dan perkembangan teknologi. Perubahan status ini juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat, terutama antara Lembaga

(10)

commit to user

10

Penyiaran Publik, dengan Lembaga Penyiaran Swasta yang ada di wilayah Kabupaten Sragen.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian yang pernah dilakukan peneliti, sekitar 7 (tujuh) tahun yang lalu. Peneliti pernah menyelesaikan penelitian mengenai perubahan kelambagaan Radio Siaran Pemerintrah Daerah (RSPD) kabupaten Sragen menjadi Lembaga Penyiaran Publik Lokal, berkaitan dengan kegiatan beriklannya. Kini telah berjalan 7 (tujuh) tahun semenjak perubahan status dan kelembagaan yang dilakukan, peneliti ingin meneliti mengenai, implementasi penyelenggaraan public service broadcasting ditinjau dari New Public Service Theory, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Publik Lokal Kabupaten Sragen, untuk menggenapi tujuan utama dari perubahan kelembagaan ini, terkait dengan peralihan dari government oriented menuju public oriented.

Menjadi Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) , berarti menjalankan visi dan misi terhadap kepentingan publik. Perubahan yang paling menonjol adalah pada penyelenggaraan penyiaran publik atau public service broadcasting, yang diteliti melalui penerapan program, manajeman sumber daya manusia, dan bidang pendanaan.

Penelitian mengenai penerapan public service broadcasting ini akan peneliti komparasikan dengan New Public Service Theory, untuk melihat sejauhmana, LPPL Kabupaten Sragen menerapkan penyelenggaraan penyiaran publiknya menurut teori ini. menjadi semakin menarik karena nampakmya belum banyak, penelitian mengenai penerapan public service broadcasting pada

(11)

commit to user

11

lembaga penyiaran publik. Pada penelitian ini, peneliti juga melakukan pembatasan penelitian hanya pada lingkup manajerial lembaga penyiaran bersangkutan ( media riset).

B. RUMUSAN MASALAH

Penulis telah menjelaskan latar belakang dari penelitian yang akan diteliti, untuk lebih memfokuskan pada hal-hal apa saja yang akan menjadi fokus penelitian, maka penulis menyusun rumusan masalah yang akan membawa penelitian pada subyek yang jelas, yaitu : ” Bagaimana implementasi penyelenggaraan Public Service Broadcasting ditinjau dari teori pelayanan publik New Public Service Theory pada Lembaga Penyiaran Publik Lokal Kabupaten Sragen ”.

C. TUJUAN PENELITIAN

Merujuk pada rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini adalah, untuk mengetahui implementasi penyelenggaraan Public Service Broadcasting ditinjau dari teori pelayanan publik New Public Service Theory pada Lembaga Penyiaran Publik Lokal Kabupaten Sragen.

D. MANFAAT PENELITIAN

Peneliti berharap, hasil penelitian ini dapat membawa manfaat bagi banyak pihak, baik dari bidang akademik, maupun professional. Sehingga masyarakat dapat melihat potensi yang dimiliki sebuah Lembaga Penyiaran Publik Lokal,

(12)

commit to user

12

khususnya yang ada di Kabupaten Sragen. Lembaga penyiaran publik sebenarnya memiliki kualitas yang sama dengan Lembaga penyiaran swasta, lebih-lebih dalam rangka meningkatkan kualitas dan sumber daya lokal, sehingga muatan lokal yang ada tidak hilang, melainkan dapat terus dikembangkan dan dilestarikan. Peneliti juga berharap bahwa penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi terhadap pelayanan penyiaran publik yang diselenggarakan oleh LPPL kabupaten Sragen. Juga penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyelenggaraan public service

broadcasting kedepan. Serta sebagai upaya untuk memberikan dukungan

terhadap proses pelayanan penyiaran publik, yang diharapkan dapat meningkat secara kualitas, dan semakin membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di