5 BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu
Prasetyo (2017) pada Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon untuk melihat pengelolaan dana desa dan pembangunan desa pada Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon dilihat dari Asas Pengelolaan Angagaran Dana Desa Meliputi 3 Asas yaitu Transparan, Akuntabel dan Partisipasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Transparan, Akuntabel dan Partisipasi berpengaruh signifikan terhadap pembangunan desa pada Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon.
Firmansyah et al. (2020) pada Desa Cibitung Kecamatan Sagaranten Kabupaten Sukabumi untuk mengetahui pengaruh dana desa terhadap pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran (mix methods). Analisis statistik digunakan analisis regresi linear sederhana, koefisien determinasi dan untuk menguji hipotesis digunakan uji t. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan pengelolaan dan penyaluran dana desa yang tepat sasaran dapat memberikan dampak pengaruh terhadap kemajuan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa sehingga mampu mendorong berkembangnya kemandirian masyarakat dan meningkatnya kesejahateraan masyarakat desa.
Siregar (2020) pada Desa Paluh Manis, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat untuk mengetahui pengaruh Akuntabilitas, Transparansi, dan Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan keuangan desa Terhadap Pembangunan Desa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa variabel Akuntabilitas, Transparansi, dan Partisipasi berpengaruh positif dan signifikan secara parsial maupun simultan terhadap Pembangunan Desa pada Desa Paluh Manis Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat.
6
2.2 Transparansi
2.2.1 Pengertian Transparansi
Menurut Tanjung (2014:11) Transparansi berarti memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyrakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan.
Menurut Rusdiana dan Nasihudin (2018: 25), transparansi adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang- undangan.
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa transparansi adalah keterbukaan dari pihak aparat atau pengelola desa dalam memberikan informasi berupa laporan keuangan dan informasi lain kepada masyarakat desa secara menyeluruh.
2.2.2 Proses Transparansi
Proses transparansi menurut Smith dalam Tahir (2011:164) adalah sebagai berikut:
1. Standard Procedural Requirements (Persyaratan Standar Prosedur). Proses pembuatan peraturan harus melibatkan partisipasi dan memperhatikan kebutuhan masyarakat.
2. Consultation Processes (Proses Konsultasi) Adanya dialog antara pemerintah dan masyarakat.
3. Appeal Rights (Permohonan Izin) Pelindung utama dalam proses pengaturan, standar dan tidak berbelit, transparan guna menghindari adanya korupsi. 2.2.3 Karakteristik Transparansi
Transparansi memiliki tiga karakteristik, Mardiasmo (2016:19) mengemukakan karakteristik tersebut yaitu Informatif (Informative), Keterbukaan
7
(Openness), Pengungkapan (Disclosure). Berikut adalah penjelasan dari karakteristik transparansi:
1. Informatif (Informative) Pemberian arus informasi, berita, penjelasan mekanisme, prosedur, data, fakta kepada stakeholders yang membutuhkan informasi secara jelas dan akurat.
a. Tepat Waktu
Laporan keuangan harus disajikan tepat waktu agar dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi, sosial, politik, serta untuk menghindari tertundanya, pengambilan keputusan tersebut.
b. Memadai
Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mencakup dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material.
c. Jelas
Informasi harus jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Akurat Informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak menyesatkan bagi pengguna yang menerima dan memanfaatkan informasi tersebut.
d. Dapat Diperbandingkan
Laporan keuangan hendaknya dapat diperbandingkan antar periode waktu dan dengan instansi yang sejenis.
e. Mudah Diakses Informasi harus mudah diakses oleh semua pihak. 2. Keterbukaan (Openness)
Keterbukaan informasi publik memberi hak kepada setiap orang untuk memperoleh informasi dengan mengakses data yang ada di badan publik, dan menegaskan bahwa setiap informasi publik itu harus bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap pengguna informasi.
3. Pengungkapan (Disclosure)
Pengungkapan kepada masyarakat atau publik (stakeholders) atas aktifitas dan kinerja finansial.
8
Suatu tampilan atau keadaan secara utuh atas keuangan organisasi atau organisasi selama periode atas kurun waktu tertentu.
b. Susunan Pengurus
Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan yang berbeda.
c. Bentuk Perencanaan dan Hasil dari kegiatan
Serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. 2.2.4 Indikator Transparansi
Menurut Setyaningrum (2017), indikator transparansi adalah sebagai berikut: 1. ada tidaknya kerangka kerja hukum bagi transparansi
2. adanya akses masyarakat terhadap transparansi anggaran 3. adanya audit yang independen dan efektif
4. adanya keterlibatan masyarakat. 2.3 Akuntabilitas
2.3.1 Pengertian Akuntabilitas
Menurut Rusdiana dan Nasihudin (2018), Akuntabilitas adalah pertanggungjawaban dari seseorang atau sekelompok orang yang diberi amanat untuk menjalankan tugas tertentu kepada pihak pemberi amanat baik secara vertikal maupun secara horizontal. Mardiasmo (2016:20) menyatakan bahwa Akuntabilitas adalah kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut.
Menurut Ulum (2010:40) mengemukakan bahwa akuntabilitas adalah perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan atas pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui suatu media pertanggungjawaban secara periodik.
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas adalah sikap dan perilaku dari pihak apprat atau pengelola desa untuk menjalankan peran
9
sebagai aparat secara sungguh-sungguh dan bertanggungjawab dalam memberikan laporan kinerja atas keberhasilan ataupun kegagalan dalam proses pembangunan desa.
2.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akuntabilitas
Menurut Mardiasmo (2016: 19), akuntabilitas dibagi menjadi 2, yakni sebagai berikut:
1. Akuntabilitas Vertikal
Akuntabilitas vertikal merupakan suatu pertanggungjawaban segala aktivitas yang telah dilakukan kepada tingkatan yang lebih tinggi.
2.
Akuntabilitas HorizontalAkuntabilitas horizontal merupakan pertanggungjawaban atas segala kegiatan yang dilakukan yang tingkatannya sejajar. Tingkatan akuntabilitas dibagi menjadi lima jenis, yaitu:
a. Accountability For Probability and Legality
Accountability For probability berkaitan dengan penghindaran terhadap kejahatan jabatan khususnya untuk meyakinkan bahwa dana telah digunakan dengan benar dan dengan cara yang benar. Sementara Accountability for legality menekankan bahwa kekuasaan yang diberikan oleh undang-undang tidak melampaui batas.
b. Process Accountability
Berkaitan dengan apakah terdapat prosedur-prosedur yang memadai yang diterapkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu, serta usaha untuk meyakinkan apakah aktivitas tertentu dilakukan sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya.
c. Performance Accountability
Menekankan pada kinerja dari suatu entitas yang disampaikan kepada publik. d. Programme Accountability
Menekankan pada program dari suatu entitas yang disampaikan pada publik. e. Policy Accountability
Menekankan pada kebijakan dari suatu entitas yang disampaikan kepada publik.
10
2.3.3 Aspek-Aspek Akuntabilitas
Menurut Imron dalam Rusdiana dan Nasihudin (2018: 21), ada 5 aspek yang harus dipahami, berkaitan dengan akuntabilitas, diantaranya:
1. Akuntabitas adalah sebuah hubungan
Akuntabilitas adalah komunikasi dua arah atau sebagaimana yang diterangkan oleh Auditor General Of British Columbia yaitu merupakan sebuah kontrak antara dua pihak.
2. Akuntabilitas Berorientasi Hasil
Pada stuktur organisasi sektor swasta dan publik saat ini akuntabilitas tidak melihat kepada input ataupun autput melainkan kepada outcome.
3. Akuntabilitas memerlukan pelaporan
Pelaporan adalah tulang punggung dari akuntabilitas Akuntabilitas itu tidak ada artinya tanpa konsekuensi. Kata kunci yang digunakan dalam mendiskusikan dan mendefinisikan akuntabilitas adalah tanggung jawab. Tanggung jawab itu mengindikasikan kewajiban dan kewajiban datang bersama konsekuensi.
4. Akuntabilitas meningkatkan kinerja
Tujuan dari akuntabilitas adalah untuk meningkatkan kinerja, bukan untuk mencari kesalahan dan memberikan hukuman
2.3.4 Alat-Alat Akuntabilitas
Karena akuntabilitas memerlukan pelaporan, fokus dari alat-alat akuntabilitas adalah pada pelaporan kinerja, baik perhatian maupun hasilnya. Menurut Imron dalam Rusdiana dan Nasihudin (2018: 21-23), Alat-alat Akuntabilitas mencakup: 1. Rencana Stratejik
Rencana stratejik adalah suatu proses yang membantu organisasi untuk memikirkan tentang sasaran yang harus diterapkan untuk memenuhi misi mereka dan arah apa yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran tersebut. Hal tersebut adalah dasar dari semua perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi kegiatan suatu organisasi. Manfaat dari Rencana Stratejik antara lain membantu kesepakatan sekitar tujuan, sasaran dan prioritas suatu organisasi; menyediakan dasar alokasi sumber
11
daya dan perencanaan operasional; menentukan ukuran untuk mengawasi hasil; dan membantu untuk mengevaluasi kinerja organisasi.
2. Rencana Kinerja
Rencana kinerja menekankan komitmen organisasi untuk mencapai hasil tertentu sesuai dengan tujuan, sasaran, dan strategi dari rencana strategis organisasi untuk permintaan sumber daya yang dianggarkan.
3. Kesepakatan
Kinerja Kesepakatan kinerja didesain, dalam hubungannya antara dengan yang melaksanakan pekerjaan untuk menyediakan sebuah proses untuk mengukur kinerja dan bersamaan dengan itu membangun akuntabilitas.
4. Laporan Akuntabilitas
Dipublikasikan tahunan, laporan akuntabilitas termasuk program dan informasi keuangan, seperti laporan keuangan yang telah diaudit dan indikator kinerja yang merefleksikan kinerja dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan utama organisasi.
5. Penilaian Sendiri
Adalah proses berjalan dimana organisasi memonitor kinerjanya dan mengevaluasi kemampuannya mencapai tujuan kinerja, ukuran capaian kinerjanya dan tahapan-tahapan, serta mengendalikan dan meningkatkan proses itu.
6. Penilaian Kinerja
Adalah proses berjalan untuk merencanakan dan memonitor kinerja. Penilaian ini membandingkan kinerja aktual selama periode review tertentu dengan kinerja yang direncanakan. Dari hasil perbandingan tersebut, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan, perubahan atas kinerja yang diterapkan dan arah masa depan bisa direncanakan.
7. Kendali Manajemen
Akuntabilitas manajemen adalah harapan bahwa para manajer akan bertanggungjawab atas kualitas dan ketepatan waktu kinerja, meningkatkan produktivitas, mengendalikan biaya dan menekan berbagai aspek negatif
12
kegiatan, dan menjamin bahwa program diatur dengan integritas dan sesuai peraturan yang berlaku.
2.3.5 Indikator Akuntabilitas
Menurut Setyaningrum di (2017) indikator akuntabilitas yaitu: 1. Ada proses pembuatan keputusan yang dibuat secara tertulis
2. Akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan cara-cara mencapai sasaran suatu program
3. Kejelasan dari sasaran kebijakan yang telah diambil dan dikomunikasikan 4. Penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan melalui media masa
akses publik
5. Sistem informasi manajemen dana monitoring hasil 2.4 Partisipasi
2.4.1 Pengertian Partisipasi
Menurut Sujarweni (2015: 29), partispasi adalah prinsip dimana bahwa setiap warga desa pada desa yang bersangkutan mempunyai hak untuk terlibat dalam setiap pengambilan keputusan pada setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintahan desa dimana mereka tinggal. Keterlibatan masyarakat dalam rangka pengambilan keputusan tersebut dapat secara langsung dan tidak langsung.
Menurut Prasetyo (2017), partisipasi yaitu penyelenggaraan pemerintahan desa yang mengikutsertakan kelembagaan desa dan unsur masyarakat desa baik secara langsung maupun tidak langsung mlalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintahan desa. Pengelolaan keuangan desa, sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban wajib melibatkan masyarakat, para pemangku kepentingan di desa serta masyarakat luas, utamanya kelompok marjinal sebagai penerima manfaat dari program/kegiatan pembangunan di Desa.
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi adalah keikutsertaan dan keterlibatan masyarakat dan seluruh elemen desa secara aktif dan penuh baik secara langsung maupun tidak langsung demi terwujudnya pembangunan desa yang baik.
13
2.4.2 Bentuk-Bentuk Partisipasi
Menurut Alfiaturrahman (2016), betuk partisipasi yaitu: 1. Konsultasi, biasanya dalam bentuk jasa.
2. Sumbangan spontan berupa uang dan barang.
3. Mendirikan proyek yang sifatnya berdikari dan donornya berasal dari sumbangan dari individu/instansi yang berada diluar lingkungan tertentu. 4. Mendirikan proyek yang sifatnya berdikari dan dibiayai seluruhnya oleh
komuniti (biasanya diputuskan oleh rapat komuniti atau rapat desa yang menentukan anggarannya).
5. Sumbangan dalam bentuk kerja, yang biasanya dilakukan oleh tenaga ahli setempat.
6. Aksi semata.
7. Mengadakan pembangunan dikalangan keluarga desa sendiri. 8. Membangun proyek komuniti yang bersifat otonom.
Partisipasi merupakan kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa bearti mengorbankan kepentingan diri sendiri, Partisipasi dapat dibedakan atas:
1. Partisipasi horizontal dilakukan oleh sesama warga, antar sesama warga atau angota perkumpulan.
2. Partisipasi vertikal dilakukan oleh bawahan dengan atasan, antara klien dengan patron, atau antara masyarakat sebagai suatu keseluruhan dengan pemerintah.
2.4.3 Indikator Partisipasi
Menurut Prayogi (2019) indikator partisipasi adalah sebagai berikut: 1. Keterlibatan dalam rapat atau masyarakat
2. Kesediaan dalam memberikan data dan informasi 3. Keterlibatan dalam penyusunan rencana pembangunan 4. Keterlibatan dalam penentuan skla prioritas kebutuhan dana 5. Keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
14
2.5 Pembangunan Desa
2.5.1 Pengertian Pembangunan Desa
Menurut Prasetyo (2017), Pembangunan adalah suatu upaya untuk meningkatkan segenap sumber daya yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dengan prinsip daya guna, dan hasil guna yang merata dan berkeadilan. Pembangunan merupakan upaya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat, dari suatu keadaan yang kurang baik menjadi suatu yang lebih baik, dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada. Pembangunan yang mengarah pada suatu perubahan dan perbaikan kearah yang akan datang adalah pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Menurut Simanjuntak et al. (2020), pembangunan pedesaan adalah konsep pembangunan yang berbasis perdesaan (pedesaan) dengan memperhatikan ciri khas sosial dan budaya masyarakat yang tinggal dikawasan perdesaan. Masyarakat perdesaan pada umumnya masih memiliki dan melestarikan kearifan lokal kawasan perdesaan yang terkait dengan karakteristik sosial, budaya dan geografis, struktur demografi, serta kelembagaan desa. Masyarakat pada umumnya masih menghadapi masalah kemiskinan, juga masih kekurangan dan akses terhadap infrastruktur pelayanan dasar. Menurut Nafidah dan Suryaningtyas (2015), pembangunan masyarakat pedesaan diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat dimana mereka mengidentifikasikan kebutuhan dan masalahnya bersama.
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan desa adalah proses dan tahapan yang dilakukan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat desa dengan terencana sesuai dengan budaya dan ciri khas sosial masyarakat desa dalam meningkatkan kemajuan desa menjadi lebih baik.
2.5.2 Indikator Pembangunan Desa
Menurut Islamiyah (2018) indikator pembangunan desa yaitu: 1. Bidang perencanaan pembangunan desa
2. Bidang pelaksanaan pembangunan desa 3. Bidang evaluasi / monitoring
15
2.6 Hipotesa Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2017: 63), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan.
2.6.1 Pengaruh Transparansi Terhadap Pembangunan Desa
Transparansi merupakan faktor penting yang menjadi gambaran bahwa seperangkat desa telah bekerja secara terbuka atau transparan dalam setiap program pembangunan desa. Semakin transparanya pengelolaan desa, maka dapat memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat sehingga alokasi dana desa maupun evaluasi pembangunan desa dapat berjalan dengan lancar. Transparansi yang baik dapat meningkatkan pembangunan desa.
Menurut Tanjung (2014:11) Transparansi berarti memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyrakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan.
Transparansi adalah keterbukaan dari pihak aparat atau pengelola desa dalam memberikan informasi berupa laporan keuangan dan informasi lain kepada masyarakat desa secara menyeluruh. Menurut hasil penelitian Prasetyo (2017), transparansi berpengaruh signifikan terhadap pembangunan desa. Berdasarkan pernyataan diatas maka disimpulkan hipotesis pertama sebagai berikut:
H1: Transparansi berpengaruh signifikan terhadap pembangunan desa
2.6.2 Pengaruh Akuntabilitas Terhadap Pembangunan Desa
Akuntabilitas merupakan faktor internal dari aparatur desa dalam melakukan tugas dan fungsinya terhadap pembangunan desa. Akuntabilitas yang baik dapat membantu kelancaran program pembangunan desa sehingga dalam hal ini semakin ditingkatkannya akuntabilitas maka pembangunan desa akan semakin meningkat.
Mardiasmo (2016:20) menyatakan bahwa Akuntabilitas adalah kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban,
16
menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut.
Akuntabilitas adalah sikap dan perilaku dari pihak aparat atau pengelola desa untuk menjalankan peran sebagai aparat secara sungguh-sungguh dan bertanggungjawab dalam memberikan laporan kinerja atas keberhasilan ataupun kegagalan dalam proses pembangunan desa. Menurut hasil penelitian Siregar (2020), akuntabilitas berpengaruh signifikan terhadap pembangunan desa. Akuntabilitas adalah sebuah bentuk keharusan yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Desa yang menjadi pelaku administrasi pembangunan sekaligus pengelola keuangan terhadap masyarakat yang menjadi penerima manfaat. Berdasarkan pernyataan diatas maka disimpulkan hipotesis kedua sebagai berikut:
H2: Akuntabilitas berpengaruh signifikan terhadap pembangunan desa
2.6.3 Pengaruh Partisipasi Terhadap Pembangunan Desa
Partisipasi merupakan peran serta seluruh masyarakat desa dalam membantu kesuksesan program pembangunan desa. Semakin banyaknya partisipasi dari masyarakat, maka kesadaran akan pembangunan desa akan menjadi semakin meningkat, sehingga partisipasi dapat memberikan dampak yang begitu besar bagi pembangunan desa.
Menurut Sujarweni (2015: 29), partispasi adalah prinsip dimana bahwa setiap warga desa pada desa yang bersangkutan mempunyai hak untuk terlibat dalam setiap pengambilan keputusan pada setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintahan desa dimana mereka tinggal. Keterlibatan masyarakat dalam rangka pengambilan keputusan tersebut dapat secara langsung dan tidak langsung. Menurut Prasetyo (2017), partisipasi yaitu penyelenggaraan pemerintahan desa yang mengikutsertakan kelembagaan desa dan unsur masyarakat desa baik secara langsung maupun tidak langsung mlalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintahan desa. Menurut hasil penelitian Siregar (2020), partisipasi berpengaruh signifikan terhadap pembangunan desa. Berdasarkan pernyataan diatas maka disimpulkan hipotesis ketiga sebagai berikut:
17
H3: Transparansi berpengaruh signifikan terhadap pembangunan desa
2.6.4 Pengaruh Transparansi, Akuntabilitas Partisipasi Terhadap Pembangunan Desa
Transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi merupakan aspek penting yang dapat mendukung terciptanya pembangunan desa yang baik dan dapat memajukan desa. Menurut hasil penelitian Siregar (2020), Akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan keuangan desa berpengaruh secara simultan terhadap pembangunan desa. Berdasarkan pernyataan diatas maka disimpulkan hipotesis keempat sebagai berikut
H4: Transparansi, Akuntabilitas dan Partisipasi berpengaruh signifikan secara
simultan terhadap Pembangunan Desa Palasa 2.7 Kerangka Berfikir Penelitian
Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Menurut Sugiyono (2017: 60) kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Berdasarkan penjelasan tersebut maka disusulan kerangka berfikir yang dijelaskan melalui gambar berikut:
Sumber: Peneliti (2021)
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
Akuntabilitas (X2) Transparansi (X1)
Partisipasi (X3)
Pembangunan Desa (Y)