SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Sains
Program Studi Matematika
Oleh :
Prisca Devi Yudistasari
NIM : 053114020
PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2011
Presented As a Partial Fulfillment of The Requirements
to Obtain The Sarjana Sains Degree
In Mathematics
by :
Prisca Devi Yudistasari
Student Number : 053114020
MATHEMATICS STUDY PROGRAM DEPARTMENT OF MATHEMATICS
FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY
SANATA DHARMA UNIVERSITY
YOGYAKARTA
2011
but set an example for the believers in speech, in life, in love,
in faith and in purity." (1 Timotius 4:12)
Try not to measure your success by the success of others.
Success should be defined by one person: "Yourself!"
-Lupe Fiasco-
Life is so much easier when you trust the process.
Trust God!
Never be afraid of hanging your dream high. The higher your
dream is, the harder your effort would be
"You must learn from your past mistakes, but not learn on your
past successes. "
-Denis Waitley-
permainan juggling dimana susunannya periodik, beatnya konstan, dan paling
banyak satu bola akan dilempar dan ditangkap untuk setiap beat. Pada skripsi ini
yang akan dibahas adalah model matematika dari permainan juggling sederhana
yaitu mencari tahu saat beat ke berapa bola akan dilempar dan ditangkap. Model
matematika tersebut digambarkan dengan barisan juggling. Barisan juggling
adalah lamanya suatu bola saat mulai dilempar untuk setiap beat pada satu
periode. Pembahasan skripsi ini akan menunjukkan bagaimana mengetahui suatu
barisan merupakan barisan juggling atau bukan dengan menggunakan diagram
juggling atau tes permutasi. Selain itu akan ditunjukkan bagaimana mengubah
suatu barisan juggling menjadi barisan juggling yang baru dan mencari invers dari
barisan juggling.
beats are constant, and at most one ball gets caught and thrown on every beat. In
this thesis, which will be discussed are mathematical models of simple juggling is
to find out when the beats to how the ball will be thrown and caught.
Mathematical model is illustrated with juggling sequence. Juggling sequence is
the duration of a ball when thrown it begins for one period on every beat.
Discussion of this thesis will show how to know a sequence is a juggling sequence
or not using juggling diagram or permutation test. Furthermore will be shown how
to transform juggling sequence into new juggling sequence and find inverse of a
juggling sequence.
melimpahkan rahmat dan karunia kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Sains pada Program Studi Matematika Fakultas Sains
dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis mendapat bantuan, bimbingan dan
arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
yang tak terhingga kepada:
a. Bapak Yosef Agung Cahyanta, S.T., M.T. selaku Dekan Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma.
b. Ibu Lusia Krismiyati Budiasih, S.Si., M.Si. selaku Ketua Program
Studi Matematika Universitas Sanata Dharma.
c. Ibu Ch. Enny Murwaningtyas, S.Si., M.Si. selaku dosen pembimbing
yang telah banyak meluangkan waktu dan membantu serta sabar
membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
d. Prof. Frans Susilo, S.J. selaku dosen pembimbing akademik.
e. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Matematika yang telah
memberikan ilmu yang sangat berguna kepada penulis.
f. Seluruh karyawan sekretariat FST yang telah memberikan pelayanan
administrasi kepada penulis selama masa kuliah.
g. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang memberikan fasilitas
dan kemudahan kepada penulis.
selalu memberikan doa, perhatian, dukungan dan cintanya kepada
penulis.
j. Temen-temen matematika angkatan 2005 terkhususnya
sahabat-sahabatku : Yosephin Artiani, Wuri Johana Fransisca dan Agnes Tri
Susilawati, terima kasih sudah memberikan kenangan indah selama
kuliah baik senang, sedih, tangis dan tawa yang sudah kita lewati
bersama.
k. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan
kekeliruan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat
menyempurnakan skripsi ini.
Akhirnya, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca
demi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya matematika.
Yogyakarta, 14 Desember 2010
Penulis
HALAMAN JUDUL DALAM BAHASA INGGRIS ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….. iii
HALAMAN PENGESAHAN ………... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ……. v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ….. vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ………... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ………... x
DAFTAR ISI ………... xii
DAFTAR TABEL ……….. xiv
DAFTAR GAMBAR ………. xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……….... 1
B. Rumusan Masalah ………... 3
C. Batasan Masalah ………... 3
D. Tujuan Penulisan ………... 4
E. Metode Penulisan ... 4
F. Manfaat Penulisan ………... 4
G. Sistematika Penulisan ………... 5
C. Permutasi ………... 18
BAB III MODEL MATEMATIKA PADA PERMAINAN KETANGKASAN BOLA (JUGGLING) SEDERHANA
A. Permainan Ketangkasan Bola (Juggling) Sederhana ……… 20
B. Diagram Juggling ………... 24
C. Teorema Rata-Rata ………... 25
D. Pertukaran Tempat (Site Swaps) dan Algoritma
Perataan (Flattening Algorithm) ………... 38
E. Tes Permutasi ………..………... 58
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ………. 78
B. Saran ………... 78
DAFTAR PUSTAKA ………... 80
Tabel 3.2 ... 75
Gambar 3.2 ... 22
Gambar 3.3 ... 23
Gambar 3.4 ... 24
Gambar 3.5 ... 24
Gambar 3.6 ... 26
Gambar 3.7 ... 33
Gambar 3.8 ... 34
Gambar 3.9 ... 39
Gambar 3.10 ... 40
Gambar 3.11 ... 58
Gambar 3.12 ... 72
Gambar 3.13 ... 76
A. Latar Belakang Masalah
Ada berbagai macam permainan yang dapat dimainkan dalam
kehidupan sehari-hari. Salah satunya yaitu permainan ketangkasan bola
(juggling). Juggling dapat digambarkan sebagai suatu permainan dimana
pemain melempar dan menangkap sejumlah bola agar tetap di udara dan
tidak jatuh ke tanah. Bola akan dilempar satu-persatu dan jika lemparan bola
tinggi maka bola akan lebih lama untuk ditangkap, sedangkan jika lemparan
bola pendek maka bola akan cepat untuk ditangkap. Beat pada permainan
juggling didefinisikan sebagai satuan waktu untuk melakukan suatu gerakan.
Gerakan ini dapat berupa gerakan melempar, gerakan menangkap, atau tidak
melakukan gerakan apapun (diam). Dalam permainan juggling, beat akan
selalu konstan sehingga dapat diprediksi saat beat ke berapa bola akan
dilempar, ditangkap, atau tidak dilempar dan ditangkap (diam). Agar bola
tidak jatuh ke tanah harus ada suatu susunan dimana bola suatu saat harus
dilempar lebih tinggi atau bola dilempar lebih rendah. Cara melempar dan
menangkap bola bervariasi, misalkan tangan pemain ada didepan, tangan
pemain ada di belakang, tangan pemain disilangkan, dan sebagainya.
Juggling ada beberapa jenis diantaranya yaitu juggling sederhana,
juggling multiplex dan juggling dengan banyak tangan. Juggling sederhana
dan dilempar pada beat yang sama. Juggling multiplex adalah permainan
juggling dimana akan ada beberapa bola yang ditangkap dan dilempar pada
beat tertentu. Misalnya, jika seorang pemain melakukan permainan juggling
7 bola, maka pemain itu tidak harus selalu melempar dan menangkap satu
bola pada beat tertentu tetapi dapat juga melempar dan menangkap 3 bola
pada beat tersebut. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa juggling
sederhana juga merupakan juggling multiplex. Untuk juggling sederhana
dan juggling mulitplex hanya akan dimainkan menggunakan satu tangan,
sedangkan juggling dengan banyak tangan akan dimainkan menggunakan
lebih dari satu tangan.
Dalam permainan juggling biasanya akan diperhatikan beberapa
hal dalam melakukan permainan ini yaitu cara melempar dan menangkap
bola, banyaknya orang yang memainkan, banyaknya bola yang digunakan,
dan panjang lemparan bola. Karena pembahasan hanya pada permainan
juggling sederhana, maka banyaknya tangan tidak akan diperhatikan. Cara
melempar dan menangkap bola juga tidak akan diperhatikan pada
pembahasan ini, sehingga hanya akan diperhatikan banyaknya bola yang
dimainkan dan panjang lemparan bola. Panjang lemparan bola didefinisikan
sebagai lamanya suatu bola saat mulai dilempar dan ditangkap kembali.
Panjang lemparan bola juga akan menentukan pada beat ke berapa bola
akan dilempar dan ditangkap. Panjang lemparan bola ini yang kemudian
Dalam skripsi ini, topik yang akan dibahas hanya pada permainan
ketangkasan bola (juggling) sederhana yaitu menentukan model matematika
pada permainan juggling dan beberapa cara mengubah model juggling
tersebut menjadi model juggling yang baru dengan syarat-syarat tertentu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan atas uraian yang dikemukakan dalam latar belakang,
pokok permasalahan dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana mendeskripsikan suatu permainan ketangkasan bola
(juggling) sederhana?
2. Bagaimana model matematika pada permainan ketangkasan bola
(juggling) sederhana?
3. Bagaimana mengubah suatu model juggling yang sudah ada menjadi
model juggling yang baru?
C. Batasan Masalah
Pembahasan masalah dalam skripsi ini hanya dibatasi pada susunan
permainan ketangkasan bola (juggling) sederhana dan menentukan model
matematika pada permainan juggling tersebut. Pembuktian rumus
penyusunan barisan juggling pada subbab 3.5.1 (halaman 69) juga tidak
D. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk :
1. Mengetahui deskripsi suatu permainan ketangkasan bola (juggling)
sederhana.
2. Mengetahui model matematika pada permainan ketangkasan bola
(juggling) sederhana.
3. Mengubah suatu model juggling yang sudah ada menjadi model
juggling yang baru dengan syarat-syarat tertentu.
E. Metode Penulisan
Metode penulisan skripsi ini menggunakan metode studi pustaka,
yaitu dengan menggunakan buku-buku, jurnal ilmiah, dan makalah yang
telah dipublikasikan. Oleh karena itu dalam skripsi ini tidak disajikan hal
baru dalam bidang matematika.
F. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Dapat mengetahui deskripsi suatu permainan ketangkasan bola
(juggling) sederhana.
2. Dapat mengetahui model matematika pada permainan ketangkasan
bola (juggling) sederhana.
3. Dapat mengetahui cara mengubah suatu model juggling yang sudah
G. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi gambaran secara umum tentang isi skripsi ini yang
meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan
masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, manfaat penulisan,
dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini berisi beberapa teori yang melandasi pembahasan bab selanjutnya yaitu aritmetika modulo, fungsi, dan permutasi.
BAB III MODEL MATEMATIKA PADA PERMAINAN KETANGKASAN BOLA (JUGGLING) SEDERHANA Bab ini membahas permainan ketangkasan bola (juggling) sederhana meliputi susunan juggling, diagram juggling, barisan
juggling, metode-metode untuk mengubah barisan juggling, dan
invers dari barisan juggling.
BAB IV PENUTUP
A. ARITMETIKA MODULO
Aritmetika modulo adalah salah satu metode abstrak untuk
melakukan penghitungan. Sebagai contoh, jika sekarang bulan September,
bulan apakah setelah 25 bulan dari sekarang? Jawabannya adalah Oktober,
dan itu dapat dengan mudah dihitung mulai dari September dan
menghitung 25 bulan ke depan. Tetapi terdapat cara yang lebih sederhana
yaitu bahwa 25 didapat dari 25 =2⋅12+1, maka tinggal menghitung 1
bulan setelah September. Berikutnya akan didefinisikan cara ini secara
umum.
Definisi 2.1.1
Misal m suatu bilangan bulat positif dan a∈Ζ. Jika a =mq +r dengan
q adalah hasil bagi dan r adalah sisa pembagian a oleh m, maka dapat
ditulis bahwa amod m =r.
Dari definisi diatas didapat bahwa r adalah sisa pembagian a oleh
m, sehingga nilai r dapat ditulis yaitu 0≤r<m .
Contoh 2.1.1
2. 11mod 3=2 karena 11 =3⋅3+2
Teorema 2.1.1
Setiap bilangan bulat modulo terletak tepat satu di antara
.
m
) 1 ( , , 2 , 1 ,
0 K m −
Bukti :
Ambil sebarang bilangan bulat a dan misalkan amod m =r.
Dari Definisi 2.1.1 didapat bahwa ada q sedemikian hingga a =mq +r
dengan r∈Ζ dan 0≤r<m .
Karena 0≤r<m , maka r terletak di antara 0,1,2,K,(m −1). ■
B. RELASI DAN FUNGSI Definisi 2.2.1
Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah suatu aturan yang
memasangkan anggota himpunan A dengan anggota himpunan B.
Relasi dari dua himpunan dapat dinyatakan dengan 3 cara, yaitu :
- Dengan diagram panah
- Dengan himpunan pasangan berurutan
Contoh 2.2.1
Diketahui A = {3,4,5} dan B = {2,4}. Bila relasi dari A ke B adalah lebih
dari, nyatakan relasi tersebut dengan :
a. Diagram panah
b. Himpunan pasangan berurutan
c. Diagram Cartesius
Jawab :
a. Diagram panah
A B
3
4 2
5 4
b. Himpunan pasangan berurutan
{(3,2), (4,2), (5,2), (5,4)}
Definisi 2.2.2
Fungsi atau pemetaan f dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan
yang menetapkan bahwa setiap elemen di A mempunyai tepat satu
pasangan elemen di B. Untuk mendefinisikan bahwa f memetakan A ke B
akan disimbolkan dengan f :A→B.
Tidak semua relasi merupakan sebuah fungsi atau pemetaan, hanya
relasi tertentu yang memenuhi persyaratan tersebut diatas.
Ciri-ciri relasi yang merupakan pemetaan/fungsi :
1. Pada diagram panah : semua anggota A mempunyai pasangan dan
tidak ada cabang relasi dari himpunan A.
Contoh pemetaan/fungsi :
A B
• •
• •
• •
Contoh bukan pemetaan/fungsi :
A B A B
• • • •
• • • •
• • • •
• •
Terdapat cabang dari Terdapat satu anggota A yang himpunan A tidak mempunyai pasangan
2. Pada himpunan pasangan berurutan : tidak terdapat dua unsur
himpunan A yang ditulis lebih dari satu kali.
Contoh pemetaan/fungsi :
{a,1), (b,1), (c,2), (d,3)}
Contoh bukan pemetaan/fungsi :
{(a,1), (b,2), (b,3), (c,3)}
3. Pada diagram Cartesius : tidak ada dua titik segaris vertikal.
Contoh bukan pemetaan/fungsi :
Definisi 2.2.3
Fungsi dari himpunan A ke himpunan B disebut fungsi surjektif (onto) jika
setiap elemen di B mempunyai sekurang-kurangnya satu pasangan elemen
di A.
Contoh 2.2.2
Misal diketahui A = {1, 2, 3, 4} dan B = {a, b, c}.
Fungsi dikatakan fungsi surjektif jika setiap elemen di B
mempunyai sekurang-kurangnya satu elemen di A. Sebagai contoh dapat
dilihat sebagai berikut :
B A f : →
A B
1 a
2 b
3
Definisi 2.2.4
Fungsi dari himpunan A ke himpunan B disebut fungsi injektif(satu-satu)
jika setiap elemen di B mempunyai paling banyak satu pasangan elemen di
A.
Contoh 2.2.3
Misal diketahui A = {1, 2, 3, 4} dan B = {a, b, c, d, e}.
Fungsi dikatakan fungsi injektif jika setiap elemen di B
mempunyai paling banyak satu elemen di A. Sebagai contoh dapat dilihat
sebagai berikut :
B A f : →
A B
1 a
2 b
3 c
4 d
e
Definisi 2.2.5
Fungsi dari himpunan A ke himpunan B disebut fungsi bijektif(onto dan
satu-satu) jika dan hanya jika f merupakan fungsi surjektif dan fungsi
injektif, dan dinotasikan dengan .
1 1
:
− ⎯→ ⎯
onto B A
Contoh 2.2.4
Misal diketahui A = {1, 2, 3}dan B = {a, b, c}.
Fungsi dikatakan memenuhi fungsi bijektif jika setiap elemen
di B mempunyai sekurang-kurangnya satu elemen di A dan setiap elemen
di B mempunyai paling banyak satu elemen di A. Sebagai contoh dapat
dilihat sebagai berikut :
B A f : →
A B
1 a
2 b
3 c
Untuk membuktikan bahwa suatu fungsi merupakan fungsi
surjektif, fungsi injektif atau fungsi bijektif, maka ada cara yang dapat
digunakan untuk mengetahuinya yaitu :
1. Untuk menunjukkan bahwa φ adalah fungsi surjektif, dapat
diperlihatkan bahwa untuk ∀b∈B,∃a∈A sedemikian hingga φ(a)=b.
2. Untuk menunjukkan bahwa φ adalah fungsi injektif, dapat
diperlihatkan bahwa φ(a1)=φ(a2)→ a1 = a2).
Contoh 2.2.5
Fungsi f :R→ R didefinisikan dengan f
( )
n =n+2.Jawab :
Ambil sebarang k∈R, akan ditunjukkan ada n∈R sedemikian hingga
( )
n kf = .
Karena f
( )
n =n+2,makak n+2= .
Didapat bahwa n =k −2.
Karena k∈R, maka n∈R.
Untuk n=k−2, maka
k k k
f
=
+ − = −
2 ) 2 ( ) 2 (
Jadi fungsi f merupakan fungsi surjektif.
Contoh 2.2.6
Fungsi f :R→ R didefinisikan dengan f
( )
n =3n+2.Apakah fungsi f merupakan fungsi injektif ?
Jawab :
Harus dibuktikan bahwa :
) (
2
1,n R
n ∈
∀ (f(n1)= f(n2)→n1 =n2).
Maka, dimisalkan f
( )
n1 = f( )
n2 dengan n1,n2 ∈R, maka( )
n1 f( )
n2f =
2 3 2
3n1+ = n2 +
kurangkan kedua ruas dengan bilangan 2 :
kemudian bagi kedua ruas dengan bilangan 3, sehingga didapat
2
1 n
n =
Jadi fungsi f merupakan fungsi injektif.
Contoh 2.2.7
Fungsi f :R+ →R+ didefinisikan dengan
( )
x x f 2 3 = .
Apakah fungsi f merupakan fungsi bijektif ?
Jawab :
a. Akan ditunjukkan fungsi f merupakan fungsi surjektif.
Ambil sebarang k∈R+, akan ditunjukkan ada x∈R+ sedemikian
hingga
( )
x kf = .
Karena
( )
x x f
2 3
= ,maka
k x = 2 3 . Didapat bahwa k x 2 3 = .
Karena k∈R+, maka x∈R+.
Untuk
k x
2 3
= , maka
k k k f = ⋅ = 3 2 2 3 ) 2 3 (
b. Ditunjukkan fungsi f merupakan fungsi injektif.
Harus dibuktikan bahwa :
) (
2 1,
+ ∈
∀x x R (f(x1)= f(x2)→x1 =x2).
Maka, dimisalkan f
( )
x1 = f( )
x2 dengan x1,x2 ∈R+, maka( )
x1 f( )
x2f =
2
1 2
3 2
3
x x =
2
1 2
2x = x
kemudian bagi kedua ruas dengan bilangan 2, sehingga didapat
2
1 x
x =
Jadi fungsi f merupakan fungsi injektif.
Karena fungsi f merupakan fungsi surjektif dan fungsi injektif, maka
fungsi f merupakan fungsi bijektif.
Definisi 2.2.6
Permutasi dari himpunan A adalah fungsi dari A ke A yang merupakan
fungsi satu-satu dan onto. Permutasi ini dinotasikan dengan .
1 1
: − ⎯→ ⎯
onto A A
f
Contoh 2.2.8
Misal diketahui A = {1, 2, 3}.
Fungsi dikatakan permutasi jika setiap elemen dalam domain A
berpasangan dengan elemen dalam kodomain A dan setiap elemen dalam
kodomain A berpasangan dengan tepat satu elemen dalam domain A.
Sebagai contoh dapat dilihat sebagai berikut :
A A
1 1
2 2
3 3
Definisi 2.2.7
Misal f adalah fungsi satu-satu dengan domain A dan range B. Maka fungsi
invers f−1 mempunyai domain B dan range A dan didefinisikan dengan
( )
y x f( )
x y f−1 = ⇔ =untuk setiap y di B.
Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa jika f memetakan x ke y,
maka f−1 memetakan y kembali ke x. Jika f bukan fungsi satu-satu, maka
1
−
f tidak dapat didefinisikan.
Contoh 2.2.9
Pandang fungsi f yang didefinisikan oleh y =5x+2.
Dengan mempertukarkan variabel-variabel dalam persamaan itu didapat
5 2 2
5 + ⇔ = −
= y y x
Jadi bila f(x)=5x+2, maka
5 2 )
(
1 = −
− x
x
f .
Contoh 2.2.10
Misalkan diketahui fungsi y =x2 −6.
Maka dengan mempertukarkan x dan y didapat
6 6
2 − ⇔ =± +
= y y x
x .
Fungsi diatas bukan merupakan fungsi satu-satu, karena untuk setiap
dalam daerah asal ada dua elemen dalam daerah hasil. 6
− > x
Jadi fungsi y = x2 −6 tidak mempunyai invers.
C. PERMUTASI Definisi 2.3.1
Permutasi adalah suatu susunan terurut dari objek-objek yang berbeda.
Objek tersebut terdiri dari objek 1, objek 2, objek 3 dan seterusnya. Setiap
objek berbeda satu dengan yang lainnya.
Contoh 2.3.1
Misal terdapat 3 huruf yaitu A, B, C. Berapa banyak permutasi yang dapat
dibentuk dari 3 huruf tersebut ?
Jawab :
Banyaknya permutasi yang dapat dibentuk dari huruf A, B, C adalah 6
Jumlah permutasi yang dapat dibentuk dihitung menggunakan
suatu rumus umum. Suatu permutasi dari n objek yang berbeda di mana
pada setiap pemilihan diambil sebanyak r objek adalah suatu cara
penyusunan r objek dari n objek tersebut dengan memperhatikan urutan
susunannya. Didefinisikan :
)! ( ! ) , ( , r n n P P r n P
Pr nr rn
n = = = = −
dimana )n!=n(n−1)(n−2)...(2)(1 .
Pada kasus khusus dimana r=n, rumusnya menjadi
! ! 0 ! )! ( ! n n n n n Pn
n = =
− =
Contoh 2.3.2
Menggunakan Contoh 2.3.1, hitung berapa banyak permutasi yang dapat
dibentuk dari 3 huruf tersebut dengan menggunakan rumus permutasi?
Jawab :
Banyaknya permutasi yang dapat dibentuk dari 3 huruf yaitu
6 1 2 3 ! 3 )! 3 3 ( ! 3 3
A. PERMAINAN KETANGKASAN BOLA (JUGGLING) SEDERHANA Kata juggling berasal dari bahasa Latin joculare yang berarti
lelucon. Permainan juggling lebih sering dikenal sebagai suatu permainan
dimana penonton akan terhibur bahkan tertawa saat melihatnya. Sejarah
awal dari permainan juggling yaitu dengan ditemukannya salah satu bagian
dari lukisan dinding pada sebuah makam di Mesir yang dapat dilihat pada
Gambar 3.1.
Gambar 3.1
Dari lukisan tersebut dapat dilihat bahwa terdapat tiga orang yang
melakukan permainan juggling dengan cara yang berbeda-beda. Orang yang
kedua memainkan juggling dengan menggunakan tiga bola, dan orang yang
ketiga memainkan juggling dengan menggunakan dua bola serta tangan
menyilang. Bagian dari lukisan tersebut merupakan bukti sejarah bahwa
sudah ada berbagai bentuk juggling yang telah dimainkan sejak jaman
dahulu di beberapa belahan dunia. Artikel-artikel dari Arthur Lewbel juga
mendata sejarah dari permainan juggling seperti buku China dari Lie Zi
yang menceritakan kemampuan Lan Zi memainkan juggling dengan 7
pedang, ada juga cerita dari Cuchulainn orang Irlandia yang memainkan
jugling dengan sembilan apel.
Telah dijelaskan bahwa juggling digambarkan sebagai suatu
permainan dimana pemain melempar dan menangkap sejumlah bola agar
tetap di udara dan tidak jatuh ke tanah dengan beat yang konstan serta
susunan yang periodik. Misalkan permainan 3 bola dengan susunan 333.
Pertama-tama lemparkan bola satu-persatu, bola pertama dilempar pada beat
ke 1 dan akan ditangkap 3 beat kemudian atau pada beat ke 4. Bola kedua
dilempar pada beat ke 2 dan juga akan ditangkap 3 beat kemudian atau pada
beat ke 5 sedangkan bola ketiga dilempar pada beat ke 3 dan akan ditangkap
3 beat kemudian atau pada beat ke 6 dan seterusnya. Dari pengertian
juggling yang ada, dapat ditambahkan syarat untuk juggling sederhana yaitu
bola akan dilempar dan ditangkap paling banyak satu untuk setiap beat.
Pada pembahasan juggling sederhana kali ini akan diasumsikan juga bahwa
Permainan juggling biasa dimainkan dengan b bola pada beat yang
konstan. Nilai b menyatakan banyaknya bola yang dimainkan sedangkan
beat didefinisikan dengan bilangan bulat yaitu x∈Ζ = {..., -2, -1, 0, 1,
2,...}.
3.1.1 Jenis-jenis susunan permainan juggling
Ada beberapa jenis susunan permainan juggling diantaranya
sebagai berikut :
1. Susunan Cascade
Cara memainkan juggling bola yang paling dasar adalah dengan
menggunakan susunan cascade. Susunan ini biasa disebut dengan b
bola cascade. Pada susunan ini, bola dilempar secara bergantian
pada setiap tangan dan melalui susunan yang menyerupai bentuk
angka delapan. Susunan ini biasa digunakan pada permainan
juggling dengan jumlah bola ganjil.
2. Susunan Fountain
Cara memainkan juggling bola yang lain adalah dengan
menggunakan susunan fountain. Pada susunan ini, saat bola
dilemparkan akan terbentuk dua lintasan bola yang berbeda berupa
lingkaran. Susunan ini biasa digunakan pada permainan juggling
dengan jumlah bola genap.
Gambar 3.3 3. Susunan Shower
Susunan yang lain disebut susunan shower. Pada susunan ini,
saat bola dilemparkan akan melalui lintasan berupa setengah
lingkaran dan lintasan horisontal. Susunan ini dapat digunakan
Gambar 3.4
Untuk selanjutnya, tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai susunan
juggling tetapi lebih akan membahas mengenai barisan juggling.
B. DIAGRAM JUGGLING
Permainan juggling kadang sulit untuk dipahami jika dijelaskan
dengan kata-kata sehingga untuk lebih memudahkan akan digunakan
diagram juggling. Diagram juggling digunakan untuk menggambarkan
lemparan bola pada setiap beat. Pada diagram juggling, arah perpindahan
bola disesuaikan dengan panjang lemparannya. Dapat dilihat contoh diagram
juggling sebagai berikut :
Gambar di atas adalah diagram juggling dengan susunan 441 dimana jika
bola pertama dilempar pada beat ke-1 dengan panjang 4, maka bola akan
ditangkap pada beat ke-5. Jika bola kedua dilempar pada beat ke-2 dengan
panjang 4, maka bola akan ditangkap pada beat ke-6. Kemudian jika bola
ketiga dilempar pada beat ke-3 dengan panjang 1, maka bola akan ditangkap
pada beat ke-4 dan begitu seterusnya. Jadi dapat diartikan bahwa nilai 4, 4, 1
merupakan panjang lemparan bolanya.
C. TEOREMA RATA-RATA
Misalkan pada suatu permainan juggling sudah diketahui susunan
dan diagram jugglingnya, maka kemudian akan ditentukan berapa banyak
bola yang harus digunakan untuk memainkannya. Ada dua cara untuk
mengetahuinya yaitu menghitung jumlah orbit pada diagram juggling dan
menggunakan Teorema rata-rata. Orbit didefinisikan sebagai lintasan yang
dilalui oleh suatu bola pada diagram juggling. Jumlah orbit pada diagram
juggling sama dengan jumlah bola yang digunakan pada permainan
juggling.
Contoh 3.3.1
Diketahui suatu permainan juggling mempunyai susunan 333 dan diagram
Gambar 3.6
Berapa banyak bola yang harus digunakan untuk memainkan permainan
juggling di atas?
Jawab :
Pertama-tama hitung jumlah orbit pada diagram juggling dan kemudian
didapat bahwa jumlah orbitnya sama dengan 3.
Sehingga banyaknya bola yang harus digunakan untuk memainkan
permainan juggling tersebut adalah 3 bola.
Misalkan permainan juggling dinyatakan dengan suatu fungsi
, didefinisikan sebagai bilangan bulat non-negatif. Jika
adalah panjang lemparan juggling pada beat ke-x untuk
0
N :Ζ→
f N0
) (x
f x∈Ζ, maka
akan didapat suatu barisan yaitu
)... 3 ( ) 2 ( ) 1 ( ) 0 ( ) 1 ( ) 2 ( ) 3 (
... f − f − f − f f f f
Definisi 3.3.1
Jika fungsi f+(x)= x+ f(x) adalah permutasi dari bilangan bulat, maka
Contoh 3.3.2
Perlihatkan bahwa fungsi
⎩ ⎨ ⎧ = + = = + = + 2 3 mod jika 1 1 3 mod dan 0 3 mod jika 4 ) ( x x x x x x f
adalah permutasi dari bilangan bulat dan tentukan fungsi jugglingnya?
Jawab :
Untuk membuktikan bahwa fungsi adalah permutasi, harus memenuhi
syarat-syarat berikut :
+ f
a. Ambil sembarang x∈Ζ.
Masukkan nilai x ke fungsi f+ maka didapat nilai fungsi f+∈Ζ.
b. Fungsi surjektif
Ambil , akan ditunjukkan ada s
m∈Ζkodφ
s
x∈Ζdomφ sedemikian
hingga
( )
x mf+ = .
1. Karena f+(x)= x+4,maka
m x+4=
Didapat bahwa x=m−4.
Karena m dan 4∈Ζ, maka x∈Ζ.
Untuk x=m−4, maka
(
−4)
= −4+4+ m m
f
=m
2. Karena f+(x)= x+1,maka
Didapat bahwa x=m−1.
Karena m dan 1∈Ζ, maka x∈Ζ.
Untuk x=m−1, maka
(
−1)
= −1+1+ m m
f
=m
Jadi fungsi f+ merupakan fungsi surjektif.
c. Fungsi injektif
Harus dibuktikan bahwa :
) (
2
1, ∈Ζ
∀x x (f+(x1)= f+(x2)→x1 =x2).
Maka, dimisalkan f+
( )
x1 = f+( )
x2 dengan x1,x2∈Ζ, maka( )
x1 f( )
x2f+ = +
4
4 2
1 + = x +
x
2
1 x
x =
dan
( )
x1 f( )
x2f+ = +
1
1 2
1 + = x +
x
2
1 x
x =
Jadi fungsi f+ merupakan fungsi injektif.
Terbukti bahwa fungsi f+ adalah permutasi dari bilangan bulat.
Menurut Definisi 3.3.1, karena fungsi di atas adalah permutasi, maka
⎩ ⎨ ⎧ = = = = 2 3 mod jika 1 1 3 mod dan 0 3 mod jika 4 ) ( x x x x f Definisi 3.3.2
Jika adalah barisan bilangan bulat non-negatif, maka barisan ini
adalah barisan juggling jika dan hanya jika fungsi adalah
fungsi juggling.
{ }
10 − = p k k a p x a x
f( )= mod
Periode adalah panjang barisan juggling dan dinotasikan dengan p. Misalkan untuk barisan 441, maka barisan ini mempunyai periode 3 dan
untuk barisan 56414, maka barisan ini mempunyai periode 5. Susunan dari
permainan juggling adalah periodik karena nilainya akan berulang
terus-menerus.
Contoh 3.3.3
Misalkan diketahui barisan 333.
Tunjukkan bahwa barisan tersebut adalah barisan juggling ?
Jawab :
Barisan 333 dapat ditulis sebagai barisan dengan x = 0, 1, 2 yaitu ,
, .
x
a a0 =3
3
1 =
a a2 =3
Dari Definisi 3.3.2, barisan 333 adalah barisan juggling jika dan hanya jika
Dari Definisi 3.3.1, untuk menentukan f(x)=axmodp adalah fungsi
juggling, maka fungsi f+(x)= x+axmodp harus merupakan permutasi dari
bilangan bulat.
Untuk membuktikan bahwa fungsi adalah permutasi, harus memenuhi
syarat-syarat berikut :
+ f
a. Ambil sembarang x∈Ζ.
Masukkan nilai ke fungsi x f+ maka didapat nilai x+axmodp ∈Ζ.
b. Fungsi surjektif
Ambil , akan ditunjukkan ada s
m∈Ζkodφ x∈Ζdomφs sedemikian
hingga
( )
x mf+ = .
Karena f+(x)= x+axmodp,maka
m a
x+ xmodp =
Didapat bahwa x=m−axmodp.
Karena
m
dan ax mod p∈Ζ, maka x∈Ζ.Untuk x=m−axmodp, maka
(
m ax p)
m ax p ax p f+ − mod = − mod + modm =
Jadi fungsi f+ merupakan fungsi surjektif.
c. Fungsi injektif
) (
2
1, ∈Ζ
∀x x (f+(x1)= f+(x2)→x1 =x2).
Maka, dimisalkan f+
( )
x1 = f+( )
x2 dengan x1,x2∈Ζ, maka( )
x1 f( )
x2f+ = +
p x p
x x a
a
x1 mod 2 mod
2
1 = +
+
2
1 ax1 x ax2
x + = +
Karena untuk ax ax ∈ax
2
1 , , nilai bergantung pada
serta menurut sifat permainan juggling sederhana yaitu
untuk setiap beat akan dilempar dan ditangkap paling banyak satu
bola, maka didapat
2
1 dan x
x a
a
2
1dan x
x
2
1 x
x =
Jadi fungsi f+ merupakan fungsi injektif.
Terbukti bahwa fungsi f+(x)= x+axmodp adalah permutasi dari bilangan
bulat.
Maka fungsi f (x) = axmodp merupakan fungsi juggling.
Jadi barisan 333 adalah barisan juggling.
Definisi 3.3.3
Jika f adalah fungsi juggling, maka panjang dari barisan juggling dinyatakan
Jika ada x yang mempunyai tak hingga, maka barisan tidak
periodik sehingga fungsi f bukan merupakan fungsi juggling. Jadi, jika
tak hingga maka juga tak hingga. ) (x f ) (x f ) (f panjang Contoh 3.3.4
Diberikan fungsi sebagai berikut :
{
)
(
0 jika 00 jika 2
( ) 1
= ≠ +
=
x x x Tx
f
dengan T(x) adalah pangkat tertinggi dari 2 yang habis membagi x.
Berapakah panjang (f) dari fungsi di atas?
Jawab :
Untuk mencari , pertama-tama cari nilai untuk x = 0, 1, 2,
….
) (f
panjang f(x)
Untuk x =0, sudah diketahui bahwa nilaif(x)=0.
Untuk nilai x selanjutnya harus dicari terlebih dulu nilai T(x).
T(x) adalah pangkat tertinggi dari 2 yang habis membagi x.
x habis dibagi oleh 2T(x) jika ada bilangan bulat m sedemikian hingga
m x =2T(x) ⋅ .
Untuk x =1, 1 habis dibagi karena ada bilangan bulat 1 sedemikian
hingga . Karena nilai habis membagi 1 maka didapat T(1) = 0.
0
2
1 2
1= 0⋅ 20
Jadi nilai f(1)= 2T(1)+1 = 20+1 =21 =2.
Untuk x =2, 2 habis dibagi karena ada bilangan bulat 1 sedemikian
hingga . Karena nilai habis membagi 2 maka didapat T(2) = 1.
1
2
1 2
Jadi nilai f(2)= 2T(2)+1 = 21+1 =22 =4.
Untuk , 3 habis dibagi karena ada bilangan bulat 3 sedemikian
hingga . Karena nilai habis membagi 3 maka didapat T(3) = 0. 3
=
x 20
3 2
3= 0 ⋅ 20
Jadi nilai f(3)= 2T(3)+1 = 20+1 =21 =2.
Untuk x =4, 4 habis dibagi karena ada bilangan bulat 1 sedemikian
hingga . Karena nilai habis membagi 4 maka didapat T(4) = 2.
2
2
1 2
4= 2⋅ 22
Jadi, nilai f(4)= 2T(4)+1 = 22+1 =23 =8.
M
dan seterusnya.
Gambar 3.7
Jika Gambar 3.7 diteruskan sampai beat (x) ke-tak hingga, maka dapat
dilihat bahwa ada x ∈ Ζ sedemikian hingga tak hingga. Misal untuk
nilai ,
) (x f
16 =
x f
( )
16 =16 x =32 nilai f( )
32 =64, x =48 nilaidan seterusnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa adalah tak
terbatas. Dapat dilihat pula bahwa diagram juggling tersebut terdiri dari tak
( )
48 =32f
hingga banyak orbit. Karena jumlah orbit sama dengan jumlah bola
(bola (f)), maka dapat dikatakan bahwa panjang (f)=bola (f)=∞.
Teorema 3.3.1
Misal f adalah fungsi juggling. Jika panjang (f) berhingga, maka
( )
I
lim I
I
∑
∈ ∞→
x f x
ada dan sama dengan bola (f), dengan I={a,a+1,a+2,...,b}⊂Z dan
1
I =b−a+ yaitu banyaknya anggota di I.
Bukti :
Akan dibuktikan bahwa f
( )
x bola( )
fI
lim x I
I =
∑
∈∞
→ .
Menurut Definisi 3.3.3 didapat bahwa f(x)≤ panjang(f), dengan
dinyatakan sebagai nilai max . )
(f
panjang f(x)
panjang (f) panjang(f)
Gambar 3.8
Menurut Gambar 3.8, nilai I terbatas ke atas oleh I+2panjang(f) dan
terbatas ke bawah oleh I−2panjang(f) sehingga dapat ditulis menjadi
Pada Gambar 3.8 diperlihatkan diagram juggling untuk satu orbit. Karena
nilai jumlahan lemparan bola didapat dari perkalian banyaknya orbit dengan
interval I dan banyaknya bola sama dengan banyaknya orbit, maka
( )
( )
II
x ≤ ⋅
∑
∈ f x bola fI ) ( ) ( I ≤
∑
∈ x bola x fx (3.2)
Masukkan (3.2) ke dalam pertidaksamaan (3.1) sehingga didapat
( )
I 2 ( )) (
) ( 2
I I panjang f
f bola
x f f
panjang ≤ x ≤ +
−
∑
∈ (3.3)Menggunakan Gambar 3.8, didapat bahwa jika nilai I−2panjang(f)
dikalikan dengan banyaknya bola, maka hasilnya akan lebih kecil atau sama
dengan nilai jumlahan lemparan bola atau dapat ditulis menjadi
( )
≤∑
∈ −I ( )
) 2
I )( (
x f x
f panjang f
bola .
Dengan menggunakan pertidaksamaan diatas, maka pertidaksamaan (3.3)
dapat diubah menjadi
( ( )(I 2
( )
) ( ) ( )(I 2 ( ))If x bola f panjang f
f panjang f
bola
x ≤ +
≤
−
∑
∈bila ketiga ruas dibagi dengan I diperoleh
(
)
(
)
I ) ( 2 I ) ( I ) ( I ) ( 2 I )(f panjang f If x bola f panjang f
bola x +
≤ ≤
−
∑
∈bila ketiga ruas akan dicari limitnya maka pertidaksamaan menjadi
( )
(
)
( )
(
)
I ) ( 2 I lim I ) ( lim I ) ( 2 I lim I I I I f panjang f bola x f f panjang fbola x +
sehingga didapat
( )
( )
(
( )
)
I ) ( lim I 2 lim I I I∑
∈ ∞ → ∞ → ⎟⎟⎠ ≤ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛− bola f panjang f x f x f bola dan
( )
( )
(
( )
)
⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ + ≤ ∞ → ∈ ∞ →∑
I 2 lim I ) ( lim I I I f panjang f bola f bola x f x .Karena I →∞, maka nilai
( )
( )
(
( )
)
I )) ( 2 )( ( lim ) ( lim I 2 lim I I I f panjang f bola f bola f panjang f bola f bola ∞ → ∞ → ∞ → ⎟⎟⎠ = − ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ −= bola(f)−0
= bola(f).
Begitu juga untuk nilai
( )
( )
(
( )
)
I )) ( 2 )( ( lim ) ( lim I 2 lim I I I f panjang f bola f bola f panjang f bola f bola ∞ → ∞ → ∞ → ⎟⎟⎠ = + ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ += bola(f)+0
= bola(f).
Sehingga didapat persamaan
( )
f f x bola( )
fbola ≤
∑
x∈ ≤ ∞ → I ) ( lim I I .Karena nilai pertidaksamaan pada sebelah kiri dan sebelah kanan sama,
Jadi terbukti
∑
x∈ f( )
x = bola( )
f ∞→ I
lim I
I . ■
Teorema 3.3.2
Jumlah bola yang digunakan untuk memainkan juggling pada barisan
juggling sama dengan nilai rata-rata barisan tersebut.
Bukti :
Menurut Teorema 3.3.1 didapat bahwa jumlah bola yang digunakan untuk
memainkan permainan juggling pada barisan juggling akan sama dengan
nilai rata-rata barisan tersebut. ■
Teorema 3.3.1 dan Teorem3.3.2 berakibat bahwa jika barisan dari
bilangan bulat non-negatif adalah barisan juggling maka nilai rata-rata dari
barisan tersebut harus merupakan bilangan bulat. Atau dengan kata lain jika
nilai rata-rata dari barisan tersebut bukan merupakan bilangan bulat, maka
barisan tersebut bukan barisan juggling. Tetapi sebaliknya, jika nilai
rata-rata dari barisan tersebut merupakan bilangan bulat, maka belum tentu
bahwa barisan tersebut adalah barisan juggling.
Contoh 3.3.5
1. Apakah barisan 5432 adalah barisan juggling?
Jawab :
75 , 3 4
2 3 4
5+ + + =
Hasil rata-ratanya bukan bilangan bulat.
Jadi barisan 5432 bukan barisan juggling.
2. Apakah barisan 321 adalah barisan juggling?
Jawab :
Rata-rata dari barisan 321 adalah :
2 3
1 2
3+ + =
Hasil rata-ratanya merupakan bilangan bulat.
Tetapi jika barisan ini digambar menggunakan diagram juggling, maka
tidak akan memenuhi sifat permainan juggling yaitu pada setiap beat
akan dilempar dan ditangkap paling banyak satu bola. Karena saat bola
dilempar dengan panjang lemparan 3, 2, dan 1 di beat yang berbeda,
maka bola akan ditangkap pada beat yang sama.
Jadi barisan 321 bukan barisan juggling.
D. PERTUKARAN TEMPAT (SITE SWAPS) DAN ALGORITMA PERATAAN (FLATTENING ALGORITHM)
Terdapat dua operasi yang dapat mengubah barisan juggling
menjadi barisan juggling yang baru. Dua operasi tersebut adalah pertukaran
3.4.1 PERTUKARAN TEMPAT (SITE SWAPS)
Andaikan permainan juggling dinyatakan dengan fungsi juggling f
dan bola dilempar pada beat ke-x. Misalkan dipilih beat yaitu dengan
. Maka dapat dibuat fungsi juggling baru
d x+
i j
d = − f′ yang sama dengan f
untuk semua beat kecuali pada beat ke x dan x+d. Dengan menggunakan
fungsi juggling f′, panjang lemparan bola menjadi f′(x) dan .
Untuk mengetahui lebih jelasnya dapat dilihat contoh pada Gambar 3.9 dan
Gambar 3.10 dengan d = 2 :
)
(x d
f′ +
x x+2 x x+2
Gambar 3.9
Pada Gambar 3.9, diagram juggling sebelah kiri menyatakan fungsi
juggling f dan diagram juggling sebelah kanan menyatakan fungsi juggling
. Pada diagram juggling sebelah kiri dapat dilihat bahwa pada beat ke-x
nilai dan pada beat
ke-f′
4 ) (x =
f (x+2) nilai . Dengan
menggunakan operasi site swap, didapat bahwa diagram juggling sebelah
kanan pada beat ke-x nilai
1 ) 2
(x+ =
f
3 )
( =
′ x
f dan pada beat ke- nilai
.
) 2 (x+
2 ) 2
( + =
x x+2 x x+2
Gambar 3.10
Pada Gambar 3.10, diagram juggling sebelah kiri menyatakan
fungsi juggling f dan diagram juggling sebelah kanan menyatakan fungsi
juggling . Pada diagram juggling sebelah kiri dapat dilihat bahwa pada
beat ke-x nilai dan pada beat
ke-f′
2 )
(x =
f (x+2) nilai . Dengan
menggunakan operasi site swap, didapat bahwa diagram juggling sebelah
kanan pada beat k-x nilai
2 ) 2
(x+ =
f
4 )
( =
′ x
f dan pada beat ke- nilai
.
) 2 (x+
0 ) 2
( + =
′ x f
Dari kedua gambar tersebut didapatkan bentuk umum untuk
menentukan nilai f′(x) dan f′(x+d) yaitu
f′
( ) (
x =f x+d)
+ddan
(
x d) ( )
f x d f′ + = −dengan d = j−i.
Dapat dilihat pada Gambar 3.9 bahwa bola ( f ) = bola (f ). Orbit
pada kedua diagram merupakan dua orbit yang berbeda tetapi jumlah bola
yang dimainkan tetap tidak berubah. Hal yang sama dapat dilihat pada
Gambar 3.10 yaitu orbit pada salah satu diagram hanya diubah bentuknya
sehingga jumlah bola yang dimainkan juga tidak berubah.
Pembahasan di atas memberikan salah satu contoh mengubah
barisan juggling menjadi barisan juggling yang baru dengan menggunakan
operasi site swap. Contoh tersebut kemudian diselesaikan menggunakan
definisi dari operasi site swap.
Definisi 3.4.1
Misal adalah barisan bilangan bulat non-negatif dengan .
Jika i dan j bilangan bulat non-negatif sedemikian hingga
{ }
10
− =
= p
k k a
s p≥2
1 0≤i< j≤ p−
dan , maka barisan baru yaitu barisan sama dengan barisan s
kecuali elemen ke i dan j yaitu i
a i
j− ≤ si,j
i j
aj + − dan . Operasi
transformasi s ke disebut sebagai pertukaran tempat (site swap).
i j ai − +
j i s,
Teorema 3.4.1
Barisan s dan barisan tidak mempunyai perbedaan karena hanya
mengubah posisi pada elemen-elemen tertentu, sehingga dapat dikatakan
kedua barisan memiliki sifat-sifat yang sama yaitu : j
i s,
1. Barisan s adalah barisan juggling jika dan hanya jika barisan
juga barisan juggling.
j i s,
2. Nilai rata-rata dari barisan s sama dengan nilai rata-rata dari barisan
3. Jumlah bola yang digunakan pada barisan s sama dengan jumlah
bola yang digunakan pada barisan si,j.
Bukti :
1. Akan dibuktikan bahwa jika barisan s adalah barisan juggling, maka
barisan si,j juga barisan juggling dan sebaliknya.
Diketahui barisans adalah barisan juggling. ⇒
Akan dibuktikan bahwa barisan si,j juga barisan juggling.
Karena s barisan juggling dan dimisalkan barisan , maka
menurut Definisi 3.3.1 dan Definisi 3.3.2 didapat bahwa fungsi
{ }
10 − = = p k k a s p x a x x
f+( )= + mod adalah permutasi dari bilangan bulat.
Menurut Definisi 3.4.1, barisan s dapat diubah menjadi barisan
dengan menggunakan operasi site swap dan akan didapat
elemen yang baru yaitu
{ }
10 , − = = p k k j i b s
⎩
⎨
⎧
=
′
+ + ∈Ζ = ≠ ≠ Ζ ∈∈Ζ =−d d x x i
x f j x i x x x f j x x d x f
x
f
( ) , dan, dan , ) ( dan , ) (
)
(
Untuk menunjukkan bahwa barisan adalah barisan juggling, maka
harus diperlihatkan bahwa fungsi j i s,
) (x
f+′ adalah permutasi dari bilangan
bulat.
Karena fungsi merupakan permutasi dari bilangan bulat dan nilai
, maka fungsi ) (x f+
Ζ ∈
d f+′(x)= x+f′(x) juga merupakan permutasi dari
Karena fungsi f+′(x) memenuhi permutasi dari bilangan bulat, maka
barisan si,j juga merupakan barisan juggling.
Terbukti bahwa jika barisans adalah barisan juggling, maka barisan
juga barisan juggling.
j i s,
Diketahui barisan adalah barisan juggling.
⇐ si,j
Akan dibuktikan bahwa barisan s juga barisan juggling.
Misalkan barisan si,j =
{ }
bk kp=−10, maka menurut Definisi 3.3.1 danDefinisi 3.3.2 didapat bahwa fungsi f+′(x)= x+bxmodp adalalah
permutasi dari bilangan bulat.
Menurut Definisi 3.4.1, barisan si,j dapat diubah menjadi barisan
{ }
1 0 − = = p k k as dengan menggunakan operasi site swap dan akan didapat
elemen yang baru yaitu
⎩
⎨
⎧
=
′ + + ∈Ζ = ≠ ≠ Ζ ∈ ′ − ∈Ζ =′ x d d x x i
f j x i x x x f j x x d x f
x
f
( ) , dan, dan , ) ( dan , ) (
)
(
Untuk menunjukkan bahwa barisan adalah barisan juggling, maka
harus diperlihatkan bahwa fungsi adalah permutasi dari bilangan
bulat. j i s, ) (x f+
Karena fungsi merupakan permutasi dari bilangan bulat dan nilai
, maka fungsi ) (x f+′
Ζ ∈
d f+(x)=x+f(x) juga merupakan permutasi dari
Karena fungsi memenuhi permutasi dari bilangan bulat, maka
barisan juga merupakan barisan juggling. )
(x f+
j i s,
Terbukti bahwa jika barisan adalah barisan juggling, maka barisan s
juga barisan juggling.
j i s,
Jadi terbukti bahwa barisan s merupakan barisan juggling jika dan
hanya jika barisan si,j juga barisan juggling.
2. Karena jumlah nilai dari elemen yang diubah pada barisan s dan barisan
selalu sama dan nilai elemen yang lain tetap maka jumlah barisan
juggling dari keduanya akan selalu sama, sehingga nilai rata-rata
barisannya juga akan sama. j
i s,
3. Karena nilai rata-rata pada barisan s sama dengan nilai rata-rata pada
barisan , maka menggunakan Teorema 3.3.2 didapat bahwa jumlah
bola pada barisan s juga sama dengan jumlah bola pada barisan .
■ j
i s,
j i s,
Dalam melakukan permainan juggling, awal lemparan tidak selalu
dimulai dari beat ke-0, tapi pada skripsi ini akan didefinisikan bahwa awal
lemparan dimulai dari beat ke-0.
Contoh 3.4.1
Bagaimana barisan juggling yang baru dari barisan juggling 642 jika
a. beat ke 0 dan 1?
b. beat ke 0 dan 2?
Jawab :
a. Diketahui barisan juggling 642.
beat ke-0 = 6
beat ke-1 = 4
Operasi site swap pada beat ke 0 dan 1 yaitu :
beat ke-0 = 4 + 1 – 0 = 5
beat ke-1 = 6 - 1 + 0 = 5
Sehingga didapat barisan juggling yang baru yaitu barisan 552.
b. Diketahui barisan juggling 642.
beat ke-0 = 6
beat ke-2 = 2
Operasi site swap pada beat ke 0 dan 2 yaitu :
beat ke-0 = 2 + 2 – 0 = 4
beat ke-2 = 6 - 2 + 0 = 4
Sehingga didapat barisan juggling yang baru yaitu barisan 444.
Definisi 3.4.2
Jika adalah barisan bilangan bulat non-negatif dengan ,
maka adalah barisan baru yaitu . Operasi transformasi
s ke disebut sebagai operasi cyclic shift.
{ }
10
− =
= p
k k a
s p≥2
→
s ap−1a0a1a2...ap−2
Teorema 3.4.2
Barisan s dan barisan tidak mempunyai perbedaan karena hanya
mengubah posisi pada elemen-elemen tertentu, maka dapat dikatakan kedua
barisan memiliki sifat-sifat yang sama yaitu : →
s
1. Barisan s adalah barisan juggling jika dan hanya jika barisan
juga barisan juggling.
→ s
2. Nilai rata-rata dari barisan s sama dengan nilai rata-rata dari
barisan s→.
3. Jumlah bola yang digunakan pada barisan s sama dengan jumlah
bola yang digunakan pada barisan s→.
Bukti :
1. Karena operasi cyclic shift pada barisan s dan barisan hanya
mengubah letak posisi elemennya dan tidak mengubah nilai pada tiap
elemen dimana jika barisan s adalah maka barisan
akan menjadi .
→ s
1 2 2 1
0a a ...ap− ap−
a s→
2 2 1 0
1 ... −
− p
p a a a a
a
Sehingga jika barisans adalah barisan juggling, maka barisan pasti
juga barisan juggling.
→ s
Begitu juga jika barisan adalah barisan juggling, maka barisan s
pasti juga barisan juggling. → s
Jadi terbukti bahwa barisan s merupakan barisan juggling jika dan
2. Karena jumlah nilai dari elemen yang diubah pada barisan s dan barisan
tidak berbeda maka jumlah dari barisan juggling akan selalu sama,
sehingga nilai rata-rata barisannya juga akan sama. →
s
3. Karena nilai rata-rata pada barisan s sama dengan nilai rata-rata pada
barisan , maka menggunakan Teorema 3.3.2 didapat bahwa jumlah
bola pada barisan s juga sama dengan jumlah bola pada barisan . ■ →
s
→ s
Contoh 3.4.2
Bagaimana barisan juggling yang baru jika dilakukan operasi cyclic shift
pada:
a. barisan juggling 642?
b. barisan juggling 330?
Jawab :
a. Diketahui barisan juggling 642. Dengan menggunakan cyclic shift
didapat barisan juggling yang baru yaitu barisan 264.
b. Diketahui barisan juggling 330. Dengan menggunakan cyclic shift
didapat barisan juggling yang baru yaitu barisan 033.
3.4.2 ALGORITMA PERATAAN (FLATTENING ALGORITHM) Algoritma perataan digunakan untuk mengubah barisan s ke
barisan yang baru yaitu barisan dengan b bola dan periode p. Barisan
dari barisan s. Algoritma perataan menggunakan dua operasi yaitu operasi
site swap dan operasi cyclic shift.
Untuk menggunakan algoritma perataan ini diberikan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Jika s barisan konstan, maka operasi akan berhenti dan barisan konstan
tersebut adalah barisan yang baru.
2. Gunakan operasi cyclic shift untuk menyusun barisan s sedemikian
hingga untuk t sebagai panjang lemparan maksimum diletakkan pada
beat ke-0 dan u bukan panjang lemparan maksimum diletakkan pada
beat ke-1. Jika nilai t dan u mempunyai perbedaan satu, maka operasi
akan berhenti dan barisan yang terakhir adalah barisan yang baru.
3. Lakukan operasi site-swap pada beat ke 0 dan 1. Definisikan kembali
barisan s dan kembali ke langkah pertama. Jika belum mendapat barisan
yang konstan,maka lakukan kembali operasi cyclic shift pada barisan
tersebut.
Dengan menggunakan Teorema 3.4.1 dan Teorema 3.4.2 yang
pertama, barisan-barisan selanjutnya pada algoritma perataan adalah barisan
juggling jika dan hanya jika input dari barisan adalah barisan juggling.
Begitu juga apabila barisan-barisan selanjutnya pada algoritma perataan
bukan barisan juggling jika dan hanya jika input dari barisan juga bukan
barisan juggling. Untuk input adalah barisan juggling, algoritma perataan
perbedaan sekurang-kurangnya dua. Jika nilai t dan u mempunyai perbedaan
satu, maka akan ada bola yang ditangkap pada beat yang sama. Jika
rata-rata input dari barisan juggling adalah b dan periodenya p, maka Teorema
3.4.1 dan Teorema 3.4.2 yang kedua menjamin bahwa output barisan adalah
barisan b bola, yaitu barisan yang elemennya sama dengan b. Untuk input
bukan barisan juggling, algoritma perataan akan berhenti saat langkah kedua
dan output barisan mempunyai bentuk t(t −1)...
Contoh 3.4.3
Bagaimana algoritma perataan dapat mengubah barisan 642 menjadi barisan
yang baru?
Jawab :
Input barisan yaitu barisan 642. Untuk mendapat barisan yang baru
digunakan operasi site-swap dan operasi cyclic shift sebagai berikut :
1. Pada barisan 642 dilakukan operasi site-swap pada beat ke 0 dan 1 :
beat ke-0 = 4 + 1 – 0 = 5
beat ke-1= 6 – 1 + 0 = 5
Sehingga didapat barisan baru yaitu barisan 552.
2. Pada barisan 552 dilakukan dua operasi cyclic shift karena jika hanya
dilakukan satu operasi cyclic shift, maka didapat barisan baru yaitu
barisan 255. Barisan 255 tidak memenuhi langkah kedua karena 2 bukan
cyclic shift. Dengan dua operasi cyclic shift didapat barisan baru yaitu
barisan 525.
3. Pada barisan 525 dilakukan operasi site-swap pada beat ke 0 dan 1 :
beat ke-0 = 2 + 1 – 0 = 3
beat ke-1 = 5 – 1 + 0 = 4
Sehingga didapat barisan baru yaitu barisan 345.
4. Pada barisan 345 dilakukan operasi cyclic shift sehingga didapat barisan
baru yaitu barisan 534.
5. Pada barisan 534 dilakukan operasi site-swap pada beat ke 0 dan 1 :
beat ke-0 = 3 + 1 – 0 = 4
beat ke-1 = 5 – 1 + 0 = 4
Sehingga didapat barisan baru yaitu barisan konstan 444.
Algoritma perataan juga dapat ditunjukkan dengan gambar sebagai berikut :
444 534
345 525
552
642⎯⎯ →swap⎯ ⎯⎯ →2shift⎯ ⎯⎯ →swap⎯ ⎯⎯ →shift⎯ ⎯⎯ →swap⎯
Rata-rata barisan 642 = 4 3
2 4 6
= + +
dan periode = 3.
Jadi, barisan yang baru adalah barisan konstan 444.
Contoh 3.4.4
Bagaimana algoritma perataan dapat mengubah barisan 514 yang bukan
barisan juggling menjadi barisan yang baru?
Diketahui : Input barisan yaitu barisan 514.
Barisan 514 bukan barisan juggling karena jika dilakukan permainan
juggling akan ada dua bola yang ditangkap pada beat yang sama. Untuk
mendapat barisan yang baru digunakan operasi site-swap dan operasi cyclic
shift sebagai berikut :
1. Pada barisan 514 dilakukan operasi site-swap pada beat ke 0 dan 1 :
beat ke-0 = 1 + 1 – 0 = 2
beat ke-1 = 5 – 1 + 0 = 4
Sehingga didapat barisan baru yaitu barisan 244.
2. Pada barisan 244 dilakukan operasi cyclic shift sehingga didapat barisan
baru yaitu barisan 424.
3. Pada barisan 424 dilakukan operasi site-swap pada beat ke 0 dan 1 :
beat ke-0 = 2 + 1 – 0 = 3
beat ke-1 = 4– 1 + 0 = 3
Sehingga didapat barisan baru yaitu barisan 334.
4. Pada barisan 334 dilakukan operasi cyclic shift sehingga didapat barisan
baru yaitu barisan 433.
Algoritma perataan juga dapat ditunjukkan dengan gambar sebagai berikut :
433 334
424 244
514 ⎯⎯ →swap⎯ ⎯⎯ →shift⎯ ⎯⎯ →swap⎯ ⎯⎯ →shift⎯
Pada barisan 433, operasi akan berhenti karena saat melakukan permainan
beat yang sama dan dapat dilihat bahwa jika input bukan barisan juggling,
maka output barisan juga bukan barisan juggling dan akan membentuk e(e -
1)...
Jadi, barisan yang baru yaitu barisan 433.
Contoh 3.4.5
Berapa banyakbarisan 333 dengan periode 3 yang dapat diubah menjadi
barisan juggling dengan 3 bola?
Jawab :
1. Barisan 333 diubah menjadi barisan yang baru menggunakan operasi site
swap sebagai berikut :
beat ke-0 = 3 + 1 – 0 = 4, beat ke-1 = 3 – 1 + 0 = 2
Barisan yang baru yaitu barisan 423.
2. Barisan 423 dapat diubah kembali menggunakan operasi cyclic shift
menjadi barisan 342 dan barisan 234.
- Barisan 342 diubah menjadi barisan yang baru menggunakan operasi
site swap sebagai berikut :
beat ke-0 = 4 + 1 – 0 = 5, beat ke-1 = 3 – 1 + 0 = 2
Barisan yang baru yaitu barisan 522.
- Barisan 234 diubah menjadi barisan yang baru menggunakan operasi
site swap sebagai berikut :
beat ke-0 = 3 + 1 – 0 = 4, beat ke-1 = 2 – 1 + 0 = 1
3. Barisan 522 dapat diubah kembali menggunakan operasi cyclic shift
menjadi barisan 252 dan barisan 225.
- Barisan 252 diubah menjadi barisan yang baru menggunakan operasi
site swap sebagai berikut :
beat ke-0 = 5 + 1 – 0 = 6, beat ke-1 = 2 – 1 + 0 = 1
Barisan yang baru yaitu barisan 612.
- Barisan 225 diubah