• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arahan Perencanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Arahan Perencanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Bab 2

Arahan Perencanaan

Pembangunan

Bidang Cipta Karya

2.1. KONSEP PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM BIDANG

CIPTA KARYA

Dalam rangka mewujudkan kawasan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan, konsep

perencanaan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya disusun dengan berlandaskan

pada berbagai peraturan perundangan dan amanat perencanaan pembangunan. Untuk

mewujudkan keterpaduan pembangunan permukiman, Pemerintah Pusat, Provinsi, dan

Kabupaten/Kota perlu memahami arahan kebijakan tersebut, sebagai dasar perencanaan,

pemrograman, dan pembiayaan pembangunan Bidang Cipta Karya.

Gambar 2.1 memaparkan konsep perencanaan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta

Karya, yang membagi amanat pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya dalam 4

(empat) bagian, yaitu amanat penataan ruang/spasial, amanat pembangunan nasional dan

(2)

Gambar 2.1Bagan Konsep Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Bidang

(3)

2.2 AMANAT PEMBANGUNAN NASIONAL

2.2.1 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL

Pengertian Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional adalah dokumen

perencanaan pembangunan nasional yang merupakan jabaran dari tujuan dibentuknya

Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk visi, misi, dan arah pembangunan

nasional untuk masa 20 tahun ke depan yang mencakupi kurun waktu mulai dari tahun 2005

hingga tahun 2025.

Maksud dan tujuan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025, selanjutnya disebut RPJP Nasional, adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional

periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2025,

ditetapkan dengan maksud memberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen

bangsa (pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan

nasional sesuai dengan visi, misi, dan arah pembangunan yang disepakati bersama sehingga

seluruh upaya yang dilakukan oleh pelaku pembangunan bersifat sinergis, koordinatif.

Untuk melaksanakan dan mencapai satu tujuan dan satu cita-cita tersebut diperlukan suatu

rencana yang dapat merumuskan secara lebih konkrit mengenai pencapaian dari tujuan

bernegara tersebut. Tujuan dari bernegara sebagaimana diatur dalam Pembukaan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejateraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Program Pembangunan Nasional periode 2005 – 2025 dilaksanakan sesuai dengan RPJP Nasional. RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan

Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonsesia

Tahun 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,

memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan

ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial dalam

(4)

RPJP Nasional sebagaimana tercantum dalam Lampiran UU merupakan satu kesatuan dan

bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang tersebut. RPJP Nasional sebagaimana

dimaksud dalam UU No. 17 tahun 2007 menjadi pedoman dalam penyusunan RPJM Nasional

yang memuat Visi, Misi dan Program Presiden.

Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan dan untuk menghindarkan kekosongan

rencana pembangunan nasional, Presiden yang sedang memerintah pada tahun terakhir

pemerintahannya diwajibkan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP)untuk tahun

pertama periode Pemerintahan Presiden berikutnya. RKP sebagaimana yang dimaksud

digunakan sebagai pedoman untuk menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

tahun pertama periode Pemerintahan Presiden berikutnya. RPJP Nasional menjadi acuan

dalam penyusunan RPJP Daerah yang memuat visi, misi, dan arah Pembangunan Jangka

Panjang Daerah. RPJP Daerah menjadi pedoman dalam penyusunan RPJM Daerah yang

memuat Visi, Misi dan Program Kepala Daerah. RPJM Daerah disusun dengan memerhatikan

RPJM Nasional.

Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 merupakan kelanjutan dari

pembangunan sebelumnya untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana diamanatkan

dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu,

dalam 20 tahun mendatang, sangat penting dan mendesak bagi bangsa Indonesia untuk

melakukan penataan kembali berbagai langkah-langkah, antara lain di bidang pengelolaan

sumber daya alam, sumber daya manusia, lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga

bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar serta

daya saing yang kuat di dalam pergaulan masyarakat internasional.

Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang nasional yang dituangkan dalam

bentuk visi, misi dan arah pembangunan nasional adalah produk dari semua elemen bangsa,

masyarakat, pemerintah, lembaga- lembaga negara, organisasi kemasyarakatan dan organisasi

politik. RPJP Daerah harus disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik

dan potensi daerah. Selanjutnya RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah.

Arah, tahapan, dan prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005–2025.

(5)

masyarakat adil dan makmur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai

ukuran tercapainya Indonesia yang maju, mandiri, dan adil, pembangunan nasional dalam 20

tahun mendatang diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran pokok.

2.2.2 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL

Terdapat 5 (lima) tujuan pelaksanaan sistem perencanaan pembangunan nasional (sesuai

Perpres nomor 05 tahun 2010), yaitu untuk mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan;

menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi antardaerah, antarruang, antarwaktu,

dan antarfungsi pemerintah, maupun antar pusat dan daerah; menjamin keterkaitan dan

konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan;

mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya

secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

Sinergi antar bidang pembangunan sangat penting untuk kelancaran pelaksanaan dan

tercapainya berbagai sasaran dalam RPJMN 2010-2014. Pada dasarnya pembangunan di

setiap bidang untuk mencapai keberhasilan, tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait

dengan pembangunan di bidang lainnya. Dengan pembiayaan yang terbatas, untuk mencapai

efektifitas, efisiensi dan hasil yang maksimal dalam mencapai sasaran pembangunan, harus

dilakukan sinkronisasi pembangunan di setiap bidang sehingga kegiatan di setiap bidang

saling terpadu, mendukung dan saling memperkuat. Setiap kementerian, lembaga pemerintah

nonkementerian yang melaksanakan pembangunan di setiap bidang harus memiliki komitmen

yang kuat untuk mencapai sinergi tersebut melalui proses komunikasi, konsultasi, koordinasi

serta monitoring, dan evaluasi dengan pemangku kepentingan terkait di pusat dan daerah dan

mengedepankan keberhasilan bersama dalam pencapaian sasaran pembangunan.

Selanjutnya, di dalam melaksanakan pembangunan yang tertuang dalam Rencana

Pembangunan Jangka Menengah ini terdapat prinsip pengarusutamaan yang menjadi landasan

operasional bagi seluruh pelaksanan pembangunan. Prinsip-prinsip pengarusutamaan ini

diarahkan untuk dapat tercermin di dalam keluaran pada kebijakan pembangunan.

Prinsip-prinsip pengarusutamaan ini akan menjadi jiwa dan semangat yang mewarnai berbagai

(6)

prinsip-prinsip pengarustamaan itu, pembangunan jangka menengah ini akan memperkuat

upaya mengatasi berbagai permasalahan yang ada.

Pengarusutamaan dilakukan dengan cara yang terstruktur dengan kriteria sebagai berikut:

• pengarusutamaan bukanlah merupakan upaya yang terpisah dari kegiatan pembangunan sektoral

• pengarusutamaan tidak mengimplikasikan adanya tambahan pendanaan (investasi) yang signifikan

• pengarusutamaan dilakukan pada semua sektor terkait namun diprioritaskan pada sektor penting yang terkait langsung dengan isu-isu pengarustamaan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 ini juga diarahkan untuk menjadi

sebuah rencana kerja jangka menengah yang bersifat menyeluruh. Persoalan yang bersifat

lintas bidang harus ditangani secara holistik dan tidak terfragmentasi sehingga dapat

menyelesaikan persoalan yang sebenarnya. Pencapaian kinerja pembangunan tersebut menjadi

komitmen semua pihak khususnya instansi pemerintah untuk dapat merealisasikannya secara

sungguh-sungguh demi kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, disusun

pula rencana kerja yang bersifat lintas bidang. Kebijakan lintas bidang ini akan menjadi

sebuah rangkaian kebijakan antar bidang yang terpadu meliputi prioritas, fokus prioritas serta

kegiatan prioritas lintas bidang untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan yang

semakin kompleks.

2.2.3 MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN

EKONOMI INDONESIA (MP3EI)

Selaras dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang

Nomor 17 tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005–2025,

maka visi Percepatan danPerluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia adalah “Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur”. Melalui langkah MP3EI,

percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi akan menempatkan Indonesia sebagai

negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara USD 14.250

(7)

ekonomi tersebut akan dibarengi oleh penurunan inflasi dari sebesar 6,5 persen pada periode

2011–2014 menjadi 3,0 persen pada 2025. Kombinasi pertumbuhan dan inflasi seperti itu mencerminkan karakteristik negara maju.

Visi 2025 tersebut diwujudkan melalui 3 (tiga) misi yang menjadi fokus utamanya, yaitu:

1. Peningkatan nilai tambah dan perluasan rantai nilai proses produksi serta distribusi dari

pengelolaan aset dan akses (potensi) SDA, geografis wilayah, dan SDM, melalui

penciptaan kegiatan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis di dalam maupun

antar-kawasan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

2. Mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran serta integrasi

pasar domestik dalam rangka penguatan daya saing dan daya tahan perekonomian

nasional.

3. Mendorong penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi, proses, maupun pemasaran

untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan, menuju innovation-driven economy.

Pemahaman tersebut harus direfleksikan dalam kebijakan Pemerintah. Regulasi yang ada

seharusnya dapat mendorong partisipasi dunia usaha secara maksimal untuk membangun

berbagai macam industri dan infrastruktur yang diperlukan. Karena itu percepatan dan

perluasan pembangunan ekonomi Indonesia memerlukan evaluasi terhadap seluruh kerangka

regulasi yang ada, dan kemudian langkah-langkah strategis diambil untuk merevisi dan

merubah regulasi sehingga mendorong partisipasi maksimal yang sehat dari dunia usaha.

Semangat Not Business As Usual juga harus terefleksi dalam elemen penting pembangunan, terutama penyediaan infrastruktur. Pola pikir masa lalu mengatakan bahwa infrastruktur harus

dibangun menggunakan anggaran Pemerintah. Akibat anggaran Pemerintah yang terbatas,

pola pikir tersebut berujung pada kesulitan memenuhi kebutuhan infrastruktur yang memadai

bagi perekonomian yang berkembang pesat. Saat ini telah didorong pola pikir yang lebih maju

dalam penyediaan infrastruktur melalui model kerjasama pemerintah dan swasta atau Public-Private Partnership(PPP).

Namun demikian, untuk mempercepat implementasi MP3EI, perlu juga dikembangkan

metode pembangunaninfrastruktur sepenuhnya oleh dunia usaha yang dikaitkan dengan

kegiatan produksi. Peran Pemerintah adalahmenyediakan perangkat aturan dan regulasi yang

(8)

tersebut secara paripurna. Insentif tersebut dapat berupa kebijakan (sistem maupun tarif)

pajak, bea masuk, aturan ketenagakerjaan, perizinan, pertanahan, dan lainnya, sesuai

kesepakatan dengan dunia usaha. Perlakuan khusus diberikan agar dunia usaha memiliki

perspektif jangka panjang dalam pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Selanjutnya, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus membangunlinkagesemaksimal mungkin untuk mendorong pembangunan daerah sekitar pusat pertumbuhan ekonomi.

2.2.4 MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PENGURANGAN

KEMISKINAN DI INDONESIA (MP3KI)

Dalam upaya menekan angka kemiskinan, pemerintah sejak 2009 mendesain

programMasterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI). Program ini langsung menyasar masyarakat bawah yang mengalami kemiskinan ekstrim di Indonesia. Sebagai program andalan, MP3KI ini juga bertujuan untuk

mengimbangi rencana besar pembangunan ekonomi yang terintegrasi dalamMasterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Sebagaimana diketahui, MP3EI digulirkan guna menjaga stabilitas makro-ekonomi,

mendorong percepatan pertumbuhan sektor riil, memperbaiki iklim investasi, mempercepat

dan memperluas pembangunan infrastruktur, menguatkan skema kerja sama pembiayaan

investasi dengan swasta, ketahanan energi, ketahanan pangan, reformasi birokrasi dan tata

kelola, meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan inovasi teknologi.

Sementara, fokus kerja MP3KI tertuang dalam sejumlah program,pertama, penanggulangan kemiskinan eksisting Klaster I, berupa bantuan dan jaminan/perlindungan sosial. Lalu di

Klaster II adalah pemberdayaan masyarakat, Klaster III tentang Koperasi, Usaha Mikro,

Kecil, dan Menengah (KUMKM), dan Klaster IV adalah program prorakyat.Kedua, transformasi perlindungan dan bantuan sosial.Ketiga, pengembanganlivelihood, pemberdayaan, akses berusaha & kredit, dan pengembangan kawasan berbasis potensi lokal.

Sejak diluncurkan pada Tahun 2012 lalu, MP3KI diarahkan untuk menyasar 40% kelompok

masyarakat paling bawah secara ekonomi. Menurut perkiraan jumlah kelompok ini mencapai

29 juta orang miskin dan 70 juta orang rentan miskin. Kenapa kelompok rentan miskin jauh

lebih besar dengan yang miskin? Hal ini disebabkan oleh program pemerintah yang tumpang

(9)

fokus pada satu kementerian saja. Dalam pandangan Hatta, dengan fokus di satu kementerian,

mengontrolnya akan lebih muda dan realisasinya juga lebih bisa mencapai sasaran.

Hatta berjanji akan memasukkan kelompok masyarakat rentan miskin ke program

pengentasan kemiskinan yang terintegrasi dalam MP3KI. Keberadaan Komite Ekonomi

Nasional (KEN) bisa dioptimalkan untuk realisasi MP3KI dengan cara melakukan

pengawasan langsung ke lapangan. Misalnya, memastikan bahwa program perlindungan

sosial, raskin dan sebagainya tidak hanya diperuntukkan kelompok miskin. Karena apa?

Kalau hanya untuk kelompok miskin, maka yang masuk kategori rentan akan masuk dalam

jurang kemiskinan lagi.

Mengingat pentingnya program ini, tidak ada alasan untuk tidak merealisasikannya. Menko

Perekonomian menegaskan bahwasannya untuk soal anggaran tidak dikhawatirkan karena

alokasinya sudah di-plot jauh-jauh hari. Akhirnya dengan dijalankannya MP3KI, diharapkan

sebagian besar masyarakat miskin memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi dan

lapangan kerja untuk meningkatkan taraf hidupnya di masa depan.

2.2.5 KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK)

Undang Nomor 39 Tahun 2009 lahir sebagai bagian dari diberlakukannya

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Ketentuan pasal 31 ayat (3)

dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, menjelaskan

bahwa ketentuan mengenai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) diatur dengan Undang-Undang

tersendiri. Sehingga dapat dianggap bahwa lahirnya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009

tentang Kawasan Ekonomi Khusus adalah untuk memenuhi kebutuhan regulasi tentang

penanaman modal, khususnya untuk mempercepat pengembangan ekonomi di wilayah

tertentu yang bersifat strategis, bagi pengembangan ekonomi nasional dan untuk menjaga

keseimbangan kemajuan suatu daerah dalam kesatuan ekonomi nasional

Tapi benarkah implementasi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan

Ekonomi Khusus menawarkan/membawa kesejahteraan, atau justru tidak berarti bagi

kemajuan perekonomian dan daya saing nasional, serta berimplikasi buruk terhadap

kehidupan masyarakat. Banyak anggapan dan dugaan sebagian orang, bahwa lahirnya

(10)

dibandingkan upaya membangun kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan tersebut.

Undang-Undang ini dianggap sebagai keberpihakan Negara terhadap para pemilik modal besar (kaum

kapitalis), yang di bangun diatas argumentasi untuk menarik modal (investasi), peningkatan

penanaman modal, sehingga diperlukan penyiapan kawasan-kawasan yang memiliki

keunggulan geoekonomi dan geostrategic, dan sebagai konsekuensi dari Undang_undang No

25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Agar tidak terjebak pada perdebatan tersebut, kita

coba melihat bagaimana implementasinya di lapangan.

Pada Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang 39 Tahun 2009 tentang KEK; “pembentukan KEK

diusulkan kepada Dewan Nasional oleh Badan Usaha, pemerintah kabupaten/kota atau

pemerintah provinsi. Dari pemahaman pasal itu, dapat dipahami bahwa keberadaan badan

usaha (swasta) diperbolehkan membentuk KEK, artinya hanya pemilik-pemilik modal besar

yang mendapatkan kesempatan dalam pembentukan KEK. Kondisi ini tentu hanya

menguntungkan pemodal besar baik dari dalam maupun luar negeri. Terlebih lagi KEK ini

memang sengaja dibangun bertujuan untuk menarik investasi asing dengan berbagai fasilitas

infrastruktur yang lengkap dan modern, serta insentif fiskal yang menarik.

Meskipun dalam ayat 2, dalam pasal 5 UU tersebut menjelaskan bahwa usulan dari Badan

Usaha dalam membentuk KEK setelah memperoleh persetujuan pemerintah Kabupaten/kota,

dan usulan tersebut melalui pemerintah provinsi, tetapi tetap saja peluang itu hanya terbuka

bagi para pemilik modal besar baik dalam dan luar negeri, karena untuk membangun infra dan

supra struktur KEK dibutuhkan modal yang cukup besar, dan peluang ini hanya terbuka bagi

para pemilik modal.

Dalam pasal 3 UU no 39 tahun 2009 tentang KEK, Undang-Undang ini memberi ruang pada

usaha-usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dan koperasi, baik sebagai pelaku usaha

maupun sebagai pendukung kegiatan perusahaan yang berada di dalam KEK, namun pada

kenyataannya usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi juga berada di bawah coorperate

anak-anak usaha dari para investor tadi.

Dalam pasal 4 UU ini, harus terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan

internasional atau berdekatan dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau pada

(11)

2.2.6 DIREKTIF PRESIDEN

Mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan

masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan yang berkeadilan

sebagaimana termuat dalam Lampiran Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang

Pedoman Pembangunan yang Berkeadilan, yang meliputi program :

1. Pro rakyat

a. Program penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga

b. Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat;

c. Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil;

2. Keadilan untuk semua

a. Program keadilan bagi anak

b. Program keadilan bagi perempuan

c. Program keadilan di bidang ketenagakerjaan

d. Program keadilan di bidang bantuan hukum

e. Program keadilan di bidang reformasi hukum dan peradilan

f. Program keadilan bagi kelompok miskin dan tertinggi

3. Pencapaian Tujuan Pembangunan Milineum (MDG’s).

a. Program pemberantasan kemiskinan dan kelaparan

b. Program pencapaian pendidikan dasar untuk semua

c. Program pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

d. Program penurunan angka kematian anak

e. Program kesehatan ibu

f. Program pengendalian HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya

g. Program penjaminan kelestarian lingkungan hidup

h. Program pendukung percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium.

2.3 PERATURAN PERUNDANGAN PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA

Penyusunan Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

(RPI2JM) Bidang Cipta Karya Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2015 - 2019 didasarkan

(12)

A. Peraturan Perundangan :

1. Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Nasional;

2. Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

3. Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

4. Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah

Pusat dan Pemerintah Daerah;

5. Undang-undang No. 1 Tahun 2004 tentang Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004

tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (lembaran

Negara RI Tahun 2004 Nomor 66, tambahan Lembaran Negara RI nomor 44000);

6. Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Daerah (Lembaran Negara

RI.Tahun 2003 No. 47, tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4286);

7. Undang-undang No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional;

8. Undang-undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan;

9. Undang-undang No. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman;

10. Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air;

11. Undang-undang No. 16 tahun 1985 tentang Rumah Susun;

12. Peraturan dan Perundangan lainnya yang terkait.

B. Kebijakan dan Strategi :

1. Peraturan Pemerintah RI No. 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan

Air Minum;

2. Keputusan Presiden RI No. 7 tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Nasional 2004–2009;

3. Peraturan Menteri PU No. 494/PRT/M/2005 tentang Kebijakan Nasional Strategi

Pengembangan (KNSP) Perumahan dan Permukiman;

4. Peraturan Menteri PU No. 20/PRT/M/2006 tentang Kebijakan Nasional Strategi

Pengembangan (KNSP) Sistem Penyediaan Air Minum;

5. Peraturan Menteri PU No. 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan Nasional Strategi

Pengembangan (KNSP) Sistem Pengelolaan Persampahan;

6. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan

(13)

7. Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2005–2009;

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah daerah Propinsi, dan Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota;

9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 51/PRT/M.005 tanggal 7 Maret 2005 tentang

Renstra Departemen PU;

10. Surat Direktur Jendral Cipta Karya No. Pr.02.03-Dc/496 tanggal 9 Desember 2005

perihal Penyusunan Program Investasi Jangka Menengah Pembangunan PU Bidang

Cipta Karya (Infrastruktur Permukiman) Kabupaten/Kota.

2.4. AMANAT INTERNASIONAL

2.4.1 AGENDA HABITAT

Kementerian Pekerjaan Umum bersama Sekretariat Nasional Habitat Indonesia akan

menyusun kerangka acuan kerja untuk menghadapi Konferensi Habitat 2016. Upaya ini

menjawab hasil pertemuan Committee of Permanent Representative (CPR) Working Group

UN-Habitat yang mendorong negara-negara anggota untuk menyiapkan laporan nasional

(Country Report) menghadapi pertemuan persiapan (Prepatory Process) Habitat III.

Direktur Jenderal Cipta Karya, Imam S. Ernawi, saat memimpin Diskusi Terbatas Persiapan

Konferensi Habitat III, di Jakarta (22/8), menegaskan bahwa perlu disiapkan kerangka acuan

kerja sampai 2016 yang tidak hanya untuk menghadapi konferensi Habitat III, namun untuk

kepentingan Indonesia sendiri dalam menghadapi Agenda Urbanisasi Abad 21. Kerangka

kerja tidak hanya bagaimana menyusun national report Indonesia dalam Agenda Habitat, namun juga harus dapat menjabarkan 11 indikator perkotaan national report dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan.

Programme Manager UN Habitat Indonesia menjelaskan, laporan nasional berisikan capaian dari implementasi Habitat Agenda II di Istanbul 1996, target dan tujuan dari kesepakatan

internasional, serta tantangan, pembelajaran, dan tantangan ke depan terkait permukiman yang

berkelanjutan. Penyusunandraft Guidelines on Habitat III Country Report yang berisi 26 isu dan 11 indikator perkotaan yang akan digunakan sebagai data dasar bagi penyusunan laporan

(14)

Disebutkan, enam guidelines dalam Country Report Habitat III antara lain; Urban Demography Issues, Land and Planning, Environment and Urbanization, Urban Governance and Legislation, Urban Economy, danHousing and Basic Services. Dalam rangka menjaring masukan terkait isu-isu dan penajaman indikator tersebut. Indonesia fokus pada permasalahan

urbanisasi,good governance, dansustainable urbanserta menyesuaikan dengan kondisi lokal Indonesia.

2.4.2 RIO + 20

Sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2012 tentang Peningkatan Produksi

Minyak Bumi Nasional. Sektor industri minyak dan gas bumi hingga saat ini tetap menjadi

salah satu sektor andalan, yang menjadi tulang punggung penerimaan negara. Pertanyaannya

kemudian adalah, apa yang harus kita lakukan agar kontribusi tersebut tetap terjaga atau

bahkan dapat ditingkatkan sehingga memberikan manfaat berkesinambungan bagi generasi di

masa yang akan datang.

Ini merupakan tantangan untuk menjalankan peran masing-masing secara baik, guna

memastikan kegiatan industri hulu migas dapat berjalan secara optimal. Pendapatan negara

sebesar kurang lebih Rp 300 triliun per tahun, tentu sangat penting untuk dijaga dan

dipertahankan. Oleh karena itu, pemerintah berketetapan untuk terus memberikan dukungan,

dorongan, dan fasilitasi kepada para pelaku industri di sektor migas, untuk meningkatkan

kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di seluruh tanah air.

Bagi pemerintah, para pelaku industri di sektor migas merupakan mitra strategis yang dapat

melahirkan gagasan dan langkah inovatif, baik dalam meningkatkan produksi minyak bumi

maupun perluasan pemanfaatan gas bumi. Pemerintah sangat menyadari tantangan kegiatan

usaha hulu migas semakin berat. Di satu sisi, sumber daya yang ada dan upaya untuk

meningkatkan cadangan semakin sulit dan mahal. Di sisi lain, berbagai kendala terus

mengemuka, yang perlu disikapi secara bijak, taktis, serta dicarikan solusinya.

Selain itu, terjadi pula dinamika di sektor hulu migas yang harus ditindaklanjuti dengan

langkah strategis, untuk menjamin keberlangsungan kontrak-kontrak kerja sama minyak dan

(15)

Bahwa saat ini energi menjadi isu hangat di seluruh belahan dunia. Beberapa negara di dunia

menerapkan kebijakan efisiensi energi, dengan tetap memberikan prioritas pada pemenuhan

kebutuhan energi domestik. Di Indonesia, paradigma baru dalam kebijakan energi khususnya

pengelolaan gas bumi nasional adalah meningkatkan pemenuhan kebutuhan gas domestik

sebagai prioritas utama. Permintaan energi termasuk gas di negara kita terus meningkat dari

tahun ke tahun, karena adanya peningkatan konsumsi pada sektor transportasi, listrik, dan

industri, sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Untuk memenuhi peningkatan konsumsi energi, khususnya gas bumi, kita tentu memerlukan

proyek-proyek pengembangan gas. Proyek-proyek pengembangan gas, diharapkan dapat

menjamin suplai gas, baik untuk kebutuhan domestik, maupun ekspor, dan sekaligus untuk

menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas.

Arti penting sektor minyak dan gas bumi bagi perekonomian nasional. Investasi minyak dan

gas bumi merupakan investasi jangka panjang, yang memerlukan kejelasan, konsistensi, dan

kepastian hukum. Mempertahankan dan meningkatkan iklim investasi yang kondusif tentu

menjadi syarat mutlak dalam mengoptimalkan produksi minyak dan gas bumi nasional.

Peraturan perundang-undangan yang ada saat ini juga harus mampu menjawab aspirasi dan

kebutuhan investor, untuk menjamin kelangsungan pelaksanaan kontrak kerja sama dalam

mendorong kegiatan eksplorasi.

Pada saat yang sama, usaha untuk memperluas kemitraan strategis di sektor migas secara

terbuka, berkeadilan, dan saling menguntungkan. Sebagai pelaksanaan dari langkah-langkah

memperbaiki iklim investasi, melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2012 tentang Peningkatan

Produksi Minyak Bumi Nasional, kita perbaiki koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi secara

menyeluruh, baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah, untuk mendukung peningkatan

produksi minyak bumi nasional. Dalam jangka panjang, pembangunan industri migas

dipercepat dan dimantapkan, melalui pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan

Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

Melalui MP3EI, dipercepat pembangunan industri migas dengan membangun proyek-proyek

sektor migas berskala besar yang didukung oleh infrastruktur transportasi dan komunikasi

yang makin handal dan makin modern. Produktivitas dan daya saing industri migas

ditingkatkan dengan melanjutkan harmonisasi peraturan dan regulasi di tingkat pusat dan

(16)

perusahaan yang ditanamkan di negara Indonesia, serta tentunya penguasaan ilmu

pengetahuan dan teknologi.

2.4.3 MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS

Millennium Development Goals(MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global,

dideklarasikan Konperensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan

Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Dasar hukum

dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa

Nomor 55/2 Tangga 18 September 2000.

Semua negara yang hadir dalam pertemuan tersebut berkomitmen untuk mengintegrasikan

MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani

penyelesaian terkait dengan isu-isu yang sangat mendasar tentang pemenuhan hak asasi

dan kebebasan manusia, perdamaian, keamanan, dan pembangunan. Deklarasi ini merupakan

kesepakatan anggota PBB mengenai sebuah paket arah pembangunan global yang dirumuskan

dalam beberapa tujuan yaitu:

1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan,

2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk semua,

3. Mendorong Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Perempuan,

4. Menurunkan Angka Kematian Anak,

5. Meningkatkan Kesehatan Ibu,

6. Memerangi HIV/AIDs, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya,

7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup, dan

8. Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan.

Setiap tujuan menetapkan satu atau lebih target serta masing-masing sejumlah indikator yang

akan diukur tingkat pencapaiannya atau kemajuannya pada tenggat waktu hingga tahun 2015.

Secara global ditetapkan 18 target dan 48 indikator. Meskipun secara glonal ditetapkan 48

indikator namun implementasinya tergantung pada setiap negara disesuaikan dengan

kebutuhan pembangunan dan ketersediaan data yang digunakan untuk mengatur tingkat

(17)

Deklarasi MDGs merupakan hasil perjuangan dan kesepakatan bersama antara negara-negara

berkembang dan maju. Negera-negara berkembang berkewajiban untuk melaksanakannya,

termasuk salah satunya Indonesia di mana kegiatan MDGs di Indonesia mencakup

pelaksanaan kegiatan monitoring MDGs. Sedangkan negara-negara maju berkewajiban

mendukung dan memberikan bantuan terhadap upaya keberhasilan setiap tujuan dan target

MDGs.

2.4.4 SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS

Banyak negara tidak bisa mencapai sasaran yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan

Milenium atau Millenium Development Goals(MDGs). Pasca berakhirnya MDGs pada 2015 nanti, kerangka kerja baru yang sementara ini dinamai Sustainable Development Goals

(SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. "SDGs yang hendak kita terbitkan pada

2015 tersebut harus sungguh memahami perkembangan MDGs. Harus ada suatu evaluasi

obyektif, mengapa ada target yang melampaui sasaran dan ada yang sasaran yang tidak bisa

tercapai,". Evaluasi tersebut bertujuan agar sasaran-sasaran yang ditetapkan dalam SDGs

nanti bisa dicapai dengan lebih baik dibandingkan pencapaian MDGs selama 20 tahun.

Dokumen baru SDGs berisi visi, agenda dan tujuan pembangunan berkelanjutan untuk

mengentaskan kemiskinan paska MDGs 2015. Dokumen baru itu, lanjutnya, dihasilkan lewat

evalusi kerjasama global terutama terkait capaian MDGs. Selain itu, agenda pembangunan

pasca MDGs untuk dilakukan lewat mekanisme kemitraan global. Sebut saja kemitraan dalam

financing, teknologi sharing, dan perdagangan. Dokumen yang merupakan kesepakatan pertemuan dunia itu, nantinya akan diserahkan kepada Sekjen PBB pada panel lanjutan

kelima di New York, Amerika Serikat, yang dijadwalkan akhir Bulan Mei tahun ini.

Diskusi yang diadakan HLPEP di Bali membahas kemitraan dan kerjasama yang berfokus

pada strategi implementasi dan peluang untuk menghasilkan konsensus global dalam agenda

pengembangan baru paska tahun 2015. Diharapkan, pertemuan ini dapat membuka dialog di

antara stakeholder penting dari kalangan akademisi dan peneliti global, sektor publik, bisnis,

masyarakat sipil, dan generasi muda. Juga untuk memastikan aspirasi komunitas dan warga

masyarakat yang berkelanjutan menjadi inti dari musyawarah mengenai kebijakan

(18)

2.5. PRIORITAS PROGRAM BIDANG CIPTA KARYA

Desain program pada tahun 2014 direncanakan berdasarkan kawasan dengan prioritas pada

dua kelompok wilayah, yakni kabupaten/kota yang termasuk dalam wilayah strategis nasional

dan wilayah lainnya yang terindikasi meningkatkan percepatan pemenuhan standar pelayanan

minimal (SPM) di bidang cipta karya. Di samping dua poin kawasan prioritas tersebut, masih

ada program inovasi baru dari usulan daerah yang memiliki prestasi.

2.5.1 Strategis Nasional

Prioritas Kabupaten/Kota Strategis Nasional :

• Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat-Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di dalam KSN dan kabupaten/kota di dalam kawasan metropolitan, serta kawasan strategis

lainnya (KEK, MP3EI);

• Telah memilikiPerda RTRWdan tergabung dalamProgram Kota Hijau,Kota Pusaka, danPerdesaan Lestari;

• Telah memiliki pedoman rencana dan program yang berkualitas di Bidang Cipta Karya (RPIJM, SPPIP, RPKPP, RTBL, SSK, RISPAM).

Kabupaten Lampung Selatan masuk ke dalam kategori strategis nasional kluster B.

2.5.2 Pemenuhan SPM

Prioritas Kabupaten/Kota pemenuhan SPM :

• Telah memiliki pedoman rencana dan program yang berkualitas untuk pemenuhan SPM Bidang Cipta Karya di Daerah;

• Karakteristik daerah: rawan bencana alam, cakupan air minum/sanitasi rendah, permukiman kumuh, daerah kritis (miskin);

• Memiliki komitmen tinggi dan responsif program.

2.5.3 Inovasi/Kratifitas Program

Prioritas Kabupaten/Kota berdasarkan inovasi/kreatifitas program :

(19)

• Diusulkan oleh daerah secara kompetitif dan selektif;

• Ditujukan termasuk untuk memfasilitasi daerah berprestasi.

Dalam hal ini Kabupaten Lampung Selatan menyusun program yang bersifat inovasi baru dan

Gambar

Gambar 2.1 memaparkan konsep perencanaan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta
Gambar 2.1 Bagan Konsep Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Bidang

Referensi

Dokumen terkait

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional

o Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional

o Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk

o Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk