• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Pendidikan Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Komponen Pendidikan Islam"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

A. KOMPONEN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang meiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat dikatakan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.1

Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik yaitu ;

1. Tujuan Pendidikan ( Ke arah mana bimbingan diberikan ) 2. Peserta Didik ( Subyek yang dibimbing )

3. Pendidik ( Orang yang membimbing )

4. Materi/Isi Pendidikan ( Pengaruh yang diberikan dalam pendidikan )

5. Lingkungan, Alat, dan Metode ( konteks yang memepengaruhi suasana pendidikan )2

1. Tujuan Pendidikan

Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu

masyarakat. 3

1 Udin Syaefudin dan Abin Syamsudin Makmun. 2005. Perencanaan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. hlm.51.

2 http://anshorysyakoer.blogspot.com/2011/10/komponen-dalam-pendidikan-islam.html

(2)

Adapun tujuan pendidikan Islam itu sendiri identik dengan tujuan Islam sendiri. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berkepribadian muslim kamil serta berdasarkan ajaran Islam. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah yang berbunyi.

م

م تتنمأ

أ وأ للإإ نلتتوممتتأ لأوأ ،هإتإاقأتت قلحأ هأللا اومقتتلا اونتمأا

ن

أ ي ذإـللا اهييءأآـيأ وممتلإس

م مي

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama

Islam.4

Ahmadi mengatakan Tujuan pendidikan adalah agar anak didik dapat mewujudkan atau menikmati nilai-nilai hidup tersebut, memiliki kekayaan harta menghayati keindahan / kesenian, pengetahuan luas, berwatak sosial, berperan dalam bidang kekuasaan dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (1985: 101). 5

Mengenai tujuan pendidikan, menurut Klaus Mollenhaver yang memunculkan “Teori Interaksi” menyatakan bahwa “di dalam pendidikan itu selalu ada (dijumpai) mengenai masalah tujuan pendidikan”

2. Peserta Didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun

pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu

4 QS. Ali Imran ayat 102

(3)

Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ?

Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak dididk.

Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah : 6

a) Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik. Maksudnya, anak sejak lahir telah memiliki potensi-potensi yang ingin dikembangkan dan diaktualisasikan. Untuk mengaktualisasikan membutuhkan bantuan dan bimbingan.

b) Individu yang sedang berkembang, maksudnya perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik secara wajar, baik ditujukan kepada diri sendiri maupun kearah penyesuaian lingkungan.

c) Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi. Maksudnya, dalam proses perkembangannya peserta didik membutuhkan bantuan dan bimbingan. Bayi yang baru lahir secara badani dan hayati tidak terlepas dari ibunya seharusnya setelah ia tumbuh berkembang menjadi dewasa ia sudah dapat hidup sendiri. Tetapi kenyataannya untuk kebutuhan perkembangan hidupnya, ia masih menggantungkan diri sepenuhnya kepada orang dewasa, sepanjang ia belum dewasa.

(4)

Hal ini menunjukkan bahwa pada diri peserta didik ada dua hal yang menggejala ;

1) Keadaannya yang tidak berdaya menyebabkan ia membutuhkan bantuan. Hal ini menimbulkan kewajiban orang tua untuk membantunya.

2) Adanya kemampuan untuk mengembangkan dirinya, hal ini membutuhkan bimbingan. Orang tua berkewajiban untuk membimbingnya. Agar bantuan dan bimbingan itu mencapai hasil maka harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.

d) Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. Maksudnya dalam perkembangan peserta didik ia mempunyai kemampuan untuk berkembang kearah kedewasaan. Pada diri anak ada kecenderungan untuk memerdekakan diri. Hal ini menimbulkan kewajiban pendidik dan orang tua ( si pendidik) untuk setapak demi setapak memberikan kebebasan dan pada akhirnya mengundurkan diri. Jadi, pendidik tidak boleh memaksakan agar peserta didik berbuat menurut pola yang dikehendaki pendidik. Ini dimaksud agar peserta didik memperoleh kesempatan memerdekakan diri dan bertanggung jawab sesuai dengan kepribadiannya sendiri dan bertanggung jawab sendiri.

3. Pendidik

Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan sekolah saja. Guru sebagai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. 7

(5)

Pendidik adalah unsur manusiawi dalam pendidikan, pendidik atau guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi memegang peranan penting dalam Pendidikan, ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah 8

Sehubungan dengan hal tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah 1) orang dewasa, 2) orang tua, 3) guru/pendidik, dan 4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan. 9

i. Orang Dewasa

a) Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum kepribadian orang dewasa , yakni:

1) Manusia yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup yang pasti dan tetap. 2) Manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu,

termasuk cita-cita untuk mendidik.

3) Manusia yang cakap mengambil keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang akan dipertanggungjawabkan sendiri.

4) Manusia yang telah cakap menjadi anggota masyarakat secara konstruktif dan aktif penuh inisiatif.

5) Manusia yang telah mencapai umur kronologs paling rendah 18 th. 6) Manusia berbudi luhur dan berbadan sehat.

7) Manusia yang berani dan cakap hidup berkeluarga. 8) Manusia yang berkepribadian yang utuh dan bulat.

(6)

ii. Orang Tua

Kedudukan orang tua sebgai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka.

iii. Guru/Pendidik di Sekolah

Guru sebagai pendidik disekolah yang secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasrkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yangingin disampaikan maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.

iv. Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan

Selain orang dewasa, orang uta dan guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagaam sebagai pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.

4. Materi/Isi Pendidikan

(7)

kurikulum dalam pendidikan formal. Isi pendidikan berkaitan dengan tujuan pendidikan, dan berkaitan dengan manusia ideal yang dicita-citakan.

Untuk mencapai manusia yang ideal yang berkembang keseluruhan sosial, susila dan individu sebagai hakikat manusia perlu diisi dengan bahan pendidikan. Macam-macam isi pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama. pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan civic, pendidikan intelektual, pendidikan keterampilan dan peindidikan jasmani.10

Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun materi local, materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya adalah mengembangkan kebinekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika dapat ditumbuh kembangkan.

5. Konteks yang Memepengaruhi Suasana Pendidikan 1) Lingkungan

Lingkungan pendidikan meliputi segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja. Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan yang terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis, lingkungan sosial.

Lingkungan pendidikan biasanya disebut dengan tri pusat pendidikan pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat.

a. Pendidikan keluarga

(8)

Pada mulanya keluargalah yang terutama berperan baik pada pendidikan anak, aspek kebuadayaan, maupun penguasaan pengetahuan dan ketrampilan.

b. Pendidikan Sekolah

Dengan meningkatnya kebutuhan dan aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidak mampu memenuhinya oleh karena itu, sebagian dari tujuan pendidikan itu akan dicapai melalui jalur pendidikan sekolah.

c. Pendidikan Masyarakat.

Fungsi pendidikan sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu beserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya.

2) Sarana/Alat dan Metode

Sarana atau media pendidikan berguna untuk membantu dalam proses pendidikan sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan. Metode dimaksudkan sebagai jalan dalam sebuah transfer nilai pendidikan oleh pendidik kepada peserta didik. Oleh karena itu pemakaian metode dalam pendidikan Islam mutlak dibutuhkan.

Sarana/Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektivitasnya. alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan dibedakan atas yang preventif dan yang kuratif.

1. Yang bersifat preventif, yaitu yang bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki misalnya larangan, pembatasan, peringatan bahkan juga hukuman.

(9)

Untuk memilih dan menggunakan alat pendidikan yang efektif ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu ;

a. Kesesuaiannya dengan tujuan yang ingin dicapai b. Kesesuaiannya dengan peserta didik.

METODE PENDIDIKAN ISLAM

A. Sistem Pendidikan Islam

Sistem berasal dari bahasa Yunani “sistema” yang berarti suatu keseluruhan yang tersusun dari banyak bagian (whole compounded of several parts). Di antara bagian-bagian itu terdapat hubungan yang berlangsung secara teratur. Definisi sistem yang lain dikemukakan Anas Sudjana yang mengutip pendapat Johnson, Kost dan Rosenzweg sebagai berikut “Suatu sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks.” Menurut Campbel menyatakan bahwa sistem itu merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.

Menurut D.G. Ryans sistem adalah sejumlah elemen (obyek, orang, aktivitas,

rekaman, informasi dan lain-lain) yang saling berkaitan dengan proses dan struktur secara teratur dan merupakan kesatuan organisasi yang berfungsi untuk mewujudkan hasil yang dapat diamati (dapat dikenal wujudnya) sedangkan tujuan yang tercapai. Menurut Sanafiah Faisal istilah sistem munuju kepada totalitas yang bertujuan dan tersusun dari rangkaian unsur dari komponen.

J.W. Getzel and E.G. Guba mengemukakan pada umumnya sistem sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1) Terdiri dari unsur-unsur yang berkaitan anatara satu sama lainnya. 2) Berorientasi pada tujuan ( goal oriented ) yang telah ditetapkan.

3) Didalamnya terdapat peraturan – peraturan tata tertib berbagai kegiatan sebagainya.

Pengertian lainnya yang umum difahami di kalangan awam adalah bahwa sistem itu merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dalam penggunaannya

(10)

Dari keterangan diatas dapat dikatakan bahwa sistem merupakan hal penting yang harus dibangun untuk menjalankan / menggerakan maksud dari sebuah cita-cita atau sebuah pekerjaan yang akan kita lakukan.

B. Metode Pendidikan Islam

Sebelum lebih jauh kita membahas mengenai pengertian metode pendidikan Islam, maka kita harus mengetahui pengertian dari setiap kata tersebut. Maka dengan ini penulis menguraikan menjadi dua kata, yaitu kata metode dan kata pendidikan Islam.

Kata metode berasal dari bahasa Greek (Yunani) yang terdiri dari kata "meta" yang berarti melalui, dan kata "hodos" yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui. Sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Noor Syam, secara teknis menerangkan bahwa metode adalah :

1. Suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan.

2. Suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu.

3. Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.

Istilah metode seringkali disamakan denagan istilah pendekatan, strategi, dan teknik sehingga dalam penggunaanya juga sering saling bergantian yang pada intinya adalah suatu cara untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan atau cara yang cepat dan tepat untuk meraih tujuan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.11

Selain itu ada pula yang menyebutkan Metode merupakan suatu alat dalam pelaksanaan pendidikan, yakni yang digunakan dalam penyampaian materi tersebut. Materi pelajaran yang mudah pun kadang-kadang sulit berkembang dan sulit diterima oleh peserta didik, karena cara atau metode yang digunakannya kurang tepat. Namun, sebaliknya suatu pelajaran yang sulit akan mudah diterima oleh peserta didik, karena penyampaian dan metode yang digunakan mudah dipahami, tepat dan menarik.

Dalam dunia pendidikan terdapat berbagai macam metode mengajar yang dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan berbagai hal, seperti situasi dan kondisi kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.

(11)

Metode pendidikan islam adalah prosedur umum dalam penyampaian materi untuk mencapai tujuan pendidikan yang didasarkan atas asumsi tertentu tetang hakikat islam sebagai suprasistem.12

Adapun menurut Abudin Nata, (1997:91), metode Pendidikan Agama Islam adalah sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi muslim. Atau dengan kata lain metode Pendidikan Agama Islam adalah sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun dalam pelaksanaannya, faktor gurulah yang sangat menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Jadi bukan hanya terletak pada bentuk metode mengajar maupun pada fasilitas yang tersedia. Dengan demikian, keterampilan guru dalam penggunaan metode mengajar merupakan jaminan tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan secara efektif dan efisien.

Proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan sangat signifikan untuk mencapai tujuan bahkan metode sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan atau materi pelajaran kepada siswa dianggap lebih signifikan dibanding dengan materi sendiri. Suatu realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi siswa walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya, materi yang cukup baik, karena disampaikan dengan cara yang kurang menarik maka materi itu sendiri kurang dapat dicerna siswa. Oleh karena itu, penerapan metode yang sangat tepat akan mempengaruhi pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Metode yang tidak tepat akan berakibat terhadap pemakaian waktu yang tidak efisien. Manfaat Metode pendidikan islam bagi para guru:

1. Membahas tentang berbagai prinsip dan teknik-teknik serta pendekatan pengajaran yang digunakan, maka dengan mempelajari metodologi pendidikan islam seorang guru dapat memilih metode mana yang layak untuk dipakai dalam proses belajar mengajar.

2. Dapat mengetahui dan mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan metode-metode pendidikan islam tersebut, sehingga dapat menyesuaikan metode-metode mana yang tepat untuk peserta didik agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal dan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

3. Engan banyaknya meteri dan terbatasnya waktu untuk mencapaiikan meteri,maka seorang pendidik yang mengenal dan mengetahui metode pendidikan islam dapat

(12)

merancang dan mendesain pengajaran, serta tujuan pengajaran dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.

4. Dengan mengetahui metode pendidikan islam, maka seorang guru dapat memberikan kontribusi pengetahuan kepada peserta didik sebagai calon guru atau pendidik.13

Metode pendidikan Islam merupakan unsur dari sistem pendidikan Islam, keberadaannya penting dan memang harus diperhatikan oleh setiap orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, baik itu guru maupun murid sebagai peserta didik. Secara sederhana kata metode dipahami sebagai suatu cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa metode pendidikan Islam adalah segala cara dan usaha yang sistematis dan pragmatis untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, dengan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan guru sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik. Dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam, metode pembelajaran yang diterapkan telah mengalami berbagai perubahan dan pengembangan. Di antara perkembangan yang terjadi pada metode pendidikan Islam,adalah yang terjadi diterapkan pada masa Islam klasik. Ahli sejarah mencatat, setidaknya ada beberapa bentuk metode pendidikan yang diterapkan yaitu : halaqah, hafalan, munazarah, ,mudzakarah, Imla’ dan rihlah ilmiah.

1. Halaqah

(13)

perkuliahan di Halaqah, secara singkat berlangsung dalam rangkaian kegiatan berikut :Syeikh membuka perkuliahan dengan membaca basmallah, mengucap shalawat dan salam bagi Rasulullah. Disertai dengan memberikan dorongan kepada murid supaya menuntut ilmu, bersifat rendah hati dalam menuntut ilmu, dan berusaha menjalani hidup yang baik serta berbudi luhur. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang materi pelajaran sambil menghubungkannya dengan topik yang telah dibahas sebelumnya. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Syeikh biasanya mendiktekan bahan pelajaran (al-Qur’an dan Hadits) kepada para murid, kemudian menjelaskannya serta menafsirkannya terutama pada bagian-bagian yang dipandang sukar dari hadits dan al-Qur’an. Sementara Syeikh memberikan penjelasan, para murid aktif menulis semua keterangan yang diberikan oleh Syeikh. Sebelum mengakhiri pembelajaran, Syeikh biasanya mengulang kembali apa yang telah dibacakan dan dijelaskan serta disesuaikan dengan catatan para murid dengan cara menyuruh seorang murid untuk membaca catatannya. Kemudian mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a. Kurikulum lingkaran studi(halaqah) sesuai dengan pengetahuan dan minat seorang Syekh, tergantung pada pengalamannya, dan biasa juga pada ijazah (pengakuan) dalam bidang keahliannya. Masa keterkaitan seorang murid dengan sebuah lingkaran studi (halaqah) tergantung kepada ketekunan dan target-targetnya sendiri. Ketika sudah tidak mencapai titik maksimal dalam belajar pada seorang guru, murid tersebut dapat beralih kepada guru lain. Sehingga seorang murid bisa saja menghabiskan masa hidupnya dalam perjalanan, beralih dari seoran guru (Syekh) ke guru(Syekh) lain yang terkenal.

2. Hafalan

(14)

Hafalan merupakan cara yang harus ditempuh seseorang untuk dapat menguasai secara utuh berbagai tradisi yang diriwayatkan dari orang Arab terdahulu melintasi abad demi abad, termasuk dua naskah suci Islam al-Qur’an dan Sunnah, dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Diya al-Din Ibn –‘Athir mengemukakan pentingnya penghafalan dalam ingatan agar dapat menemukan kembali unsur-unsur yang penting pada waktu dibutuhkan. Pengingatan kembali hanya mungkin terjadi dengan melakukan pengulangan- pengulangan dan praktek-praktek tertentu untuk memastikan bahwa materi-materi yang sudah dihafalkan tetap lekat dalam ingatan dan dapat berfungsi pada waktu yang dibutuhkan.

Menghafal sangat penting dalam hal pembelajaran, seseorang dapat menghafal apabila ada pemahaman terhadap konteks yang dihafal. Untuk memudahkan cara menghafal, al-Khatib menganjurkan agar murid selalu duduk pada posisi yang dapat mendengar secara jelas terhadap apa yang diucapkan guru. Selain itu suasana haruslah tenang dan mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan guru. Pentingnya metode hafalan ini juga dirasakan para ilmuan sebagaimana komentar yang mereka utarakan berikut ini :

1. Qatada as-Sadusi mengatakan ia tidak pernah mendengar sesuatu tanpa menghafalnya.

2. Al-Hasan Ibn Zin Nun al-Shaghri mengatakan jika kamu tidak mengulangi sesuatu lima puluh kali, ia tidak akan tersimpan dalam ingatan.

3. Al-Ghazali merasakan betapa pentingnya menghafal ketika ia mengalami buku-bukunya dirampas perampok dalam perjalanan. Ia mengatakan ambillah semua hartaku, tapi jangan ambil buku-buku itu. Kejadian ini membuat beliau menghabiskan waktunya selama tiga tahun untuk menghafal. Melalui hafalannya itu ia tidak takut lagi untuk bepergian.

(15)

5. Abu Bakar Ibn al-Anbari mengatakan bahwa ia tidak pernah mengerti dari buku tapi selalu dari hafalan.

6. Ibn at-Tabban adalah seorang yang buta huruf namun ia melakukan dakwahnya melalui hafalan.

7. Ibn al-Munna pada usia 40 tahun cidera buta namun lancar pendengarannya sehingga ia mengajar dari apa yang diperolehnya lewat hafalan.

3. Mudzakarah

Dalam kajian ilmu-ilmu humaniora, istilah mudzakarah paling sering dalam arti diskusi ilmiah. Dalam suatu mudzakarah beberapa orang terlibat dalam suatu percakapan tentang suatu tema atau pelajaran tertentu ; mereka saling bertukar pendapat dan pengetahuan, agar setiap cendikia yang terlibat memperoleh manfaat, begitu pula orang yang hadir untuk mendengarkan saja.Istilah mudzakarah tidak hanya digunakan dalam satu aspek saja, tetapi juga sering digunakan sebagai petunjuk percakapan yang dapat memberikan pertukaran ilmu pegetahuan (seperti seminar).Mudzakarah juga digunakan sebagai metode mempelajari dan mengahafal materi studi sastra khususnya ilmu qawa’id an-nahwu.

4. Munazharah

(16)

5. Metode Dikte (Imla’)

Metode ini dilaksanakan oleh guru dengan cara memberikan pelajaran dari hafalan, atau dari catatan yang telah ditulisnya lebih dahulu untuk dibacakan kepada para murid. Pendiktean dilakukan dengan lambat, yaitu satu alinea atau satu-satu hadits, disertai dengan menyebutkan sanadnya, dan para murid menuliskan apa yang di diktekan guru mereka. Setelah guru selesai mendiktekan materi pelajaran dan memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap materi tersebut serta murid telah selesai mencatatnya dengan baik. Guru seringkali membacakan apa-apa yang telah didiktekannya. Atau disuruhnya salah seorang murid untuk membacakannya, lalu diberikan pembetulan-pembetulan jika terdapat kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangan pada penulisan para murid.

6. Rihlah Ilmiyah

(17)

sahabat Muaz Ibn Jabal ke negeri Yaman dengan tujuan sebagai guru. Rihlah Ilmiyah ini juga memiliki fungsi dalam peradaban intelektual Islam klasik.

C. Metode Pendidikan Islam Pada Masa Rosulullah

Awal dari pendidikan yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW adalah tatkala beliau menerima perintah dari Allah SWT untuk menyeru kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al Mudatsir (1-7) yang artinya :

“Hai orang yang berselimut, bangun, dan beri ingatlah. Hendalah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah perbuatan dosa, dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah”.

Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Mulanya beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan keluarganya sendiri. Pertama beliau mengajak isterinya, Khadijah untuk beriman dan menerima petunjuk – petunjuk Allah SWT, kemudian diikuti oleh sepupunya Ali bin Abi Talib, dan Zaid bin haritsah dari kalangan budak. Lalu beliau mulai menyeru kepada sahabatnya yaitu Abu Bakar. Dan secara berangsur – angsur ajakan tersebut disampaikan secara lebih meluas, tetapi masih dikalangan keluarga dekat dari suku quraiys saja. Ajakan rasulullah antara lain untuk mempercayai Allah YME, tidak syirik, berakhlak mulia, dapat dipercaya, jujur, sekaligus berilmu. Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secara terbuka.

Dalam memberikan dakwah atau pendidikannya Nabi Muhammad menggunakan beberapa metode, diantaranya:

1. Metode Graduasi (Al Tadarruj)

Metode graduasi atau penahapan merupakan metode alqur’an dalam membina masyarakat, baik dalam melenyapkan kepercayaan dan tradisi jahiliyah maupun yang lain. Demikian pula dalam menanamkan aqidah, al qur’an juga menggunakan metode graduasi ini. Oleh sebab al qur’an diturunkan kepada rasul secara berangsur-angsur (bertahap), maka tidak heran juga ketika nabi menerapkan konsep tersebut dalam penyampaian pendidikannya.

(18)

Penyampaian materi pelajaran yang dilakukan Nabi Muhammad SAW sering berbeda antara orang satu dengan orang yang lain. Hal ini beliau lakukan, karena beliau sangat memperhatikan level-level atau peringkat dan kemampuan kecerdasan intelektual seseorang dalam menangkap sebuah pelajaran. Demikian dilakuakan dengan tujuan agar materi yang disampaikan beliau benar-benar bias diterima oleh peserta didik. Terkadang Rasulullah berbicara tidak hanya memperhatikan tingkat kecerdasan seseorang saja, melainkan juga memperhatikan kecerdasan emosionalnya.

3. Metode Variasi (Al-Tanwi’ Wa Al-Taghyir)

Untuk menghindari kejenuhan atau kebosanan para peserta didik, Nabi Muhammad SAW membuat variasi waktu dalam memberikan pelajaran kepada para sahabat.

Tidak hanya bervariasi dalam hal waktu, beliau juga memberikan variasi-variasi dalam penyampaian materi pelajaran. Karena yang beliau ajarkan adlah wahyu dari Allah SAW yang pada saat itu sedang dalam proses diturunkan. Oleh sebab materi yang dikirimkan lewat wahyu itu bervariasi, maka secara otomatis pendidikan yang diajarkan Rasulullah bervariasi. Menurut Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjal al Khatib, metode variasi ini, baik digunakan dalam materi pelajaran manapun.

4. Metode Keteladanan (Al Uswah wa Al Qudwah)

Ketika Rasulullah Muhammad SAW memberikan sebuah materi yang berkaitan pola perilaku atau tingkah laku yang berkaitan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, sebelum beliau menyampaikan kepada peserta didik, terlebih dahulu beliau melakukannya dalam perbuatan sehari-hari. Dengan hal demikian, maka peserta didik akan lebih cepat memahami ajaran Rasulullah.

Selain itu, dalam Al Qur’an juga telah disebutkab bahwa:

“sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suatu suri tauladan yang baik”. (Qs. Al-Ahzab: 21)

5. Metode Aplikatif ( At Tatbiqi Wa Al ‘Amali)

(19)

6. Metode Pengulangan (Al Taqrir Wa Al Muraja’ah)

Metode pengulangan menjadi salah satu metode yang digunakan beliau, karena dianggap perlu dan penting untuk dilakukan khususnya dalam materi pelajaran yang penting-penting.

7. Metode Evaluasi (Al-Taqyim)

Sebuah metode yang digunakan oleh Rasul dalam penyampaian materi pelarannya, dimana beliau tidak hanya berhenti setelah sudah memberikan materi kepada peserta didik, akan tetapi beliau juga melakukan sebuah tindakan monitoring dan evaluating. Dalam hal ini, beliau mengawasi dan mengevaluasi mereka. Apabila terdapat kekeliruan, maka neliau langsung mengoreksinya. Oleh karena kekeliruan tersebut bisa diketahui langsung oleh beliau dan terkadang diketahui lewat laporan dari seseorang sahabat.

8. Metode Dialog (Al-Hiwar)

Metode pendidikan Rasulullah selanjutnya adalah Al Hiwar yaitu dialog, Tanya jawab. Dalam hal ini rasul, berperan sebagai penanya dan pendialog. Sementara peserta didiknya yang diajak dialog. Dengan metode ini, beliau membentuk peserta untuk melakukan perubahan yaitu dari tidak tahu menjadi mengetahui, kemudian dan memahami, dan yang selanjutnya sampai ke posisi meyakini. Metode ini banyak mewarnai system pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW.

9. Metode Analogi (Al-Qiyas)

Penerapan metode ini dalam pendidikan Rasul, disini beliau seringkali menyebutkan ungkapan-ungkapan dalam mengajarkan agama Islam kepada peserta didik.

10. Metode Cerita

Metode ini dikemas dengan cara bercerita. Untuk menanamkan ajaran-ajaran Islam kepada peserta didik, Rasul seringkali menuturkan kisah orang – orang terdahulu.

D. Metode Pendidikan Islam Pada Masa Klasik

(20)

Sistem pendidikan islam pada masa khulafa al-rasyidin di lakukan secara mandiri, tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa khalifah umar ibn khattab yang turut campur dalam menambahkan kurikulum di lembaga kuttab. Para sahabat yang memiliki pengetahuan keagamaan membuka majelis pendidikan masing-masing, sehingga pada masa abu bakar misalnya, lembaga pendidikan kuttab mencapai tingkatan kemajuan yang berarti. Kemajuan lembaga kuttab ini terjadi ketika masyarakat muslim telah menaklukkan beberapa daerah dan menjalin kontak dengan bangsa-bangsa yang telah maju. Lembaga pendidikan ini sangat penting sehingga para ulama’ berpendapat bahwa mengajarkan al-qur’an merupakan fardlu kifayah

Menurut mahmud yunus, ketika peserta didik selesai mengikuti pendidikan di kuttab mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni di masjid. Di masjid ini, ada dua tingkatan, yaitu tingkat mengengah dan tingkat tinggi. Yang membedakan diantarapendidikan itu adalah kualitas gurunya.

Pusat-pusat pendidikan pada masa khulafa al-rasyidin tidak hanya di madinah, tetapi juga menyebar di berbagai kota, seperti makah dan madinah (hijaz), kota bashrah dan kufah (irak), kota damsyik dan palestina (syam), dan kota fistat (mesir). Di pusat-pusat daerah inilah pendidikan islam berkembang secara cepat.

Materi pendidikan yang di ajarkan pada masa Khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar Ibn Khattab (w. 32 H./644 M) untuk Kuttab adalah:

a) Belajar membaca dan menulis b) Membaca al-qur’an dan menghafal

c) Belajar tentang pokok-pokok ajaran islam.

Ketika Umar Ibn Khattab di angkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak di ajarkan Berenang, Mengendarai onta, Memanah dan Membaca dan menghafal syair-syair yang mudah dan peribahasa. Sedangkan materi pendidikan tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:

a) Al-qur’andan tafsirnya

b) Hadits dan mengumpulkannya c) Fiqih (Tasyri)

Ilmu-ilmu yang dianggap duniawi dan ilmu filsafat belum di kenal sehingga pada masa itu tidak ada, dan lebih di fokuskan pada pemahaman al-qur’an dan hadits secara literal.

(21)

Pendidikan islam pada masa dinasti Umayyah ini hampir sama dengan pendidikan pada masa khulafa al-rasyidin, hanya saja ada sisi perbedaan dan perkembangan sendiri. Perhatian para raja di bidang pendidikan agaknya kurang memperlihatkan perkembangan yang maksimal, sehingga pendidikan berjalan tidak di atur oleh pemerintah, tetapi oleh para ulama’ yang memiliki pengetahuan yang mendalam. Kebijakan-kebijakan pendidikan yang di keluarkan oleh pemerintah hampir tidak di temukan. Jadi, sistem pendidikan islam ketika itu masih berjalan secara alamiah.

Karena kondisi ketika itu di warnai oleh kepentingan-kepentingan politis dan golongan, di dunia pendidikan, terutama di dunia sastra, sangat rentan dengan identitasnya masing-masing. Sastra arab, baik dalam bidang syair, pidato (khitabah) dan seni prosa, mulai menunjukkan kebangkitannya. Para raja mempersiapkan tempat balai-balai pertemuan penuh hiasan yang indah dan hanya dapat di masuki oleh kalangan sastrawan dan ulama’-ulama’ terkemuka.

Pada zaman ini, dapat disaksikan adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu dari bahasa lain kedalam bahasa arab, tetapi penterjemahan itu sebatas pada ilmu-ilmu yang mempunyai kepentingan praktis, seperti ilmu kimia, kedokteran, falak, tatalaksana dan seni bangunan. Pada masa ini juga masih menyelenggarakan ilmu-ilmu yang di letakkan pada masa sebelumnya, seperti ilmu tafsir.

Bersamaan dengan itu, kemajuan yang diraih delam dunia pendidikan pada saat itu adalah di kembangkannya ilmu nahwu yang di gunakan untuk memberi tanda baca, pencetakan kaidah-kaidah bahasa dan periwayatan bahasa. Terjadi perbedaan mengenai penyusunan ilmu nahwu, tetapi disiplin ilmi ini menjadi ciri kemajuan tersendiri pada masa ini.

Hadits dan ilmu hadits mendapat perhatian secara serius, pentingnya periwayatan hadits sehingga dapat di pertanggung jawabkan baik secara ilmiah maupun secara moral mendapat perhatian luas. Namun keberhasilan yang di raihnya adalah semangat untuk mencari hadits, belum mencapai pada tahap kodifikasi.

(22)

Diantara jasa dinasti Umayyah dalam bidang pendidikan menurut hasan langgulung adalah menekankan ciri ilmiah pada masjid sehingga menjadi pusat perkembangan ilmu perguruan tinggi dalam masyarakat Islam.

c. Pendidikan Islam Masa Dinasti Abbasiyah [132-656 H/750-1258 M]

Charles Michael Stanton berkesipulan bahwa sepanjang masa Klasik Islam, penentuan sistem dan kurikulum pendidikan berada di tangan ulama’, kelompok orang-orang yang berpengetahuan dan di terima sebagai otoritatif dalam soal-soal agama dan hukum, bukan di tentukan oleh struktur kekuasaan yang berkuasa.

Menurut Hasan Abd Al-‘Al, seorang ahli pendidikan islam alumni Universitas Thantha, dalam tesisnya menyebutkan tujuh lembaga pendidikan yang telah berdiri pada masa abbasiyah ini, terutama pada abad ke-4 hijriah. Ketujuh lembaga itu adalah:

a) Lembaga pendidikandasar (Al-Kuttab) b) Lembaga pendidikan masjid (Al-Masjid) c) Kedai pedagang kitab (Al-Bawanit Al-Waraqin) d) Tempat tinggal para sarjana (Manazil Al-‘Ulama) e) Sanggar seni dan sastra (Al-Shalunat Al-Adabiyah) f) Perpustakaan (Dawr Al-Kutub Wa Dawr Al-‘Ilm) g) Lembaga pendidikan sekolah (Al-Madrasah)

Semua institusi itu memiliki karakteristik tersendiri dan kajiannya masing-masing. Sungguhpun demikian, secara umum, seluruh lembaga pendidikan itu dapat di klasifikasikan menjadi tiga tingkatan.

Pertama, tingkat rendah yang terdiri dari kuttab, rumah, toko, pasar, serta istana. Kedua, tingkat sekolah menengah yang mencakup masjid, sanggar seni, dan ilmu pengetahuan, sebagai lanjutan pelajaran di kuttab.

Ketiga, tingkat perguruan tinggi yang meliputi masjid, madrasah dan perpustakaan, seperti Bait Al-Hikmah di baghdad dan Dar Al-‘Ulum di kairo.

Pada tingkat rendah kurikulum yang di ajarkan meliputi membaca al-qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok agama islam, menilis, membaca dan menghafal syair, berhitung dan pokok-pokok nahwu dan sharaf alakadarnya.

(23)

Jenjang pendidikan tingkat tinggi memiliki perbedaan di masing-masing lembaga pendidikan. Namun, secara umum lembaga pendidikan tingkat tinggi mempunyai dua fakultas, pertama, fakultas ilmu-ilmu agama serta bahasa dan sastra arab. Kedua, fakultas ilmu-ilmu Hikmah (Filsafat). Semua mata pelajaran di ajarkan di perguruan tinggi dan belum diadakan spesialisasi mata pelajaran tertentu.

Menurut Hasan Abd Al-‘Al metode pendidikan yang dilakukan pada jenjang tingkat tinggi ini meliputi Metode-Metode sebagai berikut:

a) Metode Ceramah (Al-Muhadlarah) : guru menyampaikan materi kepada semua mahasiswa dengan di ulang-ulang sehingga mahasiswa hafal terhadap apa yang dikatakannya. Dan pada metode ini terbagi menjadi dua cara, yaitu metode Dikte (Al-Imla’) dan metode Pengajuan Kepada Guru (Qiraat ‘Ala Al Syaikj Aw Al-Ardl)

b) Metode Diskusi (Al-Munadzarah) : Di gunakan untuk menguji argumentasi-argumentasi yang di ajukan sehingga dapat teruji.

c) Metode Koresponden Jarak Jauh (Al-Ta’lim Bi Al-Murasilah) : merupakan salah satu metode yang di gunakan oleh para mahasiswa yang menanyakan suatu masalah kepada guru yang jauh secara tertulis, lalu guru itu memberikan jawabannya secara tertulis pula.

d) Metode Rihlah ilmiah : metode ini dilakukan oleh para mahasiswa baik secara pribadi maupun secara kelompok dengan cara menandatangi guru di rumahnya untuk berdiskusi tentang suatu topik. Dan guru yang di datangi biasanya adalah guru yang dianggap memiliki keahlian dalam bidangnya.

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Sejarah Pendidikan Islam

Secara etimologis perkataa “sejarah” yang dalam bahasa Arabnya disebut tarikh atau ilmu tarikh, yang berarti ketentuan masa atau waktu, sedang ilm tarikh berarti ilmu yang mengandung atau membahas penyebutan peristiwa atau kejadian, masa atau terjadinya peristiwa, dan sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut.14

(24)

Dalam bahasa inggris disebut history yang berarti uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian pada masa lampau. Dan sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan mengungkap peristiwa masa silam, baik peristiwa politik, sosial maupun ekonomi pada suatu negara atau bangsa, benua atau dunia.

Dalam Bahasa Indonesia sejarah berarti silsilah; asal-usul (keturunan); kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Secara istilah (terminologis) sejarah diartikan sebagai sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau, dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat, sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia.

Kata “pendidikan” dalam Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyah al-Mu’ashirah diambil dari kata al-tarbiyah yang diartikan sebagai education (pendidikan), upbringing (pengembangan), teaching (pengajaran), instruction (perintah), pedagogy (pembinaan kepribadian), breeding (memberi makan), raising (of animals) (menumbuhkan). Al-tarbiyah dapat berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan ialah segala usaha dari orang tua terhadap anak-anak dengan maksud menyokong kemajuan hidupnya, dalam arti memperbaiki bertumbuhnya segala kekuatan jasmani dan rohani, yang pada anak-anak karena kodrat dan iradatnya sendiri. Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 mengartikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.15

Berdasarkan uraian di atas, Sejarah Pendidikan Islam berarti catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sejak lahirnya hingga sekarang ini. Atau satu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, baik dari segi gagasan atau

(25)

ide-ide, konsep, lembaga maupun operasionalisasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.

B. Periode Sejarah Pendidikan Agama Islam di Indonesia

Terjadi bebrapa kali waktu atau periode atau fase dalam sejarah pendidikan agama islam di indonesia anatara lain:

1. Fase datangnya Islam di Indonesia

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7 M/1 H yang disebarkan oleh pedagang dan muballigh dari Arab di pantai barat Pulau Sumatera, tepatnya di daerah Baros. Interaksi penyebaran Islam kepada penduduk lokal melalui kontak jual beli, perkawinan, dan dakwah baik secara individu maupun kolektif. Pada masa ini, pendidikan Islam diperkenalkan bertahap, mulai dari mengucapkan kalimah syahadat sebagai simbolisme formal masuk agama Nabi Muhammad SAW serta diajak untuk mengakui rukun iman dan Islam. Tahap selanjutnya, mereka secara informal mengenalkan syariat dan ritual ibadah Islam yang lain seperti shalat lima waktu dan membaca al-Qur’an.16

Prof. Mahmud Yunus memerini fakto-faktor mengapa agama islam dapat tersebar dengan cepat di seluruh Indonesia pada masa permulaan, yaitu:

a. Agaa islam tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah diturut oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk islam cukup dengan mengucapkan dua kalimah syahadat.

b. Penyiaran islam itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur sedikit demi sedikit. c. Penyiaran islam dilakukan dengan cara bijaksana dan baik-baik.

d. Penyiaran isam dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami, dapat dimengerti oleh semua golongan.17

2. Fase Pengembangan Melalui Adaptasi

Mahmud Yunus menggambarkan pendidikan Islam pada fase ini ditandai dengan terbentuknya sistem langgar atau surau dan pesantren sebagai pusat studi keislaman.

16 BP3K Depdikbud, Pendidikan Islam dari Jaman ke Jaman, Jakarta, 1979, HLM.31

(26)

Adapun tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar adalah agar anak didik dapat membaca Al-Qur’an dengan berirama dan baik, dan tidak dirasakan keperluan untuk memahami isinya. Jadi dalam hal ini hanya sebatas agar anak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Pendidikan di langgar dikelola oleh seorang guru yang biasa disebut ‘amil, modin atau lebai (di Sumatera) yang mempunyai tugas ganda, disamping memberikan doa pada waktu upacara keluarga atau desa, juga bertugas sebagai pengajar. Pelajaran biasanya diberikan pada pagi atau petang hari, satu sampai dua jam. Pelajaran memakan waktu selama beberapa bulan, tetapi pada umumnya sekitar satu tahun.18

Pembelajaran Al-Qur’an pada pendidikan langgar dibedakan menjadi dua macam:

a. Tingkatan rendah, merupakan tingatan pemula, yaitu mulainya mengenal huruf Al-Qur’an sampai bisa membacanya diadakan pada tiap kampung, dan anak-anak hanya belajar pada malam hari dan pagi hari seteah sholat subuh.

b. Tingkatan atas, yang merupakan pembelan Al-Qur’an sekaligus ditambah dengan pelajaran lagu, qasidah, berzanji, tajwid, seta mengaji kitab.

Metode penyampaian materi pada pendidikan langgar memakai dua sistem, yaitu sistem sorogan (dimana dengan sistem ini anak secara perseorangan belajar dengan guru/ kiai) dan sistem halaqah (seorang guru/ kiai dalam memberikan pengajarannya duduk dengan dikelilingi murid-muridnya.

Pesantren merupakan pranata pendidikan tradisional yang dipimpin oleh seorang kiai atau ulama. Di pesantren inilah para santri dihadapkan dengan berbagai cabang ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab kuning. Adapun sistem belajar di pesantren digambarkan seperti ini: pada pagi hari setelah sholat subuh para santri melakukan pekerjaan kerumahtanggaan untuk guru, seperti membersihkan halaman, mengerjakan sawah, dan sebagainya. Setelah itu baru diberikan pelajaran. Pelajaran utama dengan diselingi oleh belajar sendiri. Pada siang hari murid beristirahat dan pada sore hari belajar lagi. Dalam melakukan semua kegiatan, waktu shalat berjamaah selalu diperhatikan.19

18 Prof. H. Mahmud Yunus, Op.Cit, hlm.35

(27)

Tujuan terbentuknya pondok pesantren yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligj Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya dan mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.20

3. Fase Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam

Pada masa kerajaan islam merupakan salah satu dari periodesasi perjalanan sejarah pendidikan islam di Indonesia, sebab sebagaimana lahirnya kerajaan islam yang disertai dengan berbagai kebijakan dari penguasanya saat itu, sangat mewarnai sejarah islam di Indonesia, terlebih-lebih agama islam juga pernah dijadikan sebagai agama resmi negara/ kerajaan pada saat itu. Berikut ini beberapa kerajaan islam serta bagaimana perannya dalam pendidikan islam dan dakwah islamiyah tentunya.

a. Kerajaan Islam di Aceh

Ada tiga kerajaan islam yang berkembang di bumi “serambi mekah” yaitu: 1. Kerajaan Samudera Pasai

Sistem pendidikan yang berlaku pada masa Kerajaan Samudera Pasai yaitu: a) Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah Fiqh Madzhab

Syafi’i.

b) Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis taklim dan halaqah. c) Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama.

d) Biaya pendidikan agama bersumber dari negara. 21 2. Kerajaan Perlak

Di perlak terdapat suatu lembaga pendidikan yang berupa majlis ta’lim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim dan mendalam ilmunya. Pada majlis ta’lim ini diajarkan kitab-kitab agama yang punya bobot dan pengetahuan tinggi, seperti kitab Al Um karanga Imam Syafi’i dan sebagainya.

3. Kerajaan Aceh Darussalam

(28)

Kerajaan Aceh Darussalam sangat memperhatikan bidang pendidikan. Terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan dan pengetahuan, diantaranya:

a. Balai Seutia Hukama

Merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendekiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan. b. Balai Seutia Ulama

Merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.

c. Balai Jamaah Himpunan Ulama

Merupakan kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan-persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya.22

Adapun jenjang pendidikan yang ada adalah: a. Meunasah ( madrasah)

Terdapat di setiap kampung, berfungsi sebagai sekolah dasar, materi yang diajarkan yaitu: menulis dan membaca huruf arab, ilmu agama, bahasa jawi/melayu, akhlak dan sejarah islam.

b. Rangkang

Diselenggarakan di setiap mukim, merupakan mesjid sebagai tempat berbagai aktivitas umat termasuk pendidikan rangkang adalah setingkat Madrasah Tsanawiyah. Materi yang diajarkan: bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung (hisab), akhlak (fiqh), dan lain–lain.

c. Dayah

Terdapat di setiap daerah ulebalang dan terkadang berpusat di masjid, dapat disamakan dengan Madrasah Aliyah sekarang. Materi yang diajarkan yaitu fiqh

(29)

(hukum islam), bahasa Arab, tauhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah/ tata negara.

d. Dayah Teuku Cik

Dapat disamakan dengan perguruan tinggi atau akademi, diajarkan fiqh, tafsir, hadits, tauhid (ilmu kalam), akhlak, tasawuf, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat.23

b. Kerajaan Demak

Pasca keruntuhan Majapahit (1400 M) Demak menjadi pusat pemerintahan Islam dengan Raden Patah (Panambahan Jimbun) sebagai pemimpinnya. Dengan di bantu para sunan yang lebih populer dengan sebutan wali sanga, seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kaljaga, Raden patah mengubah tata cara pemujaan berhala dan menjadi pemimpin dari semua agama. Setelah 12 tahun memerintah, Raden Patah kemudian digantikan anaknya Pangeran Sabrang Lor (1409 M). Akibat radang paru-paru yang dideritanya, kekuasaan beralih ke tangan saudaranya, Pangeran Trenggana (Panambahan Makdum Jati) dengan bantuan Sunan Kudus sebagai ulama tertinggi kerajaan. Pada masa inilah agama Islam berkembang pesat. Masjid-masjid selesai dibangun, perjanjian kerukunan damai dibuat dengan raja-raja dari Kalimantan, Palembang, Bali, Singapura dan negeri-negeri lain di bumi Nusantara. Hubungan erat yang terjalin antara pihak kerajaan dengan para wali memainkan peranan penting dalam proses pendidikan keislaman. Sasarannya bukan saja kalangan rakyat, tetapi juga di lingkungan kerajaan. Pusat dari segala jenis kegiatan pendidikan ditempatkan pada masjid-masjid dan pesantren.24

c. Kerajaan Isklam Mataram

Setelah wafatnya Sultan Trenggana kerajaan Islam berpindah ke negeri Pajang. Namun, baik Zuhairini maupun Hasbullah tidak memaparkan secara rinci peran dan kiprah kerajaan tersebut dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Padahal, menurut Raffles, kebesaran Pajang dalam belantika sejarah kerajaan Islam di Indonesia layak untuk diapresiasi. Kerajaan kuno di Jawa pada

(30)

saat itu terbagi menjadi tidak kurang dari delapan tampuk pemerintahan yang masing-masing terpisah dan berdiri sendiri, yaitu Bantam, Jokarta, Cheribon, Prawata, Kaliniamat, Pajang, Kedu, dan Madura. Para pemimpin kerajaan tersebut bergelar kiai gede atau sultan, setingkat di atas sunan.25

Dalam The History of Java, sejarawan dari Inggris tersebut menjelaskan:“Setahun setelah kematian Sultan Trenggana, negeri Pajang tumbuh sebagai daerah penting untuk diperhitungkan. Dan pemimpinnya, karena kepemilikan atas benda-benda kebesaran tersebut, ditempatkan sebagai yang teratas dalam tingkatan para raja yang memerintah di daerah bagian timur”. Hasbullah beranggapan perpindahan kerajaan dari Demak ke Pajang tidak memberikan dampak perubahan berarti dalam sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang sudah berjalan.

Pada tahun 1586 M, pusat kerajaan Islam bergeser dari Pajang ke Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1683), Mataram mencapai puncak kejayaan dengan daerah kekuasaan yang terus meluas hingga mencapai seluruh Pulau Jawa dan Madura. Hampir di setiap desa terdapat tempat pengajian al-Qur’an. Pengetahuan Islam seperti fiqh, tafsir, tasawuf, dan lainnya juga diajarkan dengan metode sorogan dan halaqah di pesantren besar yang terletak di daerah kabupaten. Bahkan, pada era ini mulai berkembang sepesialisasi pengetahuan Islam dengan berdirinya pesantren takhassus, yang memfokuskan pengkajian ilmu-ilmu tertentu.

4. Fase Penjajahan Belanda

a. Pendidikan Islam Sebelum 1990

Sebelum tahun 1990 dikenal pendidikan islam secara perseorangan dan secara surau/ langgar atau masjid. Pendidikan perseorangan lebih mengutamakan pelajaran praktis, misalnya tentang ketuhanan, keimanan, dan masalah-masalah yang berhubungan dengan ibadah. Sedangkan pendidikan surau mempunyai dua tingkatan yaitu: pelajaran Al-Qur’an dan pengkajian kitab.

(31)

Pendidikan islam pada masa itu bercirikan hal-hal sebagai berikut:

1. Pelajaran diberikan satu per satu

2. Pelajaran ilmu sharaf

3. Buku pelajaran pada mualanya dikarang oleh ulama kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa daerah setempat

4. Kitab yang digunakan umunya ditulis tangan

5. Pelajaran suatu ilmu, hanya diajarkan dalam satu macam buku saja

6. Toko buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulisan tangan

7. Materi ilmu agama sangat sedikit.26

b. Pendidikan islam pada masa peralihan (1990-1908)

Adapun pelajaran agama islam pada masa peralihan bercirikan hal-hal sebagai berikut:

1. Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secara sekaligus

2. Pelajaran ilmu nahwu didahulukan atau disamakan dengan ilmu sharaf

3. Buku pelajarn semua karangan ulama islam kuno dan dalam bahasa arab

4. Buku-buku semuanya dicetak

5. Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku( rendah, menengah, tinggi)

6. Telah ada toko buku yang memesan buku-buku dari Mesir atau Makkah

7. Ilmu agama telah berkembang luas berkat banyaknya buku bacaan.27

(32)

c. Pendidikan Islam Sesudah Tahun 1990

Ulama-ulama yang ada pada waktu itu menyadari bahwa sistem pendidikan langgar dan pesantren tradisional mereka sudah tidak begitu sesuai dengan iklim indonesia dan jumlah murid yang ingin belajar terus bertambah, maka dirasakan perlu untuk memberikan pelajaran agama di madrasah atau sekolah secara teratur. Salah satunya berdirinya madrasah Adabiyah pada tahun 1909, madrasah Diniyah di Padang Panjang.28

5. Fase Penjajahan Jepang

Pendidikan pada zaman Jepang disebut Hakko Ichiu, yakni mengajak bangsa Indonesia bekerja sama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Sekolah-sekolah pada zaman Belanda diganti dengan sistem Jepang, yang semuanya untuk kepentingan perang. Kegiatan-kegiatan sekolah antara lain:

a) Mengumpulkan batu, pasir untuk kepentingan perang

b) Membersihkan bengkel-bengkel, asrama-asrama militer

c) Menanam ubi-ubian, sayur-sayuran dipekarangan sekolah untuk persediaan makanan

d) Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.29

Tujuan pendidikan pada zaman Jepang hanyalah untuk memenangkan peperangan. Secara konkrit tujuan yang ingin dicapai Jepang adalah menyediakan tenaga cuma-cuma dan prajurit-prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan Jepang.

Pada masa awal-awalnya madrasah dibangun dengan gencar-gencarnya selagi ada angina segar yang diberikan oleh Jepang. Walaupun lebih bersifat politis belaka, kesempatan itu tidak disia-siakan begitu saja oleh umat Islam Indonesia. 28 Djumhur, Sejarah Pendidikan, CV Ilmu, Bandung, 1979, hlm.195

(33)

Hampir seluruh pelosok pedesaan terdapat madrasah Awaliyah yang banyak dikunjungi. Oleh karena itu, meskipun dunia pendidikan terbengkalai, madrasah-madrasah yang berada dalam lingkungan pondok pesantren bebas dari pengawasan langsung pemerintahan Jepang. Pendidikan dalam pondok Pesantren dapat berjalan dengan wajar.

Sikap Jepang terhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak, sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas dibandingkan dengan zaman pemerintahan colonial Belanda. Masalahnya Jepang tidak begitu menghiraukan kepentingan agama, yang mereka pentingkan adalah memenangkan perang. Bila perlu, mereka memberikan keleluasaan kepada para pemuka agama dalam mengembangkan pendidikannya.

Jepang memandang agama Islam sebagai salah satu sarana penting untuk menyusupi lubuk rohaniah terdalam dari kehidupan masyarakat Indonesia dan untuk meresapkan pengaruh pikiran serta cita-cita mereka pada bagian masyarakat yang paling bawah. Untuk memudahkan rencana itu, diantaranya Jepang mendirikan/ membentuk KUA, Masyumi dan pembentukan Hizbullah.

Namun demikian dibalik kekejaman Jepang, ada hal yang sangat menguntungkan bagi bangsa Indonesia, khususnya di bidang pendidikan, yaitu:

a) Bahasa Indonesia hidup dan berkembang secara luas di seluruh Indonesia.

b) Buku-buku dalam bahasa asing yang diperlukan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan mengabaikan hak cipta internasional.

c) Kreatifitas guru berkembang dalam memenuhi kekurangan buku pelajaran dengan menyadur atau mengarang sendiri.

d) Seni bela diri dan pelatihan perang-perangan sebagai kegiatan kurikuler di sekolah telah membangkitkan keberanian pada para pemuda yang ternyata sangat berguna dalam perang kemerdekaan yang terjadi kemudian.30

(34)

6. Fase Kemerdekaan I

Kementrian Agama telah mencanangkan rencana-rencana program pendidikan yang dilaksanakan dengan menunjukkan jenis-jenis pendidikan serta [engajaran islam sebagai berikut:

a. Pesantren Islam Klasik

b. Madrasah Diniyah

c. Madrasah-madasah Swasta

d. Madrasah Ibtidaiyah Negeri

e. Pendidikan Teologi tertinggi.31

7. Fase Kemerdekaan II

Suasana pada waktu itu iaah membersihkan sisa-sisa mental G30S/PKI. Dalam keputusannya di bidang pendidikan agama telah mengalami kemajuan. Dengan demikian sejak tahu 1966 pendidikan agama menjadi hak wajib mulai daru Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi Umum Negeri di seluruh Indonesia.32

C. Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia 1. Masjid

(35)

Secara harfiah masjid diartikan sebagai tempat duduk atau setiap tempat yang dipergunakan untuk beribadah. Secara harfiah, masjid adalah “tempat untuk bersujud”. Namun, dalam artiterminologi, masjid diartikan sebagai tempat khusus untuk melakukan aktivitas ibadah dalam arti yang luas. Dalam bahasa Indonesia, masjid diartikan rumah tempat bersembahyang bagi orang Islam. Di dalam bahasa inggris, kata masjid merupakan terjemahan dari kata mosque. Masjid memegang peran penting dalam pendidikan islam, karena masjid atau surau merupakan sarana yang pokok dan mutlak keperluannya bagi perkembangan masyarakat islam.

Masjid, surau dan langgar dianggap sebagai lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia sebelum adanya pesantren. Pendidikan di surau atau langgar adalah pendidikan tingkat dasar yang biasa disebut sebagai pengajian al-Qur’an. Kemudian pendidikan dan pengajaran tingkat lanjutan yang disebut pengajian kitan diselenggarakan di masjid. Sementara itu di sebagian daerah surau langgar berfungsi sebagai pesantren. Dewasa ini, fungsi masjid mulai menyempit, tidak sebagaimana pada zaman Nabi SAW. Hal itu terjadi karena lembaga-lembaga sosial keagamaan semakin memadat, sehingga masjid terkesan sebagai tempat ibadah shalat saja. Pada mulanya, masjid merupakan sentral kebudayaan masyarakat Islam, pusat organisasi kemasyarakatan, pusat pendidikan, dan pusat pemukiman, serta sebagaI tempat ibadah dan I’tikaf.33

Jadi dari beberapa pengertian diatas dapat simpulkan bahwa yang di maksu dengan masjid adalah suatu tempat yang digunakan untuk kegiatan ibadah bagi orang-orang Islam, seperti sholat. Dan masjid menjadi lembaga pendidikan pertama di Indonesia terutama pendidikan agama Islam.

2. Pesantren

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di indonesia. Lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaanislam masuk ke Indonesia. Pesantren merupakan sebuah kompleks dengan lokasi umumnya terpisah dari kehidupan sekitarnya. Dalam kompleks itu terdiri dari beberapa bangunan, di antarnya rumah kediaman kyai, sebuah masjid, tempat pengajaran diberikan

(36)

diasrama tempat tinggal para santri. Ada lima elemen atau unsur penting dalam pesantren, yaitu kyai, santri, pondok dan masjid, dan kitab-kitab islam klasik.Menurut para ahli pesantren baru dapat disebut pesantren bila memenuhilima syarat, yaitu: ada kiai, ada pondok, ada masjid, ada santri, ada pelajaran membaca kitab kuning.

Tujuan terbentuknya pondok pesantren adalah:

a. Tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam, yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubalig Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.

b. Tujuan khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta dalam mengamalkan dan mendakwahkannya dalam masyarakat.34

3. Madrasah

Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang lebih modern dibanding pesantren, baik ditinjau dari sisi metodologi maupun kurikulum pengajarannya. Kendati demikian, kemunculan madrasah ini tidak lain diawali oleh keberadaan pesantren. Sebagian lulusan pesantren melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ke beberapa pusat kajian Islam di beberapa negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir. Lulusan-lulusan Islam Timur Tengah itulah yang kemudian akhirnya menjadi pemrakarsa pendirian madrasah-madrasah di Indonesia.

Dalam madrasah, sistem pembelajaran tidak lagi

menggunakan sorogan ataupun bandongan, melainkan lebih modern lagi. Madrasah telah mengaplikasikan sistem kelas dalam proses pembelajarannya. Elemen yang ada dalam madrasah juga bukan lagi Kyai dan santri, tetapi murid dan guru (ustad/ustadzah). Dan metode yang digunakan juga beragam, bisa ceramah, atau drill dan lain-lain, tergantung pada ustad/ustadzah atau guru.35

Kehadiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam setidaknya mempunyai empat latar belakang, yaitu:

a. Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam

34 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Jakarta, 1983, hlm.18

(37)

b. Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistempendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya untuk memperolehkesempatan yang sama dengan sekolah umum, misalnya masalah kesamaan kesempatan kerja dan perolehan ijazah

c. Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka

d. Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendidikan tradisional yang dilakukan oleh pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasilakulturasi.

4. Sekolah-sekolah Islam

Di samping madrasah, lembaga pendidikan Islam yang berkembang hingga sekarang adalah sekolah-sekolah Islam. Pada dasarnya, kata sekolah merupakan terjemah dari madrasah, hanya saja madrasah adalah kosa kata bahasa Arab, sedangkan sekolah adalah bahasa Indonesia. Namun demikian, pada aplikasinya terdapat perbedaan antara madrasah dan sekolah Islam. Madrasah berada dalam naungan Kementrian Agama (Kemenag), sedangkan sekolah Islam pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain itu,dari segi bobot muatan materi keagamaannya, madrasah lebih banyak materi agama dibanding sekolah Islam.

5. Perguruan Tinggi Agama Islam

Pendidikan Tinggi Islam juga merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang modern. Dalam sejarah, pendidikan tinggi Islam yang tertua adalah Sekolah Tinggi Islam (STI), yang menjadi cikal bakal pendidikan tinggi Islam selanjutnya. STI didirikan pada 8 Juli 1945 di Jakarta, kemudian dipindahkan ke Yogyakarta, dan pada tahun 1948 resmi berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).36 Selanjutnya, UII merupakan bibit utama dari perguruan-perguruan tinggi swasta yang kemudian berkembang menjadi beberapa Universitas Islam yang populer di Indonesia, seperti misalnya Universitas Ibn Kholdun di Bogor, Universitas Muhammadiyah di Surakarta, Universitas Islam Sultan Agung di Semarang, Universitas Islam Malang (UNISMA) di Malang, Universitas Islam

(38)

Sunan Giri (UNSURI) di Surabaya, Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) di Jombang dan lain-lain.

Menurut Tolhah Hasan, perkembangan dan kemajuan perguruan tinggi Islam di Indonesia banyak ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya: kredibilitas kepemimpinan, kreativitas manajerial kelembagaan, pengembangan program akademik yang jelas dan kualitas dosen yang memiliki tradisi akademik. Ada beberapa macam perguruan tinggi agama islam, antara lain: IAIN, STAIN, UIN, PTAIS.37

6. Majelis Taklim

Majlis taklim sebagai salah satu bentuk pendidikan islam yang bersifat non formal, tampak mempunyai kekhasan tersendiri. Lembaga ini mempunyai daya tarik yang luar biasa besar. Ini dapat dilihat dari segi jumlah lembaga yang ada maupun jamaah. Umumnya, tidak terikat pada salah satu organisasi atau paham keagamaan tertentu. Dengan kata lain, sekterianisme keagamaan menjadi pudar dalam majlis taklim. Lembaga ini menyerupai kumpulan-kumpulan pengajian yang diselenggarakan atas dasar kebutuhan untuk memahami islam disela-sela kesibukan kerja dan bentuk-bentuk aktivitas lainnya, atau sebagai bentuk pengisi waktu bagi ibu-ibu rumah tangga.38

D. Pendidikan Islam Pada Masa Masuknya Islam Di Indonesia

Penyebaran pengaruh Islam yang berasal dari Jazirah Arab ke Asia dan benua lainnya, menimbulkan munculnya pusat-pusat agama Islam dikawasan tersebut yang berguna sebagai pusat pemerintahan dan peradaban, juga berperan dalam penyebaran pengaruh Islam ke wilayah sekitarnya.

1. Peran Pedagang dalam penyebaran pendidikan Islam

Para pedagang yang menjalin hubungan dengan pedagang Indonesia tidak hanya pedagang Cina tetapi juga pedagang India, Persia, Arab, Mesir dan Turki. Adanya interaksi sosial antara pedagang muslim dengan masyarakat setempat inilah yang

37 Mahmud Yunus, Op.Cit., hlm.288

(39)

akhirnya memberi pengaruh masuknya nilai-nilai dan ajaran Islam sehingga semakin banyak yang memeluk agama Islam.

Adapun sistematis yang dilakukan para pedagang dalam penyampaian dakwahnya adalah sebagai berikut:

a. Mula-mula para pedagang berdatangan ke pusat perdagangan.

b. Kamudian mulai ada yang bertempat tinggal, baik sementara maupun menetap. c. Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan muslim

dari negeri asing yang disebut pekojan.

d. Status sosial yang tinggi, memudahkan mereka mengawini pribumi baik rakyat biasa maupun anak bangsawan.

e. Sebelum pernikahan, calon istrinya di-Islam-kan dahulu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

2. Peran Ulama’ dalam penyebaran pendidikan Islam di Indonesia

Agama Islam yang diperkenalkan kepada bangsa Indonesia mempunyai bentuk yang menunjukkan persamaan dengan alam pikiran yang telah dimiliki oleh orang-orang yang dulunya menganut agama Hindu Syiwa dan Budha Mahayana. Hal ini menyebabkan ajaran Islam yang diperkenalkan semakin mudah dimengerti dan dipahami.

Salah satu cara agar pemahaman tentang Islam mudah diterima oleh masyarakat adalah melalui gambaran-gambaran. Tidak langsung pada inti pembahasan yang mungkin sulit diterima, antara lain melalui gending-gending jawa, gending-gending dolanan, wayang kulit dan hikayat.

Para Ulama’ yang pada waktu itu terkenal dengan sebutan Wali Songo telah mempunyai andil besar dalam hal ini, diantaranya:

a. Sunan Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari Turki selain menguasai ilmu-ilmu agama juga ahli dalam bidang tata negara sehingga ia mampu mensinergikan antara adat istiadat penduduk asli dengan syari’at Islam.

(40)

c. Sunan Drajat yang merupakan putra Sunan Ampel sebagai pencipta gending pangkur.

d. Sunan Bonang yang juga putra Sunan Ampel sebagai pencipta gending durma. e. Sunan Giri sebagai pendiri pesantren di Giri yang juga menciptakan gending

asmaradana dan gending pucung selain itu beliau juga menciptakan permainan anak-anak yang berjiwa Islam, seperti ilir-ilir, jamuran dan cublak-cublak suweng.

f. Sunan Kalijaga yang lahir dituban Jawa Timur menyebarkan Islam melalui cerita wayang.

g. Sunan Kudus, beliau berasal dari Palestina adalah seorang yang pandai mengarang dan pencipta gending mas kumambang dan gending mijil.

h. Sunan Muria adalah putra sunan Kalijaga adalah pencipta gending sinom dan kinanti.

i. Sunan Gunung Jati yang berasal dari Palestina dan sebagai panglima perang kerajaan Demak, beliau aktif berdakwah melalui sosial politik.

3. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam

Selain itu, pondok pesantren yang dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di Indonesia merupakan lembaga pendidikan Islam yang penting dalam penyebaran agama Islam pada waktu itu. Pesantren inilah yang akhirnya menampung anak-anak bangsa yang tidak diperbolehkan oleh penjajah untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan pemerintah. Para santri yang telah keluar dari pesantren ini, kemudian akan menjadi tokoh agama, menjadi kyai dan mendirikan pesantren lagi. Sehingga dengan adanya pesantren ini, penyebaran pendidikan Islam tidak akan terputus. Demikian seterusnya sehingga semakin lama islam semakin berkembang.

E. Dinamika Pendidikan Islam Di Indonesia

Tak dapat dipungkiri, bahwa seiring berjalannya waktu, lembaga-lembaga pendidikan Islam juga mengalami berbagai dinamika. Tak hanya pada pesantren, bahkan madrasah dan perguruan tinggi Islam pun tak luput dari dinamika yang ada.

Referensi

Dokumen terkait

Kiai merupakan tokoh paling penting di dalam pesantren. Berjalannya kegiatan di dalam pesantren bergantung pada kepribadian kiainya. Seorang kiai

Ulama-ulama yang ada pada waktu itu menyadari bahwa sistem pendidikan langgar dan pesantren tradisional mereka sudah tidak begitu sesuai dengan iklim indonesia dan jumlah murid

Pada perkembangan pesantren, para santri ingin selalu berdekatan dengan kiai sehingga dapat lebih banyak belajar ilmu agama, sehingga mereka membentuk komunitas

Secara umum, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada para santri

Pesantren yang memiliki manajemen kurikulum yang baik akan mencapai tujuan yang di cita-citakan oleh para kiai untuk menjadikan seorang santri yang tekun belajar kitab

Santri atau murid umumnya sangat berbe- da-beda dalam mendapatkan pelajaran dari pim- pinan pesantren (kiai/tuan guru [TGH]) dan para guru. Pelajarannya mencakup berbagai

Kebijakan pelaksanaan belajar dari rumah melalui Daring ini jarang ditemukan di lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren, terutama para santri yang mukim di pondok

Nilai inilah yang digunakan oleh masyarakat Pondok Pesantren DDI Mangkoso yang mayoritas Bugis, begitu juga para santri yang bersuku lain dapat beradaptasi dengan baik dalam interaksi