A. ANALISIS EKONOMI
Analisis ekonomi merupakan salah satu aspek yang perlu diketahui dengan baik oleh usaha swasta apalagi untuk usaha atau proyek-proyek pemerintah. Melakukan studi ekonomi bagi pelaku studi kelayakan usaha sangatlah penting, yakni agar dapat menentukan paling sedikit tiga hal berikut :
1. Apakah dengan membandingkan usaha atau proyek tersebut dapat member kontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Jika ada, berapa besar, apa saja yang diperlukan untuk mewujudkannya.
2. Apakah ada dampak fisik, yaitu berupa perusakan lingkungan dan merugikan masyarakat. Hal ini perlu dikaji dengan teliti agar tidak membawa efek negatif bagi rencana usaha di masa yang akan datang.
3. Apakah ada hal-hal yang perlu diperhatikan terutama yang menyangkut unsure biaya dan penerimaan usaha atau proyek, perlakuan untuk beberapa jenis biaya ini, jika tidak diantisipasi dari awal dapat menyebabkan kesalahan dalam menetapkan nilai yang akan jadi dasar untuk penilaian kelayakan usaha. Misalnya, perlakuan terhadap pajak, subsidi, harga tenaga kerja, tanah dan lain-lain.
Analisis ekonomi juga akan menunjukkan pada pelaku studi kelayakan bahwa ada perbedaan antara analisis ekonomi dengan analisis finansial.
B. ANALISIS EKONOMI VS ANALISIS FINANSIAL
Suatu analisis financial memusatkan kajiannya pada penilaian usaha semata-mata dari sudut pandang investor pemilik usaha, sehingga dapat dikatakan bahwa analisis financial berorientasi pada profit motive. Sasaran utamanya adalah menemukan dan berusahan untuk mewujudkan besarnya penerimaan usaha yang diharapkan oleh investor selaku penyandang dana usaha. Oleh karena itu, analisis financial selalu didominasi oleh pertanyaan bagaimana keadaan arus kas masuk dan arus kas keluar dan seberapa jauh hal itu dapat diatur dalam perencanaan usaha untuk menjamin likuiditas dan kriteria investasi proyek.
effect karena hal tersebut dapat memengaruhi tingkat pendapatan dan keadaan pihak ketiga termasuk analisis manfaat dampak lingkungan (AMDAL). Secara rinci perbedaan antara analisis financial dengan analisis ekonomi dapat diuraikan sebagai berikut.
Analisis Financial Analisis Ekonomi
1. Orientasi profit motive (private return) 2. Harga pasar (market price)
3. Input-output dinilai berdasarkan real income
1. Orientasi pertumbuhan ekonomi (economic return)
2. Harga bayangan (shadow price)
3. Input-output dinilai berdasarkan real atau scarcity atau efisiensi value menggunakan konsep opportunity cost
Contoh penerapan analisis financial dan analisis ekonomi dapat dijelaskan sebagai berikut. a. Bahan bakar minyak diproduksi pertamina dengan harga dalam negeri Rp. 3.400 per liter,
jika ada permintaan di luar negeri maka dijual dengan harga Rp 5.000 per liter. Salah satu perusahaan domestic menggunakannya sebagai salah satu inputnya dan membayar Rp 3.400 per liter. Konsekuensinya, dengan digunakannya minyak dalam negeri biaya bagi perekonomian sebesar Rp 2.000 per liter, karena kesempatan untuk menjual minyak tersebut jadi hilang.
- Financial cost Rp 3.400 - Ekonomic cost Rp 2.000
b. Perusahaan membeli tanah dengan harga Rp 1.200.000 per m2 . Harga ini disebut sebagai financial cost, sedangkan dari sudut analisis ekonomi, tanah tersebut perlu dilihat lebih banyak pada fungsinya. Jika sebelum ada usaha tanah tersebut tidak dbudidayakan atau digunakan dengan tujuan lain, atau merupakan lahan tidur, maka nilainya sama dengan nol atau economic cost = 0.
C. TEKNIK MELAKUKAN ANALISIS EKONOMI
Seluruh biaya dan manfaat usaha dalam analisis ekonomi perlu dinilai kembali. Harga-harga barang yang digunakan dijadikan dasar untuk melakukan analisis ekonomi, yaitu dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan agar setiap unsur biaya dan mnafaat dari usaha itu dapat mencerminkan nilai yang sebenarnya. Tahap-tahap yang dilakukan untuk melakukan analisis ekonomi sebagai berikut.
Transfer Payment Langsung
Secara individu transfer payment merupakan biaya (pajak) dan manfaat (subsidi), tetapi bagi perekonomian tidak demikian, karena pajak dan subsidi hanya merupakan pemindahan pembayaran dari satu pihak ke pihak lain.
Contoh :
Harga input usaha Rp 1.200 per gallon Pajak 10% Rp 120
Biaya input bagi usaha Rp 1.320 per gallon, yaitu besarnya jumlah yang dibayar. Pajak merupakan transfer payment dari usaha ke pemerintah. Oleh karena itu, bagi ekonomi harganya tetap Rp 1.200 per gallon.
Harga input Rp 1.200 per galon, subsidi 10% Rp 120 Biaya input Rp 1.080 per gallon, financial cost Rp 1.080
Sedangkan economic cost tetap Rp 1.200 subsidi yang diberikan pemerintah untuk usaha sebesar Rp 120.
2. Penentuan harga bayangan semua barang dan jasa harus dikelompokkan menjadi traded dan non traded goods. Traded goods diartikan segala sesuatu yang berhubungan dengan perdagangan internasional yang menyangkut ekspor atau impor.
Traded goods dapat dibagi menjadi:
1) Barang dan jasa dengan adanya usaha diekspor, disebut sebagai traded goods langsung. Nilai perekonomiannya adalah F.O.B export price.
2) Barang dan jasa yang diimpor oleh proyek (mesin, bahan baku, dan lain-lain) disebut sebagai traded goods, nilainya sama dengan C.I.F import price.
3) Barang substitusi, yang dihasilkan oleh usaha domestic sebagai pengganti ekspor, nilainya sama dengan C.I.F import price.
4) Barang dan jasa yang digunakan sebagai input usaha, tanpa adanya usaha ini biasanya diekspor, yaitu F.O.B export price.
3. Harga Paritas untuk Barang dan jasa Traded
Harga paritas ini muncul karena adanya perdagangan luar negeri yang melibatkan pemakaian mata uang asing dan mata uang sendiri. Harga yang dipakai adalah C.I.F dan F.O.B pada pasar bebas dengan tidak ada campur tangan pemerintah sehingga harga yang berlaku sama dengan harga pasar dengan ditambah dengan:
- Biaya bongkar muat dari kapal - Biaya pelabuhan
Harga paritas impor untuk barang impor di dalam usaha = harga impor C.I.F + biaya angkut dari pelabuhan ke tempat usaha. Harga paritas ekspor untuk barang ekspor di dalam usaha = harga ekspor F.O.B biaya angkut dari tempat usaha ke pelabuhan.
Contoh :
Harga paritas ekspor kopi dari Indonesia ke Amerika Serikat.
Keterangan Harga Pasar
Harga F.O.B Kopi Rp 4.124 per kg
Biaya pelabuhan +10
EMKL +2
Gudang pelabuhan +10
Biaya angkut dari gudang ke pelabuhan +4 Biaya administrasi pelabuhan +2 Nilai harga di gudang usaha = nilai ekspor Rp 4.561 Biaya angkut dari pelabuhan ke gudang -20
Pajak perkebunan -10
Biaya gudang di perkebunan -5
Biaya sortir -15
Nilai kopi di perkebunan = harga produksi = Rp 4.511 per kg 4. Barang Pengganti Impor
Harga barang atau jasa pengganti impor = nilai C.I.F + biaya gudang, asuransi, dan keamanan di gudang + biaya angkut dari pelabuhan ke gudang + biaya angkut dari gudang ke pasar + biaya administrasi. Nilai pasar – biaya angkut dari daerah produksi ke gudang/pasar – biaya penyimpanan asuransi, sortir mutu dan handling – biaya administrasi.
5. Non Traded Goods dibagi menjadi:
a. Barang dan jasa karena sesuatu sebab sehingga tidak dapat memasuki perdagangan internasional. Misalnya transportasi dalam negeri, konstruksi listrik, air, tanah, dan lain-lain.
b. Barang dan jasa karena kebijakan pemerintah ekspor atau impor.
c. Barang dan jasa karena bentuknya, kualitas, dan jenisnya tidak dapat diekspor. Perlakuan untuk non traded goods:
a) Tanah
Penentuan harga tanah tergantung dari: - Marginal value of product (MVP) - Faktor permintaan
- Lokasi - Spekulasi - Prestise
Cara menghitung opportunity cost tanah, dengan melihat dari: - Nilai sewa
- Benefit forgane (kemampuan tanah untuk menghasilkan sesuatu, jika sebelumnya tanah tersebut menghasilkan sesuatu dan sebagai akibat dari adanya usaha maka hasil dari tanah tersebut hilang).
Contoh:
Sebidang tanah yang sebelumnya telah menghasilkan karet dengan nilai MVP (marginal value of product) sebesar Rp 1.000.000 akan terkena pajak jalan. Opportunity cost dihitung sampai waktu tak terbatas dari output forgone, yaitu present value dari karet selama waktu tidak terbatas (t),r = 10%
Maka PV (karet) =
∑
Pv = 10.000.000 = opportunity cost output foregone b) Tenaga Kerja
Nilai tenaga kerja dalam pasar tenaga kerja persaingan sempurna ditentukan oleh marginal value product (MVP), yaitu tambahan produksi yang bisa dihasilkan oleh tambahan tenaga. Jika tenaga kerja itu pengangguran maka nilai MVP = 0. Pada saat musim panen upah tenaga kerja petani itu dapat mencerminkan MVP nya sehingga tingkat upah dapat dijadikan perkiraan untuk menentukan nilai ekonomi atau opportunity cost dari buruh pedesaan (ruler labour) selama 1 tahun.
Tenaga kerja itu dapat dibagi tiga jenis: - Tenaga ahli
- Tenaga tidak ahli - Tenaga asing
Tenaga ahli sifatnya langka dan tingkat upahnya tinggi, sehingga dianggap sudah mencerminkan MVP atau nilai sebenarnya.
Opportunity cost = market wage value (MWV)
Contoh:
Suatu usaha yang baru berdiri memperkerjakan 50 orang tenaga kerja dengan upah Rp 1.000.000 per orang per hari yang diambil dari sekitar lokasi pabrik yang pada umumnya petani dengan pendapatan Rp 500.000 per orang per tahun.
1) Opportunity cost tenaga kerja = Rp 500.000 per hari per orang, jika di sekitar lokasi biasanya dihasilkan tebu 20% dan padi 80%.
2) Nilai produksinya:
Tebu 20% x Rp 500.000 = Rp 100.000 Padi 80% x Rp 500.000 = Rp 400.000
3) Dimisalkan nilai sebenarnya dari tebu 35% dan padi 106% maka: Tebu = 35% x Rp 100.000 = Rp 35.000
Padi = 106% x Rp 400.000 = Rp 424.000 Total nilai produksi = Rp 459.000
Besarnya nilai produksi yang hilang akibat petani bekerja di industry sebesar Rp 459.000 disebut sebagai shadow price of the last output (MVP).
Market price tenaga kerja = upah di sekitar industry Rp 1.000.000, shadow price = Rp 459.000 maka SWR menjadi Rp 459.000/1.000.000 = 45,9% 9nilai SWR = 45,9%). Atau cari dengan rumus
SWR = shadow price : market price 4. Teknik menggunakan SER dan SCF
1) SER = Shadow Exchange Rate, cara untuk memperkirakan nilai valuta asing yang sebenarnya, dapat dijadikan nilai konversi valuta asing pada barang-barang non traded goods, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai barang non trade goods tersebut sama dengan nilai traded goods. Valuta asing dinilai terlalu rendah misalnya 20% atau terlalu tinggi, ini berarti ada premium atau diskon sebesar 20%, nilai tukar resmi +20%, misalnya nilai tukar resmi $1 maka menjadi 1,2 OER = Officer Exchange rate = nilai tukar resmi. Misalnya OER = US$1 = Rp 10.900; SER = Rp 10.900 x 1,2 = 13.080
2) SCF = Standar Conversion Factor. Asumsinya tidak ada nilai mengambang dan kasus OER tidak berlaku karena pasar dianggap telah mencerminkan opportunity cost valuta asing (SCF = 1), jika dinilai rupiah under-valued dapat dilakukan penyesuaian dengan cara sama pada saat menghitung SER.
Contoh:
a. Perhitungan analisis keuangan:
1. $20.000 x 10.900 = Rp 218.000.000 2. Pajak 35% x 1 = Rp 76.300.000 Rp 294.000.000 b. Perhitungan analisis ekonomi:
SER = $20.000 x Rp 13.080 = Rp 261.600.000 OER = $20.000 x Rp 10.900 = Rp 218.000.000 Maka SCF = 10.900/13.080 = 0,83
Perbedaan antara analisis financial dan ekonomi dapat dilihat dalam bentuk daftar lengkap seperti berikut.
1. Tentukan besarnya nilai tukar per US$1.
2. Tentukan berapa nilai premium akibat dari over valued atau under valued. 3. Hitung besarnya SER = Shadow Exchange Rate.
4. Hitung besarnya SWR = Shadow Wage Rate. 5. Hitung besarnya SCF = Standar Conversion Factor. Misalnya ada data sebagai berikut.
Per US$1 = Rp 10.900 Premium sebesar 20%
Harga output barang (traded) Rp 2.000 (2 miliar) Biaya tenaga kerja asing (NT) = 800 juta per tahun Biaya input lain local (impor) = 500 juta per tahun
Tenaga kerja impor adalah 75% dari total seluruh tenaga kerja yang ada dan sisanya digunakan tenaga kerja local, total tenaga kerja seluruhnya dalah 300 orang. Susunlah data lengkap pada satu tabel yang dapat membandingkan antara analisis financial dan ekonomi.
1. Cash Inflow : (000.000 Rp) Traded
goods 2000 183,49 2400 2000
2. Cash Outflow : (000.000 Rp)
Tenaga kerja (NT) 800 73,39 400 332
4. B/C Rasio = inflow/outflow 1,25 1,78 1,78 1,78 Catatan: Nilai Konversi untuk SER = 1 + 0,20 = 1,2
Kolom SER = Harga X 1,2
SER Tenaga Kerja (NT) = SWR X Nilai pasar (800) SWR dianggap 50%
Jadi SER-Tenaga Kerja (NT) = 400 Kolom SCF:
1. Harga pasar sama dengan harga SCF: karena nilai SCF = 1
2. Untuk tenaga kerja (NT) didapat dengan cara SCF X nilai SER atau 0,833 X 400 = 332 Input local (NT) SWR X SER = 0,833 X 75 = 62
ANALISIS PENGARUH INFLASI
D. PENGERTIAN PENGARUH INFLASI
Banyak pakar memandang pengaruh inflasi ini cukup dieleminasi dalam perhitungan time value of money. Dalam studi kelayakan usaha tercermin pada besarnya tingkat discount factor (DF) atau lebih dikenal dengan biaya model – namun ada juga yang menganggap perlu, tetapi tidak perlu harus dihitung secara teliti dengan cara melihat pengaruh inflasi, baik pada sisi penerimaan atau sisi pengeluaran usaha atau proyek yang direncanakan. Caranya sederhana saja, yaitu cukup dari perhitungan IRR (internal rate of return) dikurangi perkiraan laju rata-rata inflasi selama umur usaha atau proyek. Misalnya dalam kelayakan criteria penerimaan, rencana usaha ini layak karena IRR > r (bunga deposito bank) atau opportunity cost of capital (OCC) yang dimiliki oleh investor. Guna lebih meyakini kelayakan dari rencana usaha maka perlu diperhitungkan besarnya pengaruh inflasi, dengan cara IRR – tingkat laju inflasi rata-rata. Jika perkiraan laju inflasi selama 5 tahun umur sesuai dengan rencana usaha tersebut adalah 3% maka IRR = 15% - 12% baru dibandingkan dengan OCC jika ternyata masih lebih besar berarti usaha tersebut masih layak dilaksanakan walaupun ada laju inflasi sebesar rata-rata 3% per tahun selama umur usaha.
kelayakan usaha dengan mudah memasukan ke dalam nilai IRR yang sudah dihitung, karena cara ini hanya mungkin jika satu-satunya criteria yang dipakai untuk menilai kelayakan financial dari rencana usaha. Menurut Van Horn, dkk. Adalah lebih baik jika pengaruh inflasi diperhitungkan sejak awal penilaian kelayakan. Sehingga kriteria penilaian kelayakan usaha dapat disesuaikan dengan seberapa besar pengaruh inflasi terhadap pendirian usaha itu selama umur usaha tersebut. Kuncinya terletak pada besarnya arus kas masuk dan arus kas keluar. Jika kedua hal ini sudah disesuaikan, penilaian dapat dianggap menjadi lebih baik dan lebih diteliti.
F. PENGARUH INFLASI TERHADAP BIAYA USAHA
Pelaku studi kelayakan usaha dituntut untuk selalu jeli melihat segala fenomena ekonomi yang mungkin akan berpengaruh terhadap seluruh biaya rencana pendirian usaha. Jika hal ini tidak dapat dilakukan maka akan menyebabkan terjadi penyimpangan terlalu jauh dari nilai yang diharapkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan rencana pendirian usaha yaitu para pemilik modal, pemerintah, manajer dan karyawan, serta masyarakat luas. Inflasi merupakan salah satu fenomena ekonomi yang umumnya berrfluktuasi sesuai dengan perkembangan ekonomi dan perkembangan situasi politik dari suatu Negara, pengaruhnya dapat berdampak negative bagi kemajuan usaha pada saat ini dan di masa yang akan datang. Hasil studi kelayakan usaha ini biasanya akan dilaksanakan justru pada saat yang akan datang walaupun secara tidak langsung dapat tercermin dari perkembangan tingkat suku bunga pinjaman, tetapi memerhatikan langsung pengaruh inflasi dalam studi kelayakan usaha adalah cukup penting.
G. PENGARUH INFLASI PADA PENERIMAAN USAHA
Didasarkan atas pertimbangan bahwa dengan adanya inflasi pada awalnya berdampak langsung pada sisi pengeluaran rencana aliran kas usaha, tetapi dalam perjalanan waktu dimana adanya kenaikan harga-harga input usaha dengan sendirinya perlu diadakan penyesuaian juga dari sisi penerimaan.
Tujuannya adalah untuk melihat apakah adanya inflasi tersebut belum akan berpengaruh pada sisi penerimaan atau dengan kata lain B/C ratio > 1; B/C rasio < 1. Selama perubahan pengeluaran tidak menyebabkan B/C rasio = 1 atau B/C rasio < 1 maka pengaruh inflasi tidak perlu diperhitungkan atau tidak perlu diadakan penyesuaian pada sisi penerimaan dari rencana usaha.
Ir =
∑
r=1
n
Ir(1+P) r Dimana:
Ir = Arus kas masuk yang sudah disesuaikan dengan laju inflasi It = Arus kas pada tahun t
P = Perkiraan rata-rata laju inflasi selama t t = Periode umur usaha / proyek
Contoh:
Jika dimisalkan rencana arus kas masuk setiap tahun dari rencana usaha adalah Rp. 30.000 dan laju inflasi diperkirakan selama umur usaha rata-rata 10% per tahun selama 3 tahun. Maka penyesuaian arus kas masuk dapat dihitung sebagai berikut.
Ir = Rp 30.000 (1 + 0,1)1 + Rp 30.000 (1 + 0,1)2 + Rp 30.000 (1+ 0,1)3 = Rp 109,23
Hasil dari penyesusaian ini harus dikonfersikan dengan tingkat pajak agar diperoleh gambaran pengaruh yang benar, sehingga dalam perhitungan penilaian kelayakan usaha akan diperoleh nailai yang dapat dipercaya karena seluruh unsure sudah diadakan penyesuaian dengan dampak inflasi.
H. TEKNIK PENYESUAIAN PENGARUH INFLASI
Besarnya kenaikan biaya tentunya akan membawa dampak yang serius, jika kenaikan biaya tersebut masih berada dalam batas-batas yang dapat ditolerir, maka batas-batas itu dapat diukur dengan rasio antara benefit dan cost, selama masih positif berarti ada dampak inflasi tetapi tidak perlu diadakan penyesuaian. Namun, jika rasio itu sudah mendekati titik nol (0), apalagi sudah negative, maka penyesuaian biaya dan penerimaan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena usulan kelayakan usaha yang sebelumnya layak akan berubah menjadi tidak layak lagi.
Untuk mencegah hal ini selama umur usaha, perlu dinilai kembali kelayakan usaha dari arus kas masuk dan aliran kas keluar yang sudah disesuaikan dengan perkiraan rata-rata laju inflasi selama umur usaha atau proyek. Rumus sebagai berikut:
NPV = Ʃt=n 1 [It(1+α) – Ot t(1+βP)t ] [1 – T] + [Dp(T)] × Co (1+r)t
It = Aliran kas periode t Ot = Aliran kas keluar periode t P = laju inflasi
α = porsi inflasi yang dibebankan pada cash in flow β = porsi inflasi yang dibedakan pada cash in flow T = tarif pajak
r = discount factor atau biaya modal t = umur usaha atau proyek
Dp = penyusutan
Co = total modal investasi awal (Van Horn: 1983)
Contoh:
Tuan Budhi merencanakan untuk mendirikan pabrik pembuatan pakan ternak dengan modal investasi awal (biaya investasi) sebesar Rp. 100.000.000. penyusutan secara garis lurus selama 5 tahun, yaitu Rp. 20.000.000 setahun. Tariff pajak diberlakukan 50%. Biaya pengembalian modal atau OCC ditetapkan 14% pertahun selama 5 tahun. Aliran kas masuk dan keluarnya adalah sebagai berikut:
Tahun Aliran kas masuk (jutaan RP) Aliran kas keluar (jutaan RP)
1 30 10
2 40 10
3 50 10
4 50 10
5 30 10
Tentukan:
1. Apakah rencana investasi Tuan Budhi layak jika pengaruh inflasi diabaikan?
2. Apakah rencana investasi Tuan Budhi ini layak jika inflasi diperhitungkan dalam penilaian?
Penilaian pertama: inflasi diabaikan Perhitungan aliran kas neto rencana usaha: Tabel Perhitungan Aliran Kas
Aliran kas masuk (jutaan Rp) 30 40 50 50 30 Aliran kas keluar (jutaan Rp) 10 10 10 10 10
20 30 40 40 20
Kalikan dengan (1-T) = (1- 0,5) 10 15 20 20 10
10 15 20 20 10
Penyusutan x pajak = (20 x 0,5) 10 10 10 10 10
Aliran kas neto 20 25 30 30 20
Penilaian yang mengabaikan inflasi dalam perhitungan NPV, artinya unsur inflasi tidak diikutkan dalam perhitungan. Ternyata didapat pengaruh yang negatif, yaitu nilai NPV-nya negatif atau dengan kata lain rencana usaha jadi tidak layak karena adanya inflasi. Caranya:
Tahun Aliran Kas Neto DF (14%) PV
0 -100 1 -100
1 20 0,8772 17,544
2 25 0,7695 19,238
3 30 0,6750 20,250
4 30 0,5921 17,763
5 20 0,5194 10,388
NPV -14,817
Penilaian kedua: inflasi diperhitungkan.
Unsur yang terkena dampak inflasi adalah arus kas masuk maupun arus kas keluar. Perhitungan lengkapnya dapat diselesaikan seperti berikut:
Tahun:
1 = {30(1,1)1 – 10(1,1)2 } 1 – 0,5 + 20(0,5) = 18,77 (1,14)1
3 = {50(1,1)3 – 10(1,1)3 } 1 - 0,5 + 20(0,5) = 22,69 (1,14)3
4 = {50(1,1)4 – 10(1,1)4 } 1 - 0,5 + 20(0,5) = 26,36 (1,14)4
5 = {30(1,1)5 – 10(1,1)5} 1 – 0,5 + 20(0,5) = 15,78 (1,14)5
Jumlah PV : 110,59 Modal (Io) : -100,00 NPV (f) : +10,59
Ternyata jika inflasi dimasukan dalam perhitungan, nilai NPV yang sudah disesuaikan dengan dampak inflasi menjadi positif. Fakta ini menunjukan berapa pentingnya melakukan penyesuaian dampak inflasi terhadap penilaian kelayakan dari suatu rencana investasi, terutama yang berkenaan dengan biaya operasi yang harus dikeluarkan dan penerimaan setiap tahun selama umur usaha atau proyek sehingga penilaian dapat menjadi lebih dan terhindar dari kesalahan penafsiran
Kesimpulan:
masyarakat dan tidak membawa dampak negative bagi rencana usaha di masa yang akan dating dan secara financial akan mendatang, nilai tambah yang lebih tinggi,harga pasar dan output yang dinilai berdasarkan real incometermasuk juga dalam analisis biaya usaha dan penerimaan usaha dalam menetapkan nilai yang diperlukan terhadap pajak, subsidi, harga tenaga kerja, tanah dan sebagainya.