Essay Neraca Perdagangan Indonesia di kawasan ASEAN-China Free Trade Area (Produksi dan Struktur Perdagangan dalam persfektif Merkantilisme)
Disusun Oleh : JOKO SURONO, SE
GAMBARAN UMUM 1. Struktur Produksi dan Perdagangan Global
1.1. Organisasi perdagangan bebas dunia
Setiap negara di dunia pasti membutuhkan hubungan dengan negara lain baik dalam hubungan diplomatik, hubungan dagang maupun dalam hubungan politik. Dalam hubungannya mengatur perdagangan antar bangsa, didirikanlah World Trade Organization (WTO) pada tanggal 1 Januari 1995 yang tugas utamanya yaitu mendorong perdagangan bebas, dengan mengurangi dan menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan seperti tariff dan non tariff (misalnya regulasi); menyediakan forum perundingan perdagangan internasional; penyelesaian sengketa dagang dan memantau kebijakan perdagangan di negara-negara anggotanya.
Sampai dengan tanggal 24 August 2012 terdapat 157 negara anggota WTO1. 1.2. Organisasi perdagangan bebas regional
Indonesia yang berada di kawasan negara Asia Tenggara pada 1967 telah bergabung dan mendirikan Association of South East Asian Nations (ASEAN). Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, atau ASEAN, didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand, dengan penandatanganan Deklarasi ASEAN (Deklarasi Bangkok) oleh Negara Pendiri ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.
Brunei Darussalam kemudian bergabung pada tanggal 7 Januari 1984, Vietnam pada tanggal 28 Juli 1995, Laos dan Myanmar pada tanggal 23 Juli 1997, dan Kamboja pada tanggal 30 April 1999, yang membentuk apa yang sekarang negara-negara anggota ASEAN sepuluh (ASEAN-10).
Sebagaimana tercantum dalam Deklarasi ASEAN, maksud dan tujuan dari ASEAN adalah :
Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pembangunan budaya di kawasan melalui upaya bersama dalam semangat kesetaraan dan kemitraan dalam rangka memperkuat landasan bagi masyarakat sejahtera dan damai Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara;
Untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional dengan menghormati keadilan dan supremasi hukum dalam hubungan antara negara-negara dari kawasan dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB;
Untuk mempromosikan kerjasama aktif dan saling membantu mengenai masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama di bidang ekonomi, sosial, budaya, teknis, ilmiah dan administrasi;
Untuk memberikan bantuan satu sama lain dalam bentuk fasilitas pelatihan dan penelitian dalam, bidang pendidikan profesional, teknis dan administratif;
Untuk berkolaborasi dengan lebih efektif untuk lebih memanfaatkan pertanian dan industri, perluasan perdagangan mereka, termasuk studi tentang masalah perdagangan komoditas internasional, peningkatan transportasi dan fasilitas komunikasi dan peningkatan standar hidup masyarakat mereka;
Untuk mempromosikan studi Asia Tenggara, dan
Untuk mempertahankan kerjasama yang erat dan menguntungkan dengan organisasi internasional dan regional yang ada dengan tujuan yang sama dan tujuan, dan mengeksplorasi semua jalan untuk kerjasama yang lebih erat di antara mereka sendiri.
ASEAN dan China menjalin Persetujuan Perdagangan Jasa dan mencapai tonggak lain di ASEAN-China Summit di Cebu, Filipina sebagai pemimpin dari sepuluh negara Anggota ASEAN dan China menyaksikan penandatanganan Perdagangan dalam Perjanjian Jasa berdasarkan Persetujuan Kerangka Komprehensif Kerjasama Ekonomi antara ASEAN dan China (Trade in Services Agreement/ selanjutnya disebut TISA) oleh Menteri Ekonomi ASEAN dan Menteri Luar Negeri China.
jasa/ penyedia di wilayah ini akan menikmati akses pasar yang lebih baik dan pengobatan nasional di sektor/ subsektor di mana komitmen yang telah dibuat.
Komitmen akses pasar Pihak TISA yang terkandung dalam paket pertama dari jadwal tertentu komitmen yang melekat pada Perjanjian. TISA menyediakan untuk liberalisasi pada cakupan besar sektor/ subsektor terutama di lebih dari 60 subsektor tambahan dilakukan oleh Negara-negara Anggota ASEAN yang merupakan pihak dalam GATS/ WTO.
Dalam hal tingkat ambisi, paket pertama juga menunjukkan komitmen akses pasar yang lebih tinggi. Diharapkan perdagangan jasa di wilayah tersebut akan berkembang dan tumbuh dalam skala melalui empat mode pelayanan, yaitu: lintas-perbatasan pasokan, konsumsi luar negeri, kehadiran komersial, dan pergerakan orang alami.
Selain perdagangan meningkat, TISA juga diharapkan untuk membawa tingkat yang lebih tinggi dari investasi di wilayah tersebut, terutama di sektor-sektor di mana komitmen yang telah dibuat, yaitu :
(A) bisnis jasa seperti jasa komputer terkait, jasa real estate, riset pasar, konsultasi manajemen;
(B) konstruksi dan jasa rekayasa terkait; (C) pariwisata dan jasa perjalanan terkait; (D) jasa angkutan, layanan-layanan pendidikan; (E) jasa telekomunikasi;
(F) pelayanan sosial dan berhubungan dengan kesehatan; (G) rekreasi, jasa budaya dan olahraga;
(H) jasa lingkungan, dan (I) jasa energi.
dilakukan selama satu tahun berikutnya sebagai Perjanjian berisi agenda built-in untuk kesimpulan dari paket kedua komitmen satu tahun dari berlakunya.
Kesepakatan TISA adalah kesepakatan kedua menyimpulkan dan ditandatangani di awal Perjanjian Kerangka Komprehensif Kerjasama Ekonomi antara ASEAN dan China, yang ditandatangani oleh Pemimpin pada November 2002. Trade In Goods Agreement ditandatangani oleh Menteri Ekonomi ASEAN dari Negara Anggota dan China pada bulan November 2004.
Dalam Asean Economic Community Blue Print yang ditandatangani di Singapura tanggal 20 November 2007 mengenai Single Market and Production Base disebutkan : An ASEAN single market and production base shall comprise five core elements: (i) free flow of goods; (ii) free flow of services; (iii) free flow of investment; (iv) freer flow of capital; and (v) free flow of skilled labour. In addition, the single market and production base also include two important components, namely, the priority integration sectors, and food, agriculture and forestry. [ CITATION Ase08 \l 1033 ]
antar negara dengan pembebasan tarif masuk. Artinya ACFTA bukan lagi sekedar konsep melainkan telah menjelma sebagai sebuah realitas politik dan ekonomi.
Secara politik, ACFTA merupakan puncak keputusan strategis yang berani di tengah kuatnya arus regionalisasi yang mencontoh model Uni Eropa (UE) dan semakin menguatnya arus globalisasi.
Secara ekonomi, kekuatan-kekuatan ekonomi yang membentuk pasar regional bersinergi dengan kekuatan-kekuatan ekonomi global yang mengagendakan mekanisme perdagangan bebas.
Sejak kesepakatan digulirkan, para pihak berusaha untuk menindaklanjuti agar momennya tetap terjaga sesuai dengan arah dan komitmen bersama yang diwujudkan dalam bentuk beberapa kesepakatan lainnya. Suatu perjanjian yang mencakup liberalisasi perdagangan untuk barang berlaku sejak 20 Juli 2005, disamping suatu perjanjian yang meliputi liberalisasi perdagangan untuk jasa mulai berlaku sejak Juli 2007. Yang menarik adalah mengapa ASEAN bermitra dengan China? Bukan dengan Jepang atau Korea Selatan misalnya? Ada empat alasan utama, yaitu :
1. Alasan Demografis. Konsumen ACFTA memang lebih besar dibandingkan dengan konsumen Jepang dan Korea Selatan. Penduduk ASEAN-10 mencapai sekitar 581 juta jiwa merupakan pasar yang sangat potensial dibandingkan dengan pasar Jepang dan Korea Selatan yang penduduk kedua negara tersebut hanya sekitar 177 juta jiwa.
2. Alasan preferensi produk. China melihat bahwa konsumen di negara-negara ASEAN menunjukkan preferensi yang lebih terhadap produk dengan harga murah, dan tidak menuntut standard produk dan kualitas teknik yang tinggi. Selain itu, China, Jepang dan Korea Selatan tampaknya saling bersaing di pasar Internasional untuk mencari pasar-pasar baru akan tetapi pengaruh China di kawasan Asia Tenggara lebih dominan daripada Jepang dan Korea Selatan.
dan ACFTA yang memperlihatkan fakta bahwa negara-negara di kawasan ASEAN cenderung berintegrasi berkat tekanan atau godaan dari aktor eksternalnya dalam hal ini adalah kekuatan dari China, walau investasi asing oleh Jepang menguasai selama tiga dasawarsa sebelumnya di kawasan Asia Tenggara.
4. Alasan China yang mengandalkan ASEAN. China mengandalkan ASEAN, baik bagi pasokan energi dan bahan baku untuk industrinya maupun pasar ekspor bagi produk pertanian dan industrinya. Memang, China sangat rajin untuk mencari mitra kerjasama di bidang energi di kawasan ASEAN, disamping upaya-upaya untuk mengembangkan perdagangan yang dikaitkan dengan investasi di luar negeri . Begitu pula sebaliknya, diharapkan ASEAN bisa mendapatkan pertumbuhan regional 7-8 persen akibat terjadinya krisis keuangan global pada tahun 2009 yang dimaksudkan agar ASEAN keluar dari kelesuan ekonomi.
Sejak itu pula, keenam anggota ASEAN, atau ASEAN-6, bersama-sama China secara kolektif meletakkan tonggak sejarah bagi pola hubungan mereka. Hubungan yang semula dipenuhi oleh kecurigaan tanpa hubungan diplomatik, kemudian berubah menjadi hubungan yang bersahabat dalam hubungan diplomatik.
Sebagai suatu kawasan perdagangan bebas, ACFTA membentuk zona yang memiliki hampir 1,926 miliar konsumen dengan pendapatan nasional per kapita yang sangat bervariatif diantara anggotanya. Dengan jumlah konsumen sebesar itu, zona ACFTA adalah Free Trade Area (selanjutnya disebut FTA) terbesar di dunia yang mampu dibentuk oleh negara-negara berkembang atas dasar Gross Domestik Product (GDP) dan perdagangannya, setelah China bergabung dalam World Trade Organization (WTO). Dengan demikian ACFTA menjadi bersifat ambisius karena FTA ini tidak hanya mengamankan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semata melainkan juga mendorong investasi dan kerjasama ekonomi yang lebih maju, yang bukan sekedar kawasan perdagangan bebas, melainkan juga mulai mengarah kepada integrasi ekonomi.
Indonesia menjadi sebuah ancaman/ tantangan dan sekaligus peluang yang akan menentukan arah dinamika perkonomian Indonesia ke depan. Artinya, ACFTA pun bisa menjadi sebuah ancaman/ tantangan dan sekaligus peluang bagi Indonesia. Tujuan akhirnya adalah masalah kesejahteraan di dua kawasan, ASEAN dan China. Namun, penulis optimis tetapi juga pesimis menyikapi hal ini. Pendapat optimis penulis adalah dalam hal pelaksanaan kesepakatan perdagangan ACFTA akan bermanfaat bagi kepentingan geostrategis dan ekonomis bagi Indonesia juga negara-negara ASEAN secara keseluruhan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi China akan menjadikan negara tersebut memiliki peranan yang signifikan di kawasan Asia.
Akan tetapi penulis juga pesimis menilai ACFTA ini yaitu kesepakatan perdagangan ini akan memiliki potensi runtuhnya industri lokal di Indonesia sebagai akibat kurang kompetitifnya produk lokal dengan produk dari China. Industri seperti tekstil, garmen, dan alas kaki dikenal sebagai sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Dengan murahnya produk China, dikhawatirkan justru akan mematikan produk lokal, terutama sektor Usaha Kecil dan Menengah (selanjutnya disebut UKM).
Bisa dikatakan ada beberapa kendala yang dihadapi UKM dalam menghadapi ACFTA ini :
Jarang dan bahkan tidak memiliki akses ke luar negeri serta kurangnya promosi ke luar negeri sehingga masih minimnya jumlah UKM yang dapat mengekspor produknya ke luar negeri;
masih minimnya modal yang dimiliki para perajin UKM; pengerjaan masih banyak dilakukan dengan cara manual; biaya modal masih terlalu tinggi; dan
suku bunga pinjaman perbankan yang tinggi dibandingkan suku bunga yang berlaku di China.
1.3 Sejauhmana ACFTA dioptimalkan oleh Indonesia?
Agreement ditandatangani pada tanggal 8 Desember 2006 dan Indonesia telah meratifikasi Ratifikasi Framework Agreement ASEAN-China FTA melalui Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 2004 tanggal 15 Juni 2004 tentang Pengesahan Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the Associaton of Southeast Asean Antions and the People’s Republic of China.
Selain itu pula, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan ACFTA, yaitu :
• Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 355/KMK.01/2004 tanggal 21 Juli 2004 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dalam rangka Early Harvest Package ASEAN-China Free Trade Area.
• Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 57/PMK.010/2005 tanggal 7 Juli 2005 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN-China Free Trade Area.
• Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 21/PMK.010/2006 tanggal 15 Maret 2006 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN-China Free Trade Area.
• Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 04/PMK.011/2007 tanggal 25 Januari 2007 tentang Perpanjangan Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Normal Track ASEAN-China Free Trade Area.
• Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 53/PMK.011/2007 tanggal 22 Mei 2007 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka ASEAN-China Free Trade Area.
• Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 235/PMK.011/2008 tanggal 23 Desember 2008 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka ASEAN-China Free Trade Area.
- Dapat meningkatkan akses pasar ekspor ke China dengan tingkat tarif yang lebih rendah bagi produk-produk nasional.
- Dapat meningkatkan kerjasama diantara pelaku bisnis di kedua negara melalui pembentukan “Aliansi Strategis”.
- Dapat meningkatkan akses pasar jasa di China bagi penyedia jasa nasional. - Dapat meningkatkan arus investasi asing asal China ke Indonesia.
- Terbukanya transfer teknologi antara pelaku bisnis di kedua negara.
Seiring dengan peluang yang ada tersebut diatas, tentunya banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia terkait pemberlakuan ACFTA yaitu :
• Indonesia harus dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas produksi sehingga dapat bersaing dengan produk-produk China.
• Indonesia harus dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif dalam rangka meningkatkan daya saing.
• Indonesia harus menerapkan ketentuan dan peraturan investasi yang transparan, efisien dan ramah dunia usaha.
• Indonesia harus meningkatkan kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi termasuk promosi pemasaran dan lobby.
Selain itu hal terpenting lainnya adalah ASEAN dan China telah sepakat untuk saling memberikan perlindungan investasi.
Kesepakatan ini memaparkan tentang kebijakan, peraturan, ketentuan, dan prosedur investasi. Satu hal lagi yang sangat penting, kedua pihak sepakat mendirikan one stop centre untuk memberikan jasa konsultasi bagi sektor bisnis termasuk fasilitasi pengajuan perijinan
(i) jaminan perlakuan yang sama untuk penanam modal asal China ataupun ASEAN antara lain dalam hal manajemen, operasi, likuidasi;
(ii) pedoman yang jelas mengenai ekspropriasi, kompensasi kerugian dan transfer serta repatriasi keuntungan;
(iii) kesetaraan untuk perlindungan investasi dalam hal prosedur hukum dan administratif. Apabila terjadi sengketa yang muncul antar investor dan salah satu pihak, persetujuan ini memberikan mekanisme penyelesaian yang spesifik disamping adanya kesepakatan semua pihak untuk terus berupaya menjamin perlakuan yang sama atau non-diskriminatif.
Namun demikian, Perjanjian ASEAN-China akan menjadi bencana bagi Indonesia. Mengapa?
Defisit perdagangan dengan China selama lima tahun dengan Indonesia membengkak dan Indonesia merugi puluhan triliun dengan China. Indonesia hanya mengalami surplus perdagangan dengan China pada tahun 2003. Tahun-tahun berikutnya, Indonesia selalu mengalami defisit perdagangan dengan China. Berikut Tabel Ekspor Indonesia ke China.
Perkembangan Ekspor 31 Kelompok Hasil Industri Ke Negara
Rep.rakyat Cina
(Dalam US$) No
. Kelompok Hasil Industri 2007 2008 2009 2010
1 Pengolahan Kelapa/Kelapa Sawit 1.408.590.634 2.008.074.991 2.038.024.537 2.500.440.415
2 Pengolahan Karet 736.384.439 896.381.903 831.682.371 1.403.628.934
3 Kimia Dasar 833.215.801 594.682.568 654.764.217 1.127.074.659
4 Pulp dan Kertas 706.001.517 938.040.771 629.462.722 853.263.03
5 Pengolahan Kayu 192.666.098 163.110.088 147.085.807
273.961.26
6 Elektronika 364.147.017 384.818.510 371.359.353
402.986.88
8 T e k s t i l 161.962.314 174.873.766 180.589.195
300.721.56
9 Pengolahan Tembaga, Timah dll. 336.513.368 325.760.860 352.789.553
346.124.36
10 Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif 227.071.736 215.718.695 441.812.460 288.822.62
11 Barang-barang Kimia lainnya 46.256.376 33.716.940 37.161.736 68.313.714
12 Kulit, Barang Kulit dan Sepatu/Alas Kaki 69.098.739 92.001.087 55.833.616 66.681.982
13 Plastik 20.933.233 23.604.928 30.255.194 40.998.570
14 Alat Olah Raga, Musik, Pendidikan dan Mainan 16.916.188 16.527.088 13.048.617 20.983.976 15 Pengolahan Rotan Olahan 19.160.300 21.974.129 23.581.217 29.550.928
16 P u p u k 15.067.717 36.902.676 24.273.640 31.434.124
17 Alat-alat Listrik 33.264.239 38.464.606 20.419.412 20.385.922 18 Keramik, Marmer dan Kaca 33.004.492 21.398.441 18.248.563 31.072.595
19 Makanan Ternak 1.336.803 1.360.592 14.253.275 10.188.320
20 Pengolahan Tetes 764.084 2.835.067 3.389.303 7.687.047
21 Komoditi lainnya 9.944.780 6.662.500 9.353.117 9.978.044
22 Minyak Atsiri 3.345.899 2.787.227 1.871.807 3.555.871
23 Produk Farmasi 3.811.835 2.458.340 2.619.322 4.334.266
24 Kosmetika 1.380.895 2.188.641 2.173.639 4.422.268
25 Pengolahan Aluminium 9.531.918 7.241.335 12.940.905 3.661.721
26 Kamera dan Alat-alat Optis 4.908.714 3.045.317 1.558.721 2.060.530
27 Barang-barang Kerajinan lainnya 3.014.214 2.366.840 1.171.213 1.125.303 28 Semen dan Produk dari Semen 1.236.049 48.799 160.649 1.737.703
29 Rokok 30.785 1.046.990 69.86 917.854
30
Peng. Emas, Perak, Logam
Mulia, Perhiasan dll. 37.321 30.618 23.384 279.926
31 Pengolahan Hasil Hutan Ikutan 208.262 18.304 0 1.921
Sumber: http://kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Rep.rakyat+Cina&jenis=i
Berikut Tabel Impor Indonesia dari China.
Perkembangan Impor 31 Kelompok Hasil Industri Dari Negara
Rep.rakyat Cina
(Dalam US$)
.
1 Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif 2.993.364.488 5.646.230.118 4.912.777.607 6.272.549.444
2 Elektronika 1.117.416.403 3.042.059.600 3.074.277.345 5.126.699.697
3 T e k s t i l 346.300.055 1.025.035.193 1.034.915.291 1.682.332.145
4 Kimia Dasar 735.520.894 1.096.223.971 956.567.133 1.337.056.276
5 Alat-alat Listrik 317.171.420 621.282.842 611.926.761 965.937.27
6 Plastik 142.910.359 261.656.307 215.049.100 345.802.39
7 P u p u k 142.063.889 381.902.125 154.588.265 201.816.05
8 Pengolahan Aluminium
10 Barang-barang Kimia lainnya 156.287.344 220.454.029 211.139.831 268.166.28
11 Makanan dan Minuman 152.557.234 192.355.275 139.507.363 329.730.72
12 Kulit, Barang Kulit dan Sepatu/Alas Kaki 95.242.151 132.543.902 107.804.590 224.183.04
13 Pulp dan Kertas 80.051.823 108.206.640 104.074.786 136.916.04
14 Komoditi lainnya 66.536.097 119.051.134 103.669.941 151.909.46
15 Alat Olah Raga, Musik, Pendidikan danMainan 103.047.102 134.803.542 114.091.402 184.827.95
16 Rokok 83.856.996 84.525.922 126.504.085 161.621.65
17 Produk Farmasi 96.533.446 136.234.215 136.885.881 169.156.76
18 Pengolahan Kayu 73.511.308 82.789.128 64.364.533 101.240.71
19 Pengolahan Tembaga, Timah dll. 113.239.554 119.560.919 88.208.464 122.416.89
20 Pengolahan Karet 53.615.565 88.362.191 82.756.040
129.068.95
21 Kamera dan Alat-alat Optis 21.358.303 34.961.953 23.374.548 45.269.533
22 Minyak Atsiri 22.473.108 22.907.827 28.956.015 52.181.558
24 Barang-barang Kerajinan lainnya 15.444.021 23.710.930 22.084.814 34.419.881
25 Pengolahan Tetes 5.501.566 11.191.861 17.359.505 18.847.480
26 Peng. Emas, Perak, Logam Mulia, Perhiasan dll. 7.493.879 8.890.168 10.526.227 17.359.919
27 Semen dan Produk dari Semen 4.853.895 8.645.568 7.663.820 27.446.466
28 Pengolahan Hasil Hutan Ikutan 5.327.725 5.998.179 7.129.834 14.289.774
29 Kosmetika 12.071.020 15.867.247 12.219.517 12.069.737
30 Pengolahan Kelapa/Kelapa Sawit 2.562.479 5.951.108 10.776.848 4.511.543
31 Pengolahan Rotan Olahan 146.132 204.637 208.996 398.052
Sumber: http://kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Rep.rakyat+Cina&jenis=i
Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Perdagangan juga Kementerian Perindustrian seharusnya melakukan pembenahan terhadap berbagai produk ekspor yang ada, sebelum bersaing dengan produk China. Para pelaku usaha kecil menengah (UKM) belum siap sepenuhnya menghadapi perdagangan bebas itu sebab ongkos produksi dan biaya modal masih terlalu tinggi. Suku bunga bank juga rendah di China hanya 5-7%, sedangkan di suku bunga perbankan di Indonesia mencapai 15% per tahun.
Selain itu, ada masalah energi yang belum sepenuhnya tersedia bagi pelaku usaha, biaya produksi masih sangat tinggi, sebab tidak ditopang ketersediaan bahan baku, tingginya pungutan liar di masyarakat, pelabuhan, dan birokrasi, buruknya infrastruktur, serta masih tingginya bunga kredit Usaha Kecil dan Menengah yang rata-rata di atas 16%. Faktor ini yang membuat harga produk kita belum bisa bersaing.
peluang ini seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. "Namun China jelas paling diuntungkan dan Indonesia amat mungkin paling dirugikan”. Perlu terobosan radikal dari pemerintah untuk membuat pelaku usaha, utamanya UKM, agar bisa bersaing di tingkat regional. Masih banyak produk UKM nasional sulit bersaing di tingkat nasional, apalagi secara regional.
Dalam hal lain, Pemerintah menerapkan kebijakan tarif dan nontarif untuk mengantisipasi dampak negatif ACFTA. Kebijakan tarif diantaranya penundaan beberapa sektor yang diperkirakan dapat menggangu industri nasional.
Sementara kebijakan non-tarif yang harus dimaksimalkan antara lain : 1. Produk yang beredar wajib:
• Menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI). • Menggunakan label halal.
• Menggunakan label berbahasa Indonesia.
2. Pengetatan pengawasan impor produk manufaktur di enam pelabuhan besar (Pengetatan izin importir terdaftar + Pemberdayaan kinerja Bea dan Cukai).
3. Penanganan Unfair Trade : Anti Dumping, Safeguard.
4. Harmonisasi tarif, terutama bagi produk yang bahan bakunya masih masuk dalam HSL (high sensivity list) seperti gula, beras, jagung, dan kedelai. Harmonisasi tarif agar bea masuk impor barang jadi lebih besar dari bahan baku (gula vs permen).
Pengalaman menunjukkan sejak ACFTA diberlakukan 2004 sampai sekarang ada beberapa produk yang bertambah ekspornya dari Indonesia ke China seperti produk pertanian meningkat 300%, meskipun ada jenis tertentu agak defisit seperti jeruk dan produk-produk peternakan.
Pasar Bebas Indonesia – China dalam Wadah ACFTA
Pemerintah Indonesia dan China menjalin kerjasama terkait ASEAN-China Free Trade Agreement. Ada lima kesepakatan, di antaranya China mengizinkan pembukaan cabang Bank Mandiri dan pinjaman kepada LPEI, serta membuka fasilitas kredit ekspor untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia, membahas isu perdagangan investasi, kerjasama keuangan dan pembangunan.
Beberapa isu yang dibahas dalam rangka realisasi ACFTA adalah finalisasi dari Agreement on Expanding and Deepening Bilateral Economic and Trade Cooperation, kerjasama di bidang standar produk, capacity building atau bantuan teknis di bidang industri perkapalan, dan juga kemungkinan kerjasama di sektor tekstil dan produk tekstil dan mesin; finalisasi dan persetujuan pembukaan cabang Bank Mandiri di CHINA; implementasi Preferential Export Buyer’s Credit; partisipasi perusahaan China di pembangkit listrik 10.000 MW tahap kedua; dan partisipasi Indonesia dalam World Expo Shanghai China (WESC) 2010; dan Country of Honor di ASEAN-China Expo Nanning dan implementasi ASEAN-China Free Trade Agreement.
Hasil kesepakatan China-Indonesia terkait ACFTA antara lain :
Pertama, pihak China sepakat untuk memfasilitasi akses pasar bagi beberapa buah-buahan tropis (pisang, nenas, rambutan) dan sarang burung walet Indonesia untuk dapat memasuki pasar China.
Kedua, kedua pihak sepakat untuk membentuk Kelompok Kerja Resolusi Perdagangan (Working Group on Trade Resolution/WGTR), yang bertujuan untuk memfasilitasi perdagangan yang lancar di antara kedua negara; juga memfasilitasi pembukaan Cabang Bank Mandiri di CHINA demi memperkuat hubungan transaksi langsung perbankan.
Keempat, kerjasama antara Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan China Exim Bank dimana kedua pihak menandatangani perjanjian pinjaman sebesar US$ 100 juta dari CEB kepada LPEI. LPEI juga saat ini dalam tahap finalisasi MoU dan Industrial & Commercial Bank of China (ICBC) untuk penyediaan kredit sebanyak US$ 250 juta kepada LPEI. Pinjaman tersebut akan digunakan oleh LPEI sebagai fasilitas kredit untuk mendukung perusahaan-perusahaan di kedua negara terkait dengan proyek-proyek perdagangan dan investasi dalam berbagai sektor-sektor prioritas yang disetujui oleh kedua belah pihak termasuk perdagangan dan investasi barang modal, proyek-proyek sektor infrastruktur, energi dan konstruksi;
Kelima, kedua pihak setuju untuk memaksimalkan penggunaan Pinjaman Kredit Ekspor Preferensial (Preferential Export Buyers Credit) sebesar US$ 1,8 miliar dan Pinjaman Konsesi Pemerintah (Government Concessional Loan) sebesar 1,8 miliar RMB untuk dapat dipergunakan oleh Indonesia dalam mengembangkan berbagai proyek infrastruktur. Adapun proyek-proyek yang telah diselesaikan adalah proyek Jembatan Suramadu dan pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Labuhan Angin.
Keenam, kedua belah pihak telah menyelesaikan Perjanjian Perluasan dan Pendalaman Kerjasama Bilateral Ekonomi dan Perdagangan (Agreement on Expanding and Deepening Bilateral Economic Cooperation).
Ketujuh, membahas Agreed Minutes of the Meeting for Further Strengthening Economic and Trade Cooperation) yang antara lain berisi :
a. Deklarasi Bersama antara Indonesia dan China mengenai Kemitraan Strategis yang menjadi dasar untuk lebih memperkuat kerjasama perdagangan dan ekonomi antara kedua negara.
c. Untuk mencapai tujuan tersebut, Perjanjian ACFTA tetap menjadi dasar strategis dimana masing-masing pihak harus penuh mengimplementasikan perjanjian tersebut secara menyeluruh dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
d. Kedua pihak akan menetapkan pertumbuhan perdagangan bilateral yang tinggi dan berkelanjutan, dimana jika terdapat ketidakseimbangan perdagangan, pihak yang mengalami surplus perdagangan berkewajiban untuk mengambil tindakan-tindakan termasuk mendorong impor lebih lanjut dan memberikan dukungan yang diperlukan. e. Agreed Minutes ini merupakan upaya untuk menindaklanjuti perhatian beberapa industri di Indonesia terkait dengan dampak dari ACFTA. Kedua pihak percaya bahwa komitmen bersama antara kedua pemerintah, disertai dengan komitmen-komitmen dari kedua komunitas bisnis, akan dapat mengatasi kekhawatiran tersebut.
Meningkatnya produk China yang masuk ke Indonesia tidak lepas dari faktor kompetitf harga. Barang-barang impor dari China relatif lebih murah dibanding produk dari industri lokal. Ditambah dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang lebih mencari barang murah), maka secara perlahan pasar produk lokal disaingi oleh produk China.
Bila keran perdagangan bebas China-Indonesia sangat menguntungkan pemerintah China, mengapa Indonesia tidak mampu memanfaatkannya secara maksimum?
Agaknya, Indonesia kurang jeli untuk mengambil kesempatan sebesar-besarnya dari kesepakatan ini. Indonesia seharusnya dapat meningkatkan comparative advantage terhadap produk dari China. Dan ini membutuhkan spesialisasi. Dengan adanya spesialisasi, Indonesia akan mengimpor dari dan juga mengekspor ke China. Produk-produk unggulan Indonesia di antaranya karet, batu bara, gas, bahan baku logam mineral mentah, tekstil, kertas, dan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) memiliki penetrasi pasar ke China cukup besar.
yaitu, pertama mengupayakan peningkatan kapasitas, produksi, dan kualitas komoditas pertanian Indonesia. Selain itu, kebijakan untuk mendorong peningkatan daya saing ekspor produk pertanian unggulan, seperti sawit, karet, cokelat, manggis, salak, nanas, dan komoditas hortikultura lainnya. Perlu diperhatikan bahwa terjadi surplus neraca perdagangan untuk komoditas perkebunan pada tahun 2008 meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 2,757 miliar dollar AS.
Kedua, pemerintah perlu untuk membuat suatu kebijakan yang memanfaatkan murahnya produk China untuk mendorong produksi dengan pasar dalam negeri. Murahnya harga produk akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat Indonesia akan meningkat, sehingga diharapkan agar produsen lokal melihat dan memanfaatkan peluang tersebut.
Ketiga, Pemerintah perlu mendorong peningkatan diferensiasi produk unggulan, yaitu produk unggulan Indonesia jangan hanya mengandalkan komoditas yang telah dianugerahkan Tuhan untuk masyarakat Indonesia. Indonesia perlu untuk meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan produk olahan yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Jadi produk unggulan kita tidak hanya komoditas pertanian atau perkebunan, namun juga intermediate goods atau bahkan final goods yang kompetitif terhadap produk China yang cenderung memiliki comparative disadvantage.
Keempat, pemerintah perlu untuk mengurangi dan menghilangkan hambatan perdagangan antar daerah yang acapkali muncul. Mahalnya harga produk di daerah lain, seringkali disebabkan oleh ekonomi biaya tinggi yang dapat diminimalisir oleh pemerintah. Penyediaan sarana transportasi dan komunikasi yang murah dan aman sangat penting dalam usaha memperbaiki struktur harga produk domestik.
pariwisata, jasa keuangan, pendidikan, investasi, dan faktor-faktor lingkungan hidup serta HAM.
Kajian Komparatif Bisnis Ekonomi Indonesia vs China dalam ACFTA
Penyebab terbesar ketimpangan neraca perdagangan non-migas antara China dan Indonesia adalah tingkat kompetitif bisnis-ekonomi Indonesia yang rendah dibanding China. China unggul dalam berbagai faktor produksi barang dan jasa dibanding Indonesia. Dengan upah tenaga kerja yang hampir sama, buruh China bekerja lebih efisien, ulet dan telaten serta keahlian yang lebih memadai.
Setidaknya, ada 12 faktor umum yang mempengaruhi kompetitif bisnis/ ekonomi. Dan semua faktor kompetitif bisnis di Indonesia berada dibawah China kecuali faktor efisiensi pasar barang dan jasa. Sisanya seperti faktor sistem birokrasi yang cepat-tepat, infrastruktur, stabilitas ekonomi, inovasi bisnis, efisiensi tenaga kerja, suku bunga perbankan dan ukuran pasar di Indonesia jauh tertinggal dibanding China.
Hal-hal penting terkait pelaksanaan ACFTA
Kondisi inftastruktur terutama jalan, transportasi dan pasokan listrik Indonesia masih jauh di bawah China. Untuk mendukung ekonomi industrinya, China membangun secara besar-besaran pembangkit listrik, system transportasi, jalan raya hingga stok air bersih. Dengan mebangun fasltas-fasilitas tersebut dengan baik, maka China akan jauh lebih baik, maka China akan jauh lebih baik menarik investor untuk masuk ke negaranya. Dengan fasilitas yang memadai, maka biaya ekonomi akan jauh lebih murah yang disertai kecepatan perpindahan barang dan jasa yang tinggi.
suku bunga tinggi, maka inflasi dapat terkendali, namun disisi lain akan menyebabkan resiko usaha sektor riil semakin berat akibat beban bunga yang harus dibayar.
Oleh karena itu, dunia perbankan harus jeli menjalankan fungsi intermediasinya dengan benar antara tingkat suku bunga yang kompetitif terhadap return investasi di sektor riil serta inflasi. Secara alamiah, sektor riil-lah yang menumbuhkan sektor finansial, yang menentukan penghasilan sektor finansial, bukan sektor finansial yang menentukan berapa harga yang harus dibayar oleh sektor riil kepadanya.
Dalam hal ini, tingkat kompetitif Indonesia masih jauh dibanding China. Suku bunga kredit Indonesia mencapai lebih dari 10% per tahun, sementara pengusaha China hanya membayar suku bunga tidak lebih 7%. Ini berarti pengusaha China akan jauh lebih mudah memainkan harga yang lebih murah dibanding pengusaha Indonesia.
China vs Indonesia : Ekonomi Biaya Rendah versus Ekonomi Biaya Tinggi
Berdasarkan indeks kompetitif ekonomi China vs Indonesia, maka dapat disimpulkan pula bahwa biaya ekonomi produksi Indonesia tergolong lebih tinggi dibanding dengan China. Hal tersebut terutama disebabkan ketidakefisienan birokrasi pemerintah yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi dan ketidakstabilan politik. Infrastruktur yang buruk meliputi kualitas jalan raya, alat transportasi, fasilitas telekomunikasi, dan listrik. Itu pula yang menjadi alasan mengapa para investor asing lebih suka mengambil alih (take over) pabrik di Indonesia daripada membangun pabrik baru. Dan sebagian diantaranya lebih senang menginvestasi dalam bentuk pasar modal (hot money).
memiliki dan mendapat kualitas faktor-faktor ekonomi yang selevel/berimbang. Apabila faktor-faktor biaya ekonomi mengalami ketimpangan yang tinggi, maka perdagangan bebas hanya hanya merusak industri lokal di negara yang tidak kompetitif. Sebagian pekerja sangat mungkin mengalami PHK bila seandainya industry lokal kehilangan para pelanggannya.
Sementara dari segi positifnya atau keuntungannya ACFTA ternyata akan meberi keuntungan bagi pebisnis jasa hotel dan pariwisata karena tentu hal itu akan meningkatkan wisata dan tingkat hunan hotel sebagai dampak meningkatnya kunjungan orang dari luar negeri.
Ancaman China dalam ACFTA
Dalam carut–marut industri nasional, timbul pertanyaan, apa yang akan terjadi dengan dunia industri, khususnya industri kecil di Indonesia? Sejumlah kawasan industri terancam gulung tikar dengan pemberlakuan ACFTA ini. China sudah mempersiapkan sejak bertahun-tahun lalu, sedang Indonesia cuma dalam hitungan bulan. Matangnya persiapan China terlihat dari murahnya harga produk dan besarnya kapasitas produksinya sehingga membanjiri negara lain termasuk Indonesia, sejak dua tahun lalu. Dengan demikian, China tinggal genjot produksi, sedangkan Indonesia morat-marit menghadapi serbuan produk China.
Padahal sudah jelas, perdagangan bebas dalam jangka pendek akan membuat perusahaan yang tidak efisien bangkrut. Selain itu, akibat barang impor lebih murah, volume impor barang konsumsi pun akan naik, sehingga menghabiskna devisa negara dan membuat nilai tukar rupiah menjadi melemah. Selanjutnya, perusahaan akan juga akan menahan biaya produksi melalui penghematan penggunaan tenaga kerja tetap. Sehingga job security tenaga kerja menjadi rapuh dan angka pengangguran meningkat. Padahal, industry merupakan sektor kedua terbesar setelah pertanian dalam menyerap tenaga kerja. Situasi ketenagakerjaan ini akan menjadi penyakit kronis yang merapuhkan fundamental ekonomi. Indonesia juga akan mengalami neto negative yang tidak hanya merugikan industry dan ketenagakerjaan, tapi juga penerimaan negara dari pajak.
Sangat disarankan, agar pemerintah melakukan negosiasi ulang kesepakatan ini, terutama untuk sektor yang belum siap. Di sisi lain, pemerintah juga harus menyiapkan industri domestik agar lebih kompetitif dengan produk China dengan memberikan kemudahan dalam bentuk pendanaan dan langkah strategis lainnya. Oleh karena itu, hendaknya pelaksanaan perdagangan yang bebas didasarkan pada faktor komparatif kualitas (fasilitas dan teknologi), kompetitif dan produk komplementer. Produk-produk yang sudah mampu diproduksi oleh pengusaha lokal hendaknya diproteksi seraya didorong untuk meningkatkan efisinsi biaya produksi. Sementara kita membuka produk-produk berteknologi tinggi yang dapat kita manfaatkan sebagai faktor mendukung (faktor produksi) industri yang menggunakan level teknologi dibawahnya.
REVIEW 1. Apa kondisi terakhir dari ACFTA?
Saat ini setelah tiga tahun berjalan, ACFTA seolah-olah menjadi momok yang mengancam keberadaan produsen lokal dan industri UKM di Indonesia. Banyak orang mengkhawatirkan bahwa dengan berlakunya ACFTA, produk murah dari Cina akan mulai membanjiri pasar dalam negeri. Hal tersebut pada akhirnya dapat berujung pada matinya industri dalam negeri dan hilangnya jutaan lapangan pekerjaan. Cukup wajar bila banyak orang takut. Selama dua tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia-Cina telah bernilai negatif. Selain itu, sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari bahwa barang Cina telah membanjiri pasar dalam negeri. Cukup banyak pengusaha pun telah menyatakan kesulitannya untuk bersaing dengan produk-produk murah Cina dan beberapa ahli telah memperkirakan hilangnya ratusan ribu pekerjaan karena banyak perusahaan akan gulung tikar karena kalah dalam persaingan. Semua kondisi ini terlihat sangat menyudutkan Indonesia ketika dihadapkan dengan ACFTA.
2. Apa kondisi terakhir dari Indonesia?
Dari kajian ini dapat ditarik beberapa hal antara lain :
a. Secara normatif sesungguhnya ACFTA ini peluang bagi UKM di Indonesia untuk memperbesar produksi, mengisi pasar bersama yang sangat besar untuk konsumen sekiter 1,9 miliar orang.
b. Melihat daya saing produk industri dan manufaktur Indonesia sebagian besar lemah, sementara daya saing produk dari negara lainnya (ASEANChina) lebih kuat, maka kemungkinan tingkat produksi UKM dan produk domestik akan tertekan yang berarti UKM yang bergerak dalam kegiatan produksi akan mengalami kesulitan (sekitar 57% UKM bergerak di bidang produksi).
sesuai selera pasar tanpa membedakan asal usul barang tersebut (UKM disektor jasa dan perdagangan 29%).
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, diusulkan beberapa langkah sebagai berikut : a. Penguatan daya saing global meliputi penanganan isu-isu domestik meliputi : penataan lahan dan kawasan industri, pembenahan infrastruktur dan energi, pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya), membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga (KUR, Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan syariah, anjak piutang, lembaga pembiayaan ekspor Indonesia dsbnya), pembenahan sistem logistik, perbaikan pelayanan publik (NSW, PTSP/SPIPISE dsb), penyederhanaan peraturan dan peningkatan kapasitas ketenagakerjaan).
b. Pengamanan pasar domestik melalui :
1. Pengawasan di border dengan meningkatkan pengawasan ketentuan impor dan ekspor dalam pelaksanaan FTA, menerapkan Early Warning System untuk pemantauan dini terhadap kemungkinan terjadinya lonjakan impor, pengetatan pengawasan penggunaan Surat Keterangan Asal Barang (SKA) dari negara-negara mitra FTA, pengawasan awal terhadap kepatuhan SNI, label, ingridien, kadaluarsa, kesehatan, lingkungan, security dsb, penerapan instrumen perdagangan yang diperbolehkan WTO terhadap industri yang mengalami kerugian yang serius akibat tekanan impor dan penerapan instrumen anti dumping dan countervailing duties atas importansi yang un fair.
2. Peredaran barang di pasar lokal meliputi task force pengawasan peredaran barang yang tidak sesuai dengan ketentuan perlindungan konsumen dan industri dan kewajiban penggunaan label dan manual berbahasa Indonesia, dan
dalam negeri revisi Kepres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/Jasa oleh Pemerintah.
c. Penguatan ekspor dengan penguatan peran perwakilan luar negeri, pengembangan trading house, promosi pariwisata, perdagangan dan investasi, penanggulangan masalah akses pasar dan kasus ekspor, pengawasan penggunaan SKA Indonesia, peningkatan peran LPEI dalam mendukung pembiayaan ekspor dan optimalisasi trade financing.
d. Bimbingan yang berkesinambungan agar UKM dan produk domestik dapat menerapkan manajemen stok yang lebih adaptif terhadap pasar dan differensiasi pasar yang memungkinkan terjadinya subsidi silang.
e. Perlu dilakukan kajian yang berkelanjutan terhadap kondisi UKM yang lebih mendetail terhadap jenis dan variasi produk-produk pertanian dan industri kecil yang mempunyai peluang pasar yang besar dan dapat dilakukan secara spesifik di berbagai daerah.
f. Perlu diberi peran yang lebih besar kepada trading house (BLU/LLP dan atau Induk Koperasi Perdagangan) untuk melakukan penetrasi produk-produk UKM di berbagai negara ASEAN dan China yang dilaksanakan secara periodik, (misalnya selama satu bulan pada tiap-tiap negara).
g. Perlu dilakukan koordinasi dan sinergitas aparat pusat dan daerah dalam menata produk-produk yang dapat diproduksi UKM serta menggalakkan pemakaian produksi dalam negeri.
h. Perlu dipertimbangkan keterpaduan para gerakan koperasi yang mempunyai bidang usaha yang sama diantara negara kawasan Asean dan China (Transnational Coperative), sehingga dapat membangun sinergisitas guna menciptakan efisiensi sumberdaya yang dapat memberikan manfaat bagi rakyat banyak sebagaimana koperasi susu di benua Eropa.
terbukti karena hubungan kerjasama perdagangan RI-ASEANChina sejauh ini telah menunjukkan gejala yang menguntungkan.
Program yang mungkin harus lebih dimasifkan oleh pemerintah adalah bagaimana untuk terus meningkatkan fasilitas dalam negeri guna menunjang berbagai sektor terutama pertanian. Insentif dan sosialisasi pertanian juga perlu ditingkatkan agar petani Indonesia kian mampu bersaing menciptakan produksi yang handal.
Kemudian dalam hal birokrasi, pemerintah juga wajib mengawasi dengan ketat arus masuk barang melalui badan bea dan cukai. Standarisasi produk yang telah disepakati bersama harus terus dipantau pelaksanaannya. Barang-barang illegal di perbatasan juga sedapat mungkin kian ditertibkan guna penerapan mekanisme kontrol yang terarah.
Kepada masyarakat luas ada baiknya pemerintah terus mengkampanyekan untuk tetap membeli produk dalam negeri yang kualitasnya juga harus diperhatikan oleh pemerintah agar layak bersaing dengan produk impor.
Terakhir dalam hal investasi, sehubungan dengan bidang agrarian yang merupakan sektor penunjang negeri ini, pemerintah dirasa wajib mengontrol laju investasi modal asing dalam sektor tersebut agar tidak terjadi arus investasi yang justru akan merugikan Indonesia. Juga sosialisasi mengenai globalisasi di dunia, layaknya dipahami bukan sebagai hambatan, namun justru sebagai tantangan bagi rakyat negeri ini.
Daftar Pustaka
1. Azis, Iwan Jaya. 1994, “Indonesia”. Dalam John Williamson (Ed.). The Political Economy of Policy Reform. Washington. D.C. : Institute for International Economics. 2. Pangestu, Mari. 1995. “Sekilas Pandang Perekonomian Indonesia selama 50 Tahun
Merdeka”. Dalam Bantarto Bandoro et al. (Ed.). Refleksi Setengah Abad Kemerdekaan Indonesia. Jakarta. CSIS.
3. Sungkar, Yasmin. 2006. “ASEAN-China FTA : Komitmen dan Implikasi Ekonominya”. Dalam Ratna S. Inayati (Ed.). ASEAN-China FTA : Akselerasi Menuju East Asia Community (EAC). Jakarta. LIPI Press
4. W.I.M. Poli. 2010. Tonggak-tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi. Surabaya. Brilian Internasional.
5. http://kemenperin.go.id/ 6. http://www.kemendag.go.id/
7. http://kemenperin.go.id/statistik/query_negara.php?negara=Rep.rakyat+Cina&jenis=i diunduh tanggal 10 Januari 2013, 12:33wib