Studi Perbandingan Penerapan Desentralisasi Fiskal
di Indonesia dan Republik Federal Jerman
Oleh: Jongkers Tampubolon
1 AbstractFiscal decentralization within the framework of regional autonomy in Indonesia is still facing various problems, which are potentially able as source of conflicts, especially between central and local government. Demand on revision of Law No. 22/1999 (about local government) as well as Law No. 25/1995 (about financial equalization) is strong expressed and still under discussion in the Parliament. This research aims to study the implementation of fiscal decentralization in Federal Republic of Germany (FRG), which is considered similar with Indonesia in the context of economic ideology and structure of government hierarchy. Some points of FRG’s experiences are expected could deliver lesson to learn in seeking alternative to revise Law No. 25/1999 objectively. There are five different kinds of financial equalization in FRG and one of them is lump-sum transfer from central government to regional/local government as it is practiced in Indonesia. Fiscal decentralization is ruled in the constitution, which instructs the uniformity of living standard in the different economic circumstances.
Kata kunci: Otonomi Daerah, Desentralisasi Fiscal, Perimbangan Keuangan
1. Pendahuluan
Pelaksanaan desentralisasi (otonomi daerah) di Indonesia sejak 1 Januari 2001 tercatat sebagai peristiwa fenomenal. Apabila proses ini berhasil dengan baik, maka Indonesia akan beralih dari “the world’s most centralised large country” menjadi “one of the most decentralised” (ALM/ATEN/BAHL, 2001:83).
Penerapan otonomi daerah di Indonesia didasarkan pada UU No. 22 tahun 1999 tentang “Pemerintahan Daerah” dan UU No. 25 tahun 1999 tentang “Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah”. Undang-undang nomor 22 tahun 1999 mengatur desentralisasi (pelimpahan wewenang) di bidang administrasi dan di bidang politik. Sesuai dengan prinsip “money follows function”, UU Nomor 25 tahun 1999 mengatur desentralisasi fiskal.
Pelimpahan wewenang di bidang administrasi (walaupun sempat menimbulkan kekhawatiran mengenai transfer PNS Pusat menjadi PNS Daerah, khususnya yang berasal dari intansi vertikal yang dilikuidasi seperti Kanwil dan Kandep) dapat berlangsung dengan baik. Bahkan di bidang politik, UU No. 22/1999 telah digunakan dalam pemilihan kepala daerah di berbagai Kabupaten dan Kota, sebelum UU itu diberlakukan 1 Januari 2001.
Sebaliknya, desentralisasi fiskal hingga saat ini masih menyisakan berbagai persoalan. Banyak pihak mempersoalkan tidak berlangsungnya prinsip “money follows function”, karena Dana Alokasi Umum (DAU) yang menjadi sumber utama pendapatan daerah pada umumnya sebahagian besar akan digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin, termasuk gaji PNS yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab daerah sebagai akibat dari desentralisasi di bidang administrasi. Sehingga anggaran untuk pembangunan menjadi kecil. Banyak daerah yang pengeluaran pembangunannya tahun anggaran 2001 (setelah otonomi daerah/desentralisasi) lebih rendah dari pos pengeluaran yang sama tahun anggaran 2000, sebelum desentralisasi (LEWIS, 2001:326, SIREGAR, 2001:298
dan SUDIBYO, 2002). Dengan alasan meningkatkan penerimaan untuk membiayai
pembangunan, daerah kabupaten berlomba-lomba mengenakan berbagai retribusi yang bermuara pada tingginya biaya produksi sehingga produk daerah kehilangan daya saing, justru disaat memasuki era persaingan bebas (SIMANJUNTAK, 2002).
Melihat persoalan desentralisasi fiskal dapat berkembang menjadi issue yang berpotensi menimbulkan konflik, khususnya antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, tuntutan untuk perubahan (revisi) UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 kuat disuarakan oleh berbagai kalangan. Tetapi revisi ini hendaknya tidak dilakukan secara “tergopoh-gopoh” sebagaimana dahulu kedua UU ini digodok dan diimplementasikan (misal SUDIBYO, 2002).
dihindari. Belajar dari pengalaman Jerman memiliki relevansi yang tinggi setidak-tidaknya dalam hal:
(i) Adanya kemiripan ideologis antara perekonomian yang berasaskan kekeluargaan dan berkeadilan sosial di Indonesia dan soziale Marktwirtschaft di Republik Federal Jerman.
(ii) Adanya kemiripan hirarkhi organisasi pemerintahan yang memiliki kekuasaan dalam pengambilan keputusan secara mandiri di Indonesia (Pusat-Provinsi-Kabupaten) dengan praktek pemerintahan di Jerman (Bund-Länder-Gemeinde).
(iii) Perimbangan keuangan (desentralisasi fiskal) telah diterapkan di Republik Federal Jerman sejak tahun 1949, tetapi hingga saat ini, masalah desentralisasi fiskal masih menjadi topik perdebatan yang hangat baik dikalangan politisi maupun dikalangan akademisi dalam upaya mencari pola perimbangan keuangan yang sesuai secara ekonomis dan politis (misalnya LENK, 1993; SCHERF, 2000 dan
THÖNE/JACOBS, 2001).
2. Desentralisasi Fiskal di Republik Federal Jerman
Perimbangan keuangan di Jerman diterapkan dengan mengacu pada berbagai teori yang umum ditemukan pada text book “Public Finance” (Keuangan Negara), sehingga pola perimbangan (pembagian) sumber-sumber penerimaan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (vertical fiscal decentralization) maupun antara daerah dan daerah (horizontal fiscal decentralization) sangat signifikan (PEFFEKOVEN, 1980; FISCHER
-MENSHAUSEN, 1980; EHRLICHER, 1980; LENK, 1993; HÄDE, 1996; SCHERF, 2000 dan
THÖNE/JACOBS, 2001).
psl. 83 untuk daerah, pembagian tugas dan pembagian beban finansial penyelenggaran pemerintahan dan pelayanan masyarakat serta pembagian penerimaan (psl. 107 dan psl. 103). Sementara perimbangan keuangan antar daerah (horizontal fiscal decentralization) karena sifatnya dinamis (sedapat mungkin sesuai dengan perkembangan jaman) diatur dalam UU (Bundesgesetz).
2.1. Praktik penerapan Desentralisasi Fiskal
Secara garis besar, di Republik Federal Jerman dikenal lima jenis perimbangan keungan yang meliputi:
(i) Pembagian penerimaan negara secara vertikal (ii) Pembagian penerimaan negara secara horizontal (iii)Perimbangan keuangan antara daerah dan daerah
(iv)Transfer Pusat terhadap Daerah sebagai tambahan atas (a), (b) dan (c) (v) Pembiayaan “Jerman Bersatu” (kasus Jerman)
2.1.1 Pembagian Penerimaan Negara Secara Vertikal
Dalam desentralisasi fiskal secara vertikal, penerimaan negara dari berbagai jenis pajak dibagi antar hirarki pemerintahan. Untuk itu sumber penerimaan dibagi atas pajak bersama (Verbund- bzw. Gemeinschaftsteuer), Pajak provinsi (Ländersteuer), Pajak Daerah (Gemeindesteuer) dan Pajak Pusat (Bundsteuer). Untuk mendapatkan gambaran mengenai jenis-jenis pajak, kategori hak atas pajak serta besarnya hasil penerimaan, pada tabel 1 disajikan penerimaan pajak di Republik Federal Jerman untuk tahun anggaran 2000 dan 2001.
Tabel 1: Penerimaan Pajak di Republik Federal Jerman , 2000 – 2001 (dalam juta €uro)
Jenis-jenis pajak 2000 2001
(i) Pajak Bersama
Pajak Penghasilan Orang Pajak bunga deposito
333.253,0
161.472,7 7.334,2
309.752 ,3
Pajak Penghasilan Badan
Pajak Pengalihan Hak atas Tanah Pajak warisan
Pajak Pengalihan Hak atas Tanah Lain-lain pajak kabupaten
Pajak produk olahan bukan barang jadi Solidaritätszuschlag
4,1 22,6
(v) Cukai 3.394,0 3.191,2
Total Penerimaan Pajak 463.858,2 443.056
,2
Sumber: Bundesministerium der Finanzen, 2002.
Dari tabel 1 terlihat bahwa sumber penerimaan pajak terbesar berasal dari pajak bersama (71,84 % tahun 2000 dan 69,91 % tahun 2001). Penerimaan dari pajak bersama akan dibagi untuk pemerintah pusat (Bund), provinsi (Länder) dan kabupaten (Gemeinde) dengan pola sebagai berikut (THÖNE/JACOBS, 2001:25):
Pajak Bersama Pusat Provinsi Daerah
(i) Pajak penghasilan orang 42,5 % 42,5 % 15 %
(ii) Pajak bunga deposito 44 % 44 % 12 %
(iii)Pajak penghasilan badan 50 % 50 %
Pajak pertambahan nilai, yang jumlahnya nomor dua terbesar setelah pajak penghasilan orang, dibagikan kemudian sebagai instrumen dalam perimbangan keuangan horizontal (antara daerah dan daerah). Sementara pajak perusahaan yang wewenang pengutipannya ada ditangan pemerintah daerah hanya 82 % yang menjadi hak daerah pengutip sedangkan selebihnya ditransfer kepada pemerintah pusat (4,5 %) dan provinsi (13,5 %).
1. Pembagian Penerimaan Pajak Secara Horizontal dan Perimbangan Keuangan Antar Daerah
Aufkommen) yang mencerminkan potensi fiskal daerah. Artinya, semakin besar penerimaan pajak bersama di suatu daerah, maka jumlah penerimaan yang tinggal di daerah pengutip akan semakin besar.
Sementara itu, pembagian penerimaan dari pajak pertambahan nilai tidak mengacu pada lokasi penarikan/pengutipan pajak, melainkan pada jumlah penduduk provinsi. Pajak pertambahan nilai hanya 75 % dibagikan diantara daerah berdasarkan jumlah penduduk, sedangkan 25 % dialokasikan sebagai dana tambahan (Ergänzungszuweisungen) bagi daerah yang secara ekonomi lemah atau daerah dengan beban khusus untuk kepentingan nasional seperti pengelolaan pelabuhan (Hamburg, Bremen dan Niedersachsen). Oleh karena itu, pajak pertambahan nilai dengan volume yang besar berfungsi sebagai elemen yang dinamis untuk mengurangi kesenjangan kekuatan ekonomi antar daerah.
Secara operasional, penerimaan daerah dari pajak dan pendapatan lain akan menghasilkan kemampuan finansial (Finanzkraft) daerah (teknis perhitungan pada THÖNE/JACOBS, 2001). Kekuatan finansial ini tidak diperbandingkan dengan
kebutuhan finansial (Finanzbedarf), karena untuk masing-masing daerah kebutuhan finansial per kapita penduduknya sama. Selanjutnya yang dihitung adalah angka perimbangan (Ausgleichmesszahl) yang merupakan penjumlahan dari angka perimbangan kabupaten dan provinsi. Perbandingan antara kemampuan finansial dan angka perimbangan yang akan menentukan apakah suatu provinsi mempunyai kewajiban (mentransfer sebagain dari penerimaannya untuk dibagikan bagi daerah lain) atau mempunyai hak (menerima tambahan dana yang bersumber dari daerah yang mempunyai kewajiban). Dengan cara seperti ini penerimaan per kapita suatu daerah (provinsi) tidak pernah dibawah 92 % rata-rata nasional dan daerah “kaya” hanya akan memperoleh penerimaan tidak lebih dari 110 % rata-rata penerimaan per kapita nasional (teknis perhitungan dapat dilihat pada HIZYETER,
Dalam hal ini perlu dicatat, bahwa teknis pelaksanaan perimbangan keuangan antara daerah dan daerah di Republik Federal Jerman sangat rumit, tetapi transparan dan pembagian dana sepenuhnya berlangsung sesuai dengan rumus yang sudah disepakati. Sejauh ini, prinsip perimbangan keuangan masih tetap memenuhi amanat UUD (GG 1949) yang menetapkan „kesamaan standart hidup“ dalam situasi perekonomian yang berbeda-beda (Einheitlichkeit der Lebenverhältnisse) sebuah pengejawantahan
Bhinneka Tunggal Ika dibidang ekonomi. Sistim perimbangan seperti ini juga telah menunjukkan kemampuannya untuk menangkap perubahan struktur perekonomian daerah dalam jangka panjang. Sebagai contoh, Bayern yang hingga tahun 1986 merupakan daerah yang berhak atas dana perimbangan berhasil menjalankan transformasi dalam struktur perekonomiannya dari sektor pertanian ke sektor industri, sehingga sejak tahun 1989 menjadi daerah yang wajib menyumbang. Sementara Nordrhein-Westfalen yang hingga tahun 1978 merupakan daerah wajib penyumbang, dari hasil pertambangan batu bara (non-renewable resource) sejak tahun 1985 kadang-kadang telah menjadi daerah yang berhak atas dana perimbangan untuk membiayai penyesuaian struktur perekonomiannya (structural adjustment) dari berbasis pada hasil tambang menjadi daerah penghasil produk industri dan jasa.
2. Transfer Pusat Kepada Daerah Sebagai Tambahan Atas Dana Perimbangan
Saat ini, sistem perimbangan keuangan Republik Federal Jerman sedang hangat diperdebatkan yang semuanya mengarah pada kebutuhan untuk mereformasi sistem yang ada. Tetapi pokok persoalan hanya terletak pada „transfer pusat kepada daerah sebagai tambahan atas dana perimbangan“ (Erganzungszuweisungen) yang penetapannya bersifat subyektip dan cenderung mengarah pada vertical fiscal decentralization tetapi dengan mengurangi/membebani horizontal fiscal decentralization (lebih jauh pada SCHERF, 2000: 61 ff.).
3. Desentralisasi Fiskal di Indonesia
Perimbangan keuangan dan masalah keuangan secara umum tidak diatur dalam UUD bahkan UU Keuangan hingga saat ini masih dalam pembahasan. Perimbangan keuangan diatur dalam UU No. 25 tahun 1999 dan hanya mengenal satu jenis perimbangan, yaitu perimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal decentralization). UU ini juga memberi hak kepada daerah untuk menciptakan peraturan (landasan hukum), mengelola dan menetapkan tarif pajak yang sifatnya lokal. Hal ini diatur lebih terperinci dalam UU No. 34 tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Tetapi pajak daerah dan retribusi daerah lebih bias kota, mengingat sumber penerimaan terbesar berasal dari pajak reklame, pajak hiburan, pajak hotel dan restoran.
Pada tabel 2 disajikan jenis.jenis pajak yang berlaku di Indonesia dan hak pengelolaan serta pembagian hasilnya. Sistim yang berlaku saat ini masih mencerminkan dominasi pusat (sama sekali bukan perimbangan) dan keuntungan bagi daerah-daerah yang memiliki sumberdaya alam.
Sumber Penerimaan Penanggungjawab Pembagian (%)
Basis Rate Adm. Pusa
t Prop. Lokal
Penerimaan Minyak dan Gas P P P 100 0 0
Pajak Pendapatan Badan P P P 100 0 0
Pajak Pertambahan Nilai P P P 100 0 0
Bea Masuk P P P 100 0 0
Cukai P P P 100 0 0
Pajak Ekspor P P P 100 0 0
Pajak Pendapatan Orang P P P 80 8 12
Pajak Bumi dan Bangunan P P P,Pp,L Pusat 20 % dan Daerah 80 %
BPHTB P P P Pusat 20 % dan Daerah 80 %
Royalti Kehutanan P P P Pusat 20 % dan Daerah 80 %
Ijin Pengelolaan Hutan P P P Pusat 20 % dan Daerah 80 %
Sewa Tanah Pertambangan P P P Pusat 20 % dan Daerah 80 %
Royalti Pertambangan P P P Pusat 20 % dan Daerah 80 %
Pajak Kendaraan Bermotor P,Pp Pp Pp 0 30 70
Pajak Perpindahan Hak atas KB P,Pp Pp Pp 0 30 70
Pajak Bahan Bakar Minyak P,Pp Pp Pp 0 10 90
Pajak Eksplorasi Permukaan dan P,Pp Pp Pp 0 100 0 Bawah Tanah
Pajak Hotel P,L L L 0 0 100
Pajak Restoran P,L L L 0 0 100
Pajak Hiburan P,L L L 0 0 100
Pajak Reklame P,L L L 0 0 100
Pajak Penerangan Jalan P,L L L 0 0 100
Pajak Pertambangan Type C P,L L L 0 0 100
Parkir P,L L L 0 0 100
Sumber:Departemen Keuangan Republik Indonesia, UU 25/1999, UU 34/2000. Keterangan: P = Pusat, Pp = Propinsi, L = Lokal (Kabupaten/Kota)
dibagikan kepada daerah sebagai Dana Alokasi Umum (DAU) dalam bentuk lump-sum transfer, yang disebut sebagai perimbangan keuangan.
Tabel 3: Penerimaan Negara Tahun Anggaran 2003 dan 2004 (dalam Triliun Rupiah)
2003 2004
APBN-P % GDP APBN % GDP
TOTAL PENERIMAAN 342,811 19,1 349,933 17,5
I. Penerimaan Dalam Negeri 342,471 19,1 349,299 17,5 1. Penerimaan Perpajakan 248,469 13,9 272,175 13,6 a.Pajak Dalam Negeri 236,901 13,2 260,223 13,0
i.Pajak Penghasilan 122,448 6,8 133,967 6,7
1. Migas 18,143 1,0 13,132 0,7
2. Non-migas 104,304 5,8 120,835 6,0 ii.Pajak Pertambahan Nilia 75,862 4,2 86,272 4,3 iii.Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 8,873 0,5 8,030 0,4
iv.BPHTB 1,850 0,1 2,667 0,1
v.Cukai 26,114 1,5 27,671 1,4
vi.Pajak Lainnya 1,572 0,1 1,614 0,1
b.Pajak Perdagangan Internasional 11,568 0,6 11,951 0,6
i.Bea masuk Impor 11,332 0,6 11,636 0,6 ii.Pajak/Pungutan Ekspor 0,235 0,0 0,135 0,0 2.Penerimaan Bukan Pajak 94,001 5,2 77,124 3,9
a.Penerimaan SDA 64,991 3,6 47,240 2,4
b.Bagian Laba BUMN 12,290 0,7 11,454 0,6
c.PNBP Lainnya 16,720 0,9 18,429 0,9
II. Hibah 0,340 0,0 0,634 0,0
Sumber: Departemen Keuangan Republik Indonesia.
mentah dunia naik secara tajam pertengahan tahun 2004, yang memaksa pemerintah merevisi asumsi pada APBN 2004 dari rata-rata 22 dollar AS per barrel menjadi 32 – 35 dollar AS per barrel. Perubahan ini telah meningkatkan penerimaan sebesar Rp 36,7 triliun disatu sisi dan peningkatan subsidi sebesar Rp 32,3 triliun di sisi lain. Tetapi karena 80 % dari tambahan penerimaan ini tinggal di daerah penghasil sementara subsidi sepenuhnya ditanggung pemerintah pusat, maka secara neto defisit APBN 2004 meningkat Rp 1,6 triliun. Sementara daerah penghasil minyak mendapatkan penerimaan tambahan (windfall profit) sekitar Rp 6 triliun – Rp 8 triliun (Anonimous, 2004: 13).
Pembagian DAU juga tidak transparan. UU 25/1999 sebenarnya telah menyediakan rumus untuk pembagian DAU yang mempertimbangkan variabel-variabel ekonomi seperti jumlah penduduk, kepadatan penduduk, luas daerah, jumlah orang miskin, PAD dan sebagainya. Tetapi hanya 20 % dari dana DAU yang dibagikan berdasarkan rumus ini, sedangkan bahagian terbesar (80 %) dibagikan berdasarkan keputusan politik yang mengacu pada lobi-lobi politik tanpa kriteria yang objektip.
Tabel 4: Pendapatan Daerah dalam APBD dan Penerimaan Daerah yang Masuk ke Kas Pusat Kasus Kabupaten Tapanuli Utara 1991/1992 – 2000.
Tahun
Anggaran Total PendapatanAPBD (Rp Juta) (Rp Juta)PAD Kontribusi PAD(%)
1991/1992 Penerimaan Daerah yang Masuk ke Kas Pusat, Kabupaten Tapanuli Utara,
1995 – 2000 (dalam jutaan Rupiah).
Tahun Anggaran Sumber Penerimaan Total Pajak Non Pajak
1. “Penjabaran Realisasi Kegiatan/Pasal dan Proyek APBD” tahun anggaran 1991/1992 – 2000.
(i) Diolah dari data primer perincian pendapatan dan belanja Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Balige (125).
4. Rangkuman dan Butir Rekomendasi
Uraian diatas mencoba menunjukkan pengalaman pelaksanaan desentralisasi fiskal di Republik Federal Jerman yang atas dasar pertimbangan ekonomi dan pertimbangan politis memungkinkan untuk diadopsi dalam merevisi UU Otonomi Daerah, khususnya perimbangan keuangan di Indonesia. Beberapa hal yang perlu digarisbawahi meliputi:
(ii) Perimbangan keuangan antara daerah dan daerah (horizontal fiscal decentralization) atas prinsip mengusahakan kesamaan standart hidup (Bhinneka Tunggal Ika di bidang ekonomi)
(iii)Untuk kedua hal diatas, hendaknya pertimbangan ekonomi yang objektip dapat menggantikan pertimbangan politis yang subyektip sebagaimana hingga saat ini diterapkan.
5. Kepustakaan
Alm, J. and Bahl, R., 1999: Decentralization in Indonesia: Prospects and Problems (mimeo).
Alm, J., Aten, R.H., and Bahl, R., 2001: Can Indonesia Decentralize Successfully ? Plans, Problems and Prospects. Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 37 No. 1 (April 2001).
Anonimous, 2004: Defisit APBN 2004 Meningkat Rp 1,6 Triliun. Harian Kompas, Selasa, 1 Juni 2004, halaman 13.
Ehrlicher, W., 1980: Finanzausgleich III: Der Finanzausgleich in der Bundesrepublik Deutschland. Handwörterbuch des Wirtschaftswissenschaft, Band II. Tübingen etc.: Mohr Siebeck/Vandenhoeck & Ruprecht.
Fischer-Menshausen, H., 1980: Finanzausgleich II: Grundzüge des Finanzausgleichsrechts. Handwörterbuch des Wirtschaftswissenschaft, Band II. Tübingen etc.: Mohr Siebeck/Vandenhoeck & Ruprecht.
Häde, U., 1996: Finanzausgleich. Tübingen: Mohr Siebeck.
Hizyeter, R., 1992: Ein Vergleich zwischen Finanzausgleichssystemen der zentralisierten und dezentralisierten Staaten unter besonderer Berücksichtigung der Bundesrepublik Deutschland und Türkei. Dissertation, Universität Mannheim.
Korioth, S., 1997: Der Finanzausgleich zwischen Bund und Ländern. Tübingen: Mohr Siebeck.
Lenk, T., 1993: Reformbedarf und Reformmöglichkeiten des deutschen Finanzausgleichs. Baden-Baden: Nomos.
Lewis, B.D., 2001: The New Indonesian Equalisation Transfer. Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 37 no. 3 (December 2001).
Loehr, W. and Manasan, R., 1999: Fiscal Decentralization and Economic Eficiency: Oates, W.E., 1999: An Essay on Fiscal Federalism. Journal of Economic Literature,
Peffekoven, R., 1980: Finanzausgleich I: Wirtschaftstheoretische Grundlagen. Handwörterbuch des Wirtschaftswissenschaft, Band II. Tübingen etc.: Mohr Siebeck/Vandenhoeck & Ruprecht.
Scherf, W., 2000: Der Länderfinanzausgleich in Deutschland – Ungelöste Probleme und Ansatzpunkte einer Reform. Frankfurt am Main etc.: Peter Lang.
Simanjuntak, R. A., 2002: Berbagai Isu Penerimaan Daerah di Era Desentralisasi, Makalah Disampaikan Pada Lokakarya Kebijakan Fiskal Untuk Pembangunan Daerah dalam Era Desentralisasi, Medan 14 – 16 Mei 2002.
Siregar, R.Y., 2001: Survey of Recent Developments, Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 37, no. 3 (December 2001).
Sudibyo, B., 2002: Harmonisasi Kebijakan Perdagangan dan Investasi demi Keberlanjutan Fiskal dalam Era Otonomi dan Desentralisasi. Makalah Disampaikan Pada Lokakarya Kebijakan Fiskal Untuk Pembangunan Daerah dalam Era Desentralisasi, Medan 14 – 16 Mei 2002.