Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Perusahaan Tambang yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Periode 2008-2013)
Gilang Muhammad Akbar (F0312057), Jurusan Akuntansi Universitas Sebelas Maret
Email: [email protected]
Pendahuluan A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi yang di tandai oleh kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat sehingga tidak adanya hambatan-hambatan perdagangan antar negara, lalu lintas keuangan internasional, dan keluar masuknya arus modal dan investasi, maka tidak terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa perkembangan ekonomi suatu negara secara sederhana dapat dinilai dari seberapa jauh kesuksesan dan perkembangan pasar modalnya (Marli, Soemarsono, dan ismail, 2010). Dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat, banyak perusahaan melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan modalnya dalam rangka mengembangkan usahanya, salah satu caranya adalah dengan menambah jumlah kepemilikan saham melalui penerbitan saham baru (Junaeni dan Agustian, 2013). Salah satu faktor yang membuat para investor menanamkan modalnya saat berinvestasi adalah return yag tinggi, dengan return yang tinggi maka investor berharap akan mendapatkan imbalan yang tinggi atas investasi yang dilakukan (Fidhayantiin dan Dewi, 2012). Semakin tinggi return yang di dapat investor maka akan semakin tinggi pula harga sahamnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan semakin dipercaya sehingga nilai perusahaan semakin tinggi pula (Fidhayatin dan Dewi, 2012).
Dikutip dari http://finance.detik.com/, salah satu 5 kesalahan umum investor pemula adalah berspekulasi terhadap investasi. Spekulasi biasanya dilakukan investor pemula karena minim informasi atau tidak mengerti benar mengenai instrumen investasinya. Eugene, Head of Research PT Mega Capital Indonesia berpendapat bahwa untuk berinvestasi saham, pertama-tama haruslah memiliki
trading plan. Trading plan ini biasa berisi apa saja yang dibutuhkan yang akan menjadi sinyal beli/jual atas sebuah saham. Anda bisa menggunakan analisa fundamental maupun analisa teknikal.
Rasio keuangan lain yang masih mengalami masalah inkonsistensi hasil penelitian adalah Return On Asset (ROA). ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas aktiva yang dipergunakan. ROA atau pengembalian aktiva dapat dihitung dengan cara yaitu laba sebelum pajak dibahagi total aktiva dan dikalikan 100%. Perusahaan selalu berupaya agar ROA dapat selalu ditingkatkan, hal ini disebabkan karena semakin tinggi ROA menunjukkan semakin efektif perusahaan memanfaatkan aktivanya untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak, dengan semakin meningkatnya ROA maka profitabilitas perusahaan semakin baik (Wadiran, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Marlina dan Danica (2009), Hernendiastro (2005), Wadira (2013) berpendapat bahwa ROA berpengaruh terhadap return saham perusahaan. Hal ini berbeda dengan penelitian Setyarini (2011), Susilowati dan Taryanto (2011), Harjito dan Aryayoga (2009) berpendapat bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap return saham.
Selain ROA dan ROE, adapun rasio lain yang menjadi salah satu pertimbangan dalam menganalisis pergerakan harga saham demi memaksimalkan
return yang diharapkan adalah Debt to Equity Ratio (DER). Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio hutang terhadap modal. Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang, dimana semakin tinggi nilai rasio ini menggambarkan gejala yang kurang baik bagi perusahaan. Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yang diterima karena kewajiban untuk membayar hutang lebih diutamakan daripada pembagian dividen (Marlina dan Danica, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Marlina dan Danica (2009), Susilowati dan Turyanto (2011) berpendapat bahwa DER berpengaruh positif terhadap return saham. Hal ini berbeda dengan penelitian Hernendiastro, (2005) yang berpendapat DER berpengaruh negatif terhadap return saham.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kinerja Perusahaan Terhadap Return Saham Perusahaan Tambang yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
1. Apakah ROE berpengaruh terhadap return saham perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah ROA berpengaruh terhadap return saham perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah DER berpengaruh terhadap return saham perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
4. Rasio apa yang paling berpengaruh terhadap return saham perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti rasio-rasio keuangan yang diperkirakan mempengaruhi return saham pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi pihak-pihak berikut : 1. Bagi perusahan pertambangan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai beberapa rasio yang berperan penting dalam mempengaruhi return saham perusahaan tambang.
2. Bagi para investor saham
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori Signaling Theory
Menurut (Susilowati dan Turyanto, 2006) teori sinyal merupakan kegiatan perusahaan dalam memberikan informasi kepada investor tentang prospek return masa depan yang substansial. Fidhayatin dan Dewi (2012) juga berpendapat Teori sinyal merupakan dorongan perusahaan untuk memberikan informasi kepada pihak eksternal. Dorongan ini disebabkan karena terjadi asimetri informasi antara pihak manajemen dan pihak eksternal dimana pihak manajemen lebih mengetahui informasi keuangan perusahaan dibanding pihak eksternal. Untuk mengurangi asimetri hendaknya perusahaan mengungkapkan informasi yang dimiliki oleh perusahaan, yaitu informasi keuangan maupun non keuangan. Jika informasi laba tersebut relevan bagi para pelaku pasar modal, maka informasi tersebut akan digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan nilai saham perusahaan (Fidhayatin dan Dewi, 2012).
Teori Sinyal juga mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan (Susilowati dan Turyanto, 2006). Sinyal tersebut berupa informasi mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik ataupun pihak yang berkepentingan. Sinyal yang diberikan dapat juga dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan, laporan yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik, atau bahkan dapat berupa promosi serta informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan lain.
Dengan semakin meningkatnya harga saham, maka akan memberikan return berupa kenaikan harga saham kepada para pemilik saham sebelumnya.
Penurunan dalam proporsi kepemilikan saham dari pemilik lama yang ditunjukkan oleh penawaran saham baru kepada investor luar adalah signal yang negatif sebaliknya semakin tinggi persentase saham yang ditahan oleh pemilik lama, merupakan signal positif bagi pasar (Junaeni dan Agustian, 2013).
Return Saham
B. Pengembangan Hipotesis
I. Pengaruh Return on Aset (ROA) Terhadap Return Saham Perusahaan Tambang
Banyak orang menganggap bahwa return on assets sama dengan
return on investment, namun sebenarnya kedua rasio tersebut berbeda, karena dalam Investment hanya ada unsur modal, yaitu pinjaman jangka panjang dan ekuitas, sedangkan assets dibiayai dari sumber pinjaman jangka panjang, ekuitas, dan hutang jangka pendek (Susilawati, 2012). Return On Assets adalah salah satu rasio profitabilitas (Susilawati, 2012). Rasio ini sering disebut sebagai rentabilitas ekonomis, yaitu merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Semakin tinggi nilai ROA, dapat diartikan bahwa perusahaan telah efisien dalam menciptakan laba dengan cara mengolah dan mengelola semua aset yang dimilikinya (Susilawati 2012). Dengan meningkatnya ROA berarti kinerja perusahaan semakin baik dan sebagai dampaknya harga saham perusahaan semakin meningkat (Susilowati dan Turyanto, 2011). Dengan meningkatnya harga saham, maka return saham perusahaan yang bersangkutan juga meningkat. Penelitian Marlina dan Danica (2009), Hernendiastro (2005), Wadira (2013) berpendapat bahwa ROA berpengaruh positif terhadap return saham perusahaan. Hal ini dikarenakan semakin tinggi ROA yang dihasilkan, mengindikasikan semakin besar laba yang diperoleh perusahaan dan akan berdampak pada return yang diterima oleh investor. Dengan demikian ROA berhubungan positif terhadap return saham. Berdasarkan keterangan diatas, maka penulis menyimpulkan hipotesis sebagai berikut :
II. Pengaruh Return on Equity (ROE) Terhadap Return Saham Perusahaan Tambang
Return on equity (ROE) merupakan ukuran kemampuan perusahaan (emiten) dalam menghasilkan keuntungan dengan menggunakan modal sendiri, sehingga ROE ini sering disebut sebagai rentabilitas modal sendiri (Susilowati dan Turyanto, 2011). Rasio ini diperoleh dengan membagi laba setelah pajak dengan rata-rata modal sendiri. Jika harga saham semakin meningkat maka return saham juga akan meningkat, maka secara teoritis, sangat dimungkinkan ROE berpengaruh positif terhadap return saham (Susilowati dan Turyanto, 2011). Banyak analis dan investor cenderung berfokus pada ROE sebagai ukuran utama mereka dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan (Katchova dan Enlow, 2013). Hal tersebut juga sudah dibuktikan oleh penelitian Marli, Soemarsono, dan ismail (2010) yang menyimpulkan bahwa ROE merupakan faktor paling dan berpengaruh positif terhadap harga saham dengan menggunkan metode PER. Tetapi berdasarjan penelitian Djamil, dkk (2013) ROE memiliki pengaruh negatif terhadap return saham. Berdasarkan uraian diatas, maka dikembangkan hipotesis sebagai berikut :
H2: ROE berpengaruh positif terhadap return saham perusahaan tambang.
III. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Return Saham Perusahaan Tambang
dengan utang, memiliki 3 implikasi penting (1) memperoleh dana melalui utang membuat pemegang saham dapat mempertahankan pengendalian atas perusahaan dengan investasi yang terbatas, (2) kreditur melihat ekuitas, atau dana yang disetor pemilik, untuk memberikan margin pengaman, sehingga jika pemegang saham hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka risiko perusahaan sebagian besar ada pada kreditur; (3) jika perusahaan memperoleh pengembalian yang lebih besar atas investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman dibanding pembayaran bunga, maka pengembalian atas modal pemilik akan menjadi lebih besar. Akan tetapi, jika pengembalian yang diperoleh atas investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman dibandingkan dengan bunga, maka pengembalian atas modal pemilik semakin kecil.
Penelitian yang dilakukan oleh Marlina dan Danica (2009), Susilowati dan Turyanto (2011) berpendapat bahwa DER berpengaruh positif terhadap return saham. (Susilowati dan Turyanto 2011) berpendapat DER berpengaruh positif terhadap return saham dikarenakan investor justru memandang bahwa perusahaan yang tumbuh pasti akan memerlukan hutang sebagai dana tambahan untuk memenuhi pendanaan pada perusahaan yang tumbuh. Perusahan tersebut memerlukan banyak dana operasional yang tidak mungkin dapat dipenuhi hanya dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Kondisi ini menyebabkan kemungkinan berkembangnya perusahaan dimasa yang akan datang yang berujung pada meningkatnya return
saham. Berdasarkan uraian diatas, maka dikembangkan hipotesis sebagai berikut :
C. Skema Konseptual Penelitian
Variabel Independen Penelitian ini menguji pengaruh variable independen terhadap variabel dependen. Return saham merupakan variabel dependen sedangkan kinerja keuangan yang terdiri dari ROA,ROE, dan DER merupakan variabel independen. Pengaruh kinerja keuangan yang terdiri dari ROA, ROE, dan DER mempunyai pengaruh positif terhadap return perusahaan.
H1(+) lainnya dengan total populasi sebesar (47 x 6) 282 perusahaan. Dari total 282 perusahaan tersebut, dipilih (26 x 6) 156 perusahaan sebagai sample penelitian. Jumlah ini sudah sesuai dengan pendapat Umar Sekaran bahwa jumlah sample minimal terdiri dari 10-20 sample per variabel. Sample diambil dengan metode
purposive sampling yaitu metode pengambilan sampel yang terbatas pada jenis tertentu yang dapat memberikan informasi yang diinginkan entah karena satu-satunya yang memiliki atau memenuhi kriteria-kriteria yang ditentukan oleh peneliti (Sekaran, 2013). Penulis memilih sample berdasarkan kriteria yang telah penulis tetapkan. Kriterianya adalah (1) perusahaan tersebut telah menerbitkan laporan keuangan tahunan secara rutin selama rentang waktu 2008-2013. (2) Tanggal IPO perusahaan harus sebelum 1 januari 2008. Pemilihan rentang waktu
2008-2013 diambil dikarenakan penulis ingin mengetahui trend perusahaan, keadaan perusahaan setelah krisis ekonomi tahun 2008-2009 dan penelitian diharapkan merupakan penelitian terbaru. Tahun 2014 tidak di ambil dikarenakan beberapa perusahaan tambang belum/tidak menerbitkan laporan keuangan tahunannya. Data yang digunakan berupa data sekunder yaitu harga saham, dividen dan data rasio keuangan yang berupa ROA, ROE, dan DER yang didapatkan dari laporan keuangan tahunan (2008-2013) yang di posting oleh BEI, www.idx.co.id.
B. Definisi operasional dan pengukuran
Penelitian ini menggunakan beberapa variabel untuk menguji hipotesis. Penelitian ini menggunakan satu variabel terikat (dependen) dan tiga variabel bebas
(independen). Variabel terikat (dependen) dalam penelitian ini adalah return
saham dan variabel bebas dalam penelitiann ini adalah return on asset (ROA),
return on equity (ROE), dan deb to equity ratio (DER). I. Variabel Dependen
Return saham merupakan pendapatan yang diterima oleh pemegang saham berupa deviden yang dibayar oleh perusahaan maupun capital gain yaitu selisih antara harga jual dan harga beli saham. Ada dua jenis penghitungan return, yaitu return realisasi dan return yang di prediksi . Return realisasi ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan return prediksi. Untuk menghitung return saham ini penulis menggunakanreturn realisasi. yaitu:
RS ¿(Hs'−Hs)+Dt
Hs
Dimana :
RS: Return Saham
Dt: Dividen akhir periode Hs: Harga saham awal periode Hs1: Harga saham akhir periode
I. ROA (Return on Asset)
Return on Assets (ROA) sering digunakan sebagai alat untuk mengukur tingkat pengembalian atas total aktiva setelah beban bunga dan pajak, (Brigham, 2001: 109). Semakin tinggi Return On Assets (ROA) maka akan semakin baik perusahaan tersebut (Heikal, Khaddafi, dan Ummah, 2014).
ROA = Lababersih
Rata−rata Total Aktiva
Rata−rataTotal Aset=Total Asett+Total Asett−1
2
Keterangan :
Laba Bersih: Laba Komprehensif tahun berjalan Total Asett: total aset periode akhir
Total Asett-1: total aset periode awal
II. ROE (Return on Equity)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba dari modal yang tersedia.
ROE = Laba bersih
Total Ekuitas
Keterangan :
Laba Bersih: Laba komprehensif tahun berjalan
Total Ekuitas: Total ekuitas yang digunakan selama tahun berjalan
III. DER (Debt to Equity Ratio)
DER= Totalutang
Total Ekuitas
C. Alat Statistik
Alat statistik yang diggunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Analisis regresi merupakan suatu cabang metodologi statistik mengenai hubungan sebuah variabel dependen (Y) terhadap pengaruh dari variabel independen (X). Tujuannya adalah untuk membuat sebuah model yang baik yang memungkinkan untuk menaksir Y bagi nilai-nilai tertentu X dan mengerjakannya dengan perkiraan kesalahan yang kecil. Karena kemampuan dari uji analisis regresi ini sesuai dengan tujuan penelitian, maka penulis memutuskan untuk menggunakan alat statistik tersebut dalam penelitian ini. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah anilisis regresi linier berganda, dikarenakan jumlah variabel independen dalam penelitian ini lebih dari dua.
Ri = α + β1ROA + β2ROE + β3DER + ε
Keterangan :
Ri : Kinerja Perusahaan ROA : Return on Aset
ROE : Return on Equity
DER : Debt to Equity Ratio
α : Konstanta
β1- β3 : Koefisien Regresi
ε : Error Term
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk memeperoleh hasil apakah hipotesis dalam penelitian ini diterima atau ditolak. Uji hipotesis ini terdiri dari uji F, uji koefisien determinasi (R2), dan uji t.
Uji F
bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2012). Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikansi level 0,05 (α = 5%). Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:
1. Apabila nilai signifikansi f <0,05 maka H ditolak atau Ha diterima, yangₒ berarti koefisien regresi signifikan. Artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara semua variabel independen terhadap variabel dependen.
2. Apabila nilai signifikansi f >0,05 maka H diterima atau Ha ditolak, yangₒ berarti koefisien regresi tidak signifikan. Hal ini berarti variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel independen.
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Pada model regresi berganda, koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam menerangkan variasi pada variabel dependen (Ghozali, 2012). Nilai koefisien determinasi menunjukkan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependennya. Namun nilai R2 memilihi kelemahan mendasar yaitu adanya bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen
Uji t
Uji statistik t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2012). Pengujian ini menguji signifikansi koefisien variabel independen dalam memprediksi variabel dependen. Tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,05 (α= 5%). Penerimaan dan penolakan hipotesis akan dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
1. Apabila nilai signifikansi (sig) lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. 2. Apabila nilai signifikansi (sig) lebih kecil atau sama dengan 0,05 maka
Daftar Pustaka
Alexander, Nico dan Destriana, Nicken. 2013. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham. Dalam jurnal Bisnis dan Akuntansi, 5(2): h: 123-132.
Alya, Angga. 5 Kesalahan Umum Investor Pemula. 10 januari 2012. http://finance.detik.com/read/2012/01/10/082022/1811092/479/5-kesalahan-umum-investor-pemula.
Brigham Eugene F. dan Houston Joel F, 2005, Manajemen Keuangan, Edisi kesepuluh, Buku Satu, (Terjemahan Ali Akbar Yulianto). Erlangga : Jakarta. Carlo, M.A. 2014. Pengaruh Return On Equity, Dividend Payout Ratio, dan Price
to Earnings Ratio pada Return saham. Dalam E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 7(1): h: 150-164.
Chairakwattana, K. dan Nathaphan, S. 2014. Stock Return Predictability by Bayesian Model Averaging: Evidence from Stock Exchange of Thailand
dalam International Journal of Economic Sciences, 3(1): h: 47-63
Djamil, A.B., dkk. 2013. The Impact of Intellectual Capital on a Firm’s Stock Return: Evidence from Indonesia. dalam Journal of Business Studies Quarterly, 5(2): h: 176-183
Fama, Eugene.F., dan French, Kenneth.R. 1995. Size and Book-to-Market Factors in Earnings and Returns. Dalam The Journal Of The American Finance Association, 5(1): h: 131-155.
Fama, Eugene F., dan French, Kenneth R. (1992). The cross-section of expected returns., Dalam The Journal of FinanceJournal of Finance, 47(2): h: 427-465.
Fidhayatin, S.K., Dewi, N.H.U. 2012. Analisis Nilai Perusahaan, Kinerja Perusahaan dan Kesempatan Bertumbuh Perusahaan terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di bei. Dalam The Indonesian Accounting Review, 2(2): h: 203-214.
Ghozali, I. (2003). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 Update PLS Regresi Edisi 7. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Harjito, D.A dan Aryayoga, R. 2009. Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan dan
Heikal, M., Khaddafi, M., dan Ummah, A., (2014), Influence Analysis of Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Debt To Equity Ratio (DER), and current ratio (CR), Against Corporate Profit Growth In Automotive In Indonesia Stock Exchange. Dalam International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 4(12): h : 101-114.
Hernendiastoro, Andre. 2005. Pengaruh Kinerja Perusahaan dan Kondisi Ekonomi Terhadap Return Saham Dengan Metode Intervalling (studi kasus pada saham-saham lq 45). Tesis pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.
Huber, J dan Kirchler, M. 2013. Corporate Campaign Contributions and Abnormal Stock Returns After Presidential Elections. Dalam Springer, 285-307.
Hutauruk, Martinus R., dkk., (2014), Influence of Fundamental Ratio, Market Ratio and Business Performance to The Systematic Risk and Their Impacts to The Return on Shares at The Agricultural Sector Companies at The Indonesia Stock Exchange for The Period of 2010 -2013. Dalam Academic Research International, 5(5): h: 149-168.
Ibrahim T.H., dan Agbaje O.M. 2013. The Relationship Between Stock Return and Inflation in Nigeria.Dalam European Scientific Journal, 9(4):h :146-157. http://www.indoalpha.com/, Information, insight, Research for Indonesia Stock
Market.
Junaeni, I., dan Rendi A. 2013. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing Saham Pada Perusahaan yang Melakukan Initial Public Offering di bei. Dalam Jurnal Ilmiah WIDYA, 1(1): h: 52-59.
Katchova, A.L., dan Enlow, S.J. 2013. Financial performance of publicly-traded agribusinesses. Dalam www.emeraldinsight.com/0002-1466.htm.
Kurihara, Y. (2006). The Relationship between Exchange Rate and Stock Prices during the Quantitative Easing Policy in Japan. Dalam international Journal of Business, 11(4): ISSN: 1083- 4346.
Marli., Soemarsono., dan Munawar I. 2010. Analisis Variabel yang Mempengaruhi Price Earning Ratio Dalam Penilaian Harga Saham di Bursa Efek Jakarta (tahun 1998 – 2001). Dalam WACANA,13(2): h: 260-275. Marlina, L dan Danica,C.2009. Analisis Pengaruh Cash Position, Debt to Equity
Ratio, dan Return on Assets Terhadap Dividend Payout Ratio. Dalam Jurnal Manajemen Bisnis, 2(1): h: 1-6.
Murekefu, Tymothy M. 2012. The Relationship Between Dividend Payout and Firm Performance: A Study of Llisted Companies in Kenya. Dalam
Saleem, Faiza., dkk. (2012). Long Run Relationship Between Inflation and Stock Return: Evidence From Pakistan. Dalam Social Sciences and Humanities,
4(2): h: 407-415.
Setiyorini, P.I. 2011. Pengaruh Perbandingan Economic Value Added dan Rasio Profitabilitas Terhadap Return Saham. Dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 5(3): h: 191-208.
Susilawati, C.D.K. 2012. Analisis Perbandingan Pengaruh Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas terhadap Harga Saham pada Perusahaan LQ 45. Dalam Jurnal Akuntansi, 4(2): ISSN: 2085-8698
Susilowati, Yeye dan Turyanto. 2011. Reaksi Signal Rasio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas Terhadap Return Saham Perusahaan. Dalam Dinamika
Keuangan dan Perbankan, 3(1): h: 17-37.
Uma Sekaran, Roger Bougie, (2013), Research Methods for Business: A Skill-Building Approach, 6th Edition. John wiley & Sons ltd: Uniteed Kingdom. Wadiran, M.M. 2013. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Expected Return Saham
Pada Pertambangan Batu Bara yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2011. Dalam Jurnal EMBA, 1(3): h: 1129-1139.
TUGAS METODOLOGI PENELITIAN
PROPOSAL PENELITIAN
Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham
Perusahaan Tambang yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (Periode 2008-2013)
F0312057
Catatan :
ROA sebagai alat ukur tradisional memiliki kelemahan utama, yaitu tidak menggunakan biaya modal. Kelemahan ini berdampak tidak diketahui apakah perusahaan telah menciptakan nilai atau tidak (Irwansyah, 2001). 14-04-2015 Pengerjaan sampai di Hipotesis ROA !!
Signaling theory lihat di Jurnalnya Susilowati !! Cari sumber asli Susilowati. ROA!!
Precision = sample harus bisa mewakili populasi.
Regresi linier berganda ---ada jumlah minimal sample. Definisi operasional --- bagaimana cara ngukurnya.
Variabel dependen = Kinerja keuangan. Kinerja keuangan diukur dengan ROA, ROE, DER,
Dalam Teori harus sesuai dengan Penelitian. Lihat penelitian terdahulu dan jurnal mengenai teori tersebut.
Pendahuluan harus di benarkan terlebih dahulu. Teori (Bab 2) harus di revisi terlebih dahulu sebelum menginjak bab 3.
Uji t untuk menentukan rata-rata 2 sampel yang berbeda memiliki rata-rata nilai yang berbeda.
Jelaskan hubungan variabel dependen dengan variabel independennya!!