Pemanfaatan Lahan terhadap Swasebada Pangan untuk
Ketahan Pangan Nasional
Pangan
Mochammad Rizky Ardani
Management
2012
Bertambahnya jumlah penduduk harus diiringi dengan kenaikan jumlah kebutuhan akan pangan. Karena hubungan antara pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhan pangan bersifat positif. Pada dasarnya kebutuhan akan pangan adalah hal yang mendasar bagi setiap manusia. Seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, “Bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional”.
Permasalahan ketahanan pangan nasional akan menjadi hal yang menarik bagi negara-negara yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dalam pemenuhan kebutuhan pangan para penduduknya. Kecepatan pertambahan jumlah penduduk di suatu negara harus di antisipasi dengan adanya kesiapan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan pangan, agar masalah dalam pemenuhan pangan tersebut tidak menjadi kendala yang dapat menimbulkan “domino effect” terhadap sector lainnya dalam pembangunan nasional.
Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya. Di sisi lain, Indonesia dikenal juga sebagai Negara yang menduduki peringkat ke empat terpadat didunia dengan jumlah penduduk 237.556.363 jiwa (BPS : 2010). Pada kenyataanya sekarang, kondisi ideal pemenugan pangan terhadap pertambahan jumlah penduduk di Indonesia belum tercapai. Berdasarkan penelitian yang dilakuka oleh Lembaga Penelitian Universitas Indonesia (UPI) pada tahun 2010 lalu berjudul “Studi Tentang Kemandirian Pangan Sumber Karbohidrat dan Protein untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan”, diketahuai bahwa angka ketersediaan pangan telah melebihi kebutuhan pangan yang diperlukan. Walaupun penyediaan pangan pada tingkat nasional telah melampaui kebutuhan pangan, tidak berarti bahwa kecukupan pangan pada tingkat rumah tangga telah terpenuhi.
semakin terbatasnya sumber daya alam, terbatasnya sarana dan prasaran usaha dibidang pangan, semakin banyaknya produk impor yang melindas produksi dalam negeri, minimnya pengembangan terhadap lahan serta besarnya proporsi penduduk miskin.
Hal ini tentu saja menjadi pelajaran yang harus kita benahi bersama-sama sebagai warga Negara Indonesia yang perdul terhadap masa depan negara ini. Pembenahan system yang bisa dilakukan untuk mencapai pembangunan nasional dan ketahanan pangan sebaiknya dimulai dari sector pertanian terlebih dahulu. Jika sector pertanian sudah kuat, maka hampir dapat dipastikan sektor – sektor lain dalam pembangunan nasional akan menguat pula.
Yang menjadi perhatian disini adalah sejauh mana perkembangan teknologi pertanian serta produktivitas lahan pertanian di Indonesia dalam mendukung persediaan bahan pangan itu sendiri?. Di satu sisi, import bahan pangan dapat menjadi salah satu alternatif pemenuhan ketahanan pangan yang efektif, seiring terjadinya rawan pangan di Indonesia. Namum ketika dilihat dari sudut pandang ekonomi makro hal tersebut dirasa kurang efisien. Selain itu, dampak dari import itu sendiri perlu diperhatikan. Jika import terus – menerus dilakukan dalam jangan panjang, maka inflasi bisa melanda Indonesia. Hal lain yang bisa ditawarkan adalah pelaksanaan kembali program swasembada pangan seperti yang terjadi pada masa orde baru tahun 1984. Namum, kenyataanya bagi petani hal tersebut terasa sulit. Selain teknologi yang kurang memadai, fluktuasi harga pasar yang tidak stabil serta ketidak pastian persediaan pangan riil menjadi kendala yang menyebabkan dilema dikalangan petani, apakah lebih baik impor atau tetap mengusahakan budidaya di negara sendiri akan tetapi Indonesia menjadi Negara Rawan Pangan?.
Kondisi yang terjadi di atas memang sering terjadi. Namun, jika terjadi terus – menerus tanpa ada pengendalian, mungkin jalan alternatif lain adalah mengimport dari luar negeri. Dan jika import yang dipilih, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan masalah baru dari segi ekonomi makro Negara Indonesia.
Dijelaskan oleh mentri pertanian, dari total luas lahan pertanian saat ini seluas 70 juta Ha, yang efektif untuk produksi pertanian hanya 45 juta Ha. Luas lahan sawah cenderung menurun sebagai akibat alih fungsi lahan sawah menjadi lahan non-pertanian yang mencapai 50 hingga 70 ribu Ha per tahun. Padahal pencetakan sawah hanya seluas 20 hingga 40 ribu Ha per tahun.
Dalam pemecahan masalah dualisme tersebut, masalahnya terletak dari bagaimana kebijakan dalam masalah pangan ini dibuat. Baik dari sisi teknologinya ataupun komunikasi yang terjalin antara pemerintah pusat dengan pmenerintah daerah begitupun dengan para petaninya. Jika semua aspek tersebut berjalan secara sinergi, maka budidaya tanaman pangan untuk pemenuhan kebutuhan pangan penduduk didalam negeri akan lebih terasa menguntungkan dibandingkan harus import untuk pencapaian target ketahanan pangan ini. Selain itu juga konversi lahan produktif harus dikurangi untuk menghindari penyempitan lahan sebagai akibat dari pembangunan atau penggunaan lahan untuk sektor non-pertanian dan yang terpenting adlaah kesiapan dari Negara ini untuk melakukan swasembada pangan.