RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI (3)

Teks penuh

(1)

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

Makalah ini disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Fiqh Mu’amalah

Dosen Pengampu : Imam Mustofa, S.H.I., M.SI.

Disusun oleh:

ARINI MAYANG FAUNI (1502100158)

Kelas: A

PROGRAM STUDI S1-PERBANKAN SYARIAH

JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JURAI SIWO METRO

STAIN JURAI SIWO METRO

(2)

A. PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk sosial yang dapat di artikan bahwa manusia tidak dapat hidup

sendiri dan tentunya saling membutuhkan satu dengan yang lainnya untuk memenuhi

kebutuhan hidup dengan saling tolong menolong,bertukar keperluan dalam segala

hal,berkomunikasi dan lain-lainnya.Jual beli dalam lingkungan masyarakat merupakan kegiatan

yang setiap waktu selalu terjadi antara penjual dan pembeli.Tetapi jual beli yang baik dan benar

berdasarkan hukum islam belum tentu umat islam mengetahuinya sesuai ketentuan-ketentuan

hukum islam tetapi ada juga yang belum mengetahuinya.Sebenarnya antara penjual dan

pembeli penting untuk mengetahui nya agar penjual tidak melakukan riba dan pembeli tidak

merasa di rugikan.

Di dalam makalah ini akan mengkaji tentang “RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI”untuk di sajikan pada kelas A S1 Perbankan Syariah.Kajian dalam makalah ini berdasarkan kajian

dari buku,jurnal,dan artikel yang berkaitan langsung dengan masalah “RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI”.Di dalam kitab suci Al-Qur’an dan Al-hadist yang merupakan sumber hukum islam yang mengatur segala kehidupan manusia yaitu salah satunya telah memberikan contoh untuk

mengatur jual beli yang sesuai dengan ketentuan hukum islam.

Pada era zaman modern seperti ini banyak individu yang melakukan riba tanpa mereka

sadari.Mereka hanya mengutamakan mendapat keuntungan duniawi yang besar tanpa

mengharapkan berkah dari yang Allah SWT.Pada intinya jual beli adalah pertukaran barang

atau benda yang mempunyai manfaat untuk penggunanya dan sudah terjadi kesepakatan

(3)

A. PEMBAHASAN

1. Pengertian Rukun dan Syarat

Rukun secara bahasa adalah yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan

(DIKNAS,2002:966). Sedangkan syarat adalah ketentuan (peraturan, petunjuk) yang harus

diindahkan dan dilakukan (DIKNAS, 2002:1114). Dalam buku Muhammad Amin Suma

dijelaskan: rukun (Arab, rukn) jamaknya arkan, secara harfiah antara lain berarti tiang,

penopang dan sandaran,kekuatan, perkara besar, bagian, unsur dan elemen.Sedangkan syarat

(Arab, syarth jamaknya syara’ith) secara literal berarti pertanda, indikasi dan memastikan.

Menurut istilah rukun diartikan dengan sesuatu yang terbentuk (menjadi eksis) sesuatu

yang lain dari keberadaannya, mengingat eksisnya sesuatu itu dengan rukun (unsurnya) itu

sendiri, bukan karena tegaknya.Kalau tidak demikian, maka subjek (pelaku) berarti menjadi

unsur bagi pekerjaan, dan jasad menjadi rukun bagi sifat,dan yang disifati (al-maushuf) menjadi

unsur bagi sifat(yang mensifati). Adapun syarat, menurut terminology para fuqaha seperti

diformulasikan Muhammad Khudlari Bek, ialah sesuatu yang ketidakadaannya mengharuskan

(mengakibatkan) tidak adanya hukum itu sendiri. Hikmah dari ketiadaan syarat itu berakibat pula meniadakan hikmah hukum atau sebab hukum (Amin,2004:95). Dalam syari’ah, rukun, dan syarat sama-sama menentukan sah atau tidaknya suatu transaksi.

Secara defenisi, rukun adalah suatu unsur yang merupakan bagian tak terpisahkan dari

suatu perbuatan atau lembaga yang menentukan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dan ada

atau tidak adanya sesuatu itu (Dahlan, 1996:.1510).Definisi syarat berkaitan dengan sesuatu yang tergantung padanya keberadaan hukum syar’i dan ia berada di luar hukum itu sendiri, yang ketiadaannya menyebabkan hukum pun tidak ada (Dahlan, 1996: 1691).Perbedaan antara

rukun dan syarat menurut ulama ushul fiqih, yaitu rukun merupakan sifat yang kepadanya

tergantung keberadaan hukum dan ia termasuk dalam hukum itu sendiri, sedangkan syarat

merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan hukum, tetapi ia berada di luar hukum

itu sendiri (Dahlan, 1996: 1692).1

1

(4)

2. Rukun dan Syarat Jual Beli dalam Islam

Sebagai salah satu bentuk transaksi, dalam jual beli harus ada beberapa hal agar

akadnya di anggap sah dan mengikat. Beberapa hal tersebut di sebut sebagai rukun . ulama

Hanafiyah menegaskan bahwa rukun jual beli hanya satu yaitu ijab. Menurut mereka hal yang

paling pronsip dalam jual beli adalah saling rela yang diwujudkan dengan kerelaan untuk saling

memberikan barang.maka jika telah terjadi ijab,disitu jual beli telah di anggap berlangsung .

Tentunya dengan adanya ijab,pasti di temukan hal-hal yang terkait dengannya,seperti paea

pihak yang berakad,obyek jual beli dan nilai tukarnya.2

1. penjual dan pembeli

Syaratnya adalah:

a. Berakal, agar dia tidak terkecoh. Orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya.

b. Dengan kehendak sendiri (bukan di paksa).

c. Tidak mubazir (pemboros),sebab harta orang yang mubazir itu di tangan walinya.

Firman Allah Swt:

٥:

5.

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna

akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai

pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan

ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik

d. Balig (berumur 15 tahun ke atas/dewasa ). Anak kecil tidak sah jual belinya. Adapun

anak-anak yang sudah mengerti tetapi belum sampai umur dewasa, menurut

pendapat sebagian ulama, mereka di perbolehkan berjual beli barang yang

kecil-kecil; karena apabila tidak di perbolehkan,sudah tentu menjadi kesulitan dan

kesukaran,sedangkan agama islam sekali-kali tidak akan menetapkan peraturan

yang mendatangkan kesulitan kepada pemeluknya.3

2

Imam Mustofa, Fiqih muamalah Kontemporer, (Metro:STAIN Jurai Siwo Metro Lampung,2014), h.22-26 3

(5)

e. Pihak yang melakukan transaksi harus lebih dari satu pihak,karena tidak mungkin

akad hanya di lakukan oleh satu pihak dimana dia menjadi orang yang menyerahkan

dan yang menerima.4

f. Bisa melihat yaitu tidaklah sah jual beli orang buta,karena dalam jual beli tersebut

terdapat ketidaktahuan salah satu pihak.oleh karena itu biasa di wakilkan kepada

orang lain untung berjualan atau membeli suatu barang.5

2. Ada nilai tukar pengganti barang

Nilai tukar suatu barang merupakan salah satu unsur terpenting.Yang pada zaman

sekarang disebut dengan uang.Ulama fiqih memberikan penjelasan bahwa syarat nilai tukar

adalah sebagai berikut:

a. Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya

pembayarannya harus jelas waktunya.

b. Jika jual beli itu dilakukan dengan cara barter, maka barang yang dijadikan nilai tukar, bukan barang yang diharamkan syara’ seperti babi dan khamar.6

c. Barang yang diperjual belikan haus diperoleh dengan cara yang halal. Tidak sah jual

beli barang hasil rampokan, pencurian, korupsi dan lain-lain.Ketentuan ini

didasarkan kepada hadis Nabi yang menyatakan bahwa sesuatu yang tumbuh atau

dibesarkan dengan cara yang haram, maka nerakalah tempatnya yang paling

cocok.7

d. Barang itu telah di ketahui oleh kedua belah pihak baik zat,ukuran dan sifatnya.8

3. Ada shighat (lafal ijab dan kabul)9

4

Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer, (Jakarta:Rajawali Pers ,2016), h.26 5

Muhammad Rizki Romadhon, Jual Beli Online Menurut Madzhab Asy-Syafi’I, (Jawa Barat: Pustaka Cipasung,2015), h.14.

6

M. Ali Hasan sebagaimana dikutip oleh Syaifullah M.S, Etika Jual Beli Dalam Islam, Jurnal Studia Islamik, (IAIN Palu Jl. Diponegoro No. 23 Palu, Vol. 11, No. 2, Desember 2014), h.8-9.

7

Siti Mujiatun,“Jual Beli Dalam Perspektif Islam : Salam Dan Istisna”, Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis, (Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Vol. 13 No . 2 , September 2013), h. 5. 8

Abdurrahman Ibnu Iwadh al-juzburi sebagaimana di kutip oleh Yasinta Devi, “Analisa Hukum Islam Tentang Jual Beli Gold Pada game Online Jenis World Of Warcraft (WOW)”, Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (2010). H.33.

9Santoso, “Perspektif Hukum Islam Terhadap Kitab Undang

(6)

Pengertian akad menurut bahasa adalah ikatan yang ada diantara ujung suatu

barang.Sedangkan menurut istilah ahli fiqh ijab qabul menurut cara yang disyariatkan sehingga

tampak akibatnya (al-Zuhaily,t.th:115).Menurut Prof. Hasbi Ash-Shiddiqy aqad secara bahasa:

ا ص ح خ بدح دش ن ب ع ف ط ط ب

ةدح طق حب ص

Al Rabt (mengikat) yaitu mengumpulkan dua tepi tali dan mengikat salah satunya

dengan yang lain, sehingga bersambung, lalu keduanya menjadi sebagai sepotong benda

(1979 : 21).

Sedangkan aqad menurut istilah:

ض ق ث ع ش ع ب ق بب ط ب

Perkataan antara ijab qabul dengan cara yang dibenarkan oleh syara’ yang menetapkan kedua belah pihak) (Hasby,1979 : 21). Mengucapkan dalam akad merupakan salah satu cara

lain yang dapat ditempuh dalam mengadakan akad, tetapi ada juga dengan cara lain yang

dapat menggambarkan kehendak untuk berakad para ulama menerangkan beberapa cara yang

ditempuh dalam akad diantaranya:

a. Dengan cara tulisan, misalnya, ketika dua orang yang terjadi transaksi jual beli yang

berjauhan maka ijab qabul dengan cara tulisan (kitbah).

b. Dengan cara isyarat, bagi orang yang tidak dapat melakukan akad jual beli dengan

cara ucapan atau tulisan, maka boleh menggunakan isyarat. Sehingga muncullah

kaidah:

ن بن ب ش خ ةد ة ش

isyarat bagi orang bisu sama dengan ucapan lidah (Suhendi, 2007:49).

c. Dengan cara ta’ahi (saling memberi), misalnya, seseorang melakukan pemberian kepada orang lain, dan orang yang diberi tersebut memberikan imbalan kepada

orang yang memberinya tanpa ditentukan besar imbalan

d. Dengan cara lisan al-hal, menurut sebagian ulama mengatakan, apabila seseorang

meninggalkan barang-barang dihadapan orang lain kemudian orang itu pergi dan

(7)

akad ida’ (titipan) antara orang yang meletakkan barang titipan dengan yang di tinggali.

Dengan demikian akad ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli belum

dikatakan sah sebelum ijab dan qobul dilakukan sebab ijab qabul menunjukkan kerelaan

(keridhaan). Ijab qabul boleh dilakukan dengan lisan atau tulis. Ijab qabul dalam bentuk

perkataan atau dalam bentuk perbuatan yaitu saling memberi (penyerahan barang dan

penerimaan uang). Pada dasarnya akad bapat dilakukan dengan lisan langsung tetapi bila

orang bisu maka ijab qobul tersabut dapat dilakukan dengan surat menyurat yang pada intinya

mengandung ijab qobul.10 Jadi akad (transaksi), yaitu: segala tindakan yang dilakukan

kedua-belah pihak yang menunjukkan mereka sedang melakukan transaksi, baik tindakan tersebut

berbentuk kata-kata atau perbuatan. 11

Ijab adalah perkataan penjual,umpamanya, “saya jual barang ini sekian”.qabul adalah ucapan si pembeli, “saya terima (saya beli) dengan harga sekian”.menurut beberapa ulama berpendapat bahwa lafaz itu tidak menjadi rukun,hanya menurut adat kebiasaan saja. Tetapi

menurut ulama yang mewajibkan lafaz harus memenuhi beberapa syarat yaitu:

a. Keadaan ijab dan qabul saling berhubungan.artinya salah satu dari keduanya pantas

menjadi jawaban dari yang lain dan waktunya belum berselang lama.

b. Makna dari keduanya hasil musyawarah bersama walaupun lafaz keduanya

berlainan.

c. Keduanya tidak di sangkutkan dengan urusan yang lain,misalnya katanya “jika saya jadi pergi,saya jual barang ini sekian”.

d. Tidak berwaktu,karena jual beli berwaktu seperti seminggu,sebulan,setahun atau

lainnya maka tidak sah.12

Syarat keabsahan akad jual beli ada dua macam yaitu syarat umum dan syarat khusus.

Adapun syarat umum adalah syarat-syarat yang telah di sebutkan di atas dan di tambah empat

syarat, yaitu;

1. Barang dan harganya di ketahui (nyata);

10

Shobirin,“Jual Beli dalam Pandangan Islam”, Jurnal Bisnis, (Vol. 3, No. 2, Desember 2015), h. 8-9 11

Yusuf Al Subaily alih bahasa oleh Erwandi Tarmizi, “Pengantar fiqh muamalat dan

aplikasinya dalam ekonomi modern”, ( Mahasiswa S3 Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad Saud), h.7.

12

(8)

2. Jual beli tidak boleh bersifat sementara (muaqat), karena jual beli merupakan

akad tukar menukar untuk perpindahan hak selamanya;

3. Transaksi jual beli harus membawa manfaat,dengan demikian maka tidak sah

jual beli dirham dengan dirham yang sama;

4. Tidak adanya syarat yang merusak transaksi,seperti syarat yang

menguntungkan salah satu pihak.syarat yang tidak di kenal dalam syara’ dan tidak di perkenankan secara adat atau kebiasaan suatu masyarakat.13

Sementara syarat khusus ada lima yaitu:

1. Penyerahan barang menjadi objek transaksi sekiranya barang tersebut dapat di

serahkan atau barang tidak bergerak dan di takutkan akan rusak bila tidak

segera di serahkan;

2. Diketahuinya harga awal pada jual beli murabahah,tauliyah,dan wadi’ah; 3. Barang dan harga penggantinya sama nilainya;

4. Terpenuhinya syarat salam, seperti penyerahan uang sebagaimodal dalam jual

beli saham;

5. Salah satu barang yang di tukar bukan hutang piutang.14

Selain syarat di atas ada syarat tambahan yang menentukan keabsahan sebuah akad

setelah syarat terbentuknya akad terpenuhi.syarat tambahan ini ada empat macam,yaitu:

1. Pernyataan kehendaak harus di lakukan secara bebas,tanpa paksaan dari pihak

manapun;

2. Penyerahan objek transaksi jual beli tidak menimbulkan bahaya;

3. Bebas dari gharar

4. Bebas dari riba

Syarat keabsahan di atas menentukan sah tidaknya sebuah akad jual beli. Apabila

sebuah akad tidak memenuhi syarat-syarat tersebut meskipun rukun dan syaratnya

terbentuknya akad sudah terpenuhi akad tidak sah. Akad semacam ini dinamakan akad fasid. Menurut ulama kalangan Hanafiyah akad fasid adalah akad yang menurut syara’sah pokoknya,tetapi tidak sah sifatnya.artinya akad yang telah memenuhi rukun dan syarat

terbentuknya tetapi belum memenuhi syarat keabsahannya.15

13

Wahbah al-Zuhaili sebagaimana di kutip oleh Imam Mustofa, Fiqih Muamalah… ,h.25 14

Ibid., h. 26. 15

(9)

Syarat mengikat dalam akad jual beli.16 Sebuah akad yang sudah memenuhi rukun dan

berbagai syarat sebagaimana di jelaskan di atas,belum tentu membuat akad tersebut dapat

mengikat para pihak yang telah melakukan akad.ada syarat yang menjadikannya mengikat para

pihak yang melakukan akad jual beli:

1. Terbebas dari sifat atau syarat yang pada dasarnya tidak mengikat para pihak

2. Terbebas dari khiyar, akad yang masih tergantung dengan hak khiyar baru

mengikat ketika hak khiyar telah berakhir,selama hak khiyar belum

berakhir,maka akad tersebut belum mengikat.

Apapun bentuk jual beli,apapun cara dan media transaksinya,maka harus memnuhi

syarat dan rukun sebagaimana di jelaskan di atas.transaksi di dunia maya sebagai salah satu

bentuk jual beli juga harus memenuhi syarat-syarat di atas.17

4. Ada barang yang dibeli

Syarat yang diperjualbelikan, adalah sebagai berikut :

1. Barang itu ada, atau tidak ada ditempat, tetapi pihak penjual menyatakan sanggup untuk

mengadakan barang itu

2. Barang tersebut dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia. Oleh karena itu

keluar dari syarat ini adalah menjual khamar, bangkai haram untuk diperjualbelikan, karena tidak bermanfaat bagi manusia dalam pandangan syara’

3. Milik seseorang. Maksudnya adalah barang yang belum milik seseorang tidak boleh

menjadi objek jual beli, seperti menjual ikan yang masih di laut, emas yang masih dalam

tanah, karena keduanya belum menjadi milik penjual.

4. Dapat diserahkan pada saat akad berlangsung, atau pada waktu yang telah disepakati.18

16

Wahbah al-zuhaili sebagaimana di kutip oleh Imam Mustofa, Fiqih Muamalah… ,h. 26 17

Imam Mustofa, Fiqih Muamalah…, h.27

18Syaifullah, “Etika Jual Beli Dalam Islam”,

(10)

B. PENUTUP

Rukun secara bahasa adalah yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan

(DIKNAS,2002:966). Sedangkan syarat adalah ketentuan (peraturan, petunjuk) yang harus

diindahkan dan dilakukan (DIKNAS, 2002:1114).Menurut istilah rukun diartikan dengan sesuatu

yang terbentuk (menjadi eksis) sesuatu yang lain dari keberadaannya, mengingat eksisnya

sesuatu itu dengan rukun (unsurnya) itu sendiri, bukan karena tegaknya.Kalau tidak demikian,

maka subjek (pelaku) berarti menjadi unsur bagi pekerjaan, dan jasad menjadi rukun bagi

sifat,dan yang disifati (al-maushuf) menjadi unsur bagi sifat(yang mensifati). Adapun syarat,

menurut terminology para fuqaha seperti diformulasikan Muhammad Khudlari Bek, ialah

sesuatu yang ketidakadaannya mengharuskan (mengakibatkan) tidak adanya hukum itu sendiri.

Secara defenisi, rukun adalah suatu unsur yang merupakan bagian tak terpisahkan dari

suatu perbuatan atau lembaga yang menentukan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dan ada

atau tidak adanya sesuatu itu (Dahlan, 1996:.1510). Perbedaan antara rukun dan syarat

menurut ulama ushul fiqih, yaitu rukun merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan

hukum dan ia termasuk dalam hukum itu sendiri, sedangkan syarat merupakan sifat yang

kepadanya tergantung keberadaan hukum, tetapi ia berada di luar hukum itu sendiri (Dahlan,

1996: 1692). Rukun dan syarat jual beli dalam islam penjual dan pembeli, ada nilai tukar

pengganti barang, ada shighat (lafal ijab dan kabul), dan ada barang yang dibeli. Apapun

bentuk jual beli,apapun cara dan media transaksinya,maka harus memnuhi syarat dan rukun

sebagaimana di jelaskan di atas.transaksi di dunia maya sebagai salah satu bentuk jual beli

(11)

C. DAFTAR PUSTAKA

Shobirin, “Jual Beli dalam Pandangan Islam”, Jurnal Bisnis, Vol. 3, No. 2, Desember 2015

Imam Mustofa, Fiqih muamalah Kontemporer, Metro:STAIN Jurai Siwo Metro Lampung,2014

Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013.

Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer, Jakarta:Rajawali Pers ,2016.

Muhammad Rizki Romadhon, Jual Beli Online Menurut Madzhab Asy-Syafi’I, Jawa Barat: Pustaka Cipasung,2015.

M. Ali Hasan sebagaimana dikutip oleh Syaifullah M.S, Etika Jual Beli Dalam Islam, Jurnal

Studia Islamik,(IAIN Palu Jl. Diponegoro No. 23 Palu, Vol. 11, No. 2, Desember 2014.

Siti Mujiatun,“Jual Beli Dalam Perspektif Islam : Salam Dan Istisna”, Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Vol. 13 No . 2 ,

September 2013.

Abdurrahman Ibnu Iwadh al-juzburi sebagaimana di kutip oleh Yasinta Devi, “Analisa Hukum Islam Tentang Jual Beli Gold Pada game Online Jenis World Of Warcraft (WOW)”, Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2010.

Santoso, “Perspektif Hukum Islam Terhadap Kitab Undang-Undang Hukum (KUH) Perdata Pasal 1467 Tentang Larangan Jual Beli Antara Suami dan Istri”, Jurnal Penelitian Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia, Vol. 8, No. 2, Agustus 2014.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...