• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN CD INTERAKTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN CD INTERAKTI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN CD INTERAKTIF MELALUI SIKLUS BELAJAR TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR

Evi Ayu Candra Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]

Abstrak: Media yang ditawarkan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam mempelajari materi yang prosesnya sulit diamati secara langsung yaitu dengan media pembelajaran CD interaktif. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Lawang dengan sampel penelitian yaitu siswa kelas XI IA 1 dan XI IA 4 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas XI IA 2 dan XI IA 3 sebagai kelas kontrol. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian pre test-post test nonequivalent group design. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar afektif yang tidak signifikan antara siswa yang memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran melalui strategi konvensional. Hasil yang lain menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara siswa yang memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran melalui strategi konvensional.

Kata kunci: CD interaktif, motivasi, hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif

Abstract: Offered media to overcome students’ difficulties in learning subjects whose process is difficult to observe directly is by interactive CD learning media. This research was held in Public Senior High School 1 Lawang with the research’s sample is students of class XI IA 1 and XI IA4 as experiment class and students of class XI IA 2 and XI IA3 as control class. Scheme used in this research is a quasi-experimental research scheme with research design pre test-post test nonequivalent group design. This research shows that there is a different study motivation and affective study result which are not significant between students used interactive CD through study cycle with they who got learning through conventional strategy. The other result shows that there is a different cognitive study result which is significant between students used interactive CD through study cycle with they who got learning through conventional strategy.

Keywords: interactive CD, motivation, cognitive study result, affective study result

(2)

sulit dalam menjelaskan materi pelajaran biologi terutama mengenai kejadian yang berkaitan dengan alam sekitar yang prosesnya sulit diamati secara langsung, misalnya tentang sistem pertahanan tubuh dan sistem reproduksi manusia.

Materi sistem reproduksi manusia sebagian bersifat abstrak karena terjadi di dalam saluran reproduksi, sehingga perlu adanya media yang dapat membantu siswa memahami materi sistem reproduksi dengan baik. Sedangkan mekanisme pertahanan tubuh manusia bersifat abstrak karena tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu guru memerlukan media untuk menjelaskan konsep pertahanan tubuh. Berdasarkan observasi dari guru di SMAN 1 Lawang, Strategi yang paling sering digunakan pada kelas ekperimen (kelas XI IA 1 dan XI IA 4) yaitu ceramah, kerja mandiri, diskusi kelompok, diskusi kelas dan praktikum. Namun hasil dari penerapan strategi belajar tersebut kurang optimal pada siswa. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya keaktifan siswa pada saat diskusi kelompok, mereka takut salah ketika berpendapat, kurang interaktif dalam pembelajaran, merasa cepat bosan karena kebanyakan materi kelas XI adalah materi yang sulit diamati secara langsung seperti sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem ekskresi, dan sistem regulasi. Dengan demikian ketika mereka termotivasi untuk belajar, mereka cenderung tidak mendapatkan informasi yang memperjelas keabstrakan proses materi yang sedang dipelajari. Akibatnya mereka cepat merasa bosan, sehingga pembelajaran yang dilakukan dinilai kurang menarik bagi siswa. Jika motivasi sudah mengalami penurunan, maka dampak yang nyata terlihat pada hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari nilai ulangan siswa yang lebih dari 50% siswa tidak tuntas atau harus mengikuti ulangan remidi untuk memperbaiki nilainya.

Upaya yang pernah dilakukan oleh guru agar pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan adalah dengan membuat gambar di papan tulis untuk memperjelas materi yang sulit diamati dan menyuruh siswa mencatat materi yang sudah dijelaskan oleh guru, serta tanya jawab antara guru dengan siswa. Tetapi hal ini ternyata masih belum dapat membuat siswa terdorong untuk belajar dengan baik karena respon balik siswa yang kurang dilihat dari siswa yang cenderung diam dan takut salah dalam menjawab pertanyaan dari guru. Solusi lain ditawarkan adalah pembelajaran dengan media yang diperoleh dari internet. Media tersebut juga dapat digunakan oleh siswa dalam memperoleh informasi, namun masih menimbulkan masalah-masalah selama proses pembelajaran yaitu memerlukan banyak biaya, kurangnya penguasaan keterampilan internet dapat menghambat proses men-download/mengunduh informasi dan menghambat komunikasi dengan pihak lain melalui chatting, e-mail, dan jejaring sosial. Selain itu, informasi yang didapat kadang sederhana atau terlalu umum, kadang malah terlalu spesifik untuk siswa SMA karena memakai istilah-istilah ilmiah yang belum dimengerti siswa SMA (Soekartawi dalam Wirastuti, 2011: 4).

(3)

Media yang ditawarkan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam mempelajari sistem reproduksi manusia dan sistem pertahanan tubuh adalah dengan media pembelajaran CD interaktif. Keistimewaaan media CD interaktif dapat digunakan offline sehingga biaya murah, dibuat berdasarkan materi yang komprehensif dan lengkap, menggunakan kalimat yang dimengerti siswa, interaktif dan relevan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa (Alessi dan Trollip, dalam Wirastuti, 2011: 5), dan memiliki keterkaitan konsep yang satu dengan konsep yang lain sehingga diharapkan siswa dapat memahami konsep secara menyeluruh.

Lebih lanjut menurut Wilson dalam Eristi dan Belet (2010), CD interaktif sebagai media pembelajaran interaktif dapat menarik perhatian yang berbeda, memungkinkan untuk mengirim informasi yang abstrak ke situasi nyata, menyediakan peluang siswa-siswa untuk belajar melangkah, menambah motivasi siswa selama melakukan aktivitas belajar, membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik, memungkinkan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, mendukung pengiriman informasi dengan fasilitas multimedia seperti grafik, gambar, video/suara/animasi.

CD interaktif juga termasuk dalam kelompok multimedia. Ada empat komponen penting multimedia, yaitu: Pertama, harus ada computer yang mengkoordinasikan apa yang dilihat dan didengar yang berinteraksi dengan pengguna. Kedua, harus ada link yang menghubungkan pengguna dengan informasi. Ketiga, harus ada alat navigasi yang memandu pengguna, menjelajah jaringan informasi yang saling terhubung. Keempat, multimedia menyediakan tempat kepada pengguna untuk mengumpulkan, memproses, dan mengkomunikasikan informasi ide pengguna sendiri. Sedangkan interaktif berarti pengguna aplikasi dapat mengatur urutan jalannya aplikasi, mengatur tempo dan yang lebih penting yaitu memilih apa yang ingin dilihat dan bagian mana yang tidak ingin dilihat. Oleh karena itu, penggabungan media untuk menyampaikan informasi merupakan suatu hal yang bagus, tetapi penambahan interaksi akan jauh lebih bagus (Dewi, 2011).

METODE

Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar pada pembelajaran biologi yang menggunakan metode berbasis komputer CD interaktif dengan pembelajaran konvensional yang menggunakan metode diskusi dan ceramah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimen semu (quasi experiment design) dengan rancangan pre test-post test non equivalent control group design pada kedua kelompok sampel penelitian. Kedua kelompok mendapatkan perlakuan yang sama dari segi tujuan dan isi materi pembelajaran. Perbedaan antara kedua kelompok tersebut adalah digunakan metode berbasis komputer CD interaktif pada kelompok eksperimen sedangkan diskusi dan ceramah adalah kelompok kontrol. Pengetahuan awal siswa dalam penelitian digunakan sebagai variabel luar yang dikendalikan secara statistik dengan pre tes dan digunakan dalam uji statistik dengan analisis kovarian (anakova).

(4)

penelitian meliputi guru, jumlah jam pelajaran, sarana dan prasarana, serta kurikulum yang sama. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif kualitatif. Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dapat digambarkan sebagai berikut.

X1 Y1 X2 Y1

Y2 Y2

Y3 Y3

Gambar 1 Hubungan antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat.

Keterangan

X1 : pembelajaran biologi menggunakan CD interaktif pada kelompok eksperimen

X2: pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol

Y1: motivasi belajar siswa

Y2: hasil belajar kognitif

Y3: hasil belajar afektif

Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Lawang. Sedangkan pemilihan sampel dari populasi penelitian diambil dari empat kelas yang kondisi prestasi belajarnya hampir sama yaitu siswa kelas XI IA1, XI IA2, XI IA3, dan XI IA4 SMAN 1 Lawang sehingga data yang digunakan sebagai sampel menjadi representatif. Siswa kelas XI IA1 dan XI IA4 sebagai kelompok perlakuan dan siswa kelas XI IA2 dan XI IA3 sebagai kelompok kontrol atas dasar penunjukan (purposive sampling).

INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen yang digunakan dalam penelitian terdiri dari instrumen variabel bebas dan instrumen variabel terikat.

A. Instrumen variabel bebas antara lain.

1. Lembar Observasi, digunakan untuk penilaian apakah pembelajaran telah sesuai dengan sintaks pembelajaran berbasis komputer CD interaktif. Keterlaksanaan pembelajaran yang diamati meliputi kegiatan guru dan kegiatan siswa selama proses pembelajaran serta motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.

2. Catatan Lapangan, digunakan untuk mencatat hal-hal yang terkait dengan penelitian namun belum tercantum dalam lembar observasi. Aspek yang diamati adalah kegiatan siswa saat keterlaksanaan setiap sintaks dari pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis komputer CD interaktif.

B. Instrumen variabel terikat antara lain.

1. Angket motivasi belajar siswa adalah instrumen yang digunakan dalam melakukan penilaian motivasi belajar siswa sebelum dilakukan perlakuan dan sesudah diberi perlakuan.

2. Tes hasil belajar kognitif adalah instrumen yang digunakan dalam penilaian hasil belajar kognitif yang dilakukan dengan cara tes. Tes kognitif didapat dengan cara pre tes dan pos tes.

(5)

diberikan siswa mencakup aspek kognisi, afeksi, dan konasi dengan tingkat kesetujuan yang berbeda, yaitu sangat setuju (SS), setuju (ST), ragu-ragu (RR), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Pemberian skor untuk pernyataan positif diberi urutan dari SS, ST, RR, TS, dan STS dengan bobot skor 5,4,3,2, dan 1. Sedangkan untuk pernyataan negatif diberi bobot skor sebaliknya yaitu 1,2,3,4, dan 5.

Instrumen penelitian ini dijelaskan pada Tabel 1. Tabel 1 Instrumen Penelitian

No Variabel Instrumen

Teknis Pengumpulan

Data

1 Pembelajaran dengan CD

interaktif

Lembar observasi keterlaksaan pembelajaran oleh guru

Lembar observasi keterlaksaan pembelajaran oleh siswa

Catatan lapangan

Observasi

Observasi

Observasi 2 Motivasi belajar siswa

a.Attention (perhatian terhadap pelajaran) b.Relevance (keterkaitan) c.Confidence (keyakinan

diri/percaya diri) d. Satisfaction (kepuasan)

Angket motivasi belajar siswa

Angket motivasi belajar siswa Angket motivasi belajar siswa

Angket motivasi belajar siswa

Observasi

Observasi Observasi

Observasi

3 Hasil belajar siswa a. Kognitif

b. Afektif

Tes hasil belajar kognitif

Tes hasil belajar afektif

Tes hasil belajar kognitif

Tes hasil belajar afektif

Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Tahap persiapan, dilakukan penyusunan instrumen penelitian baik instrumen berupa perangkat kegiatan pembelajaran maupun instrumen mengumpulkan data.

2. Tahap pre tes, dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan terhadap kedua kelas penelitian yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen.

3. Tahap pelaksanaan pembelajaran, merupakan proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran CD interaktif pada kelas eksperimen dan menggunakan strategi pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

4. Tahap pos tes, dilaksanakan setelah siswa melaksanakan proses pembelajaran untuk mengetahui atau mengevaluasi hasil proses pembelajaran yang dilaksanakan.

5. Tabulasi data, untuk memudahkan dalam analisis data hasil penelitian. Data-data dimasukkan dalam tabel sehingga mudah untuk dianalisis.

(6)

antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sebelum dilakukan uji anakova, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas data dan uji homogenitas varian. Uji statistik pada penelitian ini menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Observasi juga dilakukan selama kegiatan pembelajaran guna mengetahui keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dan pembelajaran yang dialami oleh siswa berdasarkan deskriptor yang telah direncanakan. Pencatatan data selama observasi dibantu oleh satu observer dengan menggunakan instrumen berupa lembar keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dan siswa yang telah disusun sebelum pelaksanaan penelitian.

HASIL

Deskripsi Data Hasil Penelitian

1. Keterlaksanaan Pembelajaran Menggunakan CD Interaktif melalui Siklus Belajar

Keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dan siswa dapat diketahui dari lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dan siswa yang didalamnya berisi perolehan deskriptor yang muncul selama pembelajaran. Data keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dan siswa selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2 Keterlaksanaan Pembelajaran Oleh Guru dan Siswa

Pembelajaran Deskriptor yang

muncul Total Deskriptor

Keterlaksanaan Pembelajaran (%)

Oleh Guru 12 12 100

Oleh Siswa 12 12 100

Rerata 12 12 100

Hasil perhitungan keterlaksanaan pembelajaran menggunakan CD interaktif selama pembelajaran adalah 100% yang artinya bahwa pembelajaran yang dilakukan selama penelitian di kelas eksperimen sudah sesuai dengan deskriptor atau proses pembelajaran yang telah direncanakan.

Sedangkan catatan lapangan digunakan untuk mencatat hal-hal yang terkait dengan penelitian namun belum tercantum dalam lembar observasi. Aspek yang diamati adalah kegiatan siswa saat keterlaksanaan setiap sintaks dari pembelajaran menggunakan CD interaktif melalui siklus belajar.

2. Motivasi Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Lawang

Rata-rata nilai motivasi belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol tertera pada Tabel 3 dan disajikan pada Gambar 2 berikut agar menjadi lebih jelas. Pada Gambar 2 terlihat bahwa rata-rata nilai motivasi belajar siswa pada kelas kontrol lebih besar daripada kelas eksperimen. Besarnya persentase peningkatan rata-rata nilai pos tes pada kelas eksperimen berdasarkan nilai pre tes sebesar 1,66%. Sedangkan persentase peningkatan rata-rata nilai pos tes pada kelas kontrol sebesar 1,65%.

Tabel 3 Rata-rata Nilai Motivasi Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

No. Kelas Rata-rata

Nilai Pre tes Kategori

Rata-rata

Nilai Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

1 Eksperimen 78,4 Baik 79,7 Baik 1,66%

(7)

Gambar 2 Histogram Rata-rata Nilai Motivasi Belajar Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Berdasarkan pada setiap aspek motivasi yaitu Attention (A), Relevance (R), Confidence (C), dan Satisfaction (S), maka didapatkan rata-rata nilai setiap aspek motivasi tertera pada Tabel 4 dan 5 berikut.

Tabel 4 Rata-rata Nilai Setiap Aspek Motivasi pada Kelas Eksperimen

No. Aspek

Motivasi

Rata-rata

Pre tes Kategori

Rata-rata

Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

1 Attention 73,9 Cukup 73,9 Cukup 0%

2 Relevance 85,6 Sangat Baik 88,1 Sangat Baik 2,9%

3 Confidence 78,2 Baik 79,9 Baik 2,2%

4 Satisfaction 80,5 Baik 82,4 Baik 2,4%

Tabel 5 Rata-rata Nilai Setiap Aspek Motivasi pada Kelas Kontrol

No. Aspek

Motivasi

Rata-rata

Pre tes Kategori

Rata-rata

Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

1 Attention 72,1 Cukup 73,3 Cukup 1,6%

2 Relevance 86,4 Sangat Baik 86,8 Sangat Baik 0,5%

3 Confidence 79,0 Baik 81,1 Baik 2,7%

4 Satisfaction 82,4 Baik 83,7 Baik 1,6%

Berdasarkan Tabel 4, rata-rata nilai setiap aspek motivasi kelas eksperimen disajikan dalam histogram pada Gambar 3 yang menunjukkan rata-rata nilai pos tes dari 3 aspek motivasi pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pre tes atau dengan kata lain mengalami peningkatan. Namun ada yang tidak mengalami peningkatan (tetap) pada aspek motivasi yaitu pada Attention (A).

(8)

Gambar 3 Histogram Rata-rata Nilai Setiap Aspek Motivasi pada Kelas Eksperimen

Gambar 4 Histogram Rata-rata Nilai Setiap Aspek Motivasi pada Kelas Kontrol

3. Hasil Belajar Kognitif Kelas XI SMA Negeri 1 Lawang

Rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol tertera pada Tabel 6 dan disajikan pada Gambar 5 agar menjadi lebih jelas. Pada Gambar 5 terlihat bahwa rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa pada kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Besarnya persentase peningkatan rata-rata nilai pos tes pada kelas eksperimen berdasarkan nilai pre tes sebesar 76,7%. Sedangkan persentase peningkatan rata-rata nilai pos tes pada kelas kontrol sebesar 71,6%.

Tabel 6 Rata-rata Nilai Hasil Belajar Kognitif Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

No. Kelas Rata-rata

Nilai Pre tes Kategori

Rata-rata

Nilai Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

1 Eksperimen 44,6 Sangat

Kurang 78,8 Baik 76,7%

2 Kontrol 42,6 Sangat

Kurang 73,1 Cukup 71,6%

(9)

Gambar 5 Histogram Rata-rata Nilai Hasil Belajar Kognitif Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.

Tabel 7 Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Kognitif pada Kelas Eksperimen

Aspek Kognitif Rata-rata

Pre tes Kategori

Rata-rata

Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

C1 52,7 Kurang 80,1 Baik 52,2%

C2 38,8 Sangat Kurang 81,3 Baik 109,4%

C3 40,4 Sangat Kurang 77,2 Baik 90,8%

C4 56,3 Kurang 83,3 Baik 47,9%

C5 31,3 Sangat Kurang 72,0 Cukup 129,9%

C6 40,5 Sangat Kurang 73,2 Cukup 80,8%

Tabel 8 Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Kognitif pada Kelas Kontrol

Aspek Kognitif Rata-rata

Pre tes Kategori

Rata-rata

Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

C1 44,1 Sangat Kurang 75,1 Baik 70,2%

C2 36,4 Sangat Kurang 76,0 Baik 108,9%

C3 39,2 Sangat Kurang 65,4 Cukup 66,6%

C4 49,0 Sangat Kurang 76,8 Baik 56,6%

C5 31,3 Sangat Kurang 71,8 Cukup 129,2%

C6 44,4 Sangat Kurang 68,6 Cukup 54,6%

(10)

Gambar 7 Histogram Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Kognitif pada Kelas Kontrol.

Berdasarkan Tabel 7, rata-rata nilai setiap aspek hasil belajar kognitif kelas eksperimen disajikan dalam histogram pada Gambar 6 yang menunjukkan bahwa rata-rata nilai pos tes dari seluruh aspek hasil belajar kognitif pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pre tes atau dengan kata lain mengalami peningkatan. Berdasarkan Tabel 8, rata-rata nilai setiap aspek hasil belajar kognitif kelas kontrol disajikan dalam histogram pada Gambar 7 yang menunjukkan bahwa rata-rata nilai pos tes dari seluruh aspek hasil belajar kognitif pada kelas kontrol lebih tinggi dari pre tes atau dengan kata lain juga mengalami peningkatan sama seperti pada kelas eksperimen. Namun, jika dilihat dari besarnya peningkatan nilai pre tes dan pos tes antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka kelas eksperimen menunjukkan peningkatan yang lebih besar pada beberapa aspek hasil belajar kognitif yaitu pada C2, C3, dan C5.

4. Hasil Belajar Afektif Kelas XI SMA Negeri 1 Lawang

Rata-rata nilai hasil belajar afektif siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol tertera pada Tabel 9 dan disajikan pada Gambar 8 agar menjadi lebih jelas. Pada Gambar 8 terlihat bahwa rata-rata nilai hasil belajar afektif siswa pada kelas kontrol lebih besar daripada kelas eksperimen. Besarnya persentase peningkatan rata-rata nilai pos tes pada kelas eksperimen berdasarkan nilai pre tes sebesar 1,67%. Sedangkan persentase peningkatan rata-rata nilai pos tes pada kelas kontrol sebesar 1,66%. Berdasarkan pada setiap aspek hasil belajar afektif yaitu A2, A3, A4, dan A5, maka didapatkan rata-rata nilai setiap aspek hasil belajar afektif tertera pada Tabel 10 dan 11.

Tabel 9 Rata-rata Nilai Hasil Belajar Afektif Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

No. Kelas Rata-rata

Nilai Pre tes Kategori

Rata-rata

Nilai Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

1 Eksperimen 83,9 Baik 85,3 Sangat

Baik 1,67%

2 Kontrol 84,5 Baik 85,9 Sangat

(11)

Gambar 8 Histogram Rata-rata Nilai Hasil Belajar Afektif Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.

Tabel 10 Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Afektif pada Kelas Eksperimen

Aspek Afektif Rata-rata

Pre tes Kategori

Rata-rata

Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

A2 80,3 Baik 84,7 Baik 5,4%

A3 85,8 Sangat Baik 85,9 Sangat Baik 0,1%

A4 82,9 Baik 83,6 Baik 0,8%

A5 85,7 Sangat Baik 86,7 Sangat Baik 1,2%

Tabel 11 Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Afektif pada Kelas Kontrol

Aspek Afektif Rata-rata

Pre tes Kategori

Rata-rata

Pos tes Kategori

Persentase Peningkatan

A2 83,1 Baik 85,6 Sangat Baik 3,0%

A3 85,6 Sangat Baik 87 Sangat Baik 1,6%

A4 82,9 Baik 82,9 Baik 0%

A5 86,2 Sangat Baik 87,9 Sangat Baik 2,0%

(12)

Gambar 9 Histogram Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Afektif pada Kelas Eksperimen.

Gambar 10 Histogram Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Afektif pada Kelas Kontrol.

Analisis Data Hasil Penelitian secara Statistik 1. Uji Prasyarat Analisis

a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas data pada penelitian ini dilakukan dengan Uji Kolmogorov-Smirnov. Data penelitian dikatakan terdistribusi normal jika nilai taraf signifikansi lebih dari 0,025. Taraf signifikansi hasil uji normalitas pada motivasi awal berdasarkan hasil pre tes sebesar 0,439 > 0,025. Sedangkan untuk taraf signifikansi hasil uji normalitas pada motivasi akhir berdasarkan hasil pos tes sebesar 0,471 > 0,025. Taraf signifikansi hasil uji normalitas pada hasil belajar kognitif awal berdasarkan hasil pre tes sebesar 0,098 > 0,025. Sedangkan untuk taraf signifikansi hasil uji normalitas pada hasil belajar kognitif akhir berdasarkan hasil pos tes sebesar 0,337 > 0,025. Taraf signifikansi hasil uji normalitas pada hasil belajar afektif awal berdasarkan hasil pre tes sebesar 0,709 > 0,025. Sedangkan untuk taraf signifikansi hasil uji normalitas pada hasil belajar afektif akhir berdasarkan hasil pos tes sebesar 0,491 > 0,025. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa data terdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas Data

(13)

taraf signifikansi pada motivasi akhir berdasarkan hasil pos tes sebesar 0,124 > 0,05. Taraf signifikansi pada hasil belajar kognitif awal berdasarkan hasil pre tes sebesar 0,098 > 0,05. Sedangkan untuk taraf signifikansi hasil belajar kognitif akhir berdasarkan hasil pos tes sebesar 0,989 > 0,05. Taraf signifikansi pada hasil belajar afektif awal berdasarkan hasil pre tes sebesar 0,734 > 0,05. Sedangkan untuk taraf signifikansi hasil belajar afektif akhir berdasarkan hasil pos tes sebesar 0,768 > 0,05. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulan bahwa data dikatakan homogen.

2. Uji Hipotesis Penelitian a. Motivasi Belajar

Berdasarkan perhitungan Anakova didapatkan kesimpulan bahwa nilai probabilitas strategi pembelajaran 0,839 atau lebih dari 0,05 sehingga hipotesis nol diterima dan hipotesis penelitian ditolak. Hal ini berarti bahwa media pembelajaran CD interaktif melalui siklus belajar tidak berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Walaupun secara statistik tidak signifikan, namun terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan antara rata-rata nilai pre tes dan rata-rata nilai pos tes baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol.

b. Hasil Belajar Kognitif

Berdasarkan perhitungan Anakova didapatkan kesimpulan bahwa nilai probabilitas strategi pembelajaran 0,000 atau kurang dari 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis penelitian diterima. Hal ini berarti media pembelajaran CD interaktif melalui siklus belajar berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa.

c. Hasil Belajar Afektif

Berdasarkan perhitungan Anakova didapatkan kesimpulan bahwa nilai probabilitas strategi pembelajaran 0,850 atau lebih dari 0,05 sehingga hipotesis nol diterima dan hipotesis penelitian ditolak. Hal ini berarti bahwa media pembelajaran CD interaktif melalui siklus belajar tidak berpengaruh terhadap hasil belajar afektif siswa. Walaupun secara statistik tidak signifikan, namun terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan antara rata-rata nilai pre tes dan rata-rata nilai pos tes baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol.

PEMBAHASAN Motivasi Belajar Siswa

(14)

Winkel dalam Rohman (2011) menyatakan bahwa terdapat 2 hal yang menunjukkan motivasi belajar siswa yaitu jika siswa merasa senang akan bergairah dan bersemangat, sebaliknya jika siswa merasa tidak senang akan tidak bergairah dan tidak bersemangat sehingga akan mengalami kesulitan, serta jika suatu objek dihayati sebagai suatu yang berharga, maka timbullah perasaan senang (positif) dan sebaliknya jika suatu objek tidak dihayati sebagai suatu yang berharga, maka timbullah perasaan tidak senang (negatif).

Hasil penelitian Gunawan (2008) di SMAN 2 Lamongan menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis CAI sangat efektif untuk pembelajaran materi perkembangan prenatal manusia. Kemp dan Dayton dalam Gunawan (2008:18) juga menambahkan bahwa media pembelajaran dengan CD interaktif selain membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik juga sikap positif siswa dapat ditingkatkan dan proses pembelajaran menjadi lebih interaktif. Hasil serupa diperoleh dari penelitian Wirastuti (2011) di SMAN 1 Kesamben yang menunjukkan bahwa CD interaktif Sistem Pertahanan Tubuh Manusia dapat membangkitkan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya meningkatkan hasil belajar siswa.

Hasil analisis pada setiap aspek motivasi belajar siswa menunjukkan adanya kecenderungan pengaruh pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar sebagai media pembelajaran biologi yang terdapat pada aspek motivasi belajar Relevance dan Satisfaction. Hal ini memperlihatkan bahwa siswa dapat menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi siswa akan terpelihara jika mereka menganggap bahwa apa yang telah dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi, atau dapat dikatakan bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang oleh siswa. Menurut Hamalik (2004:174) Kebutuhan pribadi merupakan kecenderungan-kecenderungan permanen dalam diri seseorang yang menimbulkan dorongan dan menimbulkan kelakuan untuk mencapai tujuan hidup. Kebutuhan ini timbul karena adanya perubahan (internal change) di dalam organisme. Perubahan inilah yang akan memunculkan energi dalam mencapai tujuan. Ketika tujuan tercapai, maka siswa akan merasa puas dan akan terus termotivasi mencapai tujuan yang serupa.

Berdasarkan analisis data, kecenderungan pengaruh pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar pada aspek Attention, jika dilihat dari besarnya persentase kelas eksperimen lebih rendah atau lebih tepatnya adalah tidak mengalami peningkatan daripada kelas kontrol. Hal ini terjadi mungkin karena kurang adanya rangsangan dari guru sampai siswa dapat memberikan perhatian pada materi yang sedang dipelajari. Menurut Suciati (dalam Rohman, 2011:30), perhatian siswa didorong rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu perlu mendapatkan rangsangan sehingga siswa akan memberikan perhatian dan perhatian tersebut terpelihara selama berlangsungnya pembelajaran, dan bahkan akan lebih lama dari itu. Namun jika dilihat dari analisis data, besarnya nilai motivasi awal maupun motivasi akhir pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai motivasi awal maupun motivasi akhir pada kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian selama pembelajaran biologi pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada pada kelas kontrol.

(15)

dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya mampu untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan. Kecenderungan pengaruh pemanfaatan CD interaktif juga terdapat pada Confidence (percaya diri) meskipun masih lebih rendah jika didasarkan pada perbedaan persentase peningkatan dengan kelas kontrol. Kecenderungan pengaruh dapat disebabkan motivasi internal setiap siswa berbeda. Motivasi internal (intrinsik) merupakan motivasi yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Menurut Mudjiono dan Dimyati (2006, 94), siswa adalah pebelajar yang paling berkepentingan dalam menghayati belajar. Ada siswa yang ingin memperoleh pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan sejak kecil. Siswa tersebut termasuk dalam siswa yang memiliki motivasi intrinsik.

Dalam proses belajar mengajar, peran guru untuk menguatkan motivasi intrinsik yaitu dengan melakukan tindakan mendidik seperti memberi hadiah, pujian, teguran, hukuman, atau nasihat. Oleh karena itu, penguatan motivasi belajar tersebut berada di tangan para guru/pendidik sepanjang hayat. Dalam melaksanakan pengajaran, guru harus mendorong siswa untuk mengaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dan mengaitkan apa yang dipelajari dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Selanjutnya siswa didorong untuk membangun kesimpulan yang merupakan pemahaman siswa terhadap konsep atau teori yang sedang dipelajari. Tahapan tersebut selaras dengan tahapan yang terdapat dalam siklus belajar. Siklus belajar menuntun guru untuk menggali pengetahuan awal siswa, menghubungkan pengetahuan tersebut dengan konsep yang dipelajari, serta mengembangkan konsep dengan situasi atau permasalahan baru yang terdapat di sekitarnya.

Hasil Belajar Kognitif

Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar sebagai media pembelajaran biologi berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa. Hal ini ditunjukkan dari nilai probabilitas strategi 0,000 < 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara siswa yang memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar dengan siswa yang mendapat pembelajaran melalui strategi konvensional.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wirastuti (2011) di SMAN 1 Kesamben yang menunjukkan bahwa pemanfaatan media CD interaktif Sistem Pertahanan Tubuh Manusia dapat meningkatkan aktivitas siswa, membangkitkan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya meningkatkan hasil belajar siswa dan menghemat waktu dalam proses belajar mengajar sehingga pembelajaran menjadi efektif dan efisien.

(16)

dapat merangkum materi dan menyaringnya sehingga siswa memiliki pola di dalam kerangka berpikirnya. Hal ini sesuai dengan kemampuan siswa yang dapat membuat rangkuman dan simpulan.

Sadiman (2009:23) mengungkapkan bahwa media mempunyai nilai-nilai praktis berupa kemampuan atau keterampilan untuk: 1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit, misalnya sistem peredaran darah manusia; 2) membawa objek yang sukar didapat atau berbahaya ke dalam lingkungan belajar, seperti binatang buas; 3) menampilkan objek yang terlalu besar ke dalam kelas, seperti candi dan pasar; 4) menampilkan objek yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, seperti mikroorganisme. Media CD interaktif ini menekankan pada karakter media untuk membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit, menampilkan objek yang tidak dapat dilihat dengan mata langsung.

Media CD interaktif ini memiliki kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan materi sistem pertahanan tubuh manusia dan sistem reproduksi manusia sehingga materi tersebut sangat mudah dipahami oleh siswa jika disampaikan dengan media CD interaktif yang dapat digunakan offline sehingga dapat menghemat biaya. Selain keistimewaan media tersebut sebagai bagian dari sistem pembelajaran, media mempunyai nilai-nilai praktis berupa kemampuan/keterampilan untuk menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan. Wirastuti (2011: 28-29) juga menambahkan bahwa media CD interaktif memungkinkan siswa mempercepat maupun memperlambat animasi/video sampai siswa memahami konsep yang telah dipelajari.

Pemanfaatan media CD interaktif ini dimasukkan dalam sintaks siklus belajar 4E sehingga menjadikan pembelajaran lebih berkesan dan menyenangkan. Siklus belajar merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Menurut Rohman (2011: 16), siklus belajar merupakan rangkaian proses pembelajaran yang memiliki tahap-tahap kegiatan yang diorganisasikan sehingga siswa secara aktif mampu menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran. Pada tahap eksplorasi, guru menggali pengetahuan awal siswa dan membangkitkan motivasi siswa sehingga memunculkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan materi yang sedang dipelajari. Pada tahap eksplanasi, tahap pembelajaran di mana siswa menemukan, membangun, dan menjelaskan konsep melalui kegiatan diskusi. Konsep tersebut adalah konsep yang merupakan jawaban dari masalah yang ditemukan siswa dalam tahap eksplorasi.

(17)

adalah siswa mampu menciptakan atau membuat suatu produk baru dari hubungan seluruh pengetahuan yang diperoleh sebelum maupun sesudah pembelajaran.

Kecenderungan pengaruh pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar sebagai media pembelajaran biologi juga terdapat pada aspek kognitif C1 meskipun masih lebih rendah jika didasarkan pada perbedaan persentase peningkatan dengan kelas kontrol. Kecenderungan pengaruh disebabkan karena pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar juga di arahkan pada pengetahuan yang berhubungan dengan kemampuan mengingat, hal ini disebut juga dengan recall (mengingat kembali). Pada tahap ingatan, materi yang diketahui oleh siswa hanyalah informasi yang dapat diingat saja. Oleh karena itu, tingkatan domain kognitif aspek pengetahuan adalah yang paling rendah. Walaupun aspek pengetahuan merupakan yang paling rendah, namun tidak dipungkiri bahwa ingatan juga sangat dibutuhkan siswa sebagai dasar untuk kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Seorang siswa yang kurang mampu dalam pengetahuannya, maka untuk berlanjut ke tahap yang lebih tinggi seperti memahami, akan mengalami hambatan/kesulitan. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan pada tingkat mengingat misalnya dengan membuat peta konsep, sehingga siswa memiliki kemampuan untuk menemukan kembali pengetahuan yang relevan yang terdapat dalam memori siswa.

Kecenderungan pengaruh pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar sebagai media pembelajaran biologi juga terdapat pada aspek kognitif C4 meskipun masih lebih rendah jika didasarkan pada perbedaan persentase peningkatan dengan kelas kontrol. Kecenderungan pengaruh disebabkan karena pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar juga di arahkan pada tingkat analisis yang menuntut siswa untuk mampu membandingkan, mendeteksi, dan menginvestigasi suatu permasalahan, serta rendahnya kemampuan siswa menjawab soal-soal aspek C4. Peran guru sangat diharapkan dalam melatih siswa supaya terbiasa mengerjakan soal-soal tingkat analisis.

Hasil Belajar Afektif

Hasil belajar afektif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, dan kepatuhan terhadap moral. Winkel dalam Rohman (2011) mengemukakan bahwa orang yang bersikap tertentu cenderung menerima/menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna/berharga bagi dirinya atau tidak berguna/ berharga. Dengan demikian, siswa memandang bahwa belajar merupakan sesuatu yang bermanfaat akan memiliki sikap yang positif. Sebaliknya jika siswa memandang belajar merupakan sesuatu yang tidak bermanfaat, maka akan memiliki sikap yang negatif. Sikap positif dan negatif mampu memunculkan penilaian yang spontan melalui perasaan dan berperanan sebagai aspek afektif dalam pembentukan sikap.

(18)

0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang tidak signifikan antara siswa yang memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar dengan siswa yang mendapat pembelajaran melalui strategi konvensional. Walapun secara statistik perbedaan hasil belajar afektif tidak signifikan, namun terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan yang lebih tinggi antara rata-rata nilai pre tes dengan rata-rata nilai pos tes pada kelas eksperimen dibandingkan pada kelas kontrol.

Hubungan media pembelajaran dengan hasil belajar afektif lebih lanjut dijelaskan oleh Levie & Lentz (dalam Wirastuti, 2011: 19) bahwa fungsi afektif pada media pembelajaran yaitu media dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial. Menurut Arikunto (2008: 177), ranah afektif tidak dapat diukur setiap saat (pengukuran formal) karena perubahan tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu-waktu. Pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama. Cronbach dalam Arikunto (2008: 178) juga menjelaskan bahwa pernyataan afektif tidak menuntut jawaban yang benar ataupun salah, namun yang diinginkan adalah jawaban khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap, dan internalisasi nilai. Oleh karena itu, diharapkan siswa belajar bukan hanya untuk menambah pengetahuan, melainkan juga untuk berubah, artinya belajar merupakan suatu usaha untuk mengubah tingkah laku yang lebih baik.

Hasil analisis pada setiap aspek hasil belajar afektif menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan yang lebih tinggi dengan memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar sebagai media pembelajaran biologi terdapat pada aspek afektif A2 dan A4. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman konsep yang diperoleh siswa selama pembelajaran dengan memanfaatkan CD interaktif dapat meningkatkan tanggapan positif untuk mempelajari bahan-bahan materi yang diterima ketika pembelajaran. Siswa juga dapat mengkonsepsualisai hubungan antara nilai-nilai, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimiliki. Walaupun persentase peningkatan lebih rendah dari A2 dan A4, namun aspek A5 yang merupakan domain afektif paling tinggi juga mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya internalisasi nilai-nilai yang mengarahkan pada pribadi siswa.

Kecenderungan pengaruh pemanfaatan CD interaktif melalui siklus belajar sebagai media pembelajaran biologi yang masih perlu ditingkatkan adalah pada aspek afektif A3. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih belum mampu memberikan penilaian yang baik terhadap apa yang dilakukannya. Oleh karena itu guru diharapkan dapat membimbing siswa dalam menumbuhkan rasa percaya diri bahwa yang dilakukan oleh siswa itu sendiri adalah benar.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan hasil pembahasan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

(19)

konvensional. Namun terdapat kecenderungan peningkatan rata-rata nilai motivasi yang lebih tinggi pada kelas eksperimen daripada kelas kontrol. 2. Media pembelajaran CD interaktif melalui siklus belajar berpengaruh

terhadap hasil belajar kognitif siswa. Hal ini ditunjukkan dari nilai probabilitas strategi 0,000 < 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara siswa yang memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar dengan siswa yang mendapat pembelajaran melalui strategi konvensional.

3. Media pembelajaran CD interaktif melalui siklus belajar tidak berpengaruh terhadap hasil belajar afektif siswa. Hal ini ditunjukkan dari nilai probabilitas strategi 0,850 > 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang tidak signifikan antara siswa yang memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar dengan siswa yang mendapat pembelajaran melalui strategi konvensional. Namun terdapat kecenderungan peningkatan rata-rata nilai hasil belajar afektif yang lebih tinggi pada kelas eksperimen daripada kelas kontrol.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian diajukan saran sebagai berikut.

1. Guru bidang studi dapat memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar sebagai media pembelajaran biologi yang dapat dipadukan dengan strategi pembelajaran yang lain karena terbukti keberhasilannya untuk meningkatkan hasil belajar kognitif.

2. Dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan memanfaatkan CD interaktif melalui siklus belajar yang dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar psikomotor atau kemampuan yang lain seperti metakognitif dan berpikir kritis.

3. Dalam pembelajaran, guru diharapkan dapat memberikan pengalaman pembelajaran yang baru untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. 4. Diharapkan pemanfaatan CD interaktif dapat digunakan sebagai alternatif

media pembelajaran biologi disamping media pembelajaran yang lain.

5. Dapat dilakukan penelitian lagi dengan populasi yang lebih luas agar dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah yang lain.

DAFTAR RUJUKAN

Ali, M. dan T. Sukisno. 2007. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia untuk Memfasilitasi Belajar Mandiri pada Matakuliah Medan Elektromagnetik di Jurusan Pendidikan elektro FT UNY, (Online), (http://www.elektro.uny.ac.id/muhal, diakses 10 Juli 2011).

Ali, Muhamad. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Mata Kuliah Medan Elektromagnetik. Jurnal Edukasi@Elektro. Volume 5, No.1.

(20)

Dewi, Arfita Restu Kurnia. 2011. Analisis dan Perancangan Aplikasi Multimedia Pembelajaran Biologi Untuk SMA Kelas XI. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas.

Eristi, Suzan Duygu and Belet, Serife Dilek. 2010. Teachers’ and Students’ Opinions about the Interactive Instructional Environment Designed for Bilingual Turkish Primary School Students in Norway. Turkish Online Journal of Qualitative Inquiry. Volume 1 (1).

Gunawan, S. 2008. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis CAI (Computer Assisted Instruction) untuk Materi Perkembangan Prenatal Manusia Kelas XI Semester 2 SMA Negeri 2 Lamongan. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Hamalik, Oemar. 2004. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Muijs, D., dkk. 2008. Efective Teaching: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rohman, Abdul. 2011. Penerapan siklus belajar berbasis masalah kontekstual untuk meningkatkan motivasi dan hsil belajar biologi pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 Lumajang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Sadiman, A., dkk. 2009. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Raja grafindo Persada.

Susanto, Pudyo. 2006. Buku Petunjuk Teknis Praktik Pengalaman Lapangan Bidang Studi Biologi. Malang: Universitas Negeri Malang.

Sutjiono, Thomas Wibowo Agung. 2005. Pendayagunaan Media Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Penabur. No.04/Th.IV/Juli 2005.

Wibowo, Yuni. 2008. Pengaruh Pembelajaran Diagram Roundhouse melalui Kooperatif Circ terhadap Hasil Belajar Biologi dan Keterampilan Metakognitif Siswa Kelas XI IPA SMA Laboratorium UM. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Gambar

Tabel 2 Keterlaksanaan Pembelajaran Oleh Guru dan SiswaDeskriptor yang
Gambar 2 Histogram Rata-rata Nilai Motivasi Belajar Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Gambar 3 Histogram Rata-rata Nilai Setiap Aspek Motivasi pada Kelas Eksperimen
Tabel 7 Rata-rata Nilai Setiap Aspek Hasil Belajar Kognitif  pada Kelas Eksperimen Rata-rata Rata-rata Persentase
+4

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti berharap dengan adanya model pembelajaran yang akan digunakan pada saat penelitian dapat meningkatkan prestasi dan peningkatan keterampilan proses sains

3) Kepercayaan Nasabah ( Cust omer t rust ) adalah kepercayaan pihak t er- t ent u t erhadap yang lain dalam mela- kukan hubungan t ransaksi berda- sarkan suat u keyakinan

seperti dashboard dalam bentuk Lingkaran untuk melihat trend dari sebuah produk rental. b) OLAP dengan teknik roll up pada penelitian ini dapat dikembangkan dengan

Sensor suhu adalah alat yang mengumpulkan data mengenai suhu dari satu sumber dan menukarkannya kepada bentuk yang boleh difahami samaada oleh pemerhati atau peranti lain.. Sensor

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh peneliti melalui wawancara da dokumentasi, serta diperoleh dari berbagai informan utama dan informan pendukung, maka dapat

Hasil analisis tanah pada takaran 5 ton kompos TKKS/ha ditambah 500 kg abu boiler/ha kation- kation basa dapat dipertukar (K-dd, Ca-dd, Mg-dd dan Na-dd)cenderung

Ada pengaruh yang signifikan antara keterampilan berbicara sebelum dan setelah menerapkan teknik debat siswa kelas X MIA 3 SMA Negeri 7 Pinrang Kabupaten Pinrang

PENGARUH CTL TERHADAP PENINGKATAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA ARAB Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu.