1
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang berkat taufik dan
hidayah-Nya jualah penulisan ini dapat tersusun untuk menyelenggarakan kegiatan berbagi
Penulisa tentang Kritik Teori Motivasi Abraham Maslow hadir sebagai tindak
pembelajaran bagi para pembaca agar bisa dijadikan refrensi, disusun sedemikian rupa
dengan mengacu materi – meteri terkait untuk mengenal dan mempelajari secara optimal.
Penulis menyadari penulisan ini mempunyai kekurangan dan sekiranya pembaca
dapat memberikan saran yang membangun melalui email
[email protected].
Kirannya terima kasih bagi pembaca yang telah memberikan saran serta memjadikan
refrensi dalam tugasnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Banjarmasin, Okteber 2015
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... 1
DAFTAR ISI ... 2
BAB I
PEMBAHASAN
A.
Abraham Maslow (Hierarki Kebutuhan) ... 3
B. Teori Motivasi dan Kepemimpinan ... 5
BAB II
PENUTUP
A.
Kesimpulan ... 7
DAFTAR PUSTAKA ... 8
TABEL GAMBAR
3 BAB I
PEMBAHASAN
A. Abraham Maslow (Hierarki Kebutuhan)
Abraham Maslow (1954) mengembangkan teori motivasi manusia yang tujuannya menjelaskan segala jenis kebutuhan manusia dan mengurutkannya menurut tingkat prioritas manusia dalam pemenuhannya. Maslow membedakan D-needs atau dificiency needs yang muncul dari kebutuhan akan pangan, tidur,
rasa aman, dan lain – lain, serta B-needs atau being needs seperti keinginan untuk memenuhi potensi diri. Kita baru dapat memenuhi B-needs jika D-needs sudah terpenuhi. Hierarki kebutuhan menurut Maslow ditunjukan pada Gambar 1.11
Gambar 1.1 Hierarki Kebutuhan menurut Maslow
Adapun tiap tingkatan atau hierarki dari kebutuhan menurut teori Abraham Maslow adalah sebagai berikut:
1. Physiological needs (Kebutuhan fisiologis)
Physiological needs adalah kebutuhan yang paling dasar yang harus dipenuhi
oleh seorang individu. Kebutuhan tersebut mencakup sandang, pangan dan
1
Jarvis M at t. 2000. Teori – Teori Psikologi, diterjem ahkan dari Theoret ical Approaches in Psychology. Hal, 94. Akt
ulis-asi diri
Kebut uhan est et is
Kebut uhan int elekt ual
Kebut uhan unt uk dihargai
Kebut uhan sosial
Kebut uhan akan rasa am an
4
papan. Contohnya kebutuhan makan, minum, perumahan, seks, istirahat untuk menjaga kesehatan, berobat jika sakit.
2. Safety and security needs (Kebutuhan rasa aman)
Safety and security needs adalah kebutuhan yang diperoleh setelah yang
pertama terpenuhi. Pada kebutuhan tahap kedua ini seorang individu menginginkan terpenuhinya rasa keamanan.2 Pada dasarnya kebutuhan rasa aman ini mengarah pada dua bentuk yakni: kebutuhan keamanan jiwa dan kebutuhan keamanan harta.3
3. Social needs (Kebutuhan sosial)
Social needs adalah kebutuhan ketiga setelah kebutuhan kedua terpenuhi.
Pada kebutuhan ini mencakup perasaan seseorang seperti termiliknya cinta, sayang, keluarga yang bahagia dengan suami/istri dan memperoleh anak dari perkawinan yang sah, tergabung dalam organisasi sosial. Kebutuhan sosial disini memperhatikan seseorang yang membutuhkan pengakuan atau penghormatan dari orang lain.
4. Esteem needs (Kebutuhan dihargai)
Esteem needs adalah kebutuhan keempat yang dipenuhi setelah kebutuhan ke
tiga terpenuhi. Pada kebutuhan ini sesorang mencakup pada keinginan untuk memperoleh harga diri. Harga diri atau respek diri: ini bergantung pada keinginan akan kekuatan, kompetensi, kebebasan, dan kemandirian. Ia juga bertalian dengan achievement motivation, dorongan untuk berprestasi. Pada tahap ini seseorang memiliki keinginan kuat untuk memperhatikan prestasi yang dimiliki, serta prestasi tersebut selanjutnya diinginkan orang lain mengetahuinya dan menghargai atas prestasi yang telah diperoleh tersebut.4 5. Intellectual needs (Kebutuhan intelektual)
Intellectual needs adalah kebutuhan ke lima yang dipenuhi setelah kebutuhan
ke empat terpenuhi. Kebutuhan intelektual mencakup seorang memperoleh pemahaman dan mendapat pengetahuan.
6. Aesthetic needs (Kebutuhan estetis)
Aesthetic needs adalah kebutuhan ke enam yang terpenuhi setelah kebutuhan
ke lima terpenuhi. Kebutuhan estetis yaitu kebutuhan akan keindahan, kerapian, dan keseimbangan.5
7. Self-actualizatio needs (Aktualisasi diri)
2
Fahmi Irham. 2013. Perilaku Indust ri. Hal, 110. 3
Sobur Alex. 2011. Psikologi Um um. Hal, 275 4
Fahmi Irham. 2013. Perilaku Indust ri. Hal, 110. 5
5 Self-actualizatio adalah kebutuhan tertinggi dalam teori Maslow. Pada tahap ini
sesorang ingin terpenuhinya keinginan untuk aktualisai diri, yaitu ia ingin menggunakan potensi yang dimilikin dan mengaktualisasikannya dalam bentuk pengembangan dirinya. Kondisi ini teraplikasi dalam bentuk pekerjaan yang dijalani sudah lebih jauh dari hanya sekedar rutinitas namun pada sisi yang jauh lebih menantang dan penuh dengan kreatifitas tingkat tinggi. Dan karya-karya yang dihasilkan oleh dirinya dianggap luar biasa serta sangat patut untuk dihargai.6
B. Kritik dan Kelemahan Teori Abraham Maslow
Penekanan Maslow pada aspek – aspek positif sifat dasar manusia menjadi pengimbang yang baik penekanan ahli teori perilaku pada prediksi dan pengontrolan tingkah laku manusia dan penenkanan penganut psikodinamika pada segala keselahan yang mungkin terjadi selama masa perkembangan manusia. Pendapat – pendapat Maslow juga terbukti sangat bermanfaat untuk memahami pengalaman manusia dalam berbagai situasi. Contoh: Bentley (1994) menerapkan teori hierarki kebutuhan untuk membantu merasakan pengalaman tunawiswa. Kebutuhan dasar manusia seperti makan, tempat tinggal, dan rasa aman pada tunawisma tidak selalu terpenuhi. Inilah yang menyebabkan upaya penyediaan bantuan psikologi bagi tunawisma biasanya menemui kegagalan, jelas Bantley, kecuali jika penanganan itu dikombinasikan dengan penyediaan tempat tinggal.
Walaupun pendapat – pendapat Maslow menarik secara intuitif dan sudah berhasil diterapkan dalam berbagai situasi, namun ada beberapa kritik serius yang dialamatkan pada karyanya. Penelitian Maslow tentang orang – orang yang dapat mengaktualisasikan diri, tidak dilakukan secara ilmiah. Kriteria untuk mengindentifikasi orang yang mampu mengaktualisasikan diri hanyalah pendapat Maslow sendiri. Seperti Rogers, Maslow dituduh memiliki optimisme keliru perihal sifat dasar manusia dan mengabaikan sisi – sisi negatif dalam pengalaman manusias. Barangkali kritik yang terpenting seperti diterangkan Engler (1999), pandangan Maslow mengenai upaya keras manusia demi pencapaian/prestasi personal terlalu terkait pada budaya dengan terpaku pada budaya individulistik di Amerika Serikat. Penelitian lintas-budaya oleh Kitayama dan Markus (1992) menunjukkan bahwa perasaan – perasaan positif pada para pelajar di Amerika Serikat dihubungkan dengan pencapaian/prestasi personal; sebaliknya, para
6
6
pelajar di Jepang cenderung mengasosiasikan perasaan – perasaan positif dengan relasi yang baik dengan orang lain. Ini menujukkan bahwa gagasan – gagasan Maslow tentang aktualisasi diri sebagai pencapaian individu tidak banyak gunanya dalam menjelaskan pengalaman masyarakat dalam kebudayaan di luar Amerika Serikat.7
Dalam realita teori kebutuhan Maslow memiliki permasalahan. Menurut E. Mulyasa bahwa “ada dua masalah berkenanaan dengan asumsi yang spesifik terhadap teori Maslow:
1. Kebutuhan individu tidak selalu mengikuti tatanan yang berjenjang. Sebagai contoh seseorang dengan arahan kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan telah melakukan suatu upaya walaupun belum memenuhi untuk mencintai dan dicintai, atau kebutuhan – kebutuhan untuk menyatu dalam kelompok.
2. Kebutuhan – kebutuhan yang berbeda muncul ke dapan, manakala musim kerja meningkat.
Dalam tata kehidupan ini sering orang memperoleh setiap kebutuhannya bukan secara bertahap seperti yang dikemukakan oleh Maslow, karena kadang kala itu bisa diperoleh dengan melompat. Serta pada saat seseorang masuk dan berada di suatu organisasi itu bukan dilakukan atas dasar sikap aktualisasi diri, namun lebih karena keinginan untuk memiliki rasa aman.
Ada sebagian sarjana yang mengkritik teori Maslow tersebut dengan menegaskan bahwa berbagai kebutuhan manusia itu sebenarnya bukan berjenjang atau hierarki, tetapi merupakan rangkaian (Siagian: 1989). Ini secara lebih tegas dikemukakan oleh Faustion C, G. bahwa, “orang yang sudah menikmati keamanan fisik yang paling mantap sekalipun, tetap perlu makan, pakaian, perumahan, tetap perlu diakui keberadaanya, tetap ingin berkembang dan diakui”.
Karena itu teori Maslow tidak harus dilihat bahwa pemenuhan kebutuhan tersebut bersifat bertahap namun semua itu jika seseorang sudah berada pada tahap sosial needs maka artinya kebutuhan physiological needs dan safety and security needs sudah tepenuhi dan begitu pula sebaliknya bahwa memungkinkan
physiological needs bergabung dengan esteem needs dan seterusnya, dan
semua itu sesuai dengan kondisi di mana orang tersebut berada serta beraktivitas.8
7
Jarvis M at t. 2000. Teori – Teori Psikologi, diterjem ahkan dari Theoret ical Approaches in Psychology. Hal, 98-98
8
7 BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Maslow membedakan D-needs atau dificiency needs yang muncul dari kebutuhan akan pangan, tidur, rasa aman, dan lain – lain, serta B-needs atau being needs seperti keinginan untuk memenuhi potensi diri.
Dalam tata kehidupan ini sering orang memperoleh setiap kebutuhannya bukan secara bertahap seperti yang dikemukakan oleh Maslow, karena kadang kala itu bisa diperoleh dengan melompat. Serta pada saat seseorang masuk dan berada di suatu organisasi itu bukan dilakukan atas dasar sikap aktualisasi diri, namun lebih karena keinginan untuk memiliki rasa aman.
8 DAFTAR PUSTAKA
Bentley, A. 1994. Conseling and Homelessness. Conseling 5 (2), 132 – 134. Dalam terjemahan buku Theoretical Approaches in Psychology , Jarvis Matt. 2000. Teori – Teori Psikologi. Bandung: Nusa Media.
E. Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, Implementasi dan Inovasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dalam buku Fahmi Irham. 2013. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.
Fahmi Irham. 2013. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.
Faustino Cardoso Gomes. Op. City, hlm. 192. Dalam buku Fahmi Irham. 2013. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.
Faustino Cardoso Gomes. Ibid. Dalam buku Fahmi Irham. 2013. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.
Kitayama, S. & Markus, H.R. 1992. Construal of Self as Cultured on Internationalising Psychology.
Symposium on Internationalism and Higher Education. Ann Arbor, Ml. Dalam terjemahan
buku Theoretical Approaches in Psychology , Jarvis Matt. 2000. Teori – Teori Psikologi. Bandung: Nusa Media.
Jarvis Matt. 2000. Teori – Teori Psikologi. Bandung: Nusa Media.
Maslow, A. 1954. Motivation and Personality. 1th edition. New York: Harper & Row. Dalam terjemahan buku Theoretical Approaches in Psychology , Jarvis Matt. 2000. Teori – Teori