• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN D"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

DAN FASILITAS BELAJAR

TERHADAP KOMPETENSI PROFESIONAL GURU

DI SEKOLAH DASAR NEGERI

SE-GUGUS GATOT SUBROTO KABUPATEN TEGAL

Artikel Skripsi

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh

Tiara Vera Febriane 1401413159

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

(2)

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang UPP Tegal Jalan Kompol Suprapto No 4 Kelurahan Kemandungan Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal Jawa Tengah

Kode Pos 52114 e-mail [email protected] faximile (0283) 353928

Abstrak:

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru di SD Negeri Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen jenis survei dengan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis data menggunakan analisis korelasi ganda (R), analisis determinasi (R2),

dan uji koefisien regresi secara bersama-sama (uji F). Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru di SD Negeri Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal. Besarnya pengaruh penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru sebesar 42,1%, sedangkan sisanya 57,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Kata Kunci: Penggunaan Media Pembelajaran, Fasilitas Belajar, Kompetensi Profesional Guru

Abstract:

The purpose of this study was to determine the effect of the use learning media and leraning facilities to the professional competence of teachers in the SD Se-Gugus Gatot Subroto Tegal Regency. This research is a non experiment research type survey with quantitative approach. The technique of data analysis using multiple correlation analysis (R), determination analysis (R2), and

regression coefficient test together (test F). The result showed that there was a significant influence between the use of learning facilities to the professional competence of teachers in the SD Se-Gugus Gatot Subroto Tegal Regency. The amount of influence of the use of learning facilities to the professional competence of teachers by 42,1%, while the remaning 57,9%. Owned by other variables not discussed in this study.

(3)

Pendahuluan

Pendidikan mempunyai peran yang sangat menentukan didalam perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Melaksanakan pendidikan adalah suatu keharusan, karena dengan melaksanakan pendidikan manusia dapat memiliki kemampuan dan kepribadian yang terus berkembang. Kemampuan yang dapat dikembangkan meliputi karakter, ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan merupakan suatu proses sadar dari tingkah laku manusia yang dapat memperbaiki kualitas diri. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I Pasal 1 Ayat 1 menyebutkan bahwa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan manusia untuk menghasilkan perubahan yang lebih baik pada dirinya, serta latihan untuk perannya dimasa mendatang demi kepentingan dirinya dan lingkungan disekitarnya. Tujuan ini merupakan tujuan jangka panjang dan sangat luas serta menjadi pedoman dari semua kegiatan atau usaha pendidikan di Indonesia (Hamalik, 2008: 81-82). Pernyataan ini diperkuat sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3, menyebutkan bahwa

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(4)

pertama yang diterima siswa secara formal. Menurut Sanjaya (2014: 13) menyatakan bahwa “pendidikan disekolah memiliki banyak komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pendidikan”. Begitu banyak komponen yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, dengan demikian, tidak mungkin upaya peningkatan kualitas dilakukan dengan memperbaiki setiap komponen secara serempak.

Namun demikian, komponen yang selama ini dianggap sangat mempengaruhi proses pendidikan adalah guru. Guru merupakan tokoh yang memiliki multiperan dalam proses pendidikan baik sebagai pengajar, pendidik, motivator, maupun sebagai evaluator. Peran guru dalam keberhasilan kegiatan pendidikan akan terlihat pada saat proses belajar mengajar di kelas. Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang.

Pada saat proses pembelajaran berlangsung, media pembelajaran memiliki peran yang juga sangat penting. Kualitas suatu pembelajaran akan sangat dipengaruhi juga oleh media yang digunakan oleh guru. Guru harus dapat memilih dan menentukan media yang tepat. Selain itu, media yang digunakan juga harus disesuaikan dengan materi yang akan dipelajari siswa. Upaya meciptakan pendidikan yang bermutu sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu:

Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses

pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

(5)

proses pembelajaran dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Sanaky (2013: 4) menyatakan tujuan media pembelajaran adalah untuk:

(1) mempermudah proses pembelajaran di kelas; (2) meningkatkan efisiensi proses pembelajaran; (3) menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar; (4) membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran. Pentingnya media pembelajaran yang membuat guru haruslah dapat memanfaatkan media pembelajaran pada setiap kegiatan belajar dan mengajar di kelas.

Pada kenyataannya, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada Kepala Sekolah di Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal tanggal 14-16 Januari 2017 media pembelajaran di sekolah dasar belum digunakan secara maskimal, padahal sekolah sudah semaksimal mungkin dalam pengadaan fasilitas belajar. Banyak guru yang kurang tertarik menggunakan media saat proses belajar mengajar. Materi pelajaran umumnya hanya disampaikan tanpa media pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional, yaitu berpusat pada guru dan tanpa menggunakan fasilitas belajar yang maskimal. Akibatnya hasil belajar siswa juga tidak maksimal.

Pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui pengalaman yang dialami sendiri oleh siswa. Proses pengalaman langsung ini dapat berupa proses mengamati dan mendengarkan melalui media tertentu dan mendengarkan melalui bahasa verbal. Semakin konkret siswa mempelajari bahan pengajaran, maka semakin banyak pengalaman yang diperoleh siswa. Sebaliknya, semakin abstrak siswa mendapatkan pengalaman, maka semakin sedikit pemahaman yang akan didapat siswa. Kegaiatan mendapatkan pengalaman untuk siswa dapat dilakukan guru dengan menanfaatkan media pembelajaran. Media sebagai alat bantu akan memudahkan siswa dan guru menyamakan persepsi dalam pembelajaran. Ketrampilan guru dalam menggunakan media pembelajaran dapat mempertinggi efektivitas dan efisiensi mencapai tujuan pembelajaran.

(6)

siswa untuk belajar secara mandiri”. Permasalahan yang terjadi pada Gugus Gatot Subroto adalah kurangnya penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar yang ada, sehingga sangat berpengaruh terhadap kompetensi profesional guru.

Kompetensi profesional guru merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Guru pada proses belajar mengajar harus memiliki kompetensi guna mencapai harapan yang dicita-citakan pada saat melaksanakan pendidikan. Guru seyogianya memiliki kompetensi yang memadai untuk mengembangkan potensi siswa secara utuh. Cooper (1984) dalam Satori (2007: 2.2) menyimpulkan komponen sebagai berikut:

Empat komponen kemampuan dasar guru dalam kompetensi profesional, yaitu: (1) mempunyai pengetahuan dalam teknik mengajar dan tingkah laku manusia; (2) mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya; (3) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya, dan; (4) mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar.

Kompetensi yang berkaitan erat dengan guru sebagai sebuah profesi yakni kompetensi profesional. Kompetensi profesional yang diharapkan dapat terpenuhi yakni guru harus menguasai cara belajar yang efektif, harus mampu membuat model satuan pelajaran, mampu memahami kurikulum secara baik, mampu mengajar di kelas, mampu menjadi model bagi siswa, mampu memberikan petunjuk yang berguna, menguasai teknik-teknik memberikan bimbingan dan penyuluhan, mampu menyusun dan melaksanakan prosedur penilaian kemampuan belajar (Hamalik, 2008: 40). Kompetensi profesional guru merupakan kemampuan menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional (Rifa’i dan Anni, 2012: 9).

(7)

2014: 18). Kompetensi profesional setiap guru dengan guru yang lainnya berbeda. Oleh karena itu, kompetensi profesional guru harus dimiliki oleh setiap guru, agar mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak menutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan zaman. Guru dapat menggunakan media pembelajaran yang efisien dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Guru juga harus bisa untuk mengembangkan ketrampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakan apabila media yang dibutuhkan tidak tersedia. Media pembelajaran yang digunakan oleh guru tidak lepas dari perkembangan globalisasi.

Keadaan yang demikian terjadi di dalam pembelajaran di SD Se-Gugus Gatot Subroto Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal. Berdasarkan hasil wawancara awal peneliti kepada Kepala Sekolah pada tanggal 9 Janusari 2017 di SD Bersole 01, SD Lumingser 01, SD Pedeslohor 01, SD Gumalar 01, SD Kedungsukun 01, dan SD Kedungsukun 02 diperoleh keterangan bahwa proses pembelajaran di sekolah tersebut masih belum menggunakan fasilitas belajar secara optimal. Media pembelajaran yang digunakan hanya seputar buku, gambar, foto, Buku Sekolah Elektronik (BSE), dan Komponen Instrumen Terpadu (KIT).

Guru masih mendominasi pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran konvensional. Pembelajaran masih berpusat pada kegiatan membaca, menulis, dan menghafalkan materi. Selain itu, penyampaian materi belum sepenuhnya disertai dengan penggunaan media yang inovatif. Guru hanya menggunakan buku dan beberapa fasilitas belajar lainnya sebagai alat bantu ajar. Siswa mencari sendiri referensi buku di perpustakaan.

(8)

bentuk dua dimensi, seperti foto hanya akan memberikan gambaran sekilas dan siswa juga kurang tertarik.

Media dua dimensi ini tidak jauh berbeda implementasinya dengan media gambar. Penggunaan media elektronik yang sudah biasa dilakukan oleh guru yaitu dengan menampilkan BSE sebagai media ajar yang hanya berisi tulisan saja. BSE juga sudah dibuat dalam bentuk buku yang bisa dibaca siswa secara langsung. Oleh sebab itu, guru mulai meninggalkan menggunakan BSE yang berbantu LCD. Setiap sekolah tidak semua memiliki KIT IPA yang memang sebagai media bantu dalam pembelajaran. Banyak sekolah yang bahkan tidak memiliki KIT dan ada juga yang KIT IPA tidak terawat, akibatnya tidak bisa digunakan.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang berlangsung tidak menggunakan fasilitas belajar secara optimal, sehingga siswa kurang terlibat aktif di dalamnya. Penyajian materi yang tidak didukung dengan penggunaan media kurang menarik perhatian siswa, sehingga pemahaman siswa terhadap materi pelajaran kurang maksimal. Akibatnya dalam proses pembelajaran, kompetensi profesional yang telah dimiliki oleh guru masih kurang optimal. Hal tersebut dibuktikan dengan masih belum optimalnya penggunaan media dalam setiap pembelajaran.

Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan ketersediaan fasilitas belajar yang lengkap disetiap sekolah. Selain itu, penggunaan media pembelajaran juga membantu guru dalam menyampaikan materi, mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar, dan memudahkan siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Media yang dijadikan sebagai sarana komunikasi antara guru sebagai pemberi informasi dengan siswa sebagai penerima informasi. Media dapat berupa audio, animasi, teks, grafik, gambar, dan video. Media yang dijadikan sarana komunikasi haruslah interaktif. Interaktif merupakan suatu keadaan dimana terjadinya hubungan timbal balik.

(9)

terkait pentingnya penggunaan media yaitu untuk terus memberdayakan guru sebagai pendidik untuk terus memberikan inovasi dalam pembelajaran. Hal ini didukung dengan kompetensi profesional guru untuk terus mengembangkan kemampuan meerancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar (Sanjaya, 2014: 19). Sayangnya, dalam hal penggunaan media belum sepenuhnya disadari oleh setiap guru.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, peneliti akan melaksanakan penelitian yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran dan Fasilitas Belajar terhadap Kompetensi Profesional Guru di Sekolah Dasar Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal”.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen jenis survei. Karlinger (1996) dalam Riduwan (2013: 49) mengatakan bahwa penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis. Pada penelitian ini, keterikatan antarvariabel bebas dengan variabel bebas, maupun antarvariabel bebas dengan variabel terikat, tidak terjadi secara alami, dan peneliti dengan ingin mengetahui seberapa besar pengaruh antar variable tersebut.

Teknik pengambilan sampel atau teknik sampling adalah suatu cara mengambil sempel yang representatif (mewakili) dari poulasi (Riduwan 2013: 11). Jika jumlah populasi kurang dari 100, sebaiknya seluruh populasi dijadikan sampel (Thoifah, 2015: 16). Pengambilan jumlah sampel sebanyak 74 guru di SD Negeri Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal. Oleh karena jumlah populasi kurang dari 100 responden, maka penelitian ini menggunakan penelitian populasi yaitu semua yang terdapat dalam populasi dijadikan responden.

Penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi ganda (R), analisis determinasi (R2), dan uji koefisien regresi

(10)

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Skor variabel penggunaan media pembelajaran adalah 78,26% yang berada pada rentang 61% – 80% yang termasuk dalam kategori kuat. Artinya, responden memiliki persepsi yang tinggi pada item pernyataan variabel penggunaan media pembelajaran. Skor variabel fasilitas belajar sebesar 79,30% yang berada pada rentang 61% – 80% yang termasuk dalam kategori kuat dan bisa diartikan memiliki persepsi tinggi oleh responden. Indeks variabel kompetensi profesional guru sebesar 78,79% yang termasuk tinggi karena terletak diantara 61% – 80% dan bisa diartikan memiliki persepsi tinggi oleh responden.

Variabel penggunaan media pembelajaran (X1) dan fasilitas belajar (X2)

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kompetensi profesional guru (Y). Hal ini ditunjukkan dengan persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Ŷ = 18,895+ 0,276X1+ 0,606X2

Berdasarkan persamaan regresi di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1. a = 18,895 adalah nilai konstanta dari persamaan regresi

2. b1 = 0,276 menunjukkan pengaruh positif antara penggunaan media

pembelajaran terhadap kompetensi profesional guru yang berarti jika penggunaan media pembelajaran optimal akan mengakibatkan peningkatan kompetensi profesional guru.

3. b2 = 0,606 menunjukkan pengaruh positif antara fasilitas belajar

terhadap kompetensi profesional guru yang berarti jika fasilitas belajar dimanfaatkan secara optimal baik akan mengakibatkan peningkatan kompetensi profesional guru.

Hasil persamaan regresi yang dipaparkan dapat diketahui kompetensi profesional guru (Y) dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh pengguaan media pembelajaran dan fasilitas belajar.

Hubungan variabel pengguaan media pembelajaran (X1) dengan

(11)

fasilitas belajar (X2) dengan kompetensi profesional guru (Y) adalah 0,647 yang

termasuk dalam kategori kuat, hal ini dikarenakan berada diantara 0,60 – 0,799. Sumbangan pengaruh variabel pengguaan media pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru sebesar 42,1%. Artinya kompetensi profesional guru dipengaruhi oleh pengguaan media pembelajaran dan fasilitas belajar sebesar 42,1%, sedangkan sisanya 57,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Nilai F hitung sebesar 25,805 dengan probabilitas 0,000, karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi kompetensi profesional guru atau dapat dikatakan bahwa penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar secara bersama-sama berpengaruh terhadap kompetensi profesional guru. Dengan demikian hipotesis (Ha) 3 yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru di SD Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal, diterima. Selanjutnya hipotesis nihil (H0)

3 yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru di SD Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal, ditolak.

Penutup

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikemukakan simpulan yang berkaitan dengan Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran dan Fasilitas Belajar terhadap Kompetensi Profesional Guru di Sekolah Dasar Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal. Simpulan pada penelitian ini, sebagai berikut:

(12)

penggunaan media pembelajaran oleh guru kepada siswa dengan kompetensi profesional guru bernilai positif. Artinya, apabila penggunaan media pembelajaran ditingkatkan, maka kompetensi profesional guru juga akan meningkat.

(2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara fasilitas belajar dan kompetensi profesional guru SD Negeri Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal dengan besarnya sumbangan pengaruh fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru adalah 41,8%. Hubungan antara fasilitas belajar dengan kompetensi profesional guru sebesar 0,647 yang berada pada kategori rentang kuat yakni antara 0,60 sampai 0,799. Arah hubungan yang terjadi antara fasilitas belajar oleh guru kepada siswa dengan kompetensi profesional guru bernilai positif. Artinya, apabila fasilitas belajar ditingkatkan, maka kompetensi profesional guru juga akan meningkat. (3) Terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan media pembelajaran

dan faasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru SD Negeri Se-Gugus Gatot Subroto Kabupaten Tegal dengan besarnya sumbangan pengaruh penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar terhadap kompetensi profesional guru adalah 42,1%. Hubungan antara penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar dengan kompetensi profesional guru sebesar 0,649 yang berada pada kategori rentang sedang yakni antara 0,60 sampai 0,799. Arah hubungan yang terjadi antara penggunaan media pembelajaran dan fasilits belajar oleh guru kepada siswa dengan kompetensi profesional guru bernilai positif. Artinya, apabila penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar ditingkatkan, maka kompetensi profesional guru juga akan meningkat.

Ucapan Terima Kasih

Untuk ibu, papah, adik, dan sahabat-sahabat yang selalu mendoakan, menyemangati, dan memotivasi.

(13)

Daftar Pustaka

Djamarah, Syaiful Bahri. 2014. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2015. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.

Jakarta: Bumi Aksara.

Riduwan. 2013. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

Sanaky, Hujair AH. 2013. Media Pembelajaran Interaktif-Inovatif. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.

Sanjaya, Wina. 2014. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Pranadamedia Group.

Sa’ud, Udin Syaefudin. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: ALFABETA

Thoifah, I’anatut. 2015. Statistika Pendidikan dan Metode Penelitian Kuantitaif.

Malang: Madani.

Referensi

Dokumen terkait

H.. Suatu adegan yang dititikberatkan pada daerah permainan tertentu perlu disoroti dengan Baby Spot yang khusus untuk daerah tersebut. Daerah khusus ini dapat diperluas menjadi

Negara yang memproduksi barang dengan orientasi ekspor maka peningkatan permintaan dunia terhadap produk-produknya akan member dorongan positif terhadap pertumbuhan produksi di

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tesis dengan judul “ Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Guru (Studi Kasus pada

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) telah menyadari permasalahan ketersediaan jaringan telekomunikasi di luar pulau Jawa,

Organisasi terlibat dalam proses informasi untuk mengurangi. ketidakpastian

Waktu Pengeluaran Plasenta pada Ibu Melahirkan di Klinik

Populasi adalah seluruh subjek/objek yang diteliti dengan kualitas dan karakteristik tertentu untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Etta dan Sopiah,

Keputusan Presiden Republik lndonesia Nomor 1521M Tahun 2010 tentang. Pengangkatan Rektor Universitas Negeri