• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peramalan 2.1.1 Definisi Peramalan - Analisis Peramalan Ekspor Indonesia Pasca Krisis Keuangan Eropa dan Global Tahun 2008 dengan Metode Dekomposisi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peramalan 2.1.1 Definisi Peramalan - Analisis Peramalan Ekspor Indonesia Pasca Krisis Keuangan Eropa dan Global Tahun 2008 dengan Metode Dekomposisi"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peramalan

2.1.1 Definisi Peramalan

Peramalan merupakan studi terhadap data historis untuk menemukan

hubungan, kecenderungan, dan pola yang sistematis (Sugiarto, 2000:1). Pendapat

lain mengatakan bahwa peramalan merupakan kegiatan penerapan model yang

telah dikembangkan pada waktu yang akan datang (Aritonang, 2009:2).

Selanjutnya Makridakis et al (1999:14) mengatakan bahwa peramalan merupakan

alat bantu yang penting dalam perencanaan yang efektif dan efisien.

Dari beberapa definisi diatas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa

untuk melakukan suatu peramalan dibutuhkan adanya data, pola atau hubungan

atas kejadian yang diamati, model peramalan.

2.1.2 Jenis-Jenis Peramalan

Aritonang (2009:4) membedakan jenis peramalan berdasarkan tiga kategori

yaitu berdasarkan jangka waktu, ruang lingkup, dan metode yang digunakan.

Berdasarkan jangka waktunya, peramalan terbagi atas dua yaitu peramalan jangka

pendek dan jangka panjang. Peramalan jangka panjang biasanya dilakukan oleh

para pimpinan puncak suatu perusahaan dan bersifat umum sedangkan peramalan

jangka pendek biasanya dilakukan pimpinan pada tingkat menengah maupun

bawah dan lebih bersifat operasional. Peramalan jangka panjang ini berfungsi

(2)

Berdasarkan ruang lingkupnya, peramalan terbagi atas dua yaitu peramalan

mikro dan makro. Contoh peramalan secara mikro adalah misalnya seorang

peneliti ingin meramalkan produksi suatu perusahaan untuk sepuluh tahun

kedepan sedangkan contoh peramalan secara makro adalah peramalan

perekonomian suatu negara selama sepuluh tahun kedepannya.

Berdasarkan metode yang digunakan, peramalan terbagi atas dua yaitu

metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif biasanya didasarkan atas

penilaian orang yang melakukan peramalan tersebut daripada pemanipulasian

(pengelolaan dan analisis) data historis yang tersedia. Hal ini terjadi karena tidak

ada atau tidak cukup tersedianya data historis, misalnya peramalan untuk

penjualan produk baru. Adapun teknik-teknik yang lazim digunakan dalam

peramalan kualitatif ini adalah teknik delphi, kurva pertumbuhan, penulisan

skenario, penelitian pasar, kelompok fokus, dan sebagainya.

Peramalan kuantitatif adalah peramalan yang didasarkan atas

pemanipulasian data historis yang tersedia secara memadai dan tanpa anggapan,

intuisi, pendapat, maupun penilaian subjektif dari peneliti. Metode ini lazimnya

didasarkan pada analisis statistik. Makridakis (1999:20) berpendapat bahwa

peramalan kuantitatif dapat diterapkan apabila terdapat tiga kondisi berikut :

1. Tersedia informasi tentang masa lalu,

2. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik,

3. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus

(3)

Selanjutnya, Makridakis (1999:21) juga berpendapat bahwa terdapat suatu

dimensi tambahan untuk mengklasifikasikan metode peramalan kuantitatif yaitu

dengan memperhatikan model yang mendasarinya. Terdapat dua jenis model

peramalan yang utama, yaitu model deret berkala dan model regresi (kausal).

Tujuan peramalan deret berkala adalah untuk menemukan pola dalam deret data

historis mengekstrapolasikan pola tersebut ke masa depan. Langkah penting

dalam memilih suatu metode deret berkala yang tepat adalah dengan

mempertimbangkan jenis pola data sehingga metode yang paling tepat dengan

pola tersebut dapat diuji.

Pola data dapat dibedakan menjadi empat jenis siklis dan trend (Makridakis,

1999:21) yaitu :

1. Pola horizontal (H), terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai

rata yang konstan. (Deret seperti itu “stasioner” terhadap nilai

rata-ratanya).

2. Pola musiman (S), terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor

musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada

minggu tertentu).

3. Pola siklis (C), terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi

jangka panjang seperti dengan siklus bisnis.

4. Pola trend (T), terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler

jangka panjang dalam data.

Model regresi (kausal) mengasumsikan bahwa faktor yang diramalkan

(4)

misalnya, penjualan = f (pendapatan, harga, iklan, persaingan). Model kausal ini

bermaksud untuk menemukan bentuk hubungan tersebut dan menggunakannya

untuk meramalkan nilai mendatang dari variabel tak bebas.

2.1.3 Langkah-Langkah Peramalan

Menurut Sugiarto (2000:10) ada empat langkah-langkah yang perlu

diperhatikan dalam melakukan suatu peramalan, yaitu :

1. Mengumpulkan data

Langkah pertama yang sangat penting dalam peramalan merupakan

pengumpulan data karena berlakunya prinsip “garbage in garbage out”.

Apabila data yang dikumpulkan kurang tepat atau kurang memadai akan

menyebabkan hasil peramalan yang kurang akurat.

2. Menyeleksi dan memilih data

Apabila data sudah terkumpul maka langkah selanjutnya adalah melakukan

seleksi data yang ada. Data-data yang kurang relevan harus di buang supaya

tidak mempengaruhi akurasi peramalan.

3. Memilih model peramalan

Langkah berikutnya adalah memilih model peramalan. Model peramalan

yang tersedia cukup banyak, untuk itu harus dilakukan pemilihan metode

yang akan dipakai. Salah satu kriteria yang sering dipakai adalah kesalahan

peramalan. Semakin kecil kesalahan peramalan maka semakin baik

metodenya karena hasil peramalan semakin mendekati data aktual dan

sebaliknya semakin besar kesalahan peramalan maka semakin buruk

(5)

4. Menggunakan model terpilih untuk peramalan

Setelah model peramalan dipilih maka langkah berikutnya adalah

menggunakan model tersebut. Akurasi metode peramalan terpilih perlu

selalu dipantau dengan membandingkan hasil peramalan dengan data

aktualnya. Apabila akurasi model peramalan menurun karena terjadinya

pola data, model tersebut perlu dievaluasi ulang dan diganti apabila perlu.

2.2 Metode Dekomposisi

Metode dekomposisi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan

untuk melakukan suatu peramalan.. Metode dekomposisi ini umumnya mencoba

mengidentifikasi tiga komponen secara terpisah sebagai pola dasar yang

menggambarkan karakteristik ekonomi dan bisnis sepanjang waktu tertentu, yaitu

komponen faktor musiman (sesonal factor), kecendrungan (trend), siklik

(cyclical).

Secara umum model matematik dari pendekatan metode analisis

dekomposisi adalah (Gaspersz, 1991)

Y

t

= f (I

t

, T

t

, C

t

, E

t

)

dimana:

Yt = nilai deret waktu (data aktual) pada periode t. Tt = komponen atau indeks musiman pada periode t. Tt = komponen trend pada periode t.

Ct = komponen siklik pada periode t. Et = komponen galat pada periode t.

Faktor galat merupakan selisih antara data aktual dan model yang tidak dapat

(6)

Metode dekomposisi memiliki dua sifat yaitu model dekomposisi yang

bersifat aditif dan model dekomposisi yang bersifat multiplikatif.

Yt =

I

t

+ T

t

+ C

t

+ E

t

(Metode analisis dekomposisi bersifat aditif)

Yt =

I

t

x T

t

x C

t

x E

t

(Metode analisis dekomposisi bersifat multiplikatif)

2.2.1 Indeks Musiman

Indeks musiman berkaitan dengan fluktuasi periodik yang relatif konstan

dan disebabkan oleh faktor-faktor seperti: temperatur, curah hujan, bulan-bulan

tertentu dalam setahun yang berkaitan dengan hari raya, upacara keagamaan, dan

sebagainya.

2.2.2 Trend

Trend menggambarkan perilaku data dalam jangka panjang, yang dapat

bersifat menaik, menurun, atau tidak berubah

2.2.3 Siklik

Faktor siklik mengambarkan naik-turunnya ekonomi atau industri tertentu

dan umumnya seperti deret data GNP (Gross National Product), indeks produksi

industri, permintaan, penjualan barang-barang industri, perkembangan harga,

tingkat bunga, penawaran uang, tingkat inflasi dan sebagainya.

2.3 Perdagangan Internasional

2.3.1 Latar Belakang Perdagangan Internasional

Historis lahirnya perdagangan internasional pada mulanya disebabkan oleh

kebutuhan terhadap suatu barang yang saling ketergantungan dari penduduk suatu

negara dengan penduduk negara lain (Sumanjaya et al, 2010:9). Hal ini ini dapat

(7)

berbeda-beda sehingga dalam pemenuhan kebutuhan tersebut dibutuhkan suatu

perdagangan antar negara atau yang lazim disebut perdagangan internasional.

Negara-negara melakukan perdagangan internasional disebabkan oleh dua

alasan yaitu untuk mendapatkan keuntungan perdagangan (gains from trade ) dan

negara berdagang satu sama lain dengan tujuan skala ekonomis (economies of

scales) dalam proses produksi (Krugman, 2002:15).

2.3.2 Teori Perdagangan Internasional 2.3.2.1 Teori Merkantilisme

Aliran merkantilisme lahir di kawasan Eropa Timur dan salah satu tokoh

yang paling berpengaruh adalah Thomas Mun (1571-1641). Aliran merkantilisme

mempunyai pandangan bahwa untuk mencapai kesejahteraan diperoleh melalui

proses akumulasi pengumpulan logam mulia atau emas. Selain itu, aliran

merkantilisme berpendapat bahwa proses keuntungan perdagangan internasional

hanya dapat diperoleh dari surplus neraca perdagangan (ekspor lebih besar dari

impor atau X > M). Hal ini dapat dilakukan dengan memacu kegiatan ekspor

sebagai tujuan utama untuk mencapai kesejahteraan masyarakat (Sumanjaya et al,

2010:12). Merkantilisme memandang bahwa pemerintah harus menggunakan

seluruh kekuatannya untuk mendorong ekspor dan mengurangi atau membatasi

impor.

Namun dalam perkembangannya, pandangan merkantilisme ini membawa

dampak negatif yaitu terjadinya inflasi bagi perkembangan perekonomian

domestik. Hal ini terjadi akibat adanya penumpukan logam mulia (emas) yang

(8)

terjadinya inflasi. Teori merkantilisme ini tidak bertahan lama karena pada masa

merkantilisme, masyarakat dalam negeri mengalami tekanan yang ditandai dengan

kenaikan harga barang yang berlangsung secara terus-menerus.

2.3.2.2 Teori Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage Theory)

Teori keunggulan mutlak ini dikemukakan oleh Adam Smith. Teori ini

pada prinsipnya merupakan perbaikan dari teori merkantilisme yang menyatakan

bahwa surplus perdagangan internasional sebagai suatu doktrin. Dasar dari

pemikiran teori ini adalah bahwa suatu negara akan memperoleh keuntungan

perdagangan internasional (gains of trade) karena melakukan spesialisasi produksi

dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak

(absolute advantage) serta mengimpor barang jika negara tersebut memiliki

ketidakunggulan mutlak (absolute disadvantage).

Hady (2001) menyebutkan bahwa ada beberapa asumsi pokok yang

berkaitan tentang teori absolute advantage ini, yaitu sebagai berikut :

1. Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja,

2. Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama,

3. Pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang,

4. Biaya transportasi diabaikan.

Namun sama halnya dengan teori merkantilisme sebelumnya, teori

keunggulan mutlak ini juga mempunyai kelemahan, yaitu teori ini hanya

berpendapat bahwa perdagangan internasional dapat terjadi apabila negara

tersebut memiliki keunggulan mutlak, bila negara tersebut tidak memiliki

(9)

2.3.2.3 Teori Keunggulan Komperatif (Comparative Advantage Theory)

Teori keunggulan komperatif ini dikemukakan oleh David Ricardo sebagai

koreksi dari teori keunggulan mutlak yang dikemukakan oleh Adam Smith

sebelumnya. Menurut David Ricardo perdagangan internasional dapat saja terjadi

meskipun negara itu tidak memiliki keunggulan mutlak tetapi keunggulan

komperatif (Sumanjaya et al, 2010:20).

Konsep teori keunggulan komperatif ini dibangun oleh beberapa asumsi

(Sumanjaya et al, 2010:21) sebagai berikut :

1. Dua negara masing-masing memproduksi dua jenis komoditi dengan

hanya menggunakan satu faktor produksi tenaga kerja,

2. Kedua komoditi bersifat identik (homogen),

3. Kedua komoditi dapat dipindahkan antar negara dengan biaya transportasi

nol,

4. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang bersifat homogen dalam

suatu negara, namun heterogen tidak identik antar negara,

5. Tenaga kerja dapat bergerak antar industri dalam suatu negara namun tidak

antar negara,

6. Pasar barang dan pasar tenaga kerja dalam kondisi persaingan sempurna.

Teori keunggulan komperatif ini juga memiliki kelemahan. Adapun

kelemahan teori ini (Pelly, 2009) adalah :

1. Teori ini menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi

karena adanya perbedaan fungsi faktor produksi (tenaga kerja). Perbedaan

(10)

efisiensi. Akibatnya terjadi perbedaan harga barang yang sejenis diantara

dua negara,

2. Jika fungsi faktor produksi (tenaga kerja) sama atau produktivitas dan

efisiensi di kedua negara sama maka tentu tidak terjadi perdagangan

internasional karena harga barang yang sejenis akan menjadi sama di

kedua negara tersebut,

3. Pada kenyataannya, walaupun fungsi faktor prodiksi (produktivitas dan

efisiensi) sama diantara kedua negara, ternyata harga barang yang sejenis

dapat berbeda sehingga dapat terjadi perdagangan internasional. Dalam hal

ini teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa terjadi perbedaan harga

untuk barang sejenis walaupun fungsi faktor produksi (produktivitas dan

efisiensi) sama di kedua negara.

2.3.2.4 Teori Heckscher-Ohlin (H-O)

Teori Heckscher-Ohlin (H-O) dikembangkan oleh Eli Heckscher dan

Bertil Ohlin, dimana teori ini merupakan pengembangan dari teori comparative

advantage yang dikemukakan oleh David Ricardo. Teori ini menyatakan bahwa

perdagangan internasional digerakkan oleh perbedaan karunia sumber daya antar

negara dengan proporsi penggunaan yang berbeda dalam memproduksi barang.

Menurut teori H-O, faktor produksi dominan bertumpu pada penggunaan

input tenaga kerja dan barang-barang modal. Input yang dimaksud sebagai

efisiensi produk. Advantage menghasilkan suatu barang sebagai spesialisasi

dihadapkan kepada alternatif apakah padat karya (labor intensive) atau padat

(11)

menghasilkan barang dengan padat karya maka negara tersebut mengekspor

tenaga kerja dan sebaliknya apabila negara tersebut lebih untung dengan alternatif

padat modal maka negara tersebut akan mengekspor barang-barang modal.

Ada beberapa asumsi yang digunakan dalam teori H-O bagi kedua negara

yang melakukan perdagangan internasional (Sumanjaya et al, 2010:35) yaitu :

1. Negara yang melakukan perdagangan internasional mempunyai

karakteristik yang berbeda terhadap tenaga kerja yang berlimpah dan

sebaliknya berlimpah barang-barang modal,

2. Kedua negara mempunyai kesamaan teknologi,

3. Selera adalah identik bagi kedua negara,

4. Kedua komoditas diproduksi berdasarkan constant return to scale,

5. Masing-masing negara melakukan spesialisasi produk,

6. Kompetitif adalah sempurna sehingga barang ditentukan oleh

masing-masing pihak,

7. Tidak terdapat biaya transportasi, tarif, atau bentuk lainnya yang akan

menghambat pola perdagangan internasional,

8. Semua sumber daya dapat diperoleh dengan mudah dan produktif,

9. Perdagangan internasional dilakukan secara seimbang.

2.3.2.5 Teori Leontiev

Teori Leontiev ini diperkenalkan oleh Wessily Leontiev. Teori ini timbul

akibat dari teori H-O yang tidak menyoroti perbedaan labor cost dan capital cost

bagi negara yang berbeda, apalagi diantara negara maju dengan negara yang

(12)

betapa luasnya pengertian advantage dalam proses perdagangan internasional

(Sumanjaya, 2010:43).

2.3.2.6 Teori Stopler-Samuelson

Teori ini dikemukakan oleh Wolf Gang Stopler dan Paul Samuelson dalam

artikelnya yang berjudul “Proteksi dan Upah Riil” tahun 1941. Teori

Stopler-Samuelson menggunakan instrumen tarif dalam perdagangan internasional

sehingga negara yang bersumber dari tarif digunakan untuk memperluas

kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.

2.3.2.7 Teori Rybczynski

Dalam teori Rybczynski hampir sama dengan teori Stopler-Samuelson

sebelumnya, yaitu hanya menyoroti bagaimana upaya yang perlu dilakukan dalam

perdagangan internasional untuk melindungi tenaga kerja sekaligus meningkatkan

kesejahteraan tenaga kerja, hanya saja dalam teori Rybczynski ini instrumen yang

digunakan adalah dengan membatasi input capital (restriksi). Namun dalam

perkembangannya instrumen restriksi dan tarif ini mengakibatkan terjadinya

perang sebagai suatu dasar perselisihan. Suatu negara yang menggunakan tarif

dalam upaya perlindungan terhadap tenaga kerja maka hal yang sama akan

dilakukan oleh negara lain sebai tindakan balasan dan demikian pula terhadap

restriksi.

2.4 Ekspor

2.4.1 Definisi Ekspor

Secara fisik, ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan

(13)

menimbulkan aliran pengeluaran yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan

demikian pengeluaran agregat akan meningkat sebagai akibat dari kegiatan

mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini menyebabkan

peningkatan dalam pendapatan nasional (Sukirno, 2004:203).

Dalam pengertian lain, ekspor merupakan upaya melakukan penjualan

komoditi yang kita miliki kepada bangsa lain atau negara asing dengan

mengharapkan pembayaran dalam valuta asing, serta melakukan komunikasi

dengan memakai bahasa asing (M.S, 2004:1). Kegiatan ekspor merupakan suatu

hal yang penting dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu

negara.

Selanjutnya, Todaro (2000:167) mendefinisikan ekspor sebagai kegiatan

perdagangan yang memberikan rangsangan guna menumbuhkan permintaan

dalam negeri yang menyebabkan tumbuhnya industri dan pabrik besar, bersamaan

dengan struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang efisien.

2.4.2 Tujuan Ekspor

Menurut M.S (2004:99) ada beberapa tujuan ekspor, diantaranya :

1. Meningkatkan laba perusahaan melalui perluasan pasar serta untuk

memperoleh harga jual yang lebih baik (optimalisasi laba),

2. Membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar domestik

(membuka pasar ekspor). Dengan demikian komoditi yang diproduksi

mempunyai pasar luas, tidak lagi sekadar pasar dalam negeri, tapi juga

(14)

3. Memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang sehingga tercapai kapasitas

optimum dalam berproduksi yang dapat menekan biaya minimum

perusahaan,

4. Membiasakan diri bersaing dalam pasar internasional sehingga terlatih

dalam persaingan yang ketat dan terhindar dari sebutan “jago kandang”,

apalagi menghadapi globalisasi dan liberalisasi di milenium kedua yang

akan segera tiba.

2.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekspor

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ekspor

menurut Darmansyah (Surbakti, 2007) dalam yaitu :

1. Harga internasional.

Semakin besar selisih antara di pasar internasional dengan harga domestik

maka akan menyebabkan jumlah komoditi yang akan di ekspor menjadi

bertambah banyak.

2. Nilai tukar uang.

Makin tinggi nilai mata uang suatu negara (mengalami apresiasi) maka

harga itu di pasar internasional menjadi mahal. Sebaliknya makin rendah

nilai mata uang suatu negara (mengalami depresiasi) maka harga ekspor

negara itu di pasar internasional menjadi lebih rendah.

3. Kuota ekspor-impor.

Yaitu merupakan kebijaksanaan perdagangan internasional berupa

(15)

4. Kebijaksanaan tarif non tarif.

Kebijaksanaan tarif adalah untuk menjaga harga produk dalm negeri dalam

tingkatan tertentu yang dianggap mampu atau dapat mendorong

pengembangan komoditi tersebut, sedangkan kebijakan non tarif adalah

untuk mendorong tujuan diversifikasi ekspor.

2.4.4 Kebijakan Pemerintah Untuk Mendorong Ekspor

Menurut Ritonga (2004:8) ada beberapa kebijakan yang dapat ditempuh

oleh pemerintah unruk mendorong ekspor, yaitu :

1. Meningkatkan volume dengan menambah jenis komoditas,

2. Meningkatkan volume dengan memperbanyak negara tujuan,

3. Meningkatkan nilai dengan cara perbaikan mutu dan daya saing,

4. Mendorong ekspor dengan berbagai bentuk fasilitas dan subsidi,

5. Pengendalian harga atau inflasi dalam negeri,

6. Devaluasi mata uang, dan

7. Lobi dan kerja sama (bilateral dan multilateral)

2.5 Krisis Ekonomi

2.5.1 Definisi Krisis Ekonomi

Krisis ekonomi dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dimana ekonomi

dari sebuah negara mengalami penurunan secara mendadak yang disebabkan oleh

suatu krisis keuangan. Krisis keuangan itu sendiri terjadi pada saat dalam

ekonomi/negara, jumlah permintaan uang melebihi jumlah penawaran uang.

(16)

Krisis ekonomi dapat berupa resesi atau depresiasi. Perbedaan kedua hal ini

terletak pada jangka waktu atau lamanya suatu krisis yang terjadi. Suatu negara

dikatakan mengalami resesi apabila penurunan Produk Domestik Brutonya (PDB)

berlangsung selama enam bulan (dua semester berturut-turut). Resesi ekonomi

pada umumnya berlangsung tidak lebih dari satu tahun dan efeknya lebih ringan

dari depresi.

Depresi ekonomi didefinisikan sebagai titik terendah dalam sebuah siklis

ekonomi. Depresi ekonomi dimana saat ekonomi nasional secara total mengalami

kelesuhan sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak heran jika pada umumnya

orang lebih takut mengalami depresi daripada resesi. Menurut Tambunan

(2011:10) ciri-ciri suatu negara mengalami depresi ekonomi adalah sebagai

berikut :

1. Kemampuan belanja masyarakat menurun,

2. Jumlah pengangguran sangat besar (lebih dari 50 persen dari jumlah tenaga

kerja),

3. Permintaan atau konsumsi menurun sehingga menimbulkan kelebihan

supply di pasar domestik,

4. Harga-harga mengalami kejatuhan atau harga-harga naik namun dengan laju

yang lebih rendah dari laju normal,

5. Upah atau gaji dihampir semua sektor ekonomi dalam negeri berkurang atau

mengalami kenaikan dengan persentase lebih kecil daripada laju pada saat

ekonomi mengalami kondisi normal,

(17)

2.5.2 Jenis-Jenis Krisis

Dalam kenyataannya, jenis krisis sangat ditentukan oleh sumbernya.

Menurut Tambunan (2011 :11) ada beberapa jenis krisis, diantaranya :

a. Krisis Produksi

Krisis ini termasuk krisis yang bersumber dari dalam negeri, dimana terjadi

penurunan volume produksi domestik secara mendadak dan dalam jumlah

besar. Misalnya, gagal panen padi yang membuat produksi beras turun

drastis.

b. Krisis Perbankan

Krisis perbankan (krisis keuangan) merupakan salah satu jenis krisis yang

paling sering terjadi di banyak negara. Contohnya, krisis keuangan Asia

1997/1998. Dampak langsung atau fase pertama dari krisis ini adalah pada

kesempatan kerja dan pendapatan di subsektor keuangan tersebut. Pada fase

pertama ini di dalam ekonomi telah terjadi penambahan jumlah

pengangguran dan penurunan per kapita akibat krisis keuangan.

Selanjutnya, pada fase kedua dari krisis perbankan ini merembet ke

perusahaan-perusahaan yang selama itu sangat tergantung pada sektor

perbankan dalam pembiayaan kegiatan-kegiatan produksi/bisnis.

Kenaikan suku bunga pinjaman bisa terjadi sangat drastis pada krisis

perbankan ini. Hal ini dikarenakan oleh dua sebab. Pertama, permintaan

kredit yang besar dari dunia usaha, namun di sisi lain pada waktu

bersamaan, dana yang terkumpul dari perbankan dari pihak ketiga untuk

(18)

dapat bertahan atau yang kondisi keuangannya yang tidak terlalu buruk

menjadi sangat hati-hati menyalurkan kredit ke masyarakat dengan maksud

untuk memperkecil risiko.

c. Krisis Nilai Tukar

Krisis nilai tukar terjadi apabila suatu nilai tukar (kurs) dari sebuah mata

uang sendiri (misalnya, rupiah) terhadap mata uang asing (misalnya, dolar

AS) mengalami penurunan atau depresiasi sangat besar yang terjadi secara

mendadak atau prosesnya berlangsung terus membentuk sebuah trend

meningkat.

Dampak langsung dari perubahan kurs adalah pada volume ekspor dan

impor. Menurut teori konvensional mengenai perdagangan internasional,

depresiasi nilai tukar dari suatu mata uang, misalnya rupiah terhadap dolar

AS akan membuat daya saing harga dari produk-produk buatan Indonesia

membaik yang selanjutnya membuat volume ekspor Indonesia meningkat.

d. Krisis Perdagangan

Krisis perdagangan ini berasal dari sumber-sumber eksternal. Di jalur

perdagangan itu sendiri terdapat dua subjalur, yaitu ekspor dan impor.

Dalam jalur ekspor, suatu krisis bagi eksportir bisa terjadi karena harga di

pasar internasional dari komoditas yang di ekspor turun drastis atau

permintaan dunia terhadap krisis komoditas tersebut menurun secara

signifikan. Dalam hal impor, suatu kenaikan harga dunia yang signifikan

atau penurunan secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar dari persediaan

(19)

krisis ekonomi serius bagi negara-negara importir jika komoditas itu sangat

krusial.

e. Krisis Modal

Krisis modal terjadi karena adanya pelarian modal, baik yang berasal dari

sumber dalam negeri maupun modal asing, terutama investasi jangka

pendek dalam jumlah besar dan terjadi secara mendadak.

2.6 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Tabel Penelitian Terdahulu

No Peneliti Metode Hasil Penelitian 1 Dwi Mega peramalan harga dan produksi tembakau di Indonesia. Hasil yang didapat bahwa metode ARIMA (0,1,1) merupakan metode paling akurat dalam memberikan nilai ramalan untuk harga tembakau dengan nilai MSE sebesar 0,02573. Sedangkan untuk produksi tembakau, metode dekomposisi aditif merupakan metode peramalan terbaik dengan

MSE sebesar 392.222.286. Peramalan harga tembakau Indonesia dengan metode ARIMA (0,0,1) dalam 18 tahun ke depan menghasilkan harga tembakau Indonesia yang cenderung stabil walaupun ada peningkatan tiap periodenya, tetapi tidak begitu besar. Metode dekomposisi aditif menunjukkan tingkat produksi tembakau yang berfluktuasi

(20)

2 Gusti Digja ekspor, konsumsi domestik, dan produk Crude Palm Oil (CPO). Model ARIMA yang tepat untuk peramalan ekspor CPO adalah model ARIMA (2,2,2). Sedangkan model ARIMA untuk peramalan konsumsi domestik adalah model ARIMA (1,2,0) dan model peramalan produksi adalah ARIMA (0,2,1).

Berdasarkan hasil analisis asosiasi, ekspor CPO Indonesia berpengaruh positif terhadap harga CPO Rotterdam. Namun ekspor CPO tidak berpengaruh secara signifikan terhadap selisih harga CPO Rotterdam-Medan sedangkan hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa impor tidak memiliki hubungan dengan harga CPO Malaysia maupun selisih harga CPO Medan-Malaysia. Namun impor CPO memiliki hubungan negatif terhadap produksi CPO Indonesia.

3 Dewi Laili

Yusrina (2010)

Paired Sample t-Test Meneliti mengenai dampak krisis

global tahun 2008 terhadap harga dan volume ekspor perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao) di SumateraUtara.Sebelum terjadinya krisis global 2008 harga dan volume ekspor menurun sedangkan sesudah terjadinya krisis global 2008 harga dan volume ekspor adalah meningkat.

(21)

2.7 Kerangka Pemikiran

KRISIS KEUANGAN EROPA DAN GLOBAL

Berdampak Kepada Ekonomi

(22)

2.8 Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang

menjadi objek penelitian yang masih perlu dibuktikan atau diuji lagi

kebenarannya secara empiris. Berdasarkan permasalahan diatas maka hipotesisnya

adalah sebagai berikut :

1. Peramalan nilai ekspor sektor pertanian Indonesia yang dilakukan dengan

metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017 ke

depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.

2. Peramalan nilai ekspor sektor industri Indonesia yang dilakukan dengan

metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017 ke

depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.

3. Peramalan nilai ekspor sektor pertambangan Indonesia yang dilakukan

dengan metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017

ke depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.

4. Peramalan nilai ekspor secara agregat dari ketiga sektor yang dilakukan

dengan metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017

ke depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.

5. Hasil pengukuran tingkat akurasi peramalan nilai ekspor Indonesia secara

Gambar

Tabel Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

daerah Kabupaten Kutai Timur. Telah luas diketahui bahwa Kabupaten Kutai Timur termasuk daerah yang kaya akan sumberdaya alam, terutama bahan tambang. Sektor pertambangan,

Briket yang dihasilkan dari campuran serbuk gergajian kayu meranti dan arang kayu galam cukup baik, memiliki nilai kalor yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai

Sedang- kan pengertian mengenai Eksploitasi terdapat dalam Pasal 1 ayat (7) yaitu '‘Eksploitasi ada- lah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi

Interface Bridging Hardware Konsep AMR Smart GSM Modem Universal Consentrator Protocol Overview DLMS Overview AGENDA InTek TM

(6) Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 kependidikan dan S1/D4

Hasil analisis menunjukkan waktu transportasi mukosiliar hidung yang diperoleh dari pemeriksaan juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan jenis kelamin

Pilih model topi keledar yang berbeza dengan pelindungan yang mencukupi jika anda merancang untuk menjalankan aktiviti lebih daripada penunggangan basikal rekreasi.. • Apa-apa

a) Bagi setiap muslim yang ingin mempelajari agama-agama lain, tidak boleh melupakan sumber pokok yaitu Alquran dan Hadis, dan jangan sampai orang Islam mempelajari ilmu