BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Peramalan
2.1.1 Definisi Peramalan
Peramalan merupakan studi terhadap data historis untuk menemukan
hubungan, kecenderungan, dan pola yang sistematis (Sugiarto, 2000:1). Pendapat
lain mengatakan bahwa peramalan merupakan kegiatan penerapan model yang
telah dikembangkan pada waktu yang akan datang (Aritonang, 2009:2).
Selanjutnya Makridakis et al (1999:14) mengatakan bahwa peramalan merupakan
alat bantu yang penting dalam perencanaan yang efektif dan efisien.
Dari beberapa definisi diatas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
untuk melakukan suatu peramalan dibutuhkan adanya data, pola atau hubungan
atas kejadian yang diamati, model peramalan.
2.1.2 Jenis-Jenis Peramalan
Aritonang (2009:4) membedakan jenis peramalan berdasarkan tiga kategori
yaitu berdasarkan jangka waktu, ruang lingkup, dan metode yang digunakan.
Berdasarkan jangka waktunya, peramalan terbagi atas dua yaitu peramalan jangka
pendek dan jangka panjang. Peramalan jangka panjang biasanya dilakukan oleh
para pimpinan puncak suatu perusahaan dan bersifat umum sedangkan peramalan
jangka pendek biasanya dilakukan pimpinan pada tingkat menengah maupun
bawah dan lebih bersifat operasional. Peramalan jangka panjang ini berfungsi
Berdasarkan ruang lingkupnya, peramalan terbagi atas dua yaitu peramalan
mikro dan makro. Contoh peramalan secara mikro adalah misalnya seorang
peneliti ingin meramalkan produksi suatu perusahaan untuk sepuluh tahun
kedepan sedangkan contoh peramalan secara makro adalah peramalan
perekonomian suatu negara selama sepuluh tahun kedepannya.
Berdasarkan metode yang digunakan, peramalan terbagi atas dua yaitu
metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif biasanya didasarkan atas
penilaian orang yang melakukan peramalan tersebut daripada pemanipulasian
(pengelolaan dan analisis) data historis yang tersedia. Hal ini terjadi karena tidak
ada atau tidak cukup tersedianya data historis, misalnya peramalan untuk
penjualan produk baru. Adapun teknik-teknik yang lazim digunakan dalam
peramalan kualitatif ini adalah teknik delphi, kurva pertumbuhan, penulisan
skenario, penelitian pasar, kelompok fokus, dan sebagainya.
Peramalan kuantitatif adalah peramalan yang didasarkan atas
pemanipulasian data historis yang tersedia secara memadai dan tanpa anggapan,
intuisi, pendapat, maupun penilaian subjektif dari peneliti. Metode ini lazimnya
didasarkan pada analisis statistik. Makridakis (1999:20) berpendapat bahwa
peramalan kuantitatif dapat diterapkan apabila terdapat tiga kondisi berikut :
1. Tersedia informasi tentang masa lalu,
2. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik,
3. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus
Selanjutnya, Makridakis (1999:21) juga berpendapat bahwa terdapat suatu
dimensi tambahan untuk mengklasifikasikan metode peramalan kuantitatif yaitu
dengan memperhatikan model yang mendasarinya. Terdapat dua jenis model
peramalan yang utama, yaitu model deret berkala dan model regresi (kausal).
Tujuan peramalan deret berkala adalah untuk menemukan pola dalam deret data
historis mengekstrapolasikan pola tersebut ke masa depan. Langkah penting
dalam memilih suatu metode deret berkala yang tepat adalah dengan
mempertimbangkan jenis pola data sehingga metode yang paling tepat dengan
pola tersebut dapat diuji.
Pola data dapat dibedakan menjadi empat jenis siklis dan trend (Makridakis,
1999:21) yaitu :
1. Pola horizontal (H), terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai
rata yang konstan. (Deret seperti itu “stasioner” terhadap nilai
rata-ratanya).
2. Pola musiman (S), terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor
musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada
minggu tertentu).
3. Pola siklis (C), terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi
jangka panjang seperti dengan siklus bisnis.
4. Pola trend (T), terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler
jangka panjang dalam data.
Model regresi (kausal) mengasumsikan bahwa faktor yang diramalkan
misalnya, penjualan = f (pendapatan, harga, iklan, persaingan). Model kausal ini
bermaksud untuk menemukan bentuk hubungan tersebut dan menggunakannya
untuk meramalkan nilai mendatang dari variabel tak bebas.
2.1.3 Langkah-Langkah Peramalan
Menurut Sugiarto (2000:10) ada empat langkah-langkah yang perlu
diperhatikan dalam melakukan suatu peramalan, yaitu :
1. Mengumpulkan data
Langkah pertama yang sangat penting dalam peramalan merupakan
pengumpulan data karena berlakunya prinsip “garbage in garbage out”.
Apabila data yang dikumpulkan kurang tepat atau kurang memadai akan
menyebabkan hasil peramalan yang kurang akurat.
2. Menyeleksi dan memilih data
Apabila data sudah terkumpul maka langkah selanjutnya adalah melakukan
seleksi data yang ada. Data-data yang kurang relevan harus di buang supaya
tidak mempengaruhi akurasi peramalan.
3. Memilih model peramalan
Langkah berikutnya adalah memilih model peramalan. Model peramalan
yang tersedia cukup banyak, untuk itu harus dilakukan pemilihan metode
yang akan dipakai. Salah satu kriteria yang sering dipakai adalah kesalahan
peramalan. Semakin kecil kesalahan peramalan maka semakin baik
metodenya karena hasil peramalan semakin mendekati data aktual dan
sebaliknya semakin besar kesalahan peramalan maka semakin buruk
4. Menggunakan model terpilih untuk peramalan
Setelah model peramalan dipilih maka langkah berikutnya adalah
menggunakan model tersebut. Akurasi metode peramalan terpilih perlu
selalu dipantau dengan membandingkan hasil peramalan dengan data
aktualnya. Apabila akurasi model peramalan menurun karena terjadinya
pola data, model tersebut perlu dievaluasi ulang dan diganti apabila perlu.
2.2 Metode Dekomposisi
Metode dekomposisi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan
untuk melakukan suatu peramalan.. Metode dekomposisi ini umumnya mencoba
mengidentifikasi tiga komponen secara terpisah sebagai pola dasar yang
menggambarkan karakteristik ekonomi dan bisnis sepanjang waktu tertentu, yaitu
komponen faktor musiman (sesonal factor), kecendrungan (trend), siklik
(cyclical).
Secara umum model matematik dari pendekatan metode analisis
dekomposisi adalah (Gaspersz, 1991)
Y
t= f (I
t, T
t, C
t, E
t)
dimana:
Yt = nilai deret waktu (data aktual) pada periode t. Tt = komponen atau indeks musiman pada periode t. Tt = komponen trend pada periode t.
Ct = komponen siklik pada periode t. Et = komponen galat pada periode t.
Faktor galat merupakan selisih antara data aktual dan model yang tidak dapat
Metode dekomposisi memiliki dua sifat yaitu model dekomposisi yang
bersifat aditif dan model dekomposisi yang bersifat multiplikatif.
Yt =
I
t+ T
t+ C
t+ E
t(Metode analisis dekomposisi bersifat aditif)
Yt =
I
tx T
tx C
tx E
t(Metode analisis dekomposisi bersifat multiplikatif)
2.2.1 Indeks Musiman
Indeks musiman berkaitan dengan fluktuasi periodik yang relatif konstan
dan disebabkan oleh faktor-faktor seperti: temperatur, curah hujan, bulan-bulan
tertentu dalam setahun yang berkaitan dengan hari raya, upacara keagamaan, dan
sebagainya.
2.2.2 Trend
Trend menggambarkan perilaku data dalam jangka panjang, yang dapat
bersifat menaik, menurun, atau tidak berubah
2.2.3 Siklik
Faktor siklik mengambarkan naik-turunnya ekonomi atau industri tertentu
dan umumnya seperti deret data GNP (Gross National Product), indeks produksi
industri, permintaan, penjualan barang-barang industri, perkembangan harga,
tingkat bunga, penawaran uang, tingkat inflasi dan sebagainya.
2.3 Perdagangan Internasional
2.3.1 Latar Belakang Perdagangan Internasional
Historis lahirnya perdagangan internasional pada mulanya disebabkan oleh
kebutuhan terhadap suatu barang yang saling ketergantungan dari penduduk suatu
negara dengan penduduk negara lain (Sumanjaya et al, 2010:9). Hal ini ini dapat
berbeda-beda sehingga dalam pemenuhan kebutuhan tersebut dibutuhkan suatu
perdagangan antar negara atau yang lazim disebut perdagangan internasional.
Negara-negara melakukan perdagangan internasional disebabkan oleh dua
alasan yaitu untuk mendapatkan keuntungan perdagangan (gains from trade ) dan
negara berdagang satu sama lain dengan tujuan skala ekonomis (economies of
scales) dalam proses produksi (Krugman, 2002:15).
2.3.2 Teori Perdagangan Internasional 2.3.2.1 Teori Merkantilisme
Aliran merkantilisme lahir di kawasan Eropa Timur dan salah satu tokoh
yang paling berpengaruh adalah Thomas Mun (1571-1641). Aliran merkantilisme
mempunyai pandangan bahwa untuk mencapai kesejahteraan diperoleh melalui
proses akumulasi pengumpulan logam mulia atau emas. Selain itu, aliran
merkantilisme berpendapat bahwa proses keuntungan perdagangan internasional
hanya dapat diperoleh dari surplus neraca perdagangan (ekspor lebih besar dari
impor atau X > M). Hal ini dapat dilakukan dengan memacu kegiatan ekspor
sebagai tujuan utama untuk mencapai kesejahteraan masyarakat (Sumanjaya et al,
2010:12). Merkantilisme memandang bahwa pemerintah harus menggunakan
seluruh kekuatannya untuk mendorong ekspor dan mengurangi atau membatasi
impor.
Namun dalam perkembangannya, pandangan merkantilisme ini membawa
dampak negatif yaitu terjadinya inflasi bagi perkembangan perekonomian
domestik. Hal ini terjadi akibat adanya penumpukan logam mulia (emas) yang
terjadinya inflasi. Teori merkantilisme ini tidak bertahan lama karena pada masa
merkantilisme, masyarakat dalam negeri mengalami tekanan yang ditandai dengan
kenaikan harga barang yang berlangsung secara terus-menerus.
2.3.2.2 Teori Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage Theory)
Teori keunggulan mutlak ini dikemukakan oleh Adam Smith. Teori ini
pada prinsipnya merupakan perbaikan dari teori merkantilisme yang menyatakan
bahwa surplus perdagangan internasional sebagai suatu doktrin. Dasar dari
pemikiran teori ini adalah bahwa suatu negara akan memperoleh keuntungan
perdagangan internasional (gains of trade) karena melakukan spesialisasi produksi
dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak
(absolute advantage) serta mengimpor barang jika negara tersebut memiliki
ketidakunggulan mutlak (absolute disadvantage).
Hady (2001) menyebutkan bahwa ada beberapa asumsi pokok yang
berkaitan tentang teori absolute advantage ini, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja,
2. Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama,
3. Pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang,
4. Biaya transportasi diabaikan.
Namun sama halnya dengan teori merkantilisme sebelumnya, teori
keunggulan mutlak ini juga mempunyai kelemahan, yaitu teori ini hanya
berpendapat bahwa perdagangan internasional dapat terjadi apabila negara
tersebut memiliki keunggulan mutlak, bila negara tersebut tidak memiliki
2.3.2.3 Teori Keunggulan Komperatif (Comparative Advantage Theory)
Teori keunggulan komperatif ini dikemukakan oleh David Ricardo sebagai
koreksi dari teori keunggulan mutlak yang dikemukakan oleh Adam Smith
sebelumnya. Menurut David Ricardo perdagangan internasional dapat saja terjadi
meskipun negara itu tidak memiliki keunggulan mutlak tetapi keunggulan
komperatif (Sumanjaya et al, 2010:20).
Konsep teori keunggulan komperatif ini dibangun oleh beberapa asumsi
(Sumanjaya et al, 2010:21) sebagai berikut :
1. Dua negara masing-masing memproduksi dua jenis komoditi dengan
hanya menggunakan satu faktor produksi tenaga kerja,
2. Kedua komoditi bersifat identik (homogen),
3. Kedua komoditi dapat dipindahkan antar negara dengan biaya transportasi
nol,
4. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang bersifat homogen dalam
suatu negara, namun heterogen tidak identik antar negara,
5. Tenaga kerja dapat bergerak antar industri dalam suatu negara namun tidak
antar negara,
6. Pasar barang dan pasar tenaga kerja dalam kondisi persaingan sempurna.
Teori keunggulan komperatif ini juga memiliki kelemahan. Adapun
kelemahan teori ini (Pelly, 2009) adalah :
1. Teori ini menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi
karena adanya perbedaan fungsi faktor produksi (tenaga kerja). Perbedaan
efisiensi. Akibatnya terjadi perbedaan harga barang yang sejenis diantara
dua negara,
2. Jika fungsi faktor produksi (tenaga kerja) sama atau produktivitas dan
efisiensi di kedua negara sama maka tentu tidak terjadi perdagangan
internasional karena harga barang yang sejenis akan menjadi sama di
kedua negara tersebut,
3. Pada kenyataannya, walaupun fungsi faktor prodiksi (produktivitas dan
efisiensi) sama diantara kedua negara, ternyata harga barang yang sejenis
dapat berbeda sehingga dapat terjadi perdagangan internasional. Dalam hal
ini teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa terjadi perbedaan harga
untuk barang sejenis walaupun fungsi faktor produksi (produktivitas dan
efisiensi) sama di kedua negara.
2.3.2.4 Teori Heckscher-Ohlin (H-O)
Teori Heckscher-Ohlin (H-O) dikembangkan oleh Eli Heckscher dan
Bertil Ohlin, dimana teori ini merupakan pengembangan dari teori comparative
advantage yang dikemukakan oleh David Ricardo. Teori ini menyatakan bahwa
perdagangan internasional digerakkan oleh perbedaan karunia sumber daya antar
negara dengan proporsi penggunaan yang berbeda dalam memproduksi barang.
Menurut teori H-O, faktor produksi dominan bertumpu pada penggunaan
input tenaga kerja dan barang-barang modal. Input yang dimaksud sebagai
efisiensi produk. Advantage menghasilkan suatu barang sebagai spesialisasi
dihadapkan kepada alternatif apakah padat karya (labor intensive) atau padat
menghasilkan barang dengan padat karya maka negara tersebut mengekspor
tenaga kerja dan sebaliknya apabila negara tersebut lebih untung dengan alternatif
padat modal maka negara tersebut akan mengekspor barang-barang modal.
Ada beberapa asumsi yang digunakan dalam teori H-O bagi kedua negara
yang melakukan perdagangan internasional (Sumanjaya et al, 2010:35) yaitu :
1. Negara yang melakukan perdagangan internasional mempunyai
karakteristik yang berbeda terhadap tenaga kerja yang berlimpah dan
sebaliknya berlimpah barang-barang modal,
2. Kedua negara mempunyai kesamaan teknologi,
3. Selera adalah identik bagi kedua negara,
4. Kedua komoditas diproduksi berdasarkan constant return to scale,
5. Masing-masing negara melakukan spesialisasi produk,
6. Kompetitif adalah sempurna sehingga barang ditentukan oleh
masing-masing pihak,
7. Tidak terdapat biaya transportasi, tarif, atau bentuk lainnya yang akan
menghambat pola perdagangan internasional,
8. Semua sumber daya dapat diperoleh dengan mudah dan produktif,
9. Perdagangan internasional dilakukan secara seimbang.
2.3.2.5 Teori Leontiev
Teori Leontiev ini diperkenalkan oleh Wessily Leontiev. Teori ini timbul
akibat dari teori H-O yang tidak menyoroti perbedaan labor cost dan capital cost
bagi negara yang berbeda, apalagi diantara negara maju dengan negara yang
betapa luasnya pengertian advantage dalam proses perdagangan internasional
(Sumanjaya, 2010:43).
2.3.2.6 Teori Stopler-Samuelson
Teori ini dikemukakan oleh Wolf Gang Stopler dan Paul Samuelson dalam
artikelnya yang berjudul “Proteksi dan Upah Riil” tahun 1941. Teori
Stopler-Samuelson menggunakan instrumen tarif dalam perdagangan internasional
sehingga negara yang bersumber dari tarif digunakan untuk memperluas
kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.
2.3.2.7 Teori Rybczynski
Dalam teori Rybczynski hampir sama dengan teori Stopler-Samuelson
sebelumnya, yaitu hanya menyoroti bagaimana upaya yang perlu dilakukan dalam
perdagangan internasional untuk melindungi tenaga kerja sekaligus meningkatkan
kesejahteraan tenaga kerja, hanya saja dalam teori Rybczynski ini instrumen yang
digunakan adalah dengan membatasi input capital (restriksi). Namun dalam
perkembangannya instrumen restriksi dan tarif ini mengakibatkan terjadinya
perang sebagai suatu dasar perselisihan. Suatu negara yang menggunakan tarif
dalam upaya perlindungan terhadap tenaga kerja maka hal yang sama akan
dilakukan oleh negara lain sebai tindakan balasan dan demikian pula terhadap
restriksi.
2.4 Ekspor
2.4.1 Definisi Ekspor
Secara fisik, ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan
menimbulkan aliran pengeluaran yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan
demikian pengeluaran agregat akan meningkat sebagai akibat dari kegiatan
mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini menyebabkan
peningkatan dalam pendapatan nasional (Sukirno, 2004:203).
Dalam pengertian lain, ekspor merupakan upaya melakukan penjualan
komoditi yang kita miliki kepada bangsa lain atau negara asing dengan
mengharapkan pembayaran dalam valuta asing, serta melakukan komunikasi
dengan memakai bahasa asing (M.S, 2004:1). Kegiatan ekspor merupakan suatu
hal yang penting dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu
negara.
Selanjutnya, Todaro (2000:167) mendefinisikan ekspor sebagai kegiatan
perdagangan yang memberikan rangsangan guna menumbuhkan permintaan
dalam negeri yang menyebabkan tumbuhnya industri dan pabrik besar, bersamaan
dengan struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang efisien.
2.4.2 Tujuan Ekspor
Menurut M.S (2004:99) ada beberapa tujuan ekspor, diantaranya :
1. Meningkatkan laba perusahaan melalui perluasan pasar serta untuk
memperoleh harga jual yang lebih baik (optimalisasi laba),
2. Membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar domestik
(membuka pasar ekspor). Dengan demikian komoditi yang diproduksi
mempunyai pasar luas, tidak lagi sekadar pasar dalam negeri, tapi juga
3. Memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang sehingga tercapai kapasitas
optimum dalam berproduksi yang dapat menekan biaya minimum
perusahaan,
4. Membiasakan diri bersaing dalam pasar internasional sehingga terlatih
dalam persaingan yang ketat dan terhindar dari sebutan “jago kandang”,
apalagi menghadapi globalisasi dan liberalisasi di milenium kedua yang
akan segera tiba.
2.4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekspor
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ekspor
menurut Darmansyah (Surbakti, 2007) dalam yaitu :
1. Harga internasional.
Semakin besar selisih antara di pasar internasional dengan harga domestik
maka akan menyebabkan jumlah komoditi yang akan di ekspor menjadi
bertambah banyak.
2. Nilai tukar uang.
Makin tinggi nilai mata uang suatu negara (mengalami apresiasi) maka
harga itu di pasar internasional menjadi mahal. Sebaliknya makin rendah
nilai mata uang suatu negara (mengalami depresiasi) maka harga ekspor
negara itu di pasar internasional menjadi lebih rendah.
3. Kuota ekspor-impor.
Yaitu merupakan kebijaksanaan perdagangan internasional berupa
4. Kebijaksanaan tarif non tarif.
Kebijaksanaan tarif adalah untuk menjaga harga produk dalm negeri dalam
tingkatan tertentu yang dianggap mampu atau dapat mendorong
pengembangan komoditi tersebut, sedangkan kebijakan non tarif adalah
untuk mendorong tujuan diversifikasi ekspor.
2.4.4 Kebijakan Pemerintah Untuk Mendorong Ekspor
Menurut Ritonga (2004:8) ada beberapa kebijakan yang dapat ditempuh
oleh pemerintah unruk mendorong ekspor, yaitu :
1. Meningkatkan volume dengan menambah jenis komoditas,
2. Meningkatkan volume dengan memperbanyak negara tujuan,
3. Meningkatkan nilai dengan cara perbaikan mutu dan daya saing,
4. Mendorong ekspor dengan berbagai bentuk fasilitas dan subsidi,
5. Pengendalian harga atau inflasi dalam negeri,
6. Devaluasi mata uang, dan
7. Lobi dan kerja sama (bilateral dan multilateral)
2.5 Krisis Ekonomi
2.5.1 Definisi Krisis Ekonomi
Krisis ekonomi dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dimana ekonomi
dari sebuah negara mengalami penurunan secara mendadak yang disebabkan oleh
suatu krisis keuangan. Krisis keuangan itu sendiri terjadi pada saat dalam
ekonomi/negara, jumlah permintaan uang melebihi jumlah penawaran uang.
Krisis ekonomi dapat berupa resesi atau depresiasi. Perbedaan kedua hal ini
terletak pada jangka waktu atau lamanya suatu krisis yang terjadi. Suatu negara
dikatakan mengalami resesi apabila penurunan Produk Domestik Brutonya (PDB)
berlangsung selama enam bulan (dua semester berturut-turut). Resesi ekonomi
pada umumnya berlangsung tidak lebih dari satu tahun dan efeknya lebih ringan
dari depresi.
Depresi ekonomi didefinisikan sebagai titik terendah dalam sebuah siklis
ekonomi. Depresi ekonomi dimana saat ekonomi nasional secara total mengalami
kelesuhan sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak heran jika pada umumnya
orang lebih takut mengalami depresi daripada resesi. Menurut Tambunan
(2011:10) ciri-ciri suatu negara mengalami depresi ekonomi adalah sebagai
berikut :
1. Kemampuan belanja masyarakat menurun,
2. Jumlah pengangguran sangat besar (lebih dari 50 persen dari jumlah tenaga
kerja),
3. Permintaan atau konsumsi menurun sehingga menimbulkan kelebihan
supply di pasar domestik,
4. Harga-harga mengalami kejatuhan atau harga-harga naik namun dengan laju
yang lebih rendah dari laju normal,
5. Upah atau gaji dihampir semua sektor ekonomi dalam negeri berkurang atau
mengalami kenaikan dengan persentase lebih kecil daripada laju pada saat
ekonomi mengalami kondisi normal,
2.5.2 Jenis-Jenis Krisis
Dalam kenyataannya, jenis krisis sangat ditentukan oleh sumbernya.
Menurut Tambunan (2011 :11) ada beberapa jenis krisis, diantaranya :
a. Krisis Produksi
Krisis ini termasuk krisis yang bersumber dari dalam negeri, dimana terjadi
penurunan volume produksi domestik secara mendadak dan dalam jumlah
besar. Misalnya, gagal panen padi yang membuat produksi beras turun
drastis.
b. Krisis Perbankan
Krisis perbankan (krisis keuangan) merupakan salah satu jenis krisis yang
paling sering terjadi di banyak negara. Contohnya, krisis keuangan Asia
1997/1998. Dampak langsung atau fase pertama dari krisis ini adalah pada
kesempatan kerja dan pendapatan di subsektor keuangan tersebut. Pada fase
pertama ini di dalam ekonomi telah terjadi penambahan jumlah
pengangguran dan penurunan per kapita akibat krisis keuangan.
Selanjutnya, pada fase kedua dari krisis perbankan ini merembet ke
perusahaan-perusahaan yang selama itu sangat tergantung pada sektor
perbankan dalam pembiayaan kegiatan-kegiatan produksi/bisnis.
Kenaikan suku bunga pinjaman bisa terjadi sangat drastis pada krisis
perbankan ini. Hal ini dikarenakan oleh dua sebab. Pertama, permintaan
kredit yang besar dari dunia usaha, namun di sisi lain pada waktu
bersamaan, dana yang terkumpul dari perbankan dari pihak ketiga untuk
dapat bertahan atau yang kondisi keuangannya yang tidak terlalu buruk
menjadi sangat hati-hati menyalurkan kredit ke masyarakat dengan maksud
untuk memperkecil risiko.
c. Krisis Nilai Tukar
Krisis nilai tukar terjadi apabila suatu nilai tukar (kurs) dari sebuah mata
uang sendiri (misalnya, rupiah) terhadap mata uang asing (misalnya, dolar
AS) mengalami penurunan atau depresiasi sangat besar yang terjadi secara
mendadak atau prosesnya berlangsung terus membentuk sebuah trend
meningkat.
Dampak langsung dari perubahan kurs adalah pada volume ekspor dan
impor. Menurut teori konvensional mengenai perdagangan internasional,
depresiasi nilai tukar dari suatu mata uang, misalnya rupiah terhadap dolar
AS akan membuat daya saing harga dari produk-produk buatan Indonesia
membaik yang selanjutnya membuat volume ekspor Indonesia meningkat.
d. Krisis Perdagangan
Krisis perdagangan ini berasal dari sumber-sumber eksternal. Di jalur
perdagangan itu sendiri terdapat dua subjalur, yaitu ekspor dan impor.
Dalam jalur ekspor, suatu krisis bagi eksportir bisa terjadi karena harga di
pasar internasional dari komoditas yang di ekspor turun drastis atau
permintaan dunia terhadap krisis komoditas tersebut menurun secara
signifikan. Dalam hal impor, suatu kenaikan harga dunia yang signifikan
atau penurunan secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar dari persediaan
krisis ekonomi serius bagi negara-negara importir jika komoditas itu sangat
krusial.
e. Krisis Modal
Krisis modal terjadi karena adanya pelarian modal, baik yang berasal dari
sumber dalam negeri maupun modal asing, terutama investasi jangka
pendek dalam jumlah besar dan terjadi secara mendadak.
2.6 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Tabel Penelitian Terdahulu
No Peneliti Metode Hasil Penelitian 1 Dwi Mega peramalan harga dan produksi tembakau di Indonesia. Hasil yang didapat bahwa metode ARIMA (0,1,1) merupakan metode paling akurat dalam memberikan nilai ramalan untuk harga tembakau dengan nilai MSE sebesar 0,02573. Sedangkan untuk produksi tembakau, metode dekomposisi aditif merupakan metode peramalan terbaik dengan
MSE sebesar 392.222.286. Peramalan harga tembakau Indonesia dengan metode ARIMA (0,0,1) dalam 18 tahun ke depan menghasilkan harga tembakau Indonesia yang cenderung stabil walaupun ada peningkatan tiap periodenya, tetapi tidak begitu besar. Metode dekomposisi aditif menunjukkan tingkat produksi tembakau yang berfluktuasi
2 Gusti Digja ekspor, konsumsi domestik, dan produk Crude Palm Oil (CPO). Model ARIMA yang tepat untuk peramalan ekspor CPO adalah model ARIMA (2,2,2). Sedangkan model ARIMA untuk peramalan konsumsi domestik adalah model ARIMA (1,2,0) dan model peramalan produksi adalah ARIMA (0,2,1).
Berdasarkan hasil analisis asosiasi, ekspor CPO Indonesia berpengaruh positif terhadap harga CPO Rotterdam. Namun ekspor CPO tidak berpengaruh secara signifikan terhadap selisih harga CPO Rotterdam-Medan sedangkan hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa impor tidak memiliki hubungan dengan harga CPO Malaysia maupun selisih harga CPO Medan-Malaysia. Namun impor CPO memiliki hubungan negatif terhadap produksi CPO Indonesia.
3 Dewi Laili
Yusrina (2010)
Paired Sample t-Test Meneliti mengenai dampak krisis
global tahun 2008 terhadap harga dan volume ekspor perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao) di SumateraUtara.Sebelum terjadinya krisis global 2008 harga dan volume ekspor menurun sedangkan sesudah terjadinya krisis global 2008 harga dan volume ekspor adalah meningkat.
2.7 Kerangka Pemikiran
KRISIS KEUANGAN EROPA DAN GLOBAL
Berdampak Kepada Ekonomi
2.8 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang
menjadi objek penelitian yang masih perlu dibuktikan atau diuji lagi
kebenarannya secara empiris. Berdasarkan permasalahan diatas maka hipotesisnya
adalah sebagai berikut :
1. Peramalan nilai ekspor sektor pertanian Indonesia yang dilakukan dengan
metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017 ke
depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.
2. Peramalan nilai ekspor sektor industri Indonesia yang dilakukan dengan
metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017 ke
depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.
3. Peramalan nilai ekspor sektor pertambangan Indonesia yang dilakukan
dengan metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017
ke depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.
4. Peramalan nilai ekspor secara agregat dari ketiga sektor yang dilakukan
dengan metode dekomposisi untuk periode Januari 2012 s/d Desember 2017
ke depan diduga menghasilkan nilai ekspor yang cenderung menurun.
5. Hasil pengukuran tingkat akurasi peramalan nilai ekspor Indonesia secara