KONSERVASI PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA
DALAM PEMBELAJARAN
Oleh :
NAMA
: M. HARSA BAHTIAR
NIM
: 2101411115
ROMBEL
: 04
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
KONSERVASI PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM
PEMBELAJARAN
PENDAHULUAN
Penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam kegiatan pembelajaran, maupun kegiatan lainnya, mengacu kepada politik bahasa nasional yang berisikan perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengolahan keseluruhan masalah bahasa, baik bahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing (Halim, 1984:15). Politik bahasa nasional berawal dari salah satu pernyataan sikap dalam Sumpah Pemuda 1928 yang berisi pengakuan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Pernyataan sikap itu setelah Indonesia merdeka secara resmi dinyatakan dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36 bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”, memberikan dasar yang kuat dan resmi bagi pemakaian bahasa Indonesia bukan saja sebagai bahasa penghubung pada tingkat nasional tetapi juga sebagai bahasa resmi kenegaraan.
Sejalan dengan itu, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Halim (1984:17) mengemukakan
“Pertama, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia, alat penyatuan berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, dan kesukuannya ke dalam masyarakat nasional Indonesia, dan alat perhubungan antarsuku, antardaerah serta budaya. Kedua, di dalam kedududukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia adalah bahasa resmi pemerintahan, bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional, serta alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.”
kepada murid-muridnya karena hal ini akan berdampak pada masa depan bahasa Indonesia itu sendiri. Dalam mempertahankan keberadaan bahasa Indonesia, maka perlu adanya kegiatan konservasi. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris yaitu conservation yang berarti pelestarian atau perlindungan. Apabila bahasa Indonesia ingin tetap lestari maka diperlukan usaha dari semua pihak untuk menjaga kelestarian bahasa Indonesia agar tetap menjadi bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah penggunaan bahasa dan tujuan bahasa Indonesia. Namun sebaliknya, apabila bahasa Indonesia tidak dijaga kelestariannya, dalam hal ini masyarakat lebih memilih untuk menggunakan bahasa asing, maka jangan berharap bahasa Indonesia di masa depan masih menjadi bahasa yang sesuai bagi bangsa Indonesia karena kaidah dan tujuan aslinya sudah melenceng jauh.
Pada kenyataannya di sekolah, masih banyak guru yang pada saat melakukan kegiatan belajar-mengajar masih menggunakan bahasa daerah, bahasa asing, dan “bahasa campuran”. Berdasarkan temuan itu, ada kesan penggunaan bahasa Indonesia di sekolah merupakan urusan guru bahasa Indonesia, sedangkan guru bidang studi lain beranggapan “yang penting siswa mengerti apa yang diajarkannya”. Selain itu, ada yang mengkhawatirkan, ada beberapa guru bahasa Indonesia yang mulai tidak konsisten menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran.
apabila sikap negatif yang ada maka dapat dianggap menghancurkan bahasa Indonesia.
Sehubungan dengan sikap bahasa itu, dalam proses pembelajaran diperlukan sikap yang positif yang diperlihatkan guru agar kemampuan berbahasa anak didiknya dapat secara alami berkembang dan mampu menjaga kelestarian bahasa Indonesia. Didalam makalah ini akan membahas tentang beberapa faktor penyebab sikap negatif terhadap bahasa Indonesia, dan alternatif penyelesaiannya.
PEMBAHASAN
Permasalahan Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-hari
Bahasa merupakan suatu untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Bersamaan dengan kehidupan dalam masyarakat luas, remaja mengikuti proses belajar di sekolah. Sebagaimana diketahui dilembaga pendidikan bahasa diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, namun juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk didalamya perilaku berbahasa.
Pengaruh pergaulan dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa remaja menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang didalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok tertentu yang bentuknya amat khusus.
Peran media massa dalam mempengaruhi kualitas penggunaan bahasa Indonesia sampai saat ini sangat penting, karena dalam era global sekarang media massa merupakan sarana komunikasi yang paling efektif dalam mempengaruhi sikap dan perilaku manusia, baik yang positif, maupun yang negatif, termasuk dalam mempengaruhi sikap bahasa dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran di sekolah (Muslich, 2007; Kasmansyah, 2003). Saat ini peran media massa dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia lebih mengarah kepada hal yang negatif, dalam kaitannya dengan penularan sikap negatif terhadap bahasa Indonesia, contoh-contoh pemakaian bahasa yang berkesan mengabaikan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar (Kasmansyah, 2003).
Permasalahan Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran Banyak faktor yang menyebabkan guru tidak optimal menggunakan bahasa Indonesia, di antaranya: (a) ada anggapan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan urusan guru bahasa Indonesia, dalam kegiatan pembelajaran yang penting siswa mengerti; (b) tidak ada ketentuan yang tegas dan jelas bagi guru nonbahasa Indonesia, nonbahasa asing harus terampil dan mau menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran; (c) bersikap negatif terhadap bahasa Indonesia dengan tidak ada upaya meningkatkan keterampilan berbahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar; (d) pengaruh media massa yang cenderung kurang membina bahasa Indonesia, tetapi lebih mengarah ke sikap negatif terhadap bahasa Indonesia, seperti lebih mengutamakan bahasa asing, cenderung vulgar, dan tidak menggunakan bahasa secara santun.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai, maka diperlukannya proses yang benar yang dilakukan guru dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Tujuan tersebut adalah
2) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3) Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4) Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial
5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Untuk mencapai tujuan diberikannya mata pelajaran bahasa Indonesia di atas, guru perlu mengupayakan agar pembelajaran bahasa Indonesia dapat menjadi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Dengan demikian, diharapkan pencapaian tujuan-tujuan di atas dapat lebih optimal dan bermakna bagi siswa.
Sebenarnya disetiap kegiatan guru melakukan proses kegiatan pembelajaran, pasti didalamnya terdapat bahasa, baik itu bahasa tulis maupun bahasa lisan yang keduanya juga memiliki peran dalam mengajarkan berbahasa yang baik dan benar kepada murid-murid. Namun penggunaan bahasa secara lisan lebih riskan terjadi kesalahan karena ketidaktahuan atau ketidaksengajaan guru dalam pengucapan bahasa didalam proses pembelajaran, namun tidak menutup kemungkinan juga pada bahasa tulis dapat terjadi kesalahan karena minimnya pengetahuan guru tentang bahasa tulis.
pemilihan sumber/media, skenario pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Selain penggunaan bahasa tulis dalam RPP, penggunaan bahasa tulis dan lisan juga dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran mencakup: prapembelajaran, membuka pelajaran, kegiatan inti pembelajaran (penguasaan materi pembelajaran, pendekatan strategi pembelajaran, pemanfaatan sumber belajar dan media, pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa, penilaian proses dan hasil belajar, penggunaan bahasa), penutup (melakukan refleksi dan tindak lanjut). Dalam penilaian kegiatan pembelajaran digunakan instrumen dalam bentuk IPKG 1 (Instrumen Penilaian Kinerja Guru 1) untuk penilaian RPP, sedangkan penilaian kegiatan pembelajaran menggunakan IPKG 2 (Instrumen Penilaian Kinerja Guru 2).
Upaya Konservasi Penggunaan Bahasa dalam Pembelajaran
dalam penggunaan bahasa Indonesia di kegiatan pembelajaran di sekolah. Salah satu pembinaan yang dapat dilakukan di antaranya: (a) pembinaan secara internal guru bahasa Indonesia, dan (b) pembinaan secara eksternal.
Dalam upaya menumbuhkan sikap positif terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dapat melalui pembinaan sikap positif secara internal di antaranya, adanya pola kebijakan yang mengatur agar guru bahasa Indonesia secara berkala dan terencana dapat meningkatkan kualitas keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, menulis, dan berbicara), baik dalam kaitannya dengan persiapan mengajar, maupun dalam pelaksanaan pembelajaran, dan pasca pembelajaran. Pola kebijakan ini, misalnya, guru bahasa Indonesia yang tidak bersikap positif terhadap bahasa Indonesia diberi sanksi, sanksi dapat berupa teguran atau sanksi akademik seperti membuat karya ilmiah atau membuat majalah dinding untuk sekolah, sedangkan yang bersikap positif terhadap bahasa Indonesia diberi imbalan yang edukatif. Imbalan yang edukatif, misalnya, pemberian buku-buku yang terkait dengan peningkatan mutu pembelajaran bahasa Indonesia, ditugaskan mengikuti pelatihan, seminar yang relevan dengan bidang studi, atau studi lanjut. Selain itu, ada kebijakan secara berkala program pelatihan peningkatan mutu pembelajaran bahasa Indonesia yang mengacu kepada kebijakan kebahasan yang ada.
Pembinaan secara eksternal dapat melalui kebijakan kebahasaan di Indonesia yang selama ini mengacu kepada pola kebijakan politik bahasa nasional yang di dalamnya mengatur arah dan kebijakan kebahasaan di Indonesia (Halim ed., 1984). Dalam kebijakan politik bahasa nasional itu, Indonesia mengenal adanya bahasa nasional, bahasa daerah, dan bahasa asing. Ketiga bahasa itu di Indonesia digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi saat menggunakannya (Kasmansyah, 2003).
itu, bahasa Indonesia juga harus dapat memenuhi keperluan siswa dan masyarakat pemakainya dalam berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, pendidikan, pengetahuan, teknologi, keamanan, dan kebudayaan (Moeliono, 1985). Dengan kata lain, bahasa Indonesia harus dapat mewujudkan jati dirinya sebagai bahasa modern, sebagaimana yang diamanatkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hal tersebut hanya dapat terwujud apabila upaya pembinaan sikap positif bahasa berjalan dengan baik. Program itu akan berjalan sebagaimana yang diharapkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, baik yang duduk sebagai pemegang kebijakan di bidang pendidikan, maupun yang terjun langsung ke lapangan, seperti guru.
Guru sebagai Objek Teladan Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar
metode pembelajaran dapat menempatkan guru bahasa Indonesia berfungsi sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, pembaharu, pribadi, peneliti, pendorong kreatifitas, model dan teladan. Dengan demikian, guru bahasa Indonesia setidak-tidaknya memiliki profil sebagai berikut: (1) guru Bahasa Indonesia yang profesional harus dapat dipercaya dan ditiru; (2) menguasai materi pelajaran, mampu memilih dan menyajikan bahan ajar sesuai dengan perkembangan siswa, memahami tingkat kesulitan bahan ajar, memahami keterkaitan bahan ajar dengan mata pelajaran lain berdasarkan kecerdasan ganda; (3) menguasai metodologi pembelajaran; (4) berperan sebagai fasilitator, motivator dan inspirator; (5) guru bahasa Indonesia adalah figur guru yang menyenangkan dan penyayang; (6) guru Bahasa Indonesia adalah seorang pemimpin; (7) guru Bahasa Indonesia yang profesional adalah memahami dan dapat menerjemahkan kehidupan masyarakat dalam pembelajaran bahasa di sekolah, sehingga siswa dapat merasakan manfaat dan makna belajar; (8) guru bahasa Indonesia yang profesional adalah seorang jurnalis, harus memiliki wawasan iptek yang luas, sebagai pembelajar (learner).
Guru dapat memperlihatkan sikap positifnya terhadap bahasa Indonesia pada saat mengajarkan materi, yaitu dengan cara menggunakan tutur kata yang baik sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Guru menjadi teladan bagi siswanya, sudah tentu siswa akan meniru apa yang dilakukan oleh gurunya, maka dari itu guru harus memberi contoh yang baik agar kelak peserta didiknya mampu mengimplementasikan sikap positif terhadap bahasa Indonesia dikehidupan sehari-hari sehingga timbul rasa untuk menjaga kelestarian bahasa Indonesia.
PENUTUP
menjaga kelestarian bahasa Indonesia seluruh elemen masyarakat harus berusaha menjaga eksistensi bahasa Indonesia di Indonesia bukan menggunakan bahasa asing sebagai bagian dari kehidupan modern yang dipenuhi dengan rasa gengsi.
Guru memiliki peran penting dalam mengajarkan bahasa Indonesia, tidak hanya guru bahasa Indonesia namun juga semua guru mata pelajaran haruslah mempunyai kompetensi tentang penggunaan bahasa Indonesia baik bahasa tulis maupun bahasa lisan, hal ini karena guru merupakan teladan bagi siswa yang dijadikan objek percontohan oleh siswa untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Apabila guru mencontohkan tentang kebaikan, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan mengikuti contoh yang dilakukan oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA
Broto A. S, “Pengajaran Bahasa Indonesia”, Bulan Bintang, Jakarta, 1978 Halim, Amran. 1984. Politik Bahasa Nasional 1. Jakarta: PN Balai Pustaka. Hamid, Fuad Abdul. 1987. Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: PPLPTK.
http://nurendahbastinduns.blogspot.com/2010/07/guru-sebagai-pilar-teladan-dalam.html diakses pada 1 Oktober 2013 pukul 20:30.
Kasmansyah. 2003. “Mengkaji Ulang Peran Media Massa dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia” . Makalah. Disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII di Hotel Indonesia, Jakarta, 28 Oktober 2003.
Kompas Cyber Media. 12 Agustus 2012. “Sikap Positif Berbahasa Indonesia” diakses 1 Oktober 2013 pukul 21:00.
Moeliono, Anton. 1985. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Rancangan Alternatif didalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan.
Muslich, Masnur. 26 April 2007. “Bahasa Indonesia dan Globalisasi.” Masnur Muslich diakses 2 Oktober 2013 pukul 20:00.
Sukirno. 28 Oktober 2008. “Bahasa Indonesia tak Lagi Pemersatu”. [email protected] diakses 2 Oktober 2013 pukul 19:00.