JUAL BELI (AL-BAI’):
JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT
Makalah ini disusun guna memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Fiqh Mu’amalah
Dosen Pengampu: Imam Mustofa, S.H.I., M.SI.
Disusun oleh:
RESTIANA (1502100103)
Kelas B
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, setiap muslim pasti
melaksanakan suatu transaksi yang biasa disebut dengan jual beli. Si
penjual menjual barangnya, dan si pembeli membelinya dengan
menukarkan barang itu dengan sejumlah uang yang telah disepakati oleh
kedua belah pihak. Jual beli merupakan salah satu aktivitas bisnis yang
sudah berlangsung cukup lama dalam masyarakat. Namun demikian,
tidak ada catatan yang pasti kapan awal mulanya aktivitas bisnis secara
normal ini dilaksanakan. Aktivitas ini tidak dapat dihindarkan dari
masyarakat. Kegiatan jual beli adalah kegiatan yang melibatkan banyak
orang atau pihak dan harus mempunyai status hukum yang jelas,
khususnya terkait keabsahan transaksi yang dilakukan. Jika zaman
dahulu transaksi dilakukan secara langsung dengan bertemunya kedua
belah pihak, maka pada zaman sekarang jual beli sudah tidak terbatas
pada satu ruang saja.
Sistem perekonomian di Indonesia saat ini telah berkembang
pesat. Dengan kemajuan teknologi, dan maraknya penggunaan internet,
kedua belah pihak dapat bertransaksi dengan lancar. Para pedagang
terkadang melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian konsumen
tanpa memperhatikan hukum jual beli dalam perspektif Islam. Padahal
dalam pelaksanaan jual beli, Islam telah memberikan arahan yang sangat
jelas mengenai tata cara, etika, dan objek yang diperjual belikan.
Saat ini kasus yang paling sering terjadi dalam jual beli yaitu
kenaikan harga karena menggunakan sistem kredit. Lalu apakah jual beli
dengan sistem kredit ini sah menurut fiqh mu’amalah?. Maka dalam hal
ini penulis akan mengkaji lebih dalam tentang pengertian jual beli dan
juga hukum jual beli dengan sistem kredit dalam perspektif Islam.
B. Rumusan Masalah
1) Apa definisi dari jual beli?
2) Apa dasar, rukun dan syarat dari jual beli?
4) Apa saja syarat dan unsur-unsur kredit?
5) Ada berapa jenis-jenis sistem kredit?
BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Jual Beli
Jual beli dalam bahasa Arabnya disebut dengan al-bay’ artinya
tukar menukar atau saling tukar. Jual beli secara etimologi atau
bahasa adalah pertukaran barang dengan barang (barter).
Sementara secara terminologi, ada beberapa ulama yang
mendefinisikan jual beli. Diantaranya adalah
a) Imam Hanafi, beliau menyatakan jual beli adalah tukar menukar
harta atau barang dengan cara tertentu atau tukar menukar
sesuatu yang disenangi dengan barang yang setara nilai dan
manfaatnya nilainya setara dan membawa manfaat bagi
masing-masing pihak.1
b) Menurut Ibn Qudamah yang dikutip oleh Siti Mujiatun pengertian
jual beli adalah “tukar menukar harta untuk saling dijadikan hak
milik. Tukar menukar tersebut dilakukan dengan ijab kabul atau
saling memberi.2
c) Sayid Sabiq mendefinisikan jual beli dengan arti ‘saling menukar
harta dengan harta atas dasar suka sama suka’.
d) Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa jual beli adalah ‘saling
menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik’.
Definisi ini tidak jauh berbeda dengan apa yang didefinisikan oleh
Abu Qudamah yaitu ‘saling menukar harta dalam bentuk
pemindahan milik dan pemilikan’.3
e) Sementara menurut Hasbi ash-Shiddieqy jual beli adalah akad
yang terdiri atas penukaran harta dengan harta lain, maka
terjadilah penukaran dengan milik tetap.
1
Imam Mustofa,Fiqh Muamalah kontemporer(,Jakarta:Rajawali pers,2016) h.21
2Siti Mujiatun, “Jual Beli dalam Perspektif Islam : Salam dan Istisna’”, dalam JURNAL RISET
AKUNTANSI DAN BISNIS Vol 13 No . 2 / September 2013 (1-15), h. 3 3
Syaifullah M.S,”Etika Jual Beli dalam Islam”,dalam Hunafa JURNAL STUDIA ISLAMIKA
Berdasarkan pemaparan berbagai definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa jual beli adalah tukar menukar barang antara dua
orang atau lebih atas dasar suka sama suka, untuk saling memiliki.
Dengan jual beli, penjual berhak memiliki uang secara sah. Pihak
pembeli berhak memiliki barang yang ia terima dari penjual.
Kepemilikan masing-masing pihak dilindungi oleh hukum.
B. Dasar, Rukun dan Syarat Jual Beli
1) Dasar Hukum Jual Beli
Jual beli disyariatkan oleh Allah berdasarkan dalil-dalil sebagai
berikut:
a) Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275 :
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang
demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,
padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya
dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)
kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba),
maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka
kekal di dalamnya.
b) Hadis Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang
ditanya oleh seseorang apakah usaha yang paling baik wahai
Rasulullah. Beliau menjawab seseorang yang bekerja dengan
usahanya sendiri dan jual beli yang baik (dibenarkan oleh
syariat Islam). (Hadist riwayat Ahmad)
2) Rukun dan Syarat Jual Beli
Rukun dan syarat jual beli yang seharusnya diperhatikan
masyarakat diantaranya terdapat tiga rukun jual beli yaitu:
a) Pelaku transaksi
b) Objek transaksi
c) Akad transaksi
Hal tersebut adalah segala tindakan yang dilakukan kedua belah
pihak yang menunjukkan mereka sedang melakukan transaksi,
baik tindakan itu berbentuk kata-kata maupun perbuatan.4
Suatu jual beli tidak sah bila tidak terpenuhi salah satu
akadnya, dibawah ini tujuh syarat dalam jual beli, yaitu:
a) Saling rela antara kedua belah pihak
b) Pelaku akad adalah orang yang dibolehkan melakukan akad,
yaitu orang yang telah baligh, berakal, dan mengerti.
c) Harta yang menjadi objek transaksi telah dimiliki sebelumnya
oleh kedua pihak
d) Objek transaksi adalah barang yang dibolehkan oleh agama
e) Objek jual beli diketahui oleh kedua belah pihak saat akad
f) Harga harus jelas saat transaksi.5
C. Pengertian Sistem Kredit
Sistem dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian
sistem ada dua, yaitu yang pertama sistem adalah cara (metode)
yang teratur untuk melakukan sesuatu.6 Yang Kedua sistem adalah
4
Mardani,Fiqh Ekonomi Syariah:Fiqh Muamalah,(Jakarta:Kencana,2012), h.102 5Ibid.,h.104-105
6
susunan unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga
membentuk suatu kesatuan.7
Secara etimologi istilah kredit berasal dari bahasa latin credere,
yang berarti kepercayaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
salah satu pengertian kredit adalah pinjaman uang dengan
pembayaran pengembalian secara mengangsur atau pinjaman
sampai batas jumlah tertentu. Dalam pengertian umum kredit
didasarkan pada kepercayaan atas kemampuan si peminjam untuk
membayar uang sejumlah uang pada masa yang akan datang.
Sistem kredit yaitu penjualan yang pembayarannya dilakukan
setelah penyerahan barang dengan jangka waktu yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak.
D. Unsur-Unsur Kredit
1) Kreditur
Kreditur merupakan pihak yang memberikan kredit (pinjaman)
kepada pihak lain yang mendapat pinjaman
2) Debitur
Debitur merupakan pihak yang membutuhkan dana, atau pihak
yang mendapat pinjaman dari pihak lain.
3) Kepercayaan (Trust)
Kreditur memberikan kepercayaan kepada pihak yang menerima
pinjaman (debitur) bahwa debitur akan memenuhi kewajibannya
untuk membayar pinjamannya sesuai dengan jangka waktu
tertentu yang diperjanjikan.
4) Perjanjian
Perjanjian merupakan suatu kontrak kesepakatan yang dilakukan
antara kreditur dengan debitur.
5) Resiko
Setiap dana yang disalurkan oleh kreditur selalu mengandung
adanya resiko tidak kembalinya dana. Resiko adalah
7Meity Taqdir Qadratillah dkk,Kamus Besar Bahasa IndonesiaI untuk Pelajar, (Jakarta: Badan
kemungkinan kerugian yang akan timbul atas penyaluran kredit
kreditur.
6) Jangka waktu
Jangka waktu merupakan lamanya waktu yang diperlukan oleh
debitur untuk membayar pinjamannya kepada kreditur.
7) Balas jasa
Sebagai imbalan atas dana yang disalurkan oleh kreditur, maka
debitur akan membayar sejumlah uang tertentu sesuai dengan
perjanjian.8
E. Jual Beli dalam Sistem Kredit
Jadi kesimpulan dari beberapa penjabaran diatas, jual beli sistem
kredit adalah jual beli yang dilakukan dengan membayar secara
angsuran di mana pembeli sudah menerima barang sebagai objek
yang dibeli, tetapi belum membayar harga secara keseluruhannya.
Angsuran yang dibayarkan adalah kesepakan bersama antara
penjual dan pembeli.
Sulaiman bin Turki mendefinisikan jual beli kredit kredit adalah jual
beli dimana barang diserahterimakan terlebih dahulu, sementara
pembayaran dilakukan beberapa waktu kemudian berdasarkan
kesepakatan.9
Ulama dari empat mazhab, Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah,
Hanbaliyah, Zaid bin Ali dan mayoritas ulama membolehkan jual beli
dengan sistem ini, baik harga barang yang menjadi objek transaksi
sama dengan harga cash maupun lebih tinggi. Namun demikian
mereka mensyaratkan kejelasan akad, yaitu adanya kesepahaman
antara penjual dan pembeli bahwa jual beli itu memang dengan
sistem kredit. Dalam transaksi semacam ini biasanya si penjual
menyebutkan dua harga, yaitu cash dan kredit. Si pembeli harus jelas
hendak membeli dengan cash atau kredit.10
8Ismail,manajemen perbankan,(Jakarta:Kharisma Putra Utama,2010), h.94-95 9
Jual beli angsur (kredit) dikenal pula dengan huurkoop yaitu jual
beli dengan cara mengangsur. Jual beli seperti ini terjadi biasanya
pada masyarakat yang kemampuan bidang ekonominya kelas
menengah ke bawah. Dijelaskan oleh Ahmad Hasan bahwa semua
urusan dagang, sewa-menyewa, beri-memberi dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan masalah keduniawian (muamalah) pada
asalnya adalah halal, kecuali kalau ada dalil yang
mengharamkannya. Masalah penjualan dengan pembayaran di
angsur (kredit) tidak terdapat satu dalil pun yang mengharamkannya
.11
Memang ada kemiripan antara riba dan tambahan harga dalam
sistem kredit. Namun adanya penambahan harga dalam jual beli
adalah sebagai ganti penundaan pembayaran barang. Ada
perbedaan yang mendasar antara jual beli kredit dengan riba. Allah
menghalalkan jual beli termasuk jual beli kredit karena adanya
kebutuhan. Sementara mengharamkan riba karena adanya
penambahan pembayaran murni karena penundaan.
Syaikh Abdul Al Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz ditanya “mobil-mobil
yang dijual secara cicil harganya ditambahkan jika dibandingkan
dengan harga cash, apakah transaksi jual beli ini semacam riba?”
Beliau menjawab: “sistem jual beli dengan cara ini tidak bertentangan
dengan syariah, jika jangka waktu dan nilai angsurannya diketahui
dengan jelas, walaupun harga jual beli dengan sistem cicil lebih besar
bila dibandingkan dengan harga cash, karena baik penjual maupun
pembeli sama-sama menikmati manfaat jual beli dengan sistem cicil.”
Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah
bahwa Barirah menjual kepada kerabatnya dengan cara cicil selama
sembilan tahun dan setiap tahunnya 40 dirham. Dari hadist tersebut
menunjukkan akan bolehnya sistem jual beli cicil. Juga sebagaimana
firman Allah sebagai berikut:12
11
Hendi Suhendi,Fiqh Muamalah,(Jakarta:Rajawalai Pers,2010) h.304
12Syaikh Abdurrahman as- Sa’diy, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih
Q.S Al-Baqarah:282
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak
secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya.”
Dan dalil rujukan yang digunakan dalam operasional sistem jual
beli dengan cara cicil adalah bahwa ketika Nabi wafat, baju besi
beliau dijaminkan kepada seorang Yahudi atas transaksi pembelian
makanan untuk keluarga beliau, dan selain itu para sahabat juga
melakukan jual beli dengan cara pesan seperti layaknya
buah-buahan yang dibayarkan dalam beberapa termin, setahun dan dua
tahun, kemudian Nabi memutuskan untuk membolehkan mereka
melakukan model transaksi seperti yang dilakukan dengan
sabdanya:13
“Barang siapa yang melakukan transaksi salaf/salam secara
tangguh, maka hendaknya dalam takaran tertentu, kuantitas, dan
jangka waktu yang jelas”.
Namun ada juga kalangan ulama yang melarang jual beli kredit
antara lain Zainal Abidin bin Ali bin Husen, Nashir, Mnashur, Imam
Yahya, dan Abu Bakar al-Jashash dari kalangan Hanafiah serta
sekelompok ulama kontemporer. Mereka berargumen dengan ayat,
hadis nabi dan dalil aqliyah:
1) Firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 275
13
“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
2) Hadis riwayat Abu Hurairah:
”Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
barangsiapa menjual dengan dua bai’ah dalam satu bai’ah (melakukan suatu akad untuk dua transaksi), maka ia harus memilih harga yang paling rendah atau riba”.
3) Dalil aqliyah antara lain, pengambilan tambahan harga karena
penundaan pembayaran dalam transaksi jual beli sama halnya
dengan pengambilan tambahan pembayaran dalam qiradh.
Pengambilan tambahan pembayaran karena penundaan
pembayaran dalam qiradh diharamkan, maka sama saja apabila
diterapkan dalam transaksi jual beli.14
Menurut Imam Mustofa jual beli kredit harus memenuhi berbagai
persyaratan yang telah ditetapkan ulama. Persyaratan tersebut
diantaranya:
1) Jual beli secara kredit jangan sampai mengarah ke riba
2) Penjual merupakan pemilik sempurna barang yang dijual
3) Barang diserahkan kepada pembeli oleh sang penjual
4) Hendaknya barang dan harga bukan jenis yang memungkinkan
terjadinya riba nasi’ah
5) Harga dalam jual beli kredit merupakan utang (tidak dibayarkan
kontan)
6) Barang yang diperjualbelikan secara kredit diserahkan secara
langsung
7) Waktu pembayaran jelas, sesuai dengan kesepakatan
8) Hendaknya pembayaran dilakukan secara angsur, tidak boleh
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Jual beli sistem kredit adalah jual beli yang dilakukan dengan
membayar secara angsuran di mana pembeli sudah menerima
barang sebagai objek yang dibeli, tetapi belum membayar harga
secara keseluruhannya. Angsuran yang dibayarkan adalah
kesepakan bersama antara penjual dan pembeli.
Dalam hal ini ada para ulama berbeda pendapat mengenai boleh
atau tidaknya jual beli ini dilakukan. Ulama dari empat mazhab,
Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah, Hanbaliyah, Zaid bin Ali dan
mayoritas ulama membolehkan jual beli dengan sistem ini, baik harga
barang yang menjadi objek transaksi sama dengan harga cash
maupun lebih tinggi. Namun demikian mereka mensyaratkan
kejelasan akad, yaitu adanya kesepahaman antara penjual dan
pembeli bahwa jual beli itu memang dengan sistem kredit. Dalam
transaksi semacam ini biasanya si penjual menyebutkan dua harga,
yaitu cash dan kredit. Si pembeli harus jelas hendak membeli dengan
cash atau kredit
Dan ulama yang melarang jual beli kredit antar lain Zainal
Abidin bin Ali bin Husen, Nashir, Mnashur, Imam Yahya, dan Abu
Bakar al-Jashash dari kalangan Hanafiah serta sekelompok ulama
kontemporer.
Tapi disini penulis lebih condong kepada pendapat yang
memperbolehkan jual beli ini dilakukan karena para sahabat pun
pernah melakukannya dan kemudian Nabi memperbolehkannya
DAFTAR PUSTAKA
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawalai Pers, 2010)
Imam Mustofa, Fiqh Muamalah kontemporer, (Jakarta: Rajawali pers, 2016)
Ismail, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2010)
Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah:Fiqh Muamalah, (Jakarta:Kencana, 2012)
Meity Taqdir Qadratillah dkk,Kamus Besar Bahasa IndonesiaI untuk Pelajar,
(Jakarta: Badan Pengembangan & Pembinaan Bahasa, Kementrian
Pendidikan & Kebudayaan, 2011)
Siti Mujiatun, “Jual Beli dalam Perspektif Islam : Salam dan Istisna’”, dalam
JURNAL RISET AKUNTANSI DAN BISNIS Vol 13 No . 2 / September
2013
Syaifullah M.S,”Etika Jual Beli dalam Islam”,dalam Hunafa JURNAL STUDIA
ISLAMIKA Vol.11, no.2/Desember 2014
Syaikh Abdurrahman as- Sa’diy, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan Alu Fauzan,
Tanya Jwab Lengkap Permasalahan Jual Beli, (Jakarta: Pustaka
as-Sunnah, 2008)
WJS. Poerwadarmitha, Kamus Besar Bahssa Indonesia, (Jakarta: Balai