• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah bahasa indonesia dan gaya(3)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah bahasa indonesia dan gaya(3)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah bahasa indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Perkembangan Bahasa Indonesia saat ini cukup membanggakan. Dewasa ini, lebih dari

40 negara memasukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dipelajari dari mulai dari Sekolah

Dasar (SD) sampai perguruan tinggi (Pikiran rakyat, 8 Oktober 2009). Hal itu menyiratkan

bahwa Bahasa Indonesia mempunyai peluang menjadi salah satu bahasa Internasional seiring

dengan berkembangnya peran bangsa Indonesia di bidang ekonomi, budaya dan politik

internasional.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional pertama kali dirumuskan dalam salah satu

butir Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa

pemersatu, baik secara politis maupun sosial budaya yang ikut merekatkan seluruh elemen

bangsa menjadi satu kesatuan menuju Indonesia sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan

berdaulat. Sejak momentum Sumpah Pemuda itulah, bahasa Indonesia kemudian berkembang

pesat menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lainnya.

Identitas kebangsaan itulah yang kemudian diresmikan sebagai bahasa negara pada tanggal 18

Agustus 1945 seiring dengan disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 yang salah satu isi

(2)

2

Dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa yang mampu

mengkomunikasikan berbagai ide, gagasan dan prilaku penuturnya di berbagai aspek kehidupan.

Saat ini Bahasa Indonesia bukan saja sebagai bahasa resmi nasional, tetapi telah berkembang

menjadi bahasa ilmu pengetahuan pengetahuan dan teknologi serta berkembang sebagai bahasa

internasional.

Berdasarkan uraian di atas, upaya-upaya dalam mengkaji kembali peran dan fungsi

Bahasa Indonesia harus dikembangkan. Hal itu akan lebih memperkaya khasanah Bahasa

Indonesia dan menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia.

1.2 Rumusan dan Batasan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana fungsi dan peran Bahasa Indonesia dalam kehidupan manusia?

2. Bagaimana tantangan global terhadap perkembangan fungsi dan peran Bahasa Indonesia?

Dari rumusan masalah di atas, maka kajian makalah ini akan dibatasi hanya mengkaji

peran dan fungsi Bahasa Indonesia serta tantangan terhadap perkembangan fungsi Bahasa

Indonesia tersebut.

1.3 Metode dan Teknik Penulisan

Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini metode deksriptif analitik, yaitu

metode yang berupaya menggambarkan masalah yang ada dan kemudian dianalisis berdasarkan

beberapa pendekatan, baik pendekatan teoritis maupun berdasarkan pemikiran penulis. Adapun

teknik penulisannya adalah dengan teknik literature, yaitu dengan mengumpulkan dan mengkaji

(3)

3

1.4 Sistematika Penulisan

Dalam menyusun makalah ini, penulis membaginya dalam tiga bab, yaitu:

BAB I : Dalam bab ini akan diuraikan dasar pemikiran penulisan makalah, rumusan dan batasan masalah, metode dan teknik penulisan dan

sistematika penulisan.

BAB II : Pada bab ini diuraikan hasil kajian penulis terhadap masalah peran dan fungsi Bahasa Indonesia.

BAB III : Berisi kesimpulan yang dapat diambil dari kajian ini.

BAB II

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

2.1 Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia yang sekarang ini kita miliki merupakan salah satu simbol kebangsaan

yang berkembang seiring dengan dinamika perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut,

mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Oleh sebab itu, perkembangan Bahasa Indonesia

tidak dapat lepas dari pasang surutnya dinamika kehidupan bangsa Indonesia, mulai dari Bahasa

Indonesia sebagai bahasa penghubung (lingua franca) dalam hubungan antar suku sampai

Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu berbagai suku dan golongan di Indonesia.

Berdasarkan kajian sejarah, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa

Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah

dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan

(4)

bahwa Bahasa Melayu telah digunakan di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Hal itu dapat

4

digunakannya Bahasa Melayu Kuna dalam prasasti Kedukan Bukit (683 M), Talang

Tuwo (684 M), Kota Kapur (686 M), dan Karang Brahi berangka tahun (688 M). Prasasti itu

bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Semua prasasti tersebut berasal dari

kerajaan Sriwijaya yang saat itu menjadi penguasa di daerah sekitar Selat Malaka.

Pengaruh Bahasa Melayu Kuna di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari perkembangan

Kerajaan Sriwijaya. Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya berhasil meluaskan pengaruh politik

dan perdagangannya ke seluruh Asia Tenggara. Maka, seiring dengan itulah Bahasa Melayu

Kuna mulai digunakan sebagai bahasa penghubung antara bangsa di Asia tenggara. Salah satu

bukti penggunaan bahasa Melayu di luar Sumatera adalah dengan prasasti Gandasuli (832 M) di

Jawa Tengah dan beberapa prasasti di Bogor yang berasal dari abad ke-10.

Pada masa Islam, perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu semakin pesat, baik

yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun

1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat

Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin. Penyebaran bahasa Melayu

pun semakin pesat seiring dengan proses penyebaran agama Islam ke seluruh Nusantara. Dalam

hal ini Bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar dalam dakwah menyebarkan agama Islam.

Selain itu penyebaran Bahasa Melayu yang pesat disebabkan karena Bahasa Melayu tidak

mengenal tingkat tutur sehingga dengan cepat dapat diterima oleh semua golongan dalam

masyarakat.

Pada masa penjajahan asing, bahasa Melayu berkembang menjadi alat pemersatu seluruh

(5)

untuk melawan penjajahan, dan bahasa Melayu yang telah berkembang hampir si seluruh

5

Indonesia merupakan salah satu bentuk identitas bersama tersebut. Perwujudan dari

keinginan akan identitas-identitas kebangsaan itu mencapai puncaknya pada Kongres Pemuda II

di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara

berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah

Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan,

bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda itulah yang ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Legitimasi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dikukuhkan dalam konstitusi

Negara Kesatuan Republic Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. Pada saat itu

Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang-Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Dalam Bab XV pasal 36 dinyatakan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV,

Pasal 36).

2.2 Pengertian dan Fungsi Bahasa

Banyak pengertian bahasa yang dikemukakan oleh para ahli bahasa, namun secara umum

Iyo Mulyono (2000:4) memberikan batasan bahasa sesuai dengan karakteristiknya, yaitu:

(1) Bahasa itu merupakan sebuah system bunyi

(2) Bahasa itu bersifat arbitrer atau mana suka

(3) Bahasa itu bersifat konvensional.

(4) Bahasa itu merupakan alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi

(5) Bahasa itu memiliki makna yang konvensional dan arbitrer

Fungsi dasar bahasa adalah sebagai alat komunikasi lingual manusia, di mana manusia

mengungkapkan apa yang ingin diungkapkannya melalui bahasa. Melalui bahasa, hubungan

(6)

Dalam hal ini Iyo Mulyono (2000:4-6) mengungkapkan bahwa fungsi bahasa adalah: 1) fungsi

instrumental, yaitu alat memanipulasi lingkungan dan menyebabkan kondisi tertentu terwujud, 2)

6

fungsi regulasi, yakni alat pengendalian atau pengaturan peristiwa, 3) Fungsi

representasional, yaitu alat untuk menyatakan fakta-fakta atau pengetahuan tertentu, 4) fungsi

interaksional, yaitu alat untuk memenuhi kebutuhan sosial, 5) fungsi personal, yakni untuk

menyatakan kepribadian, perangai, perasaan bahkan kebiasaan seseorang, 6) fungsi heureistik,

yakni sebagai alat pemerolehan pengetahuan, dan 7) fungsi imajinatif, yakni alat untuk

mengungkapkan mimpi dan khayalan.

Menurut Abdullah Ambari (1983:8), fungsi bahasa sangat beraneka ragam, misalnya

untuk mencari ilmu pengetahuan, untuk mendalami perkembangan bahasa itu sendiri untuk

meningkatkan kemampuan, dan sebagainya, namun yang paling pokok adalah bahasa yang

berfungsi sebagai alat bergaul sehingga orang dapat berhubungan (berkomunikasi dengan

sesamanya.

2.3 Konsep Dasar Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berkembang dan digunakan masyarakat Indonesia

mempunyai arti penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Hal itu disebabkan karena Bahasa

Indonesia muncul sebagai salah satu identitas bangsa dan alat perjuangan dalam melawan

penjajahan. Oleh karena itu, Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat istimewa

dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Dalam Seminar Politik Bahasa Nasional, 25-28

Februari 1975 di Jakarta, ditegaskan bahwa kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa

nasional, yang berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas

(7)

dan (4) alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah (Pusat Pembinaan dan Pengembangan

Bahasa, 1975:5).

7

Fungsi politik Bahasa Indonesia di atas menambah fungsi alamiah bahasa Indonesia itu

sendiri yaitu sebagai alat komunikasi lingual manusia, baik secara terlisan maupun tertulis.

Sehingga kedudukan Bahasa Indonesia dalam masyarakat Indonesia sangat penting sebagai

wujud dan symbol persatuan dan persaudaraan. Dalam hal ini, fungsi Bahasa Indonesia dapat

dibagi menjadi dua fungsi, yaitu 1) fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan 2)

Fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi/Negara.

2.3.1 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pertama kali dicetuskan pada

Kongres Pemuda ke-2 pada tanggal 28 Oktober 1928. Salah satu isi Sumpah Pemuda itu adalah:

Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean,Bahasa Indonesia.

Dengan pengakuan tersebut maka Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa kebangsaan yang

menjadi salah satu simbol nasionalisme Indonesia.

Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia ‘memancarkan’ nilai-nilai sosial

budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita

harus bangga dengannya; kita harus menjunjungnya; dan kita harus mempertahankannya.

Sebagai realisasi kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia, kita harus memakainya tanpa ada

rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus bngga memakainya dengan memelihara dan

(8)

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan ‘lambang’ bangsa

Indonesia. Ini beratri, dengan bahasa Indonesia akan dapat diketahui siapa kita, yaitu sifat,

perangai, dan watak kita sebagai bangsa Indonesia. Karena fungsinya yang demikian itu, maka

8

kita harus menjaganya jangan sampai ciri kepribadian kita tidak tercermin di dalamnya.

Jangan sampai bahasa Indonesia tidak menunjukkan gambaran bangsa Indonesia yang

sebenarnya.

Dengan fungsi yang ketiga memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar

belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam

kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia

merasa aman dan serasi hidupnya, sebab mereka tidak merasa bersaing dan tidak merasa lagi

‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain. Apalagi dengan adanya kenyataan bahwa dengan

menggunakan bahasa Indonesia, identitas suku dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih

tercermin dalam bahasa daerah masing-masing. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih

tegar dan tidak bergoyah sedikit pun. Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya

khazanah bahasa Indonesia.

Dengan fungsi keempat, bahasa Indonesia sering kita rasakan manfaatnya dalam

kehidupan sehari-hari. Bayangkan saja apabila kita ingin berkomunikasi dengan seseorang yang

berasal dari suku lain yang berlatar belakang bahasa berbeda, mungkinkah kita dapat bertukar

pikiran dan saling memberikan informasi? Bagaimana cara kita seandainya kita tersesat jalan di

(9)

menanggulangi semuanya itu. Dengan bahasa Indonesia kita dapat saling berhubungan untuk

segala aspek kehidupan. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan

dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan kemanan (disingkat:

ipoleksosbudhankam) mudah diinformasikan kepada warganya. Akhirnya, apabila arus informasi

9

antarkita meningkat berarti akan mempercepat peningkatan pengetahuan kita. Apabila

pengetahuan kita meningkat berarti tujuan pembangunan akan cepat tercapai.

2.3.2 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara/Resmi

Selain sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai bahasa

Negara/resmi . Secara resmi bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa pergaulan bangsa Indonesia

pada saat Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Walaupun sebelumnya telah berkembang bahasa

Melayu sebagai bahasa resmi kedua setelah bahasa Belanda, namun kedudukan bahasa Indonesia

sebagai perkembangan bahasa Melayu mulai resmi digunakan sebagai bahasa persatuan oleh

bangsa Indonesia sejak Sumpah Pemuda tersebut.

Pengukuhan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dilakukan pada tanggal pada

tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan. Pada tanggal itulah salah satu

pasal tentang peresmian bahasa nasional sebagai bahasa Negara dsahkan yaitu dalam pasal 36

UUD 1945. diangkat pulalah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Penentuan Bahasa

Indonesia sebagai bahasa resmi di Indonesia sangat lancar dan diterima secara aklamasi olehs

seluruh rakyat Indonesia. Padahal mencontoh Negara-negara lain, penentuan sebuah bahasa

menjadi bahasa resmi Negara sangatlah sulit dan seringkali menimbulkan perpecahan. Sebagai

(10)

Inggris sebagai bahasa resmi di negaranya, walaupun sudah berusaha dengan sekuat tenaga

untuk menjadikan bahasanya sendiri sebagai bahasa resmi.

Mulusnya penentuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Negara di Indonesia

disebabkan beberapa factor: (1) bahasa tersebut dikenal dan dikuasai oleh sebagian besar

10

penduduk negara itu, (2) secara geografis, bahasa tersebut lebih menyeluruh

penyebarannya, dan (3) bahasa tersebut diterima oleh seluruh penduduk negara itu.

Bahasa-bahasa yang terdapat di Malaysia, Singapura, Filipina, dan India tidak mempunyai ketiga faktor

di atas, terutama faktor yang nomor (3). Masyarakat multilingual yang terdapat di negara itu

saling ingin mencalonkan bahasa daerahnya sebagai bahasa negara. Mereka saling menolak

untuk menerima bahasa daerah lain sebagai bahasa resmi kenegaraan. Tidak demikian halnya

dengan negara Indonesia. Ketig faktor di atas sudah dimiliki bahasa Indonesia sejak tahun 1928.

Bahkan, tidak hanya itu. Sebelumnya bahasa Indonesia sudah menjalankan tugasnya sebagai

bahasa nasional, bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Dengan demikian, hal yang dianggap berat

bagi negara-negara lain, bagi kita tidak merupakan persoalan. Oleh sebab itu, kita patut

bersyukur kepada Tuhan atas anugerah besar ini.

Dalam “Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di

Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya

sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia befungsi sebagai

(1) bahasa resmi kenegaraan,

(11)

(3) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan

pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, dan

(4) bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta

teknologi modern.

11

Keempat fungsi itu harus dilaksanakan, sebab minimal empat fungsi itulah memang sebagai ciri

penanda bahwa suatu bahasa dapat dikatakan berkedudukan sebagai bahasa negara.

Pemakaian pertama yang membuktikan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi

kenegaraan ialah digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi kemerdekaan RI

1945. Mulai saat itu dipakailah bahasa Indonesia dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan

kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulis.

Keputusan-keputusan, dokumen-dokumen, dan surat-surat resmi yang dikeluarkan oleh

pemerintah dan lembaga-lembaganya dituliskan di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato atas

nama pemerintah atau dalam rangka menuanaikan tugas pemerintahan diucapkan dan dituliskan

dalam bahasa Indonesia. Sehubungan dengan ini kita patut bangga terhadap presiden kita,

Soeharto yang selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam situsi apa dan kapan pun selama

beliau mengatasnamakan kepala negara atau pemerintah. Bagaimana dengan kita?

Sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia dipakai sebagai bhasa pengantar di

lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Hanya saja

(12)

bahasa ibunya (bahasa daerah) menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah anak didik yang

bersangkutan. Hal ini dilakukan sampai kelas tiga Sekolah Dasar.

Sebagai konsekuensi pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lembaga

pendidikan tersebut, maka materi pelajaran ynag berbentuk media cetak hendaknya juga

berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang berbahasa

asing atau menyusunnya sendiri. Apabila hal ini dilakukan, sangatlah membantu peningkatan

12

perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek).

Mungkin pada saat mendatang bahasa Indonesia berkembang sebagai bahasa iptek yang sejajar

dengan bahasa Inggris.

Sebagai fungsinya di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan

perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, bahasa Indonesia dipakai dalam

hubungan antarbadan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan

dengan itu hendaknya diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi

massa. Tujuan penyeragaman dan peningkatan mutu tersebut agar isi atau pesan yang

disampaikan dapat dengan cepat dan tepat diterima oleh orang masyarakat.

Akhirnya, sebagai fungsi pengembangan kebudayaan nasional, ilmu, dan teknologi,

bahasa Indonesia terasa sekali manfaatnya. Kebudayaan nasional yang beragam itu, yang berasal

dari masyarakat Indonesia yang beragam pula, rasanya tidaklah mungkin dapat disebarluaskan

kepada dan dinikmati oleh masyarakat Indonesia dengan bahasa lain selain bahasa Indonesia.

Apakah mungkin guru tari Bali mengajarkan menari Bali kepada orang Jawa, Sunda, dan Bugis

dengan bahasa Bali? Tidak mungkin! Hal ini juga berlaku dalam penyebarluasan ilmu dan

(13)

baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media

cetak lain, hendaknya menggunakn bahasa Indonesia. Pelaksanaan ini mempunyai hubungan

timbal-balik dengan fungsinya sebagai bahasa ilmu yang dirintis lewat lembaga-lembaga

pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.

13

3. Tantangan Terhadap Pengembangan Bahasa Indonesia

Di tengah arus globalisasi saat ini dengan perkembangan teknologi informasi sebagai

medianya, perkembangan bahasa Indonesia mengalami tantangan yang tidak ringan. Setidaknya

terdapat dua tantangan yang dihadapi Bahasa Indonesia saat ini, yaitu:

1. Tantangan dari luar (eksternal), yaitu masuknya pengaruh bahasa asing dan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi, di mana Bahasa Indonesia harus menyerap secara baik pengaruh

tersebut, baik perbendaharaan kosakata terutama mencari padanan-padanan kata yang berasal

dari bahasa asing termasuk perbendaharaan kosakata yang berkaitan dengan perkembangan

jaman yang semakin kompleks. Misalnya Bahasa Indonesia harus dengan cepat mencari

kosakata-kosakata yang berhubungan dengan kemajuan teknologi informasi.

2. Tantangan dari dalam (internal), dalam hal ini tantangan dari penuturnya sendiri. Banyak dari

kita yang masih bangga dengan penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari-harinya,

padahal dalam Bahasa Indonesia sudah ada padanan katanya, seperti kita masih banyak

menggunanakan kata asing download dibanding unduh sebagai padanan bahasa Indonesianya.

Begitu juga pemakaian bahasa asing dalam penamaan (label) barang sering kita jumpai.

(14)

Untuk menghadapi semua tantangan tersebut, bahasa Indonesia harus senantiasa

berkembang memenuhi semua keperluan kehidupan manusia yang berkembang dengan cepat,

baik di bidang IPTEK, politik, ekonomi, budaya dan lainnya. Dalam hal ini pemerintah dituntut

untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan dan program yang menyokong pengembangan bahasa

Indonesia, agar bahasa nasional ini tetap digunakan oleh para penuturnya dan mampu memenuhi

tuntutan kebahasaan dari berbagai bagai aspek kehidupan.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Dari uraian pada bab-bab sebelumnya, maka terdapat kesimpulan-kesimpulan yang

dapat diambil, yaitu:

1. Secara historis, bahasa Indonesia mempunyai keistimewaan, antar lain bahasa Indonesia

berkembang secara alamiah ke seluruh Indonesia seiring dengan dinamika sejarah bangsa

Indonesia. Sehingga penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional berlangsung dengan

lancar tidak menimbulkan konflik seperti yang terjadi di Negara lain, hal itu disebabkan bahasa

Indonesia berkembang menjadi symbol kebersamaan dalam melawan penjajahan.

2. Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara resmi tercantum dalam konstitusi Negara UUD

1945 yang menyatakan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36),

Namun fungsi bahasa Indonesia telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, yaitu yang menetapkan

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Selain itu, dalam beberapa seminar berikutnya,

fungsi bahasa Indonesia ditetapkan menjadi dua poko fungsi yaitu bahasa Indonesia sebagai

(15)

3. Tantangan terhadap perkembangan bahasa Indonesia setidaknya berasal dari perkembangan

tuntutan kebahasaan dari perkembangan jaman, antara lain perkembangan IPTEK, politik,

ekonomi dan lainnya. Selain itu rasa nasionalisme yang semakin menurun menyebabkan

kebanggaan sebagian masyarakat Indonesia untuk memakai bahasa Indonesia juga berkurang.

Oleh karena itu, perlu upaya-upaya untuk mengembangkan bahasa Indonesia yang lebih dinamis

sesuai dengan perkembangan jaman dewasa ini.

3.2 Saran

Dalam hal ini, upaya-upaya dalam mengembangkan bahasa Indonesia perlu dilakukan

berbagai pihak. Pemerintah wajib mengeluarkan kebijakan dan program yang mampu

meningkatkan perkembangan bahasa Indonesia, baik di bidang penelitian dan pengajaran bahasa

Indonesia. Juga, rakyat Indonesia sebagai penutur aslinya harus meningkatkan kebanggaannya

terhadap penggunaan bahasa Indonesia, misalnya dengan membatasi penggunaan bahasa asing

Referensi

Dokumen terkait

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa, minyak lumas dasar HVI 60 sebelum diberi aditif kopolimer LKA-MMA berada pada klasifikasi 10W dan setelah ditambah 10% aditif, viskositas

Faktor- faktor yang berhubungan dengan rendahnya kinerja bi- dan di desa Kabupaten Aceh Selatan adalah masih ku- rangnya pembinaan oleh dinas kesehatan dan adanya bi- dan pesaing

Walaupun dalam kasus Inggris pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX gerakan Kristen Injili memainkan peran yang sangat signifikan karena memicu sebuah “revolusi mental” (lihat

Peningkatan pemahaman dan ketrampilan dalam penggunaan APD dari karyawan rerata yang tertinggi adalah helm pengaman pengelasan sebesar 74,29 % setelah penyuluhan

keluarga dimana pemenuhan kesehatan meliputi empat aspek yaitu: (1) Pemeliharaan kesehatan berdasarkan persentase indikator yang ada secara keseluruhan maka pada

Pola peletakkan telur pada kedua tanaman pakan berbeda pada kaliandra telur diletakkan secara teratur dan rapi memanjang dari ujung daun hingga pangkal daun muda

ANALISIS MOTIVASI, PERSEPSI, D AN PERILAKU LINTAS BUD AYA WISATAWAN MANCANEGARA D AN HOST HOMESTAY BAND UNG.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Oleh karena itu, untuk membantu meningkatkan proses bisnis yang ada pada Rumah Sakit XYZ, dan untuk memberikan gambaran tentang pengimplementasian solusi untuk