• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA

PENCUCIAN UANG DALAM PEMBANGUNAN HUKUM DI INDONESIA (HUKUM DAN PERUBAHAN SOSIAL)

Hukum mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. TPPU

merupakan bentuk kejahatan yang menghasilkan harta kekayaan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok kejahatan terorgansir atau orang pribadi yang mempunyai kekuasaan dalam

pemerintah. Kegiatan pencucian uang adalah upaya mengaburkan asal-usul uang atau harta kekayaan hasil kejahatan, dengan cara mencampurkannya dengan kegiatan-kegiatan yang sah, sehingga uang tersebut seoalah-olah adalah uang sah dan legal.

A. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

Manusia secara alamiah adalah mahluk yang bebas, setara dan merdeka, tidak ada seorangpun manusia lain yang dapat menghilangkan hak sesorang tanpa persetujuan orang yang

bersangkutan, kecuali melalui tangan-tangan kekuasaan. Dengan kebebasan yang dimiliki seseorang yang bersangkutan dapat berkomunikasi dan bergabung dengan orang lain guna membentuk suatu komunitas. Oleh karena nilai kebebasan yang begitu tinggi didambakan oleh masyarakat, sesungguhnya tatkala kebebasan itu dibatasi oleh pihak lain maka akan timbul perasaan memberontak ingin melepaskan diri dari pembatasan yang dialaminya.

Sebagai mahkluk social kecenderungan manusia adalah hidup dalam suatu kelompok atau komunitas yang biasa disebut sebagai masyarakat. Secara naluriah manusia juga ingin berkuasa atas manusia lainnya yang akan menimbulkan pergesekan-pergesekan atau bahkan konflik yang biasa juga dikenal dengan istilah konflik social.

Makin maju peradaban yang dibangun manusia, maka akan semakin komplek hukum yang mengatur tentang peradaban yang dibangun tersebut, hal ini dikarenakan segala aspek kehidupan manusia akan dikontrol oleh perangkat yang namanya hukum tersebut, sebagai contoh berapa banyak Undang-Undang yang dibuat oleh pemerintah kita dalam usaha menata kehidupan yang baik dalam berbangsa dan bernegara.

Masyarakat manusia, betapapun sederhananya, selalu memerlukan penataan dengan pengaturan perilaku di dalam masyarakat, yang kepatuhan dan penegakannya tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada kemauan bebas masing-masing (Ibi societas ibi ius). Karena itu di dalam masyarakat dengan sendirinya timbul system pengendalian sosial (Social control) terhadap perilaku warga masyarakatnya.[1]

(2)

tersebut hukum sangat diperlukan dikarenakan untuk mencapai sebuah keteraturan yang hakiki diperlukan adanya suatu peraturan untuk mengekang sifat-sifat dasar manusia tersebut.

Dari Kehendak untuk berlaku baik kepada sesama manusia bermuara pada suatu pergaulan antara pribadi yang berdasarkan prinsip-prinsip nasional dan moral tetapi kehendak yang sama mendorong orang-orang juga untuk membuat suatu aturan hidup bersama yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral tersebut. Hal ini dilaksanakan dengan membentuk suatu system norma-norma yang harus ditaati orang-orang yang termasuk suatu masyarakat tertentu.

Kehendak untuk mengatur hidup menghasilkan tiga macam norma, adapun ketiga macam norma tersebut adalah:[2]

1. Norma moral yang mewajibkan tiap-tiap orang secara batiniah.

2. Norma-norma masyarakat, atau norma-norma sopan santun yang mengatur pergaulan secara umum

3. Norma-norma yang mengatur hidup bersama secara umum dengan menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Inilah yang selanjutnya disebut norma hukum.

Hukum memegang peranan yang sangat penting dalam mengatur dan menjaga stabilitas

kehidupan sosial masyarakat, karena dapat diyakini bahwa tanpa adanya suatu pengaturan yang jelas dan tegas niscaya maka akan terjadi kekacauan yang berkepanjangan dalam suatu

masyarakat tersebut, disinilah keberadaan hukum itu diperlukan untuk meminimalisir potensi-potensi konflik yang mungkin saja timbul setiap saat karena terjadinya benturan-benturan kepentingan antara satu sama lainnya.

Hukum yang baik selain harus tepat (secara formal) sehingga pasti dan adil (dari segi sisi), tegas dan netral sehingga dapat mewujudkan rasa keadilan, harmoni, dan kebaikan umum dalam masyarakat yang menjadi tujuan hukum itu sendiri. Hukum yang baik adalah hukum yang benar, tegas, netral dan adil sehingga memiliki keabsahan (validity) mengikat, mewajibkan dan dapat dipaksakan. Penegakan hukum atau yang lazim kita kenal dengan istilah law enforcement dalam masyarakat cenderung akan lebih mudah dan dapat diterima jika aturan hukum yang akan diterapkan tersebut dapat dianggap sebagai hukum yang baik.

Hukum yang baik harus mampu menjadi alat rekayasa sosial yang mampu menciptakan atau merubah dari keadaan yang tidak baik atau kurang baik menjadi keadaan yang lebih baik, sehingga masyarakat semakin hari akan semakin merasakan manfaat adanya hukum. Sehingga apa yang dimaksud dengan istilah law is a tool of social engineering tidak hanya sekedar sebuah teori sebagaimana yang dituliskan oleh Roscoe Pound.

Sebagaimana dikutip oleh Ahcmad Ali, Hart membedakan dua tipe hukum, yaitu tipe aturan primer dan tipe aturan sekunder. Aturan primer menekankan kewajiban-kewajiban, dimana melalui aturan primer inilah manusia diwajibkan untuk melakukan sesuatu atau untuk tidak melakukan sesuatu. Ide dasarnya adalah beberapa norma, berkaitan langsung agar orang

(3)

seharusnya bertingkah laku tertentu dan bagaimana seharusnya mereka tidak bertingkah laku tertentu.[3]

Hukum yang baik mengkondisikan pembuatan dan pelaksanaan peraturan-peraturan hukum sesuai dengan martabat manusia. Dengan mentaati hukum yang baik, kebebasan seseorang itu tidak hilang dan karena itu martabatnya sebagai manusia tidak rusak. Sebaliknya, ketaatannya buta pada kekuasaan yang korup. Dengan mentaati hukum yang baik, seseorang mewujudkan keluhuran martabatnya, karena ia memahami apa yang ditaatinya dan dengan memilih mentaati hukum yang baik ia bebas.[4]

Akan sangat aneh rasanya jika dalam suatu kehidupan kelompok masyarakat yang saling berinteraksi antara satu sama lainnya, namun tidak ada aturan-aturan atau standar nilai yang mengatur bagaimana masing-masing individu sebagai bagian dari suatu kelompok masyarakat tersebut saling berinteraksi.

Dapat kita bayangkan bagaimana kacaunya sebuah tatanan kehidupan yang kita bangun seandainya tidak ada aturan atau standar nilai yang mengatur pola interaksi yang kita jalani, karena tidak aturan yang mengatur mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana perbuatan yang tidak boleh atau dilarang dilakukan. Karena tujuan dari pelarangan suatu perbuatan dilakukan adalah untuk menjaga keutuhan atau stabilitas suatu kelompok masyarakat dalam melakukan interaksi social antara satu sama lainnya.

Dalam kehidupan modern saat ini kelompok masyarakat dapat kita sebut sebuah sebuah Negara, sedangkan aturan-aturan atau standar nilai yang mengatur bagaimana setiap anggota kelompok saling berinteraksi antara satu sama lainnya ini dapat kita sebut sebagai hukum. Jadi keberadaan hukum tidak dapat dipisahkan dari adanya masyarakat atau Negara.

Maka dari itu pemerintah berusaha untuk menciptakan perubahan social dalam masyarakat adalah sebagai upaya untuk menjaga stabilitas keadaan, baik stabilitas ekonomi maupun stabilitas politik, melalui penciptaan aturan-aturan hukum yang dapat menjangkau apesk-aspek kehidupan masyarakat. Karena stabilitas suatu Negara akan berbanding lurus dengan kemajuan bangsa tersebut, baik dari segi ekonomi, aspek hukum, kebudayaan maupun dari segi social politik.

Kita dapat melihat langsung bagaimana Negara-negara yang dilanda konflik tidak dapat

melakukan pembangunan, disebabkan tidak adanya jaminan stabilitas keadaan Negara tersebut, contoh Suryah, Libya, Somalia dan Negara-negara di benua Afrika pada umumnya.

Sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah selain melakukan pembangunan infrastruktur, pembangunan ekonomi, pembangunan sumber daya manusia, pemerintah juga melakukan pembangunan dibidang hukum dengan tujuan agar supaya terciptanya ketenteraman kehidupan dengan diaturnya mengenai hak dan kewajiban masing-masing.

(4)

kebijakan-kebijakan yang demikian berarti menciptakan keadaan-keadaan yang baru atau merubah sesuatu yang sudah ada.[5]

Keseriusan pemerintah melakukan pembangunan dibidang hukum sebagai alat untuk melakukan rekayasa social salah satunya dapat kita lihat melalui dibuatnya Undang-Undang tentang

pemberantasan tindak pidana pencucian uang. Praktek pencucian uang sebenarnya bukan barang baru dalam dunia hukum, namun di Indonesia hal ini baru dianggap sebagai sebuah kejahatan yang serius adalah dengan dibuatnya undang-undang pada tahun 2002.

Upaya pemerintah dalam melakukan pemberantasan tindak pidana pencucian uang tidak hanya sebatas dibuatnya Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, namun pemerintah melakukan perbaikan terhadap Undang-Undang tersebut melalui perubahan dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003. Namun perubahan melalui Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tersebut tidak bertahan lama, karena upaya pemberantasan tindak pidana pencucian uang semakin serius dilakukan oleh pemerintah dengan cara membuat dasar hukum yang baru menggantikan hukum yang lama yaitu membuat Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

2. PERMASALAHAN

Selanjutnya dari uraian di atas, penulis mencoba menganalisis pengaruh diberlakukannya Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia, yang diharapkan mampu untuk menjadi salah satu alat rekayasa social atau yang biasa disebut dengan istilah law is a tool of social engineering. Untuk itu penulis membuat permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan peranan hukum dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia sebagai berikut :

1. Bagaimanakah implementasi ketentuan hukum dalam Pasal 69 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia?

2. Bagaimanakah Dampak berlakunya Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia?

B. PEMBAHASAN

Perkembangan zaman selalu berjalan beriringan dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang didukung dengan lahirnya generasi-generasi penerus yang mampu memperbaharui hasil temuan yang dilakukan oleh inavator-inovator sebelumnya. Demikian juga dengan dunia kejahatan atau dunia criminal dengan berbagai modus operandinya mampu mengikuti

perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat pada umumnya, bahkan tidak jarang dunia kejahatan menjadi pioneer dari berbagai ilmu pengetahuan, namun tidak demikian halnya dengan dunia hukum yang diharapkan menjadi pengatur stabilitas dalam system

(5)

masyarakat, hal ini menyebabkan banyak pola-pola atau modus operandi dunia kejahatan yang tidak mampu dijangkau oleh aturan-aturan hukum yang telah ada.

Karena banyaknya sorotan dan tekanan dunia internasional kepada Indonesia, yang pada akhirnya memaksa Indonesia untuk membuat undang-undang tentang tindak pidana pencucian uang. Undang-Undang ini diharapkan mampu untuk menghambat laju peningkatan kejahatan yang menghasilkan harta kekayaan dalam jumlah yang besar.

Berdasarkan Undang-Undang yang ada, Tindak Pidana Pencucian Uang baru mendapat

pengakuan atau pengaturan dalam system hukum pidana Indonesia melalui Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, walaupun Undang-Undang tersebut tidak bertahan lama, karena tidak lama setelah diundangkan oleh Pemerintah langsung dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang tersebut melalaui Undang-Undang No. 25 Tahun 2003.

1. KERANGKA TEORI

Pengertian-pengertian hukum itu ada yang diangkat dari pengertian sehari-hari dan ada pula yang diciptakan secara khusus sebagai suatu pengertian teknik. Jual-beli, penganiayaan, ganti-rugi dan yang semacam itu, merupakan pengertian-pengertian hukum yang diangkat dari pengertian sehari-hari.[6]

Hukum berfungsi mengatur hubungan pergaulan antar manusia. Namun, tidak semua perbuatan manusia itu memperoleh pengaturannya. Hanya perbuatan atau tingkah laku yang

diklasifikasikan sebagai perbuatan hukum saja yang menjadi perhatiannya.[7]

Secara umum tujuan diciptakannya hukum adalah untuk memelihara ketertiban atau

ketenteraman dalam masyarakat, karena dapat kita bayangkan bagaimana kacaunya kehidupan jika tidak ada suatu aturan yang berlaku secara umum yang mampu mengikat antar anggota kelompok masyarakat untuk mentaati aturan tersebut dengan tujuan agar terciptanya ketertiban.

Namun dalam penerapannya di masyarakat, hukum sering kali tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal yang dapat menjadi factor-faktor penghambat dari keberlakuan hukum itu sendiri, sehingga manfaat dari keberadaan hukum itu sendiri tidak dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya.

Factor-faktor yang dapat mempengaruhi hukum itu berfungsi dalam masyarakat yaitu:[8]

1. Kaidah hukum/peraturan itu sendiri;

2. Petugas/penegak hukum;

3. Sarana atau fasilitas yang digunakan oleh penegak hukum;

4. Kesadaran masyarakat.

(6)

Kaidah hukum merupakan ketentuan atau pedoman tetang apa yang seyogyanya atau seharusnya dilakukan. Pada hakikatnya kaidah hukum merupakan perumusan pendapat atau pandangan tentang bagaimana seharusnya atau seyogyanya seseorang bertingkah laku. Sebagai pedoman kaidah hukum bersifat umum dan pasif.[9]

Sebagian orang menyebut hal ini dengan istilah subtansi hukum, namun penulis menyebutnya dengan istilah aturan hukum. Materi dari suatu aturan hukum yang berupa produk peraturan perundangan merupakan faktor yang cukup penting untuk diperhatikan dalam penegakkan hukum, tanpa materi atau aturan hukum yang baik dari suatu peraturan perundangan rasanya sangat sulit bagi aparatur penegak hukum untuk dapat menegakkan peraturan perundangan secara baik pula, dan hal tersebut sangat ditentukan atau dipengaruhi ketika proses penyusunan suatu peraturan perundangan dilakukan.

Berbicara mengenai para pembuat undang-undang atau legislator kita yang ada di senayan, sudah barang tentu kita membicarakan kualitas pemikiran dari para wakil rakyat yang duduk di

parlemen tersebut. Jika untuk melihat kualitas dari para legislator yang ada disenayan tersebut parameter yang kita gunakan adalah undang-undang yang mereka hasilkan, maka penulis menilai secara umum kualitas para wakil rakyat kita belum mumpuni untuk menciptakan sebuah aturan hukum yang dapat bertahan lama dalam hal implementasinya. Sebagai sebuah analisis dapat kita lihat betapa banyaknya undang-undang yang belum genap berusia 5 (lima) tahun tapi harus dirubah atau diganti dengan undang-undang yang baru karena ternyata undang-undang tersebut tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan tekhnologi.

Menurut Jeremy Bentham tujuan hukum dan wujud keadilan adalah untuk mewujudkan the greatest happiness of the greatest number (kebahagian yang sebesar-besarnya untuk sebanyak-banyaknya orang).[10]

Tujuan perundang-undangan menurut Bentham adalah untuk mengahasilkan kebahagian bagi masyarakat. Untuk itu undang-undang harus berusaha untuk mencapai empat tujuan yaitu:[11]

1. To provide subsistence (untuk memberi nafkah hidup) 2. To abundance (untuk memberi makanan yang berlimpah) 3. To provide security (untuk memberikan perlindungan) 4. To attain equity (untuk mencapai persamaan)

Tujuan hukum adalah untuk memenuhi hukum adanya. Hukum pada manusia bertujuan membuat manusia tahu akan ketidaktahuannya, bahwa ia ada demi keberadaannya, yakni manusia yang berkemanusian bersanding dengan hidup atas kehidupan untuk membedakan atau menyamakan dualisme yang satu, yang senantiasa beriringan, yakni antara tahu dan tidak tahu, dalam ide dan materi yang diterjemahkan oleh akal budinya, yang ide ataupun materi itu sendiri sedianya ada dan tertuang dalam sikap tindak yang merupakan peleburan antara ide dan materi, antara jiwa dengan fisik, yang tampak akan kemanusiaannya dan beriringan dengan

(7)

Menurut G. Radbruch, Einfuhrung indie Rechtswissenschaft, Stuttgart, 1961 menyatakan, bahwa sesuatu yang dibuat pasti memiliki cita atau tujuan. Jadi hukum dibuatpun ada tujuannya. Tujuan ini merupakan nilai yang ingin diwujudkan manusia. Tujuan hukum yang utama ada tiga,

yaitu[13]:

1. Keadilan untuk keseimbangan

2. Kepastian untuk ketepatan

3. Kemanfaatan untuk kebahagiaan

Hukum muncul sebagai implikasi suatu esensi yang menawarkan penyelesaian terhadap kolektivitas perseteruan pada masyarakat, oleh karena itu diperlukan hukum yang ideal untuk menyelesaikan konflik dan perseteruan itu.[14]

Tujuan dari pembentukan hukum itu sendiri tidak terlepas dari tujuan Negara, tujuan Negara ini dapat kita lihat dalam pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk

memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social.[15]

Politik hukum suatu Negara sangat menentukan tujuan hukum yang ingin dicapai oleh Negara tersebut. Politik hukum yang diartikan sebagai arah kebijakan hukum (legal policy) haruslah dijadikan sebagai pedoman untuk membangun atau untuk menegakan system hukum yang diinginkan.

Pembangunan hukum harus ditujukan untuk mengakhiri tatanan social yang tidak adil dan menindas hak-hak asasi manusia. Sehingga politik hukum harus berorientasi pada cita-cita Negara hukum yang didasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan dalam suatu masyarakat bangsa Indonesia yang bersatu sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945. [16]

Jika hukum diartikan sebagai “alat” untuk meraih cita-cita dan mencapai tujuan, maka politik hukum diartikan sebagai arah yang harus ditempuh dalam pembuatan dan penegakan hukum guna mencapai cita-cita dan tujuan bangsa. Dengan kata lain, politik hukum adalah upaya menjadikan hukum sebagai proses pencapaian cita-cita dan tujuan.[17]

Penegak Hukum

Penegak hukum atau yang lebih dikenal dalam bahasa sehari-hari sebagai aparat penegak hukum, atau bahkan ada yang menyebutnya dengan istilah petugas. Di beberapa Negara berkembang termasuk Indonesia yang masih berada dalam masa transisi petugas mempunyai kedudukan atau posisi yang sangat superior jika dibandingkan dengan warga Negara biasa, karena petugas mempunyai strata yang sedikit lebih tinggi. Namun hal itu tidak berlaku bagi warga kalangan menengah keatas yang tergolong elitis, apalagi orang-orang yang berada dilingkungan

(8)

Factor petugas memainkan peran yang sangat penting dalam proses penegakan hukum, karena petugas adalah ujung tombak yang paling depan dalam urusan penegakan hukum. Petugas dan kaidah hukum adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan antara satu sama lainnya, karena hukum tidak akan pernah berjalan jika tidak ada petugas demikian juga sebaliknya jika tidak ada petugas maka tidak akan ada artinya kaidah-kaidah hukum yang bisa berjalan.

Ada semacam adagium yang sering kita dengar menyatakan jika menyangkut petugas dan kaidah hukum yang menyatakan sebaik apapun aturan hukum jika dijalankan oleh petugas yang buruk maka hasilnya akan tetap buruk, seburuk apapun kaidah hukum yang ada jika dijalankan oleh petugas yang baik maka hasilnya akan baik.

Dalam penerapannya, hukum memerlukan suatu kekuasaan untuk mendukungnya. Cirri utama inilah yang membedakan antara hukum di satu pihak dengan norma-norma social lainnya dan norma agama. Kekuasaan itu diperlukan oleh karena hukum bersifat memaksa. Tanpa adanya kekuasaan, pelaksanaan hukum di masyarakat akan mengalami hambatan-hambatan. Semakin tertib dan teratur suatu masyarakat, makin berkurang diperlukan dukungan kekuasaan.[18]

Baik buruknya suatu kekuasaan, bergantung bagaimana kekuasaan itu dipergunakan. Artinya, baik buruknya kekuasaan senantiasa harus diukur dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau disadari oleh masyarakat terlebih dahulu. Hal ini merupakan suatu unsur yang mutlak bagi kehidupan masyarakat yang tertib dan bahkan bagi setiap bentuk organisasi yang teratur.[19]

Penegak hukum adalah perpanjangan tangan dari penguasa untuk menerapkan hukum di masyarakat. Hukum sangat erat hubungannya dengan kekuasaan, kekuasaan yang dijalankan tanpa hukum maka hanya akan menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat, demikian sebaliknya hukum tidak akan pernah bisa diterapkan tanpa ada kekuasaan untuk menerapkan hukum tersebut.

Hukum ada karena kekuasaan yang sah. Kekuasaan yang sahlah yang menciptakan hukum. Ketentuan-ketentuan yang tidak berdasarkan kekuasaan yang sah pada dasarnya bukanlah hukum. Jadi, hukum bersumber pada kekuasaan yang sah.[20]

Sarana/Fasilitas

Fasilitas atau sarana penunjang dari sebuah system penegakan hukum menjadi elemen yang tidak kalah penting dari elemen-elemen lainnya. Karena bagaimana mungkin seorang penegak hukum atau petugas akan melakukan pekerjaannya jika tidak ditunjang dengan sarana atau fasilitas yang memadai. Contoh bagaimana mungkin seorang petugas bisa menangkap teroris atau perampok bersenjata jika si petugas tersebut tidak dilengkapi sarana yang lebih baik dari yang dimiliki oleh orang yang akan ditangkapnya.

Warga Masyarakat

(9)

cukup tinggi, maka tidak aka nada persoalan dalam penerapan hukum di masyarakat tersebut. Namun jika masyarakatnya tidak memiliki tingkat kepatuhan hukum hukum maka jangan terlalu banyak berharap sebuah aturan hukum akan berjalan dengan baik di tengah-tengah kelompok masyarakat tersebut.

Dalam sebuah acara talk show disalah satu televisi swasta nasional seorang ahli hukum pidana Indonesia JE. Sahetapy pernah mengatakan”jika ingin melihat kepatuhan masyarakat Indonesia terhadap hukum, maka lihat saja ke jalan raya bagaimana masyarakat tersebut dalam berlalu lintas. Semrawut, begitulah masyarakat Indonesia tidak ada yang patuh terhadap hukum”[21]

Saat pengamatan langsung dilakukan dilapangan sebagaimana pernyataan yang dilontarkan oleh Sahetapy tersebut. Dari hari ke hari kesemrawutan itu tidak semakin berkurang, bahkan semakin meningkat. Seolah bangsa ini seperti tidak menginginkan sebuah keteraturan.

Salah satu fakto yang yang mengefektifkan suatu peraturan adalah warga masyarakat. Yang dimaksud disini adalah kesadarannya untuk mematuhi suatu peraturan perundang-undangan, yang kerap disebut derajat kepatuhan. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa derajat

kepatuhan masyarakat terhadap hukum merupakan salah satu indicator berfungsinya hukum yang bersangkutan.[22]

Warga masyarakat sebagai salah satu factor pendukung dalam penegakan hukum sering

diimplementasikan dalam bentuk budaya hukum. Budaya hukum yang baik akan menghantarkan kita pada sebuah keteraturan dan ketertiban, sehingga apa yang dicita-citakan oleh hukum itu dapat dicapai. Untuk menciptakan atau membangun budaya hukum yang baik dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan adanya pemahaman hukum yang baik bagi masyarakat itu sendiri.

Apabila pengetahuan hukum saja yang dimiliki oleh masyarakat, hal itu belumlah memadai, masih diperlukan pemahaman atas hukum yang berlaku. Melalui pemahaman hukum,

masyarakat diharapkan memahami tujuan peraturan perundang-undangan serta manfaatnya bagi pihak-pihak yang kehidupannya diatur oleh peraturan perundang-undangan dimaksud.[23]

Membangun sebuah budaya hukum yang baik tidaklah semudah membalik telapak tangan, apalagi ditengah kesemrawutan keadaan sekarang. Dibutuhkan tenaga dan bahkan mungkin biaya yang cukup besar dan ketegasan dari penguasa untuk memciptakan budaya hukum yang baik.

Budaya hukum itu sendiri tercermin dalam sikap warga masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh sistem nilai yang dianut oleh masyarakat. Respon masyarakat terhadap penerapan hukum yang mengatur perilaku akan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai yang dianutnya. Apabila produk hukum yang mengatur mengacu pada sistem nilai tertentu dihadapkan pada masyarakat yang menganut sistem nilai dan memiliki budaya hukum yang berbeda, bukan hal yang aneh bila penerapan produk hukum tersebut akan mengalami kesulitan.[24]

(10)

A. Implementasi ketentuan hukum dalam Pasal 69 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia

Berbicara mengenai implementasi yang berarti dalam bahasa sehari-hari disebut penerapan hukum, berarti kita memerlukan pembahasan yang mendalam mengenai implentasi hukum dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, dan bukan rahasia lagi kalau budaya hukum atau yang biasa disebut dengan legal culture masyarakat kita sangat rendah atau bahkan cenderung mengarah kepada hal-hal yang buruk.

Istilah pencucian uang (money laundering) muncul pertama kali pada sekitar tahun 1930-an ketika mafia Amerika mengakuisisi usaha pencuaian pakaian otomatis (laundromats) setelah mereka mendapatkan uang dalam jumlah besar dari kegiatan illegal seperti seperti pemerasan, prostitusi, narkoba, dan perdagangan minuman keras.[25]

Hukum yang baik mengkondisikan pembuatan dan pelaksanaan peraturan-peraturan hukum sesuai dengan martabat manusia. Dengan mentaati hukum yang baik, kebebasan seseorang itu tidak hilang dan karena itu martabatnya sebagai manusia tidak rusak. Sebaliknya, ketaatannya buta pada kekuasaan yang korup. Dengan mentaati hukum yang baik, seseorang mewujudkan keluhuran martabatnya, karena ia memahami apa yang ditaatinya dan dengan memilih mentaati hukum yang baik ia bebas.[26]

System hukum Anglo-saxon mengutamakan “the rule of law”, the rule of law harus ditaati, bahkan juga bila tidak adil. Sikap ini serasi dengan ajaran aliran-aliran filsafat empiris. Menurut filsafat itu hukum, entah tertulis entah tidak tertulis, adalah peraturan-peraturan yang diciptakan oleh suatu bangsa selama sejarahnya, dan yang telah bermuara pada suatu perundang-undangan tertentu dan suatu praktek pengadilan tertentu.[27]

Dalam konsep Durkheim, hukum sebagai moral social pada hakekatnya adalah ekspresi

solidaritas sosial yang berkembang dalam suatu masyarakat. Hukum adalah cerminan solidaritas. Tak ada masyarakat manapun yang dapat tegak dan eksis secara berterusan tanpa adanya

solidaritas itu. Sebagai tiang utama integrasi, solidaritas social bergerak dan berubah seirama dengan perkembangan social dalam masyarakat.[28]

Di dalam teori-teori ilmu hukum, dapat dibedakan tiga macam hal mengenai berlakunya hukum sebagai kaidah. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:[29]

1. Kaidah hukum berlaku secara yuridis, apabila penentuannya didasarkan pada kaidah yang lebih tinggi tingkatannya atau terbentuk atau terbentuk atas dasar yang telah ditetapkan.

(11)

3. Kaidah hukum berlaku secara filosofis, yaitu sesuai dengan cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi.

Pasal 69 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang berbunyi “Untuk dapat dilakukan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana Pencucian Uang tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu tindak pidana asalnya”.[30]

Secara filosofis pembuatan undang-undang tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang adalah bertujuan untuk mencegah terjadinya tindakan yang berupaya untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai salah satu tempat bagi para pelaku kejahatan dunia yang menghasilkan harta kekayaan.

Sebelum tahun 2002 kegiatan pencucian uang di Indonesia mungkin belum dianggap sebagai sebuah kejahatan. Bahkan dulunya Indonesia dianggap sebagai Negara tujuan bagi para pelaku kejahatan yang menghasilkan harta kekayaan untuk melakukan tindakan pencucian uang, karena memang tidak ada aturan hukum yang melarang dilakukannya kegiatan tersebut.

Tonggak sejarah tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia mendapat tempat setelah diundangkannya Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, terhadap Undang-Undang ini kemudian dilakukan perubahan melalui Undang-Undang No. 25 Tahun 2003. Namun setelah hampir melewati satu dasawarsa pemerintah kembali melakukan pembaharuan dibidang pemberantasan tindak pidana pencucian uang dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dalam system hukum pidana kita juga terdapat azas yang menyatakan “tiada suatu perbuatan dapat dihukum sebelum ada aturan hukum yang mengaturnya”. Artinya bahwa jika sebuah perbuatan itu tidak dilarang oleh undang-undang, maka orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut tidak dapat dihukum.

Pengaturan mengenai penyidikan sebagaimana Pasal 69 tersebut akan sangat mempengaruhi tatanan kehidupan yang telah ada. Karena ada pertentangan antara satu sama lain dalam

ketentuan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 itu sendiri. Sedangkan undang-undang yang baik harus mampu menciptakan keadaan yang tidak baik atau kurang baik menjadi lebih baik. Bagaimana mungkin sebuah peraturan yang bertentangan antara satu sama lainnya akan dapat diterapkan secara efektif.

Dalam Pasal 69 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang disebutkan bahwa untuk memulai penyidikan terhadap tindak pidana Pencucian Uang tidak harus menunggu tindak pidana asalnya terbukti terlebih dahulu.

(12)

Jika kita menilik dari apa yang dimaksud oleh bunyi Pasal 2 ayat (1) tersebut jelas dan tidak diragukan lagi, suatu harta kekayaan itu baru dapat dikatakan sebagai sebuah hasil tindak pidana. Lembaga yang paling berwenang menyatakan sebuah perbuatan itu adalah tindak pidana atau bukan adalah lembaga peradilan.

Lembaga peradilan melalui mekanisme persidangan dengan memeriksa bukti-bukti yang

diajukan oleh penuntut umum pada akhirnya akan menghasilkan sebuah putusan apakah perkara yang diajukan kepadanya tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah tindak pidana atau bukan.

Seseorang yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan melakukan tindak pidana maka ia akan disebut sebagai narapidana atau terpidana. Jika pengadilan memandang bahwa apa yang dilakukan oleh seorang terdakwa bukanlah sebagai sebuah tindak pidana maka ia akan lepas dari segala tuntutan hukum.

Pengaturan tentang penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana pencucian uang tidak wajib terlebih dahulu dibuktikan tindak pidana asalnya. Menurut pandangan penulis ini adalah suatu pengaturan yang keliru dalam hal tujuannya adalah penegakan hukum, bagaimana mungkin seseorang yang belum tetntu bersalah melakukan tindak pidana dalam memperoleh harta kekayaannya.

Yang paling banyak mendapat sorotan public tentang tidak pidana pencucian di Indonesia belakangan ini adalah perkara yang menimpa Djoko Soesilo, Ahmad Fhatanah, dan mantan Anggota DPR RI dari fraksi Demokrat M. Nazarudin. Polisi , jaksa, dan KPK menjerat mereka dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana. Dalam proses penyidikannya, baik penyidik kejaksaan maupun penyidik KPK telah menyita seluruh asset-aset yang dimilikinya.

Kita sepakat bahwa tujuan dibuatnya undang-undang ini salah satunya adalah untuk mencegah atau memberantas para pelaku tidak pidana yang menghasilkan harta kekayaan untuk melakukan pencucian uang di Negara ini. Namun penulis berpendapat bahwa dalam rangka penerapan hukum sebaiknya Negara meminimalisir masalah-masalah yang akan timbul sebagai efek dari penegakan hukum tersebut

Kembali lagi pada hubungan antara tindak pidana asal (predicate crime) dengan tindak pidana pencucian uang, dimana menurut penulis pada dasarnya Tindak Pidana Pencucian Uang

bukanlah tindak pidana yang berdiri sendiri, akan tetapi merupakan Tindak Pidana lanjutan dari tindak pidana yang telah terjadi sebelumnya atau tindak pidana asal/awal (predicate crime) dan hal ini dapat ditafsirkan dari pasal 2 ayat (1) tentang predicate crime atau tindak pidana asal.

Menurut penulis hal ini merupakan salah satu penyimpangan hukum yang terjadi pada Undang-undang ini, yang mana pada dasarnya antara perbuatan-perbuatan yang sifatnya berlanjut (memiliki hubungan yang sedemikian rupa antara perbuatan yang satu dengan perbuatan

(13)

halnya dengan TPPU berdasarkan undang-undang ini dipisahkan secara mandiri dan

penyelesaiannya dilakukan secara sendiri-sendiri atau dibedakan dengan tindak pidana awal.

Menurut penulis ini merupakan suatu celah bagi aparatur penegak hukum yang melakukan penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan dalam sidang pengadilan ketika sulit untuk

membuktikan tindak pidana asal atau dapat juga karena sulitnya menemukan alat bukti serta barang bukti yang cukup terkait tindak pidana asal atau tindak pidana asal dilakukan diluar yurisdiksi negara Indonesia namun harta kekayaan tersebut masuk ke yurisdiksi Indonesia, dan harta kekayaan tersebut diduga keras diperoleh dari salah satu predicate crime atau merupakan hasil tindak pidana atau kejahatan.

B. Dampak berlakunya Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia

Hukum itu ada untuk manusia, sehingga masyarakat mengharapkan kemanfaatan dari

pelaksanaan atau penegakan hukum. Jangan sampai terjadi, dalam pelaksanaan atau penegakan hukum ini timbul keresahan di dalam masyarakat.[31]

Jika membahas sebuah peraturan perundang-undangan tentu tidak lain tujuan kita adalah untuk melihat sejauh mana peraturan perundang-undangan tersebut memberikan kemanfaatan bagi penegakan hukum di Negara ini. Karena secara garis besarnya tujuan diciptakannya hukum adalah mencakup tiga hal yaitu:

1. Menyangkut kepastian hukum;

2. Menyangkut keadilan;

3. Menyangkut kemanfaatan hukum itu sendiri.

Pembahasan mengenai dampak berlakukanya undang-undang, tentu sudah jelas bahwa yang ingin kita lihat dari tujuan penciptaan hukum itu adalah sejauh mana hukum itu memberi manfaat bagi perubahan social dalam masyarakat. Karena hukum yang baik adalah hukum yang member manfaat untuk perubahan social.

Secara langsung dampak yang ditimbulkan dengan adanya undang-undang yang mengatur tentang tindak pidana pencucian uang adalah dengan bertambahnya lembaga-lembaga yang berdiri karena amanat undang-undang di Negara ini. Namun apakah keberadaan lembaga ini member pengaruh yang signifikan terhadap penekanan jumlah angka kejahatan yang terjadi, atau bahkan sebaliknya keberadaan lembaga ini membuat seseorang semakin pintar dalam melakukan sebuah tindak kejahatan yang sebelumnya memang sudah terorganisir dengan baik.

Keberadaan undang-undang ini membidani lahirnya Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau yang biasa disingkat dengan istilah PPATK[32] yang bertanggung jawab

(14)

PPATK dikenal dalam skala internasional sebagai Indonesian Financial Intelligence Unit (FIU). FIU merupakan intelijen keuangan dalam Rezim Anti Pencuacian Uang dan Pendanaan

Terorisme (AML/CTF Regime) di Indonesia.[33]

Keberadaan PPATK tentu sangat berkaitan dengan dunia perbankan sebagai lembaga keuangan, karena sumber informasi utama PPATK dalam melakukan anlisa transaksi keuangan adalah dari dunia perbankan. Dengan demikian tentu ada aspek-aspek hukum lain yang bersinggungan langsung dengan kegiatan analisa transaksi keuangan yang dilakukan oleh seorang nasabah pada bank dimana dia melakukan transaksi tersebut. Karena bank juga memiliki prinsip-prinsip dasar dalam penyelenggaraan transaksi keuangan yang mereka lakukan, dan mereka juga diatur melalui hukum perbankan. Masalah perbankan jika dikaitkan dengan hukum, maka akan didapat sebuah defenisi yang menggambarkan apa yang dimaksud dengan hukum perbankan.

Hukum perbankan adalah sebagai kumpulan peraturan hukum yang mengatur kegiatan lembaga keuangan bank yang meliputi segala aspek, dilihat dari segi eksistensinya, serta hubungannya dengan bidang kehidupan yang lain.[34]

Pengaruh yang paling nyata yang kita rasakan dengan diadakannya lembaga ini adalah disaat kita akan melakukan transaksi keuang di dunia perbankan, apakah kita akan memasukan uang

(menabung) ke dalam rekening kita sendiri atau mengirim (transfer) ke rekening orang lain, maka petugas bank menharuskan kita mencantumkan sumber dana (perolehan) dan untuk apa tujuan dilakukannya transaksi keuang tersebut. Jika kita tidak melakukan pengisian form yang telah disediakan tersebut, maka jangan berharap kita akan dilayani oleh petugas bank tersebut.

Kalau tujuan dari penciptaan hukum itu adalah untuk menghambat para pelaku kejahatan atau tindak pidana yang menghasilkan uang menyimpan hasil kejahatannya di lembaga keuangan, maka hal itu sebenarnya sudah tercapai dengan semakin rumitnya melakukan transaksi keuangan belakangan ini. Namun jika tujuannya adalah untuk pengembalian kerugian Negara seperti tujuan penciptaan undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, maka penulis belum menemukan angka-angka statistic yang mencatat jumlah kerugian Negara yang

dikembalikan berdasarkan putusan mengenai tindak pidana pencucian uang.

Pengembalian kerugian Negara patut diperhitungkan dalam undang-undang ini, karena salah satu yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang adalah hasil dari tindak pidana korupsi. Dan jika hal ini kita kaitkan dengan kemanfaatan hukum maka penulis belum melihat undang-undang ini memberi dampak yang cukup besar bagi Negara dalam hal efektifitas hukum.

C. PENUTUP REKOMENDASI

(15)

Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ini harus dirubah atau dihilangkan sama sekali, agar tujuan dari penciptaan hukum yang mencakup keadilan,

kemanfaatan dan kepastian hukum tercapai dan memberikan dampak terhadap perubahan social kemasyarakatan.

D. DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim Garuda Nusantara, Politik Hukum Indonesia, Yayasan LBH Indonesia, Jakarta, 1988

Achmad Ali & Wiwie Heryani, Sosiologi Hukum Kajian Empiris Terhadap Pengadilan, Kencana, Jakarta, 2012

Alexander Seran, Moral Hukum, Obor, Jakarta, 1999

B. Arif Sidharta, Disiplin Hukum: Tentang Hubungan Antara Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum (State of The Arts), Artikel 2005

Berdnard L. Tanya, dkk, Teori Hukum: Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Cetakan Ke III, Genta Publishing, Yogyakarta, 2010

C. S. T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum, Balai Pustaka, Jakarta, 1989

H.M. Agus Santoso, Hukum, Moral, & Keadilan: Sebuah Kajian Filsafat Hukum¸Cetakan ke I, Kencana, Jakarta, 2012

Ine Minara S. Ruky, Implementasi Kebijakan Persaingan Melalui Hukum Persaingan dan Liberalisasi Perdagangan, Desertasi Doktor, Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004

Lili Rasjidi & Ira Thania Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007

Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, Cetakan Ke-3, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012

Muhamad Erwin, Filsafat Hukum: Refleksi Kritis Terhadap Hukum, Cetakan Ke 2, Rajawali Pers, Jakarta, 2012

Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003

Philips Darwin, Money Laundering; cara memahami dengan tepat dan benar soal pencucian uang, Sinar Ilmu, 2012

(16)

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum Cetakan Keenam 2006, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006

Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, Alumni, Bandung, 1981

Soerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi Hukum, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 2000

Sudikno Mertokusumo & A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1993

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Cetakan ke 5, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2010

Sunarijati Hartono, Apakah The Rule of Law Itu, Bandung, 1986

Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barakatullah, Filsafat, Teori & Ilmu Hukum (Pemikiran Menuju Masyarakat Yang Berkeadilan dan Bermartabat), cetakan ke 2, RajawaliPers, Jakarta, 2013 Zainuddin Ali, Sosiologi Hukum, Cetakan Ketujuh, Sinar Garfika, Palu, 2012

[1] B. Arif Sidharta, Disiplin Hukum: Tentang Hubungan Antara Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum (State of The Arts), Artikel, 2005 hal 1

[2] C. S. T. Kansil , Pengantar Ilmu Hukum, Balai Pustaka, Jakarta, 1989, hal 84

[3] Achmad Ali & Wiwie Heryani, Sosiologi Hukum Kajian Empiris Terhadap Pengadilan, Kencana, Jakarta, 2012, hal 43

[4] Alexander Seran, Moral Hukum, Obor, Jakarta, 1999, hal 135

[5] Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan Sosial, Alumni, Bandung, 1983 hal. 148

[6] Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum Cetakan Keenam 2006, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, hal 43

[7] Lili Rasjidi & Ira Thania Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, hal 10

[8] Zainuddin Ali, Sosiologi Hukum, Cetakan ketujuh, Sinar Garfika, Palu, 2012, hal 62

(17)

[10] Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barakatullah, Filsafat, Teori & Ilmu Hukum (Pemikiran Menuju Masyarakat Yang Berkeadilan dan Bermartabat), cetakan ke 2, RajawaliPers, Jakarta, 2013, hal 111

[11] Ibid, hal 112

[12] Muhamad Erwin, Filsafat Hukum: Refleksi Kritis Terhadap Hukum, Cetakan Ke 2, Rajawali Pers, Jakarta, 2012, hal 120

[13] Ibid, hal. 123

[14] H.M. Agus Santoso, Hukum, Moral, & Keadilan: Sebuah Kajian Filsafat Hukum¸Cetakan ke I, Kencana, Jakarta, 2012, hal 1

[15] Baca pembukaan UUD 1945

[16] Abdul Hakim Garuda Nusantara, Politik Hukum Indonesia, Yayasan LBH Indonesia, Jakarta, 1988, hal 20

[17] Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, Cetakan Ke-3, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012, hal 30

[18] Lili Rasjidi & Ira Thania Rasjidi, Op Cit, hal 75

[19] Soerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi Hukum, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 2000, hal 19

[20] Sudikno Mertokusumo, Op Cit, hal 26

[21] Pernyataan tersebut dilontarkan oleh JE Sahetapy dalam sebuah dialog di acara Indonesia Lawyer Club yang tayang setiap hari selasa di tvone

[22] Zainuddin Ali, op. cit, hal 64

[23] Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, Alumni, Bandung, 1981, hal 186

[24] Ine Minara S. Ruky, Implementasi Kebijakan Persaingan Melalui Hukum Persaingan dan Liberalisasi Perdagangan, Desertasi Doktor, Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi

Universitas Indonesia, 2004, hal.9.

[25] Philips Darwin, Money Laundering; cara memahami dengan tepat dan benar soal pencucian uang, Sinar Ilmu, 2012, hal 5

(18)

[27] Sunarijati Hartono, Apakah The Rule of Law Itu, Bandung, 1986, hal 1

[28] Berdnard L. Tanya, dkk, Teori Hukum: Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Cetakan Ke III, Genta Publishing, Yogyakarta, 2010, hal 115

[29] Zainuddin Ali, op. Cit, hal 62

[30] Lihat Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

[31] Sudikno Mertokusumo & A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1993, hal, 2

[32] Lihat pasal 1 angka 2 jo pasal 37 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

[33] Philips Darwin, op. cit, hal 85

Referensi

Dokumen terkait

Perbuatan Gagasan.. Ary Ginanjar dalam bukunya ESQ mengatakan bahwa pembentukan karakter tidak hanya sebatas menetapkan visi dan misi saja akan tetap aktualisasi dari

Berdasarkan hasil survei terhadap 18 res- ponden dapat diketahui nilai atau besaran rata- rata pada variabel yang terkait dengan analisis peluang laba pada

Berdasarkan Kompetensi Profesional Guru Biologi (Sumber: Data Penelitian) Gambar 2., persentase hasil belajar siswa berdasarkan kompetensi profesional guru biologi menunjukkan

PT Kusumahadi Santosa adalah sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang pertekstilan. Salah satu kegiatan yang paling pokok adalah pengadaan, baik

Mengingat banyaknya kebutuhan yang diperlukan oleh keluarga dan anggota-anggotanya, maka dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang merupakan kebutuhan

Karakteristik utama dari pengasuhan anak di Jepang antara lain, (1) besarnya peran ibu, (2) ayah tidak terlalu banyak terlibat dalam pengasuhan anak, (3)

wawancara merupakan suatu kegiatan pengumpulan data yang bertujuan untuk mendapatkan sebuah informasi yang valid, dilakukan dengan cara percakapan oleh dua belah pihak,

Jabatan itu sengaja diberikan pada masyarakat agar sebagai anggota DPRD yang terlibat pembahasan APBD nantinya diharapkan ikut memperjuangkan hasil yang