LAPORAN PENGAMATAN PERKEMBANGAN ANAK Anak

41  10 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENGAMATAN PERKEMBANGAN ANAK Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Perkembangan

Dosen Pengampu : Sutaryono M.Pd Disusun Oleh :

YUDA LINTHA TARIGAN (1401416235)

ROMBEL D

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan merupakan perubahan yang terus menerus dialami, tetapi ia tetap menjadi satu kesatuan. Perkembangan berlangsung dengan perlahan melalui masa demi masa.

Kadang-kadang seseorang mengalami masa krisis pada masa kanak-kanak dan masa pubertas. (Zulkifli 1986:13)

Perkembangan menggambarkan perubahan kualitas dan abilitas dalam diri seseorang, yakni adanya perubahan dalam struktur,kapasitas,fungsi,dan efisiensi. Perkembangan itu bersifat keseluruhan misalnya perkembangan intelektual,emosional,spiritual, adalah hubungan satu sama lain. (Hamalik 2001:94)

Dalam psikologi perkembangan perkembangan yang dibahas adalah perkembangan rohani sejak manusia lahir sampai dewasa. Dalam perjalanan hidupnya menjadi dewasa perkembangan rohani itu tidak lepas dari pengaruh keturunan dan pengaruh dunia lingkungan tempat seseorang hidup dan dibesarkan. (Zulkifli 1986:4)

Berdasarkan kutipan diatas dapat disipulkan bahwa perkembangan merupakan masa perubahan dalam diri seseorang secara keseluruhan baik fisik maupun sosial serta jasamani dan rohani yang terus menerus terjadi sejak lahir hingga dewasa yang memiliki masa-masa tertentu. Tahap-tahap perkembangan pada seseorang berbeda terutama pada anak-anak yang mengalami tahap perkembangan yang begitu cepat.

(3)

1.2 Rumusan Masalah

1) Bagaimana perkembangan kognitif anak dan perkembangan anak masa sekolah? 2) Bagaimana peran orang tua dalam perkembangan anak pada usia sekolah dasar? 3) Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap anak dalam perkembangan anak usia

sekolah dasar?

4) Bagaimana perkembangan emosi anak pada anak usia sekolah dasar?

5) Bagaimana dampak teknologi bagi perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar?

1.3 Tujuan dan Manfaat

1) Untuk mendeskripsikan perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar

2) Untuk mengkaji peran orang tua dalam perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar

3) Untuk memahami dan mempelajari pengaruh lingkungan serta sekolah bagi perkembangan anak usia sekolah dasar

4) Untuk memahami dan mempelajari emosi pada anak usia sekolah dasar

5) Untuk memahami dan mengawasi dampak teknologi bagi perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar

1.4 Metode Pengumpulan Data

(4)

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Perkembangan Kognitif

Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

1) Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)

Dalam tahap ini perkembangan panca indra sangat berpengaruh dalam diri

anak. Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya.Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesarnya adalah‘menangis’.Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut.Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam empat sub-tahapan: (1) Sub-tahapan skema refleks

Muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan reflex. (2) Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer

Dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.

(3) Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder

Muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.

(4) Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder

(5)

(5) Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier

Muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.

2) Pra-operasional (usia 2-7 tahun)

Anak pada masa ini memiliki kecenderungan untuk meniru orang disekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengertimotivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis-rumit. Dalam menyampaikan cerita harus ada alat peraga.

3) Operasional Kongkrit (usia 7-11 tahun)

Anak pada tahap ini mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

(1) Pengurutan

Kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya.

Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

(2) Klasifikasi

Kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut.

(3) Decentering

Anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

(4) Reversibility

Anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapa tdiubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

(5) Konservasi

Memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak

(6)

akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

(6) Penghilangan sifat Egosentrisme

Kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain(bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

(4) Operasional Formal (usia 11 tahun ke atas)

Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berpikir, baik secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.Namun kesulitan baru yang dihadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia pubertas.

A. Masa-Masa Perkembangan

Pembagian perkembangan kedalam masa-masa perkembangan hanyalah untuk

memudahkan untuk memahami jiwa anak-anak. Walaupun perkembangan itu dibagi-bagi ke dalam masa-masa perkembangan, nemun tetap merupakan kesatuan yang dapat dipahami dalam hubungan keseluruhannya.

2.1 Pembagian Aristoteles

Aristoteles membagi perkembangan menjadi tiga masa perkembangan, yaitu: 1. Periode anak kecil (kleuter) usia sampai 7 tahun

2. Periode anak sekolah, usia 7 tahun sampai 14 tahun 3. Periode pubertas, usia 14 tahun sampai 21 tahun 2.2 Pembagian Comenius

Pembagian masa-masa perkembangan menurut Comenius sebagai berikut. 1. Masa sekolah ibu, sampai usia 6 tahun

(7)

3. Masa sekolah bahasa Latin, sampai usia 12 tahun sampai 18 tahun 4. Masa sekolah tinggi, sampai usia 18 tahun sampai 24 tahun 2.3 Pembagian Jean Piaget

Piaget membagi perkembangan menjadi 4 fase sebagai berikut. 1. Fase sensori motorik

Aktivitas kognitif didasarkan pada pengalaman langsung panca indera. Aktivitas belum menggunakan bahasa. Pemahaman intelektual muncul di akhir fase ini. 2. Fase pra operasional

Anak tidak terikat lagi pada lingkungan sensori. Kesanggupan menyimpan tanggapan bertambah besar. Anak suka meniru orang lain dan mampu menerima khayalan dan suka bercerita tentang hal-hal yang fantastis dan sebagainya.

3. Fase operasi konkret

Pada fase ini berpikir sudah mulai logis. Bentuk aktivitas dapat ditentukan dengan peraturan yang berlaku. Anak masih berpikir harfiah sesuai dengan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.

4. Fase operasi formal

Dalam fase ini anak telah mampu mengembangkan pola-pola berpikir formal, telah mampu berpikir logis, rasional, dan bahkan abstrak. Telah mampu menangkap arti simbolis, kiasan,dan menyimpulkan suatu berita,dan sebagainya.

B. Perkembangan Masa Kanak-Kanak

Masa kanak-kanak dibagi menjadi dua tahapan, yakni masa kanak-kanak awal dan masa kanak-kanak akhir. Masa kanak-kanak berlangsung awal dari usia dua tahun sampai usia enam tahun. Pada usia ini ketergantungan semakin berkurang sedangkan sikap mandiri semakin bertambah, secara perlahan-lahan.

(8)

Para pendidik mengenal masa ini sebagai “masa sekolah”, oleh karena pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal.

Masa kanak-kanak merupakan suatu periode dalam bentangan kehidupan anak dimana perkembangan yang utama ialah penguasaan lingkungan.

Dalam masa kanak-kanak , anak akan mengalami fase perkembangan berikut : a) Perkembangan fisik

b) Perkembangan motorik c) Perkembangan bahasa d) Perkembangan emosi e) Perkembangan sosial f) Hubungan keluarga g) Kepribadian

2.2 Perkembangan Anak Masa Sekolah 1) Perkembangan Fisik

Usia anak sekolah dasar umumnya berusia 6-12 tahun. Rentang usia tersebut disebut sebagai masa anak. Yaitu fase antara masa kanak-kanak dan masa remaja. Secara fisik, anak pada usia SD memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kondisi fisik sebelum dan sesudahnya. Pertumbuhan fisik anak dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan. Selanjutnya, pembahasan mengenai perkembangan fisik anak SD ini mencakup aspek-aspek :

1. Tinggi dan Berat Badan

Pertumbuhan fisik anak usia SD bila dibanding dengan masa usia remaja dan usia dini cenderung lebih lambat dan bersifat konsisten. Perkembangan ini berlangsung sampai terjadinya perubahan besar pada awal pubertas.

Tinggi dan berat badan anak secara bertahap terus bertambah, penambahan itu

diperkirakan berkisar 2,5 - 3,5 kg dan 5 – 7 cm pertahun. Kaki anak lazimnya menjadi bertambah panjang dan tubuhnya bertambah kurus. Kekuatan fisik umumnya meningkat dua kali lipat. Selain faktor kematangan, unsur latihan juga sangat membantu proses peningkatan dalam kekuatan otot.

(9)

Proporsi dan bentuk tubuh anak usia SD kelas-kelas awal umumnya kurang seimbang. Kekuranganseimbangan tubuh anak dapat diamati pada bagian kepala, badan, dan kaki. Kepala masih terlalu besar jika dibanding bagian tubuh lainnya. Jaringan lemak anak SD berkembang lebih cepat dari pada jaringan ototnya.

Berdasarkan tipologoi Sheldon, ada tiga kemungkinan bentuk primer tubuh anak SD yaitu :

(a) endomorph, yaitu yang tampak lebih luar berbentuk gemuk dan berbadan besar. (b) mesomorph, yang kelihatan kokoh, kuat, dan lebih kekar.

(c) ectomorph yang tampak jangkung, dada pipih, lemah, dan seperti tak berotot. Kondisi proporsi dan bentuk tubuh anak dapat memberikan dampak psikologis tertentu kepada anak. Kondisi proporsi dan bentuk tubuh yang kurang seimbang dapat

menumbuhkan sikap-sikap negatif, bahkan penolokan terhadap dirinya sendiri.

Perempuan

1. Pertumbuhan payudara (3 - 8 tahun)

2. Pertumbuhan rambut pubis/kemaluan (8 -14 tahun) 3. Pertumbuhan badan (9,5 - 14,5 tahun)

4. Menarche/menstruasi (10 – 16 tahun, kadang 7 thn) 5. Pertumbuhan bulu ketiak (2 tahun setelah rambut pubis)

6. Kelenjar menghasilkan minyak dan keringat (sama dengan tumbuhnya bulu ketiak)

Laki-laki

1. Pertumbuhan testis (10 – 13,5 tahun)

2. Pertumbuhan rambut pubis/kemaluan (10 – 15 tahun) 3. Pembesaran badan (10,5 – 16 tahun)

4. Pembesaran penis (11 – 14,5 tahun)

5. Perubahan suara karena pertumbuhan pita suara (Sama dengan pembesaran penis) 6. Tumbuhnya rambut di wajah dan ketiak (2 tahun setelah rambut pubis)

7. Kelenjar menghasilkan minyak dan keringat (Sama dengan tumbuhnya bulu ketiak)

3. Otak

(10)

perilaku individu, yang berhubungan dengan perilaku kognisi juga emosi. Dalam otak bagian tengah terdapat sistem limbik dengan pusatnya yang disebut dengan amigdala. Bila dibanding pertumbuhan bagian-bagian tubuh lainnya, pertumbuhan otak dan kepala ini jauh lebih cepat. Pertumbuhan otak itu terjadi pada masa usia dini.

Hal yang perlu dicatat bahwa kematangan otak yang yang dikombinasi dengan

pengalaman berinteraksi dengan lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognisi anak. Dalam hal ini diperlukan kebutuhan nutrisi dan rangsangan – rangsangan yang membuat otak anak tersebut berfungsi.

2) Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Sehingga, setiap gerakan sesederhana apapun, adalah merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.

Seandainya tidak ada gangguan fisik dan hambatan mental yang mengganggu perkembangan motorik, secara normal anak yang berumur 6 tahun akan siap

menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah dan berperan serta dalam kegiatan bermain teman sebaya. Sebagian tugas perkembangan anak yang paling penting dalam masa prasekolah dan dalam tahun-tahun permulaan sekolah, terdiri atas perkembangan motorik yang didasarkan atas penggunaan kumpulan otot yang berbeda secara koordinasi.

Jika tidak ada gangguan kepribadian yang menghambat ,anak yang memiliki sifat yang sesuai dengan harapan masyarakat akan melakukan penyesuaian sosial dan pribadi yang baik. Sebaliknya dalam diri anak yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat,akan berkembang perasaan tidak mampu yang akan melemahkan semangat mereka untuk mencoba mempelajari apa yang telah dipelajari oleh teman sebaya mereka.

Perkembangan motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak-anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus

(11)

terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu anak-anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal sperti senam, berenang,dll.

Berikut beberapa perkembangan motorik (kasar maupun halus) selama periode ini, antara lain :

KEMAMPUAN MOTORIK Anak usia 6 tahun Anak usia 7 tahun

Ketangkasan Meningkat Mulai membaca dengan lancer Melompat tali Cemas terhadap kegagalan

Bermain sepeda Peningkatan minat pada bidang sepiritual Mengetahui kanan dan kiri Kadang malu atau sedih

Mungkin bertindak menentang Menguraikan objek-objek dengan gambar

KEMAMPUAN MOTORIK

Anak usia 8-9 tahun Anak usia 10-12 tahun Kecepatan dan kehalusan aktifitas

motorik meningkat

Perubahan sikap berkaitan dengan postur tubuh, pubertas mulai tampak

Mampu menggunakan peralatan rumah tangga

Mampu melakukan aktifitas rumah tangga, seperti mencuci, menjemur,dll.

Keterampilan iebih individual Keinginan untuk menyenangkan orangtua Ingin terlibat dalam sesuatu Mula tertarik dengan lawan jenis

Menyukai kelompok dan mode Mencari teman secara aktif

Semakin matangnya perkembangan sistem syaraf otak yang mengatur otot memungkinkan berkembangnya kompetensi atau keterampilan motorik anak. Keterampilan motorik ini di bagi dua jenis, yaitu :

1. Keterampilan atau gerakan kasar, seperti berjalan, berlari, melompat, naik dan turun tangga.

(12)

Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan. Elizabeth Hurlock, mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan individu, yaitu : 1. Melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar, dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.

2. Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi “helplessness” (tidak berdaya) pada bulan – bulan pertama dalam kehidupannya ke kondisi yang “independence” (bebas, tidak bergantung). Anak dapat bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan “self confidence” (rasa percaya diri).

3. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah (school adjustment). Pada usia pra sekolah (taman kanak – kanak) atau usia kelas – kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan berbaris – baris.

4. Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucil atau menjadi anak yang “fringer” (terpinggirkan).

5. Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan “self-concept” atau kepribadian anak.

Kemampuan gerak motorik menjadi jauh lebih halus dan lebih terkoordinasi daripada sebelumnya selama masa anak. Anak laki-laki lazimnya memiliki kemampuan yang lebih baik daripada perempuan, karena jumlah sel otot laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan. Anak-anak usia SD lebih mampu mengendalikan tubuhnya sehingga dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara lebih lama. Namun anak SD lebih suka melakukan berbagai aktifitas fisik daripada berdiam diri.

Keterampilan keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

(13)

Perkembangan bahasa adalah untuk memahami karakteristik pemkembangan bahasa pada anak, bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang digunakan oleh manusia. 1. Perkembangan Fonologi

Pada umur 3-4 bulan anak mulai memproduksi bunyi mula-mula ia memproduksi tangisan. Pada usia 5-6 bulan ia mulai mengoceh,ocehannya itu kadang-kadang mirip bunyi ujaran. Anak masuk pada periode mengoceh ia membuat bunyi-bunyi yang makin bertambah variasinya dan makin komsplek kombinasinya

Pada tahap-tahap permulaan dalam perolehan bahasa,biasanya anak-anak memproduksi perkataan orang dewasa yang di sederhanakan dengan cara sebagai berikut:

a. Menghilangkan konsonan akhir (nyamuk-mu)

b. Mengurangi kelompok konsonan menjadi segmen tunggal (kunci-ci) c. Menghilangkan silabe yang tidak diberi tekanan (semut-mut) d. Duplikasi silabe yang sederhana (nakal-kakal)

2. Perkembangan Semantik

Dalam proses perolehan bahasa, anak-anak harus belajar mengerti arti dari kata-kata yang baru, dengan kata-kata lain mengembangkan suatu kamus arti kata-kata. Dalam usahanya ini, mereka mulai dengan dua asumsi mengenai fungsi dan isi dari suatu bahasa , yaitu sebagai berikut:

a. Bahasa dipergunakan untuk komunikasi.

b. Bahasa mempunyai arti dalam suatu konteks tertentu.

3. Kemampuan Komunikasi Anak Usia SD

Hasil penelitian Owens (1984:47) menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi anak usia SD adalah sebagai berikut.

N O

USIA ANAK

1 6 tahun a. Memiliki kosa kata yang dapat di komunikasikan b. Mampu menyerap20000-24000 kata

c. Mampu membuat kalimat meskipun masih dalam bentuk kalimat pendek

d. Pada tarap tertentu sudah mampu mengucapkan kalimat lengkap

8 tahun a. Mampu bercakap-cakap dengan menggunakan kosa kata yang di milikinya

(14)

3 10 tahun a. Mampu berbicara dalam waktu yang relatif lama b. Mampu memahami pembicaraan

4 12 tahun a. Mampu menyerap 50.000 kata.

(15)

2.3 Peran Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar

Faktor penentu bagi perkembangan anak baik fisik maupun mental adalah peran orang tua, terutama peran seorang ibu, karena ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang dilahirkan sampai dia dewasa. Dalam proses pembentukan pengetahuan,melalui berbagai pola asuh yang disampaikan oleh seorang ibu sebagai pendidik pertama sangatlah penting. Pendidikan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan watak, kepribadian, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keagamaan dan moral, serta keterampilan sederhana. Dalam konteks ini proses sosialisasi dan enkulturasi terjadi secara berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk membimbing anak agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, tangguh, mandiri, inovatif, kreatif, beretos kerja, setia kawan, peduli akan lingkungan, dan lain sebagainya (Desain Pembangunan Karakter, 2010).

Peran orang tua dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak sangat penting, salah satunya mengajarkan cara berbahasa dalam pergaulan sehari-hari kepada anak. Tentunya masih banyak contoh lain yang bisa dikembangkan, yaitu pembiasaan-pembiasaan lainnya sesuai lingkungan budaya masing-masing, misal membiasakan menghargai hasil karya anak walau bagaimanapun bentuknya dan tidak membandingkan hasil karya anak dengan hasil karya saudara-saudaranya sendiri. Keluarga dapat berperan sebagai fondasi dasar untuk memulai langkah-langkah pembudayaan karakter melalui pembiasaan bersikap dan berperilaku sesuai dengan karakter yang diharapkan.

Pembiasaan yang disertai dengan teladan dan diperkuat dengan penanaman nilai.

A. Perkembangan Fungsi dan Peranan Keluarga

Keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multifungsional. Fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagamaan, perlindungan, dan rekreasi dilakukan oleh keluarga terhadap anggota-anggotanya. Namun sekarang ini sebagian fungsi – fungsi tersebut sudah mengalami pergeseran, antara lain :

 Fungsi pendidikan.

Dahulu keluarga merupakan satu-satunya institusi pendidikan. Fungsi pendidikan keluarga ini telah mengalami banyak perubahan. Secara informal fungsi

(16)

 Fungsi rekreasi

Dulu keluarga merupakan medan rekreasi bagi anggota- anggotanya. Sekarang pusat-pusat rekreasi di luar keluarga, seperti gedung bioskop, panggung sirkus, lapangan olah raga, kebun binatang, taman-taman, nightclub, komunitas

pengguna jasa internet dan lain sebagainya dipandang lebih menarik.  Fungsi Keagamaan

Dulu keluarga merupakan pusat pendidikan upacara ritual dan ibadah agama bagi para anggotanya di samping peranan yang dilakukan oleh institusi agama. Proses sekularisasi dalam masyarakat dan merosotnya pengaruh institusi agama

menimbulkan kemunduran fungsi keagamaan keluarga.  Fungsi Perlindungan

Dahulu keluarga berfungsi memberikan perlindungan, baik fisik maupun sosial, kepada para anggotanya. Sekarang banyak fungsi perlindungan dan perawatan ini telah diambil alih oleh badan-badan sosial, seperti tempat perawatan bagi anak-anak cacat tubuh dan mental, anak-anak yatim piatu, anak-anak- anak-anak nakal, orang-orang lanjut usia, perusahaan asuransi dan sebagainya.

Menurut Vembriarto (1990) ada tiga macam fungsi yang tetap melekat sebagai ciri hakiki keluarga, yaitu sebagai berikut.

a) Fungsi biologis

Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak, fungsi biologis orang tua ialah melahirkan anak. Fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat. b) Fungsi afeksi

(17)

c) Fungsi sosialisasi

Fungsi sosialisasi ini menunjuk peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam proses perkembangan pribadinya.

Pengaruh Keluarga terhadap Perkembangan Anak

Radin (Seifert & Hoffnung, 1991) menjelaskan enam kemungkinan cara yang dilakukan orangtua dalam mempengaruhi anak, yakni:

1. Pemodelan Perilaku (modeling of behaviors).

Disengaja atau tidak, orang tua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Cara dan gaya orang tua berperilaku akan menjadi sumber objek imitasi bagi anak. Tidak hanya yang baik – baik saja yang diterima oleh anak, tapi sifat – sifat yang jeleknya pun akan dilihat pula.

2. Memberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punishments). Orang tua mempengaruhi anaknya dengan cara memberi ganjaran terhadap perilaku tertentu dan memberi hukuman terhadap perilaku lainnya.

3. Perintah langsung (direct instruction).

Kadang – kadang orang tua secara sederhana mengatakan kepada anak seperti berikut: “Jangan malas belajar!”, “Cepat mandi, nanti sekolahnya kesiangan!”. 4. Menyatakan peraturan-peraturan ( stating rules).

Secara berulang - ulang orang tua menyatakan peraturan – peraturan umum secara tidak tertulis yang berlaku di rumah.

5. Nalar ( reasoning).

Pada saat menjengkelkan, orang tua bisa mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar untuk mempengaruhi anaknya. Contoh, orang tua bisa mengingatkan anaknya tentang kesenjangan perilaku dengan nilai yang dianut.

(18)

Orang tua dapat mempengaruhi perilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau bahan – bahan dan adegan suasana.

Gaya Pengasuhan Orangtua dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Anak Gaya pengasuhan orangtua (parenting style)

Tipe Perilaku Orang tua Karakteristik anak

Otoriter Kontrol yang ketat dan sepihak, menuntut ketaatan penuh tanpa memberi kesempatan anak untuk berdialog, dominan dalam mengawasi dan mengendalikan anak, lebih senang menggunakan hukuman dalam menerapkan peraturan

Menarik diri dari pergaulan serta tidak puas dan tidak percaya dengan orang lain.

Permisif Tidak mengontrol, tidak menuntut, tidak memberi arahan & bimbingan, memberikan banyak kebebasan kepada anak, cenderung membiarkan anak saat melakukan kesalahan

Kurang dalam harga diri, kendali diri, dan

kecenderungan untuk berekplorasi

Otoritatif Menuntut dengan pemahaman dan bukan dengan paksaan. Berdialog (memberi dan menerima) secara verbal, mengontrol

Mandiri, bertanggung jawab secara sosial,memiliki kendali diri, eksploratif, percaya diri.

Persoalan Keluarga dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Anak Permasalahan keluarga :

 Orang tua yang bekerja

(19)

Namun demikian, ibu yang bekerja maupun tidak sebenarnya sama-sama memiliki potensi untuk memberikan dampak positif dan negatif terhadap kehidupan keluarga.

 Orang tua yang bercerai

Perceraian orang tua dapat merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan shock dan konflik berat serta perubahan drastis bagi anggota keluarganya, termasuk anak. Selain tekanan ekonomi, persoalan lain yang muncul adalah tekanan psikologis. Berbagai persoalan yang dialami orang tua, pada akhirnya terekspresikan di saat berinteraksi dengan anak. Mereka menjadi emosional, mudah marah dan berperilaku agresif terhadap anak.

2.4 Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak 1. Lingkungan Keluarga

Keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Predikat ini mengindikasikan betapa esensialnya peran dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian anak.

Pandangan yang sangat menghargai posisi dan peran keluarga sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang istimewah. Pandangan seperti ini sangat logis dan mudah dipahami karena beberapa alasan berikut ini.

1. Keluarga lazimnya merupakan, pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak. Begitu anak lahir, lazimnya pihak keluargalah yang langsung menyambut dan memberikan layanan interaktif kepada anak. 2. Sebagian besar waktu anak lazimnya dihabiskan di lingkungan keluarga. 3. Karakteristik hubungan orang tua-anak berbeda dari hubungan anak dengan

pihak-pihak lainnya (guru, teman, dan sebagainya ).

4. Interaksi kehidupan orang tua-anak di rumah bersifat “asli”, seadanya dan tidak dibuat-buat.

Peran keluarga lebih banyak memberikan pengaruh dukungan, baik dari dalam penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif.

(20)

nilai, dan perilaku-perilaku sejenisnya, lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh yang sangat dominan.

Di sini lingkungan keluarga dapat memberikan pengaruh kuat dan sifatnya langsung berkenaan dengan pengembangan aspek-aspek perilaku seperti itu, keluarga dapat berfungsi langsung sebagai lingkungan kehidupan nyata untuk mempraktekkan aspek-aspek perilaku tersebut.

Karena itu tidaklah mengherankan kalau Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2/1989 menyatakan secara jelas bahwa keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai-nilai moral, dan keterampilan.

Selanjutnya, Radin menjelaskan 6 kemungkinan cara yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut ini :

1. Permodelan perilaku (modeling of behavior). Baik disengaja atau tidak, orang tua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anaknya. Imitasi bagi anak tidak hanya yang baik-baik saja yang diterima oleh anak, tetapi sifat-sifat yang jeleknyapun akan dilihat pula.

2. Memberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punishments). Orang tua mempengaruhi anaknya dengan cara memberikan ganjaran terhadap perilaku-perilaku yang dilakukan oleh anaknya dan memberikan hukuman terhadap beberapa perilaku lainnya.

3. Perintah langsung (direct instruction).

4. Menyatakan peraturan-peraturan (stating rules).

5. Nalar (reasoning). Pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bias

mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya.

6. Menyediakan fasilitas atau bahan-bahan dan adegan suasana (providing materials and settings). Orang tua dapat mempengaruhi perilaku anak dengan mengontrol fasilitas atau bahan-bahan dan adegan suasana.

(21)

Sebaliknya, anak akan sangat sulit menumbuhkan dan membiasakan berbuat dan bertingkah laku baik manakala di dalam lingkungan keluarga (sebagai ruang sosialasi terdekat, baik fisik maupun psikis) selalu diliputi dengan pertikaian, pertengkaran, ketidakjujuran, kekerasan, baik dalam hubungan sesama anggota keluarga ataupun dengan lingkungan sekitar rumah.

Demikian pula status sosio – ekonomi. Status sosio-ekonomi, dalam banyak kasus menjadi sangat dominan pengaruhnya. Ini sekaligus menjadi latar mengapa anak-anak tersebut memutuskan terjun ke jalanan. Namun selain faktor tersebut

(ekonomi), masih ada penyebab lain yang juga akan sangat berpengaruh mengapa anak memutuskan tindakannya itu, yakni peranan lingkungan rumah, khususnya peranan keluarga terhadap perkembangan nilai-nilai moral anak, dapat disingkat sebagai berikut :

1. Tingkah laku orang di dalam (orangtua, saudara-saudara atau orang lain yang tinggal serumah) berlaku sebagai suatu model kelakuan bagi anak melalui peniruan-peniruan yang dapat diamatinya.

2. Melalui pelarangan-pelarangan terhadap perbuatan-perbuatan tidak baik, anjuran-anjuran untuk dilakukan terus terhadap perbuatan-perbuatan yang baik misalnya melalui pujian dan hukuman.

3. Melalui hukuman-hukuman yang diberikan dengan tepat terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik atau kurang wajar diperlihatkan, si anak

menyadari akan kerugian-kerugian atau penderitaan-penderitaan akibat perbuatan-perbuatannya.

1. Kualitas Hubungan Orang Tua-Anak

Seiring dengan perubahan-perubahan yang dialami anak usia SD, pola dan bentuk hubungan orang tua-anak mengalami perubahan. Perilaku orang tua lazimnya semakin memberi kesempatan kepada anak untuk berbuat secara lebih mandiri. Pada saat anak memasuki SD, berbagai kemampuan dan keterampilan lebih banyak lagi dikuasai oleh anak. Sekarang anak lazimnya sudah dapat makan, buang air besar, dan berpakaian sendiri. Selain itu, ia juga mulai menampakkan minat-minat dan acara kegiatannya sendiri yang kadang-kadang tidak terikat lagi dengan acara orang tua.

1. Gaya Pengasuhan Orang Tua Dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Anak

Gaya pengasuhan orang tua (parenting style) adalah cara-cara orang tua berinteraksi secara umum dengan anaknya, dalam hal ini banyak macam

(22)

1. Persoalan-persoalan keluarga dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak.

Dinamika kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap kehidupan keluarga. Banyaknya tuntutan kehidupan yang menerpa keluarga serta bergesernya nilai-nilai dan pandangan tentang fungsi dan peranan anggota keluarga menyebabkan terjadinya berbagai perubahan mendasar tentang kehidupan keluarga.

Terlepas dari bentuk dan wujud perubahan-perubahan yang terjadi, pergeseran-pergeseran tersebut membuat semakin kompleksnya permasalahan-permasalahan yang dialami keluarga yang pada gilirannya akan memberikan dampak tertentu terhadap perkembangan anak. Untuk dapat berkembang secara sehat dan sejalan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat, dengan sendirinya anak perlu

melakukan penyesuaian. Permasalahan utama keluarga yang lazim dialaminya, yakni masalah orang tua yang bekerja dan perceraian.

2. Lingkungan Sekolah

Sekolah telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Mereka di sekolah bukan hanya hadir secara fisik, melainkan mengikuti berbagai kegiatan yang telah dirancang dan diprogram sedemikian rupa. Karena itu disamping keluarga, sekolah memiliki peran yang sangat berarti bagi perkembangan anak.

Guru adalah orang-orang yang sudah dididik dan dipersiapkan secara khusus dalam bidang pendidikan. Mereka menguasai sejumlah pengetahuan dan

keterampilan yang bisa menjadi stimulus bagi perkembangan anak-anak lengkap dengan penguasaan metodologi pembelajarannya.

Dalam konteks perkembangan anak, hal tersebut merupakan salah satu sisi keunggulan guru dari pada orang-orang dewasa lain pada umumnya. Karenanya lazimnya pengalaman interaksi pendidikan dengan guru di sekolah akan lebih bermakna bagi anak dari pada pengalaman interaksi dengan sembarang orang dewasa lainnya. Dengan kata lain, interaksi pendidikan di sekolah tidak hanya berkenaan dengan perkembangan aspek-aspek pribadi lainnya.

(23)

segenap aspek perilaku termasuk perkembangan aspek-aspek sosial moral dan emosi.

Dijelaskan oleh Bredekamp bahwa sasaran kurikulum sekolah yang tepat itu adalah :

1. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak dalam semua bidang perkembangan fisik, sosial, emosi dan intelektual guna membangun suatu fundasi untuk belajar sepanjang hayat;

2. Mengembangkan harga diri anak, rasa kompoten dan perasaan-perasaan positif terhadap belajar. Sekolah-sekolah di Indonesia juga tidak terlepas dari fungsi dan peranannya dalam mengembangkan keimanan dan ketakwaan anak sehingga mereka menjadi manusia-manusia yang beragama dan beramal kebajikan.

3. Lingkungan Masyarakat

Masyarakat tempat anak – anak hidup dan bergaul, dengan orang dewasa yang juga memiliki peran dan pengaruh tertentu dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Disana mereka bergaul, melihat orang – orang beperilaku dan menemukan sejumlah aturan dan tuntutan yang seyogjanya dipenuhi oleh yang bersangkutan.

Perkembangan anak, dari lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dapat mendukung perkembangan anak di keluarga maupun di sekolah, begitupun sebaliknya.

2.5 Perkembangan Emosi Anak Usia Sekolah Dasar 1) Ciri Khas Penampilan Emosi Anak  Emosi yang kuat

Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius.

 Emosi seringkali tampak

(24)

 Emosi bersifat sementara

Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor,yakni:

1. Membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang; 2. Kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan

intelektual dan pengalaman yang terbatas; dan

3. Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, emosi mereka menjadi lebih menetap.  Reaksi mencerminkan individualitas

Semua bayi yang baru lahir pola reaksinya sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak lainnya mungkin akan bersembunyi dibelakang kursi atau dibalik punggung seseorang.

 Emosi berubah kekuatannya

Dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat. Variasi ini sebagian lagi oleh perkembangan intelektual, dan sebagian lainnya oleh perubahan minat.

 Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku

Anak-anak mungkin tidak memperhatikan reaksi emosi mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkan secara tidak langsung melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup seperti menggigit kuku dan menghisap jempol.

2) Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

(25)

1960:266) dalam (Perkembangan Peserta Didik (2002:156)). Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mengkin akan muncul di kemudian hari, dengan berfungsinya sistem endokrin. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain:

Belajar dengan coba-coba

Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak perilaku yang

memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Belajar dengan cara meniru

Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati.

Belajar dengan cara mempersamakan diri ( learning by identification ) Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi yang ditiru. Disini anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.

Belajar Melalui Pengkondisian

Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka.

Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi.

(26)

secara emosional terhadap rangsangan-rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.

3) Cara yang Umum Menyalurkan Energi Emosional yang Terpendam a. Kemurungan

Kemurungan adalah keadaan emosi yang diperpanjang karena adanya energi emosi yang tertahan dan emosi itu dibiarkan tetap menyala. Emosi yang tidak

menyenangkan paling mungkin ditahan, sehingga anak tampak merengut, tidak sehat, berdiam diri, atau masgul. Mereka menjadi tidak bergairah dan berkerja dengan hasil dibawah tingkat kemampuan mereka menjadi asik dengan diri dan perasaan mereka sendiri.

b. Reaksi pengganti

Energi emosional dapat dilepaskan dengan mengganti reaksi emosional yang biasanya dilakukan dengan reaksi yang lebih dapat diterima secara sosial. Sebagai contoh, jika anak marah, mereka mungkin mengganti reaksi memukul atau menendang dengan reaksi mencaci maki, atau mungkin melakukan sesuatu yang bermanfaat atau konstruktif.

c. Pemindahan

Dalam pemindahan (displacement), reaksi emosional ditunjukkan kepada manusia, binatang, atau obyek yang tidak ada hubungannya dengan rangsangan. Sebagai contoh, anak yang marah bukannya memukul dan membentak orang yang telah menimbulkan kemarahannya, tetapi menyerang korban yang tidak bersalah sebagai kambing hitam.

d. Regresi

(27)

bahkan yang infantile. Sebagai contoh, anak yang cembury mungkin ngompol di tempat tidur atau menyatakan bahwa mereka masih harus dibantu untuk berpakaian.

e. Letusan emosi

Di dalam letusan emosi, anak-anak bereaksi dengan hebat terhadap rangsangan yang remeh. Apabila marah, maka mereka melakukan ledakan kemarahan di luar batas kewajaran terhadap objek yang telah membuat mereka marah. Karena anak-anak yang lebih tua mengetahui bahwa mereka dituntut untuk mengembangkan toleransi terhadap frustasi, letusan emosi mereka saling beralih menjadi rasa tidak mamou, rasa bersalah, dan malu.

4) Kondisi yang Menunjang Timbulnya Emosionalitas yang Meninggi a. Kondisi fisik

Apabila keseimbangan tubuh terganggu karena kelelahan, kesehatan yang buruk, atau perubahan yang berasal dari perkembangan, maka anak akan mengalami

emosionalitas yang meninggi.

- Kesehatan yang memburuk, yang disebabkan oleh gizi buruk, gangguan pencernaan, atau penyakit.

- Kondisi yang merangsang, seperti kaligata atau eksim.

- Setiap gangguan yang kronis, seperti asma atau penyakit kencing manis.

- Perubahan kelenjare, terutama pada saat puber. Gangguan kelenjar mungkin juga disebabkan oleh stress emosional yang kronis, misalnya pada kecemasan yang mengambang.

b. Kondisi psikologis

Pengaruh psikologis yang penting antara lain tingkat intelegiensi, tingkat aspirasi, dan kecemasan.

- Perlengkapan intelektual yang buruk. Anak yang tingkat intelektualnya rendah rata-rata mempunyai pengendalian emosi yang kurang dibandingkan dengan anak yang pandai pada tingkat umur yang sama.

(28)

- Kecemasan setelah pengalaman emosional tertentu yang sangat kuat. Sebagai contoh, akibat lanjutan dari pengalaman yang menakutkan akan mengakibatkan anak takut kepada setiap situasi mengancam.

c. Kondisi lingkungan

Ketegangan yang terus-menerus, jadwal yang ketat, dan terlalu banyak pengalaman menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan.

- Ketegangan yang disebabkan oleh pertengkaran dan perselisihan yang terus menerus.

- Kekangan yang berlebihan, seperti disiplin yang otoriter.

- Sikap orang tua yang terlalu mencemaskan atau terlalu melindungi. - Suasana otoriter di sekolah

2.6 Dampak Teknologi Terhadap Perkembangan Anak 1) Definisi dan Pemanfaatan Teknologi Internet

Internet merupakan kepanjangan dari interconnected networking. Istilah INTERNET berasal dari bahasa Latin inter, yang berarti “antara”. Internet adalah sebuah dunia maya jaringan komputer (interkoneksi) yang terbentuk dari miliaran komputer di dunia. Internet merupakan hubungan antar berbagai jenis komputer dan jaringan di dunia yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya di mana hubungan tersebut memanfaatkan kemajuan media komunikasi (telepon dan satelit) yang

menggunakan protokol standar dalam berkomunikasi. Internet memungkinkan kita untuk menghilangkan hambatan jarak dan waktu dalam mendapatkan informasi. Internet merupakan sebuah jaringan komunikasi dan informasi global.

Pemanfaatan Internet tentu harus di sesuaikan dengan tingkat usia anak. Usia anak SD rata-rata berkisar antara 7-13 tahun. Dan tingkatan itu semua memiliki cara

penanganan yang berbeda. Berikut tahap pengenalan Internet pada anak sesuai tingkat usianya.

USIA 4 S/D 7 TAHUN

Anak mulai tertarik untuk melakukan eksplorasi sendiri. Meskipun demikian, peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak menggunakan Internet. Dalam usia ini, orang tua harus mempertimbangkan untuk memberikan batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi, berdasarkan pengamatan orang tua sebelumnya. Untuk mempermudah hal tersebut, maka orang tua bisa menyarankan kepada anaknya untuk menjadikan sebuah direktori atau search engine khusus

(29)

Dalam masa ini, anak mulai mencari informasi dan kehidupan sosial di luar keluarga mereka. Inilah saatnya dimana faktor pertemanan dan kelompok bermain memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan seorang anak. Pada usia ini pulalah anak mulai meminta kebebasan lebih banyak dari orang tua. Anak memang harus didorong untuk melakukan eksplorasi sendiri, meskipun tak berarti tanpa adanya partisipasi dari orang tua. Tempatkan komputer di ruang yang mudah di awasi, semisal di ruangan keluarga. Ini memungkinkan sang anak untuk bebas melakukan eksplorasi di Internet, tetapi dia tidak sendirian. Pertimbangkan pula untuk menggunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi

ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak. Pada masa ini, fokus orang tua bukanlah pada apa yang dikerjakannya di Internet, tetapi berapa lama dia menggunakan Internet.

USIA 10 S/D 12 TAHUN

Pada masa pra-remaja ini, anak yang membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kebebasan. Inilah saat yang tepat untuk mengenalkan fungsi Internet untuk membantu tugas sekolah ataupun menemukan hal-hal yang berkaitan dengan hobi mereka.

Perhatian orang tua tidak hanya pada apa yang mereka lihat di Internet, tetapi juga pada berapa lama mereka online. Tugas orang tua adalah membantu mengarahkan kebebasan mereka. Berikanlah batasan berapa lama mereka bisa mengggunakan Internet dan libatkan pula mereka pada kegiatan lain semisal olahraga, musik dan membaca buku. Pada usia 12 tahun, anak-anak mulai mengasah kemampuan dan nalar berpikir mereka sehingga mereka akan membentuk nilai dan norma sendiri yang dipengaruhi oleh nilai dan norma yang dianut oleh kelompok pertemanannya. Sebelumnya, norma keluargalah yang banyak berpengaruh.

Pada usia ini, sangatlah penting untuk menekankan konsep kredibilitas. Anak-anak perlu memahami bahwa tidak semua yang dilihatnya di Internet adalah benar dan bermanfaat, sebagaimana belum tentu apa yang disarankan oleh teman-temannya memiliki nilai positif.

USIA 12 S/D 14 TAHUN

Inilah saat anak-anak mulai aktif menjalani kehidupan sosialnya. Bagi yang menggunakan Internet, kebanyakan dari mereka akan tertarik dengan online chat (chatting). Tekankan kembali pada kesepatakan dasar tentang penggunaan Internet di rumah, yaitu tidak memberikan data pribadi apapun, bertukar foto atau melakukan pertemuan face-to-face dengan seseorang yang baru dikenal melalui Internet, tanpa sepengetahuan dan/atau seijin orang tua.

Pada usia ini anak-anak harus sudah memahami bahwa faktanya seseorang di Internet bisa jadi tidaklah seperti yang dibayangkan atau digambarkan. Anak pada usia ini juga sudah saatnya mulai tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas.

(30)

ketertarikan dan penasaran mereka. Dalam masa ini, orang tua harus waspada terhadap apa yang dilakukan anaknya. Orang tua tidak harus berada di ruangan yang sama dengan sang anak ketika anak tersebut tengah menggunakan Internet.

Masa ini merupakan masa yang tepat bagi kebanyakan orang tua untuk bercerita dan berbagi informasi tentang hal-hal seksual kepada anaknya. Tetapi di sisi lain, pemasangan software filter secara diam-diam ataupun tanpa persetujuan sang anak, bisa berdampak pada timbulnya resistansi sang anak kepada orang tua.

Masyarakat tempat anak-anak hidup dan bergaul dengan anak-anak orang dewasa lainnya juga merupakan lingkungan perkembangan yang memiliki peran dan pengaruh tertentu dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Disana mereka bergaul, disana mereka melihat orang-orang berprilaku, disana mereka menemukan sejumlah aturan dan tuntunan yang seyogyanya dipenuhi oleh yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman interaksional anak pada masyarakat ini akan member kontribusi tersendiri dalam pembentukan perilaku dan perkembangan pribadi anak.

Namun tidak selamanya budaya-budaya baik yang dikembangkan di rumah dan di sekolah itu sejalan dengan apa yang terjadi di masyarakat. Sementara di rumah dan di sekolah tidak pernah diajarkan untuk mencuri, berkelahi, mengkhianati orang lain dan sebagainya. Tetapi di masyarakat semua hal itu terjadi. Kondisi demikian tentunya akan menimbulkan sejumlah pertanyaan, sikap kritis, dan bahkan mungkin kebingungan pada diri anak.

Disinilah perlunya ikatan psikologis yang kuat antara keluarga dengan anak sehingga keluarga tetap dipercaya sebagai tempat yang baik untuk membicarakan dan memahami berbagai permasalahan yang terjaadi di masyarakat. Baik tidaknya suatu masyarakat akan tergantung kepada keluarga-keluarga yang membangun masyarakat bersangkutan.

1. Pengaruh Negatif Media Informasi

Di era informasi ini, peran media informasi dalam kehidupan sangat dominan. Saat ini, kita dapat menyaksikan betapa berjamurnya TV-TV swasta, parabola, dan internet. Semua ini dapat memberikan pengaruh negative bagi anak – anak, apabila mereka menyaksikan tayangan TV tanpa ada pengawasan dari orang tua.

Penggunaan internet juga tidak kalah berbahaya apabila tanpa pengawasan, karena banyaknya informasi – informasi yang tidak layak konsumsi bagi anak-anak.

Berbagai dampak negative penggunaan internet yang mulai merambah anak-anak antara lain:

(31)

pun merajarela. Untuk mengatasi hal ini, para produsen “browser” melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home page yang dapat diakses.

Violence and Gore atau kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat menjual situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.

 Penipuan, hal ini memang merajarela di bidang apapun, internet pun tak luput dari serangan penipu. Cara terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini.

Carding merupakan aktivitas pembelian barang di Internet menggunakan kartu kredit bajakan. Cara belanja menggunakan kartu kredit adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia Internet karena bersifat real-time (langsung). Para pelakunya paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini.

 Perjudian, dengan jaringan yang tersedia para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi kebutuhannya.

Selain itu pun, ada beberapa dampak negatif lainnya yang dilihat secara konseptual yakni:

1. Information Anxiety

Terlalu banyak informasi sehingga tidak bisa memilih mana informasi yang benar / salah, penting / tidak, karena semakin banyaknya informasi yang ada sekarang, tidak semua informasi yang diberikan benar adanya. khususnya yang menggunakan media internet. 2. Dehumanization

Hilangnya / turunnya penghargaan atas nilai individu, yang digantikan dengan angka identitas.

3. Health Issues

Stress yang ditimbulkan oleh penggunaan peralatan dan aplikasi berbasis TIK,

ketergantungan akan teknologi informasi dan komunikasi, pengaruh radiasi gelombang elektromagnetis, pengaruh radiasi layar monitor, masalah persendian akibat kelelahan akibat kesalahan penggunaan keyboard dan mouse, masalah ergonomis, dsb.

4. Lost Of Privacy

(32)

5. Cookies

Makin banyak informasi yang ditampilkan diinternet yang tanpa kita sadari membuka peluang penyalahgunaan oleh pihak – pihak tidak berwenang , contoh : account yang kita miliki di situs jejaring social seperti facebook, friendster, twitter, dll .

6. Digital Gap

Makin nyata adanya kesenjangan antara kelompok yang menguasai TIK dengan

kelompok yang tidak menguasai TIK, baik dalam keseharian maupun di dalam pekerjaan. 7. Possible Massive Unemployment

Implementasi TIK secara besar – besaran, waktu – waktu dapat membawa dampak peningkatan jumlah pengurangan tenaga kerja, baik melalui PHK ataupun menyempitnya peluang tenaga kerja bagi karyawan yang tidak menguasai TIK.

8. Impact Of Globalization On Culture

Makin menghilangnya / menipisnya nilai – nilai budaya lokal akibat pengaruh

globalisasi. Karena semakin cepat dan mudahnya penyebaran informasi dari dunia luar melalui internet.

2. Pengaruh Positif Media Informasi

Selain pengaruh negatif, media informasi juga memberikan pengaruh positif bagi perkembangan anak, khususnya dalam mengkondisikan anak berburu informasi dan pengetahuan. Saat ini ada jutaan informasi yang dapat diperoleh dengan mudah melalui internet hanya dalam hitungan detik saja.

Bahkan, kementrian pendidikan pun telah meluncurkan buku sekolah elektronik yang dapat di download oleh semua pengguna internet. Hal ini tentunya dapat membantu siswa dalam belajar dan mendapatkan buku tambahan selain yang digunakan di sekolah.

Sudah saatnya, pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran dilaksanakan dan didukung segenap pemangku kepentingan pendidikan. Pemerintah juga harus

memberikan perhatian lebih agar para pengajar sadar betapa banyaknya kemudahan pembelajaran yang bisa diperoleh lewat pemanfaatan internet. Orangtua juga harus paham, internet bukan hanya membawa dampak negatif bagi anak. Di sisi seberang sana, potensi besar internet menunggu untuk dikenalkan dan dimanfaatkan. Agar proses

(33)

Solusi

Dari dampak-dampak negatif di atas, perlu penulis cantumkan bagaimana solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak yang ada. Diantaranya adalah penggunaan Software Browser khusus untuk anak, yaitu Browser Anak, dan Browser Parental.

Software Browser adalah yang menjadi perantara utama antara Internet dengan komputer yang digunakan. Browser anak secara umum telah dirancang untuk semaksimal mungkin menyaring berbagai situs, gambar atau teks yang tak layak diterima anak. Browser anak juga didisain untuk menarik dan mudah digunakan oleh anak.

Software Parental (Filter, Monitor dan Penjadwalan). Software ini untuk mencegah anak sengaja atau tidak sengaja membukan dan/atau melihat berbagai gambar yang tak layak (pornografi, sadisme, dan sebagainya) yang terdapat di situs Internet. Software ini juga akan memudahkan orang tua ataupun pengasuh untuk memonitor aktifitas anak selama online dengan berbagai variasi metode pengawasan. Fungsi lain dari software ini adalah untuk membatasi jumlah / durasi waktu anak dalam menggunakan Internet. Termasuk untuk pengaturan hari dan jam tertentu sehingga komputer dapat atau tidak dapat digunakan oleh anak untuk ber-Internet.

Selain penggunaan alat bantu seperti Browser, pencegahan juga dapat dilakukan dengan pengawasan orang tua ataupun guru, lingkungan atau bahkan memberi pemahaman pada anak melalui edukasi buku. Hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah:

 Orang tua harus tetap mendampingi anaknya ketika mereka bereksplorasi dengan Internet rumah

 Orang tua memegang peranan yang besar dalam mengajarkan perilaku ber-Internet yang sehat kepada anak. Baik kita sebagai orang tua maupun anak kita harus mempelajari dan memahami tentang berbagai resiko yang dihadapi ketika berkomunikasi dengan orang yang tak dikenal melalui Internet.

 Definisikan secara jelas dan gamblang Aturan Penggunaan Internet di rumah. Kemudian tulis dan pasang aturan tersebut di tempat yang dapat dibaca oleh semua anggota keluarga.

 Tegaskan untuk tidak mendownload materi yang secara nyata merupakan materi ilegal, bajakan atau melanggar hak cipta.

 Tetaplah menjalin komunikasi yang baik dengan anak kita, berapapun usianya.

 Guru harus senantiasa membimbing siswa didiknya agar dapat menggunakan Internet dengan baik dan benar saat sekolah

(34)

 Anak, remaja maupun siswa didik diharapkan dapat belajar bertanggung-jawab atas perilaku mereka sendiri, termasuk ketika menggunakan Internet, tentunya dengan bimbingan dan arahan dari orang-tua, guru dan komunitas.

 Perbanyak buku yang bersifat Edukatif tentang TIK atau Internet dirumah. Berbagai solusi yang ada, tidaklah akan berhasil tanpa adanya kesadaran dan kemauan untuk mencegah dari kita semua. Teknologi Internet memang tak dapat di hindari, karena itu merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak dapat dihindari. Semoga dengan makalah ini, kesadaran akan bahaya Internet akan meningkat. Selain itu dampak positif lainnya penggunaan internet antara lain:

1) Surat menyurat (e-mail), fasilitas ini sudah sering kali kita dengar karena dengan fasilitas ini tidak hanya untuk saling mengirim pesan yang pnjang tapi juga dapat digunakan untuk mengirim tugas dalam proses belajar,

2) Berbincang (chatting), fasilitas ini memungkinkan seseorang untuk saling berkomunikasi satu sama lainnya, dan bisa menambah teman dari berbagai belahan dunia,

3) Mengambil/mengirim informasi (download/upload), berbagai informasi mengenai apapun dapt diperoleh melalui internet, selain itu kita pun dapat turut andil dengan mengirimkan (upload) informasi-informasi penting yang kita ketahui, 4) Menggunakan teknologi “teleconference” (konferensi interaktif secara on line dari

jarak jauh), karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis,

5) Mendapatkan hiburan, tidak hanya bagi orang dewasa, namun siswa sekolah dasar pun telah mengenal dan memanfaatkannya meski seringkali hanya untuk

mendapatkan kesenangan,

6) Internet juga dapat dimanfaatkan untuk memupuk semangat belajar secara

(35)

BAB III

PELAKSANAAN PENGAMATAN 2.1 Lokasi

Dalam pelaksanaan penelitian ini, saya meneliti psikologi perkembangan salah satu anak SD kelas 4 di Sekolah Dasar Negeri Tambakaji 04 Ngaliyan. Sekolah Dasar ini beralamatkan di Jl.Prof.Dr.Hamka, Tambakaji,Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengahn 2.2 Objek Penelitian

Biodata anak SD yang saya jadikan sebagai objek penelitian adalah sebagai berikut: Biodata

(36)

Agama : Islam

Kelas : 4B

Sekolah : Sekolah Dasar Negeri Tambakaji 04 Ngaliyan Pekerjaan orang tua : a. Ayah = Dosen Pelayaran AMNI

b. Ibu = Pedagang Online

2.3 Hasil Pengamatan Perkembangan Anak

Amerada Radianka Radiany Rifai atau biasa dipanggil Amera adalah anak Sekolah Dasar Negeri Tambakaji 04 Ngaliyan yang saya temui di sekolahnya beberapa waktu lalu. Beberapa hal yang saya amati dari Amerada antara lain :

1) Perkembangan Fisik

Pada usia 10 tahun ini, Amerada menginjak kelas 4 sekolah dasar tepatnya kelas 4B. Layaknya anak seusianya, Amerada mengalami pertumbuhan fisik yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Proporsi dan bentuk tubuhnya juga seimbang dan sesuai dengan usianya. Amerada tergolong anak yang cukup tinggi untuk anak perempuan seusianya.

2) Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik Amerada juga baik. Amerada merupakan anak yang aktif dan lincah. Selain aktif dan lincah, ia juga anak yang ceria dan gembira. Saat waktu istirahat, ia dan teman-temannya senang bermain lompat tali dan ular-ularan.

3) Perkembangan Bahasa

Amerada menginjak usia 10 tahun. Dan anak di usia10 tahun ia memiliki kemampuan bahasa yang baik. Ketika menjawab pertanyaan yang ditanyakan ia menjawabnya dengan bahasa yang baik meskipun tidak sepenuhnya serius. Amerada merupakan anak yang ceria dan suka bercanda. Jadi, dalam menjawab pertanyaan ia serius tetapi juga santai. Perkembangan pemahaman bahasa dan cara berbicara Amerada juga baik. Perkembangan Emosi

(37)

mandi oleh orang tuanya ia hanya menjawab karena ia salah maka ia dihukum dan ia tidak mau memperpanjang lagi perihal hal tersebut.

Dari hal tersebut, penulis mengambil kesimpulan bahwa Amerada adalah anak yang mampu mengendalikan emosi dan sudah sadar akan privasi. Hal tersebut jarang di kalangan anak seusianya yang cenderung terbuka akan hal apa saja. Ia sudah mengetahui batas-batas apa saja yang boleh diceritakan kepada orang lain dan apa yang tidak. Ia sadar akan kesalahan yang ia lakukan dan ia sadar akan konsekuensi yang ia dapatkan. Ia tidak benci pada orang tuanya dan ia jera mengulang kesalahannya.

4) Perkembangan sosial

Amerada adalah anak yang ramah dan murah senyum. Selain itu, ia juga murah senyum dan dengan senang hati bersedia ketika penulis wawancarai. Ia dengan cepat mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mampu bersosialisasi dengan baik dengan teman sebaya maupun dengan yang berbeda usia. Hubungan sosialnya dengan guru,teman dan warga sekolah lainnya juga berjalan baik.

5) Hubungan keluarga

Orang tua Amerada merupakan sosok orang tua yang cukup tegas mendidik anak. Tak jarang ia sering dimarahi ketika melakukan kesalahan atau bertindak tidak sesuai dengan apa yang orang tuanya inginkan. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa orang tuanya merupakan orang tua yang baik dan perhatian namun juga suka marah. Ia seringkali merasa sedih ketika dimarahi. Saat dihukum, ia berusaha menenangkan diri.

Ayahnyalah yang pernah mengurungnya di kamar mandi. Ayahnya bekerja sebagai dosen di pelayaran AMNI dan sikap tegas sebagai dosen akademi militer sang ayah terbawa sampai ke pola asuhnya di rumah.

6) Kepribadian

Pola asuh orang tua yang tegas terutama sang ayah membentuk Amerada menjadi pribadi yang tangguh. Ia dengan cepat mampu menyesuaikan diri dan mampu

(38)

Untuk anak seusianya, rasa cemburu sering muncul ketika ia merasa kurang diperhatikan oleh orang-orang terdekat dan lingkungan sekitarnya

(39)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil observasi yang saya lakukan, tahap perkembangan Amerada sudah baik dan sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak yang semestinya. Karena

Amerada berusia 10 tahun, pada perkembangan kognitif ia termasuk pada tahap

operasional konkret yang sudah mampu melalui tahap-tahap penting masa ini antara lain pengurutan,klasifikasi dan lainnya. Perkembangan fisik,motorik dan perkembangan bahasanya juga baik sesuai dengan tahap perkembangan dan usianya.

Peran orang tua pada masa sekolah sangat penting bagi perkembangan anak terutama anak tingkat sekolah dasar. Pola asuh orang tua juga berperan penting bagi perkembangan anak. Dalam hal ini, hukuman yang diberikan bagi anak yang melakukan kesalahan juga harus disesuaikan. Selama hal tersebut tidak berlebihan dan sesuai dengan kesalahan yang diperbuat, hukuman tersebut bisa saja diberikan. Akan tetapi, jika hal tersebut dilakukan terus menerus dikhawatirkan akan mengganggu mental dan psikologis anak. Peran orang tua dalam perkembangan belajar anak juga hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dan pendidik untuk mendukung perkembangan belajar anak yang optimal.

Teknologi dalam pendidikan anak perlu diberi perhatian khusus karena dapat berdampak besar bagi anak. Anak perlu didampingi dan diawasi dalam penggunaan teknologi agar tidak terkena imbas negatif teknologi yang marak terjadi dikarenakan anak belum mampu menyaring dan membentengi diri dari pengaruh negatif teknologi.

B) Saran

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Rumini Sri dan Siti Sundari.2004.Perkembangan Anak dan Remaja.Jakarta:Rineka Cipta L.Zulkifli.1986.Psikologi Perkembangan.Bandung:Remaja Rosdakarya

Hamalik Oemar.2001.Proses Belajar Mengajar.Jakarta:Bumi Aksara

https://husnunnisaabbas.wordpress.com/2015/03/24/pengaruh-lingkungan-terhadap-perkembangan-anak/

http://www.infodiknas.com/plus-minus-teknologi-internet-bagi-anak-usia-sekolah-dasar.html

http://www.yuwonoputra.com/2013/07/perkembangan-fisik-anak-sekolah-dasar.html

http://anharelvinov.blogspot.co.id/2015/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

http://tyagitacahyaa.blogspot.co.id/2014/12/karakteristik-perkembangan-bahasa-anak.html

(41)

Lampiran-Lampiran 1.1 Lampiran Dokumentasi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...