KELAPA SAWIT
KELAPA SAWIT
Sejarah Perkembangan
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Afrika barat, merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak
nabati lainnya.
Pada tahun 1853 keempat tanaman tersebut telah berbuah dan bijinya disebarkan secara gratis.
Pada pengamatan tahun 1858, ternyata keempat tanaman tersebut tumbuh subur dan berbuah
lebat. Walaupun berbeda waktu penanaman (asal Bourbon lebih dulu dua bulan), tanaman tersebut berbuah dalam waktu yang sama,
mempunyai tipe yang sangat beragam,
Setelah 10 tahun diadakan uji coba penanaman kelapa sawit pertama di Indonesia yang dilakukan di
karesidenan Banyumas 14 acre dan di karisidenan Palembang 3 acre (Sumatera Selatan).
Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa tanaman kelapa telah berbuah paa tahun keempat setelah ditanam dengan tinggi batang 1,5 m, sedangkan di
negeri asalnya baru berbuah pada tahun keenam atau ketujuh.
Setelah dilakukan penelitian yang lebih lanjut
diketahui bahwa iklim daerah Palembang kurang sesuai untuk pertumbuan kelapa sawit.
Kemudian dikembangkan ke Sumatera Utara, ternyata sungguh baik.
Keunggulan kelapa sawit Sumatera Utara sudah
dikenal sejak sebelum perang dunia ke II dengan varietas Dura Deli (bahasa Inggirs: Deli Dura)
Pembudidayaan tanaman untuk tujuan komersial baru
dimulai pada tahun 1911 yang tersebar luas di Sumatera Utara, hanya 9,1% di Lampung dan 4,1 % di Aceh.
Pada masa pendudukan Belanda, perkebunan kelapa sawit maju pesat sampai bisa menggeser dominasi ekspor
Negara Afrika waktu itu. Memasuki masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami
kemunduran. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga
Pada masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan keja, meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan sektor penghasil devisa Negara.
Pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Sampai pada tahun 1980, luas
lahan mencapai 294.560 Ha dengan produksi CPO
(Crude Palm Oil) sebesar 721.172 ton. Sejak itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat. Hal ini didukung oleh
Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis
Jacq) memiliki taksonomi:
BATANG
Batang bulat panjang tidak bercabang,
berdiameter : 25 – 75 cm, terus bertambah tinggi selama tanaman hidup
Di Kebun Raya Bogor 140 tahun
Tahap-tahap Kegiatan Penanaman
Kelapa Sawit
• Sebelum suatu lahan dibuka utk suatu
perkebunan terlebih dahulu dilakukan studi kesesuaian lahan (tanah dan iklim)
berdasarkan syarat-syarat lingkungan tumbuh tanaman kelapa sawit (Tabel 1).
• Tingkat kesesuaian atau kelas tanah
menentukan tingkat penerapan teknik
Uraian Norma Keterangan
Tumbuh baik dengan selang suhu tersebut. Di atas atau di bawah selang suhu tersebut, produktivitas akan lebih rendah karena rendahnya proses
asimilasi, gagalnya
perkembangan bunga dan pematangan buah
Kelembaban relatif (RH)
> 75 % Kelembaban udara yang rendah memperlambat pertumbuhan dan pembentukan
bunga,sedang pada kelembaban yang tinggi, tanaman rawan
terhadap serangan penyakit
Uraian Normal Keterangan
2.000 – 2.500 mm Data curah hujan bulanan dan jumlah hari hujan sangat
penting karena berhubungan dengan sifat tanaman yang berbuah sepanjang tahun. Fluktuasi curah hujan secara langsung berkorelasi erat dengan fluktuasi hasil dari bulan ke bulan
Intensitas Cahaya
5 – 7 jam/hari Kawasan dengan curah hujan yang terlalu tinggi, akan
Tabel 2. Tingkat Kesesuaian Lahan Kelapa Sawit
Persyaratan
S1 S2 Kelas Kesesuaian LahanS3 N
Temperatur (oC) 25-28 22-25/
28-32 20-22/32-35 < 20/> 35 Curah hujan (mm) 1700-2500 1450-1700/
2500-3500 1250-1450/ 3500-4000 < 1250 / > 4000 Defisit air (mm/thn) 0 - 150 150 - 200 250 - 400 > 400
Hari terpanjang tidak
hujan < 10 < 10 < 10 > 10
Jeluk (cm) >100 50-100 25-50 < 25
Lereng (%) < 8 8-16 16-30 > 30
pH 5,0 – 6,5 4,2 – 5,0 < 4,2
Penyinaran (jam) ≥ 6 ≥ 6 < 6 < 6
Persyaratan
Kelas Kesesuaian Lahan
S1 S2 S3 N
Topografi Datar
Datar-gelombang berbukit Curam
Lereng (%) 0-15 16-25 25-36 > 36
Solum (cm) > 80 80 60-80 < 60
Dalam air (cm) > 80 60-80 50-60 40-50
Tekstur Lp-lpli Lip-li Plp-li P
Organik (cm) 5-10 5-10 5-10 < 5
Batuan dalam dalam dalam dangkal
Erosi t.a t.a t.a sedikit
Drainase baik baik Agak baik Agak baik
Banjir t.a t.a t.a Sedikit
Pasang surut t.a t.a t.a ada
Kriteria Kesesuaian
• S1: pembatas sangat kecil, tidak menurunkan
hasil nyata
• S2 : ada pembatas kecil, berpengaruh
terhadap hasil, perlu input, dapat diatasi petani
• S3 : faktor pembatas berat, perlu input lebih
banyak, perlu modal besar dan bantuan pemerintah
Pada Komoditas Sawit
Daya hasil (ton/ha/tahun) tandan buah segar berdasarkan kelas kesesuaian lahan:
• S1 : > 24 ton/ha/th
• S2 : 19-24 ton/ha/th
• S3 : 13-18 ton/ha/th
BAHAN TANAMAN
Kriteria bibit kelapa sawit
Kriteria bibit yang baik meliputi.
• Kualitas : Germinated Seed (GS) atau kecambah
bersertifikat yang dikeluarkan lembaga yang dipilih pemerintah yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit
(PPKS) Medan, BPP Medan dan PT. Socfindo
• Varietas hibrida hasil perbanyakan secara
generatif. Dura x Pisifera atau Tenera
• Sejak tahun 1990 telah mulai diuji lapangan
16 klon sebagai varietas hasil perbanyakan
Tabel 3. Sumber Bibit dan Potensi Produksi Kelapa Sawit Dalam Negeri
No. Nama Sumber
Benih
• Saat ini terdapat 12 jenis alternatif bibit hasil
pengembangan teknologi pembibitan yang memiliki
potensi untuk dikembangkan secara komersial (Tabel 4). Pengembangan varietas unggul baik secara generatif
maupun secara vegetatif telah mulai digunakan teknik bioteknologi (kultur jaringan).
• Produsen bibit lainnya : Sinar Mas Group, Asian Agri
Tabel 4. Deskripsi Varietas Kelapa Sawit Unggul
SOCFIN 24 28,8 28,7 7,8 1,10
Bah Was 26– 30 25 – 30 23 – 26 6,2 – 7,8
-LONSUM - 27,5 – 27,8 4,1–24,3 6,7
-AMI 24 27,07 > 25 9,7
-Keterangan : OER : Oil Extraction Rate
PEMBIBITAN
• Seleksi Lokasi Pembibitan
Beberapa persyaratan yang sebaiknya dimiliki oleh calon lahan antara lain :
1. Dekat dengan sumber air dan bebas dari banjir. 2. Datar sampai agak bergelombang.
3. Dekat dengan areal untuk penanaman dan mudah dijangkau
4. Tanahnya cukup top soil, subur dan gembur.
5. Bebas dari banjir.
6. Letaknya berdekatan dengan sumber tenaga kerja.
7. Perencanaan luas bibitan disesuaikan dengan rencana penanaman.
Pembibitan Pendahuluan (Pre Nursery) dan Pembibitan Utama (Main Nursery)
• Pembibitan Pendahuluan (Pre Nursery)
Petakan bedengan pesemaian/pembibitan pendahuluan berukuran 8 m x 11,2 m, dalam satu satuan naungan terdapat 4 – 6 petakan.
Setiap petakan memuat 1 000 bibit (kecambah). Kecambah ditanam dalam kantong plastik
berukuran 14 cm x 22 cm dengan tebal 0,1 mm. Sebelum kecambah ditanam kantong plastik
Tanah yang digunakan sebagai media tanam adalah tanah berasal dari lapisan atas (top soil).
Tanah tersebut terlebih dahulu disaring dengan saringan kurang lebih 1 cm. Satu hari sebelum
Pemeliharaan
• Pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan,
pengendalian hama dan penyakit, penjarangan naungan.
Penyiraman dilakukan dua kali satu hari jika tidak ada hujan. Pemupukan dengan menggunakan urea atau pupuk majemuk
dengan dosis 2 g/liter air.
Setelah bibit berumur 2,5 – 3 bulan naungan perlu dihilangkan, agar bibit dapat beradaptasi.
Pembibitan Utama (Main Nursery)
• Pekerjaan yang perlu segera dipersiapkan di
pembibitan utama adalah penyediaan air untuk
penyiraman, pemasangan pipa saluran air 2 – 3 bulan sebelum bibit dipindahkan ke pembibitan utama.
Jarak tanam di pembibitan utama 85 cm x 85 cm x 85 cm, sistem segitiga sama sisi.
• Kantong plastik yang digunakan berukuran 40 cm x
50 cm dengan tebal 0,2 mm, dibuat lubang perforasi berdiameter 0,5 cm dengan jarak 5 cm x 10 cm.
Persiapan Penanaman dan Menanam
Ukuran dan mutu polybag
• Polybag yang digunakan berwarna hitam,
dengan ukuran 50 cm x 40 cm dengan ketebalan 0,2 mm.
• Mutu plastik untuk polybag harus yang baik,
sehingga sampai dengan 12 bulan di lapangan
polybag masih cukup kuat, tidak pecah untuk menahan perlakuan-perlakuan selama
Membuat lubang polybag
• Jumlah lubang pada setiap polybag 36 buah dengan
diameter 0,3 cm
• Lubang tersusun dibuat sebagai berikut.
• Setiap polybag terdiri atas 3 baris lubang yang per
baris terdiri 6 lubang.
• Jarak antar baris 10 cm dan paling bawah diambil 5
cm dari tepi bawah sehingga bila polybag dibuka dan diisi tanah, lubang terbawah menjadi lubang di dasar polybag.
• Jarak lubang dalam barisan 5 cm.
• Penanaman dalam kantung plastik caranya
dengan membuat lubang tanam sebesar kantung plastik di pesemaian pendahuluan dengan menggunakan alat ponjo. Kantung plastik kecil diiris dengan silet pada kedua
belah sisinya , dijaga agar bulatan tanah tidak pecah. Bibit beserta tanah yang dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat dan
Pemeliharaan tanaman
Penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama dan
penyakit serta seleksi bibit.
• Penyiraman dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore) jika
curah hujan kurang dari 10 mm.
• Penyiangan dilakukan terhadap gulma di dalam kantong
plastik dan di petakan pembibitan. Pada saat penyiangan
sekaligus dilakukan penggemburan tanah. Rotasi penyiangan
• Pemupukan bibit di pembibitan utama
dilakukan dua minggu setelah pemindahan dari pembibitan pendahuluan.
• Pemberian pupuk selang dua minggu, caranya
pupuk ditaburkan secara merata di atas
permukaan tanah dalam kantong plastik, pupuk jangan sampai mengenai leher batang bibit.
• Rekomendasi pemupukan di pembibitan
Perhitungan Kebutuhan Bahan Tanaman.
1. kerapatan tanaman di lapang untuk 1 ha = 136 pohon/ha
2. sulaman 10 % , sehingga jumlah bibit diperlukan 150 pohon/ha
3. jumlah bibit afkir di main nursery sekitar 20 %
(serangan hama/penyakit, tumbuh kurang baik dan rusak dalam pengangkutan)
4. seleksi awal pre nursery diperkirakan
5. dalam 1 ha main nursery (pembibitan utama) menghasilkan bibit 16.400 bibit. Jumlah ini
diperkirakan cukup untuk 100 ha penanaman di
lapangan. Pengelolaan pembibitan secara berkelompok lebih menghemat lahan dan biaya pemeliharaan
Seleksi bibit
• Untuk mendapatkan bibit yang baik dan mengurangi
biaya pemeliharaan di pembibitan utama.
• Bibit yang diafkir (dibuang adalah bibit yang tumbuh
tegak dan kaku, sudut pelepah dengan batang kecil, pelepah muda lebih pendek dari pelepah tua, bibit tumbuh lemah, terserang penyakit dengan
intensitas berat, bentuk anak daun tidak sempurna.
• Seleksi bibit dilakukan pada umur 4 – 8 bulan dan
JARAK TANAM & KERAPATAN TANAM
• Pada umumnya segitiga sama sisi
• Jarak Tanam ditentukan :
Secara umum jarak tanam yang dianjurkan sbb :
• Pd daerah dmn serangan Ganoderma cukup tinggi dianjurkan
jarak tanam dgn kerapatan 148-150 pk/ha yg bertujuan utk mempertahankan populasi tan yg produktif sampai umur 25 thn.
Dalam barisan (m) Antar barisan (m) Kerapatan (pk/ha)
9,42 8,16 128,130
9,10 7,70 140,143
Pada areal berbukit :
Areal berbukit dan berkontour :
Arah barisan tan. mengikuti kontour, jarak antara kontour ad.proyeksi dr jarak antara barisan, jarak dalam barisan sedapat mungkin sama dgn jarak dalam barisan
sebenarnya.
Areal berbukit tanpa kontour :
PERSIAPAN PENANAMAN
• Areal yg bisa ditananami adalah :
areal yg tan. penutup tnhnya (leguminosa) tlh menutup sempurna, atau min. 40%.
• Rencana penanaman harian :
- rencana luas lahan yg akan ditanam
- jlh bibit yg akan ditan. setiap hari (berdsrkan areal yg dpt di tan. perhari)
- menentukan tempat penyimpanan bibit
• Pengangkutan bibit ke lapangan:
Dua minggu sblm bibit diangkut ke lap, bibit diputar agar akar menembus tnh terputus dan tlh beregenerasi
Sblm diangkut bibit disiram jenuh air. Bibit yg ditanam di lap. telah
Membuat lobang tanam:
Menanam :
Teknik Menanam Kelapa Sawit
• Lobang tan. yg tlh ada, diukur terlebih dulu dgn mal lobang, apakah
ukuran lobang tlh sesuai dgn yg ditentukan
• Lobang tan. yg tlh tersedia ditimbun sedikit dgn tnh dan ditabur
pupuk RP sebanyak 250 gram
• Dsr kantong plastik disayat lalu bibit dimskkn ke dlm lobang tan • Setelah letak bibit benar2 tegak, bhgn samping polibag disayat dr
bwh ke atas, lau ditarik ke atas
• Bibit ditimbun dgn top soil, dipadatkan lalu ditabur pupuk RP 250
gram
• Bibit ditimbun dgn tanah bwh , dipadatkan hingga letak bibit benar2
kokoh (tegak lurus 90˚)
• Piringan dibuka selebar 1,0 m, sebagai dasar pringan tan.
• Polybag bekas digantung dekat bibit baru ditanam dgn bambu bekas
Tanaman Penutup Tanah
• Legume (LCC=legume cover crop)
• Syarat : mudah diperbanyak (biji, stek),
perakaran dangkal, pertumbuhan cepat daun banyak, tahan : pangkas, kering, naungan,
Macam Penutup Tanah
• Menjalar : diantara barisan tanaman,
pelindung tebing, bersifat permanen
• Pelindung perdu : di antara barisan TBM,
Jenis LCC Tipe Menjalar pada Perkebunan Kelapa Sawit
• Centrosema pubescens • Pueraria javanica
• Calopoginium mucunoides • Psopocarphus polustris
Jenis LCC Tipe Pelindung Perdu pada Perkebunan Kelapa Sawit
• Flemingia congesta
• Crotalaria anagyroides • Tephrosia vogelii
• Penanaman LCC secara campuran dari berbagai jenis
lebih menguntungkan dari pada hanya menggunakan 1 jenis LCC
• Seleksi LCC: perlu dilakukan sebelum dilakukan
penanaman, seleksi dilakukan melalui pengujian daya kecambah
• Tujuan seleksi LCC: mengetahui kemurnian dan
persentase pertumbuhan dari LCC sehingga akan didapatkan pertumbuhan di lahan yang baik
• Tingkat pertumbuhan minimum beberapa jenis
kacangan: Calopoginium mucunoides (40%),
Calopogonium caeruleum (30%), Pueraria javanica (60%), Mucuna conchinchinensis (75%)
• Apabila persentase pertumbuhan di bawah standar,
Contoh Kebutuhan Benih LCC
• Pada penanaman LCC secara campuran
kebutuhan benihnya sebagai berikut:
Kegunaan LCC
• Menahan pukulan hujan • Menahan laju air limpasan • Menambah N
• Menambah BO (memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi
tanah)
• Melindungi permukaan tanah dari erosi • Mengurangi pencucian unsur hara
Dampak Negatif LCC
• Persaingan dengan tanaman pokok
• Mengganggu tanaman pokok
• Sebagai tempat bersarang tikus
• Kadang menjadi inang dari bakteri, virus, dan
Beberapa Perlakuan Sebelum Penanaman Benih LCC
• Perendaman benih dalam air hangat: dilakukan
selama 2 jam pada suhu 750C
• Direndam dalam larutan glycerin: selama 2 jam pada
suhu 600C
• Direndam dalam larutan asam (asam sulfat): selama
8-15 menit
• Penipisan kulit benih (skarifikasi)
• Supaya pertumbuhan dan perkembangan LCC
P A N E N
• Kelapa sawit telah dapat menghasilkan pada
umur 30 bulan setelah tanam.
• Jumlah pohon yang dapat dipanen per hektar
sebanyak 60%.
• Dipilih tandan yang buahnya sudah masak
dengan tanda adanya sejumlah buah merah yang jatuh (brondol ).
• Cara panen dengan memotong tandan buah.
Pelaksanaan panen dan pengumpulan hasil
• Lazimnya pemikul buah adalah pemanen yg
memotong tandan buah
• Untuk memudahkan potong buah pelepah
daun di bawah buah dipotong terlebih dahulu (songgo satu atau songgo dua)
• Semua brondolan dikumpulkan
• Buah dan brondolan diangkut ke TPH,
• Selanjutnya buah dan brondolan diangkut ke
Mutu panen
Fraksi Jumlah brondolan KematanganTingkat
Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu panen
• Jenis dan umur tanaman
• Iklim di lingkungan
• Hama dan penyakit
• Kultur teknis
• Pemanenan
Hasil rendemen dan ALB akibat lamanya penginapan brondolan
Lamanya menginap
(hari) Rendemen minyak terhadap buah (%) ALB(%)
0 50,44 3,90
1 50,60 5,01
2 50,73 6,09
Prosesing
• Perebusan TBS
• Perontokan dan pelumatan buah
• Pemerasan atau ekstraksi minyak sawit
• Pemurnian dan penjernihan kelapa sawit
• Pengeringan dan pemecahan biji
Produksi dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit adalah :
• Tandan buah segar (TBS) merupakan bunga betina
kelapa sawit yang dipanen dan biasa juga disebut dengan tandan atau buah.
• Minyak sawit kasar adalah hasil pengolahan TBS di
pabrik pengolahan yang biasa disebut dengan CPO (Crude Palm Oil)
• Inti sawit adalah hasil pengolahan TBS di pabrik
pengolahan yang biasa disebut dengan PKO (Palm Kernel Oil).