Studi Agama dengan Pendekatan Psikologis
Pendahuluan
Perkembangan studi agama kontemporer merupakan suatu mata rantai terkini dari sejarah panjang studi tentang agama dalam sejarah hidup manusia. Tercatat dalam sejarah bahwa studi kritis
tentang agama pertama kali dikemukakan oleh Xenophanes1 yang mempertanyakan hakikat para dewa yang tak seorangpun tahu kemudian dia menyerang agama dari sisi antropomorfisme2 nya dan
ketiadaan ajaran moral disana3. Catatan lain yang dibuat oleh Herodotus menyatakan bahwa dewa-dewa dalam Yunani mempunyai kemiripan dengan dewa-dewa dari peradaban lain terutama bangsa Mesir kuno seperti contohnya Zeus dengan Amon, Apollo dengan Horus dan sebagainya4. Dalam perjalanan
penaklukannya, Julius Cesar dan sejarawan Romawi kerapkali mencatat tentang adat-istiadat dan ritual dari masyarakat yang mereka jumpai5.
Perlu dicatat disini adalah pandangan dari kaum Stoa6 yang berusaha menjelaskan mitologi tentang dewa-dewa dengan bahasa dan kisah-kisah sehingga mampu menjelaskan dewa-dewa tersebut sebagai personifikasi yang mewakili berbagai macam kekuatan alam ini7. Berlawanan dengan
pandangan itu adalah pandangan dari Euhemerus yang dalam novelnya berjudul Hiera anagraphe
menceritakan bahwa dewa-dewa itu sebenarnya adalah orang-orang spesial yang pernah hidup di masa
1 Seorang penyair dan filsuf Yunani yang mendirikan mahzab Elea yang berpendapat tentang tetapnya alam (tidak ada perubahan) sebagai lawan dari pendapat perubahan terus menerus oleh Heraclitus, lihat Xenophanes dalam Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. .
2 Paham ini adalah suatu paham yang menyerupakan Tuhan dengan manusia, dalm ungkapan satirnya yang terkenal dia menyebutkan bahwa kalau sapi dapat menggambar dan membuat patung maka dia akan menggambarkan Tuhannya yang menyerupai bentuk seekor sapi. Lebih lanjut lihat Xenophanes dalam Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation.
3 Djam'annuri. 2003. Studi Agama-agama; Sejarah dan Pemikiran. Yogyakarta. Pustaka Rihlah. hlm 2 4 Djam'annuri. op cit hlm 2
5 Paden, William E. Religion dalam Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. 6 Mahzab filsafat yang paling bepengaruh di Romawi sebelum nantinya digantikan oleh agama Kristen dengan tokohnya yang terkenal pada masa Romawi adalah Cicero. Stoicism dalam . Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation
lalu dan dipuja di masa hidupnya dan terus berlangsung meskipun mereka sudah meninggal8. Pandangan ini disebut dengan pandangan Euhemerisme yang kelak berpengaruh pada pendapat David
Hume, Herbert Spencer dan Sigmund Freud9
Perkembangan penjelajahan oleh bangsa barat dan pengiriman misonaris ke berbagai penjuru dunia membawa mereka mendapatkan informasi tentang agama-agama non Kristen. Pada abad
pencerahan muncul ketertarikan terhadap apa yang biasa disebut sebagai agama alami (natural religion) yang mereka anggap sebagai ciptaan manusia paling sederhana yang muncul karena adanya kepercayaan akan kekuatan supernatural dan bagaimana mereka bertindak dalam kepercayaan tersebut10.
Barulah pada pertengahan abad 1911 muncul seorang tokoh bernama Friedrich Max Muller yang
mendapat julukan bapak studi perbandingan agama memulai suatu riset khusus dengan metodologi yang jelas tentang studi agama. Riset yang dilakukannya terkait dengan kitab suci Rig Weda dianggap
sebagai karya perintis yang sistematis secara metodologi tentang studi agama12. Dia juga meninggalkan karya berjudul Lectures on the Science of Language (1867), dan pada 1873 terbit bukunya Introduction to the Science of Religion13. Ciri penting karya-karyanya adalah adanya dua permasalahan yaitu tentang asal-usul agama dan permasalahan tentang metoda yang tepat untuk mempelajari fenomena agama.
Perkembangan ilmu-ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi dan terakhir adalah psikologi
membawa dampak juga bagi perkembangan studi tentang agama. Para ahli mulai menggunakan metodologi yang berasal dari ilmu-ilmu sosial tersebut guna memahami fenomena keagamaan. Tercatat Emile Durkheim meneliti kehidupan keagamaan masyarakat Aborigin dalam karyanya The Elementary 8 Dewi Aprodithe semula adalah seorang pelacur istana bernama Cinyras, Harmonia adalah seorang peniup seruling dsb.
Lihat Djam'annuri. op cit hlm 3-4 9 Djam'annuri. op cit hlm 4 10 Djam'annuri. op cit hlm 4
11 Pada masa ini mulai dibuka Jurusan Sejarah Agama-agama di berbagai universitas di Eropa diantaranya adalah di Jenewa, Swiss (1873), di Belanda (1876),dan terkahir di Jerman (1910). Eliade, Mircea. Op cit hlm 61-62
12 Dia bertemu dengan Schopenhauer dan berdiskusi tentang pentingnya himne-himne Weda dan Upanishad dalam memahami tradisi India. Schopenhauer lebih tertarik mempelajari Upanishad sedangkan dia sendiri lebih tertarik mempelajari Rig Weda. Hasil studinya diterbitkan dalam bentuk empat jilid terjemahan teks Sanskrit Rig Weda pada tahun 1849, 1853, 1856 dan 1862. Djam'annuri. op cit hlm 20.
Forms of Religious Life (1912) dan Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1904-1905) yang juga menggunakan pendekatan dari ilmu-ilmu sosial.
Psikologi sebagai cabang ilmu sosial yang paling muda turut digunakan dalam penelitian tentang agama. Salah satu perintis di bidang ini adalah William James dengan karyanya berjudul The Varieties of Religious Experience (1902). Perkembangan lebih lanjut pendekatan ini terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu psikologi beserta alat analisisnya itu sendiri.
Tulisan ini coba melihat bagaimana pendekatan psikologis ini diterapkan dalam studi tentang
agama. Bagaimanakah metodologi yang digunakan dalam studi itu dan bagaimana hasil yang nantinya didapatkan termasuk sedikit tinjauan tentang pemikiran beberapa ahli yang menggunakan metode psikologis ini dalam studi mereka tentang agama.
Definisi dan Sejarah Perkembangan Ilmu Psikologi
Sebelum melangkah lebih jauh maka perlu dipahami dahulu apakah yang dimaksud dengan
ilmu psikologi itu sendiri. Salah satu definisi tentang psikologi antara lain:
Psikologi adalah disiplin ilmiah yang mempelajari proses mental dan tingkah laku pada manusia dan binatang
lain14
Dalam definisi yang lainnya disebutkan juga sebagai berikut:
Psikologi adalah studi ilmiah tentang tingkah laku dan pikiran. Dalam definisi itu terdapat tiga hal yang perlu
digarisbawahi. Pertama psikologi adalah suatu studi ilmiah dimana digunakan metode yang obyektif dan sistematis melalui
pengamatan dan percobaan guna mendapatkan pengetahuan. Kedua, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku
yang mengacu pada segala aksi dan reaksi yang dapat diukur atau diamati. Ketiga, psikologi ini mempelajari tentang pikiran
yang mengacu pada kesadaran dan ketidaksadaran keadaan mental yang mana tidak dapat diamati namun dapat disimpulkan
dari tingkah laku yang diamati15.
Kedua definisi diatas dapat memberi gambaran umum tentang pengertian ilmu psikologi dan apa saja yang termasuk ke dalam wulayah kajiannya.
Dalam keterkaitannya dengan cabang ilmu lain, psikologi mempunyai posisi yang unik.
14 Psychology dalam Encyclopaedia Britannica 2005 Deluxe Edition CD-ROM
Kerapkali ilmu ini bersinggungan ilmu fisiologi yaitu suatu ilmu cabang dari biologi yang khusus mengkaji fungsi-fungsi dari bagian tubuh mahluk hidup namun dalam hal ini psikologi lebih
memusatkan perhatiannya pada sistem saraf dan otak16. Ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi dan antropologi juga kerap bersinggungan dengan ilmu psikologi. Ketiganya sama-sama mengkaji tingkah laku manusia dalam kelompok. Perbedaan utama antara ketiganya adalah psikologi melihatnya leibh
terkait dari sudut pandang pribadinya, sosiologi mengkaji sistem sosialnya dan antropologi mengkaji kesamaan tingkah laku antar berbagai kebudayaan di muka bumi17
Apabila dilacak ke belakang maka psikologi mempunyai akar dalam filsafat sejak masa Yunani Kuno terutama berkaitan dengan pencarian tentang jiwa dan kesadaran manusia. Perkembangan awal pada masa abad 19 mulai memunculkan studi lebih spesifik dengan metodologi yang mulai tersusun
secara baik. Secara umum pendekatan pertama yang dilakukan untuk mengetahui kesadaran dan tingkah laku manusia adalah dengan dua jalan yang pertama dengan pendekatan fenomenologis yaitu
melihat pengalaman dan yang kedua pendekatan mekanis yang melihat secara eksperimental18.
Perkembangan abad 20 melahirkan pendekatan yang berkembang menjadi psikoanalisis dengan tokoh utamanya Sigmund Freud. Aliran lain yang kemudian muncul sebagai perlawanan terhadap
pendekatan ini adalah behaviourisme19. Perkembangan lebih lanjut memunculkan psikologi humanis dengan tokoh utamanya adalah Abraham Maslow20.
Metodologi Penelitian Psikologis
16 ibid
17 ibid
18 Perkembangan fase ini dimulai dengan munculnya strukturalisme Jerman (German Structuralism) dengan tokoh diantaranya adalah Wilhelm Wundt, Fechner dan Helmholtz diikuti dengan perkembangan fungsionalisme Amerika (American Functionalism) dengan tokoh utama William James. Lihat Moskowitz, Merle J dan Arthur K Orgel. 1969.
General Psychology: a Core Text in Human Behaviour. Boston. Houghton Mifflin Company hlm 16-20
19 Ivan Pavlov dan John B Watson adalah dua tokoh yang bisa disebut sebagai perintis berdirinya mahzab ini. Moskowitz.
Op cit hlm 19
Secara umum metode riset di bidang ini meliputi yang dilakukan pada manusia mencakup pengamatan (dapat berlangsung di dalam maupun di luar laboratorium), wawancara, tes psikologi
(psikometri), eksperimen laboratorium dan analisis statistik21. Pengamatan pada binatang dapat dilakukan untuk mengamati pola kerja otak dan dapat juga diberi perlakuan eksperimental seperti menghilangkan bagian otak dan saraf tertentu, percobaan yang tak mungkin dapat diterapkan pada
manusia karena adanya etika percobaan.
Deskripsi lain yang lebih terinci membagi metode penelitian psikologis menjadi beberapa
metode sebagai berikut22:
Studi Arsip
Pada dasarnya penelitian dengan metode ini adalah dengan melihat catatan tentang berbagai aktivitas manusia. Penelitian ini mencoba melihat berbagai sumber seperti berita di koran, majalah dan berbagai catatan statistik seperti catatan kriminal dan kelahiran. Penelitian ini
mempunyai keuntungan dengan tidak terpengaruhnya sang pengamat dengan kehadiran obyek yang diamati. Kelemahannya adalah tidak semua detil data dapat yang diperlukan dalam
penelitian dapat ditemukan dalam catatan-catatan arsip tersebut.
Studi Kasus
Penelitian ini mengamati suatu permasalahan tertentu atau seseorang tertentu secara intensif dan diharapkan hasilnya dapat digeneralisasikan kepada kasus yang lebih umum. Pengamatan ini membutuhkan waktu yang lama dan seorang manusia tidak selalu tipikal.
Pengukuran Aktivitas Otak
Seiring perkembangan teknologi maka ditemukan berbagai alat pengukuran kinerja otak yang
sangat membantu dalam penelitian psikologi. Dengan bantuan berbagai alat ini maka aktivitas otak diukur dalam kondisi tertentu seperti saat tidur, berpikir, mendengarkan musik kemudian hasil yang tercatat akan dapat menunjukkan pola aktivitas otak dalam keadaan tertentu
dikaitkan dengan proses mental yang sedang berlangsung dalam diri manusia.
Survei
Penelitian ini dilakukan untuk melihat pola umum tingkah laku suatu kelompok masyarakat dan bukan hanya pada satu individu. Penelitian dengan metode ini harus berhati-hati dalam dua hal
yaitu pertama pada pemilihan responden yang harus mewakili dan yang kedua pada pertanyaan yang akan diajukan. Kekeliruan dalam penentuan dua hal tersebut akan berpengaruh pada akurasi hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut.
Pengamatan Alami
Penelitian dengan metode ini sangat familiar di kalangan antropologis di mana mereka
mengamati kehidupan dan budaya manusia sehari-hari. Penelitian jenis ini mengamati manusia sebagaimana mereka bertingkah laku dalam kehidupan nyata, kehidupan sehari-hari mereka
tanpa adanya suatu perlakuan tertentu. Untuk pengamatan denga metode sejenis terhadap binatang di habitat alaminya dilakukan oleh satu disiplin tertentu yang disebut dengan
ethologist.
Studi Korelasi
Penelitian ini digunakan untuk menunjukkan hubungan antara beberapa variabel yang diamati
sehingga dapat digunakan untuk meramalkan kejadian yang diakibatkan oleh suatu faktor.
Eksperimen
Penelitian ini terkait erat dengan penelitian korelasi di atas. Dengan eksperimen yang terkontrol maka faktor-faktor yang terkait dapat dimanipulasi sehingga akan dapat dibuktikan apakah satu faktor memang akan dapat mengakibatkan hal seperti yang diramalkan dalam hipotesis.
Studi Literatur
dikembangkan dua metode pembacaan yang pertama adalah pembacaan naratif (narrative review) dengan mengevaluasi kelebihan dan kekurangan dari berbagai pendekatan untuk kemudian ditarik sebuah kesimpulan, yang kedua adalah dengan metode meta-analisis ( meta-analysis) yang merupakan sebuah prosedur statistik untuk menarik kesimpulan dari berbagai studi yang dilakukan tentang suatu permasalahan tertentu.
Sebagai bagian dari ilmu sosial, klasifikasi metode yang digunakan dalam psikologi dapat juga dimasukkan ke dalam dua tipe. Pertama adalah tipe pendekatan keras yang kerap juga disebut dengan
kuantitatif sedangkan yang kedua disebut pendekatan lunak atau kerap juga disebut pendekatan kualitatif. Metode pertama mengutamakan ketelitian seperti mendekati ilmu-ilmu alam dengan eksperimentasi dan analisis matematis menjadi saran utama sedangkan yang kedua mengutamakan
penelitian dengan latar alamiah atau dengan berpartisipasi bersama mereka23
Studi Agama dengan Pendekatan Psikologis
Berangkat dari berbagai mahzab pemikiran masing-masing dan dengan menggunakan berbagai metode pendekatan maka para ahli di bidang psikologi juga menerapkannya untuk studi terhadap agama. Penelitian di bidang psikologi agama ini diawali dengan William James dengan karya besarnya
The Varieties of Religious Experience yang kemudian diikuti dengan karya-karya para ahli lain dengan berbagai pendekatan dan kesimpulannya.
William James membedakan dua bentuk agama yaitu agama institusional (institutional religion) dan agama personal (personal religion)24. Yang pertama mengacu pada kelompok-kelompok keagamaan yang berperan penting dalam kebudayaan masyarakat, yang kedua adalah mengacu pada
pengalaman mistis seseorang yang bersifat individual25.
Agama personal dibedakan olehnya menjadi dua kategori yaitu agama pikiran yang sehat
(healthy minded religiousness ) dan agama jiwa yang sakit (sick souled religiousness). Yang pertama
23 Connolly, Peter. “Pendekatan Psikologis” dalam Peter Connolly (ed). 2002. Aneka Pendekatan Studi Agama, terj Imam Khoiri. Yogyakarta. LkiS hlm 201
berpusat pada hal-hal yang positif dan kebaikan sedangkan hal sebaliknya pada yang kedua lebih memperhatikan masalah kejahatan dan penderitaan26.
Filsafat pragmatisme27 yang dikembangkannya diterapkan pada agama sehingga mengatakan apabila seseorang percaya pada suatu agama dan menjalankan hal-hal terkait dengan kepercayaannya (ritual ibadah misalnya) dan hal itu membawa manfaat maka agama itu adalah cocok dan tepat baginya
sedangkan apabila hal itu tidak membawa suatu manfaat maka tidak ada alasan rasional untuk tetap mempertahankan agama itu baginya28.
Sigmund Freud sebagai pendiri ajaran psikoanalisis mendasarkan teorinya tentang agama berdasarkan pada teori pokoknya tentang oedipus complex29-nya, melalui dua jalur kemunculan agama yaitu proses kemunculan dalam spesies manusia (proses filogenetik) dan proses kemunculan dalam
individu (proses ontogenetik)30.
Proses filogenetik dijelaskan oleh Freud dalam ceritanya tentang kelompok manusia pertama
yang terdiri dari kelompok kecil dimana laki-laki terkuat adalah satu-satunya pasangan bagi seluruh perempuan dan laki-laki anaknya dipaksa tersisih dari kelompok tersebut. Ada dua kemungkinan yang terjadi yang pertama adalah munculnya persaingan untuk menjadi laki-laki terkuat sedangkan yang
kedua adalah munculnya kerjasama dari kaum laki-laki yang tersisih untuk menyingkirkan
26 Agama pikiran yang sehat ( healthy minded religiousness) didefinisikan oleh James(1908/1985) dengan “an optimistic, happy, extroverted, social faith: the tendency that looks on all things and sees that they are good” sedangkan agama jiwa yang sakit ( sick souled religiousness) didefinisikan sebagai “a faith of pessimism, sorrow, suffering and introverted reflection: the way that takes all this experience of evil as something essential”. Lihat Hood, Ralph W, Jr dkk. 1996. The Psychology of Religion: an Empirical Approach. New York. The Guilford Press hlm 12
27 Paham yang mengajarkan bahwa ukuran kebenaran ditentukan oleh akibat yang ditimbulkan secara praktis. Ukuran kebenaran disini diukur dengan seberapa jauh kepuasan yang didapatkan. Tak ada kebenaran yang bersifat mutlak karena segala sesuatu selalu berubah, yang ada hanyalah kebenaran yang bersifat khusus dalam pengalaman yang juga bersifat khusus. Lihat Mudhofir, Ali. 1996. Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi. Yogyakarta. Gajahmada University Press hlm 194
28 Psychology of Religion dalam Wikipedia, the free encyclopedia. http://en.wikipedia.org/wiki/Psychology_of_religion 29 Diambil dari tragedi Yunani Oedipus Rex karya Sophocles dimana tokoh utamanya membunuh ayahnya sendiri dan
mengawini ibunya, pendapat Freud bahwa setiap anak laki-laki cenderung mencintai ibunya sendiri dan melihat ayahnya sebagai seorang pesaing. Ketakutan timbul pada anak lelaki akan dikebiri oleh ayahnya. Hasrat tak terpenuhi inilah yang mengakibatkan neurosis ketika dewasa. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Sigmund_Freud. Hal serupa juga dijelaskan pada Silverman, Llyod H dan Anne K Fiskel. “The Oedipus Complex: Studies ini Adult Male Behaviour” dalam Ladd Wheeler. 1981. Review of Personality and Social Psychology vol 2. Beverly Hills. Sage Publications bekerjasama dengan Society for Personality and Social Psychology hlm 44-45
(membunuh) laki-laki yang dominan dan kemudian membagi rata perempuan diantara mereka. Kelompok jenis kedua ini kemudian melembagakannya dengan ritual memakan daging laki-laki
dominan tadi sebagai penutup rasa bersalah karena pembunuhan itu yang notabene korbannya adalah ayah mereka sendiri31.
Lebih jauh dijelaskan Freud bahwa totemisme sebagai bentuk awal agama mempunyai dua ciri
utama yang pertama adalah larangan berbuat zina terhadap ibu dan adiknya (incest) dan adanya ritual pembunuhan terhadap binatang totem yang pada dasarnya ditafsirkan oleh Freud sebagai bentuk
pengganti dari daging laki-laki dominan32.
Proses ontogenetik dijelaskan dengan penjelasan yang terkait dengan oedipus complex. Anak laki-laki mengatasi permasalahan oedipus-nya dengan menerima otoritas ayah dan memasukannya dalam sistem superegonya sedangkan pada orang dewasa permasalahan ketidakberdayaan ini diatasi dengan tunduk pada Tuhan yang dianggap oleh Freud sebagai proyeksi figur ayah terhadap alam
semesta ini33.
Pada dasarnya Freud memandang agama sebagai sebuah ilusi yang harus dibuang untuk menuju kepada kematangan kejiwaan34, sebuah neurosis obsessional35 yang bersifat universal dan demikian
pula sebaliknya dia memandang neurosis obsessional sebagai sebuah sistem agama individual36. Dengan mengacu pada August Comte yang membagi perkembangan manusia menjadi tiga tahap
intelektual yang pertama adalah tahap teologis dimana posisi Tuhan dominan disana dan kedua tahap metafisika dimana semua coba dijelaskan dengan filsafat, Freud berpendapat bahwa dengan psikoanalisis yang dikembangkannya maka manusia dapat memasuki tahapan perkembangan ketiga
yang paling maju yaitu tahap ilmiah dimana semua hal dipahami dengan prinsip ilmiah37
31 http://en.wikipedia.org/wiki/Sigmund_Freud 32 Connolly, Peter. Op cit hlm 209
33 Connolly, Peter. Op cit hlm 210-211
34 http://en.wikipedia.org/wiki/Psychology_of_religion
35 Freud menyamakan perilaku berulang-ulang dan perhatian secara detil terhadap sesuatu yang dilakukan oleh penderita obsesi dengan perulangan yang ada pada ritual-ritual keagamaan lihat Connolly, Peter. Op cit hlm 204
36 Connolly, Peter. Op cit hlm 204
Rekan utama Freud yang kemudian memisahkan diri darinya, Carl Gustav Jung mempunyai pendapat sendiri mengenai masalah agama. Dia mempunyai pandangan lebih positif dengan melihat
pengalaman keagamaan sebagai sebuah luapan dari ruang ketidaksadaran yang masuk ke dalam wilayah sadar38. Dilihatnya agama sebagai sistem komunikasi simbolik antara kedua wilayah ini sehingga baginya pandangan religius itu penting bagi kesehatan psikologis39.
Psikologi behaviourisme kurang memperhatikan masalah agama sehingga tidak banyak diketemukan penelitian masalah ini dalam mahzab yang cukup dominan di Amerika selama tiga dekade
(1930-1960). Salah satu yang tercatat adalah pendapat BF Skinner yang mengaggap perilaku keagamaan sebagai suatu pengkondisian baik itu berupa pengkondisian klasik maupun pengkondisian
operant40.
Pengkondisian klasik didasarkan pada percobaan yang dilakukan Ivan Pavlov dengan anjingnya yang didengarkan suara bel sebelum diberi makan. Anjing itu kemudian menunjukkan respon dengan
mengeluarkan air liur. Respon itu tetap keluar ketika diperdengarkan suara bel walaupun tanpa diberikan makanan41. Pengkondisian operant terjadi ketika perilaku yang diinginkan dibicarakan lebih dahulu sebelum stimulus diberikan. Sistem yang paling umum adalah dengan pemberian hadiah bila
sesuai dengan perilaku yang dikehendaki dan pemberian hukuman bagi perilaku yang tidak sesuai42 Abraham Maslow sebagai tokoh utama psikologi Humanis memahami agama dalam kerangka
teori hierarki kebutuhannya. Manusia mempunyai kebutuhan yang bertingkat-tingkat sesuai atas dasar dorongan kekurangan yang dipunyainya (deficiency motivation). Kebutuhan dasar seperti makan, minum dan tidur didasarkan pada kekurangan ini. Lebih lanjut ternyata ada berbagai kegiatan yang
International Edition. 2004. Conecticut. Scholastic Library Publishing, Inc hlm 87 38 http://en.wikipedia.org/wiki/Psychology_of_religion
39 Berbeda dengan Freud yang memahami wilayah ketidaksadaran (unconscious) bersifat individual, Jung melihat adanya suatu ketidaksadaran kolektif (collective unconscious) yang merupakan sifat bawaan manusia, bahkan Jung memungkinkan penyebutannya sebagai Tuhan: “For the collective unconscious we could use term God....” lihat Corbett, Lionel.1996. The Religious Function of Psyche. New York. Brunner-Routledge atau dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Carl_Jung
40 Connolly, Peter. Op cit hlm 237-238
41 Moskowitz. Op cit hlm 19
didorong oleh faktor-faktor diluar ini seperti misalnya permainan dan hobi yang dilakukan seseorang. Dorongan ini disebutkan oleh Maslow sebagai dorongan untuk tumbuh (growth motivation). Hanya setelah kebutuhan-kebutuhan ini terpenuhi maka Maslow berpendapat bahwa manusia akan mempunyai dorongan untuk mengaktualisasikan seluruh potensi diri yang dipunyainya43.
Salah satu kecenderungan yang dipunyai orang yang teraktualisasi (self actualizer) adalah tercapainya pengalaman puncak yang menurut Maslow adalah pengalaman paling utama. Dalam tulisannya di akhir hidupnya Maslow membagi mereka ke dalam dua golongan yaitu mereka yang
mengalami pengalaman transedensi dan yang tidak dimana Maslow menganggap yang pertama adalah lebih utama dibandingkan yang kedua44. Dalam pandangannya kemunduran agama-agama disebabkan karena berbagai agama yang terorganisasi cenderung dijalankan oleh orang yang tidak mempunyai
pengalaman tersebut (non-peakers)45
Penutup
Agama sebagai sebuah objek kajian studi dapat didekati dengan berbagai pendekatan dan salah
satunya yang telah dijabarkan secra singkat dalam tulisan ini adalah dengan pendekatan psikologis. Pendekatan ini menggunakan berbagai metode yang digunakan dalam ilmu psikologi untuk mengkaji
43 Connolly, Peter. Op cit hlm 218-219
44 Maslow menyebutkan 15 karakter dari orang yang mencapai aktualisasi diri (self actualizer) diantaranya adalah mystic experience or the oceanic feeling. Lihat Cofer, C N dan M H Appley. 1967. Motivation: Theory and Research. New York. John Willey and Sons hlm 669-670
berbagai hal terkait masalah keagamaan. Hasil yang didapat dengan pendekatan ini sangat beragam dan selalu berkaitan dengan asumsi yang dibawa oleh mahzab pemikiran peneliti dan juga berkaitan dengan
metode yang digunakan. Lebih lanjut diharapkan akan muncul suatu sistem pendekatan psikologis terhadap agama dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan obyektif dengan memanfaatkan pula perkembangan teknologi dan metodologi terbaru sehingga didapatkan hasil yang lebih memuaskan bagi
perkembangan studi agama dengan pendekatan ini.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU DAN ARTIKEL
... 2004. Encyclopaedia Americana International Edition. Conecticut. Scholastic Library Publishing, Inc
Cofer, C N dan M H Appley. 1967. Motivation: Theory and Research. New York. John Willey and Sons Connolly, Peter (ed). 2002. Aneka Pendekatan Studi Agama, terj: Imam Khoiri. Yogyakarta. LkiS Corbett, Lionel.1996. The Religious Function of Psyche. New York. Brunner-Routledge
Djam'annuri. 2003. Studi Agama-agama; Sejarah dan Pemikiran. Yogyakarta. Pustaka Rihlah
Hood, Ralph W, Jr, Bernard Spilka, Bruce Hunsberger, dan Richard Gorsuch. 1996. The Psychology of Religion: an Empirical Approach. New York. The Guilford Press
Jatman, Darmanto. 2000. Psikologi Jawa. Yoyakarta. Bentang Budaya.
Ladd Wheeler. 1981. Review of Personality and Social Psychology vol 2. Beverly Hills. Sage Publications bekerjasama dengan Society for Personality and Social Psychology
Moskowitz, Merle J dan Arthur K Orgel. 1969. General Psychology: a Core Text in Human Behaviour. Boston. Houghton Mifflin Company
Mudhofir, Ali. 1996. Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi. Yogyakarta. Gajahmada University Press
Permata, Ahmad Nor (ed). 2000. Metodologi Studi Agama. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
DIGITAL DAN INTERNET
Encyclopaedia Britannica 2005 Deluxe Edition CD-ROM