• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Media Massa dan Media Sosial Sebag

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran Media Massa dan Media Sosial Sebag"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN MEDIA MASSA DAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI ALAT PERGERAKAN

MAHASISWA KEKINIAN

Oleh: Ibrahim L. Kadir

Disampaikan untuk menjadi materi Intermediete Training (LK2) HMI MPO Cabang Jakarta (Di Bawah Langit Mendung Bulan Desember 2015)

م

م ييح

م ررلا ن

م م

م ح

ي ررلا همللا م

م س

ي بم

MUKADIMAH

I. SEKILAS TENTANG MEDIA MASSA DALAM WACANA PERGERAKAN MAHASISWA

Media massa sangat berperan dalam membangun sebuah opini publik. Apakah itu negatif maupun hal-hal positif. Dalam catatan sejarah pergerakan Mahasiswa 98, peran media menjadi sentral bagi marwah perubahan yang diusung para mahasiswa tersebut. Tentunya peranan media yang dapat mempengaruhi pemikiran massa, mahasiswa dan banyak orang, sama pentingnya dengan semua buku-buku bacaan dan teori-teori para pakar.

Misal, setelah Senayan diduduki mahasiswa, beritanya pun tersiar hingga Mahasiswa di Bandung, Semarang, Jogjakarta, Makassar dan di lain-lain tempat pun turut bergerak menyuarakan Reformasi, hingga jatuhnya rezim Soeharto, pada masa itu. Media yang berperan pada saat itu adalah media elektronik, seperti radio dan televisi.

Sama halnya seperti periode 66, yaitu era kejatuhan Orde Lama, adalah Soe Hok Gie yang aktif berkirim tulisan kepada media, menyebabkan pergolakan dan memicu aksi long-march gerakan mahasiswa menjatuhkan Soekarno. Tulisan-tulisan perlawanannya hadir melalu media Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Karena media pula Soe Hok Gie menderita. Soe Hok Gie balik melawan Orde Baru. Dia menulis tentang kekejian Orde Baru yang baru saja menggantikan Orde Lama dengan membunuh Tertuduh PKI di Bali (Lihat Catatan Seorang Demonstran) [1].

Pada masa kini, peranan media semakin menjadi kompleks. Disamping sebagai “Watch Dog” (Anjing Pengawas), terkadang media terjerumus malah menjadi corong kekuasaan. Oleh karena itu media dituntut untuk kembali ke posisi sejatinya, tidak berat sebelah, proporsonal dan kredibel.

Namun demikian peranan media tetaplah perlu. Media sejak zaman perjuangan hingga reformasi mau tidak mau tetap memegang peranan yang cukup besar dalam memobilisasi pergerakan masyarakat dan pergerakan mahasiswa.

Informasi yang disampaikan kepada khalayak banyak, kerap kali memicu atau memotivasi gerakan-gerakan masyarakat, dan tentu juga mahasiswa, baik yang secara aktif terorganisir maupun yang spontan dan sporadis.

(2)

II. SEPUTAR KOMUNIKASI, MEDIA, OPINI PUBLIK DAN PROPAGANDA

Definisi Komunikasi

Secara singkat Komunikasi adalah:

“sebuah proses penyampaian informasi (gagasan/ide/maksud) dari individu/kelompok kepada individu/kelompok lainnya, dalam rangka mencapai suatu hal yang sama-sama dimengerti dan dapat dipahami bersama”

Komponen Komunikasi

Menurut Harold Laswell seperti yang dikutip alam Buku Dedy Mulyana, (Ilmu Komunikasi-Suatu Pengantar) [2], dijelaskan bahwa komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar

komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Komponen-komponen tersebut adalah:

1. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain. (Who)

2. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain. (Say What)

3. Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara. (In Which Channel)

4. Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain. (To Whom)

5. Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya. (With What Effect)

Selain 5 diatas pada perkembangannya komunikasi diatur juga menurut aturan-atuan yang disepakati. Oleh karena itu Deddy Mulyana menambahkan adanya satu peraturan yang disepakati bersama. Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan (Protocol) menjadi komponen yang melengkapi 5 komponen menurut Lawsell.

Definisi Media dan Media Komunikasi

Secara Bahasa, “Media” adalah bentuk jamak dari “Medius” yang diambil dari Bahasa Latin. Media memiliki arti “Yang dintara dua objek” dan “Yang menjadi penghubung”, sedangkan Medius memiliki arti “Jari Tengah”.

Secara istilah, “Media” dalam konteks universal dapat didefinisikan sebagai:

“Sebuah sarana bagi manusia untuk mengekspresikan dirinya yang menciptakan kondisi dimana seseorang dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap” Sedangkan “Media” dalam konteks “Media Komunikasi” dapat didefinisikan sebagai:

(3)

Jenis-jenis Media Komunikasi

Media dalam konteks komunikasi, menurut sifatnya dapat dibagi menjadi:

1. Media Komunikasi Audio yaitu semua hal yang dapat didengar, menghantarkan sebuah informasi.

2. Media Komunikasi Visual yaitu semua hal yang dapat dilihat, menghantarkan sebuah informasi.

3. Media Komunikasi Audio/Visual yaitu semua hal yang dapat dilihat sekaligus didengar, menghantarkan informasi

Berdasarkan fungsinya, media dalam konteks komunikasi dapat dibagi menjadi: 1. Berfungsi untuk memudahkan penyampaian pesan/informasi 2. Berfungsi untuk mempercepat laju penyampaian pesan/informasi 3. Berfungsi untuk memperjelas maksud dari sebuah pesan/informasi

4. Berfungsi untuk mempengaruhi/membangkitkan motivasi kepada penerima pesan/informasi (terkait komunikasi politik)

Sedangkan menurut sasarannya, dapat dibagi menjadi: 1. Media Komunikasi Massa (Mass Media/Pers)

a. Media Cetak, misalnya seperti: Majalah, Koran, Surat Kabar. b. Media Elektronik, misalnya seperti: Radio, TV

c. Media Siber, misalnya seperti: Media Sosial, Website, Portal Berita, Blog. 2. Media Komunikasi Privat (Nirmassa)

a. Media Respon Non Elektronik, misalnya seperti: Surat, Semapur, Bicara, Isyarat b. Media Respon Elekronik, misalnya seperti: Telefon, Telegraf, Morse

Komunikasi Politik

Menurut Grabriel Almond [3] komunikasi politik adalah:

“Sebuah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara "yang memerintah" dan "yang diperintah".

Komunkasi politik adalah komunikasi yang paling banyak digunakan manusia dalam rangka mempengaruhi orang lain.

Melalui komunikasi politik seseorang atau sekelompok orang mampu memotivasi seseorang atau sekelompok orang lainnya untu bertindak berdasarkan opininya.

Opini Publik

(4)

Propaganda

Propaganda memiliki arti positif dan negatif. Secara Bahasa Propaganda berasal dari Bahasa Latin yaitu “Propagare” yang memiliki arti “Pengembangan”. Dalam penjelasan singkat Propaganda dapat didefinisikan sebagai:

“komunikasi yang digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, diersatukan secara psikologis dan tergabungkan di dalam suatu kumpulan atau organisasi.”

Tipologi propaganda sendiri ada 3 macam:

1. Propaganda Putih dimana sumber-sumber dapat diidentifikasi secara terbuka

2. Propaganda Hitam dimana sumber-sumber terlihat ramah namun sebenarnya bertentangan

3. Propaganda Abu-abu dimana sumber-sumber terlihat netral namun sebenarnya bertentangan

Sedangkan dalam perkembangannya, propaganda terbagi menjadi dua kelompok utama.

1. Propaganda Politis yaitu yang melibatkan usaha pemerintah, partai atau golongan tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang bersifat strategis dan taktis.

2. Propaganda Sosiologis yaitu yang melibatkan semua unsur pemerintah partai atau golongan tertentu dalam sebuah penetrasi budaya yang kemudian masuk kedalam lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik.

Dari jenisnya, propaganda ada tiga macam:

1. Propaganda Vertikal yang mana melibatkan Media Massa

2. Propaganda Horizontal yang mana agitasi berperan penting menimbulkan persamaan persepsi dan perasaan diantara komunikan.

3. Propaganda Integrasi yang mana pengaruh doktrin dan pembangunan ikatan emosional menjadi sangat berperan.

Dari metodenya, ada tiga macam propagadanda. Ketiganya antara lain adalah:

1. Propaganda Koersif, sebuah komunikasi dengan cara menimbulkan rasa ketakutan bagi komunikan agar secara tidak sadar bertindak sesuai keinginan komunikator

2. Propaganda Persuasif, sebuah komunikasi dengan cara menimbulkan rasa kemauan secara sukarela bagi komunikan agar secara tidak sadar dengan seketika dapat bertindak sesuai dengan keinginan komunikator

3. Propaganda pervasif, sebuah komunikasi dengan cara menyebarluaskan pesan serta dilakukan secara terus menerus/berulang-ulang kepada komunikan sehingga melakukan imitasi atau menjadi bagian dari yang diinginkan oleh komunikator

(5)

III. GERAKAN MAHASISWA

Hakekat

Sejatinya Gerakan Mahasiswa adalah sebuah gerakan yang berdasarkan ide/gagasan yang mengacu kepada tingkat kesadaran intelektual mahasiswa dari apa yang telah dipelajarinya dalam kehidupan, yang diwujudkan dalam kenyataan bertindak demi kepentingan masyarakatnya, komunitasnya, dan juga demi kepentingan rakyat dalam rangka perbaikan bangsa kea rah kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Secara singkat Gerakan Mahasiswa dapat didefinisikan sebagai:

“Sebuah kesatuan dari pengetahuan dan aksi nyata dalam kehidupan, dengan tujuan pengabdiannya terhadap masyarakat dalam rangka memperjuangkan suatu yang benar” Gerakan mahasiswa tidak melulu sebuah gerakan yang bersifat mobilisasi masa, namun juga dapat berupa mobilisasi ide/gagasan.

Hal-hal Yang Mempengaruhi Gerakan Mahasiswa

Pencetus Gerakan Revolusioner Ernest Ezra Mandel [4] menyatakan

“Pada umumnya Gerakan Mahasiswa disebabkan oleh permasalahan di sekitar mahasiswa itu sendiri. Permasalahan dimulai dari adanya ketegangan antara mahasiswa dengan Universitas, Institut atau Sekolah Tinggi dimana dia bernaung. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi yang terjadi di dunia ketiga. Perlawanan mahasiswa dan non-mahasiswa di sana lebih didorong oleh realitas mereka yang masih di bawah penjajahan”

Di Indonesia, gerakan intelektual pemuda dan mahasiswa dilandasi rasa untuk lebih mencintai tanah air, melihan kondisi kekinian. Seperti Boedi Oetomo kepemudaan pada masa lampau, mereka melihat nasib Bumiputera yang terjajah oleh belenggu imperialisme, kebodohan dan ketidak-berpendidikan.

Kemudian Gerakan 66 yang pada masa itu melihat bahwa Soekarno sudah kehilangan arah dan kepercayaan masyarakat karena mengingkari hakekat kekuasaan demokrasi.

Lalu ada peristiwa Malari dimana mahasiswa menentang bentuk imperialisme korporasi dan melawan orde baru yang terlalu pro asing.

Pada 98 puncak dari kemarahan mahasiswa karena melihat fenomena pembelengguan hak-hak demokrasi, kebebasan pers yang terkungkung dan Korupsi Kolusi serta Nepotisme yang berangsur 32 tahun.

Media Yang Digunakan Untuk Mengekspresikan Ide/Pemikiran Mahasiswa

Pada masa-masa pergerakan mahasiswa, kelompok mahasiswa biasanya menggunakan Media “Propaganda” untuk mengekspresikan maksud dan tujuan gerakan mereka.

Soe Hok Gie menggunakan media massa (koran) untuk menerbitkan tulisan-tulisannya. Sama halnya dengan Rosihan Anwar dan Deliar Noer yang mengungkapkan ide-ide pendidikannya, juga Goenawan Mohamad yang menggunakan media massa tempat para kuli tinta bekerja, untuk mengekspresikan kegusarannya melalu ide yang dituangkan dalam sebuah tulisan dan cerita pendek.

(6)

kampus berada di bawah tekanan rektorat dan birokrat luar lembaga kampus, mahasiswa membentuk media propaganda alternatif non-kampus, berupa leaflet, selebaran, poster, buletin mahasiswa, atau bahkan grafiti.

Selain itu, pada masa pasca reformasi atau sekitar 1999-2001, Universitas Alternatif (Sebutan untuk Korkom HMI-MPO UNJ), aktif membuat media laternatif untuk saluran ekspresi yang kritis dari mahasiswa, antara lain Buletin Alternatif.

Di komunitas seni rupa ada PropaGraphic sebagai media komunikasi mahasiswa untuk mengekspresikan ide atau gagasan dalam bentuk grafis kreatif seperti graffiti yang sarat dengan kritik sosial kepada negara dan juga elit politik. Di komunitas fotografi ada Revolugraphy yang kerap menampilkan fotografi kritis mengangkat realitas sosial di masyarakat.

Sedangkan pada masa kini, Mahasiswa kerap mengunakan Facebook dan Twitter untuk meng-update status pada timeline (papan garis masa) yang digunakan untuk mengekspresikan rasa dan pikiran pengguna/user dari Facebook dan Twitter.

Pada awal kebangkitan blog, sekitar 2004-2006, banyak mahasiswa yang menggunakan blogger dan wordpress untuk menerbitkan ungkapan perasaan, gagasan dan ide mereka dalam sebuah tulisan yang mampu dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia dalam sekejap.

(7)

PEMBAHASAN

I. POKOK BAHASAN

Yang menjadi fokus dalam bahasan di tulisan ini mengerucut kepada dua fokus penting yaitu: 1. Media Massa sebagai alat komunikasi politik dalam pembentukan opini publik.

2. Media Massa sebagai alat gerakan mahasiswa yang dapat digunakan untuk memicu motivasi mahasiswa dalam menentukan tujuan, strategi dan pengorganisasian sebuah gerakan mahasiswa.

II. URAIAN POKOK BAHASAN

Media Massa (Pers)

Media Massa terdiri dari 2 suku kata yaitu “Media” dan “Massa” yang secara singkat dapat diambil pengertian “Media” yaitu sebuah sarana bisa berupa ruang, saluran udara dan lain-lain guna mendapatkan dan menyampaikan informasi demi tujuan tertentu; sedangkan “Massa” yaitu sekumpulan orang-orang/masyarakat yang menjadi target penerima dari penyampaian satu atau lebih informasi.

Dalam pengertian yang lebih dalam dapat kita ambil dari beberapa sumber dan pakar, antara lain: 1. Menurut kamus Oxford English Dictionary, Media Massa (Pers) yang disebut Mass Media

atau Mass Communications didefinisikan sebagai: “Sources of information and news such as newspaper, magazines, radio, and television that reach and influence large number of people” [6]

2. Kustadi Suhandang, penulis buku “Pengantar Komunikasi” mengatakan: “Pers adalah seni atau ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya” [7]

3. Menurut UU no. 40 Tahun 1999 menyebutkan: “Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.” [8]

4. Menurut Praktisi Media Massa/Press (Pers), dalam pengertian yang lebih sempit media massa disebut dengan pers (Press) diambil dari kata Pressure (Penekan) dalam Bahasa Inggris yang memiliki arti: “Sebuah lembaga/organ yang sejatinya dapat menyampaikan informasi kepada khalayak banyak termasuk didalamnya adalah pemerintah, masyarakat dan juga pasar, agar khalayak banyak tersebut dapat mengetahui informasi berupa peristiwa yang sedang berlangsung atau topik yang sedang dibahas, dan dapat mengambil tindakan yang dianggap perlu dalam menyikapi peristiwa atau bahasan itu, sehingga terjadi perimbangan tatanan kehidupan, yang berguna menekan pertumbuhan hal-hal yang merugikan kepentingan bersama” [9]

(8)

pers yang utama adalah berita dan berita adalah bagian dari realitas sosial yang dimuat media karena memiliki nilai yang layak untuk disebarkan kepada masyarakat.

Posisi dan Fungsi Media Massa dalam Komunikasi Politik

Unsur Media (Media Massa) dipengaruhi pula oleh unsur-unsur komunikasi politik lainnya, yaitu oleh institusi pemerintahan, civil society dan market. Dalam model Segitiga Gazali, media idealnya tepat berada di tengah, tidak bergeser ke sudut salah satu unsur. Ketika ada salah satu unsur mendominasi unsur yang lain, maka kualitasnya akan berubah yang pada gilirannya akan mempengaruhi semua unsur. Hubungan antar unsur-unsur Komunikasi Politik, dapat dilihat dalam model segitiga Gazali

(Sumber: Gazali, 2005) [10]

Dari gambar diatas kita dapat mengambil informasi bahwa posisi Media adalah penghubung antar unsur-unsur dalam hal ini Pemerintah – Masyarakat – Pasar.

Hal ini menjadikan fungsi media antar unsur-unsur menjadi berda-beda:

1. Bagi Pemerintah ke Masyarakat dan ke Pasar berfungsi mendistribusikan informasi terkait kebijakan umum dan khusus.

2. Bagi Masyarakat ke Pemerintah dan ke Pasar berfungsi mendistribusikan informaasi terkait keinginan masyarakat, kebutuhan masyarakat dan pressure masyarakat atas kebijakan pemerintah serta keinginan masyarakat terhadap pasar.

3. Bagi Pasar ke Pemerintah dan ke Masyarakat berfungsi mendistribusikan informasi terkait produk yang ditawarkan untuk kepentingan masyarakat dan untuk kepentingan pemerintah.

4. Feedback dari semua unsur adalah menerima informasi yang cukup dan berguna untuk kepentingan masing-masing. Media Massa tidak boleh condong pada satu unsur.

MEDIA

Pemerintah

(9)

Pergeseran Ke Arah Politik Media dan Media Propaganda Poltik

Fakta dari fenomena politik mutakhir, pers telah menjelma menjadi media-driven-politics. Dalam arti, setiap momentum politik mustahil menafikan kehadiran pers.

Dalam fungsinya itu, media massa (pers) menjalankan tugas menjadi penghubung antara elit-elit politik dengan masyarakat. Sebuah fungsi yang dulunya dominan dilakukan oleh partai ataupun kelompok politik tertentu.

Dalam banyak hal, fungsi penghubung tersebut semakin banyak yang diambil alih pers. Proses memproduksi dan mereproduksi berbagai sumber daya politik, seperti menghimpun dan mempertahankan dukungan masyarakat dalam sebuah pemilu, memobilisasi dukungan publik terhadap suatu kebijakan, merekayasa citra kinerja kandidat.

Maka wajar saja ketikaa ada sebutan media massa itu “berpihak”. Padahal sejatinya media memang harus berpihak, namun berpihak bukan kepada seseorang, sekelompok tertentu atau pada persepsi, opini atau subjektifitas lain, tetapi media harus berpihak kepada FAKTA.

Hal ini menjadikan media massa banyak terlibat dalam kegiatan propaganda vertikal.

Transformasi dari Media Massa Konvensional ke Media Massa Berbasis Internet

Perkembangan media massa kini mulai mengadopsi sistem paperless (tanpa kertas). Seiring dengan pertumbuhan teknologi dan mengurangi penggunaan kertas, maka sejak kehadiran internet media massa mulai mengubah cara penyampaian berita. Pada tahun 2011, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta jiwa, menurut data dari Idesocial.

(Gambar dari www.idesocial.wordpress.com 2011) [12]

(10)

Gaya Media Massa Nasional

Detik, Kompas, Tempo, Media Indonesia, MNC Group, Vivanews, Republika dan Rakyat Merdeka, hanyalah beberapa organisai media massa nasional yang cukup berpengaruh dalam pembentukan opini publik. Lebih dari itu, muncul juga media-media baru yang lebih kontemporer, dan independen. Hal tersebut tidak lepas dari gaya/style media tersebut masing-masing.

Sebagai contoh Kompas, Tempo dan Media Indonesia biasanya menggunakan gaya yang rasional dalam menentukan Headline. Sementara Detik lebih mengedepankan kecepatan berita, sesuai namanya.

Di lain pihak MNC dengan Sindo/ Okezone, juga Rakyat Merdeka, nampak membombastis dengan Headline-headline yang cukup menarik para pembaca untuk menelaah lebih dalam. Sementara Republika tetap dengan gayanya yang bernuansa Islami. Saat ini hadir pula media jejaring daerah.

Interaktivitas, Personalisasi dan Konvergensi Dalam Media Massa Berbasis Internet

Media berbasis internet sangat mengutamakan 3 hal ini. Interaktivitas itu memuat peranan publik dalam sebuah penggalian informasi. Publik bisa menanggapi atau berkomentar tentang informasi yang diberikan. Dalam kasus media online, biasanya ada kolom hitters dan komentar di bawah sebuah berita.

Fungsi dari kolom komentar ini dapat menjadi tolok ukur seberapa banyak berita itu sampai kepada masyarakat yang menanggapinya. Sementara hitters menunjukan seberapa banyak berita itu dibaca. Sehingga redaksi dapat mendalami isyu tersebut untuk berita selanjutnya.

Personalisasi lebih kepada keinginan para pembaca. Kanal-kanal yang disediakan oleh media massa berbasis internet adalah bagian dari personalisasi tersebut. Pembaca dapat memilih kanal-kanal yang diinginkan baik itu Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Hiburan hingga Selebritas.

Sementara itu, Konvergensi adalah penyatuan wadah-wadah penyampai informasi kedalam media sinergi yang bersifat multimedia. Artinya pada saat yang bersamaan pembaca dapat melihat foto, video, atau mendengarkan audio disaat yang bersamaan, dengan menggunakan Laptop, PC, SmartPhone atau Tab.

(11)

Dari Media Massa ke Media Sosial

Istilah Media Sosial (MedSos) muncul ketika “Revolusi” Facebook dan Twitter mencapai titik puncaknya, yaitu sekitar tahun 2008 hingga 2011. Walau sebetulnya Media Sosial sudah ada sejak zaman Mailing-List, Forum KASKUS, dan Blog pada masa awal, sekitaran 1997 hingga 2004.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein [11] mendefinisikan Media Sosial sebagai:

"Sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content (pertukaran informasi antar pengguna, dan penciptaan rekayasa informasi)"

Pada saat ini, tahun 2015, media sosial sampai pada puncak prestasinya. Media sosial menjadi sebuah alat propaganda baik pemerintah maupun kelompok-kelompok masyarakat dan organisasi tertentu.

Kita melihat fenomena YouTube, Twitter, Facebook ternyata dapat mempengaruhi opini publik. Seperti propaganda yang dilakukan oleh beberapa aktifis medsos dalam pertarungan PILPRES 2014 lalu. Bahkan ISIS dan Hizbullah ditingkat internasional menggunakan Media Sosial sebagai sarana propaganda pergerakan masing-masing. Demikian juga kemenangan Barack Obama.

Pengguna MedSos, cenderung lebih cepat menularkan informasi pada masyarakat sekitarnya. Sampai akhirnya mempengaruhi swing-votters, pemilih pemula. Hal tersebut tidak lepas dari peranan Admin, Tim Kampanye mengeloa Media Sosial dan menjalin hubungan dengan Media Massa, dalam rangka mempengaruhi opini publik.

Penguna MedSos di Internet dapat menularkan pandangannya kepada masyarakat sekitar secara cepat. Mereka juga menodorong masyarakat lain untuk menggunakan MedSos. Hasilnya, Pertumbuhan pengguna (internet) mengalami kenaikan signifikan.

Gerakan Mahasiswa Melalu Media Massa dan Media Sosial

Saat ini harus segera dimulai, gerakan mahasiswa diiringi dengan penyampaian informasi yang proposional kepada khalayak banyak. Baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah dan juga pelaku pasar. Oleh karena itu mahasiswa membutuhkan sebuah media, agar gagasan-gagasannya dapat dikonsumsi masyarakat, para stakeholders, maupun pemerintah. Media tersebut dapat menjadi Media Pergerakan sekaligus Perkaderan.

HMINEWS misalnya, merupakan sarana bagi para mahasiswa untuk menambatkan pemikiran, gagasan dan ide-ide rasionalnya agar bisa dibaca semua pihak. Terlebih daripada itu, media-media lain seperti DIDAKTIKA, MEDIAMAHASISWA, UNIVERSITAS ALTERNATIF DOT COM dan lain-lain sangat berkontribusi dalam menyalurkan aspirasi mahasiswa. Tapi tidak cukup hanya itu. Media yang sudah ada dapat memanfaatkan media sosial yang dapat menjangkau lebih banyak pengguna internet. Trend saat ini menunjukan bahwa organisasi mahasiswa banyak memanfaatkan Facebook dan Twitter yang tak jarang pula dikutip oleh media-media Nasional.

Sebagai contoh Telegram Jakarta sering menggunakan Facebook page, Google, Youtube dan Twitter untuk promosi dalam merebut share pembaca. Karena saat ini 4 medsos ini yang memiliki jangkauan yang cukup luas, bahkan mendunia.

(12)

Contohnya: Tulisan Soekarno di Media milik Majelis Islam ‘A’la Indonesia (yang kemudian berubah nama setelah jepang masuk Indonesia menjadi Masyumi), tentang Lebaran – Peperangan pada tahun 1943 atau sekitaran 1362 H.

(Sumber Gambar: Dokumentasi Media milik Majelis Islam ‘A’la Indonesia) [13]

Pemikiran Soekarno yang mengutip ayat Al-Qur’an “Innama’al Usri Yusra” (Sesungguhnya Dibalik Kesulitan ada Kemudahan) cukup menyulut semangat para pemuda dan pelajar (kaum santri) serta rakyat pada saat itu agar bertahan dan mempersiapkan strategi di masa-masa sulit.

Kondisi perang Asia Timur Raya yang berlangsung antara 7 Juli 1937 – 9 September 1945, membuat posisi rakyat Indonesia pada saat itu harus bertahan dalam penderitaan, selain oleh rezim Jepang, sisa Hindia Belanda dan pengaruh ekonomi kaum timur asing non Arab (India dan Cina) yang kental dengan riba, semakin mendesak rakyat Indonesia dalam posisi yang sangat sulit.

Tulisan Soekarno ini tidak lepas dari pengaruh Natsir meskipun Soekarno lebih menyukai Nasionalisme yang dianut oleh Kemal Attaturk. Bahan bacaan Soekarno adalah tulisan Natsir di banyak media. Natsir sendiri telah terlibat dalam dunia jurnalistik sejak masih menjadi siswa dan menempuh pendidikan di AMS.

Pada 1929, dua artikel yang ditulis Natsir, dimuat dalam majalah Algemeen Indische Dagblad, yaitu berjudul Qur'an en Evangelie (Al-Quran dan Injil) dan Muhammad als Profeet (Muhammad sebagai Nabi).

(13)

Natsir telah menulis sekitar 45 buku atau monograf dan ratusan artikel yang memuat pandangannya tentang Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam sejak karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929. Karya terwalnya umumnya berbahasa Belanda dan Indonesia, yang banyak membahas tentang pemikiran Islam, budaya, hubungan antara Islam dan politik, dan peran perempuan dalam Islam.

Karya-karya selanjutnya banyak yang ditulis dalam bahasa Inggris, dan lebih terfokus pada politik, pemberitaan tentang Islam, dan hubungan antara umat Kristiani dengan Muslim. Ajip Rosidi dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) menyebutkan bahwa tulisan-tulisan Natsir telah menjadi catatan sejarah yang dapat menjadi panduan bagi umat Islam. Selain menulis, Natsir juga mendirikan sekolah Pendidikan Islam pada tahun 1930. Sekolah tersebut ditutup setelah pendudukan Jepang di Indonesia.

Ini artinya peranan media baik saat itu maupun di masa kini, telah membawa implikasi yang besar terhadap pergerakan pemuda dan pelajar (mahasiswa).

Media Massa, Media Sosial Menjadi Media Pergerakan dan Perkaderan

Ada empat prinsip dasar yang harus dimiliki oleh Media Massa ataupun Media Sosial yang dibangun Mahasiswa, agar menjadi Media Pergerakan dan Media Perkaderan.

1. Muatan (Konten) yang berisi independensi, ideologi perjuangan pergerakan dan perkaderan, didukung dengan teori yang cukup dan fakta yang apa adanya agar media tersebut menjadi kredibel.

2. Penyampaian berita yang logis, singkat, jelas dan mudah dimengerti masyarakat dan khalayak banyak. Tidak melulu menggunakan Bahasa kampus (Bahasa Ilmiah), dan menjangkau wilayah yang luas.

3. Desain tampilan media yang atraktif, menarik dan mampu menimbulkan motifasi bagi masasiswa yang lain, hingga bisa mendapatkan calon kader baru.

4. Konsistensi akan berkesinambungannya media tersebut (Sustainablity). Yang artinya, media tersebut bukan media musiman, yang mudah mati setelah bertumbuh.

Saat ini ormawa intra kampus atau ekstra kampus harus bisa lebih cermat dalam menyikapi pertumbuhan global. Bahkan ormawa dapat menjaring kader lebih banyak. Tulisan-tulisan yang dimunculkan melalui media pergerakan mahasiswa dapat dibaca oleh calon kader (mahasiswa) lain.

Pengelolaan Isyu, Penyampaian Fakta dan Tata Kelola Media Pergerakan Mahasiswa

Selain dari empat prinsip dasar sebagaimana telah disebutkan tadi, maka pengelolaan isyu dan penyampaian fakta harus ditunjang dengan tata kelola media pergerakan mahasiswa yang baik dan berkesinambungan. Artinya, mahasiswa dituntut cerdas dan kritis terhadap isyu-isyu yang berkembang, tidak terbawa apalagi tergiring propaganda media umum, namun harus bisa menangkap sinyalmen-sinyalmen dari peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Fakta harus diungkapkan apa adanya.

(14)

KESIMPULAN DAN PENUTUP

I. KESIMPULAN

Pemateri meberikan kesimpulan bahwa:

1. Mahasiswa harus memenguasai media massa atau bahkan miliki medianya sendiri, terutama media yang menjadi instrument pergerakan dan perkaderan dapat menjangkau daerah yang lebih luas dan cepat. Hal ini berguna untuk menunjang pemikiran intelektualnya yang dapat dimanfaatkan dan berguna bagi masyarakat dan menjadi pressure terhadap pemerintah dalam rangka mengkritisi kebijakan-kebijakannya. Media Massa perlu dan harus dikuasai oleh kaum intelektual, terbebas dari kepentingan golongan dan kepentingan politik.

2. Karena besarnya peranan media sosial saat ini dalam pembentukan opini publik ditambah bertumbuhnya gadget-gadget modern dan software seperti WhatsApp, Telegram Messenger, Facebook, Twitter, Instagram dan lain sebagainya; maka mahasiswa sekarang dituntut untuk tidak gagap teknologi (gaptek).

3. Jauhi prasangka, persepsi dalam menyajikan sebuah informasi. Upayakan selalu objektif dalam menyajikan informasi tersebut. Biasakan klarifikasi dan telaah kritis dari sebuah informasi.

II. PENUTUP

Di zaman digital seperti sekarang, kita harus dapat membendung derasnya arus informasi. Disisi lain biduk Pergerakan Mahasiswa juga harus mampu disampaikan secara jelas, untuk mencapai tujuan pergerakan mahasiswa, dibutuhkan “gelombang” keinginan yang kuat agar komunikasi dari pergerakan dapat menyentuh nurani masyarakat dan pemerintah. Maka, bertaqwalah Kepada Allah Azza Wa Jalla, dan tetap Yakin bahwa Usaha Akan Sampai.

Jangan lupakan prinsip Islam dalam mengabarkan dan menerima sebuah informasi, teliti dan klarifikasi.

ن

ن أأ اوننييبأتأفأ إإبأنأبب ق

ق س

ب افأ م

ن ك

ن ءأاجأ ننإب اوننمأآ نأيذبليا اهأييأأ ايأ

ن

أ يمبدبانأ م

ن تنلنعأفأ امأ ى

ى لأع

أ اوح

ن ببص

ن تنفأ ةإلأاهأج

أ بب اممونقأ اوبنيص

ب تن

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dan klarifikasi dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” [Al-Hujurât/49:6] [14].

(15)

SUMBER TULISAN

[ 1] Catatan Seorang Demonstran. Gie, Soe Hok. LP3ES, 1983

[ 2] Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Mulyana, Deddy. PT Remaja Rosdakarya, Bandung (2007) [ 3] Gabriel Almond

[ 4] Gerakan Mahasiswa Revolusioner. http://www.marxists.org, Mandel, Ernest. (2012)

[ 5] Sumber Gambar: http://gerakanmahasiswa.blogspot.co.id/2006/04/analisis-singkat-sejarah-gerakan.html (2015) [ 6] Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Crowther, Jonathan. Oxford University Press, hlm 720 (2006)

[ 7] Pengantar Jurnalistik. Suhandang, Kustadi. Nuansa Press, (2010) [ 8] UU no. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Wikipedia Bahasa Indonesia (2015) [ 9] Catatan Penulis Telegram Jakarta. Kadir, Ibrahim Lathini. (Telegram Jakarta 2014)

[10] Segitiga Gazali. Gazali, Effendi. Communication of Politics: A Study of Media Performance.

[11] The challenges and opportunities of Social Media. Kaplan, Andreas M. Business Horizons 53(1): 59–68. (2010) [12] Image Source, www.idesocial.wordpress.com. (2011)

[13] Soekarno on Majeli Islam ‘A’La Indonesia, Source: Pinterest.com (2015) [14] Al-Jujarât, Chapter 49 Verses 6. Al-Qur’an Al-Karim, www.quran.org. (2015)

TENTANG PENULIS

Referensi

Dokumen terkait

Mata kuliah ini merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti oleh semester III (tiga), dalam mata kuliah ini yang dibahas adalah Manajemen Keuangan, Analisa Laporan

Tanggal periode pernyataan kehendak pemegang saham publik LPPF 21 – 27 September 2011 yang beniat untuk menjual sahamnya. Tanggal perdagangan terakhir saham LPPF sebelum Penggabungan

Kesimpulan kajian menunjukkan bahawa dengan mengamalkan dasar pembangunan produk baru seperti yang diamalkan oleh pengeluar produk elektrik yang popular telah

Mathematical Modeling of Dynamic Systems Control Temperature and Humidity in a broiler house. Assumptions used preformance modeling concepts of temperature and

Hubungan Pemberian MPASI Dini dengan Status Gizi Bayi umur 0 – 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Rowotengah kabupaten Jember.. Widyawati, Febry F, Destriatania

PERAN PEMIMPIN STRATEGIS: Memberikan arahan utk organisasi secara keseluruhan; Pemikiran strategis dan perencanaan strategis; Membuat semua itu terjadi; Menghubungkan bagian-2

Perancangan multimedia interaktif pengodean penyakit berdasarkan ICD-10 membutuhkan isi berupa berupa rule bab XV, struktur ICD- 10 bab XV, terminologi, contoh soal dan

Pemilihan nama Ismoyo sebagai nama perusahaan, di ambil dari salah satu tokoh wayang, (2) Proses pembuatan batik tulis di Perusahaan Batik Ismoyo diawali dengan