• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI PROSENTASE KADAR AIR DENGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IDENTIFIKASI PROSENTASE KADAR AIR DENGAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

IDENTIFIKASI PROSENTASE KADAR AIR DENGAN CEMARAN AFLATOKSIN PADA JAGUNG

(Studi Kasus Di Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat)

Lia Dahliany Dachlan

PMHP Muda pada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat

Jalan Surapati No. 71 Bandung 40113

ABSTRAK

Kadar air diduga seringkali menyebabkan munculnya aflatoksin pada jagung, namun berdasarkan uji laboratorium dari 20 sampel jagung yang diambil dari Kabupoaten Garut dan Bandung kandungan aflatoksinnya rendah. Kemudian dari hasil uji Korelasi Pearson tidak terdapat hubungan yang erat (> 0,5) dan bersifat nyata (α < 0,05) antara kadar air dengan aflatoksin. Satu-satunya hubungan yang bersifat positif adalah antara kadar air dengan Alfa G2 namun tidak erat dan nyata. Cemaran aflatoksin dapat ditekan dengan melakukan proses budidaya dan penanganan panen dan pasca panen yang baik dan benar.

Kata Kunci : Kadar Air, Aflatoksin, Budidaya dan Penanganan Pasca Panen

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

(2)

2

Pada sentra produksi, petani menanam jagung dua kali setahun di lahan kering: yaitu pada awal musim hujan (saat tanam Oktober) dan musim tanam kedua dimulai pada bulan Februari. Sebaliknya pada lahan sawah, jagung hanya ditanam sekali, antara bulan Mei/Juni hingga Agustus/September (Subandi et al., 1998).

Salah satu potensi bahaya yang banyak dijumpai pada jagung adalah cemaran aflatoksin yaitu toksin yang dihasilkan oleh jamur

Aspergillus flavus dan A. parasiticus yang merupakan problem di seluruh dunia khususnya daerah tropis (Lillehoj, 1987). Kedua jamur ini merupakan jamur tropis yang sering menyerang kacang-kacangan dan biji-biji apabila kondisinya memungkinkan yaitu kadar air substrat dan kelembaban udara yang tinggi.

Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100 persen, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering dapat lebih dari 100 persen. (Syarif dan Halid, 1993). Tabrani (1997), menyatakan bahwa kadar air merupakan pemegang. peranan penting, kecuali temperatur maka aktivitas air mempunyai tempat tersendiri dalam proses pembusukan dan ketengikan. Kerusakan bahan makanan pada umumnya merupakan proses mikrobiologis, kimiawi, enzimatik atau kombinasi antara ketiganya. Berlangsungnya ketiga proses tersebut memerlukan air dimana kini telah diketahui bahwa hanya air bebas yang dapat membantu berlangsungnya proses tersebut.

(3)

3

Efek yang ditimbulkan oleh akumulasi toksin pada tubuh ini terhadap kesehatan manusia ataupun hewan ternak adalah hepatotoksik (kerusakan pada hati), hepatokarsinogenik (kanker hati), mutagenik, teratogenik maupun immunosupresif (Watson, 1993; Janssen et al., 1997).

1.2. Identifikasi

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dapat diidentifikasi dua permasalahan:

1. Adakah hubungan antara kadar air dengan kandungan aflatoksin 2. Bagaimana menekan kandungan aflatoksin pada jagung

1.3. Tujuan

1. Untuk mengetahui hubungan antara kadar air dengan kandungan aflatoksin

2. Faktor-faktor apa saja yang dominan menyebabkan tumbuhnya aflatoksin pada jagung

1.4. Manfaat

1. Salah satu pegangan bagi petugas PMHP dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas jagung

2. Salah satu bahan pertimbangan untuk menyusun kebijakan dalam upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas jagung

II. METODOLOGI 2.1. Sampel

(4)

4

2.2. Uji

Sampel diuji di laboratorium PT. Angler Bio Chem Lab, Surabaya. Kadar air diuji dengan oven, sedangkan mikotoksin diuji dengan metode HPLC with Triple Quadrupole Tandem Mass Spectrometry Detector (LC-MS/MS).

2.3. Analisa Korelasi

Untuk melihat hubungan antara kadar air dengan kandungan aflatoksin digunakan uji Korelasi Pearson

III. TINJAUAN PUSTAKA

Jagung di Indonesia pada umumnya mengandung kadar aflatoksin yang cukup tinggi termasuk di Jawa Barat. Dari berbagai hasil penelitian di Indonesia, aflatoksin merupakan mikotoksin utama pencemar jagung dan bahan pakan ternak (Widiastuti et al., 1988; Bahri et al., 1995;2005 dalam Widiastuti, 2006). Cemaran Aspergillus flavus pada jagung umumnya terjadi sejak tanaman masih berada di kebun, karena kapang ini merupakan jenis kapang yang secara alami terdapat pada tanah. Beberapa kondisi yang mendorong pertumbuhan A. flavus adalah kadar air dan kelembaban yang cukup tinggi serta kondisi atmosfer. A. flavus

mampu tumbuh dengan baik pada kadar air 13-18%, suhu sekitar 30oC dan RH ≥ 95%.

Penelitian di Jawa Timur menunjukkan hasil uji infeksi jamur terjadi pada hampir 100 % biji jagung biji yang diambil dan terinfeksi oleh jamur bermiselia putih dan hitam (tidak dilakukan identifikasi lanjut), Aspergilus

(5)

5

digunakan sebagai bahan baku dengan proporsi terbesar sebagai campuran bahan pakan ternak, terutama pakan ternak unggas.

Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba yang dinyatakan Aw yaitu jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Berbagai mikroorganisme mempunyai Aw minimum agar dapat tumbuh dengan baik, misalnya bakteri Aw : 0,90 ; khamir Aw : 0,80-0,90 ; kapang Aw : 0,60-0,70. Untuk memperpanjang daya tahan suatu bahan, sebagian air dalam bahan harus dihilangkan dengan beberapa cara tergantung dari jenis bahan. Umumnya dilakukan pengeringan, baik dengan penjemuran atau dengan alat pengering buatan (Winarno,1992).

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) (Badan Standarisasi Nasional, 1995) persyaratan jagung pipil mutu I dan II adalah mempunyai kadar air maksimum 14%. Menurut Food and Agriculture Organization(2001) jagung pipil kuning dengan kadar air <16% akan mempunyai umur simpan selama 1 bulan, pada kadar air <14% mempunyai umur simpan sekitar 3 bulan, dan jika kadar air <12% umur simpan jagung akan mencapai 3 tahun.

(6)

6

dalam keadaan kering dapat disimpan beberapa bulan di dalam gudang yang kering.

Aflatoksin bersifat nonpolar, tidak larut dalam air, stabil terhadap panas, tahan terhadap perlakuan fisik dan kimiawi, stabil dengan berbagai proses pengolahan, dengan sifat tersebut aflatoksin yang telah mencemari biji jagung, pakan ternak, maupun bahan pangan sulit untuk dihilangkan. Akumulasi dari senyawa ini yang masuk ke dalam tubuh manusia dan hewan akan menimbulkan serangkaian efek terhadap kesehatan manusia dan hewan.

Aspergillus flavus adalah cendawan yang sering menyerang jagung, baik selama di lapangan maupun di tempat penyimpanan (Pitt dan Hocking, 1996). Disamping dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan serta susut berat, pada kondisi yang sesuai A. flavus dapat memproduksi Aflatoksin. Aflatoksin merupakan senyawa karsinogen yang dapat menyebabkan kanker hati pada manusia dan hewan ternak yang mengkonsumsinya secara berlebihan. Oleh karena itu WHO, FAO, dan UNICEF telah menetapkan batas kandungan aflatoksin dalam makanan sumber karbohidrat yang dikonsumsi, tidak lebih dari 30 ppb (Bainton et al., 1980). Bahkan European Commission menetapkan batas maksimal total aflatoksin lebih rendah yaitu 4ppb untuk produk serealia (Visconti, 1998).

(7)

7

Selain itu Okratoksin, terutama Okratoksin A (OA) diketahui sebagai penyebab keracunan ginjal pada manusia maupun hewan, dan juga diduga bersifat karsinogenik. Okratoksin A ini pertama kali diisolasi pada tahun 1965 dari kapang Aspergillus ochraceus. Secara alami A. ochraceus terdapat pada tanaman yang mati atau busuk, juga pada biji-bijian, kacang-kacangan dan buah-buahan. Bila tidak dikendalikan, kandungan aflatoksin pada jagung akan semakin meningkat karena aflatoksin dapat dihasilkan jamur sejak dari masa tanam sampai masa penyimpanan dan didukung sifat mikotoksin yang stabil terhadap lingkungan, dan tidak mudah rusak dengan berbagai pengolahan.

Aflatoksin seringkali ditemukan pada tanaman sebelum dipanen. Setelah pemanenan, kontaminasi dapat terjadi jika hasil panen terlambat dikeringkan dan disimpan dalam kondisi lembab. Serangga dan tikus juga dapat memfasilitasi masuknya kapang pada komoditi yang disimpan.

Kapang ini biasanya tumbuh pada penyimpanan yang tidak memperhatikan faktor kelembaban (min. 7%) dan bertemperatur tinggi. Daerah tropis merupakan tempat berkembang biak paling ideal. Aflatoksin ini memiliki paling tidak 13 varian, Terdapat empat jenis aflatoksin yang telah diidentifikasi yaitu aflatoksin B1, B2, G1 dan G2. Aflatoksin B1

dihasilkan oleh kedua spesies, sementara G1 dan G2 hanya dihasilkan

oleh A. parasiticus. Aflatoksin M1, dan M2 ditemukan pada susu sapi dan

merupakan epoksida yang menjadi senyawa antara. Aflatoksin B1 bersifat paling toksik (Wrather dan Sweet, 2006).

(8)

8

Sifat senyawa aflatoksin stabil, sulit terurai, tidak larut dalam air, tidak rusak pada suhu panas, tahan sampai suhu antara 237-289 oC , sehingga sulit untuk mengurainya. Yang umum dikenal ada 6 jenis aflatoksin yaitu B1, B2, G1, G2, M1 dan M2 dan yang paling dominan serta berbahaya adalah aflatoksin B1 (AFB1). Kondisi optimum untuk pertumbuhan kapang dan memproduksi aflatoksin yaitu : nilai water activity (Aw) > 0,7 ; kelembaban (RH) > 70% dan suhu (T)= 24 – 32,2o C. Metabolisme aflatoksin B1 pada ternak dapat menghasilkan aflatoksin M1, sebagaimana terdeteksi pada susu sapi yang pakannya mengandung aflatoksin B1 (Lanyasunya et al., 2005).

Pada pedagang jagung maupun pabrik pakan ternak menetapan batas toleransi kandungan aflatoksin dalam biji jagung yang dapat diterima untuk diolah jadi pakan ternak 100-200 ppb. Pengendalian aflatoksin perlu dilakukan sejak dari lapangan sampai pascapanen sehingga penyimpanan biji jagung yang dihasilkan oleh petani terhindar dari kontaminasi aflatoksin, serta hasil panennya dapat diterima pasar, dan mereka dapat memperoleh keuintungan dari usahatani jagungnya.

(9)

9

IV. HASIL PEMBAHASAN

4.1. Hubungan Antara Kadar Air Dengan Cemaran Aflatoksin

Kabupaten Bandung dan Garut relatif memiliki kisaran suhu dan kelembaban yang sama yaitu berturut-turut suhu 20 - 230 C dan kelembaban 60 – 95%. Suhu dan kelembaban ini cocok untuk perkembangan dan pertumbuhan aflatoksin, namun dari sisi kelembaban kurang cocok karena relatif rendah, sedangkan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dibutuhkan suhu panas dan kelembaban tinggi.

Sebagaimana ditunjukkan oleh hasil analisis, tidak semua jagung di tingkat petani tercemar aflatoksin. Kondisi ini kemungkinan besar didukung oleh adanya upaya perbaikan yang cukup efektif dalam hal produksi jagung dimana cara bercocok tanam merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menghindari kontaminasi aflatoksin pada jagung. Oleh karena itu, hal ini perlu mendapat perhatian untuk pengendalian dan penanggulangan cemaran A. Flavus

(10)

10

Tabel .1. Hasil Pengujian Kadar Air dan Cemaran Aflatoksin

Tingkat Kadar air

Pengumpul Kecil 17,9 36,5 35,7 ND ND ND

15,1 4,65 4,58 ND ND ND

20,3 ND ND ND ND ND

31,6 ND ND ND ND ND

Pengumpul Besar 12,2 ND ND ND ND ND

13,9 9,75 9,24 113 9,19 ND

Keterangan :

ND = Tidak terdeteksi/Dibawah Nilai RL (Aflatoksin = 1.5 µg/kg dan Okratoksin = 5.0 µg/kg)

Dari Tabel 1., terlihat bahwa dari hasil pengujian laboratorium diketahui masih terdapat 7 sampel di Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung yang menghasilkan produksi dengan kadar aflatoksin yang tinggi di atas 20 µg/kg (SNI 01-3920-1995). Kadar air yang melebihi standar > 17 % yang terdapat pada 12 sampel mutu. Cemaran Aflatoksin B1dan B2 yang melebihi batas maksimum yang dikeluarkan BPOM adalah pada pengumpul kecil dengan kadar air 17.9 % terdapat cemaran Aflatoksin B1 = 36.5 µg/Kg, cemaran Aflatoksin B2 = 35.7 µg/Kg.

(11)

11

dengan cemaran 113 µg/Kg pada kadar air 13.9 % . Sedangkan dari cemaran Aflatoksin G2, masih relatif aman dan di bawah standar. Untuk cemaran okratoksin yang melebihi batas maksimum terdapat di tingkat petani. Pada hasil pengujian di atas tingkat cemaran Aflatoksin tidak selalu tergantung pada kadar air, cemaran dapat juga meningkat dapat dikarenakan bakteri sudah ada pada saat budidaya dengan sistem penanganan pasca panen yang kurang sempurna.

Tabel 2. Hasil Perhitungan dengan Uji Pearson

Kadar_Air Alfa_B1 Alfa_B2 Alfa_G1 Alfa_G2 Okra_toksin

Kadar_Air Pearson Correlation 1 -.172 -.170 -.253 .230 -.145

Sig. (2-tailed) .520 .526 .283 .250 .536

N 20 20 20 20 20 20

Alfa_B1 Pearson Correlation -.153 1 1.000** .168 -.197 .129

Sig. (2-tailed) .520 .000 .478 .405 .588

N 20 20 20 20 20 20

Alfa_B2 Pearson Correlation -.151 1.000** 1 .158 -.188 .128

Sig. (2-tailed) .526 .000 .505 .426 .590

N 20 20 20 20 20 20

Alfa_G1 Pearson Correlation -.252 .168 .158 1 -.924** .154

Sig. (2-tailed) .283 .478 .505 .000 .517

N 20 20 20 20 20 20

Alfa_G2 Pearson Correlation .270 -.197 -.188 -.924** 1 -.520*

Sig. (2-tailed) .250 .405 .426 .000 .019

N 20 20 20 20 20 20

Okra_toksi

n

Pearson Correlation -.147 .129 .128 .154 -.520* 1 Sig. (2-tailed) .536 .588 .590 .517 .019

N 20 20 20 20 20 20

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

(12)

12

Dari Tabel 2., terlihat bahwa tidak terdapat hubungan yang erat (> 0,5) dan bersifat nyata (α < 0,05) antara kadar air dengan aflatoksin. Satu-satunya hubungan yang bersifat positif adalah antara kadar air dengan Alfa G2 namun tidak erat ( 0,230 > 0,05) dan bersifat tidak nyata (0,250 > 0,05). Dengan demikian, secara keseluruhan tidak ada hubungan yang erat antara kadar air dengan kandungan aflatoksin.

Pertumbuhan kapang banyak dipengaruhi faktor substrat, suhu, pH,

kelembaban relatif atau aktivitas air (aw) dan adanya kompetisi dengan

mikroorganisme lain (Gourama,1998). Kadar air atau aktivitas air (aw),

suhu dan waktu simpan merupakan 3 faktor utama yang saling

berinteraksi dalam menentukan pertumbuhan kapang pada biji-bijian yang

disimpan (Sauer DB, et.al,1992). Gibson et al.(1994) juga menyebutkan

bahwa kelembaban relatif lingkungan merupakan faktor yang terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan A. flavus, dibandingkan kondisi lingkungan lainnya. Dengan demikian, meskipun suhu di kabupaten Garut dan Bandung cocok untuk perkembangbiakan aflatoksin namun dari sisi kelembaban kurang memenuhi, sehingga aflatoksin tidak berkembangbiak dengan sempurna.

Beberapa jenis kapang sudah mulai menginfeksi ketika tanaman sedang dalam masa pertumbuhan sehingga higiene kebun sangat diperlukan. Pemberian pupuk yang optimal juga dapat meningkatkan resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, termasuk

(13)

13

Gambar 1. Regresi Kadar air dan tingkat cemaran aflatoksin

4.2. Menekan Kandungan Aflatoksin Pada Jagung

Upaya budidaya dan penangan pasca panen yang baik dapat

menekan pertumbuhan dan perkembangan cemaran aflatoksin. Budidaya

yang baik melalui pemupukan berimbang, pengendalian hama dan

penyakit terpadu serta benih yang baik dapat menekan pertumbuhan

cemaran aflatoksin. Kemudian Penanganan panen dan pascapanen

melalui penentuan waktu panen yang tepat, pengumpulan, pengangkutan,

sortasi dan penyimpanan yang baik dapat menekan pertumbuhan

cemaran aflatoksin karena kapang sebagai media tumbuhnya aflatoksin

tidak dapat berkembang.

Proses dari mulai budidaya dan penanfganan panen dan pasca

panen merupakan tahapan penting terjadinya kontaminan mikotoksin.

(14)

14

20 %, sehingga setelah dijemur kadar air turun dan mencapai nilai aman 13 %.

Pada tingkat petani kegiatan penanganan pascapanen meliputi

pengeringan dan sortasi. Cara mengeringkan bahan pangan hendaknya

dilakukan secepatnya sampai kadar air yang sesuai, sehingga kapang sulit

tumbuh. Sedangkan sortasi dilakukan untuk memisahkan antara jagung

yang sudah terserang oleh kapang.

Payne dalam Haliza et al,(21005) menyatakan pengeringan setelah

panen akan menghindari biji jagung dari kontaminasi kapang seperti A.

flavus. Karena infeksi kapang ini dapat terjadi bersamaan dengan

perkembangan biji atau jamur menempel pada permukaan luar biji setelah

biji mulai masak. Hal ini memungkinkan terjadinya kontaminasi aflatoksin

pada saat panen, bahkan hingga 14 pbb. Penundaan pengeringan selama

dua hari telah meningkatkan kontaminasi afatoksin dari 14 menjadi 94 ppb

(Subandi, 1998) . Oleh karena itu pengeringan untuk menurunkan kadar

air hingga ke leval aman dan merupakan tindakan yang sangat penting.

(Haliza, et al, 2005).

Menurut Purwadaria (1987), kegiatan pascapanen jagung meliputi pemanenan, pengangkutan, pengeringan, perontokan dan penyimpanan.

(15)

15

Sortasi perlu dilakukan dengan memisahkan bahan yang

berkapang, langkah ini sangat penting dilakukan untuk mengurangi

kontaminasi afatoksin pada produk akhir. Mesin sortasi dan peralatan

yang sesuai dibutuhkan untuk memperoleh proses sortasi yang maksimal.

Peralatan seperti Near Infra Red (NIR) dapat digunakan untuk

memisahkan biji berkapang yang hanya membutuhkan beberapa menit

saja untuk beberapa kilogram biji (Haliza, et al, 2005) . Kegiatan penyimpanan, pengangkutan, dan pemasaran terjadi pada tingkat pengumpul dan pedagang besar.

Jagung dengan kadar air 15 – 15,5% dapat disimpan aman

selama 1 tahun pada suhu 15o C, namun pada suhu 30o C hanya 6 bulan

sudah mengalami kerusakan kapang dari sedang sampai berat. Blaha et

al, 1986, mengatakan bahwa suhu dan kelembaban relatif memainkan

peranan penting tidak hanya terhadap pertumbuhan kapang, tetapi juga

terhadap produksi aflatoksin. Faktor-faktor tersebut secara umum dapat

dikelompokkan dalam 3 komponen utama yaitu, kondisi bahan yang

disimpan (nutirisi, pH, kadar air, kerusakan fsik), kondisi lingkungan tempat

penyimpanan (terutama suhu dan kelembaban relatif) dan kapang

perusak.

Hasil uji di laboratorium menunjukkan bahwa jagung pipilan dari

petani masih ada produk yang kadar airnya cukup tinggi yaitu 31.6%.

Kontaminan Aspergillus spp awal sangat besar pengaruhnya dalam

produksi aflatoksin, namun tidak semua Aspergillus flavus mampu

menghasilkan aflatoksin. Kapang toksigenik mempunyai minimum aktivitas

air untuk pertumbuhan dan produksi mikotoksin, kandungan air yang aman

akan menjadi batas kritis untuk mengkontrol dalam pengendalian

kontaminan kapang. Kandungan air pada level yang tidak aman, dalam

waktu 48 jam kapang dapat tumbuh dan mikotoksin dapat dihasilkan. Hal

tersebut menjelaskan bahwa penanganan jagung yang memadai

(16)

16 kontaminan kapang.

Selanjutnya, penerapan Hazard Analysis Critical Control Point

(HACCP) pada setiap tahap proses produksi sampai dengan pascapanen

untuk mengendalikan kontaminan mikotoksin pada jagung Menurut

Anonymous (2001), pendekatan HACCP merupakan salah satu cara

untuk mengendalikan kontaminansi kapang khususnya kapang yang

menghasilkan afatoksin.

HACCP merupakan suatu pendekatan untuk mencegah dan

mengontrol penyakit karena keracunan makanan (Bryan, 1992) . Sistem ini

dirancang untuk mengidentifkasi bahaya yang berhubungan dengan

beberapa tahapan produksi, prosesing atau penyiapan makanan, serta

memperkirakan resiko yang akan terjadi dan menentukan prosedur

operasi untuk prosedur kontrol yang efektif. Dijelaskan pula bahwa sistem

tersebut tepat untuk menetapkan sistem pengendalian karena lebih

berfokus pada pencegahan dari pada pengujian produk akhir.

HACCP dapat diterapkan pada seluruh rantai pangan dari produk

primer sampai pada konsumsi akhir dan penerapannya harus dipandu oleh

bukti secara ilmiah terhadap resiko kesehatan manusia. Tahapan

pascapanen merupakan tahapan kritis pada perkembangan kapang

penghasil mikotoksin. Sehingga dengan memperhatikan setiap tahapan

yang menjadi titik kritis (Critical points /CP) pada pascapanen jagung

dapat mengendalikan kontaminan mikotoksin pada jagung. Menurut

Miskiyah et al ,2008, jika proses pemanenan sampai dengan

(17)

17

Aw 70% atau 25 kandungan air mencapai 14%.

Penggunaan HACCP pada prosesing pangan sangat efektif dalam mengendalikan bahaya yang terdapat pada pangan. Kesulitan dalam menghilangkan mikotoksin menjadikan tindakan pencegahan merupakan salah satu cara untuk mengkontrol kontaminan afatoksin yang paling baik.

Dengan demikian sistem budidaya dan penanganan pascapanen

yang tepat dan terkendali mampu menekan pertumbuhan kapang

penghasil aflatoksin.

V. KESIMPULAN

1. Dari 20 sampel pengujian aflatoksin yang berasal dari Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat masih terdapat 7 sampel yang menghasilkan produksi dengan kadar aflatoksin yang tinggi di atas 20 µg/kg (SNI 01-3920-1995).

2. Pengujian kadar air dari 20 sampel didapatkan hasil yang sangat beragam. Kadar air yang melebihi standar > 17 % yang terdapat pada 12 sampel mutu.

3. Dari hasil perhitungan uji korelasi antara kadar air dan tingkat cemaran aflatoksin di dapatkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara kadar air dan cemaran aflatoksin.

4. Nilai aflatoksin yang tinggi di Kabuapten Garut dan Bandung dapat disebabkan karena adanya jamur Aspergillus Flavus yang menyerang karena kurangnya resistensi tanaman terhadap hama dan penyakit yang diakibatkan karena kurang optimalnya pemupukan, pengeringan yang kurang tepat, kadar air dan kelembaban serta higiene pemipilan dan penyimpanan.

(18)

18

untuk menjamin keamanan pangan pada jagung baik untuk pangan dan pakan ternak.

6. Keamanan pangan pada jagung sangat penting karena potensi perkembangan aflatoksin pada jagung sangat tinggi yang sangat berpengaruh besar pada kesehatan manusia.

7. Penerapan HACCP pada pra panen dan pasca panen merupakan salah satu cara dalam mengendalikan bahaya yang terdapat pada produksi pangan. Kesulitan dalam menghilangkan mikotoksin menjadikan tindakan pencegahan merupakan salah satu cara untuk mengkontrol kontaminan afatoksin yang paling baik.

(19)

19

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. 2017. Provinsi Jawa Barat dalam Angka.

Badan Standarisasi Nasional. 1995. Standar Nasional Indonesia. SNI 01-3920-1995. Jagung.

Bryan. Hazard Analysis Critical Control Point Evaluations. 1992. Geneva; World Health Organization.

Dharmaputra OS, Ina R, Sunjaya, Santi A. 1993. Populasi Aspergillus flavusdan Kandungan Aflatoksin Pada jagung di Tingkat Petani dan Pedagang di Propinsi Lampung. SEAMEO BIOTROP, Bogor.

Gibson AM, Baranyi J, Pitt MJ, Eyles MJ, Roberts TA. 1994. Predicting fungalgrowth: the effect of water activity on Aspergillus flavusand related species.Int. JFood Microbiol 23:419–431.

Janssen,M.M.T.,H.M.C. Put, and M.J.R. Nout. Natural Toxins.P.3-36. In. De Vries, J.(Ed). CRC Press. New York

Lanyasunya, T.P., L.W. Wamae, H.H. Musa, O. Olowofeso, and I.K.Lokwaleput. 2005. The risk of mycotoxins contamination of dairy feedand milk on smallholder dairy farms in Kenya. Pakistan Journal ofNutrition 4 (3): 162-169.

Lilehoj, E.B. The aflatoxin-in-maize problem; The historical perspective. P. 13-32 M.S. Zuber, E.B.Lillehoj and B.L. Renfro (Eds). Aflatoxin in Maize. A Proceeding of teh Workshop. CIMMYT. Mexico D.F.

Miskiyah, Widaningrum, Somantri AS. Pengendalian Afatoksin pada

Pascapanen Jagung melalui Penerapan HACCP ( Hazard

Analysis Critical Control Point ). Jurnal Standardisasi. 2008; 10

(1): 27-34.

Nesci A, Etcheverry M. 2002. Aspergillus section Flavi populations from field maize in Argentina.LettApplMicrobiol34: 343–348

Pitt, J.I. and A.D. Hocking, 1996. Fungi and Food Spoilage. Blackie Academic and Professional, London.

Purnomo, H. 1995. Aktivitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta. http://repository.ipb.ac.id. Purwadaria, H.K. 1987. Teknologi Penanganan Pascapanen Jagung.

(20)

20

Postharvest Tools and Equipment.

Subandi dan I. Manwan. 1990. Penelitian dan Teknologi Peningkatan Produksi Jagung di Indonesia. Pusat Penelitian Pengembangaan Tanaman Pangan. Bogor. 67 hlm.

Subandi. Corn Varietal Improvement in Indonesia .Progress and Future Strategies. Indon. Agric. Res. Dev. J. 1998; 20 (1) : 1-13.

Syarief, R. dan H. Halid, 1993. Teknologi Penyimpanan Pangan. ARCAN, Jakarta. Purnomo, H. 1995. Aktivitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta. http://repository.ipb.ac.id.

Visconti A. New European Union Regulation for Afatoxin in Foodstuffs. Mycotoxicology Nedwsletter. 1998; 4: 2: 1.

Watson,D.H. 1993. Toxicants occuring naturally in food. Hlm.76-94. Dalam

Watson, D.H. (ed).Ellis Horwood.New York.

Wicklow DT, Weaver DK, Throne JE. 1998. Fungal colonists of maize grain conditioned at constant temperatures and humidities. JStored ProdRes34:355-361.

Widiastuti R, Maryam R, Blaney BJ, Salfna, Stoltz DR. Cylopiazonic Acid in Combination with Afatoxin, Zearalenon and Ochratoxin A in Indonesian Corn. Mycopathol. 1988a; 104 : 153- 156.

Winarno, F.G. (1992). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. http://www.goodreads.com/book/show/6044215-kimia-pangan-dan-gizi

Winarno,F.G., Srikandi Fardiaz dan Dedi Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. PT. Gramedia, Jakarta.

Wrather, J.A. and L.E. Sweet. 2006. Aflatoxin in Corn. Jefferson City: Delta Research Center. Missouri Agricultural Experiment Station. MU College of Agriculture, Food and Natural Resource.

www.bps.go.id. 2004. BPS Statistics Indonesia, Food Crops Statistic : Harvested Area, Yield Rate and Production of Maize by Province, 2003. BPS, Jakarta

Zummo N, Scott GE. 1990. Relative aggressiveness os Aspergillus flavus and Aspergillus parasiticuson maize in Mississippi.Plant Diseasse. 74:978-981.

Gambar

Tabel .1. Hasil Pengujian Kadar  Air dan Cemaran Aflatoksin
Gambar 1.  Regresi Kadar air dan tingkat cemaran aflatoksin

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan akhir lintasan pembelajaran dari penelitian desain ini memiliki tahapan sebagai berikut : (1) mengeksplorasi karakteristik grafik fungsi kuadrat dengan memanipulasi

Kemanfaatan pembelajaran berbasis internet antara lain: 1) pembelajaran dapat disampaikan kapan dan dimana saja, 2) dapat menggunakan beberapa elemen dari

Faktor penduk upaya guru dalam menumbuhkan sikap disiplin siswa melalui kegiatan apel pagi di MIN Paju ponorogo adalah sarana dan prasarana seperti sound system

Skripsi dengan judul “Profil Terapi Diare Akut pada Pasien Anak Rawat Inap di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya ” ini disusun untuk memenuhi persyaratan guna

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuliyani, Handayani, &amp; Somawati (2017) yang menyatakan bahwa kemampuan representasi siswa berkemampuan tinggi

Dengan melihat adanya beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya kejahatan kekerasan mempekerjakan anak sebagai pengemis di Kota Makassar, maka hendaknya

Penelitian yang berjudul “ Pola Komunikasi Internal Dalam Pembinaan Narapidana Berbasis Keterampilan (Studi Pada Bagian Bimbingan Kerja Lembaga Pemasyarakatan Wanita

b) Risiko Pasar adalah Risiko pada posisi neraca dan rekening administratif akibat perubahan harga pasar, antara lain Risiko berupa perubahan nilai dari aset