• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Ulama dalam Menghadapi Tantangan d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran Ulama dalam Menghadapi Tantangan d"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pendahuluan

Kedudukan ulama di dalam sosio-kultur masyarakat Indonesia

memiliki tempat yang sangat strategis. Konsepsinya dibangun atas dasar

firman Allah swt:

...

ُءاَمَلُعْلا ِِداَبِع ْنِم َمَا ىَشََْ اَمَِإ

: رطاف{...

}

Artinya : …Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama

Kementerian Agama RI di dalam Al-Qur an dan Terjemahannya memaknai kata ulama, yakni orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah . Atas dasar pemaknaan inilah kemudian ulama memiliki

kasta tertinggi dalam kepentingan sosial sekaligus pada ranah kontestasi

politik di Indonesia. Ulama menjadi rujukan spiritual sekaligus rujukan

problem solving atas pelbagai problem pribadi, sosial, keagamaan, politik dan

lain sebagainya, khususnya bagi para politikus dan pemimpin di negara

Indonesia.

Meskipun demikian, tantangan demi tantang terus menghadang akan

keberadaan dan eksistensi ulama di tengah masyarakat. Untuk itulah dalam

konteks historis, dibangun karakteristik gerakan dan pikiran demi keutuhan

dan persatuan al-Islam wa al-muslimun dengan mendirikan berbagai

organisasi kemasyarakat Islam seperti Muhammadiyah pada tanggal 18 November Dzulhijjah ( , Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 januari 1926 (16 Rajab 1344 H), Persatuan Islam pada tanggal 12 September

1923 (1 Shafar 1342 H), dll.

(2)

Semangat persatuan antar sesama anggota organisasi Islam tersebut

selanjutnya melahirkan satu lembaga yang mampu mewadahi ulama, zu'ama,

dan cendekiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan

mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia, dengan nama Majelis Ulama

Indonesia (MUI) pada tanggal 26 Juli 1975 (17 Rajab 1395 H). Keinginan untuk

mendirikan majelis ulama semakin nyata ketika pada tanggal 1 Juli 1975,

Menteri Agama atas nama pemerintahan RI membentuk kepanitiaan yang

bertugas untuk mempersiapkan pendirian majelis ulama di tingkat nasional,

yakni; H. Sudirman (seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat) sebagai ketua, Dr. (amka, K(. Abdullah Syafi i, dan K(. Syukri Ghazali sebagai penasehat.

Melalui MUI inilah kemudian hubungan ulama dengan pemerintah terlihat mesra khususnya ketika melahirkan fatwa-fatwa dalam menjawab kebijakan-kebijakan negara.2 Secara tidak langsung fatwa harus sejalan

dengan kondisi sosial masyarakat dan sejalan dengan pemerintah selaku

pengatur dan pengambil kebijakan. Kecenderungan itu terlihat ketika MUI

berperan aktif membantu beberapa program pemerintah, seperti fatwa

peternakan kodok, KB, IUD (spiral), dan lain sebagainya.

Relasi yang apik antara ulama dengan negara di satu sisi melahirkan

nilai-nilai positif bagi keberadaan izz al-Islam wa al-muslimin, akan tetapi di

sisi lain melahirkan problem baru yang mengarah kepada ranah sensitif ketika

hadir paham-paham baru yang masuk ke Indonesia (Islam-Transnasional)

dengan paham fundamentalisme-konservatif yang membenturkan ijtihad

antar Ormas Islam atau bahkan mensakralkan MUI sebagai satu-satunya bait

al-ijtihad. Untuk itulah, dibutuhkan penelaahan secara ilmiah tentang peran

(3)

ulama dalam menghadapi tantangan dan problematika hukum di masyarakat

khususnya di Sulawesi Utara.

B. Pembahasan

1. Ulama dan MUI

Tim Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta (sekarang disebut dengan Universitas Islam Negeri Jakarta)

dalam Ensiklopedi Islam Indonesia menyebutkan, bahwa

pembentukan MUI telah membuka sejarah baru dalam usaha

mewujudkan kesatuan umat Islam Indonesia dalam satu forum tingkat

nasional yang dapat menampung, menghimpun dan mempersatukan

pendapat dan pikiran ulama atau umat Islam secara keseluruhan.3

Hasilnya, MUI tumbuh berkembang dengan pesat di bumi nusantara ini,

hal ini dikarenakan tujuan dari adanya MUI adalah untuk ikut serta

berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat yang aman, damai, adil

dan makmur, yang diridhai oleh Allah swt dan sesuai dengan Pancasila

dan UUD 1945.

MUI sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia yang

kepengurusannya terdiri dari ulama, umara dan zu ama, sangat

berkepentingan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan umat Islam

Indonesia termasuk permasalahan kenegaraan yang berhubungan

dengan Islam berupa putusan fatwa. Kecenderungan untuk menjadi

oportunis sangat terbuka lebar, karena melekatnya ulama dengan umara.

Kritik eksternal pernah disampaikan oleh Abdurrahman Wahid

dalam menanggapi keberadaan MUI, di mana menurutnya MUI dapat

berkembang dengan pesat pasca pembentukannya, karena didorong

(4)

oleh anggaran belanja teratur dari Departemen Agama dan oleh

manuver-manuver politik Presiden Soeharto waktu itu. Ciri utama MUI

sejak berdiri adalah kepengurusannya diisi oleh para pensiunan

Departemen Agama dan non-pegawai negeri yang berposisi lemah.

Dalam waktu sebentar saja MUI dibuat lebih mementingkan aspek

kelembagaan gerakan Islam daripada pengembangan aspek

kulturalnya.4

Kritik-kritik eksternal tentu akan terus bermunculan sejalan

dengan keberadaan dan eksistensi MUI hingga saat ini. Untuk itu, dalam

membangun MUI sebagai basis ulama nasional diperlukan genealogi

yang jelas dalam menumbuh kembangkan MUI di masa yang akan

datang. MUI bukan saja rumah besar ulama di Indonesia dalam

menjawab problem-problem keagamaan, tapi juga rumah besar para

ulama yang mampu mensinergikan Islam dan kebangsaan.

Isu sentral saat ini adalah, tentang gerakan Islam-Transnasional

yang menjadi momok semua pihak ketika mengkomunikasikan antara

Islam (fiqh/fatwa) dan kebangsaan. Terlebih lagi ketika muncul aksi

411 ataupun 212 di Jakarta. Untuk itu, melalui Musyawarah Kerja saat

ini, MUI Prov. Sulawesi Utara hendaknya melahirkan gagasan yang

nyata, melalui model fatwa yang tidak saja mengedepankan fiqh tapi

juga mengedepankan NKRI.

2. Problem Hukum di Masyarakat

Kompleksitas permasalahan umat Islam di Indonesia, termasuk

di Prov. Sulawesi Utara sudah semakin menjadi sejalan majunya

perkembangan komunikasi di arena globalisasi. Pada tataran

konsumsi, pengaruh label halal belum secara signifikan membantu

konsumen dalam memilih konsumsinya, terlebih lagi jika

4Lihat Abdurrahman Wahid, Birokratisasi Gerakan )slam , dalam (ery Sucipto [ed.].,

(5)

rumah makan telah memasang tulisan Allah, Muhammad, atau ayat al-Qur an maka sudah dirasa cukup untuk menguatkan konsumen dalam bertransaksi.

Pada tataran politik, isu kepemimpinan Muslim atau

Non-Muslim memberi jarak pemisah antara sesama Non-Muslim karena

perbedaan pilihan.5 Pada tataran sosial-keagamaan, konsep

membumikan ajaran-ajaran keislaman masih pada tataran materi dan

belum memasuki arah implementasi, walhasil perbedaan pendapat di

dalam masjid akibat perbedaan amaliah hingga saat ini masih terus

berlangsung dan berpotensi konflik.6

Problem yang krusial adalah batasan toleransi dalam konteks

NKRI dan isu relasi Islam dan Negara menuju Khilafah Islamiyyah.

Seyogianya isu-isu tersebut telah final setelah Pancasila dan UUD 1945

lahir di bumi Indonesia. Namun di tataran akar rumput, butuh energi

yang besar dalam menyampaikan Tafsir Islam-NKRI. Atas dasar

penjelasan tersebut, maka pemetaan permasalahan hukum di

masyarakat yang menjadi konsentrasi umat Islam Indonesia saat ini

dapat diklasifikasi pada beberapa aspek;

a. Paham Radikalisme

Paham radikal didasarkan atas niatan yang baik untuk

melakukan perubahan namun dengan cara yang tidak baik. Paham

radikal akan melahirkan sikap intoleran baik antara sesama umat

Islam terlebih kepada non-Islam. Paham radikal akan melahirkan

sikap irhab (teror) baik verbal maupun aksi terhadap yang tidak

sepaham dengan mereka.

5 Dalam kasus ini, implikasi terbesar yang akan lahir adalah label kafir, munafik, lemah iman bagi yang berbeda dengan pendapatnya. Bahkan dalam konteks keluarga, perbedaan politik atas nama agama di akar rumput mampu menciptakan kerenggangan hubungan suami-istri bahkan hingga perceraian.

(6)

Bagi mereka yang berpaham radikal, kebenaran bersifat

mutlak miliki mereka dan bukan yang selain mereka, surga dan

neraka adalah hak yang mereka pilih sendiri untuk disematkan

kepada orang lain. Walhasil, paham radikal tidak akan mampu

mewujudkan kebaikan jika cara dan upaya yang ditegakkan adalah

sesuatu yang keluar dari sikap tuntunan Allah swt dan Rasul-Nya

Muhammad saw.

...

ءامسلا ي نم مكمري ضرأا ي نم اومرا

اور{...

}دواد اوبا

7

Artinya: …sayangilah mereka yang hidup di bumi, maka penduduk langit akan menyayangimu…

b. Relasi Agama dan Negara

Problem pencatatan perkawinan menjadi icon penting untuk

membaca kasus ini. Di mana distingsi antara agama dan negara

dibangun begitu sistematis sehingga muncul jargon sah secara agama namun belum tercatat oleh negara . )mplikasinya adalah, agama menjadi pembenar segala perbuatan yang secara tekstual

ada di dalam nash (naskah agama) meskipun negara memberi

ketentuan mengikat bagi semua warga negaranya untuk

meninggalkan atau melaksanakannya.

Atas dasar tersebut, lalu muncul polarisasi kebenaran

berbasis agama dan kebenaran berbasis negara. Polarisasi seperti

ini tidak akan menghadirkan kemaslahatan, akan tetapi menambah

kemudaratan di bumi Indonesia. Konsekuensinya, negara menjadi

lemah ketika agama menguat, atau agama akan melemah ketika

negara menguat.

c. Kemiskinan

7 Muhammad bin )sa Abu )sa at-Tirmidzi, al-Jami ash-Shahih Sunan at-Tirmidzi,

(7)

Neo-liberalisme ekonomi di Indonesia seperti telah

menggurita. Pasar menjadi rujukan pertumbuhan ekonomi dan

kota besar menjadi rumah besar migrasi masyarakat desa dalam

mencari perbaikan ekonomi keluarga. Sawah-sawah sudah menjadi

mall dan swalayan, kebun-kebun berubah menjadi perumahan, dan

lain sebagainya.

Implikasi negatif lahir dari perilaku tersebut berupa

kemiskinan jilid dua yang tentunya akan mendekatkan pada sikap

tidak bersyukur dan bahkan kufur akan nikmat Allah swt. Ini sejalan

dengan riwayat yang begitu masyhur;

ارفك نوكي نأ رقفلا داك

...

}باهشلا اور{

8

Artinya: Terkadang kemiskinan akan melahirkan sikap kekufuran

durhaka …

Problem ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan

Islam dan Islam memiliki metode jitu dalam menangkal kemiskinan

secara cepat dan tepat. Begitu banyak teori yang termaktub di

dalam kitab-kitab fiqh, seperti zakat, infaq, shadaqah, wakaf, dll.,

namun belum memberi kontribusi positif dalam pembangunan

ekonomi masyarakat.

3. Mengagas Fatwa MUI yang Responsif

Tidak mudah memolakan arah fatwa MUI selama genealogi

kelembagaan tidak terdeteksi. Akan tetapi hal tersebut menjadi

keunikan tersendiri bagi MUI. Pada konteks marwah fatwa, penjelasan

Yusuf al-Qaradhawi penting untuk menjadi rujukan, di mana dalam hal

mengembalikan wibawa fatwa di dalam Islam, perlu dilakukan

beberapa hal, yang pertama, menjauhi sifat fanatik dan taqlid buta;

kedua, berilah kemudahan jangan mempersulit; ketiga, menggunakan

(8)

bahasa yang dipahami; keempat, menghindari sesuatu yang tidak

bermanfaat; kelima, bersikap moderat; keenam, memberikan fatwa

berikut penjelasannya.9

Meskipun ungkapan al-Qaradhawi terlihat menjadi solusi,

namun perlu dipahami bahwa umat Islam Indonesia merupakan

komunitas yang memiliki keunikan tersendiri dalam menjalankan

ajaran keislamannya. Begitu banyak komunikasi yang dibangun dalam

pembentukan Islam di Indonesia oleh para penyebar Islam era awal

dengan nilai-nilai kearifan lokal sehingga mampu diterima cepat tanpa

pertumpahan darah sedikitpun.

Radikalisme muncul karena transmisi keilmuan yang hanya

didapat di luar Indonesia tanpa melihat sisi dalam Indonesia.

Perbenturan agama dan negara diakibatkan oleh relasi kuasa yang

dibangun antara masing-masing pemegang kuasa. Melemahnya

ekonomi kerakyatan terjadi karena lemahnya iman sehingga mudah

melihat keunggulan pihak lain dan meminta perlindungan oleh mereka

tanpa melihat potensi diri. Oleh karenanya, kembali memposisikan

(reposisi) ulama dalam kancah pembentukan kemaslahatan bagi umat

harus dikedepankan, bukan sebaliknya, ulama hanya menjadi broker

kepentingan sekelompok orang atau pemerintah yang berkuasa.

Pada konteks ini, mengembalikan marwah ulama dalam dimensi

kearifan lokal akan lebih mampu membumi. Ulama sebagai pewaris

para nabi tentu mendapat mandat untuk dapat menyelesaikan

problematika umat dari pewarisnya, khususnya umat saat ini yang

bersumber dari Nabi Muhammad saw. Oleh karenanya, perubahan

hukum yang didasarkan atas perubahan situasi dan kondisi10 yang

9 Yusuf al-Qaradhawi, al-Fatwa bain al-Indhibat wa at-Tasayyub, (Kairo: Dar ash-Shahwah, 1988), h. 107-130

10 Kaidah fiqh-nya adalah:

(9)

meliputinya juga harus merubah pola pikir ulama menjadi lebih

progresif.

Sikap tersebut memberikan penegasan tentang pentingnya

syarat mengetahui setting budaya masyarakat dalam menyelesaikan

problem sosial-keagamaan, sebab dengan menafikan atau

mengenyampingkan eksistensi budaya lokal dalam struktur dan sistem

sosial, maka produk hukum yang akan dilahirkannya dimungkinkan

tidak akan mengekspresikan dimensi kemaslahatan universal sebagai

tujuan utama kehadiran Islam (shalih li kuli zaman wa makan).

Melalui kaidah perubahan hukum tersebut, ekspresi evolusi di

dalam budaya lokal yang alamiah tentu akan terus bergerak di dalam

masyarakat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana yang optimal

menuju penemuan hukum yang progresif namun juga responsif dengan

Pancasila dan UUD 1945.

Pada ranah inilah para ulama dapat kembali menemukan

momentumnya dalam meneguhkan eksistensi mereka sekaligus

mengembalikan marwah ulama sebagai pewaris para nabi. Sebuah

semangat menyatunya umat dengan ulama, dan bukannya membuat

jarak pemisah antara brahmana (ulama) dan sudara (awam).

Bahasa-bahasa ulama tidak lagi melangit, tapi membumi dalam kehidupan

umat.

C. Kesimpulan

Ulama dan MUI saat ini seperti kehilangan marwahnya karena

dianggap tidak maju dari tataran proses maupun hasil. Fatwa seperti hanya

angin lalu yang datang dan pergi tanpa terasa. Untuk itu, reposisi ulama dalam

kancah perjuangan pembangunan umat sangat dibutuhkan. Ulama harus

Artinya : Perubahan hukum terjadi akibat perubahan waktu, tempat, keadaan, dan adat istiadat.. Lihat Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, ) lam al-Muwaqqi in an Rabb al-Alamin, (Beirut:

(10)

menemukan momentumnya untuk mengembalikan marwah ulama yang

bertugas memberi kemashlahatan secara umum.

DAFTAR PUSTAKA

al-Jauziyyah, Ibnu al-Qayyim., ) lam al-Muwaqqi in an Rabb al-Alamin, Beirut:

Dar al-Fikr, 1995

at-Tirmidzi, Muhammad bin )sa Abu )sa., al-Jami ash-Shahih Sunan at-Tirmidzi, Beirut: Dar )hya at-Turats al-Arabi, t.th.

al-Qaradhawi, Yusuf., al-Fatwa bain al-Indhibat wa at-Tasayyub, Kairo: Dar ash-Shahwah, 1988

al-Qudha i, Muhammad bin Salamah bin Ja far Abu Abdillah., Musnad asy-Syihab, Beirut: Mu`assasah ar-Risalah, 1967

Mudzhar, Atho., Islam and Islamic Law in Indonesia: A Socio-Historical Approach, Jakarta: Ofiice of Religious Research and Development, and Training Ministry of Religious Affairs Republic of Indonesia, 2003

Nasution, Harun, dkk., Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1992

Referensi

Dokumen terkait

Memperoleh pengetahuan mengenai hambatan yang dialami masyarakat sebagai penerima kredit dan UPK sebagai pelaksana kegiatan atau pemberi kredit dalam proses pemberian

• Fraction of supported links: higher for favor networks than hedonic networks (visiting each other / talk most often).. Other

Communication Objective Dari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui 60 responden yang mengetahui Klub sepatu roda kota Semarang, sebanyak 43, yang berminat gabung

Hasil: DidapatkanT6 pasien rinosinusitis tronis yang dilakukan pemeriksaan tomografi komputer sinus paranasal untuk persiapan- opirasi bedah sinus endoskopi , terdiri

Pada bab kedua menjelaskan teori-teori yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu mengenai Teori Kebijakan Program UPK MP, Syarat Penerima SPP,

Hal ini diduga karena pada penelitian ini juga digunakan air limbah laundry dengan konsentrasi yang cukup rendah yaitu 25% sebanyak 5 L dalam satu reaktor uji,

Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif, Untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam

Cell ini, maka nilai yang benar akan dimasukkan pada Cell tersebut.. Langkah tersebut merupakan cara Excel untuk mengetahui cara melakukan perhitungan sebagai ganti mencetak