• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Memboikot Perdagangan dalam Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hukum Memboikot Perdagangan dalam Islam"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tindakan represif yang dilakukan oleh kolaborasi Amerika dan Israel

terhadap Palestina yang semakin parah dalam satu dekade belakangan ini memicu

berbagai macam reaksi dunia. Israel sebagai eksekutor lapangan, banyak

melakukan kekerasan dan penindasan terhadap warga Palestina. Sementara

Amerika sebagai aktor birokrasi politik, berjuang mati-matian melindungi aksi

pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina

di daerah-daerah konflik.

Atas dasar kemanusiaan, bukan hanya umat Islam yang turun ke jalan

mengajukan protes atas tindakan Israel, tapi juga penganut setia Nasrani. Namun

sepertinya gelombang aksi protes yang dilancarkan oleh dunia tidak membuat

kedua negara tersebut berhenti. Bahkan amerika justru mendukung pendudukan

Israel dengan memindahkan kantor kedutaan mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem

baru-baru ini. Presiden Donald Trump berpendapat bahwa Yerusalem adalah

ibukota negara Israel yang sebenarnya, dan pemindahan kantor kedutaan Amerika

merupakan pemenuhan janji Trump selama masa kampanye presiden.

Fakta yang tidak banyak diketahui dunia adalah bahwa pada tahun 1995

Amerika memberlakukan Jerusalem Embassy Act (Undang-Undang Kedutaan

Besar Yerusalem) yang disahkan pada tanggal 23 Oktober 1995 tentang Status

Yerusalem dan Keberadaan Kedutaan Besar Amerika di Yerusalem.

Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa Amerika harus mengakui Yerusalem sebagai

ibukota Israel dan Kedutaan Besar AS harus dipindakan ke kota itu. Namun,

dalam prakteknya pemerintahan AS sebelum Trump tidak pernah menjalankan

undang-undang tersebut. Sebagai gantinya, setiap presiden terpilih harus

menandatangani sebuah Keputusan Presiden yang menyatakan bahwa Kedutaan

Besar AS akan tetap berada di Tel Aviv. Sayangnya, Keppres ini hanya berlaku

(2)

Trump juga mengeluarkan Ketetapan Presiden tentang Penangguhan Pemindahan

Kedutaan Besar Amerika ke Yerusalem di bulan Juni 2017 yang lalu. Tapi, ketika

Tappres tersebut berakhir, pada tanggal 6 Desember 2017, ia mengakui

Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memulai proses pemindahan kedutaan besar

Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Sebagaimana yang diketahui dunia, pada tanggal 29 November 1947,

PBB menempatkan Yerusalem di bawah pemerintahan internasional khusus,

corpus separatum, dan bukan merupakan wilayah dari negara berdaulat manapun. Kemudian pada saat penandatanganan perjanjian gencatan senjata antara Israel

dan Yordania pada tanggal 3 April 1949, keduanya sepakat membagi wilayah

Yerusalem untuk sementara, yaitu kawasan barat yang dikuasai oleh Israel dan

kawasan timur yang berada di bawah pengawasan aliansi Yordania-Arab. Namun

secara internasional perjanjian itu tidak diakui karena dipandang melawan

keabsahan Resolusi 181 yang menghendaki pemisahan dan internasionalisasi

Yerusalem. Dan pada tanggal 23 Januari 1950, parlemen Israel dalam Sidang

Knesset pertama secara sepihak mendeklarasikan kota Yerusalem sebagai ibukota

negara Israel dengan menyatakan bahwa Yerusalem selalu dan akan selalu

menjadi ibukota Israel. Akan tetapi aneksasi tersebut tidak mendapat pengakuan

internasional. Mayoritas dunia internasional sepakat bahwa status final Yerusalem

harus diselesaikan melalui negosiasi. Sebagai bukti, hingga saat ini tidak ada satu

negarapun yang membuka kantor Kedutaan Besar di Yerusalem. Hanya saja

Yunani, Inggris, dan Amerika membuka kantor konsulat mereka di sana.

Pertanyaannya adalah, “Apakah dampak dari pemindahan kantor

kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem?” Sebenarnya tidak banyak yang akan berubah. Mengingat saat ini kantor dan kediaman resmi Perdana Menteri

Benjamin Netanyahu, Parlemen Israel, begitu juga Mahkamah Agung dan

Kementerian Luar Negeri Israel berkedudukan di Yerusalem. Para pemimpin

dunia yang berkunjung ke Israel juga selalu melakukan lawatan ke Yerusalem

untuk bertemu dengan para pejabat tinggi Israel. Jadi, Israel sebenarnya sudah

(3)

Bagi penduduknya, Yerusalem adalah kota terbuka, dimana warga

Yahudi dan Palestina dapat bergerak dengan bebas. Walaupun pada kenyataannya

interaksi antara kedua pihak sangat minim, dan ada perbedaan besar antara

lingkungan Yahudi yang kaya dan warga Palestina yang miskin. Namun deklarasi

pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalaem akan punya makna

simbolis yang mendalam dan makin menyulitkan proses perdamaian

Israel-Palestina.

Uni Eropa, Jerman dan Perancis juga sudah mendesak Donald Trump

agar tidak mengambil tindakan gegabah mengubah satus quo Yerusalem.

Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang beranggotakan 57 negara mengatakan

bahwa mengubah status Yerusalem merupakan a gresi telanjang terhadap dunia Arab dan Muslim. Organsasi Liga Arab menyatakan bahwa langkah ini akan

menjadi tindakan berbahaya yang bakal berakibat buruk di seluruh Timur Tengah.

Arab Saudi, sekutu penting Amerika Serikat, juga sudah bereaksi keras

menentang langkah Donald Trump. Jerman memperingatkan warganya yang akan

berkunjung ke Yerusalem atau sedang berada di sana agar waspada dan sedapat

mungkin menghindari kawasan timur, karena diperkirakan akan pecah kerusuhan

dan aksi kekerasan terbaru.

Penindasan yang dirasakan oleh Palestina dan penduduknya, baik secara

fisik maupun politik, memicu umat Islam melakukan berbagai macam bentuk

penolakan. Salah satu bentuk penolakan umat Islam di Indonesia adalah petisi

yang dihasilkan dari Aksi Palestina yang diadakan oleh MUI di Monas pada Ahad

17 Desember 2017 yang salah satu isinya adalah memboikot produk Amerika dan

Israel. Pro dan kontra kemudian muncul. Mereka yang tidak sependapat

memandang aksi boikot bertentangan dengan prinsip syariat Islam karena hukum

Islam tidak melarang setiap Muslim untuk ber-mu‟amalah dengan orang kafir.

Tulisan ini dibuat untuk menelaah aksi boikot yang digaungkan

sekelompok ulama terhadap komoditas dagang yang dihasilkan oleh Yahudi dan

(4)

B. Permasalahan

Permasalahan utama dalam tulisan ini adalah bagaimana sebenarnya

hukum memboikot produk perdagangan yang produsennya dengan

terang-terangan memusuhi dan menindas umat Islam, serta bagaimana menyikapi aksi

boikot terhadap komoditas dagang Yahudi dan antek-anteknya yang difatwakan

oleh segolongan ulama di dunia.

C. Tujuan

Tujuan dari pembuatan tulisan ini adalah untuk menegaskan

hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan pemboikotan produk dan pemutusan

hubungan mu‟amalah dengan orang-orang atau perusahaan-perusahaan (termasuk

juga negara) yang dengan tegas dan nyata melakukan tindakan semena-mena

terhadap umat Islam, serta mengkaji hadits-hadits yang relevan untuk dapat

mengambil sikap dalam menindaklanjuti fatwa ulama yang menyerukan

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

PEMBOIKOTAN KOMODITAS PERDAGANGAN

DALAM PANDANGAN ISLAM

A. Hukum Ber-mu’amalah dengan Orang Kafir

Hukum asal menetukan bahwa umat Islam diperbolehkan ber-muamalah

dengan orang kafir, baik Ahlu Dzimmah atau Ahlul Ahdi (orang kafir yang memiliki perjanjian dengan umat Islam), maupun kafir harbi (kafir yang boleh diperangi), selama objek akad serta kandungan akadnya tidak bertentangan

dengan aturan Islam, dan hal itu tidak termasuk memberikan loyalitas kepada

mereka.1

Berikut ini beberapa hadits yang meriwayatkan tentang perilaku mu‟amalah Rasulullah dan para sahabat dengan orang-orang kafir (kaum

musyrikin, Yahudi, dan golongan non Muslim lainnya):

1. HR. Bukhori

a. Abdurrahman bin Abu Bakr, radhiyallahu anhuma, berkata, “Kami sedang bersama Rasulullah SAW, kemudian datang seorang musyrik, rambutnya panjang dan kusut masai, memba wa seekor kambing.

Kemudian Nabi SAW berkata, “Kambing ini untuk dijual atau sebagai

pemberian?” Orang musyrik tadi berkata, “Tidak, tapi untuk dijual.” Kemudian Nabi membeli kambing darinya.” Hadits ini termaktub dalam shohih Bukhori No. 2216 di bawah Bab Berniaga dengan Orang Musyrik

dan Ahlul Harb (kafir harbi).

b. Nabi Muhammad SAW pernah memerintahkan Salman Al-Farisi untuk

mukatabah (seorang budak yang menebus dirinya kepada tuannya dengan cara mencicil), dan saat itu Salman Al-Farisi masih seorang

Yahudi. (diriwayatkan oleh Bukhori secara Mu‟allaq).

1

(6)

2. HR. At-Tirmidzi: Ibnu Abbas, radhiyallahu anhuma, berkata, “Rasulullah

SAW wafat dan baju besi beliau (ma sih) terga dai pada seorang Yahudi,

karena beliau berhutang 30 sho‟ gandum guna memberi nafkah kepada keluarganya.”

3. HR. Bukhori wa Muslim: Aisyah, radhiyallahu anha, berkata bahwa Nabi Muhammad SAW berhutang bahan makanan kepada seorang Yahudi untuk

menafkahi keluarganya.

4. Iqtidho Shirothol Mustaqim 2/15: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

“Jika seorang bersafar ke darul harb (negeri yang dikuasai orang kafir yang tidak mengikat perjanjian dengan umat Islam) untuk membeli sesuatu, maka hal itu diperbolehkan menurut ma zhab kami. Beliau berargumen dengan menggunakan hadits yang menceritakan tentang berdagangnya Abu Bakar,

radhiyallahu anhu, di Syam semasa Rasulullah masih hidup, padahal saat itu Syam adalah Darul Harb.

5. HR Baihaqi No 19283: Hasan bashri berkata bahwa Abu Musa

Al-Asy‟aari menulis surat kepada Umar bin Khattab, radhiyallahu anhuma, yang isinya, “Pedagang muslim jika masuk ke darul ha rb (negeri kafir yang tidak

ada perjanjian) ditariki pajak 10 persen. Kemudian Umar membalas, “Kalau begitu, ambillah Uysr (bea cukai) dengan nilai yang sama.”

6. Fathul Bari 9/820: Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Diperbolehkan ber-muamalah dengan orang kafir, selama objek muamalah-nya tidak

mengandung unsur yang haram, dan, dalam ha l ini, keyakinan dan cara mereka ber-mu‟amalah satu sama lain tidak dianggap.”

Kebolehan ber-mu‟amalah sebagaimana diterangkan dalam hadits-hadits

di atas bersifat umum dan tidak terbatas hanya pada negeri-negeri Islam. Artinya,

umat Islam tetap boleh ber-mu‟amalah dengan orang-orang kafir meskipun berada

di negeri kafir sekalipun. Dalam kaitannya dengan hal ini, Syaikh Muhammad bin

Sholeh Al Utsaimin, rahimahullah, berpendapat bahwa jika kita (umat Islam) melarang diri kita sendiri menggunakan atau mengkonsumsi produk-produk non

(7)

maka hilanglah berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam, seperti

alat-alat transportasi (mobil dan sepeda motor) dan alat-alat komunikasi

(handphone), yang kebanyakan merupakan produk orang-orang non Muslim, termasuk juga hal-hal bermanfaat lainnya yang hanya diproduksi oleh mereka.

Ketika ditanya mengenai hukum dari mengkonsumsi dan menjual Coca

Cola (produk minuman Yahudi), Syaikh Muhammad mengatakan bahwa memang

benar minuman itu (Coca Cola) bisa saja mengandung unsur berbahaya yang

dimasukkan oleh mereka (Yahudi) ke dalamnya, karena sebagaimana diketahui

bersama bahwa bangsa Yahudi bukanlah golongan yang amanat,2 dengan mencontohkan peristiwa yang menimpa Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika

seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti al-Harits, istri dari Salam bin

Misykam (seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir di Khaibar), meletakkan racun

pada daging kambing yang mereka hadiahkan kepada beliau, sebagai pembalasan

dendam atas kematian ayah, paman, dan suaminya pada saat perang Khaibar di

tahun ketujuh setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Sehingga pada saat

menjelang kematiannya (tiga tahun setelah insiden itu), beliau bersabda Wahai Aisyah, aku masih mera sakan sakit akibat makanan yang dulu pernah a ku santa p

di Khaibar. Dan inilah saatnya a ku merasakan terputusnya urat nadiku oleh racun itu.3 Yang berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori tersebut, dan hadits-hadits lainnya, maka tidak ada lagi ruang untuk keraguan atas

pengaruh racun dalam jasad Rasulullah SAW dan campur tangannya dalam

kematian beliau.4

Mempertimbangkan fakta-fakta di atas, memang sangat memungkinkan

bagi mereka (Yahudi) untuk meletakkan unsur-unsur berbahaya dalam produk

2

QS. Ali Imron (3:75). “Di antara ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ada orang yang jika

kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi Kami terhadap orang-orang ummi (orang Arab).” Mereka berkata Dusta terhadap Allah, Padahal mereka mengetahui.”

3

Shohih Al-Bukhori No. 4165. Bab Maradh an-Nabi. Juz IV Halaman 1611.

4

(8)

yang mereka hasilkan, akan tetapi, aku (Syaikh Muhammad) menduga bahwa

barang-barang yang sampai kepada kita saat ini pasti sudah dicek dan diuji

keamanannya, sehingga telah diketahui bermanfaat ataukah tidak. Jadi, tidak ada

bahaya dalam mengkonsumsi dan menjual Coca Cola, baik dari sisi syar‟i

maupun dari segi kesehatan.5

Dengan demikian, dalam ber-mu‟amalah umat Islam diperintahkan untuk

lebih mempertimbangkan aspek mudha rat yang ditimbulkannya daripada aspek pelakunya. Jadi, Islam tidak melarang umatnya untuk berbisnis dengan golongan

manapun selama hubungan bisnis tersebut tidak bertentangan dengan hukum

Islam dan tidak berpengaruh kepada loyalitasnya kepada agamanya, baik secara

langsung maupun tidak. Adapun mengenai tindakan Amerika dan Israel yang

dengan tegas tidak mengindahkan hak-hak umat Islam, Syaikhul Islam

mengatakan bahwa Allah melarang orang-orang beriman untuk bersedih atau

bersempit hati terhadap orang-orang kafir dan/atau perbuatan makar mereka

kepada umat Islam, sebagaimana Allah melarang Nabi dan Rosul-Nya bersusah

hati. Mengingat orang kafir dan perbuatan makar mereka sejatinya adalah ujian

bagi keimanan dan keislaman seseorang. Orang iman yang baik akan bersabar,

berteguh hati, dan tawakal, serta senantiasa meyakini bahwa Allah bersama

orang-orang yang bertakwa dan selalu berbuat baik. Bahkan mereka akan ber-tafakkur

dan menganggap musibah yang menimpa mereka merupakan akibat dari dosa

yang telah mereka perbuat, sehingga mereka dapat selalu bersabar dan memohon

ampun serta bertasbih kepada Allah di waktu pagi dan sore.6

Maka jangan pernah menjadikan perilaku makar suatu kaum sebagai

dasar untuk memboikot produk-produk perdagangan mereka karena hanya akan

merugikan diri kita sendiri, mengingat umat Islam masih belum mampu

memproduksi seluruh barang untuk memenuhi kebutuhannya.

5

Muhammad Abduh Tuasikal. 2010. Kaset Liqa‟ al-Bab al-Maftuh No. 64: Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin. Sebagaimana dikutip dalam https://rumaysho.com/997-fatwa-ulama-tentang-hukum-boikot-produk-yahudi.html.

(9)

B. Landasan Syar’i untuk Memboikot Produk Kafir

Untuk menghindari segala macam hal yang dapat membahayakan bisnis,

jiwa, akidah, dan agama dalam ber-mu‟amalah dengan orang-orang kafir, maka

setiap Muslim diharuskan memahami rambu-rambu dalam kegiatan bisnis dengan

mereka. Aturan dasar dalam setiap hubungan kerjasama adalah firman Allah

dalam Surat Al-Maidah berikut ini:

ناَوْدُع

ْ

لاَو ِمْثِإا

َ َل اوُنَواَعَت َاَو ىَوْقَتاَو ِ ِِلا َ َل اوُنَواَعَتَو

Artinya, “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan

jangan saling tolong menolong di atas dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah, 5:2)

Ayat 2 Surat Al-Maidah di atas menegaskan bahwa kerjasama yang

dilarang dalam hukum Islam adalah kerjasama dalam perbuatan dosa dan

permusuhan. Mengingat permusuhan juga merupakan amalan yang mendatangkan

dosa bagi pelakunya, maka pada intinya, kerjasama yang dikategorikan sebagai

perbuatan haram dalam hukum Islam adalah seluruh kerjasama dalam urusan

perbuatan dosa.

Secara terperinci, riwayat-riwayat yang membahas tentang rambu-rambu

yang harus dihormati oleh kaum Muslimin dalam berbisnis dengan golongan non

Muslim (Yahudi, Nasrani, kaum Musyrikin, dan golongan Non Muslim lainnya)

dituangkan ke dalam hadits-hadits di bawah ini:

1. Ibnu Baththol berkata, “Ber-muamalah dengan orang kafir diperbolehkan,

kecuali jual beli yang dengan jual beli itu orang kafir memanfaatkannya

untuk memerangi umat Islam.”7

2. Ibnu Taimiyah ditanya tentang ber-muamalah dengan kaum Tartar (golongan

kafir yang hidup di wilayah perbatasan antara Cina dan India), beliau

menjawab, “Diperbolehkan bermu‟amalah dengan mereka (kaum Tarta r), selama itu halal, dan dilarang jika mengandung hal yang haram. Namun jika

7

(10)

bertransa ksi jual beli dengan mereka, dan jual beli itu membantu mereka

untuk melakukan hal yang ha ram, seperti menjua l kuda perang atau senjata bagi mereka yang melakukan perang yang hara m (yaitu memerangi kaum muslimin), maka hal ini tidak diperbolehkan.8 Beliau menyandarkan fatwanya pada salah satu hadits dari Anas bin Malik yang menyebutkan

bahwa, Rasulullah SAW melaknat 10 orang terkait khamr: (1) orang yang

memerasnya, (2) orang yang minta diperaskan, (3) orang yang meminumnya, (4) orang yang menganta rkannya, (5) orang yang minta diantarkan, (6) orang yang menuangkannya, (7) orang yang menjualnya, (8) orang yang memakan harganya, (9) orang yang membelinya, dan (10) orang yang minta

dibelikannya.”9

Argumen Ibnu Taimiyah tersebut menitikberatkan pada

aspek yang terkandung dalam kegiatan mu‟amalah dengan kaum kafir. Beliau

mengingatkan bahwa dalam menghukumi sesuatu, kita tidak hanya menilai

perbuaatannya saja, melainkan juga segala sesuatu yang terkandung di

dalamnya, termasuk juga efek yang mungkin ditimbulkannya. Sehingga,

suatu perbuatan yang secara hukum asal diperbolehkan, bisa saja menjadi

haram karena dampak dari perbuatan tersebut. Seperti dalam kasus khamr

sebagaimana diterangkan dalam hadits At-Tirmidzi di atas, berjual beli adalah

aktifitas yang dihalalkan dan sangat direkomendasikan dalam hukum Islam,

tapi menjadi haram jika yang diperjualbelikan adalah khamr, karena

memberikan akses kepada orang lain untuk berbuat dosa.

3. Abu Abdullah Muhammad bin Umar Al-Waqidi, seorang sejarawan Arab

keturunan Bani Aslam yang terkemuka, dalam salah satu kitabnya

mengisahkan tentang berbagai upaya Nabi Muhammad SAW melakukan

perlawanan terhadap kekuatan ekonomi musuh, guna melemahkan kekuatan

mereka. Seperti yang dikisahkan dalam kitabnya yang berjudul Al-Maghazi

(kitab yang menceritakan tentang peperangan dan militer Islam di zaman

Nabi berdasarkan riwayat hadits yang masyhur), dimana Nabi Muhammad

memerintahkan salah seorang pamannya yang ahli memanah, yaitu Sa‟ad bin

8 Majmu‟ Fatawa Juz 29 Halaman 275. 9

(11)

Abi Waqqash, untuk menghadang kafilah dagang Quraisy pada bulan

Dzulqo‟dah di tahun pertama setelah hijrah (sekitar bulan Mei tahun 623 M)

di daerah Wadi Kharrar, yang keudian dikenal dengan Ekspedisi Militer

Kharrar. Meskipun upaya penghadangan ini gagal, karena Sa‟ad dan 20 orang

pasukannya terlambat tiba di tempat yang diperintahkan dan rombongan

pedagang Quraisy telah lewat satu hari sebelumnya, namun kejadian itu

membuktikan upaya Nabi untuk memboikot perniagaan kaum kafir Quraisy.10

4. Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah Naba wiyyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah langsung memimpin 200 sahabatnya dalam Ekspedisi Militer Buwath

pada bulan Rabi‟ul Awwal di tahun 2H (September 623M) untuk

menghadang kafilah dagang Quraisy di daerah Buwath, yang terdiri dari 100

orang (termasuk di dalamnya Umayyah bin khalaf bin Safwan Al-Jumahi,

yang merupakan pemimpin Quraisy dan Bani Jumah yang terkemuka) dan

2500 ekor unta. Diriwatkan dari Ibnu Abbas, ra dhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah SAW mendengar kafilah dagang Abu Sufyan kembali dari Syam,

kemudian Rasulullah menyerukan sahabat-sahabatnya, “Ini adalah kafilah dagang Quraisy, di dalamnya terdapat harta -harta mereka, maka keluarlah

kalian menghadangnya, semoga Allah menjadikannya harta ra mpa san perang (fai‟) bagi kalian.” Penghadangan ini kemudian menjadi pemicu terjadinya perang Badar.11

5. Imam Bukhori meriwayatkan tentang keputusan Nabi terhadap kelompok

Abu Bashir. Abu Bashir dan kelompoknya adalah penduduk Mekah yang

masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah, yang kemudian melarikan diri

dari Mekkah untuk bergabung bersama Rasulullah, namun beliau tidak bisa

menerima mereka di Madinah karena telah terikat perjanjian dengan kaum

Quraisy. Akhirnya mereka bersembunyi di wilayah pesisir dan menghadang

kafilah dagang Quraisy yang melewati daerah mereka untuk berniaga ke

negeri Syam, dan menjadi kelompok penyamun yang ditakuti di masa itu,

sehingga menggetarkan hati pedagang-pedagang Quraisy yang akan melewati

10

Kitab Al-Maghozi Al-Waqidi Jilid 1 Halaman 11.

11

(12)

wilayah pesisir. Keberadaan kelompok Abu Bashir dirasakan sangat

mengganggu roda ekonomi kota Mekah yang diduduki oleh kaum Musyrikin

sebab mereka harus mencari jalur perdagangan baru yang memakan biaya

operasional dan waktu yang lebih banyak, belum lagi kerugian dan kegagalan

bisnis akibat perampasan dan penghadangan. Akhirnya orang-orang kafir

Quraisy meminta Rasulullah untuk meminta Abu Bashir bergabung dengan

beliau di Madinah. Permintaan tersebut mengimplikasikan bahwa mereka

membatalkan Perjanjian Hudaibiyah. 12

6. Imam Bukhori juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah

mendoakan agar perekonomian Quraisy dilemahkan. Ibnu Mas‟ud,

radhiyallahu anhu, bercerita bahwa pada saat Rasulullah berdakwah kepada kaum Quraisy namun mereka mendustakan dan sombong, lalu Nabi berdo‟a, “Ya Allah, bantulah diriku untuk mengalahkan mereka dengan mengirimkan kepada mereka musim kema rau sebagaimana musim kemaraunya Yusuf.”

Akhirnya kota Mekah ditimpa kekeringan yang memusnahkan segala sesuatu,

hingga mereka harus memakan bangkai. Kemudian Abu Sufyan berkata,

“Wahai Muhammad, kaummu celaka, berdoalah kepada Allah agar mencabut musibah ini dari mereka.”13

Hadits-hadits di atas menunjukkan dasar-dasar yang menjadi

pertimbangan untuk memutuskan hubungan mu‟amalah dengan kaum kafir, dan

juga upaya-upaya yang dilakukan oleh Rasulullah beserta sahabat untuk

memboikot perdagangan orang-orang kafir Quraisy sebagai langkah pencegahan

agar mereka tidak berbuat hal-hal yang merusak kepada Rasulullah dan

pengikut-pengikutnya. Apa yang dilakukan oleh Rasul dan sahabat-sahabatnya dalam Ushul

Fiqih dikenal dengan istilah Saddudz Dzarai‟ (menutup jalan). Artinya, menutup jalan sesuatu yang mubah agar tidak menjadi haram dengan cara melarangnya untuk dikerjakan. Dalam hal ini mengharamkan amalan-amalan mubah karena dapat menimbulkan mafsadat (kerusakan).

12

Shohih Bukhori No. 7231.

13

(13)

Jadi, jika suatu amalan mubah dipastikan dapat menjadi jalan menuju

keharaman, maka para ulama sepakat melarangnya. Namun jika peluangnya kecil,

maka ulama tetap berpegangan dengan hukum asal, yaitu mubah. Jika kondisinya

berimbang, sesaat menjadi jalan menuju keharaman, namun di lain waktu tidak,

maka dalam hal ini para ulama mengkaji aspek mashlahat dan mafsadat dari amalan mubah tersebut.14 Ibnu Katsir berkata, “Syari‟at menentukan bahwa jika sesuatu hukumnya haram, maka segala jalan menuju ke sesuatu tersebut juga diharamkan, karena apa yang menjadi jalan bagi sesuatu yang haram ma ka dia haram, sebagaimana segala sesuatu yang tidak sempurna kewajiban dengannya maka hukumnya menjadi wajib.15

Dalam konteks ini, kasus memboikot roda perekonomian orang kafir

dapat dibenarkan, mengingat rusaknya ekonomi mereka membuat mereka tidak

bisa berbuat kerusakan terhadap umat Muslim. Dengan demikian pendapat

sebagian umat Muslim yang memandang pemboikotan komoditas dagang

Amerika dan Israel bertentangan dengan syari‟at Islam tidak sepenuhnya benar.

Mu‟amalah dengan orang Amerika dan Israel memang diperbolehkan (mubah) secara hukum asal, namun karena berpotensi menimbulkan sesuatu yang haram,

yaitu menghasilkan sarana untuk memerangi umat Islam di Palestina, maka

hukum membeli produk-produk perdagangan Yahudi dan antek-anteknya bisa

berubah menjadi haram.

Dengan demikian, aksi boikot terhadap produk perdagangan Amerika

dan Israel dipandang telah tepat dan sesuai dengan syar‟i karena merupakan

langkah pencegahan terhadap aksi makar Zionis Israel kepada Muslim Palestina,

sekaligus penyelamatan jiwa dan harta mereka. Jika ada umat Islam yang tetap

mempergunakan dan mengkonsumsi produk-produk yang dihasilkan dan dijual

oleh kedua negara musuh besar Islam tersebut, maka artinya mereka mendukung

penindasan dan kekerasan terhadap saudara Muslim mereka di Palestina. Dan,

merujuk pada firman Allah di Surat Al-Maidah ayat 2 yang melarang umat Islam

14

Kiblat.net. 2017. Landasan Syar‟i dalam Memboikot Produk Kafir. https:// www.kiblat.net/2017/12/22/landasan-syari-dalam-memboikot-produk-orang-kafir/.

15

(14)

saling tolong menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan, dan sabda

Rasulullah dalam Shahih Muslim, Barangsiapa yang memberi pertunjuk pada

kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa da ri perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa

mereka sedikitpun,”16

berarti mereka juga akan mendapatkan dosa yang sama

dengan yang diterima oleh kaum Yahudi penindas Muslim Palestina tersebut.

C. Sikap Muslim yang Ideal terhadap Aksi Boikot

Fenomena terpecahnya umat Islam dalam menyikapi aksi boikot yang

difatwakan oleh para ulama membuat bingung banyak umat Muslim awam.

Mereka yang pro tentu saja dipandang memiliki ghirah Islam yang kuat, sementara mereka yang kontra terhadap aksi boikot dipertanyakan pada posisi

mana mereka berdiri, Yahudi Zionis atau Muslim Palestina? Umat Muslim yang

sepakat dengan aksi boikot mengeluarkan argumen-argumen yang dinukil dari

berbagai riwayat yang mashur dalam Hukum Islam, sementara mereka yang

menolak aksi boikot, sayangnya mendasari keputusan mereka dengan argumentasi

yang tidak kuat, yakni hukum dasar ber-muamalat (khususnya jual beli) dengan orang kafir adalah boleh, maka tidak boleh memutuskan hubungan dagang dengan

mereka, karena hal itu bertentangan dengan syari‟at mu‟amalah Islam.

Maka, untuk menyudahi perdebatan tentang Fatwa Aksi Boikot

Ulama-Ulama Islam, ayat-ayat Al-Quran, nuqilan Al-Hadits, dan pendapat-pendapat ulama berikut dapat dijadikan referensi untuk menentukan sikap:

1. Jangan condong kepada orang zhalim, sebagaimana diterangkan dalam

Al-Quran (QS. Huud, 11:113), Dan janganlah kamu cenderung kepada

orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong-pun selain daripada Allah,

kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” Abul „Aliyah mengatakan

bahwa maksud dari janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang

16

(15)

zhalim adalah jangan ridha terhadap perbuatan mereka. Sementara As-Suddi dan Ibnu Zaid berpendapat bahwa maksud dari lafazh itu adalah jangan

bersikap lunak terhadap kezhaliman.17 Maka, kita pun jangan pernah ridha dengan kekafiran mereka, dan kejahatan mereka terhadap umat Islam.

Apakah tidak ridha itu cukup diam saja dan hanya pengakuan hati dan lisan? Tentu tidak, minimal lakukan yang masih bisa dilakukan, dan tidak

ber-muamalah dengan produk mereka adalah bagian dari ketidakridhaan kita terhadap kejahatan mereka terhadap umat Islam.

2. Hukum mu‟amalah dengan orang kafir adalah mubah, berdasarkan pendapat

Thawus bin Kaisan sebagaimana dikutip oleh Imam Asy-Syaukani dalam

Kitab Fathul Qodir yang mengatakan bahwa Ibnu Kaisan berkata, “Hukum asal dari segala sesuatu ciptaan adalah mubah (boleh) sampai tegaknya dalil yang menunjukkan perubahan hukum asal ini.18 Sementara Imam At-Tirmidzi meriwayatkan, “Kehalalan adalah apa-apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, keharaman adalah apa-apa yang Allah haramkan dalam kitab-Nya, dan apa-apa yang didiamkan-Nya (tidak ditetapkan halal-haramnya), maka itu termasuk yang dimaafkan (diperbolehkan= mubah).”19

Mengingat Allah tidak membuat ketetapan mengenai status halal-haram

dalam hubungan bisnis dengan orang kafir, dan hukum asal segala sesuatu

adalah mubah, maka hukum ber-mu‟amalah dengan orang kafir adalah

mubah dan bisa berubah menjadi halal maupun haram tergantung dari

dampak mashlahat dan mafsadat yang ditimbulkannya.

3. Jika terdapat produk Muslim dan produk kafir yang kualitasnya sama-sama

bagus, maka utamakan membeli produk Muslim. Namun jika ternyata produk

muslim tidak memiliki kualitas sebaik produk orang kafir, dan bahkan sering

dikelabui, maka saat ini tidak mengapa membeli produk orang kafir.20

17

Zaadul Masir. Mawqi‟ At Tafasir Juz 3 Halaman 386.

18

Imam Asy-Syaukani. Fathul Qadir Juz 1 Halaman 64.

19

HR. At-Tirmidzi No. 1726.

20 Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi) Lil Buhuts wal-Ifta‟.

(16)

4. Hukum asal boikot terhadap komoditas perdagangan orang-orang kafir adalah

mubah dan bisa menjadi wajib atau sunah, bahkan bisa diharamkan

tergantung pada mashlahat dan mafsadat yang ditimbulkannya.

5. Aksi boikot dilakukan hanya jika kaum Muslimin tidak kesulitan mencari

produk pengganti.

6. Produk yang diboikot memang benar-benar diyakini hasil keuntungan

penjualannya digunakan untuk menindas kaum Muslimin. Jika masih berupa

persangkaan tanpa didukung dengan bukti yang kuat, maka fatwa aksi boikot

akan menjadi pengelabuan terhadap umat.

7. Fatwa atau perintah boikot hanya dapat dikeluarkan oleh para penguasa, atau

orang-orang yang memiliki otoritas atau kapasitas mengeluarkan fatwa atau

perintah, mengingat hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika semua

orang diperbolehkan bicara, maka akan membuat orang awam bingung.21

Sebagai seorang Muslim yang baik, sikap yang paling ideal dalam

menghadapi fatwa ulama tentang aksi boikot adalah membuat

pertimbangan-pertimbangan logis berdasarkan poin-poin yang ditegaskan di atas.

21

(17)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Meskipun berdasarkan syar‟i mu‟amalah dengan orang kafir tidak

dilarang, namun ketika mu‟amalah tersebut adalah mu‟amalah yang merugikan

dan melemahkan umat Islam, serta menguntungkan orang kafir, dan menguatkan

posisi serta kekuatan mereka dalam merencanakan dan melakukan makar terhadap

umat Islam, maka ini menjadi muamalah yang diharamkan oleh Allah Ta‟ala, dan termasuk berserikat dalam kejahatan, menjerumuskan diri sendiri dalam

kebinasaan, serta ta‟awun „alal itsmi wal udwan. Tatkala itu terjadi, maka pemutusan hubungan mu‟amalah dengan cara pemboikotan komoditas dagang

kaum kafirin merupakan keputusan yang akan membawa kemashlahatan bagi

umat Muslim, dan oleh karena itu dipandang wajib hukumnya.

B. Saran

Keputusan untuk mengeluarkan fatwa tentang pemboikotan komoditas

perdagangan adalah perkara yang menyangkut hajat hidup orang banyak, oleh

karena itu harus dipertimbangkan secara cermat dan hati-hati. Terutama sekali

mengenai pertimbangan yang paling mendasar, yaitu bukti kuat yang

mengkonfirmasi bahwa hasil penjualan produk tersebut memang benar

dipergunakan untuk tindakan makar terhadap umat Islam, dan efek yang akan

ditimbulkan oleh pemboikotan. Jika aksi boikot tidak akan memberi pengaruh

terhadap ekonomi mereka, maka lebih baik diganti dengan aksi membatasi

pembelian. Karena aksi boikot sebenarnya bukan hanya merugikan korbannya,

tapi juga pelakunya. Umat Islam harus ingat bagaimana para Nabi zaman dahulu

diperlakukan oleh orang-orang kafir, bahkan ada yang sampai dibunuh, tapi

(18)

Namun, ada kondisi di mana umat Islam tidak diperbolehkan berjual beli dengan

orang kafir, yaitu ketika barang dagangan tadi mereka manfaatkan untuk

Referensi

Dokumen terkait

a) Peningkatan alokasi fiscal untuk penanggulan kemiskinan. b) Menciptakann sistem pajak dan subsidi yang adil. c) Merangsang investasi untuk daerah-daerah miskin. d)

Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah Surat Keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena

Namun demikian, responden masih mengharapkan akan terjadi peningkatan jumlah tabungan untuk 6 bulan mendatang sebagaimana tercermin pada kenaikan indeks jumlah tabungan 6 bulan

Tempat-tempat implantasi kehamilan ektopik antara lain ampulla tuba (lokasi tersering), isthmus, fimbriae, pars interstitialis, kornu uteri, ovarium, rongga abdomen, serviks

4 Setelah melihat dan membandingkan ketiga website tersebut dapat disimpulkan bahwa ketiga website tersebut belum menyediakan fitur yang mendukung kegiatan perencanaan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan:(1)Torsi pengereman yang dihasilkan bahan bahan bakar LPG mengalami penurunan 9,9% untuk rata rata tiap putaran

Pendekatan simulasi neraca massa dibantu perangkat lunak HYSYS® yang dikombinasikan dengan standar API BRD 581 untuk menghitung laju korosi memiliki potensi yang besar

[r]